Omurice

Janjian masak sama temen memang mengasyikan. Sejak Mpok Tanti mengirimkan foto omurice dan kemudian ngajak janjian masak akhir pekan di rumah masing-masing, saya jadi penasaran dengan salah satu makanan ini. Intinya, saya jadi semangat masak.

Omurice kepanjangan dari omelette rice. Maksudnya adalah telur dadar isi nasi goreng. Makanan ini rupanya berasal dari negeri sakura. Menurut berbagai sumber, omurice pertama kali diciptakan di sebuah restoran yang bernama Hokkyokusei yang terletak di Namba, Osaka. Restoran ini membuat omurice pertama kali khusus untuk pengunjung restoran yang terkena gangguan pencernaan. Namun ada pula yang mengatakan omurice diciptakan lebih dulu di restoran Renga-tei yang terletak di Ginza, Tokyo. Entah benar yang mana, yang jelas sekarang makanan ini menjadi populer dengan bentuk yang beragam dan bisa dimasak sendiri dengan variasi bahan sesuai selera.

Omong-omong soal omurice, Indonesia juga punya jenis kuliner yang masih family, lho. Namanya semarmendem. Nasi yang sama-sama dibalut dadar telur. Bedanya, bila omurice lebih besar dan berisi nasi goreng, semarmendem berisi lemper (nasi ketan isi daging). Bila semarmendem biasanya dikonsumsi sebagai camilan, omurice adalah makanan utama. Bila omurice ini telur dadarnya murni, semarmendem pakai adonan telur yang dicampur tepung. Begitulah.

Ternyata membuat omurice cukup simpel dan bisa menggunakan bahan seadanya.

Bahan kulit

  • Telur
  • Garam
  • Merica

Bahan nasi goreng (untuk satu porsi, untuk diri saya sendiri yang lagi nggak puasa :D)

  • nasi 1 piring
  • 1 buah cabe rawit
  • 2 buah bawang merah
  • 2 buah bawang putih
  • 1 buah sosis sapi
  • 1 buah wortel ukuran kecil, potong dadu
  • lada bubuk secukunya
  • pala bubuk secukupnya
  • garam secukupnya
  • 1 sdm margarin
  • 1 sdm kecap manis
  • 1 buah daun bawang
  • 2 sdm minyak goreng

Di resep ini saya masak telurnya dulu. Sebetulnya sesuai tekniknya sih nasi dulu. Tapi karena saya sulit membayangkan bagaimana melipatnya kalau sudah jadi, makanya milih yang lebih mudah dulu :D.

Caranya:

Kulit

Seperti bikin telur dadar pada umumnya, kocok telur, tambahkan merica bubuk dan garam, goreng di atas penggorengan yang sudah diolesi margarin. Masak dengan api kecil. Saya menggunakan teflon supaya bisa lebih lebar dan merata permukaannya.

Setelah matang, angkat, letakkan di atas piring.

Isi

  • Pertama, panaskan minyak goreng dan margarin dengan api kecil.
  • Cincang bumbu bawang merah dan bawang putih. Iris tipis cabe rawit. Potong-potong daun bawang kira-kira 1 cm-an dan sosis.
  • Tumis bumbu tersebut hingga harum.
  • Masukkan wortelnya dan beri sedikit air.
  • Tambahkan kecap, saus tomat, merica bubuk, garam, dan pala bubuk.
  • Masukkan nasi sambil diaduk supaya bumbunya merata.
  • Setelah matang, angkat di atas telur dadar untuk dibungkus, kemudian dibalik dengan hati-hati.
  • Hias dengan saus kesukaan. Saya pakai saus tomat.

Eh ternyata hasilnya sungguh di luar dugaan. Jumlah nasi gorengnya melebihi kapasitas si telur dadar membungkus sesuatu. Jadi saya hanya mengambil sebagian untuk dibungkus telur dadar. Sesudah difoto, digabungin deh semuanya.

Dan… beginilah penampakan omurice kreasi saya. Memang agak sedikit berantakan. Namanya juga baru pertama nyoba 😀

img_20160629_064929.jpg

img_20160629_065011.jpg

Nasi Goreng Bumbu Rendang

Untuk soal makanan, saya dan suami sebenarnya punya selera sendiri-sendiri. Meski orang Jawa, suami cenderung suka asin dan banyak bumbu rempahnya, bahkan menghindari rasa manis. Sedangkan saya makan apa pun bisa asal sedang lapar. :p
Tapi memang benar sih, pria biasanya lebih suka masakan rumah. Sayang, kegiatan saya yang jarang di rumah dan juga jarang ketemu suami, membuat saya juga jarang sekali turun ke dapur. Apalagi kegiatan masak bagi saya perlu, waktu luang, niat, dan juga semangat (ribet sekali bukan?). Kalau lagi capek dan banyak pekerjaan, kegiatan ini bisa agak dihindari dalam kehidupan sehari-hari.

Namun, mumpung sempat, malam ini akhirnya saya membuat nasi goreng bumbu rendang hasil eksperimen dan juga menjadi salah satu menu kesukaan suami.

Bahan-bahannya yang dibutuhkan adalah:
1.  nasi (untuk ukuran 2 orang)
2.  bumbu rendang bubuk (2 sendok makan)

Bumbu rendang bubuk itu sendiri konon terdiri dari berbagai rempah, seperti: ketumbar, bunga lawang, lada, kapulaga, jinten, kayu manis, krangean, mesoyi, pala, adas manis dan klabet.

3.  4 siung bawang putih, dicincang halus
4.  2 siung bawang merah, diiris tipis/dicincang
5.  1/2 butir bawang bombai (tergantung seberapa gede si bawang itu tadi), diiris dengan lebar 5 mm (wkwkwkw)
6.  1/2 sdt lada hitam bubuk
7.  1 sdt garam
8.  1/2 sdt tumbar bubuk (sifatnya sesuai selera, karena di dalam bumbu rendang sebenarnya udah termasuk)
9.  2 butir telur
7.  2 sdm margarin
8.  air kira2 3 sendok makan

Cara membuatnya:

1. Bikin telur dadar dulu. Pertama panaskan 1 sdm margarin di atas wajan
2. Kocok telur yang sudah dicampur garam dan merica/lada hitam bubuk secukupnya kemudian digoreng sampai matang
3. Tiriskan, habis itu dipotong dadu dan disisihkan dulu
4. Panaskan lagi 1 sdm margarin dalam api sedang
5. Masukkan bumbu-bumbu tadi tanpa terkecuali ke dalam margarin yang sudah panas sampai setengah matang. Jangan lupa tambahkan 3 sendok makan air supaya tidak menggumpal
6. Bila sudah, masukkan nasi lalu campur sampai merata, pokoke sampe matang (kalau istilah jawanya “tanak”)
7. Angkat, taburi dengan telur yang dipotong dadu tadi
8. Nasi goreng bumbu rendang pun siap disantap 😉

Oh iya, kenapa nasi goreng ini tidak pakai cabai? Sebab rasa pedasnya sudah diambil dari bumbu rendang dan merica hitam. Pedas yang dihasilkan lada (merica) sama-sama menghangatkan badan kok. Bila masih kurang pedas, menggunakan cabai pun boleh.

Demikian resep masakan hari ini. Silakan bila mau mencoba 😉

DSCN3074

Bunga-bunga di Kebunku

Usai gerimis pergi 

 

 

Namanya adenium. Sejenis kamboja hias, dan baru beberapa yang mekar.

1

 

 

Ini Bunga Euphorbia, asalnya dari Madagaskar. Konon bunga ini membawa keberuntungan. Tapi kepercayaan bahwa euphorbia merupakan bunga keberuntungan lebih banyak dipercaya masyarakat Thailand, karena jumlah bunganya yang selalu kelipatan delapan. Angka delapan bagi mereka adalah angka keberuntungan.
Semakin banyak bunganya semakin makmur pemiliknya. Begitulah.

Sayang orang rumah nggak ada yang tahu, yang punya bunganya saja nggak tahu, haha… Sehingga bunga lucu ini hanya sekadar salah satu penduduk tanaman yang dirawat karena bentuk bunganya bagus 🙂

2

 

 

3

 

 

 

ah, kasihan kali kau, tumbuh sendirian saja…

5

 

Aku nggak tahu ini bunga apa :))

 

DSCN2875

 

DSCN2880

 

Buah-buah kecil berwarna merah ini akan segera jatuh di tanah dan jadi benih kemuning baru. Tanaman ini bila berbunga, akan mengisi sebagian besar udara di rumahmu dengan wangi yang seolah tidak akan pergi.
Salah satu pot kecil di sana telah kusiapkan untuk seorang teman di waktu itu, yang entah apakah akan kutemui lagi, seperti janji yang belum juga tuntas.

Tapi saya selalu suka bila ada teman, kerabat, tetangga, atau siapa pun itu, mengambil tunas-tunasnya untuk dibawa dan dirawat.

6

 

Dan ini dia, salah satu bunga yang belakangan paling kusuka di antara bunga-bunga yang lain. Betapa harus memanjat kolam ikan supaya bisa menangkap gambarnya. Entah bagaimana bunga yang biasa nangkring di kuburan ini jadi favoritku. Barangkali kami berdua sudah menjelma sahabat ngobrol. Barangkali ia juga mereka saksi bisu hidupku yang akhir-akhir ini memang seperti tak ke mana-mana. Maka setiap hari, kupunguti mereka yang telah jatuh di tanah, kusimpan di dalam kamar.

Biar saja bau kamarku jadi agak magis 🙂

 

8

 

 

9

 

 

Hei.. bukankah ini perpaduan yang cukup indah?
awan, langit biru, dan rumpun kamboja

10

 

 

Jadi, intinya, keindahan itu memang bisa ditemukan di mana pun, pada hal-hal kecil di sekitar kita sekalipun  🙂

galeri kepompong (foto iseng)

Mereka semua sudah meninggalkan rumahnya

3

 

Entah terbang ke mana setelah itu…

2

 

1

 

4

salah satu kepompong di taman kebunku

 

Sementara aku masih di tempat yang sama, belum move on juga -_-

haha, ya sudahlah… barangkali belum 🙂

mencuri waktu

DSCN0015

Sudah lama tidak jalan-jalan seperti ini, rupanya sekalipun menyenangkan, kesibukan memang punya potensi membunuh kewarasan…

Namun, meski sebentar, pemandangan seperti ini bisa lumayan mengobati. Perbukitan, pepohonan di sepanjang jalan, kehidupan pedesaan, juga hamparan biru laut di depan sana cukup mewah bagiku.

1

Demi ini, aku memang mesti mengingatkan suami, untuk tetap meluangkan waktu, tapi karena memang belakangan ini kesibukan menjelang “boyongan” sedang jadi bos kami, maka kuputuskan untuk jadi penculik. Sebab pagi ini akhirnya aku memutuskan ke ‘rumah barat’ (maksudnya rumah orang tuanya), menculiknya, untuk beberapa jam ke depan. Ceritanya memang panjang untuk dijelaskan kenapa kami bisa beda tempat tinggal meskipun sudah menikah :p.

DSCN0023

Kenapa aku sebut ini penculikan? Sebab kalau orang tuanya tahu aku akan mengajaknya ke pantai pagi-pagi buta, pasti bakal gagal.

Yeah, terkadang kita memang harus mencuri waktu demi meletakkan kembali kemanusiaan kita pada tempat rehatnya: alam. Meskipun baru bisa di wilayah “sekitar rumah”: Parangtritis.

DSCN0046

Tentu saja aku tidak melupakan secangkir kopi hangat 🙂 Betapa aku pun juga mengagumi camdig tua-ku karena kemampuannya memotret seperti di atas ini…

DSCN0048

Kadang selalu kepikiran untuk nongkrong sendiri di tempat-tempat seperti ini sambil ngopi dan nulis. Tapi tentu saja, sekarang sudah nggak bisa sembarangan kabur sendirian meskipun untuk nulis ^^

Liburan Singkat di Pantai Trisik

Jalan-jalan hari Sabtu sore memang rasanya singkat. Namun, weekend singkat memang sebaiknya pergi ke pantai. Selain dapet udara segar untuk mengobati penat kesibukan, siapa tahu (kalau beruntung) bisa merekam senja.

Berikut ini beberapa foto Pantai Trisik yang saya ambil dengan kamera digital pocket.

perpaduan yang puitis: pepohonan dan pantai :)

perpaduan yang puitis: pepohonan dan pantai 🙂

Trisik sendiri dalam bahasa Jawa artinya pantai berpasir yang berbatu kecil-kecil. Mungkin karena tampilannya yang kurang menarik, pantai ini jadi sepi sekalipun di akhir pekan. Tapi tak mengapa, bagiku setiap pantai yang sepi, memiliki kecantikannya sendiri.

2

3

salah satu tumbuhan liar di Pantai Trisik.  (Nggak tahu namanya ^^)

salah satu tumbuhan liar di Pantai Trisik.
(Nggak tahu namanya ^^)

Seperti pantai lainnya, pantai ini mengalami abrasi. Ombaknya lumayan besar, mungkin sedang musimnya. Harap hati-hati kalau jalan-jalan ke pantai untuk musim ini.

??????????

jejak kaki

jejak kaki

Hal yang menarik lainnya adalah, ketika sore tiba, terlihat beberapa nelayan menjaring ikan hanya di pinggir pantai. Mereka melemparkan jaring ketika ombak menghambur ke arah daratan. Meski demikian, hasil buruannya lumayan banyak. Beberapa dari mereka berangkat mencari ikan dengan kapal. (Maaf tidak sempat mengambil fotonya)

??????????

dan inilah bagian yang paling ditunggu ^^

senja

senja

Namun, sayang banyak sampah alami yang bertebaran di sana. Semoga tidak perlu ada timbunan sampah plastik seperti di pantai-pantai lainnya. Alam akan tampak indah dan alami tanpa sampah plastik. Bukankah demikian?

Liburan singkat ini cukuplah untuk ngisi energi lagi, karena besok minggunya kembali bekerja.

#12 (Laut di ranah ekspresi seni)

Kita telah tahu bahwa di dunia ini, peradaban manusia dibagi menjadi dua: peradaban yang berasal dari darat dan juga laut. Peradaban memang selalu lahir dari keduanya. Tapi laut seakan telah jarang kita jangkau. Sore ini, atas info salah satu teman, aku mampir TBY sepulang kerja. Memang ada event Artjog di sana, di mana 158 jenis karya seni kontemporer dipamerkan—dari patung, lukisan, hingga fotografi. Semuanya bertema maritim.

Ketika masuk, sadar ada yang agak mencolok mata. Tembok gedung TBY disulap total dengan dilapisi drum bekas minyak yang di-setting mirip dengan badan kapal. Di halamannya, ada sesuatu yang entah bagaimana, mirip komidi putar yang dipasangai sejumlah boneka dan tetap berputar, rupanya ia diberi judul “Finding Lunang”. Sepertinya judul ini merujuk pada sejarah atau barangkali dongeng tentang penjelajahan. Ada juga tampilan sirip ikan di sisi lain yang seolah sebagian badannya mencebur di laut.

Yang menarik adalah bahwa laut menimbulkan ekspresi yang begitu tak terbatas bagi senimannya. Barangkali juga melahirkan imaji tak terbatas bagi penontonnya. Laut memang bagian dari peradaban. Pameran tahun ini memang sangat keren bagiku. Yeah, sayang ketika aku datang, sudah mepet buka puasa sehingga tak sempat mengamati semuanya satu per satu. Dan sialnya, besok tanggal 20 itu penutupanya. Yah, meskipun sebetulnya ada kesempatan untuk berkunjung lagi sih.

Seni bernapaskan laut seperti tak kan habis ditelusuri batasnya. Laut sebagai peradaban, laut juga sebagai manusia itu sendiri.

–dalam perenungan–

Berguru pada Ranah Baru: Karya Bertema Dunia Persilatan

Sejenak kupandangi kawan-kawan akrabku: buku-buku, yang tertumpuk begitu saja tanpa bisa kubuka-buka satu per satu seperti dulu, sementara kulihat pekerjaan semakin menyita waktu.

Lalu akhirnya kutulis beberapa hal ini:

Pagi ini kusadari, rupanya memang benar kebiasaan membuat skema dan coret-coret intisari buku (atau hasil pemikiran apa pun) berasal dari ayahku. Ayahku mencintai buku-buku sejak muda dulu. Khususnya kisah-kisah dunia persilatan ala Jawa, seperti karya SH Mintardja, penulis serial silat yang mendapat penghargaan Sang Hyang Kamahayanikan Award 2012 kemarin lantaran telah menulis 400 buku yang berdekatan dengan sastra, sejarah, dan budaya negeri.

Penuh semangat, pagi tadi beliau bercerita tentang skema itu—jumlahnya berlembar-lembar sampai bikin mataku melongo, terlebih ketika beliau berencana menjadikannya buku (pantas akhir-akhir ini sering terlihat menyendiri di kamar). Bila soal karya-karya sejenis itu, ayahku hafal betul penokohan, alur, nama-nama jurus, latar peristiwa, sampai keterhubungannya. Memang sih sudah lama juga kuamati beliau cenderung konsisten membaca karya-karya bertema serjenisnya—hanya saja belum pernah punya semacam teman sehobi (anggota keluarga/komunitas) untuk diskusi cerita dari bacaan fovorit yang serupa.

Rencananya buku itu mungkin seperti esai, atau ulasan, aku belum tahu persis. Tapi jarang-jarang bapakku terbuka soal keinginannya. Itulah yang membuatku pagi ini, akhirnya, membuat resolusi dadakan. Sekalipun baru draft nonriil yang nangkring seharian di kepala.

Mencari buku-buku SH Mintardja di era sekarang cukup sulit—sudah menjadi rahasia umum. Padahal sudah coba kucari juga sejak tahun 2010 kemarin. Barangkali sudah langka. Mungkin juga akan repot bila mengumpulkan dari koran karena naskah itu semula serial yang diposting di pojok koran kedaulatan rakyat. Yang punya hanya mereka yang sejak dulu kala cukup memiliki dana untuk mengoleksinya. Itu pun mungkin era sekarang buku-buku itu gak bisa dibeli begitu saja.

Tapi eh.. lagi-lagi alam semesta mendukung mimpi… aku pun akhirnya menemukan beberapa situs di mana naskah-naskah itu bisa di-download.
Rupanya sampai sekarang, para penggemarnya (di mana pun mereka berada) tidak tinggal diam. Buktinya blognya pun bertebaran di dunia maya tak cuma satu saja, pembaca tak perlu pusing memburu buku-bukunya yang langka itu, karena di web sudah ada. Aku juga memasang salah satu linknya di kolom blog tetangga. Barangkali pembaca ingin menengok juga karya-karya SH Mintardja :p. dan sebagai informasi, profil SH Mintardja dapat dilihat di alamat ini

Di samping itu, sepenggal cuplikan cerita yang disampaikan ayahku pun sudah cukup membuatku ikut-ikutan tertarik.

Tiba-tiba aku merasa sedang ditemukan dengan tugas baru yang menguji keprofesionalanku sendiri, yang kurasa merupakan tugas yang sebenarnya. Tanpa ada embel-embel harapan terhadap gaji atau sejenisnya (mengingat sejak kerja, aku sudah tidak minta subsidi lagi, kecuali orang tuaku yang tiba-tiba memberinya). Yeah, tidak lain tidak bukan adalah menjadi editor ayahku sendiri. Editor dalam arti sebenarnya, sesuai standar penerbit konvensional, sekalipun entah akan diajukan kemana atau diterbitkan di mana itu soal nanti. Terdengar hal yang tidak mudah. Tapi di tengah ide besar Ayah, akulah yang paling dekat dengan garis pelaksanaan. Tapi entah, apakah nanti aku mampu…

Ah, omong-omong mengapa bisa aku melulu mengincar alur filsafat di karya-karya barat yang hasil terjemahannya seringkali amburadul itu, sementara di negeri sendiri, ada mahakarya yang isinya gak hanya soal filsafat, tapi juga sejarah, budaya, dan spiritual (lebih luas lagi)… mereka juga patut diperhitungakan. Bagaimana tidak, aku menemukan salah satu penokohan di buku itu—seorang guru (ahli) bisa menyimpan dan menurunkan ilmunya dalam kerendahhatian yang total, namun juga menjadi teror bagi musuh paling ditakuti sekalipun. Keadiluhungan sebuah peradaban yang dikonsep dalam karya bertema dunia persilatan. Seperti di salah satu serial Nagasasra Sabuk Inten… Cuma Indonesia yang punya, orang barat tidak punya. Tapi tetaplah.. demi menambah wawasan, semuanya mesti dibaca, sebab semuanya penting.

Hm, barangkali sudah waktunya aku rehat dari setumpuk buku-buku baru yang kuborong sejak awal tahun lalu, demi membaca juga apa yang pernah dibaca ayahku. Lagipula toh akhir-akhir ini juga sedang gak mud bahas persoalan global terkini dan hal-hal baru yang terjadi belakangan. Selain menyita waktu, kabar-kabar terbaru hanya jadi menguras emosi dan pikiran tanpa kita bisa berbuat apa-apa.

Yuhu, sekilas curhat, sejak dulu aku memang selalu tertarik dengan para orang tua dan sesepuh di berbagai belahan bumi, dengan tradisi mereka akan sastra. Dari nilai-nilai lama yang seakan bertahan itu, aku menemukan apa yang disebut dengan bakat kesabaran, ketekunan, kefokusan, dan kekayaan batin. (Agak sedikit dekat dengan angan-angan pekerjaan baru akhir-akhir ini).

Mengingat bahwa orang Jawa membaca tembang dan sastra ala semiotikanya, orang Bali menulis sastra di daun lontar, orang Gorontalo menulis puisi sastra lisan yang bernama Tanggomo, belum lagi folklor yang bila se-Indonesia dikumpulkan, mungkin bakal setebal 2 kali naskah Centhini (belum tentu cukup), dan masih banyak lagi sampai pikiranku jadi melayang-layang. Masyarakat tradisional kita juga dekat dengan tradisi naskah dan teks (tiba-tiba inget matkul Filologi). Itu artinya, tidak pernah ada zaman yang benar-benar “ketinggalan”. Sekalipun globalisasi berjalan dengan cukup pecicilan. Tapi kearifan dan ajaran moral berdiam dalam setiap sudut bumi dan nyaris bertahan, bukankah begitu…?

Setiap negara punya keunikan. Bila itu pun hanya dipandang dari sudut produksi karya. Serial bergenre dunia persilatan memang hal yang biasa di kalangan sebagian masyarakat, tapi asing di zaman pop terkini. Tradisi membaca adalah tradisi yang sudah ada sejak dulu kala. Orang Jawa misalnya wajar bila rata-rata menyukai dan mengikutinya. Barangkali kecenderungan manusia tertarik pada yang bersambung dan misteri, sehingga harus diikuti.

Seperti para mbah yang mengikuti kisah-kisah wayang, atau anak-anak muda seusia kuliahan yang setia mengikuti serial kartun One Peace setiap Minggu jam 8, dan masih banyak lagi. Budaya mengikuti serial tampaknya memang fenomena unik. Apakah kegiatan itu sia-sia? Belum tentu. Jangan salah pula, orang Jepang maju seperti sekarang juga karena mempercayai dongeng-dongeng dari pujangganya. Sastra dan salah satunya adalah Kinkakuji—berpengaruh besar pada masyarakatnya. Dan masih banyak lagi kebiasaan suku lama sedunia yang tidak jauh dari “terinspirasi karya sastra”.

tapi tunggu, sejauh mana sih sebetulnya kepedulian kita?

Kita mungkin lupa, kita memiliki Tan Malaka yang tulisannya bahkan jadi referensi Lenin di masa kepemimpinannya. Belakangan aku juga menelusuri situs naskah hukum kelautan yang jadi patokan dunia, yang sudah dianggap fenomena mendunia—Juga asli Indinesia. Bila kau cukup mengenal Tan Malaka, Pramoedya, atau Soekarno, atau barangkali Gajahmada di zaman Majapahit… maka bayangkan betapa sebetulnya kita justru tak hanya setara, tapi menjadi ikon yang cukup berwibawa… hanya saja kita berada di zaman yang bukan saat itu. Hanya agak mudah silau saja dengan hal-hal yang jarang dijumpa. Atau memang seperti sedang ada yang hilang dari bangsa kita.. identitas sejatikah?

Sungguh manusia baru bisa disebut setara harga dirinya di mata bangsa lain, kalau mereka bersikap biasa-biasa saja bila melihat bangsa asing berjalan bersandingan. Bagaimana bisa disebut setara, kalau bacaan aja melulu soal terjemahan asing saja? (*tampar diri sendiri). Diam-diam bangsa asing—yang kita bangga bila bisa berfoto bersama itu—juga lagi sibuk mengincar milik kita lho.

Itulah kenapa kurasa, mata kita terlalu banyak tersihir oleh rumput di halaman tetangga, sampai lupa di bawah tanah kita tersimpan emas yang membuat ngiler bangsa tetangga. Sampai di sini, aku mentok untuk lanjut berargumen dulu, sebab lebih butuh membaca daripada menceritakan gambarannya. Sebelum menyelami lebih jauh, amat lucu bila tidak tahu seperti apa isi naskahnya.

Dan kembali ke point awal: demi profesionalitas, aku melangkah untuk menepi dulu di karya fenomenal negeri sendiri. Butuh lebih banyak belajar.

Bismillah.
Doakan saya 🙂

 

Salam dunia persilatan 🙂

gambar diambil dari google image

gambar diambil dari google image