Omurice

Janjian masak sama temen memang mengasyikan. Sejak Mpok Tanti mengirimkan foto omurice dan kemudian ngajak janjian masak akhir pekan di rumah masing-masing, saya jadi penasaran dengan salah satu makanan ini. Intinya, saya jadi semangat masak.

Omurice kepanjangan dari omelette rice. Maksudnya adalah telur dadar isi nasi goreng. Makanan ini rupanya berasal dari negeri sakura. Menurut berbagai sumber, omurice pertama kali diciptakan di sebuah restoran yang bernama Hokkyokusei yang terletak di Namba, Osaka. Restoran ini membuat omurice pertama kali khusus untuk pengunjung restoran yang terkena gangguan pencernaan. Namun ada pula yang mengatakan omurice diciptakan lebih dulu di restoran Renga-tei yang terletak di Ginza, Tokyo. Entah benar yang mana, yang jelas sekarang makanan ini menjadi populer dengan bentuk yang beragam dan bisa dimasak sendiri dengan variasi bahan sesuai selera.

Omong-omong soal omurice, Indonesia juga punya jenis kuliner yang masih family, lho. Namanya semarmendem. Nasi yang sama-sama dibalut dadar telur. Bedanya, bila omurice lebih besar dan berisi nasi goreng, semarmendem berisi lemper (nasi ketan isi daging). Bila semarmendem biasanya dikonsumsi sebagai camilan, omurice adalah makanan utama. Bila omurice ini telur dadarnya murni, semarmendem pakai adonan telur yang dicampur tepung. Begitulah.

Ternyata membuat omurice cukup simpel dan bisa menggunakan bahan seadanya.

Bahan kulit

  • Telur
  • Garam
  • Merica

Bahan nasi goreng (untuk satu porsi, untuk diri saya sendiri yang lagi nggak puasa :D)

  • nasi 1 piring
  • 1 buah cabe rawit
  • 2 buah bawang merah
  • 2 buah bawang putih
  • 1 buah sosis sapi
  • 1 buah wortel ukuran kecil, potong dadu
  • lada bubuk secukunya
  • pala bubuk secukupnya
  • garam secukupnya
  • 1 sdm margarin
  • 1 sdm kecap manis
  • 1 buah daun bawang
  • 2 sdm minyak goreng

Di resep ini saya masak telurnya dulu. Sebetulnya sesuai tekniknya sih nasi dulu. Tapi karena saya sulit membayangkan bagaimana melipatnya kalau sudah jadi, makanya milih yang lebih mudah dulu :D.

Caranya:

Kulit

Seperti bikin telur dadar pada umumnya, kocok telur, tambahkan merica bubuk dan garam, goreng di atas penggorengan yang sudah diolesi margarin. Masak dengan api kecil. Saya menggunakan teflon supaya bisa lebih lebar dan merata permukaannya.

Setelah matang, angkat, letakkan di atas piring.

Isi

  • Pertama, panaskan minyak goreng dan margarin dengan api kecil.
  • Cincang bumbu bawang merah dan bawang putih. Iris tipis cabe rawit. Potong-potong daun bawang kira-kira 1 cm-an dan sosis.
  • Tumis bumbu tersebut hingga harum.
  • Masukkan wortelnya dan beri sedikit air.
  • Tambahkan kecap, saus tomat, merica bubuk, garam, dan pala bubuk.
  • Masukkan nasi sambil diaduk supaya bumbunya merata.
  • Setelah matang, angkat di atas telur dadar untuk dibungkus, kemudian dibalik dengan hati-hati.
  • Hias dengan saus kesukaan. Saya pakai saus tomat.

Eh ternyata hasilnya sungguh di luar dugaan. Jumlah nasi gorengnya melebihi kapasitas si telur dadar membungkus sesuatu. Jadi saya hanya mengambil sebagian untuk dibungkus telur dadar. Sesudah difoto, digabungin deh semuanya.

Dan… beginilah penampakan omurice kreasi saya. Memang agak sedikit berantakan. Namanya juga baru pertama nyoba 😀

img_20160629_064929.jpg

img_20160629_065011.jpg

Iklan

Resensi Novel Angela

DSCN3952

Judul : Angela, Semoga Waktu Tak Hapuskan Ingatanku Tentangmu
Penulis : Hardy Zhu
Penerbit : deTeens
Tahun Terbit : September 2014
Cetakan : Pertama
Editor : ItaNov_
ISBN: 9786022790594
hlm: 173

 

Seperti judulnya, novel ini bercerita tentang Angela, mahasiswi semester awal di sebuah universitas ternama di Unida. Acara reuni SMP yang ia datanginya bersama Gifty, sahabat kentalnya, mampu mengubah hidupnya. Ia bertemu dengan Sandy di acara tersebut. Yang membuatnya terkejut adalah penampilan Sandy sekarang yang sudah berbeda dari ketika masih SMP. Bila dulu ia tipis dan hitam seperti tripleks (halaman 19) :D, kini menjelma jadi cowok tampan yang membuat para cewek meliriknya. Terlebih ia telah sukses dengan bisnisnya.  Sandy begitu baik dan perhatian, bahkan sejak masih sama-sama di bangku SMP sikapnya tak berubah, alias selalu “tersedia” untuk Angela. Apalagi Gifty, salah satu orang yang tahu bahwa Sandy menyukainya, selalu mendukung mereka supaya jadian.

Di sisi lain, Angela malah sedang terpesona akut dengan penulis teenlit favoritnya, Azka. Berawal dari tak sengaja ia mengambil novel tersebut dari rak buku karena buru-buru ke kampus, tahunya ia jadi ngefans. Berkali-kali ia mencoba berinteraksi dan menarik perhatian si penulis dengan mention-mentionan di Twitter. Tentu saja berkah baginya ketika berhasil bertemu dengan si penulis, bahkan sempat diminta untuk menemaninya riset novel berikutnya ketika si penulis datang ke kotanya. Namun sial karena Sandy selalu punya alasan untuk menggagalkan pertemuan mereka. Baik dengan cara paling sederhana sampai paling ekstreem. Namun pada akhirnya terungkap alasan mengapa semua hal ini terjadi.

Belum sempat novel ini didaftarkan di currently-reading atau to read di akun Goodreads saya, ia sudah selesai terbaca karena saking asyiknya menikmati jalan cerita aja. Saya memang bukan penggemar teelit selama 8 tahunan ini. Tepatnya sejak tahu semakin lama teenlit, terutama yang bernuansa romansemakin tidak jelas bentuk dan arahnya, telebih setelah kecampuran film sinteron dan film televisi dengan persoalan yang cenderung kurang dekat dengan remaja bahkan jarang mengandung bobot untuk dibaca semua kalangan dan menghibur meski tetap santun. Tapi sekian lama saya menghindari jenis teenlit, kecuali demi pekerjaan, saya kok merasa seperti menemukan teenlit yang kembali menemukan celah seperti semula ketika membaca novel Angela ini. Memang idenya sederhana dan bukan tidak pernah diangkat. Hanya saja unsur meremaja, kepolosan, kelucuan, diksi, kelogisan cerita hingga gaya bahasa dan alur yang lincah terbaca dari novel ini, yang membuatnya berbeda dengan teenlit era kini. Terlebih banyak teenlit yang isinya seperti mengampanyekan kehidupan hedonis yang justru mengkhawatirkan ketimbang menginspirasi. Tapi denger-denger kondisi itu tak berlangsung lama dengan maraknya renovasi teenlit, yang menghadirkan kisah remaja yang tidak klise dan pesan moral yang baik dari sana serta sudah digarap lebih serius, sehingga bila ke toko buku untuk membelinya, kita mesti selektif menemukan jenis yang ‘serius’ itu.

Teenlit memang tidak melulu mengeksplore gaya hidup remaja yang sarat pacaran dan hura-hura. Justru bila dikemas dengan tepat, teenleit sebagai jembatan mereka, khususnya remaja, yang tidak suka baca menuju terbuka dengan bacaan.

Seperti pada konsep novel Angela, yang meskipun tema adalah cinta dan persahabatan. Pembaca akan menemukan sendiri bagaimana kedua hal itu hadir dengan caranya sendiri di kehidupan remaja juga tentang bagaimana menyesaikan konflik-konflik ala remaja. Sejak saya membaca serial Lupus, Olga, Princes Diary, Dialova, More Than Love (yang malah nggak bisa dibilang teenlit meski tokohnya remaja SMA), kemudian fakum selama 8 tahunan, dan mesti baca lagi sejak 2012 untuk berbagai alasan. Meskipun sudah terlalu dewasa untuk membaca teenlit, saya nggak nyesel baca Angela.

Kelebihan lain dari novel ini adalah tidak ada unsur pergaulan bebas di mana ciuman, pelukan, dan sebagainya menjadi kewajaran seperti teenlit kebanyakan. Gaya bahasanya sederhana dan mudah dimengerti, juga menggunakan aku-kamu yang sesuai setting lokasi, sebagai sikap menentang kebiasaan teenlit harus “lo-gue”, yang semestinya lebih cocok dengan pergaulan ala Jakarta-Betawi. Novel ini juga lebih banyak menggambarkan hubungan persahabatan, kegelisahan ala remaja ketika masuk pada level ngefans terhadap sesuatu, juga tentang pekerjaan partime beserta segala persoalan yang dekat dengan remaja.

Settingnya dijabarkan cukup baik, dengan gambaran suasana dan juga detail melalui sudut pandang Angel terhadap hal-hal yang dihadapnya.

Kekurangannya? Tentu ada. Namun hanya sedikti saja, misal tokoh Angel sebagai sentral lengkap dengan ciri khas fisik, cara berpikir, hingga kesukannya, membuat jalan ceritanya hanya tentang sisi Angela. Sehingga tokoh-tokoh lain seperti Gifty agak terpinggir, Sandy, dan juga Azka (si penulis) kurang tereksplore. Selain itu endingnya juga terlalu cepat juga agak bisa ditebak ^^, mestinya novel ini dapat digarap lebih baik lagi tanpa dibatasi jumlah halamannya. Tapi tak mengapa, menurut saya Angela sudah tampil dengan oke. Juga cover yang cukup mudah menarik perhatian dengan warna pink tua serta memiliki ukuran font yang nyaman dibaca. Tapi sepertinya mesti hati-hati dengan bagian buku yang dijilid, sebab dua lembar terakhir buku ini tiba-tiba lepas, hehe. Tapi tenang saja, sudah saya lem lagi:p

Teenlit yang memang disajikan sebagai cermin kehidupan perkotaan ini memang tentang remaja, tapi bisa dibaca kalangan dewasa muda kok. Untuk para remaja, ini recommended deh;)

Sahabat Pena

Dapat dikatakan ini sekadar iseng berkhayal

Kadangkala aku ingin punya sahabat pena. Seorang teman yang barangkali jauh dari tempat ini dan sama-sama hanya bisa menulis untuk dapat nyaman berbicara. Barangkali ia juga benci arisan, malas pula berada di antara orang-orang yang berebut disimak untuk pamer, ia juga nggan punya jejaring sosial yang bising dan memusingkan. Mungkin ia juga membutuhkan seorang teman yang belum pernah ditemui tapi ia tahu bakal berkirim surat setiap akhir pekan, bercerita banyak hal tanpa khawatir terekspose media karena untuk apa, menyebarkan cerita orang yang bahkan belum dikenal kecuali lewat tulisan tangan?

Menulis surat pada sahabat pena tak perlu saling melihat ekspresi dan foto selfie, tak perlu khawatir bahwa kami berbeda, tak perlu menyamakan status sosial atau nasib, tak eprlu memandang apakah kami menikah atau tidak, kaya atau tidak, tak perlu risau soal prasangka sebab kami dapat terbuka dengan leluasa, kami boleh jujur atau tidak tergantung kita sendiri, asal tetap terhubung dan saling merespons.dan lama-kelamaan mungkin saja saling menginspirasi. Yah barangkali akan mustahil, mengingat, alih-alih sahabat pena, sepanjang hidup punya teman saja sudah merupakan kemewahan bukan?

Lanjut… Kemudian, kami akan bercerita apa pun yang ingin kami ceritakan, menanyakan pendapat, menjabarkan pemikiran, menguraikan perasaan, ataupun memberikan argumen sebebas mungkin tanpa takut membuat tersinggung sebab segalanya begitu jelas lewat surat, seperti Kartini, atau seperti Minke dalam Bumi Manusia. Barangkali kami hanya sekadar berkirim surat, tanpa harus bertemu dan belanja bareng dan lalu merasa berdosa karena demi punya teman dan tahu kabar, kami seolah harus pakai smartphone dan memiliki beberapa akun sosial. Sedangkan tak semua orang suka smartphone, dan tak setiap orang kuat membelinyaSebab kurasa sekadar surat cukup. Entah dia berasal dari pelosok pulau yang mepet perbatasan, entah dari pedalama lereng gunung, entah dari bawah air terjun, atau di daerah konflik, atau dari kota besar yang membosankan, tak masalah bagiku. Tak perlu ada syarat ribet demi saling memahami dengan cara masing-masing. Kami bisa menulis di atas kertas, atau di atas daun kering atau tisu, boleh tulisan tangan, atau mesin ketik. Kurasa akan lebih menyenangkan ketika kami terhubung melalui surat-surat yang rutin diantar pak pos akhir bulan atau akhir pekan. Surat lebih universal dan membumi daripada jejaring sosial atau sejenisnya.

Barangkali akan menyenangkan bisa bersahabat dengan surat menyurat, membagi sebagian cerita hidup, yang mungkin berlangsung selamanya. Sampai barangkali kami tua dan isi tulisan kami pendek-pendek karena sudah tak senergik dulu, dan mungkin sampai salah satu dari kami lebih dahulu tak membalas surat. Sebab terlalu sulit bagiku menjadi bagian dari keramaian ini, mematuhi segala kepentingan, aturan-aturan tak terlihat yang aku kurang paham, atau mengkhawatirkan banyak hal yang mestinya tak perlu dikhawatirkan. Berat rasanya terjebak dalam kerumitan kita sendiri yang tak bisa menjadi diri sendiri di tengah hingar bingar. Sementara kita ingin menjadi diri kita sepenuhnya. Andai semua itu mudah.

Sahabat pena mungkin adalah sahabat yang ideal di satu sisi sebab dapat saling menerima tanpa pretensi, tidak di sisi lain karena tentu ia tak menjadi bagian dari kehidupan keseharian kita. Mungkin saja suatu saat kami bertemu pada sebuah kesempatan, mengumpulkan surat-surat-surat kami untuk dibuatkan museum khusus bertema sahabat pena. Saat itu pastilah kami terbahak karena menyadari begitu banyak yang berbeda dari kami, dan begitu jauh sosok kami semua dari bayangan masing-masing sebelum ini. Dan begitu akrab dan dekat sebetulnya kami sebelum kikuk berkenalan lagi di dunia nyata. Atau barangkali takkan pernah bertemu.

Sungguh kurasa, akan sangat mengasyikan bila punya banyak sahabat pena….

Tapi apakah demi berangan tentang ini, aku juga mesti memandang zaman?

DSCN3501

Rasa Pedas

Kau penyuka rasa pedas?

Aku nggak terlalu menggemari, tapi makanan pedas kuakui enak. Terlebih bila komposisi bumbu dengan bahan dasarnya pas, entah itu pedas karena cabai atau merica. Mereka akan meninggalkan jejak nikmat (lengkap) sebelum melanjutkan perjalanan ke kerongkongan dan lambung untuk melebur dengan zat HCL, pepsin, renin, dan makanan lainnya. Mulut dapat merasai sensasi menyakitkan tapi enak yang dihasilkan rasa pedas itu. Namun tidak semua lambung lantas menyambut dengan bersahabat. Jadi benar, ada kalanya orang-orang yang memiih makanan enak, cenderung lebih dahulu mempertimbangkan selera yang dituntut oleh indra pengecap, utamanya lidah dan indra peciuman, ketimbang kemampuan alat pencernaan setelah mulut ataupun kesehatan. Terlebih kemampuan perut tak bisa terdeteksi sebelum betulan terlihat dampaknya.

Kata seorang teman rasa pedas itu merusak rasa. Teman lain bilang itu justru memperkuat rasa. Kedua pendapat itu dapat dikatakan benar karena sebetulnya cabai menyangkut selera. Selera berkait erat dengan individu yang tentunya sudah beragam dari sananya. Manusia dan selera adalah identitas yang berpasangan selalu. Ada yang senang bila cabainya melimpah. Ada yang menyerah duluan dengan cabai setengah biji. Ada pula yang menolak sama sekali masakan pedas secuil pun.

Ketika aku iseng browsing sejarah makanan pedas, ternyata sulit juga dicari. Ada yang bilang berasal dari Melayu, sebelum Indonesia bernama Indonesia. Masyarakat Thailand pun familier dengan tradisi makan pedas. Ingat penjelasan salah satu dosen ketika zaman kuliah, bahwa setiap daerah bisa berbeda kecenderungan jenis makanan sesuai dengan kondisi alamnya. Semula makanan pedas biasanya dikonsumsi masyarakat sekitar pegunungan atau daerah berhawa dingin. Zat yang terkandung di dalam cabai dipercaya dapat menghangatkan tubuh. Meski demikian, tidak semua orang lantas mengonsumsinya. Sebab di negara-negara lain, seperti negara-negara di Eropa, mereka konon tidak memakan cabai seperti di Asia. Sebagai penghangat mereka meminum semacam wine. Meskipun jahe sebenarnya bisa, tapi jahe digunakan di Indonesia. Sehingga kurasa cara masyarakat mengatasi rasa dingin melalui makanan hanya soal adat dan kebiasaan. Barangkali belum bisa dikatakan melulu tentang adaptasi, melainkan selera. Masyarakat dari tradisi pemakan cabai ekstrem pun ketika berkunjung ke Jogja akan mengeluhkan rasa manis di dalam unsur masakannya, dan akan tetap menambahkan porsi cabai meskipun udara Jogja sudah hangat.

Tapi rupanya rasa pedas tidak berasal dari tanah Melayu. Di India ada jenis cabai Bhut Jolokia yang sempat membuat pemakannya terkapar pada menit ke-30, konon efeknya hingga 12 jam.  Cabe ini menggantikan jenis Red Savina yang semula menjadi cabai terpedas di dunia versi Guinness World Records. Pada versi itu, ada beberapa peraih rekor yang rupanya justru dari Meksiko. Ada pula yang menyatakan Ed Currie yang terpedas di dunia. yang juga berasal dari Meksiko. Tak lama versi Guinness Book of Records menyatakan cabai asal Inggrislah, cabai Infinity, yang terpedas di dunia. Jadi untuk apa cabai diciptakan di dunia selain untuk bumbu makanan dan ikut lomba? Untuk obat. Beberapa artikel ilmiah menjelaskan kegunaannya di bidang kesehatan, tapi dalam porsi yang cukup dan cenderung sedikit. Cabai juga punya manfaat mengobati.

Namun, kemarin hari sedikit menyesal sekaligus bersyukur dengan masakan pedas yang kumakan, memang pada dasarnya lezat sekali, apalagi dikonsumsi di antara suasana ‘hangat’. Hanya saja unsur cabainya melebihi batas normal kemampuanku merespons rasa pedas yang tentunya hanya kusimpan sendiri dalam hati -__-. Sebab sehari setelahnya, selain masih ada rasa panas di pangkal kerongkongan hingga lambung, efek lain yang cukup bikin mules dan lemes pun mengikuti. Tongseng kuah yang rasanya gurih itu semula menimbulkan efek bahagia. Aku memang melihat semua orang tampak menikmatinya. Ada yang megap-megap tapi ketagihan, ada yang memang benar-benar menghindari karena warna kuahnya dominan merah, ada yang malah jadi tambah sehat habis kepedasan meski muka merah dan air mata bercucuran, mirip ekspresiku. Bahkan ada yang memakannya seperti ngemil kacang goreng sambil nonton bola.

Namun, lapar dan perasaan tidak enak menolak hidangan sang koki yang ahli masak tongseng kambing ini adalah perpaduan cocok untuk membuatku tetap makan kemarin hari. Pada detik-detik awal, sedikit masih bisa menikmati sensasi rasa gurih yang pas di dalam masakannya, lama kelamaaan tak sadar secara insting, aku berusaha menghabiskan makanan cepat-cepat tanpa mampu bersuara sepatah kata pun. Begitu melihat air putih, rasanya ingin menenggak seluruh isinya dalam hitungan detik. Berharap pedas itu segera hilang dan kembali pada efek makanan sedapnya. Sampai di rumah cepat-cepat aku menelan semua makanan penetral dan berhenti berpikir yang tidak-tidak. Memang banyak orang di luar sana merasa lebih nyaman dan lebih bugar setelah megap-megap, tapi rupanya aku tak punya respons naluriah bersifat positif semacam itu.

Rasanya untuk beberapa hari ke depan, aku perlu menghindari hal-hal yang pedas. Selain rasa terbakar di leher dan sekitar perut, efek psikologisnya pun bakal tidak sebentar. Untuk soal makanan pedas, yang mewakili keberagaman manusia itu, aku nggak mau lagi bertoleransi. Demi apa pun untuk saat ini.

Postinganku kali ini memang lebih banyak tentang rasa pedas cabai. Berbicara soal rasa pedas, mungkin demikian cara manusia menjalani hidupnya: sekalipun menyakitkan, tapi toh tetap menikmatinya juga sebagai hidangan rutin.:)

Bagaimana pun pengalaman kepedasan adalah pengalaman yang berharga untuk dilewatkan.

Liebster Award

 liebster award

Sudah lama tidak nge-blog. Begitu ingin posting sesuatu, aku jadi ingat bahwa aku baru saja dapat Liebster Award, yang konon populer di kalangan blogger. Untuk itulah aku berterima kasih kepada Mpok Tanti yang memberikannya beberapa waktu lalu. Maaf kalau baru merespons sekarang karena faktor ke”ribet”an yang terjadi akhir-akhir ini. (Btw, Mpok, logo Liebster-nya aku pilih itu aja ya ;))

Barangkali belum banyak blogger yang tahu tentang Liebster Award. Aku juga baru saja tahu ketika dapat award ini. Sebelumnya secara selintas, award ini kubaca Lobster Award, haha. Ternyata bukan. Baiklah, aku jelaskan sedikit. Liebster Award adalah semacam penghargaan berantai yang diberikan antarblog. Tentu, tidak mudah menerima award ini tanpa ada beberapa hal yang mesti dikerjakan terlebih dahulu.

Dari arti secara harfiahnya sendiri,  Liebester berarti yang terkasih, tersayang, (dan semacamnya…) Award ini berasal dari negara asal bahasanya, Jerman, dan bertujuan untuk saling bersilaturahmi dan memperkenalkan blog lain. Nah, anggap saja award in untuk memberikan penghargaan kepada mereka yang telah menyumbangkan apresiasinya melalui tulisan-tulisannya di blog. Sekaligus memberikan tantangan kecil. Award ini mesti diestafetkan lagi dengan sistematika sebagai berikut.

  1. Post perihal award ini ke blog kamu.
  2. Sampaikan terima kasih kepada blogger yang mengenalkan award ini dan link back ke blognya.
  3. Share 11 hal tentang diri kamu.
  4. Jawab 11 pertanyaan yang diberikan kepada kamu.
  5. Pilih 11 blogger lainnya dan berikan mereka 11 pertanyaan yang kamu inginkan. (Karena belum tentu mereka menegok blogmu setiap saat, maka perlu deh memberitahukannya langsung. Misal di kolom komentar postingan terbaru kandidatmu)

Baiklah.., dalam kesempatan ini, aku memulai prosedur penerimaan award ini dengan narsis dulu.

11 hal tentang diriku.

1. Perempuan, asli Indonesia.  Lahir di Jogja, tinggal di Jogja, nyelesein pendidikan di Jogja, dan kerja di Jogja sampai detik ini. Kalau ditanya apakah cita-cita sejatimu? Backpakeran keliling dunia asal nggak di Jogja.

2. Anak pertama dari 3 bersaudara. Karena anak pertama, kepribadian pun jadi ganda. Kadang diktator, kadang ngalahan banget.

3. Suka jalan-jalan di alam, apalagi yang masih sepi.

3. Nggak bisa kreatif di tempat rapi, nggak bisa santai di tempat ramai, dan selalu hanya bisa betah ngobrol lama-lama dengan temen yang itu itu saja. Nggak punya bakat mbribik.

4. Pecinta kopi, buku, kesunyian, hutan, hujan, dan senja. 🙂

5. Lebih suka jadi “penonton”, maksudku, lebih betah ngamatin dan nyimak hal-hal di sekitar, tapi…. nggak mau kepergok kalau lagi merhatiin:p

6. Cinta damai dan kesetaraan. Nggak suka kekerasan dan kekasaran.

7. Suka sibuk dan bisa gila kalau nggak ada kegiatan.

8. Risih lihat orang buang sampah sembarangan, terutama di sungai, laut, dan jalan raya.

9. Punya masalah serius soal ketidakstabilan mood, dan sekarang sedang proses terapi :))

10. Mimpi punya kerjaan sesuai passion, semacam nulis, baca, foto-foto objek alam, berkenalan sama penduduk pedalaman, jelajah kota-kota tua, naik gunung, nyelem liat keindahan bawah laut, dan jalan-jalan nerobos hutan.

11. Enggan berpapasan dengan salah satu serangga bernama kec***

Nah, berikut 11 pertanyaan yang harus kujawab yang diajukan oleh pemberi award ini

1. Paling sering posting tentang apa di blog?

Selama ini postingan nggak jelas. Baru berusaha move on mau nulis hal-hal lebih berguna. :d

2. Ada rekomendasi blog yang bagus, lucu, menghibur, tapi tetap berkelas nggak? 😀

Ada. Kunjungin aja blog-blog yang aku follow (promosi) ^^v

3. Kalau tulisanmu diplagiat/dikopi paste orang, apa reaksimu? Sedih, marah, atau justru bangga karena itu berarti tulisanmu bagus?

Nanya sambil curhat ya Mpok? hihi… Kalau aku ketiga-tiganya, dengan waktu yang tidak bersamaan.

4. Biasanya tertarik beli buku karena sampulnya yang keren, judulnya yang menarik, atau setelah baca back cover-nya yang kece?

Penulisnya, penerbitnya, lalu halaman pertama dan tengah secara acak. Kalau enak dibaca, langsung beli deh.

5. Pernah tertarik beli buku cuma gara-gara penasaran karena buku itu best seller?

Pernah. Habis itu jadi dapet pelajaran penting. Jangan lihat buku dari label best seller-nya aja.

6. Kalau nemu buku yang mengecewakan, biasanya yang bakal kamu “omelin” penulis, editor, penerbit, atau justru distributornya? Hahaha

Semua, kecuali editor dong, hahaha…

7. Apa target terbesar tahun ini? Sekadar sharing saja, supaya saya bisa ikut mengamini.

Pengin punya anak :’|

8. Untuk urusan karier, lebih memilih pekerjaan yang mencukupi secara finansial atau yang prestisius?

Dua-duanya boleh, dan yang paling penting sesuai passion.

9. Kalau boleh memilih, mana yang menurutmu paling baik untuk hidupmu, Mendung, Matahari, atau Angin? Beri alasannya

Contoh: Mendung baik untuk hidupku, sebab walau dingin, kedatangannya membawa hujan yang menyejukkan. 🙂

Ketiganya penting. Mendung, berarti aku aman dari risiko (tambah) gosong. Matahari berarti jemuranku yang selamat. Angin, kalau naik kendaraan atau lagi di mana pun lebih milih kena angin ketimbang menghirup asap knalpot ataupun rokok. Di antara ketiga itu, aku memang lebih nyaman dengan angin. Angin bisa kuajak main layang-layang, juga bisa jadi temen ngobrol soal banyak hal.

10. Kalau ketemu jinnya Aladin, tiga pertanyaan apa yang akan kamu minta?

Berapa jumlah planet dan bintang di jagad raya ini?

Pengin tahu apakah awan berbentuk kapas atau es batu

Apakah kelak bakal ada benda bernama mesin waktu? Kalau ada aku mau nabung dari sekarang biar bisa beli.

11. Ada yang tahu nggak maksudnya “Minuman Wilayahku” dan “Cokelat Rihana” itu apaan? Ini pertanyaan titipan dari saudara yang sedang OSPEK, hahaha 😀

Kalau menurutku, minuman wilayahku semacam minuman mineral yang dibawa sendiri dari rumah. Cokelat raihana. Silver Queen. Silver warna perak. Queen ratu. Ratu yang selalu pakai pakaian perak-perak, haha *maksa.

11 pertanyaan dariku yang mesti dijawab:

1. Kenapa kamu menulis?

2. Siapa penulis favoritmu?

3. Apa pekerjaan impianmu?

4. Musik/lagu apa yang saat ini menginspirasi hidupmu?

5. Kapan terakhir kamu membaca buku?

6. Kalau kamu bakal nulis buku, kalimat pertama apa yang bakal kamu tulis?

7. Apa saja 5 hal yang selalu ada di sekitar kamu?

8. Apa manfaat blog bagi kamu?

9. Buku apa yang paling kamu rekomendasikan untukku?

10. Kalau kamu berkesempatan travelling tahun ini, di mana tempat yang ingin kamu tuju?

11. Apa agenda terpentingmu tahun depan?

Pertanyaan ini ditujukan kepada beberapa dari temen-temen blogger yang mem-follow blogku:

1. http://poetriedee.blogspot.com/

2. http://imaz95.wordpress.com/

3. http://najib4848.wordpress.com/

4. http://elviamawarni.wordpress.com/

5. http://pengejakata.wordpress.com/

6. http://ayumiezhienfhat.wordpress.com/page/3/

7. http://shiningrinna.wordpress.com/

8. http://kazokuai11.wordpress.com/

9. http://nunnalita.wordpress.com/

10. http://jagadnatta.wordpress.com/

11. http://maulidini.wordpress.com/

Ditunggu tanggapannya ya…. Maaf karena hanya dibatasi maksimal  11 dan tidak bisa semua, jadi semoga lain waktu dapat berkesempatan berestafet ria lagi 😉

Salam kenal bagi yang belum kenal dan “hai,” buat yang sudah kenal:)

You are The Apple of My Eye

Hampir tengah malam dan film lama ini pun selesai kutonton. Film Taiwan berjudul You are the Apple of My Eye ini sebetulnya sudah mulai kutonton tahun kemarin hanya sampai menit-menit awal saja. Film ini diangkat dari novel dan kisah nyata, bercerita tenag persahabatan dan cinta dan sudut pandang yang tidak biasa, dengan fokus utama tokoh Ko Ching Teng yang dibintangi Ko Chen Tung dan Shen Chia Yi yang diperankan oleh Michelle Chen. Ko Ching Teng adalah murid pemalas dan bandel yang suka berolahraga. Ia selalu menganggap bahwa menjadi lelaki adalah gabungan antara kepribadian keras dan bisa berkelahi. Ia bahkan berangan-angan jadi Bruce lee. Sedangkan Shen Chia Yi adalah kutu buku berprestasi yang perfectionist, sejak remaja ia sudah berpikir ala orang dewasa. Kekonyolan yang terjadi di kelas mereka membuat Ko Ching Teng harus duduk di depan bangku Shen Chia Yi supaya terawasi. Kisah itu pun dimulai di sana. Interaksi dua karakter yang berbeda itu pun memunculkan adegan-adegan kocak dan kadang manis. Meski saling sebal, dan interaksi itu pun membuat mereka menjadi dekat. Ko Ching Teng sempat mengorbankan dirinya dihukum oleh guru killernya demi melindungi Shen Chia Yi yang saat itu tidak membawa buku. Kemudian, Shen Chia Yi pun mengungkapkan rasa terima kasihnya dengan membuat Ko Ching Teng mau belajar, hal yang paling membisankan bagi Ko Ching Teng. Belum lagi adegan konyol teman-teman Ko Ching Teng yang juga semuanya menyukai Shen Chia Yi dan memiliki cara sendiri-sendiri untuk mendekati.

Film ini tidak melulu soal cinta, tetapi juga tentang persahabatan. Mereka melewati masa-masa sulit bersama di kelas, dari menjalani hukuman bersama hingga kelulusan. Bahkan sempat saling bertukar cita-cita masing-masing ketika berpiknik bersama di pantai.

Tokoh Shen Chia Yi yang menyukai Ko Ching Teng diam-diam begitu juga cara Ko Ching Teng mendekati membuat saya gemas. Cerita berlangsung hingga mereka terpisah usai lulus SMA dan melanjutkan hidup masing-masing sesuai yang diimpikan. Shen Chia Yi dan Ko Ching Teng sempat kencan berdua, di mana saya merasa mereka bakal jadian saat itu juga. Tapi Ko Ching Teng terlalu takut bila Shen Chia Yi menolaknya, sehingga ia tak mau mendengar jawabannya yang padahal, mau bilang “iya”. Perhatian Ko Ching Teng terhadap Shen Chia Yi masih berlanjut. Ia rela mengantre berjam-jam di asramanya untuk menelepon SCY. Tapi lagi-lagi, muncul konfik. Suatu ketika Ko Ching Teng ingin menyenangkan Shen Chia Yi dengan mengadakan pertandingan yang memang mirip duel bebas melawan teman kampusnya. Tujuan utamanya untuk menunjukkan sisi kelelakiannya kepada Shen Chia Yi. Tetapi Shen Chia Yi justru kecewa dengan sikap Ko Ching Teng yang konyol karena menyakiti diri sendiri dengan berkelahi tanpa alasan bermutu. Mereka pun berpisah.

Adegan langsung melompat pada ekspresi teman-teman Ko Ching Teng yang tampak bahagia mendengar kabar perpisahan itu. Sampai di sini, hubungan mereka terlihat sulit dan memang sudah mentok. Meski demikian, cerita tetap berlanjut hingga menjelang kelulusan.

Rupanya, meski terpisah jarak dan waktu, mereka berdua masih saling mengenang. Bahkan ketika terjadi gempa besar di Taiwan, Ko Ching Teng masih berusaha menghubungi Shen Chia Yi, saat itu alat komunikasi HP sudah mulai ada. Chemistry itu masih terlihat ketika mereka akhirnya saling terhubung dan mengenang masa lalu. Paling bikin bengong ketika adegan sampai pada pernikahan Shen Chia Yi dan potongan flashback yang akhirnya jadi mengaduk-aduk kembali perasaan. Usai nonton, saya jadi ngerasa agak sesak napas. :)) Sisi kerennya, adegan di film ini seperti mengalir biasa saja dan natural. Nggak ada usur alay.

Kepiawaian Giddens Ko, penulis novel sekaligus sutradara dalam mengkonsep cerita dengan begitu menarik dan mampu membuat penontonnya menikmati alur cerita sekaligus dapat bernostalgia dengan masa sekolah mereka di tahun 1994 an. Dibumbui adegan yang kocak dan romantis, membuatnya tak sekadar menjadi film drama ala remaja yang membosankan. Tidak hanya penggarapan secara psikologis yang mampu mengiras emosi, tetapi juga detail dan lakon yang dibawakan pemainnya cukup sukses. Penonton bebas memberi penilaian terhadap setiap lakon atau jalan cerita. Artinya, penontonlah yang akan menilai sendiri, menunggu endingnya, mengira-ngira apa yang akan terjadi. Terlebih penuh dengan dialog yang dan narasi yang dapat diambil pelajaran, membuat film ini cukup berhasil bagi saya. Di samping alur ceritanya yang sering kali “nyelek” dan menggemaskan, karekter tokoh-tokohnya pun terbangun dengan kuat. Ya meskipun sih ada beberapa adegan konyol yang agak membongkar aib laki-laki, wkwkwk.

Barangkali kisah tragis dua orang sebaya yang saling suka sejak masa sekolah bukan hal yang jarang dialami kebanyakan dari kita. Meskipun sad ending (terutama bagi tokoh Ko Ching Teng), kemasan kocak yang masih terselip di sana membuat saya antara ingin nangis atau tertawa. Terlebih soundtrack-soundtrack-nya yang bikin suasana jadi tambah nyelek. Film ini  nggak serta merta hanya bikin nangis dan galau, tapi jadi merenungi banyak hal. Saya pun jadi mendapat semacam pesan moral, bahwa barangkali perasan yang tebaik adalah perasaan yang membaut pelaku-pelakunya jadi tegar dan bahagia menjalani hidup.

Setelah sekian lama menghindari film-film drama, yeah, menonton film yang ini cukup berhasil membuat saya linglung. Baiklah.

Ada quote yang akhirnya paling saya suka di film itu.

Ko Ching-Teng : “Ketika kamu sangat-sangat menyukai seorang wanita, ketika ada seseorang yang mengasihinya dan mencintainya, maka kamu akan benar-benar dari hati yang paling dalam mendoakan dia agar bahagia selamanya.”

Dan tentu saja saya nggak melewatkan quote-quote lain yang bertebaran melalui dialog-dialog tokonya, seperti:

Shen Chia-Yi : “Bodoh”
Ko Ching-Teng : “Memang benar! Aku memang bodoh”
Shen Chia-Yi : “Tolol!”
Ko Ching-Teng : “Iya. Hanya orang tolol yang bisa mengejarmu selama itu!”
Shen Chia-Yi : “Kamu tidak mengerti apa-apa!”
Ko Ching-Teng : “Aku memang tidak mengerti apa-apa!”

Shen Chia-Yi: “Aku sering mendengar orang berkata bahwa dalam percintaan, masa paling romantis adalah masa-masa pendekatan. Pada saat sudah benar-benar jadian, banyak perasaan yang akan hilang sirna. Jadi aku berpikir, lebih baik aku membiarkanmu mengejarku lebih lama. Daripada saat sudah benar-benar jadian tidak lagi romantis, kalau begitu kan aku yang rugi.”

“Dalam pertumbuhan menuju dewasa, hal yang paling kejam adalah perempuan selalu lebih dewasa dari laki-laki seumuranya. Kedewasaan seorang perempuan, tak ada satu pun laki-laki yang mampu menampungnya.”

“Nilai bagus lalu bisa memandang rendah orang lain? Teruskan saja kalau begitu, aku nggak peduli.”

“Yang aku pandang rendah bukan orang yang nilainya jelek. Yang aku pandang rendah adalah orang yang tidak mau belajar giat tetapi memandang rendah orang yang giat belajar.”

Sebetulnya, apalah hebatnya bisa mengerjakan ini? Aku berani bertaruh, 10 tahun lagi walaupun aku tidak tahu apa itu ‘Log’, aku masih bisa hidup baik-baik. | Emmm… | Kamu tidak percaya? | Percaya kok | Percaya lalu kenapa masih belajar giat? | Dalam kehidupan, manusia memang banyak usaha yang tidak membuahkan hasil. Seperti kamu yang berkelakuan kekanak-kanakan seperti ini, terhadap kehidupanmu tidak aka ada gunanya.”

“Jadi, orang yang bisa mewujudkan impian bukanlah selalu orang yang pintar, melainkan orang tidak pernah menyerah.”

“Karena pernah kamu sukai, aku jadi sulit untuk merasa orang lain benar-benar menyukaiku.”

Ko Ching-Teng : “Tidak seperti tes, setiap soal yang rumit pasti ada jawabannya.”

Ko Ching-Teng : “Dalam kehidupan nyata, ada beberapa hal yang selamanya tidak ada jawabannya.”

Terima kasih karena telah menyukaiku | Aku juga suka… pada diriku yang menyukaimu saat itu….

 

So, selamat menonton, film ini recommended untuk usia dewasa muda 😉

 

Berikut trailer-nya

Nasi Goreng Bumbu Rendang

Untuk soal makanan, saya dan suami sebenarnya punya selera sendiri-sendiri. Meski orang Jawa, suami cenderung suka asin dan banyak bumbu rempahnya, bahkan menghindari rasa manis. Sedangkan saya makan apa pun bisa asal sedang lapar. :p
Tapi memang benar sih, pria biasanya lebih suka masakan rumah. Sayang, kegiatan saya yang jarang di rumah dan juga jarang ketemu suami, membuat saya juga jarang sekali turun ke dapur. Apalagi kegiatan masak bagi saya perlu, waktu luang, niat, dan juga semangat (ribet sekali bukan?). Kalau lagi capek dan banyak pekerjaan, kegiatan ini bisa agak dihindari dalam kehidupan sehari-hari.

Namun, mumpung sempat, malam ini akhirnya saya membuat nasi goreng bumbu rendang hasil eksperimen dan juga menjadi salah satu menu kesukaan suami.

Bahan-bahannya yang dibutuhkan adalah:
1.  nasi (untuk ukuran 2 orang)
2.  bumbu rendang bubuk (2 sendok makan)

Bumbu rendang bubuk itu sendiri konon terdiri dari berbagai rempah, seperti: ketumbar, bunga lawang, lada, kapulaga, jinten, kayu manis, krangean, mesoyi, pala, adas manis dan klabet.

3.  4 siung bawang putih, dicincang halus
4.  2 siung bawang merah, diiris tipis/dicincang
5.  1/2 butir bawang bombai (tergantung seberapa gede si bawang itu tadi), diiris dengan lebar 5 mm (wkwkwkw)
6.  1/2 sdt lada hitam bubuk
7.  1 sdt garam
8.  1/2 sdt tumbar bubuk (sifatnya sesuai selera, karena di dalam bumbu rendang sebenarnya udah termasuk)
9.  2 butir telur
7.  2 sdm margarin
8.  air kira2 3 sendok makan

Cara membuatnya:

1. Bikin telur dadar dulu. Pertama panaskan 1 sdm margarin di atas wajan
2. Kocok telur yang sudah dicampur garam dan merica/lada hitam bubuk secukupnya kemudian digoreng sampai matang
3. Tiriskan, habis itu dipotong dadu dan disisihkan dulu
4. Panaskan lagi 1 sdm margarin dalam api sedang
5. Masukkan bumbu-bumbu tadi tanpa terkecuali ke dalam margarin yang sudah panas sampai setengah matang. Jangan lupa tambahkan 3 sendok makan air supaya tidak menggumpal
6. Bila sudah, masukkan nasi lalu campur sampai merata, pokoke sampe matang (kalau istilah jawanya “tanak”)
7. Angkat, taburi dengan telur yang dipotong dadu tadi
8. Nasi goreng bumbu rendang pun siap disantap 😉

Oh iya, kenapa nasi goreng ini tidak pakai cabai? Sebab rasa pedasnya sudah diambil dari bumbu rendang dan merica hitam. Pedas yang dihasilkan lada (merica) sama-sama menghangatkan badan kok. Bila masih kurang pedas, menggunakan cabai pun boleh.

Demikian resep masakan hari ini. Silakan bila mau mencoba 😉

DSCN3074

pojok lamunan

Hei, sudah berapa jam aku melamun? Sejak sebelum tarawih sendirian di kamar, hingga tarawihnya usai pun lamunan pun dilanjut. Rasanya hari ini kata-kata yang keluar dari mulutku bisa dihitung dengan jari. Di samping memang karakterku cenderung begitu, di samping terpengaruh juga lingkungan kantorku yang orang-orangnya pendiam, kurasa, aku sedang kehabisan alasan untuk berbicara hari ini. Tapi dengan begitu sih aku jadi lebih banyak menulis dalam diam. Aku menyukai kesunyianku. Aku suka diam seperti ini karena selalu lebih baik daripada berbicara. Belum tentu juga ada yang mau mendengar.
Aku sudah meminum secangkir kopi sekalipun aku tak sempat makan. Aku sudah mendengar musik berjam-jam sejak tadi pagi, entah sudah berapa ratus kali. Beberapa musik yang sama kuputar berulang-ulang. Aku juga sudah membaca bebarapa lembar buku dan belum selesai, tapi rupanya hingga saat ini aku tak beranjak dari lamunan. Oh iya, aku juga tak menemukan HP-ku sedari tadi, entah hilang di jalan atau tertinggal di kantor. Tapi peduli amat. Toh jarang berbunyi. Aku cenderung tipe yang tak bisa memegang benda elektronik berlama-lama, terlebih tidak banyak berfungsi. Rasanya aku sedang gemar berdiam diri dan duduk sambil ngetik-ngetik di tempat tidurku sendiri.
Tentu saja, diam bukan berarti berhenti. Tak lama, aku iseng baca-baca beberapa blog sebelah. Beberapa kucomot dan kusimpan di folder khusus untuk kukirim ke teman-temanku bila mereka sedang galau barangkali. Beberapa ingin kutulis sebagai kuis main-main. Seperti yang kudapatkan dari salah satu postingan blog An Mansyur, rasanya aku ingin mencoba menjawabnya dengan font tebal:

1. Apakah kau lebih mencintai seseorang menggunakan dada, jari-jari, atau kepala?      Kepala

2. Berapa waktu yang kamu butuhkan dalam sehari untuk masing- masing aktivitas berikut ini?
a) duduk di dekat jendela bersama segelas teh atau kopi memikirkan diri sendiri:   2 jam
b) menatap langit-langit kamarmu sebelum tertidur:   setengah jam
c) tidur dan menggeliat di atas kasur:   5 jam
d) telanjang di kamar mandi:   5 menit

3. Kamu lebih suka meninggalkan dan menanggalkan atau ditinggalkan dan ditanggalkan?   Yang kedua

4. Kau memaafkan seseorang untuk kepentingan siapa?  Orang yang saya maafkan dan diri saya sendiri tentu

5. Kata apa yang paling sering kau sebutkan ketika sedang bersedih?  Tuhan dan kematian

6. Siapa pengarang dan sutradara favoritmu?     Pengarang aja ya… Pramoedya AT

7. Apakah kau lebih senang menyanyi, menari, atau diam pada saat gembira?   Diam

8. Berapa lama waktu yang kau butuhkan untuk melepaskan rindumu kepada orang yang tidak mungkin kembali? Bisa      seumur  hidup, haha, bingung sama pertanyaannya…

9. Apakah kau guci mahal yang takut pecah atau telur yang selalu berharap dipecahkan?   Kedua

10. Bisakah kau menjelaskan rasa kesedihan sebagaimana kau menjelaskan rasa makanan favoritmu?  Nyaris nggak bisa

11. Jika aku memintamu jujur mengatakan sesuatu yang paling buruk perihal aku, apa yang ingin kau katakan——-

12. Apakah kau ingin menjadi hantu atau orang yang dihantui?     Hantu

13. Jika kau seorang karakter fiksi, siapa dirimu?  Mary Jane (pacar Spiderman) dan Alina, tokoh cerpennya Seno Gumira Adjidarmo, padahal nggak banyak penjelasan karakter ya di cerpen itu, haha

14. Kau lebih menyukai kedalaman laut atau ketinggian langit?   Ketinggian langit dong

15. Berlari atau berjalan? Diminta atau dicuri? Di kening atau di punggung tangan?  Berjalan; Dicuri; di Kening.. eh ini yang terakhir itu maksudunya mengarah ke pertanyaan apa ya?

 

Salam dari Embun

Hal membahagiakan hari ini adalah ketika embun membangunkan tidurku dan mengajakku berbicara dalam hening.

“Kamu masih mengantuk?”
“Pekerjaanmu kemarin hari cukup menguras tenaga kan? Kelihatan dari kantung matamu yang tebal.”
“Bagaimana perasanmu hari ini?”
“Aku tahu kamu bahagia tatkala sibuk bekerja.”
“Berangkatlah kerja dan hati-hati di jalan, sebab sepertinya kami sepakat untuk tak mengguyurmu dengan hujan.”
“Semoga akhir pekanmu membahagiakan ya, jangan takut berharap demikian. Kamu harus mulai belajar berpikir positif.”

-Salam dari embun pagi harimu

 

Reuni Orang-Orang Asing

Sepertinya saya memang mengalami dua reuni yang agak menggelikan belakangan ini. Kemarin dan hari ini. Saya memang suka bertemu teman-teman dalam sebuah forum, apalagi kalau tidak lama-lama. Hanya sedikit menangkap kejanggalan di reuni semalam. Bayangkan engkau sebagai wanita yang belum menikah, berada di antara teman-teman lama sesama wanita yang semuanya telah berkeluarga dan punya beberapa anak. Kira-kira apakah obrolan yang banyak terjadi?

Kedua, rupanya reuni baru akan terasa aneh kalau dikemas dalam tema yang formal. Ada satu sesi di mana para alumni dari berbagai angkatan menyebutkan pekerjaaan-pekerjaan mereka usai lulus dengan bergiliran. Hasilnya sudah diduga. Hampir semua nggak bekerja di bidang sastra dan yang berhubungan dengan itu. Menurut saya sudah hal yang wajar di Indonesia, alumnus sarjana bekerja di bidang yang tidak nyambung dengan ilmu yang dipelajarinya 4-5 tahun.

Saya guru Matematika, sejak semester 8, kujawab demikian dengan ekspresi biasa saja. Juga jujur menyatakan kalau hal menyenangkan selama kuliah adalah karena angkatan saya cuma 3 orang, dan saya suka belajar di suasana yang tidak terlalu ramai. Rasanya ingin menyampaikan bahwa, pekerjaan fulltime saya cuma membaca dan menyepi, apa pun itu yang lain pekerjaan parttime, terima kasih. Dan acara semacam ini sungguh kurang bermutu. Lalu sesi lain, para dosen banyak membahas mereka yang pernah dapat besiswa atau ke luar negeri. Juga dosen lain pun bercerita pengalamannya di luar negeri. Sebagai semacam ‘patokan’. Baru sadar kalau peserta dari sastra Indonesia cuma saya seorang.

Jadi inget kata kakak angkatan yang terbiasa ngomong ceplas-ceplos tapi kadang bener: “mepelajri sastra memiliki visi misi mengubah keadaan di masyarakat. Lebih luas lagi dunia. Kalau sastra inggris nggak mempelajari karya sastra secara mendalam, malah banyak tata bahasa dan manfaatnya di bidang pekerjaan, sama saja kayak les bahasa Inggris di elti dong. Banyak toh yang akhirnya kerja di bank atau perhotelan?”
Tapi itu dulu, waktu sastra Inggris dan Indonesia, masih saling sindir dalam forum-forum tertentu. Sekarang, kedua jurusan itu tampak saling membutuhkan dan bergantung.

Sebaliknya, prodiku sendiri juga masih kacau bin tidak jelas. Sampai tahun ini bahkan masih mencari identitas, dan sampai 3 kali, saya, yang termasuk alumni, bahkan dimintai ide mata kuliah tambahan yang bermanfaat untuk profesi mahasiswa ke depannya.”
Semakin ngawur lagi. Ide-ide keren yang dulu bermunculan dikemanakan?
Memang bakal disetujui apa kalau saya usulkan yang aneh-aneh, seperti Matkul Kesetaraan Gender dan Feminisme misalnya? Perasaan dulu mahasiswa yang bertampang sosialis dan mempelajari buku-buku kiri dicap komunis juga deh. Usulan skripsinya pun alot dan njulik. Tapi menarik juga, usaha tetep penting bukan? Saya bakal usulkan hal-hal yang memang dibutuhkan di zaman edan semacam sekarang.

Kembali ke masalah acara.

Tahu bakal ditodong mic, aku hanya bolak-balik ke arah meja snack, ambil kopi, ambil camilan, dan lain-lain sebelum disodori benda tersebut untuk berbicara. Kami semua berbicara satu-satu brgiliran menceritakan (memamerkan) kesibukan sekarang. Kerja freelance dan wiraswasta masih dianggap pengangguran di negeri ini, saya sadar itu. Dan akhirnya di depan umum seperti itu, tentu saja aku hanya bicara sedikit dan secukupnya saja. Selain malas ngomong, memang sudah lama sekali tidak terbiasa di depan publik, sejak tidak lagi akif di organisasi dan sejak pekerjaan editor membuat saya jadi semaikin introvert. Sejujurnya, selain pohon tebu dan pria bertampang ganteng, suasana formal seperti itu juga salah satu hal yang membuat saya agak elergi dan pengin cepet menjauh.

Maklum kalau akhirnya banyak yang tidak jadi datang karena alasan malu dan nggak nyaman dengan acara formal. Dan selanjutnya, aku menyadari, orang-orang terbaik yang mestinya dapat menghidupkan hal yang “sastra” di kampus, lama kelamaan menjadi terpecah sendiri-sendiri dan hilang. Kukira acaranya bakal seperti pesta kebun sambil bakar jagung dan ngobrol bebas seperti tadi malam.

Tiba-tiba jadi bertanya-tanya, apakah reuni ini memang untuk reuni itu sendiri?
Atau apakah ada hubungannya dengan unsur marketing dan peningkatan akreditasi kampus?
Apakah ada gunannya perkumpulan reuni diadakan setiap dua tahun? Bukannya malah efektif kalau 10 tahun sekali?

Omong-omong, memang kesuksesan seseorang dapat dinilai dari kantor tempat ia bekerja atau apakah ia pernah keluar negeri?

Yeah, kuakui, ada sebagian dari masyarakat kita yang merasa menemukan perasaan pulang dan bahagia ketika telah berada di negeri-negeri yang jauh di sana. Ada juga yang demi sesuatu yang lebih penting di tanah airnya, mereka bersedia berlama-lama menahan ketidakbetahan. Dan kita juga tahu, ada juga manusia yang sudah merasa bahagia dan sukses ketika dia terbebas dari tanggung jawab pekerjaan apa pun. Ada juga yang bahagia bila ia bekerja lebih dari 20 jam per hari meskipun gajinya sama seperti pegawai bank yang masih training. Ukuran sukses dan bahagia tentu bermacam-macam. Orang juga berkarakter macam-macam. Bagaimana fakultas sastra bisa kurang menjangkau hal-hal yang mestinya “sastra”?

Tapi, hei, apakah itu arti sukses yang sebenarnya?
entahlah..
Sebab tatkala aku mengatakan pada seorang teman yang baru pulang menjelesaikan tugasnya di luar negeri, “Kamu beruntung kesampaian jalan-jalan ke luar negeri, Jenk. Aku baru mimpi aja sudah harus ingat kalau itu mustahil. Kenapa nggak lanjutin kontrak kalau di sana memang banyak tawaran?”
Mukanya malah berubah sendu, dan ia mengatakan, “Aku pulang dan memutuskan tidak melanjutkan kontrak karena pengen menikah, Jenk… tapi calon belum ada, padahal usiaku sudah nggak muda, selain itu aku khawatir dengan ibuku yang sudah sepuh dan belum melihatku menikah.” Dan intinya dia belum merasa sukses. Atau barangkali setiap kesuksesan yang dicapai orang-orang belum tentu merupakan kesuksesan sempurna seperti kelihatannya?

Hari ini aku pulang mengajar dengan resah. Jalan-jalan macet. Sedari siang parade kampanye semakin brutal bentuknya. Cuaca gerah. Dan saya, baru sadar kalau sekarang lagi musim liburan. Pantes.

Reuni Miss-Miss

 

 

Bertahun-tahun sudah tak berjumpa. Dulu kala ketika kita masih bekerja bareng di kantor yang sama, aku masih mahasiswi yang ‘terserah mauku’ dan terobesesi hal-hal baru, sementara kalian telah beranjak dewasa dan ingin menjadi ibu, yang merindukan segala hal mapan pada tempatnya. Kala itu aku tak memahami jalan pikiran kalian, dan bertanya apakah tatkala menjadi dewasa, perempuan akan begitu mengesampingkan dirinya sendiri? Menjadi sedemikian ‘wanita’? Sebaliknya, barangkali waktu itu, kalian juga hanya sekadar memaklumiku, “ah, masih muda.”
Demikianlah masa lalu, betapa lucunya bila ia kembali diulang.
Malam ini, di sebuah ruangan yang pintunya diberi palang “Reuni Mathemagics” periode 3, aku di tangah kalian semua–belum menikah dan suka bermimpi. Tapi rupanya memang banyak yang berubah. Di antara kita, anak-anak kecil berkeliaran: naik ke kursi, berlarian di bawah meja, mengelilingi kolam ikan, menerbangkan sedotan, membuat meletus balon-balon—-betapa lucu anak-anak itu dan betapa gesitnya kalian mengejar-ngejar mereka (kupikir miss-miss ini sempat membelah diri demi mengawasi mereka)

Dan perasaan sedari tadi, cuma aku yang begitu tenang dan hanya makan.

 

 

 

Pernikahan dan Kampanye Ala Ibu-ibu

Benar kata sebuah pepatah (agak lupa di mana menemukan) : Topik pembicaraan yang sering dihindari, justru semakin sering ditemui. 

Hari itu bukan hanya isu kampanye parpol yang saya temui, tapi juga topik yang satu ini. Seorang teman lama bersemangat mengampanyekan salah satu institusi sosial terkenal yang menjadi langganan orang Indonesia yang masih normal: pernikahan. Kami sudah lama tak bertemu, dan kami ngobrol banyak hal perihal dunia wanita. Ia telah menikah. Dan keputusan mereka menikah justru setelah pacaran selama seminggu. Jalan ceritanya pun konyol dan lucu.

Mengejutkan kan.

Demikian ringkasan yang berhasil saya catat.

Pembicaraan ini berawal dari opini saya bahwa menikah dan pacaran, adalah dua hal yang berbeda. Dari substansi komitmen hingga perpisahannya pastilah semua orang tahu, lebih ribet bila itu di dalam ranah pernikahan. Kalau pacaran administrasinya gampang, tinggal “bye bye...” maka perceraian pun sah.

“Kalau menurutku ya pacaran lama itu rugi waktu, tenaga, pikiran, dan keimanan…” Teman saya ini mulai presentasi.
Keimanan? Wow.. saya memang pernah jadi atheis gara-gara pacaran: Apakah jodoh kekasih itu ada? dan apakah Tuhan itu ada? Ah, sudahlah.

Kami baru saja menonton acara infotainment di televisi, acara yang sebetulnya membuat saya elergi.
“Mbak emang ingin menikah waktu pacaran itu?” saya iseng tanya.
“Ya,” jawabnya sambil menerawang jauh. Wajahnya berseri. Begitulah wajah orang-orang yang lagi mengingat sejarah percintaan.
“Dan nggak takut kalau ketemu pasangan yang salah?” saya masih penasaran.
“Setiap manusia adalah makhluk yang salah. Nggak ada yang sempurna,” demikian si Mbak menjelaskan. “Bodoh banget kalau anggap pacaran adalah jalan untuk saling mengenal pasangan.”
Saya merasa tertampar. Oh, idelisme…

“Kalau mau mengenal pasangan yang menikah resmi, seumur hidup aja orang nggak akan bisa mengenali pasangan resmi sepenuhnya, bagaimana yang cuma pacaran? Tapi banyak sih, muda-mudi yang milih pacaran cuma buat seneng-seneng aja. Lucunya mereka karena gak serumah, maka satu sama lain hanya melihat tampilan baik. Begitu menikah, jedueeer, nggak bisa menerima kebiasaan buruk original si pasangan.”

“Iya sih. Itu masuk akal.”

“Makanya, ada beberapa agama yang tidak menganjurkan pacaran karena dirasa memang kurang menghargai hak asasi pasangan. Pertama, pacaran menutup kesempatan menemukan yang terbaik, padahal sebelum menikah, setiap orang bahkan masih berhak mencintai siapa pun dalam hatinya. Banyak juga yang meskipun sudah lama pacaran, tapi menikah juga karena terpaksa, sebab para ortu sudah ngejar-ngejar misalnya. Kedua, mereka memilih pacaran karena aslinya sebagai alibi pengin ada yang merhatiin tapi nggak berani bertanggung jawab membangun rumah tangga, huahahaha..”

Jleb.

“Mbak sendiri bahagia setelah menikah?”
“Bahagia itu relatif. Manusia itu sendiri makhluk yang pasang surut. Kadang bahagia, kadang sedih. Kadang waras, kadang edan. Tapi setidaknya ada seseorang di sampingku yang entah ikhlas atau enggak, atau mau nggak mau, tetap berada di sampingku.” Si mbak ngikik. “Sering kan teman-teman kita yang pacaran malah ngajakin kita nongkrong atau nonton pas lagi sedih, dan bukannya bersandar ke pacarnya. Karena si pacar selalu nggak ada, huhahahaha.”

Aku senyum dan mengangguk-angguk saja.

Si mbak ini pasti bakal cocok dengan ibu dan adik perempuan saya dari segi prinsip. Kalau sedang ngobrol berempat, pasti 3 lawan satu.

Beruntunglah mereka yang berpikir lurus-lurus saja. Sebab yang selalu merekam dan berpikir segala hal, akan kesulitan mempercayai begitu saja.

“Nah kalau agama itu sendiri nggak menganjurkan sesuatu, karena ada alasan di sana. Contohnya soal hormon itu sendiri. Realitasnya, hubungan spesial laki-laki dan perempuan biasanya hanya bertahan setahun dua tahu saja karena pengaruh hormon. Hormon itu ada masa kadaluarsanya lho. Tahun ketiga sudah mulai logis. Jangan ngarep bakal romantis-romantisan terus. Tanya aja deh sama yang udah nikah.”

Aku masih menyimak dalam diam, sambil menatap cicak yang melintas di kaca jendela.

“Tapi jangan khawatir…”
Lamunan pun goyah, bukan karena kontennya, tapi karena si Mbak masih bersemangat kampanye sambil menepuk kaki saya.

“Biasanya, meskipun nggak lagi saling romantis, pasangan menikah yang lama meskipun sudah ‘kayak temen’, tapi masing-masing udah saling menjaga keutuhan rumah tangga. Entar kerasanya kalau udah pada sepuh.”

Saya sendiri sebenarnya ingin meminta pendapat, apakah di zaman sekarang institusi pernikahan itu harus dijalani setiap individu? Tapi lebih menarik dibicarakan dengan mereka yang agak liberal, karena biasanya netral.
Tapi saya lebih ingin bertanya pada diri sendiri, apakah saya ini sudah cukup baik untuk menikah? Dan rasanya monster-monster dalam diri saya sudah bosan mengajak diskusi.

Tiba-tiba teringat kata seseorang kemarin hari, “barangkali kamu selalu mencurigai institusi pernikahan karena baru mendengar dari orang-orang di luar sana, bukan karena mengalaminya sendiri.”
Maka mari kita benarkan, menikah adalah kehidupan baru yang penuh kejutan. Yang kita tidak akan tahu akan seperti apa. 🙂

ah, Tuhan, bukan sekali dua kali saya diceramahi soal pernikahan, hanya hari itu seperti diingatkan ulang.
Menjadi idealis itu memang ruwet…
Muarakan segala hati saya kepada Engkau saja, Tuhan.

Kalau sampai waktuku… (meminjam sebaris puisi Chairil Anwar)
Toh juga mesti dijalani juga.

film horor zaman dulu dan sekarang

 

Kira-kira sejam yang lalu, saya baru selesai nonton film lama bertema horor di televisi. Artisnya almh. Suzana yang dulu sempat jadi ikon artis horor populer di tahun ’80-an. Jadi ingat sewaktu kecil, saya nonton sendirian film semacam itu sampai selesai. Seperti anak-anak kecil lainnya, saya tetap menonton malam-malam dan sendirian hanya didorong oleh rasa penasaran dan kesenangan. Anak kecil barnagkali tidak terlalu pahm arsa ngeri. Kadang kedewasaanlah yang mengacaukan logika, sebab setelah dewasa saya justru sering jejeritan kalau nonton film horor modern. Nonton berjamaah bareng temen aja tetap ‘heboh’.

Sekarang seperti kembali ke masa kecil, saya nonton film itu lagi sendirian dan dengan tenang. Agaknya, kalau dipikir-pikir, film horor selalu menyimpan adegan lucu dan konyol. Coba pikir, bagaimana bisa hantu berinteraksi dengan manusia dan masih bisa kencan dengan mantan suami? Bagaimana bisa selembar hantu–yang semula divisualisasikan dengan wujud transparan–bisa makan sate dan menggendong kucing? Bagaimana bisa hantu membunuh musuh-musuh yang menjadi penyebab kematiannya dengan cara yang bermacam-macam? Sempatkan ia berpikir bahwa bila para musuh bebuyutan itu mati dibunuhnya, bukankah mereka malah akan ketemu lagi di alam lain? Tapi itu semua tentu bukan hal besar, sebab agaknya lebih baik film horor yang semacam itu, yang masih di-setting secara polos dan bahkan diselipi nasihat ustadz, daripada film horor jenis sekarang. Dan kini saya sadar, manusia punya reaksi dan emosi yang tak jauh beda, film horor-lah yang mengalami transformasi.

Film horor zaman dulu tak lepas begitu saja dari nilai moral, seperti yang saya tonton malam ini. Si hantu ini sebelumnya adalah seorang istri berhati tulus yang mengalami depresi kemudian bunuh diri karena alasan kehormatan, sebab ketika suaminya pergi bertugas, ia diperkosa oleh sejumlah orang dan kemudian hamil. Penonton mungkin akan merasa gemas dan ikut sedih melihat si wanita yang malah diejek di persidangan sebagai sundal dan melihat langsung para pelaku dibebaskan dari tuduhan. Setelah jadi arwah, ia pun mencari para pemerkosa untuk membalas dendam. Bahkan si hantu hanya meneror dengan serius para penyebab kematian atau sekadar berbuat usil dengan mereka yang tidak punya rasa hormat terhadap bangsa jin. Pesannya adalah bahwa melakukan kejahatan seperti mencoreng kehormatan wanita yang tak bersalah, menyimpan konsekuensi yang sangat mengerikan di masa mendatang. Film diakhiri dengan permintaan suami dan segenap kiai pada si hantu untuk kembali ke tempat yang seharusnya, dengan rasa sedih serta doa pengantar supaya damai di alam sana. Mengharukan.

Berbeda dengan film yang sekarang, yang rata-rata malah sudah mengeksploitasi tubuh perempuan dan menyisipinya adegan vulgar. Hantu di film zaman sekarang seperti menyiratkan pesan bahwa dunia lain hanya berisi makhluk-makhluk jahat yang meneror siapa pun bahkan yang tidak bersalah. Itu pun jarang dibingkai oleh cerita kehidupan yang dekat dengan realitas. Yeah, intinya, film horor zaman dulu lebih banyak memberi pesan moral, sedangkan zaman sekarang (dengan penggarapan kostum yang sudah maju, musik yang amat mendukung, dan make-up yang ‘total’) cenderung dimaksudkan untuk hiburan semata. Namun efeknya membuat kita perlu berhati-hati, karena kebanyakan membuat penontonnya justru paranoid dan terkejut dengan tidak logis. Apalagi film horor kita di zaman sekarang seolah berdampingan erat dengan adegan porno. Amit-amit dan waspada selalu.

Yeah, ini hanya sekadar pendapat saya mengenai fenomena film horor Indonesia dengan wawasan yang tentunya masih terbatas.

Keperempuanan dan Skripsiku

Sebetulnya aku sendiri sudah pernah menulis perihal skripsi secara detail, sampai pada akhir yang dramatis ketika memperjuangkan kelulusan itu. Mungkin di blog sebelum ini dan juga di blog ini. Aku terbiasa menulis peristiwa penting dalam hidup karena hanya ingin kutitipkan semua itu pada kertas dan masa lalu saja, tidak perlu lagi dibahas. Tapi baiklah, meskipun telat, demi komitmen memenuhi tugas Komunitas Penamerah tercinta, aku akan mengingatnya sebentar. Maaf, bila isinya mbulet.

Saat itu aku masih jadi mahasiswi labil yang bosan kuliah di tahun ketiga. Karakter dan cara berpikirku waktu itu sedikit kelaki-lakian, atau sangat “feminis”—wanita dengan obsesi kesetaraan gender, dan saat itu juga aku sedang asyik-asyiknya belajar banyak hal, kerja, organisasi, dan cenderung anti dengan pernikahan, juga yeah… enggan dengan laki-laki. Seingatku seperti itu. Maksudku, selama mereka tak menghargai wanita, maka wanita tak harus menghargai mereka.

Waktu itu aku berpikir bahwa menyukai seseorang itu nggak sama dengan menikahi. Mencintai tidak bisa direncakan seperti pernikahan. Aku pernah baca cuplikan ini di sebuah buku dan menyetujuinya.

Menikah di negara berkembang bagiku sama saja dengan bunuh diri karena bakal tidak sesuai dengan nilai-nilai feminisme (parah banget ya :|). Sedangkan ide-ide feminisme terlihat lebih riil daripada pernikahan itu sendiri, maka skripsi pun kuperjuangkan yang bertema perempuan, sesuai dengan passion-ku dan juga dilatarbelakangi sedikit rasa dendam dengan sejarah patriakhat Indonesia, terutama yang dimulai pada zaman feodalisme dan kolonialisme. Saat itu novel yang kukaji kebetulan adalah novel favorit, Bumi Manusia karya Pramoedya AT. Sejak draft skripsi itu terlintas di pikiran—di tahun ketiga kuliah—akhirnya skripsi pun selesai setahun kemudiannya. Tentunya setelah melewati masa-masa bertarung dengan banyak hal, riset sana-sini, dan gonta-ganti judul.

Meskipun rasanya di negara-negara berkembang seperti Indonesia memang tak banyak yang ingin tahu atau peduli perihal emansipasi, aku tetap tertarik dengan perihal feminisme dan perjuangan menyetarakan, meskipun dengan caraku sendiri. Dan saat itu, dengan keringat, pikiran, air mata darah (kalau ini sih lebay) akhirnya berhasil merampungkan 103 halaman skripsi bertema perempuan, memang tidak sebanyak yang aku rencanakan.

Yeah, tak banyak juga yang ingin kuingat di tahun-tahun menyusun skripsi itu, tapi setidaknya aku mengerti dua hal: betapa pentingya menjadi perempuan secara penuh, dan betapa berantakannya skripsiku dulu. Kenapa nggak jadi editor dari dulu aja sih? -____-. Baiklah, semua itu ada waktunya sendiri-sendiri.

Hal yang berat waktu itu adalah melawan sifatku sendiri yang ingin “segalanya harus sempurna” karena setelah dijalani, ternyata mudah. Huft. Rasanya aku kurang maksimal mengerjakan skripsi, sekalipun dapat nilai A. Pendadaran juga berlangsung lancar. Segalanya mudah dan tak sesulit yang dibayangkan. Atau memang karena semua itu sudah sangat lama dan sudah selesai…? Skripsi itu mudah. Yang tidak mudah cuma birokrasi kampusnya. Sialan. Ya sudahlah.

Malam ini usai bongkar-bongkar skripsi, pikiranku jadi melayang-layang. Teori Naomi Wolf sampai Friedrich Engels berputar-putar di ingatanku. Yeah, kesetaraan gender masih jadi hal sensitif dan penting di benakku. Hanya saja sekarang sudah agak berdamai dengan nilai-nilai pernikahan. Rasa dendamku dengan zaman feodal dan kolonial terkait dengan perempuan pun terobati dengan kehidupan di sekitarku, terutama keluarga. Demi hidup normal, terkadang kita memang harus menutup mata dari hal-hal yang buruk dan kekhawatiran yang tidak-tidak.

Dan kini, aku berpikir, mencintai sebenarnya bisa sejalan dengan rencana pernikahan di masa depan. Sekalipun itu tak mudah.

Yeah, kau tahu, berdamai dengan ideologi pernikahan adalah perjuangan yang sungguh merepotkan, seperti memilih agama. Itu butuh waktu dan perenungan yang amat panjang. Yang rupanya jauh lebih rumit daripada garap skripsi (haha, jadi curhat deh…)

 

 

Berikut adalah beberapa potongan halaman skripsiku waktu itu.

bagian abstraksi.

bagian abstraksi.

waktu itu, masih berkeyakinan kalau "stereotip" adalah salah satu penyebab deskriminasi terhadap perempuan.

waktu itu, masih berkeyakinan kalau “stereotip” adalah salah satu penyebab deskriminasi terhadap perempuan.

sepenggal tentang keadaan perempuan di zaman feodal dan kolonial

sepenggal tentang keadaan perempuan di zaman feodal dan kolonial

wanita banyak menjadi "objek" di beberapa karya sastra lainnya.

wanita banyak menjadi “objek” di beberapa karya sastra lainnya. Baik secara minor maupun mayor

tentang diskriminasi terhadap permepuan di masyarakat

tentang diskriminasi terhadap perempuan di masyarakat, secara umum

ya ampun, kok bisa nulis kayak gitu ya dulu? =))

ya ampun, kok bisa nulis kayak gitu ya dulu? =)) Oh tentu saja dong, para bule zaman kolonial juga punya sejarah diskriminasi yang parah di wilayah jajahannya.

novel "Bumi Manusia" cukup menyedihkan bagiku :(

novel “Bumi Manusia” cukup menyedihkan bagiku 😦

Halaman "motto", quote Mahatma Gandhi paling kusuka waktu itu. Yeah, sebab substansi dari feminisme tetap saja ke arah "memanusiakan" , terutama terhadap perempuan

Halaman “motto”, quote Mahatma Gandhi paling kusuka waktu itu.
Yeah, sebab substansi dari feminisme tetap saja ke arah “memanusiakan” , terutama terhadap perempuan

*Untuk memenuhi tugas Komunitas Penamerah

membicarakan hidup, tidak selalu berarti membicarakan cerita-cerita bahagia, tapi juga pedih dan hari-hari sialnya. terutama pelajaran pentingnya.
ya sudahlah. buanglah segala pedih yang hadir hari ini, dan simpan bahagia untuk menemani bila suatu saat kepenatan datang lagi.

kini waktunya tidur kembali.

Fermez vous les yeux
Faites de beaux rêves
Et n’oubliez pas que je suis là
Dans la chambre à côté

🙂