Surat Kepada Kesendirian

Kepada Kesendirian,

Lalu sampailah kita pada hari ini, yang tak pernah aku tunggu dan tak kubayangkan.
Tapi bukankah hidup juga tidak hanya tentang menunggu dan membayangkan? Kata orang, ia butuh dijalani.

Kupu-kupu akan terbang melintas bunga seperti musim kemarau yang biasa, hujan akan merintik jalan-jalan pada musim hujan yang biasanya. Dan burung-burung melintasi embun. Lihat bahwa sekawanan capung kemarin hari menghinggapi bambu-bambu dan kini mereka tersesat karena rumahnya terganti pertokoan. Tidakkah engkau lihat kunang-kunang tak lagi mengunjungi taman-taman kota? Apakah engkau mengamati mengapa senja begitu cepat disergap gelap? Senja yang selalu kita kenang itu? Dan bukankah dalam hidup kita terkadang digariskan bertemu untuk jatuh cinta dan kemudian mengambil jalan masing-masing?

Saatnya pulang dari pengembaraan panjang, menutup pintu, menyimpan rapat rindu. Sudah waktunya menutup gerbang-gerbang mimpi, bagi hal-hal yang tersembunyi jauh di dalam sana. Meski aku mengerti, tak ada yang berhenti dari mimpi, kecuali akan selalu bergandeng tangan dengan kenantian. Aku ingin engkau berbahagia, menelusuri seluruh sudut dunia yang tak kutahu, sementara aku menghitung ranting yang kering dan menuliskan sajak dari daun-daun yang berjatuhan di halaman.
Kita tahu, setiap sepi akan kembali ke hadapan perenungan. Seperti setiap tinta akan bermuara pada lembar-lembar catatan.
Dan setiap cinta akan dilabuhkan ke lautan.

Barangkali sudah cukup rasanya, aku jatuh cinta pada hidup dari sudut kesunyian…
Sekalipun indah, tapi biarlah, seperti halnya kafein, tidak baik bila dikonsumsi berlebihan dan menjadi kebiasaan…

Temanmu, yang Dijemput Keramaian

Dongeng Calon Arang

download

 

Judul : Cerita Calon Arang
Penulis : Pramoedya Ananta Toer (1954)
Penerbit : Lentera Dipantara
Edisi : Cetakan 5, Februari 2010
Format : Paperback, 94 halaman

 

 

 

Kala itu, Daha adalah sebuah negeri yang megah dan makmur. Kini bernama Kediri. Hasil pertanian selalu baik, kemanan negerinya terjaga, dan seperti yang dijabarkan pada bagian awal, setiap orang berbahagia. Daha diperintah oleh seorang raja yang bijaksana dan disegani bernama Erlangga. Namun tak jauh dari istana, terdapat sebuah dusun bernama Dusun Girah, di sana tinggal seorang janda yang begitu ditakuti semua orang. Begitu pula orang selalu takut mendengar nama dusun tersebut. Sebab si janda bernama Calon Arang merupakan ahli tenun yang memiliki perangai yang buruk. Ia tengah marah sebab tak seorang pun mau mempersunting putri semata wayangnya, Ratna Manggali. Kendati Ratna Manggali seorang gadis yang begitu cantik, tak seorang pun mau karena takut kepada ibunya. Dimulailah bencana yang mengusik kedamaiana Daha dan sekitarnya.

Ribuan orang dikirimi teluh dan dibunuh secara sadis. Penyakit mematikan ditebarkan di mana-mana. Bahkan darah orang-orang yang dibunuhnya dipakai keramas oleh Calon Arang dan pengikutnya.
Raja memerintahkan pasukan untuk menumpas Calon Arang, namun gagal karena para pemimpin kelompok terbunuh dengan mudah oleh kesaktian si dukun, membuat seluruh prajurit mundur seketika. Maka, sang raja memanggil setiap orang salih untuk mencoba mencegah calon arang dengan cara lain. Hingga ia menemukan seorang tokoh pertapa yang taat kepada agama dan paling disegani di wilayah Daha bernama Mpu Baradah. Ia pun dimintai bantuan oleh sang raja untuk menghentikan Calon Arang yang semakin menjadi.

Mpu Baradah meminta raja untuk mengutus seseorang untuk mempersunting Ratna Manjali sebelum rencana penaklukan itu dimulai. Erlangga yang telah mempercayai Mpu Baradah sebagai pendeta yang cerdas dan bersahaja pun mengutus Empu Bahula hingga lamaran pun diselenggarakan. Musibah mereda sesaat ketika acara pernikahan tersebut berlangsung. Namun rupanya wabah penyakit yang bertebaran di sekitar Dusun Girah masih berlangsung.

Pada akhirnya Empu Bahula berhasil meminta tolong pada istrinya untuk mengungkap rahasia Calon Arang. Setelah menemukan rahasia Calon Arang, Mpu Baradah pergi membunuhnya. Calon Arang berhasil dibunuh, namun Mpu Baradah menghidupkan si penyihir untuk mensucikan jiwanya sebelum dibunuh kembali. Calon Arang pun meninggal dengan tenang. Mpu Baradah juga menolong para penduduk yang masih dapat diselamatkan.

Seperti halnya kita tahu, dongeng Calon Arang telah secara turun temurun diceritakan, dari mulut ke mulut, juga dari naskah ke naskah. Termasuk yang ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer. Karena dituturkan oleh masyarakat dari berbagai daerah, maka dongeng tersebut menjadi beberapa versi.

“Semua manusia bersaudara satu sama lain. Karena itu tiap orang membutuhkan pertolongan harus memperoleh pertolongan. Tiap orang keluar dari satu turunan, karena itu satu sama lain adalah saudara.” (hal.21)

Setidaknya ada beberapa hal yang kupetik ketika membaca dongeng ini.
– rupanya, seiblis apa pun seorang ibu, ia tetap akan mencintai anak kandungnya
– setiap yang berlaku jahat dan brutal sekalipun, tetep ingin berakhir menjadi baik
– jangan main-main dengan seorang anak gadis yang belum menikah, bila kau tak ingin dibunuh oleh ibunya

haha, tentu saja saya cuma bercanda karena tidak sesederhana itu. Sejujurnya, banyak hal menyedihkan yang saya temukan dalam buku ini.

Memang sesungguhnya tidak mudah membedah karya-karya yang ditulis seorang Pramoedya meskipun karya tersebut disajikan dalam konsep dongeng. Namun, saya menangkap beberapa hal penting dari dongeng Calon Arang yang sepertinya berada “di balik layar”:
Pertama, bahwa sejak dulu, pertentangan antar dan intern agama selalu terjadi, dan setiap konflik menimbulkan korban, pertentangan Calon Arang dan Mpu Baradah menandakan terdapat pertentangan agama di zaman kerajaan Daha. Intinya dalam buku ini, banyak diceritakan tentang dua kubu kekuatan, dua hal yang kontradiksi, tokoh-tokoh yang bersebrangan, juga tentang permusuhan terhadap sesuatu yang bertolak belakang. Barangkali demikianlah gaya khas penulis yang dalam hidupnya selalu melakukan perlawanan dan selalu berkelahi dengan halangan dan kekuasaan. Mereka tentu menulis dengan cara yang lain.

Kedua, dongeng Calon Arang dalam buku ini juga mengantarkan pembacanya untuk menolak lupa pada sebuah rezim di mana, kala itu, pembantaian juga terjadi di mana-mana, genosida dan bahkan penghilangan sejumlah orang terjadi tanpa kita tahu alasan tepatnya. Dan hingga hari ini masih banyak yang hanya menjadi tanda tanya.

Ketiga: jangan lupa juga tentang sejarah penjajahan yang cukup mengubah sistem di Indonesia bahkan hingga hari ini, dan membuat kita belajar mengenai bagaimana itu penjajahan dari masa ke masa.

Oleh karena beberapa konten yang agak sadis di beberapa bagiannya, barangkali cerita dongeng ini lebih cocok dibaca masyarakat berusia 15 tahun ke atas.

Catatan Senin Malam

1
Aku ingat pernah menuliskan film The Lady, tapi entah di manakah file itu berada.
Film itu begitu menarik, dan setiap peristiwanya kuingat… setiap apa pun yang menyangkut film itu di tahun 2012-an.

Barangkali di dunia ini, cinta yang sempurna tidak ada. Seperti yang ada di film itu.

Cinta? hm, sejak kapan aku sanggup jujur dengan perasaanku?

2.
Karena mimpi itu gratis, kenapa tidak kita tulis mimpi kita sebanyak-banyaknya?

Akhir-akhir ini, aku sedang terus menuliskan mimpi dan rencana-rencana hidup di setiap kesempatan. Belakangan kutahu, menulis rencana hidup juga sudah menjadi tradisi sejak zaman Romawi Kuno. Tapi seperti halnya banyak orang di laur sana, aku juga selalu takut. Bukan takut bermimpi, melainkan tentang hal-hal yang mungkin kelak menghalangi supaya aku berubah pikiran.

3.

Betapa akhir dari sesuatu yang telah lama ditunggu dan ditebak-tebak jawabannya, bisa menimbulkan rasa sedih dan lelah dua kali lipat sepertinya. Dan yang kumaksud ini, tentang ditemukannya bangkai pesawat Malaysia Airlines MH370 yang hilang, yang kubaca beberapa saat yang lalu.
Tapi meski demikian, meski kepastian kadang menyakitkan, tak ada lagi penantian dan prasangka yang tak pasti yang berlarut dan berlanjut.
Demikianlah kadang hidup itu mengajari kita.

4.
Perpisahan selalu menimbulkan kesedihan, sekalipun kita sadar, kesedihan selalu tak berlangsung lama dan kadang datang kemudian pergi, kadang menjadi awal dari sesuatu atau akhir dari sesuatu.

Hari ini, seorang guru yang telah bekerja sama denganku 3 bulan ini mengundurkan diri karena akan pindah ke Kalimantan. Namanya Rina. Dia mahasiswa di salah atu universitas swasta islam di Yogyakarta. Sejak awal aku mewawancarainya, aku telah melihat kesungguhannya. Dia menemuiku tidak lewat iklan yang kupasang di koran atau jejaring sosial, tapi inisiatif begitu ada info terdengar dari temannya. demikianlah, langsung kuserahkan beberapa murid kepadanya yang sedang menunggu guru yang bersedia.

Aku selalu menaruh kepercayaan dengan mudah terhadap mereka yang mau mengajar, dan benar, Rina adalah salah satu dari mereka yang memang berjiwa mengajar. Sebab selama ini aku menghafal seperti apa tipikal pengajar yang orientasinya cenderung hanya pada materi. Tapi untunglah itu hanya satu dua yang kutemui. Rina tipikal yang tulus. Sejak awal dia sudah care dengan permasalahan murid, bila aku harus mengganti jadwalnya dengan guru lain, ia akan meminta nomor si guru tersebut, untuk menjelaskan perihal si murid, supaya ke depannya dapat melanjutkan materi yang diajarkan sebelumnya. Dan itu dia lakukan tanpa kuminta. Yeah, barangkali sebab dia juga paling dewasa dia antara yang lain, maksudnya, sebab guru-guru lain masih semester awal dan masih awam soal mengajar, tapi di samping itu, Rina inilah yang paling mengerti kalau tidak mudah bagiku meng-handle semua ini sendirian.

Dan di antara 12 guru yang bekerja sama denganku akhir-akhir ini, alhamdulillah kebanyakan memang tak berorientasi pada gaji. Melainkan pada kualitas. Termasuk dia. Maka, aku menjadi yakin, suatu hari cita-cita bikin sekolah untuk rakyat menemukan cahaya. Tapi saking loyalnya, Rina bahkan saat pamitan tadi dia minta honor dua kali mengajarnya bulan ini diberikan salah satu temennya, temen guru juga 😐 . Padahal sudah kuyakinkah bahwa gaji bisa ditransfer ke mana pun guru-guru ini bepergian. Tapi katanya, itu sudah menjadi niatnya. Akhinya itu pun jadi amanah yang mesti kusampaikan akhir bulan nanti.

Oke, akhirnya kami share soal cita-cita. Dia juga tertarik di bidang itu. Kami saling mendoakan semoga sukses di masa mendatang. Dan akhirnya aku juga malah curhat, kelak sku memang ingin membuat sekolah gratis untuk masyarakat yang tidak mampu, juga yang berada di pinggir wilayah Indonesia, supaya tidak ketinggalan hidup di zaman kapitalis seperti ini. Untuk itulah, aku bakal bekerja keras di waktu mendatang, supaya dalam proses itu, segalanya dapat terlaksana dengan lancar satu per satu. Tentu aku butuh doa untuk membuat segalanya terlaksana.
Dan rupanya, cita-citaku sama dengan Rina. Kami akhirnya memutuskan untuk jangan lost contact, sebab suatu hari siapa tahu Tuhan mengizinkan, kami bisa bekerja sama. Amin untuk segala doa yang berniat dari jiwa.

Surat dari negeri hujan

Dear Penghuni Bulan,

Pernahkah engkau mendengar dongeng tentang peri pemetik air mata?

Apakah kehidupan memang lahir dan berakhir dari air mata? Hm, aku ragu. Terlebih tatkala kubuka kunci ingatan melalui foto-fotomu yang engkau kirim dari negeri bulan. Lalu, sekelebat kenangan menghangat, sejak bertemu engkau pertama kali, tatkala aku belum berdamai pada air mata. Kurasa air mata adalah kesedihan yang gelap dan beku. Maka kita tak boleh memilikinya. Kemudian kehidupanku terus berjalan dengan kita berdua main kucing-kucingan. Tahukah bahwa dalam jarak yang begitu jauh dan dunia yang begitu diam ini, aku selalu mendengar sayup detak jantungmu, menyimak tidurmu, menghafal kebiasaanmu tatkala pagi, dan menerka jam bepergianmu di kala malam, juga selalu dapat menatap keindahan yang engkau tangkap lewat matamu. Seperti segenap kartu pos hasil cuilan air laut yang engkau kirim dari negerimu. Selalu saja aku ingin mencuri-curi kesempatan untuk bisa minggat ke negerimu, tapi kata ibuku, negerimu begitu jauh dan tak terjangkau, aku takkan bisa menempuhnya. Dan aku takkan tahu bagaimana cara pergi ke sana. Ibuku tak pernah percaya bahwa sesungguhnya kita memiliki peri-peri ungu yang setia mengantarkan surat-surat kita tepat waktu, berserta kiriman ekspresi wajah kita dan musik-musik yang kita saling tukar.

Aku bahkan selalu suka melihat rautmu yang memberengut setiap aku terlihat tak memerhatikan perkataanmu. Aku bahkan sampai menghafal eskpresi kecewamu. Sesungguhnya, aku hanya banyak bersikap dingin pada orang yang membuat hatiku nyaman. Takkan kubiarkan ia menemukan pipiku yang merona karena malu dan peri-peri ungu memotretnya untuk dikirim ke negerimu. Meskipun aku akan gagal bersembunyi dari tawa yang lepas tatkala engkau berbicara hal-hal konyol. Peri-peri itu terlanjur merekam tawaku untuk dilempar ke negerimu, ah, pasti wajahku buruk sekali.

Namun, tak kupungkiri, aku juga suka caramu tertawa, lalu dalam diam-diam itu, aku akan senantiasa menyimpan tawamu itu yang menjelma butir-butir berbentuk tetesan embun yang mengkristal, telah kusimpan mereka sejak kita memiliki kebersamaan yang aneh ini. Kini semuanya telah memenuhi dinding kamarku hingga penuh. Hingga aku begitu sedih bila suatu saat aku akan berhenti mengumpulkannya.

Siapa yang tahu tentang nasib seseorang di masa depan? Dan kau takkan menyadari itu. Kau takkan menyadari bahwa aku membenci pagi sejak kutahu hanya pada malam hari aku dapat bersamamu. Menemuimu.

Tapi selalu saja, aku akan menghilang dengan bodohnya, tatkala engkau mulai menemuiku. Aku takut engkau menangkap air mataku yang tak pernah kutahu mengapa bisa begitu mudah membanjir ketika mengingatmu. Aku selalu takut, kenanganmu selalu dapat mengalahkan segalanya yang kusebut kenangan selama ini. Kau tahu kenapa? Sebab selama ini aku tak menganggap kenangan adalah kecacatan, maka ia tak akan kubuang sia-sia. Seperti juga uraian kenanganmu yang selalu aku dengarkan dalam kebahagiaan, melalui surat-suratmu. Namun semenjak itu, tak pernah aku berani memilikimu. Ingatkah engkau tatkala aku bercerita tentang masa kecilku? Aku jenis anak kecil yang suka mencabuti bunga-bunga. Suatu ketika aku menelusuri sebuah hutan dan menemukan bunga yang begitu indah dan berwarna abu-abu, warnanya membuat perasaanku damai, dan bunga itulah yang terindah dari yang pernah kulihat. Maka dari itu, aku takkan berani memetiknya. Aku takut melihat bunga itu layu bila dipetik, lalu mati dan bentuknya akan terus membuatku terluka. Maka aku menjaganya dengan membuatnya tetap menjadi rahasia. Demikianlah yang kurasakan.

Tapi aku memang mencintai kebersamaan denganmu–yang membuatku selalu mau menunggumu, dan aku selalu rela membebaskanmu, berdoa agar kamu selalu bahagia, juga akan bersedia membaca setiap suratmu. Dan, ah, kau telah bosan bila menemukan kenyataan itu, bosan mendengar hal yang sama. Barangkali ada juga satu jenis perasaan yang bisa mendebukan perasaan lain yang kukira sudah sedemikian mapan, hanya karena satu orang yang tak pernah dimiliki. Dan aku akan bersedia menyimpan perasaan itu bertahun kemudian bila itu harus kulakukan. Sebab di negeriku aku telah banyak diajari menjadi membosankan dan menyimpan air mata rapat-rapat, menyimpan kebahagiaan rapat-rapat, juga barangkali menyimpan kematian rapat-rapat..
Apakah saat menerima surat ini, kamu sedang bahagia? Aku bahagia bila kamu bahagia. Kau tahu, aku selalu kagum cara negerimu mengajarimu soal menanam dan menyemai kebahagiaan.

Rasanya di negeriku, kehidupan memang terbentuk dan lahir dari air mata, seperti yang pernah diucapkan seorang penyair yang menyukai senja. Tapi pernahkah engkau mendengar dongeng sekawanan peri yang membawa air mata dari bawah bantal kita yang basah bila kita tengah bersedih di tengah malam dan di tengah tidur?

Baiklah kuceritakan.

Peri-peri itu datang dari negeri yang sangat jauh. Mereka hadir diam-diam di kala semua orang tertidur. Di tangannya mereka membawa dua keranjang kosong untuk memunguti air mata yang tersimpan di bawah bantal. Mereka menadah butir air mata yang jatuh dari pelupuk orang-orang yang bersedih dan peri-peri itu mengubahnya jadi kristal. Meskipun tak lebih besar dari biji kenari, tapi keranjang yang mereka bawa itu mampu menampung seluruh air mata kesedihan di negeri bumi. Karena semua orang tak mengetahui perihal itu, maka mereka mengira yang terbang dan beribu jumlahnya itu hanya kunang-kunang atau sekawanan lebah.

Peri-peri itu mencari setiap air mata dan membawanya dalam bentuk kristal bening. Konon air mata itu dikumpulkan di dalam ceruk-ceruk gua, dan peri-peri itu selalu tak pernah kehabisan stok. Dalam air mata itu, tersimpan seluruh kenangan yang diteteskan oleh si empunya air mata. Maka bila butir-butir kristal air mata itu didekatkan di telinga, engkau akan mendengar berbagai kisah yang dialami orang-orang. Bahkan engkau bisa melihat sebuah dunia di sana bila engkau dekatkan kristal itu di depan mata. Juga akan kau temukan setiap rahasia yang tersimpan rapat-rapat. Peri-peri akan menjaganya supaya tidak seorang pun mencuri lalu menjualnya di jalan-jalan.

Betapa selalu absurd cerita-cerita yang berasal dari negeri dongeng. Haha, sudahlah.

Namun, tahukah engkau, suatu hari aku terbangun pada pagi hari yang menjemukan sepeti biasa, aku melihat sekawanan peri-peri itu dalam cahaya kehijauan menjinjing keranjang besar dan meninggalkan kamarku. Semula kukira mereka hanya arak-arakan sekawanan capung. Mereka terbang entah ke mana dan hanya kutangkap ekor cahayanya. Sampai surat ini selesai kutuliskan, aku masih tak tahu, apa yang baru saja mereka bawa dari dalam kamarku semalaman.

Kau percaya itu?

Temanmu 

 

 

*terinspirasi cerpen Agus Noor tentang peri pemetik air mata

Pernikahan dan Kampanye Ala Ibu-ibu

Benar kata sebuah pepatah (agak lupa di mana menemukan) : Topik pembicaraan yang sering dihindari, justru semakin sering ditemui. 

Hari itu bukan hanya isu kampanye parpol yang saya temui, tapi juga topik yang satu ini. Seorang teman lama bersemangat mengampanyekan salah satu institusi sosial terkenal yang menjadi langganan orang Indonesia yang masih normal: pernikahan. Kami sudah lama tak bertemu, dan kami ngobrol banyak hal perihal dunia wanita. Ia telah menikah. Dan keputusan mereka menikah justru setelah pacaran selama seminggu. Jalan ceritanya pun konyol dan lucu.

 

Pembicaraan ini berawal dari opini saya bahwa menikah dan pacaran, adalah dua hal yang berbeda. Dari substansi komitmen hingga perpisahannya pastilah semua orang tahu, lebih ribet bila itu di dalam ranah pernikahan. Kalau pacaran administrasinya gampang, tinggal “bye bye...” maka perceraian pun sah.

“Kalau menurutku ya pacaran lama itu rugi waktu, tenaga, pikiran, dan keimanan…” Teman saya ini mulai presentasi.
Keimanan? Wow.. saya memang pernah jadi atheis gara-gara pacaran: Apakah jodoh kekasih itu ada? dan apakah Tuhan itu ada? Ah, sudahlah.

Kami baru saja menonton acara infotainment di televisi, acara yang sebetulnya membuat saya elergi.
“Mbak emang ingin menikah waktu pacaran itu?” saya iseng tanya.
“Ya,” jawabnya sambil menerawang jauh. Wajahnya berseri. Begitulah wajah orang-orang yang lagi mengingat sejarah percintaan.
“Dan nggak takut kalau ketemu pasangan yang salah?” saya masih penasaran.
“Setiap manusia adalah makhluk yang salah. Nggak ada yang sempurna,” demikian si Mbak menjelaskan. “Bodoh banget kalau anggap pacaran adalah jalan untuk saling mengenal pasangan.”
Saya merasa tertampar. Oh, idelisme…

“Kalau mau mengenal pasangan yang menikah resmi, seumur hidup aja orang nggak akan bisa mengenali pasangan resmi sepenuhnya, bagaimana yang cuma pacaran? Tapi banyak sih, muda-mudi yang milih pacaran cuma buat seneng-seneng aja. Lucunya mereka karena nggak serumah, maka satu sama lain hanya melihat tampilan baik. Begitu menikah, jedueeer, nggak bisa menerima kebiasaan buruk alami si pasangan.”

“Iya sih. Itu masuk akal.”

“Makanya, ada beberapa agama yang tidak menganjurkan pacaran karena dirasa memang kurang menghargai hak asasi pasangan. Pertama, pacaran menutup kesempatan menemukan yang terbaik, padahal sebelum menikah, setiap orang bahkan masih berhak mencintai siapa pun dalam hatinya. Banyak juga yang meskipun sudah lama pacaran, tapi menikah juga karena terpaksa, sebab para ortu sudah ngejar-ngejar misalnya. Kedua, mereka memilih pacaran karena aslinya sebagai alibi pengin ada yang merhatiin tapi nggak berani bertanggung jawab membangun rumah tangga, huahahaha..”

Jleb.

“Mbak sendiri bahagia setelah menikah?”
“Bahagia itu relatif. Manusia itu sendiri makhluk yang pasang surut. Kadang bahagia, kadang sedih. Kadang waras, kadang edan. Tapi setidaknya ada seseorang di sampingku yang entah ikhlas atau enggak, atau mau nggak mau, tetap berada di sampingku.” Si mbak ngikik. “Sering kan teman-teman kita yang pacaran malah ngajakin kita nongkrong atau nonton pas lagi sedih, dan bukannya bersandar ke pacarnya. Karena si pacar selalu nggak ada, huhahahaha.”

Aku senyum dan mengangguk-angguk saja.

Si mbak ini pasti bakal cocok dengan ibu dan adik perempuan saya dari segi prinsip. Kalau sedang ngobrol berempat, pasti 3 lawan satu.

Beruntunglah mereka yang berpikir lurus-lurus saja. Sebab yang selalu merekam dan berpikir segala hal, akan kesulitan mempercayai begitu saja.

“Nah kalau agama itu sendiri nggak menganjurkan sesuatu, karena ada alasan di sana. Contohnya soal hormon itu sendiri. Realitasnya, hubungan spesial laki-laki dan perempuan biasanya hanya bertahan setahun dua tahu saja karena pengaruh hormon. Hormon itu ada masa kadaluarsanya lho. Tahun ketiga sudah mulai logis. Jangan ngarep bakal romantis-romantisan terus. Tanya aja deh sama yang udah nikah.”

Aku masih menyimak dalam diam, sambil menatap cicak yang melintas di kaca jendela.

“Tapi jangan khawatir…”
Lamunan pun goyah, bukan karena kontennya, tapi karena si Mbak masih bersemangat kampanye sambil menepuk kaki saya.

“Biasanya, meskipun nggak lagi saling romantis, pasangan menikah yang lama meskipun sudah ‘kayak temen’, tapi masing-masing udah saling menjaga keutuhan rumah tangga. Entar kerasanya kalau udah pada sepuh.”

Saya sendiri sebenarnya ingin meminta pendapat, apakah di zaman sekarang institusi pernikahan itu harus dijalani setiap individu? Tapi lebih menarik dibicarakan dengan mereka yang agak liberal, karena biasanya netral.
Tapi saya lebih ingin bertanya pada diri sendiri, apakah saya ini sudah cukup baik untuk menikah? Dan rasanya monster-monster dalam diri saya sudah bosan mengajak diskusi.

Tiba-tiba teringat kata seseorang kemarin hari, “barangkali kamu selalu mencurigai institusi pernikahan karena baru mendengar dari orang-orang di luar sana, bukan karena mengalaminya sendiri.”
Maka mari kita benarkan, menikah adalah kehidupan baru yang penuh kejutan. Yang kita tidak akan tahu akan seperti apa. 🙂

ah, Tuhan, bukan sekali dua kali saya diceramahi soal pernikahan, hanya hari itu seperti diingatkan ulang.
Menjadi idealis itu memang ruwet…
Muarakan segala hati saya kepada Engkau saja, Tuhan.

Kalau sampai waktuku… (meminjam sebaris puisi Chairil Anwar)
Toh juga mesti dijalani juga.

Ending

Dear Nur.
Saat surat ini kubuat, aku sedang mencari kesibukan untuk melupakan segalanya tentang dia. Peristiwa putus memang bukan hal besar karena setiap orang barangkali pernah mengalaminya. Tapi aku sadar, pacaran memang membuatku melupakan banyak hal.

Hubunganku yang kesekian kalinya ini cukup membuatku lelah. Rasanya hanya kertas dan imaji yang selalu setia menemani hari-hariku belakangan ini. Musim hujan belum habis. Pekerjaanku yang freelance alias tidak mapan, membuatku sering kali menemui sosok-sosok aneh di sekitarku. Mereka mengajakku ngobrol. Mengusik lamunanku. Hei, percayalah bahwa mereka ini benar-benar nyata. Aku juga heran sendiri kenapa bisa demikian. Aku selalu dianggap tak waras tatkala ini kuceritakan pada teman-temanku. Mereka mengiraku stres ala perempuan lajang yang tidak juga nikah.
Mereka yang kumaksud itu adalah tokoh-tokoh dalam cerpenku.

Yeah. Sudah kali kedua ‘sesosok tokoh’ mengganggu aktivitas tidur pagiku. Ia seorang perempuan. Usianya sekitar 23 tahun. Berwajah manis, tapi juga tidak bisa disebut cantik. Wajahnya oriental. Dia masih muda memang. Ceritanya dia ini buruk rupa—bagi orang Indonesia. Atau barangkali hanya salah pasar saja, sebab tipikal kulit cokelat rambut hitam, pendek, dan pesek itu bagi para bule sungguh eksotis.

Seperti halnya pagi tadi, ia berteriak-teriak tak jelas dari jendela rumahnya yang letaknya persis di depan kamarku. Tak peduli bahwa aku belum siap bangun. Tak peduli dengan tampang kelelahanku yang sering begadang malam hari ini, yang jelas perempuan ini sedang memperjuangkan sesuatu. Kau tahu untuk apa ia berteriak pagi buta sambil melempari kaca jendelaku dengan potongan genting? (untung nggak sampai pecah) Cuma minta nasibnya diselesaikan. Dasar tokoh cerpen!

“Please, aku tersiksa bila kau biarkan aku begini menggantung.” Begitu ia mengatakan. Tokoh yang waktu itu kunamai Reyna.

Saat itu, aku dan dia sempat berdebat panjang. Sebab aku memilihkan namanya dengan asal. Dan aku juga tak tahu apa artinya selain hanya kelihatan wanita. Dia minta dinamai Zazkia, tapi aku tak suka nama itu. Lalu dia ingin dinamai Sekar agar secantik bunga. Tapi aku tak menyetujuinya. Dia ngambek meskipun sebentar. Sungguh Reyna tokoh cerpen paling bawel yang pernah kukenal.
Tapi aku pun mengerti, jahat bila aku tak menyelesaikan mereka karena kesibukan kerja dan sibuk melupakan masa laluku. Yeah, aku memang penulis yang kurang menggarap mereka dengan baik. Akhirnya sore ini, usai hujan reda, sambil kulantunkan puisi musik Sapardi Djoko Damono yang amat mix dengan dingin sore hari, akhirnya kuhidupkan komputer tuaku. Mencari file yang ia maksud. Astaga. Benar.

Sudah 3 bulan Reyna dan kawan-kawannya kubiarkan menggantung.
Oke. Baiklah. Sembari kubaca ulang, kucari ide untuk menyelesaikan sepenggal cerpen ini.
Reyna, dalam cerpenku, adalah seorang gadis muda yang bekerja di toko peralatan melukis. Ia tinggal di sebuah kota dengan orang-orang yang berbeda padangan soal hidup dan waktu. Kota tua yang sibuk dan plural. Sebagai penjaga toko lukisan, ia sering kali kedatangan pelanggan yang macam-macam. Kadang mereka datang dengan pakaian amburadul, kurang tidur, dan tak jarang juga yang rapi-rapi. Mungkin yang rapi-rapi ini sedang mencari barang-barang untuk dihadiahkan kepada orang-orang terkasih.

Reyna menyukai pekerjaannya, karena disamping ia suka mengamati orang-orang, lukisan dan warna-warna, ia juga dapat melihat
“matahari” terbit di sana. Oke, istilah matahari merujuk pada perihal yang tidak sebenarnya. Nanti juga engkau akan tahu.
Hidup perempuan ini seperti diatur oleh refleksitas hidup. Bangun tepat jam 5, kemudian sarapan jam 6 pagi, menunggu bus jam 7 pagi hingga sampai kantor jam 8 pagi. Ritme rutinitas sesungguhnya membuatnya bosan. Tapi kali ini tidak. Sebab Reyna jatuh cinta dengan teman sekantornya. Namanya Bayu. Untung Bayu tidak protes dengan namanya sendiri.
Jalaran tresno amargo kulina memang benar adanya bagi Reyna, nggak ada cinta yang datang dari pandangan pertama. Bayu memang ganteng, tapi tipe wanita seperti Reyna butuh proses untuk menilai kegantengan. Ganteng hanya kesadaran lapis lanjutan ketika sudah mengenal kepribadian atau hal-hal yang immaterial. Berbeda dengah lelaki yang cenderung melihat cantik dulu baru kepribadian.

Reyna baru merasa ada getar indah ketika menyadari Bayu rajin salat, menghormati orang tua, jujur dengan hal kecil sekalipun dalam pekerjaannya, sederhana, dan tidak mata kranjang. Malah cenderung dingin dengan perempuan yang bukan temannya.
Sikap dingin itulah yang membuat Reyna terpesona. Terlebih ketika menyadari Bayu-lah satu-satunya yang baik kepadanya tanpa peduli SARA, satu-satunya pria yang tidak bertanya kenapa hidupnya begitu pesek misalnya.Ia berwajah ganteng, pintar, juga pekerja keras.

Sungguh sialan, pikir si Reyna. Tapi bagaimana kau bisa mencegah diri sendiri untuk tidak jatuh cinta setelah setiap hari berjumpa? Sekalipun, yeah, percakapan yang terjadi hanya maksimal “selamat pagi”. Apalagi Bayu tipe yang hemat bicara, termasuk terhadap perempuan berkulit cokelat dan tidak mancung ini. Reyna bahkan mengaku, sebelum aku menggiringnya untuk jatuh cinta pada Bayu, tokoh ini sudah jatuh cinta duluan.

Aku jadi bingung.
Bayu telah menjadi matahari bagi Reyna. Tapi Reyna tak tahu bahwa diam-diam aku merencanakan perjodohan mereka, haha. Sebab Reyna berharap andai ia tak jadi dengan Bayu, ia ingin dijodohkan dengan tokoh yang mirip Andrew Garfield. Huft, maunya. “Atau bikin saja aku jadi kupu-kupu dan melupakan perasaanku,” begitu katanya. Tapi kalau sudah begitu naskahku ini nggak akan jadi cerpen, tapi novel.
Namun yang jelas, Reyna sedang jatuh cinta dan ngarep sejuta umat dengan ending ceritanya sendiri. Baiklah…

Dear Nur.
Tiga hari setelah itu, aku kembali menggarap cerpen itu lagi. Reyna sudah bertopang dagu di belakang meja kasirnya. Di kejauhan sana Bayu sibuk dengan orderan dan telepon yang setiap menit berbunyi.
Tapi… Reyna di dalam cerita ini adalah orang yang cukup tahu diri. Maka ia tak perlu melakukan usaha apa pun untuk sekedar dekat, atau ngajak ngopi, atau ngajak nonton, atau ngajak jadian. Bisa-bisa menyesal tujuh turunan karena ditolak.
Cukup ia menyukai si pria dari jauh. Maka si pria ini menjelma semacam wewangian yang selalu membuatnya memiliki semangat hidup dan kesehatan jiwa raga yang baik dalam keseharian. Mirip aromaterapi. Tak perlu ia meminum. Cukup membaui aromanya dari kejauhan.
Sungguh pria ini memiliki feromon yang kuat yang selalu membuatnya rindu. Tentunya diam-diam.
Singkat kata, Reyna tetap menjalani hari-harinya seperti biasa. Ia membaca novel di kala senggang, meminum kopi instan dengan merek yang sama setiap jam 3 sore, menyetel musik-musik aliran Melayu di playlist-nya (atau bisa saja jenis pop, atau lebih baik musik bertema nasionalisme, entahlah), lalu pulang pada jam 8 sore.  Dan terjadilah apa yang dinamakan suspens cerita.

Aku mengubah cerita, yang semula perempuan ini berakhir tertabrak kereta dalam keadaan sendiri dan nelangsa, kuubah jadi ending bahagia… Reyna sudah menangis duluan sebelum ending tragis itu kucoretkan di draft. Aku tak tega. Tentu saja, aku hanya bercanda soal tertabrak kereta itu.
Rupanya Bayu ini sakit mata. Sebab sejak ia bekerja di toko itu, pria ini juga diam-diam mengagumi Reyna. Ia bahkan membaca apa yang dia baca, meminum kopi yang sama di rumahnya, menghafal rutinitasnya juga, seperti bus apa saja yang Reyna pakai setiap hari. Lebih sinting lagi, dia mengumpulkan foto-foto hasil jepretannya diam-diam, isinya tak lain tak bukan adalah sosok si Reyna. Bedanya, Bayu tak seceroboh Reyna. Nah, nanti kau juga akan tahu seceroboh apa Reyna itu.

Sungguh Bayu jadi mirip pengagum yang agak psikopat. Tapi dia pria normal dengan latar belakang keluarga yang bahagia. Hanya
mengalami delusi akibat mencintai diam-diam. Begitulah orang yang diam-diam mencintai namun tak memiliki cara untuk memulai mengatakan, terlebih mendekati.
Beberapa kali mata mereka berpapasan. Cara Reyna menatapnya saat berpapasan itu pun tertebak juga. Bayu meresa perasaannya tidak bertepuk sebelah tangan. Bahwa pada suatu sore kupertemukan mereka pada sebuah moment konyol, di mana Reyna menyimpan foto Bayu di komputer kantor, dan lupa menghapusnya ketika Bayu memperbaiki internetnya yang error. Haha, sengaja kubikin komputer Reyna error dan tak ada seorang pun di ruangan itu kecuali Bayu.

Reyna terkejut dan salah tingkah begitu menyadari bahwa ia menyimpan foto-foto lelaki ini di sebuah folder file kantor. Apalagi
dalam folder yang sama, ia juga menyimpan artikel yang ia buru dari internet “Menjadi Istri Solehah.”, “Cara Mendekati Pria Pendiam”, dan masih banyak lagi.
Itu membuat Bayu ngakak. Mereka pun ngobrol. Tapi tidak tentang mengapa fotonya ada di folder itu. Meskipun pada hari itu,
peningkatan hubungan mereka telah memasuki level lanjutan, di mana Reyna menanyakan Bayu asli dari kota mana, dan Bayu menanyakan kapan terakhir komputer diinstal.

Di akhir cerita, di suatu hari menjelang musim kemarau tiba, Bayu meletakkan sebuah cincin di laci meja si perempuan, dengan
taruhan harga dirinya sendiri, bersama sepucuk surat berisi hal yang membuat Reyna melompat. Ia mengajaknya menikah. Dan si perempuan pun pingsan atau mungkin sakit jantung, atau sederhana saja: bahagia tapi hanya bisa menangis sesenggukan—entah mana fokus yang harus dinarasikan… Aaarrggh…
Sebenarnya sampai di sini aku masih bingung bagaimana mengatur ending-nya. Rasanya malah seperti cerita biasa saja tapi berlebihan. Tapi kalau happy ending sebiasa film drama, kalau sad ending kasihan pembaca.

Nur, aku masih memilin-milin rambutku sambil mengamati kebun di luar jendela kamarku, memikirkan ending dari cerpenku.
Yeah, kini aku melihat Reyna dan Bayu adalah sepasang kekasih yang takkan terpisahkan oleh proses editing apa pun. Mereka saling menggegam tangan dan berpesan padaku, “Kelak bila editor mau mengedit konten cerita kami, jangan ditambahi orang ketiga ya. Aku sungguh nggak tahan dengan kondisi cemburu.” Bayu berujar. Reyna sepakat dengan itu.

Kini selesai kurampungkan mereka, kumatikan komputer, dan kurebahkan tubuhku memandang langit-langit kamar. Reyna dan Bayu adalah salah satu dari sekian banyak tokoh yang berhasil kuselesaikan dengan ending bahagia.
Tapi Nur, kapankah akhir bahagiaku sendiri datang?

Hidup itu sendiri, ilusikah?
Ah, Nur, kau pun hanya teman imajiku…

*Cerpen ini ditulis tahun 2013 awal dan telah direvisi. Cerpen ini juga yang sempat membawa saya lolos sebagai peserta sebuah event kampus penulisan di salah satu penerbit di Yogyakarta untuk tahun depan. Tapi sepertinya saya nggak janji bisa datang 🙂

Dari Sosok Parang Jati hingga Kesadaran Spiritual dalam Novel Maya

*ini novel yang kebetulan baru selesai saya baca. Maaf bila agak mbulet.

Penulis    : Ayu Utami
Penerbit  : KPG
Cetakan pertama: tahun 2013

??????????

 

 

 

 

 

 

Parang Jati dalam novel ini hanya salah satu tokoh, bukan sentral. Kedudukannya sama dengan tokoh lainnya. Tapi bisa dibilang tidak ada tokoh sentral dan pinggir dalam novel Maya dan seri Bilangan Fu lainnya. Bahkan dalam seri ini, fokus penceritaan banyak pada tokoh Yasmin yang tengah mencari Saman, kekasih tersembunyinya yang hilang di masa runtuhnya rezim Orde Baru. Novel Maya dapat dikatakan sebagai penghubung novel Larung dan Saman, dengan seri Bilangan Fu.

Seperti halnya novel-novel pada seri Bilangan Fu yang lain, pembaca perempuan barangkali akan terkesan dengan sosok Parang Jati. Karakter yang barangkali akan terpatri dalam mimpi idealis perempuan karena digambarkan sebagai pria yang religius, berhati halus, juga setia dalam pengabdiannya. Tipikal pria yang berperasaan, spiritual, namun cerdas. Beberapa tokoh lainnya digambarkan selalu terhubung dan menyayangi secara jiwa tokoh pemuda yang satu ini.

Tapi sebagai novel yang konsisten dengan tema besar, Ayu tak menggambarkan setiap tokohnya sebagai sosok yang sempurna ala sinetron, justru karena menyimpan konsep pendekatan dengan dunia realitas. Bahkan Parang Jati dalam kesempurnaan kepribadian dan pemikiran bijak itu pun digambarkan berfisik tidak sempurna, memiliki jari berjumlah 12 dan ditemukan sebagai anak terbuang di pinggir danau tatkala masih bayi.

Maya, sebagai judul novel ini pun merupakan tokoh yang berfisik cebol, berkulit albino, tak memiliki KTP, dan tidak berpendidikan, namun memiliki jiwa yang murni, yang mengantar sisi spiritualitas novel ini, bahwa dalam kekerdilan, Tuhan pun hadir dan dunia manusia terus dipertanyakan. Namun manusia harus terbebas dari kekerdilan itu. Sebab di mata Tuhan, manusia itu setara. Seperti dalam cuplikan pada halaman 227

“Dalam hal jiwa, seperti yang dibilang guru kebatinan itu, manusia ‘dijadikan’ kerdil, bukan dilahirkan. Dijadikan oleh nilai-nilai yang mengepung dan membentuk mereka. Dan tidak semua mampu membebaskan diri.”

Agaknya novel Maya mencoba mendekatkan kepada eksistensi manusia di hadapan Tuhan. Bahwa dalam ketidaksempurnaan dan kesedihan, kadang Tuhan mendekat dengan akrab. Cinta tak lagi memandang hal-hal bersifat duniawi, tapi lebih pada yang hakiki dan bermuara. Dan secara tersirat, novel ini seperti berdialog dengan saya yang sering kali begitu suntuk dengan kepalsuan zaman modern. Meskipun ada beberapa poin di mana Ayu Utami menampilkan sisi liberal dalam hal mencintai lawan jenis. Tapi itu bukan hal besar, karena banyak pesan moral yang disiratkan di sana, termasuk bahwa cinta pun merupakan ruang rahasia tiap manusia.

“Punakawan mengabdi pada kebaikan, meski statusnya hanya rakyat jelata, ternyata bisa memahami kebijaksanaan tingkat tinggi. Dalam kesederhanaannya, mereka itu lebih bijak daripada para satria dan brahmana. Dan karena mereka itu rakyat biasa, mereka tidak punya kepentingan politik kekuasaan. Dan karena tak punya tampang, mereka tidak perlu jaim, jaga image. Mereka itu lugu. Mereka tokoh yang sangat dekat dan disenangi rakyat dalam kesenian wayang. Sebab mereka adalah rakyat itu sendiri.” (Maya, halaman 189)

Intinya novel ini membuat saya belajar banyak.

Jadi ingat kata adik bungsu saya yang selalu suka ngajak diskusi yang berat-berat, “Mbak, kita semua itu makhluk yang selalu ‘monolog’. Ber’dialog’nya cuma kadang-kadang aja.” Saya pun sesaat menemukan dialog batin di novel Maya ini.

Mungkin tidak mudah mereview novel yang bermuatan sejarah, politik, spiritual, cinta, feminisme, dan kehidupan mikro yang genre sastra seperti novel Maya ini. Dan mungkin suatu saat, perlu menyusun reviewnya dengan versi lebih lengkap dan sistematis dengan kajian keilmuan yang mendukung.

salam 🙂

Grebeg Maulud

Siang ini cuaca memang cukup terik. Namun tak menyurutkan antusias warga sekitar Pakualaman yang hari itu menyambut Grebeg Maulud. Saya bersama, nenek saya, Mbah Uti, dan simbah-simbah yang lain, siang ini berjalan menuju lokasi yang jaraknya hanya 200-an meter dari kampung kami. Jam menunjukan pukul 10, masih kira-kira 2 jam sebelum arak-arakan gunungan tiba. Simbah-simbah ini meskipun sudah sepuh, tapi terlihat begitu bersemangat. Mereka duduk di spot-spot teduh untuk melihat jalannya acara, sambil ngobrol, entah dengan yang dikenal ataupun baru dikenal. Menyambut hari kelahiran nabi selalu menjadi hal yang menarik bagi masyarakat Jawa. Tidak hanya masyarakat luar Yogyakarta, beberapa wisatawan asing juga terlihat di antara kerumunan warga yang menunggu iring-iringan gunungan.

Di lapangan Swandanan, nama alun-alun depan Kraton Pakualaman, telah ramai dengan orang berjualan. Dari anak kecil hingga lansia pun tumpah ruah di lokasi. Keriuhan seperti itu terjadi juga di Keraton Yogyakarta dalam bentuk yang lebih lengkap. Grebeg Maulud dimulai dari sekaten yang sebelumnya telah dilaksanakan di alun-alun utara selama sebulan. Kemudian acara puncaknya adalah tanggal 12 rabiul awal, tanggal kelahiran Nabi Muhammad Saw, yang jatuh pada tanggal 14 Januari 2014 di tahun ini.

Sebelumnya, saya nggak begitu ngeh dengan keramaian semacam ini, kecuali bila hari besar Islam tiba, maka bakal ada banyak orang berjualan di sekitar alun-alun. Tapi tentu grebeg tidak hanya tentang itu, membuat saya ingin menelusurinya lebih dalam.

1: Grebeg

Grebeg itu sendiri berasal dari kata gumrebeg yang berarti riuh, ribut, dan ramai. Grebeg sebenarnya memiliki makna yang global. Grebeg Sudiro misalnya, merupakan gabungan tradisi Tionghoa-Jawa dan diperingati 7 hari sebelum perayaan Imlek. Grebeg sudiro juga menggunakan gunungan yang disusun dari ribuan kue keranjang–kue khas orang Tionghoa. Ada juga Grebek Suro, yang diadakan di Ponorogo dalam bentuk festival kesenian daerah setiap tanggal 1 Muharram.

Tradisi Grebeg sudah ada sejak kesultanan Islam Demak pada abad 16 masehi. Grebek yang populer di Jawa, khususnya di Yogakarta dan Solo dimaksudkan untuk merayakan hari besar Islam dan diadakan sebanyak 3 kali oleh masyarakat Jawa. Yaitu Grebeg Syawal pada Hari Raya Idul Fitri, Grebeg Besar di Hari Raya Idul Adha, dan Grebeg Maulud yang lebih populer dengan nama Grebeg Sekaten untuk memperingati Hari Lahir Rasulullah Saw.

Dalam acara maulud, salah satu upacara khasnya adalah gamelan Sakati. Ada dua gamelan yang dibunyikan selama 7 hari menjelang acara puncak, yaitu gamelan kyai nagawilaga dan guntur madu.

2: Sekaten 

Ini yang lebih familiar di telinga anak-anak sejak zaman lalu. Sekaten Jogja era lampau tentu berbeda dengan yang sekarang meskipun dimaksudkan untuk masyarakat supaya bergembira. Sekaten era modern berarti pasar malam, komidi putar dan sejenisnya, orang-orang berjualan mainan, dan juga telur merah yang menjadi ciri khasnya. Namun rupanya sekaten itu sendiri punya sejarah etimologis. Ada yang menyebut Sekaten berasal dari kata Sekati, yaitu nama dari dua perangkat pusaka Kraton berupa gamelan yang disebut Kanjeng Kyai Sekati yang ditabuh dalam rangkaian acara peringatan Maulud Nabi Muhammad Saw. Pendapat lain mengatakan bahwa Sekaten berasal dari kata suka dan ati (senang hati) karena orang-orang menyambut hari Maulud tersebut dengan penuh syukur dan bahagia.

Ada pendapat lain yang tidak kalah menarik, yang mengatakan bahwa kata Sekaten berasal dari kata syahadataini, yaitu syahadat tauhid (Asyhadu alla ila-ha-ilallah) yang berarti “saya bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Allah” dan syahadat rasul (Waasyhadu anna Muhammadarrosululloh) yang berarti “saya bersaksi bahwa Nabi Muhammad utusan Allah.”

Upacara Sekaten dapat dikatakan merupakan perpaduan antara dakwah Islam dan kegiatan seni.

Agama Islam semula dibawa ke Jawa oleh salah seorang Wali Songo, yaitu Sunan Kalijaga. Ia mempergunakan kesenian karawitan dengan menggunakan dua alat gamelan tadi untuk menarik masyarakat luas agar datang menikmati pentas karawitannya. Di sela-sela pagelaran, dilakukan khotbah dan pembacaan ayat-ayat suci Alquran. Bagi mereka yang memutuskan untuk memeluk agama Islam, diwajibkan mengucapkan kalimat Syahadat sebagai pernyataan taat kepada agama.

Hingga hari ini, masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya meyakini bahwa dengan ikut merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad Saw, yang bersangkutan akan mendapat pahala dari Tuhan Yang Mahaagung, juga dianugerahi umur panjang. Sesuai aturan tradisi, mereka harus menguyah sirih di halaman Masjid Agung Yogyakarta, terutama pada hari pertama dimulainya perayaan Sekaten. Oleh karena itu, tak heran selalu ditemukan ibu-ibu yang berjualan sirih dengan ramuannya, nasi gurih beserta lauk-pauknya di halaman Kemandungan, di Alun-alun Utara atau di depan Masjid Agung Yogyakarta. Di samping itu, tak ketinggalan, kalangan petani pun berdatangan untuk memohon (berdoa) agar panenannya yang akan datang berhasil. Untuk memperkuat harapannya tersebut, mereka membeli cambuk untuk dibawa pulang.

Dari berbagai sumber yang saya baca pula, Sekaten selalu dipersiapkan dengan matang, meliputi persiapan fisik dan spiritual. Persiapan fisik berupa peralatan dan perlengkapan upacara Sekaten, yaitu Gamelan Sekaten, Gendhing Sekaten, sejumlah uang logam, bunga kanthil, busana seragam Sekaten, samir untuk niyaga, hingga naskah riwayat maulud Nabi Muhammad Saw.

Sekaten dimulai pada tanggal 6 Maulud (Rabiulawal) saat sore hari dengan mengeluarkan gamelan Kanjeng Kyai Sekati dari tempat persemayamannya, Kanjeng Kyai Nogowilogo ditempatkan di Bangsal Trajumas dan Kanjeng Kyai Guntur Madu di Bangsal Srimanganti. Dua pasukan abdi dalem prajurit bertugas menjaga gamelan pusaka tersebut, yaitu prajurit Mantrijero dan prajurit Ketanggung.

Lepas waktu salat Isya, para abdi dalem yang bertugas di bangsal, memberikan laporan kepada Sri Sultan bahwa upacara siap dimulai. Setelah ada perintah dari Sri Sultan melalui abdi dalem yang diutus, maka dimulailah upacara Sekaten dengan membunyikan gamelan. Dan tepat pada pukul 24.00 WIB, gamelan sekaten dipindahkan ke halaman Masjid Agung Yogyakarta dengan dikawal kedua pasukan abdi dalem prajurit Mantrijero dan Ketanggung. Kanjeng Kyai Guntur Madu ditempatkan di pagongan sebelah selatan gapuran halaman Masjid Agung dan Kanjeng Kyai Nogowilogo di pagongan sebelah utara. Di halaman masjid tersebut, gamelan sekaten dibunyikan terus menerus siang dan malam selama enam hari berturut-turut.

Pada tanggal 11 Maulud (Rabiulawal), mulai pukul 20.00 WIB, Sri Sultan datang ke Masjid Agung untuk menghadiri upacara Maulud Nabi Muhammad SAW yang berupa pembacaan naskah riwayat maulud Nabi yang dibacakan oleh Kyai Pengulu. Upacara tersebut selesai pada pukul 24.00 WIB, dan setelah semua selesai, perangkat gamelan sekaten diboyong kembali dari halaman Masjid Agung menuju ke Kraton. Pemindahan ini merupakan tanda bahwa upacara Sekaten telah berakhir.

3: Gunungan

Selalu ada sepaket benda bernama gunungan sebagai syarat upacara Grebeg Maulud. Biasanya acara dimulai jam 8:00 pagi. Para prajurit kraton, yang terdiri dari 10 jenis pasukan mengiringi arak-arakan. Gunungan yang terbuat dari beras ketan, makanan dan buah, serta sayur-sayuan akan dibawa dari istana Kemandungan melewati Sitihinggil dan Pagelaran menuju masjid Agung. Setelah didoakan Gunungan yang melambangkan kesejahteraan kerajaan Mataram ini dibagikan kepada masyarakat yang menganggap bahwa bagian dari Gunungan ini akan membawa berkah bagi mereka.

Bagian Gunungan yang dianggap sakral ini akan dibawa pulang oleh masyarakat untuk ditanam di sawah/ladang agar sawah mereka menjadi subur dan bebas dari segala macam bencana. Tapi tahun ini terlihat ada pengurangan jumlah gunungan. di Pakualaman hanya satu jenis yang dibawa. Barangkali benar kata sepupu saya, disesuaikan dengan harga BBM.

Di Pakualaman, gunungan dibawa keluar keraton menuju depan mesjid kauman untuk didoakan. Selesai doa diucapkan, tapi terlihat kalau mereka sudah ngrayah duluan sebelum doa benar-benar akan diucapkan. Memang ada kepercayaan bahwa barangsiapa yang mendapat bagian apa pun dari gunungan tersebut, dia akan mendapat berkah dan kelancaran rezeki. Kegiatan ‘ngrayah’ atau berebut mengambarkan filosofi bahwa manusia berani melakukan persaingan dalam mencapai tujuan dan permasalahan hidup harus dihadapai bukan untuk dihindari. Bersyukur tidak berjalan dengan brutal. Malah terlihat beberapa orang yang sempat mengambilkan begitu banyak lalu dibawa agak ke pinggir untuk dibagi-bagikan pada lansia yang tentunya tidak bisa ikut berebut dengan anarkis.

Acara berlangsung cukup aman terkendali. mereka pulang dengan membawa kegembiraan. entah yang dapat atau pun yang tidak. Malah yang dapat sehelai kacang panjang pun ikut sumringah. Katanya mau ditanam di kebun supaya hasil panennya baik. Ya monggo. Apa pun itu. Asal menimbulkan motivasi positif bagi masyarakat, maka tradisi itu baik.

4: Ndok abang

Adapun telur merah yang akrab disebut ‘ndog abang’ yang ditusuk dengan bambu, adalah bentuk permulaan kehidupan, sedangkan bambu yang menusuk telur tersebut perlambang bahwa semua kehidupan di bumi ini memiliki poros yaitu Gusti Allah. Ndog abang menyimpan filosofi yang menarik. Warna merah artinya keberuntungan, rezeki, berkah, dan keberanian. Warna merah juga memiliki kaitan dengan asal usul manusia dimana manusia berasal dari dua warna yakni merah dan putih.
Selengkapnya dapat dibaca di salah satu situs ini.
Sayang, saya tak menemukan ada yang masih menjualnya di Swandanan.

#Demikianlah. Tiap daerah mempunyai cara dan tradisi sendiri-sendiri dalam menunjukkan rasa cintanya terhadap rasul. Intinya, setiap orang boleh merayakan ataupun tidak. Tapi tradisi dan adat istiadat yang ada di Jawa memang selalu bersifat mbulet dan ribet. Saya sendiri lebih memilih turut merasakan kegembiraan dan maknanya daripada menjadi pelaku. Sebab itu sudah cukup. 🙂

[referensi dari berbagai sumber]

gajah dalam upacara ini adaah sebagai pegawal iring-iringan gunungan

gajah dalam upacara ini adalah sebagai pegawal iring-iringan gunungan

mbah-mbah sedang menunggu kirab :)

mbah-mbah sedang menunggu kirab 🙂

gamelan yang diabuh di kraton pakualaman

gamelan yang ditabuh di kraton pakualamanan

Gunungan yang dibawa ke Pakualaman

Gunungan yang dibawa ke Pakualaman

momen ngrayah :)

momen ngrayah 🙂

akhirnya Simbah dapat beberapa lembar kacang panjang :D

akhirnya Simbah dapat beberapa helai kacang panjang 😀

salah satu gunungan yang dibawa di alun-alun utara. ngambil dari web jogja ^^

salah satu gunungan yang dibawa di alun-alun utara.
ngambil dari web jogja ^^

swandanan

Swandanan tengah hari

Ndok Abang -comot dari google image

Ndok Abang
-comot dari web antara news

narsis di tengah kerumunan - ponakan (paling kiri), Mbah Uti, Sepupu n suaminya

“narsis di tengah kerumunan”
– ponakan, Mbah Uti, Sepupu dan suaminya

*untuk memenuhi tugas Penamerah

Negeri Mesin

Cerita dalam film animasi tanpa dialog, bisa menjadi kisah dengan beberapa sudut pandang. Rasanya ingin kucoba menuliskan ceritanya dengan persepsiku sendiri.

Seorang perempuan dari suatu tempat di bumi menyendiri di sebuah taman. Ia muda, ayu, dan berambut kecokelatan. Hampir setiap hari ia suka duduk memandangi bunga-bunga di sekitarnya dan membiarkan mereka tumbuh dengan sendirinya. Sesekali ia penasaran, kemudian mencium wangi bunga-bunga liar itu dalam-dalam. Sementara, di atas sana bulan tengah purnama. Betapa bulan itu seperti dirinya. Sendirian.

Suatu hari seorang laki-laki dari negeri antah berantah datang. Ia terpesona pada si gadis yang jelita itu. Laki-laki ini membawa sebuah kuda berbentuk robot, atau mungkin robot berbentuk kuda. Entahlah. Tapi makhluk itu membuat si gadis terkesima. Belum pernah ia melihat hal seperti itu sebelumnya. Tapi dari manakah si lelaki ini datang? Tidak di bumikah?

Si kuda cukup penurut. Ia mengambilkan salah satu bunga di taman itu dan memberikannya pada si gadis yang masih heran. Tentulah ia tercengang. Ada seekor kuda bisa memetik bunga layaknya manusia. Ia mengagumi si kuda aneh itu. Terutama pada si lelaki–si pembuat itu.

Konon, kata si pria, di negerinya, banyak orang pandai membuat mesin. Mereka dapat menciptakan dunia dengan isi kepala. Ide dan gagasan sebagaimana tuhan. Dapat mengatur segala yang hidup. Seperti mimpi.
Gagasan itu tentu terlalu tinggi bagi pemikiran si gadis yang sederhana itu, tapi ia jatuh cinta pada si lelaki.

Kuda itu dapat terbang. Hati si perempuan pun ikut terbang. Pada akhirnya mereka pun menyadari telah saling jatuh cinta. Singkat kata, mereka akhirnya menikah. Si pria sering kali bercerita tentang negerinya. Namanya negeri awan. Ia adalah salah satu insinyur. Katanya “di bumi yang telah sempit ini, semuanya takkan bertahan lama. Segalanya akan punah. Tapi di negeriku, segalnya abadi. Manusialah yang menentukan kehidupan. Bukan malaikat, bukan siapa-siapa. Tinggalah di sana bersamaku.”

Dibawanya si gadis terbang dengan sebuah mesin berbentuk perahu dengan balon udara di atasnya. Mungkin semacam pesawat. Dibawanya ia terbang jauh dan si perempuan tak henti-hentinya memerhatikan angkasa. Pun tak henti-hentinya terbelalak ketika telah sampai di negeri awan yang elok itu. Negeri dongeng yang sering diceritakan suaminya.

Kota itu memang sungguh menyenangkan. Rapi, padat, dan sibuk. Ia tak menyangka sejenius apa penduduk yang pekerjaan sehari-harinya menciptakan mesin, hidup dengan kemudahan mesin, dan menciptakan keindahan-keindahan tersebut dengan serangkaian mesin?

Pada suatu sore, ia ingin jalan-jalan mengelilingi kota yang sibuk itu. Ia ingin sendiri, seperti tatkala sebelum menikah, menikmati sore dan bunga-bunga. Ia berjumpa dengan seekor anjing lucu yang membuatnya kagum dan gemas. Namun ia tersadar seketika sebab si anjing bukanlah makhluk, melainkan salah satu robot. Tidak hanya itu. Rupanya tumbuhan dan rumput-rumput di negeri itu pun juga buatan manusia.

Sepanjang jalan, ia tak juga menemukan bunga-bunga yang segar di malam bulan purnama, tak lagi dijumpinya kupu-kupu yang terbang alami, tak dijumpainya kehidupan sebenarnya. Dalam rindunya akan bumi, ia bertanya, apa artinya ini semua? Barangkali ia tak butuh keabadian bila segalanya palsu. Ia bersedih hati. Ia rindu kembali ke bumi, tapi ia juga mencintai sang suami.

Tak lama ia meninggal dalam penderitaan dan bimbang.

Si suami merasa terpukul. Sang insinyur itu merasa sangat kehilangan. Tak pernah dirasakannya rasa pedih yang demikian. Dipungutnya bunga hias milik istrinya yang sempat ia buang, sebagai cara mengenang yang tiada. Tapi ada kekosongan sangat yang mulai ia sadari, sama seperti istrinya sebelum ia pergi. Ia tahu, keahlian dan kegeniusannya tak bisa membuat kekasihnya bahagia, tak pula membuat si istri bangkit lagi dari kuburnya.
Si insinyur hanya bisa membuat boneka robot yang menyerupai mendiang istrinya, juga sebentuk jantung yang hanya dikendalikan oleh mesin. Sembari menghabiskan usianya yang sia-sia.

*Short film berdurasi 9 menitan ini berjudul Invention of Love (dibuat oleh Andrey Shushkov).

Film ini sungguh bikin sedih.

Makna di Balik Motif Truntum

Barangkali bukan pengetahuan yang baru bagi para pecinta batik, bahwa motif truntum memiliki makna yang sakral. Ia melambangkan cinta yang bersemi kembali. Di dalam batik truntum, tersimpan realita, CLBK tidak hanya terjadi pada mereka yang pacaran, tapi juga yang telah menikah. Mengingat bahwa kadang yang asli justru cepat layu, seperti halnya bunga, maka kita mesti sanggup membuatnya tetap tumbuh dan berbunga sepanjang waktu.

Hal itu bermula pada sejarah ketika batik jenis truntum ini pertama kali diciptakan. Sekitar tahun 1749–1788 M, seorang permaisuri bernama Ratu Kencono atau Ratu Beruk, merasa diabaikan oleh suami karena kesibukan dan sebab ia harus memerhatikan selir barunya. Ratu Kencono yang merupakan permaisuri Paku Buwono III Surakarta Hadiningrat itu, mendekatkan diri pada Sang Pemberi Hidup pada suatu malam. Hingga datanglah sebuah gagasan. Katakanlah semacam inspirasi. Ia melihat langit yang cerah dan bertabur bintang, dan kerlip bintang itulah yang menemani kesepiannya. Ia pun mencium harum bunga tanjung berjatuhan di kebun persinggahannya sebagai bagian dari ide. Ia terus berupaya mendekatkan diri pada Tuhan sambil mulai membuat karya batiknya demi mengisi kekosongan. Membatik baginya seperti halnya berdzikir.

Selang berapa lama kemudian, sang raja menemukan permaisurinya tengah membatik sebuah kain yang indah. Hari demi hari, sang raja pun memerhatikan kesibukan baru sang permaisuri dan kain indah yang dihasilkan. Teriring juga perasaan kasih sayang yang kembali muncul. Itulah mengapa banyak yang menyebut truntum sebagai simbol cinta raja yang bersemi kembali.

Secara etimologi, truntum itu sendiri berasal dari isitlah teruntum–tuntum (bahasa Jawa) artinya tumbuh lagi. Taruntum memiliki arti senantiasa bersemi dan semarak lagi. Batik truntum memiliki pola yang halus dan sederhana. Bermotif seperti taburan bunga-bunga abstrak kecil, atau menyerupai kuntum bunga melati. Terkadang berbentuk seperti bintang yang bertaburan di langit. Dilihat dari bentuknya, tentunya butuh waktu sangat lama melukiskan motif truntum dalam selembar kain. Motif truntum menggambarkan bunga dilihat dari depan terletak pada bidang berbentuk segi empat. Biasanya menggunakan warna hitam sebagai dasar.

Karena nilai sejarah dan ajaran moralnya, motif truntum menjadi salah satu jenis pola batik terkenal di Solo—tempat asal motif batik ini diciptakan pertama kali. Motif tersebut akhirnya menjadi populer di Pulau Jawa. Termasuk juga di daerah Pekalongan.

Hingga hari ini, motif batik yang bermakna kesetiaan itu, akan kita temukan dalam upacara perkawinan adat tradisional, baik di Yogyakarta maupun Solo. Sebab membawa pesan dan harapan: bahwa kelak kedua mempelai dapat menjalani hidup dengan harmonis dan langgeng. Masyarakat kebudayaan Jawa memiliki ajaran demikian: dalam perkawinan, keluarga inti yang berjalan damai akan berpengaruh positif pada hubungan yang rukun antarkeluarga, dan juga mempengaruhi hubungan yang selaras dengan masyarakat di sekitarnya. Dan dalam hubungan yang harmoni tersebut, pengaruh penting juga berasal dari hubungan personal terhadap Tuhan. Seperti halnya ketika inspirasi itu muncul yang dimulai ketika sang permaisuri yang memohon petunjuk kepada Tuhan dalam kesunyiannya. Hingga proses membuatnya yang tentu dengan sabar dan telaten, hingga diibaratkan seperti menjaga sebuah hubungan dalam pernikahan.

Biasanya batik jenis truntum ini dipakai oleh pengantin perempuan dalam acara midodareni, dipakai juga pada acara panggih. Di samping itu, batik tersebut juga digunakan sebagai kain oleh kedua orang tua mempelai ketika resepsi pernikahan, sebagai wujud bahwa orang tua berperan penting dalam memberi pengetahuan dan menuntun anak-anaknya ke gerbang rumah tangga yang sakinah, mawadah, warohmah.

Sayang di zaman sekarang batik yang menyimpan makna filosofi itu pun semakin dilupakan. Digantikan oleh kain jenis modern dan praktis, hingga masyarakat pun lama-kelamaan melupakan pesan penting yang hendak disampaikan nenek moyang terdahulu.

*referensi dari berbagai sumber.

Sebentuk Mimpiku

AKU lupa di mana kutaruh mimpi. Kemarin hari masih tergeletak dengan tak berdaya di atas meja kerjaku, di dalam kotak kaca besar yang biasanya dipakai untuk akuarium. Ia berbeda dengan mimpi-mimpi yang lainnya. Tidak seperti yang kualami biasanya. Mimpiku yang satu itu kumiliki dan kurawat sejak beberapa bulan lalu—sejak ia tiba-tiba bertengger di jendela kamar kosku.

Dan baru saja kutinggal tidur sore ini, sudah raib di kegelapan. Kantor tentu masih buka. Bila kubuka tirai jendela dari ruanganku, terlihat di luar sana jalan masih ramai. Mereka semua barangkali bergegas ke rumah, untuk pulang, atau mungkin saja mengisi malamnya entah ke mana. Tapi aku yang anak perantauan tak selalu merasa wajib pulang. Apalagi di kantorku tersedia ruang bila karyawan akan menginap jika perlu menyelesaikan pekerjaan sampai selesai. Bagiku pekerjaan selalu nomor satu dibandingkan hang out atau sekadar nongkrong di kafe. Barangkali karena sebelum menjadi pegawai kantoran, aku terbiasa dengan kesendirian. Di samping itu, pada dasarnya, aku toh tak suka berada di antara banyak orang yang tidak membicarakan hal-hal yang kupahami.

Kuamati seluruh ruangan, dan tak ada tanda-tanda sedikit pun mimpi itu menempel di salah satu sisi dindingnya. Di balik figura yang membingkai karya sketsaku pun tak ada. Apakah si mimpi sedang bermain petak umpet? Oh, tiba-tiba aku merasa bersalah. Mungkin dia bosan lalu melepaskan diri dari sangkar kaca. Mestinya aku ajak dia sesekali berjalan dan menikmati kesibukan. Bukan dibiarkan saja seperti hamster di pojok ruangan sekretaris bosku. Aku jadi menyesal mengapa aku harus ketiduran di sofa hanya karena terlalu ngantuk baca naskah klien yang panjang, berbelit, dan tidak bermutu, terpaksa harus kurombak total untuk diterbitkan. Si penulis ini kebetulan adalah adiknya bos, sehingga mau tak mau novel itu harus terbit. Dan buruknya, harus terbit dengan tampilan yang sesempurna mungkin. Dan akhirnya aku kecapekan dan marah dengan diri sendiri. Bosan kutinggal tidur. Tapi mestinya aku tak melupakan bahwa aku masih punya sebentuk mimpi di atas meja kerjaku. Ia yang justru lebih berharga daripada pekerjaanku sendiri.

Dia satu-satunya yang kumiliki. Sepenting kucing bagi pecintanya. Jenis mimpi ini tak bisa berjalan-jalan sendiri di lorong-lorong, ia juga tak pernah lapar lalu mencari makan sendiri, atau merampok kantin. Biasanya bila lapar, aku yang akan mencarikannya, bahkan terkadang harus disuapi.

Sungguh, mimpiku ini sebetulnyaa amat pasif dan tergantung padaku. Mau aku apa-apakan pun ia tak protes. Tapi apakah justru karena aku terlalu seenaknya, sehingga ia pergi tiba-tiba seperti malam ini? Ia marah padaku? Apakah ia sudah lama ingin meninggalkanku? Ataukah ia merasa ia terkhianati? Sebab meski sebentar aku tertidur, aku seperti mengunjungi mimpi yang lain, bahkan lebih dari mengunjungi, aku memakannya, melumatnya, menghabisinya, bermain layang-layang dengannya, lalu aku terbangun begitu saja. Dan terkejut ketika kusadari mimpi yang kutaruh di dalam kotak kaca itu sirna.

Terpaksa kutinggalkan setumpuk pekerjaan ini dan mencoba keluar ke ruangan lain. Mataku memicing, menelusuri sudut demi sudut. Beberapa karyawan bagian keuangan masih di sana. Mereka ngobrol sambil minum teh. Lamat-lamat kudengar mereka berbicara seputar kabar terbaru artis sinetron.

“Kamu nyari apa?” salah satu menengok ketika menyadari aku celingukan menelusuri lantai.

“Mimpi. Kalian lihat dia lewat?”

Alih-alih menjawab, mereka malah mengernyit heran dan saling pandang. Ketika aku berlalu mereka bisik-bisik. “Dia gila ya?”

“Biasa, namanya juga anak redaksi. Mana ada yang tidak gila?” yang lain menyahut, dengan berbisik pula.

“Atau bisa saja, dia mulai sinting sejak putus dengan cowoknya dua tahun yang lalu.”

“Oh, benar juga….”

Lalu aku sampai ke dapur. Office boy heran melihatku kebingungan dan menggeledah seluruh kolong meja.

“Nyari apa Mbak?”

“Mimpi saya, Pak,” jawabku. “Lihat tidak Pak?”

Office boy ini satu-satunya yang mengerti apa maksduku, bahkan mengerti karakter semua karyawan di gedung ini. Dan selalu berusaha nyambung dalam percakapan tak biasa sekalipun.

“Oh.. nggak liat tuh Mbak. Kok bisa ilang gimana?”

“Gak tahu Pak, tadi saya sempat ketiduran, lalu bangun-bangun mimpinya udah nggak ada.”

“Wah, aneh ya Mbak.”

“Aneh kenapa Pak?”

“Soalnya saya punya juga, koleksi malah. Tapi gak pernah ada yang hilang walaupun ditinggal ke mana-mana… wong kalau pagi itu suka pada terbang jauh, terus sorenya balik lagi ke kandang….” Si Bapak menjelaskan panjang lebar seperti menjelaskan ciri segerombol merpati peliharaan.

Tapi malah tiba-tiba aku jadi sadar, bisa saja mimpiku dicuri.

“Aduh, gawat dong Pak!”

“Gawat kenapa Neng?”

“Mimpi saya mungkin dicuri orang.” Saya mulai gelagapan.

“Duh. Bagaimana bisa Neng, kantor ini kan aman?”

“Bukan maling. Mungkin ada orang yang bekerja di kantor ini dan tertarik dengan mimpi saya.” Aku mulai menuduh.

“Hm… bisa jadi Neng.”

Aku merasa sedih.

Dan seusai aku meningalkan dapur, si office boy memegang jidatnya, barangkali ia tak benar-benar paham arah pembicaraanku. Ia lantas bertanya pada penjaga kantin. Apakah yang dimaksud ‘mimpi’ sampai hilang dari kandang dan dicari-cari? Sebab ia lebih paham bahasa daerah darapada bahasa nasional.

Aku harus segera menemukannya. Segera, bila tidak barangkali aku akan kehilangan nafsu makanaku beberapa hari lagi. Aku tak mau kehilangan dia. Aku belum siap berpisah dengan mimpiku itu. Dan aku janji dalam hati untuk mengajaknya jalan-jalan sore setiap hari.

Seorang pria keesokan harinya itu membawakan mimpiku ke kantor. Tampan dan kelihatan sederhana dengan wajah yang belum sempat dicukur. Tapi aku selalu risih dan tak nyaman dengan orang yang punya penampilan tampan. Entah kenapa. Ada sesuatu yang tersirat dari sorot mata itu, mengingatkkanku pada seseorang yang pernah kutemui di dunia mimpi. Entah kapan, tapi cukup membuat detak jantungku mendadak memiliki ritme aneh.

Katanya si mimpi tergeletak begitu saja di depan rumahnya. Aku tak percaya, tapi mimpiku benar-benar ada di genggamannya. Aku menerima dengan ragu, si mimpi menjauhiku, masih ingin lekat-lekat pada sang pria. Berloncatan seperti kera. Tangan saya jadi gatal untuk menempeleng si mimpi saya yang bandel itu.

Ia tersenyum.

“Saya mau mengembalikan ini. Untung si mimpi bisa menjelaskan di mana alamat kantor Mbak. Tapi saya gak tahu kenapa mimpi Mbak seperti gak mau jauh-jauh dari saya.”

Aku menerima setengah memaksa. Tapi tak bisa. Si mimpi tenggelam dalam pelukan si pria. Pria yang benar-benar tak kukenal dan suka nyengir tak jelas ini. Aku gelisah dan pengin cepat-cepat masuk ke ruang sunyiku. Terlebih pria ini memandangku antara heran dan ingin tahu.

“Sepertinya dengan cara lain, mengambil mimpi Mbak dari tangan saya.” Si pria semula ragu, tapi ia paham situasinya.

Aku masih membeku, namun tak sadar telah menganggukkan kepala.

 

Yogyakarta, November 2012
Pernah diterbitkan di http://wartakota.tribunnews.com

NB buat Penamerah: karena sedang tak punya bahan cerita, izinkan saya comot cerpen saya 2012 lalu 😀 hehe, peace.

Si Lugu dan Renungan Kemanusiaan

silugu-voltaire

Pengarang : Voltaire
Diterjemahkan oleh : Ida Sundari Husen
Edisi Kedua : Mei 1996 oleh Yayasan Obor Indonesia

 

 

Judul aslinya L’Ingenu. Dalam bahasa Indonesia artinya Si Lugu. Secara iseng, buku yang sudah langka ini kubawa dari perpus IFI. Seperti yang disampaikan oleh sang penerjemah, Ida Sundari Husein, dalam halaman pengantarnya, novel ini ditulis oleh Voltaire dalam usinya yang ke-73 di tahun 1767. Seperti halnya tema novel Voltaie yang lainnya, Si Lugu dekat dengan gambaran kehidupan Perancis di zaman itu.

Sesuai dengan judulnya, tokoh utama dalam novel ini adalah Si Lugu. Diceritakan, bahwa ia datang dari Huron. (Umat Katholik memiliki sejarah khusus mengenai orang-orang Huron ini). Karena keluguan dan hubungan masa lalu yang dekat dengan keluarga Pastor de Karkabon, ia akhirnya diterima selayak keluarga. Orang selalu penasaran dengan karakter Huron hingga semuanya tampak berfokus padanya. Mereka membaptis Si Lugu sebab di Inggris mereka tidak memperkenalkan agama pada Si Lugu. Setting suasana pada novel tersebut tampak adanya pertentangan samar di dalam tubuh sebuah agama dan juga konflik negara.

Dalam perjalanannya, ia jatuh cinta pada Nona de Seint-Yves, adik dari Pastor de Saint-Yves, yang merupakan ibu permandiannya ketika dibaptis. Tentu saja, banyak orang menentangnya karena tidak dibolehkan seorang ibu pemandian (baptis) menikahi anak pemandiannya. Dan secara polos juga Si Lugu mengancam pembatalan pembaptisan bila rencana pernikahannya dihalangi. Semua seakan tak bisa berkutik. Sementara Nona de Kerkabon, bibinya, berharap Si Lugu menjadi seorang pastor. Namun ia menolak. Keberaniannya melawan orang Inggris, yang pada saat itu menjadi musuh Perancis, membuatnya memperoleh pertimbangan khusus dan malah dijadikan perwira perang.

Dalam usahanya memperoleh penghargaan dan nama demi menikahi pujaan hatinya, ia ditangkap dan dipenjara tanpa alasan.
Ketika berada di penjara, ia bertemu dengan Gordon, orang yang juga dipenjara tanpa alasan, dan pada akhirnya berpengaruh kepada Si Lugu untuk memahami hidupnya lebih luas. Sebab ia memiliki sifat murni dan bersahaja, maka ia pun belajar banyak dari pengalaman hidup.Benar kata seorang esais, bahwa penjara bukan hal yang mampu membelenggu manusia daam diri seseorang. Sebab di dalam penjara, Si Lugu belajar banyak hal, dari hal bersifat politis hingga seputar seni pertunjukan.

Penjara juga mengingatkanku pada sejarah penulisnya, yang bisa dikunjungi di sini.

Pada zaman itu feodalisme masih berkuasa. Hampir segala urusan berpusat dan diserahkan pada kekuasaan. Si kekasih, Nona de Saint-Yves yang ingin menyelamatkanya itu pun harus menyerahkan kehormatannya pada seorang birokrat, Saint-Pouange, sebagai syarat wajib. Seorang politikus dan agamis yang berwenang di ranah politik. Peristiwa itu dianggap telah biasa di Perancis. Dan bahwa meskipun telah melanggar martabat, si pejabat tersebut tetap dihormati. Tak seorang pun mempercayai Nona de Saint-Yves sehingga gadis itu menyimpannya seorang diri. Kekuasaan dalam sistem feodal dan agama di masa itu selalu mengorbankan perempuan dan kaum marginal demi merealisasikan kepentingan dan ambisi. Dan masyarakat telah menganggap itu lumrah. Seperti itulah yang akan ditunjukkan Voltaire dalam novelnya.

Sementara Si Lugu mengalami perkembangan berpikir yang cukup pesat selama berada di dalam penderitaan penjara.
Pada narasi dan dialog-dialognya, kita dapat menemukan nilai-nilai filosofis, kritik sosial, dan parodi yang ditampilkan Voltaire dalam novel Si Lugu, tampaknya membuat dongeng Voltaire bukan sekadar dongeng petualangan biasa, ia lebih pada perjalanan dan nilai-nilai hidup yang dikemas dalam sebuah bangunan cerita. Seringkali dalam perjalanan, tokoh-tokonya menyentil degan sindiran dan kritik. Seperti halnya pada cuplikan di halaman 54-56:

Sesungguhnya sejarah hanya rangkuman kejahatan dan kemalangan. Sejumlah besar orang yang tak bersalah dan cinta perdamaian selalu lenyap di arena sandiwara yang maha luas ini. yang menjadi tokoh-tokoh tak lain hanyalah orang-orang ambisius yang keji. Tampaknya sejarah hanyalah menyenangkan kalau mirip kisah-kisah sandiwara. Drama akan membosankan, apabila tidak diramaikan oleh pertikaian hawa nafsu, kejahatan-kejahatan, dan kemalangan-kemalangan.

Si Lugu dan sahabatnya Gordon pun dikeluarkan dari penjara. Namun Nona de Saint-Yves menyimpan rapat rasa malu dan penderitaannya karena telah menukarkan harga dirinya demi membebaskan kekasihnya, Si Lugu.

Sayang ending-nya mungkin tidak sesuai ukuran novel populer. Kita tidak akan menemukan akhir cerita di mana si birokrat tadi dihukum penjara, kena nasib sial sepanjang hidup, atau benar-benar dibunuh oleh si Lugu. Si kekasih yang mengorbankan dirinya itu pada akhirnya meninggal dalam sakitnya dan menimbulkan luka dalam bagi Si Lugu. Tapi pada akhirnya tokoh hidung belang yang menyebabkannya itu menyesal dan diampuni. Sebab di dalam kebebasan, manusia selalu dimaklumi dan dimaafkan. Dan selalu ada pengampunan.
Ya begitulah sistem kebebasan.

Sebelumnya, kukenal Voltaire lewat salah satu karyanya berjudul Candide. Seperti halnya penulis-penulis produktif lain, Voltaire membangun karakter tokoh-tokoh utama dengan serangkaian kemiripan satu sama lain. Seperti halnya tokoh Si Lugu yang digambarkan sebagai tokoh yang polos dan murni. Karena keluguannya, maka hampir tak pernah terlintas prasangka di benaknya. Kata-kata, pendapat, dan sikapnya selalu sesuai apa yang terlintas di pikiran dan hatinya. Dan kepolosan berarti membawanya mampu menyerap begitu banyak hal di sekitarnya. Ia menjadi pembelajar yang berkembang pesat. Dan konsekuensi dari karakter itu adalah, ia menjadi loyal terhadap sesuatu yang telah dipercayainya. Hal itu ditujukkan dalam beberapa bab buku, seperti ketika ia dibaptis, ketika menjawab dan bertanya dengan orang-orang, melawan sistem feodalisme, dan ketika ia jatuh cinta dengan Nona de Saint-Yves, dan reaksinya tatkal kekasihnya ini meninggal karena tekanan jiwa.

Voltaire, si pengarang novel ini, lahir pada abad 18 di negeri Perancis. Karya-karyanya dikenal sebagai salah satu hal yang berpengaruh pada zaman renaisans. Tema besarnya selalu mengenai optimisme, kebebasan berpikir, dan kritik sosial.

Buku ini memiliki tampilan yang barangkali memang tidak laku dijual bila digabungkan di deretan buku lain di masa sekarang. Yeah, karena saat ini, belum sempat mencari buku-buku baru, jadi maklum, saya mengambil buku-buku seadanya untuk digunakan belajar menulis resensi.

Tapi buku kecil yang tua ini membuatku mengingat sesuatu. Yeah, kita pernah mengenal bangsa Arab yang dikenal lugu dan primitif itu. Yeah, memang awalnya jahiliyah, jahil adalah milik orang primitif dan polos, tapi bila sudah yakin, mereka loyal. Itulah mengapa Islam lahir di sana dan bukan di Jawa. Lalu sang nabi yang lahir di dalam lingkungan Arab, yang kita kenal dengan sifat “murni’ dan rendah hatinya itu membuatnya pantas dipilih sebagai rasul akhir zaman.

Kurasa barangkali hidayah dan mukjizat tidak menyapa orang-orang berpendidikan dan pintar. Sebab pintar konon berpotensi ‘memintari’ orang lain dan tahu cara menutupi dengan rapi fakta-fakta yang mestinya disampaikan. Yeah, barangkali demikian. Menjadi pintar kadang adalah kutukan.

kaleidoskop

Saya lebih ingin berdoa hal-hal baik di tahun mendatang serta melupakan hal-hal pedih dan tidak menyenangkan di tahun 2013. Bila boleh, saya ambil saja hal positifnya dan melupakan hal yang sebaliknya. Sebab kurasa itu lebih mudah daripada membuka lagi lembaran masa lalu dan akhirnya jadi ganjalan yang mestinya sudah selesai ketika tahun berganti.
Tahun 2014 mendatang saya memiliki beberapa rencana ekstrim. Dan berharap mengalami perubahan dan kemajuan ke arah baik. Pokoknya yang baik-baik saja.
Maaf kawan, semula kaleidoskop sudah selesai ditulis jadi 3 halaman kemarin hari. Tapi saya berubah pikiran.

Semoga sukses buat kita semua.

Bismillah 🙂

 

*untuk teman-teman Penamerah

Tahun Depan?

Setiap hari Senin aku selalu tak mau peduli perihal pekerjaan dan kehidupan sejak bangun tidur. Karena biasanya bakal menyebalkan dan melelahkan. Tapi setidaknya pagi ini aku sempat ngobrol dengan temen dekat yang sedang berada jauh di negeri orang, melalui YM. Seperti biasa, kami bercerita ngalor-ngidul tentang hal-hal kecil di sekitar. Kemudian ia pun bercerita tentang pria yang dekat dengannya. Memang, di antara kami berdua, dialah yang paling antusias segera menikah dan punya keluarga dan juga selalu khawatir soal usia. Padahal aku yang lebih tua beberapa bulan dengannya nggak lagi terlalu khawatir soal itu. Namun aku paham sekali posisinya. Sayang lagi-lagi nasib baik seolah belum menghampirinya. Selain perasaannya belum sreg betul, si pria juga penganut sekte “tahun depan”. Pria  yang ia maksud baru (kemungkinan) siap menikah tahun depan. Soalnya dia mau nyelesein S2 dulu, katanya. Masalahnya, temanku yang satu ini tipenya bukan pria yang sudah matang.

Ya kalau lulus di tahun itu. Kalau tidak? Kalau malah keburu kepincut sama yang lain? Kalau ternyata dia berubah pikiran di tahun depan itu? Atau malah nggak lulus karena kampusnya kebakaran? Masih ikhlas nunggu? Kemungkinan begitu banyak berkelebat. Setahun itu lamanya berlipat bagi yang nunggu. Udah deh milih yang udah siap aja… Dan aku selalu mencoba mengajak berpikir dengan banyak sisi pada teman-teman atau saudara perempuan di sekitarku bila menyikapi hal itu. (memang lebih mudah ngasih nasihat pada orang lain daripada diri sendiri, haha). Sebab para perempuan agak lemah ketika membedakan makna di balik ucapan lawan jenisnya.

Yang dia maksud tahun depan ini betulan janji atau masih wacana?

Begini bila aku memberi sedikit gambaran untuk mereka yang pro pernikahan: Laki-laki secara biologis bisa nikah usia berapa pun. Perempuan nggak. Bahkan perempuan punya masa menopause lebih cepat dari laki-laki. Itu fakta. Pasti nggak mau kan punya anak dalam keadaan sudah tua? Anak masih SD tapi sudah pensiun itu susah lho ngejalaninya. Belum lagi risiko-risiko kesehatan yang bakal ditanggung perempuan. Kalau kamu nunggu dia yang belum pasti, bagaimana bila Tuhan malah memberi kebijakan lain (yang kita nggak tahu) terhadapmu atau terhadapnya? Sudah siap?

Tapi jauh dari semua itu, aku memang agak risih dengan istilah “tahun depan”. Rasanya sama abu-abunya dengan istilah “besok” dan “nanti”—yang disebut tanpa keterangan lebih detail seperti tanggal berapa dan jam berapa. Sahabatku itu pun sepakat denganku, sekalipun masih sambil mikir. Aku sering ketemu kata ‘tahun depan’ yang bahkan sudah menjadi tahun belakang yang tidak terjadi apa-apa.

Membahas ini, aku jadi ingat jawaban konyol salah satu teman kampusku dulu. Ceritanya dia udah lama berkomitmen dengan pacarnya, sudah lebih dari 6 tahunan. Orang-orang di sekitar mereka juga usil (baca: tega) menanyakan kapan mereka nikah. Temanku ini dengan enteng selalu menjawab “tahun depan”.
“Yang benar?” Mereka tentu heboh mendengar jawaban itu.
“Iya. Masa mau tahun belakang,” lanjutnya santai.

Dan untungnya mereka pun akhirnya menikah juga dan sekarang sudah punya anak. Tapi betapa memperjuangkan ‘tahun depan’ itu kelihatannya bukan hal yang mudah. Kebetulan ia teman wira-wiriku di akhir-akhir tahun kuliah. Orang lain barangkali nggak tahu ia bahkan harus ekstra sabar mengalahkan perasaannya yang sudah capek berharap demi kepastian hubungan. Selama 6 tahun, ia selalu mengalami pasang surut hubungan. Nggak jadi, jadi, nggak jadi, jadi. Putus, nyambung, putus nyambung, dan seterusnya. Kalau aku paling lebih milih pindah kewarganegaraan daripada ngurusi pacaran nggak jelas semacam itu. Yeah walaupun akhirnya mereka menikah juga, tapi ingat, di luar sana banyak yang mengalami hal serupa tapi nggak jadi lho. Alias gagal. Pernikahan lebih pada urusan masing-masing dan bersifat privat. Bagiku lebih bersifat “iman.”

Oke, aku akui, manusia memang hanya bisa merencanakan dan menyusun angan-angan. Tapi semua itu ditentukan nanti. Karena bagaimana pun yang pasti adalah yang sedang dijalani. Dalam hal ini, aku setuju dengan ideologinya orang-orang atheis. Mereka nggak peduli masa depan dan lebih yakin dengan masa sekarang. Seperti halnya kadang aku juga setuju dengan pemikiran kelompok warga RI pendukung nuklir—yang lebih percaya prospek untuk pembangunan daripada dampak buruk ke lingkungan yang sedang tidak terjadi sekarang. Meski tidak benar-benar mendukung.

Kembali pada penganut paham “tahun depan”. Selalu dari masa lalu aku belajar tentang kini. Aku juga sering belajar dari hal-hal di sekitar. Seperti halnya, mimpi-mimpi masyarakat Aceh tahun 2003, akhirnya tersapu Tsunami di tahun 2004-nya. Bagi orang-orang Jogja pada tahun 2006, rencana-rencana tahun 2005-nya juga ambruk oleh gempa. Mimpi tahun depan masyakarat lereng Merapi di 2009 juga tersapu awan panas di tahun 2010. Bukankah bila demikian tahun depan lebih merujuk pada sesuatu yang tidak pasti.

Begitulah. Istilah “tahun depan” sering kali terdengar begitu absurd di telingaku….
Sekalipun demikian, kita memang harus mengambil hal baik dari proses “merencanakan”. Sebab itu memang bagian dari hidup.

*memenuhi tugas Komunitas Penamerah edisi denda

Matahari bagi Sang Guru

Ia ingat sebuah catatan seorang penyair yang dibacanya ketika masih kuliah di Jawa. “Sekolah pun keliru bila ia tidak tahu diri bahwa peranannya tidak seperti yang diduga selama ini. Ia bukan penentu gagal tidaknya seorang anak. Ia tak berhak menjadi perumus masa depan.”

Negerinya memang terlalu sibuk untuk sekadar mengingat bagian terjauh yang tak terjamah pendidikan itu, termasuk tempat tinggalnya. Lima tahun yang lalu ia memutuskan kembali ke kampungnya, meninggalkan seluruh mimpi yang gemerlapan seperti ibu kota. Sepanjang hidupnya, ia selalu bangun pagi buta, menyiapkan sarapan untuk suami dan anak-anaknya, kemudian merapikan hal-hal yang akan dibawanya menuju sekolah. Pagi itu, melewati jalan desa yang berbatu dan belantara, ia mengayuh sepeda tuanya dengan riang seperti hari-hari biasanya.

Semalaman ia merancang sebuah dongeng untuk diceritakan di dalam kelas: tentang anak-anak gunung yang berhasil menemukan harta karun. Anak-anak gunung itu datang dari sebuah negeri yang amat tertinggal dan kehabisan bahan makanan. Penduduknya kelaparan dan kekurangan air. Lalu mereka mencari sumber mata air hingga naik ke puncak sebuah gunung, melawan semua bahaya. Sampai di sebuah puncak, mereka tak hanya menemukan sumber mata air, tapi juga harta karun yang akan menyelamatkan desanya.

Begitulah yang akan ia ceritakan hari ini di depan kelas sebelum memulai pelajaran Matematika.

Mengingat bahwa kemarin hari nilai murid-muridnya buruk. Ia merasa sedih, tapi tentu ia tak merasa gagal. Ia tahu anak-anak didiknya telah mengerjakan dengan maksimal, tak satu pun mencontek seperti yang dilakukan anak-anak kota. Ada hal lain yang lebih bernilai daripada sekadar angka yang ia mengerti dari anak-anak didiknya. Setiap anak berhak memilih menjadi apa yang diinginkan. Mereka berhak menjadi dirinya dengan yang terbaik.

Matahari telah berjalan semakin ke atas. Ia tiba di depan gedung reot itu. Di halamannya, bendera merah putih berpenampilan lusuh masih berkibar-kibar tertiup angin. Anak-anak berpakaian kumal dan tanpa alas kaki ini berhamburan memasuki halaman. Disapanya mereka satu-satu. Anak-anak ini seriang matahari pagi. Mereka bahagia dan sehat. Sebagai seorang guru, ia pun percaya mereka memiliki masa depan yang cerah. Seperti matahari pagi itu.

 

Terinspirasi dari perjuangan guru-guru di wilayah perbatasan RI