Belajar dari Menidurkan Bayi

Seperti halnya Satya, Tama jenis bayi yang memiliki telinga yang super sensitif sejak lahir. Dengar suara sedikit aja, tidur nyenyaknya terganggu. Dengar langkah kaki, matanya yang sudah mulai merem jadi melek kembali. Untuk tidur lebih lama, mereka harus berjuang. Tepatnya ibunya yang mesti memperjuangkan. Tak jarang saya dengan senang hati mematikan atau men-silent HP di rumah, terlebih di jam-jam tidur anak. Pasalnya, bayi usia nol hari hingga beberapa bulan ke depan harus tidur lebih banyak. Tidak hanya untuk menambah berat badan, tapi yang utama adalah perkembangan otak.

Menurut beberapa artikel kesehatan yang saya telusuri, bayi semakin bertambah usia semakin sedikit durasi tidurnya. Kalau newborn, diharapkan mesti tidur 15-19 jam per hari untuk mengoptimalkan tumbuh kembangnya. Orang tua mesti menerapkan pola tidur yang baik untuk anak-anaknya sesuai dengan usianya.

Sementara itu tiap orang punya kegiatan masing-masing. Tinggal di kampung dengan jarak rumah berdekatan kan rasanya seperti tinggal satu atap juga. Ada kerja, teleponan, masak, betulin pintu, menemani balita main, nonton TV, dengerin musik, dan banyak lagi. Belum lagi mereka yang gemas dan kangen lihat bayi kebangun tentulah tidak mungkin menidurkannya kembali, melainkan mengajak main supaya tetep terjaga. Di samping itu ada kakak kecil yang masih suka bikin suara keras dan suka bangunin adiknya yang mulai tidur ini karena belum tahu konsep orang tidur nyenyak jangan dibangunin tanpa alasan jelas. Tama jadi lebih banyak melek di siang hari di usinya yang masih 2 bulan ini. Begitu juga Satya yang terkadang ikutan nggak jadi tidur kalau sudah lihat adiknya masih melek.

Sebagai ibu yang gampang cemas, sering deh batin ini menjerit? Mau ditidurkan di mana ini anak-anak? Ada sih areal lebih sepi, di kamar Mbah Uyut. Tapi Uyut suka nonton TV dan lihat acara dangdut. Dekat jendela kamarnya juga ada burung kenari Akung (ayah saya) yang sepanjang hari berkicau dan suara merdunya bahkan kedengaran sampai kampung sebelah. Belum lagi suara yang asalnya dari bagunan yang baru dibangun dekat rumah yang sering terdengar riuh mesin berat. Sepertinya kurang adil dong kalau semua orang disuruh anteng demi satu orang bayi saja di jam tidur mereka.

Satu-satunya solusi sepertinya adalah mengkondisikan mereka untuk beradaptasi terhadap lingkungan. Yaitu, bagaimana caranya supaya mereka tetap bisa berdamai dengan kebisingan-kebisingan kecil itu dan tetap bisa tidur sesuai jatahnya. Itung-itung sambi mengajari mereka tentang beradaptasi terhadap keberagaman masyarakat. Metode ini pernah berhasil saya terapkan pada Satya, si kakak waktu masih bayi. Satya sering kali tetap bisa tidur di tengah kebisingan ketika menginjak usia 1 tahunan. Tapi melatih para bayi yang masih rawan itu sungguh memeras hati, apalagi kala itu saya juga baby blues.

Jadi begini anak-anakku, kita ini di samping makhluk individu juga makhluk sosial. Kita hidup bersama dengan banyak orang dengan karakter dan kepentingan yang berbeda-beda. Memang sebagai individu kita memiliki pemikiran, pendapat, dan pengalaman yang berbeda dari mereka dan patut diakui. Tetapi kita tidak bisa memaksakan pemikiran kita pada mereka, tidak bisa menuntut mereka sesuai dengan harapan kita. Pada dasarnya, tidak semua keinginan kita menjadi kenyataan lho, Nak. Mungkin orang tuamu bisa selalu memahamimu ya dan juga selalu menerimamu apa adanya, tapi kalau kami sedang tidak berada di sampingmu, bagimana? Nggak selamanya orangtuamu berada di sekitarmu kan? Yang bisa kita lakukan adalah beradaptasi. Menyesuaikan diri. Bersabar. Melonggarkan hati dan pikiran sekaligus untuk menerima perbedaan tanpa ikut terbawa arus.

Dari moment-moment menidurkan bayi yang sering kali dramatis ini pun saya belajar. Kelak saya tahu, saya juga belajar bagaimana membesarkan anak dengan cara terbaik namun tetap menghindari diri dari menjadi durhaka terhadap orang tua atau generasi lama sekitar kita yang tentu berbeda cara mengasuh dengan kita. Melonggar itu tadi sungguh tidak mudah. Entah bagamana caranya, saya tetap mesti mencari tahu karena anak-anak bayi segera akan tumbuh besar.

Pulang Lagi ke Pena Merah

Apakah yang memotivasimu untuk menulis? Ingin tetap mengeksiskan blog? Sedang ingin melimpahkan uneg-uneg, alias curhat? Mengalihkan rasa sepi? Sekadar menjajal kemampuan menulis? Ingin membagi pengalaman? Entah apa pun itu, saya percaya menulis memang memberikan berbagai manfaat positif. Salah satunya bisa menjadi terapi untuk diri sendiri.

Perihal terapi ini, sudah banyak peneliti yang menyebutkan bahwa menulis memiliki manfaat memperbaiki mood, bahkan mengobati trauma pada seseorang. Manusia kan pada dasarnya tak bisa menyimpan beban hidup sendirian. Ia harus berbagi. Ketika bahagia pun terkadang orang ingin menceritakannya. Konon menulis setiap hari setidaknya selama 15 menit di pagi hari, sedikit banyak dapat memperbaiki suasana hati sepanjang hari. Terlebih ketika kita memiliki komunitas menulis.

Komunitas menulis yang saya ikuti adalah Pena Merah. Saya merasa bahagia bahwa kumunitas kecil ini akhirnya kembali terbangun setelah sekian lama tidur. Perkumpulan ini kami dirikan tatkala masih bekerja di salah satu penerbit buku di Jogja, sekitar tahun 2012. Waktu itu, setiap minggunya kami janjian memposting tulisan di blog masing-masing sesuai tema yang disepakati supaya terdorong untuk tetap ngopeni blog. Kami akan membaca blog anggota lain. Dan selanjutnya boleh mengapresiasikannya ataupun sekadar membaca saja. 

Bagaimana awal mula kegiatan rutin kami berhenti sebenarnya sih saya agak lupa 😄. Tetapi waktu itu memang satu per satu kami resign dari kantor tersebut. Beberapa pindah ke tempat kerja yang lebih menantang, ada pula yang masih menetap, ada yang berkeluarga. Intinya, karena kesibukan yang beragam itu sih kami jadi nggak sempat lagi meneruskan rutinitas meskipun masih bersilaturahmi lewat WA.

Sampai hai ini, menulis bagi saya semacam kegiatan yang cukup menyenangkan, entah itu hanya berakhir di buku harian ataupun bakal sempat diposting, karena terkadang saya mengalami beberapa hari down dan kehilangan minat sehingga si minat ini mesti diselamatkan cepat-cepat sebelum terlambat. Dan untuk menyelamatkannya, saya memang memilih kembali ke Pena Merah, turut menghidupkannya kembali. Itung-itung jadi berkesempatan belajar menulis lagi. Mudah-mudahan sih akan tetap berlanjut. Dan yang paling penting, saya jadi memiliki banyak fokus positif dalam menjalani hari-hari saya.

#Pena-Merah #Tema-Penamerah #MencobaRutinMenulisLagi

Sesuai Harapan

Tuhan tentu paling tahu karakter diri saya yang selalu tak tahu pasti apa yang benar-benar diinginkan, disukai, ataupun dituju. Itulah mengapa ada lebih banyak “semoga” dalam hidup saya yang akhirnya tidak dikabulkan-Nya, namun saya pun lebih banyak mengerti. Kemudian, pada akhirnya saya memiliki tujuan jelas, setidaknya yang saya rasa hal itu benar-benar jelas, ketika menjadi ibu. Tuhan begitu maha pemurah sehingga “semoga” saya kala itu dikabulkan tanpa saya duga. Harapan untuk bisa melahirkan secara gentle pun tercapai.

Mungkin saja saya sedikit heran sekaligus takjub pada proses persalinan saya sendiri. Sekitar 7 minggu lalu, proses itu berjalan lembut. Tama (Tsaqif Adhitama Ardi), anak kedua kami lahir alami dengan bobot yang sedikit lebih besar dari kakaknya, dan alhamdulillah sehat walafiat. Tama agaknya bayi yang sedikit terabaikan ketika di dalam perut namun justru memilih proses yang mudah. Terbaikan yang saya maksud ini adalah selama ia di perut, ibunya tak disiplin senam, tak teratur menata pola makan, minum kopi setiap hari, jarang tidur, tak terlalu diperhatikan seperti ketika hamil Satya, dan tentu saja lebih banyak memikirkan si sulung yang cukup menyita semua perhatian karena polahnya yang super aktif dan lagi lucu-lucunya. Hanya ada sedikit waktu tiap harinya untuk mengajak si bungsu ini ngobrol. Bahkan si bungsu ini termasuk lebih jarang dielus ayahnya ketimbang Satya ketika di perut. Sering ditinggal pergi pula. Mestinya saya punya potensi mengalami proses melahirkan yang lebih kacau dari bayangan. Namun kali ini saya mesti percaya bahwa bulan Romadhon memang membawa berkah tersendiri meski saya lagi-lagi tak bisa menjalankan puasa.

Saat itu di tanggal 19 Juni, di mana saya bahkan ragu apakah saya sudah merasakan kontraksi menuju kelahiran ataukah belum. Lebih cepat dari HPL adalah hal biasa dialami ibu hamil. Belum lagi nyeri yang terjadi tak terlalu kuat seperti pengalaman yang pertama. Ketika gelombang rahim itu datang, waktunya sungguh tak teratur, dengan jarak yang lambat ditambah ingatan tentang melahirkan yang pertama yang durasinya sangat lama, selama 2 hari, membuat saya masih menunggu dengan santai. Ah, barangkali yang ini lama juga, begitu pikir saya. Siang itu bahkan saya masih sempat mencuci baju, tidur, dan main dengan Satya. Maka setiap gelombang datang, saya hanya mengajak negosiasi Tama dengan perasaan sedikit pasrah, “Kapan pun kamu lahir, Nak, Bunda siap, tapi kalau bisa nunggu ayahmu pulang ya.” 😀

Sesuai pinsip kelahiran alami yang pernah saya baca di berbagai referensi, janin juga bisa merespons apa yang seorang ibu katakan atau rasakan. Dan benar saja, kontraksi baru mulai intens 5 menit sekali menjelang jam pulang kerja ayahnya. Jam 4 sore ketika ayahnya pulang ia baru membereskan berkas-berkas yang mesti dibawa ke puskesmas. Jam 4 lebih kami berangkat ke rumah bersalin, di Puskesmas Jetis. Saya masih ingat sopir Go Car yang menyetir merasa sedikit gugup dan akhirnya ngebut menerobos keramaian yang biasa terjadi di jam pulang kantor dan menjelang buka puasa. Padahal kami sudah meminta pelan saja. Saya jadi merasa sedang di film Fast and Furious.

Kami sampai di sana jam 5 lebih, setiap kontraksi datang saya hanya bisa berdzikir dan mengatur napas tapi memang sudah tak bisa merespons secara normal ketika diajak bicara. Ibu yang sudah mendekati detik-detik melahirkan mengalami hal yang sama. Meski demikian, bersama dua bidan di ruang bersalin terlihat sangat santai dan menikmati pekerjaannya, saya merasa semakin tenang. Ditambah suasana di sana yang sangat sepi hari itu. Mereka bahkan sempat mengajak bercanda sebelum membantu dengan aba-aba. Singkat kata, Tama lahir dengan cepat beberapa detik menjelang buka puasa. Bahkan mendapatkan hak IMD dan langsung rawat gabung.

Alhamdulilllah, Mahabesar Allah, yang telah memberikan begitu banyak keberkahan pada kami, di tanggal 19 Juni lalu, bertepatan dengan ulang tahun ibu saya. Betapa simpelnya melahirkan kedua kali ini. Yang “ribet” hanya proses jahit menjahitnya setelah itu. 😀

 

Kekhawatiran

Ketika tiba waktunya menghadapi persalinan nanti, yang paling saya khawatirkan mungkin hanya Satya. Belum pernah saya meninggalkannya berjam-jam apalagi lebih dari sehari. Terlebih anak di bawah usia 2 tahun masih butuh perhatian ekstra dari orangtuanya, terutama ibunya. Meskipun telah berhenti menyusu dan jarang kelayu, Satya tetap membutuhkan perawatan dan asupan makanan yang bergizi yang dibuat di rumah yang memenuhi standar kesehatan. Selain itu, ia juga tetap masih membutuhkan pengawasan, pendamping dalam setiap tumbuh kembangnya, yang selama ini tentu lebih banyak didapat dari ibunya.

Memang terkadang Satya dititipkan orang rumah seperti ibu saya, ketika harus bepergian atau menyelesaikan pekerjaan penting. Tapi ibu juga satu-satunya orang yang mengurus rumah tangganya sendiri tanpa bantuan siapa pun. Setiap hari selalu sibuk. Saya tak tega menitipkan Satya berjam-jam kecuali hanya ketika urgent atau sedang susah makan, karena biasanya ibu saya akan menyuapinya sambil menggendongnya.

Saya baru menyadari bahwa mungkin ini salah satu kelemahan bila anak lebih banyak diasuh sendirian, karena ketika saya harus pergi sedikit agak lama, saya juga sekaligus merasa khawatir. Lebih merasa bersalah lagi karena saya jarang share hal-hal kecil yang cukup penting terkait merawat Satya selama ini. Orang rumah bahkan belum tahu persis bahwa Satya hanya membutuhkan dua botol susu per hari dan lebih membutuhkan camilan buah ketimbang yang olahan. Mereka juga tak tahu takaran susunya atau bagaimana membersihkan botolnya. Terlebih hal-hal yang lain.

Tiba-tiba saja hari ini saya banyak menyadari betapa pentingnya waktu-waktu yang telah saya lalui bersama Satya. Seperti baru kemarin Satya lahir dan kami membawanya pulang dengan kebahagiaan yang mendalam. Tiba-tiba saja saya juga menyadari betapa seringnya saya teledor dan tak cukup pandai merawatnya selama ini. Namun Satya telah menjadi bagian terpenting dalam hidup kami di mana hampir segala harapan dan semangat hidup tertuju kepadanya. Barangkali perasaan semacam itu yang orang tua saya rasakan dulu ketika baru memiliki saya.

Betapa sejak kehadiran Satya, kami kedua orangtuanya, menjadi sosok yang baru, dan juga mempelajari banyak hal baru. Menjadi orang tua memang semacam tugas yang tak ada habisnya.

Setidaknya, ketika gelombang rahim datang nanti dan saya mesti meninggalkan rumah, Satya mungkin lebih baik dititipkan pada kakek neneknya (orang tua saya) ketimbang yang lain karena selain orang tuanya, tentu kakek nenek akan memberikan perhatian dan kasih sayang yang lebih baik. Tidakkah mereka juga orang tua yang pernah membesarkan kita? Tak lupa pula saya mesti mempersiapkan segalanya semampunya supaya tak terlalu merepotkan siapa pun. Berharap Satya akan selalu baik-baik saja. Dan berharap pula nanti prosesnya hanya sebentar karena di samping semua kekhawatiran itu, saya pasti akan sangat merindukan Satya.

Ramadhan hari ke-24

(2 hari menuju HPL)

Perkiraan

Di dunia ini, apalagi yang dibuat manusia, apakah ada yang benar-benar pasti?

Suatu hari Satya (yang waktu itu belum satu tahun) ditimbang di posyandu kampung saya, bobot di timbangan menunjukkan angka 7 kg. Lalu sehari kemudian eyangnya (orangtua suamiku) menjemputnya untuk main di sana seharian, kebetulan di sana juga iseng ikut posyandu, bobotnya 7.3 kg. Ibu mertua bilang, timbangan di sana paling akurat. Belum sampai seminggu Satya harus imunisasi di puskesmas. Sebelum disuntik ia tentu harus ditimbang dulu. Bobotnya 7.1 kg. Saya pun bingung yang mana yang harus saya percaya. Apakah hanya dengan hitungan hari berat badan bayi bisa naik turun? Atau timbangannya yang memang tidak “kompak”. Baiklah, mungkin berat badan bukan hal besar. Paling-paling cuma sedikit mengacaukan catatan grafik si kecil di buku kesehatannya. Selama si anak selalu sehat, ceria, dan perkembangan bagus, bobot bukan hal besar.

Tapi belum lama kadar hemoglobin saya juga dites dengan alat kesehatan dari bidan praktik, menunjukkan angka 10.8 sehingga dinyatakan anemia. Tapi tak lama kemudian dites hb di puskesmas masih menunjukkan angka 11 dan terbilang normal. Padahal dua angka itu menentukan apakah saya bisa melahirkan normal atau dengan tindakan dan bisa saja butuh transfusi. Tidak hanya itu, tensi saya menurut tensimeter di puskesmas dengan tempat bersalin juga berbeda. Pengalaman-pengalaman kecil semacam itu membuat saya jadi berpikir bahwa bahkan peralatan medis bisa membingungkan karena banyak versi. Rupanya bisa juga hal-hal yang sepertinya akurat menjadi tidak pasti. Apalagi bila berbicara tentang HPL (hari perkiraan lahir).

Namanya juga perkiraan, maka tak bisa dijadikan patokan. Barangkali rata-rata ibu yang pernah melahirkan akan setuju bahwa HPL hanya sebagai penanda. Setidaknya, yang saya tahu, ada 2 macam cara menghitung umur kehamilan dan menentukan kapan bayi lahir. Dengan perhitungan manual tanggal terakhir haid yang biasanya dilakukan para bidan dengan rumus, atau melihat hasil USG. Meski demikian, HPL cukup berpotensi membikin cemas. Pasalnya, karena perbedaan pendapat bidan dan para doktet itulah, ibu hamil bisa mengalami kekhawatiran yang malah mempengaruhi kesehatannya dan janin. Mungkin bidan satu akan mengatakan itu normal bila belum 42 minggu, bidan yang lain bisa tidak percaya diri dan menolak menolong persalinan. Dokter satu bisa saja beropini lain sehingga merasa bahwa mengakhiri kehamilan segera dengan operasi meski belum datang kontraksi adalah cara terbaik. Dokter lain bisa saja bersikap lebih santai selama kondisi ibu dan janin baik-baik saja.

Saya pun memilih untuk tak banyak memikirkannya. Mungkin Satya dulu lahir lebih cepat dari HPL. Entah yang kedua bagaimana. Konon anak kedua memiliki pola sama dengan yang pertama. Sayangnya, HPL keduanya ditentukan oleh dokter yang berbeda. Mungkin saja Satya berdasarkan USG dan adiknya berdasarkan hitung manual. Saya sendiri lupa. Belum lama ketika saya USG diantar sahabat saya Fitri di klinik tujuan bersalin, dokter yang jaga punya opini lain, mundur hingga seminggu lebih dari yang selama ini saya tahu. Padahal menggunakan USG.

Baiklah, saya pun memutuskan untuk menghabiskan hari-hari sekitar HPL dengan sibuk mengurus Satya, beberes, membaca buku dan artikel, juga tetap mengerjakan pekejaan freelance di rumah. Bila dulu di kehamilan pertama saya sempat stress akut dan jengkel karena belum HPL banyak orang menanyakan kapan lahir, kok belum lahir, si itu aja udah lahiran, dan sebagainya.  Sekarang mungkin saya lebih cuek dan santai. Orang-orang di sekitar saya dan keluarga besar bahkan tidak tahu persis HPL saya tanggal berapa. Sebagai perempuan yang belum lama jadi ibu, saya mengerti terkadang bersikap cuek dalam beberapa hal sangat dibutuhkan dalam menjalani hidup. Semua itu tentu saja, supaya tetap waras. Toh HPL itu manusia yang membuat. Yang paling tahu kapan bayi akan lahir cuma Allah kan. 😉

Lagipula kehamilan kali ini sepertinya si dedek mengajak ibunya prihatin dan mandiri. Habisnya apa-apa saya mesti bisa sendiri. Termasuk survive ketika menghadapi mood swing atau tiba-tiba merasa kesepian dan insomnia seperti bulan-bulan belakangan ini.

Namun, dalam diam, saya tetap berharap semoga Allah memberikan kemudahan dan kelancaran di persalinan nanti, kapan pun itu.

Ramadhan hari ke-21

(5 hari menuju HPL)

Menyapih

Semula dalam bayangan saya, menyapih si kecil bakal jadi drama yang penuh tangis-tangisan. Saya pun masih ingat bagaimana Ibu menyapih adik bungsu saya dengan susah payah waktu itu. Tiap malam Bapak yang harus menggantikan Ibu menggendongnya sambil memberinya susu dalam dot menjelang tidur karena adik saya terus menangis minta jatah ASI-nya. Belum lagi saya juga sering mendengar cerita menyapih yang terdengar tidak mudah dilalui. Kalau Satya juga bakal gitu gimana ya?

Rupanya sejak awal usia 16 bulan, bayangan menyapih penuh drama itu pudar. Bagaimana tidak, sejak usianya 16 bulan lalu, Satya mulai jarang minta ASI. Sayalah yang justru sering menawarinya. Memang sih sejak usia 13 bulan, Satya sudah diperkenalkan susu tambahan. Tapi tetap harus minum ASI. Sebenarnya saya nggak terlalu percaya dengan susu formula sekadar hanya minuman selingan, karena selain ASI, makanan bayi terbaik tetap berasal dari bahan alami dan buatan sendiri. Bila makanan berkualitas sudah terpenuhi dalam sehari, maka susu formula tak terlalu dibutuhkan.

Ingatan saya melompat ke 21 bulan yang lalu. Di hari-hari setelah ia lahir ke dunia. Tentu saja bayi baru lahir hanya membutuhkan ASI untuk bertahan hidup. ASI adalah makanan terbaik. Sekalipun menyusui adalah proses alami, tapi kalau tak diusahakan juga tak bisa. Perjuangan memberi ASI saat itu tidak mudah, belum lagi harus menghadapi baby blues. Pasalnya, hari-hari awal pasca melahirkan, ASI biasanya tak langsung keluar. Di samping itu, wacana ASI eksklusif belum banyak diketahui. Belum juga diterima oleh sebagian orang. Bahkan termasuk para dokter dan perawatnya ada pula yang lebih pro formula. Namun, alhamdulillah, pada akhirnya Satya hanya mendapatkan ASI di 6 bulan awal kehidupannya sesuai haknya sebagai bayi. Dan berlanjut pada bulan-bulan berikutnya dengan mulai mengonsumsi MPASI. Semua itu juga tak lepas dari dukungan suami dan keluarga. Meskipun meyakinkan mereka supaya pro ASI pada awalnya juga membutuhkan proses.

Memberikan ASI tidak hanya semacam insting sebagai wujud cinta kasih ibu kepada bayinya, tapi juga termasuk perintah Allah yang juga termuat di Alquran.

“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan” (Al-Baqarah [2]: 233)

Karena itu, proses 2 tahun menyusui bagi ibu sama halnya memberikan kehidupan yang terbaik untuk buah hati. Tak hanya berkaitan dengan nutrisi dan kekebalan tubuh terhadap penyakit, tapi ASI juga terkait psikologi dan masih banyak lagi.

Namun penolakannya terhadap ASI belakangan ini membuat saya menyadari Satya jenis anak yang sudah mandiri. Ia juga cukup mandiri dalam beberapa hal seperti misalnya makan (meski masih sering juga disuapi ibu saya), tidur (tidak lagi digendong sejak usia 15 bulan), tidak mencari ibunya meski harus ditinggal karena urusan urgen, dan juga suka beberes seperti orang-orang dewasa di sekitarnya (meskipun suka juga bikin berantakan lagi 😂). Alhamdilillah ia juga telah mampu memahami instruksi dan meresponsnya dengan positif, menyampaikan permintaan, mengerti batasan (karena terkadang saya melarang beberapa hal yang memang cukup berbahaya), dan mudah mempelajari sesuatu yang dilihat dan didengarnya. Artinya, tidak ada masalah dalam tumbuh kembangnya. Sedikit banyak ia telah bisa diajak ngobrol. Saya bahagia tapi juga sedih karena semingguan ini ia benar-benar menyapih dirinya sendiri. Kalau ditawari, ia pasti cuma menjawab “Ndak… unda atit, gigit atya… katian…”. “Nggak… Bunda sakit, kegigit Satya… kasihan.” Mungkin karena pernah melihat tampang bundanya sering mengeryit setiap ia tak sengaja menggigit, atau entah apa ya…

Sebetulnya sejak saya dinyatakan hamil lagi, hampir setiap orang menganjurkan untuk menyapihnya. Tapi saya memilih tetap melanjutkannya, setidaknya sampai Satya sendiri yang ingin berhenti. Terutama karena setelahnya saya telah bertanya pada beberapa bidan, dokter, dan referensi lainnya sehingga lebih yakin untuk tetap menyusuinya. Alhamdulillah, Satya nyaris juga nggak pernah rewel.

Sejujurnya saya belum siap menyapih. Satya baru 21 bulan. Mestinya masih 3 atau beberapa bulan lagi ia disapih. Setiap melihatnya mandiri dan tidak banyak menuntut sebetulnya saya jadi agak baper. Barangkali alam semestalah sudah mengkondisikannya karena sebentar lagi akan menjadi kakak. Maka, terlihat pula dalam dirinya karakter seorang kakak yang mengalah dan pengertian. Mudah-mudahan nanti nggak ada drama cemburu-cemburuan ya kalo dedek bayi lahir :D. Sebab saya akan selalu menyayangi mereka sepenuhnya dan berusaha memberikan perhatian yang adil tanpa ada yang terkurangi.



Ramadhan hari ke-14

(13 hari menuju HPL)

Komunikasi

Menjadi ibu rumah tangga itu bisa dikatakan antara seneng dan nggaknya. Dikit sih nggaknya. Senengnya karena kita jadi terlibat langsung dalam proses tumbuh kembang anak. Syukur alhamdulillah karena Allah mempercayakan diri saya dengan amanah menjadi ibu untuk Satya dan calon adiknya sementara saya tetap terus belajar untuk tetus memperbaiki diri. Bukankah kunci keberhasilan anak terletak pada ibunya? Memang seorang ayah juga memegang peran penting dalam membentuk karakter anak, tapi yang 24 jam nonstop menemani anak-anak lebih memiliki pengaruh dalam keberhasilan mereka di masa depan bukan. Tidak hanya bagi anak, seorang istri juga pendukung utama keberhasilan suami.

Nggak senangnya karena dengan begitu seorang ibu rawan kesepian. Mungkin berhenti ngantor dan menunda cita-cita bukan hal yang sulit dilakukan kalau itu demi merawat buah hati lebih dulu dan mengutamakan kepentingan keluarga. Tapi tidak bisa dipungkiri, perempuan bukan makhluk yang sempurna meski kelihatan selalu kuat. Terlebih bila tak memiliki teman bicara yang tepat.

Tidak berarti seorang ibu rumah tangga otomatis memiliki posisi penting dalam hal-hal besar dalam permasalahan rumah tangga. Terlebih bila antara istri dan suami, tidak ada komunikasi yang baik. Karena tidak ada komunikasi yang terjalin baik, “rapat tertinggi” tidak terjadi di antara pasangan lebih dulu. Dan karena itu, masalah sangat pribadi dalam rumah tangga dengan mudahnya diaduk-aduk pihak luar.

Kenapa komunikasi penting? Tentu saja penting, kecuali bila engkau betah menghabiskan seluruh hidupmu dengan orang yang lebih antusias berkomunikasi dengan gadget atau orang-orang yang telah dekat lebih lama dengannya sebelum menikahimu. Tanpa komunikasi yang baik, pihak yang rentan rawan merasa terabaikan. Padahal menjalin komunikasi efektif bisa dimulai dari hal kecil. Sekadar ditanya apa hasil periksa ke bidan hari ini pun wanita mana yang nggak senang.

Sering kali dalam keputusan besar yang ada gandengannya dengan keluarga kecil saya, justru saya yang tahu belakangan, atau tiba-tiba sudah “ditodong” sesuatu yang sebelumnya bahkan tak ada siapa pun yang bertanya tentang pendapat saya lebih dulu. Otomatis tidak ada opsi lain selain berkata “ya” meski dengan setengah hati. Barangkali komunikasi memang perihal sepele, tapi rentan membawa siapa pun ke dalam konflik bila menyepelekannya.

Iya saya juga bukan super women yang sempurna, melainkan butuh proses yang panjang. Berpindah kebiasaan dari perempuan karier menjadi ibu rumah tangga dengan tanggung jawab yang sangat berbeda memang bukan hal mudah. Meski hanya ibu rumah tangga, tentu saja saya masih butuh belajar dan terus mengembangkan diri. Juga selalu membutuhkan dukungan baik itu moral atau spiritual. Sering kali saya mudah tersulut dan tak bisa menahan emosi terhadap hal-hal yang tak sesuai pikiran dan hati. Lebih tepatnya lambat memahami kondisi yang terjadi. Meski sebetulnya kondisi demikian patut dimaklumi. Proses perkenalan kami yang sangat sebentar sebelum menikah, dilanjut kehidupan pernikahan yang cukup disibukkan berbagai kepentingan luar, membuat proses pencarian pola komunikasi terbaik pun terasa membutuhkan waktu yang lebih panjang.

Saya dan suami juga tengah menjalani proses demi proses untuk bisa memiliki pola komunikasi yang efektif demi menjalankan sebuah keluarga yang ternyata dibangunnya lebih rumit ketimbang membuat sebuah gedung. Mengingat meski pernikahan sudah berjalan 3 tahun, tapi kesalahpahaman karena pola komunikasi yang belum matang masih sering terjadi. Semoga saja itu masih tergolong wajar. Terkadang pula ketika muncul konflik, yang terjadi adalah masing-masing dari kami menyendiri, maksudnya supaya tidak berbenturan. Padahal kalau menurut saya, itu sama saja nyicil bikin bom waktu.

Saya tahu pria bukan semacam cenayang yang bisa menebak kode, perempuan juga bukan makhluk misterius sehingga terlalu sulitnya dimengerti. Keduanya hanya bisa dijembatani dengan pola komunikasi yang efektif. Keduanya hanya bisa dilalui bila masing-masing juga sadar bahwa berumah tangga sudah lebih berbeda bersikapnya ketimbang ketika masih single. Saya selalu berharap dan selalu berusaha agar proses komunikasi dan pembelajaran memperbaiki diri ini berjalan semestinya dan menemui titik terang. Sehingga siapa pun juga turut menghargai bahwa kami telah berada dalam institusi pernikahan, di mana pendapat dan keputusan terpenting berada di tangan suami istri tanpa boleh diganggu gugat terlebih dahulu, sebelum dibawa keluar untuk menemukan solusi yang sifatnya lebih umum.


Romadhon hari ke-11
(16 hari menuju HPL)

Surat Ketujuh

Dear Pos Cinta,

Surat kali ini aku hanya ingin berterima kasih kepadamu telah mengantar surat-suratku yang beberapa hari ini kebanyakan berisi hal-hal yang berlalu dan juga cerita-cerita kecil lainnya. Terima kasih Pos, karena itu aku dapat bercerita tentang apa saja. Setidaknya, kehadiranmu seminggu ini, membuatku terdorong untuk menulis surat dan merenungkan berbagai hal, meski tidak semua hal, karena toh seberapa banyak yang mampu seseorang tulis dalam seminggu. Pos, aku hanya berharap tahun depan ada lagi kesempatan untuk berkirim surat seperti ini. 

Sekian suratku. Semoga berkenan ya. 🙂

Surat Keenam

Dear Hujan,

Entah bagaiamana aku justru lebih sering membayangkan dapat berpergian ke berbagai belahan dunia akhir-akhir ini dan melanjutkan mimpi-mimpi terdahulu. Aku juga membayangkan, kelak ketika anakku sudah bisa diajak jalan-jalan dan diskusi, aku ingin mewujudkan salah satu mimpiku, jadi travel writer, tentu sambil mengajak anakku mengenal dunia lebih luas. Jangan tertawa ketika kau membaca ini, kawan. Memang aku tak pandai menulis sesuatu apalagi kisah perjalanan. Namanya juga impian, berharap dulu kan nggak ada salahnya.

Dulu, ketika masih sangat muda, aku berharap aku pernah sangat ingin tahu bagaimana rasanya pulang ke rumah ketika lebaran atau libur panjang. Bertahun sejak lahir, kau tahu sendiri kan, aku tak pernah ke mana pun. Lebih karena terlalu sayangnya orang tua kepadaku, aku tak pernah dilepasnya ke mana-mana. Pulang dari liburan ke luar kota tentu nggak sedramatis ketika harus mudik setelah berbulan tak bertemu Bapak Ibu dan keluarga. Kini, ketika aku telah memiliki keluarga sendiri, perasan ingin keluar kota sekadar hanya membayangkan bisa terwujud kalau sewaktu-waktu suamiku harus ditugaskan ke luar daerah dengan keluarga kecilnya ikut serta. Tapi itu mustahil untuk saat ini. Suamiku kan pria Jawa. Di Jawa anak lelaki harus terus di tempat kelahirannya, atau bersama orang tuanya. Di Jawa, kekeluargaan sangat erat. Saking eratnya kalau bisa sih satu kampung isinya keluarga semua.

Lagi-lagi bisa sesekali tinggal di luar kota hanya bayangan kecil bertahun yang lalu. Kini, aku telah banyak menyimak berbagai cerita teman dan kerabat, hidup di luar kota itu tak senyaman tinggal di kampung sendiri. Apalagi bila harus tinggal hingga bertahun lamanya. Aku membayangkan para TKW yang terdampar di negeri asing. Juga membayangkan para ayah yang harus berpisah dari keluarganya demi pekerjaan di luar kota. Aku juga mengingat salah satu temanku yang pernah jadi guru di Thailand, yang meski hanya setahun, ia toh tak ingin lagi melanjutkan pekerjaannya itu dan memilih tinggal di dekat orang tuanya karena ia anak perempuan. Padahal itu kan kesempatan keren. Tapi tinggal jauh dari rumah menurutku adalah perkara apakah kepercayaan diri dan kesiapan mentalmu cukup untuk itu.

Kawanku Hujan, tapi profesi semacam travel writer rasanya cukup menarik untuk diabaikan. Terlebih kesempatan itu sepertinya masih terbuka lebar. Kau tahu kenapa? Dulu suamiku pernah berjanji, ia ingin berhenti merokok. Kalau dalam dua tahun kami menikah ia belum berhasil berhenti merokok, saya kelak boleh meraih impian yang satu itu. Menarik sekali bukan. Itung-itung sambil mengajak si kecil melihat dunia lebih luas di akhir pekan, supaya tak penat seminggu terkungkung di kesibukan sekolah mislanya. Mudah-mudahan bila hari itu rupanya tiba, phobiaku pada pesawat juga sudah sembuh.

Sekian suratku, Hujan. Berharap pula kau segera bisa jalan-jalan juga ke negeri impian di belahan dunia lain. Tidakkah kau juga merasa ingin berpergian?

Surat Kelima

Dear Hujan,

Februari rupanya berjalan cepat. Terbesit di benakku, aku ingin merasa bulan ini cepat berlalu. Sudah tanggal berapa ini? Aku bahkan tak ingat tanggal dan terkadang lupa hari.
Sudah lama aku tidak membaca sesuatu, jangan pernah tanya lagi buku apa yang sedang aku baca hari ini, Hujan. Aku pasti lebih sering menjawabnya tak ada. Mungkin saja aku baru tahu rasanya berjarak dengan hal-hal yang telah melekat sejak kecil: membuat hidupmu tampak kosong. Tentunya kosong yang tidak berarti tak ada apa pun di sana. Menjalani peranku kini tetaplah menarik. Tapi membiarkan diri sendiri beku karena tak pernah lagi baca buku di sela kesibukan itu soal lain. Buku sering kali berhasil mengalihkanku dari pikiran negatif. Setiap si kecil tidur, pikiranku yang sering berputar-putar malah terbangun. Entah apa yang tengah kuresahkan. Tanpa buku atau bacaan yang sedari dulu jadi teman karibku, hidupku seperti hanya berputar-putar di dunia yang sempit.

Sekian surat singkatku hari ini.

Surat Keempat

Teman, apa kabarmu hari ini? Masih ingatkah pertama kali engkau jatuh cinta dan patah hati?

Masih melekat dalam ingatan masa kecilku, ketika masih tinggal di Gamping, aku pernah jatuh cinta pada seekor bayi burung gereja yang jatuh dari pohon. Kutemukan ia sewaktu pulang sekolah. Burung itu masih bersembunyi aman di dalam sangkar dan masih hidup. Karena sangat lucu, aku membawanya pulang. Aku membayangkan aku bisa membesarkannya hingga ia bisa terbang sendiri kelak.

Sejak itu, aku merasa orbitku hanya pada si burung yang sebatang kara itu. Sebelumnya, tiap pulang sekolah, akan merengek minta dibelikan layang-layang dan bermain di luar, juga dibelikan kapur tulis warna-warni untuk mencorat-coret tembok rumah seperti yang biasa kulakukan, atau bergabung dengan teman-teman yang sedang pasaran.

Tapi segalanya berubah ketika bayi gereja itu jadi anggota keluarga. Melihat matanya yang polos, bulu-bulunya yang jarang, dan tubuhnya yang kurus, membuatku merelakan waktu-waktu bermainku itu untuk menemaninya.

Sangkar mungil dengan bayi burung di dalamnya itu kusimpan dalam salah satu laci meja belajar dengan sedikit agak terbuka supaya tetap ada udara masuk. Si bayi selalu bercericit ketika lapar. Dan tidur setelah kenyang. Begitulah aku jadi menyadari bahwa makhluk hidup selalu butuh makan dan tidur. Tak lupa tubuhnya kuberi selimut hangat dari kain bekas supaya tetap hangat. Ah, kasihan, entah di mana induknya.

Burung gereja mengajariku tentang kehidupan kecil. Aku membayangkan di mana sebetulnya burung-burung liar tinggal dan berkumpul dengan keluarganya. Perlahan ia menjadi teman bicaraku. Tapi kala itu aku masih kecil. Aku tak tahu bagaimana cara terbaik merawatnya kecuali hanya memberinya makan dengan ujung batang lidi dan pelan-palan memberinya nasi sebutir demi sebutir, lalu mengajaknya ngobrol.

Aku memang tak beruntung. Bayi gereja itu mati seminggu setelah bertahan hidup di laci meja belajarku. Aku terkejut menemukannya tak bergerak ketika pulang sekolah. Tubuhnya dingin dan matanya terpejam. Itulah kali pertama aku merasa patah hati. Kusentuh badannya dan kugoncang sedikit. Tidak ada kehidupan yang menyapa. Rupanya yang telah tiada takkan bisa kembali. Dan aku mulai menerima kepergiannya berhari-hari setelah si bayi burung dikuburkan di halaman rumah. Setelah itu, aku kembali bermain dengan ayam-ayam peliharaan ayahku.

Kelak ketika dewasa (yang baru pertama kualami belum lama ini), perasaan patah hati tak ada apa-apanya dibanding ketika gigimu sakit. Ketika patah hati, kamu masih tetap bisa tertawa, nonton film, makan keripik, karaoke bersama teman, jalan-jalan, dan tidur dengan nyenyak. Semua itu takkan bisa kau lakukan bila gigimu yang tengah sakit.

Apakah yang pertama kali membuatmu patah hati, Teman?

 

 

Surat Ketiga

Teman, sepertinya, dengan “pulang”, aku bisa mengingat.
Biarlah surat-suratku berisi tentang ingatan-ingatan kecil

Hari-hari setelah kepindahan bukan hal menyenangkan untuk dilalui, dalam ingatan masa kecilku. Memang, ketika masih di desa, aku senang tiap kali menginap di tempat nenek di kota. Berbeda rasanya jika bakal menetap. Anak kecil barangkali memang punya perasaan yang membingungkan dan mudah berubah bukan.

Betapa lucunya masa-masa SD dulu, Teman.

Ayahku memilihkan sekolah islam yang tak terlalu jauh dari rumah setelah kami indah ke kota. Saat itu, aku masih kelas tiga. Banyak hal baru yang kutemukan. Anak-anak kelas 3 yang baik lelaki atau perempuannya urakan. Ada beberapa dari mereka yang suka memakai rok mini, mengirim surat pada lelaki, dan lebih banyak membicarakan mereka ketimbang mata pelajaran atau bermain layaknya anak-anak. Kelak mereka rupanya tak melanjutkan sekolah karena harus menikah karena hamil di luar pernikahan. Itu aneh sekali di benakku, anak-anak sudah punya anak. Anak lelaki ada yang suka memalak teman lain, berkelahi, memiliki keusilan yang tak pernah kusangka: suka menyibak rok teman-teman perempuannya. Dengan yang begini aku milih menjauh atau memasang tampang kasar. Ada pula kakak angkatan yang konon suka mengerayang tubuh anak perempuan. Maka sampai mereka belum lulus dari sana, aku memilih menghabiskan jam istirahat di depan kantor guru yang selalu terbuka, atau di perpustakaan yang ruangnya paling sepi karena hampir jadi satu dengan kantor kepala sekolah. Meski ibuku bukan wanita masa kini yang berpendidikan tinggi dan suka baca buku psikologi, tapi sejak kecil aku sudah diajarinya menjaga diri. Kata Ibu, jadi anak perempuan nggak mudah. Harus bisa menjaga dirinya sebaik mungkin dan harus berani berteriak minta tolong atau melawan bila dibutuhkan.

Teman-temanku sedikit yang baik. Karena muridnya juga memang sedikit. Di kota, baru kali pertama aku melihat ada teman mem-bully teman lain. Aku dibully karena nilai ulanganku selalu lebih baik dan disenangi guru-guru. Tak seharusnya murid baru mendapat perhatian dari guru. Aku baru pertama melihat ada orang tua dan murid memprotes gurunya seolah mereka terdakwa, padahal guru-guru kami baik. Sebab seharusnya anak mereka yang juara, bukan murid yang masih baru. Saat itu, habis pembagian rapor, dan aku mendapat rangking satu. Di sekolah sebelumnya aku juga begitu. Aku mendapat rangking itu hingga lulus. Kupikir itu sangat lucu. Tapi saat aku kecil, aku tidak merasa itu lucu. Terlebih di SMP dan sekolah selanjutnya, toh perihal rangking tergantung seperti apa sainganmu di sekolah, semakin rajin teman-temanmu melebihimu, jangan harap kamu bisa mengalahkannya. Semakin tinggi jenjangmu, semakin besar pula tantangannya. Syukurlah sekarang rangking tidak berlaku di sekolah-sekolah. Aku hanya sedih saat itu, banyak teman memusuhiku meski aku paling pendiam di antara mereka dan tak pernah mengganggu. Ada pula yang sempat berteriak padaku supaya aku kembali saja ke sekolah dasar yang dulu.

Kota menurutku begitu tak menenteramkan. Beberapa lama sejak kami pindah, aku mulai melihat Ibu sering berbicara sedikit dengan nada tinggi seperti orang yang tengah dipaksa keadaan. Ayahku tak lagi membuatkan kami mainan dari bahan sekitar. Beliau juga semakin jarang di rumah karena barangkali tuntutan pekerjaan lebih banyak. Aku juga sering mendengar ribut-ribut kecil yang meski aku tak paham, tapi membuat tak lega. Ketegangan rumah saat itu terasa lebih sering sejak adik keduaku lahir. Andai waktu itu aku sudah besar dan tahu soal baby blues, mungkin aku bisa meringankan beban ibuku.

Di kota segalanya memang sedikit tidak santai, Kawan. Suatu hari aku ikut TPA di masjid dekat rumah dan diajari iqra seorang pengurus masjid yang masih muda. Tapi sesungguhnya aku juga ikut rutin TPA lebih resmi di tempat lain karena menurut ibuku, di sana aku kelak bisa wisuda ketika katam Alquran. Ibuku sangat ingin melihat anak-anaknya wisuda. Di masjidku kan baru ada TPA kalau guru-gurunya tidak libur. Guruku yang masih muda itu sempat membetulkan bacaanku sambil menanyaiku siapa saja guruku di TPA resmiku itu. Kemudian ia mulai menjelek-jelekkan mereka, mengatakan alirannya salah. Di masa remaja aku melihat ada perbedaan di dalam masyarakat hanya karena yang satu mengadakan tahlilan, yang satunya tidak. Aneh bukan, sekecil itu, aku sudah menyimak orang-orang saling menjelekkan orang lain meski seagama. Kelak, aku menyadari di negeriku, itu akan jadi hal biasa.

Begitulah, Teman, sekelumit masa kecilku yang lucu. Yang kebetulan saja kuingat karena sedang sedikit merasa sepi.
#PosCintaTribu7e

Surat Kedua

tentang masa-masa kecil indah yang berlalu begitu saja, seperti baru kemarin ditinggalkan

Di manakah kau merasa pulang, Teman?

Seperti halnya engkau, terkadang aku merasa pulang ke masa lalu. Yang kumaksud adalah masa kecilku. Ketika aku masih bayi, aku dan kedua orang tuaku tinggal di sebah desa kecil di sebelah barat Yogyakarta. Namanya Gamping. Dinamkan Gamping mungkin karena sebagian besar tanahnya ditemukan unsur kapur, dan masyarakatnya menggali gamping/batu kapur sebagai mata pecaharian. Orang-orang juga masih mengadakan Upacara Bekakak untuk memberikan sesaji pada pegunungan gamping. Aku mengingat masa kecilku yang indah di sana. Begitu sering aku mencari bunga-bunga liar yang indah, menangkap kupu-kupu dan menerbangkannya lagi, juga mengikuti arah capung-capung terbang. Aku begitu ingat betapa hangatnya musim hujan dan musim-musim lainnya. Aku sering diajak ibu ke pasar yang letaknya tak jauh dari rumah. Aku juga sering diajak ayahku keliling desa dibonceng sepeda, main ke rumah temannya yang punya peternakan sapi, dan duduk-duduk di taman depan gereja yang begitu tinggi letaknya. Entah kenapa gereja di sana dibuat begitu tinggi dan mushala sejajar dengan tanah. Aku juga tak tahu.

Kami tinggal di sebuah kontrakan, yang ayahku dapat dengan harga murah ketika pada suatu malam beliau iseng mencarinya di sana. Orang tuaku merasa beruntung. Rumah itu luas tapi harga sewanya murah, lantaran menurut isu yang berbedar, rumah itu berhantu sejak penghuni sebelumnya meninggal bunuh diri. Tapi selama kami di situ, segalanya baik-baik saja. Beberapa tetangga yang usil memang menambahkan berbagai cerita. Namun ibu dan ayahku tak pernah gentar. Bagimana pun hidup kami damai, itu sudah lebih dari cukup. Rumah itu bergaya jawa kuno dengan beberapa pilar di dalamnya. Bahkan aku ingat bisa bermain sepeda di dalam rumah. Ada dua kamar mandi dan sumur yang dipisahkan oleh dapur yang juga sangat luas. Bangunan itu juga punya halaman lebar namun berjauhan dengan para tetangga. Banyak pohon besar di depan halaman. Seperti pohon melinjo, jambu biji, jambu klutuk. Bapak melihara ayam di samping rumah, dan tanaman hias di depan rumah.

Sampai pada suatu hari, ketika aku duduk di kelas 3 dan adikku masih TK, kami harus pindah. Mbah kakung kami memintanya. Di Jawa, anak lelaki memang harus terus bersama orang tuanya meskipun sudah menikah dan memiliki banyak anak, sedangkan anak perempuan boleh dibawa pergi pasangannya. Dalam benak anak kecil, perkara pindah rumah memang tidak mudah diterima. Aku masih ingin tinggal di sana, mungkin selamanya. Bukankah rumahku di desa kecil itu? Di rumah tua itu? Kata ibu, itu bukan rumah kami. Hanya sementara. Saat itu logika anak-anakku tak bisa menangkapnya. Hal yang kuingat, salah satu sahabat masa kecilku menangis sore itu, beberapa saat sebelum kami pergi bersama truk berisi barang-barang. Aku ingat sempat bilang padanya, aku akan kembali, mengunjunginya. Aku hanya sempat mengunjunginya 2 kali, setelah itu tak pernah lagi ayahku mengajakku ke sana karena terlalu sibuk di kota, atau mungkin sesi berpamitan pada warga telah selesai. Terakhir aku menemukan sahabatku itu ketika masih punya FB.

Tentu saja, kehidupan di kota tidak sama seperti di desa. Menurutku cukup aneh dan sedikit jahat. Beberapa lama kami di kota, aku melihat wajah riang dan lembut ibuku mulai surut, diganti raut tegang dan sering berbicara dengan nada tinggi. Padahal sebelumnya Ibu tak pernah marah. Tapi ibuku tetap memiliki hati yang dulu meski kini sedikit agak keras. Kuingat ayahku juga semakin jarang di rumah karena pekerjaan di kota lebih padat, persis seperti bentuk kampung-kampungnya yang padat dan ramai. Beliau juga tak pernah lagi membuatkan kami mainan dari bahan-bahan sekitar. Lebih banyak membelikan. Tapi memang begitulah kota. Orang-orang seperti tertuntut untuk bekerja siang malam, demi memenuhi kebutuhan hidup yang juga semakin banyak. Sedangkan waktu di rumah semakin sempit. Kelak setelah masa remaja tiba, aku mulai mempelajari banyak hal tentang perbedaan kota dan desa. Bagaimanapun kehidupan di kota juga harus banyak disyukuri. Kami belajar banyak tentang waktu. Orang-orang kota bukankah sangat menghargai waktu seolah itu hal langka yang bisa hilang sewaktu-waktu? Setidaknya, di kota, lebih mudah menemukan tempat belajar dan buku-buku. Setidaknya, di sini aku dapat mempelajari sifat manusia yang begitu beragam. Biarlah memang terkadang aku tak bisa move on begitu saja dari kehidupan desa.

Dan kau tahu, Teman. Gamping seolah mengingatkanku untuk pulang ke masa itu. Untuk ke rumah sakit di mana ayahku masih di rawat baru-baru ini, kami harus melintasi tempat itu. Jalan di dekat rumah masa kecilku tak sesepi dulu. Banyak pertokoan dan bangunan baru. Satu-satunya swalayan kecil di sana telah jadi rumah makan. Ruko kecil di mana salah satu temanku tinggal berubah jadi kantor agen pengiriman barang. Rumah temanku yang lain, yang ayahnya memiliki truk besar, tak lagi kelihatan dari jalan. Sebetulnya aku ingin tahu, mereka teman-teman masa kecilku, bagaimana kabarnya kini… Meski bentuk desa kecil itu tak sama dari yang dulu, aku tetap merasa sangat akrab. Tidakkah ini aneh. Ayahku dirawat di Gamping. Dan setiap aku ingin melihat ayahku, aku selalu merasa pulang.

Di manakah engkau merasa pulang, Teman? Apakah cukup di hati seseorang?

#PosCintaTribu7e

Surat Pertama

Dear Hujan,

Kata orang bulan Februari adalah bulan kasih sayang. Mungkin karena di dalamnya ada satu tanggal yang biasa orang-orang merayakannya sebagai hari kasih sayang. Tapi sesungguhnya kasih sayang tak memerlukan perayaan bila setiap hari orang menjadikannya ada dan terus membuatnya berdenyut. Bukankah begitu?

Aku jadi ingat zaman SMP dan SMA dulu, bulan Februari akan menjadi hari resah sekaligus bergairah bagi sebagian besar teman-temanku. Kemeriahannya sungguh melebihi bulan Romadhon. Mereka bakal memiliki hajatan penting. Ramai-ramai mereka akan sibuk menyiapkan kado atau kartu ucapan. Entah itu untuk pacar, idola, atau sahabat. Tanggal 14 seolah hari pembuktian seberapa penting diri mereka di hadapan pacar, gebetan, atau sahabat. Sebagian yang lain tak peduli. Termasuk diriku.

Padahal kasih sayang semestinya tidak dipersempit dengan sekadar berkirim bunga, cokelat, atau ucapan romantis. Tidakkah kehidupan telah mencatat begitu banyak bentuk kasih? Tidakkah seorang ibu yang menjaga anak-anaknya sepanjang hari tidak disebut pula sebagai bentuk kasih sayang? Atau apakah seorang ayah yang berangkat sangat pagi dan pulang larut malam demi membelikan si kecil sepeda, bukan bentuk kasih sayang?

Kasih sayang terdengar terlalu univesal untuk disingkat ke dalam satu hari perayaan. Setiap perayaan toh selalu bermakna kasih sayang. Menurutku lebih tepat barangkali disebut bulan berkah bagi pemilik toko bunga dan cokelat. Mereka akan kebanjiran pesanan. Tak ketinggalan pula mereka yang mungkin tengah riang di bulan ini: para pemilik restoran, bioskop, kafe, souvenir, penjual boneka, penjual pulsa, dan banyak lagi. 

Baiklah lebih tepatnya lagi mungkin bisa disebut hari pacaran bagi remaja atau mereka yang masih berjiwa belia. Pasalnya tatkala kau sudah dewasa dan banyak tanggung jawab yang perlu diselesaikan, kau tak akan sempat berpikir tentang hari itu. Engkau mungkin akan meragukan arti kasih sayang yang sering kau dengar tatkala kekasihmu tak kunjung melamar. Barangkali kau lebih berdebar dengan karier yang tak sadar telah jauh melesat sekaligus membuat jam terbangmu lebih tinggi di negeri perantauan hingga lebaran atau natal jadi hari paling dirindukan. Atau kau mungkin hanya peduli tentang kebutuhan hidup sehari-hari keluargamu, atau sudah sibuk dengan urusan sekolah anak-anakmu. Barangkali ada pula yang baru saja memiliki bayi hingga memiliki kebahagiaan dan kesibukan baru yang sulit dijelaskan. Di ibukota, aku kok malah yakin orang-orang lebih memikirkan pilgub ketimbang valentine di Februari tahun ini.

Februari tidak selalu berati bulan pink bagiku. Terlebih karena ayahku, superhero keluarga kami, yang nggak pernah kami sangka bakal sakit, tiba-tiba mesti opname. Entah bagaimana ayahku yang pekerja keras dan humoris itu, tatkaka jatuh sakit, rumah bagai didatangi mendung. Maka awal bulan ini adalah tentang hari-hari sendu penuh doa. Sendu karena pikiran dan hatiku seperti terbelah antara rumah dan rumah sakit, dan tak bisa kuceritakan bagaimana itu, pada siapa pun. Bila kau anak perempuan, kau akan tahu apa itu artinya seorang ayah dalam hidupmu. Kuharap mendung ini akan segera bertemu cahayanya… (lekas sembuh ya, Pak, Satya pun kangen diajak ngasih makan ikan di kolam pagi-pagi)

Tapi omong-omong ini memang bulan Februari. Bulan ini si kecil juga dijadwalkan imunisasi. Bulan ini pula suamiku berulang tahun yang ke-31. Dan aku juga tengah mencoba ikut program pos cinta untuk membuat 7 hari menulis surat. Seperti yang sudah kumulai hari ini. Surat pertama ini untukmu, Hujan, yang selalu jadi teman berceritaku.

#PosCintaTribu7e #7harimenulissuratcinta #suratpertama 

PASARAN


Zaman saya kecil dulu, jenis permainan “pasaran” sangat populer, terutama di kalangan anak perempuan. Saya masih ingat sampai mengoleksi alat-alat masak berbentuk mini yang terbuat dari gerabah, yang menyerupai perabot dapur ibu. Anak-anak akan bergantian jadi penjual dan pembeli. Nggak seperti zaman sekarang, dulu bahan-bahannya pun mudah ditemukan di sekitar kami. 

Nggak asal main. Mencari bahan pasaran butuh kreativitas, tekad, dan imajinasi lho. Misalnya saja ketika kami menemukan jantung pisang yang gugur, putiknya kami jadikan udang-udangan, dan kelopaknya bisa dijadiin daging. Kalau ada tumbuhan tali putri yang biasanya menjalar di tumbuhan teh-tehan, kami akan menjadikannya bakmi. Kalau ada daun pisang atau mangkokan yang bisa diminta di kebun tetangga, itu biasanya dijadikan untuk bungkus makanan. Terkadang kami akan menjelajah dapur untuk menanyakan kalau ada sisa masakan ibu, seperti bekas parutan kelapa atau apa pun itu. Dan masih banyak lagi karena apa pun di sekitar kami bisa jadi media.

Dan kami pun membuat pasar kecil yang berisi stand sayur, buah, dan makanan. Ada satu anak yang menjual lotek, sate, gudeg, ada yang menjual buah-buahan dengan bahan dari tumbuhan liar yang mirip buah. Ada pula yang menjual sayur. Kami penjual dan pembeli akan terlibat dalam semacam transaksi yang mirip seperti di pasar. Ramai sekali. Mata uangnya pun pakai daun pisang yang dibuat seperti uang receh dan kertas, atau bisa pakai pecahan genting. Anak laki-laki terkadang juga ikut.

Ternyata dalam permainan tradisional seperti pasaran, kami jadi belajar banyak hal. Salah satunya adalah sosialisasi, karena kita pun akan terdorong untuk berkomunikasi dengan banyak anak. Ada pula matematika, otomatis kita akan belajar hitung-hitungan. Selain itu kepercayaan diri kita untuk berbicara di depan banyak orang juga terlatih sejak dini. Dan masih banyak lagi deh pokoknya.

Entah apa di zaman sekarang, anak-anak bisa berkesempatan bermain pasaran seperti demikian ya. 

Diposting juga di https://www.instagram.com/p/BPFrnt9hM3b/