Review: Modern Islamic Parenting

35564780_2087462968242531_2209632391708803072_n

Judul: Modern Islamic Parenting
Penulis: DR. Hasan Syamsi
Penerbit: Aishar Publishing
Cetakan 1: November 2017
Bahasa: Indonesia
ISBN: 978-602-1243-08-4
Jumlah halaman: 312

 

Hampir tidak ada gaya parenting yang sempurna di dunia ini. Tapi setiap orang tua menginginkan cara yang ideal untuk menerapkannya. Meski bertahun berkecimpung di dunia pendidikan anak, saya tetap merasa harus belajar lebih banyak. Sebab mengajari anak orang lain ternyata bisa beda ceritanya dengan mengajari anak kandung sendiri. Mendidik anak sendiri tidak hanya terbatas sekian jam di kelas, tetapi sepanjang waktu di mana pun itu. Tanggung jawabnya juga lebih berat. Konon bahkan dilaporkan kepada Allah kelak di hari akhir. Dalam proses belajar mendidik anak, tak jarang saya mengadopsi ilmu dari berbagai buku dan artikel. Terkadang masih terpengaruh juga dengan beberapa gaya mendidik orang tua saya. Tetapi pada intinya, saya setuju anak-anak (di keluarga muslim) mestinya dibesarkan sesuai dengan nilai-nilai islami pula. Nah dari sini saya tahu, ini sedikit menantang bagi saya mengingat anak-anak tumbuh di lingkungan islami yang sedikit beragam. Maklum tinggal di Jawa, keluarga besar kami tergolong plural. Tapi tentu saya tidak mempermasalahkan keberagaman itu, karena anak-anak akan tetap tumbuh dalam dunia yang menantang di luar sana, yang perlu bagi saya sebagai orang tua, menjadi pengarah yang mampu membawa mereka pada pencerahan, dan bukan sebaliknya. Memiliki anak-anak yang mampu menjaga dirinya dan tak mudah terbawa arus negatif pastilah sungguh damai rasanya.

“Sekiranya kamu bersikap keras lagi kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. (Ali Imlan: 159)

Beruntung saya menemukan buku Modern Islamic Parenting yang ditulis oleh DR. Hasan Syamsi melalui pengalamannya selama 20 tahun membesarkan anak-anak. Menjadi orang tua kan, meminjam istilah Elly Risman, nggak bisa terjun bebas. Melainkan harus belajar juga. Saya juga membacanya berulang-ulang selama beberapa minggu ini dan merasa tertarik dengan isinya. Buku ini berisi paduan mendidik anak dengan lembut sesuai ajaran Nabi namun masih relevan diterapkan di masa sekarang. Sayangnya buku ini belum terdaftar di goodreads. Padahal menurut saya, isinya mencakup hampir semua yang dibutuhkan para orang tua mendidik anak-anaknya untuk berkarakter islami. Secara garis besar buku ini menerangkan beberapa poin untuk dijadikan pedoman dalam membentuk anak-anak yang islami. Pertanyaan-pertanyaan kecil saya terkait bagaimana sih cara paling ideal membentuk generasi islami, terjawab di buku ini.

Dibuka dengan uraian singkat terkait tanggung jawab orang tua terhadap kehidupan anak-anak termasuk juga pentingnya memposikan diri sebagai orang tua yang diidolakan anak. Sampai di sini, saya menyadari perlunya refleksi diri sebagai orang tua selama ini karena bagaimanapun orang tualah figur utama anak-anak. Mereka akan meniru dan bertindak sesuai apa yang dilihat sejak dini. Menerapkan kebiasaan baik seperti mengucapkan tolong, maaf, dan permisi, menggosok gigi, sholat, bahkan menyukai buku meski belum bisa membacanya, mudah dilakukan ketika mereka masih berada di usia dini. Nah ternyata, mereka pun juga peniru ulung yang belum bisa memilah baik dan buruk. Belajar dari pengalaman, saya pernah shock mendengar anak pertama saya mengucapkan istilah kasar yang tidak pernah didengar di rumah. Maka kami yang orang rumah selalu mengalihkan pada istilah lain dan lucu untuk diucapkan hingga ia lupa dengan sendirinya. Sejak itu, saya jadi tahu pentingnya menjaga anak-anak dari efek buruk lingkungan luar yang kurang sesuai dengan prinsip keluarga.

Pada buku ini, ada banyak poin yang dibahas terkait mendidik anak secara islami, yaitu seperti:

  • Memahami jenis mainan dan hadiah untuk anak,
  • Pentingnya belajar menyelesaikan masalah,
  • Menghukum dengan tepat,
  • Pendidikan seks usia dini,
  • Hingga pada membentuk karakter anak sejak dini.

 

Tak hanya itu, buku ini juga merangkum hal-hal yang akan ditemui orang tua tatkala anaknya beranjak remaja dan apa yang sebaiknya dilakukan. Tak lupa, karena ini buku yang full mengarahkan para orang tua membentuk anak-anak yang soleh, maka di beberapa bab di buku ini Hasan Syamsi juga menambahkan arahan mengenai bagaimana agar anak-anak kita dapat menjadi pengafal Al-Quran, salah satunya adalah meminimalisir atau malah menjauhkan mereka dari hingar bingar televisi dan gadget. Di akhir halaman, buku ini dilengkapi pula dengan doa agar anak-anak kita dimudahkan dalam menghafal Al-Quran. Sekalipun saya nggak muluk-muluk ingin anak saya mengahafal seluruh isi Al-Quran, tapi saya memprioritasnkan hanya hal-hal baik yang dipelajari mereka pada usia dini sebagai landasan untuk proses belajar di tahun-tahun berikutnya. Dan tak terasa, di usia anak pertama yang belum 3 tahun, alhamdulillah, ia hafal beberapa surat (yang pendek) Juz ‘Ama, doa sehari-hari, dan juga ayat kursi.

Bahasa yang dituturkan dengan ringan pada buku ini membuat pembaca mudah memahaminya. Namun menurut saya, tiap bab di buku ini dibahas dengan kurang mendalam. Tiap subbab dalam buku ini kalaupun dipecah menjadi beberapa buku pun tetap bisa. Kendati demikian, buku ini isinya berbobot dan mudah dipahami, meskipun susunan per pembahasan sedikit acak-acakkan. Membaca buku ini ibarat sedang menyimak seorang ustadz dalam sebuah forum yang tengah sibuk menjawab seabrek pertanyaan dari para jamaah. Terkadang tidak berurutan tapi setiap pembahasan mengandung informasi penting yang rugi kalau dilewatkan.

“Kita ajarkan kepadanya bahwa dusta dan iman tidak menyatu, dan dusta kecil ataupun besar sama saja.”–(h. 236)

Sayang ditemukan banyak kalimat negasi yang pilih penulis dalam buku yang bertema pendidikan islami ini, padahal kalimat positif lebih mudah dipahami ketimbang yang negatif. Seperti pada halamn 40- “Ketika salah seorang teman berbuat tidak baik, jangan berlaku kasar dan berkata kepadanya, ‘Saya tidak ingin kau membawa perilaku burukmu ke rumah kami'” dan kalimat selanjutnya hanya berupa “Usahakan untuk memberi penjelasan kepadanya dengan tenang.” Pada halaman 45 bahkan hanya berisi contoh-contoh kalimat ancaman yang tidak boleh dilontarkan tanpa dilengkapi dengan alternatif kalimat yang positif yang dapat diterapkan orang tua. Namun tidak mengapa, dengan begitu, pembaca seolah diajak aktif berpikir dan kretif mencari sendiri kalimat terbaik untuk dikatakan kepada putra-putrinya. Syukurlah kalimat negatif yang sejenis hanya sebagian kecil saja di buku ini.

Buku ini menarik untuk dibaca dan diterapkan orang tua kepada anak-anaknya. Apalagi seperti halnya buku-buku islami lain, materinya didukung oleh pengalan surat Al-Quran dan hadist yang sahih. Kalau sudah begitu saya, jadi tambah luluh. Namun orang tua meski tak habis ikhtiarnya untuk menjadikan anak-anaknya ahli surga, perlu juga bertawakal. Sebab, hasil kan tetap saja di tangan Allah. Saya bahkan ingin sekali menjadikan isi buku ini pedoman. Barangkali sejak selesai baca ini saya terdorong membuat semacam evaluasi dalam jurnal pribadi berdasarkan poin-poin di buku ini seiring dengan perkembangan dan proses belajar saya sebagai orang tua.

Buku ini diperuntukkan bagi siapa pun yang membutuhkan semacam gambaran bagaimana mendidik yang tepat dan islami sesuai dengna anjuran Nabi. Recommended bagi orang tua, calon orang tua, atau siapa pun yang tengah berjuang mendidik anak-anak.

 

20:20 ; ritme

“Mimpi adalah mekanisme nan menakjubkan. Ia danau tak berdasar. Kita menyelam di sana, melihat dan mengerti segala sesuatu dalam dimensi berbeda, merasa gembira atau sedih karena pengetahuan itu. Lalu, ketika kita muncul di permukaan lagi, kita tidak bisa mengerti lagi apa yang telah kita lihat, tapi kita masih bisa merasakan sesuatu akibat pengertian yang telah hilang.”

Cuplikan ini ada di novel Lalita karya Ayu Utami, yang tak sengaja kutemukan ketika iseng membaca.

 

 

 

Pernikahan dan Kampanye Ala Ibu-ibu

Benar kata sebuah pepatah (agak lupa di mana menemukan) : Topik pembicaraan yang sering dihindari, justru semakin sering ditemui. 

Hari itu bukan hanya isu kampanye parpol yang saya temui, tapi juga topik yang satu ini. Seorang teman lama bersemangat mengampanyekan salah satu institusi sosial terkenal yang menjadi langganan orang Indonesia yang masih normal: pernikahan. Kami sudah lama tak bertemu, dan kami ngobrol banyak hal perihal dunia wanita. Ia telah menikah. Dan keputusan mereka menikah justru setelah pacaran selama seminggu. Jalan ceritanya pun konyol dan lucu.

 

Pembicaraan ini berawal dari opini saya bahwa menikah dan pacaran, adalah dua hal yang berbeda. Dari substansi komitmen hingga perpisahannya pastilah semua orang tahu, lebih ribet bila itu di dalam ranah pernikahan. Kalau pacaran administrasinya gampang, tinggal “bye bye...” maka perceraian pun sah.

“Kalau menurutku ya pacaran lama itu rugi waktu, tenaga, pikiran, dan keimanan…” Teman saya ini mulai presentasi.
Keimanan? Wow.. saya memang pernah jadi atheis gara-gara pacaran: Apakah jodoh kekasih itu ada? dan apakah Tuhan itu ada? Ah, sudahlah.

Kami baru saja menonton acara infotainment di televisi, acara yang sebetulnya membuat saya elergi.
“Mbak emang ingin menikah waktu pacaran itu?” saya iseng tanya.
“Ya,” jawabnya sambil menerawang jauh. Wajahnya berseri. Begitulah wajah orang-orang yang lagi mengingat sejarah percintaan.
“Dan nggak takut kalau ketemu pasangan yang salah?” saya masih penasaran.
“Setiap manusia adalah makhluk yang salah. Nggak ada yang sempurna,” demikian si Mbak menjelaskan. “Bodoh banget kalau anggap pacaran adalah jalan untuk saling mengenal pasangan.”
Saya merasa tertampar. Oh, idelisme…

“Kalau mau mengenal pasangan yang menikah resmi, seumur hidup aja orang nggak akan bisa mengenali pasangan resmi sepenuhnya, bagaimana yang cuma pacaran? Tapi banyak sih, muda-mudi yang milih pacaran cuma buat seneng-seneng aja. Lucunya mereka karena nggak serumah, maka satu sama lain hanya melihat tampilan baik. Begitu menikah, jedueeer, nggak bisa menerima kebiasaan buruk alami si pasangan.”

“Iya sih. Itu masuk akal.”

“Makanya, ada beberapa agama yang tidak menganjurkan pacaran karena dirasa memang kurang menghargai hak asasi pasangan. Pertama, pacaran menutup kesempatan menemukan yang terbaik, padahal sebelum menikah, setiap orang bahkan masih berhak mencintai siapa pun dalam hatinya. Banyak juga yang meskipun sudah lama pacaran, tapi menikah juga karena terpaksa, sebab para ortu sudah ngejar-ngejar misalnya. Kedua, mereka memilih pacaran karena aslinya sebagai alibi pengin ada yang merhatiin tapi nggak berani bertanggung jawab membangun rumah tangga, huahahaha..”

Jleb.

“Mbak sendiri bahagia setelah menikah?”
“Bahagia itu relatif. Manusia itu sendiri makhluk yang pasang surut. Kadang bahagia, kadang sedih. Kadang waras, kadang edan. Tapi setidaknya ada seseorang di sampingku yang entah ikhlas atau enggak, atau mau nggak mau, tetap berada di sampingku.” Si mbak ngikik. “Sering kan teman-teman kita yang pacaran malah ngajakin kita nongkrong atau nonton pas lagi sedih, dan bukannya bersandar ke pacarnya. Karena si pacar selalu nggak ada, huhahahaha.”

Aku senyum dan mengangguk-angguk saja.

Si mbak ini pasti bakal cocok dengan ibu dan adik perempuan saya dari segi prinsip. Kalau sedang ngobrol berempat, pasti 3 lawan satu.

Beruntunglah mereka yang berpikir lurus-lurus saja. Sebab yang selalu merekam dan berpikir segala hal, akan kesulitan mempercayai begitu saja.

“Nah kalau agama itu sendiri nggak menganjurkan sesuatu, karena ada alasan di sana. Contohnya soal hormon itu sendiri. Realitasnya, hubungan spesial laki-laki dan perempuan biasanya hanya bertahan setahun dua tahu saja karena pengaruh hormon. Hormon itu ada masa kadaluarsanya lho. Tahun ketiga sudah mulai logis. Jangan ngarep bakal romantis-romantisan terus. Tanya aja deh sama yang udah nikah.”

Aku masih menyimak dalam diam, sambil menatap cicak yang melintas di kaca jendela.

“Tapi jangan khawatir…”
Lamunan pun goyah, bukan karena kontennya, tapi karena si Mbak masih bersemangat kampanye sambil menepuk kaki saya.

“Biasanya, meskipun nggak lagi saling romantis, pasangan menikah yang lama meskipun sudah ‘kayak temen’, tapi masing-masing udah saling menjaga keutuhan rumah tangga. Entar kerasanya kalau udah pada sepuh.”

Saya sendiri sebenarnya ingin meminta pendapat, apakah di zaman sekarang institusi pernikahan itu harus dijalani setiap individu? Tapi lebih menarik dibicarakan dengan mereka yang agak liberal, karena biasanya netral.
Tapi saya lebih ingin bertanya pada diri sendiri, apakah saya ini sudah cukup baik untuk menikah? Dan rasanya monster-monster dalam diri saya sudah bosan mengajak diskusi.

Tiba-tiba teringat kata seseorang kemarin hari, “barangkali kamu selalu mencurigai institusi pernikahan karena baru mendengar dari orang-orang di luar sana, bukan karena mengalaminya sendiri.”
Maka mari kita benarkan, menikah adalah kehidupan baru yang penuh kejutan. Yang kita tidak akan tahu akan seperti apa. 🙂

ah, Tuhan, bukan sekali dua kali saya diceramahi soal pernikahan, hanya hari itu seperti diingatkan ulang.
Menjadi idealis itu memang ruwet…
Muarakan segala hati saya kepada Engkau saja, Tuhan.

Kalau sampai waktuku… (meminjam sebaris puisi Chairil Anwar)
Toh juga mesti dijalani juga.