Surat untuk Ar

img_20180911_101630.jpg

 

Hai, Ar.

Bagaimana Romadan hari keduamu?

Apa kau masih bersemangat? Apakah ada sesuatu yang membuat hatimu tergerak ke arah sesuatu, mungkin semacam kesadaran? Mungkin hal yang lebih bagus lagi, kesalehan? Ya ampun, mengapa kamu malah tertawa?
Iya, dari wajahmu, aku tahu kau mengalami banyak hal belakangan ini. Beberapa membuatmu bersemangat, kau bisa menjalankan puasa setelah beberapa tahun vakum karena anak-anakmu masih butuh ASI. Dan hari ini kau bersemangat bisa menjalankannya sembari momong. Momong (maksduku, menjadi full time mom) di Indonesia adalah proses yang sulit diceritakan. Di samping kamu sepanjang hidup belajar menjadi ibu yang baik, kamu juga mesti mengalami berbagai “gangguan” yang datang dari luar, seperti nyiyiran dan hal-hal lain yang sesungguhnya tak memberikan kontribusi apa-apa. Kamu sering kali tak selamat dari nyiyiran orang yang sebetulnya tak benar-benar tahu hidupmu. Sementara cuma Tuhan yang tahu segala usaha terbaikmu. Kamu benar itu membuatmu bertambah dewasa. Aku tahu, kita hidup di dalam masyarakat yang gimana ya mengibaratkannya…, semacam “jenis masyarakat yang lebih cerewet mengurusi ibadah orang lain, sedangkan keluarganya sendiri tak beribadah.” Untunglah, kamu cenderung cuek.

Tetapi kau tak bisa membohongi semua orang termasuk aku, kau tengah berusaha untuk selalu bangkit, sebab semakin hari kamu semakin sering kehilangan ketertarikan terhadap hal-hal yang semula membuatmu percaya. Memang sedih mengetahui kamu tengah kehilangan rasa percaya. Apakah itu iman?

Ada apa denganmu akhir-akhir ini?
Tanaman-tenaman depan rumahmu mengering. Rumput-rumput liar di sekitar tanaman daun mint beranak pinak. Bahkan bibit binahong dari ibumu kemarin habis dimakan ayam-ayam tetangga, tidak jadi tumbuh menjadi rimbun seperti yang pernah dibicarakan ibuk kepadamu. Kau tak tahu hal itu?

Rasanya aku tak mengerti. Memang aku tahu ada masa-masa seperti hari ini yang kerap kau lewati dalam diam.
Kau memang sempat mengalami di mana hubunganmu dengan Tuhan tidak terlalu baik. Kau malas salat, kau tak menyimak satu pun kajian keagamaan di televisi atau di media sosial. Memang kamu tak perlu datang ke pengajian karena siapa yang akan menjaga anak-anakmu di rumah? Beberapa waktu lalu ketika kamu datang dengan salah satunya pun, kamu bukannya menyimak materi, tetapi malah sibuk mengawasi anakmu yang lebih tertarik main di jalan dan memanjat gerbang.

Apakah kau sedang terlalu lelah? Aku heran, karena biasanya kau bisa bangkit sendiri dari gelapnya rasa lelah tanpa bantuan.

Tapi ada sisi di mana kamu berusaha tetap tegak berdiri karena dua anakmu membutuhkanmu. Dan kamu harus senantiasa memakai berbagai topeng supaya tidak terlihat lelah atau tengah marah dengan sesuatu. Kamu ini kuat, percayalah padaku.
Kamu juga tak sendirian, ada jutaan ibu sepertimu di luar sana, meskipun tak saling mengenal, mereka tak beda jauh darimu.
Kau tak membayangkan sebelumnya ini akan terjadi, tapi ternyata terjadi. Kamu memang harus menerima dan butuh waktu untuk itu. Dan kehidupan tetap berjalan.

Sudahlah, mari kita bicara hal-hal yang lain saja. Omong-omong… masih bisa fokuskah kamu dengan pekerjaan-pekerjaan baru yang datang belakangan ini? Menarik bukan, karena mereka sesuai dengan bidangmu. Masih bersemangatkah dirimu memegang cita-cita? Masihkah kamu nyaman menjadi diri sendiri?
Atau malah mengalami sesuatu yang berkebalikan, seperti ingin melepaskan semuanya dan pergi jauh? Kuharap itu tak pernah terjadi. Tolong jalanilah sebab kamu bisa, Ar. Ada orang-orang seperti keluargamu yang bahkan selalu ada untukmu. Maka demi mereka, orang-orang yang butuh kamu bahagia, bekerjalah dengan gembira.

Sesungguhnya, jauh dari kesibukan yang kini kau jalani, di dalam lubuk perasaanmu, kulihat kamu amatlah kesepian, Ar. Aku paham soal itu. Barangkali kau sedang kembali mengalami reading slump? Oh, jangan. Jangan pernah meninggalkan kebasaan itu, Ar. Setiap kau membaca buku, kau dapat hidup dengan normal. Maksudku, kau tidak akan jadi makhluk aneh yang suka bengong dan bingung di tengah malam atau pagi buta. Membaca membuatmu memiliki teman ngobrol yang mampu mengisi kekosongan jiwamu bukan? Kau takkan merasa sendirian. Tapi bagaimana sih kamu ini, belakangan bahkan kamu hanya membaca buku dan melupakannya? Kadang membaca beberapa halaman, sebagian halaman, tanpa ingin tahu kelanjutannya… bahkan tanpa menuliskan sesuatu yang mungkin bisa kau bagi di media sosial spaya orang tertarik pula membacanya. Bukunya Matt Haig yang kemarin hari kau baca? Bukankah kontennya menarik? Kamu juga sempat membaca karya Mira W. tentang penderita bipolar yang menurutmu perlu dibaca semua orang, kamu juga sempat membaca beberapa esai di buku Catatan Pinggir-nya Goenawan Muhamad yang mampu mengisi insomniamu.

Ke mana kebiasaan menulismu? Ada apa dengan hobi membacamu?
Jangan lupa menulis sesuatu setiap kali kamu merasa tak mengerti dengan dirimu sendiri, Ar. Itu penting supaya kamu tidak lekas meledak.

Kau boleh kehilangan rasa percaya pada keindahan di dunia, tapi jangan menyerah untuk mencari cahaya meski hanya dari seberkas lilin.

Mungkin saat ini, kamu merasa kegelapan pantas untukmu, tapi tidak untukku. Aku juga membutuhkanmu. Bagaimana jadinya aku tanpa dirimu yang tersenyum utuh?

 

 

-Dari seseorang di cermin kamarmu-

Surat Kelima

Dear Hujan,

Februari rupanya berjalan cepat. Terbesit di benakku, aku ingin merasa bulan ini cepat berlalu. Sudah tanggal berapa ini? Aku bahkan tak ingat tanggal dan terkadang lupa hari.
Sudah lama aku tidak membaca sesuatu, jangan pernah tanya lagi buku apa yang sedang aku baca hari ini, Hujan. Aku pasti lebih sering menjawabnya tak ada. Mungkin saja aku baru tahu rasanya berjarak dengan hal-hal yang telah melekat sejak kecil: membuat hidupmu tampak kosong. Tentunya kosong yang tidak berarti tak ada apa pun di sana. Menjalani peranku kini tetaplah menarik. Tapi membiarkan diri sendiri beku karena tak pernah lagi baca buku di sela kesibukan itu soal lain. Buku sering kali berhasil mengalihkanku dari pikiran negatif. Setiap si kecil tidur, pikiranku yang sering berputar-putar malah terbangun. Entah apa yang tengah kuresahkan. Tanpa buku atau bacaan yang sedari dulu jadi teman karibku, hidupku seperti hanya berputar-putar di dunia yang sempit.

Sekian surat singkatku hari ini.

Surat Keempat

Teman, apa kabarmu hari ini? Masih ingatkah pertama kali engkau jatuh cinta dan patah hati?

Masih melekat dalam ingatan masa kecilku, ketika masih tinggal di Gamping, aku pernah jatuh cinta pada seekor bayi burung gereja yang jatuh dari pohon. Kutemukan ia sewaktu pulang sekolah. Burung itu masih bersembunyi aman di dalam sangkar dan masih hidup. Karena sangat lucu, aku membawanya pulang. Aku membayangkan aku bisa membesarkannya hingga ia bisa terbang sendiri kelak.

Sejak itu, aku merasa orbitku hanya pada si burung yang sebatang kara itu. Sebelumnya, tiap pulang sekolah, akan merengek minta dibelikan layang-layang dan bermain di luar, juga dibelikan kapur tulis warna-warni untuk mencorat-coret tembok rumah seperti yang biasa kulakukan, atau bergabung dengan teman-teman yang sedang pasaran.

Tapi segalanya berubah ketika bayi gereja itu jadi anggota keluarga. Melihat matanya yang polos, bulu-bulunya yang jarang, dan tubuhnya yang kurus, membuatku merelakan waktu-waktu bermainku itu untuk menemaninya.

Sangkar mungil dengan bayi burung di dalamnya itu kusimpan dalam salah satu laci meja belajar dengan sedikit agak terbuka supaya tetap ada udara masuk. Si bayi selalu bercericit ketika lapar. Dan tidur setelah kenyang. Begitulah aku jadi menyadari bahwa makhluk hidup selalu butuh makan dan tidur. Tak lupa tubuhnya kuberi selimut hangat dari kain bekas supaya tetap hangat. Ah, kasihan, entah di mana induknya.

Burung gereja mengajariku tentang kehidupan kecil. Aku membayangkan di mana sebetulnya burung-burung liar tinggal dan berkumpul dengan keluarganya. Perlahan ia menjadi teman bicaraku. Tapi kala itu aku masih kecil. Aku tak tahu bagaimana cara terbaik merawatnya kecuali hanya memberinya makan dengan ujung batang lidi dan pelan-palan memberinya nasi sebutir demi sebutir, lalu mengajaknya ngobrol.

Aku memang tak beruntung. Bayi gereja itu mati seminggu setelah bertahan hidup di laci meja belajarku. Aku terkejut menemukannya tak bergerak ketika pulang sekolah. Tubuhnya dingin dan matanya terpejam. Itulah kali pertama aku merasa patah hati. Kusentuh badannya dan kugoncang sedikit. Tidak ada kehidupan yang menyapa. Rupanya yang telah tiada takkan bisa kembali. Dan aku mulai menerima kepergiannya berhari-hari setelah si bayi burung dikuburkan di halaman rumah. Setelah itu, aku kembali bermain dengan ayam-ayam peliharaan ayahku.

Kelak ketika dewasa (yang baru pertama kualami belum lama ini), perasaan patah hati tak ada apa-apanya dibanding ketika gigimu sakit. Ketika patah hati, kamu masih tetap bisa tertawa, nonton film, makan keripik, karaoke bersama teman, jalan-jalan, dan tidur dengan nyenyak. Semua itu takkan bisa kau lakukan bila gigimu yang tengah sakit.

Apakah yang pertama kali membuatmu patah hati, Teman?

 

 

Surat Ketiga

Teman, sepertinya, dengan “pulang”, aku bisa mengingat.
Biarlah surat-suratku berisi tentang ingatan-ingatan kecil

Hari-hari setelah kepindahan bukan hal menyenangkan untuk dilalui, dalam ingatan masa kecilku. Memang, ketika masih di desa, aku senang tiap kali menginap di tempat nenek di kota. Berbeda rasanya jika bakal menetap. Anak kecil barangkali memang punya perasaan yang membingungkan dan mudah berubah bukan.

Betapa lucunya masa-masa SD dulu, Teman.

Ayahku memilihkan sekolah islam yang tak terlalu jauh dari rumah setelah kami indah ke kota. Saat itu, aku masih kelas tiga. Banyak hal baru yang kutemukan. Anak-anak kelas 3 yang baik lelaki atau perempuannya urakan. Ada beberapa dari mereka yang suka memakai rok mini, mengirim surat pada lelaki, dan lebih banyak membicarakan mereka ketimbang mata pelajaran atau bermain layaknya anak-anak. Kelak mereka rupanya tak melanjutkan sekolah karena harus menikah karena hamil di luar pernikahan. Itu aneh sekali di benakku, anak-anak sudah punya anak. Anak lelaki ada yang suka memalak teman lain, berkelahi, memiliki keusilan yang tak pernah kusangka: suka menyibak rok teman-teman perempuannya. Dengan yang begini aku milih menjauh atau memasang tampang kasar. Ada pula kakak angkatan yang konon suka mengerayang tubuh anak perempuan. Maka sampai mereka belum lulus dari sana, aku memilih menghabiskan jam istirahat di depan kantor guru yang selalu terbuka, atau di perpustakaan yang ruangnya paling sepi karena hampir jadi satu dengan kantor kepala sekolah. Meski ibuku bukan wanita masa kini yang berpendidikan tinggi dan suka baca buku psikologi, tapi sejak kecil aku sudah diajarinya menjaga diri. Kata Ibu, jadi anak perempuan nggak mudah. Harus bisa menjaga dirinya sebaik mungkin dan harus berani berteriak minta tolong atau melawan bila dibutuhkan.

Teman-temanku sedikit yang baik. Karena muridnya juga memang sedikit. Di kota, baru kali pertama aku melihat ada teman mem-bully teman lain. Aku dibully karena nilai ulanganku selalu lebih baik dan disenangi guru-guru. Tak seharusnya murid baru mendapat perhatian dari guru. Aku baru pertama melihat ada orang tua dan murid memprotes gurunya seolah mereka terdakwa, padahal guru-guru kami baik. Sebab seharusnya anak mereka yang juara, bukan murid yang masih baru. Saat itu, habis pembagian rapor, dan aku mendapat rangking satu. Di sekolah sebelumnya aku juga begitu. Aku mendapat rangking itu hingga lulus. Kupikir itu sangat lucu. Tapi saat aku kecil, aku tidak merasa itu lucu. Terlebih di SMP dan sekolah selanjutnya, toh perihal rangking tergantung seperti apa sainganmu di sekolah, semakin rajin teman-temanmu melebihimu, jangan harap kamu bisa mengalahkannya. Semakin tinggi jenjangmu, semakin besar pula tantangannya. Syukurlah sekarang rangking tidak berlaku di sekolah-sekolah. Aku hanya sedih saat itu, banyak teman memusuhiku meski aku paling pendiam di antara mereka dan tak pernah mengganggu. Ada pula yang sempat berteriak padaku supaya aku kembali saja ke sekolah dasar yang dulu.

Kota menurutku begitu tak menenteramkan. Beberapa lama sejak kami pindah, aku mulai melihat Ibu sering berbicara sedikit dengan nada tinggi seperti orang yang tengah dipaksa keadaan. Ayahku tak lagi membuatkan kami mainan dari bahan sekitar. Beliau juga semakin jarang di rumah karena barangkali tuntutan pekerjaan lebih banyak. Aku juga sering mendengar ribut-ribut kecil yang meski aku tak paham, tapi membuat tak lega. Ketegangan rumah saat itu terasa lebih sering sejak adik keduaku lahir. Andai waktu itu aku sudah besar dan tahu soal baby blues, mungkin aku bisa meringankan beban ibuku.

Di kota segalanya memang sedikit tidak santai, Kawan. Suatu hari aku ikut TPA di masjid dekat rumah dan diajari iqra seorang pengurus masjid yang masih muda. Tapi sesungguhnya aku juga ikut rutin TPA lebih resmi di tempat lain karena menurut ibuku, di sana aku kelak bisa wisuda ketika katam Alquran. Ibuku sangat ingin melihat anak-anaknya wisuda. Di masjidku kan baru ada TPA kalau guru-gurunya tidak libur. Guruku yang masih muda itu sempat membetulkan bacaanku sambil menanyaiku siapa saja guruku di TPA resmiku itu. Kemudian ia mulai menjelek-jelekkan mereka, mengatakan alirannya salah. Di masa remaja aku melihat ada perbedaan di dalam masyarakat hanya karena yang satu mengadakan tahlilan, yang satunya tidak. Aneh bukan, sekecil itu, aku sudah menyimak orang-orang saling menjelekkan orang lain meski seagama. Kelak, aku menyadari di negeriku, itu akan jadi hal biasa.

Begitulah, Teman, sekelumit masa kecilku yang lucu. Yang kebetulan saja kuingat karena sedang sedikit merasa sepi.
#PosCintaTribu7e

Surat Kedua

tentang masa-masa kecil indah yang berlalu begitu saja, seperti baru kemarin ditinggalkan

Di manakah kau merasa pulang, Teman?

Seperti halnya engkau, terkadang aku merasa pulang ke masa lalu. Yang kumaksud adalah masa kecilku. Ketika aku masih bayi, aku dan kedua orang tuaku tinggal di sebah desa kecil di sebelah barat Yogyakarta. Namanya Gamping. Dinamkan Gamping mungkin karena sebagian besar tanahnya ditemukan unsur kapur, dan masyarakatnya menggali gamping/batu kapur sebagai mata pecaharian. Orang-orang juga masih mengadakan Upacara Bekakak untuk memberikan sesaji pada pegunungan gamping. Aku mengingat masa kecilku yang indah di sana. Begitu sering aku mencari bunga-bunga liar yang indah, menangkap kupu-kupu dan menerbangkannya lagi, juga mengikuti arah capung-capung terbang. Aku begitu ingat betapa hangatnya musim hujan dan musim-musim lainnya. Aku sering diajak ibu ke pasar yang letaknya tak jauh dari rumah. Aku juga sering diajak ayahku keliling desa dibonceng sepeda, main ke rumah temannya yang punya peternakan sapi, dan duduk-duduk di taman depan gereja yang begitu tinggi letaknya. Entah kenapa gereja di sana dibuat begitu tinggi dan mushala sejajar dengan tanah. Aku juga tak tahu.

Kami tinggal di sebuah kontrakan, yang ayahku dapat dengan harga murah ketika pada suatu malam beliau iseng mencarinya di sana. Orang tuaku merasa beruntung. Rumah itu luas tapi harga sewanya murah, lantaran menurut isu yang berbedar, rumah itu berhantu sejak penghuni sebelumnya meninggal bunuh diri. Tapi selama kami di situ, segalanya baik-baik saja. Beberapa tetangga yang usil memang menambahkan berbagai cerita. Namun ibu dan ayahku tak pernah gentar. Bagimana pun hidup kami damai, itu sudah lebih dari cukup. Rumah itu bergaya jawa kuno dengan beberapa pilar di dalamnya. Bahkan aku ingat bisa bermain sepeda di dalam rumah. Ada dua kamar mandi dan sumur yang dipisahkan oleh dapur yang juga sangat luas. Bangunan itu juga punya halaman lebar namun berjauhan dengan para tetangga. Banyak pohon besar di depan halaman. Seperti pohon melinjo, jambu biji, jambu klutuk. Bapak melihara ayam di samping rumah, dan tanaman hias di depan rumah.

Sampai pada suatu hari, ketika aku duduk di kelas 3 dan adikku masih TK, kami harus pindah. Mbah kakung kami memintanya. Di Jawa, anak lelaki memang harus terus bersama orang tuanya meskipun sudah menikah dan memiliki banyak anak, sedangkan anak perempuan boleh dibawa pergi pasangannya. Dalam benak anak kecil, perkara pindah rumah memang tidak mudah diterima. Aku masih ingin tinggal di sana, mungkin selamanya. Bukankah rumahku di desa kecil itu? Di rumah tua itu? Kata ibu, itu bukan rumah kami. Hanya sementara. Saat itu logika anak-anakku tak bisa menangkapnya. Hal yang kuingat, salah satu sahabat masa kecilku menangis sore itu, beberapa saat sebelum kami pergi bersama truk berisi barang-barang. Aku ingat sempat bilang padanya, aku akan kembali, mengunjunginya. Aku hanya sempat mengunjunginya 2 kali, setelah itu tak pernah lagi ayahku mengajakku ke sana karena terlalu sibuk di kota, atau mungkin sesi berpamitan pada warga telah selesai. Terakhir aku menemukan sahabatku itu ketika masih punya FB.

Tentu saja, kehidupan di kota tidak sama seperti di desa. Menurutku cukup aneh dan sedikit jahat. Beberapa lama kami di kota, aku melihat wajah riang dan lembut ibuku mulai surut, diganti raut tegang dan sering berbicara dengan nada tinggi. Padahal sebelumnya Ibu tak pernah marah. Tapi ibuku tetap memiliki hati yang dulu meski kini sedikit agak keras. Kuingat ayahku juga semakin jarang di rumah karena pekerjaan di kota lebih padat, persis seperti bentuk kampung-kampungnya yang padat dan ramai. Beliau juga tak pernah lagi membuatkan kami mainan dari bahan-bahan sekitar. Lebih banyak membelikan. Tapi memang begitulah kota. Orang-orang seperti tertuntut untuk bekerja siang malam, demi memenuhi kebutuhan hidup yang juga semakin banyak. Sedangkan waktu di rumah semakin sempit. Kelak setelah masa remaja tiba, aku mulai mempelajari banyak hal tentang perbedaan kota dan desa. Bagaimanapun kehidupan di kota juga harus banyak disyukuri. Kami belajar banyak tentang waktu. Orang-orang kota bukankah sangat menghargai waktu seolah itu hal langka yang bisa hilang sewaktu-waktu? Setidaknya, di kota, lebih mudah menemukan tempat belajar dan buku-buku. Setidaknya, di sini aku dapat mempelajari sifat manusia yang begitu beragam. Biarlah memang terkadang aku tak bisa move on begitu saja dari kehidupan desa.

Dan kau tahu, Teman. Gamping seolah mengingatkanku untuk pulang ke masa itu. Untuk ke rumah sakit di mana ayahku masih di rawat baru-baru ini, kami harus melintasi tempat itu. Jalan di dekat rumah masa kecilku tak sesepi dulu. Banyak pertokoan dan bangunan baru. Satu-satunya swalayan kecil di sana telah jadi rumah makan. Ruko kecil di mana salah satu temanku tinggal berubah jadi kantor agen pengiriman barang. Rumah temanku yang lain, yang ayahnya memiliki truk besar, tak lagi kelihatan dari jalan. Sebetulnya aku ingin tahu, mereka teman-teman masa kecilku, bagaimana kabarnya kini… Meski bentuk desa kecil itu tak sama dari yang dulu, aku tetap merasa sangat akrab. Tidakkah ini aneh. Ayahku dirawat di Gamping. Dan setiap aku ingin melihat ayahku, aku selalu merasa pulang.

Di manakah engkau merasa pulang, Teman? Apakah cukup di hati seseorang?

#PosCintaTribu7e

Surat Pertama

Dear Hujan,

Kata orang bulan Februari adalah bulan kasih sayang. Mungkin karena di dalamnya ada satu tanggal yang biasa orang-orang merayakannya sebagai hari kasih sayang. Tapi sesungguhnya kasih sayang tak memerlukan perayaan bila setiap hari orang menjadikannya ada dan terus membuatnya berdenyut. Bukankah begitu?

Aku jadi ingat zaman SMP dan SMA dulu, bulan Februari akan menjadi hari resah sekaligus bergairah bagi sebagian besar teman-temanku. Kemeriahannya sungguh melebihi bulan Romadhon. Mereka bakal memiliki hajatan penting. Ramai-ramai mereka akan sibuk menyiapkan kado atau kartu ucapan. Entah itu untuk pacar, idola, atau sahabat. Tanggal 14 seolah hari pembuktian seberapa penting diri mereka di hadapan pacar, gebetan, atau sahabat. Sebagian yang lain tak peduli. Termasuk diriku.

Padahal kasih sayang semestinya tidak dipersempit dengan sekadar berkirim bunga, cokelat, atau ucapan romantis. Tidakkah kehidupan telah mencatat begitu banyak bentuk kasih? Tidakkah seorang ibu yang menjaga anak-anaknya sepanjang hari tidak disebut pula sebagai bentuk kasih sayang? Atau apakah seorang ayah yang berangkat sangat pagi dan pulang larut malam demi membelikan si kecil sepeda, bukan bentuk kasih sayang?

Kasih sayang terdengar terlalu univesal untuk disingkat ke dalam satu hari perayaan. Setiap perayaan toh selalu bermakna kasih sayang. Menurutku lebih tepat barangkali disebut bulan berkah bagi pemilik toko bunga dan cokelat. Mereka akan kebanjiran pesanan. Tak ketinggalan pula mereka yang mungkin tengah riang di bulan ini: para pemilik restoran, bioskop, kafe, souvenir, penjual boneka, penjual pulsa, dan banyak lagi. 

Baiklah lebih tepatnya lagi mungkin bisa disebut hari pacaran bagi remaja atau mereka yang masih berjiwa belia. Pasalnya tatkala kau sudah dewasa dan banyak tanggung jawab yang perlu diselesaikan, kau tak akan sempat berpikir tentang hari itu. Engkau mungkin akan meragukan arti kasih sayang yang sering kau dengar tatkala kekasihmu tak kunjung melamar. Barangkali kau lebih berdebar dengan karier yang tak sadar telah jauh melesat sekaligus membuat jam terbangmu lebih tinggi di negeri perantauan hingga lebaran atau natal jadi hari paling dirindukan. Atau kau mungkin hanya peduli tentang kebutuhan hidup sehari-hari keluargamu, atau sudah sibuk dengan urusan sekolah anak-anakmu. Barangkali ada pula yang baru saja memiliki bayi hingga memiliki kebahagiaan dan kesibukan baru yang sulit dijelaskan. Di ibukota, aku kok malah yakin orang-orang lebih memikirkan pilgub ketimbang valentine di Februari tahun ini.

Februari tidak selalu berati bulan pink bagiku. Terlebih karena ayahku, superhero keluarga kami, yang nggak pernah kami sangka bakal sakit, tiba-tiba mesti opname. Entah bagaimana ayahku yang pekerja keras dan humoris itu, tatkaka jatuh sakit, rumah bagai didatangi mendung. Maka awal bulan ini adalah tentang hari-hari sendu penuh doa. Sendu karena pikiran dan hatiku seperti terbelah antara rumah dan rumah sakit, dan tak bisa kuceritakan bagaimana itu, pada siapa pun. Bila kau anak perempuan, kau akan tahu apa itu artinya seorang ayah dalam hidupmu. Kuharap mendung ini akan segera bertemu cahayanya… (lekas sembuh ya, Pak, Satya pun kangen diajak ngasih makan ikan di kolam pagi-pagi)

Tapi omong-omong ini memang bulan Februari. Bulan ini si kecil juga dijadwalkan imunisasi. Bulan ini pula suamiku berulang tahun yang ke-31. Dan aku juga tengah mencoba ikut program pos cinta untuk membuat 7 hari menulis surat. Seperti yang sudah kumulai hari ini. Surat pertama ini untukmu, Hujan, yang selalu jadi teman berceritaku.

#PosCintaTribu7e #7harimenulissuratcinta #suratpertama

Surat Ketujuhbelas: Kamar Loteng

Hai Isha’,

Barangkali sudah pernah kuceritakan dalam surat yang kukirim padamu, yang kuhanyutkan di aliran air, ketika hujan deras tiba. Aku pernah tinggal di sebuah istana kecil, tepatnya sebuah kamar di loteng, di mana aku merasa begitu nyaman dan begitu “aku” di sana. Sejak tahun 2010 akhir, aku harus pindahan karena ayahku membuatkan kamar baru di dekat kebun, yang mirip sebuah rumah kecil yang kutinggali hingga sekarang, yang mungkin sebentar lagi tidak.

Tapi entah bagaimana tiba-tiba malam ini rasanya aku rindu tidur di lotengku dulu. Maka bila rasanya percuma aku memaksakan diri untuk tidur, kupikir sebaiknya aku mengunjungi kamar itu.
Semua orang sudah tidur. Perlahan dan hati-hati kunaiki tangga kayu yang menuju ke sana. Tentu saja aku tak bisa kemonyet-monyetan lagi seperti dulu. Aku tiba-tiba teringat begitu cepatnya kuturuni anak tangga ini ketika terjadi gempa Jogja 2006 silam mirip seperti tentara sedang latihan perang. Aku takkan segesit itu lagi bila gempa seperti dulu datang malam ini.

Lama sekali kamar lotengku itu berubah jadi gudang kedua. Tapi seminggu yang lalu adik bungsuku menyulapnya kembali jadi ruang perpustakaan, tempat membaca, atau sejenisnya. Yang jelas memang benar settingan baru di tempat ini bisa menyelamatkan siapa pun dari penat. Atapnya yang berbentuk miring memang telah lama dilapisi tripleks di bagian dalam, mengikuti bentuknya. Kini, dilapisi kertas motif batik sehingga terasa berbeda. Bagian dinding kayu telah dicat ulang. Ada sebuah meja kecil dan sebuah rak yang baru diiisi buku-buku tua berbahasa Belanda, juga buku-buku adikku yang lain yang baru dipindah sebagian di sini. Ada karpet dan bantal juga kini lebih lengang karena hanya benda-benda itu yang ada di sana tapi lebih rapi dan tentu saja bersih, karpet ini bisa difungsikan untuk rebahan dan tidur. Jendela yang menghadap depan kini tidak lagi dibiarkan terbuka dan hanya ditutupi gorden transparan. Kini ditutupi papan tulis bekas dan hanya dibuka kala siang. Kamar ini memang telah berubah. Dari kamar, gudang, sekarang ruang belajar dan bersantai.

Teringat masa dulu, kamar lotengku ini berantakan. Ada sebuah kasur busa yang hanya dialasi karpet, 2 meja kecil, kardus-kardus berisi berkas kliping dan kertas penuh coretan, ada dua rak buku yang isinya tak karuan, sebab buku-buku dan kertas, juga benda-benda lain yang cenderung hanya hiasan berkumpul jadi satu dan jarang sekali ditata ulang. Belum lagi harus kuberi ruang untukku menggelar sajadah dan salat, juga ada kipas angin kecil yang selalu kupindah-pindah karena aku tak betah di ruang bersuhu panas. Ada kala setiap teman-temanku datang, mereka takjub, menyadari bahwa bukan hanya mickey mouse yang betah tinggal di loteng yang berbentuk antik begini.

Berada di sini memang membuatku terbang sejenak ke masa lalu, juga perjalanku menuju sekarang. Di kamar inilah aku menjatuhkan diriku di kasur dengan begitu bahagia karena pendadaranku berhasil dan dapat nilai A+. Di tempat ini aku mulai mengumpulkan coretan dan draft-draft tulisan yang sekarang entah di mana, mulai membaca buku-buku berat, dan di kamar ini dulu aku rajin menulis buku harian, kebiasaan yang pudar sejak aku pindah kamar. Di ruang ini pula sesekali aku melihat dunia luar lewat jendela. Sungguh aku begitu berdamai dengan dunia yang hanya diisi olehku sendirian. Di kamar ini tersimpan segala ingatan yang berbuku-buku rasanya bila dituliskan, sebab aku memang banyak berpikir dan begitu sering melamunkan banyak hal.

Aku merasa rindu dengan kamar ini dan rasanya malam ini aku ingin berada di sini, juga sendirian. Menunggu kantukku tiba, aku akan membaca salah satu novel yang pernah kubeli dan belum sempat kubaca. Novel yang judulnya begitu panjang “Surat Panjang tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya” yang kebetulan pernah memenangkan Sayembara Novel DKJ tahun 2012.

Demikianlah bila aku melarikan penat dan tak seorang pun dapat diajak bicara dan mengerti. Aku yakin, pada dinding-dinding kamar loteng ini, segala masalah dan gajalan akan selesai dengan sendirinya, seperti yang sudah-sudah.

Surat Ketigabelas: Penyakit

Dear Isha,

Malam ini setelah menjerang air dan membuat wedang jahe, akhirnya kuputuskan untuk menulis sesuatu. Sudah lama aku tak menulis surat untukmu. Surat untukmu selalu membuatku merasa bercerita tentang sebagian uneg-uneg dengan buku harian. Sebagian kepenatan.

Kau tahu belakangan aku menulis beberapa surat dalam rangka ikut event 30 hari menulis surat cinta. Tapi entahlah. kurasa aku tak lagi peduli deadline atau aturan yang dibuat di web itu. Aku tetap akan mencoba menuis 30 surat di bulan ini dan tak harus selalu bertema cinta atau sesuai kriteria, karena rasanya akan konyol. Aku ingin lebih jujur dengan tanpa melabelkan istiah “cinta” untuk setiap suratku atau menulis sesuatu yang memang tak aku inginkan.

Toh memang tak selalu keinginan menulis itu datang setiap hari akhir-akhir ini, tak lagi seperti dulu ketika beban hidup tidak sebanyak keasyikan untuk membuat tulisan. Kini mungkin saja kondisinya sedang terbalik. Hanya malam-malam seperti ini, tiba-tiba saja aku ingin mengobrolkan banyak hal. Kurasa benar, setiap orang selalu butuh teman bicara, sekalipun ia hanyalah teman imajinasi. Sepertimu, Is. Teman yang mungkin dapat mengerti dan selalu menyimak hal-hal yang tak bisa gamblang kuceritakan.

Baiklah barangkali di surat ini aku hanya seperti berputar-putar dan bicara hal yang tidak jelas, tapi aku lega. Aku hanya ingin mengatakan bahwa, makhluk dalam perutku telah membuatku membenci sangat penyakit-penyakit yang belakangan menengokku; flu, sariawan, radang tenggorokan, dan batuk parah, dan sejak penyakit itu datang, aku tak belum berkesempatan pergi ke dokter atau menentukan obat yang tepat. Padahal katanya, bumil itu nggak boleh sampai ngedrop, kurus, apalagi penyakitkan. Meskipun seperti sebelum-sebelumnya, belum tentu aku akan patuh pada obat-obat resep dokter karena lagi-lagi mengkhawatirkan buah hatiku. Di luar sana banyak kasus mapraktik bukan? Aku bakan beberapa kali ketemu dokter yang salah. Barangkali benar, ‘(insya Allah) punya anak’ adalah hal yang ajaib bagi seorang perempuan, karena tidak pernah sebelumnya ia begitu mengkhawatirkan banyak hal, mencintai sesuatu dengan aneh, atau menakutkan masa depan, seperti yang terjadi padaku. Aku bahkan rela bila sakit ini hanya kualami sendiri, jangan calon anakku.

Ishak, andai saja aku bisa lekas tidur malam ini dan bermimpi indah. Tapi dalam malam yang sunyi dan baru saja diguyur gerimis seperti ini, aku memang hanya mampu mengisinya dengan doa. Tak hanya itu, aku juga ingin bercerita bahwa hari ini adalah hari yang cukup berat untuk perempuan yang lagi rentan virus dan penyakitan. Doakan segalanya berjalan lancar dan aku cepat sembuh ya….

-temanmu

Surat Keduabelas: Belajar dari Pabrik Susu di Arab Saudi

Dear A,

Hari Minggu adalah waktu untuk iseng belajar hal-hal beda.
Melalui surat ini, aku ingin bercerita tentang negeri tetangga. Tidak lama, aku menemukan link ini di Youtube. Dan aku berharap kami, warga yang merasa SDA-nya melimpah ini, sempat melihat dan merenungkannya.

Kita tahu bahwa di Almarai, Arab Saudi memiliki iklim yang tidak sebaik Indonesia. Cuacanya panas kering dan rawan badai pasir. Gilanya ada pabrik susu cukup besar yang dibangun di padang pasir. Masyarakat dan pemerintahnya kompak untuk menghidupi sendiri warganya secara berdikari. Mereka yang bekerja di pabrik adalah orang-orang yang terampil. Mereka melakukan segala upaya untuk tetap bisa memproduksi susu segar dan olahannya bahkan dengan cara-cara yang canggih dan sangat menyenangkan bagi para sapi itu sendiri. Yah, bahkan proses memeras puting susu dengan alat modern yang membuat sapi-sapinya tidak stres. Di samping memperoleh bahan dengan optimal, mereka juga tak lupa memperlakukan sapi-sapi dengan layak, mengelompokkan yang akan melahirkan dengan setting seperti di alam hingga memastikan seluruh makanannnya berkualitas. Hasilnya, 100.000 liter susu murni yang aman diminum untuk anak-anak hingga lansia berhasil diproduksi dan dipasarkan tiap jam dengan harga yang tentunya terjangkau oleh setiap warga. Tak hanya itu, mereka juga mengolah sendiri produk lainnya yang berasal dari susu, dari yogurt hingga keju.

Melihat video ini, aku jadi merasa bahwa kami, orang Indonesia yang selalu terlena dengan SDA-nya, mestinya belajar dari ini. Memang pabrik susu di Almarai hanya salah satu dari sekian hal yang perlu dikunjungi ramai-ramai ketika kita ingin mengintip perekonomian negera lain. Selama ini kami seperti merasa memiliki alam yang sangat kaya, sayang si bahan alam tadi tidak dapat membangun pabrik pangan sendiri untuk kita semua. Aku percaya bahwa keberhasilan bangsa ditentukan oleh bagaiaman SDM-nya. Seperti halnya keberhasilan hubungan ditentukan oleh orang-orang yang menjalaninya (eh.. ). Persetan dengan tongkat ditanam pun jadi tanaman di Indonesia. Kalau tidak ada yang menanam tongkat, tanah subur di Indonesia cuma bisa jadi mall dan perumahan elit dihuni penduduk yang jarang di rumah, dengan menggeser yang marginal ke pinggir sungai dan wilayah kumuh lainnya.

Bayangkan bila Indonesia yang cuacanya tropis, memiliki hutan, tanaman, rumput yang melimpah, serta lahan yang luas ini, mampu membuat pabrik olahan susu sapi sendiri tanpa import, seberapa banyak anak Indonesia yang selamat dari gizi buruk dan sakit-sakitan?

Sayangnya, aku hanya bisa bertanya pada rumput yang bergoyang.

Salam A.
Menunggu cerita tentang negerimu.

Surat Kesebelas: Tentang Iklan Rokok

Dear A,

Kali ini aku ingin bercerita tentang salah satu iklan rokok yang lagi sering tayang di televisi.

Ceritanya ada Tuan Jin berpakaian Jawa yang memberikan satu kesempatan pada seorang wanita single di hadapannya untuk meminta satu hal.
Si wanita muda menjawab, ia pengin punya “teman hidup” (jodoh) yang baik, pengertian, sabar, penurut, dan juga setia.
Tuan Jin pun mengabulkan permintaan kliennya apa adanya, dan ia memberikan seekor anjing. Aku jadi ngakak, kau tahu? Tampang anjingnya memang lucu.

Apakah kamu sudah dapat tertawa hari ini?

Surat Kesepuluh: Tentang Cara Mengisi Sepi

kepada kamu

Apa kabar?

Setiap orang punya cara mengisi sepinya masing-masing. Meski kadang memberikan rasa nyaman, perasaan sepi juga sering kali tidak menyenangkan. Terlebih akan begitu terasa ketika cuaca selalu mendung sepanjang hari dengan angin yang berembus kencang, mulai turun hujan menjelang sore, dan mendingin di malam hari. Atau tiba-tiba saja menjadi panas di hari-hari tertentu.
Di kesempatan ini akan kujawab suratmu lalu tentang apa yang kulakukan belakangan ini.

Aku sudah menceritakan bahwa sejak resign dari kantorku yang terakhir bulan Desember kemarin, aku memang seperti terjebak kebiasaan yang sungguh berbeda. Rutinitasku berganti dengan minum obat pagi hari, membuat jus di siang hari lalu tidur setelahnya, dan sisa waktu luang kugunakan untuk membereskan urusan rumah. Tapi memang ini pilihan terbaik untuk saat  ini.
Tentu tidak ada lagi keriuhan kantor dengan banyak orang di sebuah ruangan yang sibuk setiap pagi hingga sore yang biasa kusimak. Melainkan kini lebih sering aku menonton mimpi-mimpi tidurku sendiri yang berganti-ganti atau sekadar memandangi tanaman kebun di samping kamar. Atau sesekali menonton film Masha and the Bear.

Mestinya dengan demikian, aku punya banyak waktu untuk menulis atau sekadar membaca. Anehnya aku jadi sering tidak bersemangat membaca buku, kecuali yang benar-benar kusuka. Anehnya aku jadi sering nonton film-film horor via Youtube di siang hari. Aku juga mengikuti serial india setiap jam 20.30 hingga jam 10 sebelum membuat segelas susu, berlanjut acara TV berikutnya hingga tertidur. Kamu pasti heran sebab sebelumnya aku anti televisi apalagi mengikuti film serial. Segalanya memang bisa berubah.
Aku bahkan sudah jarang sekali memegang ponselku sendiri.

Lalu apa kegiatanmu belakangan ini?
Kuharap kamu masih sempat menulis buku harianmu

Surat Kedelapan: Perihal Ngambang

:untuk sobatku Pit

Sudah lama kita tidak mbolang lagi ke bukit-bukit atau pantai sambi lewat jalan yang hanya dilalui kambing. Rasanya hari-hari telah memisahkan kita yang sebetulnya hanya berjarak 45 menit perjalanan motor. Meski kita berdua akhirnya hanya bisa saling curhat via SMS atau telepon, aku ingin lagi bercerita panjang lebar. Namun kali ini aku ingin menulis surat untukmu. Terutama tentang kamu kali ini.

Belakangan kamu menggelisahkan hal-hal berkait masa depan. Sering kali mengeluhkan priamu yang sering mengambang, atau seseorang lain yang begitu serius ingin bersamamu namun tak menggapai hatimu. Perihal ngambang memang kerap bikin goyah dan kerap mengganggu kewarasan. Namun kamu tahu, aku bukan lagi tipikal sobat yang ceriwis menggunakan kata “nyusullah” sebagai untuk pilihan-pilihan hidup yang privat seperti menikah. Aku sadar itu istilah yang terdengar jahat. Terlebih perempuan zaman sekarang itu umumnya ‘mbulet’. Tak jarang pula dihadapkan oleh pilihan yang membingungkan. Menjalani perihal yang rasional tapi nggak terlalu sesuai hati, atau tetap pada jalur yang diinginkan yang sudah tahu bakal nggak sampai-sampai. Ah, kau tahu sendiri maksudku.

Tapi kamu tahu aku selalu mendukungmu apa pun pilihan hidupmu. Bila kamu yakin itu jalanmu, aku akan mendukung, bila tidak aku juga akan dukung. Hanya saja aku akan selalu ikut sedih ketika kamu menyedihkan hal-hal jauh yang belum juga sampai itu. Seperti belakangan ini. Kuatlah Pit. Berpijaklah.
Katakanlah pernikahan memang jalan hidup yang harus dijalani perempuan Indonesia dengan waktu dan kondisi yang berbeda-beda. Tapi segalanya mesti dihadapi dengan kesiapan, terutama hati dan mental. Ada banyak perempuan zaman kita yang tak siap memasuki institusi itu karena berbagai hal, termasuk trauma yang sering mereka simak di televisi atau koran, atau memang karena kurang yakin dengan konsep pernikahan. Aku paham dengan itu. Akan sangat panjang bila kujelaskan dalam surat ini. Lain waktu kamu mesti baca bukunya Elizabeth Gilbert sekadar tahu gambaran pernikahan di barat sana, dan bedanya dengan di sini. Hidup di negeri ini memang tidak mudah bagi perempuan.

Melalui surat ini kuminta padamu, rajinlah kuliah dan baca buku. Berkesempatan masuk S2 itu berkah yang aku saja belum pernah tahu kapan giliranku. Syukuri saja kesendirianmu sekarang, karena bila kamu sudah menikah, kamu takkan bisa lagi keluyuran dan bangun siang. Walaupun kutahu, memang belakangan kamu mesti banyak tutup telinga dan mata untuk orang-orang di sekitarmu yang gatal menanyakan usia ataupun yang memajang foto-foto pernikahan dan bayinya di akun jejaring sosial. Aku tahu kamu selalu merasa depresi dengan fenomena itu meski sebetulanya kamu mencintai anak-anak kecil. Kita bahkan sering ngobrol tentang konsep pendidikan modern untuk anak-anak yang jarang diterapkan masyarakat di sekitar rumah kita. Kamu bahkan masih konsisten mengajar di ilmu yang kamu geluti.

Akan ada saatnya kamu sampai pada doamu yang satu itu, Pit, menjadi istri yang berbakti dan ibu yang baik untuk anak-anakmu. Dan semoga itu memang pilihan sejati hidupmu. Kudoakan selalu yang terbaik deh.
Sekian surat dariku, jaga kesehatan supaya maagmu tidak kambuh lagi ya. Jangan lupa juga nonton Warkop DKI 🙂

Sobatmu.

Surat Keenam: Perihal Makanan Tradisional

: untuk penjual jajan pasar di seluruh penjuru kotaku.

Sungguh jangan pernah gantikan makanan tradisonal yang engkau jual itu dengan yang modern. Yang terbaru tak selalu mengandung kejujuran. Bahan pewarna, pemanis, atau pengawet tidakkah cukup riskan untuk kesehatan kita?
Mengapa demi sebuah rasa, mereka beramai-ramai harus menggunakan bahan-bahan palsu itu?
Bukankah rasa hanya sekadar mampir di lidah, dan dampak selalu bertahan lama di tubuh kita?
Seperti halnya cinta?

:salah satu pelangganmu

Surat Kelima: Cuplikan

Aku hanya ingin mencuplik sesuatu yang kuambil dari bukumu yang lama kupinjam dan belum juga sempat kukembalikan.

Kita sulit untuk mengerti mengapa ada orang yang mengusulkan masa tenang dari “segala yang telah berlalu” sehingga kata-kata yang telah disalahgunakan bisa dibebaskan. Namun ini bukanlah cara untuk menebusnya. Kita tidak bisa membersihkan istilah “Tuhan” dan kita tidak bisa membuatnya utuh: namun, betapapun ia telah cemar dan memar, kita bisa membangkitkan dan melepaskannya dari sengsara.

Dan aku mencuplik ini sebab sampai sekarang aku belum paham maknanya. Atau barangkali aku sedang tak yakin dengan yang kuartikan sendiri.

 

Kepada Pagi yang Selalu Menemani Sejak Terbangun dari Mimpi

Selalu ketika engkau mengirim cerah matahari dan udara yang berdamai dengan dada, yang senantiasa mengingatkanku tentang segala sesuatu yang akan diawali, juga yang harus dibenahi. Aku ingin selalu menyimak kehadiranmu, meski engkau terkadang menjadi sepi yang membuatku ingin terlelap kembali.

Sering kali engkau menemaniku bercerita. Lebih banyak menjadi pendengar yang begitu setia. Tentang hari kemarin yang mendung, atau mimpi semalam yang kusut dan gaduh. Tak jarang engkau datang kala subuh, mengajakku berdoa untuk meredam segala kekhawatiran dan mencoba menyusun lagi sesuatu yang kita sepakat menyebutnya harapan. Engkau tahu di waktu yang telah berlalu aku marah kepada begitu banyak hal. Dan aku sempat mengutuki hari yang datang begitu cepat. Atau tatkala aku merasa ada hari-hari yang telah kulewati begitu saja tanpa sempat merasa menjalaninya.

Melalui surat hari ketiga bulan Februari ini, ingin kusampaikan bahwa bagaimanapun hari-hariku lengkap sejak engkau menjadi senyum pertama sebelum hari beranjak tua. Dan engkaulah yang mengajari tentang makna. Engkaulah, hatiku.