Of Mice and Men by John Steinbeck: Ulasan Singkat

32212419_1706975229351864_5420380845040992256_n

Judul: Of Mice and Men (Tragedi Hidup Manusia)
Penulis: John Steinbeck
Penerjemah: Shita Athiya
Penerbit: Selasar Surabaya Publishing
Cetakan 1: September 2011
Bahasa: Indonesia
ISBN: 978-979-25-9413-3
Jumlah halaman: 150

 

Blurb:

Berusahalah memahami masing-masing manusia, karena dengan memahami satu sama lain. kalian bisa bersikap baik satu sama lain. Mengenal baik seorang manusia tak pernah berakhir dengan membencinya dan nyaris selalu menjadi mencintainya.

 

George bertubuh kecil namun cerdas dan pemimpi. Ia ingin suatu hari dapat memperbaiki hidup, tak lagi menjadi buruh kasar dan memiliki tanah sendiri. Sedangkan Lennie bertubuh besar namun memiliki keterbelakangan mental. Mereka harus pindah lagi dan mencari pekerjaan pada tuan tanah yang baru di Soledad.

Mereka terusir karena sebuah kasus. Lennie dituduh memperkosa seorang gadis, padahal yang sebenarnya ia hanya tertarik pada tekstur roknya. Bahkan suka memegangi hewan-hewan kecil seperti tikus, kelinci, dan anak anjing hanya karena tertarik dengan bulu-bulunya, tanpa menyadari bahwa perbuatannya membuat hewan-hewan kecil tersebut terbunuh. Hal-hal kecil seperti yang Lennie lakukan ini sering kali menyulitkan hidup sahabatnya, George yang tengah berjuang mewujudkan impian.

Novel ini terbit tahun 1937, pada dekade 1930-an, ketika masih terjadi krisis global. Bahkan merupakan kisah yang terinspirasi oleh pengalaman hidup penulis sendiri yang pernah menjadi buruh. George dan Lennie merepresentasikan kaum buruh kasar. Novel ini menceritakan dua orang sahabat dari kelas pekerja kasar yang melakukan perjalanan bersama karena perasaan sepi. Goerge pun membutuhkan Lennie sebagai teman perjalanan yang tak memiliki niat jahat sedikit pun.

“Tak perlu otak untuk menjadi orang yang baik. Kelihatan bagiku kadang-kadang tepat terjadi sebaliknya. Lihat saja orang yang benar-benar pintar dan biasanya hampir tak pernah jadi orang baik.” (Hlm. 54)

Sebetulanya novel ini memiliki ide cerita yang sederhana. Memberikan pesan kepada pembaca bahwa memiliki teman yang menyulitkan lebih baik daripada tidak memilikinya sama sekali. Meski seolah bercerita tentang perjalanan 2 orang sahabat yang mengadu nasib dalam keadaan yang penuh keterbatasan, secara tersirat, Steinbeck lebih banyak bercerita tentang kondisi para buruh dan kisah-kisah kemanusiaan lain. Termasuk juga isu rasisme terhadap warga kulit berwarna.

Novel ini tentulah keren pada zamannya. Dituturkan dengan gaya sederhana ala Steinbeck dan ide yang dekat dengan kondisi masyarakat saat itu, membuat novel ini pantas meraih penghargan di bidang kesusastraan. Of Mice and Men, yang membuat miris perasaan ini pun menyuguhkan ending yang bikin geleng-geleng kepala.

John Steinbeck sendiri konon telah menerbitkan 27 buku selama hidupnya, termasuk 16 novel, 5 kumcer, dan 6 buku nonfiksi. Dan setelah membaca karya yang ini, saya jadi penasaran sama karya Steinbeck yang lain.

 

 

Iklan

Parade Manusia dalam Novel Jatisaba: Sebuah Review

novel Jatisaba

Judul: Jatisaba
Penulis: Ramayda Akmal
Penerbit: Era Baru Pressindo
Genre: sastra
Jumlah halaman: 254
Tahun terbit: 2012
ISBN: 9786029967036

Aku pulang, walau tidak punya rumah. Walau hasrat untuk pulang sama kuat dengan hasrat untuk mencegahnya. Aku sempat berjanji tidak akan kembali. Tetapi kenangan akannya begitu mengutukku. Kutukan yang mendatangkan kerinduan. Kerinduan yang mengalahkan segalanya; rasa malu, keangkuhan, dan dendam. Sepanjang jalan aku gemetar, menyadari yang aku rindukan adalah masa lalu. Namun aku sedang menuju ke sana dan tak mungkin akan menghancurkannya, juga diriku. Aku tak bisa mengelak. (Halaman 7)

Pulang ke Jatisaba membawa Mae pada serangkaian peristiwa yang melemparkannya pada kenangan, sekalipun tak ada lagi keluarga dan rumah sebagai tempat tujuan. Jatisaba tak hanya sebuah kampung bagi Mae, tapi juga sebagian dari dirinya, nuansa kehidupan desa kelahirannya yang masih seperti dulu, cinta masa lalu yang tak tergapai, politik lokal yang rumit dan kotor, juga banyak hal yang menguras hati. Tak jarang kelebat kenangan masa kecil datang dalam ingatannya dan sering kali mengusik nuraninya. Seiring dengan trauma-trauma yang pernah dialaminya.

Ia dilahirkan dan mengalami masa kecil di desa tersebut meski masyarakat pada akhirnya menolaknya. Mae yang bernama asli Mainah adalah mantan korban TKW ilegal yang mengalami nasib tragis. Lepas dari berbagai siksaan, ia pun terpaksa menjalani hal yang tak diinginkannya: menjadi makelar perdagangan manusia bertaraf internasional. Mae harus mencari calon-calon korban di kampung halamannya itu demi kebebasannya sendiri. Sebelumnya sudah hal yang biasa penduduk di Jatisaba menjadi TKI ketika dewasa meski bukan pilihan pekerjaan yang menjanjikan. Itulah sebabnya sebagian masyarakat memandang sinis Mae.

Membaca novel ini, saya melihat Mae sebagai korban juga sekaligus pelaku tindak kejahatan. Ada beberapa sisi menarik yang saya temukan dari Mae. Misalnya, sekalipun perempuan, ia mampu menghadapi dunianya sendiri tanpa bergantung pada orang lain. Mae merepresentasikan manusia yang memiliki semangat untuk terus dapat mengubah keadaan meski di sisi lain ia juga berjuang untuk berdamai dengan rasa bersalah. Novel ini membuat kita memaafkan sisi “manusia”.

Tidak mudah bagi Mae meraih kepercayaan masyarakat Jatisaba. Demi misinya itu, Mae pun mendompleng kampanye salah satu kelompok pendukung calon kades di untuk mendapatkan calon korban. Dalam perang batin yang berat, ia terus membujuk masyarakat tempat kelahirannya untuk mau berangkat bersamanya, termasuk sahabat-sahabat masa kecilnya. Selain tak bisa lepas dari teror Mayor Tua, bos besar dari sindikat tersebut, Mae juga tengah menjadi buron kepolisian. Dunia yang dihadapinya memang nyaris tak pernah aman, bahkan pada akhirnya ia dikhianati oleh salah satu orang yang dipercayaianya.

Novel Jaisaba tak hanya bercerita tentang human trafficking, tapi juga kehidupan manusia dari sisi lain. Hal menarik dari novel ini adalah kemampuan mendekat pada nuansa kehidupan masyarakat asli Kampung Jatisaba dengan cara lugas, kadang vulgar, jujur, dan menyindir. Tidak jarang saya menemukan karakter-karakter manusia di sekitar kita yang sedikit mirip dengan tokoh-tokoh dalam novel Jatisaba. Barangkali terhadap tipikal manusia ini kita dibuat gemas sekaligus memakluminya. Seperti juga Mae yang merasa menjadi bagian dan sekaligus mencela berbagai masyarakat yang munafik dan primitif. Meski bergenre sastra, novel ini juga dituturkan dengan gaya bahasa yang tidak terlalu berat untuk dicerna. Tidak banyak ditemukan bahasa kiasan, namun memiliki gaya penuturan yang menyentuh.

Fenomena pemilihan calon kepala desa, misalnya, diwarnai dengan perseteruan politik ala masyarakat pedesaan yang seolah menjadi replika iklim politik di negeri kita ini. Kampung Jatisaba pun akrab dengan konflik dan kampanye hitam. Konflik yang sudah lama ada di masyarakat yang berkelompok itu semakin memanas ketika pemilihan kepala desa. Dengan segala intrik, mereka saling menjatuhkan hingga saling memfintah dan memata-matai demi memenangkan calon. Mereka bahkan bersemangat menjagokan calonnya meskipun hanya disogok dengan beras berkutu. Fenomena kampanye yang kadang lucu, kadang membuat geleng-geleng kepala ini membuat saya menemukan kesamaan dengan fenomena yang terjadi di nusantara atau di sekitar kita namun dalam bentuk yang lebih ‘lugu’.

Penggarapan lakon yang kuat, plot, setting, dan twist-twist yang mengejutkan, membuatnya seperti menyimak sebuah dongeng tentang kaum terpinggir. Berbeda dengan novel kebanyakana, Mae merupakan tokoh utama yang tidak luput dari sisi keantogonisan. Mae mencintai jatisaba sepeti halnya kita mencintai kampung halaman. Ia juga cinta masa kecilnya, Gao, meskipun Gao telah berkeluarga. Ia menyayangi sahabat-sahabatnya di masa kecil, ia tahu apa yang bakal mereka alami setelah berada di tangan Mayor Tua, tapi ia sadar ia sedang terlibat dalam misinya sendiri sehingga harus menjaga jarak.

Dengan sangat akrab, Jatisaba bercerita lebih dekat tentang masyarakat tradisional yang cenderung marginal itu. Seperti tokoh Sitas yang pernah mengalami masa lalu kelam sebagai TKW dan hobi sebagai simbol kemiskinan dan kemunafikan. Ia cenderung menyukai hal-hal yang materi hingga segala cara ditempuhnya, ia bahkan lebih berantusias menghitung uang sumbangan sesaat setelah suaminya dimakamkan. Lalu Gao yang dianggap dukun sakti yang kontroversial. Ada juga Malim yang selalu berada di samping Mae tapi tetap memiliki tujuan memanfaatkannya. Ada pula Musri, Kusi, dan Sanis, sahabat Mae yang polos dan naif yang merepresenstasikan ibu rumah tangga yang menjalani takdirnya mengurus rumah dan anak-anak. Sedangkan para pria dalam novel itu dikenal doyan kawin, mabuk, berjudi. Sementara sekolompok ibu-ibu karib dengan gosip. Tak lupa Jompro, Mardi, dan Joko, 3 orang yang memiliki cara-caranya sendiri untuk meraih kemenangan menjadi kepala desa iktu mewarnai situasi politik di Jatisaba. Dan tokoh-tokoh lain yang memiliki karakter yang berdiri sendiri-sendiri.

Dalam novel ini saya seperti melihat kondisi masyarakat marginal yang ditelantarkan oleh negara dan jauh dari kemajuan. Salah satu biang dari semua penyakit masyarakat itu adalah kemiskinan. Kemiskinan seolah merupakan jalan buntu bagi masyarakat itu sendiri. Novel yang beralur maju ini sekaligus diselingi kilas balik tentang masa lalu Mae yang memilukan ketika menjadi korban trafficking. Di sisi lain, kehidupan desa digambarkan begitu detail dan tentunya Ramayda Akmal telah melakukan riset yang panjang. Termasuk juga ketika menyorot situasi politiknya.

Setting dan juga kebudayaan yang digarap detail membuat saya seperti menyimak langsung. Dari perayaan ebeg sampai jenis makanan khas yang menjadi favorit masyarakat meski tidak layak untuk dimakan.

Aku rindu sekali memakan ciwel. makanan dari singkong yang dicampur abu. Tidak ada yang menyediakan makanan itu selain di Jatisaba…”

Ada gorengan gadung yang semua orang tahu dibuat dari tumbuhan jalar yang beracun. Ada juga becek lumbu. Lumbu adalah tanaman yang tumbuh subur di genangan air limbah… (halaman 150)

Novel Jatisaba sedikit mengingatkan saya pada novel Ahmad Tohari, Ronggeng Dukuh Paruk yang sama-sama berangkat dari kisah masyarakat desa yang tengah menghadapi perubahan sosial akibat komedernan. Namun cerita menganai kehidupan pekerja migran ilegal seperti mengingatkan kembali novel Mimi lan Mintuna karya Remy Sylado dan Galaksi Kinanti karya Tasaro GK. Membuat kembali menyadarkan bahwa Indonesia, kasus trafficking masih menjadi fenomena yang dekat dengan kita namun seperti jauh dari penyelesaian yang menuntut kita untuk peduli dan terus berupaya mencari solusi.

Membaca novel Jatisaba seperti membaca parade manusia. Kita takkan menemukan tokoh-tokoh ideal dalam bayangan kita ataupun produk ala televisi. Mengikuti perjalanan Mae, saya seprti ikut memaklumi manusia, sehingga rasanya bukan yang bodoh dan terbelakang yang lebih jahat. Orang-orang yang merasa lebih maju dan terlihat bersihlah yang barangkali lebih mengancam. Atau barangkali kita yang lebih banyak tahu yang lebih jahat dari mereka yang tak tahu. Bukankah sering kali pengetahuan yang kita miliki menyakiti mereka yang tidak pernah tahu? Bukankah pengetahuan-pengetahuan itu membuat kita tak jarang merasa terasing?

Kekurangan dalam novel ini menurut saya lebih pada teknis. Sayang di novel ini masih banyak ditemukan typo dan kesalahan ejaan yang mestinya dapat diperbaiki lagi. Di samping itu, ada beberapa halaman yang penataan marginnya terlihat agak miring. Namun tak mengapa, penggambaran karakter melalui narasi dan dialog dengan porsi yang pas membuat saya terkesan. Pantas bila novel ini masuk sebagai novel unggulan Dewan Kesenian Jakarta tahun 2010 lalu.

Mae merupakan tokoh kontroversi yang mengajari kita untuk mampu mengenal manusia dari dekat dan dengan cara berbeda. Selain ide cerita dan beberapa kelebihan yang coba saya urai di atas, novel Jatisaba karya Ramayda Akmal ini saya rasa memiliki muatan etnografis dan nilai-nilai yang mampu memberikan terobosan baru dalam dunia sastra. Novel ini kaya dengan makna dan pelajaran hidup. Kita juga dapat mengkajinya dari sudut pandang ilmu sosial dan budaya. Ini novel sastra yang recommended 🙂

Bacaan Bergizi Minggu Ini

Kendala ngantor adalah rasa suntuk tentu saja, karena pola-pola rutin dan berulang yang dilakukan setiap hari. Namun setidaknya ada 3 naskah bergizi yang mesti diselesaikan minggu ini di samping bacaan-bacaan bermutu lainnya yang tiba-tiba kutemukan dan seperti oleh-oleh dari alam atas kesuntukanku belakangan ini.

3 naskah itu adalah:

Pertama, tentang 108 tokoh ilmuwan dan penemu yang menginspirasi dunia. Naskah yang satu ini bikin nambah wawasan. Terlebih diceritakan bahwa banyak ilmuwan dan penemu yang berpengaruh di dunia itu nggak menempuh pendidikan formal di sekolah. Bahkan tak sedikit pula yang memiliki kehidupan pribadi yang kurang menyenangkan. Hari ini, aku baru sampai di bab tentang Alfred Russel Wallace, penjelajah, naturalis, yang pernah mengumpulkan jenis flora dan fauna di nusantara dan sempat mengispirasi pemikiran Darwin. Wallace salah satu yang paling menarik, salah satu bukunya sempat iseng kubaca sekilas waktu itu dan tak sampai selesai karena tidak boleh dibawa pulang dari perpustakaan kota.

Kedua, tentang penyakit yang disebabkan oleh lingkungan global dan modernitas beserta penanggulangan dan pencegahannya. Naskah ini ditulis oleh seorang dokter ahli penyakit dan lingkungan dan sekarang naskah ini baru proses editing. Memang, ilustrasi dan isinya sedikit mengerikan bagi orang awam. Namun, kelak buku ini penting dibaca semua orang, sebab untuk menyambut kemajuan teknologi dan modernitas, orang tidak harus menjalaninya dengan sakit-sakitan 😐 nanti bila buku selesai diedit, aku mungkin akan mengusahakan untuk membuatkan semacam review. Semoga saja ada kesempatan dan waktu luang.

Ketiga, novel Sherlock Holmes: Anjing Iblis dari Baskerville, kalau yang ini bukan kerjaan kantor, tapi freelance. Ini salah satu buku yang membuatku penasaran karena belum pernah kubaca. Ingatanku berkelana di masa remaja. Di masa remaja itulah aku cenderung lebih banyak bergaul dengan buku daripada manusia, salah satu penyebabnya adalah gara-gara kecanduan buku-buku bertema detektif semacam ini. Baca bukunya Sir Arthur Conan Doyle seperti nostalgia zaman remaja, dan setidaknya dapat menghadirkan nuansa baru. Tapi harus tak boleh lupa bahwa aku mesti menulis resensinya segera karena sudah dikejar deadline. Kesalahan eja yang berhamburan di sana membuatku gemas. Setidaknya ada dua hal tentang ini, bahwa memang penerjemah mesti punya setidaknya pengetahuan mengedit konten, maka dari itu proofreader adalah profesi yang jelas penting.

Demikianlah mengapa aku sebenarnya cukup menikmati pekerjaanku yang sekarang :). Selain sibuk mengejar deadline, aku tak kehilangan waktu untuk belajar juga. Mungkin memang melelahkan rasanya jadi orang yang selalu “haus”, tapi di sisi lain menyenangkan rasanya bahwa hidup sebenarnya tidak membosankan, yeah… sebelum masa bad mood datang.

Resensi Novel Gadis Kretek

DSCN3905

Judul: Gadis Kretek
Penulis: Ratih Kumala
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: Maret 2012
ISBN:  978-979-22-8141-5
Tebal: 274 hlm
Genre: historical fiction

kaya wangi tembakau, sarat aroma cinta

Soeraja, pemilik pabrik rokok kretek Djagad Soeraja sekarat karena stroke. Setengah sadar ia mengigaukan sebuah nama yang tak pernah terdengar sekali pun di rumahnya: Jeng Yah. Nama itu bukan milik istrinya. Rumah jadi geger. Purwanti, istri Soeraja meradang. Ia melarang siapa pun menanyakan dan membicarakannya. Siapa Jeng Yah? Siapa pun ia, ketiga anaknya tahu wanita itulah yang ingin ditemui ayahnya sebelum ajal. Mustahil bagi Tegar, Lebas, dan Karim menanyakan itu kepada ibunya, mereka pun menempuh segala cara untuk mencari sosok Jeng Yah. Namun, demi menemukan Jeng Yah, mau tak mau mereka pun melakukan napak tilas sejarah kejayaan pabrik kretek milik ayah dan mendiang kakeknya itu dengan melintasi Jogja, Magelang, Kudus hingga Kota M.

Kemudian cerita bergerak flashback menuju tokoh bernama Idroes Moeria, seorang buruh kretek klobot di tahun 40-an. Idroes diceritakan sebagai pemuda yang gigih. Perasan cintanya pada Roemaisa membuatnya mampu berjuang mengubah hidupnya, dan memutuskan untuk membaut pabrik rokok sendiri mulai dari nol. Soejagad, semula adalah teman IM murka sejak ia tahu Idroes Moeria yang akhirnya mampu merebut hati si gadis. Sejak Idroes membeli bahan kretek juragannya, ia pun telah merasa kalah. Kekalahan Soejagad adalah awal dari persaingan bisnis dan intrik yang cukup menggila di waktu-waktu setelahnya. Selama perjalanan bisnis Idroes, Soejagad menjadi pesaing.

Perisiwa demi peristiwa membuat Idroes dan Roemaisa mengalami jatuh bangun. Padahal kretek Merdeka baru saja populer. Namun itu tak membuat Idroes berhenti menciptkan formula baru, dan produk baru. Terlebih setelah lahir Dasiyah, putri pertama mereka. Pabrik rokok tetap mengalami perkembangan, dan Soejagad tetap menjadi saingan. Hingga berlanjut ke generasi kemudian.

Dasiyah yang terbiasa membantu membuat kretek, akhirnya menjadi tangan kanan Idroes. Bahkan mampu membuat formula yang membuat rokok menjadi lebih enak dari yang lainnya. Bahkan Idroes pun menyukainya. Dasiyah tumbuh dengan keterampilan entrepreneur yang baik. Kariernya itulah yang mempertemukan dengan Soeraja, lelaki miskin yang juga pekerja keras seeprti ayahnya di masa muda. Mereka menjalankan bisnis bersama hingga akhirnya saling jatuh cinta dan merencanakan pernikahan. Namun sebuah peritsiwa besar terjadi tatkala ia sedang mempersiapkan pernikahannya dengan Soeraja. Peristiwa geger G30S PKI membuat bisnis Idroes pun terancam karena warna merah di etiketnya dituduh komunis padahal warna etiket itu sudah ada sejak zaman kemerdekaan. Kondisi politik yang meresahkan membuat Dasiyah dan Soeraja harus terpisah. Saya tak melupakan suasana sedih yang terjadi ketika membaca momen rusuh PKI itu.

Kisah meluncur kembali ke masa sekarang, ketika Lebas, Tegar, dan Karim melakukan perjalanan ke Kota M, dan menemukan keluarga Dasiyah, hingga cerita mengalir pada alur yang akan membuat pembaca tak ingin beranjak hingga menuntaskan bacaan. Dan jarang bagi saya menemukan buku yag endingnya bikin geleng-geleng kepala, kadang geli, kadang mengernyitkan dahi, dan juga terkejut. Terlebih akhirnya terungkap mengapa nama ayahnya dapat bersanding dengan nama besar kakeknya. Kebenaran luka gores di dahi Soeraja, dan rahasia-rahasia lainnya. Oh rupanya… 🙂

Melihat cover depannya, semula seperti mengingatkan saya tentang kisah Roro Mendut dan Pranacitra. Tapi setelah membaca semuanya, rupanya novel ini lebih njelimet. Diwarnai oleh latar belakang sejarah, tradisi, suasana politik, bahkan kisah-kisah tentang cinta yang sederhana namun dalam maknanya.

Cerita Gadis Kretek dituturkan dengan berbagai Pov. Diawali dengan sudut pandang tokoh Lebas, salah seorang cucu Soejagad, lalu di bab-bab selanjutnya sudut pandang berganti menjadi sudut pandang ketiga berbagai tokoh sehingga pembaca dapat memahami alur cerita. Di samping itu, novel tentang tiga generasi ini menampilkan berbagai karakter dengan latar belakang kehidupan dan cara berpikir yang berdiri sendiri-sendiri.

Selain itu penulis juga menguraikan dengan lancar segala hal tentang kretek hingga cara membuatnya, mulai dari yang dilinting dengan klobot (daun jagung yang dikeringkan) lalu diisi tembakau dicampur cengkih, dengan klobot klembak menyan, dan akhirnya menggunakan papier (semacam kertas pembungkus campuran tembakau). Tak lupa pula proses pembuatan rokok secara manual dari masa ke masa bahkan ditambahi semacam saus yang menjadikan rokok kretek beraroma lebih sedap.

Bahkan dipaparkan pula bahwa rokok sempat dijual di toko obat karena kandungan cengkihnya yang dapat mengobati asma. Hm, berbeda dengan sekarang yang justru cenderung merusak kesehatan.

Dulu, di Kudus ada Pak Haji Jamari. Dia hidup tahun 1980-an. Suatu hari lelaki itu sesak napas, dan mencari cara memasukkan woor (cengkeh) ke paru-parunya. Dia pun merajang cengkeh dan mencampurkannya dengan tembakau rajang yang lalu dilinting dengan klobot. Ketika api menyulut dan menghabiskan batang lintingan itu, terdengar suara kretek-kretek akibat terbakarnya cengkeh rajangan. Itulah asal mula kretek. (hlm. 179)

Membaca Gadis Kretek, membuat saya jadi tahu, bahwa dulu kretek juga bersifat universal dan tidak berhubungan dengan gender. Baik laki-laki maupun perempuan tidak tabu bila merokok di depan umum. Terbukti dengan kisah perjalanan Roemaisa yang sempat menjual kretek selama suaminya diciduk ke Soerabaja, dan Dasiyah yang merupakan bos Kretek Gadis, dengan demikian, tentu saja mereka pun menjajal rokok. Hal itu juga merepresentasi rokok adalah produk universal. (Oh yeah, tentu saja. Deskriminasi gender justru lahir kembali sejak zaman orde baru). Bahkan dikatakan bahwa banyak orang yang menyukai kretek buatan Dasiyah. Terlebih sang ayah. Momen ketika sang ayah begitu menyukai kretek anak gadisnya melengkapi tema novel ini dengan nuansa cinta dan keluarga.

Detail setting ditulisakan Ratih Kumala dengan sangat menarik, yang tampaknya telah mengalami riset yang panjang dan hati-hati. Suasana vintage yang nyaris sempurna membuat saya seperti pergi berpiknik ke zaman lampau dan menyelami sejarah dan tradisi masyarakatnya. Meski bertema kretek (rokok) novel ini juga menceritakan sejarah nasional, sebab konon perkembagan rokok dapat menjadi penanda sejarah nasional, seperti penamaan merk dan iklannya. Di samping itu gaya bahasa yang lugas, ringan, dan cenderung humor menjadi daya tarik tersendiri. Novel ini menjadi tidak membosankan untuk dibaca. Nyatanya ini kali kedua saya baca sejak saya membelinya beberapa bulan yang lalu. Meski saya nggak pro dengan kretek/rokok, tapi ternyata mengasyikan menelusuri sejarah kretek di Indonesia.

Jalinan cerita yang menarik, penuh makna, dan pengetahuan juga twist-twist yang membuat saya penasaran akut hingga terkejut membuat saya merasa beruntung menemukan novel ini. Adapun kekurangan tidak banyak. Barangkali karena buku ini menarik dari awal, kekurangan-kekurangannya jadi terlewat. Namun alangkah baiknya keterangan tentang istilah bahasa Jawa diletakkan sebagai footnote, tidak di belakang bab, supaya memudahkan pembaca yang tidak berbahasa Jawa. Ada pula beberapa typo di sana-sini juga penulisan nama tokoh yang sepertinya tertukar. Di samping itu lebih banyak dibahas sejarah rokok kretek dan bagian Idroes Muria dan Soejagad ketimbang yang lainnya. Gadis Kretek justru mendapat porsi lebih sedikit. Meski demikian, si gadis sepertinya memang pas diposisikan sebagai kunci pembuka rahasia masa lalu mereka. Sehingga secara kesuluruhan novel ini menjadi salah satu favorit saya dan layak diberi bintang 5.

Selamat membaca 🙂

Beberapa cuplikan iklan rokok dalam novel Gadis Kretek yang sempat bikin saya geli :p

DSCN3925

DSCN3926

DSCN3927

DSCN3929

Yang Sempat Kubayangkan

aku selalu membayangkan ini sejak dulu:

dingin pun turun
di luar badai salju deras menyelimuti kota dan hutan-hutan
kita menghabiskan makan malam berdua di sebuah liang di bawah tanah
dalam hangat
aku membuatkanmu sup labu dan kopi panas
engkau melingkarkan syal biru di leherku
selusin lilin menerangi setiap dinding, dan bayangan kita direkam batu-batu
dunia tinggal kita berdua memilikinya
dan kenangan milik orang-orang tak bernama
ah, barangkali kita sepasang serigala yang beruntung

 

gambar diambil dari http://www.pinterest.com/pin/458170962064466295/

gambar oleh Chuck Groenink,  diambil dari http://www.pinterest.com/pin/458170962064466295/

 

 

 

20:20 ; ritme

“Mimpi adalah mekanisme nan menakjubkan. Ia danau tak berdasar. Kita menyelam di sana, melihat dan mengerti segala sesuatu dalam dimensi berbeda, merasa gembira atau sedih karena pengetahuan itu. Lalu, ketika kita muncul di permukaan lagi, kita tidak bisa mengerti lagi apa yang telah kita lihat, tapi kita masih bisa merasakan sesuatu akibat pengertian yang telah hilang.”

Cuplikan ini ada di novel Lalita karya Ayu Utami, yang tak sengaja kutemukan ketika iseng membaca.

 

 

 

Ending

Dear Nur.
Saat surat ini kubuat, aku sedang mencari kesibukan untuk melupakan segalanya tentang dia. Peristiwa putus memang bukan hal besar karena setiap orang barangkali pernah mengalaminya. Tapi aku sadar, pacaran memang membuatku melupakan banyak hal.

Hubunganku yang kesekian kalinya ini cukup membuatku lelah. Rasanya hanya kertas dan imaji yang selalu setia menemani hari-hariku belakangan ini. Musim hujan belum habis. Pekerjaanku yang freelance alias tidak mapan, membuatku sering kali menemui sosok-sosok aneh di sekitarku. Mereka mengajakku ngobrol. Mengusik lamunanku. Hei, percayalah bahwa mereka ini benar-benar nyata. Aku juga heran sendiri kenapa bisa demikian. Aku selalu dianggap tak waras tatkala ini kuceritakan pada teman-temanku. Mereka mengiraku stres ala perempuan lajang yang tidak juga nikah.
Mereka yang kumaksud itu adalah tokoh-tokoh dalam cerpenku.

Yeah. Sudah kali kedua ‘sesosok tokoh’ mengganggu aktivitas tidur pagiku. Ia seorang perempuan. Usianya sekitar 23 tahun. Berwajah manis, tapi juga tidak bisa disebut cantik. Wajahnya oriental. Dia masih muda memang. Ceritanya dia ini buruk rupa—bagi orang Indonesia. Atau barangkali hanya salah pasar saja, sebab tipikal kulit cokelat rambut hitam, pendek, dan pesek itu bagi para bule sungguh eksotis.

Seperti halnya pagi tadi, ia berteriak-teriak tak jelas dari jendela rumahnya yang letaknya persis di depan kamarku. Tak peduli bahwa aku belum siap bangun. Tak peduli dengan tampang kelelahanku yang sering begadang malam hari ini, yang jelas perempuan ini sedang memperjuangkan sesuatu. Kau tahu untuk apa ia berteriak pagi buta sambil melempari kaca jendelaku dengan potongan genting? (untung nggak sampai pecah) Cuma minta nasibnya diselesaikan. Dasar tokoh cerpen!

“Please, aku tersiksa bila kau biarkan aku begini menggantung.” Begitu ia mengatakan. Tokoh yang waktu itu kunamai Reyna.

Saat itu, aku dan dia sempat berdebat panjang. Sebab aku memilihkan namanya dengan asal. Dan aku juga tak tahu apa artinya selain hanya kelihatan wanita. Dia minta dinamai Zazkia, tapi aku tak suka nama itu. Lalu dia ingin dinamai Sekar agar secantik bunga. Tapi aku tak menyetujuinya. Dia ngambek meskipun sebentar. Sungguh Reyna tokoh cerpen paling bawel yang pernah kukenal.
Tapi aku pun mengerti, jahat bila aku tak menyelesaikan mereka karena kesibukan kerja dan sibuk melupakan masa laluku. Yeah, aku memang penulis yang kurang menggarap mereka dengan baik. Akhirnya sore ini, usai hujan reda, sambil kulantunkan puisi musik Sapardi Djoko Damono yang amat mix dengan dingin sore hari, akhirnya kuhidupkan komputer tuaku. Mencari file yang ia maksud. Astaga. Benar.

Sudah 3 bulan Reyna dan kawan-kawannya kubiarkan menggantung.
Oke. Baiklah. Sembari kubaca ulang, kucari ide untuk menyelesaikan sepenggal cerpen ini.
Reyna, dalam cerpenku, adalah seorang gadis muda yang bekerja di toko peralatan melukis. Ia tinggal di sebuah kota dengan orang-orang yang berbeda padangan soal hidup dan waktu. Kota tua yang sibuk dan plural. Sebagai penjaga toko lukisan, ia sering kali kedatangan pelanggan yang macam-macam. Kadang mereka datang dengan pakaian amburadul, kurang tidur, dan tak jarang juga yang rapi-rapi. Mungkin yang rapi-rapi ini sedang mencari barang-barang untuk dihadiahkan kepada orang-orang terkasih.

Reyna menyukai pekerjaannya, karena disamping ia suka mengamati orang-orang, lukisan dan warna-warna, ia juga dapat melihat
“matahari” terbit di sana. Oke, istilah matahari merujuk pada perihal yang tidak sebenarnya. Nanti juga engkau akan tahu.
Hidup perempuan ini seperti diatur oleh refleksitas hidup. Bangun tepat jam 5, kemudian sarapan jam 6 pagi, menunggu bus jam 7 pagi hingga sampai kantor jam 8 pagi. Ritme rutinitas sesungguhnya membuatnya bosan. Tapi kali ini tidak. Sebab Reyna jatuh cinta dengan teman sekantornya. Namanya Bayu. Untung Bayu tidak protes dengan namanya sendiri.
Jalaran tresno amargo kulina memang benar adanya bagi Reyna, nggak ada cinta yang datang dari pandangan pertama. Bayu memang ganteng, tapi tipe wanita seperti Reyna butuh proses untuk menilai kegantengan. Ganteng hanya kesadaran lapis lanjutan ketika sudah mengenal kepribadian atau hal-hal yang immaterial. Berbeda dengah lelaki yang cenderung melihat cantik dulu baru kepribadian.

Reyna baru merasa ada getar indah ketika menyadari Bayu rajin salat, menghormati orang tua, jujur dengan hal kecil sekalipun dalam pekerjaannya, sederhana, dan tidak mata kranjang. Malah cenderung dingin dengan perempuan yang bukan temannya.
Sikap dingin itulah yang membuat Reyna terpesona. Terlebih ketika menyadari Bayu-lah satu-satunya yang baik kepadanya tanpa peduli SARA, satu-satunya pria yang tidak bertanya kenapa hidupnya begitu pesek misalnya.Ia berwajah ganteng, pintar, juga pekerja keras.

Sungguh sialan, pikir si Reyna. Tapi bagaimana kau bisa mencegah diri sendiri untuk tidak jatuh cinta setelah setiap hari berjumpa? Sekalipun, yeah, percakapan yang terjadi hanya maksimal “selamat pagi”. Apalagi Bayu tipe yang hemat bicara, termasuk terhadap perempuan berkulit cokelat dan tidak mancung ini. Reyna bahkan mengaku, sebelum aku menggiringnya untuk jatuh cinta pada Bayu, tokoh ini sudah jatuh cinta duluan.

Aku jadi bingung.
Bayu telah menjadi matahari bagi Reyna. Tapi Reyna tak tahu bahwa diam-diam aku merencanakan perjodohan mereka, haha. Sebab Reyna berharap andai ia tak jadi dengan Bayu, ia ingin dijodohkan dengan tokoh yang mirip Andrew Garfield. Huft, maunya. “Atau bikin saja aku jadi kupu-kupu dan melupakan perasaanku,” begitu katanya. Tapi kalau sudah begitu naskahku ini nggak akan jadi cerpen, tapi novel.
Namun yang jelas, Reyna sedang jatuh cinta dan ngarep sejuta umat dengan ending ceritanya sendiri. Baiklah…

Dear Nur.
Tiga hari setelah itu, aku kembali menggarap cerpen itu lagi. Reyna sudah bertopang dagu di belakang meja kasirnya. Di kejauhan sana Bayu sibuk dengan orderan dan telepon yang setiap menit berbunyi.
Tapi… Reyna di dalam cerita ini adalah orang yang cukup tahu diri. Maka ia tak perlu melakukan usaha apa pun untuk sekedar dekat, atau ngajak ngopi, atau ngajak nonton, atau ngajak jadian. Bisa-bisa menyesal tujuh turunan karena ditolak.
Cukup ia menyukai si pria dari jauh. Maka si pria ini menjelma semacam wewangian yang selalu membuatnya memiliki semangat hidup dan kesehatan jiwa raga yang baik dalam keseharian. Mirip aromaterapi. Tak perlu ia meminum. Cukup membaui aromanya dari kejauhan.
Sungguh pria ini memiliki feromon yang kuat yang selalu membuatnya rindu. Tentunya diam-diam.
Singkat kata, Reyna tetap menjalani hari-harinya seperti biasa. Ia membaca novel di kala senggang, meminum kopi instan dengan merek yang sama setiap jam 3 sore, menyetel musik-musik aliran Melayu di playlist-nya (atau bisa saja jenis pop, atau lebih baik musik bertema nasionalisme, entahlah), lalu pulang pada jam 8 sore.  Dan terjadilah apa yang dinamakan suspens cerita.

Aku mengubah cerita, yang semula perempuan ini berakhir tertabrak kereta dalam keadaan sendiri dan nelangsa, kuubah jadi ending bahagia… Reyna sudah menangis duluan sebelum ending tragis itu kucoretkan di draft. Aku tak tega. Tentu saja, aku hanya bercanda soal tertabrak kereta itu.
Rupanya Bayu ini sakit mata. Sebab sejak ia bekerja di toko itu, pria ini juga diam-diam mengagumi Reyna. Ia bahkan membaca apa yang dia baca, meminum kopi yang sama di rumahnya, menghafal rutinitasnya juga, seperti bus apa saja yang Reyna pakai setiap hari. Lebih sinting lagi, dia mengumpulkan foto-foto hasil jepretannya diam-diam, isinya tak lain tak bukan adalah sosok si Reyna. Bedanya, Bayu tak seceroboh Reyna. Nah, nanti kau juga akan tahu seceroboh apa Reyna itu.

Sungguh Bayu jadi mirip pengagum yang agak psikopat. Tapi dia pria normal dengan latar belakang keluarga yang bahagia. Hanya
mengalami delusi akibat mencintai diam-diam. Begitulah orang yang diam-diam mencintai namun tak memiliki cara untuk memulai mengatakan, terlebih mendekati.
Beberapa kali mata mereka berpapasan. Cara Reyna menatapnya saat berpapasan itu pun tertebak juga. Bayu meresa perasaannya tidak bertepuk sebelah tangan. Bahwa pada suatu sore kupertemukan mereka pada sebuah moment konyol, di mana Reyna menyimpan foto Bayu di komputer kantor, dan lupa menghapusnya ketika Bayu memperbaiki internetnya yang error. Haha, sengaja kubikin komputer Reyna error dan tak ada seorang pun di ruangan itu kecuali Bayu.

Reyna terkejut dan salah tingkah begitu menyadari bahwa ia menyimpan foto-foto lelaki ini di sebuah folder file kantor. Apalagi
dalam folder yang sama, ia juga menyimpan artikel yang ia buru dari internet “Menjadi Istri Solehah.”, “Cara Mendekati Pria Pendiam”, dan masih banyak lagi.
Itu membuat Bayu ngakak. Mereka pun ngobrol. Tapi tidak tentang mengapa fotonya ada di folder itu. Meskipun pada hari itu,
peningkatan hubungan mereka telah memasuki level lanjutan, di mana Reyna menanyakan Bayu asli dari kota mana, dan Bayu menanyakan kapan terakhir komputer diinstal.

Di akhir cerita, di suatu hari menjelang musim kemarau tiba, Bayu meletakkan sebuah cincin di laci meja si perempuan, dengan
taruhan harga dirinya sendiri, bersama sepucuk surat berisi hal yang membuat Reyna melompat. Ia mengajaknya menikah. Dan si perempuan pun pingsan atau mungkin sakit jantung, atau sederhana saja: bahagia tapi hanya bisa menangis sesenggukan—entah mana fokus yang harus dinarasikan… Aaarrggh…
Sebenarnya sampai di sini aku masih bingung bagaimana mengatur ending-nya. Rasanya malah seperti cerita biasa saja tapi berlebihan. Tapi kalau happy ending sebiasa film drama, kalau sad ending kasihan pembaca.

Nur, aku masih memilin-milin rambutku sambil mengamati kebun di luar jendela kamarku, memikirkan ending dari cerpenku.
Yeah, kini aku melihat Reyna dan Bayu adalah sepasang kekasih yang takkan terpisahkan oleh proses editing apa pun. Mereka saling menggegam tangan dan berpesan padaku, “Kelak bila editor mau mengedit konten cerita kami, jangan ditambahi orang ketiga ya. Aku sungguh nggak tahan dengan kondisi cemburu.” Bayu berujar. Reyna sepakat dengan itu.

Kini selesai kurampungkan mereka, kumatikan komputer, dan kurebahkan tubuhku memandang langit-langit kamar. Reyna dan Bayu adalah salah satu dari sekian banyak tokoh yang berhasil kuselesaikan dengan ending bahagia.
Tapi Nur, kapankah akhir bahagiaku sendiri datang?

Hidup itu sendiri, ilusikah?
Ah, Nur, kau pun hanya teman imajiku…

*Cerpen ini ditulis tahun 2013 awal dan telah direvisi. Cerpen ini juga yang sempat membawa saya lolos sebagai peserta sebuah event kampus penulisan di salah satu penerbit di Yogyakarta untuk tahun depan. Tapi sepertinya saya nggak janji bisa datang 🙂

Si Pendiam yang Unik dalam Film Le Fabuleux Destin d’Amélie Poulain


Film Le Fabuleux Destin d’Amélie Poulain disutradarai oleh Jean-Pierre Jeunet dan ditulis Guillaume Laurant. Film ini dirilis tahun 2001. Kalau diindonesiakan kira-kira judulnya “Takdir Menakjubkan Amélie Poulain”. Film tersebut dikopikan oleh salah satu teman kursus dan tersimpan (terabaikan) dua bulanan di FD sampai akhirnya Penamerah memunculkan ide tugas yang sungguh spektakuler bagiku: review film. Akhirnya film itu pun jadi korban pengamatanku. 😀

Film berdurasi 123 menit ini seperti membawaku menyelami dunia personal para tokoh dari kecil hingga dewasa, terutama tokoh utamanya: Amélie Poulain. Di samping dialog, film tersebut dilengkapi dengan narasi yang bercerita dengan akrab dan terbuka. Babak pertama menampilkan bagaimana tokoh Amélie dibesarkan dalam keluarga yang aneh. Ibunya seorang kepala sekolah yang keras dan mudah gugup. Ayahnya jarang bicara dan sering kali bersikap dingin. Keduanya memiliki karakter yang kaku.

Amélie kecil tak mau bersekolah karena si ayah tak pernah memeluknya seperti ayah-ayah lainnya. Akhirnya ia belajar dengan ibunya sendiri di rumah. Karena didikan yang kaku tersebut ia tumbuh jadi gadis pendiam yang tak bergaul dengan dunia luar. Ayahnya yang seorang dokter bahkan mengira ia terkena penyakit jantung.

Sebagai gadis kecil yang pendiam, ia hanya berteman akrab dengan Blubber, seekor ikan koi di akuarium kecil berbentuk bulat yang diletakkan di dapur. Namun si ikan pun tertekan dengan kondisinya sehingga mencoba bunuh diri. Hal itu membuat Amélie histeris sampai membuat seisi rumah pun ikut panik. Akhirnya Blubber dilepas oleh sang ibu ke sungai. Sebagai gantinya, Amélie dibelikan sebuah kamera.

Ketika ia sedang memotret langit, pada saat bersamaan terjadi tabrakan di perempatan jalan di depannya. Tak lama kemudian seorang tetangga menuduhnya sebagai penyebab dari kecelakaan. Amélie kecil berhari-hari menderita karena perasaan bersalahnya. Namun tatkala ia menonton televisi dan menemukan penyebab kecelakaan bukanlah cahaya dari kamera, ia memendam kemarahan. Diam-diam ia naik ke atap rumah si tetangga tadi dan mencopot kabel televisi tepat ketika si tetangga sedang asyik menyimak siaran sepakbola. Sebagai pendiam yang terisolir, Amélie kecil pun tumbuh dan terbiasa hidup dengan imaji-imajinya.

Sejak kematian ibunya yang instan (kejatuhan seorang turis wanita yang hendak bunuh diri dari atap gereja) Amélie kecil semakin pendiam. Bersama ayahnya yang terobsesi mengoleksi benda-benda kuil untuk makam ibunya, ia memutuskan untuk terus berada di rumah. Namun tatkala dewasa, ia memutuskan keluar rumah dan bekerja sebagai waitress di salah satu kafe di Monmerthe.

Amélie dewasa pun tetap identik dengan berkhayal dan mengamati hal kecil. Setiap ia pergi ke bisokop, ia suka mengamati wajah orang-orang di kegelapan ketika menonton. Layaknya seorang introvert, ia selalu melihat detail-detail yang orang lain tak melihat, seperti gambar serangga yang merayap di tengah adegan romantis atau tokoh yang tidak melihat ke jalan ketika mengendarai mobil. Selain ia juga suka memasukkan diam-diam tangannya di biji-bijian di dalam sak, melempari kanal air dengan batu-batu yang ia kumpulkan di dalam saku jasnya, dan juga memiiki pertanyaan-pertanyaan yang hanya dia yang tahu. Seluruh detail kecil itu membawa penonton ikut menyelami kepribadian si tokoh secara utuh.

dari @googleimage

dari @googleimage

Di samping itu, narator dalam film tersebut masih terus men-shot tokoh-tokoh utamanya hingga pada hal yang tersembunyi. Seperti keinginannya memiliki kekasih yang belum pernah kesampaian. Karakter setiap tokoh dalam film tersebut tampak berdiri sendiri-sendiri.

Pada suatu hari, sebuah berita yang menyangkan kematian Lady Di secara tragis membuatnya terkejut hingga tutup parfum yang dipegangnya jatuh sehingga mengenai ubin yang merupakan lubang suatu ruangan. Lubang itulah yang membuatnya menemukan benda berisi kotak mainan dan foto milik seorang anak yang 40 tahun yang lalu pernah menempati flatnya.
Ia bermimpi ingin menemukan pemilik kotak mainan itu, dan mulai mencari informasi pada penghuni flat lainnya. Hal itu malah membawanya pada orang-orang di sekitarnya yang akhirnya menjadi teman akrabnya.

Hingga pada akhirnya ia bertemu Raymond Dufayel, seorang pelukis tua yang tinggal di flat di bawahnya. Yang membantu Amélie menemukan Dominique Bredoteau, pemilik kotak kenangan itu. Amélie pun menggunakan imajinasinya yang agak konyol untuk membuat Bredoteau menemukan kotaknya. Dan kala itu, melihat Brodoteau menangis bahagia menemukan kotak yang telah hilang selama 40 tahun, Amélie merasakan gelombang kebahagiaan yang menakjubkan dan tak pernah dirasakan sebelumnya. Yeah, seperti halnya perasaan bahagia bila menjadi bermakna bagi orang lain.

Sejak itulah ia memutuskan mengubah hidupnya dengan membantu orang-orang demi membuat mereka tersenyum dan bahagia. Ia selalu mengambil setiap kesempatan untuk menolong orang-orang. Seperti membantu seorang buta berjalan sambil menjelaskan tempat-tempat yang ia lewati, mencomblangi salah satu teman kerjanya, hingga berhasil mencari cara paling usil dan kreatif membuat si pemilik toko yang suka membentak pegawainya itu, menjadi kapok melakukan hal yang sama. Dan uniknya, semua itu dilakukannya secara gerilya.

Film ini memiliki keterhubungan yang digarap dengan apik. Ada beberapa adegan di mana penonton dapat melihat korelasi tersirat antara lukisan Raymond Dufayel tentang perempuan dengan gelas yang mirip dengan kehidupan Amélie. Bila diamati, ada sisi simbolis yang coba dipaparkan oleh sang sutradari melalui album milik Nino Quincampoix (diperankan oleh Mathieu Kassovitz) yang berisi kumpulan sobekan foto orang-orang dari sampah foto box. Foto yang dikumpulkan dalam satu album tersebut merupakan karya unik yang membuat Amélie kagum. Album tersebut menyimbolkan bahwa eksistensi manusia serupa foto retak yang perlu disatukan.

dari @googleimage

dari @googleimage

Film ini ditampilkan dengan romantis dan kadang hiporbolis. Bercerita tentang orang-orang yang menemukan eksistensinya sendiri-sendiri. Namun Amélie yang diperankan Audrey Tautou patut mendapat pujian. Sang artis juga bermain dengan sempurna di film tersebut. Ia mampu menampilkan sebuah dunia seorang perempuan kompleks dan introvert yang mencari jati dirinya.
Hingga akhirnya membawa Amélie pada perasaan jatuh cinta pada si korektor retakan foto, namun ia sangat pemalu dan sering kali menyangkal identitasnya. Terjadilah drama kucing-kucingan yang sebenarnya dampak dari karakter Amélie yang amat pemalu dan lebih suka bermimpi daripada menjalaninya dengan terang. Meskipun pada akhirnya ia sadar bahwa hidupnya pun butuh ditolong.

Akhir dari film tersebut membuat penonton tetap tersenyum sebab masih memadukan antara romantisme dan kekonyolan. Rupanya anak kecil yang dulunya terisolir dan wanita dewasa yang introvert, juga bisa berbahagia.
Film itu sekalipun konyol, tapi selesai dengan cantik. Tema film ini seperti halnya kehidupan sehari-hari serta memiliki alur yang sering kali bertabrakan dan berloncatan. Bahkan beberapa kali ditampilkankan dengan tempo yang kadang lambat kadang cepat. Film ini recommended bagi yang menyukai jenis film festival.

*Nah kenapa aku akhirnya suka film itu? Karena karakter masa kecil Amélie agak mirip denganku :p
Masa kecil yang pendiam. (haha, malah jadi curhat)

dari @googleimage

dari @googleimage

Untuk memenuhi tugas mingguan Komunitas Penamerah

Tentang Pertemuan dan Perpisahan

“Aku tidak pernah keberatan menunggu siapa pun berapa lama pun selama aku mencintainya. Menunggu adalah bagian dari pertemuan itu sendiri. Kalau kita ketemu hanya lima menit dan menunggu selama 95 menit maka itu berarti pertemuan berlangsung 100 menit. Perpisahan pun sering tidak berarti apa-apa—seperti tidak pernah ada perpisahan bagi orang yang saling mencintai. Mereka saling memaki ketika bertemu tetapi tetap saling mengenang ketika berpisah. Perpisahan yang sebenarnya akan terjadi ketika tidak pernah ingat lagi kepada seseorang meskipun kita hidup bersamanya. Juga jika seseorang sudah mati, selama kita masih mengingat dan mengenangnya berarti tiada perpisahan sama sekali.”

–Seno Gumira Ajidarma–Cerpen Linguae