Review: Le Petit Prince

img_20180914_143734

Judul: Le Petit Prince
Penulis: Antoine de Saint-Exupery
Penerbit: PT GPU
Cetakan ke-10: tahun 2018
Jumlah halaman: 118
ISBN : 9786020323411

 

Dalam pengasingannya pada tahun 1941 hingga 1943 di Amerika, Antoine de Saint-Exupery menulis sesuatu yang lain dari biasanya. Tentang seorang pilot yang terdampar di Gurun Sahara dan bertemu dengan seorang pangeran kecil dari planet lain. Dan buku ini untuk anak-anak?

Kenyataannya memang banyak tokoh di dunia ini tetap menulis ketika berada di dalam tahanannya. Dan banyak penulis cerdas membuat alegori untuk mengatakan sesuatu tanpa tampil “blak-blakan”. Termasuk Antoine yang menulis novel ini dalam pengasingannya. Saya jadi ingat Pramoedya A.T. yang juga sempat menulis novel ketika diasingkan di Pulau Buru. Dan buku-buku yang ditulisnya bukan tentang hal-hal yang biasa. Seperti Duong Thu Huong yang tetap menulis selama dan setelah dipenjara oleh pemerintah sosialis Vietnam yang pernah ikut diperjuangkannya. Diasingkan tidak membuat seorang penulis sejati lantas berhenti berkarya.

Bertemu seorang anak berpakaian aneh ini juga pengalaman yang menakjubkan bagi si pilot dalam novel ini, yang merupakan representasi si penulisnya sendiri. Pangeran kecil ini innocent, ia mempertanyakan segala hal yang tak dipikirkan orang-orang dewasa pada umumnya. Entah mengapa saya selalu suka tokoh-tokoh innocent entah dalam buku maupun film. Tokoh-tokoh polos menurut saya lebih berani mempertanyakan sesuatu dari dasar, tidak sungkan bertanya tentang hal-hal yang memang ada di kepalanya, dan mereka biasanya akan terbuka terhadap segala jawaban yang ditemuinya.

Ia bercerita pada si pilot bahwa ia telah mengembara ke planet-planet tetangganya yang berisi orang-orang dewasa yang begitu aneh. Tak kalah aneh pula yang ia temui tatkala ia sampai di bumi. Kisah si pangeran cilik melakukan perjalanan dari planet ke planet ini sungguh tidak bisa dilewatkan.

“Apa yang mereka cari?” Begitu yang ia tanyakan ketika menemui si tukang wesel di sebuah stasiun di Planet Bumi yang penuh dengan orang yang terburu-buru. “Manusia,” kata Pangeran Cilik, “mereka menjejalkan diri ke dalam kereta api kilat, tetapi lupa apa yang mereka cari.” (hlm 97)

Sisi lain yang menarik dari novel ini menurut saya adalah tema tentang kasih sayang yang universal. Si pengeran cilik diceritakan hanya mengenal 1 bunga mawar di planetnya. Bunga ini sangat bawel tapi yang paling peduli. Meskipun ia bertemu dengan ribuan bunga yang sama di bumi, pada akhirnya hanya satu bunga itulah yang paling penting. “Kamu menjadi bertanggung jawab untuk selama-lamanya atas siapa yang telah kamu jinakkan” (hlm 88). Begitulah hingga ia harus pergi karena merasa telah membuang waktu dengan meninggalkan si bunga sendirian di planetnya.

Gaya bahasa dalam novel ini memang terkesan sederhana sehingga mudah dipahami, tapi isinya yang bertema filsafat ringan mengajak pembaca merenungi hidup yang mungkin sudah terlalu biasa bagi orang dewasa. Buku ini berhasil mengubah banyak hal tak lagi biasa dengan kembali pada pertanyaan polos ala anak-anak.

Meskipun demikian, novel yang telah diterjemahkan ke dalam 200 bahasa ini lebih direkomendasikan untuk remaja ke atas.

Iklan

Review “Matilda”

img_20180912_093155_hdr

Judul: Matilda
Penulis: Roald Dahl
Ilustrasi: Quentin Blake
Penerbit: Noura Books
Jumlah halaman: 278
Cetakan I: tahun 2018

 

 

 

Matilda Wormwood adalah bocah cilik yang genius. Ia telah bisa membaca secara autodidak di usia 4 tahun. Dan pada usia 5 tahun, ia tidak hanya menghabiskan seluruh buku anak di perpustakaan umum, tetapi juga membaca buku-buku karya penulis besar seperti Charles Dickens, Ernest Hemingway, hingga George Orwell. Matilda tumbuh menjadi sangat cemerlang di usianya yang masih sekecil itu. Menurut gurunya, bahkan ia sebetulnya sudah cocok masuk universitas dua tahun mendatang. Ironisnya ia tidak hidup di lingkungan yang sesuai dengan yang ia butuhkan.

Ayahnya adalah pengusaha mobil bekas yang licik dan hanya menyayangi anak lelakinya. Ibunya hampir setiap sore meninggalkannya di rumah demi bermain bingo. Di rumah, ia menghadapi kedua orang tua yang selalu mengabaikannya, bahkan menganggapnya koreng. Matilda harus berkerja keras mengingatkan mereka bahwa usianya sudah cukup untuk bersekolah. Dan pada akhirnya ketika ia masuk sekolah, tantangan demi tantangan masih harus dihadapi. Ia harus bertemu dengan seorang kepala sekolah yang tiran dan membenci anak-anak. Di rumah dan di sekolah, Matilda selalu bertemu “monster”. Orang-orang dewasa seperti mereka bahkan tak peduli ada yang istimewa pada diri Matilda. Namun alih-alih membuat iba, polah Matilda di kemudian hari justru mengundang ketakjuban dan tawa.

Bagaimana tidak, demi mencegah dirinya meledak karena tertekan, ia membuat hal-hal konyol untuk memberi “pelajaran” pada orang-orang dewasa yang suka menindas, bahkan tanpa ketahuan. Hingga datang pada suatu hari di sekolah, sebuah keajaiban muncul. Matilda tiba-tiba saja dapat menggerakkan benda-benda tanpa menyentuhnya. Kemampuan yang ajaib itu pun akhirnya ia gunakan untuk menolong orang yang paling peduli dengannya.

Tentu saja buku ini berhasil membuat saya jatuh cinta sejak halaman pertama hingga terakhir. Tidak hanya cara bercerita Roald Dahl yang enak diikuti, bahasa yang ringan, dan plot yang menarik, tapi juga banyak nilai moral yang dapat direnungkan. Humor cerdas yang bertebaran dalam buku ini juga nggak kalah menariknya. Tak heran sih buku ini pernah memenangkan Children’s Book Award pada tahun 1988 dan 1999.

Novel ini sebetulnya bisa dibaca semua umur, recommended banget deh pokoknya. Saya terbiasa mendaftar buku-buku jadul yang berkualitas dan masih relevan dari zaman ke zaman. Dan ini salah satu yang ada di daftar itu kalau menurut saya. Meski bisa dibaca segala usia, tetapi bahasanya sedikit lebih rumit untuk anak-anak di bawah umur. Saya jadi pengin baca karya Roald Dahl yang lain.

 

Of Mice and Men by John Steinbeck: Ulasan Singkat

32212419_1706975229351864_5420380845040992256_n

Judul: Of Mice and Men (Tragedi Hidup Manusia)
Penulis: John Steinbeck
Penerjemah: Shita Athiya
Penerbit: Selasar Surabaya Publishing
Cetakan 1: September 2011
Bahasa: Indonesia
ISBN: 978-979-25-9413-3
Jumlah halaman: 150

 

Blurb:

Berusahalah memahami masing-masing manusia, karena dengan memahami satu sama lain. kalian bisa bersikap baik satu sama lain. Mengenal baik seorang manusia tak pernah berakhir dengan membencinya dan nyaris selalu menjadi mencintainya.

 

George bertubuh kecil namun cerdas dan pemimpi. Ia ingin suatu hari dapat memperbaiki hidup, tak lagi menjadi buruh kasar dan memiliki tanah sendiri. Sedangkan Lennie bertubuh besar namun memiliki keterbelakangan mental. Mereka harus pindah lagi dan mencari pekerjaan pada tuan tanah yang baru di Soledad.

Mereka terusir karena sebuah kasus. Lennie dituduh memperkosa seorang gadis, padahal yang sebenarnya ia hanya tertarik pada tekstur roknya. Bahkan suka memegangi hewan-hewan kecil seperti tikus, kelinci, dan anak anjing hanya karena tertarik dengan bulu-bulunya, tanpa menyadari bahwa perbuatannya membuat hewan-hewan kecil tersebut terbunuh. Hal-hal kecil seperti yang Lennie lakukan ini sering kali menyulitkan hidup sahabatnya, George yang tengah berjuang mewujudkan impian.

Novel ini terbit tahun 1937, pada dekade 1930-an, ketika masih terjadi krisis global. Bahkan merupakan kisah yang terinspirasi oleh pengalaman hidup penulis sendiri yang pernah menjadi buruh. George dan Lennie merepresentasikan kaum buruh kasar. Novel ini menceritakan dua orang sahabat dari kelas pekerja kasar yang melakukan perjalanan bersama karena perasaan sepi. Goerge pun membutuhkan Lennie sebagai teman perjalanan yang tak memiliki niat jahat sedikit pun.

“Tak perlu otak untuk menjadi orang yang baik. Kelihatan bagiku kadang-kadang tepat terjadi sebaliknya. Lihat saja orang yang benar-benar pintar dan biasanya hampir tak pernah jadi orang baik.” (Hlm. 54)

Sebetulanya novel ini memiliki ide cerita yang sederhana. Memberikan pesan kepada pembaca bahwa memiliki teman yang menyulitkan lebih baik daripada tidak memilikinya sama sekali. Meski seolah bercerita tentang perjalanan 2 orang sahabat yang mengadu nasib dalam keadaan yang penuh keterbatasan, secara tersirat, Steinbeck lebih banyak bercerita tentang kondisi para buruh dan kisah-kisah kemanusiaan lain. Termasuk juga isu rasisme terhadap warga kulit berwarna.

Novel ini tentulah keren pada zamannya. Dituturkan dengan gaya sederhana ala Steinbeck dan ide yang dekat dengan kondisi masyarakat saat itu, membuat novel ini pantas meraih penghargan di bidang kesusastraan. Of Mice and Men, yang membuat miris perasaan ini pun menyuguhkan ending yang bikin geleng-geleng kepala.

John Steinbeck sendiri konon telah menerbitkan 27 buku selama hidupnya, termasuk 16 novel, 5 kumcer, dan 6 buku nonfiksi. Dan setelah membaca karya yang ini, saya jadi penasaran sama karya Steinbeck yang lain.

 

 

Para Perempuan dalam Dunia Alice: Review Novel Karya Alice Pung

Judul: Dunia Alice
Penulis: Alice Pung
Penerbit: Bentang Pustaka
Tahun Terbit: Cetakan Pertama, Februari 2011
Jumlah Halaman: viii + 310 halaman
ISBN: 978-602-8811-26-2

 

“Waaaahhh …,” nenek menyeletuk takjub saat melihat mobil berhenti dan menaikkan seorang penumpang.

Celetukan semacam itu sangat kerap terlontar dari mulut Alice dan keluarganya. Sebagai pendatang baru, kehidupan di Australia penuh dengan kejutan. Mobil bertebaran di mana-mana, dan mereka tak menolak berhenti hanya untuk seorang nenek tua! Di Kamboja, asal mereka, hal semacam itu jelas tidak mungkin.

Kejutan yang luar biasa mereka temukan justru di supermarket. Di rak, berderet daging kaleng dijual dengan harga sangat murah. Merasa girang, mereka membelinya beberapa.

Hari itu makan malam mereka istimewa, hingga televisi memperlihatkan sebuah iklan daging kalengan. Astaga! Ternyata daging yang mereka beli adalah makanan anjing.

Dunia Alice menuturkan kehidupan sebuah keluarga imigran Kamboja di negeri baru, Australia. Kocak dan menggelitik, novel ini benar-benar menghibur sampai ke sumsum tulang belakang Anda.

Saya selalu percaya setiap manusia memiliki dunia yang menarik untuk diceritakan bila saja mereka bisa berbagi dalam sebuah buku. Seperti halnya Alice Pung yang kali ini berbagai melalui novelnya yang berjudul Unpoliced Gem, yang setelah diterjemahkan versi Indonesia berjudul Dunia Alice. Buku yang tak sengaja dipinjam adik saya dari Perpustakaan Daerah ini rupanya menarik sekali.
Kebetulan saya juga senang membaca sejenis buku autobiografi atau semacam buku harian. Dunia Alice bercerita tentang kisah dirinya dan keluarga yang bermigrasi dari Kamboja pada masa konflik era Pol Pot. Alice baru lahir setelah keluarganya pindah. Ia tumbuh besar di negeri baru tersebut.

Dunia yang ia simak dan alami sejak kecil hingga memasuki masa dewasa adalah dunia yang cukup berwarna. Lewat kehidupan sehari-hari yang dialaminya, Alice kecil bercerita tentang generasi sang nenek yang menyatu dengan tradisi dan kemudian tentang ibunya yang lebih banyak dilatarbelakangi oleh peristiwa konflik. Alice lahir dari etnis Cina dengan keluarga yang selalu berjuang mempertahankan tradisi. Dengan daya kritisnya, ia menggambarkan nuansa culture shock yang dialami keluarganya di tengah kehidupan maju dan bebas seperti di Australia. Ia menuliskan berbagai perbedaan cara hidup keluarganya yang taat adat dan masyarakat negara yang ditempatinya dengan sekilas-sekilas. Dan secara tak langsung pula, Alice seakan membagi sekelumit pandangan seputar pengasuhan orang tua ala Asia, kebiasaan masyarakat, opininya mengenai negara yang ditinggali, beberapa kisah tragis negeri yang ditinggalkan menurut cerita nenek dan ayah meski dengan cara humor, hingga cerita lucu dan romantis ketika jatuh cinta pertama kali dengan seseorang yang berbeda etnis dan asal negara di kemudian hari.

Menurut saya, banyak hal menarik di buku ini yang sayang untuk tidak dibocorkan, beberapa di antaranya adalah:

Pertama,
Alice kecil akrab dengan perseteruan orang-orang dewasa. Di benaknya, orang dewasa adalah manusia-manusia rumit. Seperti iklim umum di keluarga Asia, ibu mertua bahkan jarang sekali dapat sehati dengan menantu perempuan. Alice kecil tentu tidak memiliki bahasa yang tepat untuk menyampaikan betapa itu tidak menyenangkan, kecuali hanya diam. Baik nenek maupun ibunya tentu dua orang yang sama berharganya. Di samping itu, biasanya figur anak-anak adalah nenek-kakeknya karena mereka cenderung lebih luwes. Demikian juga dengan Alice yang bahkan merasa bahwa semestinya neneknya hidup selamanya untuk dia sebab hanya neneknya yang mengatakan hal-hal baik tentangnya dan membuatkannya telur rebus setiap pagi. Sedangkan orang tuanya, terutama ibu yang telah sibuk bekerja dan mengurus anak-anak, selalu bersikap keras kepadanya dan jarang memiliki waktu untuk sekadar mengobrol.

“Seorang tidak ada yang mengingatkanku untuk bangga menjadi bagian dari kebudayaan yang berumur seribu tahun, tak seorang pun mengatakan bahwa aku ini emas dan bukannya kuning.” (h. 210)

Alice kecil juga merupakan anak-anak biasa yang memiliki bermacam tingkah konyol. Ia pernah punya kutu di rambutnya sehingga dijauhi teman-teman dan sepupunya. Suatu hari ia berkunjung ke rumah sepupu untuk bermain, namun para sepupu malah bersembunyi dan tak mau menemui Alice. Terbit ide iseng Alice dengan berbaring di karpet sepupunya dan membayangkan kutu-kutu tersebut menyerbu sela-selanya sehingga kelak menulari mereka.

Kedua,
Setelah beranjak remaja (mulai menstruasi), kebanyakan orang tua Asia (tradisi Timur) akan mendoktrin bahwa di luar sana laki-laki adalah penjahat yang sewaktu-waktu dapat memperkosamu di jalan. Bila kamu tidak perawan lagi, maka kamu tidak akan punya suami dan menikah yang layak, atau akan dianggap “benda” yang telah rusak. Seperti halnya orang tua Alice yang selalu mewanti-wanti dengan tegas untuk waspada dan jangan dekat-dekat dengan laki-laki. Dan itu salah satu cara orang tua khas Timur melindungi dan memberikan pendidikan moral pada anak-anaknya.

Suatu ketika Alice remaja menerima telepon dari teman laki-laki untuk pertama kali. Peristiwa itu membuatnya depresi karena seluruh orang berpikir hal terburuk tentang dia. Akhirnya karena peristiwa ditelepon cowok itulah, ia pun dihukum orang tuanya untuk menghabiskan seluruh waktu liburan di dalam kamar. Ditelepon seorang laki-laki adalah aib dan hal besar bagi remaja putri yang akan membuatnya jadi bulan-bulanan seluruh keluarga dan bahan gunjingan para tetangga. Hal ini agak berkebalikan dengan aturan orang tua ketika Alice beranjak dewasa, karena justru ia diharuskan membuka diri untuk mencari calon suami yang tepat.

Yang kauinginkan di usia lima belas tahun adalah memiliki pacar, dan bukan memilih calon ayah anak-anakmu di masa depan. Yang diinginkan pemuda berusia lima belas tahun adalah diterima cintanya oleh si gadis, dan mungkin lebih kalau ia beruntung–bukan memilih calon menantu untuk ibunya. (h. 110)

Alice memang tumbuh jadi remaja yang penakut tatkala dewasa, ragu, tak percaya diri, namun ada sisi kepribadian kuat di dalamnya yang membuatnya mampu bertahan di dalam setiap masalah. Alice Pung seakan menunjukkan bahwa didikan keras ala masyarakat Timur tidak selalu buruk. Ia berhasil menunjukkan dirinya sebagai orang yang memiliki sifat tangguh justru karena didikan itu.

Ketiga,
Alice hadir dari tradisi bernilai patriakhat di mana anak lelaki lebih berharga daripada anak perempuan, hal itu ditunjukkan dalam kisah masa lalu nenek Alice ketika menikah dengan sang kakek. Dalam tradisi ketimuran yang dipaparkan Alice Pung, tak peduli bila seorang perempuan sukses pendidikan ataupun pekerjaan, jika tidak bisa mengerjakan pekerjaan domestik, tak punya penghasilan, dan tak bisa punya anak lelaki maka ia adalah perempuan tak berguna sehingga tak layak dinikahi.  Namun kedatangan mereka ke negeri semacam Aussi mengubah sedikit cara berpikir. Di buku ini saya banyak menemukan cerita kocak seputar perjodohan dan pernikahan yang bisa direnungkan sekaligus cukup menghibur.

Ketika dewasa Alice menyadari bahwa semua lelaki tidak sama seperti gambaran orang tuanya ketika remaja, ia menemukan Michael yang mengingatkannya akan karakter santun, romantis, dan sedikit rapuh seperti tokoh-tokoh dalam karya sastra yang sering dibacanya. Pendidikan formal, bahan bacaan, sekaligus lingkungan pergaulan semasa belianya membuat Alice juga begitu sering mengkritisi pria-pria asal budayanya sendiri. Ia tentu menemukan perbedaan mencolok mengenai gambaran lelaki dalam doktrin orang tuanya dengan lelaki dalam buku-buku dan pergaulan di sekolahnya. Tak hanya itu, lewat pengetahuan yang ia simpan dalam sifat introvertnya, ia pun mengkritisi pria model Barat yang baginya bersikap terlalu berlebihan sebagai wujud kesadaran atas keperempuannya yang utuh dan tak terjebak arus. Menunjukkan bahwa ada sisi feminis dalam diri Alice yang menarik untuk dikaji.

Saya juga suka pandangan Alice ketika berbicara perihal kesetaraan gender. Ia selalu mengalami perang batin dan keterasingan yang membuat saya tersenyum geli, merasa pernah di posisi itu. Salah satunya ketika berhadapan dengan kebiasaan wanita Barat mencium teman-teman prianya setiap bertemu. Terutama ketika melihat langsung para wanita berkontak fisik dengan Michael, pacarnya, meski ia bersikap menerima dan tak ingin terlihat mengawasi kekasihnya.

Secara sekilas ia juga mengkritisi sikap Gemma, salah satu teman Michael, yang mewakili para wanita Barat yang mencoba menjadi feminis negara dunia ketiga.

Kalau mereka menghormatimu, mereka akan mengurangi cium-cium, kau tahu, kataku pada diriku sendiri, lagi pula kau pacarnya. (h. 272)

Hal itu menunjukkan karakter Alice yang terbuka dengan hal-hal baru namun tetap menghargai tradisi aslinya sendiri. Ia tipe pendatang dari Timur yang cukup kritis yang tak asal mengikuti cara Barat.

Keempat,
Sejak pindah ke Austarlia, ibunya mengalami culture shock lebih parah daripada anggota keluarga yang lain. Ia pun menyebut masyarakat kaukasoid sebagai hantu putih yang begitu berbeda dunia dengan mereka. Ia juga tak bisa berbahasa Inggris sehingga membuatnya asing di antara orang-orang di sekitarnya, terlebih ketika Alice, Ayah, dan anggota keluarga lain pada akhirnya fasih berbahasa tersebut dan sesekali menggunakananya ketika makan bersama. Membaca Dunia Alice, membuat saya jadi ikut hanyut dalam pergantian suasana yang disuguhkan.

Diceritakan bahwa sang ibu adalah sosok workaholic, ia merasa hidupnya runtuh dan tak berarti setiap kehilangan pekerjaan dan pendapatan, meskipun sebetulanya dengan pekerjaan sang suami yang cukup bagus, ia bisa juga tidak perlu bekerja. Hal itu membuat setiap anggota keluarganya memberikan permakluman yang luas. Dengan kesibukan sang ibu berbisnis atau bekerja di luar rumah itu, Alice pun menggantikan pekerjaan domestik dan mengasuh adik-adiknya. Sosok ibu menurut saya cukup menarik, meskipun memiliki sisi keras dan kaku, ia merepresentasikan perempuan Asia yang gemar bekerja keras dan tak ingin selalu tergantung pada suaminya. Bahkan seolah tak ingin tergantung pada keluarga besarnya. Saya kira, itu salah satu gagasan besar dalam novel ini. Mengingat banyak tokoh perempuan yang lebih banyak dipaparkan dalam novel ini ketimbang tokoh prianya. Sedikit banyak, novel ini yang seperti mengingatkan saya pada ciri khas perempuan feminis.

Secara tidak langsung membaca novel ini membuat saya dapat mengenal akrab, tak hanya seorang Alice, tapi seperti apa kehidupan imigran Kamboja dengan segala keetnisan dan budayanya itu harus tinggal di negeri seperti Melbourne Australia. Dan lebih dari itu, saya menikmati cara berpikir salah satu penulis mudah perempuan ini yang sedikit banyak tidak melepaskan unsur kritik sosial dan tradisi, yang melesat lebih maju daripada nilai-nilai lama ala keluarga asalnya.

Memang tidak mudah bertahan dalam bacaan yang jenis uraiannya panjang-panjang, namun ketika terus membacanya, saya justru banyak menemukan hal-hal yang dapat dipetik, seperti bahwa menjadi warga negara “dunia ketiga” memang cukup menantang. Novel ini dituturkan dalam bahasa yang runut dan meski beberapa kali menemukan hal yang mesti dibaca ulang karena saya tidak terlalu terbiasa membaca kalimat terjemahan yang rumit. Hal lain yang menarik adalah ketika sampai pada bab masa pacaran, Alice Pung menunjukkannya dengan deskripsi dan pembukaan yang tidak langsung sehingga pembaca dapat memahami dengan cara sendiri dan bebas memberikan penilaian.

Dari segala keistimewaan dan isi yang dapat ditemukan di novel ini, tak heran bila Dunia Alice terpilih sebagai Newcomer of The Year Award tahun 2007, kemudian masuk dalam kategori NSW Premier Literary Award dan Booksellers Choice Award.

Rangkaian kisah hidup yang terinspirsai kisah nyata penulis ini rasanya membuat saya beruntung telah membacanya.

Parade Manusia dalam Novel Jatisaba: Sebuah Review

novel Jatisaba

Judul: Jatisaba
Penulis: Ramayda Akmal
Penerbit: Era Baru Pressindo
Genre: sastra
Jumlah halaman: 254
Tahun terbit: 2012
ISBN: 9786029967036

Aku pulang, walau tidak punya rumah. Walau hasrat untuk pulang sama kuat dengan hasrat untuk mencegahnya. Aku sempat berjanji tidak akan kembali. Tetapi kenangan akannya begitu mengutukku. Kutukan yang mendatangkan kerinduan. Kerinduan yang mengalahkan segalanya; rasa malu, keangkuhan, dan dendam. Sepanjang jalan aku gemetar, menyadari yang aku rindukan adalah masa lalu. Namun aku sedang menuju ke sana dan tak mungkin akan menghancurkannya, juga diriku. Aku tak bisa mengelak. (Halaman 7)

Pulang ke Jatisaba membawa Mae pada serangkaian peristiwa yang melemparkannya pada kenangan, sekalipun tak ada lagi keluarga dan rumah sebagai tempat tujuan. Jatisaba tak hanya sebuah kampung bagi Mae, tapi juga sebagian dari dirinya, nuansa kehidupan desa kelahirannya yang masih seperti dulu, cinta masa lalu yang tak tergapai, politik lokal yang rumit dan kotor, juga banyak hal yang menguras hati. Tak jarang kelebat kenangan masa kecil datang dalam ingatannya dan sering kali mengusik nuraninya. Seiring dengan trauma-trauma yang pernah dialaminya.

Ia dilahirkan dan mengalami masa kecil di desa tersebut meski masyarakat pada akhirnya menolaknya. Mae yang bernama asli Mainah adalah mantan korban TKW ilegal yang mengalami nasib tragis. Lepas dari berbagai siksaan, ia pun terpaksa menjalani hal yang tak diinginkannya: menjadi makelar perdagangan manusia bertaraf internasional. Mae harus mencari calon-calon korban di kampung halamannya itu demi kebebasannya sendiri. Sebelumnya sudah hal yang biasa penduduk di Jatisaba menjadi TKI ketika dewasa meski bukan pilihan pekerjaan yang menjanjikan. Itulah sebabnya sebagian masyarakat memandang sinis Mae.

Membaca novel ini, saya melihat Mae sebagai korban juga sekaligus pelaku tindak kejahatan. Ada beberapa sisi menarik yang saya temukan dari Mae. Misalnya, sekalipun perempuan, ia mampu menghadapi dunianya sendiri tanpa bergantung pada orang lain. Mae merepresentasikan manusia yang memiliki semangat untuk terus dapat mengubah keadaan meski di sisi lain ia juga berjuang untuk berdamai dengan rasa bersalah. Novel ini membuat kita memaafkan sisi “manusia”.

Tidak mudah bagi Mae meraih kepercayaan masyarakat Jatisaba. Demi misinya itu, Mae pun mendompleng kampanye salah satu kelompok pendukung calon kades di untuk mendapatkan calon korban. Dalam perang batin yang berat, ia terus membujuk masyarakat tempat kelahirannya untuk mau berangkat bersamanya, termasuk sahabat-sahabat masa kecilnya. Selain tak bisa lepas dari teror Mayor Tua, bos besar dari sindikat tersebut, Mae juga tengah menjadi buron kepolisian. Dunia yang dihadapinya memang nyaris tak pernah aman, bahkan pada akhirnya ia dikhianati oleh salah satu orang yang dipercayaianya.

Novel Jaisaba tak hanya bercerita tentang human trafficking, tapi juga kehidupan manusia dari sisi lain. Hal menarik dari novel ini adalah kemampuan mendekat pada nuansa kehidupan masyarakat asli Kampung Jatisaba dengan cara lugas, kadang vulgar, jujur, dan menyindir. Tidak jarang saya menemukan karakter-karakter manusia di sekitar kita yang sedikit mirip dengan tokoh-tokoh dalam novel Jatisaba. Barangkali terhadap tipikal manusia ini kita dibuat gemas sekaligus memakluminya. Seperti juga Mae yang merasa menjadi bagian dan sekaligus mencela berbagai masyarakat yang munafik dan primitif. Meski bergenre sastra, novel ini juga dituturkan dengan gaya bahasa yang tidak terlalu berat untuk dicerna. Tidak banyak ditemukan bahasa kiasan, namun memiliki gaya penuturan yang menyentuh.

Fenomena pemilihan calon kepala desa, misalnya, diwarnai dengan perseteruan politik ala masyarakat pedesaan yang seolah menjadi replika iklim politik di negeri kita ini. Kampung Jatisaba pun akrab dengan konflik dan kampanye hitam. Konflik yang sudah lama ada di masyarakat yang berkelompok itu semakin memanas ketika pemilihan kepala desa. Dengan segala intrik, mereka saling menjatuhkan hingga saling memfintah dan memata-matai demi memenangkan calon. Mereka bahkan bersemangat menjagokan calonnya meskipun hanya disogok dengan beras berkutu. Fenomena kampanye yang kadang lucu, kadang membuat geleng-geleng kepala ini membuat saya menemukan kesamaan dengan fenomena yang terjadi di nusantara atau di sekitar kita namun dalam bentuk yang lebih ‘lugu’.

Penggarapan lakon yang kuat, plot, setting, dan twist-twist yang mengejutkan, membuatnya seperti menyimak sebuah dongeng tentang kaum terpinggir. Berbeda dengan novel kebanyakana, Mae merupakan tokoh utama yang tidak luput dari sisi keantogonisan. Mae mencintai jatisaba sepeti halnya kita mencintai kampung halaman. Ia juga cinta masa kecilnya, Gao, meskipun Gao telah berkeluarga. Ia menyayangi sahabat-sahabatnya di masa kecil, ia tahu apa yang bakal mereka alami setelah berada di tangan Mayor Tua, tapi ia sadar ia sedang terlibat dalam misinya sendiri sehingga harus menjaga jarak.

Dengan sangat akrab, Jatisaba bercerita lebih dekat tentang masyarakat tradisional yang cenderung marginal itu. Seperti tokoh Sitas yang pernah mengalami masa lalu kelam sebagai TKW dan hobi sebagai simbol kemiskinan dan kemunafikan. Ia cenderung menyukai hal-hal yang materi hingga segala cara ditempuhnya, ia bahkan lebih berantusias menghitung uang sumbangan sesaat setelah suaminya dimakamkan. Lalu Gao yang dianggap dukun sakti yang kontroversial. Ada juga Malim yang selalu berada di samping Mae tapi tetap memiliki tujuan memanfaatkannya. Ada pula Musri, Kusi, dan Sanis, sahabat Mae yang polos dan naif yang merepresenstasikan ibu rumah tangga yang menjalani takdirnya mengurus rumah dan anak-anak. Sedangkan para pria dalam novel itu dikenal doyan kawin, mabuk, berjudi. Sementara sekolompok ibu-ibu karib dengan gosip. Tak lupa Jompro, Mardi, dan Joko, 3 orang yang memiliki cara-caranya sendiri untuk meraih kemenangan menjadi kepala desa iktu mewarnai situasi politik di Jatisaba. Dan tokoh-tokoh lain yang memiliki karakter yang berdiri sendiri-sendiri.

Dalam novel ini saya seperti melihat kondisi masyarakat marginal yang ditelantarkan oleh negara dan jauh dari kemajuan. Salah satu biang dari semua penyakit masyarakat itu adalah kemiskinan. Kemiskinan seolah merupakan jalan buntu bagi masyarakat itu sendiri. Novel yang beralur maju ini sekaligus diselingi kilas balik tentang masa lalu Mae yang memilukan ketika menjadi korban trafficking. Di sisi lain, kehidupan desa digambarkan begitu detail dan tentunya Ramayda Akmal telah melakukan riset yang panjang. Termasuk juga ketika menyorot situasi politiknya.

Setting dan juga kebudayaan yang digarap detail membuat saya seperti menyimak langsung. Dari perayaan ebeg sampai jenis makanan khas yang menjadi favorit masyarakat meski tidak layak untuk dimakan.

Aku rindu sekali memakan ciwel. makanan dari singkong yang dicampur abu. Tidak ada yang menyediakan makanan itu selain di Jatisaba…”

Ada gorengan gadung yang semua orang tahu dibuat dari tumbuhan jalar yang beracun. Ada juga becek lumbu. Lumbu adalah tanaman yang tumbuh subur di genangan air limbah… (halaman 150)

Novel Jatisaba sedikit mengingatkan saya pada novel Ahmad Tohari, Ronggeng Dukuh Paruk yang sama-sama berangkat dari kisah masyarakat desa yang tengah menghadapi perubahan sosial akibat komedernan. Namun cerita menganai kehidupan pekerja migran ilegal seperti mengingatkan kembali novel Mimi lan Mintuna karya Remy Sylado dan Galaksi Kinanti karya Tasaro GK. Membuat kembali menyadarkan bahwa Indonesia, kasus trafficking masih menjadi fenomena yang dekat dengan kita namun seperti jauh dari penyelesaian yang menuntut kita untuk peduli dan terus berupaya mencari solusi.

Membaca novel Jatisaba seperti membaca parade manusia. Kita takkan menemukan tokoh-tokoh ideal dalam bayangan kita ataupun produk ala televisi. Mengikuti perjalanan Mae, saya seprti ikut memaklumi manusia, sehingga rasanya bukan yang bodoh dan terbelakang yang lebih jahat. Orang-orang yang merasa lebih maju dan terlihat bersihlah yang barangkali lebih mengancam. Atau barangkali kita yang lebih banyak tahu yang lebih jahat dari mereka yang tak tahu. Bukankah sering kali pengetahuan yang kita miliki menyakiti mereka yang tidak pernah tahu? Bukankah pengetahuan-pengetahuan itu membuat kita tak jarang merasa terasing?

Kekurangan dalam novel ini menurut saya lebih pada teknis. Sayang di novel ini masih banyak ditemukan typo dan kesalahan ejaan yang mestinya dapat diperbaiki lagi. Di samping itu, ada beberapa halaman yang penataan marginnya terlihat agak miring. Namun tak mengapa, penggambaran karakter melalui narasi dan dialog dengan porsi yang pas membuat saya terkesan. Pantas bila novel ini masuk sebagai novel unggulan Dewan Kesenian Jakarta tahun 2010 lalu.

Mae merupakan tokoh kontroversi yang mengajari kita untuk mampu mengenal manusia dari dekat dan dengan cara berbeda. Selain ide cerita dan beberapa kelebihan yang coba saya urai di atas, novel Jatisaba karya Ramayda Akmal ini saya rasa memiliki muatan etnografis dan nilai-nilai yang mampu memberikan terobosan baru dalam dunia sastra. Novel ini kaya dengan makna dan pelajaran hidup. Kita juga dapat mengkajinya dari sudut pandang ilmu sosial dan budaya. Ini novel sastra yang recommended 🙂

Resensi Novel: Queen, Demi Menghapus Bayangmu

IMG_20141228_185751

Judul: Queen, Demi Menghapus Bayangmu
Penulis: Niena Sarowati
Penerbit: Senja
Tahun terbit: 2014
Tebal: 300 Halaman
ISBN: 978-602-296-026-3

Alfira Queenza memutuskan “lari” dari Jakarta ke Bandung setelah mendapati Milly, sahabatnya sendiri berselingkuh dengan Davin, pacar yang sudah bersamanya selama 3 tahun. Setelah mendapat izin kedua orang tuanya, ia pun mengambil cuti kuliah untuk menata hidupnya kembali setelah patah hati. Tak seorang pun tahu kepergiaan Queen ke Bandung kecuali kedua orang tuanya.

Di Bandung ia tinggal di Kos Cemara yang rata-rata penghuninya lelaki. Salah satu teman kosnya yang paling dekat adalah Obit. Selama di Bandung Obit-lah yang sering berada di sisi Queen. Queen merasa betah. Terlebih nuansa yang ia temui di Kos Cemara seperti keluarga, Abah, pemilik kos yang ramah, Cilla cucunya yang lucu membuat hidupnya terisi, juga para penghuni kos dan pacar-pacarnya yang selalu menemani dan mendukungnya.

Ia menjalani hari-harinya yang menarik selama di Bandung. Pada suatu ketika ia menolong seorang anak kecil yatim piatu di jalan, tak disangka pertemuan itu membawanya berkunjung ke panti asuhan. Dari kunjungan itu, ia merasa tergerak untuk terus membagi kebahagiaan, dan panti itulah menjadi tempat berkegiatannya selama di Bandung. Tak hanya itu, ia juga bergabung dengan komunitas anak jalanan melalui salah satu teman kosnya, Alan.

Kesibukannya di panti dan komunitas anak jalanan mampu mengalihkannya dari rasa galau. Namun ketenangan hidupnya nyaris ambruk ketika Davin menyusulnya dan membuat kekacauan. Menyusul kekacauan lain ketika Milly juga datang mencarinya, hingga akhirnya teman-temannya pun tahu apa alasan Queen ke Bandung dan menjalani kesibukan-kesibukan itu. Queen tahu keputusannya untuk tetap bangkit tidak boleh rusak begitu saja.

Setiap manusia pasti punya masalah. Dan, masalah itu ada untuk kita hadapi. Kita cari jalan keluarnya, bukan kita hindari. Jika satu masalah kamu hindari, maka akan muncul masalah baru. (halaman 176)

Sementara kedekatannya dengan Obit seperti memunculkan semacam chemistry. Obit yang baik, perhatian, dan selalu ada membuat Queen merasa tenteram. Namun tak dipungkiri Davin masih mengusik hidupnya. Kenangan bersamanya tak mudah dilupakan. Namun semua itu membuatnya harus menentukan langkah.

Novel Queen diceritakan dengan alur maju, kadang-kadang diselipi dengan flash back tentang masa lalu Queen bersama Davin. Sisi menarik dari novel ini adalah tentang semangat tokoh Queen untuk survive dari kondisi terburuknya dan memilih bangkit. Seperti menyiratkan pesan bahwa ketika satu duniamu runtuh, bukan berarti hidupmu berakhir. Memang tidak mudah menerima kenyataan bahwa dua orang yang sangat dipercayai malah mengkhianati di belakang kita. Namun Queen tidak lantas terjebak dalam hal-hal negatif meskipun bagi siapa pun itu mungkin saja jadi pilihan.

Karakter, tokoh Queen dalam novel ini digambarkan sebagai gadis yang tidak terlalu istimewa namun memiliki proses perubahan karakter yang cukuo bagus, baik dalam hal penampilan maupun cara berpikir. Tokoh lain yang sering muncul adalah Obit. Namun sayang tokoh lain terlihat tidak terlalu memiliki peran dan kurang tereksplore sehingga terkesan hanya sampingan. Bahkan bila boleh berpendapat, nama tokoh-tokohnya masih bisa ditukar nama karena nyaris tidak memiliki ciri karakter khusus. Tapi tidak mengapa, sebab dari awal, tokoh-tokoh ini sudah cukup dijelaskan berurutan di bagian awal ketika Queen sudah pindah.

Sayangnya meski jalinan ceritanya cukup menarik, namun terdapat beberapa adegan yang temponya terlalu cepat dan ada yang diuraikan terlalu panjang di bagian yang sebetulnya tidak terlalu penting sehingga terkesan agak membosankan. Di samping itu ada beberapa yang menyangkut unsur kelogisan cerita yang mestinya dapat diperbaiki.

Salah satunya adalah, sepertinya agak kurang logis bila kedua orang tua Queen percaya begitu saja cerita Davin bahwa Queen melahirkan seorang anak di Bandung, apalagi hanya dengan melihat foto Queen menggendong bayi (halaman 195-196). Dalam novel ini diceritakan Queen sudah di Bandung selama 5 bulan, dan bayi yang digendongnya sudah beberapa bulan. Sementara wanita hamil kan butuh 9 bulanan sampai melahirkan, padahal mereka sebelumnya sudah tahu bahwa Queen aktif di panti asuhan.

Selain itu rasanya kok agak gimana ya anak usia playgroup berperilaku seperti Cilla? Semula saya kira Cilla sudah di atas kelas 3 SD an ketika membaca bagian ketika ia mengajak Queen berkenalan (halaman 24), ketika Cilla menengahi pertengkaran Via dengan Obit (halaman 56), hingga saat menceritakan masakan Queen (halaman 216-217). Kegemarannya makan dengan porsi yang begitu banyak (halaman 51), dan beberapa hal lain juga agak mengganjal. Tapi tidak mengapa karena mungkin hanya faktor kurang detail karena penulis terlalu antusias menceritakan anak kecil lucu yang membuat hidup tokoh Queen berwarna.

Mengenai konsep cerita, agaknya novel Queen kurang mengeksplore kondisi sosial masyarakat padahal ia menjadi bagian dari perjalanan Queen. Ketika di pantu asuhan, lebih banyak diceritakan saat Queen ikut mengasuh para bayi dan anak ketimbang aktivis panti. Ditambah lagi kebiasaan tokoh-tokohnya yang nongkrong di tempat-tempat agak mewah seperti plaza, kafe, salon, dan lain-lain agaknya kurang seimbang, hingga nyaris tidak ada penggambaran masyarakat yang melatarbelakangi komunitas anak jalanan yang mengarah pada masyarakat marginal. Bahkan di sela kegiatan itu, sering ditemukan jenis kuliner yang dikonsumsi Queen dan teman-temannya bernama asing seperti big ice tea hingga coupe la braga. akan lebih sesuai bila sesekali mereka nongkrong di warung bakso dan minum es teh warung pojok misalnya. Namun tak mengapa, karena mungkin fokus utama dan misi dari cerita novel Queen bukan ke arah sana.

Novel ini terbilang menarik dengan meskipun sedikit datar dan ending-nya mudah ditebak. Barangkali tidak jarang kita temui mereka atau mungkin termasuk juga kita yang pernah melarikan patah hati ke hal-hal positif seperti kegiatan sosial, sibuk bekerja siang malam, melanjutkan pendidikan, travelling, atau memulai bisnis. Tapi jarang yang menuliskannya menjadi novel sehingga dapat dijadikan insiprasi pembaca. Menurut saya novel ini tetap mempunyai muatan positif dan menceritakan dengan cara menarik tentang cara lain keluar dari keadaan terpuruk. Dengan gaya bahasa ringan dan mudah dimengerti, novel ini cocok untuk dibaca oleh remaja.

Resensi Novel: Immortality of Shadow

immortality of shadow

Judul Buku: Immortality of Shadow
Penulis: E. Rows
Tebal : 264 halaman
Penerbit: Divapress
Genre: Horor
Terbit: September 2014
ISBN: 978-602-255-683-1
Harga: Rp 40.000,00

Blurb

An Hammer. Sebuah rumah bergaya Victoria klasik. Atapnya menjulang tinggi dengan jendela-jendela transparan di setiap sisi rumah. Rumah itu juga memiliki balkon serta beranda. Dan, ada danau kecil di belakangnya.
Sebuah rumah yang indah.
An Hammer seharusnya menjadi hunian yang nyaman bagi Corey dan keluarganya. Sayang, Corey justru dihadapkan pada kenyataan aneh dan mengerikan di rumah barunya itu.
Janet, anak bungsu Corey, mengaku berteman dengan anak laki-laki bernama Dalal. Teman yang tidak bisa dilihat siapa pun, kecuali Janet.
Barry, kembaran Rose, anak kedua Corey, dapat melihat kejadian di masa depan dalam mimpinya. Dan, ia selalu memimpikan hal buruk menimpa Rose.
Kisah-kisah masa lalu tentang An Hammer pun pelan-pelan terkuak.
An Hammer memang menyimpan sesuatu…

Berawal dari keputusan Corey membeli rumah diam-diam sebagai wujud keinginan memperbaiki hidup, masalah justru semakin pelik. James, sebagai suaminya tidak setuju mereka meninggalkan rumah keluarga besar yang penuh dengan penghuni itu, lebih-lebih ia baru saja kehilangan pekerjaan. Namun, keempat anak mereka justru menyambut dengan bahagia ide pindah rumah baru, hingga membuat ia pun terpaksa menerima. Rumah yang dibeli Corey melalui sepupu sahabatnya terletak di Boonville. Kawasan yang cukup nyaman meski jauh dari pusat keramaian.

Rumah itu rupanya memang menyimpan sesuatu hingga membuatnya berharga murah, belum lagi ekspresi aneh orang-orang di sekitar sana ketika mendengar An Hammer. Seorang cenayang bahkan sempat memiliki firasat yang aneh tentang rumah tersebut. Belum lagi letaknya yang terpencil dan lama tak ditinggali, An Hammer seolah menyimpan banyak misteri. Namun semua itu tak menghentikan niat Corey memboyong semua keluarganya ke sana. Terlebih rumah itu rupanya sangat indah dengan gaya Victoria dan ada sebuah danau di belakangnya.  Hanya James yang tak terlalu suka tinggal di sana. Ia pun mencari pekerjaan jauh dari tempat itu dan jarang berada di rumah. Sementara itu, Corey menghadapi segalanya sendiri.

Konon anak kembar selalu punya bahasa sendiri yang hanya mereka yang mengerti. Selain menghadapi Janet yang sering kambuh penyakit, ia juga harus mengatasi Rose yang berperilaku semakin aneh dari hari ke hari pascakecelakaan dan dibully teman-temannya. Terutama Barry masih bermimpi hal-hal buruk tentang Rose, saudara kembarnya yang membuat semua orang jadi khawatir. Tidak ketinggalah, Eliana, yang sejak berkenalan dengan Dave, penduduk sekitar Hammer yang mengetahui sedikit rahasia rumah tersebut, sering dibayangi kekhawatiran dan kejadian aneh.

“Apa benar yang dikatakan oleh Dave tentang semua itu? Anaknya yang meninggal di sana, lalu….”

Dug.

Eliana menoleh. Terdengar suara yang berasal dari balik pintu kamarnya. Seperti barang terjatuh….

Belum lagi peristiwa ganjil lain yang muncul satu dan mereka seperti tinggal bersama di rumah tua tersebut. Janet yang memiliki teman yang tak terlihat dan tampak seperti berbicara sendiri. Sejak Janet berbicara pada Dalal, teman tak terlihatnya, Eliana menyemangati si kembar Barry dan Rose memanggil arwah dengan papan ouija. Keadaan Rose justru semakin parah sejak papan ouija itu dimainkan. Hingga akhirnya konflik meruncing dengan pertengkaran Corey dan James di samping terungkapnya sebagian rahasia masa lalu.

seorang wanita muda yang bunuh diri di danau

seorang istri yang dipanggang oleh suaminya ketika terjadi pertengkaran hebat

anak kecil yang dibunuh dengan dibakar oleh sang ayah

Sebagai seorang ayah, James memang tipe yang akan melalukan apa pun untuk keluarganya, bahkan bila harus melakukan pembunuhan terhadap Rose untuk menyelamatkannya dari lingkaran penderitaan.

Akankah keluarga Golik mengalami peristiwa yang sama yang terjadi pada penghuni sebelumnya?

Novel ini menggunakan POV 3. Dibuka dengan perkenalan tokoh-tokoh dalam novel yang memudahkan pembaca. Kelebihan novel horor ini adalah penjabaran setting yang detail, suasana yang berhasil membuat bulu kuduk merinding dengan twist-twist tak terduga membuat kita jadi mencurigai apa pun dan menebak-nebak apa yang barangkali menunggu di balik pintu kamar. Membaca bagian mengerikan dalam novel ini membuat antara ingin pindah bacaan atau terus mengikuti rasa penasaran terhadap alur cerita.

Baca buku horor satu ini membuat saya ingat kata seorang teman, “Bila galau, nontonlah film horor”. Efek adegan horor yang sering bikin kaget itulah yang mengalihkan sejenak kepenatan dan masalah hidup sehari-hari. Tapi baca buku ini apalagi sendirian, galaunya jadi berganti :D. Selain itu, ada beberapa adegan yang membuat saya ingat film horor populer Conjuring, The Exorcism of Emily, dan Insidious. Seperti agak mirip situasinya.

Tapi ada beberapa poin yang sepertinya agak mengganjal. Pertama, seperti kejadian-kejadian aneh di rumah pertama yang tak terjelaskan hingga akhir cerita. Kedua cenayang yang hanya muncul sekali dan sebetulnya tak terlalu perlu ditambahkan dalam cerita. Ketiga, masa lalu penghuni rumah an Hammer yang hanya muncul bagian proses pembunuhannya. Keempat, James yang mengigaukan nama seorang wanita yang berhubungan dengan masa lalu yang tidak terlalu dieksplore apa korelasinya. Di samping itu, novel ini terasa agak berjalan lambat dan membosankan di bagian tengah dan seperti hanya fokus pada kesibukan keluarga sehari-hari ketika menyambut musim panas, juga ada pula prolog yang rupanya tidak ditemukan di tengah cerita. Tapi tak mengapa, visi misi novel ini sudah cukup tersampaikan dengan baik.

Sudah lama sekali saya tidak membaca buku bergenre horor. Terakhir mungkin SMA. Waktu masih anak-anak,  juga rutin baca rubrik Jagading Lelembut di majalah Djoko Lodang langganan simbah tanpa kapok, haha. Berlanjut setelah remaja buku apa pun cerita petualangan dan misteri selalu bikin penasaran. Termasuk yang berjenis horor. dari karya-karyanya RL Stine hingga yang berasal dari negeri Jepang. Kini semuanya tidak lagi sama. Mungkin saja semakin dewasa, orang semakin penakut. Bila nonton film horor Suzana saja sendirian ketika masih SD pun nggak jarang dilakukan, sekarang bila memang harus nonton film horor, itu pun mesti banyak orang, banyak temen, dan efek teriak bareng orang-orang itu lebih menyehatkan bagi fisik dan kejiawaan daripada nonton sendirian di kamar.

Kembali ke topik. Meskipun endingnya tidak terlalu “rame”, novel ini layak mengalihkan perasaan galau Anda sejenak berpindah ke perasaan parno. Sebagai novel bergenre horor pertama E.Rows, Immortality of Shadow menurut saya sudah dituliskan dengan baik dan cukup berkesan. Novel ini cocok untuk young adult.

 Tapi disarankan untuk tidak membacanya sendirian:)

Resensi Novel: Sherlock Holmes; Anjing Iblis dari Baskerville

DSCN4003

Judul Buku: Sherlock Holmes; Anjing Iblis dari Baskerville
Penulis : Sir Arthur Conan Doyle
Penerjemah: Dion Yulianto
Tebal: 264 halaman
Penerbit: Laksana
Terbit: Oktober 2014
ISBN : 978-602-255-659-6

 

 

Blurb

Karena ulah keji salah satu leluhur di masa lampau, seluruh anak keturunan Baskerville dihantui oleh kutukan maut sesosok anjing iblis. Sir Charles Baskerville ditemukan telah tewas di dekat gerbang menuju padang. Tidak ditemukan tanda-tanda telah terjadinya tindak pembunuhan selain sebuah tapak kaki anjing pemburu berukuran raksasa.

Sekali lagi, Sherlock Holmes ditantang untuk memecahkan misteri pembunuhan yang berbau supranatural. Berpindah dari padatnya kota London ke padang Dartmoor yang terpencil, sebuah misteri gelap menunggu untuk dipecahkan. Selain harus memecahkan misteri, Holmes dan Dr. Watson harus bergerak cepat untuk melindungi satu-satunya ahli waris yang masih tersisa, sebelum kutukan anjing iblis itu menimpanya.

Penggemar cerita detektif tentu tidak asing dengan tokoh Sherlock Holmes, detektif nyentrik hasil rekaan penulis legendaris Sir Arthur Conan Doyle. Bersama rekannya Dr. Watson kali ini ia dihadapkan oleh kasus pelik yang melibatkan hal-hal yang metafisik. Di samping melindungi Henry Baskerville, satu-satunya ahli waris Baskerville yang dipastikan menerima seluruh warisan Sir Charles Baskerville, mereka dituntut untuk menyibak misteri di balik teror anjing tersebut. Bagaimanapun pikiran rasional Holmes tidak begitu saja dapat menerima cerita semacam kutukan ataupun mitos.

Menurut berita yang beredar dan juga penuturan Dr. James Mortimer, kasus kematian Charles murni disebabkan oleh sakit jantung akibat ketakutan melihat makhluk gaib. Sebab hanya jejak kaki makhluk semacam anjing berukuran besar yang ditemukan di sekitar lokasi kejadian. Wajar bila jantungnya yang lemah tiba-tiba berhenti ketika melihat sesuatu yang begitu menakutkan. Teror tersebut bagai kutukan yang sudah dipercaya oleh penduduk Devonshire. Beberapa di antaranya bahkan pernah melihat penampakan si anjing atau mendengar suara lolongannya. Namun apakah memang kutukan itu benar adanya? Atau ada sesuatu di baliknya? Segalanya menjadi misteri yang tidak mudah dipecahkan.

Sejak kedatangan Henry ke London, teror anjing iblis seakan memang tengah mengintai. Holmes pun menyadari seperti ada yang sedang mengikuti Henry sejak ia tinggal di sebuah hotel menyusul kejadian-kejadian aneh seperti hilangnya sepatu milih si pewaris tunggal, juga surat kaleng yang misterius yang menyuruhnya pergi dari London. Namun, sebagai ahli waris tunggal, sudah semestinya ia mendatangi dan tinggal Baskerville Hall di Devonshire. Meski dengan was-was, ia tetap berangkat bersama Dr. Watson tanpa diiringi oleh Sherlock Holmes karena urusan yang tidak bisa ditinggal. Dan dimulailah petualangan mengurai misteri kutukan tersebut. Dan hanya Dr. Watson yang harus mengatasinya selama Holmes tidak dapat mengiringi.

Devonshire rupanya bukan sehamparan wilayah subur yang indah dan penuh bunga-bunga, melainkan cenderung kelam, gersang, dan hanya sebagian mempunyai sisi menarik karena merupakan bekas peninggalan purbakala. Kekelaman Devonshire tidak hanya soal rawa-rawa Grimpen yang angker, teror anjing, dan kegersangan, tetapi juga diperparah dengan kabar tentang kaburnya salah satu napi bersembunyi di sana sehingga terkesan tak nyaman untuk ditinggali. Sebagai penduduk baru, Henry pun harus beradaptasi dengan orang-orang di sekitarnya. Termasuk sepasang pengurus rumah, Barrymore dan istrinya, hingga para tetangga seperti Stapleton yang seorang ahli botani, adik perempuannya, juga wanita berinisial L.L. yang kelak berkaitan dengan kasus tersebut. Secara rutin Dr. Watson harus melaporkan fakta yang ditemukan kepada Sherlock Holmes. Sementara itu peristiwa demi peristiwa aneh terjadi. Dimulai dari suara tangisan seorang wanita pada malam hari, pasangan Barrymore yang misterius, tentang Tuan Stapleton, dan juga sejarah-sejarah masa lalu keluarga Baskerville yang tak terduga. Hingga pada saatnya Watson tak bisa terus menjaga Sir Henry sepanjang waktu karena ia malah jatuh cinta dengan adik perempuan Stapleton.

Sementara mereka membuktikan ketidakbenaran teror yang telah turun temurun itu, anjing iblis yang sering ditakuti dan dipergoki oleh penduduk pun menampakkan diri secara tiba-tiba dengan bentuk yang luar biasa menyeramkan. Kemunculannya malah memakan salah satu korban jiwa. Namun kelak anjing tersebut menjadi sebuah kunci untuk menemukan jawabannya, bersamaan dengan kedatangan Sherlock Holmes ke Baskerville secara ajaib. Tak menyangka, misteri itu pun bagai struktur bawang merah, selapis demi selapis terungkapkan, meskipun harus ditempuh dengan proses yang berbahaya dan mengancam keselamatan Sir Henry, si ahli waris satu-satunya.

Mungkinkah kutukan anjing iblis itu akan mengenai Henry Baskerville juga? Mungkinkah misteri pembunuhan sang konglomerat Sir Charles Baskerville terdapat campur tangan seseorang?
Kisah diakhiri dengan penjelasan cerita ala Sherlock Holmes secara terperinci dan tak terduga, yang mampu membuat saya nggak menyesal baca novel ini.

Satu kekurangan Sherlock Holmes–kalaupun itu bisa disebut sebagai kekurangan–adalah kecenderungannya yang tidak mau mengatakan apa rencananya kepada orang lain sampai seluruh rencana itu terwujud. Kecenderungan ini sebagian mungkin karena sifat aslinya yang ingin selalu di atas angin, ingin selalu mendominasi, dan juga ingin mengejutkan orang-orang di sekitarnya. (halaman 231)

Sebetulnya ini novel detektif yang menarik untuk dibaca hingga selesai, andai saja tidak ditemukan typo dan kesalahan eja di dalamnya yang sebenarnya cukup mengganggu. Di halaman 118 terdapat sebaris kalimat yang kurang lengkap. “Sama sekali tidak terlintas di pikiran saya bahwa tempat ini akan begitu membosankan setidaknya Anda…” yang sepertinya akan lebih pas bila diberi kata ‘bagi’ sebelum kata ‘anda’. Penggunaan sapaan dan partikel ‘pun’ misalnya yang beberapa masih salah karena semestinya dipisah seperti ‘rumahpun’, ‘kemanapun’, sampai dengan ‘seorangpun’. Kata mengerikan beberapa dituliskan ‘menggerikan’ di novel ini. Ada pula kata ‘menenggok’ yang mestinya ditulis menengok. Halaman 246 paragraf akhir juga kelihatan berdempetan seperti tidak diberi jeda. Typo yang semacam ‘bia’ yang mestinya dituliskan bisa, dan masih banyak lagi. Sayang sekali karena jumlah kesalahan eja dan typo-nya memang bertebaran di mana-mana :(. Semoga saja untuk cetakan berikutnya tim redaksi bisa merevisi dengan lebih baik lagi.

Selebihnya saya suka cerita bertema detektif yang satu ini. Sudah tidak diragukan lagi kelihaian Sir Artur Conan Doyle menuliskan jenis cerita yang runut dan matang seperti ciri khasnya selama ini, ia seperti tidak membiarkan satu tokoh pun lepas dari jalinan cerita. Dari awal membaca hingga akhir, saya selalu terpancing untuk menebak-nebak siapa yang bakal jadi tersangka. Di hadapan Sherlock Holmes, siapa pun mungkin menjadi biang kerok kasus. Dari judul dan tampilan cover luar, sudah kelihatan bahwa novel ini diwarnai nuansa horor, dan bagi saya, bumbu horor dalam cerita detektif salah satu favorit, barangkali karena bawaan dari kecil saya suka nonton Scooby-Doo. Bedanya, tentu saja, di Scooby-Doo segalanya kocak dan ala anak-anak, sedangkan di novel karya Arthur Conan Doyle ini terasa sungguh mencekam suasanya dan lebih serius. Dengan penjabaran setting yang detail, seakan rasanya seperti mengunjungi pulau asing di mana sewaktu-waktu teror atau kutukan menyambut kita di balik pohon yang kita lewati. Buat penggemar cerita detektif atau ingin mengisi waktu dengan bacaan menghibur, novel bertema detektif yang sarat dengan pesan moral ini menjadi pilihan yang tepat.

So, selamat menikmati petualangannya.

Dartmoor trec, 14-03-2011 030

Seperti ini kira-kira penampakan Devonshire 🙂

2

dan kira-kira seperti ini bentuk Bakerville Hall

*Ternyata kisah Sherlock Holmes yang satu ini pun sudah difilmkan oleh beberapa negara 😀

Kopiss, dan Tentang Perjalanan 3 Perempuan: Resensi Novel

DSCN3957

Judul : Kopiss
Penulis : Miko Santoso
Penerbit : Diva Press
Tahun Terbit : 2014
Cetakan : Pertama
Editor : Aya Sophia
ISBN: 139786022960010
Jumlah halaman: 280

Sempatkah terbesit dalam benakmu, apa hal besar yang ingin sekali kamu lakukan dalam hidupmu, sebelum usiamu berhenti?

Barangkali itulah tema yang tersirat dalam novel berjudul Kopiss yang baru selesai saya baca ini. Kopiss, karya Miko Santoso, bercerita tentang perjalanan hidup 3 wanita dari latar belakang yang berbeda. Qiana, Gili, dan Onne. Ketiganya bertemu dan tinggal bersama di rumah milik Qiana.

Qiana Sitta adalah gadis asal dari Jakarta dan hanya memiliki kakak bernama Mbak Aya. Sepeninggal ayahnya, ia diserahi rumah di Bintaro Jaya. Tak mau jadi beban kakaknya, akhirnya ia mengatasi hidupnya sendiri dengan menyewakan sebagian rumah tersebut untuk kost-kostan. Dari sanalah, ia bertemu Gili dan Onne. Di balik penampilannya yang tomboy, Qiana sebetulnya mengalami ketidakpercayaan diri, terlebih di hadapan Zydna, teman masa kecil yang disukainya. Sebelum itu Zydna lebih menyukai Mbak Aya. Karena Mbak Aya menolak karena ingin menikah dengan pria lain, Zydna tampak mendekati Qiana. Namun belum sempat mengutarakan perasaan, Zydna keburu menikah dengan seorang janda karena permintaan ibunya. Hal itu membuat Qiana patah hati dan sulit move on.

Gili Virani, adalah gadis rajin beretnis Sunda. Ia bersekolah di STAN, yang tidak jauh dari tempat kostnya. Karena suatu masalah, akhirnya ia di-DO. Namun cita-citanya yang sesungguhnya memang bukan di sana. Dengan segala obsesinya tentang kopi dan bermimpi untuk sukses menjadi barista. Ia juga bekerja di sebuah kafe bernama Kafe Liwa yang memberikannya banyak pengalaman mengenai kafe dan kopi. Namun hidup rupanya tidak berjalan mulus. Ia jatuh cinta dengan Shilo, seorang duda keren pemilik kafe tersebut di tengah proses perceraiannya. Sialnya, pascaperceraian Shilo, Kafe Liwa justru jatuh ke tangan mantan istrinya. Gili bimbang karena dengan begitu berarti masa depan mereka pun buram. Tidak hanya itu, orang tua Gili pun tidak setuju karena mereka berbeda keyakinan.

Sementara Onne Narindra, gadis asal Malang-Jatim yang mengejar impian menjadi penulis. Ia datang dari keluarga yang kurang harmonis. Ibunya sudah lama meninggal, ayahnya tidak care, sedangkan kakak-kakaknya egois. Terbukti ketika mereka menyabotase hak warisan Onne demi kepentingan pribadi setelah ayah mereka meninggal. Onne pun harus memikirkan hidupnya sendiri secara mandiri dengan bekerja sebagai PNS di samping harus terus mencari identitas, namun senyatanya ia tak bisa meneruskan ketika suatu hal membuatnya berhenti dari pekerjaannya, dengan imbas pada masalah membayar denda dengan jumlah yang tidak sedikit.

Menghadapi berbagai masalah itu, ketiganya selalu saling ada dan menjadi sahabat karib yang selalu saling menguatkan. Kebersamaan dan perasaan senasib terlihat ketika mengunjungi makam ayah Onne, mereka tersadar, hingga terbesit dalam benak mereka untuk meraih yang paling diinginkan selama masih berkesempatan hidup.

Being happy with enough money is not the way I want to die. There’s more to life.” –Onne, halaman 193

Lalu bagaimana akhir kisah Qiana setelah Hanum, istri Zydna, malah menawarinya menjadi istri kedua? Ending cerita Gili setelah di-DO dan ceritanya dengan Shilo, juga akhir kisah Onne yang harus memikirkan bagaimana caranya mengembalikan kondisi keuangannya setelah membayar denda pasca dikeluarkan dari lembaga pemerintahan? Setiap kesulitan memang selalu dilengkapi jalan keluar. Roda Kopiss pun dikendalikan oleh mereka, Gili dalam hal meracik kopi, Qiana yang gigih, juga Onne yang tak menyerah, dan juga Syam, adik Zydna yang rela membantu mereka dari nol, serta Sherafina, barista berbakat yang semula saingan Gili di hadapan Shilo, mau berusaha menyelamatkan bisnis Kafe Kopiss.

Kopiss sendiri adalah nama sebuah kafe milik ketiga gadis tersebut, yang ada karena dilatarbelakangi oleh masalah ekonomi sekaligus mimpi-mimpi ketiga gadis itu yang ingin diraih. Ketiganya berkolaborasi mendirikan dan mempertahankan Kopiss yang sering mengalami kembang kempis. Namun bagi mereka mengenal kopi seperti mengenal hidup. Ada pahit, manis, asam, hambar, dan kadang penuh kejutan. Juga hal-hal yang tidak bisa dinominalkan dengan rupiah.

Novel ini menggunakan sudut pandang Qiana, meski demikian ia tidak menjadi satu-satunya tokoh utama. Sisi menarik dari novel ini menurut saya penggambaran keseharian tiga wanita dengan cara sederhana, menggunakan bahasa yang ringan, kadang menggunakan perumpamaan, dan diselipi humor. Begitu juga dengan cover buku yang juga dibuat simpel dari bentuk dan warnanya tapi tetap menarik. Novel ini dari awal seperti bercerita tentang kehidupan sehari-hari dengan alur campuran tidak terkesan datar. Kopiss menceritakan dengan apik mengenai awal berdirinya kafe dan jatuh bangun sebuah kafe, tentang proses menjalankan bisnis kafe, juga tentang kopi itu sendiri yang ternyata punya karakter masing-masing sehingga membutuhkan cara pengolahan dan peracikan yang beragam pula. Penjelasan tentang kopi dalam novel Kopiss cukup lengkap yang tentunya telah melewati masa riset.

Karakter tokoh-tokohnya digambarkan dengan cukup baik, dengan 3 wanita memiliki kekhasan sendiri-sendiri, hanya sedikit kurang wanita:D, dilihat dari obrolan, candaan, dan interaksi dengan perempuan lain yang terkesan agak maskulin. Tapi tak mengapa, karena barangkali penulis sengaja menggambarkan karakter perempuan tangguh dan sedikit tomboy, meski ada beberapa yang kurang sesuai dalam hal penggambaran emosi, misalnya seperti ketika Gili menceritakan temannya yang meninggal karena dicampur nuansa humor yang sepertinya kurang pas untuk menggambarkan kesedihan Gili.

Namun, ada beberapa kekurangan dalam novel ini yang masih bisa disempurnakan lagi. Misalnya pada margin yang sepertinya kurang rapi dan terlalu mepet ke pinggir. Juga beberapa typo dan kesalahan eja. Meski demikian, tak mengapa karena memang tidak ada karya yang sempurna dan kesalahan yang sedikit itu tak terlalu mempengaruhi jalan cerita. Terlebih penjabaran setting tempat yang diceritakan oleh penulis cukup baik. Meski di awal-awal tampak seperti monoton namun endingnya menarik dan membuat pembaca bebas mengimajikan sendiri akhir kisah Qiana. Juga quote-quote di dalamnya dapat dijadikan motivasi.

Selamat membaca.

“Hidup itu memang seperti meniti tangga masalah. Setiap pendakian baru berarti masalah baru. Kita tidak bisa benar-benar lepas dari tangga itu.” halaman 243

Resensi Novel Gadis Kretek

DSCN3905

Judul: Gadis Kretek
Penulis: Ratih Kumala
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: Maret 2012
ISBN:  978-979-22-8141-5
Tebal: 274 hlm
Genre: historical fiction

kaya wangi tembakau, sarat aroma cinta

Soeraja, pemilik pabrik rokok kretek Djagad Soeraja sekarat karena stroke. Setengah sadar ia mengigaukan sebuah nama yang tak pernah terdengar sekali pun di rumahnya: Jeng Yah. Nama itu bukan milik istrinya. Rumah jadi geger. Purwanti, istri Soeraja meradang. Ia melarang siapa pun menanyakan dan membicarakannya. Siapa Jeng Yah? Siapa pun ia, ketiga anaknya tahu wanita itulah yang ingin ditemui ayahnya sebelum ajal. Mustahil bagi Tegar, Lebas, dan Karim menanyakan itu kepada ibunya, mereka pun menempuh segala cara untuk mencari sosok Jeng Yah. Namun, demi menemukan Jeng Yah, mau tak mau mereka pun melakukan napak tilas sejarah kejayaan pabrik kretek milik ayah dan mendiang kakeknya itu dengan melintasi Jogja, Magelang, Kudus hingga Kota M.

Kemudian cerita bergerak flashback menuju tokoh bernama Idroes Moeria, seorang buruh kretek klobot di tahun 40-an. Idroes diceritakan sebagai pemuda yang gigih. Perasan cintanya pada Roemaisa membuatnya mampu berjuang mengubah hidupnya, dan memutuskan untuk membaut pabrik rokok sendiri mulai dari nol. Soejagad, semula adalah teman IM murka sejak ia tahu Idroes Moeria yang akhirnya mampu merebut hati si gadis. Sejak Idroes membeli bahan kretek juragannya, ia pun telah merasa kalah. Kekalahan Soejagad adalah awal dari persaingan bisnis dan intrik yang cukup menggila di waktu-waktu setelahnya. Selama perjalanan bisnis Idroes, Soejagad menjadi pesaing.

Perisiwa demi peristiwa membuat Idroes dan Roemaisa mengalami jatuh bangun. Padahal kretek Merdeka baru saja populer. Namun itu tak membuat Idroes berhenti menciptkan formula baru, dan produk baru. Terlebih setelah lahir Dasiyah, putri pertama mereka. Pabrik rokok tetap mengalami perkembangan, dan Soejagad tetap menjadi saingan. Hingga berlanjut ke generasi kemudian.

Dasiyah yang terbiasa membantu membuat kretek, akhirnya menjadi tangan kanan Idroes. Bahkan mampu membuat formula yang membuat rokok menjadi lebih enak dari yang lainnya. Bahkan Idroes pun menyukainya. Dasiyah tumbuh dengan keterampilan entrepreneur yang baik. Kariernya itulah yang mempertemukan dengan Soeraja, lelaki miskin yang juga pekerja keras seeprti ayahnya di masa muda. Mereka menjalankan bisnis bersama hingga akhirnya saling jatuh cinta dan merencanakan pernikahan. Namun sebuah peritsiwa besar terjadi tatkala ia sedang mempersiapkan pernikahannya dengan Soeraja. Peristiwa geger G30S PKI membuat bisnis Idroes pun terancam karena warna merah di etiketnya dituduh komunis padahal warna etiket itu sudah ada sejak zaman kemerdekaan. Kondisi politik yang meresahkan membuat Dasiyah dan Soeraja harus terpisah. Saya tak melupakan suasana sedih yang terjadi ketika membaca momen rusuh PKI itu.

Kisah meluncur kembali ke masa sekarang, ketika Lebas, Tegar, dan Karim melakukan perjalanan ke Kota M, dan menemukan keluarga Dasiyah, hingga cerita mengalir pada alur yang akan membuat pembaca tak ingin beranjak hingga menuntaskan bacaan. Dan jarang bagi saya menemukan buku yag endingnya bikin geleng-geleng kepala, kadang geli, kadang mengernyitkan dahi, dan juga terkejut. Terlebih akhirnya terungkap mengapa nama ayahnya dapat bersanding dengan nama besar kakeknya. Kebenaran luka gores di dahi Soeraja, dan rahasia-rahasia lainnya. Oh rupanya… 🙂

Melihat cover depannya, semula seperti mengingatkan saya tentang kisah Roro Mendut dan Pranacitra. Tapi setelah membaca semuanya, rupanya novel ini lebih njelimet. Diwarnai oleh latar belakang sejarah, tradisi, suasana politik, bahkan kisah-kisah tentang cinta yang sederhana namun dalam maknanya.

Cerita Gadis Kretek dituturkan dengan berbagai Pov. Diawali dengan sudut pandang tokoh Lebas, salah seorang cucu Soejagad, lalu di bab-bab selanjutnya sudut pandang berganti menjadi sudut pandang ketiga berbagai tokoh sehingga pembaca dapat memahami alur cerita. Di samping itu, novel tentang tiga generasi ini menampilkan berbagai karakter dengan latar belakang kehidupan dan cara berpikir yang berdiri sendiri-sendiri.

Selain itu penulis juga menguraikan dengan lancar segala hal tentang kretek hingga cara membuatnya, mulai dari yang dilinting dengan klobot (daun jagung yang dikeringkan) lalu diisi tembakau dicampur cengkih, dengan klobot klembak menyan, dan akhirnya menggunakan papier (semacam kertas pembungkus campuran tembakau). Tak lupa pula proses pembuatan rokok secara manual dari masa ke masa bahkan ditambahi semacam saus yang menjadikan rokok kretek beraroma lebih sedap.

Bahkan dipaparkan pula bahwa rokok sempat dijual di toko obat karena kandungan cengkihnya yang dapat mengobati asma. Hm, berbeda dengan sekarang yang justru cenderung merusak kesehatan.

Dulu, di Kudus ada Pak Haji Jamari. Dia hidup tahun 1980-an. Suatu hari lelaki itu sesak napas, dan mencari cara memasukkan woor (cengkeh) ke paru-parunya. Dia pun merajang cengkeh dan mencampurkannya dengan tembakau rajang yang lalu dilinting dengan klobot. Ketika api menyulut dan menghabiskan batang lintingan itu, terdengar suara kretek-kretek akibat terbakarnya cengkeh rajangan. Itulah asal mula kretek. (hlm. 179)

Membaca Gadis Kretek, membuat saya jadi tahu, bahwa dulu kretek juga bersifat universal dan tidak berhubungan dengan gender. Baik laki-laki maupun perempuan tidak tabu bila merokok di depan umum. Terbukti dengan kisah perjalanan Roemaisa yang sempat menjual kretek selama suaminya diciduk ke Soerabaja, dan Dasiyah yang merupakan bos Kretek Gadis, dengan demikian, tentu saja mereka pun menjajal rokok. Hal itu juga merepresentasi rokok adalah produk universal. (Oh yeah, tentu saja. Deskriminasi gender justru lahir kembali sejak zaman orde baru). Bahkan dikatakan bahwa banyak orang yang menyukai kretek buatan Dasiyah. Terlebih sang ayah. Momen ketika sang ayah begitu menyukai kretek anak gadisnya melengkapi tema novel ini dengan nuansa cinta dan keluarga.

Detail setting ditulisakan Ratih Kumala dengan sangat menarik, yang tampaknya telah mengalami riset yang panjang dan hati-hati. Suasana vintage yang nyaris sempurna membuat saya seperti pergi berpiknik ke zaman lampau dan menyelami sejarah dan tradisi masyarakatnya. Meski bertema kretek (rokok) novel ini juga menceritakan sejarah nasional, sebab konon perkembagan rokok dapat menjadi penanda sejarah nasional, seperti penamaan merk dan iklannya. Di samping itu gaya bahasa yang lugas, ringan, dan cenderung humor menjadi daya tarik tersendiri. Novel ini menjadi tidak membosankan untuk dibaca. Nyatanya ini kali kedua saya baca sejak saya membelinya beberapa bulan yang lalu. Meski saya nggak pro dengan kretek/rokok, tapi ternyata mengasyikan menelusuri sejarah kretek di Indonesia.

Jalinan cerita yang menarik, penuh makna, dan pengetahuan juga twist-twist yang membuat saya penasaran akut hingga terkejut membuat saya merasa beruntung menemukan novel ini. Adapun kekurangan tidak banyak. Barangkali karena buku ini menarik dari awal, kekurangan-kekurangannya jadi terlewat. Namun alangkah baiknya keterangan tentang istilah bahasa Jawa diletakkan sebagai footnote, tidak di belakang bab, supaya memudahkan pembaca yang tidak berbahasa Jawa. Ada pula beberapa typo di sana-sini juga penulisan nama tokoh yang sepertinya tertukar. Di samping itu lebih banyak dibahas sejarah rokok kretek dan bagian Idroes Muria dan Soejagad ketimbang yang lainnya. Gadis Kretek justru mendapat porsi lebih sedikit. Meski demikian, si gadis sepertinya memang pas diposisikan sebagai kunci pembuka rahasia masa lalu mereka. Sehingga secara kesuluruhan novel ini menjadi salah satu favorit saya dan layak diberi bintang 5.

Selamat membaca 🙂

Beberapa cuplikan iklan rokok dalam novel Gadis Kretek yang sempat bikin saya geli :p

DSCN3925

DSCN3926

DSCN3927

DSCN3929

Perempuan di tengah Perang: Silent Honor, Putri dari Timur

DSCN3911

Judul: Silent Honor, Putri dari Timur
Penulis: Danielle Steel
Genre: Romance, Historical Fiction
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2004  (catakan kedua)
Jumlah halaman: 333

Shikata ga nai, yang terjadi terjadilah–168

Sudah kali kedua saya baca sejak novel ini dipinjami seorang sahabat tahun 2010 lalu. Pertama hanya saya baca sebagai selingan. Yang kedua ketika benar saya selami, rupanya ada banyak hal menarik di novel ini dan rasanya perlu dibuat review.

Novel ini bercerita tentang dua generasi. Cerita dibuka dengan pertemuan Masao dan Hademi yang dijodohkan seperti tradisi Jepang kuno pada tahun 20-an akhir. Masao berpikiran moderat, sedangkan Hademi seperti halnya wanita Jepang kebanyakan di zaman itu, konservatif, patuh dan santun. Ia bahkan tak berani menatap mata Masao sebelum menikah. Ada begitu banyak perbedaan di antaranya, namun itu tak menghalangi perasaan keduanya yang saling jatuh cinta. Meski sulit bagi Masao mengajarkan kemodernan dan kesetaraan kepada istrinya, namun Hademi tetap menghormati dan mengagumi suaminya. Meski senantiasa menyimak pemikiran Masao, ia tak  terlalu setuju dengan ide-ide itu. Konflik perbedaan itu terlihat seperti ketika Hademi merahasiakan seraya membebat perut hamilnya sampai benar-benar kelihatan pada waktunya. Di samping itu ia juga ingin melahirkan di rumah ditemani ibu dan saudaranya dan berharap melahirkan anak laki-laki, sedangkan Masao bersikeras membawanya ke rumah sakit karena ia begitu takut kehilangan Hademi dan anak mereka. Sebagai pria modern, beberapa tindakan Masao mengejutkan Hademi, seperti membantu pekerjaan domestik, menemaninya melahirkan, dan menginginkan anak perempuan.

Dan ambisi itulah yang membawa kisah mengarah pada Hiroko, tokoh utama dalam novel ini.

Tidak seperti bayangan Masao, Hiroko rupanya tumbuh seperti replika ibunya, bahkan lebih pemalu dan rapuh. Tidak seperti Yuri adik lelakinya yang mirip Masao. Hiroko terdidik dengan cara tradisonal dan selama 7 tahun, Masao dan Hidemi terus bertengkar tentang pendidikan anak-anaknya. Kedua pandangan yang berseberangan itu membuat jarak yang aneh. Sang ayah yang keukeuh, dan pada akhirnya ibunya yang demi tradisi tetap tunduk pada keputusan suami, lalu melepaskan Hiroko pergi. Hiroko pun patuh dan pergi demi menghormati sag ayah yang bahkan sudah menabung untuk mengirimnya ke Amerika, meskipun itu membuatnya merasa tercerabut dari kehidupannya yang sesunguhnya. Ia telah mencintai Jepang seperti bagian jiwanya. Tapi ia juga menghormati ayahnya.

Di sana, ia dititipkan oleh keluarga Tanaka yang masih kerabat. Keluarga Tanaka, yaitu Takeo dan Reiko, besikap baik padanya meski mereka sepenuhnya orang Amerika secara hukum, gaya hidup, dan kejiwaan.  Hiroko menjalani sekolah dan tinggal di asrama. Dari sana, kehidupan Hiroko yang sulit dimulai. Ia tak diterima di lingkungannya. Salah satu teman sekamarnya pun hanya ramah ketika di kamar, dan cuek ketika di luar. Yang satunya lagi bahkan bersikap dingin. Secara keseluruhan, warga ‘Barat’ termasuk Amerika bersikap deskriminatif terhadap bangsa kulit berwarna. Saat itu, bahkan orang Jepang ataupun setiap orang yang berasal dari “Timur” dipandang rendah dan mirip bangsa budak. Tak terkecuali Hiroko yang akhirnya lebih banyak di-bully teman-temannya dan tak diterima di lingkungan mereka. Kehidupan di sana ternyata tidak seperti harapannya. Dan moment di-bully dan tak diterima oleh semua teman sekampusnya itu cukup membuat saya ikut hanyut.

Dalam kesedihan dan keterasingannya itu, ia bertemu dengan Peter Jenkins, salah satu sahabat Takeo yang bekerja di sebuah universitas. Peter adalah orang yang mengagumi kebudayaan Jepang dan juga mencintai Hiroko sejak pertama mengenal. Kepribadian Hiroko yang rapuh membuat Peter ingin selalu mengasihi dan melindunginya. Peter-lah yang akhirnya mampu mengisi kekosonganya. Namun Tidak mudah bagi mereka bersama karena perbedaan-perbedaan itu. Terlebih sikap Hiroko yang amat pemalu, hati-hati, dan taat tradisi. Peter berumur jauh lebih tua dari Hiroko. Barangkali kedewasaan sekaligus kebosanannya terhadap perempuan modern Amerika itulah yang membuatnya ingin menghabiskan usia bersama Hiroko. Percintaan mereka mengalir lembut namun membara. Mereka bahkan sempat menyusun impian bersama dan memiliki banyak anak bila kelak dapat menikah. Namun permasalahan politik harus memisahkan mereka sebelum mimpi itu terwujud.

Tatkala Pearl Herbour diserang Jepang pada tahun 1941, posisi warga Jepang semakin terpojok. Penyerangan itu membuat warga Amerika, temasuk Kalifornia marah. Mereka melampiaskan kemarahan kepada siapa pun yang berwajah Jepang. Termasuk Hiroko yang menjadi sasaran anarkisme siswa di sekolahnya. Situasi semakin sulit. Hingga pada akhirnya masyarakat yang dinilai “Jepang” dipaksa meninggalkan tempat tinggalnya dan harus mengungsi dari kamp pengasingan satu ke kamp pengungsian yang lain. Keluarga Tanaka yang setia dengan Amerika merasa ditolak oleh negaranya sendiri. Bersama Hiroko mereka harus menjalani hari-hari berat sebagai “warga musuh”. Hiroko yang baru saja menjalin hubungan dengan Peter pun harus terpisah jarak dan waktu. Sementara Peter justru ditugaskan bergabung dengan militer untuk menyerang Jepang.

Namun dalam kondisi sulit itu, Hiroko mampu menjalani pengasingannya dan bertahan hidup. Ia sempat turut membersihkan kandang kuda yang dijadikan kamp hingga membantu di klinik darurat ketika wabah menyerang, hingga kehilangn orang-orang yang dicintai yang pergi ke medan perang. Lebih buruk lagi, kewarganegaannya yang masih Jepang membuatnya menghadapi introgasi dan intimidasi dari militer. Meski demikian, Hiroko selalu berusaha bertahan hidup dan bahkan tidak segan untuk barakhir asal itu demi kehormatan keluarga dan martabatnya. Namun rupanya kehidupan di kamp memang cukup berat untuk dijalani, terlebih bila harus berdampingan dengan segala kesedihan dan duka.

Namun, apakah Hiroko pada akhirnya dapat bersama lagi dengan keluarganya di Jepang, dan juga Peter?

Novel Danielle Steel yang satu ini kaya dengan detail suasana pada saat Perang Dunia II dan berbagai sejarah yang mengikutinya, seperti kondisi politik dunia, kemanusiaan, dan juga cinta yang saling menguatkan. Bobot yang dilengkapkan dalam novel ini, membuatnya tak sekadar romance biasa. Kelihaian Daniel mendeskripsikan adegan dan peristiwa sering kali bikin saya nahan napas, sedih tiba-tiba, dan sekaligus penasaran karena twist-twist yang ditampilkan cukup mengejutkan. Juga tentang persahabatan yang tiba-tiba lahir karena peperangan. Di mana pun perang memang bisa merusak hubungan antarmanusia yang beragam, namun novel ini menceritakan secara tersirat bahwa di dalam kondisi tergelap pun akan tetap ada celah cahaya yang akan ditemui oleh orang-orang yang tak berputus asa.

Diwarnai dengan ketegangan yang mengalir halus dan manis, novel ini memang memiliki kemampuan untuk menarik pembaca terus mengetahui kelanjutan ceritanya sampai selesai. Hanya sayang porsi endingnya dituturkan lebih singkat ketimbang bab-bab sebelumnya. Namun itu tidak terlalu mempengaruhi bobot cerita.

Buku Danielle Steel pertama yang saya baca bersjudul Now and Forever tahun 2005 lalu, setelah saya baca Silent Honor, Putri dari Timur, saya merasa kelak mesti baca buku-buku Danielle yang lainnya. 🙂

Resensi Novel: Senyum Pertama di Pagi Airin

DSCN3921

Judul: Senyum Pertama di Pagi Airin
Penulis: Okta Rahasti
Penerbit: de TEENS
Tahun terbit: August 2014
Genre: teenlit
ISBN: 9786022960034
Jumlah halaman: 200

Bahagia itu bukan bukan sesuatu yang kita dapat dari orang  lain, tapi bagaimana kita memberikan sesuatu pada orang lain.”–Hime, halaman 119

Cerita dalam novel ini dibuka dengan tokoh Airin yang suka melukis dan bersikap dingin terhadap semua orang di rumahnya. Bila sedang menyendiri, tak seorang pun bisa mengganggunya. Begitupun adiknya. Sikap pendiamnya ini akibat dari trauma terhadap mantannya, Dennis. Di rumah besar itu, ia tinggal dengan adik perempuannya, Hime, dan juga beberapa pembantu. Airin dan Hime adalah dua gadis keturunan warga Jepang yang dititipkan kepada neneknya sejak sang ibu meninggal dunia.

Airin memiliki kebiasaan berjalan sendirian di sekitar jalan raya. Hal itu membuatnya bertemu dengan seorang cowok misterius bernama Reza. Perkenalannya dengan Reza rupanya mampu mengubah sifat dinginnya menjadi lebih hangat.

Sementara Hime pacaran dengan Andra, cowok yang semula ia benci. Kesalahpahaman terjadi sehinga membuat Airin tak mengizinkan mereka pacaran. Hime dan Andra pun menyembunyikan hubungan. Segala cara Hime upayakan agar Andra diterima oleh Airin. Namun banyak hal akhirnya jadi kacau sejak Airin dan Reza bertemu secara tidak sengaja dengan Hime dan Andra di sebuah restoran Jepang.

Kemudian, masuklah di bagian menuju inti konflik. Masa lalu Airin, jawaban dari masa lalu Reza, dan kehidupan mereka selanjutnya ditentukan oleh sebuah peristiwa. Hime termasuk korban luka pengeboman di sebuah mall, dan kemudian Reza pergi begitu lama membawa sebuah rahasia besar yang disimpannya dari Airin. Kemudian 5 tahun berlalu dan jawaban demi jawaban terungkap.

Mampukah Airin tetap berbahagia meski keadaan telah berubah? Dan masihkah Hime tetap bersama Andra?

Novel ini sebetulnya sederhana, dituturkan dengan gaya bahasa yang ringan dan mudah dimengerti serta berusaha menghadirkan celah untuk pembaca terus bertanya tentang ending dan tokoh-tokohnya dengan cara yang sangat simpel. Bentuk alurnya yang campuran lumayan tidak bikin jenuh untuk membacanya sampai selesai.

Berbicara mengenai tokoh, Airin, sebagai judul dalam novel ini, merupakan tokoh yang bersikap dingin dan berubah ceria di saat-saat kemudian. Kalau membaca bagian awal, akan tampak sebagai orang sombong dan ketus. Berbeda dengan adiknya, Hime, yang cenderung penyabar dan banyak melakukan aksi di novel ini. Bisa dibilang, Hime sebetulnya lebih cocok menjadi tokoh utama dalam novel ini. Reza adalah cowok misterius yang memiliki masa lalu. Sedangkan Andra adalah siswa sekelas Hime, anak basket, dan sering mengganggu Hime. Secara keseluruhan, karakter-karakter dalam novel tidak terlalu khas, semuanya punya sisi ketus dan lembutnya masing-masing. Kecuali pada nama dan penggunaaan bahasa keseharian aku kamu atau lo-gue yang membedakan mana Andra yang Indonesia, dan mana kedua gadis yang blesteran Jepang. dua per tiga novel awal novel ini masih menceritakan kehidupan sehari-hari tokoh-tokohnya dengan datar. Meski lumayan terdapat adegan “ramai” di bagian sepertiga akhir di novel ini.

Sebetulnya novel ini masih bisa ‘digarap’ lagi. Masalah ide latar belakang tokoh, misalnya, cowok-cowok tampan misterius, kaya, dan pemain basket atau sekolah di luar negeri selalu disandingnya dengan putri-putri cantik yang tinggal di puri (baca:  rumah gedong dengan banyak pelayan) sudah sangat sering ada di novel atau film-film remaja. Akan lebih berbeda bila diperkaya dengan karakter dan latar belakang yang tidak mainstream untuk menghindari kesan datar.

Dan untuk dialognya, saya pernah membaca sebuah nasihat seorang penulis novel (lupa namanya), bahwa dialog yang ideal adalah dialog yang bertukar pikiran. Hanya saja di dalam novel ini lebih banyak saling respons yang cenderung impulsif dan minim tukar pikiran, seperti nada bentak dan reaksi cuek yang banyak ditemukan membuatnya sulit terlihat chemistry antartokohnya. Malah sekilas mirip adegan sinetron yang sarat bully-bully-an. Namun hal ini masih dapat dimaklumi karena persoalan dialog memang penyakit umum para penulis yang mesti ditaklukan.

Nah, akhirnya saya mesti menjelaskan juga kekurangan novel ini yang menurut saya termasuk banyak :p. Informasi mengenai setting dalam novel misalnya, perlu adanya riset dan deskripsi yang lebih memadai, sebab setting lokasi misalnya, hanya disebutkan Jakarta dan Bandung saja tanpa ada ciri khas pendukung, membuatnya masih dapat dipindah di sembrang kota. Miasalnya di halaman 99 hanya disebutkan sebuah taman yang asri, tidak disebutkan nama taman atau deskripsinya.

Di samping itu, memberikan unsur kebetulan boleh-boleh saja, asal masih logis dan dalam porsi yang cukup. Hanya saja di novel ini dapat dibilang ada banyak kebetulan yang kurang logis, seperti pada bagian awal. Barangkali akan sulit diterima ketika di dalam hujan deras, dua orang gadis dari jepang “ilang” nyari alamat neneknya di jakarta, berteduh secara tidak sengaja di bawah atap pagar rumah orang, dan taraa.. rupanya itulah rumah si nenek. Belum lagi kebetulan-kebetulan lain yang cenderung agak dipaksakan.

Saya juga sempat agak bingung dengan bagian kenapa tiba-tiba Dennis yang menembakkan pistol sementara ada banyak polisi di belakangnya. Bukankah di Indonesia bahkan membeli pistol pun mesti mendapatkan izin yang tidak mudah, atau kecuali si pemiliknya polisi? Sementara Dennis tidak dijelaskan sebagai polisi dari awal novel. Dengan sembarangan menembak buron yang sedang tidak berontak apakah malah justru menjadi tersangka percobaan pembunuhan juga ya? 🙂 Namun tidak mengapa karena novel ini memang bergenre fiksi.

Konflik dalam novel ini dihadirkan serba singkat dan terburu. Jujur selain sedikit membingungkan, rangkaian konfliknya tergolong terlalu banyak dan melebar untuk diringkas menjadi 200 halaman. Akan lebih baik bila satu dua konflik saja yang dikembangkan. Beberapa adegan yang penting seperti momen meninggalnya ibu Andra juga diceritakan terlalu ramping. Karater sang ibu juga lebih sebagai pelengkap yang tak terlalu berpengaruh dalam alurnya. Tentunya bila digarap lebih serius lagi akan menjadi lebih menarik. Di samping itu, pertemuan Airin dengan Reza disorot lebih sebentar daripada cerita hubungan Hime dan Andra.

Untuk penampilan buku ini, bagian margin, font dan penataan sudah oke. Covernya juga eye-catching dengan warna oranye dan kuning yang terlihat manis. Selain itu sudah nyaris tidak ada typo di sana.

Memang tidak ada naskah yang sempurna, namun setidaknya ada beberapa quote menarik yang dapat dijadikan inspirasi remaja yang membaca novel ini, salah satunya yang tertera pada blurb:

Hal yang paling menyakitkan adalah bukan saat orang-orang yang kita cintai membenci kita, bahkan pergi untuk selamanya, tapi saat kita membiarkan mereka berada dalam bahaya karena kita.

Novel ini dapat dijadikan bacaan ringan untuk remaja di kala senggang.

Resensi Novel: The Dancer (Mimpi di Ujung Selendang Merah Muda)

novel The Dancer (Mimpi di Ujung Selendang Merah Muda)

Judul:  The Dancer (Mimpi di Ujung Selendang Merah Muda)
Penulis:  Arthasalina
Penerbit: Mazola
Rilis:   September 2014
ISBN : 139786022960225
Jumlah halaman:  235
Genre: Fiksi

Banyak yang bilang keadaan hatiku bisa dilihat dari bagaimana aku menari. Katanya lebih jujur daripada mendengar jawaban dari mulut. Mungkin aku memang ditakdirkan untuk terjun ke sini, menari bersama hidup. Bukan hidup bersama tarian–Ajeng (halaman 155-156)

Menjadi penari tradisonal di zaman yang sudah modern seperti sekarang rupanya tidak mudah. Terlebih bila telah terlanjur meraih gelar sarjana kedokteran kemudian dihadapkan dengan dua pilihan. Tetap menjadi penari sesuai impian atau melanjutkan koas untuk menjadi dokter, seperti harapan ayahnya. Hal rumit itulah yang diadapi oleh Ajeng. Sejak ibunya meninggal karena kanker, ia memutuskan mengikuti kata hatinya untuk menjadi penari. Yang berarti ia juga menetang ayahnya. Baginya menjadi penari seperti menghadirkan kembali sosok ibunya yang juga sama-sama penari. Tidak mudah menjalani pilihan itu. Di samping ayahnya yang menolak keras pilihan itu karena berambisi anak-anaknya bisa menjadi dokter.

Menjadi penari adalah profesi yang kurang bergengsi bagi masyarakat pada umumnya. Terlebih profesi tersebut masih dipandang sebelah mata. Namun Arthasalina, penulis novel ini, seperti menceritakan pada kita bahwa tidak sekedar menghibur saja tujuan seorang penari, melainkan ada misi melestarian budaya dalam proses itu.

Meski halangan dan rintangan terjadi, Ajeng bertekad kuat berada di jalan itu. Ia juga mengikuti berbagai lomba dan pementasan, bahkan sempat menjadi penari sintren, seenis tarian tradisional yang melibatkan roh. Di tengah-tengah kesibukannya meniti karier di bidang menari, ia pun berusaha memajukan sanggar tari milik ibunya yang sudah lama tidur. Belum lagi ketika ia dihadapkan dengan rahasia besar yang akhirnya terkuak dan mengharuskan ia harus menentukan sesuatu yang berhubungan dengan masa lalu ayahnya. Yang juga berkorelasi dengan seorang tokoh di novel tersebut yang berjasa dalam perjalanan kariernya.

Adapun Deden, adalah salah satu mahasiswa Teknik Mesin yang memutuskan mengambil cuti dan datang ke Jawa (Jogja-Solo) untuk mencari pengalaman secara praktik, di samping merasa suntuk dengan kehidupan kota. Ia adalah orang yang semula menolak hal-hal yang berhubungan dengan budaya, bahkan tidak suka dengan pertunjukan tari. Namun, perjalanannya ke Jogja-Solo membuatnya jatuh cinta dengan Jawa dan orang-orangnya. Cara pandangnya mulai berubah sejak perkenalannya dengan Ajeng dan pertemuannya secara tidak sengaja. Deden yang berasal dari tradisi yang lebih metropolitan pun mengagumi sifat santun Ajeng juga. Kehadiran Ajeng sedikit banyak mengubah sikap Deden.

Bukan masalah orang jawa atau bukan, Mas. Sebenarnya masalah kebiasaan. Saya yakin adat mana pun juga mengajarkan hal yang sama. Mungkin kebiasan yang ada di lingkungan sekitar kita yang mengubahnya.”–Ajeng (halaman 59)

“Orang Jawa atau bukan, yang membuat kesan sopan dan punya tata krama itu perilakuknya”-Ajeng (halaman 60)

Deden nyaris tak pernah menemukan perempuan seunik Ajeng. Di sisi lain, Ajeng pun nyaman dengan kebersamaan mereka. Namun, sebelum mereka sama-sama saling tahu perasaan masing-masing, Deden keburu pindah lagi ke Bandung karena cuti kuliahnya habis. Selama setahun mereka tak bertemu bahkan tak terhubung melalui ponsel. Selama itu Ajeng yang bergelut dengan karier menarinya, sedangkan Deden sibuk dengan kelulusan dan pekerjaan barunya. Apakah kelak mereka bersama, atau Ajeng lebih memilih Andi, teman seprofesi denganya di dunia tari?

“Pria dewasa itu menentukan pilihan, sebatas memlilih ketentuan bukan karakter pria.” (halaman 56) demikian yang Deden ingat dari pertemuannya dengan Ajeng.

Novel The Dancer (Mimpi di Ujung Selendang Merah Muda) diakhiri dengan ending yang manis dan membuat saya tersenyum. Memang pembaca mungkin akan mudah menebaknya dari awal. Sisi menariknya adalah banyak pesan penting yang dapat ditemukan di dalam dialog-dialog tokohnya yang sarat dengan pengetahuan seputar local wisdom.

Novel ini menceritakan perjuangan mempertahankan pilihan dan tentang usaha yang tidak kenal lelah. Diceritakan dalam sudut padang orang pertama yang terdiri dari dua tokoh, yaitu Ajeng sebagai tokoh sentral dan Deden sebagai tokoh pendukung. Keduanya memiiki karakter yang berbeda. Ditunjukkan dengan Pov Ajeng yang menggunakan gaya bahasa “aku-kamu”, sedangkan Deden menggunakan” lo-gue”, menunjukkan perbedaan tradisi dan karakternya juga. Setting tempat ini adalah Semarang, Solo, Bandung, meskipun ada lokasi-lokasi lain, dan rata-rata tidak dideskripsikan secara lebih lengkap.

Keberhasilan novel ini terletak pada jalan ceritanya yang runut dan ide cerita yang membuat penasaran, juga pesan-pesan yang disertakan dalam dialog tokoh-tokohnya. Gaya bahasa dituturkan dengan ringan dan mudah dipahami. Dilengkapi pula beberapa footnote untuk memperkaya pengetahuan kita terhadap bahasa daerah. Terutama Jawa dan Sunda. Di samping itu, secara samar, penulis juga memperkenalkan budaya yang yang berasal dari nenek moyang sehingga tersampaikan misi penulis memperkenalkan budayanya, terutama tradisi tari. Seperti halanya cara Ajeng memperkenalkan keramahtamahan orang jawa terhadap Deden.

Cover buku ini sudah sesuai dengan tema dan judulnya, The Dancer (Mimpi di Ujung Selendang Merah Muda) meskipun sepertinya tidak akan ada masalah bila judul tersebut tidak menggunakan bahasa Inggris, mengingat novel tersebut, lebih sering menampilkan sisi kedaerahan dan ke-Indonesia-an. Di samping itu, saya pribadi barangkali agak merasa mengganjal dengan hal-hal yang kebetulannya agak dipaksakan. Seperti ketika secara tidak sengaja, Deden bertemu istri seorang teman di sebuah terminal bus, apalagi ia belum mengenal si istri temannya itu sebelumnya. Atau secara kebetulan ia bertabrakan dengan Ajeng di daerah ladang lereng gunung yang rata-rata luas dan masih “alas”. Yeah, meskipun dalam hidup ini hal-hal yang kebetulan bukan sesuatu yang mustahil, tapi alangkah baiknya dikondisikan selogis mungkin. Selain itu, sejak awal perkenalan, Deden terlalu beranggapan bahwa orang Jawa selalu indah, santun, suka gotong royong, dan wanitanya feminin. Padahal stereotype orang Jawa nggak selalu begitu. Terlebih di era sekarang. Bukankah demikian?

Penokohan Ajeng dan Deden yang berbeda karakter sudah cukup pas digambarkan sebagai tokoh utama dan bagian dari tema novel. Hanya saja konstruksi karakter sang ayah kurang begitu konsisten sebab di awal ia digambarkan sebagai sosok yang membenci dunia tari. Terlihat dari keukeuhnya ia menyuruh Ajeng melanjutkan koas dan melarangnya menari, namun ibu Ajeng sendiri adalah penari. Belum lagi masa lalunya yang menunjukkan bahwa penokohan sang ayah kurang sesuai sebagai sosok yang menentang profesi penari. Atau kalaupun iya, kurang diberi penjelasan.

Di samping itu, alur terasa agak tergesa dan oleh karenanya banyak detail yang kurang mendapat perhatian penulis dalam hal dialog dan penuturan, seperti pada halaman 30 di mana Mak Atun, mengatakan “wis tuwo” untuk menyebut nenek Ajeng, sebab dalam Jawa puya tingkatan bahasa, akan lebih tepat bila disebut dengan “sampun sepuh“. Selain itu penggambaran setting tampaknya perlu disempurnakan lagi dengan detail dan ciri khas, sebab meski sempat disebutkan nama-nama lokasi, seperti Sleman, namun belum kentara andaikata nama daerahnya diubah menjadi Kebumen atau Padang, misalnya. Lagipula (merujuk pada halaman 213) makanan jenis batagor tidak hanya ada di Bandung, Solo pun ada.

Namun tidak mengapa. Barangkali memang bukan pada deskripsi setting,dan detail masyarakat secara kebudayaan yang istimewa dari novel ini. Sesuai dengan konsep awalnya, novel ini sudah menggambarkan cerita hidup orang-orang yang bergulat dengan profesinya, yang tentunya tidak lepas dari kehidupan pribadi yang juga cukup berliku. Seperti halnya seorang penari. Sekalipun seorang penari dapat tampil total dan tersenyum tanpa beban di atas pentas, mereka juga tetap manusia biasa di balik panggung. Selebihnya tidak banyak kesalahan tata bahasa, typo, dan ejaan di sana, pun sudah lumayan penataan marginnya.

Novel ini direkomendasikan suntuk pembaca dewasa muda yang sedang mempertahankan pekerjaan sejatinya.

Resensi: Mesopotamia, Mimpi yang Panjang dan Melelahkan

novel Mesopotamia

Judul: Mesopotamia, Mimpi yang Panjang dan Teramat Melelahkan
Penulis: Senja Nilasari
Tahun terbit: September 2014
Penerbit : PING!!!
Genre : Fiksi
Jumlah Halaman : 220
ISBN : 139786022960232

Novel ini berkisah tentang Oman. Seorang arsitektur asal Irak yang bekerja di Indonesia. Tatkala kembali ke rumah yang diwariskan oleh ibunya, ia menemukan sebuah sebuah buku Meet the Sumerians. Tiba-tiba saja ia terlempar ke tempat yang begitu asing yang kelak ia tahu adalah di zaman Mesopotamia. Sebagai pendatang asing bagi bangsa tersebut, ia pun dijadikan budak seorang tuan dan mengerjakan hal-hal yang tak pernah lakukan di dunia nyata, seperti merawat ternak dan menjadi pelayan. Tak berhenti sampai di situ, perjalann penuh liku membuatnya terlempar dari satu tuan ke tuan yang lainnya hingga pada akhirnya ia terlibat dalam proyek pembuatan Ziggurat Ur, salah satu ziggurat terbesar pada zaman itu. Bahkan Raja Shugi, raja yang menjadi penguasa di zaman itu, meminta Oman untuk memberikan ide dan pengalamannya sebagai arsitek. Tentu saja dengan dua dialog yang sulit saling mempercayai. Hal-hal yang berbeda yang dibawa Oman membuat mereka mengiranya alien. Bukan tidak sadar Oman sedang sedang berada di dimensi masa lalu, sebab ia masih ingat bahwa ia memiliki kehidupan yang sebenarnya. Hanya saja ia tak mengerti bagaimana keluar dari sana. Bahkan cara berada di sana pun ia tak tahu. Mimpinya seperti begitu nyata hingga membuatnya ingat kembali pengetahuan sejarah peradaban yang sudah terkubur itu. Novel ini pun diakhiri dengan serangkaian adegan yang membuat saya seperti menahan napas ingin tahu akhirnya.

Apakah Oman dapat kembali, atau menetap di peradaban Sumeria yang sudah terlanjur ia jalani?

Novel ini adalah salah satu buku kesekian bertema projek astral yang diterbitkan divapress. Sepertinya sudah menjadi kebiasaan bahwa novel bertema astral projection dan berlatar belakang peradaban kuno selalu menampilkan alur campuran. Novel ini berlatar Irak, Indonesia, dan Sumeria pada zaman Mesopotamia. Penuturan disampaikan dengan sudut pandang orang ketiga, dengan gaya bahasa mengalir ringan dan mudah dimengerti. Diksi yang dipilih oleh penulis pun sederhana dan dapat dipahami.

“Mesopotamia, Mimpi yang Panjang yang Teramat Melelahkan” ditulis oleh Senja Nilasari dan merupakan novel pertamanya yang diterbitkan. Meskipun termasuk pendatang baru, Senja sudah menulis novel ini dengan sangat baik dan tampaknya sudah melakukan riset yang cukup. Novel ini seperti ditulis dengan hati-hati, terlihat dari jalinan cerita yang lumayan logis. Meskipun tentu saja, kita tidak dapat membandingkan sebuah novel fiksi dengan fakta sejarah yang sebenarnya. Sebab bukan hanya pada kebenaran sejarah letak menariknya.

Dalam novel bertema astral projection ini, Omar menjadi tokoh utama dan memiliki porsi lebih banyak dibanding tokoh yang lain. Omar digambarkan sebagai arsitek yang tekun, pekerja keras, dan sering kali lebih mementingkan pekerjaannya. Dibuktikan bahwa ia menunda berangkat ke Irak ketika kabar kematian ibunya sampai di telinganya. Sedangkan karakter Diva yang lembut dan pasrah. Ada pula Qanitah, adik perempuan Oman yang penyabar, sedangkan ayah Omar digambarkan sebagai ayah yang diktator dan dominan. Di samping itu bangunan karakter raja yang gila kekusaaan dan para budak dan tuan berdiri sendiri-sendiri dan berhasil dijabarkan dengan tidak langsung oleh Senja. Seperti yang pernah saya baca dari penuturan seorang penulis (saya lupa namanya) bahwa kualaitas karya dapat dilihat dari apakah pembaca dapat mengimajinasikannya sendiri atau terlalu banyak diguru oleh penjelasan gamblang. Novel ini mampu memenuhi poin pertama. Membaca karya yang satu ini membuat saya ingat untuk tidak melihat buku dari penampilan luarnya. Deskripsi setting yang dibangun membuat pembaca dapat membayangkan sendiri situasi yang dipaparkan dalam alur demi alur. Unsur imajinasi dibangun cukup kuat.

Namun, hingga dua per tiga bagian novel ini masih bercerita tentang Sumeria dan kehidupan masyarakatnya, juga tentang seorang raja yang otoriter dan membanggakan diri sendiri. Di samping itu, novel Mesopotamia dibingkai cerita kehidupan realitas Omar yang sepotong-sepotong seperti masa kecil Omar yang kurang bahagia, kodisi perang hingga cerita mengenai dirinya dan Diva kekasihnya yang juga tidak banyak dieksplore. Meski demikian, novel bertema astral projection ini memenuhi totalitasnya dengan keterhubungan antarcerita, terlebih setiap tokoh memiliki peran yang masing-masing saling berpengaruh.

Hingga bagian tengah-tengah itulah, saya merasa harus sejak istirahat untuk kembali membaca ketika mud saya datang lagi. Terutama di babak sebelum Oman betemu dengan Raja Shulgi. Bukan karena ceritanya tidak menarik, tapi bagian tersebut memang agak lambat dan datar. Tapi justru agak tergesa ketika masuk di beberapa babak yang agak menegangkan. Di samping itu ada missing link di bagian ketika Diva berada di alam Oman yang lain itu. Saya juga agak penasaran dengan situasi ‘mimpi di dalam mimpi’ yang terjadi di halaman 172. Membuat saya sempat bingung sebelum ingat kembali bahwa novel ini memang hanya fiksi :p.

Dari segi penampilan buku, tidak banyak yang akan saya utarakan. Ukuran font dan halaman sudah sesuai, terlebih sudah dilengkapi footnote untuk menjelaskan istilah asing. Hanya agak mengganjal salah satunya di bagian cover. Meskipnn sudah menggambarkan tema buku, menurut saya perpaduan warnanya agak sedikit pucat sehingga bagunan ziggurat menjadi terkesan kurang tegas. Tapi itu hanya salah satu dari pandangan subjektif saya. Tapi toh, kualitas novel tidak bisa ditentukan dengan kulit. Selain itu, misalnya di halaman 196-197 terdapat penataan margin yang barangkali bagian dari kesalahan tak disengaja di mesin cetak. Ditemukan pula beberapa kesalahan eja dalam novel ini seperti di halaman 159. kata “Ke dua”, mestinya jadi “kedua” ya :), dan beberapa kesalahan tanda baca seperti di halaman 44 dan 146.

Meski demikian, novel yang lebih cocok untuk segmen young adult ini tetap menarik untuk mengisi liburan.

Resensi: Le Mannequin (Hatiku Tidak Ada di Paris)

DSCN3645

Judul : Le Mannequin, Hatiku Tidak Ada di Paris
Penulis : Mini GK
Penerbit : Diva Press
Genre : Chick Lit
Tahun Terbit : 2014
Editor : Ratna Mariastuti
ISBN : 978-602-255-588-9
Harga : Rp48.000,-

Hal yang menyedihkan tentang cinta adalah jika kamu telah bertemu seseorang yang berarti buat kamu tapi pada akhirnya kalian tidak dapat bersatu... –318

Tidak seperti bayangan awal saya ketika melihat cover depan. Membaca fragmen pertama novel ini memang seperti berjalan-jalan sebentar di tengah Kota Paris yang romantis dan nyeni, namun melanjutkan membacanya, saya banyak menemukan local wisdom ala Indonesia, berada di Indonesia, dan menyimak orang-orang yang hidup di Indonesia. Sekaligus juga menelusuri suasana ala Gunung Kidul dengan keindahan alamnya.

Le Mannequin (Hatiku Tidak Ada di Paris) bercerita tentang seorang gadis bernama Sekar Purnomo, yang meski lahir dan tinggal di wilayahpedesaan Gunung Kidul, tetapi memiliki mimpi besar menjadi desainer ternama. Terbatasnya ekonomi keluarga, ia tak berkesempatan menempuh pendidikan yang tinggi. Bermodal kepercayaan diri dan cita-cita, ia pun memutuskan hijrah ke Jakarta dan bekerja di perusahaan garmen. Candra Kusuma, satu-satunya sahabatnya, berusaha menahannya. Candra adalah sahabat masa kecilnya. Mereka tumbuh bersama namun memiki impian yang berbeda. Sekar yang ingin mendunia, sedang Candra hanya ingin memajukan desanya. Namun, keduanya selalu saling ada. Kebersamaan hinga dewasa mampu menumbuhkan benih cinta di hati Candra yang akhirnya ia simpan dalam-dalam. Mau tak mau, ia pun merelakannya pergi jauh ke Jakarta untuk waktu yang lama. Meski berat pula bagi Sekar meninggalkan orang tua dan sahabat yang selalu memberinya nasihat dan dukungan itu.

Sekar datang ke Jakarta dengan tanpa pengetahuan apa pun tentang kota tersebut. Lukman, pria yang tak sengaja ditemuinya di kereta inilah yang kelak membantu segala keperluan dan akhirnya menjadi kekasihnya. Tahun-tahun berlalu, membawa Sekar menemukan kesempatan di bidang yang dia impikan, menjadi desainer di butik Pavo milik Madame Diamanta. Ia bermetamorfosa menjadi gadis yang berpenampilan menawan dan memiiki karier yang gemilang. Daya kreatif dan kerja kerasnya sedikit banyak berpengaruh pada kemajuan butik. Sementara hubungnnya dengan Lukman yang sudah hampir 2 tahun belum menemukan titik jawaban. Malah cobaan demi cobaan mendera dengan hadirnya Sabinta dan isu perjodohan yang digadang-gadang orang tua Lukman. Membuat saya ikut gemas.

Di sisi lain, ia pun bertemu dengan Yasak, anak sulung Diamanta yang jatuh cinta padanya pada pandangan pertama. Namun pertemuannya barangkali kurang tepat sebab Sekar tengah diliputi kegalauan. Meski demikian, Yasak selalu ada untuknya, terutama ketika melewati berbagai kesulitan termasuk menghadapi teror Gita, salah satu karyawan Pavo yang menyimpan dengki kepadanya. Gita ini menurut saya mirip tokoh antagonis sinteron.

Cobaan Sekar tak berhenti sampai di sana. Hubungannya dengan Lukman kandas lantaran pria tersebut memilih menikahi Sabinta. Mimpinya terancam retak dengan kabar itu hingga akhirnya ia memutuskan untuk resign dan pulang kampung. Tentu saja Yasak dan Diamanta tidak sependapat, terlebih mereka memahami mimpi besar Sekar yang tinggal selangkah lagi. Hingga akhirnya, Sekar mengambil cuti untuk memikirkan kembali keputusannya sambil pulang ke Gunung Kidul. Kembali ke kampung halaman mampu mengobati luka hatinya, meski bayangan Lukman masih ada di benaknya. Pertemuan kembali dengan sahabat masa kecilnya dan tawaran Diamanta mengikuti fashion week di Perancis cukup mengembalikan kebahagiaannya. Terlebih pada saat yang sama ia pun tahu alasan Candra selama ini menunggunya.

Namun meski cita-cita sudah di depan mata dan kondisi mengikatnya pada jalan yang harus ditempuh, ia tetap harus menentukan dengan siapa ia akan menyandarkan hatinya. Kakak beradik Yasak dan Demian yang romantis dan sama-sama mencintainya, Candra yang telah mengenalnya sejak kecil, atau Lukman yang kembali mencarinya karena menyesali keputusannya menikahi Sabinta?

Nggak kebayang ribetnya kan, sebab satu aja repot, apalagi 4, :))).

Novel ini memiliki alur mau dan mundur. Akhir dari kisah ini mengalir manis dan menyajikan ending yang cukup mendebarkan. Seperti kata Pak Ahmad Tohari dalam endorsement-nya, bahwa karya Mini GK ini memang mengesankan. Tentunya Mini GK telah berpengalaman menulis kisah romance setelah sebelumnya menerbitkan dua novel berjudul Abnormal dan Stand by Me.

Novel Le Mannequin (Hatiku Tidak Ada di Paris) disajikan dengan tema cinta dan perjuangan hidup yang mengalir dengan ringan. Adapun deskripsi latar yang detail, diksi yang enak dibaca, nilai-nilai kesederhanaan, juga pesan moral dan mitos-mitos yang bertabaran menjadi kelebihan novel ini. Cara Mbak Mini GK menceritakan keindahan alam Guning Kidul tak kalah menarik. Tak lupa ia memadukan nilai-nilai keluhuran asli Indonesia, ibarat long dress bergaya modern dengan sentuhan batik.

Kesukaan Sekar terhadap sepasang boneka mannequin yang disebutkan beberapa kali di dalam novel membuatnya tidak lepas dari judul yang dipilih. Mbak Mini tak kehilangan ketahanannya memperkenalkan hal yang baru namun beridentitas dalam karyanya yang satu ini. Tidak hanya itu, novel ini pun dilengkapi dengan cerita dongeng Sam Pek Eng Tay. Boleh jadi novel ini memiliki napas yang berbeda meskipun dari segi cerita sebetulnya umum. Kisah gadis desa yang berjuang ke kota, ditinggal nikah sama pacar, dan kebimbangan di antara banyak pilihan adalah tema yang klise.

Tentu saja tidak ada karya yang sempurna. Masih banyak hal yang sepertinya dapat diperbaiki dalam novel ini.

Misalnya, pada bagian pertemuan dengan Demian di pembukaan novel terkesan agak instan. Kalau saya jadi Sekar,
barangkali butuh pertemanan tahun kedua untuk mau difoto menggunakan kamera pribadinya, hehe. Di samping itu, banyak hal yang kerap dihadirkan Mbak Mini GK dalam novel ini tentang kebetulan-kebetulan yang kurang masuk akal. Jakarta, Bandung, dan Paris seolah dihadirkan sebagai kota kecil di mana kita akan sering ketemu tetangga kita yang itu-itu aja. Lalu bagaimana proses pekerjaan mendesain itu sendiri? Bagaimana proses berperasaan terhadap seseorang? Saya belum begitu menangkap feel-nya selain rata-rata disebabkan oleh kekaguman secara fisik. Tapi tidak mengapa.

Karakter Sekar sendiri digambarkan sebagai gadis desa yang polos tapi bersemangat. Kenekatananya meraih cita-cita membawanya pada serangkaian kesuksesan dan keberuntungan. Secara fisik, ia ditampilkan sangat mempesona. Kecantikan ini membuat setiap pria tampan langsung “memuja”. Sekar digambarkan sebagai gadis sukses namun tidak terlalu banyak memiliki wawasan mengenai kehidupan dan cenderung nerimo (pasrah). Metamorfosis karakternya ditopang oleh orang-orang di sekitarnya. Namun penggambarannya pas sebab di dalam novel, Sekar pun bukan orang yang suka membaca, melainkan sibuk di wilayah pekerjaan dan mengejar mimpi di bidang fashion. Kehadiran tokoh Candra yang digambarkan sebagai pria penyabar dan kutu buku hadir sebagai peyeimbang dan pengisi. Sebagai sahabat masa kecil yang cukup berpangaruh dalam hidup Sekar.

Sebagai karya yang merepresentasikan genre chick lit, novel ini tampaknya sengaja dihadirkan bertema cinta dengan segala aspeknya yang sempurna. Hampir semua tokoh wanita dan prianya ganteng, cantik, berkulit cerah, tinggi, dan tajir. Konsekuaensi dari itu, tokoh sampingannya kurang memiliki bangunan karakter yang kuat. Pada dasarnya kan manusia itu terdiri dari kelebihan dan kekurangan. Namun, karakter para pria yang cukup penting dalam novel ini nyaris tidak dideskripsikan secara realistis. Barangkali akan lebih natural bila, misalnya nih: pria cerdas berwajah oriental berambut kaku, jarang mandi, punya kebiasaan gigit kuku kalau gugup, atau pobhia gerobak misalnya. Untungnya tokoh Candra yang seorang guru dan tak ingin hijrah dari desa digambarkan lumayan detail sekalipun tidak jauh dari jenis ‘sempurna’. Barangkali akan lebih menggambarkan penduduk Gunung Kidul kalau tokoh Candra berkulit sawo matang dan tidak terlalu tinggi.

Segi tampilan, seperti ukuran font dan margin sudah pas. Hanya beberapa saja kesalahan eja dan diksi tapi tidak terlalu berpengaruh.
Overall, novel ini memberikan kesan manis dan menarik. Apalagi banyak quote yang dapat dijadikan pelajaran hidup, salah satunya seperti berikut.

Adalah kado termahal yang pernah ada, yaitu kesempatan–189

Selamat berburu novel dan selamat membaca 🙂