Stasiun dan Mimpi

04:00

Di jam-jam inilah, saat paling sepi yang dapat kunikmati sendiri. Hanya alam yang terasa alam yang terbangun menemani, juga mimpi yang akan lebih lama menguap bersama uap kopi.

Dan di pagi inilah, aku terdiam mengingat mimpiku tentang stasiun dan hiruk pikuknya.

Omong-omong, apa yang ada di benakmu ketika mendengar tentang “stasiun”? Pemberhentian? Kereta api? Tempat nongkrong sore-sore? Salah satu judul novelnya Putu Wijaya yang penuh absurdisme? Atau tentang seseorang yang kau antar pergi sambil terus kau pandangi punggungnya hingga menghilang, atau suasana ketika engkau menjemputnya pagi-pagi dengan hati yang biru jauh di masa yang dahulu? Tak jelas apakah semalam hal indah atau menyedihkan yang kuimpikan. Aku seperti terlempar dalam visualisasi stasiun dan perjalanan dari tempat asing ke tempat asing yang tak usai, dan mungkin juga hal-hal yang sempat terlintas di pikiranku yang belakangan sering nge-blank. Namun ada ruang damai di sana yang disebut ingatan. Di mana aku tak ingin bayangan itu hilang.

6230025585_74deba228d_b

gambar diambil dari http://street.kilcher04.net/

Iklan

Cerita tentang Mimpi

Hei, saya hanya ingin cerita soal mimpi.

Saya mimpi aneh sekali tadi malam. Pertama sebelum terbangun samar, saya mimpi menaiki pesawat berbentuk kapsul. Lalu mendarat di suatu tempat aneh yang saya yakini itu planet lain, mungkin di galaksi lain juga. Semuanya penuh warna, hanya saja begitu berbeda dengan yang saya temui di bumi. Rumput berwarna pink, ada juga yang ungu, ada yang berbentuk jel seolah dapat digigit dan dicampur dengan es buah. Pohon-pohonnya juga berbentuk aneh. Tanah yang saya pijak saat keluar dari pesawat kapsul itu adalah bening. Tidak serupa tanah berwarna cokelat, yang sering kita temui setiap hari. Benar-benar bening. Saya kira saya hampir tercebur di air, atau nyungsep di hamparan agar-agar. Ternyata tanah. Dan suhunya dingin. Langit di atas sana juga keunguan. Dalam mimpi itu, saya bolak-balik keluar masuk pesawat dan hampir merasa bingung jika harus berjalan-jalan di planet aneh itu. Perasaan saya saat itu tak dapat terjabarkan. Hanya sedikit yang saya ingat, sepertinya saya membuat makanan di dapur pesawat saya, dan tidak kepikiran untuk kembali ke bumi.

Saya terbangun, sesaat, kemudian tidur lagi.. tanpa melihat jam. Sungguh dalam soal tidur saya lebih sering menjadi makhluk primitif, tanpa butuh jam, HP atau kabar berita terbaru di internet.

Saya bermimpi lagi. Tiba-tiba di bumi. Tapi tidak di negara saya berada. Tapi di kawasan perang. Saya menjadi anggota yang ditugasi di daerah perang. Sepertinya masih di kawasan Asia, entah Vietnam tahun lampau, atau Thailand. Orang-orangnya memiliki postur dan warna kulit yang tak jauh beda. Saya harus kejar-kejaran padahal semula saya dikirim untuk mengajar di daerah pedalaman. Tapi karena sepertinya dalam mimpi, saya mengetahui rahasia musuh, maka saya menjadi salah satu anggota yang dikejar-kejar. Saya melihat kelompok saya berlari dari kejaran. Melintasi hutan, berenang melalui danau di tengah hutan, hingga menyamar menjadi petani alang-alang ketika melihat tentara musuh. Kami berlari hingga melintasi padang ganja, dan sembunyi di bangunan tua untuk memanggil helikopter yang menyelamatkan kami. Jangan tanya mengapa saya tahu itu ganja, mimpi sering kali tidak dapat dijabarkan bagaimananya. Saya juga merasa ketika kami, saya dan orang-orang di dekat saya berlari lagi, saya melihat satu tentara musuh berusaha menembaki kami, tapi untunglah tak ada yang terkena. Tapi saya pun mikir, apakah bila saya benar-benar tertembak lantas saya merasa sakit atau nggak bisa bangun? Toh bagaimana pun ini hanya mimpi.

Bangun-bangun, rasanya capek sekali, seperti habis berlari puluhan kilometer.

Mimpi yang aneh bukan. Saya jadi ingat kata Carl Gustav Jung, apakah mimpi saya semacam arketipe? Entahlah.

Lake-of-dream-hd-wallpaper

 

mimpi hari ini

Mimpi seperti lorong waktu yang menghubungkanku di masa lalu.  Aku seperti telah mengalaminya semalam.  Seperti mimpi-mimpi biasanya, jalan cerita yang terjadi pastilah melompat-lompat dan kadang samar.

Tapi jelas semalam aku bermimpi datang di keluarga besar bapak, seperti bertahun yang lalu. Kakek dan nenekku masih muda, bapak dan bulek bulek juga bude masih remaja. Mereka tinggal di sebuah rumah jawa yang sederhana, dengan beberapa keluarga yang lain. Tatanan rumahnya persis seperti tatanan rumah ini di zaman lampau. Lukisan-lusisan dinding yang dikoleksi kakek hasil membeli di malioboro, bau khas dapur nenek, kursi bambu, juga kulihat kakek, yang sekarang sudah almarhum, sedang melinting tembakau dan dijadikannya rokok.

Tiba-tiba aku rindu kakek.

Dulu waktu aku kecil sering sekali kuperhatikan kakek meracik rokoknya sendiri. Beliau menumbuk cengkeh kering, mencampurkannya dengan tembakau dan melintingnya dengan kertas. Lalu duduk di teras depan, mendengar siaran di saluran yang sama, RRI, lewat radio tua ala zaman Jepangnya. Lalu merenung, entah apa yang direnungkannya, duduk, terkantuk-kantuk, ditemani secangkir teh dan pisang goreng kesukaannya.
Entah mengapa, dalam mimpiku semalam, aku seperti tamu yang akrab disambut mereka, mungkin tidak sadar bahwa aku adalah aku di masa sekarang yang datang berkunjung di masa lalu. Mereka tidak sadar bahwa kelak aku ini cucu kakek. Namun aku diam tak menjelaskan apa-apa, hanya menikmati suasana itu.. ah, mimpi, masih selalu negeri rahasia yang menyimpan tanda tanya, dan selalu memiliki sisi damainya tersendiri.