Resensi Novel Erau Kota Raja

23657332

Judul: ERAU, Kota Raja
Penulis: Endik Koeswoyo
Penerbit: PING!!!
Jumlah halaman: 203
Tahun terbit: 2015
ISBN: 978-602-296-056-0

Kapal yang berlabuh akan selalu kembali ke dermaga untuk berlabuh. Begitu juga dengan cinta yang selalu tahu ke mana dia harus pulang (halaman 117).

Kirana pun akhirnya menyerah dan memutuskan untuk tidak lagi bersama Doni yang telah bersamanya selama 4 tahun. Sekian lama ia menunggu dan berkali-kali menanyakan kepastian, namun Doni masih selalu ragu berkomitmen. Ia tak juga terlihat ingin membawa hubungan mereka ke arah pernikahan. Terlebih Kirana telah berusia 26 tahun, yang bagi wanita itu bukan lagi usia muda. Sementara ia terus berjuang mengatasi patah hatinya sendiri, Pak Joko bosnya yang sebenarnya tahu situasi hubungan Kirana, malah menugaskannya ke Kalimantan Timur untuk meliput upacara adat terpenting di daerah itu. Dengan masih menyimpan galau, ia pun tetap berangkat ke Kalimantan Timur. Tempat yang tak pernah terbanyangkan akan dikunjunginya.

Perjalanan Kirana memang tidak terlalu lancar. Sampai di sana ia menemukan berbagai kendala. Hotel-hotel dan penuh menjelang festival. Belum lagi transportasi sulit didapat. Padahal ia tidak familiar dengan daerah Kutai dan sekitarnya. Ia juga mesti berhadapan dengan Ridho yang sok kenal dan agak menyebalkan begitu datang di area souvenir. Namun untunglah ia bertemu dengan Pak Camat yang menolongnya menyediakan tempat tinggal di rumahnya, selain itu, ia juga bertemu dengan Reza. Kirana tak lantas akrab dengan Reza, namun pada akhirnya, Reza banyak membantu liputannya. Melalui perkenalannya itu, sedikit banyak kepribadian Reza yang unik mampu membuat Kirana kagum.

Tugas meliput Erau mampu sejenak mengalihkannya dari patah hati. Ia merasa beruntung berkesempatan melihat kebudayaan yang begitu kaya di Kaltim. Terlebih selama di sana, Kirana tinggal dengan Pak Camat dan istrinya yang ramah dan begitu perhatian seperti keluarganya sendiri. Liputannya pun terbantu karena ada Reza yang mau mengantarnya ke mana-mana dan hafal dengan perihal kebudayaan dan festival Erau. Kirana yang baru saja menjomblo dan tiba-tiba kagum dengan sosok Reza yang penuh kejutan, begitu pula dengan Reza yang tak pernah melihat gadis seperti Kirana sebelumnya tentu dapat memunculkan benih perasaan di antara keduanya.

Namun kedekatan mereka diiringi berbagai kendala. Kirana harus menghadapi Bu Tati, ibunda Reza yang protektif dan menganggapnya adalah pengganggu masa depan Reza. Bu Tati tiba-tiba merasa tak suka dengan Kirana sebab ia memiliki calon istri pilihan yang lebih pantas mendampingi Reza.
Masalahnya Reza terlanjut jatuh cinta dengan Kirana, pun juga gadis itu. Meski demikian mereka masing-masing menyadari kenyataan yang terjadi ketimbang mengutamakan keinginan pribadi. Kirana yang gesit, mandiri, dan berprinsip itu memahami situasi yang terjadi. Ia menjadi pembuka jalan untuk Reza dan ibunya berdamai hingga keinginan keduanya terjembatani. Meski tidak mudah dijalani baik Kirana maupun Reza.

Saya barangkali terkesan dengan sifat Alia yang teguh dan penyabar. Barangkali perempuan seperti Kirana dapat menyerah begitu saja ketika penantiannya tak kunjung menemukan jawab, sementara Alia mampu bertahan menunggu sekian lama meski Reza tak juga membuka hati untuknya. Saya tak terlalu suka dengan karakter Doni yang tak bernyali untuk serius menikahi Kirana, meski demikian akhirnya ia pun mendapat konsekuensi logis, yaitu kehilangan kepercayaan Kirana. Sedangkan tokoh Reza, di balik sifat keras kepala dan cueknya, tetap memiliki karakter positif, yaitu memiliki kepedulian dengan masyarakat di daerahnya dan keukeuh mempertahankan pilihan hidupnya, hingga pada akhirnya mampu membuktikan bahwa dirinya memang ingin berbakti pada sang ibu.

Erau, Kota Raja merupakan versi novel yang sebelumnya diadaptasi dari film yang judulnya sama. Terlihat dari pemilihan gambar di covernya yang diambil dari tokoh-tokoh filmnya. Meski setting yang diambil dari novel ini adalah Kalimantan Timur dengan festival Erau-nya yang megah dan meriah itu, tema besar ini lebih pada seputar permasalahan yang dialami oleh umumnya perempuan usia 26 tahun. Terutama tentang apakah itu jodoh, bila jodoh itu ada siapakah ia. Selain itu, melalui cerita hidup Reza dan Kirana, novel ini juga sedikit mengingatkan pada kita apakah pekerjaan yang dijalani selama ini sudah sesuai dengan hati.

Kita akan mengikuti cara khas Kirana yang cukup bijak ketika menyelesaikan permasalahannya, Reza, hingga ibunya. Pun ketika akhirnya memutuskan langkah hidupnya selanjutnya. Juga akhir yang menarik tentang rahasia jodoh yang selalu ia pertanyakan.

Namun sayang, interaksi dan dialog antara Kirana dan Reza agak kurang menggigit. Saya sendiri tak terlalu terhanyut suasana yang mestinya terbangun romantis karena barangkali selain pertemuan mereka singkat, obrolan terkesan datar. Proses move on Kirana juga terkesan cepat untuk pasca berakhirnya hubungan yang telah 4 tahunan dijalani. Untungnya interaksi dengan tokoh lain cukup menarik untuk diikuti, terlebih ketika Kirana harus menghadapi Ibu Tati yang semula membencinya dan Alia yang cemburu dengannya.

Melalui novel ini, kita sedikit banyak membaca perjalanan Kirana yang dapat menjadikan pelajaran hidup bagi pembaca, juga memberikan motivasi untuk tetap berusaha bangkit dari masalah. Novel yang memiliki 204 halaman ini dituliskan dengan gaya bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti. Sisi menarik novel ini juga terletak pada penggambaran suasana yang membuat kita seolah ikut jalan-jalan menonton keriuhan festival Erau. Selain itu, plot dan penyelesaian konflik tidak terkesan berlebihan.

Novel ini reccomended untuk ditambahkan di daftar koleksi.

Iklan

Surat Keenambelas: Sore

untuk diriku sendiri,

Tak ada sore yang secerah ini sebelumnya. Melihat udara begitu hangat dan cahaya menelusup hingga di bawah kaki meja, membuatku sadar, bahwa matahari memang masih selalu bersinar tanpa pilih kasih. Seperti kasih sayang-Nya yang tak memihak. Tapi sore tetaplah sore. Ia mampir sebentar di ruang tamu kita untuk bergegas berganti senja, kemudian malam.

Tapi setidaknya Minggu ini begitu longgar rasanya. Akan kuhabiskan sore ini dengan mencicil pekerjaan sambil ngemil cokelat dan minum segelas air hangat. Sudah lama pula tak membaca buku-buku, hingga rasanya dunia seakan menyempit. Aku butuh membaca, aku juga akan selalu butuh menulis….

Surat Keempatbelas: Harapan

Untuk Isha.

Menyambung suratku yang kemarin.

Barangkali sejak ada istilah kakak juga merupakan orang tua kedua bagi adik-adiknya, sejak itu aku menyadari sedikit banyak rasanya menjadi orang tua. Sejak itu ada sifat pengatur dan posesif ketika dihadapkan oleh kebandelan adik-adik atau ketika mereka tengah akan membuat keputusan hidup. Tapi rupanya benar, sebagai orang tua cadangan itulah, seorang kakak tak bisa memiliki hidup yang santai.

Terlebih ketika menghadapi adik bungsuku laki-laki yang sedang dalam kondisi tidak baik-baik saja saat ini. Adik kecil yang bahkan masih kuhafal cara berlari dan tertawanya ketika masih balita. Kini ia sudah dewasa dan mahasiswa, badannya lebih besar dan tinggi dibanding aku. Tapi saat ini, aku hanya bisa berdoa dan memohon pertolongan pada Allah untuk segera memulihkannya. Mengembalikannya seperti dulu… Aku rindu ceria dan aksennya yang kadangkala cuek. Aku rindu mengkopi film-film animasi Jepang miliknya dan membicarakan cerita lucu di dalamnya di kala senggang sambi tertawa. Aku rindu omelannya ketika aku goda atau kusembunyikan barang miliknya. Aku juga masih ingat dia selalu usil membawakanku cicak mati di tangannya sampai aku jadi jejeritan nggak jelas. Kini rasanya jarak aku dengannya seperti begitu tak terjangkau dan entah sampai kapan. Aku hanya bisa menangis diam-diam dalam kamar ketika sendirian karena tak mungkin aku seperti itu di depan kedua bapak ibu yang belakangan juga sedih dan bingung. Memang terkadang seorang kakak sulung adalah pembohong yang ulung. Ia bahkan bisa pura-pura tegar di hadapan semua orang. Padahal hancur.
Rasanya sekarang aku mesti mempercayai harapan.
(Oh Tuhan… semoga janin dalam perutku tak protes karena emaknya tengah kacau belakangan ini.)

Sekian suratku ini, Is.
Semoga saja surat berikutnya adalah tentang kabar yang bahagia.

Surat Ketigabelas: Penyakit

Dear Isha,

Malam ini setelah menjerang air dan membuat wedang jahe, akhirnya kuputuskan untuk menulis sesuatu. Sudah lama aku tak menulis surat untukmu. Surat untukmu selalu membuatku merasa bercerita tentang sebagian uneg-uneg dengan buku harian. Sebagian kepenatan.

Kau tahu belakangan aku menulis beberapa surat dalam rangka ikut event 30 hari menulis surat cinta. Tapi entahlah. kurasa aku tak lagi peduli deadline atau aturan yang dibuat di web itu. Aku tetap akan mencoba menuis 30 surat di bulan ini dan tak harus selalu bertema cinta atau sesuai kriteria, karena rasanya akan konyol. Aku ingin lebih jujur dengan tanpa melabelkan istiah “cinta” untuk setiap suratku atau menulis sesuatu yang memang tak aku inginkan.

Toh memang tak selalu keinginan menulis itu datang setiap hari akhir-akhir ini, tak lagi seperti dulu ketika beban hidup tidak sebanyak keasyikan untuk membuat tulisan. Kini mungkin saja kondisinya sedang terbalik. Hanya malam-malam seperti ini, tiba-tiba saja aku ingin mengobrolkan banyak hal. Kurasa benar, setiap orang selalu butuh teman bicara, sekalipun ia hanyalah teman imajinasi. Sepertimu, Is. Teman yang mungkin dapat mengerti dan selalu menyimak hal-hal yang tak bisa gamblang kuceritakan.

Baiklah barangkali di surat ini aku hanya seperti berputar-putar dan bicara hal yang tidak jelas, tapi aku lega. Aku hanya ingin mengatakan bahwa, makhluk dalam perutku telah membuatku membenci sangat penyakit-penyakit yang belakangan menengokku; flu, sariawan, radang tenggorokan, dan batuk parah, dan sejak penyakit itu datang, aku tak belum berkesempatan pergi ke dokter atau menentukan obat yang tepat. Padahal katanya, bumil itu nggak boleh sampai ngedrop, kurus, apalagi penyakitkan. Meskipun seperti sebelum-sebelumnya, belum tentu aku akan patuh pada obat-obat resep dokter karena lagi-lagi mengkhawatirkan buah hatiku. Di luar sana banyak kasus mapraktik bukan? Aku bakan beberapa kali ketemu dokter yang salah. Barangkali benar, ‘(insya Allah) punya anak’ adalah hal yang ajaib bagi seorang perempuan, karena tidak pernah sebelumnya ia begitu mengkhawatirkan banyak hal, mencintai sesuatu dengan aneh, atau menakutkan masa depan, seperti yang terjadi padaku. Aku bahkan rela bila sakit ini hanya kualami sendiri, jangan calon anakku.

Ishak, andai saja aku bisa lekas tidur malam ini dan bermimpi indah. Tapi dalam malam yang sunyi dan baru saja diguyur gerimis seperti ini, aku memang hanya mampu mengisinya dengan doa. Tak hanya itu, aku juga ingin bercerita bahwa hari ini adalah hari yang cukup berat untuk perempuan yang lagi rentan virus dan penyakitan. Doakan segalanya berjalan lancar dan aku cepat sembuh ya….

-temanmu

Surat Keduabelas: Belajar dari Pabrik Susu di Arab Saudi

Dear A,

Hari Minggu adalah waktu untuk iseng belajar hal-hal beda.
Melalui surat ini, aku ingin bercerita tentang negeri tetangga. Tidak lama, aku menemukan link ini di Youtube. Dan aku berharap kami, warga yang merasa SDA-nya melimpah ini, sempat melihat dan merenungkannya.

Kita tahu bahwa di Almarai, Arab Saudi memiliki iklim yang tidak sebaik Indonesia. Cuacanya panas kering dan rawan badai pasir. Gilanya ada pabrik susu cukup besar yang dibangun di padang pasir. Masyarakat dan pemerintahnya kompak untuk menghidupi sendiri warganya secara berdikari. Mereka yang bekerja di pabrik adalah orang-orang yang terampil. Mereka melakukan segala upaya untuk tetap bisa memproduksi susu segar dan olahannya bahkan dengan cara-cara yang canggih dan sangat menyenangkan bagi para sapi itu sendiri. Yah, bahkan proses memeras puting susu dengan alat modern yang membuat sapi-sapinya tidak stres. Di samping memperoleh bahan dengan optimal, mereka juga tak lupa memperlakukan sapi-sapi dengan layak, mengelompokkan yang akan melahirkan dengan setting seperti di alam hingga memastikan seluruh makanannnya berkualitas. Hasilnya, 100.000 liter susu murni yang aman diminum untuk anak-anak hingga lansia berhasil diproduksi dan dipasarkan tiap jam dengan harga yang tentunya terjangkau oleh setiap warga. Tak hanya itu, mereka juga mengolah sendiri produk lainnya yang berasal dari susu, dari yogurt hingga keju.

Melihat video ini, aku jadi merasa bahwa kami, orang Indonesia yang selalu terlena dengan SDA-nya, mestinya belajar dari ini. Memang pabrik susu di Almarai hanya salah satu dari sekian hal yang perlu dikunjungi ramai-ramai ketika kita ingin mengintip perekonomian negera lain. Selama ini kami seperti merasa memiliki alam yang sangat kaya, sayang si bahan alam tadi tidak dapat membangun pabrik pangan sendiri untuk kita semua. Aku percaya bahwa keberhasilan bangsa ditentukan oleh bagaiaman SDM-nya. Seperti halnya keberhasilan hubungan ditentukan oleh orang-orang yang menjalaninya (eh.. ). Persetan dengan tongkat ditanam pun jadi tanaman di Indonesia. Kalau tidak ada yang menanam tongkat, tanah subur di Indonesia cuma bisa jadi mall dan perumahan elit dihuni penduduk yang jarang di rumah, dengan menggeser yang marginal ke pinggir sungai dan wilayah kumuh lainnya.

Bayangkan bila Indonesia yang cuacanya tropis, memiliki hutan, tanaman, rumput yang melimpah, serta lahan yang luas ini, mampu membuat pabrik olahan susu sapi sendiri tanpa import, seberapa banyak anak Indonesia yang selamat dari gizi buruk dan sakit-sakitan?

Sayangnya, aku hanya bisa bertanya pada rumput yang bergoyang.

Salam A.
Menunggu cerita tentang negerimu.

Resensi Novel Haseki Sultan

novel Haseki Sultan

novel Haseki Sultan

Judul: Haseki Sultan
Penulis: Zhaenal Fanani
Editor: Addin Negara
Penerbit: Divapress
Tahun Terbit: Oktober 2014
Tebal: 480 halaman
ISBN: 978-602-296-036-2

Sebelum membaca buku ini, saya hanya tahu sedikit sejarah Turki Ottoman dan sekelumit cerita Harem melalui film serial yang sedang berlangsung di salah satu stasiun TV. Dapat dikatakan Sulayman adalah raja tersukses dalam sejarah Islam dan merupakan terbesar di Eropa pada abad ke-16. Di bawah kekuasaannya, armada Turki Utsmani bahkan menguasai laut Tengah hingga teluk Persia.

Banyak hal yang terjadi di istana Ottoman tak lepas dari pengaruh yang datang dari area Harem. Harem adalah istana khusus para selir. Di dalam Harem, ada ratusan wanita menunggu panggilan untuk melayani sang raja. Penggilan tersebut dianggap penting bagi setiap gadelki (calon selir) yang dapat mengubah nasib untuk selamanya. Ratusan wanita tersebut harus menunggu sampai raja menginginkannya. Banyak di antara mereka yang tidak terpilih akan dilempar ke medan perang untuk menjadi pelayan prajurit. Upaya ini tidak lepas dari pengaruh para kasim dan orang-orang yang cukup penting di sana. Mereka tidak akan terpilih bila tidak ada kasim yang “mempromosikan” kepada Sultan. Dari sanalah nuansa yang mirip persaingan dagang terjadi selayak yang terjadi kompleks remang-remang. Terlebih seorang kasim yang berhasil meluluskan selir untuk menjadi istimewa, derajatnya pun ikut terbawa.

Sedangkan Haseki adalah istilah untuk merujuk pada selir kesayangan sultan. Apakah syarat untuk menjadi selir terpilih Sultan? Selain ia lolos dari seleksi awal, ia harus cantik dan mampu menarik hati sang raja, beragama Islam, dan diharapkan kelak dapat mengandung anak berjenis kelamin laki-laki. Namun nasib menjadi selir kerajaan bukan serta merta jadi hal yang diimpikan para perempuan.

Seperti yang dialami oleh Alexa, sebelumnya ia mengalami nasib yang cukup tragis. Alexa lahir dari keluarga Kristen Ortodoks. Ia mempunyai pembawaan keras kepala, cukup cerdas, dan memiliki fisik yang cantik jelita. Alexa yang di kemudian hari bernama Roxelana semula bermimpi jadi seperti Cleopatra. Ia cukup keras kepala hingga mengabaikan pesan ayahnya untuk tinggal di asrama dan memperdalam agama. Ketika dewasa, saat ia telah yatim piatu, ia diculik dan disekap oleh pria-pria brutal tak dikenal sebelum dijual di pasar budak. Roxelana adalah satu dari sekian banyak wanita di zaman itu yang mengalami nasib serupa. Hanya keberuntunganlah yang membawanya ke istana dan kemudian menjadi gedikli karena kecantikannya.

Istana Harem dipenuhi politik kotor yang dikendalikan oleh selir-selir senior, para kasim, dan juga beberapa pejabat istana yang korup. Para selir harus pandai bersaing demi mendapat kesempatan menghangatkan peraduan sultan, mereka juga berlomba untuk bisa punya anak laki-laki. Para selir bahkan ada yang menjual dirinya pada kasim, prajurit yang mengurusi istana harem, supaya mendapat kesempatan melayani sultan. Kasim meski rata-rata dikebiri, tapi tetap saja memiliki fungsi sebagai laki-laki normal. Tak jarang pula yang berbuat curang dengan membunuh atau berkonspirasi untuk menjatuhkan saingan. Toh satu dua selir atau kasim yang tiba-tiba hilang, bukan menjadi hal besar. Akan menjadi gawat bila itu terjadi pada selir yang paling dicintai sultan.

Roxelana harus menghadapi segala kesulitan dan ancaman ketika akan sampai pada cita-citanya. Terlebih berbagai ancaaman datang, terutama dari Selir Mahidevran dan kasim-kasim seperti Kiral Berk dan Ugur Yildrim. Semakin dekat dengan cita-cita itu, semakin banyak penghalang yang menghadang. Bahkan bahaya itu pun melibatkan pelayan kesayangannya.

Novel ini banyak mengulas politik yang terjadi di istana harem sebab di istana itulah yang menentukan kelak putra siapa yang berhak menggantikan tahta raja. Kelebihan novel Haseki Sultan adalah pada detail dan suasana istana harem yang cukup menegangkan dan alur cerita yang berkembang sehingga menarik untuk terus diikuti. Dilihat dari istilah hingga penggarambaran istana, tampaknya penulis cukup mengusai sejarah Turki. Novel ini menggunakan bahasa yang ringan sehingga mudah dipahami. Membaca novel ini seperti menyimak sebuah film sejarah. Terlebih novel ini juga dilengkapi dengan catatan kaki sehingga memudahkan pembaca.

Hanya saja tidak seperti gambaran awal saya ketika membaca judulnya “kehidupan sesungguhnya” para wanita di istana masih kurang tereksplore, termasuk ciri khas karakter, pemikiran, pandangan politik, dunia batin, atau tentang bentuk pemberontakannya. Namun ternyata para selir lebih bayak berkutat pada usaha untuk menarik perhatian Sultan dengan berbagai cara yang ditopang oleh cara-cara ala kasim.

Saya merasa baik konflik maupun penyelesaian masih banyak diambil oleh tokoh-tokoh lelaki, dapat dikatakan sebagian besar politik yang digambarkan dalam novel ini dimainkan oleh para pria. Tokoh perempuan jarang diposisikan sebagai subjek yang menggerakkan cerita. Seperti ketika cerita beralih pada Mahidevran, pengaruh lebih banyak datang dari Kiral Berk. Penggambaran karakternya berputar pada kecantikan dan sisi kelicikan yang tidak terlalu mengubah keadaan. Demikian pula dengan tokoh Roxelana yang tidak begitu memiliki karakter yang berdiri sendiri, kecuali kecantikan yang dijelaskan secara subjektif dan tergantung oleh tokoh ayah di awal cerita, dan ia seolah kena batunya dengan mengalami nasib tragis karena memberontak sang ayah.

Salah satu selir seperti Sofia misalnya, malah akhirnya hanya menjadi selingan Kiral Berk karena bentuk fisiknya mirip Mahidevran. Ia ditinggalkan oleh Kiral Berk begitu saja setelah jatuh cinta. Pada bagian ini saya memang sedikit agak kecewa karena Sofia diposisikan sebagai perempuan lemah meski ia semula cukup memenuhi kriteria untuk jadi selir Sultan. Karena lemah, ia jadi pihak yang dipermainkan dan dijadikan alat.

Memang di balik keputusan seorang raja, ada seorang wanita yang berperan di belakangnya. Semua itu tetap saja ditentukan oleh kecantikan fisik, kelembutan, keberuntungan, dan sedikti kecerdikan untuk mampu meluluhkan hati raja dan memengaruhi jalannya kekaisaran. Selebihnya, novel ini meski menggambarkan keadaan di istana Harem dengan cara fiktif, namun dapat sedikit membuka wawasan dan mengingatkan kembali tentang kejayaan Zaman Turki Ottoman. Setelah saya iseng searching ternyata nama Selir Roxelana memang ada dalam sejarah Turki.

Selamat membaca.

Surat Kesebelas: Tentang Iklan Rokok

Dear A,

Kali ini aku ingin bercerita tentang salah satu iklan rokok yang lagi sering tayang di televisi.

Ceritanya ada Tuan Jin berpakaian Jawa yang memberikan satu kesempatan pada seorang wanita single di hadapannya untuk meminta satu hal.
Si wanita muda menjawab, ia pengin punya “teman hidup” (jodoh) yang baik, pengertian, sabar, penurut, dan juga setia.
Tuan Jin pun mengabulkan permintaan kliennya apa adanya, dan ia memberikan seekor anjing. Aku jadi ngakak, kau tahu? Tampang anjingnya memang lucu.

Apakah kamu sudah dapat tertawa hari ini?

Surat Kesepuluh: Tentang Cara Mengisi Sepi

kepada kamu

Apa kabar?

Setiap orang punya cara mengisi sepinya masing-masing. Meski kadang memberikan rasa nyaman, perasaan sepi juga sering kali tidak menyenangkan. Terlebih akan begitu terasa ketika cuaca selalu mendung sepanjang hari dengan angin yang berembus kencang, mulai turun hujan menjelang sore, dan mendingin di malam hari. Atau tiba-tiba saja menjadi panas di hari-hari tertentu.
Di kesempatan ini akan kujawab suratmu lalu tentang apa yang kulakukan belakangan ini.

Aku sudah menceritakan bahwa sejak resign dari kantorku yang terakhir bulan Desember kemarin, aku memang seperti terjebak kebiasaan yang sungguh berbeda. Rutinitasku berganti dengan minum obat pagi hari, membuat jus di siang hari lalu tidur setelahnya, dan sisa waktu luang kugunakan untuk membereskan urusan rumah. Tapi memang ini pilihan terbaik untuk saat  ini.
Tentu tidak ada lagi keriuhan kantor dengan banyak orang di sebuah ruangan yang sibuk setiap pagi hingga sore yang biasa kusimak. Melainkan kini lebih sering aku menonton mimpi-mimpi tidurku sendiri yang berganti-ganti atau sekadar memandangi tanaman kebun di samping kamar. Atau sesekali menonton film Masha and the Bear.

Mestinya dengan demikian, aku punya banyak waktu untuk menulis atau sekadar membaca. Anehnya aku jadi sering tidak bersemangat membaca buku, kecuali yang benar-benar kusuka. Anehnya aku jadi sering nonton film-film horor via Youtube di siang hari. Aku juga mengikuti serial india setiap jam 20.30 hingga jam 10 sebelum membuat segelas susu, berlanjut acara TV berikutnya hingga tertidur. Kamu pasti heran sebab sebelumnya aku anti televisi apalagi mengikuti film serial. Segalanya memang bisa berubah.
Aku bahkan sudah jarang sekali memegang ponselku sendiri.

Lalu apa kegiatanmu belakangan ini?
Kuharap kamu masih sempat menulis buku harianmu

Surat Kedelapan: Perihal Ngambang

:untuk sobatku Pit

Sudah lama kita tidak mbolang lagi ke bukit-bukit atau pantai sambi lewat jalan yang hanya dilalui kambing. Rasanya hari-hari telah memisahkan kita yang sebetulnya hanya berjarak 45 menit perjalanan motor. Meski kita berdua akhirnya hanya bisa saling curhat via SMS atau telepon, aku ingin lagi bercerita panjang lebar. Namun kali ini aku ingin menulis surat untukmu. Terutama tentang kamu kali ini.

Belakangan kamu menggelisahkan hal-hal berkait masa depan. Sering kali mengeluhkan priamu yang sering mengambang, atau seseorang lain yang begitu serius ingin bersamamu namun tak menggapai hatimu. Perihal ngambang memang kerap bikin goyah dan kerap mengganggu kewarasan. Namun kamu tahu, aku bukan lagi tipikal sobat yang ceriwis menggunakan kata “nyusullah” sebagai untuk pilihan-pilihan hidup yang privat seperti menikah. Aku sadar itu istilah yang terdengar jahat. Terlebih perempuan zaman sekarang itu umumnya ‘mbulet’. Tak jarang pula dihadapkan oleh pilihan yang membingungkan. Menjalani perihal yang rasional tapi nggak terlalu sesuai hati, atau tetap pada jalur yang diinginkan yang sudah tahu bakal nggak sampai-sampai. Ah, kau tahu sendiri maksudku.

Tapi kamu tahu aku selalu mendukungmu apa pun pilihan hidupmu. Bila kamu yakin itu jalanmu, aku akan mendukung, bila tidak aku juga akan dukung. Hanya saja aku akan selalu ikut sedih ketika kamu menyedihkan hal-hal jauh yang belum juga sampai itu. Seperti belakangan ini. Kuatlah Pit. Berpijaklah.
Katakanlah pernikahan memang jalan hidup yang harus dijalani perempuan Indonesia dengan waktu dan kondisi yang berbeda-beda. Tapi segalanya mesti dihadapi dengan kesiapan, terutama hati dan mental. Ada banyak perempuan zaman kita yang tak siap memasuki institusi itu karena berbagai hal, termasuk trauma yang sering mereka simak di televisi atau koran, atau memang karena kurang yakin dengan konsep pernikahan. Aku paham dengan itu. Akan sangat panjang bila kujelaskan dalam surat ini. Lain waktu kamu mesti baca bukunya Elizabeth Gilbert sekadar tahu gambaran pernikahan di barat sana, dan bedanya dengan di sini. Hidup di negeri ini memang tidak mudah bagi perempuan.

Melalui surat ini kuminta padamu, rajinlah kuliah dan baca buku. Berkesempatan masuk S2 itu berkah yang aku saja belum pernah tahu kapan giliranku. Syukuri saja kesendirianmu sekarang, karena bila kamu sudah menikah, kamu takkan bisa lagi keluyuran dan bangun siang. Walaupun kutahu, memang belakangan kamu mesti banyak tutup telinga dan mata untuk orang-orang di sekitarmu yang gatal menanyakan usia ataupun yang memajang foto-foto pernikahan dan bayinya di akun jejaring sosial. Aku tahu kamu selalu merasa depresi dengan fenomena itu meski sebetulanya kamu mencintai anak-anak kecil. Kita bahkan sering ngobrol tentang konsep pendidikan modern untuk anak-anak yang jarang diterapkan masyarakat di sekitar rumah kita. Kamu bahkan masih konsisten mengajar di ilmu yang kamu geluti.

Akan ada saatnya kamu sampai pada doamu yang satu itu, Pit, menjadi istri yang berbakti dan ibu yang baik untuk anak-anakmu. Dan semoga itu memang pilihan sejati hidupmu. Kudoakan selalu yang terbaik deh.
Sekian surat dariku, jaga kesehatan supaya maagmu tidak kambuh lagi ya. Jangan lupa juga nonton Warkop DKI 🙂

Sobatmu.

Surat Keenam: Perihal Makanan Tradisional

: untuk penjual jajan pasar di seluruh penjuru kotaku.

Sungguh jangan pernah gantikan makanan tradisonal yang engkau jual itu dengan yang modern. Yang terbaru tak selalu mengandung kejujuran. Bahan pewarna, pemanis, atau pengawet tidakkah cukup riskan untuk kesehatan kita?
Mengapa demi sebuah rasa, mereka beramai-ramai harus menggunakan bahan-bahan palsu itu?
Bukankah rasa hanya sekadar mampir di lidah, dan dampak selalu bertahan lama di tubuh kita?
Seperti halnya cinta?

:salah satu pelangganmu

Surat Kelima: Cuplikan

Aku hanya ingin mencuplik sesuatu yang kuambil dari bukumu yang lama kupinjam dan belum juga sempat kukembalikan.

Kita sulit untuk mengerti mengapa ada orang yang mengusulkan masa tenang dari “segala yang telah berlalu” sehingga kata-kata yang telah disalahgunakan bisa dibebaskan. Namun ini bukanlah cara untuk menebusnya. Kita tidak bisa membersihkan istilah “Tuhan” dan kita tidak bisa membuatnya utuh: namun, betapapun ia telah cemar dan memar, kita bisa membangkitkan dan melepaskannya dari sengsara.

Dan aku mencuplik ini sebab sampai sekarang aku belum paham maknanya. Atau barangkali aku sedang tak yakin dengan yang kuartikan sendiri.

 

Kepada Pagi yang Selalu Menemani Sejak Terbangun dari Mimpi

Selalu ketika engkau mengirim cerah matahari dan udara yang berdamai dengan dada, yang senantiasa mengingatkanku tentang segala sesuatu yang akan diawali, juga yang harus dibenahi. Aku ingin selalu menyimak kehadiranmu, meski engkau terkadang menjadi sepi yang membuatku ingin terlelap kembali.

Sering kali engkau menemaniku bercerita. Lebih banyak menjadi pendengar yang begitu setia. Tentang hari kemarin yang mendung, atau mimpi semalam yang kusut dan gaduh. Tak jarang engkau datang kala subuh, mengajakku berdoa untuk meredam segala kekhawatiran dan mencoba menyusun lagi sesuatu yang kita sepakat menyebutnya harapan. Engkau tahu di waktu yang telah berlalu aku marah kepada begitu banyak hal. Dan aku sempat mengutuki hari yang datang begitu cepat. Atau tatkala aku merasa ada hari-hari yang telah kulewati begitu saja tanpa sempat merasa menjalaninya.

Melalui surat hari ketiga bulan Februari ini, ingin kusampaikan bahwa bagaimanapun hari-hariku lengkap sejak engkau menjadi senyum pertama sebelum hari beranjak tua. Dan engkaulah yang mengajari tentang makna. Engkaulah, hatiku.