Tentang Memilih Presiden

-Sekadar catatan kala senggang

 

Saya tentu kurang bisa ngasih penilaian yang proporsional soal debat kemarin malam, kecuali bahwa keduanya telah berusaha keras meyakinkan. Barangkali secara performance, presiden satu lebih menguasai materi daripada satunya, dan barangkali melalui pengamatan pengalaman, peresiden satunya lebih unggul daripada yang lain. Keduanya punya kelebihan dan kekurangnya masing-masing. Sebab, bagaimana pun manusia toh selalu nggak bisa menghindari kedua hal itu.

Tapi dari posisi menonton saya tentu, secara keseluruhan, tampaknya debat kali ini agak konyol sebab mestinya debat presiden banyak mengangkat hal-hal yang lebih besar dibanding anggaran daerah ataupun kartu sehat. Ya begitulah. Itu hanya opini. Tapi saya tidak lebih banyak sibuk mempertimbangkan mana yang nanti saya pilih. Saya hanya lebih banyak merenungi apa yang telah banyak terjadi dalam pengalaman hidup saya sebelum ini.

Pertama,
Sekarang orang semakin canggih menampilkan citra diri, kita sebut dengn pencitraan. Didukung oleh kemudahan informasi, media, dan semacamnya. Tak terkecuali calon pemimpin yang sedang berkampanye supaya dipilih. Sedangkan kita bukan bangsa anak-anak yang bisa dibohongi. Masalahnya orang yang ngasih kita mainan kadang nggak sadar kita sudah dewasa dan bisa memandang bahwa itu hanya pengalih perhatian. Mereka bahkan lupa kita sudah terlalu tua untuk cukup dapat membedakan mana mainan dan mana kebenaran.

Kedua,
Secara pribadi, saya trauma di-PHP-in, tidak hanya soal memilih presiden, itu sebabnya hingga saat ini saya belum berpikir untuk ikut pemilu. Saya belum siap memilih sesuatu. Anda yang pernah merasa salah pilih tentunya akan merasakan ganjalan yang barangkali sama.

Ketiga,
Kemudian, saya hanay berusaha berpikir lebih adil.
Tentu saja, nggak ada calon pemimpin yang bakal bilang mau obrak-abrik negara, pastinya visi misinya mau membangun, memakmurkan, memberantas korupsi, dan hal-hal baik lainnya. Tapi sejarah selalu berkata sebaliknya bukan. Dalam kebobrokan suatu sistem pemerintahan, memang bukan hanya presiden satu-satunya yang bertanggung jawab, tapi bila kita punya presiden yang kurang bernyali, berbagai kerusakan tentu terjadi di mana-mana dan tak selesai.

Keempat,
Pengalaman pribadi selalu bilang bahwa orang yang banyak bicara biasanya minim tindakan 😐 dan saya sedih bila itu benar. Kurang bijak rasanya terlalu banyak mengumbar janji namun setelahnya ‘kabur’ begitu saja. Tapi bodoh rasanya bila kita percaya begitu saja terhadap omongan/rayuan tanpa kita cermat melihat kemungkinan dan hal-hal di luar itu.

Ketiga,
Rasanya kurang adil juga kalau memilih sesuatu karena terpesona dengan performance awal atau karena idola atau pemimpin partai tertentu memilih presiden yang sama misalnya. Menyesal pernah memilih presiden yang salah, membuat hingga saat ini saya masih memilih golput. Kalau waktu bisa dibalik, saya pasti nggak ikut pemilu saat itu. Tapi sungguh ketika sebagian besar warga negara milih seorang presiden, mereka tentu takkan bisa menerawang masa depan negara. Setahu mereka, yang dipilihnya sudah terbaik dibanding calon yang lain.

Tapi, jauh dari itu semua, saya sadar, nggak ada pemimpin yang sempurna, nggak baik juga berharap yang muluk-muluk supaya satu orang bisa bikin negara seluas RI tiba-tiba berubah jadi semaju Dubay misalnya.
Jangankan memimpin semua orang di negara kepulauan seperti Indonesia, kita sendiri mimpin satu orang aja belum tentu bisa kan.

 

Meskipun saya masih golput, saya tetap berharap, siapa pun nanti presidennya, semoga Indonesia menjadi lebih baik dari sekarang. Dan minimal tidak lagi bermental kebudak-budakan seperti masih di zaman kompeni. Hanya itu harapan saya.

Tradisi dan Kekejaman (part 2)

Sebuah catatan kecil

Saya istighfar berkali-kali sembari menahan kesal ketika membaca sebuah berita di yahoo.com hari ini dan menyadari bahwa di belahan bumi ini, ada sebuah tradisi–tanpa bermaksud menghakimi tradisi tersebut–yang menyingkirkan para perempuan yang sedang menstruasi dengan cara-cara yang kurang manusiawi. Dan aku hampir menangis ketika melihat foto-fotonya. Rata-rata mereka dibiarkan tinggal di sebuah gubug, melawan udara dingin, dan sendirian. Terlebih sebelum ini, aku sempat menelusuri beberapa sejarah penindasan di kawasan negara-negara di Asia, Amerika, dan juga beberapa yang lainnya, yang tentunya tak kalah memprihatinkan.
–> http://id.berita.yahoo.com/foto/tradisi-chaupadi-di-nepal-1394424201-slideshow/

Barangkali aku geram dan meradang. Ingin tahu lebih banyak, aku pun menelusuri sumber lain. Dan akhirnya kutemukan bahwa kebiasaan tersebut termasuk tradisi lama yang dianut oleh masyarakat yang memang masih primitif serta tidak berpendidikan (hanya masyarakat tertentu saja yang terjamah hal-hal yang keilmuan di sana). Meski masih bingung antara maklum atau kesal, aku pun menyadari sesuatu. Untuk apa menuding tradisi lain, wong budaya sendiri aja bukan budaya yang sempurna.

Yeah, aku sadar, kebudayaan di Jawa (di mana aku lahir) juga mengenal tradisi patriakhat, bahkan tak kalah “primitif”nya, dan masih ada sisa-sisa patriakhat yang melekat di zaman kini. Tentunya segalanya butuh proses yang tidak sebentar apalagi instan. Terlebih bila patriakhat tidak hanya masih didukung kaum pria tetapi juga sebagian wanita.

Aku sempat lupa, bahwa aku hanya akan akan mengumpati dengan rasa sebal, sebuah kebudayaan atau kaum lelaki yang menyingkirkan perempuannya ketika mengalami hal-hal wajar seperti menstruasi seolah makhluk najis yang mesti dijauhi, sementara mereka hidup di lingkungan yang beradab. Aku hanya akan mengutuk mereka yang memposisikan kaum perempuan serendah budak. Seperti hanya sekadar dinilai dari ‘manfaat’ dan bukan harkat dan martabat.

Namun, berbicara sejarah bangsa, konon sama halnya berbicara tentang sejarah kekejaman. Tidak ada sejarah yang tidak luput dari kekejian. Dan kita juga dapat menemukannya di berbagai referensi yang membahas sejarah tradisi kita sendiri. Tidak hanya yang dialami Kartini tetapi juga yang lain. Barangkali ada yang pernah membaca sebuah buku berjudul Panggil Aku Kartini Saja yang ditulis oleh Pramoedya AT? Kita juga tidak lupa sejarah rezim Orde Baru yang patriakhat merendahkan organisasi Gerwani yang rata-rata terdiri dari perempuan cerdas dan revolusioner, menjatuhkan mereka dengan berderet fitnah dan stigma.

Kembali pada sebuah tradisi di Nepal ini. Sebab kita semua tahu persis bukan, beda manusia beradab dengan yang jahiliyah? Minimal nurani kitalah yang bisa membedakan. Kelompok beradab berada di zaman maju, di mana informasi dan segalanya mudah diakses, komunikasi juga dapat dilakukan dalam berbagai cara, di samping itu, masyarakatnya juga bukan yang terbelakang. Sedangkan yang jahiliyah adalah tentang keterbatasan dan keterbelakangan. Dan aku hanya bisa berdoa, semoga kelak, wilayah tersebut segera menemukan pencerahan.

Kita toh paham, ada perbedaan besar antara tradisi dan manusia-manusiaanya. Manusia modern yang masih meremehkan para wanitalah yang lebih barbar dan tidak humanis. Bukan mereka ini.

Antara Kita dan Semut-Semut di Kepala

Cerpen yang saya baca pagi ini di koran Kompas mengisahkan seorang perempuan yang berpikiran rumit. Ia kehilangan seorang pria sederhana yang telah 6 tahun mengencaninya dan 6 tahun pula menikahinya. Beberapa bulan suaminya ini meninggalkannya. Namun ia tetap sibuk pada pekerjaan dan melanjutkan hidup. Orang-orang bertaruh tentang apa yang akan ia lakukan setelah suaminya pergi. Akan merutuki nasibnya atau kalap mencari si suami di penjuru kota. Tapi si perempuan terlihat seperti tetap melakukan aktivitas seperti yang sudah-sudah, bekerja, pulang tepat waktu, dan belanja kebutuhan sehari-hari di hari Minggu, seperti hari-hari biasanya sehingga orang-orang pun bosan bertaruh.

Terakhir sebelum suaminya meninggalkannya, mereka sempat bertengkar. Sebelum pergi si suami mengumpat tentang otaknya yang rumit dan akan habis dimakan semut. Sedangkan semut dalam cerpen tersebut menggambarkan isi pikiran. Sejak menerima sebuah surat dari suaminya, si perempuan terbawa oleh ilusi semut-semut yang menyerang rumahnya dari hari ke hari. Orang-orang telah menggapnya kehilangan kewarasan karena berbulan lamanya suaminya memutuskan meninggalkannya. Si perempuan menghabiskan waktu dengan berusaha membersihkan semut-semut di rumahnya namun hanya ia yang melihatnya. Semut-semut dilihatnya semakin banyak yang berdatangan sampai tak ada yang bisa dilakukan selain menjadikan jutaan semut itu teman bicaranya untuk terakhir kali. Hingga pada akhirnya, ia meninggal dalam sepi dengan obat serangga bertebaran di rumahnya. Jasadnya ditemukan dalam keadaan masih menggenggam surat gugatan cerai dari suaminya.

Bila kita berbicara populasi manusia dengan pemikiran yang beragam, kita tak hanya menemukan jenis manusia yang berpikiran sederhana, ada juga yang kompleks dan karakter tersebut tidak lahir dengan sendirinya. Hanya saja ‘komunitas rumit’ hanya akan memahami yang sama-sama rumit itu pun tidak selalu, dan yang ‘kelompok sederhana’ hanya nyaman berinteraksi dengan yang sederhana. Meskipun dalam beberapa hal, mereka bisa saling membutuhkan. Sayangnya demikian hukum alam sering kali berkata. Sayang, orang juga sering tidak dapat memilih menjadi sederhana bila sudah telanjur merumit.

Jalan ceritanya menarik, antara narasi dan dialog antartokoh tersaji dengan pas dan runut, menujukkan kualitas si penulis yang memang produktif. Dan toh yang namanya cerpen ia bisa saja semacam ide atau imajinasi, atau barangkali berasal dari kehidupan sehari-hari. Tapi ia tetap menyiratkan realitas. Hanya saja, cerpen ini seperti campuran antara tragedi dan humor dalam porsi yang seimbang di benak saya. Rasanya ingin tersenyum geli sekaligus sedih. Membaca cerpen ini membuat saya bertanya pada diri sendiri:

Benarkah selalu demikian? Apakah harus menjadi sederhana, perempuan dapat dicintai pasangannya dengan tulus?
Apakah kerumitan itu salah sehingga setiap individu yang rumit selalu diingatkan soal keterasingan?
Apakah kerumitan termasuk kecacatan?

Hanya baru beberapa kali selama ini saya membaca sebuah karya dengan merasa berada dalam tokoh utama. Selebihnya, saya biasa membaca karya dengan terkesan dengan teknik bercerita, ide, pemikiran, atau sejarah. Tapi jarang ada yang bisa memengaruhi perasaan seperti cerpen “Wanita dan Semut-Semut di Kepalanya” yang ditulis oleh Anggun Prameswari.

Membaca cerpen ini, seperti membaca diri saya. Sebab saya juga rumit. Bahkan rasanya tidak hanya semut-semut yang selalu menyerang kepala saya, tapi juga setan dan debu-debu.  Andai dapat memilih, saya tentu ingin berpikir sederhana dan segalanya akan berjalan sesuai yang semestinya.

film horor zaman dulu dan sekarang

 

Kira-kira sejam yang lalu, saya baru selesai nonton film lama bertema horor di televisi. Artisnya almh. Suzana yang dulu sempat jadi ikon artis horor populer di tahun ’80-an. Jadi ingat sewaktu kecil, saya nonton sendirian film semacam itu sampai selesai. Seperti anak-anak kecil lainnya, saya tetap menonton malam-malam dan sendirian hanya didorong oleh rasa penasaran dan kesenangan. Anak kecil barangkali tidak terlalu paham rasa ngeri. Kadang kedewasaanlah yang mengacaukan logika, sebab setelah dewasa saya justru sering jejeritan kalau nonton film horor modern. Nonton berjamaah bareng temen aja tetap ‘heboh’. Padahal cuma film. Karangan manusia.

Sekarang seperti kembali ke masa kecil, saya nonton film itu lagi sendirian dan dengan tenang. Agaknya, kalau dipikir-pikir, film horor selalu menyimpan adegan lucu dan konyol. Coba pikir, bagaimana bisa hantu berinteraksi dengan manusia dan masih bisa kencan dengan mantan suami? Bagaimana bisa selembar hantu–yang semula divisualisasikan dengan wujud transparan–bisa makan sate dan menggendong kucing? Bagaimana bisa hantu membunuh musuh-musuh yang menjadi penyebab kematiannya dengan cara yang bermacam-macam? Sempatkan ia berpikir bahwa bila para musuh bebuyutan itu mati dibunuhnya, bukankah mereka malah akan ketemu lagi di alam lain, reunian? Tapi itu semua tentu bukan hal besar, sebab agaknya lebih baik film horor yang semacam itu, yang masih di-setting secara polos dan bahkan diselipi nasihat ustadz, daripada film horor jenis sekarang. Dan kini saya sadar, manusia punya reaksi dan emosi yang tak jauh beda, film hororlah yang mengalami transformasi.

Film horor zaman dulu tak lepas begitu saja dari nilai moral, seperti yang saya tonton malam ini. Si hantu ini semasa hidupnya adalah seorang istri berhati tulus yang mengalami depresi kemudian bunuh diri karena alasan kehormatan, sebab ketika suaminya pergi bertugas, ia sempat diperkosa oleh sejumlah orang dan kemudian hamil. Penonton mungkin akan merasa gemas dan ikut sedih melihat si wanita yang malah diejek di persidangan sebagai sundal dan melihat langsung para pelaku dibebaskan dari tuduhan. Setelah jadi arwah, ia pun mencari para pemerkosa untuk membalas dendam. Bahkan si hantu hanya meneror dengan serius para penyebab kematian atau sekadar berbuat usil dengan mereka yang tidak punya rasa hormat terhadap bangsa jin. Pesannya adalah bahwa melakukan kejahatan seperti mencoreng kehormatan wanita yang tak bersalah, menyimpan konsekuensi yang sangat mengerikan di masa mendatang. Film diakhiri dengan permintaan suami dan segenap kiai pada si hantu untuk kembali ke tempat yang seharusnya, dengan rasa sedih serta doa pengantar supaya damai di alam sana. Mengharukan.

Berbeda dengan film yang sekarang, yang rata-rata malah sudah mengeksploitasi tubuh perempuan dan menyisipinya adegan vulgar. Hantu di film zaman sekarang seperti menyiratkan pesan bahwa dunia lain hanya berisi makhluk-makhluk jahat yang meneror siapa pun bahkan yang tidak bersalah. Itu pun jarang dibingkai oleh cerita kehidupan yang dekat dengan realitas. Yeah, intinya, film horor zaman dulu lebih banyak memberi pesan moral, sedangkan zaman sekarang (dengan penggarapan kostum yang sudah maju, musik yang amat mendukung, dan make-up yang ‘total’) cenderung dimaksudkan untuk hiburan semata. Namun efeknya membuat kita perlu berhati-hati, karena kebanyakan membuat penontonnya justru paranoid dan terkejut dengan tidak logis. Apalagi film horor kita di zaman sekarang seolah berdampingan erat dengan adegan porno.

Yeah, ini hanya sekadar pendapat saya mengenai fenomena film horor Indonesia dengan wawasan yang tentunya masih terbatas.

Sekilas tentang Pernikahan dan Masyarakat

Tulisanku kali ini hanya sekadar opini.

Sepertinya sudah sekitar 50 persen adikku dan calonnya menggarap persiapan pernikahanan, kemarin hari mereka mengurusi undangan. Dan, yeah, aku memang lebih suka mengamati obrolan calon pasangan yang akan menikah daripada obrolan mereka yang cuma pacaran. Ada perbedaan bobot konten di dalamnya.

Awal mulanya dari sini. Seperti biasa, calon iparku ini akan lama bila berdiskusi dengan adikku, dan tatkala ia sedang salat di masjid, berhamburlah ibu-ibu (tetangga sekitar rumah) ini mengajak bicara adikku, nggak penting sih isinya. Tapi membuatku jadi ingin menuliskan ini sebagai bahan perenunganku juga. Sebab ibu-ibu ini kuanggap miniatur dari masyarakat kita.

Ibu-ibu pertama menanyakan, kok kamu mau sih dilamar dia padahal belum lama kenal? Kalau aku dulu pacaran 4 tahun. Kemudian ibu-ibu lainnya menambahi tentang betapa lamanya mereka pacaran sebelum menikah. Dan barangkali heran dengan adikku yang selama ini tak pernah pacaran tapi tiba-tiba langsung mau married. Dan tentu saja talk show mereka berlanjut dengan memberi opini tentang aku—sebagai kakak yang malah santai-santai saja, yang tidak terprediksi apakah bakal akan menikah atau tidak, atau entah kapan bakal menikah kalaupun iya. Nyatanya, sampai dilangkahi adik sendiri.
Aku sih nggak komen apa-apa. Kalau aku sedang berada di depan mereka, paling aku hanya senyum sambil nyiramin tanaman. Barangkali karena wilayah hidupku tidak lagi mengurusi masalah privasi orang lain tanpa izin. Dan maklum sih kenapa ibu-ibu ini heboh soal tetangga dan urusan orang lain, sebab ketika mereka menikah dan terlepas dari ranah publik, dunia mereka pun otomatis menyempit. Perempuan punya kodrat hidup yang multitasking daripada pria. Kalau bukan rumahnya, apa lagi kalau bukan tetangga lain yang jadi bahan pengamatan sampingan? Masa ya mau mengamati kondisi politik di Afrika misalnya? Sering kali aku berpikir, ibu-ibu yang sering bergosip ini bakal akan jadi pihak yang memunahkan budaya gosip, andai para suami mereka dan adat istiadat memberi ruang selebar mungkin untuk menempuh studi sampai tuntas dan ikut organisasi nasional dan internasional (misalnya). Perhatian mereka bakal cuma ke pendidikan anak, keluarganya sendiri, dan kesibukan sampingnya adalah permasalahan negara [hal-hal bersifat publik]. Bayangkan bahwa bila demikian, negara ini akan maju karena mereka punya penduduk wanita yang cerdas-cerdas yang mendidik anak-anaknya dengan terbaik juga. Haha. Tapi kan itu memang hanya khayalanku semata. Sebab sekali lagi, aku mesti melihat kondisi.

Kembali pada persoalan awal, pemikiranku berkait adat istiadat ini kutarik garis lurus:

Pertama, apa pun yang terjadi, aku bahagia dengan pernikahan adikku, tahu kenapa? Sebab untuk menemukan pasangan terbaik, orang tidak harus memilih prosedur pacaran lama. Dan untuk memutuskan menikah, orang tak perlu tergantung pada penilaian orang lain. Secara logika, menikahlah yang riil daripada pacaran itu sendiri. Seingatku juga, ibu-ibu muda yang barusan mengomentari adikku ini, pernah mengalami rentetan galau bertahun-tahun deh sebelum akhirnya menikah. Aku memang kelihatan cuek, tapi kan mengamati. Bisa-bisanya menganjurkan hal yang sama.
Kurasa belum pernah menemukan orang yang pacaran bahagia dengan statusnya yang menggantung. Ada berapa banyak orang di laur sana yang menderita karena sudah telanjur milih pacaran tapi nggak nikah juga? Mengingat Indonesia begitu rekat dengan adat dan religi.
Kalau orang sudah mau pacaran, berarti ia sudah berdamai dengan status yang lebih pasti dan malah menunggu kepastian. Kalau tidak ingin menikah, ya jangan suruh-suruh orang untuk pacaran. Bukankah dalam pacaran, orang tidak (boleh) bisa loyal dengan hubungannya karena terbentur status dan kondisi? Orang pacaran di Indonesia kan tidak boleh serumah seperti di negara liberal. Kalau cuma buat alasan mengenal calon pasangan, pacaran itu nggak cukup. Sebab apa? Sering kali kebiasaan buruk ketika pacaran baru kelihatan setelah menikah. Malah dalam soal ini, aku setuju dengan para ustadz, bahwa pacaran (yang nggak didasari niat dan proses akan menikah) malah justru serupa pintu gerbang menuju maksiat. Sebaliknya, pernikahan adalah gerbangnya menuju ibadah. Kecuali mereka yang nikahnya karena dorongan hormon, material, atau tuntutan sosial. Bukan karena dorongan spiritual. Jika kita sepakat pernikahan itu institusi yang sakral, sebaiknya jangan pernah mencampurinya dengan niat busuk.
Dalam hal ini adat kalah dengan agama.

Kedua. Yeah, memang aku sering tidak mau meng-agama-kan sesuatu yang bukan agama. Masalah melompati kakak adalah masalah adat, maka aku akan ambil pembanding yang lebih kuat daripada adat, yaitu agama. Bila permasalahan terbentur karena agama, maka pembandingnya langsung pada kajian kitab suci sedunia. Nah, dalam agama sendiri tidak ada larangan adik melangkahi kakaknya untuk soal menikah. Larangan itu hanya ada pada adat yang masih berlangsung di beberapa tempat di Indonesia. Kalau sudah begitu, jangan ajak bicara aku soal adat. Aku tidak berkarib dengan itu. Yeah, memang sih, aku tetap menghargai adat lama yang memperahankan nilai-nilai bahwa “adik haram melompati kakaknya.” kalau bisa malah ngorbanin pacar yang sudah lama nunggu daripada mengalahkan adat. Begitulah kata mereka yang menjadikan adat sebagai alibi untuk tidak (berani) menikah. Di zaman sekarang please deh, jangan bersikap udik soal begituan. Nikah itu bukan persoalan adat saja. Tapi kemanusiaan dan ketaatan terhadap agama.
Bukan berarti aku menolak nilai-nilai yang ada di dalam adat. Sebab di sana banyak pelajaran moral yang baik untuk menusia. Meskipun, nggak semuanya mematuhi.
Menurutku ada sisi adat yang cuma bersifat prosedural.
Misal, masalah sopan santun aja, kalau sudah terbentur adat, jadinya tidak terjadi hubungan yang murni antarmanusia. Bagiku sopan terhadap yang lebih tua bukan lagi persoalan adat, tapi filsafat. Sikap sopan adalah tanda bahwa manusia sudah menyadari dan memahami kemanusiaan dalam dirinya juga kemanusiaan orang lain. Sedangkan sopan dalam adat istiadat adalah kewajiban semata.

Selama ini, orang Jawa yang dikenal suka basa-basi karena mereka menjadikan adat sebagai prosedur wajib untuk mengatur bentuk hubungan. Menantu yang menghormati mertua (misalnya) bukan lagi karena tulus menghormati dan menyayangi, tapi karena prosedural adat itu tadi. Akhrnya malah terjadi ketidakcocokan di segala aspek kehidupan. Bukankah lebih tulus alasan kemanusiaan daripada prosedural? Bukankah lebih indah saling menghormati dan mencintai yang didasari dorongan hati dan moralitas daripada adat?
Dalam hal ini, adat kalah dengan hati.

Ketiga. Menikah itu sendiri adalah pilihan. Dalam agama disebut sunah. Boleh dijalankan, boleh tidak. Aku agak risih dengan masyarakat tertentu yang notabene paham agama, menyebut menikah adalah kodrat, dan terlebih malah ditekankan pada wanita seolah itu kewajiban dan beban yang ditanggung kaum wanita itu sendiri. Yeah, memang melahirkan dan menyusui adalah kodrat wanita. Tapi menikah adalah pilihan. Ada beda antara kodrat dengan konstruksi sosial bernama pernikahan. Dalam pernikahan, wanita yang sedang hamil dan menyusui pun merupakan tanggung jawab suami dan keluarga besarnya juga, sebab itu semua dilakukan karena pilihan.
Kalau si anak lahir, bukankah pendidikan awal adalah orang tua dan keluarga besarnya?
Sekarang sudah nggak zaman berpatriakhat ria. Yang ada adalah kesetaraan dan tanggung jawab yang dijalani bersama.

Tatkala mereka menganggap pemikiranku nyeleneh ya toh biar saja, aku yang menjalani. Dan aku memang mempersilakan adikku menikah lebih dulu karena tidak mungkin kan menyuruh mereka (adik dan calon iparku) yang sudah matang soal niat, malah jadi nunggu aku yang belum didatangi nasib yang sama…?
Aku nggak mau kejam dong sama adik sendiri. Aku juga nggak mau egois terhadap orang tuaku.

Dalam hal ini, adat pun kalah dengan kemanusiaaan.

Sekian.

*Hasil pemikiran sepanjang jalan sambil hujan-hujan tadi pagi.

ke(per)damaian

Okay, memang bakal ribet dan butuh waktu lama untuk mengurai suatu kasus menggunakan banyak sisi. Hanya saja, aku bayangkan aku sedang memegang sekotak krayon, warnanya beragam. Kuibaratkan krayon seperti manusia. Kita semua membawa sepaket warna, dan Tuhan terlanjur memasangkan sebuah misi yang berbeda-beda sebagai alasan kita ada di dunia sejak kita masih segumpal janin. Ketika dewasa kita juga tumbuh dengan lingkungan dan “makanan” yang berbeda pula.

Katakanlah di sekitar kita adalah warna-warna yang tidak sama atau sering kali tak lazim. Tapi biarlah, selama itu membentuk konsep lukisan yang indah, mengapa kita mesti khawatirkan detail warna? Mungkin di matamu: lanskap langit terlihat bertabrakan oleh warna hijau, laut akan aneh ditaburi warna hitam keabu-abuan, warna rambut sosok gadis di sana menjadi tak biasa dengan ungu, atau barangkali lukisan batu-batunya menjadi kontras dengan warna orange. Namun bila lukisan itu tak membunuhmu atau membuatmu praktis ingin membunuh pelukisnya, biarlah saja ia menjadi salah satu karya yang diam dan baik-baik saja di salah satu galeri.

Biar saja kita semua hidup dengan keyakinan yang plural, dan manusia toh fitrahnya mencari cahaya, sebab setiap manusia pun membawa bagian gelapnya masing-masing. Tugas kita cuma memperjuangkan dan menjaga ke(per)damaian selama hidup di bumi dengan apa pun caranya.
Urusan benar salah, itu nanti kalau sudah kiamat.

Barangkali, aku pun butuh belajar lagi soal perdamaian dan kedamaian.

(Terinspirasi surah Al-Kafirun)

Cerita Pagi Awal November

Dalam sisa-sisa kesuntukanku kemarin hari, akhirnya kumulai pagi ini dengan segelas kopi serta beberapa bacaan di national geographic dan tempo di internet. Namun sayang lebih banyak berita buruk yang menarik perhatian–yang muncul di sana.

1
Di national geographic, sebuah feature mengulas konflik di Nigeria yang masih berlangsung hingga kini. Ada yang menyebut konflik tersebut bersifat etnis dan ada pula yang menyebut konflik agama, dan menyebut satu kelompok muslim sebagai biang keladi serta rivalnya yang berbendera kristen. Tapi apa pun itu. Sebab bagiku, semua yang terjadi itu wujud dari krisis kemanusiaan yang belum selesai. Ribuan korban berjatuhan tak lagi terhitung jumlahnya.
Tiba-tiba aku berpikir tentang nilai manusia di sebuah negeri yang berkonflik. Kubayangkan bila aku berada di posisi mereka: setiap hari mendengar dentum bom, mencium bau amis mayat yang telah menyatu dengan senyawa oksigen, bahkan di terminal bus, jalan, pertokoan, sekolah, tempat ibadah pemandangan berupa kepingan jasad manusia sudah biasa. Setiap hari di sana, setiap orang seakan bersiap dengan maut dan terbiasa bersanding dengan teror.

Seorang aktivis yang dieksekusi negara itu pada 1995 atas tuduhan palsu, Saro-Wiwa pun beropini: “Hidup sehari di Nigeria berarti mati berkali-kali.” Bahkan, kegiatan sederhana pun dapat menguras energi. Sebagai bukti ketegangan yang terjadi di sana. Aku benar-benar sulit membayangkan.

Aneh memang, di bawah tanah kering yang selalu berdarah dan beraroma mesiu itu, rupanya memang tersimpan ironi yang seluruh dunia pun tahu.

“Nigeria memiliki kelas menengah terdidik, kota dengan industri makmur, serta pers yang gaduh, sekalipun tidak benar-benar bebas. Namun, sumber daya yang paling menguntungkan, sejak ditemukan pada 1950-an, adalah minyak mentah. Nigeria merupakan eksportir minyak terbesar kelima di dunia, namun hampir dua pertiga penduduknya melarat dengan penghasilan yang cuma pas-pasan untuk bertahan hidup.”

So… bukankah itu aneh? Nggak mustahil kan kalau pihak mana pun bisa bersembunyi di balik Bako Haram (yang disebut kelompok muslim) untuk membuat kondisi sama itu tetap berlangsung. Demi apa… entahlah… mungkin minyak.

Satu yang kusyukuri, aku tidak tinggal di sana, sekalipun bukan berarti mereka tak memiliki arti dalam duniaku. Selama kita tahu mereka masih berada di planet yang sama, kita adalah bagian dari itu.

2
tempo.co
Aku memilih beberapa berita yang tidak melulu soal korupsi pemerintah. Salah satunya, kasus tentang lambannya polisi menangani kasus penyerangan terhadap kegiatan diskusi di Wisma Santidharma, Godean, Sleman, Yogyakarta. Serbuan yang dilakukan oleh Front Anti-Komunis Indonesia (FAKI). Atau malah pemerintah seolah membiarkan. Beritanya di sini.

Tapi yang lucu dari kasus penyerangan itu, bagaimana orang bisa membunuh ideologi hanya dengan kekerasan fisik? Melawan ideologi bukankah dengan idealogi juga? Bukankah sejarah selalu ambigu? Dan apa yang salah dengan keyakinan seseorang, selama dia masih menjaga perdamaian di muka bumi ini? Tapi tentunya akan sulit mengaplikasikan itu di hadapan kelompok preman. Bukankah di mana-mana preman hanya bisa menyerang secara primitif?

Kita telah paham, keberagaman bukan bahaya. Perbedaan bukan ancaman. Tapi di suatu tempat yang modern kehidupannya, tak selalu menjamin telah maju juga masyarakatnya dalam hal berpikir. Di sebuah kota yang cukup berbudaya dan dinamis seperti Jogja, orang-orang udik dan “idiot” tetap ditemukan di mana-mana. Orang idiot yang kumaksdn adalah mereka yang mau-mau saja dibeli dan disuruh oleh pihak-pihak yang jelas-jelas cuma mengurusi kepentingannya.

Di samping itu, kita memang tinggal di Indonesia, yeah… (meminjam istilah Putu Setia) tempat di mana yang korupsi berteriak antikorupsi, sementara penegak hukumnya sendiri juga melakukan pelanggaran. Jadi, mau bagaimana lagi?

3
Membaca situs web tempo, tentu takkan kulewatkan kolom-kolomnya, terutama catatan pinggirnya. Sebab sekalipun loncat-loncat, tulisan GM selalu membuka cakrawala baru, sekaligus membuat kita dapat memaknai peristiwa dengan pandangan yang lain. Bagiku, membaca tulisan semacam caping juga mengobati kejenuhan membaca berita harian.

seperti yang kubaca hari ini.

http://www.tempo.co/read/caping/2013/10/28/129062/Gramsci

“Tapi dalam selnya, Gramsci merasa ada yang bisa berubah dalam dirinya:

Aku merasa, andaikata aku dibebaskan dari penjara sekarang, aku akan terus hidup dengan otakku semata-mata… melihat orang-orang, bahkan yang seharusnya kuanggap dekat, bukan sebagai makhluk yang hidup, melainkan sebagai teka-teki yang harus dipecahkan.

Bertahun-tahun terasing dari gemuruh perdebatan dan keasyikan kebersamaan, seorang pemikir memang mudah terseret ke dalam sunyi Cartesian: liyan akan hanya hadir sebagai obyek analisis. Manusia ada untuk dirumuskan. Doktrin akan kian menentukan pandangan sang pemikir, bukan hubungan yang tak terduga antarmanusia.”

Berguru pada Ranah Baru: Karya Bertema Dunia Persilatan

Sejenak kupandangi kawan-kawan akrabku: buku-buku, yang tertumpuk begitu saja tanpa bisa kubuka-buka satu per satu seperti dulu, sementara kulihat pekerjaan semakin menyita waktu.

Lalu akhirnya kutulis beberapa hal ini:

Pagi ini kusadari, rupanya memang benar kebiasaan membuat skema dan coret-coret intisari buku (atau hasil pemikiran apa pun) berasal dari ayahku. Ayahku mencintai buku-buku sejak muda dulu. Khususnya kisah-kisah dunia persilatan ala Jawa, seperti karya SH Mintardja, penulis serial silat yang mendapat penghargaan Sang Hyang Kamahayanikan Award 2012 kemarin lantaran telah menulis 400 buku yang berdekatan dengan sastra, sejarah, dan budaya negeri.

Penuh semangat, pagi tadi beliau bercerita tentang skema itu—jumlahnya berlembar-lembar sampai bikin mataku melongo, terlebih ketika beliau berencana menjadikannya buku (pantas akhir-akhir ini sering terlihat menyendiri di kamar). Bila soal karya-karya sejenis itu, ayahku hafal betul penokohan, alur, nama-nama jurus, latar peristiwa, sampai keterhubungannya. Memang sih sudah lama juga kuamati beliau cenderung konsisten membaca karya-karya bertema serjenisnya—hanya saja belum pernah punya semacam teman sehobi (anggota keluarga/komunitas) untuk diskusi cerita dari bacaan fovorit yang serupa.

Rencananya buku itu mungkin seperti esai, atau ulasan, aku belum tahu persis. Tapi jarang-jarang bapakku terbuka soal keinginannya. Itulah yang membuatku pagi ini, akhirnya, membuat resolusi dadakan. Sekalipun baru draft nonriil yang nangkring seharian di kepala.

Mencari buku-buku SH Mintardja di era sekarang cukup sulit—sudah menjadi rahasia umum. Padahal sudah coba kucari juga sejak tahun 2010 kemarin. Barangkali sudah langka. Mungkin juga akan repot bila mengumpulkan dari koran karena naskah itu semula serial yang diposting di pojok koran kedaulatan rakyat. Yang punya hanya mereka yang sejak dulu kala cukup memiliki dana untuk mengoleksinya. Itu pun mungkin era sekarang buku-buku itu gak bisa dibeli begitu saja.

Tapi eh.. lagi-lagi alam semesta mendukung mimpi… aku pun akhirnya menemukan beberapa situs di mana naskah-naskah itu bisa di-download.
Rupanya sampai sekarang, para penggemarnya (di mana pun mereka berada) tidak tinggal diam. Buktinya blognya pun bertebaran di dunia maya tak cuma satu saja, pembaca tak perlu pusing memburu buku-bukunya yang langka itu, karena di web sudah ada. Aku juga memasang salah satu linknya di kolom blog tetangga. Barangkali pembaca ingin menengok juga karya-karya SH Mintardja :p. dan sebagai informasi, profil SH Mintardja dapat dilihat di alamat ini

Di samping itu, sepenggal cuplikan cerita yang disampaikan ayahku pun sudah cukup membuatku ikut-ikutan tertarik.

Tiba-tiba aku merasa sedang ditemukan dengan tugas baru yang menguji keprofesionalanku sendiri, yang kurasa merupakan tugas yang sebenarnya. Tanpa ada embel-embel harapan terhadap gaji atau sejenisnya (mengingat sejak kerja, aku sudah tidak minta subsidi lagi, kecuali orang tuaku yang tiba-tiba memberinya). Yeah, tidak lain tidak bukan adalah menjadi editor ayahku sendiri. Editor dalam arti sebenarnya, sesuai standar penerbit konvensional, sekalipun entah akan diajukan kemana atau diterbitkan di mana itu soal nanti. Terdengar hal yang tidak mudah. Tapi di tengah ide besar Ayah, akulah yang paling dekat dengan garis pelaksanaan. Tapi entah, apakah nanti aku mampu…

Ah, omong-omong mengapa bisa aku melulu mengincar alur filsafat di karya-karya barat yang hasil terjemahannya seringkali amburadul itu, sementara di negeri sendiri, ada mahakarya yang isinya gak hanya soal filsafat, tapi juga sejarah, budaya, dan spiritual (lebih luas lagi)… mereka juga patut diperhitungakan. Bagaimana tidak, aku menemukan salah satu penokohan di buku itu—seorang guru (ahli) bisa menyimpan dan menurunkan ilmunya dalam kerendahhatian yang total, namun juga menjadi teror bagi musuh paling ditakuti sekalipun. Keadiluhungan sebuah peradaban yang dikonsep dalam karya bertema dunia persilatan. Seperti di salah satu serial Nagasasra Sabuk Inten… Cuma Indonesia yang punya, orang barat tidak punya. Tapi tetaplah.. demi menambah wawasan, semuanya mesti dibaca, sebab semuanya penting.

Hm, barangkali sudah waktunya aku rehat dari setumpuk buku-buku baru yang kuborong sejak awal tahun lalu, demi membaca juga apa yang pernah dibaca ayahku. Lagipula toh akhir-akhir ini juga sedang gak mud bahas persoalan global terkini dan hal-hal baru yang terjadi belakangan. Selain menyita waktu, kabar-kabar terbaru hanya jadi menguras emosi dan pikiran tanpa kita bisa berbuat apa-apa.

Yuhu, sekilas curhat, sejak dulu aku memang selalu tertarik dengan para orang tua dan sesepuh di berbagai belahan bumi, dengan tradisi mereka akan sastra. Dari nilai-nilai lama yang seakan bertahan itu, aku menemukan apa yang disebut dengan bakat kesabaran, ketekunan, kefokusan, dan kekayaan batin. (Agak sedikit dekat dengan angan-angan pekerjaan baru akhir-akhir ini).

Mengingat bahwa orang Jawa membaca tembang dan sastra ala semiotikanya, orang Bali menulis sastra di daun lontar, orang Gorontalo menulis puisi sastra lisan yang bernama Tanggomo, belum lagi folklor yang bila se-Indonesia dikumpulkan, mungkin bakal setebal 2 kali naskah Centhini (belum tentu cukup), dan masih banyak lagi sampai pikiranku jadi melayang-layang. Masyarakat tradisional kita juga dekat dengan tradisi naskah dan teks (tiba-tiba inget matkul Filologi). Itu artinya, tidak pernah ada zaman yang benar-benar “ketinggalan”. Sekalipun globalisasi berjalan dengan cukup pecicilan. Tapi kearifan dan ajaran moral berdiam dalam setiap sudut bumi dan nyaris bertahan, bukankah begitu…?

Setiap negara punya keunikan. Bila itu pun hanya dipandang dari sudut produksi karya. Serial bergenre dunia persilatan memang hal yang biasa di kalangan sebagian masyarakat, tapi asing di zaman pop terkini. Tradisi membaca adalah tradisi yang sudah ada sejak dulu kala. Orang Jawa misalnya wajar bila rata-rata menyukai dan mengikutinya. Barangkali kecenderungan manusia tertarik pada yang bersambung dan misteri, sehingga harus diikuti.

Seperti para mbah yang mengikuti kisah-kisah wayang, atau anak-anak muda seusia kuliahan yang setia mengikuti serial kartun One Peace setiap Minggu jam 8, dan masih banyak lagi. Budaya mengikuti serial tampaknya memang fenomena unik. Apakah kegiatan itu sia-sia? Belum tentu. Jangan salah pula, orang Jepang maju seperti sekarang juga karena mempercayai dongeng-dongeng dari pujangganya. Sastra dan salah satunya adalah Kinkakuji—berpengaruh besar pada masyarakatnya. Dan masih banyak lagi kebiasaan suku lama sedunia yang tidak jauh dari “terinspirasi karya sastra”.

tapi tunggu, sejauh mana sih sebetulnya kepedulian kita?

Kita mungkin lupa, kita memiliki Tan Malaka yang tulisannya bahkan jadi referensi Lenin di masa kepemimpinannya. Belakangan aku juga menelusuri situs naskah hukum kelautan yang jadi patokan dunia, yang sudah dianggap fenomena mendunia—Juga asli Indinesia. Bila kau cukup mengenal Tan Malaka, Pramoedya, atau Soekarno, atau barangkali Gajahmada di zaman Majapahit… maka bayangkan betapa sebetulnya kita justru tak hanya setara, tapi menjadi ikon yang cukup berwibawa… hanya saja kita berada di zaman yang bukan saat itu. Hanya agak mudah silau saja dengan hal-hal yang jarang dijumpa. Atau memang seperti sedang ada yang hilang dari bangsa kita.. identitas sejatikah?

Sungguh manusia baru bisa disebut setara harga dirinya di mata bangsa lain, kalau mereka bersikap biasa-biasa saja bila melihat bangsa asing berjalan bersandingan. Bagaimana bisa disebut setara, kalau bacaan aja melulu soal terjemahan asing saja? (*tampar diri sendiri). Diam-diam bangsa asing—yang kita bangga bila bisa berfoto bersama itu—juga lagi sibuk mengincar milik kita lho.

Itulah kenapa kurasa, mata kita terlalu banyak tersihir oleh rumput di halaman tetangga, sampai lupa di bawah tanah kita tersimpan emas yang membuat ngiler bangsa tetangga. Sampai di sini, aku mentok untuk lanjut berargumen dulu, sebab lebih butuh membaca daripada menceritakan gambarannya. Sebelum menyelami lebih jauh, amat lucu bila tidak tahu seperti apa isi naskahnya.

Dan kembali ke point awal: demi profesionalitas, aku melangkah untuk menepi dulu di karya fenomenal negeri sendiri. Butuh lebih banyak belajar.

Bismillah.
Doakan saya 🙂

 

Salam dunia persilatan 🙂

gambar diambil dari google image

gambar diambil dari google image

Mengurai Ke”aku”an

Sudah di hari keempat tahun ini. Masih menemukan orang-orang di sekitarku mempertanyakan siapa hakikat “aku”—“diri mereka.” Entah dalam obrolan iseng lalu lupa atau berpusing pada akhirnya. Kadang beruntung mereka yang sudah yakin atas hidup yang dijalaninya dengan segenap apa-apa yang dipersepsikan tentang dirinya itu, sehingga tak perlu mencari lagi. Segala keterbatasan adalah cukup. Dan memiliki serangkaian hidup ini adalah bagian dari takdir. Mau lari? Gak ingin juga. Mana bisa kan orang lari dari dirinya sendiri?

Tapi ada banyak juga di dunia ini yang masih mencari “aku” dalam dirinya sendiri. Melalui salah satu SMS teman yang mengatakan bahwa dia masih pusing soal obrolan “hakikat aku” waktu itu. Aku tersenyum. Sebetulnya aku pun juga masih mencari soal itu. Bukankah keberadaan manusia adalah saling menyesatkan satu sama lain? Bukan tidak pernah bila aku, engkau, kita semua, pernah mengalami dianggap sebagai sosok dalam konsep pikiran orang lain, atau identifikasi dari seseorang di masa lampau. Tapi begitu kita bukan orang yang dia pikir, kemudian ditinggalkan. Bahkan kita sendiri, mencari dan mengenal seseorang melalui konsep “manusia” dalam imaji dan alam pikiran sendiri. Bukan seseorang sebagai seseorang itu sendiri. Sebab kita takut kecirikhasan kita sendiri pun akan membuat kita kehilangan keber’ada’an di antara banyak orang lain, maka seringkali kita berlaku seperti orang lain. Memang sih fenomena seperti ini banyak dialami remaja daripada yang sudah tua. Berpakaian sama seperti teman kelompok, seolah-olah sependapat, dan seolah-olah sama hobi dan kesukaan, dan masih banyak lagi. mengikuti mode yang aslinya diciptakan satu orang/satu negara saja kadang membuat seseorang menjadi mirip orang lain. “Orang lain” dalam hal ini adalah lingkungan yang akhirnya menjadi satu-satunya tolak ukur setiap “aku” dari kita semua.

Aku sempat curiga bahwa selama ini kita hanya meng-ada-kan orang lain dalam rangkaian materi—lapisan terluar. Materi dapat diartikan apa-apa yang dia punya. Apa yang terlihat, entah itu penampilan, sifat, kebiasaan, hingga pada cara berpikir yang diperkenalkan kepada orang lain. Tidak pada perasaan—dalam ajaran jawa.
Sementara kebebasan menjadi “aku” seutuhnya membawa dampak yang sungguh besar terhadap banyak orang (“aku-aku”) di luar diri kita.

Jangan-jangan Sartre benar, bahwa kita dikutuk untuk menjadi bebas. Sebab kebebasan memang bagian dari kutukan. Sebab Tuhan tidak terlibat dalam keputusan yang diambil oleh manusia. Manusia adalah kebebasan. Karena kebebasan itulah manusia menjadi bertanggung jawab atas semua hal. Sartre selalu menekankan otentisitas dan individualisme manusia tanpa syarat apapun. Namun eksistensialisme Sartre adalah perluasan dari manusia sebagai paling benar apapun yang dilakukan tanpa pertimbangan baik buruk terhadap hal yang melingkupinya. Sebab bagaimana pun kebadaaan manusia terkait dengan implementasinya terhadap lingkungan.
Eksistensialime mengarah pada kebebasan mutlak, namun tidak pada individualisme yang membawa segala aspek, dari faktor asal/keturunan sampai proses tumbuhnya. Sekalipun eksistensialisme ini berpusat pada kebenaran yang bebas.

Bukankah tidak jarang juga kita dikenal karena kedua orang tua kita misalnya, atau dari nenek moyang atau asal kebudayaan? wajah adalah perpaduan kedua orang tua kita. kita menjadi tahu hanya karena kita mencari tahu, bukan menciptakan secara orisinil. Golongan darah kita sama dengan orang tua. Cara hidup kita terkait juga dengan di lingkungan mana kita hidup.

Kita juga sering menemukan pria atau wanita mencari pengganti mantan pasangannya dengan wajah yang mirip atau minimal memiliki kesamaan, haha. Mereka berharap orang yang baru dapat menggantikan atau malah lebih baik, dan bukannya menyadari bahwa setiap orang memiliki ciri khas yang saling berbeda, semua adalah produk orisinil, setiap orang adalah individu, yang kelihatan sama hanya “kulit” luarnya sehingga butuh bertahun untuk mengenali dan menggali karakternya. Itulah mengapa benar bila satu orang yang memilih mencintai satu orang dengan sepenuhnya kedirian di masa lalu, maka selayak ia mencintai banyak manusia (pria/wanita) yang lain yang memiliki kesamaan pada waktu yang berkelanjutan. Tapi esensinya ia tetap mencintai satu orang tersebut. Itulah mengapa ada istilah terjebak pada masa lalu/masa depan dan sulit kembali.

Seperti yang selalu aku yakini sejak dulu—tiap individu hanya mempunyai satu pasangan hati. Entah apa pun bentuk materialnya, seberapa banyak mereka yang hidup bersama, atau siapa pun yang kelak disandingnya. Aku jadi mikir, bagaimana bila dari awal kita mencintai satu hal, Tuhan, maka benar mereka yang meyakini bahwa mencintai Tuhan akan mencintai Tuhan pada entitas yang lebih detail dalam kehidupannya, yang terpecah menjadi banyak hal kecil: ciptaan-Nya. Dan kita tak lagi memandang materi apa yang membatasinya.

Agak rumit memang ketika ke”aku”an bisa jadi hal yang melebar kemana-mana…. Mengapa di dunia ini ada kita yang pusing soal ke”aku”an, dan ada juga kita yang tetap hidup tenteram bahagia tanpa mempertanyakannya?

Atau jangan-jangan lebih mudah bagi kita untuk saling ada dengan bekal keyakinan saja. Kita yakin kita semua baik, saling sayang, dan perhatian, maka kita bersahabat. Kita saling peduli dan bersetia maka kita mencintai, tanpa lagi bertanya apa-apa soal citra diri kita terhadap dia atau mereka. Asal saling menerima kekurangan dan damai tenteram sejahtera.

Meskipun kita juga sering hidup dengan cara orang lain atau sebagai orang lain, dan lupa menjadi diri sendiri…
hm.. tapi aku pun sering merasa hal yang sama yang dialami Satre dan satre-satre lainnya, bahwa satu manusia bisa menjadi neraka bagi manusia lainnya.

#tulisan ini juga terinspirasi dari beberapa upacara adat yang sempat kuamati di lingkunganku.

dari google image

film romantis versiku tahun ini

Saya orang yang cenderung jarang nonton, baik itu di tempat semacam bioskop atau di depan televisi sekalipun. Kalau diajak ngobrol sioal film, sering kali saya tak nyambung. Tapi kalau soal buku, sedikit banyak saya mudeng. Karena jarangnya saya nonton film,  itulah sebabnya sekali saya nonton film romantis, kebawa deh efeknya sampai keesokan harinya, dan keesokannya lagi,, dan lagi, dan lagi.

Kali ini saya ingin bercerita sedikit tentang efek film Habibie Ainun yag baru saya tonton. .

Perempuan/pria takkan menjadi berarti, tanpa ia menjadi arti bagi seseorang (suami/istri) ataupun keluarganya, apapun perannya di mata dunia. Begitulah inti filmnya. Berartinya seorang perempuan memang ketika ia mampu menjadi istri bagi seseorang (sigaraning nyawa) dan mau membangun rumah tangga bersama dengan penuh tanggung jawab, mendidik anak-anak dan mengabdi secara total kepada keluarga dan seimbang dengan perannya di luar.Berartinya seorang laki-laki, adalah ektika ia mampu memimpin keluarganya dan menjadikannya rumah bagi dirinya. Benar kata banyak orang, bahwa di balik pria hebat ada wanita yang hebat. Begitu juga sebaliknya

Kisah cinta Habibie & Ainun ini, sangat menginspirasi bagi saya, setelah film The Lady. Seperti mengembalikan lagi makna dan konsep cinta ideal yang saya pikir telah hilang dan tak mungkin ada.

 

Nonton film ini, jadi teringat Bapak Ibu dan para orang tua kebanyakan di sekitar kita, orang tua zaman dulu, hanya tahu bersama dan mencintai dengan sederhana tapi saling setia 🙂

Valentines-Special-HD-Love-Wallpaper

menjelang tidur, sempet baca opini menarik dari artikelnya Cak Nun

“Bila kita cuma puasa, shalat, baca al-quran, pergi kebaktian, misa, datang ke pura, menurut saya, kita belum layak disebut orang yang beragama. Tetapi, bila saat bersamaan kita tidak mencuri uang negara, menyantuni fakir miskin, memberi makan anak-anak terlantar, hidup bersih, maka itulah orang beragama. Ukuran keberagamaan seseorang sesungguhnya bukan dari kesalehan personalnya, melainkan diukur dari kesalehan sosialnya.
Bukan kesalehan pribadi, tapi kesalehan sosial. Orang beragama adalah orang yang bisa menggembirakan tetangganya. Orang beragama ialah orang yang menghormati orang lain, meski beda agama. Orang yang punya solidaritas dan keprihatinan sosial pada kaum mustadh’afin (kaum tertindas). Juga tidak korupsi dan tidak mengambil yang bukan haknya. Karena itu, orang beragama mestinya memunculkan sikap dan jiwa sosial tinggi. Bukan orang-orang yang meratakan dahinya ke lantai masjid, sementara beberapa meter darinya, orang-orang miskin meronta kelaparan”.

Tapi anehnya, perihal agama ini perang bisa tersulut. sebetulnya hakikat dari agama itu sendiri kan mudah dan tidak membebani. Orang akan mudah men-judge bahwa orang lain salah, dan dirinya paling benar. dan semua itu malah menghalangi kemungkinan kita untuk dapat melihat mana sih sebenarnya musuh kita yang sebetulnya. Wajar negara kita konflik terus-terusan. Perang SARA masih terjadi di mana-mana. Kenapa kita gak bersatu saja sih lalu tuding borok masalah negeri dan masalah bersama yang sebetulnya, pemerintah korup misalnya. Jelas-jelas mereka mencuri yang bukan haknya. Bukankah negeri ini butuh lebih banyak kekompakan daripada perpecahan?

yeha, barangkali di zaman sekarang perbedaan memang masih belum dapat diterima dengan hati yang terbuka. Memang seringkali sulit menghadapi perbedaan bila kita berada sejajar dan terlibat. coba sesekali kita naik ke balkon, melihatnya dari atas, melihat dari sisi lain.. mungkin lebih mudah. Tapi ya mau bagaimana lagi, benar kata Umar Kayam, negeri ini sudah salah dari awal.