Resensi Novel: Violetta, Yang Melupakan Kenangan

Novel Violetta

Judul: Violetta, Yang Melupakan Kenangan
Penulis: Rosgadini
Penerbit: PING!!!
Editor: Vita Brevis
Tahun Terbit: 2014
ISBN: 139786022556879
Jumlah halaman 223

Blurb

“Bia! Bia juga jangan lupa, ya, kalo Bia besar nanti, harus punya toko es krim sendiri. Jadi, Vio bisa makan semua es krimnya. Janji?”

Bia. Laki-laki yang tak suka makan es krim ini mendirikan First Scoop, demi memenuhi janji masa kecilnya pada sang cinta pertama, Vio.
Bia yang tak bisa lepas dari sosok cinta pertamanya seakan menemukan sosok Vio dalam diri Etta.
Namun Etta tak mau hidup dalam bayang-bayang Vio.

Pilihan. Di dalam hidup setiap manusia pasti akan dihadapkan pada pilihan, termasuk untuk terus mencintai atau justru melupakannya…

Di masa kecil Bia, ia sudah kehilangan Vio, sahabat sekaligus cinta pertamanya karena kecalakaan telah merenggutnya. Hal itu yang membuat Bia terpukul dan tak dapat melupakan Vio. Kenangan Vio rupanya begitu membekas. Hingga ketika dewasa, ia memutuskan keluar dari pekerjaan tetapnya dan membangun toko es krim, tidak lain adalah demi janjinya kepada Vio, meskipun Bia sendiri tak suka makan es krim. Toko es krim itu pun diberi nama First Scoop.

Dibantu sepupunya, Addin, ia berhasil membangun First Scoop dari nol. Baru sebentar kedai itu berdiri, Bia bertemu Maira. Maira adalah gadis cantik yang merupakan mantan Bia yang pernah berselingkuh dengan Addin. Melihat kenyataan bahwa Maira datang kembali ke kehidupan Bia, Addin sangat sedih, pasalnya sejak dulu ia menyukai Maira dengan serius. Namun demi menjaga perasaan Bia, ia pun menjaga jarak dengan Maira. Dan lebih kacau lagi, Maira ikut-ikutan melamar pekerjaan di kedai es krim Bia demi dekat kembali dengan Bia.

Sementara itu, pertemuan dengan Etta berawal dari Addin yang merekomendasikan Etta, sahabatnya sejak SMA untuk melamar kerja di kedai es krim Bia. Perkenalan Etta dan Bia tak berlangsung baik. Konyolnya Etta datang terlambat di sesi interview dan itu membuat Bia tak suka.

Interaksi Bia dan Etta yang kadang manis kadang saling menjauh karena saling sebal rupanya memunculkan benih cinta. Etta yang tersentuh karena sisi Bia yang baik dan romantis, dan Bia yang menyukainya karena menemukan banyak hal yang mirip Vio. Kepolosan, kesukaannya pada es krim di musim apa pun, hingga caranya menangis mengingatkannya pada cinta pertamanya itu. Namun Etta yang tahu hal itu tidak dapat menerima kenyaaan, meskipun ia juga diam-diam menyukai Bia. Etta ingin disayangi sebagaimana ia, bukan Vio atau gadis lain. Tapi sulit bagi Bia melakukannnya. Etta memberi syarat bahwa Bia harus melupakan Vio bila tetap ingin bersamanya.

Hingga suatu peristiwa terjadi dan satu per satu rahasia terpendam Etta terbongkar dan menjadikan segalanya tak lagi sama.

Berbicara penokohan, Bia dan Addin memiliki kelebihan yang menguatkan cerita dalam novel. Bia yang romantis dan setia pada masa lalunya, juga kesabaran Addin ketika harus sekantor dengan orang yang dicintai namun sulit tergapai.

Kelebihan novel teenlit ini juga ada pada keseimbangan dialog antartokoh dan narasi, dan alur yang mengalir dan kadang dramatis. Sesuai dengan temanya, pengetahuan tentang es krim pun dijabarkan dengan cukup baik. Nyaris tidak dilengkapi dengan proses bagaimana kedai es krim itu berkembang, membuat saya paham barangkali fokus utama cerita ini memang bukan pada usaha kedai es krim. Tapi lebih banyak berceria tentang hubungan Bia-Vio, Bia-Maira, Addin Maira, hingga Bia dan Etta yang dianalogikan oleh penulis mirip dengan es krim.

Namun perihal penokohan ini, rasanya hanya tokoh Addin yang terbangun lumayan kuat. Entah kenapa karakter Etta dan Maira masih bisa bisa bertukar satu sama lain. Terlebih Maira yang sejak awal hingga akhir cerita digambarkan sebagai tokoh yang labil. Yang semula terobsesi dengan Bia malah bertoleransi dengan kedekatannya dengan Etta. Menurutku sama labilnya dengan Bia ketika dihadapkan oleh Etta maupun Maira. Belum lagi persoalan dialog dan interaksi antartokoh. Bisanya saya iseng membuat penggalan dialog ketika mencari segi keberhasilan suasana. Meski Addin dan Etta bersahabat, tapi banyak bagian obrolan yang mungkin lebih mirip adegan pacaran. Entah itu sentuhan tangan, pelukan, hingga ketika Addin menunggui Etta di kontrakannya ketika ia sakit hingga pagi harinya, padahal Etta tinggal sendirian. Baiklah, katakanlah saya memang tergolong agak kolot ketika memandang pola hubungan laki-laki dan perempuan, tapi berhubung settingnya di Indonesia, mungkin lebih baik dikondisikan dengan nilai masyarakat setempat. Menurut saya ada banyak cara kok mendeskripsikan suasana persahabatan antartokoh. Terlebih adegan ciuman Bia dan Maira, atau Addin dan Maira, atau Bia dan Maira yang bisa dikatakan terlalu sering dan kurang pas untuk jenis novel remaja.

Sisi logika dalam cerita juga penting dalam Belum lagi banyak sisi kebetulan yang terlalu dipaksakan membuatku merasa seperti ada hal-hal yang aneh yang bertebaran di sana. Namun tidak mengapa karena barangkali serba kebetulan yang sering ditemukan di novel ini sengaja dipertahankan demi keterjalinan cerita.

Kelebihan lain novel ini pada sisi penampilan adalah cover yang sesuai tema meski terlalu remaja untuk tokoh-tokohnya yang dewasa, juga penataan layout yang tidak membosankan, juga ukuran font yang cukup nyaman untuk dibaca.

Baiklah, meski saya tidak terlalu terkesan dengan novel ini, setidaknya novel lumayan cocok dijadikan bacaan ringan di kala senggang. Mungkin kalau remaja yang baca perlu didampingi orang dewasa kali ya 😁.

Resensi Novel: Immortality of Shadow

immortality of shadow

Judul Buku: Immortality of Shadow
Penulis: E. Rows
Tebal : 264 halaman
Penerbit: Divapress
Genre: Horor
Terbit: September 2014
ISBN: 978-602-255-683-1
Harga: Rp 40.000,00

Blurb

An Hammer. Sebuah rumah bergaya Victoria klasik. Atapnya menjulang tinggi dengan jendela-jendela transparan di setiap sisi rumah. Rumah itu juga memiliki balkon serta beranda. Dan, ada danau kecil di belakangnya.
Sebuah rumah yang indah.
An Hammer seharusnya menjadi hunian yang nyaman bagi Corey dan keluarganya. Sayang, Corey justru dihadapkan pada kenyataan aneh dan mengerikan di rumah barunya itu.
Janet, anak bungsu Corey, mengaku berteman dengan anak laki-laki bernama Dalal. Teman yang tidak bisa dilihat siapa pun, kecuali Janet.
Barry, kembaran Rose, anak kedua Corey, dapat melihat kejadian di masa depan dalam mimpinya. Dan, ia selalu memimpikan hal buruk menimpa Rose.
Kisah-kisah masa lalu tentang An Hammer pun pelan-pelan terkuak.
An Hammer memang menyimpan sesuatu…

Berawal dari keputusan Corey membeli rumah diam-diam sebagai wujud keinginan memperbaiki hidup, masalah justru semakin pelik. James, sebagai suaminya tidak setuju mereka meninggalkan rumah keluarga besar yang penuh dengan penghuni itu, lebih-lebih ia baru saja kehilangan pekerjaan. Namun, keempat anak mereka justru menyambut dengan bahagia ide pindah rumah baru, hingga membuat ia pun terpaksa menerima. Rumah yang dibeli Corey melalui sepupu sahabatnya terletak di Boonville. Kawasan yang cukup nyaman meski jauh dari pusat keramaian.

Rumah itu rupanya memang menyimpan sesuatu hingga membuatnya berharga murah, belum lagi ekspresi aneh orang-orang di sekitar sana ketika mendengar An Hammer. Seorang cenayang bahkan sempat memiliki firasat yang aneh tentang rumah tersebut. Belum lagi letaknya yang terpencil dan lama tak ditinggali, An Hammer seolah menyimpan banyak misteri. Namun semua itu tak menghentikan niat Corey memboyong semua keluarganya ke sana. Terlebih rumah itu rupanya sangat indah dengan gaya Victoria dan ada sebuah danau di belakangnya.  Hanya James yang tak terlalu suka tinggal di sana. Ia pun mencari pekerjaan jauh dari tempat itu dan jarang berada di rumah. Sementara itu, Corey menghadapi segalanya sendiri.

Konon anak kembar selalu punya bahasa sendiri yang hanya mereka yang mengerti. Selain menghadapi Janet yang sering kambuh penyakit, ia juga harus mengatasi Rose yang berperilaku semakin aneh dari hari ke hari pascakecelakaan dan dibully teman-temannya. Terutama Barry masih bermimpi hal-hal buruk tentang Rose, saudara kembarnya yang membuat semua orang jadi khawatir. Tidak ketinggalah, Eliana, yang sejak berkenalan dengan Dave, penduduk sekitar Hammer yang mengetahui sedikit rahasia rumah tersebut, sering dibayangi kekhawatiran dan kejadian aneh.

“Apa benar yang dikatakan oleh Dave tentang semua itu? Anaknya yang meninggal di sana, lalu….”

Dug.

Eliana menoleh. Terdengar suara yang berasal dari balik pintu kamarnya. Seperti barang terjatuh….

Belum lagi peristiwa ganjil lain yang muncul satu dan mereka seperti tinggal bersama di rumah tua tersebut. Janet yang memiliki teman yang tak terlihat dan tampak seperti berbicara sendiri. Sejak Janet berbicara pada Dalal, teman tak terlihatnya, Eliana menyemangati si kembar Barry dan Rose memanggil arwah dengan papan ouija. Keadaan Rose justru semakin parah sejak papan ouija itu dimainkan. Hingga akhirnya konflik meruncing dengan pertengkaran Corey dan James di samping terungkapnya sebagian rahasia masa lalu.

seorang wanita muda yang bunuh diri di danau

seorang istri yang dipanggang oleh suaminya ketika terjadi pertengkaran hebat

anak kecil yang dibunuh dengan dibakar oleh sang ayah

Sebagai seorang ayah, James memang tipe yang akan melalukan apa pun untuk keluarganya, bahkan bila harus melakukan pembunuhan terhadap Rose untuk menyelamatkannya dari lingkaran penderitaan.

Akankah keluarga Golik mengalami peristiwa yang sama yang terjadi pada penghuni sebelumnya?

Novel ini menggunakan POV 3. Dibuka dengan perkenalan tokoh-tokoh dalam novel yang memudahkan pembaca. Kelebihan novel horor ini adalah penjabaran setting yang detail, suasana yang berhasil membuat bulu kuduk merinding dengan twist-twist tak terduga membuat kita jadi mencurigai apa pun dan menebak-nebak apa yang barangkali menunggu di balik pintu kamar. Membaca bagian mengerikan dalam novel ini membuat antara ingin pindah bacaan atau terus mengikuti rasa penasaran terhadap alur cerita.

Baca buku horor satu ini membuat saya ingat kata seorang teman, “Bila galau, nontonlah film horor”. Efek adegan horor yang sering bikin kaget itulah yang mengalihkan sejenak kepenatan dan masalah hidup sehari-hari. Tapi baca buku ini apalagi sendirian, galaunya jadi berganti :D. Selain itu, ada beberapa adegan yang membuat saya ingat film horor populer Conjuring, The Exorcism of Emily, dan Insidious. Seperti agak mirip situasinya.

Tapi ada beberapa poin yang sepertinya agak mengganjal. Pertama, seperti kejadian-kejadian aneh di rumah pertama yang tak terjelaskan hingga akhir cerita. Kedua cenayang yang hanya muncul sekali dan sebetulnya tak terlalu perlu ditambahkan dalam cerita. Ketiga, masa lalu penghuni rumah an Hammer yang hanya muncul bagian proses pembunuhannya. Keempat, James yang mengigaukan nama seorang wanita yang berhubungan dengan masa lalu yang tidak terlalu dieksplore apa korelasinya. Di samping itu, novel ini terasa agak berjalan lambat dan membosankan di bagian tengah dan seperti hanya fokus pada kesibukan keluarga sehari-hari ketika menyambut musim panas, juga ada pula prolog yang rupanya tidak ditemukan di tengah cerita. Tapi tak mengapa, visi misi novel ini sudah cukup tersampaikan dengan baik.

Sudah lama sekali saya tidak membaca buku bergenre horor. Terakhir mungkin SMA. Waktu masih anak-anak,  juga rutin baca rubrik Jagading Lelembut di majalah Djoko Lodang langganan simbah tanpa kapok, haha. Berlanjut setelah remaja buku apa pun cerita petualangan dan misteri selalu bikin penasaran. Termasuk yang berjenis horor. dari karya-karyanya RL Stine hingga yang berasal dari negeri Jepang. Kini semuanya tidak lagi sama. Mungkin saja semakin dewasa, orang semakin penakut. Bila nonton film horor Suzana saja sendirian ketika masih SD pun nggak jarang dilakukan, sekarang bila memang harus nonton film horor, itu pun mesti banyak orang, banyak temen, dan efek teriak bareng orang-orang itu lebih menyehatkan bagi fisik dan kejiawaan daripada nonton sendirian di kamar.

Kembali ke topik. Meskipun endingnya tidak terlalu “rame”, novel ini layak mengalihkan perasaan galau Anda sejenak berpindah ke perasaan parno. Sebagai novel bergenre horor pertama E.Rows, Immortality of Shadow menurut saya sudah dituliskan dengan baik dan cukup berkesan. Novel ini cocok untuk young adult.

 Tapi disarankan untuk tidak membacanya sendirian:)

Kopiss, dan Tentang Perjalanan 3 Perempuan: Resensi Novel

DSCN3957

Judul : Kopiss
Penulis : Miko Santoso
Penerbit : Diva Press
Tahun Terbit : 2014
Cetakan : Pertama
Editor : Aya Sophia
ISBN: 139786022960010
Jumlah halaman: 280

Sempatkah terbesit dalam benakmu, apa hal besar yang ingin sekali kamu lakukan dalam hidupmu, sebelum usiamu berhenti?

Barangkali itulah tema yang tersirat dalam novel berjudul Kopiss yang baru selesai saya baca ini. Kopiss, karya Miko Santoso, bercerita tentang perjalanan hidup 3 wanita dari latar belakang yang berbeda. Qiana, Gili, dan Onne. Ketiganya bertemu dan tinggal bersama di rumah milik Qiana.

Qiana Sitta adalah gadis asal dari Jakarta dan hanya memiliki kakak bernama Mbak Aya. Sepeninggal ayahnya, ia diserahi rumah di Bintaro Jaya. Tak mau jadi beban kakaknya, akhirnya ia mengatasi hidupnya sendiri dengan menyewakan sebagian rumah tersebut untuk kost-kostan. Dari sanalah, ia bertemu Gili dan Onne. Di balik penampilannya yang tomboy, Qiana sebetulnya mengalami ketidakpercayaan diri, terlebih di hadapan Zydna, teman masa kecil yang disukainya. Sebelum itu Zydna lebih menyukai Mbak Aya. Karena Mbak Aya menolak karena ingin menikah dengan pria lain, Zydna tampak mendekati Qiana. Namun belum sempat mengutarakan perasaan, Zydna keburu menikah dengan seorang janda karena permintaan ibunya. Hal itu membuat Qiana patah hati dan sulit move on.

Gili Virani, adalah gadis rajin beretnis Sunda. Ia bersekolah di STAN, yang tidak jauh dari tempat kostnya. Karena suatu masalah, akhirnya ia di-DO. Namun cita-citanya yang sesungguhnya memang bukan di sana. Dengan segala obsesinya tentang kopi dan bermimpi untuk sukses menjadi barista. Ia juga bekerja di sebuah kafe bernama Kafe Liwa yang memberikannya banyak pengalaman mengenai kafe dan kopi. Namun hidup rupanya tidak berjalan mulus. Ia jatuh cinta dengan Shilo, seorang duda keren pemilik kafe tersebut di tengah proses perceraiannya. Sialnya, pascaperceraian Shilo, Kafe Liwa justru jatuh ke tangan mantan istrinya. Gili bimbang karena dengan begitu berarti masa depan mereka pun buram. Tidak hanya itu, orang tua Gili pun tidak setuju karena mereka berbeda keyakinan.

Sementara Onne Narindra, gadis asal Malang-Jatim yang mengejar impian menjadi penulis. Ia datang dari keluarga yang kurang harmonis. Ibunya sudah lama meninggal, ayahnya tidak care, sedangkan kakak-kakaknya egois. Terbukti ketika mereka menyabotase hak warisan Onne demi kepentingan pribadi setelah ayah mereka meninggal. Onne pun harus memikirkan hidupnya sendiri secara mandiri dengan bekerja sebagai PNS di samping harus terus mencari identitas, namun senyatanya ia tak bisa meneruskan ketika suatu hal membuatnya berhenti dari pekerjaannya, dengan imbas pada masalah membayar denda dengan jumlah yang tidak sedikit.

Menghadapi berbagai masalah itu, ketiganya selalu saling ada dan menjadi sahabat karib yang selalu saling menguatkan. Kebersamaan dan perasaan senasib terlihat ketika mengunjungi makam ayah Onne, mereka tersadar, hingga terbesit dalam benak mereka untuk meraih yang paling diinginkan selama masih berkesempatan hidup.

Being happy with enough money is not the way I want to die. There’s more to life.” –Onne, halaman 193

Lalu bagaimana akhir kisah Qiana setelah Hanum, istri Zydna, malah menawarinya menjadi istri kedua? Ending cerita Gili setelah di-DO dan ceritanya dengan Shilo, juga akhir kisah Onne yang harus memikirkan bagaimana caranya mengembalikan kondisi keuangannya setelah membayar denda pasca dikeluarkan dari lembaga pemerintahan? Setiap kesulitan memang selalu dilengkapi jalan keluar. Roda Kopiss pun dikendalikan oleh mereka, Gili dalam hal meracik kopi, Qiana yang gigih, juga Onne yang tak menyerah, dan juga Syam, adik Zydna yang rela membantu mereka dari nol, serta Sherafina, barista berbakat yang semula saingan Gili di hadapan Shilo, mau berusaha menyelamatkan bisnis Kafe Kopiss.

Kopiss sendiri adalah nama sebuah kafe milik ketiga gadis tersebut, yang ada karena dilatarbelakangi oleh masalah ekonomi sekaligus mimpi-mimpi ketiga gadis itu yang ingin diraih. Ketiganya berkolaborasi mendirikan dan mempertahankan Kopiss yang sering mengalami kembang kempis. Namun bagi mereka mengenal kopi seperti mengenal hidup. Ada pahit, manis, asam, hambar, dan kadang penuh kejutan. Juga hal-hal yang tidak bisa dinominalkan dengan rupiah.

Novel ini menggunakan sudut pandang Qiana, meski demikian ia tidak menjadi satu-satunya tokoh utama. Sisi menarik dari novel ini menurut saya penggambaran keseharian tiga wanita dengan cara sederhana, menggunakan bahasa yang ringan, kadang menggunakan perumpamaan, dan diselipi humor. Begitu juga dengan cover buku yang juga dibuat simpel dari bentuk dan warnanya tapi tetap menarik. Novel ini dari awal seperti bercerita tentang kehidupan sehari-hari dengan alur campuran tidak terkesan datar. Kopiss menceritakan dengan apik mengenai awal berdirinya kafe dan jatuh bangun sebuah kafe, tentang proses menjalankan bisnis kafe, juga tentang kopi itu sendiri yang ternyata punya karakter masing-masing sehingga membutuhkan cara pengolahan dan peracikan yang beragam pula. Penjelasan tentang kopi dalam novel Kopiss cukup lengkap yang tentunya telah melewati masa riset.

Karakter tokoh-tokohnya digambarkan dengan cukup baik, dengan 3 wanita memiliki kekhasan sendiri-sendiri, hanya sedikit kurang wanita:D, dilihat dari obrolan, candaan, dan interaksi dengan perempuan lain yang terkesan agak maskulin. Tapi tak mengapa, karena barangkali penulis sengaja menggambarkan karakter perempuan tangguh dan sedikit tomboy, meski ada beberapa yang kurang sesuai dalam hal penggambaran emosi, misalnya seperti ketika Gili menceritakan temannya yang meninggal karena dicampur nuansa humor yang sepertinya kurang pas untuk menggambarkan kesedihan Gili.

Namun, ada beberapa kekurangan dalam novel ini yang masih bisa disempurnakan lagi. Misalnya pada margin yang sepertinya kurang rapi dan terlalu mepet ke pinggir. Juga beberapa typo dan kesalahan eja. Meski demikian, tak mengapa karena memang tidak ada karya yang sempurna dan kesalahan yang sedikit itu tak terlalu mempengaruhi jalan cerita. Terlebih penjabaran setting tempat yang diceritakan oleh penulis cukup baik. Meski di awal-awal tampak seperti monoton namun endingnya menarik dan membuat pembaca bebas mengimajikan sendiri akhir kisah Qiana. Juga quote-quote di dalamnya dapat dijadikan motivasi.

Selamat membaca.

“Hidup itu memang seperti meniti tangga masalah. Setiap pendakian baru berarti masalah baru. Kita tidak bisa benar-benar lepas dari tangga itu.” halaman 243