Surat Keempatbelas: Harapan

Untuk Isha.

Menyambung suratku yang kemarin.

Barangkali sejak ada istilah kakak juga merupakan orang tua kedua bagi adik-adiknya, sejak itu aku menyadari sedikit banyak rasanya menjadi orang tua. Sejak itu ada sifat pengatur dan posesif ketika dihadapkan oleh kebandelan adik-adik atau ketika mereka tengah akan membuat keputusan hidup. Tapi rupanya benar, sebagai orang tua cadangan itulah, seorang kakak tak bisa memiliki hidup yang santai.

Terlebih ketika menghadapi adik bungsuku laki-laki yang sedang dalam kondisi tidak baik-baik saja saat ini. Adik kecil yang bahkan masih kuhafal cara berlari dan tertawanya ketika masih balita. Kini ia sudah dewasa dan mahasiswa, badannya lebih besar dan tinggi dibanding aku. Tapi saat ini, aku hanya bisa berdoa dan memohon pertolongan pada Allah untuk segera memulihkannya. Mengembalikannya seperti dulu… Aku rindu ceria dan aksennya yang kadangkala cuek. Aku rindu mengkopi film-film animasi Jepang miliknya dan membicarakan cerita lucu di dalamnya di kala senggang sambi tertawa. Aku rindu omelannya ketika aku goda atau kusembunyikan barang miliknya. Aku juga masih ingat dia selalu usil membawakanku cicak mati di tangannya sampai aku jadi jejeritan nggak jelas. Kini rasanya jarak aku dengannya seperti begitu tak terjangkau dan entah sampai kapan. Aku hanya bisa menangis diam-diam dalam kamar ketika sendirian karena tak mungkin aku seperti itu di depan kedua bapak ibu yang belakangan juga sedih dan bingung. Memang terkadang seorang kakak sulung adalah pembohong yang ulung. Ia bahkan bisa pura-pura tegar di hadapan semua orang. Padahal hancur.
Rasanya sekarang aku mesti mempercayai harapan.
(Oh Tuhan… semoga janin dalam perutku tak protes karena emaknya tengah kacau belakangan ini.)

Sekian suratku ini, Is.
Semoga saja surat berikutnya adalah tentang kabar yang bahagia.

Iklan

Stasiun dan Mimpi

04:00

Di jam-jam inilah, saat paling sepi yang dapat kunikmati sendiri. Hanya alam yang terasa alam yang terbangun menemani, juga mimpi yang akan lebih lama menguap bersama uap kopi.

Dan di pagi inilah, aku terdiam mengingat mimpiku tentang stasiun dan hiruk pikuknya.

Omong-omong, apa yang ada di benakmu ketika mendengar tentang “stasiun”? Pemberhentian? Kereta api? Tempat nongkrong sore-sore? Salah satu judul novelnya Putu Wijaya yang penuh absurdisme? Atau tentang seseorang yang kau antar pergi sambil terus kau pandangi punggungnya hingga menghilang, atau suasana ketika engkau menjemputnya pagi-pagi dengan hati yang biru jauh di masa yang dahulu? Tak jelas apakah semalam hal indah atau menyedihkan yang kuimpikan. Aku seperti terlempar dalam visualisasi stasiun dan perjalanan dari tempat asing ke tempat asing yang tak usai, dan mungkin juga hal-hal yang sempat terlintas di pikiranku yang belakangan sering nge-blank. Namun ada ruang damai di sana yang disebut ingatan. Di mana aku tak ingin bayangan itu hilang.

6230025585_74deba228d_b

gambar diambil dari http://street.kilcher04.net/

rehat

Sebenarnya aku enggan kembali ke tempat itu. Aroma obat, orang-orang berwajah pucat yang menunggu giliran periksa, lalu-lalang perawat mendorong brancard ke mobil ambulans, kenangan tentang almarhum kakek, jarum suntik, juga masa-masa kecil yang pernah opname dua kali karena DB. Tapi sepertinya 2 hari “sempoyongan” sejak hari Minggu sudah cukup alasan tepat ayahku untuk membawaku kesana lagi.

Banyak yang sudah bilang aku keforsir. Tapi aku sungguh menikmati segala kesibukan ini sampai rasanya tidak cukup sehari hanya punya 8 jam untuk bekerja.

Namun sejak dokter menjelaskan ada semacam infeksi di alat pencernaan yang membuatku sering bolak-balik toilet, muntah, dan demam, di mana sebelumnya aku tak pernah mengalaminya, aku jadi sadar, mungkin ada yang salah dengan hidupku. Rasanya memang aku jadi sering sakit tahun ini, yang kukira mungkin karena nggak pernah olahraga, atau faktor usia. Atau entah…
Sekarang aku terpaksa hanya bisa banyak tidur dan ngerepotin orang-orang di sekitarku, sesekali baca buku, sesekali mengerjakan kewajiban beres-beres, dan barangkali waktunya merenungi lagi perkataan orang tuaku bertahun yang lalu.
“Setiap orang bakal hidup sendiri suatu saat nanti, itulah mengapa kamu mesti kuat. Jangan lemah. Jangan tergantung.”

Iya, aku harus kuat 🙂

Tapi, aku rindu pekerjaanku… yang juga sering kali menguatkanku.
Ya sudahlah, waktunya tiduran lagi sambil dengerin musik-musik nggak jelas ini :p

Sahabat Pena

Dapat dikatakan ini sekadar iseng berkhayal

Kadangkala aku ingin punya sahabat pena. Seorang teman yang barangkali jauh dari tempat ini dan sama-sama hanya bisa menulis untuk dapat nyaman berbicara. Barangkali ia juga benci arisan, malas pula berada di antara orang-orang yang berebut disimak untuk pamer, ia juga nggan punya jejaring sosial yang bising dan memusingkan. Mungkin ia juga membutuhkan seorang teman yang belum pernah ditemui tapi ia tahu bakal berkirim surat setiap akhir pekan, bercerita banyak hal tanpa khawatir terekspose media karena untuk apa, menyebarkan cerita orang yang bahkan belum dikenal kecuali lewat tulisan tangan?

Menulis surat pada sahabat pena tak perlu saling melihat ekspresi dan foto selfie, tak perlu khawatir bahwa kami berbeda, tak perlu menyamakan status sosial atau nasib, tak eprlu memandang apakah kami menikah atau tidak, kaya atau tidak, tak perlu risau soal prasangka sebab kami dapat terbuka dengan leluasa, kami boleh jujur atau tidak tergantung kita sendiri, asal tetap terhubung dan saling merespons.dan lama-kelamaan mungkin saja saling menginspirasi. Yah barangkali akan mustahil, mengingat, alih-alih sahabat pena, sepanjang hidup punya teman saja sudah merupakan kemewahan bukan?

Lanjut… Kemudian, kami akan bercerita apa pun yang ingin kami ceritakan, menanyakan pendapat, menjabarkan pemikiran, menguraikan perasaan, ataupun memberikan argumen sebebas mungkin tanpa takut membuat tersinggung sebab segalanya begitu jelas lewat surat, seperti Kartini, atau seperti Minke dalam Bumi Manusia. Barangkali kami hanya sekadar berkirim surat, tanpa harus bertemu dan belanja bareng dan lalu merasa berdosa karena demi punya teman dan tahu kabar, kami seolah harus pakai smartphone dan memiliki beberapa akun sosial. Sedangkan tak semua orang suka smartphone, dan tak setiap orang kuat membelinyaSebab kurasa sekadar surat cukup. Entah dia berasal dari pelosok pulau yang mepet perbatasan, entah dari pedalama lereng gunung, entah dari bawah air terjun, atau di daerah konflik, atau dari kota besar yang membosankan, tak masalah bagiku. Tak perlu ada syarat ribet demi saling memahami dengan cara masing-masing. Kami bisa menulis di atas kertas, atau di atas daun kering atau tisu, boleh tulisan tangan, atau mesin ketik. Kurasa akan lebih menyenangkan ketika kami terhubung melalui surat-surat yang rutin diantar pak pos akhir bulan atau akhir pekan. Surat lebih universal dan membumi daripada jejaring sosial atau sejenisnya.

Barangkali akan menyenangkan bisa bersahabat dengan surat menyurat, membagi sebagian cerita hidup, yang mungkin berlangsung selamanya. Sampai barangkali kami tua dan isi tulisan kami pendek-pendek karena sudah tak senergik dulu, dan mungkin sampai salah satu dari kami lebih dahulu tak membalas surat. Sebab terlalu sulit bagiku menjadi bagian dari keramaian ini, mematuhi segala kepentingan, aturan-aturan tak terlihat yang aku kurang paham, atau mengkhawatirkan banyak hal yang mestinya tak perlu dikhawatirkan. Berat rasanya terjebak dalam kerumitan kita sendiri yang tak bisa menjadi diri sendiri di tengah hingar bingar. Sementara kita ingin menjadi diri kita sepenuhnya. Andai semua itu mudah.

Sahabat pena mungkin adalah sahabat yang ideal di satu sisi sebab dapat saling menerima tanpa pretensi, tidak di sisi lain karena tentu ia tak menjadi bagian dari kehidupan keseharian kita. Mungkin saja suatu saat kami bertemu pada sebuah kesempatan, mengumpulkan surat-surat-surat kami untuk dibuatkan museum khusus bertema sahabat pena. Saat itu pastilah kami terbahak karena menyadari begitu banyak yang berbeda dari kami, dan begitu jauh sosok kami semua dari bayangan masing-masing sebelum ini. Dan begitu akrab dan dekat sebetulnya kami sebelum kikuk berkenalan lagi di dunia nyata. Atau barangkali takkan pernah bertemu.

Sungguh kurasa, akan sangat mengasyikan bila punya banyak sahabat pena….

Tapi apakah demi berangan tentang ini, aku juga mesti memandang zaman?

DSCN3501

target

Sejak bangun tidur sejam yang lalu, aku langsung menyetel musik, membuka jendela, cuci muka, bikin kopi, kemudian mengambil 4 koran langgananku di depan untuk kubawa ke kamar lagi, lalu membaca, seperti yang biasanya.

Udara hangat menyeruak kamar, cericit burung telah ramai, dan sengaja memang kunikmati pagi di hari libur ala masa dulu. Sempat kubayangkan kebun yang penuh tetumbuhan itu dikunjungi ratusan peri semalaman. Barangkali mereka menyanyi dan menari sampai sebagian sayapnya berjatuhan di tanah. Barangkali mereka telah selesai memunguti mimpi-mimpi yang dipinjamkan untuk para manusia kemudian tidur di atas bunga-bunga. Kau percaya pada peri? 🙂

Rasanya sudah lama tak bercengkerama dengan rasa sunyi, melamunkan banyak hal, membaca banyak hal tanpa dibebani segala rutinitas monoton. Begitu saja kuingat banyak target yang tanpa dimulai dari sekarang, takkan jadi sampai kapan pun.

Untuk itulah, kini waktunya memulai semuanya. Abaikan hal-hal yang bikin gelisah dan terhambat. 🙂

Tahun Depan?

Setiap hari Senin aku selalu tak mau peduli perihal pekerjaan dan kehidupan sejak bangun tidur. Karena biasanya bakal menyebalkan dan melelahkan. Tapi setidaknya pagi ini aku sempat ngobrol dengan temen dekat yang sedang berada jauh di negeri orang, melalui YM. Seperti biasa, kami bercerita ngalor-ngidul tentang hal-hal kecil di sekitar. Kemudian ia pun bercerita tentang pria yang dekat dengannya. Memang, di antara kami berdua, dialah yang paling antusias segera menikah dan punya keluarga dan juga selalu khawatir soal usia. Padahal aku yang lebih tua beberapa bulan dengannya nggak lagi terlalu khawatir soal itu. Namun aku paham sekali posisinya. Sayang lagi-lagi nasib baik seolah belum menghampirinya. Selain perasaannya belum sreg betul, si pria juga penganut sekte “tahun depan”. Pria  yang ia maksud baru (kemungkinan) siap menikah tahun depan. Soalnya dia mau nyelesein S2 dulu, katanya. Masalahnya, temanku yang satu ini tipenya bukan pria yang sudah matang.

Ya kalau lulus di tahun itu. Kalau tidak? Kalau malah keburu kepincut sama yang lain? Kalau ternyata dia berubah pikiran di tahun depan itu? Atau malah nggak lulus karena kampusnya kebakaran? Masih ikhlas nunggu? Kemungkinan begitu banyak berkelebat. Setahun itu lamanya berlipat bagi yang nunggu. Udah deh milih yang udah siap aja… Dan aku selalu mencoba mengajak berpikir dengan banyak sisi pada teman-teman atau saudara perempuan di sekitarku bila menyikapi hal itu. (memang lebih mudah ngasih nasihat pada orang lain daripada diri sendiri, haha). Sebab para perempuan agak lemah ketika membedakan makna di balik ucapan lawan jenisnya.

Yang dia maksud tahun depan ini betulan janji atau masih wacana?

Begini bila aku memberi sedikit gambaran untuk mereka yang pro pernikahan: Laki-laki secara biologis bisa nikah usia berapa pun. Perempuan nggak. Bahkan perempuan punya masa menopause lebih cepat dari laki-laki. Itu fakta. Pasti nggak mau kan punya anak dalam keadaan sudah tua? Anak masih SD tapi sudah pensiun itu susah lho ngejalaninya. Belum lagi risiko-risiko kesehatan yang bakal ditanggung perempuan. Kalau kamu nunggu dia yang belum pasti, bagaimana bila Tuhan malah memberi kebijakan lain (yang kita nggak tahu) terhadapmu atau terhadapnya? Sudah siap?

Tapi jauh dari semua itu, aku memang agak risih dengan istilah “tahun depan”. Rasanya sama abu-abunya dengan istilah “besok” dan “nanti”—yang disebut tanpa keterangan lebih detail seperti tanggal berapa dan jam berapa. Sahabatku itu pun sepakat denganku, sekalipun masih sambil mikir. Aku sering ketemu kata ‘tahun depan’ yang bahkan sudah menjadi tahun belakang yang tidak terjadi apa-apa.

Membahas ini, aku jadi ingat jawaban konyol salah satu teman kampusku dulu. Ceritanya dia udah lama berkomitmen dengan pacarnya, sudah lebih dari 6 tahunan. Orang-orang di sekitar mereka juga usil (baca: tega) menanyakan kapan mereka nikah. Temanku ini dengan enteng selalu menjawab “tahun depan”.
“Yang benar?” Mereka tentu heboh mendengar jawaban itu.
“Iya. Masa mau tahun belakang,” lanjutnya santai.

Dan untungnya mereka pun akhirnya menikah juga dan sekarang sudah punya anak. Tapi betapa memperjuangkan ‘tahun depan’ itu kelihatannya bukan hal yang mudah. Kebetulan ia teman wira-wiriku di akhir-akhir tahun kuliah. Orang lain barangkali nggak tahu ia bahkan harus ekstra sabar mengalahkan perasaannya yang sudah capek berharap demi kepastian hubungan. Selama 6 tahun, ia selalu mengalami pasang surut hubungan. Nggak jadi, jadi, nggak jadi, jadi. Putus, nyambung, putus nyambung, dan seterusnya. Kalau aku paling lebih milih pindah kewarganegaraan daripada ngurusi pacaran nggak jelas semacam itu. Yeah walaupun akhirnya mereka menikah juga, tapi ingat, di luar sana banyak yang mengalami hal serupa tapi nggak jadi lho. Alias gagal. Pernikahan lebih pada urusan masing-masing dan bersifat privat. Bagiku lebih bersifat “iman.”

Oke, aku akui, manusia memang hanya bisa merencanakan dan menyusun angan-angan. Tapi semua itu ditentukan nanti. Karena bagaimana pun yang pasti adalah yang sedang dijalani. Dalam hal ini, aku setuju dengan ideologinya orang-orang atheis. Mereka nggak peduli masa depan dan lebih yakin dengan masa sekarang. Seperti halnya kadang aku juga setuju dengan pemikiran kelompok warga RI pendukung nuklir—yang lebih percaya prospek untuk pembangunan daripada dampak buruk ke lingkungan yang sedang tidak terjadi sekarang. Meski tidak benar-benar mendukung.

Kembali pada penganut paham “tahun depan”. Selalu dari masa lalu aku belajar tentang kini. Aku juga sering belajar dari hal-hal di sekitar. Seperti halnya, mimpi-mimpi masyarakat Aceh tahun 2003, akhirnya tersapu Tsunami di tahun 2004-nya. Bagi orang-orang Jogja pada tahun 2006, rencana-rencana tahun 2005-nya juga ambruk oleh gempa. Mimpi tahun depan masyakarat lereng Merapi di 2009 juga tersapu awan panas di tahun 2010. Bukankah bila demikian tahun depan lebih merujuk pada sesuatu yang tidak pasti.

Begitulah. Istilah “tahun depan” sering kali terdengar begitu absurd di telingaku….
Sekalipun demikian, kita memang harus mengambil hal baik dari proses “merencanakan”. Sebab itu memang bagian dari hidup.

*memenuhi tugas Komunitas Penamerah edisi denda

SIM dan Pelajaran Hidup

Kaget dan merasa melakukan kesalahan besar, ketika sadar satu-satunya kartu paling penting bagi hidupku raib dari dompet. Surat Izin Mengemudi-ku. Sedih karena SIM itulah yang nyaris tidak pernah digunakan dibanding kartu-kartu yang lain. Karena ia tak pernah berfungsi itulah, maka ia disimpan di tempat aman, kemudian tidak lagi diambil (tidak juga ditengok). Sudah hampir 3 tahun ini (alhamdulillah) aku bahkan tak pernah ditilang atau berhubungan dengan polisi. Itu tandanya benda itu tidak pernah keluar ‘rumah’. Juga jarang sekali berada jauh dari sana. Sejak beli dompet baru setahun yang lalu pun, SIM sudah mendapat tempat paling aman dari kesibukan tangan.

Tapi hari ini, aku merasa kecolongan. Entah di mana tepatnya benda itu kini berada, sejak kapan, dan dengan cara bagaimaan ia hilang. Heran dan nyelek bahwa kenyataannya, aku baru sadar sore ini SIM-ku tak berada di sana. Ah, rasanya jadi malas ke mana-mana. Barangkali karena SIM memiliki satu tempat khusus yang aman dan tak pernah dipegang itu, maka ia jadi luput dari perhatian. Sementara selama ini aku begitu percaya ia ada di tempatnya dan baik-baik saja. Oke, aku mengerti ini: hal yang paling aman dan membuat kita merasa tenang-tenang saja, rupanya bisa jadi sesuatu yang paling mungkin hilang…

Maka waspadalah selalu pada hal-hal yang kelihatan aman.

Noted. Itu pelajaran penting.

Oh yeah, sekarang hari Jumat. Dan ini memang bukan hariku T_T

don’t tell my mother, aku pengin ke Ubud

Ubud, yeah… bulan ini aku kebayang soal Ubud. Padahal bulan kemarin pengin ke Bromo.

Well, aku bingung dengan lokasi impian yang ingin kukunjungi. Omong-omong soal tempat yang ingin kukunjungi, sebetulnya lokasi-lokasi yang bukan Jogja, seluruh permukaan bumi ini, adalah tempat yang ingin kukunjungi seumur hidupku. Pulau terasing, pegunungan, hutan, dasar laut, negara-negara dengan bangunan dari peradaban zaman lampau, kota tua, daerah pedalaman beserta suku–suku budayanya, dan masih banyak lagi. Wajar ya, dari lahir sampai setua ini, aku masih di Jogja. Maka orang semacam aku akan sewajarnya ingin ke tempat yang bukan Jogja. Meskipun hanya sementara. Bukankah manusia normal nggak mungkin pengen backpakeran ke kecamatan sebelah rumahnya?

Membicarakan tempat impian, justru mendorongku untuk curhat panjang lebar.

Dan gilanya, mimpi itu sudah ada sejak SMP, sejak kawan-kawan sebaya penasaran dengan pacaran, aku justu penasaran dengan backpakeran. Ini memang gara-gara bacaan. Dan sejak mereka sibuk mencari jati diri, aku juga mencari pembenaran diri untuk ingin keliling dunia. Dengan segala kelabilannya itu. Haha, sudahlah, itu bagian dari masa lalu suramku. Jadi begini.

Kurasa di dunia ini ada orang yang tak terlalu muluk soal mimpi tapi sempat bepergian ke mana-mana. Ada juga orang yang selalu “bermimpi” sepanjang hidupnya tapi lagi lagi hanya mampu berada di kampung halamannya. Dan aku memang ada di golongan kedua. Tapi tentu, kedua hal itu tetap membawa keberuntungannya sendiri-sendiri. Aku juga bersyukur dengan keadaan ini, meskipun minim pengalaman.

Mentok aku hanya bisa ikut piknik keluarga atau teman, dan itu pun nggak mungkin sampai lebih dari 4 hari. Biasa deh, terbentur kecenderungan altruis. Tututan keluarga, kekhawatiran orang tua, ngantor (yang sebetulnya cuma pekerjaan bersifat alibi), konstruksi sosial masyarakat, tradisi patriakhat yang di negaraku masih dikutuk oleh kaum feminisme, dan lain-lain. Semua itu membuatku harus mikir. Juga omongan orang-orang, sekalipun nggak ada satu pun dari mereka yang ikut membesarkanku. Dan posisi anak pertama membuatku harus punya alasan kuat untuk bisa kabur keluar daerah. Entah itu pekerjaan, atau undangan negara (yang sifatnya mustahil). Dan malahan aku baru diperbolehkan backpakeran ke luar daerah kalau sudah punya suami. Untuk orang sepemimpi aku, kehidupan semacam itu tentu amat menggemaskan. Iya klau suaminya juga hobi travelling. Kalau nggak? Berani ngejamin?

Aku nggak mungkin bisa tiba-tiba menenteng tas ranselku, kemudian ngilang ke negeri antah berantah. Pulang ke rumah pasti aku dipecat jadi anak. Atau setidaknya akan jadi “omongan” orang-orang yang notabene nggak ikut membesarkanku itu.

Yeah, aku masih bingung, seluruh bumi dengan keindahannya adalah lokasi tujuanku. Selalu saja aku menemukan keagungan Allah, melalui lokasi-lokasi yang alami itu. Seperti pulang. Yang hanya mampu kuandalkan nasib untuk bisa betulan kesana. Sisanya keiklhasan bila lagi-lagi tidak terlaksana.

Tapi belakangan, aku memang pengin ke Ubud yang di pulau Bali itu, dalam waktu dekat atau kelak. Pengen tahu seperti apa rasanya jalan-jalan sore hingga malam di sana. Ubud punya pesona yang membuatku ingin datang. Yang menarik dari Ubud mungkin wisata religi dan alamnya. Tapi Ubud atau segala mimpi backpakeran itu belum pernah bersahabat dengan orang-orang yang menyayangiku, ibu terutama. Mana mungkin diizinkan.

Baiklah, bermimpi dulu.

Adalah Puri Agung Ubud Krisnakusuma yang terletak tepat di jantung kota Ubud. Puri itu dulu adalah pusat pemerintahan Kerajaan Ubud serta sebagai pusat kegiatan seni budaya dan adat. Ada juga di wilayah barat Ubud, terdapat Tukad (Kali) Ayung. Di sungai tersebut kita bisa melakukan arung jeram. Lalu ada Museum Rudana konon menyimpan lebih dari 400 buah lukisan dan patung hasil karya para seniman, baik yang berasal dari Bali, Indonesia (luar Bali), maupun para seniman asing. Sedangkan Wanara Wana atau Hutan Kera, (popular dengan nama Monkey Forest) adalah kawasan hutan sakral yang terdapat di kawasan Ubud, tapi entah bagaimana itu, yang jelas, kata sakral itu kedengaran seperti lokasi alami di mana segalanya masih dekat dengan alam. Pastilah menyenangkan.

Jalan-jalan di sana menghabiskan liburan sepertinya menarik.

Dan masih banyak lagi lokasi menarik yang baru bisa kutemukan di internet. Dan apakah minggu depan mimpi ke Ubud itu masih ada atau berubah, cuma Allah yang tahu…

Toh aku sendiri masih labil soal rencana hidup dan selalu curiga dengan begitu banyak hal yang berkait impian. Dibayangi ketakutan semacam: bahwa ini cuma akan jadi angan-angan siang bolong seperti mimpi-mimpi lainnya. Kemungkinan besar, siklus mud juga ikut andil mengubahnya. Namanya juga anak pertama. Ia harus selalu memilih antara keluarga atau mimpi “tersembunyi”-nya.

Saya pengin ke Ubud, sebab diam-diam, saya bosan jadi “burung yang digendutkan di dalam sangkar”.

Ah, sudahlah, jadi nggak karuan…

😐

*ditulis untuk memenuhi tugas mingguan Komunitas Penamerah

@googleimage

@googleimage

Khayalan Gila dan Keputusan Hidup

Pagi ini aku berkhayal, ditemani segelas teh dingin, dan baru menuliskannya setelah jam kerja usai. Siang ini.

Aku adalah perempuan merdeka, tidak butuh terikat pada apapun, termasuk pernikahan. Menemui banyak petualangan yang bahagia. Mencintai siapapun yang aku mau, bersetia diam-diam, berkarya banyak-banyak, bersahabat dengan berbagai manusia, lintas benua malah. Selain itu aku juga telah mencapai karir, mandiri juga soal finansial. Aku cukup puas. Seorang single yang cukup sukses. Kini tinggal di rumah besar, aku sendiri yang membelinya. Ada dua mobil antik di garasi, punya satu supir, dan dua pembantu.
Lalu, usia pun rupanya berjalan tanpa henti. Seperti jarum jam yang baterainya masih bagus.
Terkadang ada ketakutan. Aku tiba-tiba menjadi perempuan tua, tidak lagi cocok bila memakai pakaian yang dulu. Pelembab juga tidak lagi memiliki efek untuk kuit keriputku. Fisik bahkan tak dapat lagi sering diajak berpetualang di tempat-tempat lalu melakukan backpaker. Keluarga sudah pergi. Rumah besar ini hanya aku yang tinggal. Musik yang dulu kugemari sekarang menjadi musik klasik di era sekarang.

Aku hidup sendirian di pinggir kota yang hampir sebagian besar isinya adalah anak muda. Lalu aku duduk di kursi rotan tua. Mulai membayangkan yang tidak-tidak. Tidak ada tempat bercerita, atau membagi rahasia berharga. Keponakan dan cucu-cucu mereka pastilah sibuk dengan urusan masing-masing. Aku menulis sendiri, menumpuknya seperti biasa di gudang. Beberapa mereka, tetangga lansia yang sama-sama sudah bungkuk dan beruban juga, datang berkunjung, baru saja rumahnya sepi karena cucu mereka sudah pulang. Lalu berjam-jam mereka akan menceritakan seluruh anak dan keluarganya. Sama sekali tidak ada yang bisa diajak ngobrol sial politik negeri, perkembangan seni, atau bahkan buku-buku sastra yang baru saja dibaca. Akhirnya aku akan banyak diam. Setidaknya ada yang menemani, selain kucing-kucingku. Sesekali saja.

Sedangkan tetangga lain tak ada yang dapat diajak berkumpul, sebab mereka sibuk menjaga cucu, sementara anak-anaknya bekerja. Sisanya sudah menjemput ajal. Kadang aku menghabiskan waktu dengan merajut, membaca majalah, dan tiba-tiba lebih tertarik selalu berdekatan dengan mukena, sajadah, dan Alquran, sebab aku merasa kapan pun aku bisa dijemput malaikat.
Rambutku sudah memutih seluruhnya. Gigiku pun sudah habis. Seringkali terganggu dengan suara hingar, sedikit saja. Aku jadi begitu sensitif. Mereka, para tetangga merayakan banyak hal dengan rumah yang penuh orang, ada juga yang berulang tahun dan cucu-cucu mereka yang merayakan. Belum lagi keriuhan yang terjadi setiap tahun baru. Sedangkan aku tidak pernah selamanya merasakan didatangi cucu begitu banyak seperti itu. Bahkan berkeluarga pun tak pernah kualami.

Yang kuingat adalah masa-masa muda penuh petualangan, tapi semua itu tak menarik lagi. Hanya menjadi catatan usang di pojok gudang. Tak ada siapa pun yang aku dongengkan. Anak-anak kecil itu bahkan mengira aku orang gila. Kalau aku berniat baik ingin memberi cokelat misalnya. Mereka lari dan tertawa. Mereka enggan main di rumahku. Kadang juga mereka menyebutku nenek sihir. atau menyama-nyamakannya dengan buku-buku yang mereka baca. Nenek sihir yang tinggal di kastil.

Badanku semakin kurus, tak ada pasangan yang menemani untuk sekedar mengeluh bahwa punggungku sakit, seperti pasangan lansia dua rumah di sebelah. Tak satu pun yang kuingat, dan pernah menjadi bagian dari hidupku. Lalu ingatan itu hanya tentang kisah cinta yang tak berujung, lalu pria-pria yang pernah dekat, tak ingin menjadi suamiku, karena mereka lebih suka mengingat masa lalunya, mengingat permepuan lain sebagiannya. Dan aku menyadari bahwa aku pelarian. Dan salah satunya masih kusayang, tak pernah menjadi bagian hidupku, kecuali ingatan itu. tapi tak masalah, sebab aku berjiwa merdeka. Aku menang sekalipun aku terjebak cinta sepihak pada satu orang saja, sepanjang hidupku. pada orang yang akhirnya menikahi perempuan yang lebih muda 8 tahun darinya. Bahkan dia begitu bahagia. Bahagia dengan hidupnya, bahagia bersama istri, anak-anak, dan cucu-cucunya, dan tentu saja melupakanku.

Barangkali aku hanya menyesali mengapa tak peduli dengan orang yang benar-benar mencintai dan ingin bersamaku.. Menghabiskan hari tua bersama… Ah, barangkali hanya sesal yang melintas sesaat seperti har-hari biasa ketika aku suntuk.
Ah,..
Lansia sepertiku memang bahagia, dengan rumah besar, kebun yang luas, juga dua pembantu, dengan semua pencapaian yang kualami. Bahkan simpanan di bank pun menumpuk, hanya saja kelak akan kuwariskan ke panti asuhan, sebab keponakan dan cucu-cucu sudah cukup dengan yang mereka punya. Sebab aku tak punya anak, cucu apalagi. Setiap hari aku hanya bersama kucing-kucing persiaku, merawatnya, setiap hari memberi makan kucing-kucingku yang sudah berjumlah 100 ekor itu, dan merekalah yang selalu ada bersamaku. Tidak perlu merepotkan keluarga lain, saudara, para keponakan, dan anak-anak mereka.

Lalu aku mulai merasa sunyi satu per satu sampai habis sisa usia. Rupanya penyesalan memang hadir terakhir dan datangnya sungguh tak tahu diri.

Yeah, aku memang bahagia mungkin. Menang dengan idealisme, melawan idealisme mayoritas banyak orang. Tapi ada yang terasa tak pernah datang, mengirim ruang yang disebut kekosongan. Bumi semakin tua. Barangkali dalam kesendirian, aku mati, lalu para tetangga akan datang mencari ketika ada bau bangkai tercium di sekitar mereka.. Sementara para pembantu pergi dengan uangku yang dicurinya dari lemari.

Lalu selesai.
Kehidupan berjalan lagi seperti biasa. Bahkan tak akan ada yang menengok makamku, kecuali keponakan yang terpaksa menyempatkan diri, kebetulan ingat, kebetulan lewat setelah mereka mendoakan makam nenek kakek mereka beberapa meter dari nisanku, sebelum ramadhan tiba….

Oh no.

Berhenti! Itu hanya sekadar khayalan bila pilihanku menang, atau egoku di atas segala, atau perasaanku tak boleh diganggu, dan aku bisa membuktikan sampai seumur hidup bahwa ia tak hilang. Masa mudaku memilih kebebasan. Merdeka untuk melakukan apapun.
Tampaknya memang perlu revisi semua itu… tentu saja.

Hm…

Mumpung masih muda, maka sebaiknya aku memilih jalan terbaik, terwajar, terrealistis, dan terlogis untuk ditempuh.
Aku tahu meski tidak mudah, aku dapat menjalani semua jalan ini, pilihan-pilihan itu, dan keputusan-keputusan hidup yang mesti kuambil dengan tanggung jawab dan sepenuh hati, beserta sikap tentu saja. Kadang memang perlu berpikir pragmatis, untuk keputusan hidup yang besar. Kupikir, karena tidak hanya idealisme kita hidup, tetapi juga dengan pragmatisme-pragmatisme semacam itu. Pragmatisme semacam membagi hidup dalam bentuk menikah mungkin saja.

Sebab hidup ini berubah dan begitu fleksibel, mengapa kita meniru rupa karang? Membusuk oleh ketetapan kita sendiri. Lalu sunyi. Ah, barangkali… Barangkali saja… Ada orang-orang yang bertahan, bertahan untuk menyimpan apa yang memang ia ingin simpan. Selamanya. Dan bukankah itu tak boleh diganggu? Tetap kita harus hargai. aku tetap menyimpan kekaguman untuk mereka yang menjalaninya dan bertahan di dalamnya. Tentu saja, setiap orang memiliki pilihan yang berbeda.

Tapi ini hidupku, yang hanya aku yang menjalani, hanya aku yang mengerti. Hanya Tuhan yang tahu.

Sebab manusia, berhak mengubah paradigma, pandangan, bahkan peta kejiawaan. Manusia, berpotensi menang melawan ketakutan… Dan semua kegelisahannya… Bahkan mampu menang melawan keinginannya sendiri.

Aku tahu, aku tak akan menjadi nenek single seperti khayalanku tadi. Aku tahu, Tuhan selalu bersamaku.

Seems like yesterday
That we were having so much fun
I can see you smile
Remembering the things we’ve done
But time goes by so fast
So many things were left unsaid
I wish I had a chance
To spend the day with you just one

I’ve always known that you’ve tried your best
Don’t keep any regrets in you
And you’ll be fine

I can feel you everywhere I go
I wrote this song for you to know
I’m wishing on every star to show you a sign
And if you can hear what I’m singing now
I wish happiness to be found in your life
And I’ll be there someday on the other side

Take it easy now
You were just too sensitive for this life
Don’t you worry ’bout us
Someday we should be fine

And I’ll be there someday on the other side

Cerita tentang Mimpi

Hei, saya hanya ingin cerita soal mimpi.

Saya mimpi aneh sekali tadi malam. Pertama sebelum terbangun samar, saya mimpi menaiki pesawat berbentuk kapsul. Lalu mendarat di suatu tempat aneh yang saya yakini itu planet lain, mungkin di galaksi lain juga. Semuanya penuh warna, hanya saja begitu berbeda dengan yang saya temui di bumi. Rumput berwarna pink, ada juga yang ungu, ada yang berbentuk jel seolah dapat digigit dan dicampur dengan es buah. Pohon-pohonnya juga berbentuk aneh. Tanah yang saya pijak saat keluar dari pesawat kapsul itu adalah bening. Tidak serupa tanah berwarna cokelat, yang sering kita temui setiap hari. Benar-benar bening. Saya kira saya hampir tercebur di air, atau nyungsep di hamparan agar-agar. Ternyata tanah. Dan suhunya dingin. Langit di atas sana juga keunguan. Dalam mimpi itu, saya bolak-balik keluar masuk pesawat dan hampir merasa bingung jika harus berjalan-jalan di planet aneh itu. Perasaan saya saat itu tak dapat terjabarkan. Hanya sedikit yang saya ingat, sepertinya saya membuat makanan di dapur pesawat saya, dan tidak kepikiran untuk kembali ke bumi.

Saya terbangun, sesaat, kemudian tidur lagi.. tanpa melihat jam. Sungguh dalam soal tidur saya lebih sering menjadi makhluk primitif, tanpa butuh jam, HP atau kabar berita terbaru di internet.

Saya bermimpi lagi. Tiba-tiba di bumi. Tapi tidak di negara saya berada. Tapi di kawasan perang. Saya menjadi anggota yang ditugasi di daerah perang. Sepertinya masih di kawasan Asia, entah Vietnam tahun lampau, atau Thailand. Orang-orangnya memiliki postur dan warna kulit yang tak jauh beda. Saya harus kejar-kejaran padahal semula saya dikirim untuk mengajar di daerah pedalaman. Tapi karena sepertinya dalam mimpi, saya mengetahui rahasia musuh, maka saya menjadi salah satu anggota yang dikejar-kejar. Saya melihat kelompok saya berlari dari kejaran. Melintasi hutan, berenang melalui danau di tengah hutan, hingga menyamar menjadi petani alang-alang ketika melihat tentara musuh. Kami berlari hingga melintasi padang ganja, dan sembunyi di bangunan tua untuk memanggil helikopter yang menyelamatkan kami. Jangan tanya mengapa saya tahu itu ganja, mimpi sering kali tidak dapat dijabarkan bagaimananya. Saya juga merasa ketika kami, saya dan orang-orang di dekat saya berlari lagi, saya melihat satu tentara musuh berusaha menembaki kami, tapi untunglah tak ada yang terkena. Tapi saya pun mikir, apakah bila saya benar-benar tertembak lantas saya merasa sakit atau nggak bisa bangun? Toh bagaimana pun ini hanya mimpi.

Bangun-bangun, rasanya capek sekali, seperti habis berlari puluhan kilometer.

Mimpi yang aneh bukan. Saya jadi ingat kata Carl Gustav Jung, apakah mimpi saya semacam arketipe? Entahlah.

Lake-of-dream-hd-wallpaper

 

Pertanyaan

ketika tiba-tiba hidup mulai menemukan titik kebersimpangan, kesamaran, dan ketiadaan makna…

apa yang mestinya aku lakukan…?

tetap di sini, dan akan seperti itu yang kualami

atau berpindah, dan aku tak tahu apa yang akan kutemui nanti?

Perasaan sepi: bahagia yang terkutuk

Memandang Sepi

Kesepian adalah kondisi ketika seseorang merasa ditinggalkan, diabaikan, ataupun tak tergapai. Sepi tak berarti ia sendirian. Itulah kenapa meski beramai-ramai, seseorang bisa tetap merasakannya. Seperti yang tergolong sering kurasakan belakangan ini.

Merasa kesepian memang nggak nyaman. Namun setidaknya kesibukan kerja ini mampu melarikanku dari perasaan sepi yang entah bagaimana. Tapi bila diingat-ingat lagi, bergabung dalam keramaian juga tak selalu menyenangkan, maka sepi terkadang lebih baik. Perasaan sepi juga bagian dari kebahagiaan yang kadang terkutuk. Setidaknya aku bisa sejenak beristirahat.

Aku memang suka sepi sekaligus mengutukinya. Perasaan tersingkir seperti demikian jika tidak diisi dengan kesibukan, mungkin saja rasanya seperti pensiunan. Tiba-tiba saja, seolah rasanya tak berteman.

Tapi itu semua sungguh tidak mengapa. Asal hidupku berguna, asal setiap sela tak mematikan kreativitas dan pemikiranku. Sudah bukan fenomena aneh lagi risiko pekerja sibuk adalah kehilangan hubungan sosial secara luas. Sebab mau tidak mau kegiatan sosial itu akan tersingkir perlahan secara alami, seiring semakin bertambahnya tanggungjawab karier. Banyak hal kini sudah jelas di mataku, pekerjaan monoton yang dulunya sangat kuhindari kini kadangkala menjadi penyelamat, memang tidak selalu. Mungkin saja Tuhan memang tahu, aku butuh dibebat tugas-tugas dan tanggung jawab agar tidak diam dan berpotensi menjadi gila. Tuhan sungguh tahu, aku memiliki potensi demikian.

Mendekat

Waktu tiba-tiba begitu cepat berlalu. Perasaan, baru kemarin bulan April dimulai. Mei terlalu cepat berjalan, sebentar lagi bahkan hampir berganti bulan. Dan bagiku memang begitu cepat. Ah, jangan-jangan aku terlalu menikmati kepadatan ini. Terlalu padatnya, sampai-sampai rencana-rencana kecil bulan ini tak sempat direalisasikan. Sebendel kertas HVS per bulan-ku pun sudah hampir penuh. Sudah setahunan ini aku selalu menyiapkan sebendel kertas kosong, mengumpilkan jadi satu, dan menggantinya tiap bulan. Dulu berupa buku harian. Namun sekarang aku lebih butuh banyak space, butuh banyak kelonggaran. Tak hanya menulis cerita harianku, aku bahkan perlu corat-coret, menggambar, menulis draft, puisi, info-info menarik, gagasan, dan banyak hal lagi… setiap bulan selalu saja penuh. Dan meski demikian, aku masih tak mengerti apa manfaat setumpuk kertas itu secara lebih riil.

Kini tertumpuk secara asal di sudut kamarku, belum juga kubuka ulang. Mungkin suatu saat nanti. Aku hanya masih saja berpikir demikian, tak ada waktu sedikit pun hanya untuk diam, sebab setiap saat mestinya ada perubahan. Mestinya aku telah mendekat pada tujuan. Harus ada hal baru kutemukan dan kupelajari hari ini.

Demi itu aku belajar dari banyak hal dan orang-orang. Aku beruntung memiliki teman-teman yang produktif dan positif yang masih saling tukar kabar dan informasi. Masih sedikit-sedikit bersedia berdiskusi. Juga terkadang saling memedulikan satu sama lain.

Bahagia itu…

Banyak yang bilang, bahagia itu sederhana. Tapi sejujurnya, ada dalam diriku sisi tak sederhana. Yaitu ketika aku terllau menuntut diriku untuk menjadi seperti ini dan itu. Berharap begini dan begitu, dan ketika semua itu ternyata cukup berat, aku mulai membenci diriku. Sehingga wajar bila tiba saatnya, aku merasa lelah sendiri.

Berada dalam sepi memang damai dan bahagia, tapi tetap saja, aku tak ingin berlama-lama dalam kondisi demikian.