Rasa Pedas

Kau penyuka rasa pedas?

Aku nggak terlalu menggemari, tapi makanan pedas kuakui enak. Terlebih bila komposisi bumbu dengan bahan dasarnya pas, entah itu pedas karena cabai atau merica. Mereka akan meninggalkan jejak nikmat (lengkap) sebelum melanjutkan perjalanan ke kerongkongan dan lambung untuk melebur dengan zat HCL, pepsin, renin, dan makanan lainnya. Mulut dapat merasai sensasi menyakitkan tapi enak yang dihasilkan rasa pedas itu. Namun tidak semua lambung lantas menyambut dengan bersahabat. Jadi benar, ada kalanya orang-orang yang memiih makanan enak, cenderung lebih dahulu mempertimbangkan selera yang dituntut oleh indra pengecap, utamanya lidah dan indra peciuman, ketimbang kemampuan alat pencernaan setelah mulut ataupun kesehatan. Terlebih kemampuan perut tak bisa terdeteksi sebelum betulan terlihat dampaknya.

Kata seorang teman rasa pedas itu merusak rasa. Teman lain bilang itu justru memperkuat rasa. Kedua pendapat itu dapat dikatakan benar karena sebetulnya cabai menyangkut selera. Selera berkait erat dengan individu yang tentunya sudah beragam dari sananya. Manusia dan selera adalah identitas yang berpasangan selalu. Ada yang senang bila cabainya melimpah. Ada yang menyerah duluan dengan cabai setengah biji. Ada pula yang menolak sama sekali masakan pedas secuil pun.

Ketika aku iseng browsing sejarah makanan pedas, ternyata sulit juga dicari. Ada yang bilang berasal dari Melayu, sebelum Indonesia bernama Indonesia. Masyarakat Thailand pun familier dengan tradisi makan pedas. Ingat penjelasan salah satu dosen ketika zaman kuliah, bahwa setiap daerah bisa berbeda kecenderungan jenis makanan sesuai dengan kondisi alamnya. Semula makanan pedas biasanya dikonsumsi masyarakat sekitar pegunungan atau daerah berhawa dingin. Zat yang terkandung di dalam cabai dipercaya dapat menghangatkan tubuh. Meski demikian, tidak semua orang lantas mengonsumsinya. Sebab di negara-negara lain, seperti negara-negara di Eropa, mereka konon tidak memakan cabai seperti di Asia. Sebagai penghangat mereka meminum semacam wine. Meskipun jahe sebenarnya bisa, tapi jahe digunakan di Indonesia. Sehingga kurasa cara masyarakat mengatasi rasa dingin melalui makanan hanya soal adat dan kebiasaan. Barangkali belum bisa dikatakan melulu tentang adaptasi, melainkan selera. Masyarakat dari tradisi pemakan cabai ekstrem pun ketika berkunjung ke Jogja akan mengeluhkan rasa manis di dalam unsur masakannya, dan akan tetap menambahkan porsi cabai meskipun udara Jogja sudah hangat.

Tapi rupanya rasa pedas tidak berasal dari tanah Melayu. Di India ada jenis cabai Bhut Jolokia yang sempat membuat pemakannya terkapar pada menit ke-30, konon efeknya hingga 12 jam.  Cabe ini menggantikan jenis Red Savina yang semula menjadi cabai terpedas di dunia versi Guinness World Records. Pada versi itu, ada beberapa peraih rekor yang rupanya justru dari Meksiko. Ada pula yang menyatakan Ed Currie yang terpedas di dunia. yang juga berasal dari Meksiko. Tak lama versi Guinness Book of Records menyatakan cabai asal Inggrislah, cabai Infinity, yang terpedas di dunia. Jadi untuk apa cabai diciptakan di dunia selain untuk bumbu makanan dan ikut lomba? Untuk obat. Beberapa artikel ilmiah menjelaskan kegunaannya di bidang kesehatan, tapi dalam porsi yang cukup dan cenderung sedikit. Cabai juga punya manfaat mengobati.

Namun, kemarin hari sedikit menyesal sekaligus bersyukur dengan masakan pedas yang kumakan, memang pada dasarnya lezat sekali, apalagi dikonsumsi di antara suasana ‘hangat’. Hanya saja unsur cabainya melebihi batas normal kemampuanku merespons rasa pedas yang tentunya hanya kusimpan sendiri dalam hati -__-. Sebab sehari setelahnya, selain masih ada rasa panas di pangkal kerongkongan hingga lambung, efek lain yang cukup bikin mules dan lemes pun mengikuti. Tongseng kuah yang rasanya gurih itu semula menimbulkan efek bahagia. Aku memang melihat semua orang tampak menikmatinya. Ada yang megap-megap tapi ketagihan, ada yang memang benar-benar menghindari karena warna kuahnya dominan merah, ada yang malah jadi tambah sehat habis kepedasan meski muka merah dan air mata bercucuran, mirip ekspresiku. Bahkan ada yang memakannya seperti ngemil kacang goreng sambil nonton bola.

Namun, lapar dan perasaan tidak enak menolak hidangan sang koki yang ahli masak tongseng kambing ini adalah perpaduan cocok untuk membuatku tetap makan kemarin hari. Pada detik-detik awal, sedikit masih bisa menikmati sensasi rasa gurih yang pas di dalam masakannya, lama kelamaaan tak sadar secara insting, aku berusaha menghabiskan makanan cepat-cepat tanpa mampu bersuara sepatah kata pun. Begitu melihat air putih, rasanya ingin menenggak seluruh isinya dalam hitungan detik. Berharap pedas itu segera hilang dan kembali pada efek makanan sedapnya. Sampai di rumah cepat-cepat aku menelan semua makanan penetral dan berhenti berpikir yang tidak-tidak. Memang banyak orang di luar sana merasa lebih nyaman dan lebih bugar setelah megap-megap, tapi rupanya aku tak punya respons naluriah bersifat positif semacam itu.

Rasanya untuk beberapa hari ke depan, aku perlu menghindari hal-hal yang pedas. Selain rasa terbakar di leher dan sekitar perut, efek psikologisnya pun bakal tidak sebentar. Untuk soal makanan pedas, yang mewakili keberagaman manusia itu, aku nggak mau lagi bertoleransi. Demi apa pun untuk saat ini.

Postinganku kali ini memang lebih banyak tentang rasa pedas cabai. Berbicara soal rasa pedas, mungkin demikian cara manusia menjalani hidupnya: sekalipun menyakitkan, tapi toh tetap menikmatinya juga sebagai hidangan rutin.:)

Bagaimana pun pengalaman kepedasan adalah pengalaman yang berharga untuk dilewatkan.

Iklan

jalan tengah dan kesabaran: catatan harianku

28 Maret 2014
Jumat–di hari yang tak bersahabat denganku, seperti biasa

 

Belakangan saya kembali menikmati hobi menulis dan membaca di dalam suasana yang sunyi, seperti dulu kala, dan akhirnya, saya tahu betapa bahagianya bisa menulis hal-hal yang memang ingin saya tulis. Seperti catatan kecil yang seharian ini saya buat:

 

1.
Manusia memang mesti berada “di tengah”
Satu sisi agama dan nilai-nilai hidup mengajari manusia untuk hidup sebaik mungkin, tapi di sisi lain kita semua tidak boleh terlalu mencintai dunia.
Dan atas banyak alasan, aku selalu sepakat dengan itu.

 2.

Dalam doa, aku pun berada di tengah. Benar kata seorang kawan di masa lalu, bahwa kita tak perlu berdoa minta rezeki sama Tuhan karena Ia sudah siapkan sesuai jatahnya. Yah, kurasa rezeki memang sudah diatur oleh Tuhan sesuai usaha manusianya. Bahkan anak bayi yang lahir di lingkungan miskin juga sudah ditentukan rezekinya, tergantung apakah orang tuanya korupsi atau tidak.
Maka, menurutku, bila kita hanya berdoa minta ditambah materi, sama saja membuat hidup kita rugi dengan hal-hal indah yang bisa kita harap, seperti: kesehatan, menjadi bermanfaat untuk dunia, kesampaian travelling ke penjuru bumi, atau memiliki sahabat-sahabat sejati misalnya.
Tapi doa yang terbaik bagiku adalah jangan pernah Tuhan jauh dan meninggalkanku. Dan semoga Ia selalu kucintai di atas segala hal dalam hidupku. Dalam doa, hanya mampu kuserahkan segalanya pada Yang Maha Pemberi Hidup dalam kondisi netral.

3

Ukuran baik buruk bukan masyarakat yang menentukan, selama mereka tidak terlalu peduli tentang kita dan selama mereka juga tidak pernah membiayai kita seumur hidup. Keyakinan akan ukuran yang terbaik tergantung individu masing-masing.

Dalam hal ini kesabaran memang dibutuhkan.

 

4.

Aku benci di-PHP-in, oleh apa pun itu. Membuatku ingat sejarah diskriminasi yang dialami penduduk marginal, juga termasuk sejarah para perempuan di Indonesia.
Kini sudah zaman kesetaraan. Dan aku bersyukur bahwa aku tipikal yang selalu memiliki kegiatan sendiri yang menyenangkan selama tidak sedang tidur. Bagaimana bila yang mengalami adalah tipikal yang tidak punya kegiatan di luar kemapanan-kemapanan itu, selain menunggu dan menunggu? Dan bersyukur bahwa selama ini aku memang nyaman dengan kesendirian.
Namun bagaimanapun, kalimat “Aku benci di-PHP-in” adalah keputusan yang sama-sama kita sepakati bukan?

5.

Tidak ada orang tua yang sempurna untuk anak-anaknya. Tapi orang tua adalah ‘jalan’ dan tokoh-tokoh terbaik bagi “jalan hidup” anak-anaknya. Begitu juga anak-anak adalah jalan hidup terbaik bagi orang tuanya. Kita semua dalah pembawa sebab dan akibat bagi orang lain dalam bentuk karakter yang beragam. Dan toh bukan hal yang aneh bila karakter anak-anak bisa sangat berbeda dengan orang tuanya, di zaman sekarang… Dan segala hal itu memang sudah digariskan oleh Tuhan. Begitu juga dengan pasangan hidup.
(dan aku sedang tidak berbicara tentang lakon pewayangan)

 

6.

Dengan hal-hal yang amat bersebrangan, kita hanya butuh memaklumi.

Lalu seluas apa makna sabar? Apakah sungguh kesabaran memiliki batasan?

 

 

Antara Kita dan Semut-Semut di Kepala

Cerpen yang saya baca pagi ini di koran Kompas mengisahkan seorang perempuan yang berpikiran rumit. Ia kehilangan seorang pria sederhana yang telah 6 tahun mengencaninya dan 6 tahun pula menikahinya. Beberapa bulan suaminya ini meninggalkannya. Namun ia tetap sibuk pada pekerjaan dan melanjutkan hidup. Orang-orang bertaruh tentang apa yang akan ia lakukan setelah suaminya pergi. Akan merutuki nasibnya atau kalap mencari si suami di penjuru kota. Tapi si perempuan terlihat seperti tetap melakukan aktivitas seperti yang sudah-sudah, bekerja, pulang tepat waktu, dan belanja kebutuhan sehari-hari di hari Minggu, seperti hari-hari biasanya sehingga orang-orang pun bosan bertaruh.

Terakhir sebelum suaminya meninggalkannya, mereka sempat bertengkar. Sebelum pergi si suami mengumpat tentang otaknya yang rumit dan akan habis dimakan semut. Sedangkan semut dalam cerpen tersebut menggambarkan isi pikiran. Sejak menerima sebuah surat dari suaminya, si perempuan terbawa oleh ilusi semut-semut yang menyerang rumahnya dari hari ke hari. Orang-orang telah menggapnya kehilangan kewarasan karena berbulan lamanya suaminya memutuskan meninggalkannya. Si perempuan menghabiskan waktu dengan berusaha membersihkan semut-semut di rumahnya namun hanya ia yang melihatnya. Semut-semut dilihatnya semakin banyak yang berdatangan sampai tak ada yang bisa dilakukan selain menjadikan jutaan semut itu teman bicaranya untuk terakhir kali. Hingga pada akhirnya, ia meninggal dalam sepi dengan obat serangga bertebaran di rumahnya. Jasadnya ditemukan dalam keadaan masih menggenggam surat gugatan cerai dari suaminya.

Bila kita berbicara populasi manusia dengan pemikiran yang beragam, kita tak hanya menemukan jenis manusia yang berpikiran sederhana, ada juga yang kompleks dan karakter tersebut tidak lahir dengan sendirinya. Hanya saja ‘komunitas rumit’ hanya akan memahami yang sama-sama rumit itu pun tidak selalu, dan yang ‘kelompok sederhana’ hanya nyaman berinteraksi dengan yang sederhana. Meskipun dalam beberapa hal, mereka bisa saling membutuhkan. Sayangnya demikian hukum alam sering kali berkata. Sayang, orang juga sering tidak dapat memilih menjadi sederhana bila sudah telanjur merumit.

Jalan ceritanya menarik, antara narasi dan dialog antartokoh tersaji dengan pas dan runut, menujukkan kualitas si penulis yang memang produktif. Dan toh yang namanya cerpen ia bisa saja semacam ide atau imajinasi, atau barangkali berasal dari kehidupan sehari-hari. Tapi ia tetap menyiratkan realitas. Hanya saja, cerpen ini seperti campuran antara tragedi dan humor dalam porsi yang seimbang di benak saya. Rasanya ingin tersenyum geli sekaligus sedih. Membaca cerpen ini membuat saya bertanya pada diri sendiri:

Benarkah selalu demikian? Apakah harus menjadi sederhana, perempuan dapat dicintai pasangannya dengan tulus?
Apakah kerumitan itu salah sehingga setiap individu yang rumit selalu diingatkan soal keterasingan?
Apakah kerumitan termasuk kecacatan?

Hanya baru beberapa kali selama ini saya membaca sebuah karya dengan merasa berada dalam tokoh utama. Selebihnya, saya biasa membaca karya dengan terkesan dengan teknik bercerita, ide, pemikiran, atau sejarah. Tapi jarang ada yang bisa memengaruhi perasaan seperti cerpen “Wanita dan Semut-Semut di Kepalanya” yang ditulis oleh Anggun Prameswari.

Membaca cerpen ini, seperti membaca diri saya. Sebab saya juga rumit. Bahkan rasanya tidak hanya semut-semut yang selalu menyerang kepala saya, tapi juga setan dan debu-debu.  Andai dapat memilih, saya tentu ingin berpikir sederhana dan segalanya akan berjalan sesuai yang semestinya.

Pernikahan dan Kampanye Ala Ibu-ibu

Benar kata sebuah pepatah (agak lupa di mana menemukan) : Topik pembicaraan yang sering dihindari, justru semakin sering ditemui. 

Hari itu bukan hanya isu kampanye parpol yang saya temui, tapi juga topik yang satu ini. Seorang teman lama bersemangat mengampanyekan salah satu institusi sosial terkenal yang menjadi langganan orang Indonesia yang masih normal: pernikahan. Kami sudah lama tak bertemu, dan kami ngobrol banyak hal perihal dunia wanita. Ia telah menikah. Dan keputusan mereka menikah justru setelah pacaran selama seminggu. Jalan ceritanya pun konyol dan lucu.

 

Pembicaraan ini berawal dari opini saya bahwa menikah dan pacaran, adalah dua hal yang berbeda. Dari substansi komitmen hingga perpisahannya pastilah semua orang tahu, lebih ribet bila itu di dalam ranah pernikahan. Kalau pacaran administrasinya gampang, tinggal “bye bye...” maka perceraian pun sah.

“Kalau menurutku ya pacaran lama itu rugi waktu, tenaga, pikiran, dan keimanan…” Teman saya ini mulai presentasi.
Keimanan? Wow.. saya memang pernah jadi atheis gara-gara pacaran: Apakah jodoh kekasih itu ada? dan apakah Tuhan itu ada? Ah, sudahlah.

Kami baru saja menonton acara infotainment di televisi, acara yang sebetulnya membuat saya elergi.
“Mbak emang ingin menikah waktu pacaran itu?” saya iseng tanya.
“Ya,” jawabnya sambil menerawang jauh. Wajahnya berseri. Begitulah wajah orang-orang yang lagi mengingat sejarah percintaan.
“Dan nggak takut kalau ketemu pasangan yang salah?” saya masih penasaran.
“Setiap manusia adalah makhluk yang salah. Nggak ada yang sempurna,” demikian si Mbak menjelaskan. “Bodoh banget kalau anggap pacaran adalah jalan untuk saling mengenal pasangan.”
Saya merasa tertampar. Oh, idelisme…

“Kalau mau mengenal pasangan yang menikah resmi, seumur hidup aja orang nggak akan bisa mengenali pasangan resmi sepenuhnya, bagaimana yang cuma pacaran? Tapi banyak sih, muda-mudi yang milih pacaran cuma buat seneng-seneng aja. Lucunya mereka karena nggak serumah, maka satu sama lain hanya melihat tampilan baik. Begitu menikah, jedueeer, nggak bisa menerima kebiasaan buruk alami si pasangan.”

“Iya sih. Itu masuk akal.”

“Makanya, ada beberapa agama yang tidak menganjurkan pacaran karena dirasa memang kurang menghargai hak asasi pasangan. Pertama, pacaran menutup kesempatan menemukan yang terbaik, padahal sebelum menikah, setiap orang bahkan masih berhak mencintai siapa pun dalam hatinya. Banyak juga yang meskipun sudah lama pacaran, tapi menikah juga karena terpaksa, sebab para ortu sudah ngejar-ngejar misalnya. Kedua, mereka memilih pacaran karena aslinya sebagai alibi pengin ada yang merhatiin tapi nggak berani bertanggung jawab membangun rumah tangga, huahahaha..”

Jleb.

“Mbak sendiri bahagia setelah menikah?”
“Bahagia itu relatif. Manusia itu sendiri makhluk yang pasang surut. Kadang bahagia, kadang sedih. Kadang waras, kadang edan. Tapi setidaknya ada seseorang di sampingku yang entah ikhlas atau enggak, atau mau nggak mau, tetap berada di sampingku.” Si mbak ngikik. “Sering kan teman-teman kita yang pacaran malah ngajakin kita nongkrong atau nonton pas lagi sedih, dan bukannya bersandar ke pacarnya. Karena si pacar selalu nggak ada, huhahahaha.”

Aku senyum dan mengangguk-angguk saja.

Si mbak ini pasti bakal cocok dengan ibu dan adik perempuan saya dari segi prinsip. Kalau sedang ngobrol berempat, pasti 3 lawan satu.

Beruntunglah mereka yang berpikir lurus-lurus saja. Sebab yang selalu merekam dan berpikir segala hal, akan kesulitan mempercayai begitu saja.

“Nah kalau agama itu sendiri nggak menganjurkan sesuatu, karena ada alasan di sana. Contohnya soal hormon itu sendiri. Realitasnya, hubungan spesial laki-laki dan perempuan biasanya hanya bertahan setahun dua tahu saja karena pengaruh hormon. Hormon itu ada masa kadaluarsanya lho. Tahun ketiga sudah mulai logis. Jangan ngarep bakal romantis-romantisan terus. Tanya aja deh sama yang udah nikah.”

Aku masih menyimak dalam diam, sambil menatap cicak yang melintas di kaca jendela.

“Tapi jangan khawatir…”
Lamunan pun goyah, bukan karena kontennya, tapi karena si Mbak masih bersemangat kampanye sambil menepuk kaki saya.

“Biasanya, meskipun nggak lagi saling romantis, pasangan menikah yang lama meskipun sudah ‘kayak temen’, tapi masing-masing udah saling menjaga keutuhan rumah tangga. Entar kerasanya kalau udah pada sepuh.”

Saya sendiri sebenarnya ingin meminta pendapat, apakah di zaman sekarang institusi pernikahan itu harus dijalani setiap individu? Tapi lebih menarik dibicarakan dengan mereka yang agak liberal, karena biasanya netral.
Tapi saya lebih ingin bertanya pada diri sendiri, apakah saya ini sudah cukup baik untuk menikah? Dan rasanya monster-monster dalam diri saya sudah bosan mengajak diskusi.

Tiba-tiba teringat kata seseorang kemarin hari, “barangkali kamu selalu mencurigai institusi pernikahan karena baru mendengar dari orang-orang di luar sana, bukan karena mengalaminya sendiri.”
Maka mari kita benarkan, menikah adalah kehidupan baru yang penuh kejutan. Yang kita tidak akan tahu akan seperti apa. 🙂

ah, Tuhan, bukan sekali dua kali saya diceramahi soal pernikahan, hanya hari itu seperti diingatkan ulang.
Menjadi idealis itu memang ruwet…
Muarakan segala hati saya kepada Engkau saja, Tuhan.

Kalau sampai waktuku… (meminjam sebaris puisi Chairil Anwar)
Toh juga mesti dijalani juga.

Ulasan Singkat: Cerpen “Katanya Saya Tak Akan Bosan”

Sekadar catatan pagi

Sastra, seperti yang kuingat dari buku Wellek dan Warren tahun 1990 adalah dokumen sosial sebagai potret kenyataan sosial. Berdasarkan pada penelitian Thomas Warton (penyusun sejarah puisi Inggris yang pertama), sastra juga memiliki kemampuan merekam ciri-ciri zamannya. Bagi Warton dan para pengikutnya sastra adalah gudang adat-istiadat, dan dalam hal ini buku sebagai sumber sejarah peradaban.

Sering juga potret zaman ditunjukkan oleh hal-hal yang tertulis secara tersirat dan tersurat di dalam sebuah cerpen. Dalam hal ini, perhatian saya akan menuju pada dunia perempuan dan kiprahnya.

Saya suka cerpen-cerpen yang ditulis oleh perempuan seperti cerpen ini. Saya suka bila para perempuan berani cerdas dan menjadi merdeka, dan mereka selalu membuat saya terinspirasi. Bahkan dalam menyuarakan/menuliskan isi pikiran dan pengalaman. Mereka juga mampu mereview kondisi dunia secara mikro dan kadang makro dari sisi lain. Meskipun di luar sana perempuan masih dianggap entitas yang berbahaya. Entah bagaimana, saya selalu suka membicarakan perihal perkembangan zaman dan cerita-cerita di dalamnya dari berbagai segi.

Bagi saya, sastra selalu memiliki cara unik menyuarakan kebenaran.
Meskipun kadang kala, karya sastra dan sinetron, sama-sama memiliki potensi “memberi rasa takut” yang aneh pada naluri keperempuanan.

Dari Buku Hingga Cokelat: Dia Memang Bukan Teman Biasa

Seorang teman pernah bilang padaku, “Mengapa kau selalu ingin melarikan diri dari rumahmu? Apakah rumahmu tak senyaman rumahku? Bagiku, rumahku saat ini sangat nyaman, maka aku akan menjaganya agar dia tetap nyaman untuk kutempati.”

Teman yang lain menimpali, “Begitu pula denganku. Selain nyaman, rumahku juga sangat mewah. Maka aku akan berusaha keras menjaganya agar tetap indah untuk kutinggali.”

Lalu, kukatakan pada mereka, “Aku memang tak bisa bilang bahwa rumahku indah, apalagi mewah. Bahkan, rumahku sering terserang gempa, itulah yang membuatku beberapa kali ingin pergi darinya. Yang bisa kupastikan pada kalian hanyalah bahwa rumahku ini menyenangkan. Dan hal-hal menyenangkan inilah yang membuatku nyaman dan bertahan. Maka, ketika suatu hari nanti aku benar-benar pergi meninggalkan rumahku karena tak kuat lagi menanggungkan gelisah sebab gempa yang sering terjadi, aku akan merindukan semua hal menyenangkan itu.”

Begitulah isi surat yang ia tulis di secarik kertas yang diikat bareng cokelat SilverQueen yang kemudian bagi ke teman-teman kantor di jam pulang. Sementara di luar hujan tengah mereda, dan sore baru saja tiba.

Sebenarnya inilah yang kemarin sempat kuhindari. Sesi perpisahan. Alasan keburu mau mengajar tidak cukup untuk membuatku menyimak situasi yang bakal terjadi. Nanti aja dong… Nggak buru-buru kan. Akhirnya bergeming dan pasrah menyimak adegan yang bakal terjadi kemudian. Terutama Mpok Nanik, yang paling lama berjuang selama masa kariernya, yang kelihatan paling nggak rela dengan kenyataan itu. Kedua mpok ini adalah seniorku, pada merekalah aku belajar banyak hal yang berhubungan dengan editing buku. Nah, kubilang juga apa. Akhinya pada tangis-tangisan. Padahal kan masih bisa ketemuan lagi :|. Berhubung si Mpok ini eksistensinya cukup melekat di hati teman-teman kantorku, maka yeah.., bisa membayangkan tow?

Jarang aku menemukan teman kerja yang gokil dan bisa sejiwa. Di kantor, kami seperti keluarga. Barangkali karena memiliki nasib sama.Salah satunya adalah si Mpok ini. Kebutulan Mpok Tanti adalah satu-satunya editor yang mejanya paling dekat denganku. Dia juga teman keluyuranku. Oleh karenanya denganya pula aku sering share kegalauan dan saling menyemangati. Namanya juga teman sepergalauan.

Terutama persoalan buku. Kebetulan karena penerbit tempat kami bekerja jenisnya indie, maka kami pun sering, bahkan selalu, menemukan buku-buku yang “helloo” banget segala aspeknya. Intinya nggak sesuai dengan passion dan visi misi kami di bidang literature. Maka wajar tatkala menemukan buku berkualitas terbitan penerbit mayor, tak habis kami jadi terpesona. Dan banyak kami obrolkan. Nah, sebagai teman sebangkunya, saya paham mengapa seorang editor bisa tidak betah dengan bidang yang sedang dikerjakannya. Bacaan dan peristiwa-peristiwa di balik proses editing punya potensi merusak sesuatu yang mestinya berkembang positif. Peristiwa resign bisa jadi momen kebebasan. Aku masih ingat betapa cerianya ketika ia menerima surat kelulusan (baca: surat pengalaman kerja) kemarin hari.

Tapi mulai besok, bangku sebelahku kosong…

Yeah, mestinya kita semua bisa mengakali kondisi. Cara paling mungkin untuk tetap bertemu bisa teman-teman yang pamit resign adalah dengan berhutang kepadanya dan membuatnya berhutang juga pada kita, haha. Yang kumaksud di sini adalah buku. Semula bukan hal yang disengaja sih, sebab kesibukan yang berdesakan di bulan Desember kemarin, akhirnya buku karya Prie GS yang berjudul Mendadak Haji itu pun belum juga selesai kubaca. Buku yang kupinjam dari si Mpok ini adalah salah satu yang membuatku terpesona.

Nah, seperti ini ulasan singkatnya, biar si Mpok percaya bukunya benar-benar kubaca 😀

Membaca buku ini seperti menyimak catatan perjalanan. Yang sudah tahu kiprah Prie GS pasti sudah memahami bagaimana gaya bahasa dan cara berbicara si bapak ini di depan forum. Santai, sering diselingi parodi dan ironi, namun isinya mendalam. Begitu juga ketika beliau menulis.

Membaca buku ini, rasanya seperti diajak menelusuri dan memahami ibadah haji yang sesungguhnya. Haji yang berarti tidak sekadar status, malinkan ibadah haji dalam arti sebenarnya. Dari persiapan, kenyataan menyangkut birokrasi yang terjadi di lapangan, perjalanan, hingga sampai pada makna secara makro dan mikro. Seperti bila kita sedang membaca buku harian seseorang. Selain catatan pengalaman berharga, ada juga peristiwa yang kadang membuatku gemas, tertawa, dan kadang memaklumi. Cuplikan yang kutemukan di awal-awal buku ini pun mampu memberiku wawasan yang berharga. Buku ini sesungguhnya memuat dengan padat hal-hal filosofi, religius, sosial, budaya, hingga hal-hal bersifat spiritual. Bisa juga disimpulkan, bahwa haji yang sebenarnya adalah perjalanan menuju Tuhan.

Pada bab-bab awal pun sempat kutemukan cuplikan catatan perjalana Prie GS yang dekat dengan narasi hidup kita sehari-hari.

“….Cinta secara hormonal adalah dorongan untuk bergaul kepada orang yang lebih ganteng, lebih cantik, dan lebih kaya. Namun, dorongan spiritual mendorong saya untuk mencari teman yang lebih pintar, lebih tua, lebih bijak, dan akhirnya lebih spirital. Prosedur cinta ini pula yang menarik saya menuju Tuhan….”

Yang galau sedang asmara, bisa juga mengaplikasikannya =))

Beberapa hal yang kutangkap di buku ini, pertama adalah betapa berhaji adalah tentang kesiapan hati.
Kedua, kesiapan fisik dan finansial tentu saja.
Ketiga, pengetahuan tentang daftar prosedur yang harus dijalani dan hambatan yang mungkin terjadi.
Keempat, persetan dengan pemerintah dan politikus yang berhaji tapi korupsi. Nggak mungkin perjalanan se”suci” itu justru mendorong seseorang untuk jadi maling setelah kembali ke tanah air.
Oh maaf, malah jadi ngomel-ngomel 😐

Karena aku tidak terbiasa mereview buku bertema religi dan takut malah jadi rusak maknanya, maka biarlah kuulas seperlunya saja.
Intinya, buku ini recommended bagi mereka yang hendak berhaji, menyukai bacaan menarik yang ringan namun spiritual, juga cocok untuk yang ingin sembuh dari kekacauan hidup akibat rutinitas membaca naskah acakadul.

Dan bagiku yang sudah jarang sekali lagi baca buku-buku bertema agama, buku ini cukup keren dan religius tapi nggak kelihatan sekaku buku-buku bertema agama lainnya.
Kelak aku akan membelinya juga supaya orang-orang terdekatku bisa membacanya juga.

….
Kembali ke perisitawa resign. Kita harus tetap bahagia dengan apa pun pilihan yang kita jalani. Apalagi demi memperbaiki hidup.

Semoga sukses untuk kita semua.^^

IMG-20131116-WA0006

temen-temen kantor 2012: ketika anggotanya masih cukup utuh :p

temen-temen kantor 2012: ketika anggotanya masih cukup utuh :p

 

Keperempuanan dan Skripsiku

Sebetulnya aku sendiri sudah pernah menulis perihal skripsi secara detail, sampai pada akhir yang dramatis ketika memperjuangkan kelulusan itu. Mungkin di blog sebelum ini dan juga di blog ini. Aku terbiasa menulis peristiwa penting dalam hidup karena hanya ingin kutitipkan semua itu pada kertas dan masa lalu saja, tidak perlu lagi dibahas. Tapi baiklah, meskipun telat, demi komitmen memenuhi tugas Komunitas Penamerah tercinta, aku akan mengingatnya sebentar. Maaf, bila isinya mbulet.

Saat itu aku masih jadi mahasiswi labil yang bosan kuliah di tahun ketiga. Karakter dan cara berpikirku waktu itu sedikit kelaki-lakian, atau sangat “feminis”—wanita dengan obsesi kesetaraan gender, dan saat itu juga aku sedang asyik-asyiknya belajar banyak hal, kerja, organisasi, dan cenderung anti dengan pernikahan, juga yeah… enggan dengan laki-laki. Seingatku seperti itu. Maksudku, selama mereka tak menghargai wanita, maka wanita tak harus menghargai mereka.

Waktu itu aku berpikir bahwa menyukai seseorang itu nggak sama dengan menikahi. Mencintai tidak bisa direncakan seperti pernikahan. Aku pernah baca cuplikan ini di sebuah buku dan menyetujuinya.

Menikah di negara berkembang bagiku sama saja dengan bunuh diri karena bakal tidak sesuai dengan nilai-nilai feminisme (parah banget ya :|). Sedangkan ide-ide feminisme terlihat lebih riil daripada pernikahan itu sendiri, maka skripsi pun kuperjuangkan yang bertema perempuan, sesuai dengan passion-ku dan juga dilatarbelakangi sedikit rasa dendam dengan sejarah patriakhat Indonesia, terutama yang dimulai pada zaman feodalisme dan kolonialisme. Saat itu novel yang kukaji kebetulan adalah novel favorit, Bumi Manusia karya Pramoedya AT. Sejak draft skripsi itu terlintas di pikiran—di tahun ketiga kuliah—akhirnya skripsi pun selesai setahun kemudiannya. Tentunya setelah melewati masa-masa bertarung dengan banyak hal, riset sana-sini, dan gonta-ganti judul.

Meskipun rasanya di negara-negara berkembang seperti Indonesia memang tak banyak yang ingin tahu atau peduli perihal emansipasi, aku tetap tertarik dengan perihal feminisme dan perjuangan menyetarakan, meskipun dengan caraku sendiri. Dan saat itu, dengan keringat, pikiran, air mata darah (kalau ini sih lebay) akhirnya berhasil merampungkan 103 halaman skripsi bertema perempuan, memang tidak sebanyak yang aku rencanakan.

Yeah, tak banyak juga yang ingin kuingat di tahun-tahun menyusun skripsi itu, tapi setidaknya aku mengerti dua hal: betapa pentingya menjadi perempuan secara penuh, dan betapa berantakannya skripsiku dulu. Kenapa nggak jadi editor dari dulu aja sih? -____-. Baiklah, semua itu ada waktunya sendiri-sendiri.

Hal yang berat waktu itu adalah melawan sifatku sendiri yang ingin “segalanya harus sempurna” karena setelah dijalani, ternyata mudah. Huft. Rasanya aku kurang maksimal mengerjakan skripsi, sekalipun dapat nilai A. Pendadaran juga berlangsung lancar. Segalanya mudah dan tak sesulit yang dibayangkan. Atau memang karena semua itu sudah sangat lama dan sudah selesai…? Skripsi itu mudah. Yang tidak mudah cuma birokrasi kampusnya. Sialan. Ya sudahlah.

Malam ini usai bongkar-bongkar skripsi, pikiranku jadi melayang-layang. Teori Naomi Wolf sampai Friedrich Engels berputar-putar di ingatanku. Yeah, kesetaraan gender masih jadi hal sensitif dan penting di benakku. Hanya saja sekarang sudah agak berdamai dengan nilai-nilai pernikahan. Rasa dendamku dengan zaman feodal dan kolonial terkait dengan perempuan pun terobati dengan kehidupan di sekitarku, terutama keluarga. Demi hidup normal, terkadang kita memang harus menutup mata dari hal-hal yang buruk dan kekhawatiran yang tidak-tidak.

Dan kini, aku berpikir, mencintai sebenarnya bisa sejalan dengan rencana pernikahan di masa depan. Sekalipun itu tak mudah.

Yeah, kau tahu, berdamai dengan ideologi pernikahan adalah perjuangan yang sungguh merepotkan, seperti memilih agama. Itu butuh waktu dan perenungan yang amat panjang. Yang rupanya jauh lebih rumit daripada garap skripsi (haha, jadi curhat deh…)

 

 

Berikut adalah beberapa potongan halaman skripsiku waktu itu.

bagian abstraksi.

bagian abstraksi.

waktu itu, masih berkeyakinan kalau "stereotip" adalah salah satu penyebab deskriminasi terhadap perempuan.

waktu itu, masih berkeyakinan kalau “stereotip” adalah salah satu penyebab deskriminasi terhadap perempuan.

sepenggal tentang keadaan perempuan di zaman feodal dan kolonial

sepenggal tentang keadaan perempuan di zaman feodal dan kolonial

wanita banyak menjadi "objek" di beberapa karya sastra lainnya.

wanita banyak menjadi “objek” di beberapa karya sastra lainnya. Baik secara minor maupun mayor

tentang diskriminasi terhadap permepuan di masyarakat

tentang diskriminasi terhadap perempuan di masyarakat, secara umum

ya ampun, kok bisa nulis kayak gitu ya dulu? =))

ya ampun, kok bisa nulis kayak gitu ya dulu? =)) Oh tentu saja dong, para bule zaman kolonial juga punya sejarah diskriminasi yang parah di wilayah jajahannya.

novel "Bumi Manusia" cukup menyedihkan bagiku :(

novel “Bumi Manusia” cukup menyedihkan bagiku 😦

Halaman "motto", quote Mahatma Gandhi paling kusuka waktu itu. Yeah, sebab substansi dari feminisme tetap saja ke arah "memanusiakan" , terutama terhadap perempuan

Halaman “motto”, quote Mahatma Gandhi paling kusuka waktu itu.
Yeah, sebab substansi dari feminisme tetap saja ke arah “memanusiakan” , terutama terhadap perempuan

*Untuk memenuhi tugas Komunitas Penamerah

Yang Kekurangan dan Menginspirasi

Sering kan kita menjumpai kondisi di mana kita berusaha keras menjadi yang si kekasih inginkan. Kita harus seperti ini, membuang baju yang ini, memakai yang seperti ini, harus melepas pekerjaan yang itu, kehilangan teman-teman, harus ngorbanin hari libur, waktu, privasi, impian, hobi, keluarga, usia, dan banyak lagi, tapi kita nggak jadi diri sendiri–hanya demi orang yang kita cinta apa adanya tetapi belum tentu mencintai kita apa adanya. Di situlah kadang letak kelemahan dan kesalahan para perempuan. Terutama yang terlanjur lahir dan hidup di dalam kebudayaan feodal-patriakhat ala Jawa. (Aslinya aku masih selalu mencurigai budayaku sendiri)

Kita nggak boleh buta. Sering kali yang demikian, menunjukkan bahwa: pertama, si lelaki mencintai dirinya sendiri lebih dari apa pun sehingga kita nggak boleh mengusik egonya yang satu itu. Kedua dia punya bayangan perempuan idaman di kepalanya, yang sebenarnya bukan diri kita. Sehingga kita hanya jadi boneka barbie-nya yang harus mau “didandani” sesuai imajinasinya. Lama-lama kita jadi nggak apa adanya. Dengan cara demikian, perempuan nggak bisa jadi dirinya sendiri. Memangnya bisa menghabiskan hidup bersama seorang pria yang nggak tulus dan di samping itu, dan kita akan terus dituntut berpura-pura jadi orang lain?

Ke depannya perempuan sendiri yang kesusahan, karena toh yang namanya kekurangan itu manusiawi, sedangkan kita hanya dicintai karena syarat-syarat yang dipikirakan si lelaki tadi, misalnya. Barangkali kita sedang diciptakannya serupa mantan. Nggak tulus banget. Tapi itu banyak terjadi di sekeliling kita. Di zaman modern ini.

Sementara kesetaraan yang ideal selalu akan menuntut: “Bila kamu mau mengubah aku, kamu juga harus rela aku ubah.” Demikianlah supaya kehidupan berjalan adil. Sekalipun tentu saja, itu bukan cara hidup bersama yang nge-soul.
Sebab yang benar adalah hidup dengan tanpa peduli soal perbedaan, kekurangan, dan juga pandangan orang lain, kecuali hanya ingin tetap bersama, saling menerima, dan melengkapi, sebelum ajal menjemput. Cukup.

Perempuan yang terlahir cacat, mendapatkan yang tulus ingin bersama dia tanpa memandang kekurangan–hal yang barangkali begitu langka bagi para perempuan yang normal. Kedua, sebagai orang berfisik normal aku merasa tertampar, selama ini apa yang sudah aku lakukan untuk dunia?

Artikel tentang Mbak Putri Herlina berhasil menginspirasiku pagi ini. 🙂

Salah satu cuplikan artikel tentang Mbak Putri ketika ia ditawari tangan buatan:

Snapshot_2013-10-14_091216

Berbahagialah mereka yang diterima apa adanya, dicintai dengan tulus tanpa pretensi.
Meskipun seringkali yang bisa demikian hanya orang tua terhadap anak-anaknya.

SIM dan Pelajaran Hidup

Kaget dan merasa melakukan kesalahan besar, ketika sadar satu-satunya kartu paling penting bagi hidupku raib dari dompet. Surat Izin Mengemudi-ku. Sedih karena SIM itulah yang nyaris tidak pernah digunakan dibanding kartu-kartu yang lain. Karena ia tak pernah berfungsi itulah, maka ia disimpan di tempat aman, kemudian tidak lagi diambil (tidak juga ditengok). Sudah hampir 3 tahun ini (alhamdulillah) aku bahkan tak pernah ditilang atau berhubungan dengan polisi. Itu tandanya benda itu tidak pernah keluar ‘rumah’. Juga jarang sekali berada jauh dari sana. Sejak beli dompet baru setahun yang lalu pun, SIM sudah mendapat tempat paling aman dari kesibukan tangan.

Tapi hari ini, aku merasa kecolongan. Entah di mana tepatnya benda itu kini berada, sejak kapan, dan dengan cara bagaimaan ia hilang. Heran dan nyelek bahwa kenyataannya, aku baru sadar sore ini SIM-ku tak berada di sana. Ah, rasanya jadi malas ke mana-mana. Barangkali karena SIM memiliki satu tempat khusus yang aman dan tak pernah dipegang itu, maka ia jadi luput dari perhatian. Sementara selama ini aku begitu percaya ia ada di tempatnya dan baik-baik saja. Oke, aku mengerti ini: hal yang paling aman dan membuat kita merasa tenang-tenang saja, rupanya bisa jadi sesuatu yang paling mungkin hilang…

Maka waspadalah selalu pada hal-hal yang kelihatan aman.

Noted. Itu pelajaran penting.

Oh yeah, sekarang hari Jumat. Dan ini memang bukan hariku T_T

Pasar Tradisional ala Pedesaan

Jangan heran bila berlibur lama di Bantul, Gunung Kidul, atau kabupaten lain di Yogyakarta. Terutama bila kita ingin membeli sesuatu di pasar tradisional. Yeah, nggak mungkin ada semacam minimarket modern di kawasan pedesaan. Seperti halnya desa-desa lain yang masih tergantung peradaban Jawa, pasar tradisional di pedesaan akan berbeda dengan yang di kotamadya atau wilayah kota kabupaten. Mereka masih mengikuti sistem pasaran atau penanggalan ala jawa yang sepekannya terdiri dari 5 hari. Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon.

Seperti halnya di Mangiran, tempat orang tuaku tinggal bila akhir pekan dan merupakan desa kelahiran Ibu. Mangiran berada di Kecamatan Caturhardjo, masih cukup dekat dengan alam dan masyarakat tradisional. Bila libur tiba, pagi hari aku sering mengantar Ibu ke pasar tradisional untuk membeli bahan makanan, namun lokasinya akan berbeda-beda. Mengapa demikian?

Di Mangiran itu sendiri, ada tiga lokasi pasar terdekat yang bisa ditempuh. Pasar Mangiran, Gumulan, dan Surobayan yang letaknya di Desa Sanden. Ketiganya akan ramai sesuai jatah “pasaran” itu sendiri. Pasar Mangiran akan ramai di pasaran Pahing dan Wage. Pasar Gumulan disediakan untuk pasaran Legi, sedangkan Pasar Suroboyan untuk pasaran Kliwon dan Pon. ketiganya yang paling dekat dengan rumah. Artinya bila penanggalan Jawa menunjukkan pasaran Legi, jangan pernah iseng ke Surobayan, sebab kau hanya akan menemukan bangunan tua dengan pilar-pilar yang sepi tanpa tanda-tanda kehidupan.

Bentuk pasar di sana juga sedikit berbeda dengan pasar-pasar tradisional di kota. Bedanya tidak ada konsep kios yang membuat penjualnya menetap dan berjualan di sana sepanjang hidupnya. Mereka hanya akan saling mengerti posisi nyaman masing-masing ketika menggelar bersama dagangannya. Baik pedagang maupun pembeli semuanya nomaden. Dan mereka juga sudah hafal di luar kepala harus ke pasar mana setiap harinya. Fenomena pasar nomaden seperti ini juga kujumpai waktu KKN di Panggang Gunung Kidul tahun 2009 lalu, di mana kami sering kecelik dan harus tanya sana-sini lokasi pasar setiap hari, sampai akhirnya hafal dengan sendirinya.

“Apa nggak capek ya, Bu, pindah-pindah gitu?” tanyaku pada Ibu di perjalanan pulang dari Pasar Surobayan.

“Ya enggak. Udah jadi kebiasaan.”

Aku manggut-manggut. Yeah, kalau emang udah tradisi mau bagaimana lagi.

Aku pikir, barangkali itu bagian dari feng shui ala Jawa, di mana orang akan menentukan waktu dan lokasi-lokasi tertentu untuk kegiatan ekonomi, seperti fenomena pasar ini. Mungkin saja kegiatan pindah lokasi bisa juga membuka peluang rezeki dan energi baru. Atau sebetulnya, karena penanggalan Jawa selain dipengaruhi agama Hindu-Budha, juga dipengaruhi agama Islam, makanya sistem pasar pun mesti hijrah, untuk memperingati (menyiratkan pesan) bahwa Rasul dulu suka hijrah (pindah). Tapi hijrah itu sendiri adalah tradisi Islam.

Pernah aku baca di beberapa situs, bahwa sistem penanggalan Jawa itu aslinya lebih rumit dan lengkap dari yang kita kira. Kerumitan penanggalan juga terjadi pada tradisi-tradisi dan peradaban kuno lainnya, yang konon tidak sembarangan ditentukan. Untuk menentukan masa tanam dan panen pun, masyarakat Jawa juga menggunakan sistem penanggalan berbeda, yaitu pranata mangsa. Belum lagi bila ingin menentukan hari pernikahan atau mendirikan bangunan baru. Segalanya mesti disesuaikan dengan karakter alam. Dan tentu tidak mudah dipahami oleh pemikiran ala modern.

Kembali ke pasar. Menarik memang. Dan yang menarik dari pasar tidak hanya sistemnya, tapi juga segala hal yang murni. Nuansa guyup, keriuhan yang manusiawi, sayur dan buah yang organik, dan terutama makanan tradisionalnya–yang nggak akan mungkin dijumpai di pasar modern.

@googleimage

@googleimage

#5

Kali ini tidak tentang pagi. Tapi malam, saat-saat menjelang aku (boleh) salat setelah seminggu tidak salat. Negara menetapkan 1 ramadhan jatuh besok hari. Tanggal 10. Tapi sebab kampungku mayoritas penganut Muhammadiyah, juga mayoritas daerah di kota Jogja, maka hari ini sudah banyak yang memulai. Akhir-akhir ini di negeriku masih begini keadaannya, masalah 1 Ramadhan bisa jadi polemik dan bahan perbincangan yang tidak selesai. Maklum, pluralitas masih melekat di masyarakatnya. Bahkan sekalipun dalam bendara agama yang sama. Menurutku keberagaman mestinya tidak harus ditunjukkan dengan perbedaan yang begitu jurang. Bukankah agama itu sendiri ada untuk menyatukan umat dan malah lebih bisa disebut “cara” memahami?

Tapi gambaran suatu agama dilihat dari, contohnya, masjid di kampungku. Setiap Ramadhan berarti masjid akan ramai di waktu salat dan terutama tarawih. Gedung itu telah dibersihkan jauh-jauh hari. Kepanitian dibentuk sematang mungkin dengan persiapan yang tidak sederhana. Anak-anak kecil yang akan ikut TPA rutin bahkan akan menyadari bahwa bulan ini “beda”. Sajadah digelar lebih lebar. Disediakan space luas di sana karena jamaah akan lebih banyak dari bulan-bulan biasanya. Di dekat pintunya akan dipasang papan besar, yang berisi jadwal takjilan sampai nama penceramah dan imam tarawih hingga H-1 lebaran—di mana setiap orang bakal bisa membacanya. Dan orang akan tahu kapan tidak perlu berangkat tarawih bila pengisi-pengisi tarawih tertentu terkenal paling lama gerakan salat dan durasi berdoanya. Akan ada banyak kegiatan yang pusatnya di masjid. Dengan jenis kegiatan yang barangkali juga sama dari tahun ke tahun.

Tapi aku, mereka, beberapa yang lainnya, barangkali akan bertanya, apa yang akan berkembang dan bertambah di bulan suci, sebulan ke depan? Apa yang sebetulnya bakal mengalami kemajuan atau semacam keberhasilan? Apakah Ramadhan benar-benar akan memiliki pengaruh nantinya untuk kehidupan umat secara keseluruhan, atau bagi setiap individunya?

Ambil contoh kecil: isi ceramah. Dengan tema yang juga sama dari tahun ke tahun. Dengan isi yang sebetulnya stagnan dari waktu ke waktu. Apakah ceramah yang demikian bisa jadi salah satu faktor perubahan umat di kala Ramadahan berlangsung?—minimal inspirasi? Semoga. Tapi baiklah, curhatku belum selesai.

Salat itu sendrii sudah merupakan ritual monoton bila dilihat dari segi gerakan, dan urusan kekhusyukan tentunya milik perseorangan. Namun isi ceramahnya, dengan orang bisa menebak isinya, lalu apa yang bakal mengalami kemajuan di benak jamaah tersebut? Seperti malam ini.
Seperti biasa jamaah putri ada di lantai bawah di hari-hari awal ramadahan. Karena masih ada semangat yang cukup membara. Namun ketika ceramah dilangsungkan, sebagian jamaah terlihat sibuk ngbrol dengan sampingnya, sebagian ada yang mengantuk, barangkali di sudut lain ada yang usil membawa smart phone dan setelah itu sibuk di dunianya, kujamin sebagian kecil saja yang mendengar ceramah. Dan yang mendengar pun belum tentu benar-benar menyimak karena hal puasa dan hukum-hukumnya sudah setiap tahun dibahas, di masjid, di pengajian, di televisi, di radio, di mana pun. Mereka menghapalnya di luar kepala.

Jika sudah begitu, tiba-tiba telintas ide, andai nggak terlalu ekstrem, ingin rasanya membawa buku ke masjid, selain bisa melaksanakan ibadah Isya dan Tarawih berjamaah, tetep bisa membaca hal-hal baru yang kubutuhkan atas nama keingintahuanku akan ilmu. Belajar bisa berbagai macam bukan? Walapun tentu tidak bisa sembarang cara. Sekalipun, belajar juga termasuk ibadah di bulan puasa.

Memang sebetulnya tidak lazim demikian, bagimana pun juga, kita tidak bisa memposisikan penceramah sebagai alasan kebosanan beribadah atau terhentinya pergerakan keimanan. Mereka para penceramah, atau imam, ustadz, atau siapa pun yang mengisi tarawih, adalah orang-orang yang kebetulan diserahi tanggung jawab, yang juga telah ratusan kali dikerjakan. Dan juga mungkin terbesit rasa jenuh, atau malah sudah pengin resign tapi terlanjur dicap ustadz. Haha, semoga ini cuma ada dalam imaji usilku.

Yeah, memang beginilah nuansa di masjidku. Bentuk kecil dari kehidupan beragama. Namun memang benar sih, yang paling penting dari semua ritual ini adalah bagaimana hati kita bisa berkomunikasi dengan Tuhan dan dengan kondisi yang barangkali telah mengalami perubahan dari tahun sebelummya. Aku yakin Tuhan sendiri mencintai perubahan yang dijalani umatnya, perubahan yang tidak memburuk tentunya. Tapi bagaimana bisa dirasakan, bila acara tadarus pasca tarawih saja masih berupa membaca Alquran (dengan target kolektif para pembacanya: harus habis 30 juz sampai Ramadahn usai), tapi tidak membaca terjemahan atau tafsirannya?

Aku sempat khawatir tentang itu, tapi tidak akan bawa kekhawatairan nggak penting ini di hari-hari selanjutnya. Takut mubadzir. Berharap segalanya akan berlangsung dengan baik dan berhasil saja.

Hm… Mengingat Ramadhan mengingat juga acara tafsir Al-Misbah Ustadz M. Quraish Shihab yang entah apakah masih mengisi acara sahur di salah satu stasiun televisi. (Sebandel-bandelnya aku, masih sukalah dengerin ceramah. Suka pilih-pilih juga). Ingat Ramadhan ingat juga bahwa konon doa-doa di bulan ini diberkahi, juga amalan-amalan yang lainnya. (tentang “amalan”, pastinya ada sisi filosofis di balik istilah itu).
Ingat Ramadhan, mengingat juga pembicaraan beberapa orang yang pernah kusimak belakangan. Apakah agama cukup dilaksanakan dengan pikiran, dengan pencarian kebenaran hukum-hukum, dengan patokan-patokan yang umat terdahulu terapkan? Atau dengan ke-arab-an?

Apakah islam harus selalu arab?
Apakah islam harus syariat?
Apakah puasa harus islam?
Apakah salah, bila beragama juga membutuhkan imaji dan perasaan?
Dan untuk itulah, aku butuh mencari. I’m Serious.

Tepi: 8

Ingin kusebut ini sebagai Rumah Rasa:

 

Aku bahagia menghabiskan sisa hari Minggu kemarin itu. Tak perlu menjabarkan seperti apa hubungan kita yang sebenarnya saat ini selain berteman. Tidak semua hubungan mesti terdeskripsikan bukan?

Bukan hanya tentang caramu membuat hidupku terkejut bahagia belakangan ini, bukan hanya cara kamu mengajak menikmati jagung bakar sambil memikmati pantai sore hari dan makan malam sambil ngobrol situasi negeri dengan cara pandangmu yang berbeda dan sesekali mengisinya dengan canda. Bukan hanya caramu mengakhiri pertemuan dengan obrolan soal film dan keluarga… sekalipun semua itu kurekam baik-baik dalam ingatan. Melengkapi sepiku sejak berbulan-bulan lamanya…
Yah, aku memang selalu suka menyimak cerita-cerita hidupmu, pengalaman berkarirmu, masa kecilmu, hal-hal baru yang kau jumpai, atau visi misimu tentang masa depan…

Banyak yang kutemukan darimu selalu mengisi pemikiran dan hidupku… kamu seperti mimpiku waktu itu yang kembali dengan tiba-tiba di masa sekarang…

Jangan khawatir, aku tetap bahagia sekalipun tidak ada itu semua…

Sebab, melihatmu banyak tersenyum kemarin hari cukup membuat perempuan sepertiku merasa sempurna.

Terima kasih…

11 a.m, tanpa kopi, kelupaan bawa HP, bersibuk ria di kantor, dan menepi…

Berguru pada Ranah Baru: Karya Bertema Dunia Persilatan

Sejenak kupandangi kawan-kawan akrabku: buku-buku, yang tertumpuk begitu saja tanpa bisa kubuka-buka satu per satu seperti dulu, sementara kulihat pekerjaan semakin menyita waktu.

Lalu akhirnya kutulis beberapa hal ini:

Pagi ini kusadari, rupanya memang benar kebiasaan membuat skema dan coret-coret intisari buku (atau hasil pemikiran apa pun) berasal dari ayahku. Ayahku mencintai buku-buku sejak muda dulu. Khususnya kisah-kisah dunia persilatan ala Jawa, seperti karya SH Mintardja, penulis serial silat yang mendapat penghargaan Sang Hyang Kamahayanikan Award 2012 kemarin lantaran telah menulis 400 buku yang berdekatan dengan sastra, sejarah, dan budaya negeri.

Penuh semangat, pagi tadi beliau bercerita tentang skema itu—jumlahnya berlembar-lembar sampai bikin mataku melongo, terlebih ketika beliau berencana menjadikannya buku (pantas akhir-akhir ini sering terlihat menyendiri di kamar). Bila soal karya-karya sejenis itu, ayahku hafal betul penokohan, alur, nama-nama jurus, latar peristiwa, sampai keterhubungannya. Memang sih sudah lama juga kuamati beliau cenderung konsisten membaca karya-karya bertema serjenisnya—hanya saja belum pernah punya semacam teman sehobi (anggota keluarga/komunitas) untuk diskusi cerita dari bacaan fovorit yang serupa.

Rencananya buku itu mungkin seperti esai, atau ulasan, aku belum tahu persis. Tapi jarang-jarang bapakku terbuka soal keinginannya. Itulah yang membuatku pagi ini, akhirnya, membuat resolusi dadakan. Sekalipun baru draft nonriil yang nangkring seharian di kepala.

Mencari buku-buku SH Mintardja di era sekarang cukup sulit—sudah menjadi rahasia umum. Padahal sudah coba kucari juga sejak tahun 2010 kemarin. Barangkali sudah langka. Mungkin juga akan repot bila mengumpulkan dari koran karena naskah itu semula serial yang diposting di pojok koran kedaulatan rakyat. Yang punya hanya mereka yang sejak dulu kala cukup memiliki dana untuk mengoleksinya. Itu pun mungkin era sekarang buku-buku itu gak bisa dibeli begitu saja.

Tapi eh.. lagi-lagi alam semesta mendukung mimpi… aku pun akhirnya menemukan beberapa situs di mana naskah-naskah itu bisa di-download.
Rupanya sampai sekarang, para penggemarnya (di mana pun mereka berada) tidak tinggal diam. Buktinya blognya pun bertebaran di dunia maya tak cuma satu saja, pembaca tak perlu pusing memburu buku-bukunya yang langka itu, karena di web sudah ada. Aku juga memasang salah satu linknya di kolom blog tetangga. Barangkali pembaca ingin menengok juga karya-karya SH Mintardja :p. dan sebagai informasi, profil SH Mintardja dapat dilihat di alamat ini

Di samping itu, sepenggal cuplikan cerita yang disampaikan ayahku pun sudah cukup membuatku ikut-ikutan tertarik.

Tiba-tiba aku merasa sedang ditemukan dengan tugas baru yang menguji keprofesionalanku sendiri, yang kurasa merupakan tugas yang sebenarnya. Tanpa ada embel-embel harapan terhadap gaji atau sejenisnya (mengingat sejak kerja, aku sudah tidak minta subsidi lagi, kecuali orang tuaku yang tiba-tiba memberinya). Yeah, tidak lain tidak bukan adalah menjadi editor ayahku sendiri. Editor dalam arti sebenarnya, sesuai standar penerbit konvensional, sekalipun entah akan diajukan kemana atau diterbitkan di mana itu soal nanti. Terdengar hal yang tidak mudah. Tapi di tengah ide besar Ayah, akulah yang paling dekat dengan garis pelaksanaan. Tapi entah, apakah nanti aku mampu…

Ah, omong-omong mengapa bisa aku melulu mengincar alur filsafat di karya-karya barat yang hasil terjemahannya seringkali amburadul itu, sementara di negeri sendiri, ada mahakarya yang isinya gak hanya soal filsafat, tapi juga sejarah, budaya, dan spiritual (lebih luas lagi)… mereka juga patut diperhitungakan. Bagaimana tidak, aku menemukan salah satu penokohan di buku itu—seorang guru (ahli) bisa menyimpan dan menurunkan ilmunya dalam kerendahhatian yang total, namun juga menjadi teror bagi musuh paling ditakuti sekalipun. Keadiluhungan sebuah peradaban yang dikonsep dalam karya bertema dunia persilatan. Seperti di salah satu serial Nagasasra Sabuk Inten… Cuma Indonesia yang punya, orang barat tidak punya. Tapi tetaplah.. demi menambah wawasan, semuanya mesti dibaca, sebab semuanya penting.

Hm, barangkali sudah waktunya aku rehat dari setumpuk buku-buku baru yang kuborong sejak awal tahun lalu, demi membaca juga apa yang pernah dibaca ayahku. Lagipula toh akhir-akhir ini juga sedang gak mud bahas persoalan global terkini dan hal-hal baru yang terjadi belakangan. Selain menyita waktu, kabar-kabar terbaru hanya jadi menguras emosi dan pikiran tanpa kita bisa berbuat apa-apa.

Yuhu, sekilas curhat, sejak dulu aku memang selalu tertarik dengan para orang tua dan sesepuh di berbagai belahan bumi, dengan tradisi mereka akan sastra. Dari nilai-nilai lama yang seakan bertahan itu, aku menemukan apa yang disebut dengan bakat kesabaran, ketekunan, kefokusan, dan kekayaan batin. (Agak sedikit dekat dengan angan-angan pekerjaan baru akhir-akhir ini).

Mengingat bahwa orang Jawa membaca tembang dan sastra ala semiotikanya, orang Bali menulis sastra di daun lontar, orang Gorontalo menulis puisi sastra lisan yang bernama Tanggomo, belum lagi folklor yang bila se-Indonesia dikumpulkan, mungkin bakal setebal 2 kali naskah Centhini (belum tentu cukup), dan masih banyak lagi sampai pikiranku jadi melayang-layang. Masyarakat tradisional kita juga dekat dengan tradisi naskah dan teks (tiba-tiba inget matkul Filologi). Itu artinya, tidak pernah ada zaman yang benar-benar “ketinggalan”. Sekalipun globalisasi berjalan dengan cukup pecicilan. Tapi kearifan dan ajaran moral berdiam dalam setiap sudut bumi dan nyaris bertahan, bukankah begitu…?

Setiap negara punya keunikan. Bila itu pun hanya dipandang dari sudut produksi karya. Serial bergenre dunia persilatan memang hal yang biasa di kalangan sebagian masyarakat, tapi asing di zaman pop terkini. Tradisi membaca adalah tradisi yang sudah ada sejak dulu kala. Orang Jawa misalnya wajar bila rata-rata menyukai dan mengikutinya. Barangkali kecenderungan manusia tertarik pada yang bersambung dan misteri, sehingga harus diikuti.

Seperti para mbah yang mengikuti kisah-kisah wayang, atau anak-anak muda seusia kuliahan yang setia mengikuti serial kartun One Peace setiap Minggu jam 8, dan masih banyak lagi. Budaya mengikuti serial tampaknya memang fenomena unik. Apakah kegiatan itu sia-sia? Belum tentu. Jangan salah pula, orang Jepang maju seperti sekarang juga karena mempercayai dongeng-dongeng dari pujangganya. Sastra dan salah satunya adalah Kinkakuji—berpengaruh besar pada masyarakatnya. Dan masih banyak lagi kebiasaan suku lama sedunia yang tidak jauh dari “terinspirasi karya sastra”.

tapi tunggu, sejauh mana sih sebetulnya kepedulian kita?

Kita mungkin lupa, kita memiliki Tan Malaka yang tulisannya bahkan jadi referensi Lenin di masa kepemimpinannya. Belakangan aku juga menelusuri situs naskah hukum kelautan yang jadi patokan dunia, yang sudah dianggap fenomena mendunia—Juga asli Indinesia. Bila kau cukup mengenal Tan Malaka, Pramoedya, atau Soekarno, atau barangkali Gajahmada di zaman Majapahit… maka bayangkan betapa sebetulnya kita justru tak hanya setara, tapi menjadi ikon yang cukup berwibawa… hanya saja kita berada di zaman yang bukan saat itu. Hanya agak mudah silau saja dengan hal-hal yang jarang dijumpa. Atau memang seperti sedang ada yang hilang dari bangsa kita.. identitas sejatikah?

Sungguh manusia baru bisa disebut setara harga dirinya di mata bangsa lain, kalau mereka bersikap biasa-biasa saja bila melihat bangsa asing berjalan bersandingan. Bagaimana bisa disebut setara, kalau bacaan aja melulu soal terjemahan asing saja? (*tampar diri sendiri). Diam-diam bangsa asing—yang kita bangga bila bisa berfoto bersama itu—juga lagi sibuk mengincar milik kita lho.

Itulah kenapa kurasa, mata kita terlalu banyak tersihir oleh rumput di halaman tetangga, sampai lupa di bawah tanah kita tersimpan emas yang membuat ngiler bangsa tetangga. Sampai di sini, aku mentok untuk lanjut berargumen dulu, sebab lebih butuh membaca daripada menceritakan gambarannya. Sebelum menyelami lebih jauh, amat lucu bila tidak tahu seperti apa isi naskahnya.

Dan kembali ke point awal: demi profesionalitas, aku melangkah untuk menepi dulu di karya fenomenal negeri sendiri. Butuh lebih banyak belajar.

Bismillah.
Doakan saya 🙂

 

Salam dunia persilatan 🙂

gambar diambil dari google image

gambar diambil dari google image

Tepi (4)

Beberapa hari ini merasa berloncatan dalam diam. Dari satu hal ke hal lain. Perjalanan seperti halnya mengunjungi lapis dari lapis kesadaran, lalu berpindah dari rasionalitas ke dalam imaji yang begitu jauh dan luas. Sesaat kembali lagi dalam realitas, lalu terjebak lagi ke arah renungan dan hal-hal di luar kenyataan, begitu seterusnya. Beberapa kali berjarak dari diri sendiri, beberapa kali juga orang-orang di sekitarku dengan seperangkat ritmenya menarikku supaya menyadari pijakan. Secara sederhana. Sebab setiap aku berjalan jauh, saat itu juga aku merasa menciptakan jarak. Dan semakin aku berjarak, bumi seperti selalu menciptakan kerekatan.

Hei, bahkan dengan cara-cara sederhana yang tak sempat lagi terpikirkan tapi cukup melonggarkan jiwa.

Seperti biasa, ketika kuyakini hidup telah berada pada keteraturan ke arah yang terbaik, tiba-tiba kenyataan selalu datang dalam waktu yang tiba-tiba menghadirkan sekumpulan anomali. Tapi yang kulihat dunia berputar tidak selalu dalam ketepatan, kadang dalam kehancuran. Bisa dalam keabsurdan, dan sering pula dalam hal-hal yang sempat dipikirkan. Bukankah sebetulnya sederhana—kita memiliki patokan, alam juga memilikinya sendiri, Tuhan terlebih lagi. Sekalipun ketiganya sering berkaitan. Keterpisahan yang terkait.

Kita menghindari nasib, tapi menjalaninya dengan tanpa pilihan, sama halya dengan kita menghadapi pilihan tapi memilih diam dan diam-diam berharap memilih semua pilihan. Dan nasib berjalan juga dengan cara-cara yang dimiliknya.

Indah, sekaligus misteri. Bagi yang menggunakan hati dan merasa dapat menakar pun tak akan terhindar dari rahasia-Nya. Setiap hal menyimpan rahasia, begitu juga dengan rahasia yang tengah aku ceritakan ini. Tentu tak akan serta merta dipahami.

Lalu kubiarkan hal yang kulakukan keseharian berada pada kenyataan yang kujalani dan hal-hal di luar itu sebagai sahabat maya yang kucatat tanpa perlu dibagi karena hanya aku sendiri yang mengerti. Namun aku cukup lega. Hidup yang sederhana barangkali demikian: di mana pun kita berkelana dalam kesendirian, selalu ada orang-orang di dekat kita yang selalu memegang tangan—sadar atau tidak—untuk kita merasa kembali….

Tapi rasanya aku bukan pejalan. Jika pejalan dikatakan seperti pada puisi Kuntowijoyo dengan: rumah para pejalan tidak berada di sini, melainkan di dasar mimpi. Sebab aku berumah di sini juga dalam mimpi. Dalam keduanya, atau malah bukan dua-duanya.
Aku hanya tinggal melanjutkan jalan, dan segalanya memang sudah berada di lapis kesadaran yang terbaca, pada hidup yang tak lagi seabsurd remaja.

 

macro-photography-art-gallery-6063