Si Pendiam yang Unik dalam Film Le Fabuleux Destin d’Amélie Poulain


Film Le Fabuleux Destin d’Amélie Poulain disutradarai oleh Jean-Pierre Jeunet dan ditulis Guillaume Laurant. Film ini dirilis tahun 2001. Kalau diindonesiakan kira-kira judulnya “Takdir Menakjubkan Amélie Poulain”. Film tersebut dikopikan oleh salah satu teman kursus dan tersimpan (terabaikan) dua bulanan di FD sampai akhirnya Penamerah memunculkan ide tugas yang sungguh spektakuler bagiku: review film. Akhirnya film itu pun jadi korban pengamatanku. 😀

Film berdurasi 123 menit ini seperti membawaku menyelami dunia personal para tokoh dari kecil hingga dewasa, terutama tokoh utamanya: Amélie Poulain. Di samping dialog, film tersebut dilengkapi dengan narasi yang bercerita dengan akrab dan terbuka. Babak pertama menampilkan bagaimana tokoh Amélie dibesarkan dalam keluarga yang aneh. Ibunya seorang kepala sekolah yang keras dan mudah gugup. Ayahnya jarang bicara dan sering kali bersikap dingin. Keduanya memiliki karakter yang kaku.

Amélie kecil tak mau bersekolah karena si ayah tak pernah memeluknya seperti ayah-ayah lainnya. Akhirnya ia belajar dengan ibunya sendiri di rumah. Karena didikan yang kaku tersebut ia tumbuh jadi gadis pendiam yang tak bergaul dengan dunia luar. Ayahnya yang seorang dokter bahkan mengira ia terkena penyakit jantung.

Sebagai gadis kecil yang pendiam, ia hanya berteman akrab dengan Blubber, seekor ikan koi di akuarium kecil berbentuk bulat yang diletakkan di dapur. Namun si ikan pun tertekan dengan kondisinya sehingga mencoba bunuh diri. Hal itu membuat Amélie histeris sampai membuat seisi rumah pun ikut panik. Akhirnya Blubber dilepas oleh sang ibu ke sungai. Sebagai gantinya, Amélie dibelikan sebuah kamera.

Ketika ia sedang memotret langit, pada saat bersamaan terjadi tabrakan di perempatan jalan di depannya. Tak lama kemudian seorang tetangga menuduhnya sebagai penyebab dari kecelakaan. Amélie kecil berhari-hari menderita karena perasaan bersalahnya. Namun tatkala ia menonton televisi dan menemukan penyebab kecelakaan bukanlah cahaya dari kamera, ia memendam kemarahan. Diam-diam ia naik ke atap rumah si tetangga tadi dan mencopot kabel televisi tepat ketika si tetangga sedang asyik menyimak siaran sepakbola. Sebagai pendiam yang terisolir, Amélie kecil pun tumbuh dan terbiasa hidup dengan imaji-imajinya.

Sejak kematian ibunya yang instan (kejatuhan seorang turis wanita yang hendak bunuh diri dari atap gereja) Amélie kecil semakin pendiam. Bersama ayahnya yang terobsesi mengoleksi benda-benda kuil untuk makam ibunya, ia memutuskan untuk terus berada di rumah. Namun tatkala dewasa, ia memutuskan keluar rumah dan bekerja sebagai waitress di salah satu kafe di Monmerthe.

Amélie dewasa pun tetap identik dengan berkhayal dan mengamati hal kecil. Setiap ia pergi ke bisokop, ia suka mengamati wajah orang-orang di kegelapan ketika menonton. Layaknya seorang introvert, ia selalu melihat detail-detail yang orang lain tak melihat, seperti gambar serangga yang merayap di tengah adegan romantis atau tokoh yang tidak melihat ke jalan ketika mengendarai mobil. Selain ia juga suka memasukkan diam-diam tangannya di biji-bijian di dalam sak, melempari kanal air dengan batu-batu yang ia kumpulkan di dalam saku jasnya, dan juga memiiki pertanyaan-pertanyaan yang hanya dia yang tahu. Seluruh detail kecil itu membawa penonton ikut menyelami kepribadian si tokoh secara utuh.

dari @googleimage

dari @googleimage

Di samping itu, narator dalam film tersebut masih terus men-shot tokoh-tokoh utamanya hingga pada hal yang tersembunyi. Seperti keinginannya memiliki kekasih yang belum pernah kesampaian. Karakter setiap tokoh dalam film tersebut tampak berdiri sendiri-sendiri.

Pada suatu hari, sebuah berita yang menyangkan kematian Lady Di secara tragis membuatnya terkejut hingga tutup parfum yang dipegangnya jatuh sehingga mengenai ubin yang merupakan lubang suatu ruangan. Lubang itulah yang membuatnya menemukan benda berisi kotak mainan dan foto milik seorang anak yang 40 tahun yang lalu pernah menempati flatnya.
Ia bermimpi ingin menemukan pemilik kotak mainan itu, dan mulai mencari informasi pada penghuni flat lainnya. Hal itu malah membawanya pada orang-orang di sekitarnya yang akhirnya menjadi teman akrabnya.

Hingga pada akhirnya ia bertemu Raymond Dufayel, seorang pelukis tua yang tinggal di flat di bawahnya. Yang membantu Amélie menemukan Dominique Bredoteau, pemilik kotak kenangan itu. Amélie pun menggunakan imajinasinya yang agak konyol untuk membuat Bredoteau menemukan kotaknya. Dan kala itu, melihat Brodoteau menangis bahagia menemukan kotak yang telah hilang selama 40 tahun, Amélie merasakan gelombang kebahagiaan yang menakjubkan dan tak pernah dirasakan sebelumnya. Yeah, seperti halnya perasaan bahagia bila menjadi bermakna bagi orang lain.

Sejak itulah ia memutuskan mengubah hidupnya dengan membantu orang-orang demi membuat mereka tersenyum dan bahagia. Ia selalu mengambil setiap kesempatan untuk menolong orang-orang. Seperti membantu seorang buta berjalan sambil menjelaskan tempat-tempat yang ia lewati, mencomblangi salah satu teman kerjanya, hingga berhasil mencari cara paling usil dan kreatif membuat si pemilik toko yang suka membentak pegawainya itu, menjadi kapok melakukan hal yang sama. Dan uniknya, semua itu dilakukannya secara gerilya.

Film ini memiliki keterhubungan yang digarap dengan apik. Ada beberapa adegan di mana penonton dapat melihat korelasi tersirat antara lukisan Raymond Dufayel tentang perempuan dengan gelas yang mirip dengan kehidupan Amélie. Bila diamati, ada sisi simbolis yang coba dipaparkan oleh sang sutradari melalui album milik Nino Quincampoix (diperankan oleh Mathieu Kassovitz) yang berisi kumpulan sobekan foto orang-orang dari sampah foto box. Foto yang dikumpulkan dalam satu album tersebut merupakan karya unik yang membuat Amélie kagum. Album tersebut menyimbolkan bahwa eksistensi manusia serupa foto retak yang perlu disatukan.

dari @googleimage

dari @googleimage

Film ini ditampilkan dengan romantis dan kadang hiporbolis. Bercerita tentang orang-orang yang menemukan eksistensinya sendiri-sendiri. Namun Amélie yang diperankan Audrey Tautou patut mendapat pujian. Sang artis juga bermain dengan sempurna di film tersebut. Ia mampu menampilkan sebuah dunia seorang perempuan kompleks dan introvert yang mencari jati dirinya.
Hingga akhirnya membawa Amélie pada perasaan jatuh cinta pada si korektor retakan foto, namun ia sangat pemalu dan sering kali menyangkal identitasnya. Terjadilah drama kucing-kucingan yang sebenarnya dampak dari karakter Amélie yang amat pemalu dan lebih suka bermimpi daripada menjalaninya dengan terang. Meskipun pada akhirnya ia sadar bahwa hidupnya pun butuh ditolong.

Akhir dari film tersebut membuat penonton tetap tersenyum sebab masih memadukan antara romantisme dan kekonyolan. Rupanya anak kecil yang dulunya terisolir dan wanita dewasa yang introvert, juga bisa berbahagia.
Film itu sekalipun konyol, tapi selesai dengan cantik. Tema film ini seperti halnya kehidupan sehari-hari serta memiliki alur yang sering kali bertabrakan dan berloncatan. Bahkan beberapa kali ditampilkankan dengan tempo yang kadang lambat kadang cepat. Film ini recommended bagi yang menyukai jenis film festival.

*Nah kenapa aku akhirnya suka film itu? Karena karakter masa kecil Amélie agak mirip denganku :p
Masa kecil yang pendiam. (haha, malah jadi curhat)

dari @googleimage

dari @googleimage

Untuk memenuhi tugas mingguan Komunitas Penamerah

Elegi Esok Pagi

By: Ebiet G. Ade

Izinkanlah kukecup keningmu
bukan hanya ada di dalam angan
esok pagi, kau buka jendela
‘kan kau dapati seikat kembang merah

Engkau tahu, aku mulai bosan
bercumbu dengan bayang-bayang
bantulah aku temukan diri,
menyambut pagi, membuang sepi

Izinkanlah aku kenang sejenak perjalanan
dan biarkan kumengerti
apa yang tersimpan di matamu

Barangkali di tengah telaga
ada tersisa butiran cinta
dan semoga kerinduan ini
bukan jadi mimpi di atas mimpi

Reuni

Rupanya reuni Fakultas Sastra angkatan 2005 malam ini memang serba mendadak. Kalau bukan Asep yang mengabari barangkali aku nggak tahu kalau selama ini mereka punya event reuni berkala. Kalau bukan karena temenku yang satu itu juga, barangkali aku ragu untuk datang. Sebab sadar diri sih ketika masih mahasiswi, teman-teman kumpulku cuma yang itu-itu saja, selebihnya cuma buku-buku dan kesunyian. Kecuali kalau ada kegiatan organisasi atau acara khusus. Sampai di Kafe Kongkalikong (entah kenapa kafe itu dinamakan demikian) aku nggak menyangka, akhirnya sebanyak itu yang datang. Rupanya mereka pun sama herannya. Sejanak rasanya seperti terlempar ke masa-masa kuliah. Sambil menyalami mereka ini, diperlukan beberapa saat untuk mengingat dan menyadari, bahwa di masa lalu, mereka memang teman-teman kuliahku.

“Kayak lagi garap skripsi deh kalau kumpul sama mereka,” kata Asep menyadari kelucuan ini, aku malah belum menemukan apa-apa kecuali banyak diam dan mengamati hal-hal tak penting di sekitarku seperti jenis pohon hias di samping meja dan bentuk lampu di langit-langit bangunannya. Tapi memang proses adaptasi masa reuni selalu membaik bila diawali dengan mendengarkan teman terdekat ini bercerita soal German dan tesisnya, sebab tentu aku tak akan nyambung dengan jejer kananku yang sibuk berbicara soal bayi. Yeah sebab mereka ibu-ibu dan aku bukan, itulah mengapa aku tak punya bahan pembicaraan bersifat domestik. (Tapi omong-omoong, bayinya Hanung-Putri lucu banget *.*. Gemes pengen gigit pipinya).

Dan kubiarkan waktu mengalir. Satu per satu pun bergabung. Adalah Herlan, musisi yang kebetulan pernah satu kelompok ospek (Asep menyebutnya dengan ‘masa Nazi’) yang sudah tahunan tak berjumpa dan kini sedang aktif di sebuah gerakan literasi. Dan di antara mereka, dia satu-satunya yang cuma hafal wajah daripada nama. Lalu akhirnya kami semua bergabung tanpa obrolan menyatu. Yeah sebanyak ini, memang sulit menyatukan orientasi kecuali candaan yang kadang kala terlontar. Rasanya memang waktu jadi cepat berlalu. Berlompatan obrolan kami, dari pekerjaan, masa kekonyolan dulu, keluarga, persoalan bahasa, hingga rencana ke depan. Kusadari sungguh jauh jarak kami sebelum kebetulan berada di Jogja, dan cukup lama terpisah.

Ehem. Biar kurumuskan hasil pengamatan. Ada hal yang tak bisa disembunyikan dari sebagian besar dari kami. Setelah terpisah dan bersibuk ria pada hal-hal bersifat pragamatis, kami semua memiliki sisi sepi sendiri-sendiri, hampir tak ada waktu untuk berkumpul dengan teman, bahkan seperti beberapa ada yang sepertiku, yang selalu terjebak dalam pekerjaan dan tak bisa ke mana-mana. Sehingga kurasa, setiap orang, siapa pun itu, butuh reuni untuk menyadari bahwa ada sesuatu dari manusia yang kosong dan merindukan ketersambungan, meskipun sekadar menggila sesaat bersama teman-teman.
Di tengah pertemuan kami, Herlan, berjalan ke arah panggung untuk menyanyiikan dua buah untuk kami “I’m Yours” dan “Yogyakarta”. Haha, jadi terharu.

Yeah, seperti inilah, ada jenis pertemuan yang bisa terealisasikan tanpa direncanakan jauh-jauh hari. Seperti inilah hidup yang biasanya terjadi padaku. Spontanitas memang sering kali lebih seru daripada sesuatu yang direncakana dan berkemungkinan gagal. Itulah mengapa selama ini aku enggan berencana karena tetap saja Tuhan yang menentukan.

Kembali ke reuni.

Intinya, merci beaucoup buat Asep, Putri, Hanung, Feri dan istrinya, terutama Samaun (juragan baru yang menraktir kita semua malam ini), Kafi yang baru saja jadi ayah, Fatoni seorang teman yang selama ini hanya kubaca blognya, Herlan teman sekelompok waktu ospek yang barangkali (semoga) sebentar lagi menyelesaikan S1-nya, dan bebrapa yang lain yang rupanya aku pun hanya hafal wajah daripada nama sehingga tak bisa kusebut satu per satu, yeah maklum di antara mereka semua aku sadar cuma aku anak Sasindo yang bisa datang. Entah ke mana yang lainnya. Meskipun demikian semoga kebersamaan dan silaturahmi akan tetap berlangsung dan bisa datang semua di waktu yang akan datang. Terima kasih meskipun sebentar, reuni dadakan ini membuat hari Mingguku cukup terasa rock n roll.

Tradisi Kain di Indonesia

Ketika berbicara mengenai kain, pertama yang terlintas di benakku adalah Indonesia dengan segala yang plural di dalamnya. Kita tahu, Indonesia itu sendiri memiliki 1700 kepulauan, juga lebih dari 300 suku, dan 350-an bahasa. Tentunya nggak terbayang berapa jumlah kekayaan dan warisan budaya yang tersimpan di sana. Dari cara membuat rumah hingga memposisikan kain setiap daerah memiliki caranya sendiri-sendiri. Di berbagai catatan dan sastra lama, kain tardisonal pun banyak ditulisakan sebagai produk masyarakat yang memiliki nilai budaya tinggi karena selain memiliki keragaman bentuk, kain-kain tersebut diciptakan dengan lambang seni dan nilai falsafah.

Bila dikelompokkan, kain taradisional yang setidaknya suku di Indonesai mengenal 2 jenis kain, yaitu tenun dan batik. Menurut referensi yang kucari dari beberapa sumber, tenun merujuk pada jenis kain yang disulam dari benang dengan pilihan warna alami tertentu dan biasanya dibuat dengan menggunakan alat tenun. Banyak yang memasukkanya dalam golongan tekstil. Sejarah mengatakan bahwa tenun telah dikenal oleh nenek moyang kita sejak abad 8 hingga 2 sebelum masehi. Kala itu tenun diciptakan sebagai cermin penghormatan terhadap leluhur dan penghormatan terhadap kebesaran alam. Dan kebiasaan itu pun dilestarikan hingga sekarang.

Misal, masyarakat suku Batak pun mengenal 3 sumber kehangatan yang utama, yaitu matahari, api, dan kain ulos. Sebab suku Batak kebanyakan tinggal di bukit yang bertemperatur dingin, oleh karenanya selain matahari, ulos bahkan menjadi sumber kehangatan. Kain ulos memiliki peranan penting di kehidupan mereka. Selain dipakai dalam kegiatan sehari-hari, kain ulos juga digunakan dalam acara-acara besar seperti pernikahan, kelahiran, dan upacara kematian. Sementara di Sumba pun dikenal kain tenun yang memiliki corak fauna dan memiliki nilai religius yang tinggi. Belum lagi di daerah Bali, Kalimantan, dan daerah lainnya yang juga memiliki tradisi kain tenun.

Karena faktor geofrafi dan budaya itulah, maka setiap daerah memiliki corak kain yang berbeda. Di samping itu tenun juga mengandung fungsi sosial budaya yang penting. Sejak terjadi perdagangan global di zaman kerajaan Sriwijaya, di mana pedagang India, Arab, Tiongkok, dan sebagainya berdatangan dan mempengaruhi budaya, kain tenun pun mengalami akulturasi, kita dapat melihatnya pada perkembangan tenun yang ada di Palembang.

Tentunya akan sangat panjang bila kain tenun dibahas secara kesuluruhan. Aku juga baru tahu, di kotaku, Jogja, tradisi kain tenun juga sudah cukup poluler. Kain itu dinamakan lurik. Owalah, jian…

Sedangkan tradisi batik sebenarnya lebih meluas di Indonesia dan jenisnya pun bergam. Dari ujung wilayah suku Baduy hingga Madura pun kita akan menemukan sederet jenis batik yang berbeda corak, gaya, dan filosofinya. Karena batik di Jawa lebih banyak diekspos, ia jadi lebih populer dibanding kain batik di pulau-pulau lainnya. Batik Jawa yang polanya rumit dan lebih bervariasi akan berbeda dengan jenis batik Madura yang bisanya hanya satu tema, bunga-bungaan saja atau hewan saja. Belum lagi Pekalongan dan Jambi yang punya gaya batiknya sendiri, yang tak kalah keren juga.

Bila dicari dari asal usulnya, batik sebenarnya lebih merujuk pada budaya tulis. Secara etimologi, kata batik berasal dari gabungan dua kata bahasa Jawa, yaitu “amba” dan “titik”. Amba yang berarti “menulis” dan titik berarti sebuah noktah kecil. Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, batik merupakan jenis kain yang dilukis dengan malam, kemudian diolah dan diproses dengan cara tertentu. Dalam bahasa Inggris teknik ini dikenal dengan istilah wax-resist dyeing. Itu berarti nenek moyang kita telah mengenal budaya tulis, menunjukkan bahwa mereka telah maju dalam ilmu pengetahuan. Amat pantas bila batik disebut sebagai wujud eksistensi budaya karena mengandung nilai-nilai filosofi.
Sehingga kelak bila mau memakai batik ke acara pernikahan, jangan sampai memilih jenis batik suwung, sebab itu dipakai untuk acara kematian. Begitu juga sebaliknya. Atau jangan juga memakai jenis parang di acara kerajaan, karena bisa-bisa dikira nantangin perang.

Saking kayanya nilai budaya yang terkandung dalam batik (khusus yang batik tulis) sampai-sampai pada tahun 2009 lalu, untuk pertama kalinya batik diakui sebagai World Heritage oleh UNESCO. Yeah, barangkali engkau telah membaca berulang kali mengenai batik sehingga tak perlu lagi kutulis ulang. Yeah, semacam itulah. Sayangnya batik tulis tersaingi oleh batik yang cap yang lebih laris di pasaran karena harganya lebih murah.

Pagi ini, melalui kain, aku jadi banyak baca artikel soal adat istiadat suku-suku budaya di Indonesia, yeah, itung-itung sambil ingat pelajaran Antropologi waktu SMA dulu.
Suatu saat kalau punya kesempatan jalan-jalan keliling Indonesia, pengin banget deh sekalian bikin buku tentang kain-kain tradisional dan kebiasaan masyarakat suku adatnya. 🙂 Tentunya itu akan sangat menarik.

*Untuk memenuhi tugas mingguan Komunitas Penamerah

 

 

Ada yang bilang seperti ini:

Sepi yang sesungguhnya bukan ketika terdampar seorang diri di tengah keramaian semacam pasar atau stasiun kereta api di negeri asing, tapi saat kita tak diterima apa adanya oleh orang-orang yang dekat dengan hidup kita,
Hingga pada akhirnya kita sadar rupanya kita tak memiliki arti.

 

 

 

 

di dunia ini yang paling menyedihkan bukan mereka yang tak sadar berada di tempat yang salah dan kemudian (tentu) tak perlu mengubah hidupnya. tapi yang menyedihkan adalah mereka yang menyadari telah berada pada kehidupan yang salah dan ingin mengubahnya, namun tak bisa karena berbagai kondisi.

seperti halnya ketika seseorang ingin pindah kewarganegaraan misalnya, tapi terbentur keber”akar”annya.

 

 

Sekilas tentang Pernikahan dan Masyarakat

Tulisanku kali ini hanya sekadar opini.

Sepertinya sudah sekitar 50 persen adikku dan calonnya menggarap persiapan pernikahanan, kemarin hari mereka mengurusi undangan. Dan, yeah, aku memang lebih suka mengamati obrolan calon pasangan yang akan menikah daripada obrolan mereka yang cuma pacaran. Ada perbedaan bobot konten di dalamnya.

Awal mulanya dari sini. Seperti biasa, calon iparku ini akan lama bila berdiskusi dengan adikku, dan tatkala ia sedang salat di masjid, berhamburlah ibu-ibu (tetangga sekitar rumah) ini mengajak bicara adikku, nggak penting sih isinya. Tapi membuatku jadi ingin menuliskan ini sebagai bahan perenunganku juga. Sebab ibu-ibu ini kuanggap miniatur dari masyarakat kita.

Ibu-ibu pertama menanyakan, kok kamu mau sih dilamar dia padahal belum lama kenal? Kalau aku dulu pacaran 4 tahun. Kemudian ibu-ibu lainnya menambahi tentang betapa lamanya mereka pacaran sebelum menikah. Dan barangkali heran dengan adikku yang selama ini tak pernah pacaran tapi tiba-tiba langsung mau married. Dan tentu saja talk show mereka berlanjut dengan memberi opini tentang aku—sebagai kakak yang malah santai-santai saja, yang tidak terprediksi apakah bakal akan menikah atau tidak, atau entah kapan bakal menikah kalaupun iya. Nyatanya, sampai dilangkahi adik sendiri.
Aku sih nggak komen apa-apa. Kalau aku sedang berada di depan mereka, paling aku hanya senyum sambil nyiramin tanaman. Barangkali karena wilayah hidupku tidak lagi mengurusi masalah privasi orang lain tanpa izin. Dan maklum sih kenapa ibu-ibu ini heboh soal tetangga dan urusan orang lain, sebab ketika mereka menikah dan terlepas dari ranah publik, dunia mereka pun otomatis menyempit. Perempuan punya kodrat hidup yang multitasking daripada pria. Kalau bukan rumahnya, apa lagi kalau bukan tetangga lain yang jadi bahan pengamatan sampingan? Masa ya mau mengamati kondisi politik di Afrika misalnya? Sering kali aku berpikir, ibu-ibu yang sering bergosip ini bakal akan jadi pihak yang memunahkan budaya gosip, andai para suami mereka dan adat istiadat memberi ruang selebar mungkin untuk menempuh studi sampai tuntas dan ikut organisasi nasional dan internasional (misalnya). Perhatian mereka bakal cuma ke pendidikan anak, keluarganya sendiri, dan kesibukan sampingnya adalah permasalahan negara [hal-hal bersifat publik]. Bayangkan bahwa bila demikian, negara ini akan maju karena mereka punya penduduk wanita yang cerdas-cerdas yang mendidik anak-anaknya dengan terbaik juga. Haha. Tapi kan itu memang hanya khayalanku semata. Sebab sekali lagi, aku mesti melihat kondisi.

Kembali pada persoalan awal, pemikiranku berkait adat istiadat ini kutarik garis lurus:

Pertama, apa pun yang terjadi, aku bahagia dengan pernikahan adikku, tahu kenapa? Sebab untuk menemukan pasangan terbaik, orang tidak harus memilih prosedur pacaran lama. Dan untuk memutuskan menikah, orang tak perlu tergantung pada penilaian orang lain. Secara logika, menikahlah yang riil daripada pacaran itu sendiri. Seingatku juga, ibu-ibu muda yang barusan mengomentari adikku ini, pernah mengalami rentetan galau bertahun-tahun deh sebelum akhirnya menikah. Aku memang kelihatan cuek, tapi kan mengamati. Bisa-bisanya menganjurkan hal yang sama.
Kurasa belum pernah menemukan orang yang pacaran bahagia dengan statusnya yang menggantung. Ada berapa banyak orang di laur sana yang menderita karena sudah telanjur milih pacaran tapi nggak nikah juga? Mengingat Indonesia begitu rekat dengan adat dan religi.
Kalau orang sudah mau pacaran, berarti ia sudah berdamai dengan status yang lebih pasti dan malah menunggu kepastian. Kalau tidak ingin menikah, ya jangan suruh-suruh orang untuk pacaran. Bukankah dalam pacaran, orang tidak (boleh) bisa loyal dengan hubungannya karena terbentur status dan kondisi? Orang pacaran di Indonesia kan tidak boleh serumah seperti di negara liberal. Kalau cuma buat alasan mengenal calon pasangan, pacaran itu nggak cukup. Sebab apa? Sering kali kebiasaan buruk ketika pacaran baru kelihatan setelah menikah. Malah dalam soal ini, aku setuju dengan para ustadz, bahwa pacaran (yang nggak didasari niat dan proses akan menikah) malah justru serupa pintu gerbang menuju maksiat. Sebaliknya, pernikahan adalah gerbangnya menuju ibadah. Kecuali mereka yang nikahnya karena dorongan hormon, material, atau tuntutan sosial. Bukan karena dorongan spiritual. Jika kita sepakat pernikahan itu institusi yang sakral, sebaiknya jangan pernah mencampurinya dengan niat busuk.
Dalam hal ini adat kalah dengan agama.

Kedua. Yeah, memang aku sering tidak mau meng-agama-kan sesuatu yang bukan agama. Masalah melompati kakak adalah masalah adat, maka aku akan ambil pembanding yang lebih kuat daripada adat, yaitu agama. Bila permasalahan terbentur karena agama, maka pembandingnya langsung pada kajian kitab suci sedunia. Nah, dalam agama sendiri tidak ada larangan adik melangkahi kakaknya untuk soal menikah. Larangan itu hanya ada pada adat yang masih berlangsung di beberapa tempat di Indonesia. Kalau sudah begitu, jangan ajak bicara aku soal adat. Aku tidak berkarib dengan itu. Yeah, memang sih, aku tetap menghargai adat lama yang memperahankan nilai-nilai bahwa “adik haram melompati kakaknya.” kalau bisa malah ngorbanin pacar yang sudah lama nunggu daripada mengalahkan adat. Begitulah kata mereka yang menjadikan adat sebagai alibi untuk tidak (berani) menikah. Di zaman sekarang please deh, jangan bersikap udik soal begituan. Nikah itu bukan persoalan adat saja. Tapi kemanusiaan dan ketaatan terhadap agama.
Bukan berarti aku menolak nilai-nilai yang ada di dalam adat. Sebab di sana banyak pelajaran moral yang baik untuk menusia. Meskipun, nggak semuanya mematuhi.
Menurutku ada sisi adat yang cuma bersifat prosedural.
Misal, masalah sopan santun aja, kalau sudah terbentur adat, jadinya tidak terjadi hubungan yang murni antarmanusia. Bagiku sopan terhadap yang lebih tua bukan lagi persoalan adat, tapi filsafat. Sikap sopan adalah tanda bahwa manusia sudah menyadari dan memahami kemanusiaan dalam dirinya juga kemanusiaan orang lain. Sedangkan sopan dalam adat istiadat adalah kewajiban semata.

Selama ini, orang Jawa yang dikenal suka basa-basi karena mereka menjadikan adat sebagai prosedur wajib untuk mengatur bentuk hubungan. Menantu yang menghormati mertua (misalnya) bukan lagi karena tulus menghormati dan menyayangi, tapi karena prosedural adat itu tadi. Akhrnya malah terjadi ketidakcocokan di segala aspek kehidupan. Bukankah lebih tulus alasan kemanusiaan daripada prosedural? Bukankah lebih indah saling menghormati dan mencintai yang didasari dorongan hati dan moralitas daripada adat?
Dalam hal ini, adat kalah dengan hati.

Ketiga. Menikah itu sendiri adalah pilihan. Dalam agama disebut sunah. Boleh dijalankan, boleh tidak. Aku agak risih dengan masyarakat tertentu yang notabene paham agama, menyebut menikah adalah kodrat, dan terlebih malah ditekankan pada wanita seolah itu kewajiban dan beban yang ditanggung kaum wanita itu sendiri. Yeah, memang melahirkan dan menyusui adalah kodrat wanita. Tapi menikah adalah pilihan. Ada beda antara kodrat dengan konstruksi sosial bernama pernikahan. Dalam pernikahan, wanita yang sedang hamil dan menyusui pun merupakan tanggung jawab suami dan keluarga besarnya juga, sebab itu semua dilakukan karena pilihan.
Kalau si anak lahir, bukankah pendidikan awal adalah orang tua dan keluarga besarnya?
Sekarang sudah nggak zaman berpatriakhat ria. Yang ada adalah kesetaraan dan tanggung jawab yang dijalani bersama.

Tatkala mereka menganggap pemikiranku nyeleneh ya toh biar saja, aku yang menjalani. Dan aku memang mempersilakan adikku menikah lebih dulu karena tidak mungkin kan menyuruh mereka (adik dan calon iparku) yang sudah matang soal niat, malah jadi nunggu aku yang belum didatangi nasib yang sama…?
Aku nggak mau kejam dong sama adik sendiri. Aku juga nggak mau egois terhadap orang tuaku.

Dalam hal ini, adat pun kalah dengan kemanusiaaan.

Sekian.

*Hasil pemikiran sepanjang jalan sambil hujan-hujan tadi pagi.

ke(per)damaian

Okay, memang bakal ribet dan butuh waktu lama untuk mengurai suatu kasus menggunakan banyak sisi. Hanya saja, aku bayangkan aku sedang memegang sekotak krayon, warnanya beragam. Kuibaratkan krayon seperti manusia. Kita semua membawa sepaket warna, dan Tuhan terlanjur memasangkan sebuah misi yang berbeda-beda sebagai alasan kita ada di dunia sejak kita masih segumpal janin. Ketika dewasa kita juga tumbuh dengan lingkungan dan “makanan” yang berbeda pula.

Katakanlah di sekitar kita adalah warna-warna yang tidak sama atau sering kali tak lazim. Tapi biarlah, selama itu membentuk konsep lukisan yang indah, mengapa kita mesti khawatirkan detail warna? Mungkin di matamu: lanskap langit terlihat bertabrakan oleh warna hijau, laut akan aneh ditaburi warna hitam keabu-abuan, warna rambut sosok gadis di sana menjadi tak biasa dengan ungu, atau barangkali lukisan batu-batunya menjadi kontras dengan warna orange. Namun bila lukisan itu tak membunuhmu atau membuatmu praktis ingin membunuh pelukisnya, biarlah saja ia menjadi salah satu karya yang diam dan baik-baik saja di salah satu galeri.

Biar saja kita semua hidup dengan keyakinan yang plural, dan manusia toh fitrahnya mencari cahaya, sebab setiap manusia pun membawa bagian gelapnya masing-masing. Tugas kita cuma memperjuangkan dan menjaga ke(per)damaian selama hidup di bumi dengan apa pun caranya.
Urusan benar salah, itu nanti kalau sudah kiamat.

Barangkali, aku pun butuh belajar lagi soal perdamaian dan kedamaian.

(Terinspirasi surah Al-Kafirun)

musim hujan

 

 

Akhir-akhir ini sore menjadi abu-abu. Tak kutemukan episode-episode senja yang mempertemukan kita dulu. Tapi syukurlah rindu tak terbiarkan terbang seperti debu-debu. Dan aku tahu kamu senantiasa pulang ke arah hatiku sekalipun musim hujan telah mengetuk pintu. Dan senja telah hilang sementara waktu. Rasanya cuaca belakangan ini sangat ingin menggoda kita untuk tak bertemu, pun sekadar membiarkanku membuatkanmu secangkir cokelat hangat ketika kamu kedinginan.
Namun percayalah, aku lebih bahagia ketika kamu baik-baik saja, dan berlipat sedih ketika kamu sedih.
Tak peduli sederas apa hujan menenggelamkan suaraku…

 

Cerita Pagi Awal November

Dalam sisa-sisa kesuntukanku kemarin hari, akhirnya kumulai pagi ini dengan segelas kopi serta beberapa bacaan di national geographic dan tempo di internet. Namun sayang lebih banyak berita buruk yang menarik perhatian–yang muncul di sana.

1
Di national geographic, sebuah feature mengulas konflik di Nigeria yang masih berlangsung hingga kini. Ada yang menyebut konflik tersebut bersifat etnis dan ada pula yang menyebut konflik agama, dan menyebut satu kelompok muslim sebagai biang keladi serta rivalnya yang berbendera kristen. Tapi apa pun itu. Sebab bagiku, semua yang terjadi itu wujud dari krisis kemanusiaan yang belum selesai. Ribuan korban berjatuhan tak lagi terhitung jumlahnya.
Tiba-tiba aku berpikir tentang nilai manusia di sebuah negeri yang berkonflik. Kubayangkan bila aku berada di posisi mereka: setiap hari mendengar dentum bom, mencium bau amis mayat yang telah menyatu dengan senyawa oksigen, bahkan di terminal bus, jalan, pertokoan, sekolah, tempat ibadah pemandangan berupa kepingan jasad manusia sudah biasa. Setiap hari di sana, setiap orang seakan bersiap dengan maut dan terbiasa bersanding dengan teror.

Seorang aktivis yang dieksekusi negara itu pada 1995 atas tuduhan palsu, Saro-Wiwa pun beropini: “Hidup sehari di Nigeria berarti mati berkali-kali.” Bahkan, kegiatan sederhana pun dapat menguras energi. Sebagai bukti ketegangan yang terjadi di sana. Aku benar-benar sulit membayangkan.

Aneh memang, di bawah tanah kering yang selalu berdarah dan beraroma mesiu itu, rupanya memang tersimpan ironi yang seluruh dunia pun tahu.

“Nigeria memiliki kelas menengah terdidik, kota dengan industri makmur, serta pers yang gaduh, sekalipun tidak benar-benar bebas. Namun, sumber daya yang paling menguntungkan, sejak ditemukan pada 1950-an, adalah minyak mentah. Nigeria merupakan eksportir minyak terbesar kelima di dunia, namun hampir dua pertiga penduduknya melarat dengan penghasilan yang cuma pas-pasan untuk bertahan hidup.”

So… bukankah itu aneh? Nggak mustahil kan kalau pihak mana pun bisa bersembunyi di balik Bako Haram (yang disebut kelompok muslim) untuk membuat kondisi sama itu tetap berlangsung. Demi apa… entahlah… mungkin minyak.

Satu yang kusyukuri, aku tidak tinggal di sana, sekalipun bukan berarti mereka tak memiliki arti dalam duniaku. Selama kita tahu mereka masih berada di planet yang sama, kita adalah bagian dari itu.

2
tempo.co
Aku memilih beberapa berita yang tidak melulu soal korupsi pemerintah. Salah satunya, kasus tentang lambannya polisi menangani kasus penyerangan terhadap kegiatan diskusi di Wisma Santidharma, Godean, Sleman, Yogyakarta. Serbuan yang dilakukan oleh Front Anti-Komunis Indonesia (FAKI). Atau malah pemerintah seolah membiarkan. Beritanya di sini.

Tapi yang lucu dari kasus penyerangan itu, bagaimana orang bisa membunuh ideologi hanya dengan kekerasan fisik? Melawan ideologi bukankah dengan idealogi juga? Bukankah sejarah selalu ambigu? Dan apa yang salah dengan keyakinan seseorang, selama dia masih menjaga perdamaian di muka bumi ini? Tapi tentunya akan sulit mengaplikasikan itu di hadapan kelompok preman. Bukankah di mana-mana preman hanya bisa menyerang secara primitif?

Kita telah paham, keberagaman bukan bahaya. Perbedaan bukan ancaman. Tapi di suatu tempat yang modern kehidupannya, tak selalu menjamin telah maju juga masyarakatnya dalam hal berpikir. Di sebuah kota yang cukup berbudaya dan dinamis seperti Jogja, orang-orang udik dan “idiot” tetap ditemukan di mana-mana. Orang idiot yang kumaksdn adalah mereka yang mau-mau saja dibeli dan disuruh oleh pihak-pihak yang jelas-jelas cuma mengurusi kepentingannya.

Di samping itu, kita memang tinggal di Indonesia, yeah… (meminjam istilah Putu Setia) tempat di mana yang korupsi berteriak antikorupsi, sementara penegak hukumnya sendiri juga melakukan pelanggaran. Jadi, mau bagaimana lagi?

3
Membaca situs web tempo, tentu takkan kulewatkan kolom-kolomnya, terutama catatan pinggirnya. Sebab sekalipun loncat-loncat, tulisan GM selalu membuka cakrawala baru, sekaligus membuat kita dapat memaknai peristiwa dengan pandangan yang lain. Bagiku, membaca tulisan semacam caping juga mengobati kejenuhan membaca berita harian.

seperti yang kubaca hari ini.

http://www.tempo.co/read/caping/2013/10/28/129062/Gramsci

“Tapi dalam selnya, Gramsci merasa ada yang bisa berubah dalam dirinya:

Aku merasa, andaikata aku dibebaskan dari penjara sekarang, aku akan terus hidup dengan otakku semata-mata… melihat orang-orang, bahkan yang seharusnya kuanggap dekat, bukan sebagai makhluk yang hidup, melainkan sebagai teka-teki yang harus dipecahkan.

Bertahun-tahun terasing dari gemuruh perdebatan dan keasyikan kebersamaan, seorang pemikir memang mudah terseret ke dalam sunyi Cartesian: liyan akan hanya hadir sebagai obyek analisis. Manusia ada untuk dirumuskan. Doktrin akan kian menentukan pandangan sang pemikir, bukan hubungan yang tak terduga antarmanusia.”

satu buku yang menarik perhatianku

Ada satu buku yang paling menarik perhatianku tatkala mengunjungi gramedia malam ini. Yah, memang suntuk bila waktu luang habis di dalam kamar bukan? Yang menulis adalah Ustadz Quraish Shihab, dan buku itu bertema kematian. Membacanya sekilas halaman cover, teringat surat kecil yang kukirim pada Tuhan, sekitar 2 tahun lalu–tentang betapa aku benci hidupku sendiri. Teringat juga satu band aliran rock asal Jogja yang waktu lalu menjadi band pembuka yang tampil sebelum Payung Teduh, yang tak disangka menyanyikan lagu bertema: mati muda. Syairnya lumayan keren. Lalu kelebat perihal serupa bermunculan, dan sejenak perhatianku berhenti pada sebuah ruang yang sunyi–hanya ada aku dan tentu Yang Maha Mendengar di sampingku.

Tapi ada keramaian yang tak bisa kulupakan. Segalanya berlangsung sebentar. Entah apa yang kupikirkan barusan? haha.. Lega karena di dalam keramaian toko itu, tak seorang pun menyadari ada setetes kecil di sudut mataku yang nyaris jatuh.

Baru beberapa lembar dari buku itu yang kubaca, seperti biasa, ustadz Quraish Shihab mengambarkan kematian memang jalan terbaik, untuk mereka yag muak dengan dunia, juga mereka yang telah cukup mengerjakan amalnya sebagai manusia… mati adalah tujuan. Tapi tentu mati bukan hak asasi manusia untuk memilih sesuai keinginan sendiri. Bukankah umur adalah rahasia mutlak milik Tuhan?

Membuatku berpikir bahwa sebab hanya Tuhan tempat kembali, hanya Tuhan yang mencintai kita tanpa pretensi, dan sebab dunia selalu keji dan palsu, lantas apa yang kita cari lama-lama di tempat ini? Terlebih suka atau tidak suka, kita selalu terjebak dalam sesuatu yang bernama dosa. Terkait dosa, kadang aku percaya bahwa manusia membawa dosa asal, seperti kata suatu ajaran. Tapi bukan itu. Bahwa selama hidup, manusia akan selalu diikuti dan ditempeli kekotoran. Seperti bila kita berjalan di atas tanah dan tak beralas kaki.
Bagiku, bila menilai buruk dalam hati soal satu manusia yang tak kukenal 24 jam pun telah dihitung dosa, apalagi perbuatan yang lain.

Jadi penasaran dengan buku itu. Tapi mungkin masih banyak bacaan lain yang harus kuselesaikan, sebelum kubiarkan buku itu membuatku memasuki perspektif baru dan setelahnya merasa semakin muak dengan hidup…

yeah, lain waktu baru kubaca
kurasa aku juga mesti nabung dulu untuk membelinya… 🙂