Para Perempuan dalam Dunia Alice: Review Novel Karya Alice Pung

Judul: Dunia Alice
Penulis: Alice Pung
Penerbit: Bentang Pustaka
Tahun Terbit: Cetakan Pertama, Februari 2011
Jumlah Halaman: viii + 310 halaman
ISBN: 978-602-8811-26-2

 

“Waaaahhh …,” nenek menyeletuk takjub saat melihat mobil berhenti dan menaikkan seorang penumpang.

Celetukan semacam itu sangat kerap terlontar dari mulut Alice dan keluarganya. Sebagai pendatang baru, kehidupan di Australia penuh dengan kejutan. Mobil bertebaran di mana-mana, dan mereka tak menolak berhenti hanya untuk seorang nenek tua! Di Kamboja, asal mereka, hal semacam itu jelas tidak mungkin.

Kejutan yang luar biasa mereka temukan justru di supermarket. Di rak, berderet daging kaleng dijual dengan harga sangat murah. Merasa girang, mereka membelinya beberapa.

Hari itu makan malam mereka istimewa, hingga televisi memperlihatkan sebuah iklan daging kalengan. Astaga! Ternyata daging yang mereka beli adalah makanan anjing.

Dunia Alice menuturkan kehidupan sebuah keluarga imigran Kamboja di negeri baru, Australia. Kocak dan menggelitik, novel ini benar-benar menghibur sampai ke sumsum tulang belakang Anda.

Saya selalu percaya setiap manusia memiliki dunia yang menarik untuk diceritakan bila saja mereka bisa berbagi dalam sebuah buku. Seperti halnya Alice Pung yang kali ini berbagai melalui novelnya yang berjudul Unpoliced Gem, yang setelah diterjemahkan versi Indonesia berjudul Dunia Alice. Buku yang tak sengaja dipinjam adik saya dari Perpustakaan Daerah ini rupanya menarik sekali.
Kebetulan saya juga senang membaca sejenis buku autobiografi atau semacam buku harian. Dunia Alice bercerita tentang kisah dirinya dan keluarga yang bermigrasi dari Kamboja pada masa konflik era Pol Pot. Alice baru lahir setelah keluarganya pindah. Ia tumbuh besar di negeri baru tersebut.

Dunia yang ia simak dan alami sejak kecil hingga memasuki masa dewasa adalah dunia yang cukup berwarna. Lewat kehidupan sehari-hari yang dialaminya, Alice kecil bercerita tentang generasi sang nenek yang menyatu dengan tradisi dan kemudian tentang ibunya yang lebih banyak dilatarbelakangi oleh peristiwa konflik. Alice lahir dari etnis Cina dengan keluarga yang selalu berjuang mempertahankan tradisi. Dengan daya kritisnya, ia menggambarkan nuansa culture shock yang dialami keluarganya di tengah kehidupan maju dan bebas seperti di Australia. Ia menuliskan berbagai perbedaan cara hidup keluarganya yang taat adat dan masyarakat negara yang ditempatinya dengan sekilas-sekilas. Dan secara tak langsung pula, Alice seakan membagi sekelumit pandangan seputar pengasuhan orang tua ala Asia, kebiasaan masyarakat, opininya mengenai negara yang ditinggali, beberapa kisah tragis negeri yang ditinggalkan menurut cerita nenek dan ayah meski dengan cara humor, hingga cerita lucu dan romantis ketika jatuh cinta pertama kali dengan seseorang yang berbeda etnis dan asal negara di kemudian hari.

Menurut saya, banyak hal menarik di buku ini yang sayang untuk tidak dibocorkan, beberapa di antaranya adalah:

Pertama,
Alice kecil akrab dengan perseteruan orang-orang dewasa. Di benaknya, orang dewasa adalah manusia-manusia rumit. Seperti iklim umum di keluarga Asia, ibu mertua bahkan jarang sekali dapat sehati dengan menantu perempuan. Alice kecil tentu tidak memiliki bahasa yang tepat untuk menyampaikan betapa itu tidak menyenangkan, kecuali hanya diam. Baik nenek maupun ibunya tentu dua orang yang sama berharganya. Di samping itu, biasanya figur anak-anak adalah nenek-kakeknya karena mereka cenderung lebih luwes. Demikian juga dengan Alice yang bahkan merasa bahwa semestinya neneknya hidup selamanya untuk dia sebab hanya neneknya yang mengatakan hal-hal baik tentangnya dan membuatkannya telur rebus setiap pagi. Sedangkan orang tuanya, terutama ibu yang telah sibuk bekerja dan mengurus anak-anak, selalu bersikap keras kepadanya dan jarang memiliki waktu untuk sekadar mengobrol.

“Seorang tidak ada yang mengingatkanku untuk bangga menjadi bagian dari kebudayaan yang berumur seribu tahun, tak seorang pun mengatakan bahwa aku ini emas dan bukannya kuning.” (h. 210)

Alice kecil juga merupakan anak-anak biasa yang memiliki bermacam tingkah konyol. Ia pernah punya kutu di rambutnya sehingga dijauhi teman-teman dan sepupunya. Suatu hari ia berkunjung ke rumah sepupu untuk bermain, namun para sepupu malah bersembunyi dan tak mau menemui Alice. Terbit ide iseng Alice dengan berbaring di karpet sepupunya dan membayangkan kutu-kutu tersebut menyerbu sela-selanya sehingga kelak menulari mereka.

Kedua,
Setelah beranjak remaja (mulai menstruasi), kebanyakan orang tua Asia (tradisi Timur) akan mendoktrin bahwa di luar sana laki-laki adalah penjahat yang sewaktu-waktu dapat memperkosamu di jalan. Bila kamu tidak perawan lagi, maka kamu tidak akan punya suami dan menikah yang layak, atau akan dianggap “benda” yang telah rusak. Seperti halnya orang tua Alice yang selalu mewanti-wanti dengan tegas untuk waspada dan jangan dekat-dekat dengan laki-laki. Dan itu salah satu cara orang tua khas Timur melindungi dan memberikan pendidikan moral pada anak-anaknya.

Suatu ketika Alice remaja menerima telepon dari teman laki-laki untuk pertama kali. Peristiwa itu membuatnya depresi karena seluruh orang berpikir hal terburuk tentang dia. Akhirnya karena peristiwa ditelepon cowok itulah, ia pun dihukum orang tuanya untuk menghabiskan seluruh waktu liburan di dalam kamar. Ditelepon seorang laki-laki adalah aib dan hal besar bagi remaja putri yang akan membuatnya jadi bulan-bulanan seluruh keluarga dan bahan gunjingan para tetangga. Hal ini agak berkebalikan dengan aturan orang tua ketika Alice beranjak dewasa, karena justru ia diharuskan membuka diri untuk mencari calon suami yang tepat.

Yang kauinginkan di usia lima belas tahun adalah memiliki pacar, dan bukan memilih calon ayah anak-anakmu di masa depan. Yang diinginkan pemuda berusia lima belas tahun adalah diterima cintanya oleh si gadis, dan mungkin lebih kalau ia beruntung–bukan memilih calon menantu untuk ibunya. (h. 110)

Alice memang tumbuh jadi remaja yang penakut tatkala dewasa, ragu, tak percaya diri, namun ada sisi kepribadian kuat di dalamnya yang membuatnya mampu bertahan di dalam setiap masalah. Alice Pung seakan menunjukkan bahwa didikan keras ala masyarakat Timur tidak selalu buruk. Ia berhasil menunjukkan dirinya sebagai orang yang memiliki sifat tangguh justru karena didikan itu.

Ketiga,
Alice hadir dari tradisi bernilai patriakhat di mana anak lelaki lebih berharga daripada anak perempuan, hal itu ditunjukkan dalam kisah masa lalu nenek Alice ketika menikah dengan sang kakek. Dalam tradisi ketimuran yang dipaparkan Alice Pung, tak peduli bila seorang perempuan sukses pendidikan ataupun pekerjaan, jika tidak bisa mengerjakan pekerjaan domestik, tak punya penghasilan, dan tak bisa punya anak lelaki maka ia adalah perempuan tak berguna sehingga tak layak dinikahi.  Namun kedatangan mereka ke negeri semacam Aussi mengubah sedikit cara berpikir. Di buku ini saya banyak menemukan cerita kocak seputar perjodohan dan pernikahan yang bisa direnungkan sekaligus cukup menghibur.

Ketika dewasa Alice menyadari bahwa semua lelaki tidak sama seperti gambaran orang tuanya ketika remaja, ia menemukan Michael yang mengingatkannya akan karakter santun, romantis, dan sedikit rapuh seperti tokoh-tokoh dalam karya sastra yang sering dibacanya. Pendidikan formal, bahan bacaan, sekaligus lingkungan pergaulan semasa belianya membuat Alice juga begitu sering mengkritisi pria-pria asal budayanya sendiri. Ia tentu menemukan perbedaan mencolok mengenai gambaran lelaki dalam doktrin orang tuanya dengan lelaki dalam buku-buku dan pergaulan di sekolahnya. Tak hanya itu, lewat pengetahuan yang ia simpan dalam sifat introvertnya, ia pun mengkritisi pria model Barat yang baginya bersikap terlalu berlebihan sebagai wujud kesadaran atas keperempuannya yang utuh dan tak terjebak arus. Menunjukkan bahwa ada sisi feminis dalam diri Alice yang menarik untuk dikaji.

Saya juga suka pandangan Alice ketika berbicara perihal kesetaraan gender. Ia selalu mengalami perang batin dan keterasingan yang membuat saya tersenyum geli, merasa pernah di posisi itu. Salah satunya ketika berhadapan dengan kebiasaan wanita Barat mencium teman-teman prianya setiap bertemu. Terutama ketika melihat langsung para wanita berkontak fisik dengan Michael, pacarnya, meski ia bersikap menerima dan tak ingin terlihat mengawasi kekasihnya.

Secara sekilas ia juga mengkritisi sikap Gemma, salah satu teman Michael, yang mewakili para wanita Barat yang mencoba menjadi feminis negara dunia ketiga.

Kalau mereka menghormatimu, mereka akan mengurangi cium-cium, kau tahu, kataku pada diriku sendiri, lagi pula kau pacarnya. (h. 272)

Hal itu menunjukkan karakter Alice yang terbuka dengan hal-hal baru namun tetap menghargai tradisi aslinya sendiri. Ia tipe pendatang dari Timur yang cukup kritis yang tak asal mengikuti cara Barat.

Keempat,
Sejak pindah ke Austarlia, ibunya mengalami culture shock lebih parah daripada anggota keluarga yang lain. Ia pun menyebut masyarakat kaukasoid sebagai hantu putih yang begitu berbeda dunia dengan mereka. Ia juga tak bisa berbahasa Inggris sehingga membuatnya asing di antara orang-orang di sekitarnya, terlebih ketika Alice, Ayah, dan anggota keluarga lain pada akhirnya fasih berbahasa tersebut dan sesekali menggunakananya ketika makan bersama. Membaca Dunia Alice, membuat saya jadi ikut hanyut dalam pergantian suasana yang disuguhkan.

Diceritakan bahwa sang ibu adalah sosok workaholic, ia merasa hidupnya runtuh dan tak berarti setiap kehilangan pekerjaan dan pendapatan, meskipun sebetulanya dengan pekerjaan sang suami yang cukup bagus, ia bisa juga tidak perlu bekerja. Hal itu membuat setiap anggota keluarganya memberikan permakluman yang luas. Dengan kesibukan sang ibu berbisnis atau bekerja di luar rumah itu, Alice pun menggantikan pekerjaan domestik dan mengasuh adik-adiknya. Sosok ibu menurut saya cukup menarik, meskipun memiliki sisi keras dan kaku, ia merepresentasikan perempuan Asia yang gemar bekerja keras dan tak ingin selalu tergantung pada suaminya. Bahkan seolah tak ingin tergantung pada keluarga besarnya. Saya kira, itu salah satu gagasan besar dalam novel ini. Mengingat banyak tokoh perempuan yang lebih banyak dipaparkan dalam novel ini ketimbang tokoh prianya. Sedikit banyak, novel ini yang seperti mengingatkan saya pada ciri khas perempuan feminis.

Secara tidak langsung membaca novel ini membuat saya dapat mengenal akrab, tak hanya seorang Alice, tapi seperti apa kehidupan imigran Kamboja dengan segala keetnisan dan budayanya itu harus tinggal di negeri seperti Melbourne Australia. Dan lebih dari itu, saya menikmati cara berpikir salah satu penulis mudah perempuan ini yang sedikit banyak tidak melepaskan unsur kritik sosial dan tradisi, yang melesat lebih maju daripada nilai-nilai lama ala keluarga asalnya.

Memang tidak mudah bertahan dalam bacaan yang jenis uraiannya panjang-panjang, namun ketika terus membacanya, saya justru banyak menemukan hal-hal yang dapat dipetik, seperti bahwa menjadi warga negara “dunia ketiga” memang cukup menantang. Novel ini dituturkan dalam bahasa yang runut dan meski beberapa kali menemukan hal yang mesti dibaca ulang karena saya tidak terlalu terbiasa membaca kalimat terjemahan yang rumit. Hal lain yang menarik adalah ketika sampai pada bab masa pacaran, Alice Pung menunjukkannya dengan deskripsi dan pembukaan yang tidak langsung sehingga pembaca dapat memahami dengan cara sendiri dan bebas memberikan penilaian.

Dari segala keistimewaan dan isi yang dapat ditemukan di novel ini, tak heran bila Dunia Alice terpilih sebagai Newcomer of The Year Award tahun 2007, kemudian masuk dalam kategori NSW Premier Literary Award dan Booksellers Choice Award.

Rangkaian kisah hidup yang terinspirsai kisah nyata penulis ini rasanya membuat saya beruntung telah membacanya.

sahabat

Hampir setiap hari, ibu-ibu lansia seusia Mbah Uti berkumpul di rumah, mereka ngobrol hingga berjam-jam, terkadang saling pijit atau minta dikerik kalau ada yang sakit. Mereka berbicara tentang banyak hal dengan blak-blakan dan kocak. Setiap hari, seperti yang kuceritakan di postingan dulu, rumah ini justru ramai karena komunitas kecil itu. Setiap hari terdengar tawa dan guyon. Rumah kecil simbah yang berdempetan dengan kamarku. Tapi lebih dari itu, persahabatan mereka membuatku sedikit iri. Mereka bahkan beberapa kali travelling bersama ke luar kota dengan dana pensiun masing-masing tanpa ditemani cucu atau anak-anak. Memang punya sahabat yang dapat ditemui kapan pun adalah berkah tersendiri, yang tak dimiliki semua orang. Teman-teman terdekat yang barangkali akan selalu di samping kita hingga pada waktunya kita akan pergi untuk selamanya.

Aku jadi ingat, ada yang mengatakan (saya lupa di situs mana) bahwa bila engkau sudah bersahabat dengan seseorang selama 7 tahun, ia akan menjadi sahabatmu selamanya. Betapa beruntungnya. Tapi tentu, setiap orang akan memilkinya dengan jumlah yang tak sama. Bahkan sedihnya, ada pula yang tak memilikinya sama sekali. Dan mungkin saja memang benar, kita hanya butuh beberapa gelintir sahabat sejati yang akan bersama kita selama hidup.

Terkadang aku bertanya, apakah itu sahabat sejati? Barangkali bukan mereka yang dipersatukan karena sama-sama punya gadget dan hobi belanja, bukan yang hanya punya niat nyari utangan dan kabur, bukan mereka yang ternyata hanya membawa “modus” tertentu, bukan sekadar karena sama-sama masih single dan galau, bukan juga mereka yang tiba-tiba pergi begitu kita menikah, tapi mereka yang memang benar-benar akan selalu ada dalam bahagia dan duka. Manusia takkan bisa bertahan dalam kondisi yang berubah-ubah seperti yang biasa kita alami. Bukankah terkadang kita mengalami hal indah dan kelam selama hidup? Bahkan ketika berbahagia pun kita butuh keluarga dan sahabat-sahabat untuk ikut tersenyum bersama.

Barangkali sahabat memang tidak ditemukan semudah kita menemukannya di serial Harry Potter, seperti halnya seorang kekasih, tapi ia bagian dari proses hubungan kita terhadap mereka yang kini masih bersedia berteman sekacau apa pun kondisi kita hari ini. Dan kurasa sahabat juga tentang siapa pun: teman main, teman senam, ibu atau ayah kita, teman nge-blog, pasangan kita, atau seekor kucing. Aku selalu tak pernah menyesali bila hubunganku dengan teman-temanku berkembang jadi sahabat abadi melalui berbagai proses itu. Dan anggaplah barangkali ini hanya tulisan yang didorong rasa sepi dan rindu memiliki teman-teman dekat yang selalu ada dalam hidup kita.

yang akan selalu menerima dan menyayangi kelak hingga kulit kita keriput dan beraroma minyak kayu putih.

Surat Ketujuhbelas: Kamar Loteng

Hai Isha’,

Barangkali sudah pernah kuceritakan dalam surat yang kukirim padamu, yang kuhanyutkan di aliran air, ketika hujan deras tiba. Aku pernah tinggal di sebuah istana kecil, tepatnya sebuah kamar di loteng, di mana aku merasa begitu nyaman dan begitu “aku” di sana. Sejak tahun 2010 akhir, aku harus pindahan karena ayahku membuatkan kamar baru di dekat kebun, yang mirip sebuah rumah kecil yang kutinggali hingga sekarang, yang mungkin sebentar lagi tidak.

Tapi entah bagaimana tiba-tiba malam ini rasanya aku rindu tidur di lotengku dulu. Maka bila rasanya percuma aku memaksakan diri untuk tidur, kupikir sebaiknya aku mengunjungi kamar itu.
Semua orang sudah tidur. Perlahan dan hati-hati kunaiki tangga kayu yang menuju ke sana. Tentu saja aku tak bisa kemonyet-monyetan lagi seperti dulu. Aku tiba-tiba teringat begitu cepatnya kuturuni anak tangga ini ketika terjadi gempa Jogja 2006 silam mirip seperti tentara sedang latihan perang. Aku takkan segesit itu lagi bila gempa seperti dulu datang malam ini.

Lama sekali kamar lotengku itu berubah jadi gudang kedua. Tapi seminggu yang lalu adik bungsuku menyulapnya kembali jadi ruang perpustakaan, tempat membaca, atau sejenisnya. Yang jelas memang benar settingan baru di tempat ini bisa menyelamatkan siapa pun dari penat. Atapnya yang berbentuk miring memang telah lama dilapisi tripleks di bagian dalam, mengikuti bentuknya. Kini, dilapisi kertas motif batik sehingga terasa berbeda. Bagian dinding kayu telah dicat ulang. Ada sebuah meja kecil dan sebuah rak yang baru diiisi buku-buku tua berbahasa Belanda, juga buku-buku adikku yang lain yang baru dipindah sebagian di sini. Ada karpet dan bantal juga kini lebih lengang karena hanya benda-benda itu yang ada di sana tapi lebih rapi dan tentu saja bersih, karpet ini bisa difungsikan untuk rebahan dan tidur. Jendela yang menghadap depan kini tidak lagi dibiarkan terbuka dan hanya ditutupi gorden transparan. Kini ditutupi papan tulis bekas dan hanya dibuka kala siang. Kamar ini memang telah berubah. Dari kamar, gudang, sekarang ruang belajar dan bersantai.

Teringat masa dulu, kamar lotengku ini berantakan. Ada sebuah kasur busa yang hanya dialasi karpet, 2 meja kecil, kardus-kardus berisi berkas kliping dan kertas penuh coretan, ada dua rak buku yang isinya tak karuan, sebab buku-buku dan kertas, juga benda-benda lain yang cenderung hanya hiasan berkumpul jadi satu dan jarang sekali ditata ulang. Belum lagi harus kuberi ruang untukku menggelar sajadah dan salat, juga ada kipas angin kecil yang selalu kupindah-pindah karena aku tak betah di ruang bersuhu panas. Ada kala setiap teman-temanku datang, mereka takjub, menyadari bahwa bukan hanya mickey mouse yang betah tinggal di loteng yang berbentuk antik begini.

Berada di sini memang membuatku terbang sejenak ke masa lalu, juga perjalanku menuju sekarang. Di kamar inilah aku menjatuhkan diriku di kasur dengan begitu bahagia karena pendadaranku berhasil dan dapat nilai A+. Di tempat ini aku mulai mengumpulkan coretan dan draft-draft tulisan yang sekarang entah di mana, mulai membaca buku-buku berat, dan di kamar ini dulu aku rajin menulis buku harian, kebiasaan yang pudar sejak aku pindah kamar. Di ruang ini pula sesekali aku melihat dunia luar lewat jendela. Sungguh aku begitu berdamai dengan dunia yang hanya diisi olehku sendirian. Di kamar ini tersimpan segala ingatan yang berbuku-buku rasanya bila dituliskan, sebab aku memang banyak berpikir dan begitu sering melamunkan banyak hal.

Aku merasa rindu dengan kamar ini dan rasanya malam ini aku ingin berada di sini, juga sendirian. Menunggu kantukku tiba, aku akan membaca salah satu novel yang pernah kubeli dan belum sempat kubaca. Novel yang judulnya begitu panjang “Surat Panjang tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya” yang kebetulan pernah memenangkan Sayembara Novel DKJ tahun 2012.

Demikianlah bila aku melarikan penat dan tak seorang pun dapat diajak bicara dan mengerti. Aku yakin, pada dinding-dinding kamar loteng ini, segala masalah dan gajalan akan selesai dengan sendirinya, seperti yang sudah-sudah.

Jendela

Jendela melengkapi satu kelemahan manusia. Jendela adalah mata yang bisa melihat ke luar dan ke dalam sekaligus. Pada saat bersamaan, ketika melihat jauh ke luar jendela, kita melihat jauh ke dalam diri kita.
—Aan Mansyur

Ketika kusadar bahwa jendela adalah benda terdekat dari keseharianku

Resensi Novel Tip of Bones

Tip of Bones

Tip of Bones

Judul: Tip of Bones, A Strange Night After The Date
Penulis: Jacob Julian
Penerbit: De Teens
Cetakan: Pertama, Oktober 2014
Editor: Nonov
ISBN: 978-602-255-579-7

Dua orang remaja bernama Neil dan Beatrix tengah berkencan di sebuah taman pada malam hari. Di tengah jalan mereka melihat keanehan, sebuah rumah terbakar lalu padam seketika dengan cara yang tak wajar. Tak lama kemudian Beatrick tiba-tiba hilang dibawa pergi sebuah bayangan. Neil terkejut dan kebingungan. Sebisa mungkin ia harus menemukan kembali pacarnya yang hilang. Sementara kota terlihat kacau dengan datangnya makhluk-makhluk yang berbentuk menyeramkan. Demikian cerita ini bermula.

Neil mengalami perjalanan yang panjang dan membingungkan. Ia bertemu dengan dua makhluk berwujud merpati dan anjing ras husky berkelahi satu sama lain ketika ia menerobos rumah aneh yang terbakar tadi untuk mencari kekasihnya. Merpati dan anjing itu jelmaan dua sosok berfisik manusia. Mereka adalah dua makhuk penjaga dunia bawah dan atas. Seaman adalah penjaga dunia atas sedangkan Syamalan penjaga dunia bawah. Neil mengejar mereka dan mencari tahu hingga menemukan bahwa bumi tengah menuju kehancuran karena kecerobohan Seaman dan Syamalan.

Lalu datang sosok lain menolong Neil ketika akan ditangkap oleh salah satu makhluk buas. Sosok itu berwujud pak tua yang berpenampilan seperti gelandangan yang menunggangi seekor kerbau. Pak Tua yang misterius itu mengatakan pada Neil bahwa hanya ada satu cara untuk mengakhiri kekacauan itu dan menemukan kekasihnya, yaitu dengan menemukan sebuah tulang.

Demi mencari tulang yang masih misterius itu, Neil, Seaman dan Syamalan harus menghadapi makhluk jahat bernama Amon, makhluk yang selama ini menjelama Wali Kota Chuck yang dicurigai menyimpan benda itu. Namun ternyata bukan Amon yang membawanya.

Barangkali cukup sulit memahami cerita yang bagian pendahuluannya terlalu cepat sebelum sampai bagian konflik. Sebetulanya saya kurang bisa menikmati teknik bercerita yang semacam ini, kecuali bila sebelumnya sudah ada novel yang mendahului, semacam novel serial yang setiap serinya memiliki kaitan.

Membaca novel ini saya harus berusaha akrab dengan tokoh-tokohnya, meski belum menemukan greget hingga setengah lebih bagian novel. Terkadang muncul pertanyaan, mengapa segala kekacauan yang mirip kiamat itu seolah harus terhenti karena seorang manusia bernama Neil? Mengapa Beatrix begitu berharga untuk diselamatkan oleh dua penjaga dunia atas dan bawah? Mengapa tokoh seperti Neil dan Beatrix yang tak terlalu memiliki keistimewaan dibanding penduduk lain memiliki peran penting menyangkut masa depan bumi?

Dilihat dari karakter tokoh-tokohnya, Neil digambarkan memiliki karakter kuat seperti kepedulian, kasih sayang, dan kegigihan. Terbukti ia memiliki keberanian untuk menemukan kekasihnya bahkan dengan cara menghadapi makhluk jahat meski tanpa keahlian apa pun. Barangkali sifat itu yang mengesankan para makhluk aneh di novel ini. Namun di samping itu, ia juga remaja biasa yang labil, sedikit ceroboh, dan cenderung keras kepala. Sementara Beatrix hanya muncul di awal dan akhir sehingga kurang terjelaskan karakternya dengan lengkap. Sedangkan karakter Seaman dan Syamalan menurut saya lebih menggambarkan sisi manusiawi ketimbang makhluk di luar manusia, seperti sifat ceroboh, pemarah, ataupun belas kasihan.

Namun setidaknya dalam bab selanjutnya penulis telah berusaha menjelaskan point-point yang membuat ia dipertimbangkan sehingga menjadi makhluk yang istimewa dengan ending yang tidak terlalu buruk. Ceritanya bahkan diakhiri dengan obrolan menarik antara Neil dan Pria Tua yang misterius tersebut tentang peristiwa yang tengah terjadi berhubungan dengan ide-ide penciptaan.

Unsur setting penting dalam bangunan cerita untuk menguatkan pemahaman dan imajinasi pembaca. Perihal setting, menurut saya deskripsi lokasi dan suasannya sudah cukup bagus dan detail. Namun akan lebih baik bila dilengkapi dengan nama kota/negara meskipun tidak ditemukan dalam peta. Saya sendiri masih bertanya-tanya, suasana yang seperti digambarkan dalam novel Tip Of Bones terinspirasi dari negara/kota mana.

Perihal teknik seperti layout dengan corak dan gambar di halaman-halaman tertentu menurut saya menarik sehingga pembaca tidak bosan. Begitu juga dengan cover sudah cukup sesuai namun mungkin sedikit kurang mencerminkan isi novel yang cenderung bertema petualangan ketimbang horor. Hanya ada sedikit terkait kebahasaan yang sepertinya perlu diperbaiki lagi, seperti kata “memperhatikan” seharusnya memerhatikan, “supir” semestinya sopir, “berhembus” yang benar adalah berembus, dan sebagainya.

Bagaimanapun novel ini cocok dibaca mereka yang menyukai genre fiksi fantasi.