Kei: Ada Cinta di Tengah Perang

novel Kei

Judul     : Kei
Penulis  : Erni Aladjai
Penerbit: GagasMedia
Terbit    : 2013
Tebal    : 250 halaman
ISBN      : 9789797806491

 

 

 

 

 

 

Inilah menara dari mana aku menyaksikan,
antara cahaya dan air yang membisu,
waktu dengan pedangnya,
dan aku mengalir ke dalam hidup
-Pablo Neruda-

 

Konflik di Kepulauan Maluku semenjak tahun 1999 hingga 2001, telah memakan ribuan jiwa. Begitu banyak orang kehilangan keluarga, kekasih, harta benda, harapan, dan juga kebahagiaan. Namun, seperti yang tertulis dalam pengantar novel tersebut, di antara pulau-pulau yang lain, Kei-lah salah satu pulau yang terlambat terkena dampak konflik tetapi paling cepat menyembuhkan dirinya. Novel ini pun diberi judul “Kei”.

Namun, ada yang menakjubkan di sini. Selain tradisi persaudaraan yang tak pernah kita kenali, ada juga pelajaran hidup dan cinta yang tumbuh di antara peperangan itu tatakala membaca novel ini. Perang seperti mengingatkan saya pada salah sebait puisi Subagio Sastrowardoyo:

Mulut dan bumi berdiam diri. Satunya suara
hanya teriak nyawa yang lepas dari tubuh luka,
atau jerit hati mendendam mau membalas kematian…

Erni, penulis novel ini, menempatkan tokoh Namira Evav dan Sala sebagai tokoh sentral. Sala kehilangan ibu–keluarga satu-satunya karena penyerangan antaretnis dan agama. Namira kehilanagn kedua orang tuanya pun karena konflik yang sama. Sala yang protestan dan Namira yang muslim, jatuh cinta di pengungsian, di dalam suasana rusuh itu. Dalam kesedihan, mereka mencoba tegar demi menjadi relawan untuk sesama. Kebersamaan dalam kesamaan nasib tidak dapat mencegah keduanya saling menyayangi dan mencintai. Bahkan kelak ingin bersama. Sementara konflik berlangsung, banyak orang islam, katholik, dan protestan berlindung di gereja, saling melindungi dan berusaha untuk tidak terpengaruh pada konflik antarras dan agama. Dalam suasana demikian kesedihan digambarkan sebagai nasib yang tidak mengenal perbedaan ras maupun keyakinan.

Erni Aladjai agaknya memiliki keahlian menyajikan sebuah cerita dalam perpaduan sejarah, cinta dan persahabatan, juga kemanusiaan yang membawa pembacanya seperti mengalami dan ikut merasakan suasana perang dengan cukup mendalam. Disusun dengan riset yang tentunya menguatkan fakta di balik cerita, novel ini tidak saja tentang kisah korban peperangan, tapi juga sejarah bangsa Indonesia. Peperangan seolah memang selalu merupakan kisah tentang kepedihan dan harapan, juga bangsa yang seperti tengah diombang-ambingkan. Namun, bila saja novel ini tidak bertema peperangan, beberapa bagian yang cukup kocak ditemukan di sana dan membuat saya tersenyum.

Soal tradisi Kei, ada tiga point yang saya temukan di sana. Kei memiliki tradisi yang bagi saya begitu luhur, seperti mutiara di dasar lautan yang tak sempat terambil.

Pertama, mereka sangat menjaga alam sebab pada alamlah manusia bergantung, tentunya melalui cerita tentang ritual-ritual unik yang dapat engkau baca di sana. Kedua, bahwa Kei yang plural memiliki perjanjian keramat yang dilakukan para nenek moyang terdahulu, bahwa semua orang Kei adalah bersaudara, untuk kemudian dipatuhi setiap orang dan semua generasi sepanjang usia.

Kita adalah telur-telur yang berasal dari ikan yang sama dan seekor burung yang sama pula. demikian bunyi pepatah adat Pulau Kei.

Ketiga, para prianya menempatkan kaum perempuan dengan begitu mulia, mereka dilindungi selayak permata. Perempuan bahkan memiliki peran besar dalam mendamaikan dua daerah yang berperang. Kebudayaan semacam itulah yang turut mengambil bagian penting dalam sejarah perdamaian.

Melindungi kaum perempuan adalah panggilan yang mengurat biru di nadi-nadi lelaki Kei. Itu adalah ajaran para leluhur...” (hlm 60)

Keempat, adalah, menurut yang pernah saya cari tentang etnis di Indonesia, hampir tak ditemukan ajaran tua mengenai tradisi untuk membantai sesama manusia, terlebih yang sebangsa. Dalam Kei, tidak ada Protestan, Katholik, maupun Islam. Tidak ada pengkotak-kotakan dalam pluralisme. Maka Erni menjelaskan secara selintas dalam novelnya, bahwa konflik memang datang dari orang-orang yang bukan Kei. Pendatang yang disebut dengan istilah ‘orang asing’yang membawa tujuan memecah belah bangsa Indonesia’. Untuk itulah, keadaan selalu mengajak kita berpikir.

Novel ini ditulis dalam sudut pandang orang ketiga yang serba tahu. Setting dalam ceritanya cukup tergambarkan dengan baik, dan karakter tokohnya berdiri sendiri dengan kuat. Cerinya pun mengalir dalam alur maju, kadang mundur di beberapa poin ketika Namira dan Maya mengenang masa dulu, dan juga menyimpan kejutan-kejutan, hal-hal yang tak pernah disangka, ironi, dan tragedi, yang membuat perasaan jadi miris.

Membaca kisah dramatis dalam novel ini sekaligus membuat saya bertanya-tanya. Apakah cinta memang harus bersama? Apakah orang-orang yang terpisah karena konflik ini dapat bertemu kembali? Apakah luka akan tersembuhkan?

Novel ini layak menjadi referensi pengetahuan kita tentang local wisdom dan sejarah konflik daerah di Indonesia. Menurut saya, pantas bila novel Kei menjadi pemenang unggulan Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta tahun 2012 lalu.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s