Kekhawatiran

Ketika tiba waktunya menghadapi persalinan nanti, yang paling saya khawatirkan mungkin hanya Satya. Belum pernah saya meninggalkannya berjam-jam apalagi lebih dari sehari. Terlebih anak di bawah usia 2 tahun masih butuh perhatian ekstra dari orangtuanya, terutama ibunya. Meskipun telah berhenti menyusu dan jarang kelayu, Satya tetap membutuhkan perawatan dan asupan makanan yang bergizi yang dibuat di rumah yang memenuhi standar kesehatan. Selain itu, ia juga tetap masih membutuhkan pengawasan, pendamping dalam setiap tumbuh kembangnya, yang selama ini tentu lebih banyak didapat dari ibunya.

Memang terkadang Satya dititipkan orang rumah seperti ibu saya, ketika harus bepergian atau menyelesaikan pekerjaan penting. Tapi ibu juga satu-satunya orang yang mengurus rumah tangganya sendiri tanpa bantuan siapa pun. Setiap hari selalu sibuk. Saya tak tega menitipkan Satya berjam-jam kecuali hanya ketika urgent atau sedang susah makan, karena biasanya ibu saya akan menyuapinya sambil menggendongnya.

Saya baru menyadari bahwa mungkin ini salah satu kelemahan bila anak lebih banyak diasuh sendirian, karena ketika saya harus pergi sedikit agak lama, saya juga sekaligus merasa khawatir. Lebih merasa bersalah lagi karena saya jarang share hal-hal kecil yang cukup penting terkait merawat Satya selama ini. Orang rumah bahkan belum tahu persis bahwa Satya hanya membutuhkan dua botol susu per hari dan lebih membutuhkan camilan buah ketimbang yang olahan. Mereka juga tak tahu takaran susunya atau bagaimana membersihkan botolnya. Terlebih hal-hal yang lain.

Tiba-tiba saja hari ini saya banyak menyadari betapa pentingnya waktu-waktu yang telah saya lalui bersama Satya. Seperti baru kemarin Satya lahir dan kami membawanya pulang dengan kebahagiaan yang mendalam. Tiba-tiba saja saya juga menyadari betapa seringnya saya teledor dan tak cukup pandai merawatnya selama ini. Namun Satya telah menjadi bagian terpenting dalam hidup kami di mana hampir segala harapan dan semangat hidup tertuju kepadanya. Barangkali perasaan semacam itu yang orang tua saya rasakan dulu ketika baru memiliki saya.

Betapa sejak kehadiran Satya, kami kedua orangtuanya, menjadi sosok yang baru, dan juga mempelajari banyak hal baru. Menjadi orang tua memang semacam tugas yang tak ada habisnya.

Setidaknya, ketika gelombang rahim datang nanti dan saya mesti meninggalkan rumah, Satya mungkin lebih baik dititipkan pada kakek neneknya (orang tua saya) ketimbang yang lain karena selain orang tuanya, tentu kakek nenek akan memberikan perhatian dan kasih sayang yang lebih baik. Tidakkah mereka juga orang tua yang pernah membesarkan kita? Tak lupa pula saya mesti mempersiapkan segalanya semampunya supaya tak terlalu merepotkan siapa pun. Berharap Satya akan selalu baik-baik saja. Dan berharap pula nanti prosesnya hanya sebentar karena di samping semua kekhawatiran itu, saya pasti akan sangat merindukan Satya.

Ramadhan hari ke-24

(2 hari menuju HPL)

Perkiraan

Di dunia ini, apalagi yang dibuat manusia, apakah ada yang benar-benar pasti?

Suatu hari Satya (yang waktu itu belum satu tahun) ditimbang di posyandu kampung saya, bobot di timbangan menunjukkan angka 7 kg. Lalu sehari kemudian eyangnya (orangtua suamiku) menjemputnya untuk main di sana seharian, kebetulan di sana juga iseng ikut posyandu, bobotnya 7.3 kg. Ibu mertua bilang, timbangan di sana paling akurat. Belum sampai seminggu Satya harus imunisasi di puskesmas. Sebelum disuntik ia tentu harus ditimbang dulu. Bobotnya 7.1 kg. Saya pun bingung yang mana yang harus saya percaya. Apakah hanya dengan hitungan hari berat badan bayi bisa naik turun? Atau timbangannya yang memang tidak “kompak”. Baiklah, mungkin berat badan bukan hal besar. Paling-paling cuma sedikit mengacaukan catatan grafik si kecil di buku kesehatannya. Selama si anak selalu sehat, ceria, dan perkembangan bagus, bobot bukan hal besar.

Tapi belum lama kadar hemoglobin saya juga dites dengan alat kesehatan dari bidan praktik, menunjukkan angka 10.8 sehingga dinyatakan anemia. Tapi tak lama kemudian dites hb di puskesmas masih menunjukkan angka 11 dan terbilang normal. Padahal dua angka itu menentukan apakah saya bisa melahirkan normal atau dengan tindakan dan bisa saja butuh transfusi. Tidak hanya itu, tensi saya menurut tensimeter di puskesmas dengan tempat bersalin juga berbeda. Pengalaman-pengalaman kecil semacam itu membuat saya jadi berpikir bahwa bahkan peralatan medis bisa membingungkan karena banyak versi. Rupanya bisa juga hal-hal yang sepertinya akurat menjadi tidak pasti. Apalagi bila berbicara tentang HPL (hari perkiraan lahir).

Namanya juga perkiraan, maka tak bisa dijadikan patokan. Barangkali rata-rata ibu yang pernah melahirkan akan setuju bahwa HPL hanya sebagai penanda. Setidaknya, yang saya tahu, ada 2 macam cara menghitung umur kehamilan dan menentukan kapan bayi lahir. Dengan perhitungan manual tanggal terakhir haid yang biasanya dilakukan para bidan dengan rumus, atau melihat hasil USG. Meski demikian, HPL cukup berpotensi membikin cemas. Pasalnya, karena perbedaan pendapat bidan dan para doktet itulah, ibu hamil bisa mengalami kekhawatiran yang malah mempengaruhi kesehatannya dan janin. Mungkin bidan satu akan mengatakan itu normal bila belum 42 minggu, bidan yang lain bisa tidak percaya diri dan menolak menolong persalinan. Dokter satu bisa saja beropini lain sehingga merasa bahwa mengakhiri kehamilan segera dengan operasi meski belum datang kontraksi adalah cara terbaik. Dokter lain bisa saja bersikap lebih santai selama kondisi ibu dan janin baik-baik saja.

Saya pun memilih untuk tak banyak memikirkannya. Mungkin Satya dulu lahir lebih cepat dari HPL. Entah yang kedua bagaimana. Konon anak kedua memiliki pola sama dengan yang pertama. Sayangnya, HPL keduanya ditentukan oleh dokter yang berbeda. Mungkin saja Satya berdasarkan USG dan adiknya berdasarkan hitung manual. Saya sendiri lupa. Belum lama ketika saya USG diantar sahabat saya Fitri di klinik tujuan bersalin, dokter yang jaga punya opini lain, mundur hingga seminggu lebih dari yang selama ini saya tahu. Padahal menggunakan USG.

Baiklah, saya pun memutuskan untuk menghabiskan hari-hari sekitar HPL dengan sibuk mengurus Satya, beberes, membaca buku dan artikel, juga tetap mengerjakan pekejaan freelance di rumah. Bila dulu di kehamilan pertama saya sempat stress akut dan jengkel karena belum HPL banyak orang menanyakan kapan lahir, kok belum lahir, si itu aja udah lahiran, dan sebagainya.  Sekarang mungkin saya lebih cuek dan santai. Orang-orang di sekitar saya dan keluarga besar bahkan tidak tahu persis HPL saya tanggal berapa. Sebagai perempuan yang belum lama jadi ibu, saya mengerti terkadang bersikap cuek dalam beberapa hal sangat dibutuhkan dalam menjalani hidup. Semua itu tentu saja, supaya tetap waras. Toh HPL itu manusia yang membuat. Yang paling tahu kapan bayi akan lahir cuma Allah kan. 😉

Lagipula kehamilan kali ini sepertinya si dedek mengajak ibunya prihatin dan mandiri. Habisnya apa-apa saya mesti bisa sendiri. Termasuk survive ketika menghadapi mood swing atau tiba-tiba merasa kesepian dan insomnia seperti bulan-bulan belakangan ini.

Namun, dalam diam, saya tetap berharap semoga Allah memberikan kemudahan dan kelancaran di persalinan nanti, kapan pun itu.

Ramadhan hari ke-21

(5 hari menuju HPL)

Menyapih

Semula dalam bayangan saya, menyapih si kecil bakal jadi drama yang penuh tangis-tangisan. Saya pun masih ingat bagaimana Ibu menyapih adik bungsu saya dengan susah payah waktu itu. Tiap malam Bapak yang harus menggantikan Ibu menggendongnya sambil memberinya susu dalam dot menjelang tidur karena adik saya terus menangis minta jatah ASI-nya. Belum lagi saya juga sering mendengar cerita menyapih yang terdengar tidak mudah dilalui. Kalau Satya juga bakal gitu gimana ya?

Rupanya sejak awal usia 16 bulan, bayangan menyapih penuh drama itu pudar. Bagaimana tidak, sejak usianya 16 bulan lalu, Satya mulai jarang minta ASI. Sayalah yang justru sering menawarinya. Memang sih sejak usia 13 bulan, Satya sudah diperkenalkan susu tambahan. Tapi tetap harus minum ASI. Sebenarnya saya nggak terlalu percaya dengan susu formula sekadar hanya minuman selingan, karena selain ASI, makanan bayi terbaik tetap berasal dari bahan alami dan buatan sendiri. Bila makanan berkualitas sudah terpenuhi dalam sehari, maka susu formula tak terlalu dibutuhkan.

Ingatan saya melompat ke 21 bulan yang lalu. Di hari-hari setelah ia lahir ke dunia. Tentu saja bayi baru lahir hanya membutuhkan ASI untuk bertahan hidup. ASI adalah makanan terbaik. Sekalipun menyusui adalah proses alami, tapi kalau tak diusahakan juga tak bisa. Perjuangan memberi ASI saat itu tidak mudah, belum lagi harus menghadapi baby blues. Pasalnya, hari-hari awal pasca melahirkan, ASI biasanya tak langsung keluar. Di samping itu, wacana ASI eksklusif belum banyak diketahui. Belum juga diterima oleh sebagian orang. Bahkan termasuk para dokter dan perawatnya ada pula yang lebih pro formula. Namun, alhamdulillah, pada akhirnya Satya hanya mendapatkan ASI di 6 bulan awal kehidupannya sesuai haknya sebagai bayi. Dan berlanjut pada bulan-bulan berikutnya dengan mulai mengonsumsi MPASI. Semua itu juga tak lepas dari dukungan suami dan keluarga. Meskipun meyakinkan mereka supaya pro ASI pada awalnya juga membutuhkan proses.

Memberikan ASI tidak hanya semacam insting sebagai wujud cinta kasih ibu kepada bayinya, tapi juga termasuk perintah Allah yang juga termuat di Alquran.

“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan” (Al-Baqarah [2]: 233)

Karena itu, proses 2 tahun menyusui bagi ibu sama halnya memberikan kehidupan yang terbaik untuk buah hati. Tak hanya berkaitan dengan nutrisi dan kekebalan tubuh terhadap penyakit, tapi ASI juga terkait psikologi dan masih banyak lagi.

Namun penolakannya terhadap ASI belakangan ini membuat saya menyadari Satya jenis anak yang sudah mandiri. Ia juga cukup mandiri dalam beberapa hal seperti misalnya makan (meski masih sering juga disuapi ibu saya), tidur (tidak lagi digendong sejak usia 15 bulan), tidak mencari ibunya meski harus ditinggal karena urusan urgen, dan juga suka beberes seperti orang-orang dewasa di sekitarnya (meskipun suka juga bikin berantakan lagi 😂). Alhamdilillah ia juga telah mampu memahami instruksi dan meresponsnya dengan positif, menyampaikan permintaan, mengerti batasan (karena terkadang saya melarang beberapa hal yang memang cukup berbahaya), dan mudah mempelajari sesuatu yang dilihat dan didengarnya. Artinya, tidak ada masalah dalam tumbuh kembangnya. Sedikit banyak ia telah bisa diajak ngobrol. Saya bahagia tapi juga sedih karena semingguan ini ia benar-benar menyapih dirinya sendiri. Kalau ditawari, ia pasti cuma menjawab “Ndak… unda atit, gigit atya… katian…”. “Nggak… Bunda sakit, kegigit Satya… kasihan.” Mungkin karena pernah melihat tampang bundanya sering mengeryit setiap ia tak sengaja menggigit, atau entah apa ya…

Sebetulnya sejak saya dinyatakan hamil lagi, hampir setiap orang menganjurkan untuk menyapihnya. Tapi saya memilih tetap melanjutkannya, setidaknya sampai Satya sendiri yang ingin berhenti. Terutama karena setelahnya saya telah bertanya pada beberapa bidan, dokter, dan referensi lainnya sehingga lebih yakin untuk tetap menyusuinya. Alhamdulillah, Satya nyaris juga nggak pernah rewel.

Sejujurnya saya belum siap menyapih. Satya baru 21 bulan. Mestinya masih 3 atau beberapa bulan lagi ia disapih. Setiap melihatnya mandiri dan tidak banyak menuntut sebetulnya saya jadi agak baper. Barangkali alam semestalah sudah mengkondisikannya karena sebentar lagi akan menjadi kakak. Maka, terlihat pula dalam dirinya karakter seorang kakak yang mengalah dan pengertian. Mudah-mudahan nanti nggak ada drama cemburu-cemburuan ya kalo dedek bayi lahir :D. Sebab saya akan selalu menyayangi mereka sepenuhnya dan berusaha memberikan perhatian yang adil tanpa ada yang terkurangi.



Ramadhan hari ke-14

(13 hari menuju HPL)

Komunikasi

Menjadi ibu rumah tangga itu bisa dikatakan antara seneng dan nggaknya. Dikit sih nggaknya. Senengnya karena kita jadi terlibat langsung dalam proses tumbuh kembang anak. Syukur alhamdulillah karena Allah mempercayakan diri saya dengan amanah menjadi ibu untuk Satya dan calon adiknya sementara saya tetap terus belajar untuk tetus memperbaiki diri. Bukankah kunci keberhasilan anak terletak pada ibunya? Memang seorang ayah juga memegang peran penting dalam membentuk karakter anak, tapi yang 24 jam nonstop menemani anak-anak lebih memiliki pengaruh dalam keberhasilan mereka di masa depan bukan. Tidak hanya bagi seorang anak, seorang istri juga pendukung utama keberhasilan suami.

Nggak senangnya karena dengan begitu seorang ibu rawan kesepian. Mungkin berhenti ngantor dan menunda cita-cita bukan hal yang sulit dilakukan kalau itu demi merawat buah hati lebih dulu dan mengutamakan kepentingan keluarga. Tapi tidak bisa dipungkiri, perempuan bukan makhluk yang sempurna meski kelihatan selalu kuat. Terlebih bila tak memiliki teman bicara yang tepat.

Tidak berarti seorang ibu rumah tangga otomatis memiliki posisi penting dalam hal-hal besar dalam permasalahan rumah tangga. Terlebih bila antara istri dan suami, tidak ada komunikasi yang baik. Karena tidak ada komunikasi yang terjalin baik, “rapat tertinggi” tidak terjadi di antara pasangan lebih dulu. Dan karena itu, masalah sangat pribadi dalam rumah tangga dengan mudahnya diaduk-aduk pihak luar.

Kenapa komunikasi penting? Tentu saja penting, kecuali bila engkau betah menghabiskan seluruh hidupmu dengan orang yang lebih antusias berkomunikasi dengan gadget atau orang-orang yang telah dekat lebih lama dengannya sebelum menikahimu. Tanpa komunikasi yang baik, pihak yang rentan rawan merasa terabaikan. Padahal menjalin komunikasi efektif bisa dimulai dari hal kecil. Sekadar ditanya apa hasil periksa ke bidan hari ini pun wanita mana yang nggak senang.

Sering kali dalam keputusan besar yang ada gandengannya dengan keluarga kecil saya, justru saya yang tahu belakangan, atau tiba-tiba sudah “ditodong” sesuatu yang sebelumnya bahkan tak ada siapa pun yang bertanya tentang pendapat saya lebih dulu. Otomatis tidak ada opsi lain selain berkata “ya” meski dengan setengah hati. Barangkali komunikasi memang perihal sepele, tapi rentan membawa siapa pun ke dalam konflik bila menyepelekannya.

Iya saya juga bukan super women yang sempurna, melainkan butuh proses yang panjang. Berpindah kebiasaan dari perempuan karier menjadi ibu rumah tangga dengan tanggung jawab yang sangat berbeda memang bukan hal mudah. Meski hanya ibu rumah tangga, tentu saja saya masih butuh belajar dan terus mengembangkan diri. Juga selalu membutuhkan dukungan baik itu moral atau spiritual. Sering kali saya mudah tersulut dan tak bisa menahan emosi terhadap hal-hal yang tak sesuai pikiran dan hati. Lebih tepatnya lambat memahami kondisi yang terjadi. Meski sebetulnya kondisi demikian patut dimaklumi. Proses perkenalan kami yang sangat sebentar sebelum menikah, dilanjut kehidupan pernikahan yang cukup disibukkan berbagai kepentingan luar, membuat proses pencarian pola komunikasi terbaik pun terasa membutuhkan waktu yang lebih panjang.

Saya dan suami juga tengah menjalani proses demi proses untuk bisa memiliki pola komunikasi yang efektif demi menjalankan sebuah keluarga yang ternyata dibangunnya lebih rumit ketimbang membuat sebuah gedung. Mengingat meski pernikahan sudah berjalan 3 tahun, tapi kesalahpahaman karena pola komunikasi yang belum matang masih sering terjadi. Semoga saja itu masih tergolong wajar. Terkadang pula ketika muncul konflik, yang terjadi adalah masing-masing dari kami menyendiri, maksudnya supaya tidak berbenturan. Padahal kalau menurut saya, itu sama saja nyicil bikin bom waktu.

Saya tahu pria bukan semacam cenayang yang bisa menebak kode, perempuan juga bukan makhluk misterius sehingga terlalu sulitnya dimengerti. Keduanya hanya bisa dijembatani dengan pola komunikasi yang efektif. Keduanya hanya bisa dilalui bila masing-masing juga sadar bahwa berumah tangga sudah lebih berbeda bersikapnya ketimbang ketika masih single. Saya selalu berharap dan selalu berusaha agar proses komunikasi dan pembelajaran memperbaiki diri ini berjalan semestinya dan menemui titik terang. Sehingga siapa pun juga turut menghargai bahwa kami telah berada dalam institusi pernikahan, di mana pendapat dan keputusan terpenting berada di tangan suami istri tanpa boleh diganggu gugat terlebih dahulu, sebelum dibawa keluar untuk menemukan solusi yang sifatnya lebih umum.


Romadhon hari ke-11
(16 hari menuju HPL)