Pulang, by Float

Dan lalu…
Rasa itu tak mungkin lagi kini
Tersimpan di hati
Bawa aku pulang, rindu!
Bersamamu!

Dan lalu…
Air mata tak mungkin lagi kini
Bicara tentang rasa
Bawa aku pulang, rindu!
Segera!

Jelajahi waktu
Ke tempat berteduh hati kala biru

Dan lalu…
Sekitarku tak mungkin lagi kini
Meringankan lara
Bawa aku pulang, rindu!
Segera!

Dan lalu…
O, langkahku tak lagi jauh kini
Memudar biruku
Jangan lagi pulang!
Jangan lagi datang!
Jangan lagi pulang, rindu!
Pergi jauh!

 

 

Dan lalu…
Dan lalu…

I can be your hero, baby.
I can kiss away the pain.
I would stand by you forever.
You can take my breath away.

imaji sunyi

kita perlu membaca hutan rahasia
yang barangkali butuh ketegaran Sapardi memaknai hujan di atas baris perasaannya
kita mungkin harus menggali kedalaman tanya, yang
barangkali butuh serasional Afrizal Malna menduniakan sajaknya,
membentuk geometri keterhubungan

kita tak butuh redaksi
memotongi segalanya selagi belum utuh kepingannya
maka jalanilah waktu, selama kita bisa menghubungkan jalan yang bersebrangan itu
:aku tak peduli, meski kita membawa makna takdir dalam sudut yang tak serupa

mungkin kita perlu pahami isyarat sajak
meski semua bahasa belum pasti bisa menjamah arti
maka kita perlu mengkaji cara Sutardji
memunguti sekeping apapun tanda
membentuk segala bentuk

atau kita adopsi saja retorika ala Ismail Marzuki,
lalu kita bentengi zaman yang kelak terganti
kita perangi segala hal yang hitam menggarang
namun kita pun mesti hancur
dan tak butuh untuk saling mengenang

sesekali, kita perlu menguji kedalaman makna alam, melalui kecintaan Soe Hok Gie terhadap pucuk-pucuk edelweis,
atau keliaran Chairil, sekedar menelisik sisi gelap keterasingan
lalu kembali pulang pada keterasingan paling asing kala kita menemukan
puncak mahameru hidup kita
lalu usai di sana
kita begitu mencintai hidup, dan kita barangkali memilih mati di dalamnya

sungguh kita hanya samar yang semakin menggelapkan malam
menuju gulita yang begitu bait: jarak
saling bercermin dan memahami
sesederhana mungkin, dan apa yang kita mampu
entah untuk menemui apa di depan sana
sesederhanakah, kadang engkau pun bertanya, tapi kita tak jauh dari kebersamaan yang
begitu candu

usailah percakapan imaji kita di sini, sebab kita mengenal laju waktu
hingga kita saling hilang
engkau pun berpamit pulang dari beranda rumahku
sisa kopi tak lagi terbaca melalui gelas-gelas kosong di atas meja
mimpi kita masih mengepul di atapatap khayali
menahan ingatanku hilang
juga mengusir sebuah rasa yang seharusnya pergi

aku tersenyum di pojok duniaku sendiri
memandangi pertemuan demi pertemuan
mengeja senja demi senja
yang mungkin mengisi bagian lain kuburku
ketika duniaku mulai berbincang tentang akhir perjalanan

23:05