Cerita 2018

img_20190122_060348

Di Yogyakarta ada sebuah tempat bernama Krapyak. Orang-orang akan langsung teringat kandang menjangan atau panggung krapyak setiap mendengarnya, yaitu sebuah bagunan berbentuk kotak mirip benteng yang dulu digunakan oleh para raja dan para pangeran meletakkan hewan-hewan hasil buruan. Krapyak beratus tahun lalu adalah hutan belantara dengan berbagai binatang liar di dalamnya. Sekarang Krapyak adalah sebuah kampung yang penuh dengan rumah penduduk dan hiruk pikuknya. Kini juga menjadi tempat tinggalku sejak akhir tahun 2017 lalu.

Tak ada jejak hutan lagi di Krapyak, kecuali pohon-pohon tua besar di beberapa tempat dan masih terkadang kita dapat melihat burung-burung yang biasanya dipelihara orang di dalam kandang, asyik mematuk tanah di halaman. Bila kau bangun pagi dan membuka jendela, sejuknya udara akan menyeruak masuk hingga seluruh ruangan. Seperti udara dari masa lalu. Bila pagi, Krapyak seperti desa yang bangun dengan anggun. Terkadang tercium aroma dapur yang seperti masih menggunakan tungku. Pada jam 4, terdengar pula suara orang menyapu halaman. Nenekku yang tinggal di desa juga menyapu halaman di pagi buta. Orang dulu barangkali melakukan itu. Di sini banyak “orang dulu”.

Pada malam satu suro, masih banyak peduduk di sini melakukan ritual keliling benteng keraton. Mereka menganut adat dan begitu sering mengadakan kumpul mengaji. Tapi karena masih setengah desa, mereka juga masih akrab dengan mitos. Yang cukup menjengkelkan adalah perihal tuyul. Setiap ada warga kehilangan uang secara misterius, orang-orang akan ngobrol soal tuyul yang masih berkeliaran. Tetangga yang membuka warung, sempat bercerita padaku bahwa uang-uangnya sampai disimpan rapat, diikat dengan karet dan diberi rerempahan. Aku agak sedikit bergidik dan memakluminya, tapi tak ikut melakukannya. Sebetulanya aku bergidik karena lebih enggan dengan burung hantu besar warna hitam yang dipeliharanya, bertengger begitu dekat dengan kami dan memandangku dengan curiga. Paruhnya yang runcing itu bisa melubangi kulitmu kapan pun ia mau. Dua bulan setelah kami pindah pun, seorang tetangga lain menanyakan apakah pintu rumahku sempat diketuk sama orang yang nggak kelihatan. Aku tak ingat, tapi ia berharap aku tak perlu takut bila itu terjadi, karena biasanya makhluk ini hanya mengucapkan selamat datang. Sementara aku kerap sendiran saja, apalagi ketika dua bocah itu tidur, mitos-mitos ini sempat sedikit mengganggu. Tapi tidak membuatku gentar. Orang tak seharusnya takut sama hal-hal yang tak bisa disentuhnya.

Kampung ini religius menurut pandanganku. Beberapa hal memang sedikit membuat terkejut seperti nyanyian setiap habis azan, yang setelah kuamati betul-betul, ternyata itu sholawatan. Ada pula azan yang dikumandangkan pada jam 3 pagi. Nah, aku beruntung punya pengalaman tinggal di tempat dengan nuansa religius yang berbeda. Di kampung asalku, yang tak jauh dari Krapyak, memiliki kebiasaan yang tidak sama. Orang-orang muslim tidak tahlilan, tak ada sholawatan, dan semacamnya. Kalau mau mempelajari keberagaman, saya rasa di sinilah tempatnya. Sedikit membingungkan tapi seru, syukurlah, toleransi terjalin cukup baik di sini.

Lalu, tahun 2018 adalah tahun adaptasi terberat yang pernah kujalani. Di sisi lain tempat ini cukup nyaman bagiku. Kami bekerja keras membuat rumah di atas sepetak tanah leluhur suami kemudian memutuskan tinggal mandiri. Lokasinya sedikit jauh dari jalan raya, tapi semua tempat seperti dapat terjangkau. Tak jauh dari rumah ada pula superindo, pom bensin, toko-toko, rumah makan, dan meski pasar juga tidak jauh, tiap pagi sudah ada tukang sayur mangkal di depan rumah. Kendati demikian, mengurus dua balita dan tak ke mana-mana, dengan suami lebih banyak kesibukan di luar rumah tentu bukan hal mudah bagi siapa pun yang terbiasa dengan orangtua di sekitarnya. Bagiku yang terbiasa dengan riuhnya suasana rumah, kampung yang ramai, dan juga bisingnya jalanan, rumah ini jauh dari semua itu. Berat karena jadi sering kali tak memiliki teman bicara remeh-temeh. Tentu aku belum bisa bercerita bebas dengan anak-anak balita.

Tetapi tahun 2018 setidaknya banyak hal tercapai dengan cukup mudah. Seperti si sulung yang lebih cepat mandiri karena sering melihat emaknya harus nyambi-nyambi mengurus adiknya. Dalam setahun, tatangan demi tantangan sebagai ibu syukurlah mampu kulewati. Awal yang baik untukku.

Tahun 2018 pula, buku single pertamaku terbit. Memang hanya buku resep diet ala golongan darah tetapi cukup membuatku bersemangat menulis hal-hal bermanfaat di kemudian hari. Meskipun buku resep itu akhirnya jarang dieksekusi lagi karena tak ada yang diet di rumah. Tahun itu aku juga dapat pesanan membuat buku bertema pendidikan, yang sepertinya terbit tahun ini.

Pada tahun 2018 pula akhirnya aku bergabung dalam komunitas membaca buku di Instagram, yang akhirnya mengalihkanku dari rasa penat yang rawan. Senang karena jadi termotivasi menghabiskan timbunan di rak buku dan menambah wawasan. Setidaknya buku-buku ini adalah teman ngobrol yang mungkin jauh lebih baik daripada tembok dan laba-laba.

Apakah aku tak pernah merasa takut di tempat tinggal yang baru ini?
Tentu saja pernah.
Ketakutan pertamaku adalah sering berjumpa secara tiba-tiba dengan binatang-binatang berbahaya yang kukira hanya ada di ensiklopedi. Seperti kalajengking di wastafel dapur, kelabang yang tiba-tiba muncul di lantai, ular kisi di garasi, dan luwing yang katanya suka masuk di telinga orang. Dengan begitu aku jadi lebih serius bersih-bersih rumah dan bersikap waspada.

 

 

#catatanharian #kaleidoskop #katahatichallenge  #katahatiproduction

 

 

Iklan

Khusus

Malam ini aku sudah menyelesaikan membaca sebuah novel yang sialnya ber-ending menggantung. Sepertinya, gegara minggu belakangan ini aku sedang iseng membaca novel bergenre romantis dan aku jadi kapok.
Lalu belum mengantuk, aku membaca KBBI. Aku menelusuri beberapa istilah.

pri-vat: 1. pribadi; 2. tersendiri; 3.partiklir

Privat merujuk sesuatu yang bersifat pribadi. Pribadi barangkali merujuk pada hal-hal yang tidak dibagi pada siapa pun kecuali diri sendiri atau seseorang terdekat atau yang dianggap spesial.

Bila kau menyuka kesendirian dan privasi, maka sesuatu yang telah terbagi-bagi dan semua orang tahu tentu bukan lagi hal yang menarik. Aku khawatir kita memiliki sisi kanak-kanak di mana kita selalu memiliki ruang rahasia yang hanya diri sendiri atau orang-orang tertentu yang tahu. Bila ruang rahasia itu telah diketahu semua orang, maka tempat itu bukan lagi markas khusus.

oh iya, “khusus”. Apakah arti istilah khusus?

khusus (adjektiva): khas, istimewa, tidak umum.

Aku yakin setiap orang di negeri ini sudah tidak lagi khusus ketika mereka tinggal bersama masyarakat yang gotong royong. Sebab semuanya harus bersama. Semuanya harus sama. Semua orang harus tahu apa yang kita alami. Kita harus tahu banyak pula tentang orang lain. Terkadang aku masih menemukan kampung-kampung tertentu bahkan harus menyamakan bendera partai yang harus dipilihnya. Betapa lucunya itu. Kampung tempatku tinggal selalu perang dingin dengan kampung lain yang memiliki bendera partai berbeda.

Lalu apa itu umum? Orang-orng di negriku sering kali menyamakan istilah berbaur dengan “umum”. Berbaur di sini diartikan dengan sesuatu di mana kita tidak lagi khusus, dan masalah khusus kita sebaiknya jadi masalah umum. Karena saking dekatnya masyarakat dengan istilah umum ketimbang khusus, maka sudah hal biasa suami istri tinggal bersama orang tua/mertua dan keluarga besar kemudian membagi hal-hal khusus mereka menjadi wacana bersama.
Pernikahan yang digelar megah pun sudah bukti bahwa itu sudah jadi hal umum. Mulai detik itu juga, pasangan baru mesti siap menjadi sorotan baru pula bagi orang-orang di sekitarnya. Kapan punya anak? Kapan ngasih adik ke anak pertama? Kok nggak KB? dan remeh-temeh lainnya yang selalu jadi pembicaraan bersifat umum.

Bila kau membuka kamus bahasa, kau akan terkejut dengan kenyataan bahwa “umum” memiliki penjabaran yang cukup panjang. Penulis kamus ini mungkin saja orang yang lebih antusias dengan keumuman ketimbang sebaliknya. Abaikan, tentu itu hanya pikiran isengku.

umum: 1 a mengenai seluruhnya atau semuanya; secara menyeluruh, tidak menyangkut yang khusus
(tertentu) saja: 2 a untuk orang banyak; (untuk orang) siapa 3 n orang banyak; khalayak ramai:
4 v tersiar (rata) ke mana-mana; (sudah) diketahui orang banyak:

Pernahkah kau menjadi seseorang yang tidak lagi “khusus”? Apa hal sakral terakhir yang kau alami belakangan ini? Lalu apakah itu sakral? Tiba-tiba saja aku ingin mencari artinya.

sakral:
sa-kral/ suci; keramat.

Entah apakah khusus dan sakral ada keterkaitannya. Tapi jika sesuatu itu sudah tak lagi keramat, apakah masih indah jadinya? Seperti menemukan pulau yang kau kira tak ada siapa pun misalnya, ternyata telah penuh dengan turis.

Sejujurnya aku masih bingung mencari contoh perpaduan istilah-istilah itu di kehidupan sehari-hari. Apakah seperti ini contohnya:

Obrolanmu barangkali sudah jadi sekadar basa-basi dan persoalan kebutuhan sehari-hari. Dan obrolan semacam ini sudah jadi hal umum, karena kamu bisa saja membiacarakan itu pada semua orang. Barangkali semacam obrolan soal cuaca dengan teman lama yang baru saja ditemui.

Tapi jika sesuatu itu telah menjadi milik banyak orang, maka dinamakan umum. Kukira. Jadi bila engkau memiliki sesuatu yang bersifat sakral pada seseorang dan kemudian ternyata kamu bukan satu-satunya ataupun istimewa, maka sesuatu itu bukan lagi bersifat pribadi, maka tidak lagi disebut hal privat. Bila ada sebuah kabar di mana kamu orang terakhir tahu atau bukan satu-satunya yang tahu, maka bisa dibilang “tidak ada yang spesial dari dirimu” seperti yang kau kira selama ini. Namun, karena perasaan seperti itu sudah biasa kualami sejak dulu, aku tak lagi tekejut.
Bagaimana denganmu?

Ya memang, bukankah kita akan selalu berada di dua hal ini: umum dan khusus? Dan kita memiliki ukuran sendiri untuk memisahkannya. Berbeda-beda pula.

Memang ada perasan seperti menjadi berharga dan penting setiap ada yang membagi rahasianya padaku. Selalu saja aku tergelitik ingin bertanya, “apakah aku sesuatu yang ‘khusus’ bagimu?”
Aku selalu merasa penting bagi ibuku karena alasan itu, beliau selalu membagi cerita rahasianya padaku.

Setidaknya aku bersyukur karena aku masih bisa ngobrol dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia seperti dini hari ini. Banyak hal yang kuobrolkan dengan buku-buku sering kali hal-hal khusus, lebih karena tak mungkin juga dipahami orang lain. Ada banyak hal dari hidup kita tak bisa kita bagi pada orang lain. Ada sebagian dari hal-hal itu justru lebih mudah dibicarakan pada orang lain ketimbang dengan yang terdekat.

Jadi, aku beruntung karena masih memiliki beberapa hal di mana aku tak bisa membaginya pada seorang pun: buku-buku yang cuplikannya sering kali menyentuh dan kesunyian yang lebih memahami.

Mata yang Bercerita

Mestinya, kita di sini
Duduk di tepi pantai dengan segelas kopi
Akan aku dengar ceritamu hari ini
Mungkin tentang matahari yang bersembunyi
Atau burung-burung yang lupa bernyanyi

Nyatanya, ada muram di matamu
resah yang sulit dijabarkan
Mengingatkanku dengan buku yang kubaca kemarin hari
Ada bahasa di dunia ini, rupanya, yang kutahu
hanya cukup dimengerti kita sendiri
Ah, mari kita tulis saja puisi
Atau kita akan terbelah karena saling menanti

Ataukah kita akan di sini saja sore ini
duduk di tepi beranda
Menatap hiruk pikuk jalan raya
dan menebak-nebak setiap cerita
di balik mata lelah orang-orang yang berjalan kaki

Tapi yang ingin kupandangi sesungguhnya adalah engkau
dan sepasang mata yang selalu saja membuatku bertanya
Sepasang ruang yang setiap kukunjungi
akan menghilang seperti senja yang keburu pergi
Andaikan saja, aku bisa menerjemahkan cara matamu bercerita

 

Yogyakarta, 27 Oktober 2018

 

*Puisi ini diikutsertakan di OWOB Challenge, Menulis Puisi bertema “Mata” Oktober 2018

Belajar dari Menidurkan Bayi

Seperti halnya Satya, Tama jenis bayi yang memiliki telinga yang super sensitif sejak lahir. Dengar suara sedikit aja, tidur nyenyaknya terganggu. Dengar langkah kaki, matanya yang sudah mulai merem jadi melek kembali. Untuk tidur lebih lama, mereka harus berjuang. Tepatnya ibunya yang mesti memperjuangkan. Tak jarang saya dengan senang hati mematikan atau men-silent HP di rumah, terlebih di jam-jam tidur anak. Pasalnya, bayi usia nol hari hingga beberapa bulan ke depan harus tidur lebih banyak. Tidak hanya untuk menambah berat badan, tapi yang utama adalah perkembangan otak.

Menurut beberapa artikel kesehatan yang saya telusuri, tidur adalah kebutuhan yang sangat penting untuk bayi dan anak-anak karena dalam tidur itulah, terjadi proses bertumbuh. Bayi semakin bertambah usia semakin sedikit durasi tidurnya. Kalau newborn, diharapkan mesti tidur 15-19 jam per hari untuk mengoptimalkan tumbuh kembangnya. Orang tua mesti menerapkan pola tidur yang baik untuk anak-anaknya sesuai dengan usianya.

Sementara itu tiap orang punya kegiatan masing-masing. Tinggal di kampung dengan jarak rumah berdekatan kan rasanya seperti tinggal satu atap juga. Ada kerja, teleponan, masak, betulin pintu, menemani balita main, nonton TV, dengerin musik, dan banyak lagi. Belum lagi mereka yang gemas dan kangen lihat bayi kebangun tentulah tidak mungkin menidurkannya kembali, melainkan mengajak main supaya tetep terjaga. Di samping itu ada kakak kecil yang masih suka bikin suara keras dan suka bangunin adiknya yang mulai tidur ini karena belum tahu konsep orang tidur nyenyak jangan dibangunin tanpa alasan jelas. Tama jadi lebih banyak melek di siang hari di usianya yang masih 2 bulan ini. Begitu juga Satya yang terkadang ikutan nggak jadi tidur kalau sudah lihat adiknya masih melek.

Sebagai ibu yang gampang cemas, sering deh batin ini menjerit? Mau ditidurkan di mana ini anak-anak? Ada sih areal lebih sepi, di kamar Mbah Uyut. Tapi Uyut suka nonton TV dan lihat acara dangdut. Dekat jendela kamarnya juga ada burung kenari Akung (ayah saya) yang sepanjang hari berkicau dan suara merdunya bahkan kedengaran sampai kampung sebelah. Belum lagi suara yang asalnya dari bagunan yang baru dibangun dekat rumah yang sering terdengar riuh mesin berat. Sepertinya kurang adil dong kalau semua orang disuruh anteng demi satu orang bayi saja di jam tidur mereka.

Satu-satunya solusi sepertinya adalah mengkondisikan mereka untuk beradaptasi terhadap lingkungan. Yaitu, bagaimana caranya supaya mereka tetap bisa berdamai dengan kebisingan-kebisingan kecil itu dan tetap bisa tidur sesuai jatahnya. Itung-itung sambi mengajari mereka tentang beradaptasi terhadap keberagaman masyarakat. Metode ini pernah berhasil saya terapkan pada Satya, si kakak waktu masih bayi. Satya sering kali tetap bisa tidur di tengah kebisingan ketika menginjak usia 1 tahunan. Tapi melatih para bayi yang masih rawan itu sungguh memeras hati, apalagi kala itu saya juga baby blues.

Jadi begini anak-anakku, kita ini di samping makhluk individu juga makhluk sosial. Kita hidup bersama dengan banyak orang dengan karakter dan kepentingan yang berbeda-beda. Memang sebagai individu kita memiliki pemikiran, pendapat, dan pengalaman yang berbeda dari mereka dan patut diakui. Tetapi kita tidak bisa memaksakan pemikiran kita pada mereka, tidak bisa menuntut mereka sesuai dengan harapan kita. Pada dasarnya, tidak semua keinginan kita menjadi kenyataan lho, Nak. Mungkin orang tuamu bisa selalu memahamimu ya dan juga selalu menerimamu apa adanya, tapi kalau kami sedang tidak berada di sampingmu, bagimana? Nggak selamanya orangtuamu berada di sekitarmu kan? Yang bisa kita lakukan adalah beradaptasi. Menyesuaikan diri. Bersabar. Melonggarkan hati dan pikiran sekaligus untuk menerima perbedaan tanpa ikut terbawa arus.

Dari moment-moment menidurkan bayi yang sering kali dramatis ini pun saya belajar. Kelak saya tahu, saya juga belajar bagaimana membesarkan anak dengan cara terbaik namun tetap menghindari diri dari menjadi durhaka terhadap orang tua atau generasi lama sekitar kita yang tentu berbeda cara mengasuh dengan kita. Melonggar itu tadi sungguh tidak mudah. Entah bagamana caranya, saya tetap mesti mencari tahu karena anak-anak bayi segera akan tumbuh besar.

Sesuai Harapan

Tuhan tentu paling tahu karakter diri saya yang selalu tak tahu pasti apa yang benar-benar diinginkan, disukai, ataupun dituju. Itulah mengapa ada lebih banyak “semoga” dalam hidup saya yang akhirnya tidak dikabulkan-Nya, namun saya pun lebih banyak mengerti. Kemudian, pada akhirnya saya memiliki tujuan jelas, setidaknya yang saya rasa hal itu benar-benar jelas, ketika menjadi ibu. Tuhan begitu maha pemurah sehingga “semoga” saya kala itu dikabulkan tanpa saya duga. Harapan untuk bisa melahirkan secara gentle pun tercapai.

Mungkin saja saya sedikit heran sekaligus takjub pada proses persalinan saya sendiri. Sekitar 7 minggu lalu, proses itu berjalan lembut. Tama (Tsaqif Adhitama Ardi), anak kedua kami lahir alami dengan bobot yang sedikit lebih besar dari kakaknya, dan alhamdulillah sehat walafiat. Tama agaknya bayi yang sedikit terabaikan ketika di dalam perut namun justru memilih proses yang mudah. Terbaikan yang saya maksud ini adalah selama ia di perut, ibunya tak disiplin senam, tak teratur menata pola makan, minum kopi setiap hari, jarang tidur, tak terlalu diperhatikan seperti ketika hamil Satya, dan tentu saja lebih banyak memikirkan si sulung yang cukup menyita semua perhatian karena polahnya yang super aktif dan lagi lucu-lucunya. Hanya ada sedikit waktu tiap harinya untuk mengajak si bungsu ini ngobrol. Bahkan si bungsu ini termasuk lebih jarang dielus ayahnya ketimbang Satya ketika di perut. Sering ditinggal pergi pula. Mestinya saya punya potensi mengalami proses melahirkan yang lebih kacau dari bayangan. Namun kali ini saya mesti percaya bahwa bulan Romadhon memang membawa berkah tersendiri meski saya lagi-lagi tak bisa menjalankan puasa.

Saat itu di tanggal 19 Juni, di mana saya bahkan ragu apakah saya sudah merasakan kontraksi menuju kelahiran ataukah belum. Lebih cepat dari HPL adalah hal biasa dialami ibu hamil. Belum lagi nyeri yang terjadi tak terlalu kuat seperti pengalaman yang pertama. Ketika gelombang rahim itu datang, waktunya sungguh tak teratur, dengan jarak yang lambat ditambah ingatan tentang melahirkan yang pertama yang durasinya sangat lama, selama 2 hari, membuat saya masih menunggu dengan santai. Ah, barangkali yang ini lama juga, begitu pikir saya. Siang itu bahkan saya masih sempat mencuci baju, tidur, dan main dengan Satya. Maka setiap gelombang datang, saya hanya mengajak negosiasi Tama dengan perasaan sedikit pasrah, “Kapan pun kamu lahir, Nak, Bunda siap, tapi kalau bisa nunggu ayahmu pulang ya.” 😀

Sesuai pinsip kelahiran alami yang pernah saya baca di berbagai referensi, janin juga bisa merespons apa yang seorang ibu katakan atau rasakan. Dan benar saja, kontraksi baru mulai intens 5 menit sekali menjelang jam pulang kerja ayahnya. Jam 4 sore ketika ayahnya pulang ia baru membereskan berkas-berkas yang mesti dibawa ke puskesmas. Jam 4 lebih kami berangkat ke rumah bersalin, di Puskesmas Jetis. Saya masih ingat sopir Go Car yang menyetir merasa sedikit gugup dan akhirnya ngebut menerobos keramaian yang biasa terjadi di jam pulang kantor dan menjelang buka puasa. Padahal kami sudah meminta pelan saja. Saya jadi merasa sedang di film Fast and Furious.

Kami sampai di sana jam 5 lebih, setiap kontraksi datang saya hanya bisa berdzikir dan mengatur napas tapi memang sudah tak bisa merespons secara normal ketika diajak bicara. Ibu yang sudah mendekati detik-detik melahirkan mengalami hal yang sama. Meski demikian, bersama dua bidan di ruang bersalin terlihat sangat santai dan menikmati pekerjaannya, saya merasa semakin tenang. Ditambah suasana di sana yang sangat sepi hari itu. Mereka bahkan sempat mengajak bercanda sebelum membantu dengan aba-aba. Singkat kata, Tama lahir dengan cepat beberapa detik menjelang buka puasa. Bahkan mendapatkan hak IMD dan langsung rawat gabung.

Alhamdulilllah, Mahabesar Allah, yang telah memberikan begitu banyak keberkahan pada kami, di tanggal 19 Juni lalu, bertepatan dengan ulang tahun ibu saya. Betapa simpelnya melahirkan kedua kali ini. Yang “ribet” hanya proses jahit menjahitnya setelah itu. 😀

 

Kekhawatiran

Ketika tiba waktunya menghadapi persalinan nanti, yang paling saya khawatirkan mungkin hanya Satya. Belum pernah saya meninggalkannya berjam-jam apalagi lebih dari sehari. Terlebih anak di bawah usia 2 tahun masih butuh perhatian ekstra dari orangtuanya, terutama ibunya. Meskipun telah berhenti menyusu dan jarang kelayu, Satya tetap membutuhkan perawatan dan asupan makanan yang bergizi yang dibuat di rumah yang memenuhi standar kesehatan. Selain itu, ia juga tetap masih membutuhkan pengawasan, pendamping dalam setiap tumbuh kembangnya, yang selama ini tentu lebih banyak didapat dari ibunya.

Memang terkadang Satya dititipkan orang rumah seperti ibu saya, ketika harus bepergian atau menyelesaikan pekerjaan penting. Tapi ibu juga satu-satunya orang yang mengurus rumah tangganya sendiri tanpa bantuan siapa pun. Setiap hari selalu sibuk. Saya tak tega menitipkan Satya berjam-jam kecuali hanya ketika urgent atau sedang susah makan, karena biasanya ibu saya akan menyuapinya sambil menggendongnya.

Saya baru menyadari bahwa mungkin ini salah satu kelemahan bila anak lebih banyak diasuh sendirian, karena ketika saya harus pergi sedikit agak lama, saya juga sekaligus merasa khawatir. Lebih merasa bersalah lagi karena saya jarang share hal-hal kecil yang cukup penting terkait merawat Satya selama ini. Orang rumah bahkan belum tahu persis bahwa Satya hanya membutuhkan dua botol susu per hari dan lebih membutuhkan camilan buah ketimbang yang olahan. Mereka juga tak tahu takaran susunya atau bagaimana membersihkan botolnya. Terlebih hal-hal yang lain.

Tiba-tiba saja hari ini saya banyak menyadari betapa pentingnya waktu-waktu yang telah saya lalui bersama Satya. Seperti baru kemarin Satya lahir dan kami membawanya pulang dengan kebahagiaan yang mendalam. Tiba-tiba saja saya juga menyadari betapa seringnya saya teledor dan tak cukup pandai merawatnya selama ini. Namun Satya telah menjadi bagian terpenting dalam hidup kami di mana hampir segala harapan dan semangat hidup tertuju kepadanya. Barangkali perasaan semacam itu yang orang tua saya rasakan dulu ketika baru memiliki saya.

Betapa sejak kehadiran Satya, kami kedua orangtuanya, menjadi sosok yang baru, dan juga mempelajari banyak hal baru. Menjadi orang tua memang semacam tugas yang tak ada habisnya.

Setidaknya, ketika gelombang rahim datang nanti dan saya mesti meninggalkan rumah, Satya mungkin lebih baik dititipkan pada kakek neneknya (orang tua saya) ketimbang yang lain karena selain orang tuanya, tentu kakek nenek akan memberikan perhatian dan kasih sayang yang lebih baik. Tidakkah mereka juga orang tua yang pernah membesarkan kita? Tak lupa pula saya mesti mempersiapkan segalanya semampunya supaya tak terlalu merepotkan siapa pun. Berharap Satya akan selalu baik-baik saja. Dan berharap pula nanti prosesnya hanya sebentar karena di samping semua kekhawatiran itu, saya pasti akan sangat merindukan Satya.

Ramadhan hari ke-24

(2 hari menuju HPL)

Perkiraan

Di dunia ini, apalagi yang dibuat manusia, apakah ada yang benar-benar pasti?

Suatu hari Satya (yang waktu itu belum satu tahun) ditimbang di posyandu kampung saya, bobot di timbangan menunjukkan angka 7 kg. Lalu sehari kemudian eyangnya (orangtua suamiku) menjemputnya untuk main di sana seharian, kebetulan di sana juga iseng ikut posyandu, bobotnya 7.3 kg. Ibu mertua bilang, timbangan di sana paling akurat. Belum sampai seminggu Satya harus imunisasi di puskesmas. Sebelum disuntik ia tentu harus ditimbang dulu. Bobotnya 7.1 kg. Saya pun bingung yang mana yang harus saya percaya. Apakah hanya dengan hitungan hari berat badan bayi bisa naik turun? Atau timbangannya yang memang tidak “kompak”. Baiklah, mungkin berat badan bukan hal besar. Paling-paling cuma sedikit mengacaukan catatan grafik si kecil di buku kesehatannya. Selama si anak selalu sehat, ceria, dan perkembangan bagus, bobot bukan hal besar.

Tapi belum lama kadar hemoglobin saya juga dites dengan alat kesehatan dari bidan praktik, menunjukkan angka 10.8 sehingga dinyatakan anemia. Tapi tak lama kemudian dites hb di puskesmas masih menunjukkan angka 11 dan terbilang normal. Padahal dua angka itu menentukan apakah saya bisa melahirkan normal atau dengan tindakan dan bisa saja butuh transfusi. Tidak hanya itu, tensi saya menurut tensimeter di puskesmas dengan tempat bersalin juga berbeda. Pengalaman-pengalaman kecil semacam itu membuat saya jadi berpikir bahwa bahkan peralatan medis bisa membingungkan karena banyak versi. Rupanya bisa juga hal-hal yang sepertinya akurat menjadi tidak pasti. Apalagi bila berbicara tentang HPL (hari perkiraan lahir).

Namanya juga perkiraan, maka tak bisa dijadikan patokan. Barangkali rata-rata ibu yang pernah melahirkan akan setuju bahwa HPL hanya sebagai penanda. Setidaknya, yang saya tahu, ada 2 macam cara menghitung umur kehamilan dan menentukan kapan bayi lahir. Dengan perhitungan manual tanggal terakhir haid yang biasanya dilakukan para bidan dengan rumus, atau melihat hasil USG. Meski demikian, HPL cukup berpotensi membikin cemas. Pasalnya, karena perbedaan pendapat bidan dan para doktet itulah, ibu hamil bisa mengalami kekhawatiran yang malah mempengaruhi kesehatannya dan janin. Mungkin bidan satu akan mengatakan itu normal bila belum 42 minggu, bidan yang lain bisa tidak percaya diri dan menolak menolong persalinan. Dokter satu bisa saja beropini lain sehingga merasa bahwa mengakhiri kehamilan segera dengan operasi meski belum datang kontraksi adalah cara terbaik. Dokter lain bisa saja bersikap lebih santai selama kondisi ibu dan janin baik-baik saja.

Saya pun memilih untuk tak banyak memikirkannya. Mungkin Satya dulu lahir lebih cepat dari HPL. Entah yang kedua bagaimana. Konon anak kedua memiliki pola sama dengan yang pertama. Sayangnya, HPL keduanya ditentukan oleh dokter yang berbeda. Mungkin saja Satya berdasarkan USG dan adiknya berdasarkan hitung manual. Saya sendiri lupa. Belum lama ketika saya USG diantar sahabat saya Fitri di klinik tujuan bersalin, dokter yang jaga punya opini lain, mundur hingga seminggu lebih dari yang selama ini saya tahu. Padahal menggunakan USG.

Baiklah, saya pun memutuskan untuk menghabiskan hari-hari sekitar HPL dengan sibuk mengurus Satya, beberes, membaca buku dan artikel, juga tetap mengerjakan pekejaan freelance di rumah. Bila dulu di kehamilan pertama saya sempat stress akut dan jengkel karena belum HPL banyak orang menanyakan kapan lahir, kok belum lahir, si itu aja udah lahiran, dan sebagainya.  Sekarang mungkin saya lebih cuek dan santai. Orang-orang di sekitar saya dan keluarga besar bahkan tidak tahu persis HPL saya tanggal berapa. Sebagai perempuan yang belum lama jadi ibu, saya mengerti terkadang bersikap cuek dalam beberapa hal sangat dibutuhkan dalam menjalani hidup. Semua itu tentu saja, supaya tetap waras. Toh HPL itu manusia yang membuat. Yang paling tahu kapan bayi akan lahir cuma Allah kan. 😉

Lagipula kehamilan kali ini sepertinya si dedek mengajak ibunya prihatin dan mandiri. Habisnya apa-apa saya mesti bisa sendiri. Termasuk survive ketika menghadapi mood swing atau tiba-tiba merasa kesepian dan insomnia seperti bulan-bulan belakangan ini.

Namun, dalam diam, saya tetap berharap semoga Allah memberikan kemudahan dan kelancaran di persalinan nanti, kapan pun itu.

Ramadhan hari ke-21

(5 hari menuju HPL)

Menyapih

Semula dalam bayangan saya, menyapih si kecil bakal jadi drama yang penuh tangis-tangisan. Saya pun masih ingat bagaimana Ibu menyapih adik bungsu saya dengan susah payah waktu itu. Tiap malam Bapak yang harus menggantikan Ibu menggendongnya sambil memberinya susu dalam dot menjelang tidur karena adik saya terus menangis minta jatah ASI-nya. Belum lagi saya juga sering mendengar cerita menyapih yang terdengar tidak mudah dilalui. Kalau Satya juga bakal gitu gimana ya?

Rupanya sejak awal usia 16 bulan, bayangan menyapih penuh drama itu pudar. Bagaimana tidak, sejak usianya 16 bulan lalu, Satya mulai jarang minta ASI. Sayalah yang justru sering menawarinya. Memang sih sejak usia 13 bulan, Satya sudah diperkenalkan susu tambahan. Tapi tetap harus minum ASI. Sebenarnya saya nggak terlalu percaya dengan susu formula sekadar hanya minuman selingan, karena selain ASI, makanan bayi terbaik tetap berasal dari bahan alami dan buatan sendiri. Bila makanan berkualitas sudah terpenuhi dalam sehari, maka susu formula tak terlalu dibutuhkan.

Ingatan saya melompat ke 21 bulan yang lalu. Di hari-hari setelah ia lahir ke dunia. Tentu saja bayi baru lahir hanya membutuhkan ASI untuk bertahan hidup. ASI adalah makanan terbaik. Sekalipun menyusui adalah proses alami, tapi kalau tak diusahakan juga tak bisa. Perjuangan memberi ASI saat itu tidak mudah, belum lagi harus menghadapi baby blues. Pasalnya, hari-hari awal pasca melahirkan, ASI biasanya tak langsung keluar. Di samping itu, wacana ASI eksklusif belum banyak diketahui. Belum juga diterima oleh sebagian orang. Bahkan termasuk para dokter dan perawatnya ada pula yang lebih pro formula. Namun, alhamdulillah, pada akhirnya Satya hanya mendapatkan ASI di 6 bulan awal kehidupannya sesuai haknya sebagai bayi. Dan berlanjut pada bulan-bulan berikutnya dengan mulai mengonsumsi MPASI. Semua itu juga tak lepas dari dukungan suami dan keluarga. Meskipun meyakinkan mereka supaya pro ASI pada awalnya juga membutuhkan proses.

Memberikan ASI tidak hanya semacam insting sebagai wujud cinta kasih ibu kepada bayinya, tapi juga termasuk perintah Allah yang juga termuat di Alquran.

“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan” (Al-Baqarah [2]: 233)

Karena itu, proses 2 tahun menyusui bagi ibu sama halnya memberikan kehidupan yang terbaik untuk buah hati. Tak hanya berkaitan dengan nutrisi dan kekebalan tubuh terhadap penyakit, tapi ASI juga terkait psikologi dan masih banyak lagi.

Namun penolakannya terhadap ASI belakangan ini membuat saya menyadari Satya jenis anak yang sudah mandiri. Ia juga cukup mandiri dalam beberapa hal seperti misalnya makan (meski masih sering juga disuapi ibu saya), tidur (tidak lagi digendong sejak usia 15 bulan), tidak mencari ibunya meski harus ditinggal karena urusan urgen, dan juga suka beberes seperti orang-orang dewasa di sekitarnya (meskipun suka juga bikin berantakan lagi 😂). Alhamdilillah ia juga telah mampu memahami instruksi dan meresponsnya dengan positif, menyampaikan permintaan, mengerti batasan (karena terkadang saya melarang beberapa hal yang memang cukup berbahaya), dan mudah mempelajari sesuatu yang dilihat dan didengarnya. Artinya, tidak ada masalah dalam tumbuh kembangnya. Sedikit banyak ia telah bisa diajak ngobrol. Saya bahagia tapi juga sedih karena semingguan ini ia benar-benar menyapih dirinya sendiri. Kalau ditawari, ia pasti cuma menjawab “Ndak… unda atit, gigit atya… katian…”. “Nggak… Bunda sakit, kegigit Satya… kasihan.” Mungkin karena pernah melihat tampang bundanya sering mengeryit setiap ia tak sengaja menggigit, atau entah apa ya…

Sebetulnya sejak saya dinyatakan hamil lagi, hampir setiap orang menganjurkan untuk menyapihnya. Tapi saya memilih tetap melanjutkannya, setidaknya sampai Satya sendiri yang ingin berhenti. Terutama karena setelahnya saya telah bertanya pada beberapa bidan, dokter, dan referensi lainnya sehingga lebih yakin untuk tetap menyusuinya. Alhamdulillah, Satya nyaris juga nggak pernah rewel.

Sejujurnya saya belum siap menyapih. Satya baru 21 bulan. Mestinya masih 3 atau beberapa bulan lagi ia disapih. Setiap melihatnya mandiri dan tidak banyak menuntut sebetulnya saya jadi agak baper. Barangkali alam semestalah sudah mengkondisikannya karena sebentar lagi akan menjadi kakak. Maka, terlihat pula dalam dirinya karakter seorang kakak yang mengalah dan pengertian. Mudah-mudahan nanti nggak ada drama cemburu-cemburuan ya kalo dedek bayi lahir :D. Sebab saya akan selalu menyayangi mereka sepenuhnya dan berusaha memberikan perhatian yang adil tanpa ada yang terkurangi.



Ramadhan hari ke-14

(13 hari menuju HPL)

Komunikasi

Menjadi ibu rumah tangga itu bisa dikatakan antara seneng dan nggaknya. Dikit sih nggaknya. Senengnya karena kita jadi terlibat langsung dalam proses tumbuh kembang anak. Syukur alhamdulillah karena Allah mempercayakan diri saya dengan amanah menjadi ibu untuk Satya dan calon adiknya sementara saya tetap terus belajar untuk tetus memperbaiki diri. Bukankah kunci keberhasilan anak terletak pada ibunya? Memang seorang ayah juga memegang peran penting dalam membentuk karakter anak, tapi yang 24 jam nonstop menemani anak-anak lebih memiliki pengaruh dalam keberhasilan mereka di masa depan bukan. Tidak hanya bagi seorang anak, seorang istri juga pendukung utama keberhasilan suami.

Nggak senangnya karena dengan begitu seorang ibu rawan kesepian. Mungkin berhenti ngantor dan menunda cita-cita bukan hal yang sulit dilakukan kalau itu demi merawat buah hati lebih dulu dan mengutamakan kepentingan keluarga. Tapi tidak bisa dipungkiri, perempuan bukan makhluk yang sempurna meski kelihatan selalu kuat. Terlebih bila tak memiliki teman bicara yang tepat.

Tidak berarti seorang ibu rumah tangga otomatis memiliki posisi penting dalam hal-hal besar dalam permasalahan rumah tangga. Terlebih bila antara istri dan suami, tidak ada komunikasi yang baik. Karena tidak ada komunikasi yang terjalin baik, “rapat tertinggi” tidak terjadi di antara pasangan lebih dulu. Dan karena itu, masalah sangat pribadi dalam rumah tangga dengan mudahnya diaduk-aduk pihak luar.

Kenapa komunikasi penting? Tentu saja penting, kecuali bila engkau betah menghabiskan seluruh hidupmu dengan orang yang lebih antusias berkomunikasi dengan gadget atau orang-orang yang telah dekat lebih lama dengannya sebelum menikahimu. Tanpa komunikasi yang baik, pihak yang rentan rawan merasa terabaikan. Padahal menjalin komunikasi efektif bisa dimulai dari hal kecil. Sekadar ditanya apa hasil periksa ke bidan hari ini pun wanita mana yang nggak senang.

Sering kali dalam keputusan besar yang ada gandengannya dengan keluarga kecil saya, justru saya yang tahu belakangan, atau tiba-tiba sudah “ditodong” sesuatu yang sebelumnya bahkan tak ada siapa pun yang bertanya tentang pendapat saya lebih dulu. Otomatis tidak ada opsi lain selain berkata “ya” meski dengan setengah hati. Barangkali komunikasi memang perihal sepele, tapi rentan membawa siapa pun ke dalam konflik bila menyepelekannya.

Iya saya juga bukan super women yang sempurna, melainkan butuh proses yang panjang. Berpindah kebiasaan dari perempuan karier menjadi ibu rumah tangga dengan tanggung jawab yang sangat berbeda memang bukan hal mudah. Meski hanya ibu rumah tangga, tentu saja saya masih butuh belajar dan terus mengembangkan diri. Juga selalu membutuhkan dukungan baik itu moral atau spiritual. Sering kali saya mudah tersulut dan tak bisa menahan emosi terhadap hal-hal yang tak sesuai pikiran dan hati. Lebih tepatnya lambat memahami kondisi yang terjadi. Meski sebetulnya kondisi demikian patut dimaklumi. Proses perkenalan kami yang sangat sebentar sebelum menikah, dilanjut kehidupan pernikahan yang cukup disibukkan berbagai kepentingan luar, membuat proses pencarian pola komunikasi terbaik pun terasa membutuhkan waktu yang lebih panjang.

Saya dan suami juga tengah menjalani proses demi proses untuk bisa memiliki pola komunikasi yang efektif demi menjalankan sebuah keluarga yang ternyata dibangunnya lebih rumit ketimbang membuat sebuah gedung. Mengingat meski pernikahan sudah berjalan 3 tahun, tapi kesalahpahaman karena pola komunikasi yang belum matang masih sering terjadi. Semoga saja itu masih tergolong wajar. Terkadang pula ketika muncul konflik, yang terjadi adalah masing-masing dari kami menyendiri, maksudnya supaya tidak berbenturan. Padahal kalau menurut saya, itu sama saja nyicil bikin bom waktu.

Saya tahu pria bukan semacam cenayang yang bisa menebak kode, perempuan juga bukan makhluk misterius sehingga terlalu sulitnya dimengerti. Keduanya hanya bisa dijembatani dengan pola komunikasi yang efektif. Keduanya hanya bisa dilalui bila masing-masing juga sadar bahwa berumah tangga sudah lebih berbeda bersikapnya ketimbang ketika masih single. Saya selalu berharap dan selalu berusaha agar proses komunikasi dan pembelajaran memperbaiki diri ini berjalan semestinya dan menemui titik terang. Sehingga siapa pun juga turut menghargai bahwa kami telah berada dalam institusi pernikahan, di mana pendapat dan keputusan terpenting berada di tangan suami istri tanpa boleh diganggu gugat terlebih dahulu, sebelum dibawa keluar untuk menemukan solusi yang sifatnya lebih umum.


Romadhon hari ke-11
(16 hari menuju HPL)

PASARAN


Zaman saya kecil dulu, jenis permainan “pasaran” sangat populer, terutama di kalangan anak perempuan. Saya masih ingat sampai mengoleksi alat-alat masak berbentuk mini yang terbuat dari gerabah, yang menyerupai perabot dapur ibu. Anak-anak akan bergantian jadi penjual dan pembeli. Nggak seperti zaman sekarang, dulu bahan-bahannya pun mudah ditemukan di sekitar kami. 

Nggak asal main. Mencari bahan pasaran butuh kreativitas, tekad, dan imajinasi lho. Misalnya saja ketika kami menemukan jantung pisang yang gugur, putiknya kami jadikan udang-udangan, dan kelopaknya bisa dijadiin daging. Kalau ada tumbuhan tali putri yang biasanya menjalar di tumbuhan teh-tehan, kami akan menjadikannya bakmi. Kalau ada daun pisang atau mangkokan yang bisa diminta di kebun tetangga, itu biasanya dijadikan untuk bungkus makanan. Terkadang kami akan menjelajah dapur untuk menanyakan kalau ada sisa masakan ibu, seperti bekas parutan kelapa atau apa pun itu. Dan masih banyak lagi karena apa pun di sekitar kami bisa jadi media.

Dan kami pun membuat pasar kecil yang berisi stand sayur, buah, dan makanan. Ada satu anak yang menjual lotek, sate, gudeg, ada yang menjual buah-buahan dengan bahan dari tumbuhan liar yang mirip buah. Ada pula yang menjual sayur. Kami penjual dan pembeli akan terlibat dalam semacam transaksi yang mirip seperti di pasar. Ramai sekali. Mata uangnya pun pakai daun pisang yang dibuat seperti uang receh dan kertas, atau bisa pakai pecahan genting. Anak laki-laki terkadang juga ikut.

Ternyata dalam permainan tradisional seperti pasaran, kami jadi belajar banyak hal. Salah satunya adalah sosialisasi, karena kita pun akan terdorong untuk berkomunikasi dengan banyak anak. Ada pula matematika, otomatis kita akan belajar hitung-hitungan. Selain itu kepercayaan diri kita untuk berbicara di depan banyak orang juga terlatih sejak dini. Dan masih banyak lagi deh pokoknya.

Entah apa di zaman sekarang, anak-anak bisa berkesempatan bermain pasaran seperti demikian ya. 

Diposting juga di https://www.instagram.com/p/BPFrnt9hM3b/

Menjadi Bahagia

Saya sempat menangkap obrolan tetangga depan rumah beberapa hari yang lalu. Saya nggak niat nguping, tapi karena suaranya keras banget, jangankan saya yang lagi nongkrong di ruang depan, yang lagi masak di belakang saja dengar. Ceritanya si tetangga ini punya keponakan perempuan yang lagi nyari jodoh. Latar belakang keluarga si keponakan ini bisa dibilang tajir. Orang tuanya pengusaha besar. Rumah di mana-mana dan cuma pembantu yang menempati. Si keponakan ini anak tunggal pula. Ia lulus kuliah di universitas terbaik di Jogja, anaknya manis, pakai jilbab, nggak pernah pacaran. Katanya pengin entar jodohnya pria sholeh yang bisa membahagiakan dia. Maksudnya barangkali, si calon ini setidaknya punya jenjang pendidikan minimal setara, setia, perhatian, pinter ngaji, pinter segala hal, bukan anak mami, mau bantuin sedikit tugas istri, ganteng lah syukur-syukur, nggak merokok, dan ya kalo bisa secara finansial nggak memalukan keluarga besan. Kalau nggak begitu, masalah biasanya terjadi, ini kan negara kawasan Timur. Perbedaan sekecil itu sedikit banyak tetep jadi ganjelan di masa mendatang, terutama bagi keluarga besarnya. Ya toh.

Tapi wajar deh, siapa pun yang punya anggota keluarga yang lagi nyari jodoh, penginnya cari calon mantu yang sempurna supaya kelak bahagia. Pihak perempuan berharap rata-rata si pria impian seperti tadi lah. Begitu juga dari pihak pria. Kalau bisa nyari istri tuh yang cantik, pinter, rajin beberes rumah, terampil, bisa jahit, bisa nyuci, bisa masak, bisa punya anak, keibuan, pinter dandan, minimal lulus S1, lemah lembut, bisa boso kromo alus, nggak matre, nggak bawel, nggak banyak tuntutan, nggak bakal gendut, sholehah, dan kalo bisa sih bisa punya penghasilan sendiri. Tapi kenyataannya ada nggak sih yang se-perfect itu? Kalau elu-nya sudah di surga pasti bakal nemuin kali ya.

Denger itu, saya jadi keinget salah satu proyek pribadi yang selalu saja terlupa: mencari tahu, seperti apakah itu bahagia. Tapi ternyata pertanyaan ini kurang spesifik, sehingga saya menggantinya dengan:apakah selama ini saya sudah bisa membahagiakan diri sendiri dan orang lain, terutama keluarga dan orang-orang terdekat saya?

Apakah ketika orang menikah dan menemukan seseorang yang mirip harapan, lantas kehidupan bakal bahagia terus nggak ada sakit-sakitnya? Apakah kalau nggak sesuai harapan lantas nggak bahagia begitu saja? Kalau begitu jangan-jangan kitanya yang dari sononya miskin kebahagiaan, sehingga berharap orang lain bisa ngasih kebahagiaan pada kita yang “kekurangan” ini.

Tapi yang saya pahami hingga detik ini kebahagiaan itu ternyata nggak bisa kita dapatkan seinstan kita memesan makanan siap saji yang tinggal minta, bayar, selesai. Semuanya mesti diperjuangkan, banyak di dalamnya yang juga butuh berbagai pengorbanan. Kalau nggak diperjuangkan ya itu semua nggak tercapai. Nggak usah juga ya mengharapkan orang lain bisa ngasih kebahagiaan ke kita. Tanpa kita bisa membuat diri kita bahagia, semua itu mustahil. Toh manusia bukan mesin yang bisa kita paksa bekerja memenuhi semua keinginan kita. Mereka bukan badut robot yang setiap saat bisa kita minta menghibur dan bukan juga doraemon yang bisa memenuhi segala keinginan kita. Robot aja kalau baterainya habis kita mesti mengisinya ulang. Di dunia ini nggak mungkin ada yang instan.

Saya gemas ingin menulis perihal ini dikarenakan justru jauh di dalam hati nurani masih suka mikir, jangan-jangan saya masih seperti tipe di atas, jenis orang yang selalu berharap dibahagiakan orang lain, tapi malas bikin diri sendiri bahagia. Karena malas bikin bahagia, maka sudah tentu dari sononya saya tipe yang nggak mudah bersyukur. Kalau sudah begitu percuma kan orang lain pontang-panting bikin saya bahagia, tapi karena saya nggak mudah bersyukur, maka dihadiahi seluruh dunia pun ngak bakal bikin saya senang dan puas dengan hidup. Walhasil saya jadi orang yang nggak bisa pula membahagiakan orang lain.

Mungkin saja waktu-waktu sebelum ini saya sulit bahagia karena cara pandang saya yang terkalu idealis atau kebanyakan mikir pakai otak, nggak pakai hati. Terlalu bikin patokan harus begini dan begitu. Sebab hidup dengan berbagai patokan ternyata bikin nggak tenang. Apalagi kalau patokan itu cuma kita sendiri yang memilikinya. Patokan cuma bikin saya gampang takut yang nggak jelas. Misal saja anak belum gede tapi sudah takut kalau nanti ia dapet lingkungan yang salah atau pengasuhan yang gagal. Atau, saya takut sekali berkonflik dengan keluarga besan bila kelak tinggal bersama mereka yang beragam itu sehingga saya nuntut suami saya untuk nyari kontrakan atau nyicil rumah seideal pasangan pada umumnya. Ketakutan-ketakutan yang belum tentu terjadi itulah yang membuat kebahagiaan saya berkurang. Tak lain tak bukan dikarenakan saya ini kurang bersyukur. Sudah bagus punya tempat tinggal meski harus satu atap dengan para mertua. Ketimbang mereka yang terpaksa tinggal di tenda karena rumahnya ambruk terkena banjir misalnya.

Memang tahun berganti, meski kehidupan bukan lantas jadi baru. Terkadang hanya melanjutkan tugas-tugas yang belum selesai. Tugas tahun depan untuk saya sendiri sebelum mendaftar proyek pribadi yang lain adalah melanjutkan lagi salah satu proyek pribadi yang sudah saya ceritakan di atas. Tentu harus bisa dong karena saya seorang ibu. Seorang ibu harus bisa membahagiakan diri sendiri dulu sebelum mampu membahagiakan anak-anak dan suami bukan. Tim SAR aja harus mampu menolong dirinya sendiri dulu, minimal tahu dulu jalan pulang sebelum menemukan korban hilang. Nggak mungkin kan terjun bebas trus nanti risikonya ilang bareng. Dokter pun harus menolong dirinya dulu sebelum menolong pasiennya yang sekarat.

Nah kan, ketika saya nulis ini saya jadi ingat. Sebelum nikah, psikolog yang saya sempat temui juga sempat menasihati bahwa kunci dari menjalani rumah tangga adalah kemampuanmu membahagiakan diri sendiri, dan masih banyak lagi. Yang akhirnya saya simpulkan: jangan begitu saja menyederhanakan makna pernikahan dengan memperoleh kebahagiaan (pribadi) semata. Mangkanya Islam menyebut pernikahan sebagai jalan menyempurnakan separuh agama. Bukan menyempurnakan daftar impian ketika masih lajang. Mungkin saja saya sempat lupa tentang itu karena kesibukan dan perubahan pola hidup yang berubah drastis sejak hamil dan jadi ibu rumah tangga. Perubahan pola hidup yang drastis terkadang bikin manusia jadi lupa hal-hal penting bukan?

Selamat Milad yang Pertama Kekasih Kecilku :)

Ada ribuan kelahiran di dunia setiap hari, tapi moment melahirkan memang selalu jadi keajaiban bagi seorang ibu. Termasuk bagi saya, yang sejak Satya lahir, saya jadi seperti tengah menjalani sejenis kehidupan dengan alasan dan tujuan yang lebih jelas.

Saya pun mengerti, menjadi ibu adalah tentang kasih sayang tulus dan tak berbatas meski sering kali tak diakui. Menjadi ibu adalah pembelajaran ngemong banyak orang demi kebaikan anak meski sering kali gagal karena anak ternyata selalu lebih utama, bahkan ketimbang diri sendiri. Menjadi ibu adalah tentang menjadi asing karena seluruh kebaikan yang dilakukan untuk sang anak selalu saja berbeda dengan cara orang lain, meski demikian ia tentu tetap tak tergoyahkan. Menjadi ibu adalah tentang kehilangan hari-hari istimewa lain karena baginya hari kelahiran anaknya telah menjadi hari terpenting sedunia.

Selamat hari lahir kekasih kecilku. Tentu saja seperti doa-doa yang terucap setiap waktu, Bunda selalu berharap semoga Allah selalu menjagamu dari segala keburukan di dunia maupun di akherat. Semoga selalu sehat dan sejahtera. Semoga engkau selalu tumbuh dan berkembang di lingkungan yang mendukungmu untuk menjadi anak yang shaleh. Amin.

Jendela

Jendela melengkapi satu kelemahan manusia. Jendela adalah mata yang bisa melihat ke luar dan ke dalam sekaligus. Pada saat bersamaan, ketika melihat jauh ke luar jendela, kita melihat jauh ke dalam diri kita.
—Aan Mansyur

Ketika kusadar bahwa jendela adalah benda terdekat dari keseharianku

Resensi Novel Tip of Bones

Tip of Bones

Tip of Bones

Judul: Tip of Bones, A Strange Night After The Date
Penulis: Jacob Julian
Penerbit: De Teens
Cetakan: Pertama, Oktober 2014
Editor: Nonov
ISBN: 978-602-255-579-7

Dua orang remaja bernama Neil dan Beatrix tengah berkencan di sebuah taman pada malam hari. Di tengah jalan mereka melihat keanehan, sebuah rumah terbakar lalu padam seketika dengan cara yang tak wajar. Tak lama kemudian Beatrick tiba-tiba hilang dibawa pergi sebuah bayangan. Neil terkejut dan kebingungan. Sebisa mungkin ia harus menemukan kembali pacarnya yang hilang. Sementara kota terlihat kacau dengan datangnya makhluk-makhluk yang berbentuk menyeramkan. Demikian cerita ini bermula.

Neil mengalami perjalanan yang panjang dan membingungkan. Ia bertemu dengan dua makhluk berwujud merpati dan anjing ras husky berkelahi satu sama lain ketika ia menerobos rumah aneh yang terbakar tadi untuk mencari kekasihnya. Merpati dan anjing itu jelmaan dua sosok berfisik manusia. Mereka adalah dua makhuk penjaga dunia bawah dan atas. Seaman adalah penjaga dunia atas sedangkan Syamalan penjaga dunia bawah. Neil mengejar mereka dan mencari tahu hingga menemukan bahwa bumi tengah menuju kehancuran karena kecerobohan Seaman dan Syamalan.

Lalu datang sosok lain menolong Neil ketika akan ditangkap oleh salah satu makhluk buas. Sosok itu berwujud pak tua yang berpenampilan seperti gelandangan yang menunggangi seekor kerbau. Pak Tua yang misterius itu mengatakan pada Neil bahwa hanya ada satu cara untuk mengakhiri kekacauan itu dan menemukan kekasihnya, yaitu dengan menemukan sebuah tulang.

Demi mencari tulang yang masih misterius itu, Neil, Seaman dan Syamalan harus menghadapi makhluk jahat bernama Amon, makhluk yang selama ini menjelama Wali Kota Chuck yang dicurigai menyimpan benda itu. Namun ternyata bukan Amon yang membawanya.

Barangkali cukup sulit memahami cerita yang bagian pendahuluannya terlalu cepat sebelum sampai bagian konflik. Sebetulanya saya kurang bisa menikmati teknik bercerita yang semacam ini, kecuali bila sebelumnya sudah ada novel yang mendahului, semacam novel serial yang setiap serinya memiliki kaitan.

Membaca novel ini saya harus berusaha akrab dengan tokoh-tokohnya, meski belum menemukan greget hingga setengah lebih bagian novel. Terkadang muncul pertanyaan, mengapa segala kekacauan yang mirip kiamat itu seolah harus terhenti karena seorang manusia bernama Neil? Mengapa Beatrix begitu berharga untuk diselamatkan oleh dua penjaga dunia atas dan bawah? Mengapa tokoh seperti Neil dan Beatrix yang tak terlalu memiliki keistimewaan dibanding penduduk lain memiliki peran penting menyangkut masa depan bumi?

Dilihat dari karakter tokoh-tokohnya, Neil digambarkan memiliki karakter kuat seperti kepedulian, kasih sayang, dan kegigihan. Terbukti ia memiliki keberanian untuk menemukan kekasihnya bahkan dengan cara menghadapi makhluk jahat meski tanpa keahlian apa pun. Barangkali sifat itu yang mengesankan para makhluk aneh di novel ini. Namun di samping itu, ia juga remaja biasa yang labil, sedikit ceroboh, dan cenderung keras kepala. Sementara Beatrix hanya muncul di awal dan akhir sehingga kurang terjelaskan karakternya dengan lengkap. Sedangkan karakter Seaman dan Syamalan menurut saya lebih menggambarkan sisi manusiawi ketimbang makhluk di luar manusia, seperti sifat ceroboh, pemarah, ataupun belas kasihan.

Namun setidaknya dalam bab selanjutnya penulis telah berusaha menjelaskan point-point yang membuat ia dipertimbangkan sehingga menjadi makhluk yang istimewa dengan ending yang tidak terlalu buruk. Ceritanya bahkan diakhiri dengan obrolan menarik antara Neil dan Pria Tua yang misterius tersebut tentang peristiwa yang tengah terjadi berhubungan dengan ide-ide penciptaan.

Unsur setting penting dalam bangunan cerita untuk menguatkan pemahaman dan imajinasi pembaca. Perihal setting, menurut saya deskripsi lokasi dan suasannya sudah cukup bagus dan detail. Namun akan lebih baik bila dilengkapi dengan nama kota/negara meskipun tidak ditemukan dalam peta. Saya sendiri masih bertanya-tanya, suasana yang seperti digambarkan dalam novel Tip Of Bones terinspirasi dari negara/kota mana.

Perihal teknik seperti layout dengan corak dan gambar di halaman-halaman tertentu menurut saya menarik sehingga pembaca tidak bosan. Begitu juga dengan cover sudah cukup sesuai namun mungkin sedikit kurang mencerminkan isi novel yang cenderung bertema petualangan ketimbang horor. Hanya ada sedikit terkait kebahasaan yang sepertinya perlu diperbaiki lagi, seperti kata “memperhatikan” seharusnya memerhatikan, “supir” semestinya sopir, “berhembus” yang benar adalah berembus, dan sebagainya.

Bagaimanapun novel ini cocok dibaca mereka yang menyukai genre fiksi fantasi.