kaleidoskop

Saya lebih ingin berdoa hal-hal baik di tahun mendatang serta melupakan hal-hal pedih dan tidak menyenangkan di tahun 2013. Bila boleh, saya ambil saja hal positifnya dan melupakan hal yang sebaliknya. Sebab kurasa itu lebih mudah daripada membuka lagi lembaran masa lalu dan akhirnya jadi ganjalan yang mestinya sudah selesai ketika tahun berganti.
Tahun 2014 mendatang saya memiliki beberapa rencana ekstrim. Dan berharap mengalami perubahan dan kemajuan ke arah baik. Pokoknya yang baik-baik saja.
Maaf kawan, semula kaleidoskop sudah selesai ditulis jadi 3 halaman kemarin hari. Tapi saya berubah pikiran.

Semoga sukses buat kita semua.

Bismillah 🙂

 

*untuk teman-teman Penamerah

Iklan

Kenangan dalam Selegit Kopi: The Coffe Memory

Coffee MemoryJudul buku : The Coffee Memory
Penulis : Riawani Elyta
Penerbit : Bentang Pustaka
Jumlah hal. : vi + 226 halaman
Tahun terbit : 2013

“Aroma kopi” seperti menguar ketika saya membeli novel ini beberapa waktu yang lalu, dibungkus dengan unik, dan cover bergambar biji kopi. Tak jauh dari hobi saya meracik dan menikmati kopi di setiap kesempatan, akhirnya saya pun penasaran ingin membacanya. Terlebih sesuai dengan judulnya, novel ini diracik dalam buku ini bercerita tentang kenangan dan kopi.

Pada beberapa bab awal, saya masih merasa sendu. Novel ini mengandung deskripsi unik yang mengalir dengan sederhana namun apik, sehingga kesedihan dan kebahagiaan digambarkan seperti benang tipis. Membuat saya mampu masuk dalam kondisi dunia si tokoh utama dan orang-orang di sekitarnya.

Dalam kenangan, seseorang akan selalu berhadapan dengan sebuah dimensi yang akan terus membayangi mana pun ia berada. Ia sanggup merapuhkan atau menguatkan. Hal itulah yang akan ditemukan dalam komposisi novel ini. Seperti yang diilustrasikan di dalamnya.

The Coffe Memory bercerita tentang seorang ibu muda bernama Dania yang memperjuangkan hidupnya dengan melanjutkan usaha kafe. Suaminya, Andro, pecinta kopi dan dan seorang barista, meninggal dalam sebuah kecelakaan dan meninggalkan seorang anak dan coffe shop. Sejak itu, Dania berada dalam keterpurukan. Tak mudah baginya melupakan sang suami, sedangkan apa pun yang menyangkut kopi selalu mengingatkannya. Namun di tengah keterpurukan itu, ia harus bangkit untuk bertahan hidup dan juga mempertahankan Katjoe Manis, kafe yang telah ia bangun bersama Andro bahkan sejak mereka belum menikah. Terlebih ada Sultan di sampingnya, putra semata wayang yang harus dipikirakan masa depannya.

Cinta platonis, selayaknya kopi pertama yang membuatmu terkesan, sangat terkesan, hingga tahun-tahun yang berlalu tetap tidak mampu menerbangkan memorimu akan cita rasa, aroma dan jenisnya, dan akan tetap mengenangnya sebagai kopi terbaik meski setelahnya kamu mengenal dan menghirup puluhan jenis kopi lain. (halaman 117)

Rupanya tidak mudah mempertahankan Katjoe Manis seorang diri, terlebih bila tetap terjebak dalam cinta platonis terhadap seseorang yang kengannya selalu ada tiap kali aroma kopi tertangkap penciumannya. Ia harus menyusun segalanya kembali. Ia bahkan merekrut barista baru dan membuatnya bertemu dengan Barry, barista berbakat yang memutuskan keluar dari kafe bergensi hanya untuk bekerja di Katjoe Manis. Bahkan tatkala diwawancara, ia menyampaikan alasan kecil: karena telah mengenal Andro sebelumnya melalui dunia maya.

Beberapa karyawannya pindah karena kevakuman kafe pasca meninggalnya Andro. Persaingan bisnis di Batam, lokasi di mana Katjoe Manis berada, semakin ketat. Terlebih ketika muncul Bookafeholic yang rupanya menempati rangking kepopuleran lebih melesat membuat kondisi Katjoe Manis di ambang bangkrut. Rupanya, kafe baru milik Pram, salah seorang pengagum Dania sejak SMA yang tidak menikah karena masih mencintai Dania. Namun Pram juga salah satu saingan terberat Dania. Terlebih ketika stafnya mengambil salah satu barista Katjoe Manis.

Dania tentu tidak tinggal diam. Bersama Ratih, Barry, sisa semangat hidupnya, ia mencoba bangkit dan mencari cara supaya para kafe tetap ada. Sekalipun dalam perjalanan itu, Dania dihadapkan oleh pilihan-pilihan, terutama yang datang dari Redi, abang iparnya, untuk menyerahkan kafe tersebut hingga menggantinya dengan bisnis warung kopi franchise.

Bisnis soffe shop tidak semata soal nominal dan profit, tetapi juga di dalamnya ada passion, antusias, dan rasa tanggung jawab. (Halaman 45)

Mempertahankan kafe seperti halnya mempertahankan pendirian, kenangan mendiang suaminya, dan identitas kafe itu sendiri. Kopi tidak hanya berorientasi pada kepopuleran maupun material semata, namun ada nilai di balik itu semua. Komposisi, cita rasa, mutu, dan bahkan cara mengolahnya menentukan kualitas yang tersaji pada secangkir kopi. Dan lebih penting lagi, kenangan rupanya menguatkan tekadnya untuk mempertahankan visi misi Katjoe Manis dari awal mula.

Belum lagi usahanya memperlihatkan perkembangan signifikan, kafe Katjoe Manis mengalami kebakaran dan membuat salah satu pegawainya patah kaki. Bersaman dengan itu, Sultan, anak samata wayangnya, diopname karena DB. Sementara Pram tak berhenti mengejar Dania dengan berbagai cara romantis untuk melamarnya. Semakin Pram mengejar, sekuat itu juga Dania menghindar. Ia justru lebih membutuhkan Barry, barista yang telah sering membantunya, menguatkannya, bahkan memberinya berbagai ide untuk kemajuan kafe. Meskipun ia belum mengerti mengapa.

Barry yang justru sering mengiriminya email seputar bisnis kafe dan motivasi membuat Dania sadar bahwa tindakanya untuk Katjoe Manis tergolong tidak biasa. Dari blognyalah, rahasia itu terungkap. Barry rupanya bukan baru saja mengenal Andro, melainkan telah lama. Yang lebih mengejutkan lagi, rahasia yang ia simpan selama ini mampu membuat Dania sangat bimbang.

Rubuhnya kafe karena kebakaran tidak menyulut semangat para pegawai yang terlanjur telah mencintai kafe dan menghormati pemiliknya yang telah tiada. Saat itulah ia merasa tak sendiri, sebab di samping hubungan kerja dan bisnis, ada nilai yang tak bisa diukur dengan materi. Kebersama dan kekeluargaana. Tapi seseorang pada akhirnya memberi warna lain bagi hidup Dania. Bahkan mengantarnya untuk kembali mencintai dunia kopi secara keseluruhan dan kesungguhan.

Secangkir kopi adalah jembatan kenangan dan komunikasi yang paling hangat. Dan, bersamanya, kita bisa menciptakan momen-momen spesial dalam secercah perjalanan hidup. (halaman 16)

Cerita dalam novel ini tidak sekadar cerita perjalanan hidup biasa, tapi juga tersaji utuh dan berakhir dalam ending yang membuat saya tersenyum. Cinta, kopi, dan perjuangan di dunia bisnis coffe shop adalah tema besar buku ini. Informasi mengenai kopi dan beebrapa quote tentang hidup yang ditambahkan dalam novel tersebut cukup menginspirasi. Narasi dan dialog tokoh-tokohnya yang kadang menggelikan kadang mengharukan, tersaji dengan komposisinya pas dalam gaya bahasa yang ringan dan mudah dipahami. Membaca novel ini seperti menikmati secangkir cappuccino di pagi hari dengan ditambahi sedikit kayu manis bubuk. Harum, legit, creamy, dan menyegarkan.

Buku ini recommended bagi siapa pun pecinta kopi dan buku.

kopi, buku, hujan, dan musik: 4 perpaduan yang saya suka :)

@rantingkemuning

Hidup itu…

Please... hidup itu cuma sementara.
Yang sekarang suka, besok jadi tidak itu mungkin terjadi. Dulu kita kecil, kelak keriput dan keji. Kita bahkan nggak tahu kapan kita berakhir. Nggak perlu silau dengan hingar, toh nanti juga redup sendiri. Dan berganti terang dan redup lagi sesuai jatahnya.

Hiduplah sebaik mungkin untuk orang-orang yang benar-benar “membutuhkan“-mu, bukan “menggunakan“-mu.

sejarah

Bentuk itu, kisah sejarah itu, terbangun oleh kenangan, bukan oleh ingatan. Saya membedakan ingatan dari kenangan. Yang pertama rekaman pengalaman yang kita bayangkan tersimpan di sebuah ruang imajiner dengan label “masa lalu”. Ingatan mudah ditata. Kenangan sebaliknya: ia tak tertata dalam ruang terpisah. Ia mengalir memasuki masa kini, bagian dari masa kini, mengubah secara kualitatif masa kini. Kenangan membikin masa lalu manunggal dengan semua masa. Waktu bukan ruang yang terkotak-kotak.

cuplikan catatan pinggir hari ini.

 

belajar nulis puisi

Kantorku baru saja dapat pesanan souvenir berbentuk kalender. Di setiap halamannya terdapat foto calon pengantin dan ada sebait puisi di sana. Ceritanya, kalender berisi foto dan puisi itu mau dipakai untuk souvenir pernikahan. Para editor, selain lagi sibuk garap naskah, mereka juga lagi nggak PD nggarap puisi yang katanya bakal dipasang di setiap foto, yang tertera di kaleder tersebut.
Akhirnya, berhubung gaweanku lagi agak longgar, akhirnya tugas itu dilimpahkan ke aku…
Yeah, baiklah, itung-itung sambil membiasakan lagi nulis puisi :))
Tapi setelah jadi dan kukirim ke desain, toba-tiba merasa down lagi, enggak tahu deh ini puisi cocok nggak buat souvenir pernikahan 😐

 

1 (di foto prewed pasangan yang lagi mancing di pinggir laut)

Sampaikan pada sepotong senja di pantai ini:
aku ingin tinggal di jejak matamu
yang abadi di ingatanku…

 

2 (dipasang foto si calon mempelai yang lagi nyuci motor bareng)

Aku akan terjaga sepanjang malam
menjaga mimpimu
sebab aku tak memiliki kata-kata untukmu,
selain yang ingin selalu kupandang dalam dekat dan kejauhan

 

3 (di dalam foto pasangan yang sedang ngobrol di balkon)

Kita akan memiliki seribu pagi,
embun yang bercengkrama di ujung dedaunan,
dan bunga-bunga yang mekar di pekarangan
untuk kita tetap bersama

 

4 (di foto calon mempelai yang lagi salat berjamaah bareng)

Aku ingin selalu menjumpai-Nya
sepanjang hidupku,
dalam segenap napasku,
dengan engkau tetap berada di sampingku….

 

5 (di dalam foto calon emmpelai yang lagi bertunangan. si pria sedang memasang cincin di jari si wanita)

Hari ini aku bercerita pada embun yang menyapa rerumputan
juga matahari yang merangkul bumi:
bahwa hanya kau yang tetap di hidupku
dalam suka dan duka

 

6 (di foto calon mempelai yang sedang masak bareng di dapur)

Di dalam diri kita, mengalir sebuah kata
yang selalu ada senyummu di sana,
dan membuatku selalu pulang
:rindu

 

*Diposting atas saran salah satu rekan editor: Mpok Nanik 😀

senin keduaku

Seperti banyak yang ingin kutulis hari ini, tentang kegelisahan-kegelisahan yang sulit kubagi pada orang lain, dan akhirnya hanya mampu kurangkum beberapa hal saja:

 

1
Hari ini rasanya seperti senin kedua. Pekerjaanku di kantor semakin tidak jelas dan belum juga kelar. Yang kupikirakan justru apa saja yang mestinya kulakukan nanti setelah segalanya beres, sebab kurasa memang bakal sia-sia bila tetap menjalani hal di mana aku tak memiliki keyakinan penuh di sana.

 

2
Sore ini hujan deras. Rasanya aku begitu rindu kamarku, membaca setumpuk buku yang sudah lama tinggal di pinggir tempat tidurku, membuat kopi hangat, dan mulai mengerjakan hal-hal yang kurencanakan….

 

3
Malam ini belum larut. Aku bangun tidur di jam 8 dan baru membaca beberapa halaman sebuah buku yang berkisah tentang kebobrokan negeriku. Ah, rupanya aku ketiduran….

Ketika berjalan ke ruang depan, aku dikejutkan oleh berita yang sungguh mendadak. salah satu tetanggaku dekat rumah meninggal. kurasa tak hanya kami yang syok dengan berita itu. tapi barangkali semua orang di kampung kami. namanya Pak Hadi. terkahir aku bertemu beliau ketika rapat persiapan pernikahan adikku beberapa minggu lalu, sebab beliau salah satu panitia acara nanti. Usianya belum begitu tua. Barangkali masih 50 an. Ia memiliki istri yang juga ceria dan setia. Dan hanya memiliki satu anak laki-laki yang masih remaja.

Yang begitu mengejutkan karena beberapa menit sebelum kabar itu datang, konon Pak Hadi masih janjian latihan nyanyi bareng dengan teman-teman tetangga yang lain. Kemarin ibu dan adikku bahkan masih berdiri berjejeran liat acara panggung seni di depan kelurahan. Kemarin hari beliau masih memprofokasi semua orang dengan guyon dan tawa. Yeah, di antara sesepuh lain di kampungku, beliaulah orang paling bahagia dan ramah. Tawanya selalu membuat orang lain ikut melupakan masalahnya. Tak kalah penting, selain humoris, perannya yang bersifat sosial terhadap masyarakat sekitar begitu banyak.

Meski berasal dari keluarga menengah ke bawah, tinggal di kontrakan berdinding bambu dan kecil, dan tak mampu menyekolahkan anaknya hingga ke jenjang tinggi, tak pernah sekalipun wajahnya terlihat sedih atau mengeluh. Siapa pun dihibur, siapa pun yang bertemu dengannya dibuat tertawa dan ia tak pernah pandang bulu. Ialah figur paling optimis dalam keadaan apa pun di kampung kami. Seolah tak pernah ada satu hal pun di dunia ini yang membuatnya terbebani. Bahkan tak sekalipun menjelek-jelekkan orang lain karena bagaimana bisa orang berpikiran humoris berpikir tentang yang buruk? Yeah, kematian selalu datang segera kepada orang-orang baik dan tak pernah terduga. Tak bisa membayangkan bagaimana sedihnya anak dan istrinya. Aku hanya bisa berdoa semoga amal perbuatan beliau diterima di sisi-Nya dan yang tinggalkan diberi ketabahan. Amin.

 

4
Masih linglung di depan televisi, aku melihat rupanya kematian juga menjadi kabar riuh di luar sana. Belum lama kabar tabrakan kereta dengan truk tangki bahan bakar di Jakarta yang merenggut puluhan korban, sudah ditambah lagi kabar kecelakaan tragis lain yang disebabkan oleh kemacetan. Masih di Jakarta. Kota di mana para pemimpin tinggal. Yeah, kurasa memang kemacetan bukan lagi masalah kota, tapi juga bencana nasional. Kuputuskan untuk kembali ke kamar dan tak meneruskan menyimak berita. Semakin lama, aku semakin muak dengan negeriku sendiri. Bagaimana bisa seorang presiden enak-enakkan merupiahkan simpanan dolarnya dengan riang, juga para pejabat lain malah sedang menikmati hasil bisnis korupsinya, sementara di luar sana, kekacauan negaranya bertambah parah.

Tuhan… ajari saya bersabar….

 

Tahun Depan?

Setiap hari Senin aku selalu tak mau peduli perihal pekerjaan dan kehidupan sejak bangun tidur. Karena biasanya bakal menyebalkan dan melelahkan. Tapi setidaknya pagi ini aku sempat ngobrol dengan temen dekat yang sedang berada jauh di negeri orang, melalui YM. Seperti biasa, kami bercerita ngalor-ngidul tentang hal-hal kecil di sekitar. Kemudian ia pun bercerita tentang pria yang dekat dengannya. Memang, di antara kami berdua, dialah yang paling antusias segera menikah dan punya keluarga dan juga selalu khawatir soal usia. Padahal aku yang lebih tua beberapa bulan dengannya nggak lagi terlalu khawatir soal itu. Namun aku paham sekali posisinya. Sayang lagi-lagi nasib baik seolah belum menghampirinya. Selain perasaannya belum sreg betul, si pria juga penganut sekte “tahun depan”. Pria  yang ia maksud baru (kemungkinan) siap menikah tahun depan. Soalnya dia mau nyelesein S2 dulu, katanya. Masalahnya, temanku yang satu ini tipenya bukan pria yang sudah matang.

Ya kalau lulus di tahun itu. Kalau tidak? Kalau malah keburu kepincut sama yang lain? Kalau ternyata dia berubah pikiran di tahun depan itu? Atau malah nggak lulus karena kampusnya kebakaran? Masih ikhlas nunggu? Kemungkinan begitu banyak berkelebat. Setahun itu lamanya berlipat bagi yang nunggu. Udah deh milih yang udah siap aja… Dan aku selalu mencoba mengajak berpikir dengan banyak sisi pada teman-teman atau saudara perempuan di sekitarku bila menyikapi hal itu. (memang lebih mudah ngasih nasihat pada orang lain daripada diri sendiri, haha). Sebab para perempuan agak lemah ketika membedakan makna di balik ucapan lawan jenisnya.

Yang dia maksud tahun depan ini betulan janji atau masih wacana?

Begini bila aku memberi sedikit gambaran untuk mereka yang pro pernikahan: Laki-laki secara biologis bisa nikah usia berapa pun. Perempuan nggak. Bahkan perempuan punya masa menopause lebih cepat dari laki-laki. Itu fakta. Pasti nggak mau kan punya anak dalam keadaan sudah tua? Anak masih SD tapi sudah pensiun itu susah lho ngejalaninya. Belum lagi risiko-risiko kesehatan yang bakal ditanggung perempuan. Kalau kamu nunggu dia yang belum pasti, bagaimana bila Tuhan malah memberi kebijakan lain (yang kita nggak tahu) terhadapmu atau terhadapnya? Sudah siap?

Tapi jauh dari semua itu, aku memang agak risih dengan istilah “tahun depan”. Rasanya sama abu-abunya dengan istilah “besok” dan “nanti”—yang disebut tanpa keterangan lebih detail seperti tanggal berapa dan jam berapa. Sahabatku itu pun sepakat denganku, sekalipun masih sambil mikir. Aku sering ketemu kata ‘tahun depan’ yang bahkan sudah menjadi tahun belakang yang tidak terjadi apa-apa.

Membahas ini, aku jadi ingat jawaban konyol salah satu teman kampusku dulu. Ceritanya dia udah lama berkomitmen dengan pacarnya, sudah lebih dari 6 tahunan. Orang-orang di sekitar mereka juga usil (baca: tega) menanyakan kapan mereka nikah. Temanku ini dengan enteng selalu menjawab “tahun depan”.
“Yang benar?” Mereka tentu heboh mendengar jawaban itu.
“Iya. Masa mau tahun belakang,” lanjutnya santai.

Dan untungnya mereka pun akhirnya menikah juga dan sekarang sudah punya anak. Tapi betapa memperjuangkan ‘tahun depan’ itu kelihatannya bukan hal yang mudah. Kebetulan ia teman wira-wiriku di akhir-akhir tahun kuliah. Orang lain barangkali nggak tahu ia bahkan harus ekstra sabar mengalahkan perasaannya yang sudah capek berharap demi kepastian hubungan. Selama 6 tahun, ia selalu mengalami pasang surut hubungan. Nggak jadi, jadi, nggak jadi, jadi. Putus, nyambung, putus nyambung, dan seterusnya. Kalau aku paling lebih milih pindah kewarganegaraan daripada ngurusi pacaran nggak jelas semacam itu. Yeah walaupun akhirnya mereka menikah juga, tapi ingat, di luar sana banyak yang mengalami hal serupa tapi nggak jadi lho. Alias gagal. Pernikahan lebih pada urusan masing-masing dan bersifat privat. Bagiku lebih bersifat “iman.”

Oke, aku akui, manusia memang hanya bisa merencanakan dan menyusun angan-angan. Tapi semua itu ditentukan nanti. Karena bagaimana pun yang pasti adalah yang sedang dijalani. Dalam hal ini, aku setuju dengan ideologinya orang-orang atheis. Mereka nggak peduli masa depan dan lebih yakin dengan masa sekarang. Seperti halnya kadang aku juga setuju dengan pemikiran kelompok warga RI pendukung nuklir—yang lebih percaya prospek untuk pembangunan daripada dampak buruk ke lingkungan yang sedang tidak terjadi sekarang. Meski tidak benar-benar mendukung.

Kembali pada penganut paham “tahun depan”. Selalu dari masa lalu aku belajar tentang kini. Aku juga sering belajar dari hal-hal di sekitar. Seperti halnya, mimpi-mimpi masyarakat Aceh tahun 2003, akhirnya tersapu Tsunami di tahun 2004-nya. Bagi orang-orang Jogja pada tahun 2006, rencana-rencana tahun 2005-nya juga ambruk oleh gempa. Mimpi tahun depan masyakarat lereng Merapi di 2009 juga tersapu awan panas di tahun 2010. Bukankah bila demikian tahun depan lebih merujuk pada sesuatu yang tidak pasti.

Begitulah. Istilah “tahun depan” sering kali terdengar begitu absurd di telingaku….
Sekalipun demikian, kita memang harus mengambil hal baik dari proses “merencanakan”. Sebab itu memang bagian dari hidup.

*memenuhi tugas Komunitas Penamerah edisi denda

Matahari bagi Sang Guru

Ia ingat sebuah catatan seorang penyair yang dibacanya ketika masih kuliah di Jawa. “Sekolah pun keliru bila ia tidak tahu diri bahwa peranannya tidak seperti yang diduga selama ini. Ia bukan penentu gagal tidaknya seorang anak. Ia tak berhak menjadi perumus masa depan.”

Negerinya memang terlalu sibuk untuk sekadar mengingat bagian terjauh yang tak terjamah pendidikan itu, termasuk tempat tinggalnya. Lima tahun yang lalu ia memutuskan kembali ke kampungnya, meninggalkan seluruh mimpi yang gemerlapan seperti ibu kota. Sepanjang hidupnya, ia selalu bangun pagi buta, menyiapkan sarapan untuk suami dan anak-anaknya, kemudian merapikan hal-hal yang akan dibawanya menuju sekolah. Pagi itu, melewati jalan desa yang berbatu dan belantara, ia mengayuh sepeda tuanya dengan riang seperti hari-hari biasanya.

Semalaman ia merancang sebuah dongeng untuk diceritakan di dalam kelas: tentang anak-anak gunung yang berhasil menemukan harta karun. Anak-anak gunung itu datang dari sebuah negeri yang amat tertinggal dan kehabisan bahan makanan. Penduduknya kelaparan dan kekurangan air. Lalu mereka mencari sumber mata air hingga naik ke puncak sebuah gunung, melawan semua bahaya. Sampai di sebuah puncak, mereka tak hanya menemukan sumber mata air, tapi juga harta karun yang akan menyelamatkan desanya.

Begitulah yang akan ia ceritakan hari ini di depan kelas sebelum memulai pelajaran Matematika.

Mengingat bahwa kemarin hari nilai murid-muridnya buruk. Ia merasa sedih, tapi tentu ia tak merasa gagal. Ia tahu anak-anak didiknya telah mengerjakan dengan maksimal, tak satu pun mencontek seperti yang dilakukan anak-anak kota. Ada hal lain yang lebih bernilai daripada sekadar angka yang ia mengerti dari anak-anak didiknya. Setiap anak berhak memilih menjadi apa yang diinginkan. Mereka berhak menjadi dirinya dengan yang terbaik.

Matahari telah berjalan semakin ke atas. Ia tiba di depan gedung reot itu. Di halamannya, bendera merah putih berpenampilan lusuh masih berkibar-kibar tertiup angin. Anak-anak berpakaian kumal dan tanpa alas kaki ini berhamburan memasuki halaman. Disapanya mereka satu-satu. Anak-anak ini seriang matahari pagi. Mereka bahagia dan sehat. Sebagai seorang guru, ia pun percaya mereka memiliki masa depan yang cerah. Seperti matahari pagi itu.

 

Terinspirasi dari perjuangan guru-guru di wilayah perbatasan RI

Parfum dan Perihal Eksistensi

Judul : Perfume: The Story Of A Murderer
Penulis : Patrick Suskind
Penerbit : Dastan Books, April 2010
Tebal : 316 halaman
Genre : Sastra
ISBN : 978-979-3972-46-6

22352788024937lJean Baptiste Grenouille dilahirkan di tengah hingar sebuah pasar berbau busuk dan kotor. Ia dilahirkan dari rahim seorang penjual ikan. Sebelumnya sang ibu memang selalu membunuh bayi-bayinya. Grenouille mengalami nasib yang sama, tatkala lahir, dibiarkan begitu saja telempar di tumpukan sampah. Namun beruntung ia masih hidup. Ibunya dihukum mati dengan tuduhan pembunuhan. Grenouille pun yatim piatu.

Sebagai yatim piatu, Grenouille berpindah dari satu tangan ke tangan yang lain. tidak hanya permasalahan biaya yang saat itu masih menjadi pertimbangan di Perancis, namun juga karena mereka ketakutan dengan kondisi si bayi yang tak biasa itu. Sebab Grenouille lahir tanpa aroma tubuh. Gereja pun akhirnya membuang si bayi dengan jaminan, yaitu menitipkan pada seorang wanita bernama Madame Gaillard bersama anak-anak terbuang lain.

Grenouille bukan anak yang istimewa bila dilihat dari penampilan luar. Wajahnya buruk rupa, tubuhnya bungkuk, dan berjalan pincang. Namun ia tumbuh sebagai jenius yang punya kepekaan tinggi terhadap aroma, yang tak dimiliki seorang pun di dunia. Ia memiliki kemampuan indera penciuman yang tajam sehingga dapat mengidentifikasikan seluruh bau di bumi dengan jarak berapa pun–dari aroma batu hingga jenis daun secara spesifik. Namun kelebihannya ini justru membuat orang-orang di sekitarnya mengalami ketakutan. Mereka senantiasa berprasangka buruk sesuai apa yang mereka inginkan. Sejak ia kecil, teman-temannya bahkan berusaha membunuhnya karena dianggap monster. Grenouille tumbuh sebagai orang yang tak mengenal kasih sayang dan kepedulian kecuali hanya sebagai pengganggu atau sosok yang tidak penting. Ia pun tumbuh dengan kepolosan perihal moral dan estetika.

Dalam perjalanan hidupnya, ia sering mengalami kontradiksi. Sejak kecil orang akan selalu bingung menganggapnya manusia dengan kesitimewaan, atau sejenis iblis dengan pertanda yang dibawanya. Tatkala dewasa ia bekerja sebagai budak yang selalu disukai majikannya sekaligus dibenci sebab dibanding yang lainnya, dicintai karena dibanding yang lain, ia pekerja keras. Orang enggan menganggapnya manusia karena asal muasal, status sosial, dan penampilan Grenouille yang mencerminkan budak. Namun di balik itu, ia sangat fokus pada aroma, cara membuat, hingga menyulingnya. Sejak dibeli oleh  Giuseppe Baldini dan mendapat kesempatan bekerja di salah satu toko parfum tua miliknya, ia merasa bahagia, karena dengan begitu ia memiliki kesempatan bereksperimen dan merealisasikan imajinasinya.

Kegeniusannya dalam mengidentifikasi semua jenis bau secara sepesifik itu membuatnya menjadi ahli parfum. Baldini memanfaatkannya demi berlangsungnya nama baik, status sosial, dan kekayaan pribadinya. Grenouille juga bekerja dan belajar seperti kecenderungan genius yang ingin tahu. Dalam masa bekerja itu, ia tak sengaja menemukan bau yang begitu murni yang menguar dari seorang gadis perawan. Ia begitu terobsesi ingin tahu mengenai bau harum yang sangat murni dan berbeda dari bau manusia lainnya, hingga tak sengaja ia membunuhnya. Pembunuhan itu menjadi misteri karena tidak ada tanda-tanda perkosaan atau kekerasan dengan benda tajam. Sejak Baldini tewas menjadi korban perang, Grenouille berkelana dari satu majikan ke majikan lain. Juga melakukan perjalanan dari satu tempat ke tempat lain, demi tujuan yang cenderung bukan bersifat material.

Grenouille mengalami suatu masa ketika ia bahagia karena terbebas bau manusia, yaitu dengan tinggal di sebuah tempat yang jauh dari peradaban, di tengah hutan dan sebuah gua yang baginya berbau murni. Bau manusia bagi Grenouille adalah bau yang tidak nyaman dan penuh ancaman. Ia menikmati bau alami hutan tanpa penghuni bertahun-tahun. Namun ia mengalami krisis eksistensi di mana ia menyadari tak bisa mencium bau tubuhnya sendiri. Setelah tujuh tahun, ia ditemukan oleh seorang ilmuwan, yang lalu menjadi objek penelitiannya. Ia kembali bekerja menjadi budak di sebuah pabrik penyulingan minyak wangi dan ia begitu bahagia meskipun digaji dengan nominal yang itu-itu saja.

Karena kerja kerasanya yang tak kenal lelah itu, ia menjadi ahli parfum di Kota Gresse tersebut dan mampu menghasilkan begitu banyak aroma yang sungguh mewah bagi manusia. Ia menjadi seorang ahli yang tidak terkenal karena sering berada di balik layar. Namun diam-diam ia juga mempelajari sistem dan cara mengumpulkan aroma dan esensi makhluk hidup demi tujuan yang tak seorang pun tahu. Ia terobsesi membuat jenis parfum untuk mempengaruhi pikiran manusia dan menyempurnakan hidupnya.

Bagi jenius seperti Grenouille, yang sungguh wangi dari ada di dunia adalah bau manusia yang polos yang belum terjamah dosa, yaitu seorang gadis perawan. Ia menemukan adanya bau murni yang begitu menakjubkan hingga membuatnya tergila-gila dan ingin menyimpan aromanya. Dengan bau itu, ia berimajinasi dan bermimpi ingin mengumpulkan esensi aroma kemurnian itu menjadi sebuah mahakarya. Tentu, dengan tanpa pemahaman moral dan religius, ia pun tak segan membantai puluhan wanita muda yang masih perawan dengan cara menggunduli dan menyuling tubuhnya untuk diambil sarinya ke dalam botol dengan ilmu penyulingan parfum yang selama itu ia dapatkan. ia pun menjadi pembunuh berdarah dingin demi menjadikan Laure Richis sebagai aroma inti dari mahakaryanya.

Atas bukti pembunuhan yang ditemukan di kandang kuda milik Dominique Drout, majikannya, Grenouille akhirnya ditangkap. Semua orang membencinya sebagai biang teror dan ingin melihatnya dihukum dengan cara disiksa di tengah warga. Namun tatkala hari eksekusi tiba, dan Grenouille meneteskan setetes parfum ciptaanya itu, ia berhasil menjelma malaikat atau semacam tuhan bagi mereka yang semula menganggapnya wabah yang harus dimusnahkan dengan cara lebih keji. Mendadak mereka begitu cinta dan memuja Grenouille dengan emosi meluap. Entah dengan bahagia, dengki, polos, birahi, atau obsesi ingin memiliki. Namun Grenouille bahkan tak bisa mencintai mereka karena sepanjang hidupnya hanya hidup dengan dibenci dan membenci. Rasa jatuh cinta bercampur mabuk ribuan orang tanpa terkecuali yang semula hendak menanti eksekusi Grenouille, berubah jadi pesta seks dan pada akhirnya membuat mereka malu tatkala tersadar. Efek yang ditimbulkan justru membuat keadaan menjadi lebih baik. Aparat dari kota tersebut menutup kasusnya bertepatan dengan Richis, ayah dari korban terakhir, mengangkatnya jadi anak.

Di akhir kisahnya, ia memutuskan pergi untuk merasakan menjadi manusia, namun ia merasa gagal karena tatkala aroma ciptaaannya itu menguar lenyap, ia tetap tak memiliki aroma apa pun di tubuhnya. Pertanda bahwa ia tidak pernah ada. Ia kembali menelusuri sebuah tempat di mana ia pernah lahir, di sebuah pasar bekas makam pembantaian oleh rezim pada zaman itu, berbau busuk, dan kumuh. Ia berjalan mendekati kerumunan orang-orang terbuang di tempat itu. Di tengah mereka, ia menumpahkan seluruh isi botol parfum yang ia rancang itu ke seluruh tubuhnya sehingga orang-orang di dekatnya mengalami emosi yang serupa dengan ribuan orang yang semula.

Mereka merasa cinta, tergila-gila, kemudian bernafsu ingin memiliki, bahkan sekalipun hanya bagian kecil tubuhnya. Dalam obsesi liar tersebut, mereka berebut memotong tubuh Grenouile jadi bagian-bagian kecil untuk dimakan. Setelahnya hidup berjalan damai kembali dengan kelinglungan orang-orang yang tiba-tiba merasa bahagia dan malu melihat satu sama lain. Kemudian kehidupan berjalan dengan lebih baik.

Buku tersebut seolah berpesan bahwa setiap manusia mempunyai sisi keji dan kebusukan dalam dirinya. Sepertinya hal itu yang coba dideskripsikan oleh seorang penulis genius Patric Sunskind, sehingga Jean Baptis Grenouille bukan hanya semata-mata tujuan yang disampaikan dalam novel Perfume: The Story Of A Murderer, melinkan pesan-pesan yang dibawa di sepanjang alurnya. Grenouille hanya tokoh sentral yang bersifat simbol yang sebenarnya alat untuk meneropong kehidupan masyarakat Perancis dalam setting abad 18.
Novel ini cukup kaya dengan ide, deskripsi, dan makna, sehingga tidak cukup dianalisis secara lengkap.

Kelemahan buku: ada pada deskripsi yang kurang membawa pembaca pada emosi mengenai pembunuhan dan perasan cinta yang tidak lazim yang dialami tokoh Grenouille. Inti dari novel ini pun diceritakan lebih sedikit daripada latar belakang dan teknis pembuatan parfum. Desain covernya juga terlalu sederhana untuk isi buku yang cukup berat. Namun novel ini cocok dibaca bagi mereka yang menyukai novel fiksi yang kaya kandungan filosofi.

 

*Sebab ini analisa dadakan, aku tak sempat mengulasnya dengan total, hanya seadanya. Semoga cukup untuk memenuhi tugas Komunitas Penamerah bertema review buku. Maaf terlambat karena baru belakangan ini buku tersebut selesai kubaca.