#23 (Ketiadaan Jejaring Sosial hingga Tulisan Alan Lightman bertema Albert Einstein)

Bagiku, mematikan akun FB sementara seperti mematikan sebagian terang benderang yang gaduh dan menyilaukan mata di kala tubuh masih beradaptasi pascabangun tidur.
Maka dalam hening dan ruangan tak begitu terang, kadang mata lebih awas menangkap bayang, dan kau akan menyadari bahwa waktu takkan berhenti mengajak kita berpikir. Memang sulit menjalani hari yang tiba-tiba tanpa akun itu. Sejak tadi pagi, aku memikirkan mimpi dan khayalanku soal mesin waktu, hingga tiba-tiba ingin mudeng ketika kelak membaca salah satu novel berbahasa asing. Sungguh tak karuan dan berlompatan. Tapi dalam ketidakkaruan itulah, aku merasa sedikit tenang, sebab tanpa tergantung jejaring sosial dunia maya, aku masih tetap bisa menemukan bahan bacaan penting.

Seperti saat ini: secara kebetulan aku menemukan salah satu artikel cemerlang bersubjek Einstein ketika sibuk mencari-cari alamat kursus bahasa Rusia di internet. Kebetulan yang kusuka.

Monggo disimak 🙂

-Andaikan Manusia Hidup Selamanya-

Secara unik, warga di tiap kota terbagi menjadi dua: Kelompok Belakangan dan Kelompok Sekarang.
Kelompok Belakangan bersikukuh untuk tidak perlu buru-buru kuliah di universitas, belajar bahasa asing, membaca karya Voltaire atau Newton, meniti karir, jatuh cinta, berkeluarga. Untuk semua itu, waktu tak terbatas. Sepanjang waktu abadi, segala sesuatu bisa dipenuhi.
Bukankah tindakan terburu-buru bisa berbuah kesalahan? Siapa mampu membantah logika mereka?

Kelompok Belakangan dapat dijumpai di setiap toko atau di setiap jalan. Mereka berjalan santai dengan busana longgar. Mereka menikmati tiap artikel dalam majalah mana pun yang sedang terbuka, menata ulang perabotan rumah, nimbrung ke dalam percakapan seperti daun jatuh dari pohon.
Kelompok Belakangan menikmati kopi di café-café sembari berdiskusi tentang kemungkinan-kemungkinan dalam hidup.

Kelompok sekarang beranggapan bahwa dengan kehidupan yang abadi mereka bisa melakukan apa saja yang mereka inginkan. Ada tumpukan karir yang jumlahnya tak terhingga, menikah untuk kali kesekian yang tak terbayangkan, dan pandangan politik yang terus berganti. Setiap orang dapat menjadi penasihat hukum, tukang batu, penulis, akuntan, pelukis, ahli fisika, petani.

Kelompok Sekarang secara teratur membaca buku-buku terbaru, belajar tata cara perdagangan baru, bahasa-bahasa baru. Demi mencucup sari madu kehidupan yang tak terbatas itu, mereka bangun lebih pagi dan tak pernah bergerak lamban.
Siapa meragukan logika semacam ini? Kelompok sekarang gampang dikenali. Merekalah pemilik kedai-kedai kopi, professor di kampus, dokter dan perawat, politikus, orang-orang yang tak henti-hentinya menggoyangkan kaki saat duduk bersandar. Mereka bergerak dalam rangkaian kehidupan dan berusaha untuk tidak kehilangan setiap hal.

Ketika dua orang dari Kelompok Sekarang bertemu di pilar bersegi enam di Pancuran Zahringer, mereka saling berkisah tentang kehidupan mereka, saling bertukar informasi dan melirik jam tangan mereka.
Ketika dua orang dari Kelompok Belakangan bertemu di lokasi yang sama, mereka merenungkan masa depan dengan mata mengikuti gerak air yang membentuk lingkaran.

Kelompok Sekarang dan Kelompok Belakangan memiliki satu kesamaan. Dengan kehidupan yang tak terbatas, mereka mempunyai sanak saudara dalam jumlah yang tak terbatas pula. Kakek nenek tak pernah mati, tidak juga dengan para buyut, bibi buyut, paman buyut, buyut dari bibi buyut, demikian seterusnya, dari semua generasi, semuanya hidup dan menawarkan nasihat-nasihat. Anak lelaki tak pernah bisa lari dari bayang-bayang sang ayah. Tidak juga anak perempuan dari sang ibu. Tak pernah ada yang betul-betul bisa mandiri.

Ketika orang mulai berbisnis, ia merasa harus berbicara dahulu dengan orang tua, kakek nenek, buyut dan leluhur mereka yang jumlahnya tak terhingga, untuk belajar dari kesalahan mereka. Sebab, tak ada usaha yang benar-benar baru. Semua hal telah dilakukan oleh mereka yang ada dalam silsilah keluarga. Sesungguhnya segala sesuatu telah tercapai. Tetapi sungguh mahal imbalannya. Di dunia seperti ini, penggandaan atas pencapaian-pencapaian terbagi oleh ambisi yang makin lama makin kendor.

Ketika seorang anak perempuan meminta bimbingan ibunya, ia tidak bisa mendapatkannya secara langsung. Ibu si anak harus bertanya pada ibunya sendiri yang harus bertanya lagi kepada ibunya. Demikian seterusnya. Anak-anak tak pernah mampu membuat keputusan sendiri dan terpaksa harus berpaling pada orang tua yang juga tak mampu memberikan nasihat yang meyakinkan.

Orang tua bukanlah sumber kepastian. Ada jutaan sumber lainnya. Ketika setiap tindakan harus dikaji ulang sejuta kali, maka hidup menjadi bersifat sementara. Jembatan-jembatan yang dibangun kokoh, yang telah membentang separuh lebar sungai, tiba-tiba terhenti pengerjaannya. Bangunan-bangunan didirikan hingga sembilan lantai tetapi tak ada atap yang memayunginya. Pedagang yang menyediakan jahe, telur, biji-bijian, atau daging asap mengganti dagangannya sesuai perubahan pikiran, berdasarkan tiap nasihat yag didapat. Kalimat-kalimat menggantung tak terselesaikan. Pertunangan putus sehari sebelum hari perkawinan. Dan di jalanan , orang-orang membalikkan kepala dan menatap tajam ke belakang, melihat siapa yang mengawasi.

Inilah harga yang harus dibayar demi keabadian. Tak seorang pun menjadi seorang yang utuh. Tak seorang pun yang merdeka. Seiring waktu, orang berkeyakinan bahwa satu-satunya jalan agar dapat menempuh kehidupan milik sendiri adalah dengan kematian. Dengan maut, lelaki mau pun perempuan, akan terbebas dari beban masa silam.
Beberapa jiwa resah ini akhirnya memutuskan menenggelamkan diri di Danau Montana atau melemparkan diri dari Puncak Monte Lama, membuat kerabat terkasih mencari-cari.

Begitulah, yang fana pun menaklukkan yang baka, jutaan musim gugur menyerah pada ketiadaan musim gugur, jutaan butiran salju menyerah pada ketiadaan butiran salju, jutaan nasihat dan teguran menyerah pada keheningan.

Sumber : EINSTEIN’S DREAMS by Alan Lightman

*tiba-tiba tertarik ingin baca artikel yang lainnya.

 

@googleimage

@googleimage

Iklan

#18

pelajaran penting buatku soal pemilihan bahasa:

aku bisa saja tak suka satu jenis masakan yang kupesan di suatu catering, tapi tidak lantas menyatakan bahwa masakan si koki buruk dan aku nggak suka, sebab patokannya cuma seleraku seorang diri. bukan karena aku tidak suka dengan kokinya. bisa-bisa pemilihan bahasaku itu malah menyinggungnya, bisa-bisa aku dikira nggak menghargai jerih payah si koki membuat formula masakan, dan bisa-bisa kita malah ditertawakan gara-gara menjelekkan hasil karya si koki yang sebetulnya sudah diakui dunia dan si ‘aku’nya saja yang katro, misalnya. tapi aku akan jelaskan bahwa bangkali aku sedang mencari masakan yang sesuai dengan pasien rumah sakit yang merawat para penderita deabetes yang sedang kuurusi, supaya si koki nggak berpikiran bahwa aku men-judge dia tidak layak jadi koki. makanya masakan manis tidak sesuai dengan yang sedang kucari.

“ini belum sesuai, mari kita sesuaikan menurut patokan rumah sakit penderita diabetes.”
“hei aku nggak suka sama masakanmu, lebih enak yang di sana itu, aku lebih suka!”

beda kan perasaan menangkapnya?

ada beda antara “ketidaksukaan” dan “ketidaksesuaian” terhadap suatu patokan. subjektif pun mesti memiliki patokan jelas yang bisa diterima semua perbedaan.
oke, kita hidup dalam beragam manusia. dalam selera yang berbeda dan tentu nggak ada yang sama. penyeragaman pola pikir dan selera sama saja dengan memaksa, melanggar hak, juga sama dengan membunuh kemanusiaan yang pada dasarnya menyimpan kreativitas yang berbeda juga di dalamnya. orde baru aja tumbang karena “penyeragaman” kenapa di zaman demokrasi ini orang malah meniru? dan untuk menyeragamkan, kita hanya bisa saling menyesuaikan dengan prosedur-prosedur demi tujuan yang sama.

tapi dalam menghadapi realitas, orang butuh untuk bisa belajar “ngebo” alias cuek saja. tapi sayang, dalam keberagaman manusia, mereka tidak dapat dipaksa juga untuk “ngebo” sebab tingkat sensitivitas orang juga beda-beda. cara pandang ornag pun bisa beda.

alangkah damai juga bila pemerintah negara kita bisa belajar terbuka soal perbedaan dan memanajemen perbedaan itu untuk kemajuan bersama. sebab kecelakaan sejarah pun terjadi karena para pelopornya ceroboh membaca perjanjian renvile dan linggarjati. dan di samping itu tokoh-tokoh penting pun tersingkir dari peristiwa itu, seperti Tan Malaka, dkk.

 

 

*terinspirasi dari tulisan sejarah tentang orde baru di Indonesia dan kapitalisme yang berawal dari sana

#16

saya lupa kata siapa, tapi pernah ada penulis esai yang mengatakan bahwa sebaiknya agama itu tidak terlihat, tapi menebar kebaikan di mana-mana. hari ini aku miris membaca berita negeri akhir-akhir ini, di mana agama dibawa-bawa untuk saling menyerang satu sama lain.

saya pikir, saya setuju dengan quote ini.

1009780_213443462141792_77236505_n

#15

aku tak menyangka pernah menulis -> postingan ini, dan beberapa hari setelahnya memang aku lupa menuliskannya. hahah… lucu. konyol. ngakak. aku suka menertawakan diri sendiri. aku memang sering begitu, apalagi ketika suntuk dan pengin tertawa. tak hanya baca buku harian masa muda atau nonton film komedi, hal yang bikin tertawa itu kalau misal muka lagi suntuk, habis itu ngaca. =))) tapi atas semua perihal yang terjadi setelah moment perpisahan itu, aku telah berpikir dan ingat bahwa, menikah itu baik. tapi tidak menikah pun baik. dan telah kupikirkan itu juga baik-baik.

berharap sesuatu yang belum terjadi dan belum tentu terjadi hanya akan menguras energi lebih banyak dan lebih menghambat. sebaiknya fokus saja hal-hal yang “sebaiknya terjadi” dan juga hal baik untuk diri sendiri di masa depan. yeah, pagi ini aku telah menyusun semua rencana baik plan A, plan B, dan plan C, dst. untuk setahun ke depan, mencari potensi diriku yang sesungguhnya. sebab saat ini, tiba-tiba aku lebih tertarik itu. yeah, memang sih setiap tahun, aku selalu mencantumkan rencana berumah tangga, (*jangan ngakak gitu deh) dan setiap tahun juga aku akan gigit jari bersiap untuk tidak terealisasikan. bukankah sebaiknya malah tidak perlu dipikirkan saja? terjadi atau nggaknya terserah Tuhan. oke sip.

btw, kantor pindah, di luar kantor redaksi, segala kehebohan sudah terjadi, dari suara gesekan benda sampai sesuatu yang kedengaran dibanting, tapi mengapa di dalam ruang redaksi malah adem ayem mengerjakan deadline masing-masing ya? heran sendiri. mungkin tar kita nggak sadar tahu-tahu sudah diangkut juga. ya sudahlah.

apa pun itulah, kapan pun kantor pindah. semangat deh buatku, buatmu, buat mereka–yang tengah mengejar cita-cita masing-masing. semangat buat kita semua.

#12 (Laut di ranah ekspresi seni)

Kita telah tahu bahwa di dunia ini, peradaban manusia dibagi menjadi dua: peradaban yang berasal dari darat dan juga laut. Peradaban memang selalu lahir dari keduanya. Tapi laut seakan telah jarang kita jangkau. Sore ini, atas info salah satu teman, aku mampir TBY sepulang kerja. Memang ada event Artjog di sana, di mana 158 jenis karya seni kontemporer dipamerkan—dari patung, lukisan, hingga fotografi. Semuanya bertema maritim.

Ketika masuk, sadar ada yang agak mencolok mata. Tembok gedung TBY disulap total dengan dilapisi drum bekas minyak yang di-setting mirip dengan badan kapal. Di halamannya, ada sesuatu yang entah bagaimana, mirip komidi putar yang dipasangai sejumlah boneka dan tetap berputar, rupanya ia diberi judul “Finding Lunang”. Sepertinya judul ini merujuk pada sejarah atau barangkali dongeng tentang penjelajahan. Ada juga tampilan sirip ikan di sisi lain yang seolah sebagian badannya mencebur di laut.

Yang menarik adalah bahwa laut menimbulkan ekspresi yang begitu tak terbatas bagi senimannya. Barangkali juga melahirkan imaji tak terbatas bagi penontonnya. Laut memang bagian dari peradaban. Pameran tahun ini memang sangat keren bagiku. Yeah, sayang ketika aku datang, sudah mepet buka puasa sehingga tak sempat mengamati semuanya satu per satu. Dan sialnya, besok tanggal 20 itu penutupanya. Yah, meskipun sebetulnya ada kesempatan untuk berkunjung lagi sih.

Seni bernapaskan laut seperti tak kan habis ditelusuri batasnya. Laut sebagai peradaban, laut juga sebagai manusia itu sendiri.

–dalam perenungan–

#11

Hari ini aku sedang tak ingin menulis pagi. Ada bara di sana yang tak ingin kusambut dengan perenungan. Yeah, memang pagi ini matahari begitu terang, seperti meringkus semua yang ada di dalam kamarku, seperti membakar hingga ke lapisan kulit terdalam. Padahal baru pagi dan belum siang.
Tapi seharian ini aku banyak berburu karya klasik, dari zaman Renaisans hingga Ghotik. Juga sempet menemukan sisi persamaan karya sekarang dari karya zaman Ghotik di Eropa. Menarik dan ingin kuhabiskan semua. Hanya saja, menerjemahkan karya-karya itu tentu tidak mudah. Jadi sadar betapa terbatasnya kemampuan berbahasaku. Perlu belajar dan belajar. Sepertinya aku memang harus belajar bahasa lebih sering untuk menyelami dan menyibak isinya.

Sore ini menjelang magrib, aku baru menyelesaikan sebagian awal novel Amba. kurasa aku cukup lelah sehingga tak kuteruskan pencarianku. entah bagaimana aku sempat tertidur beberapa saat, seperti hanya beberapa menit. Aku seperti berada di sebuah pulau, yang dalam mimpiku mengatakan dirinya adalah Pulau Buru. Sekelebat aku melihat hutan, keramaian orang dalam pakaian kumal dan tubuh penuh bekas luka, penduduk berwajah garang dan selalu membawa senjata, juga hutan yang gelap dan berhantu. Tapi lantas aku terbangun dengan terkejut. Novel Amba masih terbuka di halaman yang semula. Novel itu memang berlatar Pulau Buru, tempat di mana sejarah seringkali ditenggelamkan di masa orde “baru” dulu, sehingga kurasa mimpiku itu hanya semacam refleksi imaji, yang terbawa begitu saja. Tapi kupikir, berbicara sejarah yang disingikirkan, membuatku mengingat bahwa persoalan kemanusiaan di negeriku ini sempat mengalami hitam yang sungguh mengerikan dan membuat bulu kuduk meremang. Peristiwa-peristiwa itu sungguh ada dan nyata, melekat dalam ingatan, sekuat apa pun sebuah rezim menguburkannya jauh-jauh.

Hm hari ini memang hari yang berlompatan… tapi jujur, aku ngantuk sekali seharian.

#10

Berbicara tentang malam, jadi ingin mencuplik salah satu puisi Chairil Anwar

Aku berpikir: Bulan inikah yang membikin dingin,
Jadi pucat rumah dan kaku pohonan?
Sekali ini aku terlalu sangat dapat jawab kepingin:
Eh, ada bocah cilik main kejaran dengan bayangan!

1947

Malam ini, seperti malam-malam yang sebelumnya: di dalam kamar, penerangan 5 watt, tidak ada televisi–karena memang anti, dan hanya buku-buku, cokelat hangat, dan kadang musik lembut yang menemani.

Bagiku, malam selalu terhubung dengan ingatan. Tiba-tiba malam ini, mengingat almarhum Kakek di masa hidup, konon Mbah Kakung (panggilan kakek) ketika masih muda suka nongkrong di sekitar makam. Kurasa tidak hanya karena di sana kesiur anginnya jauh lebih sejuk dan teduh daripada tempat lainnya.
Dulu, setiap datang berkunjung, Kakek hanya ngobrol dengan para penjaga makam, sesekali hanya duduk diam, melarikan resah. dan selebihnya membuat nisan untuk para leluhur, dan merawatnya supaya terlihat indah bila ada yang berziarah. Sementara yang kutahu Kakek moderat dan cenderung tidak terlalu peduli adat, apalagi hal klenik. Tapi memang itu tandanya makam memilki keunggulan dan manfaat kolektif, entah bagi yang klenik maupun yang tidak. Makam terlihat selalu memiliki sisi pluralitas dan universalnya sendiri.

Pada suatu hari di masa lalu, aku pun pernah melarikan tumpukan perasaan negatifku ke sekitar makam Imogiri sendirian, beruntung ketika datang, di sana memang sedang jadwal libur pengunjung. Aku menaiki ratusan tangga dan kemudian duduk setelah sampai di ujung depan gerbang. Hanya selonjoran dan memandang perbukitan dari kejauhan. Sesekali kupejamkan mata, dan mendengar ramai burung, juga gemerisik daun-daun yang bergesekan di hutan yang menaungi sekitar lokasi. Seperti pulang rasanya. Ada tenteram yang sering kali tak terjabarkan. Yang hanya dimengerti mereka yang mengalami. Ada ketenteraman di sana, bagi mereka yang hidup dan merasa sepi. Sekaligus, barangkali, memang damai bagi mereka yang telah mendahului. Meskipun tentunya nongkrong di makam tak akan bisa dijadikan kebiasaan. Kecuali hanya untuk sesekali.

Tidak hanya di Imogri, belakangan sejak sebelum Ramadhan, aku telah merasakan itu ketika mengantar keluarga nyekar di makam kakek dan keluarga besar lainnya, tempat beliau dulu nongkrong ketika masa muda. Dan juga di tempat lain di sekitar itu.

“Makam nuansanya lebih damai sebab penghuninya tidak lagi memiliki kepentingan dengan kita,” begitu kira-kira banyolan yang pernah diungkap Gusdur. Benar memang. Di sana, orang juga tak selalu harus memiliki alasan klenik untuk datang dan merenung. Setiap orang bisa datang dalam berbagai maksud dan tujuan. Seperti halnya sekadar duduk dan melarikan kepenatan.

Perasan negatif, bagiku, sering kali hal yang tiba-tiba datang tanpa dapat didefinisikan. Setiap bangun tidur di malam hari, misalnya, gejala pesimisme biasanya akan menyerang bagai migren bagi mereka yang banyak mikir dan kelelahan. Dan aku tak akan tahu kenapa. Tiba-tiba dunia begitu sepi. Waktu menjadi absurd, dan aku jadi seperti terhubung dengan hal-hal tak terduga, seperti hari ini, yang tiba-tiba malah terhubungan dengan mereka yang akhir takdirnya adalah membunuh diri. Entah mimpi apa aku tadi. Aku mengerti perasaan-perasaan yang mendorong seperti itu. Yang rata-rata dialami mereka yang terjebak sepi yang mentok dan dangkal. Sehingga beruntung mereka yang memiliki sejumlah sahabat dekat yang selalu ada apa pun kondisinya. Bagiku sahabat adalah jenis kemewahan, yang datangnya seperti buah pisang. Ketika ia matang dan ditebang, tak akan ada lagi yang kedua kalinya kecuali menunggu tunas tumbuh dari awal dan sekian lama waktunya. Persahabatan juga seringkali musiman dan tidak menetap.

Sadar ketika segalanya menjauh dan pekerjaan membuat jenuh, rupanya, aku memang tak memiliki komunitas yang benar-benar seperti “rumah”. Aku tak mengrti, mengapa segalanya terasa menjauh, atau akulah yang tak sengaja mengasingkan diri kerena memang sejak dulu agnostik dengan “efek budaya jejaring sosial”. Atau malah cenderung atheis dengan efek hiruk pikuk keramaian luar dan segala patokan-patokannya itu. Tapi memang sih, aku selalu cenderung terasing ketika menjadi diri sendiri. Ah, soal itu tak perlu kubahas. Perasaan negatif sejenis ini memang membuatku butuh pergi ke suatu tempat semacam Imogiri.

Yeah, kupikir, daripada terus terjebak dalam sepi yang demikian, lebih baik melarikanya pada menulis. Meskipun cuma akan aku sendiri yang membacanya.
Omong-omong, bukankah sunyi juga kemewahan, bagi mereka yang jenuh dengan kepadatan bumi sekehidupannya?

“kau tahu kenapa kamu kesepian?” sebuah suara terdengar di sela angin dan dingin.
“kenapa?”
“karena kamu jalang.”
“what? jalang?”
“jalang, tentunya bukan jalang yang sebenaranya. sebab kamu gak berkeluarga sampai sekarng, kamu jalang di hadapan sistem masyarakat.”
“persetan sama sistem masyarakat. toh bukan salahku.”
“yakin? nggak pernah menolak hal-hal yang pasti di masa lalu, yakin nggak pernah melepas kesempatan?”
“hahaha, ya sudah. kubilang masyarakat bukan segalanya di ranah pribadi, gak usah dibahas.” aku terbahak. terdiam sejenak. “aku juga sedang berusaha menakar situasi, apakah aku bakal menikah, atau kembali pada keputusan yang kemarin itu, tidak menikah dan bepergian ke berbagai tempat. itu soal nasib memang. biar segalanya berjalan dulu.”
“haha, kamu payah.”
“bisa kita bicara hal lain saja?”
“kamu pasti mau mbulet soal ke-etnisan-mu.”
“haha tahu aja. aku cuma ingin membaca banyak hal, supaya pikiranku tidak mati.”
“apa yang kau dapat dari rutinitas itu?”
“banyak. kamu nggak akan tahu bila tidak suka baca.”
“kurasa efeknya cuma seperti rokok.”
“nggak juga.”
“nyatanya kamu sudah habit dengan itu.”
“entahlah.”

#9

tak ada pagi yang lebih hening dari pagi yang hanya merindukan sendiri untuk membaca. juga bahwa kenangan menemaniku dengan iblis dan malaikatnya sendiri. ia juga pernah kusinggahi, seperti mengantar ke masa depan. aku terbiasa merangkum seluruh pagi yang sebentar ini, sebelum segalanya kembali bergegas dan ramai. sebelum segalanya memberat dengan kehidupan di sekitarnya.

tapi hari ini cukup dramatis bagiku. pertama, aku bertemu kembali dengan teman lama yang dulu masih galau bareng, sekarang sudah bahagia dengan keluarganya, dan juga memiliki bayi laki-laki yang lucu. nggak menyangka ya. sudah hampir dua tahunan tidak bertemu, segalanya sudah berubah. dia bahkan heran dan mengira aku masih bersama mimpi yang dulu. hm, btw, lucu banget bayinya. sayangnya temanku cuma sebentar di Jogja, mampir hanya untuk mengantar suaminya ke bandara.

kedua, sejak pagi, seperti biasa, aku bercengkrama dengan setumpuk referensi yang berhari tidur bersamaku di atas tempat tidur. dan aku menemukan bahwa atheis tidak hanya soal ketidakpercayaan adanya Tuhan atau hanya wilayah religiusitas. ia juga berlaku pada etnis, di mana seseorang tidak percaya bahwa etnis membawa identitas dan nasib. Mengingat bahwa etnis adalah pemacu adanya konflik di muka bumi dalam jumlah yang tidak sedikit, aku jadi berpikir ulang soal ke-etnis-anku sendiri. kurasa, bila etnis sebegitu menjadi pusat penting dalam mengubah dunia, mengubah segalanya, dan berpengaruh begitu besar pada kehidupan manusia, aku memilih jadi agnostik. sebab sebagai agnostik dalam hal etnis, kau tak bisa menemukan bahwa etnis sedemikian memiliki pengaruh pada kehidupanmu. bila aku kebetulan bukan jawa, dan malah warga bosnia, madura, atau malah makassar, apakah aku tidak bisa memiliki kehidupan yang seperti sekarang? apakah berarti salah bila aku tinggal di Jogja dan mencintai gamelan, karena aku keturunan tibet (misalnya)? apakah aku pun juga tak berhak dicintai sebagai seseorang?

ketiga, aku suka iseng membongkar masa lalu lewat catatan harian. dan menemukan bahwa catatan harianku di tahun lalu begitu banyak membahas dua hal dalam kontradiksi: sebelum segalanya pasti, segala hal adalah yang dekat dengan kemungkinan yang bisa berubah sewaktu-waktu. hidup ini fleksibel dan misteri. dan masa lalu memang membuatku belajar memposisikan rasa ragu dan pasti pada tempat yang semestinya. tapi di ranah dunia, apakah ada yang bisa menjadi abadi? dan untuk itulah, kupikir, usia diikatkan pada perjalanan manusia, semoga selama hidup, selama tubuh masih berkerabat dengan nyawa, bisa kuhabiskan usiaku untuk belajar. dengan cara apa pun itu.

#8

Cukup cerah pagi ini. dan sebelum melewati masa adaptasi lapar, biasanya aku memang agak susah fokus dengan pekerjaan. Tapi setelah adaptasi itu terlewati, semuanya bisa seperti mudah diajak damai.
Hari-hari begitu cepat berganti untuk rutinitas hidupku yang masih kacau balau. Meski demikian, matahari masih bersinar dengan cantiknya dan udara terasa sejuk dan melapangkan. Memang benar kata seorang esais, GM, bahwa pagi adalah repetisi dan kelahiran kembali. Di mana di dalamnya, akan ada banyak hal ditemukan dan seperti baru. Dan memang rasanya seperti selalu menemukan hal yang tak sama setiap pagi tiba.

Aku masih sulit mengingat mimpiku minggu-minggu belakangan ini, tapi cukup baik mengingat hal yang kutemui sebelum tidur. Ceramah tarawih di masjidku menarik. Mungkin karena kebetulan beliau seorang dokter bedah di salah satu rumah sakit di kota ini, lalu mengaplikasikan Islam di dalam profesinya, sehingga baginya, fenomena ajaib yang dialami pasien-pasiennya adalah keajaiban kiriman Tuhan. Dan itulah yang memiliki sisi berisinya. Peristiwa-peristiwa kehidupan manusia secara mikro yang ditarik untuk menganalogikan dan membuktikan eksistensi Tuhan dan kebenaran agama. Setelahnya dirangkum untuk dimaknai. Kurasa, cara ceramah yang demikian pastilah diterima jamaah dengan riang dan terbuka. Eh, kenapa malah jadi mengomentari ceramah?

Omong-omong, tafsir Almisbah pagi ini juga cukup keren (yeah, harus ada alasan yang kuat mengapa aku harus menyetel benda bernama TV itu). Ustadz Quraish di edisi ini, mengingatkan bahwa, penting bagi manusia mempercayai “hari kemudian” sebab itu akan berpengaruh pada kehidupan sekarang. Islam mengenal akherat dengan ‘surga’ atau ‘neraka’ di dalamnya, sebab manusia butuh mempercayai konsekuensi di masa yang akan datang. Mengingatkan bahwa manusia memang mesti seimbang antara dunia dan akherat. Keren dan betul sekali. Logisnya, inget dunia menuntun pada kesalehan sosial, ingat hari kemudian memotivasi untuk saleh secara individu. Jadinya seimbang.

Jadi bayangin bagaimana orang hanya hidup di masa sekarang dan tak percaya nanti. Atau malah hanya hidup di masa kini dan masa lalu. Aku bisa bayangin kesulitannya. Tapi yakin, mereka yang tega melakukan korupsi dan penyelewengan-penyelewengan lainnya itu hanya percaya hari ini dan tak beriman pada “hari kemudian”, bahkan juga lupa akan asal muasalnya di masa lalu. Mereka yang dengan entengnya melakukan penghianatan itu bukan tak bisa mempercayai hari esok, tapi memang tidak mau tahu soal itu.

Tapi semalam adalah saat damaiku. Di mana sepertinya aku bisa merasa mengitari dari dekat ke arah asal muasal. Ah, Tuhan… sekalipun aku masih amburadul soal ibadah harian, aku cukup yakin kasih sayang-Mu begitu penuh dan seluruh. Benar kata Ust. Qurais Sihab: bahwa Engkau justru senang bila makhluk-Mu mengingat dan berdoa, sekuat mungkin, seterang mungkin. Juga sesering mungkin.

Sebab Tuhan memang Mahabesar, kitalah yang sebutir debu.

#7

Rasanya aku bakal banyak mikir hal ilmiah hari ini, meski didera “enggan”.

Ketika aku bangun pascasahur pagi ini, yang terlintas adalah: rasanya hari ini bakal malas. Mataku pedas, dan badanku lemas. Tapi mungkin ini memang wajar dialami, atau akunya yang memang pemalas.

Begitu cepat waktu berlalu. Dan begitu sedikit rasanya aku belajar dan bekerja. Rasanya tak pernah cukup. Seolah tak selalu sanggup. Perasaan masih hari Rabu, tapi kenyataannya telah hari Kamis. Perasaan masih jam 6, ternyata sudah jam 8. Perasaan semalam kurang tidur, padahal kenyataan sudah lebih 10 jam nggak sadar dunia luar. Perasaan kemarin ingin menulis sesuatu di hari ini, kenyataannya mudnya hilang entah ke mana. Perasaan buku-buku yang kupinjam di perpus kota masih minggu depan batas pengembaliannya, rupanya sudah terlambat 2 hari. Begitu tidak mix-nya antara perasaan dan kenyataan. Itu membuatku merasa tak pernah normal.

Tapi, entah kenapa sejak sahur tadi, aku berpikir seputar hormon. Memang sih dulu sudah pernah memikirkan soal ini. Tapi lagi-lagi kepikiran.
Seperti yang kita tahu, hormon merupakan zat aktif yang dihasilkan oleh kelenjar endokrin, yang masuk ke dalam peredaran darah untuk mempengaruhi jaringan secara spesifik. Hormon juga bekerja sesuai fungsinya.
Misal hormon oksitosin, diproduksi oleh suatu struktur di otak bernama hipotalamus. Hormon ini mempengaruhi perilaku manusia dan banyak dihasilkan saat sedang jatuh cinta. Nah akan berkurang bila ia tidak dalam kondisi bahagia. Selain itu ada juga hormon yang fungsinya sampai pada pertumbuhan fisik makhluk hidup.

Yeah, entah apa jadinya manusia lahir tanpa hormon? Entah bagaimana tumbuhan dan hewan juga hidup tanpa itu.

Inget hal yang sempat diceritakan oleh salah satu teman waktu sesi sharing ladies area setiap istirahat makan siang, bahwa konon kesuburan wanita dan produksi ASI adalah hasil kerja hormon, dan sebelum itu, ia dipengaruhi oleh mindset–yeah, sesuatu yang ada di kepala kita. dan juga perasaan?
Jauh dari hari ini, aku sempat menemukan bahwa memang ada hubungannya ketidakbahagaan masyarakat single dengan hormonnya, dan itu mengalami perbaikan setelah seseorang berpasangan kembali dan menjalin hubungan yang harmonis di sana–dalam hubungan yang ‘pasti’ tentunya. Sebelum itu, hormon akan sering mengalami krisis. Dalam banyak artikel yang sempat kubaca, hormon memiliki pengaruh yang cukup signifikan pada emosi seseorang. Lalu, pastilah berdampak juga pada karakter. Apakah itu alasan agama menganjurkan menikah? Karena hormon ini? Tapi apakah tidak cukup sempit bila anjuran itu dikarenakan hormon semata? Sepertinya terdengar konyol.

Lantas, seberapa penting hormon bagi segala sesuatunya? Mungkinkah kita bisa mengakui eksistensi cinta? Mungkinkah ada sesuatu yang disebut afeksi atau minimal empati?
Ataukah tanpa hormon, manusia bisa saling membutuhkan dan bersama?
Rutinitas puasa ini, apakah ada hubungan dan efeknya juga dengan hormon? Apakah akal tidak terlalu berpengaruh?
Atau sebetulnya, hormon hanya reaksi tubuh (secara fisik) dan tidak ada hubungannya dengan “akal”?
Hormon yang mempengaruhi akal, atau akal yang mempengaruhi hormon?
Apakah akan ada sejarah peradaban tanpa hormon?
Eh, jangan-jangan perang dunia ke-2 di masa lampau, pembantaian di Gaza, atau kasus di Mesir baru-baru ini, dan sebagainya itu, juga merupakan produk hormon beberapa gelintir manusia saja?

Kenyataannya, manusia seolah hidup dengan begitu tergantung hormon.

Hormon apa yang kira-kira sedang bermasalah di dalam tubuhku hari ini?

#6

Pagi ini hening dan dingin, ketika aku bangun tidur setelah sahur. Pagi yang menawarkan rasa kantuk berkelanjutan. Masuk jam setengah 9 pagi tetap saja membuatku nyaris buru-buru. Namun yang kusuka dari pagi ini adalah harmoni, di mana tentu saja, puasa dilaksanakan dengan kompak oleh semua golongan muslim, yang kemarin, berbeda keyakinan tentang 1 Ramadhannya. Bukankah indah yang seperti ini? Kebersamaan dengan tetap menghargai hak asasi individunya… Agama lebih terasa menyatunya, daripada sebaliknya. Dan nuansa tenang seperti ini memang lebih banyak ditemukan di bulan puasa.

Aku masih menghabiskan waktu dengan baca buku dan merenung di atas tempat tidur sebelum memutuskan mandi dan berangkat kerja. Menulis sedikit saja. Acara tafsir almisbah, masih ada. Syukurlah, sehingga ada yang akan rutin kusimak sambi makan sahur sebulan ke depan.

Hari ini aku cukup ketinggalan acara. Tapi sempat menyimak sesi terakhir, di mana seorang artis yang saat itu sedang ada di acara melontarkan pertanyaan bertema jilbab. Intinya, bagaimana bila seorang istri dilarang pake jilbab oleh suaminya, jawaban keren dari Pak Ustadz adalah supaya kita tahu mana yang lebih urgen dari permasalahan jilbab ini. Apakah pemenuhan ibadah berjilbab itu sendiri atau keutuhan rumah tangga. Dan penjelasan lain, hanya bisa kurekam di benak sebab terlalu panjang. Tapi aku cukup mengerti. Agama Islam bukan sesuatu yang kaku untuk ditegakkan. Bukan juga hal yang bersifat memaksa tanpa memikirkan banyak aspek.
Memang sih, pendapat demikian bakal merupakan kontroversi.

Aku memang suka kontroversi, tapi tidak terobsesi. Dan meskipun dalam keluarga dan masyarakat di sekitarku, tafsir Quraish Shihab akan selalu kontroversi, terutama tentang jilbab–yang belakangan sudah lebih diubah bahasa penjelasannya. Dan ustadz keren yang moderat dan cerdas ini menafsirkan Alquran dengan cara yang akan membuat penyimaknya memahami dengan pemikiran, tidak dengan bentuk doktrin. Sebab doktrin mengharuskan seseorang setuju dan menerima tanpa bantah, sedangkan penjelasan kritis tidak selalu, malah lebih mengajak penyimaknya berpikir dan menimbang dengan akal sehat. Konon ustad ini juga tidak terlalu memberlakukan hal keras dalam keluarganya. Hanya satu putrinya saja yang menggunakan jilbab. Kata beliau: yang terpenting adalah berpakaian terhormat. Dan kurasa pendapat ini akan tetap memiliki sisi benar di tengah zaman edan sekarang, zaman di mana perempuan masih bangga mempertontonkan bagian tubuh yang mestinya ditutupi dan mestinya dilindungi.

Soal jilbab aku memang tak bisa men-judge. Persoalan beda hijab dan jilbab saja sejak tahun lalu sudah jadi polemik di mana-mana. Namun, jika jilbab dikerucutkan dengan hukum-hukum tertentu, bagaimana emak-emak yang garap sawah di pedalaman bantul misalnya, yang notabene sekalipun mereka hanya pakai kebaya, berjarik, gak berjilbab seperti akhwat-akhwat aktivis kampus, tapi mereka rajin salat dan dekat dengan kehidupan religius? Lalu bagaimana masyarakat pedalaman lain yang bahkan tidak mengenal kerudung, dan mereka juga punya tradisi sendiri tentnag aurat dan cara melndunginya? Hanya Tuhan yang tahu. Alquran memang terlalu agung untuk ditafsirkan beberapa versi saja. Dan aku juga terlalu ‘polos’ untuk menjelaskannya.

Dan soal jilbab, aku nggak bisa menjelaskan syarat tepat, hanya bisa menyimpulkan garis besarnya seperti ini: orang bisa memutuskan tidak berjilbab asal menjalaninya dengan sepunuh keyakinan. Tapi bila seorang wanita telah memutuskan menggunakan jilbab, pertama, maka ia sudah memutuskan untuk jadi muslimah yang ingin dihormati secara harkat dan martabat. Kedua, berarti dia memutuskan untuk berpenampilan tidak mencolok dan pamer (entah dalam cara berpakaian, make up berlebih, atau highheels 20 cm-misalnya)—sampai mengalahkan yang tidak berjilbab. Ketiga, orang mesti tahu bahwa mereka memiliki privasi yang dihargai—soal aurat itu. Dan keempat bahwa ia telah menghormati dirinya sendiri dengan menolak sebagai objek (ini ranah feminisme sebetulnya). Sebab sebagai objek, ia akan rentan diremehkan dan direndahkan, juga cenderung jadi korban. Subjek membuat perempuan setara dan tidak dipandang hanya semata fisik. Itulah mengapa jilbab juga merupakan identitas, di mana semestinya–si pemakai sudah dapat dikenali bahwa mereka “muslimah”. Patokannya pada niat. Lucu kan kalo berjilbabnya cuma dengan bawa kepentingan fashion semata?

Nah, selebihnya, biar tugas ilmu agama yang menerangkan, aku sendiri tentunya tidak berkompeten karena belum mendalaminya. Kondisi kita memang seperti ini: yang telah tahu dan yakin biarlah mereka dengan keyakinannya, tapi bagaimana yang masih tidak tahu, mencari, meragukan, atau terjebak hawa nafsunya sendiri? Memang sih tidak dengan kekerasan menerapkan hal-hal yang baik. Salah juga bila membiarkan seperti tidak ada apa-apa. Zaman yang kita jalani, lebih kompleks dari sekadar pemahaman kita soal kitab. Kontroversi terjadi sebab ada berbagai keyakinan yang beranjak dari tafsir dan pemahaman yang berbeda pula. Tapi kitab suci selalu universal.

Aku yakin kitab suci selalu menyimpan penjelasan yang mendalam dan lengkap. Apalagi Alquran. Untuk itu, kita memang mesti terbuka sejak dalam pikiran. Dan mencarinya dengan niat yang bersih, “tanpa kepentingan pribadi ataupun golongan”.
Meskipun demikian, kita sebagai manusia, takkan bisa mengajar kebenaran hakikinya. Istilah klisenya: hanya bisa berusaha. Dalam hal jilbab ini sih, ada kelompok Islam yang karena tafsir, mereka mewajibkan cadar. Ada yang secara tafsir juga mengharuskan hanya wajah dan telapak tangan saja yang kelihatan. Ada yang secara tafsir, boleh lengannya tangan sampai siku yang terlihat. Dan lain sebagainya. Aku sendiri belum mendalami tafsirnya. Butuh belajar lagi dan lagi.

Intinya jalani hidup ini tanpa beban dan keterpaksaan. Sebab Tuhan mengirimkan agama bukan untuk mengekang apalagi menyiksa umat-Nya.

#5

Kali ini tidak tentang pagi. Tapi malam, saat-saat menjelang aku (boleh) salat setelah seminggu tidak salat. Negara menetapkan 1 ramadhan jatuh besok hari. Tanggal 10. Tapi sebab kampungku mayoritas penganut Muhammadiyah, juga mayoritas daerah di kota Jogja, maka hari ini sudah banyak yang memulai. Akhir-akhir ini di negeriku masih begini keadaannya, masalah 1 Ramadhan bisa jadi polemik dan bahan perbincangan yang tidak selesai. Maklum, pluralitas masih melekat di masyarakatnya. Bahkan sekalipun dalam bendara agama yang sama. Menurutku keberagaman mestinya tidak harus ditunjukkan dengan perbedaan yang begitu jurang. Bukankah agama itu sendiri ada untuk menyatukan umat dan malah lebih bisa disebut “cara” memahami?

Tapi gambaran suatu agama dilihat dari, contohnya, masjid di kampungku. Setiap Ramadhan berarti masjid akan ramai di waktu salat dan terutama tarawih. Gedung itu telah dibersihkan jauh-jauh hari. Kepanitian dibentuk sematang mungkin dengan persiapan yang tidak sederhana. Anak-anak kecil yang akan ikut TPA rutin bahkan akan menyadari bahwa bulan ini “beda”. Sajadah digelar lebih lebar. Disediakan space luas di sana karena jamaah akan lebih banyak dari bulan-bulan biasanya. Di dekat pintunya akan dipasang papan besar, yang berisi jadwal takjilan sampai nama penceramah dan imam tarawih hingga H-1 lebaran—di mana setiap orang bakal bisa membacanya. Dan orang akan tahu kapan tidak perlu berangkat tarawih bila pengisi-pengisi tarawih tertentu terkenal paling lama gerakan salat dan durasi berdoanya. Akan ada banyak kegiatan yang pusatnya di masjid. Dengan jenis kegiatan yang barangkali juga sama dari tahun ke tahun.

Tapi aku, mereka, beberapa yang lainnya, barangkali akan bertanya, apa yang akan berkembang dan bertambah di bulan suci, sebulan ke depan? Apa yang sebetulnya bakal mengalami kemajuan atau semacam keberhasilan? Apakah Ramadhan benar-benar akan memiliki pengaruh nantinya untuk kehidupan umat secara keseluruhan, atau bagi setiap individunya?

Ambil contoh kecil: isi ceramah. Dengan tema yang juga sama dari tahun ke tahun. Dengan isi yang sebetulnya stagnan dari waktu ke waktu. Apakah ceramah yang demikian bisa jadi salah satu faktor perubahan umat di kala Ramadahan berlangsung?—minimal inspirasi? Semoga. Tapi baiklah, curhatku belum selesai.

Salat itu sendrii sudah merupakan ritual monoton bila dilihat dari segi gerakan, dan urusan kekhusyukan tentunya milik perseorangan. Namun isi ceramahnya, dengan orang bisa menebak isinya, lalu apa yang bakal mengalami kemajuan di benak jamaah tersebut? Seperti malam ini.
Seperti biasa jamaah putri ada di lantai bawah di hari-hari awal ramadahan. Karena masih ada semangat yang cukup membara. Namun ketika ceramah dilangsungkan, sebagian jamaah terlihat sibuk ngbrol dengan sampingnya, sebagian ada yang mengantuk, barangkali di sudut lain ada yang usil membawa smart phone dan setelah itu sibuk di dunianya, kujamin sebagian kecil saja yang mendengar ceramah. Dan yang mendengar pun belum tentu benar-benar menyimak karena hal puasa dan hukum-hukumnya sudah setiap tahun dibahas, di masjid, di pengajian, di televisi, di radio, di mana pun. Mereka menghapalnya di luar kepala.

Jika sudah begitu, tiba-tiba telintas ide, andai nggak terlalu ekstrem, ingin rasanya membawa buku ke masjid, selain bisa melaksanakan ibadah Isya dan Tarawih berjamaah, tetep bisa membaca hal-hal baru yang kubutuhkan atas nama keingintahuanku akan ilmu. Belajar bisa berbagai macam bukan? Walapun tentu tidak bisa sembarang cara. Sekalipun, belajar juga termasuk ibadah di bulan puasa.

Memang sebetulnya tidak lazim demikian, bagimana pun juga, kita tidak bisa memposisikan penceramah sebagai alasan kebosanan beribadah atau terhentinya pergerakan keimanan. Mereka para penceramah, atau imam, ustadz, atau siapa pun yang mengisi tarawih, adalah orang-orang yang kebetulan diserahi tanggung jawab, yang juga telah ratusan kali dikerjakan. Dan juga mungkin terbesit rasa jenuh, atau malah sudah pengin resign tapi terlanjur dicap ustadz. Haha, semoga ini cuma ada dalam imaji usilku.

Yeah, memang beginilah nuansa di masjidku. Bentuk kecil dari kehidupan beragama. Namun memang benar sih, yang paling penting dari semua ritual ini adalah bagaimana hati kita bisa berkomunikasi dengan Tuhan dan dengan kondisi yang barangkali telah mengalami perubahan dari tahun sebelummya. Aku yakin Tuhan sendiri mencintai perubahan yang dijalani umatnya, perubahan yang tidak memburuk tentunya. Tapi bagaimana bisa dirasakan, bila acara tadarus pasca tarawih saja masih berupa membaca Alquran (dengan target kolektif para pembacanya: harus habis 30 juz sampai Ramadahn usai), tapi tidak membaca terjemahan atau tafsirannya?

Aku sempat khawatir tentang itu, tapi tidak akan bawa kekhawatairan nggak penting ini di hari-hari selanjutnya. Takut mubadzir. Berharap segalanya akan berlangsung dengan baik dan berhasil saja.

Hm… Mengingat Ramadhan mengingat juga acara tafsir Al-Misbah Ustadz M. Quraish Shihab yang entah apakah masih mengisi acara sahur di salah satu stasiun televisi. (Sebandel-bandelnya aku, masih sukalah dengerin ceramah. Suka pilih-pilih juga). Ingat Ramadhan ingat juga bahwa konon doa-doa di bulan ini diberkahi, juga amalan-amalan yang lainnya. (tentang “amalan”, pastinya ada sisi filosofis di balik istilah itu).
Ingat Ramadhan, mengingat juga pembicaraan beberapa orang yang pernah kusimak belakangan. Apakah agama cukup dilaksanakan dengan pikiran, dengan pencarian kebenaran hukum-hukum, dengan patokan-patokan yang umat terdahulu terapkan? Atau dengan ke-arab-an?

Apakah islam harus selalu arab?
Apakah islam harus syariat?
Apakah puasa harus islam?
Apakah salah, bila beragama juga membutuhkan imaji dan perasaan?
Dan untuk itulah, aku butuh mencari. I’m Serious.

#4

pagi yang sepi, dan memang selalu sepi. tatkala terbangun hari ini, tiba-tiba merasa malas dan tidak berhasil. entah kenapa. tapi hari ini, aku mesti mempertahankan kematangan tentang rencana. semua itu.
hidup memang harus dimulai.
sepi mesti dirangkul dengan karib dan diterima dengan senang hati. karena mau bagaimana lagi.

ada yang ramai di sekitarku, burung-burung liar berseliweran dengan suara sedang dan sebentar. cuaca belum begitu hangat, cahaya belum juga terang. jam menuju pukul 7, dan aku memang mau tidak mau harus berangkat melakukan sesuatu.

tapi, ada damai yang menyapa. ah, ramadhan akan segera tiba. tanggal berapa pun itu dimulai tidak masalah bagiku. sebab yang penting bukan kapan, tapi bahwa aku akan kembali berdekatan pada asal muasal perjalanan. entah kenapa, hanya ramadhan yang memiliki nuansa setara kampung halaman.

#3

aku selalu suka pagi yang seperti hari ini. cuaca mengandung rasa dingin yang pekat dan rekat. angin yang berhembus hampir tak terlihat, juga cahaya matahari yang tidak begitu terang. dan di luar pun tak begitu ramai.

barangkali karena aku selalu butuh berada pada kamar yang hening, namun hening yang menjangkau. hening yang merenungi. hening yang mendamaikan. hening yang selalu membuatku dikejar pemikiran dan rencana hidup pada menit-menit setelah kuceceap kopi.

yeah, kurasa, memang tidak ada pagi yang akan membuatku berpikir untuk tidur saja seharian ini. tapi aku suka pagi yang seperti hari ini.

#2

Pagi ini, aku seperti enggan bangun. Didekap rasa bahagia dan sedih dalam waktu bersamaan.

Bahagia karena aku masih menjalani hidupku yang sekarang, sedih karena demi masa kini dan masa depan, memang aku harus kehilangan sebagian besar hal di masa lalu: kebersamaan dengan teman-teman kampusku (seperjuangan), mereka yang sempat kusebut sahabat.
Ah, kenangan berdatangan lagi—mereka yang sempat kumaknai sekalipun tidak memaknaiku, sebab hal apa pun itu selalu kutuliskan dalam ingatan. Terlebih mendengar kabar bahwa satu lagi temanku berbahagia karena kelahiran putra pertama, dan juga beberapa dari mereka belakangan ini mengalami kebahagiaan yang serupa. Yeah, meskipun aku tidak dengar langsung dari sumbernya. Ya sudah. Setidaknya aku bahagia untuk yang terbaik bagi mereka. Kebahagiaan bisa dirasakan dari jauh.
Di saat yang bersamaan, aku juga mesti bersedih karena satu lagi teman sekantor sekaligus sahabat, akan resign dalam waktu dekat ini. Menyusul seorang sahabat yang lain yang juga telah resign. Dan di titik inilah, rasa sedih terasa lebih kuat, sebab mereka selalu setiap hari dekat.

Namun demi kebaikan, rasa bijak dan harapan yang terbaik kepada kawan selalu lebih banyak berbicara,

Sungguh pagi yang membingungkan dan nuansa yang membuatku sedikit berat untuk beraktivitas. Tapi Tuhan Maha Mengerti, digantikannya semuanya yang hilang dengan hidup yang berjalan dalam proporsi yang seimbang. Dan juga dengan makna yang takkan kehabisan tempat.