Dari Sosok Parang Jati hingga Kesadaran Spiritual dalam Novel Maya

*ini novel yang kebetulan baru selesai saya baca. Maaf bila agak mbulet.

Penulis    : Ayu Utami
Penerbit  : KPG
Cetakan pertama: tahun 2013

??????????

 

 

 

 

 

 

Parang Jati dalam novel ini hanya salah satu tokoh, bukan sentral. Kedudukannya sama dengan tokoh lainnya. Tapi bisa dibilang tidak ada tokoh sentral dan pinggir dalam novel Maya dan seri Bilangan Fu lainnya. Bahkan dalam seri ini, fokus penceritaan banyak pada tokoh Yasmin yang tengah mencari Saman, kekasih tersembunyinya yang hilang di masa runtuhnya rezim Orde Baru. Novel Maya dapat dikatakan sebagai penghubung novel Larung dan Saman, dengan seri Bilangan Fu.

Seperti halnya novel-novel pada seri Bilangan Fu yang lain, pembaca perempuan barangkali akan terkesan dengan sosok Parang Jati. Karakter yang barangkali akan terpatri dalam mimpi idealis perempuan karena digambarkan sebagai pria yang religius, berhati halus, juga setia dalam pengabdiannya. Tipikal pria yang berperasaan, spiritual, namun cerdas. Beberapa tokoh lainnya digambarkan selalu terhubung dan menyayangi secara jiwa tokoh pemuda yang satu ini.

Tapi sebagai novel yang konsisten dengan tema besar, Ayu tak menggambarkan setiap tokohnya sebagai sosok yang sempurna ala sinetron, justru karena menyimpan konsep pendekatan dengan dunia realitas. Bahkan Parang Jati dalam kesempurnaan kepribadian dan pemikiran bijak itu pun digambarkan berfisik tidak sempurna, memiliki jari berjumlah 12 dan ditemukan sebagai anak terbuang di pinggir danau tatkala masih bayi.

Maya, sebagai judul novel ini pun merupakan tokoh yang berfisik cebol, berkulit albino, tak memiliki KTP, dan tidak berpendidikan, namun memiliki jiwa yang murni, yang mengantar sisi spiritualitas novel ini, bahwa dalam kekerdilan, Tuhan pun hadir dan dunia manusia terus dipertanyakan. Namun manusia harus terbebas dari kekerdilan itu. Sebab di mata Tuhan, manusia itu setara. Seperti dalam cuplikan pada halaman 227

“Dalam hal jiwa, seperti yang dibilang guru kebatinan itu, manusia ‘dijadikan’ kerdil, bukan dilahirkan. Dijadikan oleh nilai-nilai yang mengepung dan membentuk mereka. Dan tidak semua mampu membebaskan diri.”

Agaknya novel Maya mencoba mendekatkan kepada eksistensi manusia di hadapan Tuhan. Bahwa dalam ketidaksempurnaan dan kesedihan, kadang Tuhan mendekat dengan akrab. Cinta tak lagi memandang hal-hal bersifat duniawi, tapi lebih pada yang hakiki dan bermuara. Dan secara tersirat, novel ini seperti berdialog dengan saya yang sering kali begitu suntuk dengan kepalsuan zaman modern. Meskipun ada beberapa poin di mana Ayu Utami menampilkan sisi liberal dalam hal mencintai lawan jenis. Tapi itu bukan hal besar, karena banyak pesan moral yang disiratkan di sana, termasuk bahwa cinta pun merupakan ruang rahasia tiap manusia.

“Punakawan mengabdi pada kebaikan, meski statusnya hanya rakyat jelata, ternyata bisa memahami kebijaksanaan tingkat tinggi. Dalam kesederhanaannya, mereka itu lebih bijak daripada para satria dan brahmana. Dan karena mereka itu rakyat biasa, mereka tidak punya kepentingan politik kekuasaan. Dan karena tak punya tampang, mereka tidak perlu jaim, jaga image. Mereka itu lugu. Mereka tokoh yang sangat dekat dan disenangi rakyat dalam kesenian wayang. Sebab mereka adalah rakyat itu sendiri.” (Maya, halaman 189)

Intinya novel ini membuat saya belajar banyak.

Jadi ingat kata adik bungsu saya yang selalu suka ngajak diskusi yang berat-berat, “Mbak, kita semua itu makhluk yang selalu ‘monolog’. Ber’dialog’nya cuma kadang-kadang aja.” Saya pun sesaat menemukan dialog batin di novel Maya ini.

Mungkin tidak mudah mereview novel yang bermuatan sejarah, politik, spiritual, cinta, feminisme, dan kehidupan mikro yang genre sastra seperti novel Maya ini. Dan mungkin suatu saat, perlu menyusun reviewnya dengan versi lebih lengkap dan sistematis dengan kajian keilmuan yang mendukung.

salam 🙂

Iklan

film horor zaman dulu dan sekarang

 

Kira-kira sejam yang lalu, saya baru selesai nonton film lama bertema horor di televisi. Artisnya almh. Suzana yang dulu sempat jadi ikon artis horor populer di tahun ’80-an. Jadi ingat sewaktu kecil, saya nonton sendirian film semacam itu sampai selesai. Seperti anak-anak kecil lainnya, saya tetap menonton malam-malam dan sendirian hanya didorong oleh rasa penasaran dan kesenangan. Anak kecil barangkali tidak terlalu paham rasa ngeri. Kadang kedewasaanlah yang mengacaukan logika, sebab setelah dewasa saya justru sering jejeritan kalau nonton film horor modern. Nonton berjamaah bareng temen aja tetap ‘heboh’. Padahal cuma film. Karangan manusia.

Sekarang seperti kembali ke masa kecil, saya nonton film itu lagi sendirian dan dengan tenang. Agaknya, kalau dipikir-pikir, film horor selalu menyimpan adegan lucu dan konyol. Coba pikir, bagaimana bisa hantu berinteraksi dengan manusia dan masih bisa kencan dengan mantan suami? Bagaimana bisa selembar hantu–yang semula divisualisasikan dengan wujud transparan–bisa makan sate dan menggendong kucing? Bagaimana bisa hantu membunuh musuh-musuh yang menjadi penyebab kematiannya dengan cara yang bermacam-macam? Sempatkan ia berpikir bahwa bila para musuh bebuyutan itu mati dibunuhnya, bukankah mereka malah akan ketemu lagi di alam lain, reunian? Tapi itu semua tentu bukan hal besar, sebab agaknya lebih baik film horor yang semacam itu, yang masih di-setting secara polos dan bahkan diselipi nasihat ustadz, daripada film horor jenis sekarang. Dan kini saya sadar, manusia punya reaksi dan emosi yang tak jauh beda, film hororlah yang mengalami transformasi.

Film horor zaman dulu tak lepas begitu saja dari nilai moral, seperti yang saya tonton malam ini. Si hantu ini semasa hidupnya adalah seorang istri berhati tulus yang mengalami depresi kemudian bunuh diri karena alasan kehormatan, sebab ketika suaminya pergi bertugas, ia sempat diperkosa oleh sejumlah orang dan kemudian hamil. Penonton mungkin akan merasa gemas dan ikut sedih melihat si wanita yang malah diejek di persidangan sebagai sundal dan melihat langsung para pelaku dibebaskan dari tuduhan. Setelah jadi arwah, ia pun mencari para pemerkosa untuk membalas dendam. Bahkan si hantu hanya meneror dengan serius para penyebab kematian atau sekadar berbuat usil dengan mereka yang tidak punya rasa hormat terhadap bangsa jin. Pesannya adalah bahwa melakukan kejahatan seperti mencoreng kehormatan wanita yang tak bersalah, menyimpan konsekuensi yang sangat mengerikan di masa mendatang. Film diakhiri dengan permintaan suami dan segenap kiai pada si hantu untuk kembali ke tempat yang seharusnya, dengan rasa sedih serta doa pengantar supaya damai di alam sana. Mengharukan.

Berbeda dengan film yang sekarang, yang rata-rata malah sudah mengeksploitasi tubuh perempuan dan menyisipinya adegan vulgar. Hantu di film zaman sekarang seperti menyiratkan pesan bahwa dunia lain hanya berisi makhluk-makhluk jahat yang meneror siapa pun bahkan yang tidak bersalah. Itu pun jarang dibingkai oleh cerita kehidupan yang dekat dengan realitas. Yeah, intinya, film horor zaman dulu lebih banyak memberi pesan moral, sedangkan zaman sekarang (dengan penggarapan kostum yang sudah maju, musik yang amat mendukung, dan make-up yang ‘total’) cenderung dimaksudkan untuk hiburan semata. Namun efeknya membuat kita perlu berhati-hati, karena kebanyakan membuat penontonnya justru paranoid dan terkejut dengan tidak logis. Apalagi film horor kita di zaman sekarang seolah berdampingan erat dengan adegan porno.

Yeah, ini hanya sekadar pendapat saya mengenai fenomena film horor Indonesia dengan wawasan yang tentunya masih terbatas.

01: 06

Saya tidak tahu sejak kapan, atau selama ini memang tak menyadari, rupanya kondisi kekenyangan, sering kali membuat sistem tubuh saya menunda jatah ngantuk dan waktu tidur. Makan malam seperti hari ini (yang terpaksa saya terima untuk memenuhi undangan syukuran seorang teman lama) selalu berhasil membuat saya begadang entah sampai jam berapa di jam-jam berikutnya.
Tapi sisi terbaiknya, nuansa sunyi dini hari seperti ini, membuat saya mampu mengakrabi kesendirian… dan juga ketenangan yang bakal jarang saya jumpai tatkala bersibuk ria di siang hari–yang juga telah lama hilang beberapa waktu ini.

Entahlah mengapa kesunyian selalu menjadi salah satu tempat favorit saya setelah kamar dan imaji….

Grebeg Maulud

Siang ini cuaca memang cukup terik. Namun tak menyurutkan antusias warga sekitar Pakualaman yang hari itu menyambut Grebeg Maulud. Saya bersama, nenek saya, Mbah Uti, dan simbah-simbah yang lain, siang ini berjalan menuju lokasi yang jaraknya hanya 200-an meter dari kampung kami. Jam menunjukan pukul 10, masih kira-kira 2 jam sebelum arak-arakan gunungan tiba. Simbah-simbah ini meskipun sudah sepuh, tapi terlihat begitu bersemangat. Mereka duduk di spot-spot teduh untuk melihat jalannya acara, sambil ngobrol, entah dengan yang dikenal ataupun baru dikenal. Menyambut hari kelahiran nabi selalu menjadi hal yang menarik bagi masyarakat Jawa. Tidak hanya masyarakat luar Yogyakarta, beberapa wisatawan asing juga terlihat di antara kerumunan warga yang menunggu iring-iringan gunungan.

Di lapangan Swandanan, nama alun-alun depan Kraton Pakualaman, telah ramai dengan orang berjualan. Dari anak kecil hingga lansia pun tumpah ruah di lokasi. Keriuhan seperti itu terjadi juga di Keraton Yogyakarta dalam bentuk yang lebih lengkap. Grebeg Maulud dimulai dari sekaten yang sebelumnya telah dilaksanakan di alun-alun utara selama sebulan. Kemudian acara puncaknya adalah tanggal 12 rabiul awal, tanggal kelahiran Nabi Muhammad Saw, yang jatuh pada tanggal 14 Januari 2014 di tahun ini.

Sebelumnya, saya nggak begitu ngeh dengan keramaian semacam ini, kecuali bila hari besar Islam tiba, maka bakal ada banyak orang berjualan di sekitar alun-alun. Tapi tentu grebeg tidak hanya tentang itu, membuat saya ingin menelusurinya lebih dalam.

1: Grebeg

Grebeg itu sendiri berasal dari kata gumrebeg yang berarti riuh, ribut, dan ramai. Grebeg sebenarnya memiliki makna yang global. Grebeg Sudiro misalnya, merupakan gabungan tradisi Tionghoa-Jawa dan diperingati 7 hari sebelum perayaan Imlek. Grebeg sudiro juga menggunakan gunungan yang disusun dari ribuan kue keranjang–kue khas orang Tionghoa. Ada juga Grebek Suro, yang diadakan di Ponorogo dalam bentuk festival kesenian daerah setiap tanggal 1 Muharram.

Tradisi Grebeg sudah ada sejak kesultanan Islam Demak pada abad 16 masehi. Grebek yang populer di Jawa, khususnya di Yogakarta dan Solo dimaksudkan untuk merayakan hari besar Islam dan diadakan sebanyak 3 kali oleh masyarakat Jawa. Yaitu Grebeg Syawal pada Hari Raya Idul Fitri, Grebeg Besar di Hari Raya Idul Adha, dan Grebeg Maulud yang lebih populer dengan nama Grebeg Sekaten untuk memperingati Hari Lahir Rasulullah Saw.

Dalam acara maulud, salah satu upacara khasnya adalah gamelan Sakati. Ada dua gamelan yang dibunyikan selama 7 hari menjelang acara puncak, yaitu gamelan kyai nagawilaga dan guntur madu.

2: Sekaten 

Ini yang lebih familiar di telinga anak-anak sejak zaman lalu. Sekaten Jogja era lampau tentu berbeda dengan yang sekarang meskipun dimaksudkan untuk masyarakat supaya bergembira. Sekaten era modern berarti pasar malam, komidi putar dan sejenisnya, orang-orang berjualan mainan, dan juga telur merah yang menjadi ciri khasnya. Namun rupanya sekaten itu sendiri punya sejarah etimologis. Ada yang menyebut Sekaten berasal dari kata Sekati, yaitu nama dari dua perangkat pusaka Kraton berupa gamelan yang disebut Kanjeng Kyai Sekati yang ditabuh dalam rangkaian acara peringatan Maulud Nabi Muhammad Saw. Pendapat lain mengatakan bahwa Sekaten berasal dari kata suka dan ati (senang hati) karena orang-orang menyambut hari Maulud tersebut dengan penuh syukur dan bahagia.

Ada pendapat lain yang tidak kalah menarik, yang mengatakan bahwa kata Sekaten berasal dari kata syahadataini, yaitu syahadat tauhid (Asyhadu alla ila-ha-ilallah) yang berarti “saya bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Allah” dan syahadat rasul (Waasyhadu anna Muhammadarrosululloh) yang berarti “saya bersaksi bahwa Nabi Muhammad utusan Allah.”

Upacara Sekaten dapat dikatakan merupakan perpaduan antara dakwah Islam dan kegiatan seni.

Agama Islam semula dibawa ke Jawa oleh salah seorang Wali Songo, yaitu Sunan Kalijaga. Ia mempergunakan kesenian karawitan dengan menggunakan dua alat gamelan tadi untuk menarik masyarakat luas agar datang menikmati pentas karawitannya. Di sela-sela pagelaran, dilakukan khotbah dan pembacaan ayat-ayat suci Alquran. Bagi mereka yang memutuskan untuk memeluk agama Islam, diwajibkan mengucapkan kalimat Syahadat sebagai pernyataan taat kepada agama.

Hingga hari ini, masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya meyakini bahwa dengan ikut merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad Saw, yang bersangkutan akan mendapat pahala dari Tuhan Yang Mahaagung, juga dianugerahi umur panjang. Sesuai aturan tradisi, mereka harus menguyah sirih di halaman Masjid Agung Yogyakarta, terutama pada hari pertama dimulainya perayaan Sekaten. Oleh karena itu, tak heran selalu ditemukan ibu-ibu yang berjualan sirih dengan ramuannya, nasi gurih beserta lauk-pauknya di halaman Kemandungan, di Alun-alun Utara atau di depan Masjid Agung Yogyakarta. Di samping itu, tak ketinggalan, kalangan petani pun berdatangan untuk memohon (berdoa) agar panenannya yang akan datang berhasil. Untuk memperkuat harapannya tersebut, mereka membeli cambuk untuk dibawa pulang.

Dari berbagai sumber yang saya baca pula, Sekaten selalu dipersiapkan dengan matang, meliputi persiapan fisik dan spiritual. Persiapan fisik berupa peralatan dan perlengkapan upacara Sekaten, yaitu Gamelan Sekaten, Gendhing Sekaten, sejumlah uang logam, bunga kanthil, busana seragam Sekaten, samir untuk niyaga, hingga naskah riwayat maulud Nabi Muhammad Saw.

Sekaten dimulai pada tanggal 6 Maulud (Rabiulawal) saat sore hari dengan mengeluarkan gamelan Kanjeng Kyai Sekati dari tempat persemayamannya, Kanjeng Kyai Nogowilogo ditempatkan di Bangsal Trajumas dan Kanjeng Kyai Guntur Madu di Bangsal Srimanganti. Dua pasukan abdi dalem prajurit bertugas menjaga gamelan pusaka tersebut, yaitu prajurit Mantrijero dan prajurit Ketanggung.

Lepas waktu salat Isya, para abdi dalem yang bertugas di bangsal, memberikan laporan kepada Sri Sultan bahwa upacara siap dimulai. Setelah ada perintah dari Sri Sultan melalui abdi dalem yang diutus, maka dimulailah upacara Sekaten dengan membunyikan gamelan. Dan tepat pada pukul 24.00 WIB, gamelan sekaten dipindahkan ke halaman Masjid Agung Yogyakarta dengan dikawal kedua pasukan abdi dalem prajurit Mantrijero dan Ketanggung. Kanjeng Kyai Guntur Madu ditempatkan di pagongan sebelah selatan gapuran halaman Masjid Agung dan Kanjeng Kyai Nogowilogo di pagongan sebelah utara. Di halaman masjid tersebut, gamelan sekaten dibunyikan terus menerus siang dan malam selama enam hari berturut-turut.

Pada tanggal 11 Maulud (Rabiulawal), mulai pukul 20.00 WIB, Sri Sultan datang ke Masjid Agung untuk menghadiri upacara Maulud Nabi Muhammad SAW yang berupa pembacaan naskah riwayat maulud Nabi yang dibacakan oleh Kyai Pengulu. Upacara tersebut selesai pada pukul 24.00 WIB, dan setelah semua selesai, perangkat gamelan sekaten diboyong kembali dari halaman Masjid Agung menuju ke Kraton. Pemindahan ini merupakan tanda bahwa upacara Sekaten telah berakhir.

3: Gunungan

Selalu ada sepaket benda bernama gunungan sebagai syarat upacara Grebeg Maulud. Biasanya acara dimulai jam 8:00 pagi. Para prajurit kraton, yang terdiri dari 10 jenis pasukan mengiringi arak-arakan. Gunungan yang terbuat dari beras ketan, makanan dan buah, serta sayur-sayuan akan dibawa dari istana Kemandungan melewati Sitihinggil dan Pagelaran menuju masjid Agung. Setelah didoakan Gunungan yang melambangkan kesejahteraan kerajaan Mataram ini dibagikan kepada masyarakat yang menganggap bahwa bagian dari Gunungan ini akan membawa berkah bagi mereka.

Bagian Gunungan yang dianggap sakral ini akan dibawa pulang oleh masyarakat untuk ditanam di sawah/ladang agar sawah mereka menjadi subur dan bebas dari segala macam bencana. Tapi tahun ini terlihat ada pengurangan jumlah gunungan. di Pakualaman hanya satu jenis yang dibawa. Barangkali benar kata sepupu saya, disesuaikan dengan harga BBM.

Di Pakualaman, gunungan dibawa keluar keraton menuju depan mesjid kauman untuk didoakan. Selesai doa diucapkan, tapi terlihat kalau mereka sudah ngrayah duluan sebelum doa benar-benar akan diucapkan. Memang ada kepercayaan bahwa barangsiapa yang mendapat bagian apa pun dari gunungan tersebut, dia akan mendapat berkah dan kelancaran rezeki. Kegiatan ‘ngrayah’ atau berebut mengambarkan filosofi bahwa manusia berani melakukan persaingan dalam mencapai tujuan dan permasalahan hidup harus dihadapai bukan untuk dihindari. Bersyukur tidak berjalan dengan brutal. Malah terlihat beberapa orang yang sempat mengambilkan begitu banyak lalu dibawa agak ke pinggir untuk dibagi-bagikan pada lansia yang tentunya tidak bisa ikut berebut dengan anarkis.

Acara berlangsung cukup aman terkendali. mereka pulang dengan membawa kegembiraan. entah yang dapat atau pun yang tidak. Malah yang dapat sehelai kacang panjang pun ikut sumringah. Katanya mau ditanam di kebun supaya hasil panennya baik. Ya monggo. Apa pun itu. Asal menimbulkan motivasi positif bagi masyarakat, maka tradisi itu baik.

4: Ndok abang

Adapun telur merah yang akrab disebut ‘ndog abang’ yang ditusuk dengan bambu, adalah bentuk permulaan kehidupan, sedangkan bambu yang menusuk telur tersebut perlambang bahwa semua kehidupan di bumi ini memiliki poros yaitu Gusti Allah. Ndog abang menyimpan filosofi yang menarik. Warna merah artinya keberuntungan, rezeki, berkah, dan keberanian. Warna merah juga memiliki kaitan dengan asal usul manusia dimana manusia berasal dari dua warna yakni merah dan putih.
Selengkapnya dapat dibaca di salah satu situs ini.
Sayang, saya tak menemukan ada yang masih menjualnya di Swandanan.

#Demikianlah. Tiap daerah mempunyai cara dan tradisi sendiri-sendiri dalam menunjukkan rasa cintanya terhadap rasul. Intinya, setiap orang boleh merayakan ataupun tidak. Tapi tradisi dan adat istiadat yang ada di Jawa memang selalu bersifat mbulet dan ribet. Saya sendiri lebih memilih turut merasakan kegembiraan dan maknanya daripada menjadi pelaku. Sebab itu sudah cukup. 🙂

[referensi dari berbagai sumber]

gajah dalam upacara ini adaah sebagai pegawal iring-iringan gunungan

gajah dalam upacara ini adalah sebagai pegawal iring-iringan gunungan

mbah-mbah sedang menunggu kirab :)

mbah-mbah sedang menunggu kirab 🙂

gamelan yang diabuh di kraton pakualaman

gamelan yang ditabuh di kraton pakualamanan

Gunungan yang dibawa ke Pakualaman

Gunungan yang dibawa ke Pakualaman

momen ngrayah :)

momen ngrayah 🙂

akhirnya Simbah dapat beberapa lembar kacang panjang :D

akhirnya Simbah dapat beberapa helai kacang panjang 😀

salah satu gunungan yang dibawa di alun-alun utara. ngambil dari web jogja ^^

salah satu gunungan yang dibawa di alun-alun utara.
ngambil dari web jogja ^^

swandanan

Swandanan tengah hari

Ndok Abang -comot dari google image

Ndok Abang
-comot dari web antara news

narsis di tengah kerumunan - ponakan (paling kiri), Mbah Uti, Sepupu n suaminya

“narsis di tengah kerumunan”
– ponakan, Mbah Uti, Sepupu dan suaminya

*untuk memenuhi tugas Penamerah

keluarga kedua

Sering kali saya berpikir,  Tuhan mungkin memang memberi setiap individu 2 jenis keluarga dalam hidupnya. Pertama, mereka yang telah otomatis menjadi keluarga karena kesamaan genetik (sejak lahir) atau ikatan pernikahan. Kedua mereka yang datang karena pertemuan di tengah-tengah perjalanan, barangkali karena sesuatu alasan, dan kemudian bersama, saling merepotkan, saling membutuhkan, merasa senasib, lalu akhirnya menjadi keluarga.
Dalam keluarga, penonton dan ditonton adalah dua pihak yang penting. Termasuk saya yang selama ini lebih senang berada di pojokan untuk nonton hingga cicak-cicak di dinding barangkali lebih eksis daripada saya selama ini. Tapi dalam keluarga, semua pahak adalah yang utama.

Teman-teman seperjuangan, seperti halnya teman kampus dan teman kerja, termasuk keluarga kedua bagi saya.
Sejak dulu, proses sosialisasi ibarat buku pelajaran yang selalu harus saya pahami isi dan maknanya. Adaptasi selalu bukan perihal mudah. Merekalah yang secara langsung atau tidak langsung, membuatku mengerti dan menyadari bahwa hidup itu nggak mungkin sendiri, nggak bisa sendiri, dan tentu bukan hanya untuk diri sendiri. Teman-teman di Penerbit L misalnya. Mereka, yang ketika nggak ada rasanya seperti ada bagian yang hilang, mereka teman yang selama dua tahun lebih sebulan ini, dan tetap ada dalam suka duka, dalam badmood dan riang, dalam cuek dan kepo, dalam diam, bawel, malas, rajin, rempong, praktis, judes, dan ramah yang sama alami sekalipun. Dan selalu saling menerima apa adanya… mungkin bukan sekali dua kali saya menemukan teman-teman kerja yang akhirnya jadi seakrab keluarga sebab kebiasaan saya yang cukup sering pindah-pindah kerja.

Memang benar, bahwa hubungan kerja tak hanya sekadar pekerjaan dan kepentingan. Namun, yang terasa spesial dari teman-teman Penerbit L ini barangkali memang kekeluargaannya, yang sejak awal hingga detik terakhir, masih selalu berkesan, yang barangakali hanya akan saya temukan di tempat itu.

Yeah, akhirnya saya mengerti, yang paling berat dialami oleh mereka yang resign dari penerbit L adalah momen pamitannya, di mana seseorang harus mengikrarkan sesuatu kepada kawan-kawan seperjuangannya itu untuk melanjutkan perjalanan di tempat lain.

Tapi selama mengabdi di sana, banyak pengalaman berharga yang saya alami. Saya yang rumit rempong, panik-an, dan paranoid, di tempat itulah, akhinya belajar banyak, salah satunya termasuk tentang menjadi sederhana. Hidup sering kali hanya tentang hal-hal yang sederhana. Hidup sering kali butuh kesederhanaan daripada kerumitan yang biasanya dibuat diri sendiri. Pada dasarnya keluarga adalah penyeimbang. Mungkin saja setiap individu selalu berpotensi menjadi rumit, maka mereka terdidik oleh keluarga yang cenderung sederhana.

Ternyata memang keluargalah, mereka yang terdiri dua janis tadi, yang membuat saya tetap ingat untuk tetap di bumi, menyeimbangkan kecenderungan saya yang mudah menghilang ke galaksi entah berantah.
Demikianlah yang kelak juga akan saya jalani, kemampuan membelah diri: dunia sunyi yang individual dan kehidupan sosial yang juga sama pentingnya.

Kurasa hari perpisahan tempo hari terasa campur aduk, sedih, lega, dan entahlah…
Tapi perjalanan memang harus dilanjutkan.

*Spesial buat teman-teman rempong saya, yang akan selalu saya rindukan. Tetap semangat dan sukses! 🙂

waktu jalan-jalan ngisi liburan ke Candi Plaosan.

waktu jalan-jalan ngisi liburan ke Candi Plaosan.

acara ultah kantor (tahun 2012) di salah satu panti asuhan di GunKid

acara ultah kantor (tahun 2012) di salah satu panti asuhan di GunKid

souvenir dari mpok-mpok rempong :)

souvenir dari mpok-mpok rempong 🙂

merci beaucoup à tous :')

merci beaucoup à tous :’)

Negeri Mesin

Cerita dalam film animasi tanpa dialog, bisa menjadi kisah dengan beberapa sudut pandang. Rasanya ingin kucoba menuliskan ceritanya dengan persepsiku sendiri.

Seorang perempuan dari suatu tempat di bumi menyendiri di sebuah taman. Ia muda, ayu, dan berambut kecokelatan. Hampir setiap hari ia suka duduk memandangi bunga-bunga di sekitarnya dan membiarkan mereka tumbuh dengan sendirinya. Sesekali ia penasaran, kemudian mencium wangi bunga-bunga liar itu dalam-dalam. Sementara, di atas sana bulan tengah purnama. Betapa bulan itu seperti dirinya. Sendirian.

Suatu hari seorang laki-laki dari negeri antah berantah datang. Ia terpesona pada si gadis yang jelita itu. Laki-laki ini membawa sebuah kuda berbentuk robot, atau mungkin robot berbentuk kuda. Entahlah. Tapi makhluk itu membuat si gadis terkesima. Belum pernah ia melihat hal seperti itu sebelumnya. Tapi dari manakah si lelaki ini datang? Tidak di bumikah?

Si kuda cukup penurut. Ia mengambilkan salah satu bunga di taman itu dan memberikannya pada si gadis yang masih heran. Tentulah ia tercengang. Ada seekor kuda bisa memetik bunga layaknya manusia. Ia mengagumi si kuda aneh itu. Terutama pada si lelaki–si pembuat itu.

Konon, kata si pria, di negerinya, banyak orang pandai membuat mesin. Mereka dapat menciptakan dunia dengan isi kepala. Ide dan gagasan sebagaimana tuhan. Dapat mengatur segala yang hidup. Seperti mimpi.
Gagasan itu tentu terlalu tinggi bagi pemikiran si gadis yang sederhana itu, tapi ia jatuh cinta pada si lelaki.

Kuda itu dapat terbang. Hati si perempuan pun ikut terbang. Pada akhirnya mereka pun menyadari telah saling jatuh cinta. Singkat kata, mereka akhirnya menikah. Si pria sering kali bercerita tentang negerinya. Namanya negeri awan. Ia adalah salah satu insinyur. Katanya “di bumi yang telah sempit ini, semuanya takkan bertahan lama. Segalanya akan punah. Tapi di negeriku, segalnya abadi. Manusialah yang menentukan kehidupan. Bukan malaikat, bukan siapa-siapa. Tinggalah di sana bersamaku.”

Dibawanya si gadis terbang dengan sebuah mesin berbentuk perahu dengan balon udara di atasnya. Mungkin semacam pesawat. Dibawanya ia terbang jauh dan si perempuan tak henti-hentinya memerhatikan angkasa. Pun tak henti-hentinya terbelalak ketika telah sampai di negeri awan yang elok itu. Negeri dongeng yang sering diceritakan suaminya.

Kota itu memang sungguh menyenangkan. Rapi, padat, dan sibuk. Ia tak menyangka sejenius apa penduduk yang pekerjaan sehari-harinya menciptakan mesin, hidup dengan kemudahan mesin, dan menciptakan keindahan-keindahan tersebut dengan serangkaian mesin?

Pada suatu sore, ia ingin jalan-jalan mengelilingi kota yang sibuk itu. Ia ingin sendiri, seperti tatkala sebelum menikah, menikmati sore dan bunga-bunga. Ia berjumpa dengan seekor anjing lucu yang membuatnya kagum dan gemas. Namun ia tersadar seketika sebab si anjing bukanlah makhluk, melainkan salah satu robot. Tidak hanya itu. Rupanya tumbuhan dan rumput-rumput di negeri itu pun juga buatan manusia.

Sepanjang jalan, ia tak juga menemukan bunga-bunga yang segar di malam bulan purnama, tak lagi dijumpinya kupu-kupu yang terbang alami, tak dijumpainya kehidupan sebenarnya. Dalam rindunya akan bumi, ia bertanya, apa artinya ini semua? Barangkali ia tak butuh keabadian bila segalanya palsu. Ia bersedih hati. Ia rindu kembali ke bumi, tapi ia juga mencintai sang suami.

Tak lama ia meninggal dalam penderitaan dan bimbang.

Si suami merasa terpukul. Sang insinyur itu merasa sangat kehilangan. Tak pernah dirasakannya rasa pedih yang demikian. Dipungutnya bunga hias milik istrinya yang sempat ia buang, sebagai cara mengenang yang tiada. Tapi ada kekosongan sangat yang mulai ia sadari, sama seperti istrinya sebelum ia pergi. Ia tahu, keahlian dan kegeniusannya tak bisa membuat kekasihnya bahagia, tak pula membuat si istri bangkit lagi dari kuburnya.
Si insinyur hanya bisa membuat boneka robot yang menyerupai mendiang istrinya, juga sebentuk jantung yang hanya dikendalikan oleh mesin. Sembari menghabiskan usianya yang sia-sia.

*Short film berdurasi 9 menitan ini berjudul Invention of Love (dibuat oleh Andrey Shushkov).

Film ini sungguh bikin sedih.

Makna di Balik Motif Truntum

Barangkali bukan pengetahuan yang baru bagi para pecinta batik, bahwa motif truntum memiliki makna yang sakral. Ia melambangkan cinta yang bersemi kembali. Di dalam batik truntum, tersimpan realita, CLBK tidak hanya terjadi pada mereka yang pacaran, tapi juga yang telah menikah. Mengingat bahwa kadang yang asli justru cepat layu, seperti halnya bunga, maka kita mesti sanggup membuatnya tetap tumbuh dan berbunga sepanjang waktu.

Hal itu bermula pada sejarah ketika batik jenis truntum ini pertama kali diciptakan. Sekitar tahun 1749–1788 M, seorang permaisuri bernama Ratu Kencono atau Ratu Beruk, merasa diabaikan oleh suami karena kesibukan dan sebab ia harus memerhatikan selir barunya. Ratu Kencono yang merupakan permaisuri Paku Buwono III Surakarta Hadiningrat itu, mendekatkan diri pada Sang Pemberi Hidup pada suatu malam. Hingga datanglah sebuah gagasan. Katakanlah semacam inspirasi. Ia melihat langit yang cerah dan bertabur bintang, dan kerlip bintang itulah yang menemani kesepiannya. Ia pun mencium harum bunga tanjung berjatuhan di kebun persinggahannya sebagai bagian dari ide. Ia terus berupaya mendekatkan diri pada Tuhan sambil mulai membuat karya batiknya demi mengisi kekosongan. Membatik baginya seperti halnya berdzikir.

Selang berapa lama kemudian, sang raja menemukan permaisurinya tengah membatik sebuah kain yang indah. Hari demi hari, sang raja pun memerhatikan kesibukan baru sang permaisuri dan kain indah yang dihasilkan. Teriring juga perasaan kasih sayang yang kembali muncul. Itulah mengapa banyak yang menyebut truntum sebagai simbol cinta raja yang bersemi kembali.

Secara etimologi, truntum itu sendiri berasal dari isitlah teruntum–tuntum (bahasa Jawa) artinya tumbuh lagi. Taruntum memiliki arti senantiasa bersemi dan semarak lagi. Batik truntum memiliki pola yang halus dan sederhana. Bermotif seperti taburan bunga-bunga abstrak kecil, atau menyerupai kuntum bunga melati. Terkadang berbentuk seperti bintang yang bertaburan di langit. Dilihat dari bentuknya, tentunya butuh waktu sangat lama melukiskan motif truntum dalam selembar kain. Motif truntum menggambarkan bunga dilihat dari depan terletak pada bidang berbentuk segi empat. Biasanya menggunakan warna hitam sebagai dasar.

Karena nilai sejarah dan ajaran moralnya, motif truntum menjadi salah satu jenis pola batik terkenal di Solo—tempat asal motif batik ini diciptakan pertama kali. Motif tersebut akhirnya menjadi populer di Pulau Jawa. Termasuk juga di daerah Pekalongan.

Hingga hari ini, motif batik yang bermakna kesetiaan itu, akan kita temukan dalam upacara perkawinan adat tradisional, baik di Yogyakarta maupun Solo. Sebab membawa pesan dan harapan: bahwa kelak kedua mempelai dapat menjalani hidup dengan harmonis dan langgeng. Masyarakat kebudayaan Jawa memiliki ajaran demikian: dalam perkawinan, keluarga inti yang berjalan damai akan berpengaruh positif pada hubungan yang rukun antarkeluarga, dan juga mempengaruhi hubungan yang selaras dengan masyarakat di sekitarnya. Dan dalam hubungan yang harmoni tersebut, pengaruh penting juga berasal dari hubungan personal terhadap Tuhan. Seperti halnya ketika inspirasi itu muncul yang dimulai ketika sang permaisuri yang memohon petunjuk kepada Tuhan dalam kesunyiannya. Hingga proses membuatnya yang tentu dengan sabar dan telaten, hingga diibaratkan seperti menjaga sebuah hubungan dalam pernikahan.

Biasanya batik jenis truntum ini dipakai oleh pengantin perempuan dalam acara midodareni, dipakai juga pada acara panggih. Di samping itu, batik tersebut juga digunakan sebagai kain oleh kedua orang tua mempelai ketika resepsi pernikahan, sebagai wujud bahwa orang tua berperan penting dalam memberi pengetahuan dan menuntun anak-anaknya ke gerbang rumah tangga yang sakinah, mawadah, warohmah.

Sayang di zaman sekarang batik yang menyimpan makna filosofi itu pun semakin dilupakan. Digantikan oleh kain jenis modern dan praktis, hingga masyarakat pun lama-kelamaan melupakan pesan penting yang hendak disampaikan nenek moyang terdahulu.

*referensi dari berbagai sumber.

Sebentuk Mimpiku

AKU lupa di mana kutaruh mimpi. Kemarin hari masih tergeletak dengan tak berdaya di atas meja kerjaku, di dalam kotak kaca besar yang biasanya dipakai untuk akuarium. Ia berbeda dengan mimpi-mimpi yang lainnya. Tidak seperti yang kualami biasanya. Mimpiku yang satu itu kumiliki dan kurawat sejak beberapa bulan lalu—sejak ia tiba-tiba bertengger di jendela kamar kosku.

Dan baru saja kutinggal tidur sore ini, sudah raib di kegelapan. Kantor tentu masih buka. Bila kubuka tirai jendela dari ruanganku, terlihat di luar sana jalan masih ramai. Mereka semua barangkali bergegas ke rumah, untuk pulang, atau mungkin saja mengisi malamnya entah ke mana. Tapi aku yang anak perantauan tak selalu merasa wajib pulang. Apalagi di kantorku tersedia ruang bila karyawan akan menginap jika perlu menyelesaikan pekerjaan sampai selesai. Bagiku pekerjaan selalu nomor satu dibandingkan hang out atau sekadar nongkrong di kafe. Barangkali karena sebelum menjadi pegawai kantoran, aku terbiasa dengan kesendirian. Di samping itu, pada dasarnya, aku toh tak suka berada di antara banyak orang yang tidak membicarakan hal-hal yang kupahami.

Kuamati seluruh ruangan, dan tak ada tanda-tanda sedikit pun mimpi itu menempel di salah satu sisi dindingnya. Di balik figura yang membingkai karya sketsaku pun tak ada. Apakah si mimpi sedang bermain petak umpet? Oh, tiba-tiba aku merasa bersalah. Mungkin dia bosan lalu melepaskan diri dari sangkar kaca. Mestinya aku ajak dia sesekali berjalan dan menikmati kesibukan. Bukan dibiarkan saja seperti hamster di pojok ruangan sekretaris bosku. Aku jadi menyesal mengapa aku harus ketiduran di sofa hanya karena terlalu ngantuk baca naskah klien yang panjang, berbelit, dan tidak bermutu, terpaksa harus kurombak total untuk diterbitkan. Si penulis ini kebetulan adalah adiknya bos, sehingga mau tak mau novel itu harus terbit. Dan buruknya, harus terbit dengan tampilan yang sesempurna mungkin. Dan akhirnya aku kecapekan dan marah dengan diri sendiri. Bosan kutinggal tidur. Tapi mestinya aku tak melupakan bahwa aku masih punya sebentuk mimpi di atas meja kerjaku. Ia yang justru lebih berharga daripada pekerjaanku sendiri.

Dia satu-satunya yang kumiliki. Sepenting kucing bagi pecintanya. Jenis mimpi ini tak bisa berjalan-jalan sendiri di lorong-lorong, ia juga tak pernah lapar lalu mencari makan sendiri, atau merampok kantin. Biasanya bila lapar, aku yang akan mencarikannya, bahkan terkadang harus disuapi.

Sungguh, mimpiku ini sebetulnyaa amat pasif dan tergantung padaku. Mau aku apa-apakan pun ia tak protes. Tapi apakah justru karena aku terlalu seenaknya, sehingga ia pergi tiba-tiba seperti malam ini? Ia marah padaku? Apakah ia sudah lama ingin meninggalkanku? Ataukah ia merasa ia terkhianati? Sebab meski sebentar aku tertidur, aku seperti mengunjungi mimpi yang lain, bahkan lebih dari mengunjungi, aku memakannya, melumatnya, menghabisinya, bermain layang-layang dengannya, lalu aku terbangun begitu saja. Dan terkejut ketika kusadari mimpi yang kutaruh di dalam kotak kaca itu sirna.

Terpaksa kutinggalkan setumpuk pekerjaan ini dan mencoba keluar ke ruangan lain. Mataku memicing, menelusuri sudut demi sudut. Beberapa karyawan bagian keuangan masih di sana. Mereka ngobrol sambil minum teh. Lamat-lamat kudengar mereka berbicara seputar kabar terbaru artis sinetron.

“Kamu nyari apa?” salah satu menengok ketika menyadari aku celingukan menelusuri lantai.

“Mimpi. Kalian lihat dia lewat?”

Alih-alih menjawab, mereka malah mengernyit heran dan saling pandang. Ketika aku berlalu mereka bisik-bisik. “Dia gila ya?”

“Biasa, namanya juga anak redaksi. Mana ada yang tidak gila?” yang lain menyahut, dengan berbisik pula.

“Atau bisa saja, dia mulai sinting sejak putus dengan cowoknya dua tahun yang lalu.”

“Oh, benar juga….”

Lalu aku sampai ke dapur. Office boy heran melihatku kebingungan dan menggeledah seluruh kolong meja.

“Nyari apa Mbak?”

“Mimpi saya, Pak,” jawabku. “Lihat tidak Pak?”

Office boy ini satu-satunya yang mengerti apa maksduku, bahkan mengerti karakter semua karyawan di gedung ini. Dan selalu berusaha nyambung dalam percakapan tak biasa sekalipun.

“Oh.. nggak liat tuh Mbak. Kok bisa ilang gimana?”

“Gak tahu Pak, tadi saya sempat ketiduran, lalu bangun-bangun mimpinya udah nggak ada.”

“Wah, aneh ya Mbak.”

“Aneh kenapa Pak?”

“Soalnya saya punya juga, koleksi malah. Tapi gak pernah ada yang hilang walaupun ditinggal ke mana-mana… wong kalau pagi itu suka pada terbang jauh, terus sorenya balik lagi ke kandang….” Si Bapak menjelaskan panjang lebar seperti menjelaskan ciri segerombol merpati peliharaan.

Tapi malah tiba-tiba aku jadi sadar, bisa saja mimpiku dicuri.

“Aduh, gawat dong Pak!”

“Gawat kenapa Neng?”

“Mimpi saya mungkin dicuri orang.” Saya mulai gelagapan.

“Duh. Bagaimana bisa Neng, kantor ini kan aman?”

“Bukan maling. Mungkin ada orang yang bekerja di kantor ini dan tertarik dengan mimpi saya.” Aku mulai menuduh.

“Hm… bisa jadi Neng.”

Aku merasa sedih.

Dan seusai aku meningalkan dapur, si office boy memegang jidatnya, barangkali ia tak benar-benar paham arah pembicaraanku. Ia lantas bertanya pada penjaga kantin. Apakah yang dimaksud ‘mimpi’ sampai hilang dari kandang dan dicari-cari? Sebab ia lebih paham bahasa daerah darapada bahasa nasional.

Aku harus segera menemukannya. Segera, bila tidak barangkali aku akan kehilangan nafsu makanaku beberapa hari lagi. Aku tak mau kehilangan dia. Aku belum siap berpisah dengan mimpiku itu. Dan aku janji dalam hati untuk mengajaknya jalan-jalan sore setiap hari.

Seorang pria keesokan harinya itu membawakan mimpiku ke kantor. Tampan dan kelihatan sederhana dengan wajah yang belum sempat dicukur. Tapi aku selalu risih dan tak nyaman dengan orang yang punya penampilan tampan. Entah kenapa. Ada sesuatu yang tersirat dari sorot mata itu, mengingatkkanku pada seseorang yang pernah kutemui di dunia mimpi. Entah kapan, tapi cukup membuat detak jantungku mendadak memiliki ritme aneh.

Katanya si mimpi tergeletak begitu saja di depan rumahnya. Aku tak percaya, tapi mimpiku benar-benar ada di genggamannya. Aku menerima dengan ragu, si mimpi menjauhiku, masih ingin lekat-lekat pada sang pria. Berloncatan seperti kera. Tangan saya jadi gatal untuk menempeleng si mimpi saya yang bandel itu.

Ia tersenyum.

“Saya mau mengembalikan ini. Untung si mimpi bisa menjelaskan di mana alamat kantor Mbak. Tapi saya gak tahu kenapa mimpi Mbak seperti gak mau jauh-jauh dari saya.”

Aku menerima setengah memaksa. Tapi tak bisa. Si mimpi tenggelam dalam pelukan si pria. Pria yang benar-benar tak kukenal dan suka nyengir tak jelas ini. Aku gelisah dan pengin cepat-cepat masuk ke ruang sunyiku. Terlebih pria ini memandangku antara heran dan ingin tahu.

“Sepertinya dengan cara lain, mengambil mimpi Mbak dari tangan saya.” Si pria semula ragu, tapi ia paham situasinya.

Aku masih membeku, namun tak sadar telah menganggukkan kepala.

 

Yogyakarta, November 2012
Pernah diterbitkan di http://wartakota.tribunnews.com

NB buat Penamerah: karena sedang tak punya bahan cerita, izinkan saya comot cerpen saya 2012 lalu 😀 hehe, peace.

Ulasan Singkat: Cerpen “Katanya Saya Tak Akan Bosan”

Sekadar catatan pagi

Sastra, seperti yang kuingat dari buku Wellek dan Warren tahun 1990 adalah dokumen sosial sebagai potret kenyataan sosial. Berdasarkan pada penelitian Thomas Warton (penyusun sejarah puisi Inggris yang pertama), sastra juga memiliki kemampuan merekam ciri-ciri zamannya. Bagi Warton dan para pengikutnya sastra adalah gudang adat-istiadat, dan dalam hal ini buku sebagai sumber sejarah peradaban.

Sering juga potret zaman ditunjukkan oleh hal-hal yang tertulis secara tersirat dan tersurat di dalam sebuah cerpen. Dalam hal ini, perhatian saya akan menuju pada dunia perempuan dan kiprahnya.

Saya suka cerpen-cerpen yang ditulis oleh perempuan seperti cerpen ini. Saya suka bila para perempuan berani cerdas dan menjadi merdeka, dan mereka selalu membuat saya terinspirasi. Bahkan dalam menyuarakan/menuliskan isi pikiran dan pengalaman. Mereka juga mampu mereview kondisi dunia secara mikro dan kadang makro dari sisi lain. Meskipun di luar sana perempuan masih dianggap entitas yang berbahaya. Entah bagaimana, saya selalu suka membicarakan perihal perkembangan zaman dan cerita-cerita di dalamnya dari berbagai segi.

Bagi saya, sastra selalu memiliki cara unik menyuarakan kebenaran.
Meskipun kadang kala, karya sastra dan sinetron, sama-sama memiliki potensi “memberi rasa takut” yang aneh pada naluri keperempuanan.

sisi buruk

Karena memang beginilah aku. Sisi buruk yang kupunya: selalu membuat keputusan cepat seorang diri ketika menghadapi hal-hal yang samar dan tak jelas. Secepat aku berubah pikiran ketika sesuatu yang kuputuskan itu salah. (meskipun aku juga bukan orang yang ‘jelas’). Aku bahkan terbiasa cepat ketika berjalan kaki. Sering kali tak takut dengan medan terjal. Tak takut bila sewaktu-waktu terjatuh pada lubang. Toh masih bisa bangkit lagi. Toh itu bukan hal yang baru. Demikianlah aku menjalani hidup.

Dan aku hanya lebih sering diam tatkala tak ada hal penting yang harus aku bicarakan. Dan lebih baik sibuk bekerja daripada berbicara. Akan lebih baik berpikir hal-hal penting dan berat daripada mengerjakan hal-hal ringan namun hanya menguras waktu dan tenaga.

Dengan begitu orang akan tahu cara menyiksaku: membuatku menunggu dalam ketakpastian dan memberiku tanggung jawab dengan hal-hal yang tak jelas, atau membuatku tak memiliki kesibukan apa pun. Tapi aku selalu punya cara untuk lari ketika aku memang harus lari, secepat yang kupikirkan saat itu juga. Secepat aku mendekat dan terikat pada yang kukasihi.

Aku akan hanya mudah bertoleran dengan yang lemah dan bodoh. Bahkan aku ini keras kepala, yang akan semakin keras bila dihadapi dengan keras juga. Di samping itu, aku bahkan nggak bisa bersikap sabar pada orang dewasa yang “kurang dewasa”. Dan lantas pergi begitu saja dengan alasan “jeleh” karena bakal takkan betah dengan hal-hal yang “njelehi”.

Jangan tanya kenapa bisa demikian, nggak ada hubungannya dengan zodiak capricornus-ku atau wetonku yang katanya tipikal keras. (Aku nggak mau menghubungkan dengan semua itu, karena merasa kasihan sama yang sudah susah-susah bikin ramalan).

Yeah, anggaplah saja aku mempelajarinya dari iblis.

Dari Buku Hingga Cokelat: Dia Memang Bukan Teman Biasa

Seorang teman pernah bilang padaku, “Mengapa kau selalu ingin melarikan diri dari rumahmu? Apakah rumahmu tak senyaman rumahku? Bagiku, rumahku saat ini sangat nyaman, maka aku akan menjaganya agar dia tetap nyaman untuk kutempati.”

Teman yang lain menimpali, “Begitu pula denganku. Selain nyaman, rumahku juga sangat mewah. Maka aku akan berusaha keras menjaganya agar tetap indah untuk kutinggali.”

Lalu, kukatakan pada mereka, “Aku memang tak bisa bilang bahwa rumahku indah, apalagi mewah. Bahkan, rumahku sering terserang gempa, itulah yang membuatku beberapa kali ingin pergi darinya. Yang bisa kupastikan pada kalian hanyalah bahwa rumahku ini menyenangkan. Dan hal-hal menyenangkan inilah yang membuatku nyaman dan bertahan. Maka, ketika suatu hari nanti aku benar-benar pergi meninggalkan rumahku karena tak kuat lagi menanggungkan gelisah sebab gempa yang sering terjadi, aku akan merindukan semua hal menyenangkan itu.”

Begitulah isi surat yang ia tulis di secarik kertas yang diikat bareng cokelat SilverQueen yang kemudian bagi ke teman-teman kantor di jam pulang. Sementara di luar hujan tengah mereda, dan sore baru saja tiba.

Sebenarnya inilah yang kemarin sempat kuhindari. Sesi perpisahan. Alasan keburu mau mengajar tidak cukup untuk membuatku menyimak situasi yang bakal terjadi. Nanti aja dong… Nggak buru-buru kan. Akhirnya bergeming dan pasrah menyimak adegan yang bakal terjadi kemudian. Terutama Mpok Nanik, yang paling lama berjuang selama masa kariernya, yang kelihatan paling nggak rela dengan kenyataan itu. Kedua mpok ini adalah seniorku, pada merekalah aku belajar banyak hal yang berhubungan dengan editing buku. Nah, kubilang juga apa. Akhinya pada tangis-tangisan. Padahal kan masih bisa ketemuan lagi :|. Berhubung si Mpok ini eksistensinya cukup melekat di hati teman-teman kantorku, maka yeah.., bisa membayangkan tow?

Jarang aku menemukan teman kerja yang gokil dan bisa sejiwa. Di kantor, kami seperti keluarga. Barangkali karena memiliki nasib sama.Salah satunya adalah si Mpok ini. Kebutulan Mpok Tanti adalah satu-satunya editor yang mejanya paling dekat denganku. Dia juga teman keluyuranku. Oleh karenanya denganya pula aku sering share kegalauan dan saling menyemangati. Namanya juga teman sepergalauan.

Terutama persoalan buku. Kebetulan karena penerbit tempat kami bekerja jenisnya indie, maka kami pun sering, bahkan selalu, menemukan buku-buku yang “helloo” banget segala aspeknya. Intinya nggak sesuai dengan passion dan visi misi kami di bidang literature. Maka wajar tatkala menemukan buku berkualitas terbitan penerbit mayor, tak habis kami jadi terpesona. Dan banyak kami obrolkan. Nah, sebagai teman sebangkunya, saya paham mengapa seorang editor bisa tidak betah dengan bidang yang sedang dikerjakannya. Bacaan dan peristiwa-peristiwa di balik proses editing punya potensi merusak sesuatu yang mestinya berkembang positif. Peristiwa resign bisa jadi momen kebebasan. Aku masih ingat betapa cerianya ketika ia menerima surat kelulusan (baca: surat pengalaman kerja) kemarin hari.

Tapi mulai besok, bangku sebelahku kosong…

Yeah, mestinya kita semua bisa mengakali kondisi. Cara paling mungkin untuk tetap bertemu bisa teman-teman yang pamit resign adalah dengan berhutang kepadanya dan membuatnya berhutang juga pada kita, haha. Yang kumaksud di sini adalah buku. Semula bukan hal yang disengaja sih, sebab kesibukan yang berdesakan di bulan Desember kemarin, akhirnya buku karya Prie GS yang berjudul Mendadak Haji itu pun belum juga selesai kubaca. Buku yang kupinjam dari si Mpok ini adalah salah satu yang membuatku terpesona.

Nah, seperti ini ulasan singkatnya, biar si Mpok percaya bukunya benar-benar kubaca 😀

Membaca buku ini seperti menyimak catatan perjalanan. Yang sudah tahu kiprah Prie GS pasti sudah memahami bagaimana gaya bahasa dan cara berbicara si bapak ini di depan forum. Santai, sering diselingi parodi dan ironi, namun isinya mendalam. Begitu juga ketika beliau menulis.

Membaca buku ini, rasanya seperti diajak menelusuri dan memahami ibadah haji yang sesungguhnya. Haji yang berarti tidak sekadar status, malinkan ibadah haji dalam arti sebenarnya. Dari persiapan, kenyataan menyangkut birokrasi yang terjadi di lapangan, perjalanan, hingga sampai pada makna secara makro dan mikro. Seperti bila kita sedang membaca buku harian seseorang. Selain catatan pengalaman berharga, ada juga peristiwa yang kadang membuatku gemas, tertawa, dan kadang memaklumi. Cuplikan yang kutemukan di awal-awal buku ini pun mampu memberiku wawasan yang berharga. Buku ini sesungguhnya memuat dengan padat hal-hal filosofi, religius, sosial, budaya, hingga hal-hal bersifat spiritual. Bisa juga disimpulkan, bahwa haji yang sebenarnya adalah perjalanan menuju Tuhan.

Pada bab-bab awal pun sempat kutemukan cuplikan catatan perjalana Prie GS yang dekat dengan narasi hidup kita sehari-hari.

“….Cinta secara hormonal adalah dorongan untuk bergaul kepada orang yang lebih ganteng, lebih cantik, dan lebih kaya. Namun, dorongan spiritual mendorong saya untuk mencari teman yang lebih pintar, lebih tua, lebih bijak, dan akhirnya lebih spirital. Prosedur cinta ini pula yang menarik saya menuju Tuhan….”

Yang galau sedang asmara, bisa juga mengaplikasikannya =))

Beberapa hal yang kutangkap di buku ini, pertama adalah betapa berhaji adalah tentang kesiapan hati.
Kedua, kesiapan fisik dan finansial tentu saja.
Ketiga, pengetahuan tentang daftar prosedur yang harus dijalani dan hambatan yang mungkin terjadi.
Keempat, persetan dengan pemerintah dan politikus yang berhaji tapi korupsi. Nggak mungkin perjalanan se”suci” itu justru mendorong seseorang untuk jadi maling setelah kembali ke tanah air.
Oh maaf, malah jadi ngomel-ngomel 😐

Karena aku tidak terbiasa mereview buku bertema religi dan takut malah jadi rusak maknanya, maka biarlah kuulas seperlunya saja.
Intinya, buku ini recommended bagi mereka yang hendak berhaji, menyukai bacaan menarik yang ringan namun spiritual, juga cocok untuk yang ingin sembuh dari kekacauan hidup akibat rutinitas membaca naskah acakadul.

Dan bagiku yang sudah jarang sekali lagi baca buku-buku bertema agama, buku ini cukup keren dan religius tapi nggak kelihatan sekaku buku-buku bertema agama lainnya.
Kelak aku akan membelinya juga supaya orang-orang terdekatku bisa membacanya juga.

….
Kembali ke perisitawa resign. Kita harus tetap bahagia dengan apa pun pilihan yang kita jalani. Apalagi demi memperbaiki hidup.

Semoga sukses untuk kita semua.^^

IMG-20131116-WA0006

temen-temen kantor 2012: ketika anggotanya masih cukup utuh :p

temen-temen kantor 2012: ketika anggotanya masih cukup utuh :p

 

Si Lugu dan Renungan Kemanusiaan

silugu-voltaire

Pengarang : Voltaire
Diterjemahkan oleh : Ida Sundari Husen
Edisi Kedua : Mei 1996 oleh Yayasan Obor Indonesia

 

 

Judul aslinya L’Ingenu. Dalam bahasa Indonesia artinya Si Lugu. Secara iseng, buku yang sudah langka ini kubawa dari perpus IFI. Seperti yang disampaikan oleh sang penerjemah, Ida Sundari Husein, dalam halaman pengantarnya, novel ini ditulis oleh Voltaire dalam usinya yang ke-73 di tahun 1767. Seperti halnya tema novel Voltaie yang lainnya, Si Lugu dekat dengan gambaran kehidupan Perancis di zaman itu.

Sesuai dengan judulnya, tokoh utama dalam novel ini adalah Si Lugu. Diceritakan, bahwa ia datang dari Huron. (Umat Katholik memiliki sejarah khusus mengenai orang-orang Huron ini). Karena keluguan dan hubungan masa lalu yang dekat dengan keluarga Pastor de Karkabon, ia akhirnya diterima selayak keluarga. Orang selalu penasaran dengan karakter Huron hingga semuanya tampak berfokus padanya. Mereka membaptis Si Lugu sebab di Inggris mereka tidak memperkenalkan agama pada Si Lugu. Setting suasana pada novel tersebut tampak adanya pertentangan samar di dalam tubuh sebuah agama dan juga konflik negara.

Dalam perjalanannya, ia jatuh cinta pada Nona de Seint-Yves, adik dari Pastor de Saint-Yves, yang merupakan ibu permandiannya ketika dibaptis. Tentu saja, banyak orang menentangnya karena tidak dibolehkan seorang ibu pemandian (baptis) menikahi anak pemandiannya. Dan secara polos juga Si Lugu mengancam pembatalan pembaptisan bila rencana pernikahannya dihalangi. Semua seakan tak bisa berkutik. Sementara Nona de Kerkabon, bibinya, berharap Si Lugu menjadi seorang pastor. Namun ia menolak. Keberaniannya melawan orang Inggris, yang pada saat itu menjadi musuh Perancis, membuatnya memperoleh pertimbangan khusus dan malah dijadikan perwira perang.

Dalam usahanya memperoleh penghargaan dan nama demi menikahi pujaan hatinya, ia ditangkap dan dipenjara tanpa alasan.
Ketika berada di penjara, ia bertemu dengan Gordon, orang yang juga dipenjara tanpa alasan, dan pada akhirnya berpengaruh kepada Si Lugu untuk memahami hidupnya lebih luas. Sebab ia memiliki sifat murni dan bersahaja, maka ia pun belajar banyak dari pengalaman hidup.Benar kata seorang esais, bahwa penjara bukan hal yang mampu membelenggu manusia daam diri seseorang. Sebab di dalam penjara, Si Lugu belajar banyak hal, dari hal bersifat politis hingga seputar seni pertunjukan.

Penjara juga mengingatkanku pada sejarah penulisnya, yang bisa dikunjungi di sini.

Pada zaman itu feodalisme masih berkuasa. Hampir segala urusan berpusat dan diserahkan pada kekuasaan. Si kekasih, Nona de Saint-Yves yang ingin menyelamatkanya itu pun harus menyerahkan kehormatannya pada seorang birokrat, Saint-Pouange, sebagai syarat wajib. Seorang politikus dan agamis yang berwenang di ranah politik. Peristiwa itu dianggap telah biasa di Perancis. Dan bahwa meskipun telah melanggar martabat, si pejabat tersebut tetap dihormati. Tak seorang pun mempercayai Nona de Saint-Yves sehingga gadis itu menyimpannya seorang diri. Kekuasaan dalam sistem feodal dan agama di masa itu selalu mengorbankan perempuan dan kaum marginal demi merealisasikan kepentingan dan ambisi. Dan masyarakat telah menganggap itu lumrah. Seperti itulah yang akan ditunjukkan Voltaire dalam novelnya.

Sementara Si Lugu mengalami perkembangan berpikir yang cukup pesat selama berada di dalam penderitaan penjara.
Pada narasi dan dialog-dialognya, kita dapat menemukan nilai-nilai filosofis, kritik sosial, dan parodi yang ditampilkan Voltaire dalam novel Si Lugu, tampaknya membuat dongeng Voltaire bukan sekadar dongeng petualangan biasa, ia lebih pada perjalanan dan nilai-nilai hidup yang dikemas dalam sebuah bangunan cerita. Seringkali dalam perjalanan, tokoh-tokonya menyentil degan sindiran dan kritik. Seperti halnya pada cuplikan di halaman 54-56:

Sesungguhnya sejarah hanya rangkuman kejahatan dan kemalangan. Sejumlah besar orang yang tak bersalah dan cinta perdamaian selalu lenyap di arena sandiwara yang maha luas ini. yang menjadi tokoh-tokoh tak lain hanyalah orang-orang ambisius yang keji. Tampaknya sejarah hanyalah menyenangkan kalau mirip kisah-kisah sandiwara. Drama akan membosankan, apabila tidak diramaikan oleh pertikaian hawa nafsu, kejahatan-kejahatan, dan kemalangan-kemalangan.

Si Lugu dan sahabatnya Gordon pun dikeluarkan dari penjara. Namun Nona de Saint-Yves menyimpan rapat rasa malu dan penderitaannya karena telah menukarkan harga dirinya demi membebaskan kekasihnya, Si Lugu.

Sayang ending-nya mungkin tidak sesuai ukuran novel populer. Kita tidak akan menemukan akhir cerita di mana si birokrat tadi dihukum penjara, kena nasib sial sepanjang hidup, atau benar-benar dibunuh oleh si Lugu. Si kekasih yang mengorbankan dirinya itu pada akhirnya meninggal dalam sakitnya dan menimbulkan luka dalam bagi Si Lugu. Tapi pada akhirnya tokoh hidung belang yang menyebabkannya itu menyesal dan diampuni. Sebab di dalam kebebasan, manusia selalu dimaklumi dan dimaafkan. Dan selalu ada pengampunan.
Ya begitulah sistem kebebasan.

Sebelumnya, kukenal Voltaire lewat salah satu karyanya berjudul Candide. Seperti halnya penulis-penulis produktif lain, Voltaire membangun karakter tokoh-tokoh utama dengan serangkaian kemiripan satu sama lain. Seperti halnya tokoh Si Lugu yang digambarkan sebagai tokoh yang polos dan murni. Karena keluguannya, maka hampir tak pernah terlintas prasangka di benaknya. Kata-kata, pendapat, dan sikapnya selalu sesuai apa yang terlintas di pikiran dan hatinya. Dan kepolosan berarti membawanya mampu menyerap begitu banyak hal di sekitarnya. Ia menjadi pembelajar yang berkembang pesat. Dan konsekuensi dari karakter itu adalah, ia menjadi loyal terhadap sesuatu yang telah dipercayainya. Hal itu ditujukkan dalam beberapa bab buku, seperti ketika ia dibaptis, ketika menjawab dan bertanya dengan orang-orang, melawan sistem feodalisme, dan ketika ia jatuh cinta dengan Nona de Saint-Yves, dan reaksinya tatkal kekasihnya ini meninggal karena tekanan jiwa.

Voltaire, si pengarang novel ini, lahir pada abad 18 di negeri Perancis. Karya-karyanya dikenal sebagai salah satu hal yang berpengaruh pada zaman renaisans. Tema besarnya selalu mengenai optimisme, kebebasan berpikir, dan kritik sosial.

Buku ini memiliki tampilan yang barangkali memang tidak laku dijual bila digabungkan di deretan buku lain di masa sekarang. Yeah, karena saat ini, belum sempat mencari buku-buku baru, jadi maklum, saya mengambil buku-buku seadanya untuk digunakan belajar menulis resensi.

Tapi buku kecil yang tua ini membuatku mengingat sesuatu. Yeah, kita pernah mengenal bangsa Arab yang dikenal lugu dan primitif itu. Yeah, memang awalnya jahiliyah, jahil adalah milik orang primitif dan polos, tapi bila sudah yakin, mereka loyal. Itulah mengapa Islam lahir di sana dan bukan di Jawa. Lalu sang nabi yang lahir di dalam lingkungan Arab, yang kita kenal dengan sifat “murni’ dan rendah hatinya itu membuatnya pantas dipilih sebagai rasul akhir zaman.

Kurasa barangkali hidayah dan mukjizat tidak menyapa orang-orang berpendidikan dan pintar. Sebab pintar konon berpotensi ‘memintari’ orang lain dan tahu cara menutupi dengan rapi fakta-fakta yang mestinya disampaikan. Yeah, barangkali demikian. Menjadi pintar kadang adalah kutukan.

Berlari Tanpamu

Suara satu orang saja takkan didengar, sekalipun berteriak di tengah hingar dan mengatakan, “please, suara kembang api kalian tak semua orang suka. Hargai yang tidak merayakan, seperti para simbah, bayi, dan orang-orang yang sedang sakit. Mereka gak merayakan.” Saya juga nyaris nggak pernah merayakan kecuali dua kali bersama teman-teman sewaktu masih kuliah dan hanya berniat menemani. Tapi tentu saja saya hanya molekul kecil di tengah lautan hingar bingar tahun baru ini.

Hidup adalah soal berbagi, maka harus sabar dan pasrah. Tapi bahkan sampai sekarang, saya tak terlalu bisa berdamai dengan keriuhan semacam ini. Hanya bisa pakai headset dan bersiap tidur bila semua ini sudah selesai.

Tapi ah biarlah saya pasrah melewati malam ini, sambi menulis salah satu lagu yang saya dengar malam ini.

Salah satu lagu keren ini diciptakan oleh kawan saya yang tergabung dalam grup band The Secret. Karena kebetulan belum ada versi youtube yang bisa di-link, sementara posting liriknya dulu :p.

Berlari Tanpamu

Ku ingin angin berembus
Menampar sepi
di akhir hari
Ku ingin buih membaur di ujung kakiku
Yang terus berdiri
Kulihat diriku pada cerminan alam
Dan kukesahkan padamu tentang lukaku
dan lukamu yang tak selesai
didekap badai

Biruku juga birumu direnggut malam
Tak kau hadapi semua ini bersamaku

Ku berlari tanpamu inginku bersamamu
Tak sempat kumengerti engkau yang menghindari
Semua keputusanmu aku sadari dulu
Aku tak pernah tahu tentang isi hatimu

Aku tak pernah tahu tentang semua itu

 

Oke, biar saya coba membuat ilustrasi lagu ini, dan tentu hasil imaji saya sendiri:

Mendengar lagu ini, saya seperti melihat sebuah film pendek dengan latar pulau yang terletak di luar Indonesia, yeah, katakanlah demikian. Hanya ada burung camar, kapal-kapal nelayan yang hendak berangkat melaut, aroma asin garam dan ikan, juga klorofil yang menguar dari hutan tak jauh dari lokasi itu.

Kemudian, seseorang terlihat sendirian di sana, ia berlari di sepanjang pantai, menembus hutan dengan kakinya yang telanjang dan bebas, menemui rasa sepinya sendiri… Direngkuhnya kenangan yang pahit dan manis. Melawan semua waktu…
Sesekali ia terperangkap damai. Sesekali ia terpenjara pedih. Ingatan telah membuatnya seperti gelombang…
Di seberang sana badai mengintip di sela awan, dan ia tak sempat berlari, barangkali ia tak punya daya, barangkai ia juga tak mau.. Pada pantai itu seseorang menunggu. Senja belum berurai. Malam masih di kejauhan. Badai seakan memperingatkannya untuk pergi. tapi ia mencintai pantai: pasir dan lautannya, semua hal tentang keabadiannya. Juga sepenggal masa lalu yang dimilikinya.

Pada sepi, seseorang itu bertanya: apa arti kosong dalam ruang hati
apa arti semua yang ia pernah jalani
apa artinya perasaan
apa artinya masa lalu itu
dan apa artinya hidup.

Barangkali ia memang harus terus berlari…