Penantian atau Kebodohan?

sebuah cerita pendek

2012

Di sebuah taman, duduk dua orang permepuan dan laki-laki. Mereka sudah bersahabat cukup lama, 2 tahun.. tidak, mungkin bagi banyak orang, 2 tahun cukup sebentar saja, dibanding mereka yang sudah bersahabat bertahun-tahun. mereka memiliki kegalauan yang sebenarnya hanya menuggu waktu untuk diselesaikan. Ada ketertarikan yang tidka lagi ketertarikan antar dua sahabat, tapi lebih, tentunya ketertarikan antara laki-laki dan perempuan, namun tak satu pun yang berani memulai, terlebih menegaskan. Si permepuan jomblo, sedangkan si laki-laki sudah memiliki pacar sejak 15 tahun yang lalu, dan kini tinggal jauh di luar negeri sana, dan perempuan tahu bahwa laki-laki ini sedang digantung oleh si pacar.

perempuan: aku ingin memastikan satu hal. Aku mencintai kamu. Bagaimana dengan kamu?
laki-laki: aku juga mencintaimu kamu, tapi juga masih mencintai dia…
perempuan: oh, ya aku ngerti. Tenang, kamu boleh milih tentu saja. Tadi aku hanya jujur.
laki-laki: tapi aku pasti akan pilih kamu
perempuan: lho, kenapa?
laki-laki: Karena dia kurasa dia tidak mencintaiku sebaik kamu.
perempuan: Jadi kapan itu?
laki-laki: Maksdmu?
perempuan: Mencintaiku…
laki-laki: tidak sekarang
perempuan: oke, aku mengerti

 

 

2013

laki-laki: Aku banyak bertengkar dengan dia akhir-akhir ini
perempuan: Oh ya? masalah apa?
laki-laki: Karena banyak alasan, banyak masalah yang sulit aku ceritakan
perempuan: Oh.. kalo begitu kamu harus berusaha
laki-laki: sepertinya tidak mungkin. Maukah kamu menemaniku untuk masalah ini
perempuan: Bukankah kamu tahu aku mencintai kamu? Maka aku akan selalu ada buatmu.
laki-laki: trima kasih ya.. kamu baik… kamu memang perempuan terbaik di mataku.
Perempuan: bukan pelarian bukan?
Laki-laki: hehe, kuharap bukan. Aku gak ada pikiran untuk itu.

 

 

2014

laki-laki: Kamu baik, aku pasti mencintai kamu, tapi aku sudah putus kok sama dia..
perempuan: Oh ya? Kenapa kalian putus?
laki-laki: Karena buat apa pacaran lama, bila dia tidak ingin bersamaku lama.
perempuan: Oh begitu. lalu?
laki-laki: Lalu aku harap aku bisa memperbaiki semua, hubungan denganmu
perempuan: Maksudmu kamu sudah mencintaku?
laki-laki: Iya, tapi maaf, untuk saat ini, belum bisa sungguh-sungguh, karena masih ada dia berkelebat di ingatanku.
perempuan: oh tentu, jadi kapan kamu mau mencintai aku?
laki-laki: aku pasti akan mencintai kamu, tp sulit bagiku melupakan luka yang dia torehkan di hatiku
perempuan: ok.

 

 

2015

laki-laki: dia sudah benar-benar hilang dari hidupku dan aku akan memenuhi janjiku untuk mencintaimu sepenuhnya
perempuan: Secepat itu? Benar kamu gak ada komunikasi lagi?
laki-laki: Benar
perempuan: Dan kamu sudah yakin denganku?
laki-laki: Hm… lagi-lagi masih sulit bagiku melupakan dia. Gak mungkin aku mencintai kamu, selama dia masih mengusik ingatanku. Itu akan menyakitimu. Tapi percayalah aku akan berusaha.
perempuan: Oh, kamu belum melupakan dia, kenapa tidak bersamanya saja?
laki-laki: Sebab aku merasa banyak hal menguatkanku untuk tidak bersamanya
perempua: Ok, aku paham.
laki-laki: Kamu mau nunggu aku sebentar lagi?
Perempuan: Akan aku usahakan

 

 

2016

perempuan: Sudah sampai detik ini, apakah kau masih ingat dengannya?
laki-laki: Sejujurnya masih.. bukankah ingatan tidak begitu saja hilang?
perempuan: Ya, kamu benar
laki-laki: Tapi tenang, bagaimana pun hanya kamu perempuan yang aku tuju, aku hanya butuh waktu..
perempuan : Waktu? untuk?
laki-laki: untuk melupakan dia
perempuan: oh tenang saja.


 

2017

laki-laki: aku tak tahu apakah aku sudah benar-benar melupakan dia, tapi aku sudah belajar untuk ada selalu buat kamu
perempuan: tentu. Aku hargai usahamu.
Laki-laki: maukah kamu menyediakan waktu untukku sebentar lagi, agar aku siap deganmu?
Perempuan: tentu, selalu ada waktu.
laki-laki: benarkah?
perempuan: iya, tapi kali ini untuk melupakan kamu dan mencari yang benar-benar mencintaiku
laki-laki: (:O-terkejut) tapi, katanya kamu mau nunggu?
perempuan: sampai kapan? aku sadar, menunggu pria yang masih selalu mencintai mantannya, juga pekerjaan wanita bodoh. udah lima tahun saya mengalah demi menunggu kepastian kita, tapi aku gak tega membuatmu seperti ini.
laki-laki: Kamu merasa tidak tega? Dengaku?
perempuan: Iya. Gak tega karena gara-gara keinginanmu bersamaku, kamu jadi harus bersikeras melupakan mantanmu. Saya prihatin denganmu
laki-laki: tapi aku butuh waktu,
perempuan: sedangkan saya butuh kepastian. dan saya memilih pergi semata karena mencintai kamu juga, gak mungkin kan saya maksain kamu harus cinta sama saya, dan membuatmu merasa harus melupakan cinta sejatimu di masa lalu?
laki-laki : Kita belum benar-benar berusaha,
perempuan: saya sudah. Sejak 2012 lalu
laki-laki: Kamu gak percaya aku? Kamu belum benar-benar yakin dengan usahaku?
perempuan: Bukan. Saya hanya sadar saja. Bahwa setiap pria pasti hanya mencintai satu orang wanita saja, meski ia memiliki banyak harapan. Sejak 2012 lalu, Darl.. kamu berusaha mati-matian melupakan dia dan kamu gak bisa. Tandanya dia tak tergantikan di hati kamu. Tidak akan pernah. Sadarlah dengan itu.
laki-laki: oh, harusnya aku mengerti itu. Maafkan aku (wajah laki-laki membeku, tak lagi bisa menjawab)
perempuan: Tentu. Dan selalu. Kini lupakan saja tentang kita. Kurasa tak akan terlalu membuatmu terbebani, seberat ketika kamu berpisah dengan dia. Jangan khawatir.
laki-laki: lalu bagaimana aku?
perempuan: Maksdnya? Nasibmu?
laki-laki: Iya
perempuan: Sudah kubilang, tenang saja. Bukankah kamu akan menikah usia 45 tahun nanti? Masih ada waktu sekitar 10 tahunan untuk mencari penggantiku. Bye…

 

 

Gadis itu pun berlalu dengan kegemasan luar biasa bertahun ini. Bukan lagi gadis, tapi sudah wanita beranjak tua yang belum menikah juga. Dalam hatinya berbicara, andai kamu lebih banyak menggunakan kata “kita”, andai kamu tak terlalu jujur tentang sulitnya kamu melupakan dia, dan andai kamu banyak meyakinkan aku bahwa kamu benar-benar ingin bersamaku.. aku tidak akan semantap ini untuk pergi meninggalkanmu. Bagaimana pun aku permempuan. Aku tak bisa terus-terusan menjadi ban serep yang entah kapan akan dianggap manusia. Lagipula cinta gak bisa dipaksakan, dan aku bukan tipe pemaksa.

 

 

Dan berakhirlah kisah romantis ini, eh maaf, kisah aneh maksudnya. Hahaha. (jadi tertarik bikin banyak cerita aneh akhir-akhir ini). apakah sudah cukup aneh untuk disebut sebagai cerita?

Iklan