Buku Single Pertama: Sehat dengan Resep Rumahan Ala Golongan Darah


IMG_20180505_230701Memasak bukan lagi kegiatan yang mengerikan bagi saya ketika kepepet. Kepepet yang saya maksud adalah sejak saya menikah, hamil, dan kemudian mesti merawat anak-anak. Saya baru sadar bahwa memasak makanan sehat itu begitu penting karena kalau beli di luar nggak selalu ada. Kita semua, terlebih anak-anak butuh sekali makanan sehat, bahkan sejak mereka masih berbentuk embrio. Satu-satunya cara menjamin mereka mendapat asupan sehat adalah membuatnya sendiri di rumah. Dan hanya seperti itulah memang motivasi seorang ibu sehinga tiba-tiba ia jadi suka ngubrek-ngubrek dapur. Di samping itu, rasanya memang urusan hidup sehat seluruh anggota keluarga lebih banyak tergantung dari dapur.

Hingga pada suatu ketika di tahun 2016 lalu, tiba-tiba saya mendapat tawaran menyusun buku resep bertema diet ala golongan darah dari seorang teman yang bekerja sebagai editor di Penerbit Javalitera. Antara senang dan ragu. Senang karena selalu ada pembelajaran baru di setiap pekerjaan yang akan saya selesaikan, dan ragu apakah nanti saya bisa. Masalahnya membuat resep makanan biasa saja nggak mudah, apalagi itu ditujukan untuk diet. Sesuai golongan darah pula. Berhubung kata teman saya, naskah tetap bakal diproof-kan ke ahli gizi sebelum diterbitkan, maka saya pun setuju mengerjakannya.

Sejak itu, hal-hal terkait dapur membuat saya terkagum. Konon jenis makanan tertentu dapat menimbukan reaksi yang berbeda pada tubuh yang berbeda pula. Pada cabai misalnya, tak seberapa parah efeknya dikonsumsi satu orang, tapi bisa berbahaya dikonsumsi yang lainnya meskipun sama-sama menyukai rasanya. Teringat Simbah Selatan (Ibunya ibu saya), pernah bercerita perihal jenis tumbuhan yang beracun bila salah mengolahnya, dan simbah utara (ibunya bapak) yang hobi menuliskan hal-hal terkait tumbuhan herbal, mengoleksi tanamannya, dan juga suka juga menceritakannya, maka saya pun percaya, memang segala hal yang tumbuh di sekitar kita, hampir bisa dikonsumsi. Tanaman kimpul, sejenis umbi-umbian, bisa dikonsumsi asal harus dari pohon yang daunnya tidak gatal. Di bidang tanaman obat, ada jenis tanaman insulin yang bila dikonsumsi tanpa menggunakan kapsul, rasa pahitnya bisa bertahan di mulut hinga 2 hari. Tapi semua itu butuh dipelajari. Seperti kata Eka Kurniawan dalam cerpennya “Kutukan Dapur”, karena beberapa bisa membuat sekarat bila engkau memakannya, dan yang lain membuatmu hidup bila memakannya dalam keadaan sekarat. Entah mengapa saya malah jadi penasaran “Rijsttafel” dan “Jejak Rasa Nusantara”-nya Fadly Rahman. Jadi pengin juga baca karya-karyanya Jean anthelme Brillant-Savarin, yang konon pernah menuliskan dalam bukunya, bahwa makanan juga juga berpengaruh pada psikologi manusia.

Untuk itulah saya bersyukur mendapat kesempatan menyusun buku ini, meski dua bulan rasanya nggak cukup kalau yang dibuat model begini. Saya jadi ingat proses ketika mulai dikerjakan. Demi menyusun buku ini, saya kudu menyiapkan referensi terkait golongan darah, menggolongkan lebih dahulu bahan yang boleh atau tidak boleh disertakan dalam resep ala diet sehat, kemudian mencari bahan makanan, menakar, memodifikasi dari resep yang sudah ada, tes rasa, hingga memotretnya. Resep sudah sesuai prinsip diet golongan darah tapi rasanya masih ambyar tentu harus diulang. Begitulah seterusnya sampai ketemu takaran yang pas dan masuk akal. Sempat nyesel sih kenapa nggak dari dulu saya belajar memotret makanan lebih serius karena di tahap pemotretan inilah saya sempat ketar-ketir.

Referensi yang paling banyak saya gunakan dalam proses ini tentunya buku-buku karya Dr. Peter J D’Adamo yang telah mengkaji lebih dalam mengenai hubungan golongan darah dan tipe pola hidup sehat yang sesuai. Penemu pertama golongan darah memang bukan Dr. Peter J D’Adamo, melainkan Karl Lansteiner. Namun kajian mengenai kesehatan lebih banyak ke Dr. Peter J D’Adamo. Ssebelum semua resep ini disusun dan dieksekusi, tentu saya membutuhkan daftar jenis makanan yang direkomendasikan atau tidak direkomendasikan untuk dikonsumsi masing-masing golongan darah.

Daftar resep makanan dalam buku ini sebenarnya sangat akrab di lidah kita sehari-hari. Mudah pula dibuatnya. Tapi yang membuat buku ini berbeda karena bahan-bahannya sudah disesuaikan dengan golongan darah. Pada prinsip diet golongan darah ala Dr. Peter J D’Adamo, dikatakan bahwa setiap golongan darah memiliki reaksi tertentu yang berbeda terhadap satu makanan. Makanan tertentu bisa cocok dengan salah satu golongan darah, namun kurang sesuai bila dikonsumsi golongan darah lain. Misalnya, resep bertema daging lebih banyak ditemukan untuk golongan darah O karena memang golongan ini yang lebih cocok mengonsumsi daging. Sedangkan golongan darah A, lebih banyak membutuhkan sayur dan beberapa protein dari telur dan ikan yang masih diperbolehkan namun dalam jumlah terbatas. Resep dalam buku ini juga terbagi tiga di tiap-tiap golongan darah, yaitu masakan utama, kudapan, dan minuman.

Tentu saja, diet ala golongan darah hanya sebagai pilihan di antara banyak pilihan diet lainnya. Sifatnya hanya rekomendasi. Diet golongan darah sebetulnya lebih luas pembahasannya. Dalam diet golongan darah, jenis olahraga yang dianjurkan untuk masing-masing golongan pun berbeda. Namun buku ini tentu lebih banyak membahas di makanannya. Meski sebetulnya, bila kita mengaplikasikan semua resep ini tanpa memerhatikan jenis golongan darah, toh tak ada risiko yang besar. Hanya saja, tetap berlaku prinsip supaya sehat, tidak dianjurkan makan berlebihan. Di samping itu mesti didukung juga pola sehat yang lain seperti istirahat yang cukup, menghindari stres, dan berolah raga rutin.

Semua itu proses menyusun buku ini kelihatannya simpel, tapi ternyata cukup rumit. Hal terpenting dari menyusun buku ini, saya mendapatkan pengalaman yang sangat berharga, yaitu mempelajari memasak makanan sehat, belajar teknik memasak lebih banyak, dan banyak hal terkait pola hidup sehat. Dan selain itu saya jadi termotivasi untuk terus belajar hal-hal yang bermanfaat lain setelah ini. Meski pernah menyusun buku resep, bukan berarti saya lulus belajar masak. Sebaliknya, saya justru berpikir banyak hal mesti dibenahi. Masih perlu banyak belajar dan update pengetahuan mengenai manfaat bahan makanan di sekitar. Hal yang saya kerjakan ini tentu masih jauh dari sempurna.

Sebagai informasi, buku ini bisa ditemukan di toko-toko buku di seluruh Indonesia. Semoga bermanfaat. 🙂

 

IMG_20180610_071706_HDR

IMG_20180610_072352_HDR

Iklan

9 Bulan Si Kecil-ku

Nggak terasa Satya sudah berumur 9 bulan. Sudah lulus ASI ekslusif 6 bulan, dan sekarang latihan makan MPASI sehat yang lebih padat. Geraknya makin lincah, dan bahkan sekarang sudah belajar turun dari tempat tidur sendiri. Sebelumnya, saya sempet berada di moment “panik akut” ketika Satya masih berumur 4 bulan dan ia belum bisa tengkurap sendiri. Tadinya saya nggak bermasalah dengan itu, sampai orang-orang dengan mudahnya mengklaim ia keseleo lah, karena nggak pernah didadah ke dukun bayilah, dan lebih buruknya dibandingkan sama bayi-bayi lain yang sudah bisa tengkurap sendiri. Padahal kan mereka nggak mengikuti perkembangan Satya dari hari ke hari karena nggak tinggal serumah. Meski saya sadar, membesarkan anak di lingkungan masyarakat gotong royong semacam ini memang mesti bisa juga ngemong banyak orang.

Nggak henti-hentinya, sejak saya melahirkan, suara-suara semacam itu mudah sekali bikin saya down ketimbang percaya diri. Mungkin sebal sekali rasanya dikasih kritik dan nasihat tanpa diminta dan efeknya saya malah merasa nggak pantas jadi ibu yang baik. Terutama nasihat yang sifatnya kuran masuk akal. Mungkin karena ibu pasca melahirkan jadi lebih rentan daripada ketika belum punya anak. Terlebih baru pertama kali saya punya bayi dan tentunya lebih butuh dimotivasi dan diberi ruang untuk beradaptasi dengan status baru. Siapa sih yang nggak gampang parno begitu ditakut-takutin dengan hal-hal yang belum terbukti kebenarannya? Nggak cuma ibu-ibu tetangga, kerabat, atau keluarga besar, tapi dokter pun turut menyuntikkan teror, yang akhirnya membuat saya terpaksa memutuskan untuk ganti dokter.

Namanya juga ibu, se-down apa pun tetep berusaha positive thinking dan tetap kuat demi terus merawat dan menjaga buah hati. Saya juga nggak lantas begitu saja menyerahkannya ke dukun bayi. Memijatnya sendiri lebih aman. Sebelum itu, saya pernah membaca referensi bahwa bayi 4 bulan belum tengkurap masih tergolong normal. Entah bagaimana saya selalu percaya kok setiap anak mengalami tumbuh kembang yang nggak bisa dibandingkan satu dengan yang lainnya. Dan pada akhirnya, semua itu terlewat. Satya nggak kenapa-kenapa. Normal seperti yang seharusnya. Begitu ia bisa tengkurep sendiri, maka ia pun berguling-guling sepengin dia sendiri dan berkembang sesuai yang ia  mau.

Ada-ada saja tingkah polahnya setiap hari yang bikin orang-orang dewasa di sekitarnya gemas dan geli. Kalau dulu orang-orang menakut-nakutin ibunya bahwa si anak ini mungkin ada yang kurang karena belum bisa tengkurap sendiri, sekarang mereka kewalahan kalau kedapatan kunjungan karena polah Satya yang sering tak bisa diprediksi dan cenderung mengacaukan barang-barang =)), dan mereka pun jadi banyak melarang si kecil. “Jangan pegang ini, jangan ke sana, jangan bla.. bla. bla.. ” Kadang aneh deh rata-rata masyarakat kita. Menuntut para bayi supaya cepet besar dan bisa jalan, begitu bisa jalan malah sering dilarang ini itu. Dihambat berkembang.

Sekarang ia sedang aktif-aktifnya. Sudah belajar berdiri sendiri, berpindah tempat tanpa bantuan, duduk sendiri, mengoceh (dengan bahasa yang masih belum jelas), selalu penasaran dengan benda-benda di sekitarnya, dan bahkan memakan apa saja yang dipegangnya sebagai proses dimulainya latihan makan sendiri. Sebagai orang tua, kekhawatrian pun tentu saja bertambah. Tak jarang ia jatuh, kebentur sesuatu, bahkan kemarin hari sempat terantuk pagar box bayi sampai berdarah gusinya. Apakah lantas saya nggak ngasih izin dia main di box-nya lagi? Tentu saja tidak. Lebih karena ada hal lebih penting dari sekadar luka terantuk lingir.

Hal-hal yang sifatnya naluri kan butuh dipalajari juga secara mandiri. Makan, berjalan, dan hal-hal semacam itu. Nggak mungkin kan Satya saya larang ini itu, atau menggendongnya sepanjang waktu, karena kalau begitu ia jadi stress. Nggak mungkin juga saya bentak dia supaya kaget dan takut melanjutkan rasa penasarannya dengan sesuatu, karena konon malah akan berisiko pada kondisi psikologisnya. Paling saya hanya akan menyingkirkan benda-benda berbahaya atau tegas menjauhkannya dari hal-hal seperti kompor atau setrika panas. Jatuh, kotor, terluka, memang risiko belajar. Setiap ia jatuh, tentu saja saya hanya akan memeluknya dan bilang “nggak papa, lain kali hati-hati ya, pegangannya pelan-pelan aja.” Padahal dalam hati cemas banget dan jantung rasanya mau copot. Tapi mau gimana lagi, proses belajar harus dilanjutkan. Karena semua itu memang nggak sia-sia kok. Setelah momen terantuk pinggiran kayu, atau jatuh, saya pun melihat perubahan Satya yang akhirnya lebih hati-hati dari sebelumnya. Mungkin saja bayi seusianya sudah mampu membedakan benda-benda mana yang bikin sakit, mana yang tidak.

Semakin aktif Satya, semakin was-was pula rasanya setiap akan meninggalkannya. Padahal nggak mungkin punya bayi nggak punya moment nitip. Apalagi ketika bayi sudah mulai penasaran dengan lantai dan kabel listrik. Setidaknya untuk ditinggal ke pasar pun pasti nitip siapa pun yang ada di sekitar bayi. Beberes peralatan mandi saja mesti harus titip atau memastikan si baby bisa ditingal sendiri di box-nya. Ditinggal sebentar dan Satya cuma diem lebih dari 2 menit, saya pasti curiga karena biasanya ada hal aneh yang ia pegang. Teringat beberapa minggu lalu, sepupu Satya yang lagi nginep di rumah, dan usianya lebih tua dua bulan dari Satya, diem-diem sibuk mainan resrespo yang mungkin saja baginya selucu tedy bear. Gimana saya nggak ketar-ketir? Apalagi rumah lagi sering kedatangan resrespo yang berasal dari pekarangan tetangga samping yang terbangkalai. Nggak tahu kenapa, sarang-sarang sudah coba dibersihkan, telur-telur dimusnahkan, tapi tetep aja muncul. Yang punya pekarangan entah ke mana.

Memang kalau saya mesti pergi karena keperluan mendesak, ibu saya adalah satu-satunya yang bisa saya titipi. Tinggal satu kompleks dengan orang tua memang banyak kemudahan. Tapi saya juga nggak lupa, ibu saya adalah ibu rumah tangga, mengurus bapak, adik bungsu, simbah, dan terkadang masih juga mengurus saya sepertinya sudah membuatnya cukup kelelahan. Menitipkan Satya juga perlu melihat kondisi beliau apakah lagi benar-benar selo atau tidak.

Jadi kesimpulan sementaranya, saya mesti melanjutkan proses jadi fulltime mommy, dan juga siap bila ada tanggung jawab pekerjaan freelance yang bisa dikerjakan di rumah. Menjadi ibu nggak perlu berhenti mengembangkan diri kan. Diem-diem saya jadi salut sama ibu-ibu kantor yang tetep bisa kerja dan merawat keluarga kecil. Saya yang nggak ngantor saja sempoyongan dan selalu mengkhawatirkan anak yang saya pelototi setiap saat. Gimana dengan mereka yang hanya bisa ketemu beberapa jam saja dalam sehari?

Sejauh ini, saya merasakan salah satu sisi positifnya punya bayi, semua orang seperti memberi permakluman. Kalau saya telat datang di acara keluarga misalnya, mereka akan maklum karena saya pastinya ngurus bayi lebih dulu. Dan bila saya bangun kesiangan, keluarga saya pun maklum karena pastinya semalaman begadang menyusui dan mengganti popok si dedek bayi. Kalau saya nggak bisa datang acara formal tertentu, sudah pasti orang-orang maklum karena punya bayi memang demikian sibuknya. Dan beruntungnya, karena kehadiran Satya membuat saya belajar menyaring berbagai jenis informasi (saran, kritik, nyiyiran, dan sebagainya), dan juga bertumbuh menjadi orang tua yang terus berusaha belajar mengambil yang penting dan mengabaikan yang nggak penting. Saya percaya memiliki buah hati bikin seseorang jadi lebih ‘bijak’.

Semoga Allah selalu menjaga Satya dan senantiasa memampukan kami untuk menjadi orang tua yang baik baginya. Amin.

sahabat

Hampir setiap hari, ibu-ibu lansia seusia Mbah Uti berkumpul di rumah, mereka ngobrol hingga berjam-jam, terkadang saling pijit atau minta dikerik kalau ada yang sakit. Mereka berbicara tentang banyak hal dengan blak-blakan dan kocak. Setiap hari, seperti yang kuceritakan di postingan dulu, rumah ini justru ramai karena komunitas kecil itu. Setiap hari terdengar tawa dan guyon. Rumah kecil simbah yang berdempetan dengan kamarku. Tapi lebih dari itu, persahabatan mereka membuatku sedikit iri. Mereka bahkan beberapa kali travelling bersama ke luar kota dengan dana pensiun masing-masing tanpa ditemani cucu atau anak-anak. Memang punya sahabat yang dapat ditemui kapan pun adalah berkah tersendiri, yang tak dimiliki semua orang. Teman-teman terdekat yang barangkali akan selalu di samping kita hingga pada waktunya kita akan pergi untuk selamanya.

Aku jadi ingat, ada yang mengatakan (saya lupa di situs mana) bahwa bila engkau sudah bersahabat dengan seseorang selama 7 tahun, ia akan menjadi sahabatmu selamanya. Betapa beruntungnya. Tapi tentu, setiap orang akan memilkinya dengan jumlah yang tak sama. Bahkan sedihnya, ada pula yang tak memilikinya sama sekali. Dan mungkin saja memang benar, kita hanya butuh beberapa gelintir sahabat sejati yang akan bersama kita selama hidup.

Terkadang aku bertanya, apakah itu sahabat sejati? Barangkali bukan mereka yang dipersatukan karena sama-sama punya gadget dan hobi belanja, bukan yang hanya punya niat nyari utangan dan kabur, bukan mereka yang ternyata hanya membawa “modus” tertentu, bukan sekadar karena sama-sama masih single dan galau, bukan juga mereka yang tiba-tiba pergi begitu kita menikah, tapi mereka yang memang benar-benar akan selalu ada dalam bahagia dan duka. Manusia takkan bisa bertahan dalam kondisi yang berubah-ubah seperti yang biasa kita alami. Bukankah terkadang kita mengalami hal indah dan kelam selama hidup? Bahkan ketika berbahagia pun kita butuh keluarga dan sahabat-sahabat untuk ikut tersenyum bersama.

Barangkali sahabat memang tidak ditemukan semudah kita menemukannya di serial Harry Potter, seperti halnya seorang kekasih, tapi ia bagian dari proses hubungan kita terhadap mereka yang kini masih bersedia berteman sekacau apa pun kondisi kita hari ini. Dan kurasa sahabat juga tentang siapa pun: teman main, teman senam, ibu atau ayah kita, teman nge-blog, pasangan kita, atau seekor kucing. Aku selalu tak pernah menyesali bila hubunganku dengan teman-temanku berkembang jadi sahabat abadi melalui berbagai proses itu. Dan anggaplah barangkali ini hanya tulisan yang didorong rasa sepi dan rindu memiliki teman-teman dekat yang selalu ada dalam hidup kita.

yang akan selalu menerima dan menyayangi kelak hingga kulit kita keriput dan beraroma minyak kayu putih.

Surat Ketujuhbelas: Kamar Loteng

Hai Isha’,

Barangkali sudah pernah kuceritakan dalam surat yang kukirim padamu, yang kuhanyutkan di aliran air, ketika hujan deras tiba. Aku pernah tinggal di sebuah istana kecil, tepatnya sebuah kamar di loteng, di mana aku merasa begitu nyaman dan begitu “aku” di sana. Sejak tahun 2010 akhir, aku harus pindahan karena ayahku membuatkan kamar baru di dekat kebun, yang mirip sebuah rumah kecil yang kutinggali hingga sekarang, yang mungkin sebentar lagi tidak.

Tapi entah bagaimana tiba-tiba malam ini rasanya aku rindu tidur di lotengku dulu. Maka bila rasanya percuma aku memaksakan diri untuk tidur, kupikir sebaiknya aku mengunjungi kamar itu.
Semua orang sudah tidur. Perlahan dan hati-hati kunaiki tangga kayu yang menuju ke sana. Tentu saja aku tak bisa kemonyet-monyetan lagi seperti dulu. Aku tiba-tiba teringat begitu cepatnya kuturuni anak tangga ini ketika terjadi gempa Jogja 2006 silam mirip seperti tentara sedang latihan perang. Aku takkan segesit itu lagi bila gempa seperti dulu datang malam ini.

Lama sekali kamar lotengku itu berubah jadi gudang kedua. Tapi seminggu yang lalu adik bungsuku menyulapnya kembali jadi ruang perpustakaan, tempat membaca, atau sejenisnya. Yang jelas memang benar settingan baru di tempat ini bisa menyelamatkan siapa pun dari penat. Atapnya yang berbentuk miring memang telah lama dilapisi tripleks di bagian dalam, mengikuti bentuknya. Kini, dilapisi kertas motif batik sehingga terasa berbeda. Bagian dinding kayu telah dicat ulang. Ada sebuah meja kecil dan sebuah rak yang baru diiisi buku-buku tua berbahasa Belanda, juga buku-buku adikku yang lain yang baru dipindah sebagian di sini. Ada karpet dan bantal juga kini lebih lengang karena hanya benda-benda itu yang ada di sana tapi lebih rapi dan tentu saja bersih, karpet ini bisa difungsikan untuk rebahan dan tidur. Jendela yang menghadap depan kini tidak lagi dibiarkan terbuka dan hanya ditutupi gorden transparan. Kini ditutupi papan tulis bekas dan hanya dibuka kala siang. Kamar ini memang telah berubah. Dari kamar, gudang, sekarang ruang belajar dan bersantai.

Teringat masa dulu, kamar lotengku ini berantakan. Ada sebuah kasur busa yang hanya dialasi karpet, 2 meja kecil, kardus-kardus berisi berkas kliping dan kertas penuh coretan, ada dua rak buku yang isinya tak karuan, sebab buku-buku dan kertas, juga benda-benda lain yang cenderung hanya hiasan berkumpul jadi satu dan jarang sekali ditata ulang. Belum lagi harus kuberi ruang untukku menggelar sajadah dan salat, juga ada kipas angin kecil yang selalu kupindah-pindah karena aku tak betah di ruang bersuhu panas. Ada kala setiap teman-temanku datang, mereka takjub, menyadari bahwa bukan hanya mickey mouse yang betah tinggal di loteng yang berbentuk antik begini.

Berada di sini memang membuatku terbang sejenak ke masa lalu, juga perjalanku menuju sekarang. Di kamar inilah aku menjatuhkan diriku di kasur dengan begitu bahagia karena pendadaranku berhasil dan dapat nilai A+. Di tempat ini aku mulai mengumpulkan coretan dan draft-draft tulisan yang sekarang entah di mana, mulai membaca buku-buku berat, dan di kamar ini dulu aku rajin menulis buku harian, kebiasaan yang pudar sejak aku pindah kamar. Di ruang ini pula sesekali aku melihat dunia luar lewat jendela. Sungguh aku begitu berdamai dengan dunia yang hanya diisi olehku sendirian. Di kamar ini tersimpan segala ingatan yang berbuku-buku rasanya bila dituliskan, sebab aku memang banyak berpikir dan begitu sering melamunkan banyak hal.

Aku merasa rindu dengan kamar ini dan rasanya malam ini aku ingin berada di sini, juga sendirian. Menunggu kantukku tiba, aku akan membaca salah satu novel yang pernah kubeli dan belum sempat kubaca. Novel yang judulnya begitu panjang “Surat Panjang tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya” yang kebetulan pernah memenangkan Sayembara Novel DKJ tahun 2012.

Demikianlah bila aku melarikan penat dan tak seorang pun dapat diajak bicara dan mengerti. Aku yakin, pada dinding-dinding kamar loteng ini, segala masalah dan gajalan akan selesai dengan sendirinya, seperti yang sudah-sudah.

kehidupan baru

Aku jadi sering mengantuk dan tidur, setiap jam kelaparan, setiap menit ada yang selalu kukhawatirkan, tiba-tiba jadi sangat sensitif. Semua perasaan itu datang dan pergi bersama dengan kebahagiaan yang tak bisa kujabarkan. Entah bagaimana selalu saja banyak hal terjawab begitu harapan tidak lagi sebegitu besar. Dan dalam hitungan hari belakangan ini, aku merasa jadi orang lain. Barangkali tengah berganti naluri. Atau entah apa.

Hanya bisa berbisik kukatakan selamat datang kehidupan baru. Aku sangat bersyukur dan akan menjagamu, meskipun mungkin akan sedikit seperti orang kalap 😀

Stasiun dan Mimpi

04:00

Di jam-jam inilah, saat paling sepi yang dapat kunikmati sendiri. Hanya alam yang terasa alam yang terbangun menemani, juga mimpi yang akan lebih lama menguap bersama uap kopi.

Dan di pagi inilah, aku terdiam mengingat mimpiku tentang stasiun dan hiruk pikuknya.

Omong-omong, apa yang ada di benakmu ketika mendengar tentang “stasiun”? Pemberhentian? Kereta api? Tempat nongkrong sore-sore? Salah satu judul novelnya Putu Wijaya yang penuh absurdisme? Atau tentang seseorang yang kau antar pergi sambil terus kau pandangi punggungnya hingga menghilang, atau suasana ketika engkau menjemputnya pagi-pagi dengan hati yang biru jauh di masa yang dahulu? Tak jelas apakah semalam hal indah atau menyedihkan yang kuimpikan. Aku seperti terlempar dalam visualisasi stasiun dan perjalanan dari tempat asing ke tempat asing yang tak usai, dan mungkin juga hal-hal yang sempat terlintas di pikiranku yang belakangan sering nge-blank. Namun ada ruang damai di sana yang disebut ingatan. Di mana aku tak ingin bayangan itu hilang.

6230025585_74deba228d_b

gambar diambil dari http://street.kilcher04.net/

doa pagi ini

Tuhan, semoga kami semua selamat dari rasa sombong, serakah, takabur, kikir, dan ketidaksadaran.
Dan semoga kami pun termasuk orang-orang yang ‘berjalan’ karena-Mu, sebab hanya Engkau satu-satunya alasan paling pasti dan masuk akal dari apa pun di dunia ini.

Sahabat Pena

Dapat dikatakan ini sekadar iseng berkhayal

Kadangkala aku ingin punya sahabat pena. Seorang teman yang barangkali jauh dari tempat ini dan sama-sama hanya bisa menulis untuk dapat nyaman berbicara. Barangkali ia juga benci arisan, malas pula berada di antara orang-orang yang berebut disimak untuk pamer, ia juga nggan punya jejaring sosial yang bising dan memusingkan. Mungkin ia juga membutuhkan seorang teman yang belum pernah ditemui tapi ia tahu bakal berkirim surat setiap akhir pekan, bercerita banyak hal tanpa khawatir terekspose media karena untuk apa, menyebarkan cerita orang yang bahkan belum dikenal kecuali lewat tulisan tangan?

Menulis surat pada sahabat pena tak perlu saling melihat ekspresi dan foto selfie, tak perlu khawatir bahwa kami berbeda, tak perlu menyamakan status sosial atau nasib, tak eprlu memandang apakah kami menikah atau tidak, kaya atau tidak, tak perlu risau soal prasangka sebab kami dapat terbuka dengan leluasa, kami boleh jujur atau tidak tergantung kita sendiri, asal tetap terhubung dan saling merespons.dan lama-kelamaan mungkin saja saling menginspirasi. Yah barangkali akan mustahil, mengingat, alih-alih sahabat pena, sepanjang hidup punya teman saja sudah merupakan kemewahan bukan?

Lanjut… Kemudian, kami akan bercerita apa pun yang ingin kami ceritakan, menanyakan pendapat, menjabarkan pemikiran, menguraikan perasaan, ataupun memberikan argumen sebebas mungkin tanpa takut membuat tersinggung sebab segalanya begitu jelas lewat surat, seperti Kartini, atau seperti Minke dalam Bumi Manusia. Barangkali kami hanya sekadar berkirim surat, tanpa harus bertemu dan belanja bareng dan lalu merasa berdosa karena demi punya teman dan tahu kabar, kami seolah harus pakai smartphone dan memiliki beberapa akun sosial. Sedangkan tak semua orang suka smartphone, dan tak setiap orang kuat membelinyaSebab kurasa sekadar surat cukup. Entah dia berasal dari pelosok pulau yang mepet perbatasan, entah dari pedalama lereng gunung, entah dari bawah air terjun, atau di daerah konflik, atau dari kota besar yang membosankan, tak masalah bagiku. Tak perlu ada syarat ribet demi saling memahami dengan cara masing-masing. Kami bisa menulis di atas kertas, atau di atas daun kering atau tisu, boleh tulisan tangan, atau mesin ketik. Kurasa akan lebih menyenangkan ketika kami terhubung melalui surat-surat yang rutin diantar pak pos akhir bulan atau akhir pekan. Surat lebih universal dan membumi daripada jejaring sosial atau sejenisnya.

Barangkali akan menyenangkan bisa bersahabat dengan surat menyurat, membagi sebagian cerita hidup, yang mungkin berlangsung selamanya. Sampai barangkali kami tua dan isi tulisan kami pendek-pendek karena sudah tak senergik dulu, dan mungkin sampai salah satu dari kami lebih dahulu tak membalas surat. Sebab terlalu sulit bagiku menjadi bagian dari keramaian ini, mematuhi segala kepentingan, aturan-aturan tak terlihat yang aku kurang paham, atau mengkhawatirkan banyak hal yang mestinya tak perlu dikhawatirkan. Berat rasanya terjebak dalam kerumitan kita sendiri yang tak bisa menjadi diri sendiri di tengah hingar bingar. Sementara kita ingin menjadi diri kita sepenuhnya. Andai semua itu mudah.

Sahabat pena mungkin adalah sahabat yang ideal di satu sisi sebab dapat saling menerima tanpa pretensi, tidak di sisi lain karena tentu ia tak menjadi bagian dari kehidupan keseharian kita. Mungkin saja suatu saat kami bertemu pada sebuah kesempatan, mengumpulkan surat-surat-surat kami untuk dibuatkan museum khusus bertema sahabat pena. Saat itu pastilah kami terbahak karena menyadari begitu banyak yang berbeda dari kami, dan begitu jauh sosok kami semua dari bayangan masing-masing sebelum ini. Dan begitu akrab dan dekat sebetulnya kami sebelum kikuk berkenalan lagi di dunia nyata. Atau barangkali takkan pernah bertemu.

Sungguh kurasa, akan sangat mengasyikan bila punya banyak sahabat pena….

Tapi apakah demi berangan tentang ini, aku juga mesti memandang zaman?

DSCN3501

Rasa Pedas

Kau penyuka rasa pedas?

Aku nggak terlalu menggemari, tapi makanan pedas kuakui enak. Terlebih bila komposisi bumbu dengan bahan dasarnya pas, entah itu pedas karena cabai atau merica. Mereka akan meninggalkan jejak nikmat (lengkap) sebelum melanjutkan perjalanan ke kerongkongan dan lambung untuk melebur dengan zat HCL, pepsin, renin, dan makanan lainnya. Mulut dapat merasai sensasi menyakitkan tapi enak yang dihasilkan rasa pedas itu. Namun tidak semua lambung lantas menyambut dengan bersahabat. Jadi benar, ada kalanya orang-orang yang memiih makanan enak, cenderung lebih dahulu mempertimbangkan selera yang dituntut oleh indra pengecap, utamanya lidah dan indra peciuman, ketimbang kemampuan alat pencernaan setelah mulut ataupun kesehatan. Terlebih kemampuan perut tak bisa terdeteksi sebelum betulan terlihat dampaknya.

Kata seorang teman rasa pedas itu merusak rasa. Teman lain bilang itu justru memperkuat rasa. Kedua pendapat itu dapat dikatakan benar karena sebetulnya cabai menyangkut selera. Selera berkait erat dengan individu yang tentunya sudah beragam dari sananya. Manusia dan selera adalah identitas yang berpasangan selalu. Ada yang senang bila cabainya melimpah. Ada yang menyerah duluan dengan cabai setengah biji. Ada pula yang menolak sama sekali masakan pedas secuil pun.

Ketika aku iseng browsing sejarah makanan pedas, ternyata sulit juga dicari. Ada yang bilang berasal dari Melayu, sebelum Indonesia bernama Indonesia. Masyarakat Thailand pun familier dengan tradisi makan pedas. Ingat penjelasan salah satu dosen ketika zaman kuliah, bahwa setiap daerah bisa berbeda kecenderungan jenis makanan sesuai dengan kondisi alamnya. Semula makanan pedas biasanya dikonsumsi masyarakat sekitar pegunungan atau daerah berhawa dingin. Zat yang terkandung di dalam cabai dipercaya dapat menghangatkan tubuh. Meski demikian, tidak semua orang lantas mengonsumsinya. Sebab di negara-negara lain, seperti negara-negara di Eropa, mereka konon tidak memakan cabai seperti di Asia. Sebagai penghangat mereka meminum semacam wine. Meskipun jahe sebenarnya bisa, tapi jahe digunakan di Indonesia. Sehingga kurasa cara masyarakat mengatasi rasa dingin melalui makanan hanya soal adat dan kebiasaan. Barangkali belum bisa dikatakan melulu tentang adaptasi, melainkan selera. Masyarakat dari tradisi pemakan cabai ekstrem pun ketika berkunjung ke Jogja akan mengeluhkan rasa manis di dalam unsur masakannya, dan akan tetap menambahkan porsi cabai meskipun udara Jogja sudah hangat.

Tapi rupanya rasa pedas tidak berasal dari tanah Melayu. Di India ada jenis cabai Bhut Jolokia yang sempat membuat pemakannya terkapar pada menit ke-30, konon efeknya hingga 12 jam.  Cabe ini menggantikan jenis Red Savina yang semula menjadi cabai terpedas di dunia versi Guinness World Records. Pada versi itu, ada beberapa peraih rekor yang rupanya justru dari Meksiko. Ada pula yang menyatakan Ed Currie yang terpedas di dunia. yang juga berasal dari Meksiko. Tak lama versi Guinness Book of Records menyatakan cabai asal Inggrislah, cabai Infinity, yang terpedas di dunia. Jadi untuk apa cabai diciptakan di dunia selain untuk bumbu makanan dan ikut lomba? Untuk obat. Beberapa artikel ilmiah menjelaskan kegunaannya di bidang kesehatan, tapi dalam porsi yang cukup dan cenderung sedikit. Cabai juga punya manfaat mengobati.

Namun, kemarin hari sedikit menyesal sekaligus bersyukur dengan masakan pedas yang kumakan, memang pada dasarnya lezat sekali, apalagi dikonsumsi di antara suasana ‘hangat’. Hanya saja unsur cabainya melebihi batas normal kemampuanku merespons rasa pedas yang tentunya hanya kusimpan sendiri dalam hati -__-. Sebab sehari setelahnya, selain masih ada rasa panas di pangkal kerongkongan hingga lambung, efek lain yang cukup bikin mules dan lemes pun mengikuti. Tongseng kuah yang rasanya gurih itu semula menimbulkan efek bahagia. Aku memang melihat semua orang tampak menikmatinya. Ada yang megap-megap tapi ketagihan, ada yang memang benar-benar menghindari karena warna kuahnya dominan merah, ada yang malah jadi tambah sehat habis kepedasan meski muka merah dan air mata bercucuran, mirip ekspresiku. Bahkan ada yang memakannya seperti ngemil kacang goreng sambil nonton bola.

Namun, lapar dan perasaan tidak enak menolak hidangan sang koki yang ahli masak tongseng kambing ini adalah perpaduan cocok untuk membuatku tetap makan kemarin hari. Pada detik-detik awal, sedikit masih bisa menikmati sensasi rasa gurih yang pas di dalam masakannya, lama kelamaaan tak sadar secara insting, aku berusaha menghabiskan makanan cepat-cepat tanpa mampu bersuara sepatah kata pun. Begitu melihat air putih, rasanya ingin menenggak seluruh isinya dalam hitungan detik. Berharap pedas itu segera hilang dan kembali pada efek makanan sedapnya. Sampai di rumah cepat-cepat aku menelan semua makanan penetral dan berhenti berpikir yang tidak-tidak. Memang banyak orang di luar sana merasa lebih nyaman dan lebih bugar setelah megap-megap, tapi rupanya aku tak punya respons naluriah bersifat positif semacam itu.

Rasanya untuk beberapa hari ke depan, aku perlu menghindari hal-hal yang pedas. Selain rasa terbakar di leher dan sekitar perut, efek psikologisnya pun bakal tidak sebentar. Untuk soal makanan pedas, yang mewakili keberagaman manusia itu, aku nggak mau lagi bertoleransi. Demi apa pun untuk saat ini.

Postinganku kali ini memang lebih banyak tentang rasa pedas cabai. Berbicara soal rasa pedas, mungkin demikian cara manusia menjalani hidupnya: sekalipun menyakitkan, tapi toh tetap menikmatinya juga sebagai hidangan rutin.:)

Bagaimana pun pengalaman kepedasan adalah pengalaman yang berharga untuk dilewatkan.

Batik Trusmi dan Kesetaraan

Berawal dari mention-mentionan saya dan teman-teman kantor lama via Twitter, teringat lagi nostalgia kompakan pakai batik kala itu. Bertepatan juga di hari batik, seperti hari kemarin. Untuk itulah, rasanya ingin menulis hal-hal bertema batik. Namun sempat agak bingung memilih topik batik dari daerah mana. Jogja yang memang mau nggak mau setiap hari saya kunjungi, atau asal daerah lain yang belum saya kunjungi?

Sepertinya saat ini lebih menarik mengulas batik asal daerah yang bukan Jogja karena jenis batiknya sudah sangat familier di mata saya -_-. Akhirnya saya putuskan memilih batik trusmi karena bentuknya yang berbeda sekali dengan batik Jawa. Siapa tahu kelak betulan berkunjung ke sana dan membeli kainnya.

Seperti yang pernah saya tulis di blog ini waktu itu, selama ini saya memang kurang gaul soal fashion dan kain, namun selalu berusaha memahami, hingga akhirnya menulis tentang batik Truntum beberapa waktu lalu sebagai awal saya mengenali produk budaya berbentuk bahan pakaian.

Batik Trusmi berasal dari Cirebon. Nama Trusmi sediri diambil dari kepanjangan terus bersemi. Istilah trusmi juga diambil dari nama desanya, yaitu Desa Trusmi yang sekarang juga menjadi kampung batik terkenal di sana. Trusmi tersebut tergolong jenis batik pesisir (pantai). Mungkin itulah sebab mengapa kebanyakan bergaya kebebasan dan fleksibel. Seperti bentuk awan dan burung (entah burung atau naga terbang ya…) menunjukkan hal-hal yang luas dan transenden. Karena bentuknya yang khas dan warnanya yang cukup tegas serta makna yang terkandung di dalamnya, membuatnya pantas menyandang predikat salah satu ikon batik nasional. Daerah Cirebon sendiri semula memiliki dua kerajaan maka batiknya disebut batik keraton.

Menurut sejarah, seperti halnya batik-batik lain di nusantara, batik Cirebon pun merupakan hasil asimilasi dan akulturasi beragam budaya. Batik gaya Cirebon yang sekarang semula lahir sejak Pelabuhan Muara Jati di daerah tersebut dijadikan tempat transit para pedagang. Pedagang yang singgah rata-rata berasal dari Tiongkok, Arab, Persia, dan India.

Selain itu, filosofi dan religiusitas yang terkandung dalam batik Trusmi berhubungan erat dengan sejarahnya dan juga berkait tatkala Sunan Gunung Jati menyebarkan Islam pada abad ke-16. Menurut berbagai sumber, pernikahan Sunan Gunung Jati dengan Putri Ong Tien wanita berketurunan Tiongkok disinyalir menjadi awal bergabungnya dua kebudayaan tersebut. Kala itu keraton menjadi pusat kosmik sehingga ide atau gagasan serta pernak-pernik budaya Tiongkok masuk dan berasimilasi dengan budaya Cirebon. Termasuk hasil asimilasi itu adalah batik Cirebon dengan motif awan yang lekat dengan mitologi Tiongkok yang dinamakan dengan motif mega mendung.

Motif mega mendung sekalipun dipengaruhi gaya Tiongkok namun sarat makna religius dan filosofi. Garis-garis gambarnya merupakan simbol dari perjalanan hidup manusia dari lahir, anak-anak, remaja, dewasa, berumah tangga sampai meninggal dunia. Antara lahir dan mati tersambung garis penghubung yang kesemuanya menyimbolkan kebesaran Illahi. Menarik sekali.

Selain itu ada beberapa jenis batik Cirebon yang lain dan juga sarat degan legenda dan filosofinya masing-masing, yang barangkali akan lebih total bila diuraikan sambil travelling ke kampung batiknya langsung.

Batik menurut pengamatan saya, juga sedikit banyak menggambarkan kondisi masyarakat tempat batik ini dibuat. Misal di Jawa, batik menggambarkan masyarakat yang berlapis-lapis karena hampir semua memiliki fungsi masing-masing dan lumayan ribet. Bahkan batik jenis parang tidak bisa dipakai di keraton karena dianggap kurang sopan. Secara antropologi, batik trusmi juga menggambarkan masyarakat Cirebon yang lugas dan egaliter, maka tepat bila mewakili hubungan masyarakat yang blak-blakan dan setara. Barangkali sedikit berkebalikan dengan Jawa yang serba hati-hati, suka mbatin, dan cenderung agak feodal, hehe. (peace ^^)

So, Selamat Hari Batik 2 Oktober 2014 🙂

contoh batik trusmi

contoh batik trusmi

contoh batik trusmi motif mega mendung

contoh batik trusmi motif mega mendung

target

Sejak bangun tidur sejam yang lalu, aku langsung menyetel musik, membuka jendela, cuci muka, bikin kopi, kemudian mengambil 4 koran langgananku di depan untuk kubawa ke kamar lagi, lalu membaca, seperti yang biasanya.

Udara hangat menyeruak kamar, cericit burung telah ramai, dan sengaja memang kunikmati pagi di hari libur ala masa dulu. Sempat kubayangkan kebun yang penuh tetumbuhan itu dikunjungi ratusan peri semalaman. Barangkali mereka menyanyi dan menari sampai sebagian sayapnya berjatuhan di tanah. Barangkali mereka telah selesai memunguti mimpi-mimpi yang dipinjamkan untuk para manusia kemudian tidur di atas bunga-bunga. Kau percaya pada peri? 🙂

Rasanya sudah lama tak bercengkerama dengan rasa sunyi, melamunkan banyak hal, membaca banyak hal tanpa dibebani segala rutinitas monoton. Begitu saja kuingat banyak target yang tanpa dimulai dari sekarang, takkan jadi sampai kapan pun.

Untuk itulah, kini waktunya memulai semuanya. Abaikan hal-hal yang bikin gelisah dan terhambat. 🙂

penyuka sendiri yang enggan disendirikan

Saya penyuka kesendirian dan suasana sepi. Kedua hal itu dapat menyelamatkan saya dari kesuntukan untuk kelak dapat berbaur lagi dengan akal sehat dan perasaan yang lebih longgar. Terlebih ketika usai menghadapi masalah. Dalam sepi, saya juga dapat lebih berkonsentrasi dalam bekerja atau berkarya.
Namun anehnya, bila itu dalam kebersamaan, saya selalu benci ditinggal pergi lama, apalagi bila begitu saja tanpa pamit.
Saya merasa sulit berdamai dengan inkonsistensi. Sekalipun konsisiten juga hal yang sulit bagi saya. Misal perasaan elergi saya (zaman ‘muda’ dulu) ketika ketemu orang yang notabene sedang mencari pasangan hidup tapi berpola pikir “aku mencari calon istri/suami yang bisa ditinggal-tinggal.” Bukannya malah “yang mau bersamaku untuk saling mendampingi dalam susah dan bahagia“. Karena cuma benda yang tidak akan protes ditinggal ke mana-mana tanpa pamit dan dapat dibuang sewaktu-waktu.

Barangkali terdengar aneh, penyendiri seperti saya bisa sangat penat ditinggal-tinggal tanpa pamit, disendirikan oleh hal apa pun itu. Sebab setiap kali itu terjadi, saya selalu diliputi perasaan menunggu dalam ragu. Saya nggak akan tahu kapan ia kembali, apakah ia bakal kembali, atau apakah benar bila saya tetap menunggu. Saya nggak tahu apakah ini disebabkan oleh kelainan mood atau suatu trauma di masa lalu… entahlah. Mudah-mudahan itu perasaan yang (masih) manusiawi.

 

demikianlah sedikit lamunan saya hari ini,
dan sekarang waktunya nyetel sealbum lagu-lagunya Chrisye sambil menyelesaikan pekerjaan 🙂

 

Kepada Tuhanku,

Yang tak bisa kulawan ialah
Cinta-Mu yang tak pernah luntur kepadaku
Waktu aku mendekati-Mu
Atau waktu aku berusaha melupakan-Mu

 

– Emha Ainun Nadjib –

 

 

doa pagi ini

Hari ini saya ingin berdoa untuk orang tua saya, semoga Allah senantiasa menjaga mereka, memberi mereka kesehatan, umur panjang, dan keselamatan di mana pun mereka berada. Saya tahu, seorang anak tidak akan mampu membalas budi orang tua dalam porsi yang sama. Termasuk juga saya.

Selama ini, kedua orang tua sayalah yang senantiasa mengayomi saya, selalu ada di belakang saya tatkala sedih dan bahagia. Bahkan bila saya terkena imbas oleh ke-ngeyel-an saya sendiri di masa lalu, mereka masih ada untuk saya. Dapat dikatakan, sebagian besar pencapaian dalam hidup saya tidak lain tidak bukan adalah karena jerih payah dan doa orang tua saya. Saya selalu ingat, merekalah yang bahkan sejak saya kecil, selalu bangun lebih awal dan tidur lebih akhir untuk bekerja demi anak-anaknya, bahkan hingga hari ini. Merekalah kedua orang yang pernah dan selalu mengajari saya cara mengenal Tuhan dan senantiasa mengingatkan untuk tidak berjalan terlalu jauh dari-Nya. Meskipun, seperti halnya orang tua normal hasil didikan zaman dulu, kedua orang tua saya tentu memiliki sisi posesif dan sifat “memiliki wewenang dalam menentukan nasib anak-anaknya”.

Tapi sisi lain dari itu semua, merekalah yang membuat saya terinspirasi. Akhirnya, saya meyakini, bagi saya kemalasan adalah dosa yang mengakibatkan kerugian, terutama waktu. Meskipun sekarang saya masih sulit bangun pagi, tapi saya tahu saya akan terus berusaha mendedikasikan tenaga, pikiran, waktu, bahkan perasaan sepanjang hidup saya untuk Allah, seperti yang dilakukan kedua orang tua saya. Seperti yang juga diajarkan oleh agama. Bila tidak demikian, memang benar sih, capek. Bekerja yang niatannya untuk dunia saja, rasanya memang lebih melelahkan dan cepat bosan. Demikian yang selalu diingatkan oleh mereka.

Saya rasa, memang tidak mudah mengerti jalan pikiran orang tua kita sebelum kita benar-benar jadi orang tua seperti mereka. Barangkali saat ini saya belum atau sedang tidak menjadi orang tua. Tapi setidaknya, saya perlu beriman pada hal-hal yang belum saya temui.

Maka, saya dedikasikan doa saya ini untuk kedua orang tua saya–kedua orang tua spesial yang tak kurang mengingatkan anak-anaknya soal ibadah dan betapa dekat sama Allah itu segalanya dibanding dekat dengan hal-hal bersifat duniawi. Juga para orang tua di luar sana yang sudah merasakan betapa susahnya jadi orang tua di zaman sekarang.

Dan saya mengerti, terkadang kedua orang tua kita memang kurang logis ngasih imbauan pada anak-anaknya, tapi Tuhan lebih tidak terjangkau akal dalam masalah mengatur kehidupan manusianya. Meskipun keduanya sama-sama berdasarkan kasih sayang yang tidak terputus dan tak terbatas.

Allah, mohon kabulkanlah limpahan doa yang tentu seluruhnya hanya bisa saya sampaikan lewat batin.

*edisi iktikaf bareng ortu 🙂

pojok lamunan

Hei, sudah berapa jam aku melamun? Sejak sebelum tarawih sendirian di kamar, hingga tarawihnya usai pun lamunan pun dilanjut. Rasanya hari ini kata-kata yang keluar dari mulutku bisa dihitung dengan jari. Di samping memang karakterku cenderung begitu, di samping terpengaruh juga lingkungan kantorku yang orang-orangnya pendiam, kurasa, aku sedang kehabisan alasan untuk berbicara hari ini. Tapi dengan begitu sih aku jadi lebih banyak menulis dalam diam. Aku menyukai kesunyianku. Aku suka diam seperti ini karena selalu lebih baik daripada berbicara. Belum tentu juga ada yang mau mendengar.
Aku sudah meminum secangkir kopi sekalipun aku tak sempat makan. Aku sudah mendengar musik berjam-jam sejak tadi pagi, entah sudah berapa ratus kali. Beberapa musik yang sama kuputar berulang-ulang. Aku juga sudah membaca bebarapa lembar buku dan belum selesai, tapi rupanya hingga saat ini aku tak beranjak dari lamunan. Oh iya, aku juga tak menemukan HP-ku sedari tadi, entah hilang di jalan atau tertinggal di kantor. Tapi peduli amat. Toh jarang berbunyi. Aku cenderung tipe yang tak bisa memegang benda elektronik berlama-lama, terlebih tidak banyak berfungsi. Rasanya aku sedang gemar berdiam diri dan duduk sambil ngetik-ngetik di tempat tidurku sendiri.
Tentu saja, diam bukan berarti berhenti. Tak lama, aku iseng baca-baca beberapa blog sebelah. Beberapa kucomot dan kusimpan di folder khusus untuk kukirim ke teman-temanku bila mereka sedang galau barangkali. Beberapa ingin kutulis sebagai kuis main-main. Seperti yang kudapatkan dari salah satu postingan blog An Mansyur, rasanya aku ingin mencoba menjawabnya dengan font tebal:

1. Apakah kau lebih mencintai seseorang menggunakan dada, jari-jari, atau kepala?      Kepala

2. Berapa waktu yang kamu butuhkan dalam sehari untuk masing- masing aktivitas berikut ini?
a) duduk di dekat jendela bersama segelas teh atau kopi memikirkan diri sendiri:   2 jam
b) menatap langit-langit kamarmu sebelum tertidur:   setengah jam
c) tidur dan menggeliat di atas kasur:   5 jam
d) telanjang di kamar mandi:   5 menit

3. Kamu lebih suka meninggalkan dan menanggalkan atau ditinggalkan dan ditanggalkan?   Yang kedua

4. Kau memaafkan seseorang untuk kepentingan siapa?  Orang yang saya maafkan dan diri saya sendiri tentu

5. Kata apa yang paling sering kau sebutkan ketika sedang bersedih?  Tuhan dan kematian

6. Siapa pengarang dan sutradara favoritmu?     Pengarang aja ya… Pramoedya AT

7. Apakah kau lebih senang menyanyi, menari, atau diam pada saat gembira?   Diam

8. Berapa lama waktu yang kau butuhkan untuk melepaskan rindumu kepada orang yang tidak mungkin kembali? Bisa      seumur  hidup, haha, bingung sama pertanyaannya…

9. Apakah kau guci mahal yang takut pecah atau telur yang selalu berharap dipecahkan?   Kedua

10. Bisakah kau menjelaskan rasa kesedihan sebagaimana kau menjelaskan rasa makanan favoritmu?  Nyaris nggak bisa

11. Jika aku memintamu jujur mengatakan sesuatu yang paling buruk perihal aku, apa yang ingin kau katakan——-

12. Apakah kau ingin menjadi hantu atau orang yang dihantui?     Hantu

13. Jika kau seorang karakter fiksi, siapa dirimu?  Mary Jane (pacar Spiderman) dan Alina, tokoh cerpennya Seno Gumira Adjidarmo, padahal nggak banyak penjelasan karakter ya di cerpen itu, haha

14. Kau lebih menyukai kedalaman laut atau ketinggian langit?   Ketinggian langit dong

15. Berlari atau berjalan? Diminta atau dicuri? Di kening atau di punggung tangan?  Berjalan; Dicuri; di Kening.. eh ini yang terakhir itu maksudunya mengarah ke pertanyaan apa ya?