Belajar dari Menidurkan Bayi

Seperti halnya Satya, Tama jenis bayi yang memiliki telinga yang super sensitif sejak lahir. Dengar suara sedikit aja, tidur nyenyaknya terganggu. Dengar langkah kaki, matanya yang sudah mulai merem jadi melek kembali. Untuk tidur lebih lama, mereka harus berjuang. Tepatnya ibunya yang mesti memperjuangkan. Tak jarang saya dengan senang hati mematikan atau men-silent HP di rumah, terlebih di jam-jam tidur anak. Pasalnya, bayi usia nol hari hingga beberapa bulan ke depan harus tidur lebih banyak. Tidak hanya untuk menambah berat badan, tapi yang utama adalah perkembangan otak.

Menurut beberapa artikel kesehatan yang saya telusuri, tidur adalah kebutuhan yang sangat penting untuk bayi dan anak-anak karena dalam tidur itulah, terjadi proses bertumbuh. Bayi semakin bertambah usia semakin sedikit durasi tidurnya. Kalau newborn, diharapkan mesti tidur 15-19 jam per hari untuk mengoptimalkan tumbuh kembangnya. Orang tua mesti menerapkan pola tidur yang baik untuk anak-anaknya sesuai dengan usianya.

Sementara itu tiap orang punya kegiatan masing-masing. Tinggal di kampung dengan jarak rumah berdekatan kan rasanya seperti tinggal satu atap juga. Ada kerja, teleponan, masak, betulin pintu, menemani balita main, nonton TV, dengerin musik, dan banyak lagi. Belum lagi mereka yang gemas dan kangen lihat bayi kebangun tentulah tidak mungkin menidurkannya kembali, melainkan mengajak main supaya tetep terjaga. Di samping itu ada kakak kecil yang masih suka bikin suara keras dan suka bangunin adiknya yang mulai tidur ini karena belum tahu konsep orang tidur nyenyak jangan dibangunin tanpa alasan jelas. Tama jadi lebih banyak melek di siang hari di usianya yang masih 2 bulan ini. Begitu juga Satya yang terkadang ikutan nggak jadi tidur kalau sudah lihat adiknya masih melek.

Sebagai ibu yang gampang cemas, sering deh batin ini menjerit? Mau ditidurkan di mana ini anak-anak? Ada sih areal lebih sepi, di kamar Mbah Uyut. Tapi Uyut suka nonton TV dan lihat acara dangdut. Dekat jendela kamarnya juga ada burung kenari Akung (ayah saya) yang sepanjang hari berkicau dan suara merdunya bahkan kedengaran sampai kampung sebelah. Belum lagi suara yang asalnya dari bagunan yang baru dibangun dekat rumah yang sering terdengar riuh mesin berat. Sepertinya kurang adil dong kalau semua orang disuruh anteng demi satu orang bayi saja di jam tidur mereka.

Satu-satunya solusi sepertinya adalah mengkondisikan mereka untuk beradaptasi terhadap lingkungan. Yaitu, bagaimana caranya supaya mereka tetap bisa berdamai dengan kebisingan-kebisingan kecil itu dan tetap bisa tidur sesuai jatahnya. Itung-itung sambi mengajari mereka tentang beradaptasi terhadap keberagaman masyarakat. Metode ini pernah berhasil saya terapkan pada Satya, si kakak waktu masih bayi. Satya sering kali tetap bisa tidur di tengah kebisingan ketika menginjak usia 1 tahunan. Tapi melatih para bayi yang masih rawan itu sungguh memeras hati, apalagi kala itu saya juga baby blues.

Jadi begini anak-anakku, kita ini di samping makhluk individu juga makhluk sosial. Kita hidup bersama dengan banyak orang dengan karakter dan kepentingan yang berbeda-beda. Memang sebagai individu kita memiliki pemikiran, pendapat, dan pengalaman yang berbeda dari mereka dan patut diakui. Tetapi kita tidak bisa memaksakan pemikiran kita pada mereka, tidak bisa menuntut mereka sesuai dengan harapan kita. Pada dasarnya, tidak semua keinginan kita menjadi kenyataan lho, Nak. Mungkin orang tuamu bisa selalu memahamimu ya dan juga selalu menerimamu apa adanya, tapi kalau kami sedang tidak berada di sampingmu, bagimana? Nggak selamanya orangtuamu berada di sekitarmu kan? Yang bisa kita lakukan adalah beradaptasi. Menyesuaikan diri. Bersabar. Melonggarkan hati dan pikiran sekaligus untuk menerima perbedaan tanpa ikut terbawa arus.

Dari moment-moment menidurkan bayi yang sering kali dramatis ini pun saya belajar. Kelak saya tahu, saya juga belajar bagaimana membesarkan anak dengan cara terbaik namun tetap menghindari diri dari menjadi durhaka terhadap orang tua atau generasi lama sekitar kita yang tentu berbeda cara mengasuh dengan kita. Melonggar itu tadi sungguh tidak mudah. Entah bagamana caranya, saya tetap mesti mencari tahu karena anak-anak bayi segera akan tumbuh besar.