Surat Ketujuh

Dear Pos Cinta,

Surat kali ini aku hanya ingin berterima kasih kepadamu telah mengantar surat-suratku yang beberapa hari ini kebanyakan berisi hal-hal yang berlalu dan juga cerita-cerita kecil lainnya. Terima kasih Pos, karena itu aku dapat bercerita tentang apa saja. Setidaknya, kehadiranmu seminggu ini, membuatku terdorong untuk menulis surat dan merenungkan berbagai hal, meski tidak semua hal, karena toh seberapa banyak yang mampu seseorang tulis dalam seminggu. Pos, aku hanya berharap tahun depan ada lagi kesempatan untuk berkirim surat seperti ini. 

Sekian suratku. Semoga berkenan ya. ūüôā

Surat Keenam

Dear Hujan,

Entah bagaiamana aku justru lebih sering membayangkan dapat berpergian ke berbagai belahan dunia akhir-akhir ini dan melanjutkan mimpi-mimpi terdahulu. Aku juga membayangkan, kelak ketika anakku sudah bisa diajak jalan-jalan dan diskusi, aku ingin mewujudkan salah satu mimpiku, jadi travel writer, tentu sambil mengajak anakku mengenal dunia lebih luas. Jangan tertawa ketika kau membaca ini, kawan. Memang aku tak pandai menulis sesuatu apalagi kisah perjalanan. Namanya juga impian, berharap dulu kan nggak ada salahnya.

Dulu, ketika masih sangat muda, aku berharap aku pernah sangat ingin tahu bagaimana rasanya pulang ke rumah ketika lebaran atau libur panjang. Bertahun sejak lahir, kau tahu sendiri kan, aku tak pernah ke mana pun. Lebih karena terlalu sayangnya orang tua kepadaku, aku tak pernah dilepasnya ke mana-mana. Pulang dari liburan ke luar kota tentu nggak sedramatis ketika harus mudik setelah berbulan tak bertemu Bapak Ibu dan keluarga. Kini, ketika aku telah memiliki keluarga sendiri, perasan ingin keluar kota sekadar hanya membayangkan bisa terwujud kalau sewaktu-waktu suamiku harus ditugaskan ke luar daerah dengan keluarga kecilnya ikut serta. Tapi itu mustahil untuk saat ini. Suamiku kan pria Jawa. Di Jawa anak lelaki harus terus di tempat kelahirannya, atau bersama orang tuanya. Di Jawa, kekeluargaan sangat erat. Saking eratnya kalau bisa sih satu kampung isinya keluarga semua.

Lagi-lagi bisa sesekali tinggal di luar kota hanya bayangan kecil bertahun yang lalu. Kini, aku telah banyak menyimak berbagai cerita teman dan kerabat, hidup di luar kota itu tak senyaman tinggal di kampung sendiri. Apalagi bila harus tinggal hingga bertahun lamanya. Aku membayangkan para TKW yang terdampar di negeri asing. Juga membayangkan para ayah yang harus berpisah dari keluarganya demi pekerjaan di luar kota. Aku juga mengingat salah satu temanku yang pernah jadi guru di Thailand, yang meski hanya setahun, ia toh tak ingin lagi melanjutkan pekerjaannya itu dan memilih tinggal di dekat orang tuanya karena ia anak perempuan. Padahal itu kan kesempatan keren. Tapi tinggal jauh dari rumah menurutku adalah perkara apakah kepercayaan diri dan kesiapan mentalmu cukup untuk itu.

Kawanku Hujan, tapi profesi semacam travel writer rasanya cukup menarik untuk diabaikan. Terlebih kesempatan itu sepertinya masih terbuka lebar. Kau tahu kenapa? Dulu suamiku pernah berjanji, ia ingin berhenti merokok. Kalau dalam dua tahun kami menikah ia belum berhasil berhenti merokok, saya kelak boleh meraih impian yang satu itu. Menarik sekali bukan. Itung-itung sambil mengajak si kecil melihat dunia lebih luas di akhir pekan, supaya tak penat seminggu terkungkung di kesibukan sekolah mislanya. Mudah-mudahan bila hari itu rupanya tiba, phobiaku pada pesawat juga sudah sembuh.

Sekian suratku, Hujan. Berharap pula kau segera bisa jalan-jalan juga ke negeri impian di belahan dunia lain. Tidakkah kau juga merasa ingin berpergian?

Surat Kelima

Dear Hujan,

Februari rupanya berjalan cepat. Terbesit di benakku, aku ingin merasa bulan ini cepat berlalu. Sudah tanggal berapa ini? Aku bahkan tak ingat tanggal dan terkadang lupa hari.
Sudah lama aku tidak membaca sesuatu, jangan pernah tanya lagi buku apa yang sedang aku baca hari ini, Hujan. Aku pasti lebih sering menjawabnya tak ada. Mungkin saja aku baru tahu rasanya berjarak dengan hal-hal yang telah melekat sejak kecil: membuat hidupmu tampak kosong. Tentunya kosong yang tidak berarti tak ada apa pun di sana. Menjalani peranku kini tetaplah menarik. Tapi membiarkan diri sendiri beku karena tak pernah lagi baca buku di sela kesibukan itu soal lain. Buku sering kali berhasil mengalihkanku dari pikiran negatif. Setiap si kecil tidur, pikiranku yang sering berputar-putar malah terbangun. Entah apa yang tengah kuresahkan. Tanpa buku atau bacaan yang sedari dulu jadi teman karibku, hidupku seperti hanya berputar-putar di dunia yang sempit.

Sekian surat singkatku hari ini.

Surat Keempat

Teman, apa kabarmu hari ini? Masih ingatkah pertama kali engkau jatuh cinta dan patah hati?

Masih melekat dalam ingatan masa kecilku, ketika masih tinggal di Gamping, aku pernah jatuh cinta pada seekor bayi burung gereja yang jatuh dari pohon. Kutemukan ia sewaktu pulang sekolah. Burung itu masih bersembunyi aman di dalam sangkar dan masih hidup. Karena sangat lucu, aku membawanya pulang. Aku membayangkan aku bisa membesarkannya hingga ia bisa terbang sendiri kelak.

Sejak itu, aku merasa orbitku hanya pada si burung yang sebatang kara itu. Sebelumnya, tiap pulang sekolah, akan merengek minta dibelikan layang-layang dan bermain di luar, juga dibelikan kapur tulis warna-warni untuk mencorat-coret tembok rumah seperti yang biasa kulakukan, atau bergabung dengan teman-teman yang sedang pasaran.

Tapi segalanya berubah ketika bayi gereja itu jadi anggota keluarga. Melihat matanya yang polos, bulu-bulunya yang jarang, dan tubuhnya yang kurus, membuatku merelakan waktu-waktu bermainku itu untuk menemaninya.

Sangkar mungil dengan bayi burung di dalamnya itu kusimpan dalam salah satu laci meja belajar dengan sedikit agak terbuka supaya tetap ada udara masuk. Si bayi selalu bercericit ketika lapar. Dan tidur setelah kenyang. Begitulah aku jadi menyadari bahwa makhluk hidup selalu butuh makan dan tidur. Tak lupa tubuhnya kuberi selimut hangat dari kain bekas supaya tetap hangat. Ah, kasihan, entah di mana induknya.

Burung gereja mengajariku tentang kehidupan kecil. Aku membayangkan di mana sebetulnya burung-burung liar tinggal dan berkumpul dengan keluarganya. Perlahan ia menjadi teman bicaraku. Tapi kala itu aku masih kecil. Aku tak tahu bagaimana cara terbaik merawatnya kecuali hanya memberinya makan dengan ujung batang lidi dan pelan-palan memberinya nasi sebutir demi sebutir, lalu mengajaknya ngobrol.

Aku memang tak beruntung. Bayi gereja itu mati seminggu setelah bertahan hidup di laci meja belajarku. Aku terkejut menemukannya tak bergerak ketika pulang sekolah. Tubuhnya dingin dan matanya terpejam. Itulah kali pertama aku merasa patah hati. Kusentuh badannya dan kugoncang sedikit. Tidak ada kehidupan yang menyapa. Rupanya yang telah tiada takkan bisa kembali. Dan aku mulai menerima kepergiannya berhari-hari setelah si bayi burung dikuburkan di halaman rumah. Setelah itu, aku kembali bermain dengan ayam-ayam peliharaan ayahku.

Kelak ketika dewasa (yang baru pertama kualami belum lama ini), perasaan patah hati tak ada apa-apanya dibanding ketika gigimu sakit. Ketika patah hati, kamu masih tetap bisa tertawa, nonton film, makan keripik, karaoke bersama teman, jalan-jalan, dan tidur dengan nyenyak. Semua itu takkan bisa kau lakukan bila gigimu yang tengah sakit.

Apakah yang pertama kali membuatmu patah hati, Teman?

 

 

Surat Ketiga

Teman, sepertinya, dengan “pulang”, aku bisa mengingat.
Biarlah surat-suratku berisi tentang ingatan-ingatan kecil

Hari-hari setelah kepindahan bukan hal menyenangkan untuk dilalui, dalam ingatan masa kecilku. Memang, ketika masih di desa, aku senang tiap kali menginap di tempat nenek di kota. Berbeda rasanya jika bakal menetap. Anak kecil barangkali memang punya perasaan yang membingungkan dan mudah berubah bukan.

Betapa lucunya masa-masa SD dulu, Teman.

Ayahku memilihkan sekolah islam yang tak terlalu jauh dari rumah setelah kami indah ke kota. Saat itu, aku masih kelas tiga. Banyak hal baru yang kutemukan. Anak-anak kelas 3 yang baik lelaki atau perempuannya urakan. Ada beberapa dari mereka yang suka memakai rok mini, mengirim surat pada lelaki, dan lebih banyak membicarakan mereka ketimbang mata pelajaran atau bermain layaknya anak-anak. Kelak mereka rupanya tak melanjutkan sekolah karena harus menikah karena hamil di luar pernikahan. Itu aneh sekali di benakku, anak-anak sudah punya anak. Anak lelaki ada yang suka memalak teman lain, berkelahi, memiliki keusilan yang tak pernah kusangka: suka menyibak rok teman-teman perempuannya. Dengan yang begini aku milih menjauh atau memasang tampang kasar. Ada pula kakak angkatan yang konon suka mengerayang tubuh anak perempuan. Maka sampai mereka belum lulus dari sana, aku memilih menghabiskan jam istirahat di depan kantor guru yang selalu terbuka, atau di perpustakaan yang ruangnya paling sepi karena hampir jadi satu dengan kantor kepala sekolah. Meski ibuku bukan wanita masa kini yang berpendidikan tinggi dan suka baca buku psikologi, tapi sejak kecil aku sudah diajarinya menjaga diri. Kata Ibu, jadi anak perempuan nggak mudah. Harus bisa menjaga dirinya sebaik mungkin dan harus berani berteriak minta tolong atau melawan bila dibutuhkan.

Teman-temanku sedikit yang baik. Karena muridnya juga memang sedikit. Di kota, baru kali pertama aku melihat ada teman mem-bully teman lain. Aku dibully karena nilai ulanganku selalu lebih baik dan disenangi guru-guru. Tak seharusnya murid baru mendapat perhatian dari guru. Aku baru pertama melihat ada orang tua dan murid memprotes gurunya seolah mereka terdakwa, padahal guru-guru kami baik. Sebab seharusnya anak mereka yang juara, bukan murid yang masih baru. Saat itu, habis pembagian rapor, dan aku mendapat rangking satu. Di sekolah sebelumnya aku juga begitu. Aku mendapat rangking itu hingga lulus. Kupikir itu sangat lucu. Tapi saat aku kecil, aku tidak merasa itu lucu. Terlebih di SMP dan sekolah selanjutnya, toh perihal rangking tergantung seperti apa sainganmu di sekolah, semakin rajin teman-temanmu melebihimu, jangan harap kamu bisa mengalahkannya. Semakin tinggi jenjangmu, semakin besar pula tantangannya. Syukurlah sekarang rangking tidak berlaku di sekolah-sekolah. Aku hanya sedih saat itu, banyak teman memusuhiku meski aku paling pendiam di antara mereka dan tak pernah mengganggu. Ada pula yang sempat berteriak padaku supaya aku kembali saja ke sekolah dasar yang dulu.

Kota menurutku begitu tak menenteramkan. Beberapa lama sejak kami pindah, aku mulai melihat wajah Ibu tak seceria dulu. Lebih banyak berbicara sedikit dengan nada tinggi seperti orang yang tengah dipaksa keadaan. Ibuku dulu tak pernah marah. Tapi beliau masih selalu memiliki hati sebaik dulu. Ayahku tak lagi membuatkan kami mainan dari bahan sekitar. Beliau juga semakin jarang di rumah karena barangkali tuntutan pekerjaan lebih banyak. Aku juga sering mendengar ribut-ribut kecil yang meski aku tak paham, tapi membuat tak lega. Ketegangan rumah saat itu terasa lebih sering ketika adik keduaku lahir. Andai waktu itu aku sudah besar dan tahu soal baby blues, mungkin aku bisa meringankan bebannya.

Di kota segalanya memang sedikit tidak santai, Kawan. Suatu hari aku ikut TPA di masjid dekat rumah dan diajari iqra seorang pengurus masjid yang masih muda. Tapi sesungguhnya aku juga ikut rutin TPA lebih resmi di tempat lain karena menurut ibuku, di sana aku kelak bisa wisuda ketika katam Alquran. Ibuku sangat ingin melihat anak-anaknya wisuda. Di masjidku kan baru ada TPA kalau guru-gurunya tidak libur. Guruku yang masih muda itu sempat membetulkan bacaanku sambil menanyaiku siapa saja guruku di TPA resmiku itu. Kemudian ia mulai menjelek-jelekkan mereka, mengatakan alirannya salah. Di masa remaja aku melihat ada perbedaan di dalam masyarakat hanya karena yang satu mengadakan tahlilan, yang satunya tidak. Aneh bukan, sekecil itu, aku sudah menyimak orang-orang saling menjelekkan orang lain meski seagama. Kelak, aku menyadari di negeriku, itu akan jadi hal biasa.

Begitulah, Teman, sekelumit masa kecilku yang lucu. Yang kebetulan saja kuingat karena sedang sedikit merasa sepi.
#PosCintaTribu7e

Surat Kedua

tentang masa-masa kecil indah yang berlalu begitu saja, seperti baru kemarin ditinggalkan

Di manakah kau merasa pulang, Teman?

Seperti halnya engkau, terkadang aku merasa pulang ke masa lalu. Yang kumaksud adalah masa kecilku. Ketika aku masih bayi, aku dan kedua orang tuaku tinggal di sebah desa kecil di sebelah barat Yogyakarta. Namanya Gamping. Dinamkan Gamping mungkin karena sebagian besar tanahnya ditemukan unsur kapur, dan masyarakatnya menggali gamping/batu kapur sebagai mata pecaharian. Orang-orang juga masih mengadakan Upacara Bekakak untuk memberikan sesaji pada pegunungan gamping. Aku mengingat masa kecilku yang indah di sana. Begitu sering aku mencari bunga-bunga liar yang indah, menangkap kupu-kupu dan menerbangkannya lagi, juga mengikuti arah capung-capung terbang. Aku begitu ingat betapa hangatnya musim hujan dan musim-musim lainnya. Aku sering diajak ibu ke pasar yang letaknya tak jauh dari rumah. Aku juga sering diajak ayahku keliling desa dibonceng sepeda, main ke rumah temannya yang punya peternakan sapi, dan duduk-duduk di taman depan gereja yang begitu tinggi letaknya. Entah kenapa gereja di sana dibuat begitu tinggi dan mushala sejajar dengan tanah. Aku juga tak tahu.

Kami tinggal di sebuah kontrakan, yang ayahku dapat dengan harga murah ketika pada suatu malam beliau iseng mencarinya di sana. Orang tuaku merasa beruntung. Rumah itu luas tapi harga sewanya murah, lantaran menurut isu yang berbedar, rumah itu berhantu sejak penghuni sebelumnya meninggal bunuh diri. Tapi selama kami di situ, segalanya baik-baik saja. Beberapa tetangga yang usil memang menambahkan berbagai cerita. Namun ibu dan ayahku tak pernah gentar. Bagimana pun hidup kami damai, itu sudah lebih dari cukup. Rumah itu bergaya jawa kuno dengan beberapa pilar di dalamnya. Bahkan aku ingat bisa bermain sepeda di dalam rumah. Ada dua kamar mandi dan sumur yang dipisahkan oleh dapur yang juga sangat luas. Bangunan itu juga punya halaman lebar namun berjauhan dengan para tetangga. Banyak pohon besar di depan halaman. Seperti pohon melinjo, jambu biji, jambu klutuk. Bapak melihara ayam di samping rumah, dan tanaman hias di depan rumah.

Sampai pada suatu hari, ketika aku duduk di kelas 3 dan adikku masih TK, kami harus pindah. Mbah kakung kami memintanya. Di Jawa, anak lelaki memang harus terus bersama orang tuanya meskipun sudah menikah dan memiliki banyak anak, sedangkan anak perempuan boleh dibawa pergi pasangannya. Dalam benak anak kecil, perkara pindah rumah memang tidak mudah diterima. Aku masih ingin tinggal di sana, mungkin selamanya. Bukankah rumahku di desa kecil itu? Di rumah tua itu? Kata ibu, itu bukan rumah kami. Hanya sementara. Saat itu logika anak-anakku tak bisa menangkapnya. Hal yang kuingat, salah satu sahabat masa kecilku menangis sore itu, beberapa saat sebelum kami pergi bersama truk berisi barang-barang. Aku ingat sempat bilang padanya, aku akan kembali, mengunjunginya. Aku hanya sempat mengunjunginya 2 kali, setelah itu tak pernah lagi ayahku mengajakku ke sana karena terlalu sibuk di kota, atau mungkin sesi berpamitan pada warga telah selesai. Terakhir aku menemukan sahabatku itu ketika masih punya FB.

Tentu saja, kehidupan di kota tidak sama seperti di desa. Menurutku cukup aneh dan sedikit jahat. Beberapa lama kami di kota, aku melihat wajah riang dan lembut ibuku mulai surut, diganti raut tegang dan sering ebrbicara dengan nada tinggi. Padahal sebelumnya Ibu tak pernah marah. Tapi ibuku tetap memiliki hati yang dulu meski kini sedikit agak keras. Kuingat ayahku juga semakin jarang di rumah karena pekerjaan di kota lebih padat, persis seperti bentuk kampung-kampungnya yang padat dan ramai. Beliau juga tak pernah lagi membuatkan kami mainan dari bahan-bahan sekitar. Lebih banyak membelikan. Tapi memang begitulah kota. Orang-orang seperti tertuntut untuk bekerja siang malam, demi memenuhi kebutuhan hidup yang juga semakin banyak. Sedangkan waktu di rumah semakin sempit. Kelak setelah masa remaja tiba, aku mulai mempelajari banyak hal tentang perbedaan kota dan desa. Bagaimanapun kehidupan di kota juga harus banyak disyukuri. Kami belajar banyak tentang waktu. Orang-orang kota bukankah sangat menghargai waktu seolah itu hal langka yang bisa hilang sewaktu-waktu? Setidaknya, di kota, lebih mudah menemukan tempat belajar dan buku-buku. Setidaknya, di sini aku dapat mempelajari sifat manusia yang begitu beragam. Biarlah memang terkadang aku tak bisa move on begitu saja dari kehidupan desa.

Dan kau tahu, Teman. Gamping seolah mengingatkanku untuk pulang ke masa itu. Untuk ke rumah sakit di mana ayahku masih di rawat baru-baru ini, kami harus melintasi tempat itu. Jalan di dekat rumah masa kecilku tak sesepi dulu. Banyak pertokoan dan bangunan baru. Satu-satunya swalayan kecil di sana telah jadi rumah makan. Ruko kecil di mana salah satu temanku tinggal berubah jadi kantor agen pengiriman barang. Rumah temanku yang lain, yang ayahnya memiliki truk besar, tak lagi kelihatan dari jalan. Sebetulnya aku ingin tahu, mereka teman-teman masa kecilku, bagaimana kabarnya kini… Meski bentuk desa kecil itu tak sama dari yang dulu, aku tetap merasa sangat akrab. Tidakkah ini aneh. Ayahku dirawat di Gamping. Dan setiap aku ingin melihat ayahku, aku selalu merasa pulang.

Di manakah engkau merasa pulang, Teman? Apakah cukup di hati seseorang?

#PosCintaTribu7e

Surat Pertama

Dear Hujan,

Kata orang bulan Februari adalah bulan kasih sayang. Mungkin karena di dalamnya ada satu tanggal yang biasa orang-orang merayakannya sebagai hari kasih sayang. Tapi sesungguhnya kasih sayang tak memerlukan perayaan bila setiap hari orang menjadikannya ada dan terus membuatnya berdenyut. Bukankah begitu?

Aku jadi ingat zaman SMP dan SMA dulu, bulan Februari akan menjadi hari resah sekaligus bergairah bagi sebagian besar teman-temanku. Kemeriahannya sungguh melebihi bulan Romadhon. Mereka bakal memiliki hajatan penting. Ramai-ramai mereka akan sibuk menyiapkan kado atau kartu ucapan. Entah itu untuk pacar, idola, atau sahabat. Tanggal 14 seolah hari pembuktian seberapa penting diri mereka di hadapan pacar, gebetan, atau sahabat. Sebagian yang lain tak peduli. Termasuk diriku.

Padahal kasih sayang semestinya tidak dipersempit dengan sekadar berkirim bunga, cokelat, atau ucapan romantis. Tidakkah kehidupan telah mencatat begitu banyak bentuk kasih? Tidakkah seorang ibu yang menjaga anak-anaknya sepanjang hari tidak disebut pula sebagai bentuk kasih sayang? Atau apakah seorang ayah yang berangkat sangat pagi dan pulang larut malam demi membelikan si kecil sepeda, bukan bentuk kasih sayang?

Kasih sayang terdengar terlalu univesal untuk disingkat ke dalam satu hari perayaan. Setiap perayaan toh selalu bermakna kasih sayang. Menurutku lebih tepat barangkali disebut bulan berkah bagi pemilik toko bunga dan cokelat. Mereka akan kebanjiran pesanan. Tak ketinggalan pula mereka yang mungkin tengah riang di bulan ini: para pemilik restoran, bioskop, kafe, souvenir, penjual boneka, penjual pulsa, dan banyak lagi. 

Baiklah lebih tepatnya lagi mungkin bisa disebut hari pacaran bagi remaja atau mereka yang masih berjiwa belia. Pasalnya tatkala kau sudah dewasa dan banyak tanggung jawab yang perlu diselesaikan, kau tak akan sempat berpikir tentang hari itu. Engkau mungkin akan meragukan arti kasih sayang yang sering kau dengar tatkala kekasihmu tak kunjung melamar. Barangkali kau lebih berdebar dengan karier yang tak sadar telah jauh melesat sekaligus membuat jam terbangmu lebih tinggi di negeri perantauan hingga lebaran atau natal jadi hari paling dirindukan. Atau kau mungkin hanya peduli tentang kebutuhan hidup sehari-hari keluargamu, atau sudah sibuk dengan urusan sekolah anak-anakmu. Barangkali ada pula yang baru saja memiliki bayi hingga memiliki kebahagiaan dan kesibukan baru yang sulit dijelaskan. Di ibukota, aku kok malah yakin orang-orang lebih memikirkan pilgub ketimbang valentine di Februari tahun ini.

Februari tidak selalu berati bulan pink bagiku. Terlebih karena ayahku, superhero keluarga kami, yang nggak pernah kami sangka bakal sakit, tiba-tiba mesti opname. Entah bagaimana ayahku yang pekerja keras dan humoris itu, tatkaka jatuh sakit, rumah bagai didatangi mendung. Maka awal bulan ini adalah tentang hari-hari sendu penuh doa. Sendu karena pikiran dan hatiku seperti terbelah antara rumah dan rumah sakit, dan tak bisa kuceritakan bagaimana itu, pada siapa pun. Bila kau anak perempuan, kau akan tahu apa itu artinya seorang ayah dalam hidupmu. Kuharap mendung ini akan segera bertemu cahayanya… (lekas sembuh ya, Pak, Satya pun kangen diajak ngasih makan ikan di kolam pagi-pagi)

Tapi omong-omong ini memang bulan Februari. Bulan ini si kecil juga dijadwalkan imunisasi. Bulan ini pula suamiku berulang tahun yang ke-31. Dan aku juga tengah mencoba ikut program pos cinta untuk membuat 7 hari menulis surat. Seperti yang sudah kumulai hari ini. Surat pertama ini untukmu, Hujan, yang selalu jadi teman berceritaku.

#PosCintaTribu7e #7harimenulissuratcinta #suratpertama 

PASARAN

‚Äč
Zaman saya kecil dulu, jenis permainan “pasaran” sangat populer, terutama di kalangan anak perempuan. Saya masih ingat sampai mengoleksi alat-alat masak berbentuk mini yang terbuat dari gerabah, yang menyerupai perabot dapur ibu. Anak-anak akan bergantian jadi penjual dan pembeli. Nggak seperti zaman sekarang, dulu bahan-bahannya pun mudah ditemukan di sekitar kami. 

Nggak asal main. Mencari bahan pasaran butuh kreativitas, tekad, dan imajinasi lho. Misalnya saja ketika kami menemukan jantung pisang yang gugur, putiknya kami jadikan udang-udangan, dan kelopaknya bisa dijadiin daging. Kalau ada tumbuhan tali putri yang biasanya menjalar di tumbuhan teh-tehan, kami akan menjadikannya bakmi. Kalau ada daun pisang atau mangkokan yang bisa diminta di kebun tetangga, itu biasanya dijadikan untuk bungkus makanan. Terkadang kami akan menjelajah dapur untuk menanyakan kalau ada sisa masakan ibu, seperti bekas parutan kelapa atau apa pun itu. Dan masih banyak lagi karena apa pun di sekitar kami bisa jadi media.

Dan kami pun membuat pasar kecil yang berisi stand sayur, buah, dan makanan. Ada satu anak yang menjual lotek, sate, gudeg, ada yang menjual buah-buahan dengan bahan dari tumbuhan liar yang mirip buah. Ada pula yang menjual sayur. Kami penjual dan pembeli akan terlibat dalam semacam transaksi yang mirip seperti di pasar. Ramai sekali. Mata uangnya pun pakai daun pisang yang dibuat seperti uang receh dan kertas, atau bisa pakai pecahan genting. Anak laki-laki terkadang juga ikut.

Ternyata dalam permainan tradisional seperti pasaran, kami jadi belajar banyak hal. Salah satunya adalah sosialisasi, karena kita pun akan terdorong untuk berkomunikasi dengan banyak anak. Ada pula matematika, otomatis kita akan belajar hitung-hitungan. Selain itu kepercayaan diri kita untuk berbicara di depan banyak orang juga terlatih sejak dini. Dan masih banyak lagi deh pokoknya.

Entah apa di zaman sekarang, anak-anak bisa berkesempatan bermain pasaran seperti demikian ya. 

Diposting juga di https://www.instagram.com/p/BPFrnt9hM3b/

Menjadi Bahagia

Saya sempat menangkap obrolan tetangga depan rumah beberapa hari yang lalu. Saya nggak niat nguping, tapi karena suaranya keras banget, jangankan saya yang lagi nongkrong di ruang depan, yang lagi masak di belakang saja dengar. Ceritanya si tetangga ini punya keponakan perempuan yang lagi nyari jodoh. Latar belakang keluarga si keponakan ini bisa dibilang tajir. Orang tuanya pengusaha besar. Rumah di mana-mana dan cuma pembantu yang menempati. Si keponakan ini anak tunggal pula. Ia lulus kuliah di universitas terbaik di Jogja, anaknya manis, pakai jilbab, nggak pernah pacaran. Katanya pengin entar jodohnya pria sholeh yang bisa membahagiakan dia. Maksudnya barangkali, si calon ini setidaknya punya jenjang pendidikan minimal setara, setia, perhatian, pinter ngaji, pinter segala hal, bukan anak mami, mau bantuin sedikit tugas istri, ganteng lah syukur-syukur, nggak merokok, dan ya kalo bisa secara finansial nggak memalukan keluarga besan. Kalau nggak begitu, masalah biasanya terjadi, ini kan negara kawasan Timur. Perbedaan sekecil itu sedikit banyak tetep jadi ganjelan di masa mendatang, terutama bagi keluarga besarnya. Ya toh.

Tapi wajar deh, siapa pun yang punya anggota keluarga yang lagi nyari jodoh, penginnya cari calon mantu yang sempurna supaya kelak bahagia. Pihak perempuan berharap rata-rata si pria impian seperti tadi lah. Begitu juga dari pihak pria. Kalau bisa nyari istri tuh yang cantik, pinter, rajin beberes rumah, terampil, bisa jahit, bisa nyuci, bisa masak, bisa punya anak, keibuan, pinter dandan, minimal lulus S1, lemah lembut, bisa boso kromo alus, nggak matre, nggak bawel, nggak banyak tuntutan, nggak bakal gendut, sholehah, dan kalo bisa sih bisa punya penghasilan sendiri. Tapi kenyataannya ada nggak sih yang se-perfect itu? Kalau elu-nya sudah di surga pasti bakal nemuin kali ya.

Denger itu, saya jadi keinget salah satu proyek pribadi yang selalu saja terlupa: mencari tahu, seperti apakah itu bahagia. Tapi ternyata pertanyaan ini kurang spesifik, sehingga saya menggantinya dengan:apakah selama ini saya sudah bisa membahagiakan diri sendiri dan orang lain, terutama keluarga dan orang-orang terdekat saya?

Apakah ketika orang menikah dan menemukan seseorang yang mirip harapan, lantas kehidupan bakal bahagia terus nggak ada sakit-sakitnya? Apakah kalau nggak sesuai harapan lantas nggak bahagia begitu saja? Kalau begitu jangan-jangan kitanya yang dari sononya miskin kebahagiaan, sehingga berharap orang lain bisa ngasih kebahagiaan pada kita yang ‚Äúkekurangan‚ÄĚ ini.

Tapi yang saya pahami hingga detik ini kebahagiaan itu ternyata nggak bisa kita dapatkan seinstan kita memesan makanan siap saji yang tinggal minta, bayar, selesai. Semuanya mesti diperjuangkan, banyak di dalamnya yang juga butuh berbagai pengorbanan. Kalau nggak diperjuangkan ya itu semua nggak tercapai. Nggak usah juga ya mengharapkan orang lain bisa ngasih kebahagiaan ke kita. Tanpa kita bisa membuat diri kita bahagia, semua itu mustahil. Toh manusia bukan mesin yang bisa kita paksa bekerja memenuhi semua keinginan kita. Mereka bukan badut robot yang setiap saat bisa kita minta menghibur dan bukan juga doraemon yang bisa memenuhi segala keinginan kita. Robot aja kalau baterainya habis kita mesti mengisinya ulang. Di dunia ini nggak mungkin ada yang instan.

Saya gemas ingin menulis perihal ini dikarenakan justru jauh di dalam hati nurani masih suka mikir, jangan-jangan saya masih seperti tipe di atas, jenis orang yang selalu berharap dibahagiakan orang lain, tapi malas bikin diri sendiri bahagia. Karena malas bikin bahagia, maka sudah tentu dari sononya saya tipe yang nggak mudah bersyukur. Kalau sudah begitu percuma kan orang lain pontang-panting bikin saya bahagia, tapi karena saya nggak mudah bersyukur, maka dihadiahi seluruh dunia pun ngak bakal bikin saya senang dan puas dengan hidup. Walhasil saya jadi orang yang nggak bisa pula membahagiakan orang lain.

Mungkin saja waktu-waktu sebelum ini saya sulit bahagia karena cara pandang saya yang terkalu idealis atau kebanyakan mikir pakai otak, nggak pakai hati. Terlalu bikin patokan harus begini dan begitu. Sebab hidup dengan berbagai patokan ternyata bikin nggak tenang. Apalagi kalau patokan itu cuma kita sendiri yang memilikinya. Patokan cuma bikin saya gampang takut yang nggak jelas. Misal saja anak belum gede tapi sudah takut kalau nanti ia dapet lingkungan yang salah atau pengasuhan yang gagal. Atau, saya takut sekali berkonflik dengan keluarga besan bila kelak tinggal bersama mereka yang beragam itu sehingga saya nuntut suami saya untuk nyari kontrakan atau nyicil rumah seideal pasangan pada umumnya. Ketakutan-ketakutan yang belum tentu terjadi itulah yang membuat kebahagiaan saya berkurang. Tak lain tak bukan dikarenakan saya ini kurang bersyukur. Sudah bagus punya tempat tinggal meski harus satu atap dengan para mertua. Ketimbang mereka yang terpaksa tinggal di tenda karena rumahnya ambruk terkena banjir misalnya.

Memang tahun berganti, meski kehidupan bukan lantas jadi baru. Terkadang hanya melanjutkan tugas-tugas yang belum selesai. Tugas tahun depan untuk saya sendiri sebelum mendaftar proyek pribadi yang lain adalah melanjutkan lagi salah satu proyek pribadi yang sudah saya ceritakan di atas. Tentu harus bisa dong karena saya seorang ibu. Seorang ibu harus bisa membahagiakan diri sendiri dulu sebelum mampu membahagiakan anak-anak dan suami bukan. Tim SAR aja harus mampu menolong dirinya sendiri dulu, minimal tahu dulu jalan pulang sebelum menemukan korban hilang. Nggak mungkin kan terjun bebas trus nanti risikonya ilang bareng. Dokter pun harus menolong dirinya dulu sebelum menolong pasiennya yang sekarat.

Nah kan, ketika saya nulis ini saya jadi ingat. Sebelum nikah, psikolog yang saya sempat temui juga sempat menasihati bahwa kunci dari menjalani rumah tangga adalah kemampuanmu membahagiakan diri sendiri, dan masih banyak lagi. Yang akhirnya saya simpulkan: jangan begitu saja menyederhanakan makna pernikahan dengan memperoleh kebahagiaan (pribadi) semata. Mangkanya Islam menyebut pernikahan sebagai jalan menyempurnakan separuh agama. Bukan menyempurnakan daftar impian ketika masih lajang. Mungkin saja saya sempat lupa tentang itu karena kesibukan dan perubahan pola hidup yang berubah drastis sejak hamil dan jadi ibu rumah tangga. Perubahan pola hidup yang drastis terkadang bikin manusia jadi lupa hal-hal penting bukan?

Selamat Milad yang Pertama Kekasih Kecilku :)

Ada ribuan kelahiran di dunia setiap hari, tapi moment melahirkan memang selalu jadi keajaiban bagi seorang ibu. Termasuk bagi saya, yang sejak Satya lahir, saya jadi seperti tengah menjalani sejenis kehidupan dengan alasan dan tujuan yang lebih jelas.

Saya pun mengerti, menjadi ibu adalah tentang kasih sayang tulus dan tak berbatas meski sering kali tak diakui. Menjadi ibu adalah pembelajaran ngemong banyak orang demi kebaikan anak meski sering kali gagal karena anak ternyata selalu lebih utama, bahkan ketimbang diri sendiri. Menjadi ibu adalah tentang menjadi asing karena seluruh kebaikan yang dilakukan untuk sang anak selalu saja berbeda dengan cara orang lain, meski demikian ia tentu tetap tak tergoyahkan. Menjadi ibu adalah tentang kehilangan hari-hari istimewa lain karena baginya hari kelahiran anaknya telah menjadi hari terpenting sedunia.

Selamat hari lahir kekasih kecilku. Tentu saja seperti doa-doa yang terucap setiap waktu, Bunda selalu berharap semoga Allah selalu menjagamu dari segala keburukan di dunia maupun di akherat. Semoga selalu sehat dan sejahtera. Semoga engkau selalu tumbuh dan berkembang di lingkungan yang mendukungmu untuk menjadi anak yang shaleh. Amin.

Omurice

Janjian masak sama temen memang mengasyikan. Sejak Mpok Tanti mengirimkan foto omurice dan kemudian ngajak janjian masak akhir pekan di rumah masing-masing, saya jadi penasaran dengan salah satu makanan ini. Intinya, saya jadi semangat masak.

Omurice kepanjangan dari omelette rice. Maksudnya adalah telur dadar isi nasi goreng. Makanan ini rupanya berasal dari negeri sakura. Menurut berbagai sumber, omurice pertama kali diciptakan di sebuah restoran yang bernama Hokkyokusei yang terletak di Namba, Osaka. Restoran ini membuat omurice pertama kali khusus untuk pengunjung restoran yang terkena gangguan pencernaan. Namun ada pula yang mengatakan omurice diciptakan lebih dulu di restoran Renga-tei yang terletak di Ginza, Tokyo. Entah benar yang mana, yang jelas sekarang makanan ini menjadi populer dengan bentuk yang beragam dan bisa dimasak sendiri dengan variasi bahan sesuai selera.

Omong-omong soal omurice, Indonesia juga punya jenis kuliner yang masih family, lho. Namanya semarmendem. Nasi yang sama-sama dibalut dadar telur. Bedanya, bila omurice lebih besar dan berisi nasi goreng, semarmendem berisi lemper (nasi ketan isi daging). Bila semarmendem biasanya dikonsumsi sebagai camilan, omurice adalah makanan utama. Bila omurice ini telur dadarnya murni, semarmendem pakai adonan telur yang dicampur tepung. Begitulah.

Ternyata membuat omurice cukup simpel dan bisa menggunakan bahan seadanya.

Bahan kulit

  • Telur
  • Garam
  • Merica

Bahan nasi goreng (untuk satu porsi, untuk diri saya sendiri yang lagi nggak puasa :D)

  • nasi 1 piring
  • 1 buah cabe rawit
  • 2 buah bawang merah
  • 2 buah bawang putih
  • 1 buah sosis sapi
  • 1 buah wortel ukuran kecil, potong dadu
  • lada bubuk secukunya
  • pala bubuk secukupnya
  • garam secukupnya
  • 1 sdm margarin
  • 1 sdm kecap manis
  • 1 buah daun bawang
  • 2 sdm minyak goreng

Di resep ini saya masak telurnya dulu. Sebetulnya sesuai tekniknya sih nasi dulu. Tapi karena saya sulit membayangkan bagaimana melipatnya kalau sudah jadi, makanya milih yang lebih mudah dulu :D.

Caranya:

Kulit

Seperti bikin telur dadar pada umumnya, kocok telur, tambahkan merica bubuk dan garam, goreng di atas penggorengan yang sudah diolesi margarin. Masak dengan api kecil. Saya menggunakan teflon supaya bisa lebih lebar dan merata permukaannya.

Setelah matang, angkat, letakkan di atas piring.

Isi

  • Pertama, panaskan minyak goreng dan margarin dengan api kecil.
  • Cincang bumbu bawang merah dan bawang putih. Iris tipis cabe rawit. Potong-potong daun bawang kira-kira 1 cm-an dan sosis.
  • Tumis bumbu tersebut hingga harum.
  • Masukkan wortelnya dan beri sedikit air.
  • Tambahkan kecap, saus tomat, merica bubuk, garam, dan pala bubuk.
  • Masukkan nasi sambil¬†diaduk supaya bumbunya merata.
  • Setelah matang, angkat di atas telur dadar untuk dibungkus, kemudian dibalik dengan hati-hati.
  • Hias dengan saus kesukaan. Saya pakai saus tomat.

Eh ternyata hasilnya sungguh di luar dugaan. Jumlah nasi gorengnya melebihi kapasitas si telur dadar membungkus sesuatu. Jadi saya hanya mengambil sebagian untuk dibungkus telur dadar. Sesudah difoto, digabungin deh semuanya.

Dan… beginilah penampakan omurice kreasi saya. Memang agak sedikit berantakan. Namanya juga baru pertama nyoba ūüėÄ

img_20160629_064929.jpg

img_20160629_065011.jpg

Tape dan Beberapa Resep

Tape singkong atau peuyeum, istilah bagi masyarakat Jawa Barat, selalu jadi oleh-oleh favorit kalau bapak dan ibu saya pulang dari Bandung. Meskipun di Jogja banyak dijual tape singkong, tetap saja tape khas Jabar lebih enak menurut Bapak. Apalagi beliau suka sekali berbagai jenis tape. Baik yang dari singkong maupun yang dari ketan. Kalau saya sendiri lebih suka yang tape ketan. Mungkin karena ada kuahnya:D (alasan yang aneh).

Di daerah saya, Jogja, termasuk kampung halaman Ibu di Bantul, menghidangkan tape ketan di acara besar seperti nikahan, kelahiran bayi, atau lebaran sudah merupakan kebiasaan. Biasanya disuguhkan bersama emping melinjo. Nah, saya pun kini jadi penggemar tape. Apalagi tape ketan yang dimakan bareng emping melinjo. Tape ketan dan emping melinjo itu bagi saya seperti sepasang sandal, kalau salah satu nggak ada rasanya kurang lengkap. Perpaduan asam, manis tape dan gurih empingnya hm.. nggak ada duanya.

Kalau Ibu bikin tape ketan sendiri di rumah, saya pasti rebutan deh sama Bapak. Tapi membuat jenis makan ini ternyata cukup lama. Setelah tape dimasak pun proses fermentasinya mesti 3 hari 2 malam dan itu pun diletakkan dalam wadah kedap udara dan tidak boleh terkena sinar matahari, nggak boleh juga dibuka sebelum waktunya. Dari mencuci beras ketan hingga jadi tape kalau diitung-itung bisa sampai 4 harian. Tapi untuk menghabiskannya tentu nggak sampai sejam :))

Ternyata membuat peuyeum pun sama-sama ribetnya. Namun di samping rasanya enak rupanya tape singkong ini mengandung berbagai manfaat positif lho untuk kesehatan tubuh, bahkan konon bisa menyembuhkan jerawat dan anemia.

Ketika peuyeum melimpah di rumah, boleh juga nih dimasak jadi berbagai cemilan selain dimakan langsung. Dibikin cake sepertinya menoton. Apalagi di rumah banyak yang nggak suka makan cake. Kalau ada cake di rumah, sebagian besar pasti jadi jatah makan ayam. Ternyata tape singkong pun bisa dinikmati dengan 3 cara ini.

Tape bakar tabur gula. 

Resep ini terinsirasi dari ibunya murid waktu saya masih mengajar privat di daerah Godean.Si ibu adalah perempuan yang tangguh menurut saya. Sejak suaminya meninggal, ia menghidupi sendiri dua anak dan seorang asisten rumah tangga. Kami sering sharing tentang perkembangan anak-anak. Dan sering kali saya disuguhi tape bakar tabur gula ini setiap mengajar yang merupakan camilan khas keluarga.

Cara membuatnya:
Pertama olesi penggorengan dengan mentega dan panaskan.
Tape dimasak dulu di teflon dengan api kecil sampai kering dan ada semburat gosong, tapi jangan terlalu gosong.
Setelah itu, angkat dan taburi dengan gula/saus caramel santan

Coba deh, rasanya enaaaak banget.

Cassava sweet cake with egg and lope.

Nama yang panjang ini pemberian dari sepupu saya. Kalau di suruh ngulangin secara lesan saya nggak bakal hafal. Cukup saya sebut tape goreng. Cara membuatnya:

Siapkan tape singkong, tepung terigu, telur, gula pasir, garam, mentega cair.
Lumat semua bahan, masak di atas teflon, dengan api sedang
Angkat setelah kecokelatan.

Ini juga rasanya enak banget. Bisa dijadikan camilan atau sarapan.

 

Dicampur es buah.

Bisa ditambahkan pisang, kurma, kolang-kaling, nangka, agar-agar, susu kental manis, dan es puter rasa kelapa.

 

Selain tiga cara di atas, tape singkong juga bisa dibikin variasi makanan lain seperti puding, es krim, dan banyak lagi. Sepertinya kapan-kapan perlu deh eksperimen. ūüėÄ

 

IMG_20160309_111822

tape goreng

 

9 Bulan Si Kecil-ku

Nggak terasa Satya sudah berumur 9 bulan. Sudah lulus ASI ekslusif 6 bulan, dan sekarang latihan makan MPASI sehat yang lebih padat. Geraknya makin lincah, dan bahkan sekarang sudah belajar turun dari tempat tidur sendiri. Sebelumnya, saya sempet berada di moment “panik akut” ketika Satya masih berumur 4 bulan dan ia belum bisa tengkurap sendiri. Tadinya saya nggak bermasalah dengan itu, sampai orang-orang dengan mudahnya mengklaim ia keseleo lah, karena nggak pernah didadah ke dukun bayilah, dan lebih buruknya dibandingkan sama bayi-bayi lain yang sudah bisa tengkurap sendiri. Padahal kan mereka nggak mengikuti perkembangan Satya dari hari ke hari karena nggak tinggal serumah. Meski saya sadar, membesarkan anak di lingkungan masyarakat gotong royong semacam ini memang¬†mesti bisa¬†juga ngemong banyak orang.

Nggak henti-hentinya, sejak saya melahirkan, suara-suara semacam itu mudah sekali bikin saya down ketimbang percaya diri. Mungkin sebal sekali rasanya dikasih kritik dan nasihat tanpa diminta dan efeknya saya malah merasa nggak pantas jadi ibu yang baik. Terutama nasihat yang sifatnya kuran masuk akal. Mungkin karena ibu pasca melahirkan jadi lebih rentan daripada ketika belum punya anak. Terlebih baru pertama kali saya punya bayi dan tentunya lebih butuh dimotivasi dan diberi ruang untuk beradaptasi dengan status baru. Siapa sih yang nggak gampang parno begitu ditakut-takutin dengan hal-hal yang belum terbukti kebenarannya? Nggak cuma ibu-ibu tetangga, kerabat, atau keluarga besar, tapi dokter pun turut menyuntikkan teror, yang akhirnya membuat saya terpaksa memutuskan untuk ganti dokter.

Namanya juga ibu, se-down apa pun tetep berusaha positive thinking dan tetap kuat demi terus merawat dan menjaga buah hati. Saya juga nggak lantas begitu saja menyerahkannya ke dukun bayi. Memijatnya sendiri lebih aman. Sebelum itu, saya pernah membaca referensi bahwa bayi 4 bulan belum tengkurap masih tergolong normal. Entah bagaimana saya selalu percaya kok setiap anak mengalami tumbuh kembang yang nggak bisa dibandingkan satu dengan yang lainnya. Dan pada akhirnya, semua itu terlewat. Satya nggak kenapa-kenapa. Normal seperti yang seharusnya. Begitu ia bisa tengkurep sendiri, maka ia pun berguling-guling sepengin dia sendiri dan berkembang sesuai yang ia  mau.

Ada-ada saja tingkah polahnya setiap hari yang bikin orang-orang dewasa di sekitarnya gemas dan geli. Kalau dulu orang-orang menakut-nakutin ibunya bahwa¬†si anak ini mungkin ada yang kurang karena belum bisa tengkurap sendiri, sekarang mereka kewalahan kalau kedapatan kunjungan karena polah Satya yang sering tak bisa diprediksi dan cenderung mengacaukan barang-barang =)), dan mereka pun jadi banyak melarang si kecil. “Jangan pegang ini, jangan ke sana, jangan bla.. bla. bla.. ” Kadang aneh deh rata-rata masyarakat kita. Menuntut para bayi supaya cepet besar dan bisa jalan, begitu bisa jalan malah sering dilarang ini itu. Dihambat berkembang.

Sekarang ia sedang aktif-aktifnya. Sudah belajar berdiri sendiri, berpindah tempat tanpa bantuan, duduk sendiri, mengoceh (dengan bahasa yang masih belum jelas), selalu penasaran dengan benda-benda di sekitarnya, dan bahkan memakan apa saja yang dipegangnya sebagai proses dimulainya latihan makan sendiri. Sebagai orang tua, kekhawatrian pun tentu saja bertambah. Tak jarang ia jatuh, kebentur sesuatu, bahkan kemarin hari sempat terantuk pagar box bayi sampai berdarah gusinya. Apakah lantas saya nggak ngasih izin dia main di box-nya lagi? Tentu saja tidak. Lebih karena ada hal lebih penting dari sekadar luka terantuk lingir.

Hal-hal yang sifatnya naluri kan butuh dipalajari juga secara mandiri. Makan, berjalan, dan hal-hal semacam itu. Nggak mungkin kan Satya saya larang ini itu, atau menggendongnya sepanjang waktu, karena kalau begitu ia jadi stress. Nggak mungkin juga saya bentak dia supaya kaget dan takut melanjutkan rasa penasarannya dengan sesuatu, karena konon malah akan berisiko pada kondisi psikologisnya. Paling saya hanya akan menyingkirkan benda-benda berbahaya atau tegas menjauhkannya dari hal-hal seperti kompor atau setrika panas. Jatuh, kotor, terluka, memang risiko belajar. Setiap ia jatuh, tentu saja saya hanya akan memeluknya dan bilang “nggak papa, lain kali hati-hati ya, pegangannya pelan-pelan aja.” Padahal dalam hati cemas banget dan jantung rasanya mau copot. Tapi mau gimana lagi, proses belajar harus dilanjutkan. Karena semua itu memang nggak sia-sia kok. Setelah momen terantuk pinggiran kayu, atau jatuh, saya pun melihat perubahan Satya yang akhirnya lebih hati-hati dari sebelumnya. Mungkin saja bayi seusianya sudah mampu membedakan benda-benda mana yang bikin sakit, mana yang tidak.

Semakin aktif Satya, semakin was-was pula rasanya setiap akan meninggalkannya. Padahal nggak mungkin punya bayi nggak punya moment nitip. Apalagi ketika bayi sudah mulai penasaran dengan lantai dan kabel listrik. Setidaknya untuk ditinggal ke pasar pun pasti nitip siapa pun yang ada di sekitar bayi. Beberes peralatan mandi saja mesti harus titip atau memastikan si baby bisa ditingal sendiri di box-nya. Ditinggal sebentar dan Satya cuma diem lebih dari 2 menit, saya pasti curiga karena biasanya ada hal aneh yang ia pegang. Teringat beberapa minggu lalu, sepupu Satya yang lagi nginep di rumah, dan usianya lebih tua dua bulan dari Satya, diem-diem sibuk mainan resrespo yang mungkin saja baginya selucu tedy bear. Gimana saya nggak ketar-ketir? Apalagi rumah lagi sering kedatangan resrespo yang berasal dari pekarangan tetangga samping yang terbangkalai. Nggak tahu kenapa, sarang-sarang sudah coba dibersihkan, telur-telur dimusnahkan, tapi tetep aja muncul. Yang punya pekarangan entah ke mana.

Memang kalau saya mesti pergi karena keperluan mendesak, ibu saya adalah satu-satunya yang bisa saya titipi. Tinggal satu kompleks dengan orang tua memang banyak kemudahan. Tapi saya juga nggak lupa, ibu saya adalah ibu rumah tangga, mengurus bapak, adik bungsu, simbah, dan terkadang masih juga mengurus saya sepertinya sudah membuatnya cukup kelelahan. Menitipkan Satya juga perlu melihat kondisi beliau apakah lagi benar-benar selo atau tidak.

Jadi kesimpulan sementaranya, saya mesti melanjutkan proses jadi fulltime mommy, dan juga siap bila ada tanggung jawab pekerjaan freelance yang bisa dikerjakan di rumah. Menjadi ibu nggak perlu berhenti mengembangkan diri kan. Diem-diem saya jadi salut sama ibu-ibu kantor yang tetep bisa kerja dan merawat keluarga kecil. Saya yang nggak ngantor saja sempoyongan dan selalu mengkhawatirkan anak yang saya pelototi setiap saat. Gimana dengan mereka yang hanya bisa ketemu beberapa jam saja dalam sehari?

Sejauh ini, saya merasakan salah satu sisi positifnya punya bayi, semua orang seperti memberi permakluman. Kalau saya telat datang di acara keluarga misalnya, mereka akan maklum karena saya pastinya ngurus bayi lebih dulu. Dan bila saya bangun kesiangan, keluarga saya pun maklum karena pastinya semalaman begadang menyusui dan mengganti popok si dedek bayi. Kalau saya nggak bisa datang acara formal tertentu, sudah pasti orang-orang maklum karena punya bayi memang demikian sibuknya. Dan beruntungnya, karena kehadiran Satya membuat saya belajar menyaring berbagai jenis informasi (saran, kritik, nyiyiran, dan sebagainya), dan juga bertumbuh menjadi orang tua yang terus berusaha belajar mengambil yang penting dan mengabaikan yang nggak penting. Saya percaya memiliki buah hati bikin seseorang jadi lebih ‘bijak’.

Semoga Allah selalu menjaga Satya dan senantiasa memampukan kami untuk menjadi orang tua yang baik baginya. Amin.

Hari Jadian

Ternyata, sudah lama aku nggak menulis sesuatu.

Pagi ini seperti halnya hari-hari biasanya. Bangun pagi, ngurusin anak, beberes banyak hal dan semuanya dikerjakan berdua. Sementara aku menyusui si kecil, suamiku menjerang air, nyuci piring, kemudian memandikannya. Sementara aku beberes peralatan mandi dan membuat sarapan, suami akan mengajaknya jalan-jalan sebelum berangkat kerja. Hari berlangsung seperti biasa. Memang sejak ada bayi di rumah kami, setiap hari selalu istimewa. Hanya saja hari ini terasa berbeda ketika masih dalam keadaan ngantuk, ia mengingatkanku tentang sesuatu:

“Tahu nggak Dek sekarang hari apa?”
“Senin.”
“Tanggal?”
“Hm.. berapa ya Mas? Duh lama nggak lihat kalender…”
“Sekarang tuh hari ulang tahun pernikahan kita…”

Lucunya dua tahun kami menikah, baru kali ini satu di antara kami mengingat hari bersejarah itu. Tahun kemarin? Entahlah… mungkin karena kesibukan masing-masing atau memang kami berdua cenderung nggak romantis, hari penting¬†itu pun terlupa :p.

Tanggal 4 April 2014 lalu tepatnya, kami “jadian” di depan penghulu. Tentu sebelumnya, kami tahu bahwa tidak ada “pernikahan” yang enak di dunia ini, tapi memang hanya berbekal¬†saling percaya satu sama lain, kami memutuskan bersama. Ya begitulah, ceritanya cukup panjang.

Masih kuingat ketika ia melantunkan ijab kabul dengan tegas tanpa diulang. Hari itu segalanya berlangsung sederhana namun khidmat. Dan tentu selalu kuingat sejak itu, segala tanggung jawab dan kesulitan mesti dihadapi. Memang cinta tak hanya sebatas romantisme, maka seperti itulah yang setiap hari dan hari-hari yang akan datang selalu kami jalani. Terlebih ketika menghadapi perbedaan. Aku yang introvert, dia yang ekstrovert. Aku yang elergi keramaian, dia yang bisa banget menghebohkan suasana. Dia yang penyuka kerapaian, dan aku yang lebih nyaman kalau di tempat yang berantakan, dan masih banyak lagi yang akhirnya toh tetap berjalan beriringan.

Salah satu pelajaran penting dari pernikahan adalah bahwa cinta memang bukan tentang kata-kata atau sekadar karangan bunga, tapi ketika pasangan kita selalu ada di sisi dalam kondisi apa pun kita, menerima kekurangan, dan mau saling memahami. Memang rasanya beruntung bertemu seseorang yang berkebalikan dengan kita tapi selalu peduli. Hidup bareng tipikal suami yang bersedia membantu tugas-tugas domestik di luar jam kantornya itu sungguh berkah bagi seorang istri. Bertemu dengannya membuatku belajar tentang menjalani segala sesuatunya bersama, meski seperti halnya pasangan yang baru menikah pada umumnya, segalanya tampak nggak mudah. Belum lagi kami mesti membuktikan pada orang tua kami, bahwa kami bisa menjalani rumah tangga dan bisa berdikari.

Alhamdulillah, sudah dua tahun pernikahan kami, dan bahkan Tuhan mengamanahi kami seorang bayi laki-laki yang sekarang sudah belajar merangkak dan tertawa ngakak. Tentu banyak hal yang kusyukuri hingga detik ini. Dan sejak si kecil tiba, entah bagaimana, kami pun seperti tengah¬†berproses menjadi “orang lain”, mungkin bisa disebut orang tua kali ya. Kalau ada yang bilang sering kali karakter kebapakan laki-laki dan tanggung jawabnya muncul¬†setelah jadi bapak, aku setuju. Masih teringat bagaimana ia selalu mendampingiku sejak anak pertama kami¬†hadir :). Ah, mungkin lain waktu saja kalau sempat, aku akan cerita.

Baiklah. Hanya doa dan sedikit pesan yang mampu kusampaikan hari ini padamu,

Aku bersyukur dapat menjalani hidup bersamamu, berdua menghadapi hal-hal yang kadang jelas kadang nggak jelas tapi kita tetep kompakan. Aku bersyukur atas semua hal yang mampu kita lewati hingga hari ini, dan juga kesediaan kita belajar dan belajar lagi untuk jadi ibu bapak yang baik untuk anak kita.

Selamat hari pernikahan kita yang kedua ya Sayang ūüôā semoga kita selalu jadi keluarga samawa. Dan semoga Allah selalu memberkahi pernikahan kita. Amin.

IMG_20160404_224839

Oh iya, kurasa masih ada satu tugas besar dan berat menanti kita di waktu-waktu selanjutnya yang nggak habis membuatku khawatir, cemas, sekaligus bersemangat: parenting. ūüėÄ

IMG_20160404_201109

dua lelakiku¬†ūüôā

Para Perempuan dalam Dunia Alice: Review Novel Karya Alice Pung

“Waaaahhh ‚Ķ,” nenek menyeletuk takjub saat melihat mobil berhenti dan menaikkan seorang penumpang.

Celetukan semacam itu sangat kerap terlontar dari mulut Alice dan keluarganya. Sebagai pendatang baru, kehidupan di Australia penuh dengan kejutan. Mobil bertebaran di mana-mana, dan mereka tak menolak berhenti hanya untuk seorang nenek tua! Di Kamboja, asal mereka, hal semacam itu jelas tidak mungkin.

Kejutan yang luar biasa mereka temukan justru di supermarket. Di rak, berderet daging kaleng dijual dengan harga sangat murah. Merasa girang, mereka membelinya beberapa.

Hari itu makan malam mereka istimewa, hingga televisi memperlihatkan sebuah iklan daging kalengan. Astaga! Ternyata daging yang mereka beli adalah makanan anjing.

Dunia Alice menuturkan kehidupan sebuah keluarga imigran Kamboja di negeri baru, Australia. Kocak dan menggelitik, novel ini benar-benar menghibur sampai ke sumsum tulang belakang Anda.

Saya selalu percaya setiap manusia memiliki dunia yang menarik untuk diceritakan bila saja mereka bisa berbagi dalam sebuah buku. Seperti halnya Alice Pung yang kali ini berbagai melalui novelnya yang berjudul Unpoliced Gem, yang setelah diterjemahkan versi Indonesia berjudul Dunia Alice. Buku yang tak sengaja dipinjam adik saya dari Perpustakaan Daerah ini rupanya menarik sekali.
Kebetulan saya juga senang membaca sejenis buku autobiografi atau semacam buku harian. Dunia Alice bercerita tentang kisah dirinya dan keluarga yang bermigrasi dari Kamboja pada masa konflik era Pol Pot. Alice baru lahir setelah keluarganya pindah. Ia tumbuh besar di negeri baru tersebut.

Dunia yang ia simak dan alami sejak kecil hingga memasuki masa dewasa adalah dunia yang cukup berwarna. Lewat kehidupan sehari-hari yang dialaminya, Alice kecil bercerita tentang generasi sang nenek yang menyatu dengan tradisi dan kemudian tentang ibunya yang lebih banyak dilatarbelakangi oleh peristiwa konflik. Alice lahir dari etnis Cina dengan keluarga yang selalu berjuang mempertahankan tradisi. Dengan daya kritisnya, ia menggambarkan nuansa culture shock yang dialami keluarganya di tengah kehidupan maju dan bebas seperti di Australia. Ia menuliskan berbagai perbedaan cara hidup keluarganya yang taat adat dan masyarakat negara yang ditempatinya dengan sekilas-sekilas. Dan secara tak langsung pula, Alice seakan membagi sekelumit pandangan seputar pengasuhan orang tua ala Asia, kebiasaan masyarakat, opininya mengenai negara yang ditinggali, beberapa kisah tragis negeri yang ditinggalkan menurut cerita nenek dan ayah meski dengan cara humor, hingga cerita lucu dan romantis ketika jatuh cinta pertama kali dengan seseorang yang berbeda etnis dan asal negara di kemudian hari.

Menurut saya, banyak hal menarik di buku ini yang sayang untuk tidak dibocorkan, beberapa di antaranya adalah:

Pertama,
Alice kecil akrab dengan perseteruan orang-orang dewasa. Di benaknya, orang dewasa adalah manusia-manusia rumit. Seperti iklim umum di keluarga Asia, ibu mertua bahkan jarang sekali dapat sehati dengan menantu perempuan. Alice kecil tentu tidak memiliki bahasa yang tepat untuk menyampaikan betapa itu tidak menyenangkan, kecuali hanya diam. Baik nenek maupun ibunya tentu dua orang yang sama berharganya. Di samping itu, biasanya figur anak-anak adalah nenek-kakeknya karena mereka cenderung lebih luwes. Demikian juga dengan Alice yang bahkan merasa bahwa semestinya neneknya hidup selamanya untuk dia sebab hanya neneknya yang mengatakan hal-hal baik tentangnya dan membuatkannya telur rebus setiap pagi. Sedangkan orang tuanya, terutama ibu yang telah sibuk bekerja dan mengurus anak-anak, selalu bersikap keras kepadanya dan jarang memiliki waktu untuk sekadar mengobrol.

‚ÄúSeorang tidak ada yang mengingatkanku untuk bangga menjadi bagian dari kebudayaan yang berumur seribu tahun, tak seorang pun mengatakan bahwa aku ini emas dan bukannya kuning.‚ÄĚ (h. 210)

Alice kecil juga merupakan anak-anak biasa yang memiliki bermacam tingkah konyol. Ia pernah punya kutu di rambutnya sehingga dijauhi teman-teman dan sepupunya. Suatu hari ia berkunjung ke rumah sepupu untuk bermain, namun para sepupu malah bersembunyi dan tak mau menemui Alice. Terbit ide iseng Alice dengan berbaring di karpet sepupunya dan membayangkan kutu-kutu tersebut menyerbu sela-selanya sehingga kelak menulari mereka.

Kedua,
Setelah beranjak¬†remaja (mulai menstruasi), kebanyakan orang tua Asia (tradisi Timur) akan mendoktrin bahwa di luar sana laki-laki adalah penjahat yang sewaktu-waktu dapat memperkosamu di jalan. Bila kamu tidak perawan lagi, maka kamu tidak akan punya suami dan menikah yang layak, atau akan dianggap “benda” yang telah rusak. Seperti halnya orang tua Alice yang selalu mewanti-wanti dengan tegas untuk waspada dan jangan dekat-dekat dengan laki-laki. Dan itu salah satu cara orang tua khas Timur melindungi dan memberikan pendidikan moral pada anak-anaknya.

Suatu ketika Alice remaja menerima telepon dari teman laki-laki untuk pertama kali. Peristiwa itu membuatnya depresi karena seluruh orang berpikir hal terburuk tentang dia. Akhirnya karena peristiwa ditelepon cowok itulah, ia pun dihukum orang tuanya untuk menghabiskan seluruh waktu liburan di dalam kamar. Ditelepon seorang laki-laki adalah aib dan hal besar bagi remaja putri yang akan membuatnya jadi bulan-bulanan seluruh keluarga dan bahan gunjingan para tetangga. Hal ini agak berkebalikan dengan aturan orang tua ketika Alice beranjak dewasa, karena justru ia diharuskan membuka diri untuk mencari calon suami yang tepat.

Yang kauinginkan di usia lima belas tahun adalah memiliki pacar, dan bukan memilih calon ayah anak-anakmu di masa depan. Yang diinginkan pemuda berusia lima belas tahun adalah diterima cintanya oleh si gadis, dan mungkin lebih kalau ia beruntung–bukan memilih calon menantu untuk ibunya. (h. 110)

Alice memang tumbuh jadi remaja yang penakut tatkala dewasa, ragu, tak percaya diri, namun ada sisi kepribadian kuat di dalamnya yang membuatnya mampu bertahan di dalam setiap masalah. Alice Pung seakan menunjukkan bahwa didikan keras ala masyarakat Timur tidak selalu buruk. Ia berhasil menunjukkan dirinya sebagai orang yang memiliki sifat tangguh justru karena didikan itu.

Ketiga,
Alice hadir dari tradisi bernilai patriakhat di mana anak lelaki lebih berharga daripada anak perempuan, hal itu ditunjukkan dalam kisah masa lalu nenek Alice ketika menikah dengan sang kakek. Dalam tradisi ketimuran yang dipaparkan Alice Pung, tak peduli bila seorang perempuan sukses pendidikan ataupun pekerjaan, jika tidak bisa mengerjakan pekerjaan domestik, tak punya penghasilan, dan tak bisa punya anak lelaki maka ia adalah perempuan tak berguna sehingga tak layak dinikahi.  Namun kedatangan mereka ke negeri semacam Aussi mengubah sedikit cara berpikir. Di buku ini saya banyak menemukan cerita kocak seputar perjodohan dan pernikahan yang bisa direnungkan sekaligus cukup menghibur.

Ketika dewasa Alice menyadari bahwa semua lelaki tidak sama seperti gambaran orang tuanya ketika remaja, ia menemukan Michael yang mengingatkannya akan karakter santun, romantis, dan sedikit rapuh seperti tokoh-tokoh dalam karya sastra yang sering dibacanya. Pendidikan formal, bahan bacaan, sekaligus lingkungan pergaulan semasa belianya membuat Alice juga begitu sering mengkritisi pria-pria asal budayanya sendiri. Ia tentu menemukan perbedaan mencolok mengenai gambaran lelaki dalam doktrin orang tuanya dengan lelaki dalam buku-buku dan pergaulan di sekolahnya. Tak hanya itu, lewat pengetahuan yang ia simpan dalam sifat introvertnya, ia pun mengkritisi pria model Barat yang baginya bersikap terlalu berlebihan sebagai wujud kesadaran atas keperempuannya yang utuh dan tak terjebak arus. Menunjukkan bahwa ada sisi feminis dalam diri Alice yang menarik untuk dikaji.

Saya juga suka pandangan Alice ketika berbicara perihal kesetaraan gender. Ia selalu mengalami perang batin dan keterasingan yang membuat saya tersenyum geli, merasa pernah di posisi itu. Salah satunya ketika berhadapan dengan kebiasaan wanita Barat mencium teman-teman prianya setiap bertemu. Terutama ketika melihat langsung para wanita berkontak fisik dengan Michael, pacarnya, meski ia bersikap menerima dan tak ingin terlihat mengawasi kekasihnya.

Secara sekilas ia juga mengkritisi sikap Gemma, salah satu teman Michael, yang mewakili para wanita Barat yang mencoba menjadi feminis negara dunia ketiga.

Kalau mereka menghormatimu, mereka akan mengurangi cium-cium, kau tahu, kataku pada diriku sendiri, lagi pula kau pacarnya. (h. 272)

Hal itu menunjukkan karakter Alice yang terbuka dengan hal-hal baru namun tetap menghargai tradisi aslinya sendiri. Ia tipe pendatang dari Timur yang cukup kritis yang tak asal mengikuti cara Barat.

Keempat,
Sejak pindah ke Austarlia, ibunya mengalami culture shock lebih parah daripada anggota keluarga yang lain. Ia pun menyebut masyarakat kaukasoid sebagai hantu putih yang begitu berbeda dunia dengan mereka. Ia juga tak bisa berbahasa Inggris sehingga membuatnya asing di antara orang-orang di sekitarnya, terlebih ketika Alice, Ayah, dan anggota keluarga lain pada akhirnya fasih berbahasa tersebut dan sesekali menggunakananya ketika makan bersama. Membaca Dunia Alice, membuat saya jadi ikut hanyut dalam pergantian suasana yang disuguhkan.

Diceritakan bahwa sang ibu adalah sosok workaholic, ia merasa hidupnya runtuh dan tak berarti setiap kehilangan pekerjaan dan pendapatan, meskipun sebetulanya dengan pekerjaan sang suami yang cukup bagus, ia bisa juga tidak perlu bekerja. Hal itu membuat setiap anggota keluarganya memberikan permakluman yang luas. Dengan kesibukan sang ibu berbisnis atau bekerja di luar rumah itu, Alice pun menggantikan pekerjaan domestik dan mengasuh adik-adiknya. Sosok ibu menurut saya cukup menarik, meskipun memiliki sisi keras dan kaku, ia merepresentasikan perempuan Asia yang gemar bekerja keras dan tak ingin selalu tergantung pada suaminya. Bahkan seolah tak ingin tergantung pada keluarga besarnya. Saya kira, itu salah satu gagasan besar dalam novel ini. Mengingat banyak tokoh perempuan yang lebih banyak dipaparkan dalam novel ini ketimbang tokoh prianya. Sedikit banyak, novel ini yang seperti mengingatkan saya pada ciri khas perempuan feminis.

Secara tidak langsung membaca novel ini membuat saya dapat mengenal akrab, tak hanya seorang Alice, tapi seperti apa kehidupan imigran Kamboja dengan segala keetnisan dan budayanya itu harus tinggal di negeri seperti Melbourne Australia. Dan lebih dari itu, saya menikmati cara berpikir salah satu penulis mudah perempuan ini yang sedikit banyak tidak melepaskan unsur kritik sosial dan tradisi, yang melesat lebih maju daripada nilai-nilai lama ala keluarga asalnya.

Memang tidak mudah bertahan dalam bacaan¬†yang jenis uraiannya panjang-panjang, namun ketika terus membacanya, saya justru banyak menemukan hal-hal yang dapat dipetik, seperti bahwa menjadi warga negara “dunia ketiga” memang cukup menantang. Novel ini dituturkan dalam bahasa yang runut dan meski beberapa kali menemukan hal yang mesti dibaca ulang karena saya tidak terlalu terbiasa membaca kalimat terjemahan yang rumit. Hal lain yang menarik adalah ketika sampai pada bab masa pacaran, Alice Pung menunjukkannya dengan deskripsi dan pembukaan yang tidak langsung sehingga pembaca dapat memahami dengan cara sendiri dan bebas memberikan penilaian.

Dari segala keistimewaan dan isi yang dapat ditemukan di novel ini, tak heran bila Dunia Alice terpilih sebagai Newcomer of The Year Award tahun 2007, kemudian masuk dalam kategori NSW Premier Literary Award dan Booksellers Choice Award.

Rangkaian kisah hidup yang terinspirsai kisah nyata penulis ini rasanya membuat saya beruntung telah membacanya.