Berhenti Saja Dulu

Akhirnya kukatakan ini pada diri sendiri. Lega rasanya sudah menghentikannya. Mungkin untuk saat ini aku rehat dulu dari hal-hal yang bersifat kompetisi.

Pertama, sepertinya aku nggak siap untuk perlombaan. Apa lagi yang membuat ngoyo. Sudah tantangan kesekian, dan aku bahkan menyiapkan beberapa bahan tulisan hasil pengamatan di lingkungan. Ternyata aku tetap nggak memiliki waktu yang cukup. Tak apa sih. Nggak semua rencana harus segera berjalan hingga sampai ke tujuan.

Aku juga baru ingat, untuk belajar menulis dengan konsisten, ada banyak cara, kita nggak perlu menempuh hanya satu jalan. Ini memang cuma alasan malas aja sih, haha. Mungkin aku akan tetap membaca tulisan-tulisan peserta lain di waktu senggang dan melakukan blogwalking. Aku akan terus belajar. Aku masih perlu memotivasi diriku untuk lebih banyak baca dulu untuk saat ini.

Menurutku, kita bisa rutin mengikuti atau bahkan bikin challenge kita sendiri kapan pun kita ingin. Itu pun nggak harus sekarang. Bisa saja kapan-kapan kalau waktu sudah mendukung. Sekarang kan aku punya prioritas lebih penting. Lagipula aku sudah berjanji pada diri sendiri untuk mengurangi penggunaan gadget, fokus momong anak-anak, dan rutin baca buku per minggu di tahun ini. Anak-anak lagi senang-senangnya meniru perilaku orang dewasa. Kan nggak adil, aku yang selama ini mengondisikan anak-anak supaya nggak tertarik sama gadget, eh malah akunya sendiri yang sering pegang handphone.

Kalau pun aku harus nge-blog, langkah pertama yang harus kulakukan adalah beberes ala Konmari. Banyak hal yang harus dibenahi lebih dulu. Sudah jadi tujuan awal membuang sampai tuntas postingan yang tidak diperlukan dan simpan yang benar-benar penting. Atau lanjut memposting review buku-buku yang sudah dibaca. Segala hal berkait buku dan jenis bacaan lain saja. Membereskan ala Konmari adalah proyek akhir tahun lalu dan masih akan teap berjalan sampai benar-benar tuntas. Ternyata ini hal simpel yang mengerjakannya butuh ketelatenan dan waktu yang panjang. Menulis hal sepele seperti ini saja harus menunggu anak-anak tidur.

Lagipula lelah jadi orang lain. I mean, menulis sesuai keinginan segelintir orang. Aku mau jadi diri sendiri. Menulis hal-hal yang memang ingin aku tulis. Dan kalau memang sudah waktunya aku belajar nulis dengan serius, maka akan ada saatnya, barangkali aku juga akan belajar pada guru-guru yang aku sendiri akrab dengan karya-karyanya. Semua ada saatnya. Nanti juga aku tak lagi bermasalah menulis hal-hal yang bukan aku, atau sesuai permintaan. Secara profesional barangkali. Aku sudah terbiasa bilang “tidak” untuk hal-hal yang kurang sreg. Aku juga terbiasa nyari-nyari alasan kalau lagi malas sih. Seperti hari ini, hehe.

Sekian.

Tradisi di Malam Satu Suro

 

Pada postinganku sebelumnya, aku sempat bercerita bahwa sebagian masyarakat di tempat tinggalku masih melakukan ritual mubeng beteng setiap malam satu Suro/Muharam. Ritual ini biasanya dilakukan oleh mereka yang menganut Kejawen. Sedangkan mubeng beteng berasal dari kata “mubeng” yang berarti berkeliling, dan “beteng” yang berarti benteng. Maksudnya memang berjalan mengelilingi benteng keraton. Meskipun masyarakat kejawen sekarang merupakan minoritas, tradisi ini tetap diselenggarakan dari tahun ke tahun dan nyaris tidak mengalami perubahan. Bahkan menjadi paling sakral dibanding tahun baru lain.

Di Yogyakarta sebetunya ada banyak tahun baru, yaitu tahun baru Masehi, Muharam, Imlek yang merupakan tahun baru warga Tionghoa, Nyepi bagi pemeluk Hindu, dan masih banyak lagi karena di sini masyarakat sangat beragam. Kita bisa menemukan orang-orang dari berbagai suku dan golongan yang menganut kepercayaan dan keyakinan yang berbeda-beda. Perayaan malam satu suro adalah jenis tahun baru yang jauh hingar-bingar. Orang-orang yang melakukan ritual ini tidak meniup terompet apalagi menyalakan kembang api. Memang sebagian besar warga muslim di Jogja mengadakan pengajian akbar untuk menyambut tahun baru islam di kampung-kampung. Tetapi warga tertentu yang masih tradisional melakukan tirakatan, lek-lekan (yang berarti tidak tidur semalaman), dan sebagian melakukan nyenyepi/bersemedi ke gunung, pantai, makam, dan tempat-tempat keramat lain.

pelepasan-lampah-budaya-mubeng-beteng_20161003_003205

Orang Jawa sendiri, terutama yang tinggal di daerahku, dikenal sangat menghargai peninggalan nenek orang moyang dan terikat dengan leluhur. Sampai-sampai mereka  diharapkan tidak merantau atau pindah jauh, kalau bisa tinggal di tanah nenek moyang. Ari-ari atau plasenta mereka ketika lahir ditanam di sekitar rumah. Harapannya, ari-ari membuat yang punya tak akan jauh dari “rumah” sepanjang hidupnya. Kalaupun merantau harus kembali suatu saat nanti. Tidak heran bila di Yogyakarta, orang-orang satu kampung bisa masih satu keluarga. Mereka juga akan menganut nilai-nilai dari zaman lampau. Termasuk pada perayaan ini.

Tradisi mubeng beteng ini semula digagas oleh Sultan Agung sekitar tahun 1613-1645 yang saat itu menganut Islam. Di daerahku, keraton (sebuatan dari kerajaan) menggunakan penanggalam tahun Hijriah. Meskipun idenya datang dari Sultan, tetapi beliau dan raja-raja setelahnya beserta keluarga sendiri tidak melakukannya. Mubeng beteng hanya dilakukan oleh abdi dalem dan masyarakat yang mau mengikuti saja. Wajar sih raja dan keluarganya tidak ikut. Aneh saja membayangkan ritual sesakral itu buyar karena mendadak banyak warga yang pengin berfoto dengan raja.

Sultan Agung waktu itu memikirkan cara terbaik bagaimana rakyatnya dapat menerima ajaran baru sementara mereka telah lekat dengan adat dan kebiasaan dari zaman mataram kuno yang mayoritas menganut Hindu. Raja pun mengambil jalan tengah dengan tidak serta merta menghilangkan kebiasaan lama, melainkan mengolaborasikannya dengan ajaran Islam. Seperti mengubah istilah penanggalan saka menjadi penanggalan hijriah.

Mubeng beteng mempunyai istilah lengkap “topo bisu mubeng beteng“. “Topo” berarti bertapa, “bisu” berarti tidak bicara. Pada topo bisu mubeng beteng, serangkaian ritual dilakukan. Sebelum dimulai, para abdi dalem memandikan kereta kuda, keris dan pusaka lain yang dinamakan dengan jamasan. Mencuci benda-benda keramat di keraton dilakukan dengan upacara. Mereka juga membacakan macapatan atau kidung berbahasa jawa. Para abdi ini menggunakan pakaian warna biru tua yang tidak mencolok, juga tidak membawa keris dan alas kaki. Di antaranya akan berkeliling sambil membawa bendera dan panji-panji kerajaan. Diikuti oleh masyarakat yang tak harus menggunakan pakaian adat berjalan di belakangnya. Mereka mengelilingi benteng keraton dengan diam tanpa bicara atau melakukan hal negatif sejak bada magrib. Omong-omong, para perokok aktif mesti mikir dua kali untuk bergabung dalam arak-arakan ini karena mereka akan berjalan sekitar 5 kilometer tanpa ngudud. Selain berbicara/mengeluarkan suara, seluruh peserta juga tidak diperbolehkan makan dan minum selama berkeliling.

kereta_3_ok

Macapat sendiri adalah sebuah tembang yang dilantunkan menjelang acara. Macapat yang kutemukan dari berbagai sumber ternyata mengacu pada puisi yang mengandung filosofi dan makna yang cukup dalam. Syairnya menceritakan fase kehidupan manusia dari sebelum lahir hingga kematiannya. Walisongo juga pernah menggunakannya untuk berdakwah. Isinya penuh nasihat dan petuah. Aku selalu senang mendengar tembang-tembang Jawa yang dilantunkan di Keraton meskipun tidak memahami artinya. Membahas syair macapat tentu tidak cukup dalam satu postingan.

Dalam ritual mubeng beteng, berjalan kaki adalah simbol dari laku prihatin. Para abdi akan berdoa untuk keselamatan dan ketenangan lahir batin diri sendiri, keluarga, kerjaaan, hingga untuk bangsa dan negara. Konon, doa orang-orang yang prihatin sering kali dikabulkan. Keheningan yang diciptakan pada ritual ini dimaksudkan untuk merefleksikan hubungan manusia dengan Tuhannya yang jauh dari hiruk-pikuk duniawi. Berdoa yang baik memang dalam ketenangan. Selain itu, acara ini sebagai ritual penting bagi masyarakat untuk berintrospeksi diri, bersyukur, merenung, dan mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa. Di zaman dulu mubeng beteng tidak hanya untuk berdoa, tetapi juga dalam rangka berjaga dari serangan musuh. Terutama sebelum benteng-benteng dibangun. Mungkin semacam jaga ronda bagi kerajaan.

Meski demikian sakral filosofi Malam Satu suro, ternyata banyak pula masyarakat di Yogyakarta masih menghubungkannya dengan mitos bernuansa horor. Mereka menganggap bahwa Muharam adalah bulan yang buruk. Saking buruknya, dalam bulan itu orang tidak boleh mengadakan hajatan atau menggelar acara besar. Pada malam satu Suro, ruh orang-orang yang meninggal kembali ke rumah masing-masing untuk menengok yang masih hidup. Dedemit, jin, setan, dan sebangsanya keluar ke alam manusia untuk melakukan perayaan besar. Terdengar mirip hallowen sih. Bedanya, orang-orang dilarang keras keluar rumah supaya tidak terkena sial. Orang boleh percaya ataupun tidak. Kalau aku sih memilih tidak. Aku akan sedih membayangkan almarhum kakek-kakekku mencariku di rumah dan kecewa karena ternyata aku sudah pindah. Jadi, mitos ini dipandang salah kaprah oleh sebagian besar masyarakat. Karena akan lebih baik meyakini tidak ada bulan yang buruk karena semua hari dan bulan itu baik untuk beraktivitas.

 

 

Cerita 2018

img_20190122_060348

Di Yogyakarta ada sebuah tempat bernama Krapyak. Orang-orang akan langsung teringat kandang menjangan atau panggung krapyak setiap mendengarnya, yaitu sebuah bagunan berbentuk kotak mirip benteng yang dulu digunakan oleh para raja dan para pangeran meletakkan hewan-hewan hasil buruan. Krapyak beratus tahun lalu adalah hutan belantara dengan berbagai binatang liar di dalamnya. Sekarang Krapyak adalah sebuah kampung yang penuh dengan rumah penduduk dan hiruk pikuknya. Kini juga menjadi tempat tinggalku sejak akhir tahun 2017 lalu.

Tak ada jejak hutan lagi di Krapyak, kecuali pohon-pohon tua besar di beberapa tempat dan masih terkadang kita dapat melihat burung-burung yang biasanya dipelihara orang di dalam kandang, asyik mematuk tanah di halaman. Bila kau bangun pagi dan membuka jendela, sejuknya udara akan menyeruak masuk hingga seluruh ruangan. Seperti udara dari masa lalu. Bila pagi, Krapyak seperti desa yang bangun dengan anggun. Terkadang tercium aroma dapur yang seperti masih menggunakan tungku. Pada jam 4, terdengar pula suara orang menyapu halaman. Nenekku yang tinggal di desa juga menyapu halaman di pagi buta. Orang dulu barangkali melakukan itu. Di sini banyak “orang dulu”.

Pada malam satu suro, masih banyak peduduk di sini melakukan ritual keliling benteng keraton. Mereka menganut adat dan begitu sering mengadakan kumpul mengaji. Tapi karena masih setengah desa, mereka juga masih akrab dengan mitos. Yang cukup menjengkelkan adalah perihal tuyul. Setiap ada warga kehilangan uang secara misterius, orang-orang akan ngobrol soal tuyul yang masih berkeliaran. Tetangga yang membuka warung, sempat bercerita padaku bahwa uang-uangnya sampai disimpan rapat, diikat dengan karet dan diberi rerempahan. Aku agak sedikit bergidik dan memakluminya, tapi tak ikut melakukannya. Sebetulanya aku bergidik karena lebih enggan dengan burung hantu besar warna hitam yang dipeliharanya, bertengger begitu dekat dengan kami dan memandangku dengan curiga. Paruhnya yang runcing itu bisa melubangi kulitmu kapan pun ia mau. Dua bulan setelah kami pindah pun, seorang tetangga lain menanyakan apakah pintu rumahku sempat diketuk sama orang yang nggak kelihatan. Aku tak ingat, tapi ia berharap aku tak perlu takut bila itu terjadi, karena biasanya makhluk ini hanya mengucapkan selamat datang. Sementara aku kerap sendiran saja, apalagi ketika dua bocah itu tidur, mitos-mitos ini sempat sedikit mengganggu. Tapi tidak membuatku gentar. Orang tak seharusnya takut sama hal-hal yang tak bisa disentuhnya.

Kampung ini religius menurut pandanganku. Beberapa hal memang sedikit membuat terkejut seperti nyanyian setiap habis azan, yang setelah kuamati betul-betul, ternyata itu sholawatan. Ada pula azan yang dikumandangkan pada jam 3 pagi. Nah, aku beruntung punya pengalaman tinggal di tempat dengan nuansa religius yang berbeda. Di kampung asalku, yang tak jauh dari Krapyak, memiliki kebiasaan yang tidak sama. Orang-orang muslim tidak tahlilan, tak ada sholawatan, dan semacamnya. Kalau mau mempelajari keberagaman, saya rasa di sinilah tempatnya. Sedikit membingungkan tapi seru, syukurlah, toleransi terjalin cukup baik di sini.

Lalu, tahun 2018 adalah tahun adaptasi terberat yang pernah kujalani. Di sisi lain tempat ini cukup nyaman bagiku. Kami bekerja keras membuat rumah di atas sepetak tanah leluhur suami kemudian memutuskan tinggal mandiri. Lokasinya sedikit jauh dari jalan raya, tapi semua tempat seperti dapat terjangkau. Tak jauh dari rumah ada pula superindo, pom bensin, toko-toko, rumah makan, dan meski pasar juga tidak jauh, tiap pagi sudah ada tukang sayur mangkal di depan rumah. Kendati demikian, mengurus dua balita dan tak ke mana-mana, dengan suami lebih banyak kesibukan di luar rumah tentu bukan hal mudah bagi siapa pun yang terbiasa dengan orangtua di sekitarnya. Bagiku yang terbiasa dengan riuhnya suasana rumah, kampung yang ramai, dan juga bisingnya jalanan, rumah ini jauh dari semua itu. Berat karena jadi sering kali tak memiliki teman bicara remeh-temeh. Tentu aku belum bisa bercerita bebas dengan anak-anak balita.

Tetapi tahun 2018 setidaknya banyak hal tercapai dengan cukup mudah. Seperti si sulung yang lebih cepat mandiri karena sering melihat emaknya harus nyambi-nyambi mengurus adiknya. Dalam setahun, tatangan demi tantangan sebagai ibu syukurlah mampu kulewati. Awal yang baik untukku.

Tahun 2018 pula, buku single pertamaku terbit. Memang hanya buku resep diet ala golongan darah tetapi cukup membuatku bersemangat menulis hal-hal bermanfaat di kemudian hari. Meskipun buku resep itu akhirnya jarang dieksekusi lagi karena tak ada yang diet di rumah. Tahun itu aku juga dapat pesanan membuat buku bertema pendidikan, yang sepertinya terbit tahun ini.

Pada tahun 2018 pula akhirnya aku bergabung dalam komunitas membaca buku di Instagram, yang akhirnya mengalihkanku dari rasa penat yang rawan. Senang karena jadi termotivasi menghabiskan timbunan di rak buku dan menambah wawasan. Setidaknya buku-buku ini adalah teman ngobrol yang mungkin jauh lebih baik daripada tembok dan laba-laba.

Apakah aku tak pernah merasa takut di tempat tinggal yang baru ini?
Tentu saja pernah.
Ketakutan pertamaku adalah sering berjumpa secara tiba-tiba dengan binatang-binatang berbahaya yang kukira hanya ada di ensiklopedi. Seperti kalajengking di wastafel dapur, kelabang yang tiba-tiba muncul di lantai, ular kisi di garasi, dan luwing yang katanya suka masuk di telinga orang. Dengan begitu aku jadi lebih serius bersih-bersih rumah dan bersikap waspada.

 

 

#catatanharian #kaleidoskop #katahatichallenge  #katahatiproduction

 

 

Khusus

Malam ini aku sudah menyelesaikan membaca sebuah novel yang sialnya ber-ending menggantung. Sepertinya, gegara minggu belakangan ini aku sedang iseng membaca novel bergenre romantis dan aku jadi kapok.
Lalu belum mengantuk, aku membaca KBBI. Aku menelusuri beberapa istilah.

pri-vat: 1. pribadi; 2. tersendiri; 3.partiklir

Privat merujuk sesuatu yang bersifat pribadi. Pribadi barangkali merujuk pada hal-hal yang tidak dibagi pada siapa pun kecuali diri sendiri atau seseorang terdekat atau yang dianggap spesial.

Bila kau menyuka kesendirian dan privasi, maka sesuatu yang telah terbagi-bagi dan semua orang tahu tentu bukan lagi hal yang menarik. Aku khawatir kita memiliki sisi kanak-kanak di mana kita selalu memiliki ruang rahasia yang hanya diri sendiri atau orang-orang tertentu yang tahu. Bila ruang rahasia itu telah diketahu semua orang, maka tempat itu bukan lagi markas khusus.

oh iya, “khusus”. Apakah arti istilah khusus?

khusus (adjektiva): khas, istimewa, tidak umum.

Aku yakin setiap orang di negeri ini sudah tidak lagi khusus ketika mereka tinggal bersama masyarakat yang gotong royong. Sebab semuanya harus bersama. Semuanya harus sama. Semua orang harus tahu apa yang kita alami. Kita harus tahu banyak pula tentang orang lain. Terkadang aku masih menemukan kampung-kampung tertentu bahkan harus menyamakan bendera partai yang harus dipilihnya. Betapa lucunya itu. Kampung tempatku tinggal selalu perang dingin dengan kampung lain yang memiliki bendera partai berbeda.

Lalu apa itu umum? Orang-orng di negriku sering kali menyamakan istilah berbaur dengan “umum”. Berbaur di sini diartikan dengan sesuatu di mana kita tidak lagi khusus, dan masalah khusus kita sebaiknya jadi masalah umum. Karena saking dekatnya masyarakat dengan istilah umum ketimbang khusus, maka sudah hal biasa suami istri tinggal bersama orang tua/mertua dan keluarga besar kemudian membagi hal-hal khusus mereka menjadi wacana bersama.
Pernikahan yang digelar megah pun sudah bukti bahwa itu sudah jadi hal umum. Mulai detik itu juga, pasangan baru mesti siap menjadi sorotan baru pula bagi orang-orang di sekitarnya. Kapan punya anak? Kapan ngasih adik ke anak pertama? Kok nggak KB? dan remeh-temeh lainnya yang selalu jadi pembicaraan bersifat umum.

Bila kau membuka kamus bahasa, kau akan terkejut dengan kenyataan bahwa “umum” memiliki penjabaran yang cukup panjang. Penulis kamus ini mungkin saja orang yang lebih antusias dengan keumuman ketimbang sebaliknya. Abaikan, tentu itu hanya pikiran isengku.

umum: 1 a mengenai seluruhnya atau semuanya; secara menyeluruh, tidak menyangkut yang khusus
(tertentu) saja: 2 a untuk orang banyak; (untuk orang) siapa 3 n orang banyak; khalayak ramai:
4 v tersiar (rata) ke mana-mana; (sudah) diketahui orang banyak:

Pernahkah kau menjadi seseorang yang tidak lagi “khusus”? Apa hal sakral terakhir yang kau alami belakangan ini? Lalu apakah itu sakral? Tiba-tiba saja aku ingin mencari artinya.

sakral:
sa-kral/ suci; keramat.

Entah apakah khusus dan sakral ada keterkaitannya. Tapi jika sesuatu itu sudah tak lagi keramat, apakah masih indah jadinya? Seperti menemukan pulau yang kau kira tak ada siapa pun misalnya, ternyata telah penuh dengan turis.

Sejujurnya aku masih bingung mencari contoh perpaduan istilah-istilah itu di kehidupan sehari-hari. Apakah seperti ini contohnya:

Obrolanmu barangkali sudah jadi sekadar basa-basi dan persoalan kebutuhan sehari-hari. Dan obrolan semacam ini sudah jadi hal umum, karena kamu bisa saja membiacarakan itu pada semua orang. Barangkali semacam obrolan soal cuaca dengan teman lama yang baru saja ditemui.

Tapi jika sesuatu itu telah menjadi milik banyak orang, maka dinamakan umum. Kukira. Jadi bila engkau memiliki sesuatu yang bersifat sakral pada seseorang dan kemudian ternyata kamu bukan satu-satunya ataupun istimewa, maka sesuatu itu bukan lagi bersifat pribadi, maka tidak lagi disebut hal privat. Bila ada sebuah kabar di mana kamu orang terakhir tahu atau bukan satu-satunya yang tahu, maka bisa dibilang “tidak ada yang spesial dari dirimu” seperti yang kau kira selama ini. Namun, karena perasaan seperti itu sudah biasa kualami sejak dulu, aku tak lagi tekejut.
Bagaimana denganmu?

Ya memang, bukankah kita akan selalu berada di dua hal ini: umum dan khusus? Dan kita memiliki ukuran sendiri untuk memisahkannya. Berbeda-beda pula.

Memang ada perasan seperti menjadi berharga dan penting setiap ada yang membagi rahasianya padaku. Selalu saja aku tergelitik ingin bertanya, “apakah aku sesuatu yang ‘khusus’ bagimu?”
Aku selalu merasa penting bagi ibuku karena alasan itu, beliau selalu membagi cerita rahasianya padaku.

Setidaknya aku bersyukur karena aku masih bisa ngobrol dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia seperti dini hari ini. Banyak hal yang kuobrolkan dengan buku-buku sering kali hal-hal khusus, lebih karena tak mungkin juga dipahami orang lain. Ada banyak hal dari hidup kita tak bisa kita bagi pada orang lain. Ada sebagian dari hal-hal itu justru lebih mudah dibicarakan pada orang lain ketimbang dengan yang terdekat.

Jadi, aku beruntung karena masih memiliki beberapa hal di mana aku tak bisa membaginya pada seorang pun: buku-buku yang cuplikannya sering kali menyentuh dan kesunyian yang lebih memahami.

Buku Single Pertama: Sehat dengan Resep Rumahan Ala Golongan Darah


IMG_20180505_230701Memasak bukan lagi kegiatan yang mengerikan bagi saya ketika kepepet. Kepepet yang saya maksud adalah sejak saya menikah, hamil, dan kemudian mesti merawat anak-anak. Saya baru sadar bahwa memasak makanan sehat itu begitu penting karena kalau beli di luar nggak selalu ada. Kita semua, terlebih anak-anak butuh sekali makanan sehat, bahkan sejak mereka masih berbentuk embrio. Satu-satunya cara menjamin mereka mendapat asupan sehat adalah membuatnya sendiri di rumah. Dan hanya seperti itulah memang motivasi seorang ibu sehinga tiba-tiba ia jadi suka ngubrek-ngubrek dapur. Di samping itu, rasanya memang urusan hidup sehat seluruh anggota keluarga lebih banyak tergantung dari dapur.

Hingga pada suatu ketika di tahun 2016 lalu, tiba-tiba saya mendapat tawaran menyusun buku resep bertema diet ala golongan darah dari seorang teman yang bekerja sebagai editor di Penerbit Javalitera. Antara senang dan ragu. Senang karena selalu ada pembelajaran baru di setiap pekerjaan yang akan saya selesaikan, dan ragu apakah nanti saya bisa. Masalahnya membuat resep makanan biasa saja nggak mudah, apalagi itu ditujukan untuk diet. Sesuai golongan darah pula. Berhubung kata teman saya, naskah tetap bakal diproof-kan ke ahli gizi sebelum diterbitkan, maka saya pun setuju mengerjakannya.

Sejak itu, hal-hal terkait dapur membuat saya terkagum. Konon jenis makanan tertentu dapat menimbukan reaksi yang berbeda pada tubuh yang berbeda pula. Pada cabai misalnya, tak seberapa parah efeknya dikonsumsi satu orang, tapi bisa berbahaya dikonsumsi yang lainnya meskipun sama-sama menyukai rasanya. Teringat Simbah Selatan (Ibunya ibu saya), pernah bercerita perihal jenis tumbuhan yang beracun bila salah mengolahnya, dan simbah utara (ibunya bapak) yang hobi menuliskan hal-hal terkait tumbuhan herbal, mengoleksi tanamannya, dan juga suka juga menceritakannya, maka saya pun percaya, memang segala hal yang tumbuh di sekitar kita, hampir bisa dikonsumsi. Tanaman kimpul, sejenis umbi-umbian, bisa dikonsumsi asal harus dari pohon yang daunnya tidak gatal. Di bidang tanaman obat, ada jenis tanaman insulin yang bila dikonsumsi tanpa menggunakan kapsul, rasa pahitnya bisa bertahan di mulut hinga 2 hari. Tapi semua itu butuh dipelajari. Seperti kata Eka Kurniawan dalam cerpennya “Kutukan Dapur”, karena beberapa bisa membuat sekarat bila engkau memakannya, dan yang lain membuatmu hidup bila memakannya dalam keadaan sekarat. Entah mengapa saya malah jadi penasaran “Rijsttafel” dan “Jejak Rasa Nusantara”-nya Fadly Rahman. Jadi pengin juga baca karya-karyanya Jean anthelme Brillant-Savarin, yang konon pernah menuliskan dalam bukunya, bahwa makanan juga juga berpengaruh pada psikologi manusia.

Untuk itulah saya bersyukur mendapat kesempatan menyusun buku ini, meski dua bulan rasanya nggak cukup kalau yang dibuat model begini. Saya jadi ingat proses ketika mulai dikerjakan. Demi menyusun buku ini, saya kudu menyiapkan referensi terkait golongan darah, menggolongkan lebih dahulu bahan yang boleh atau tidak boleh disertakan dalam resep ala diet sehat, kemudian mencari bahan makanan, menakar, memodifikasi dari resep yang sudah ada, tes rasa, hingga memotretnya. Resep sudah sesuai prinsip diet golongan darah tapi rasanya masih ambyar tentu harus diulang. Begitulah seterusnya sampai ketemu takaran yang pas dan masuk akal. Sempat nyesel sih kenapa nggak dari dulu saya belajar memotret makanan lebih serius karena di tahap pemotretan inilah saya sempat ketar-ketir.

Referensi yang paling banyak saya gunakan dalam proses ini tentunya buku-buku karya Dr. Peter J D’Adamo yang telah mengkaji lebih dalam mengenai hubungan golongan darah dan tipe pola hidup sehat yang sesuai. Penemu pertama golongan darah memang bukan Dr. Peter J D’Adamo, melainkan Karl Lansteiner. Namun kajian mengenai kesehatan lebih banyak ke Dr. Peter J D’Adamo. Ssebelum semua resep ini disusun dan dieksekusi, tentu saya membutuhkan daftar jenis makanan yang direkomendasikan atau tidak direkomendasikan untuk dikonsumsi masing-masing golongan darah.

Daftar resep makanan dalam buku ini sebenarnya sangat akrab di lidah kita sehari-hari. Mudah pula dibuatnya. Tapi yang membuat buku ini berbeda karena bahan-bahannya sudah disesuaikan dengan golongan darah. Pada prinsip diet golongan darah ala Dr. Peter J D’Adamo, dikatakan bahwa setiap golongan darah memiliki reaksi tertentu yang berbeda terhadap satu makanan. Makanan tertentu bisa cocok dengan salah satu golongan darah, namun kurang sesuai bila dikonsumsi golongan darah lain. Misalnya, resep bertema daging lebih banyak ditemukan untuk golongan darah O karena memang golongan ini yang lebih cocok mengonsumsi daging. Sedangkan golongan darah A, lebih banyak membutuhkan sayur dan beberapa protein dari telur dan ikan yang masih diperbolehkan namun dalam jumlah terbatas. Resep dalam buku ini juga terbagi tiga di tiap-tiap golongan darah, yaitu masakan utama, kudapan, dan minuman.

Tentu saja, diet ala golongan darah hanya sebagai pilihan di antara banyak pilihan diet lainnya. Sifatnya hanya rekomendasi. Diet golongan darah sebetulnya lebih luas pembahasannya. Dalam diet golongan darah, jenis olahraga yang dianjurkan untuk masing-masing golongan pun berbeda. Namun buku ini tentu lebih banyak membahas di makanannya. Meski sebetulnya, bila kita mengaplikasikan semua resep ini tanpa memerhatikan jenis golongan darah, toh tak ada risiko yang besar. Hanya saja, tetap berlaku prinsip supaya sehat, tidak dianjurkan makan berlebihan. Di samping itu mesti didukung juga pola sehat yang lain seperti istirahat yang cukup, menghindari stres, dan berolah raga rutin.

Semua itu proses menyusun buku ini kelihatannya simpel, tapi ternyata cukup rumit. Hal terpenting dari menyusun buku ini, saya mendapatkan pengalaman yang sangat berharga, yaitu mempelajari memasak makanan sehat, belajar teknik memasak lebih banyak, dan banyak hal terkait pola hidup sehat. Dan selain itu saya jadi termotivasi untuk terus belajar hal-hal yang bermanfaat lain setelah ini. Meski pernah menyusun buku resep, bukan berarti saya lulus belajar masak. Sebaliknya, saya justru berpikir banyak hal mesti dibenahi. Masih perlu banyak belajar dan update pengetahuan mengenai manfaat bahan makanan di sekitar. Hal yang saya kerjakan ini tentu masih jauh dari sempurna.

Sebagai informasi, buku ini bisa ditemukan di toko-toko buku di seluruh Indonesia. Semoga bermanfaat. 🙂

 

IMG_20180610_071706_HDR

IMG_20180610_072352_HDR

9 Bulan Si Kecil-ku

Nggak terasa Satya sudah berumur 9 bulan. Sudah lulus ASI ekslusif 6 bulan, dan sekarang latihan makan MPASI sehat yang lebih padat. Geraknya makin lincah, dan bahkan sekarang sudah belajar turun dari tempat tidur sendiri. Sebelumnya, saya sempet berada di moment “panik akut” ketika Satya masih berumur 4 bulan dan ia belum bisa tengkurap sendiri. Tadinya saya nggak bermasalah dengan itu, sampai orang-orang dengan mudahnya mengklaim ia keseleo lah, karena nggak pernah didadah ke dukun bayilah, dan lebih buruknya dibandingkan sama bayi-bayi lain yang sudah bisa tengkurap sendiri. Padahal kan mereka nggak mengikuti perkembangan Satya dari hari ke hari karena nggak tinggal serumah. Meski saya sadar, membesarkan anak di lingkungan masyarakat gotong royong semacam ini memang mesti bisa juga ngemong banyak orang.

Nggak henti-hentinya, sejak saya melahirkan, suara-suara semacam itu mudah sekali bikin saya down ketimbang percaya diri. Mungkin sebal sekali rasanya dikasih kritik dan nasihat tanpa diminta dan efeknya saya malah merasa nggak pantas jadi ibu yang baik. Terutama nasihat yang sifatnya kuran masuk akal. Mungkin karena ibu pasca melahirkan jadi lebih rentan daripada ketika belum punya anak. Terlebih baru pertama kali saya punya bayi dan tentunya lebih butuh dimotivasi dan diberi ruang untuk beradaptasi dengan status baru. Siapa sih yang nggak gampang parno begitu ditakut-takutin dengan hal-hal yang belum terbukti kebenarannya? Nggak cuma ibu-ibu tetangga, kerabat, atau keluarga besar, tapi dokter pun turut menyuntikkan teror, yang akhirnya membuat saya terpaksa memutuskan untuk ganti dokter.

Namanya juga ibu, se-down apa pun tetep berusaha positive thinking dan tetap kuat demi terus merawat dan menjaga buah hati. Saya juga nggak lantas begitu saja menyerahkannya ke dukun bayi. Memijatnya sendiri lebih aman. Sebelum itu, saya pernah membaca referensi bahwa bayi 4 bulan belum tengkurap masih tergolong normal. Entah bagaimana saya selalu percaya kok setiap anak mengalami tumbuh kembang yang nggak bisa dibandingkan satu dengan yang lainnya. Dan pada akhirnya, semua itu terlewat. Satya nggak kenapa-kenapa. Normal seperti yang seharusnya. Begitu ia bisa tengkurep sendiri, maka ia pun berguling-guling sepengin dia sendiri dan berkembang sesuai yang ia  mau.

Ada-ada saja tingkah polahnya setiap hari yang bikin orang-orang dewasa di sekitarnya gemas dan geli. Kalau dulu orang-orang menakut-nakutin ibunya bahwa si anak ini mungkin ada yang kurang karena belum bisa tengkurap sendiri, sekarang mereka kewalahan kalau kedapatan kunjungan karena polah Satya yang sering tak bisa diprediksi dan cenderung mengacaukan barang-barang =)), dan mereka pun jadi banyak melarang si kecil. “Jangan pegang ini, jangan ke sana, jangan bla.. bla. bla.. ” Kadang aneh deh rata-rata masyarakat kita. Menuntut para bayi supaya cepet besar dan bisa jalan, begitu bisa jalan malah sering dilarang ini itu. Dihambat berkembang.

Sekarang ia sedang aktif-aktifnya. Sudah belajar berdiri sendiri, berpindah tempat tanpa bantuan, duduk sendiri, mengoceh (dengan bahasa yang masih belum jelas), selalu penasaran dengan benda-benda di sekitarnya, dan bahkan memakan apa saja yang dipegangnya sebagai proses dimulainya latihan makan sendiri. Sebagai orang tua, kekhawatrian pun tentu saja bertambah. Tak jarang ia jatuh, kebentur sesuatu, bahkan kemarin hari sempat terantuk pagar box bayi sampai berdarah gusinya. Apakah lantas saya nggak ngasih izin dia main di box-nya lagi? Tentu saja tidak. Lebih karena ada hal lebih penting dari sekadar luka terantuk lingir.

Hal-hal yang sifatnya naluri kan butuh dipalajari juga secara mandiri. Makan, berjalan, dan hal-hal semacam itu. Nggak mungkin kan Satya saya larang ini itu, atau menggendongnya sepanjang waktu, karena kalau begitu ia jadi stress. Nggak mungkin juga saya bentak dia supaya kaget dan takut melanjutkan rasa penasarannya dengan sesuatu, karena konon malah akan berisiko pada kondisi psikologisnya. Paling saya hanya akan menyingkirkan benda-benda berbahaya atau tegas menjauhkannya dari hal-hal seperti kompor atau setrika panas. Jatuh, kotor, terluka, memang risiko belajar. Setiap ia jatuh, tentu saja saya hanya akan memeluknya dan bilang “nggak papa, lain kali hati-hati ya, pegangannya pelan-pelan aja.” Padahal dalam hati cemas banget dan jantung rasanya mau copot. Tapi mau gimana lagi, proses belajar harus dilanjutkan. Karena semua itu memang nggak sia-sia kok. Setelah momen terantuk pinggiran kayu, atau jatuh, saya pun melihat perubahan Satya yang akhirnya lebih hati-hati dari sebelumnya. Mungkin saja bayi seusianya sudah mampu membedakan benda-benda mana yang bikin sakit, mana yang tidak.

Semakin aktif Satya, semakin was-was pula rasanya setiap akan meninggalkannya. Padahal nggak mungkin punya bayi nggak punya moment nitip. Apalagi ketika bayi sudah mulai penasaran dengan lantai dan kabel listrik. Setidaknya untuk ditinggal ke pasar pun pasti nitip siapa pun yang ada di sekitar bayi. Beberes peralatan mandi saja mesti harus titip atau memastikan si baby bisa ditingal sendiri di box-nya. Ditinggal sebentar dan Satya cuma diem lebih dari 2 menit, saya pasti curiga karena biasanya ada hal aneh yang ia pegang. Teringat beberapa minggu lalu, sepupu Satya yang lagi nginep di rumah, dan usianya lebih tua dua bulan dari Satya, diem-diem sibuk mainan resrespo yang mungkin saja baginya selucu tedy bear. Gimana saya nggak ketar-ketir? Apalagi rumah lagi sering kedatangan resrespo yang berasal dari pekarangan tetangga samping yang terbangkalai. Nggak tahu kenapa, sarang-sarang sudah coba dibersihkan, telur-telur dimusnahkan, tapi tetep aja muncul. Yang punya pekarangan entah ke mana.

Memang kalau saya mesti pergi karena keperluan mendesak, ibu saya adalah satu-satunya yang bisa saya titipi. Tinggal satu kompleks dengan orang tua memang banyak kemudahan. Tapi saya juga nggak lupa, ibu saya adalah ibu rumah tangga, mengurus bapak, adik bungsu, simbah, dan terkadang masih juga mengurus saya sepertinya sudah membuatnya cukup kelelahan. Menitipkan Satya juga perlu melihat kondisi beliau apakah lagi benar-benar selo atau tidak.

Jadi kesimpulan sementaranya, saya mesti melanjutkan proses jadi fulltime mommy, dan juga siap bila ada tanggung jawab pekerjaan freelance yang bisa dikerjakan di rumah. Menjadi ibu nggak perlu berhenti mengembangkan diri kan. Diem-diem saya jadi salut sama ibu-ibu kantor yang tetep bisa kerja dan merawat keluarga kecil. Saya yang nggak ngantor saja sempoyongan dan selalu mengkhawatirkan anak yang saya pelototi setiap saat. Gimana dengan mereka yang hanya bisa ketemu beberapa jam saja dalam sehari?

Sejauh ini, saya merasakan salah satu sisi positifnya punya bayi, semua orang seperti memberi permakluman. Kalau saya telat datang di acara keluarga misalnya, mereka akan maklum karena saya pastinya ngurus bayi lebih dulu. Dan bila saya bangun kesiangan, keluarga saya pun maklum karena pastinya semalaman begadang menyusui dan mengganti popok si dedek bayi. Kalau saya nggak bisa datang acara formal tertentu, sudah pasti orang-orang maklum karena punya bayi memang demikian sibuknya. Dan beruntungnya, karena kehadiran Satya membuat saya belajar menyaring berbagai jenis informasi (saran, kritik, nyiyiran, dan sebagainya), dan juga bertumbuh menjadi orang tua yang terus berusaha belajar mengambil yang penting dan mengabaikan yang nggak penting. Saya percaya memiliki buah hati bikin seseorang jadi lebih ‘bijak’.

Semoga Allah selalu menjaga Satya dan senantiasa memampukan kami untuk menjadi orang tua yang baik baginya. Amin.

sahabat

Hampir setiap hari, ibu-ibu lansia seusia Mbah Uti berkumpul di rumah, mereka ngobrol hingga berjam-jam, terkadang saling pijit atau minta dikerik kalau ada yang sakit. Mereka berbicara tentang banyak hal dengan blak-blakan dan kocak. Setiap hari, seperti yang kuceritakan di postingan dulu, rumah ini justru ramai karena komunitas kecil itu. Setiap hari terdengar tawa dan guyon. Rumah kecil simbah yang berdempetan dengan kamarku. Tapi lebih dari itu, persahabatan mereka membuatku sedikit iri. Mereka bahkan beberapa kali travelling bersama ke luar kota dengan dana pensiun masing-masing tanpa ditemani cucu atau anak-anak. Memang punya sahabat yang dapat ditemui kapan pun adalah berkah tersendiri, yang tak dimiliki semua orang. Teman-teman terdekat yang barangkali akan selalu di samping kita hingga pada waktunya kita akan pergi untuk selamanya.

Aku jadi ingat, ada yang mengatakan (saya lupa di situs mana) bahwa bila engkau sudah bersahabat dengan seseorang selama 7 tahun, ia akan menjadi sahabatmu selamanya. Betapa beruntungnya. Tapi tentu, setiap orang akan memilkinya dengan jumlah yang tak sama. Bahkan sedihnya, ada pula yang tak memilikinya sama sekali. Dan mungkin saja memang benar, kita hanya butuh beberapa gelintir sahabat sejati yang akan bersama kita selama hidup.

Terkadang aku bertanya, apakah itu sahabat sejati? Barangkali bukan mereka yang dipersatukan karena sama-sama punya gadget dan hobi belanja, bukan yang hanya punya niat nyari utangan dan kabur, bukan mereka yang ternyata hanya membawa “modus” tertentu, bukan sekadar karena sama-sama masih single dan galau, bukan juga mereka yang tiba-tiba pergi begitu kita menikah, tapi mereka yang memang benar-benar akan selalu ada dalam bahagia dan duka. Manusia takkan bisa bertahan dalam kondisi yang berubah-ubah seperti yang biasa kita alami. Bukankah terkadang kita mengalami hal indah dan kelam selama hidup? Bahkan ketika berbahagia pun kita butuh keluarga dan sahabat-sahabat untuk ikut tersenyum bersama.

Barangkali sahabat memang tidak ditemukan semudah kita menemukannya di serial Harry Potter, seperti halnya seorang kekasih, tapi ia bagian dari proses hubungan kita terhadap mereka yang kini masih bersedia berteman sekacau apa pun kondisi kita hari ini. Dan kurasa sahabat juga tentang siapa pun: teman main, teman senam, ibu atau ayah kita, teman nge-blog, pasangan kita, atau seekor kucing. Aku selalu tak pernah menyesali bila hubunganku dengan teman-temanku berkembang jadi sahabat abadi melalui berbagai proses itu. Dan anggaplah barangkali ini hanya tulisan yang didorong rasa sepi dan rindu memiliki teman-teman dekat yang selalu ada dalam hidup kita.

yang akan selalu menerima dan menyayangi kelak hingga kulit kita keriput dan beraroma minyak kayu putih.

Surat Ketujuhbelas: Kamar Loteng

Hai Isha’,

Barangkali sudah pernah kuceritakan dalam surat yang kukirim padamu, yang kuhanyutkan di aliran air, ketika hujan deras tiba. Aku pernah tinggal di sebuah istana kecil, tepatnya sebuah kamar di loteng, di mana aku merasa begitu nyaman dan begitu “aku” di sana. Sejak tahun 2010 akhir, aku harus pindahan karena ayahku membuatkan kamar baru di dekat kebun, yang mirip sebuah rumah kecil yang kutinggali hingga sekarang, yang mungkin sebentar lagi tidak.

Tapi entah bagaimana tiba-tiba malam ini rasanya aku rindu tidur di lotengku dulu. Maka bila rasanya percuma aku memaksakan diri untuk tidur, kupikir sebaiknya aku mengunjungi kamar itu.
Semua orang sudah tidur. Perlahan dan hati-hati kunaiki tangga kayu yang menuju ke sana. Tentu saja aku tak bisa kemonyet-monyetan lagi seperti dulu. Aku tiba-tiba teringat begitu cepatnya kuturuni anak tangga ini ketika terjadi gempa Jogja 2006 silam mirip seperti tentara sedang latihan perang. Aku takkan segesit itu lagi bila gempa seperti dulu datang malam ini.

Lama sekali kamar lotengku itu berubah jadi gudang kedua. Tapi seminggu yang lalu adik bungsuku menyulapnya kembali jadi ruang perpustakaan, tempat membaca, atau sejenisnya. Yang jelas memang benar settingan baru di tempat ini bisa menyelamatkan siapa pun dari penat. Atapnya yang berbentuk miring memang telah lama dilapisi tripleks di bagian dalam, mengikuti bentuknya. Kini, dilapisi kertas motif batik sehingga terasa berbeda. Bagian dinding kayu telah dicat ulang. Ada sebuah meja kecil dan sebuah rak yang baru diiisi buku-buku tua berbahasa Belanda, juga buku-buku adikku yang lain yang baru dipindah sebagian di sini. Ada karpet dan bantal juga kini lebih lengang karena hanya benda-benda itu yang ada di sana tapi lebih rapi dan tentu saja bersih, karpet ini bisa difungsikan untuk rebahan dan tidur. Jendela yang menghadap depan kini tidak lagi dibiarkan terbuka dan hanya ditutupi gorden transparan. Kini ditutupi papan tulis bekas dan hanya dibuka kala siang. Kamar ini memang telah berubah. Dari kamar, gudang, sekarang ruang belajar dan bersantai.

Teringat masa dulu, kamar lotengku ini berantakan. Ada sebuah kasur busa yang hanya dialasi karpet, 2 meja kecil, kardus-kardus berisi berkas kliping dan kertas penuh coretan, ada dua rak buku yang isinya tak karuan, sebab buku-buku dan kertas, juga benda-benda lain yang cenderung hanya hiasan berkumpul jadi satu dan jarang sekali ditata ulang. Belum lagi harus kuberi ruang untukku menggelar sajadah dan salat, juga ada kipas angin kecil yang selalu kupindah-pindah karena aku tak betah di ruang bersuhu panas. Ada kala setiap teman-temanku datang, mereka takjub, menyadari bahwa bukan hanya mickey mouse yang betah tinggal di loteng yang berbentuk antik begini.

Berada di sini memang membuatku terbang sejenak ke masa lalu, juga perjalanku menuju sekarang. Di kamar inilah aku menjatuhkan diriku di kasur dengan begitu bahagia karena pendadaranku berhasil dan dapat nilai A+. Di tempat ini aku mulai mengumpulkan coretan dan draft-draft tulisan yang sekarang entah di mana, mulai membaca buku-buku berat, dan di kamar ini dulu aku rajin menulis buku harian, kebiasaan yang pudar sejak aku pindah kamar. Di ruang ini pula sesekali aku melihat dunia luar lewat jendela. Sungguh aku begitu berdamai dengan dunia yang hanya diisi olehku sendirian. Di kamar ini tersimpan segala ingatan yang berbuku-buku rasanya bila dituliskan, sebab aku memang banyak berpikir dan begitu sering melamunkan banyak hal.

Aku merasa rindu dengan kamar ini dan rasanya malam ini aku ingin berada di sini, juga sendirian. Menunggu kantukku tiba, aku akan membaca salah satu novel yang pernah kubeli dan belum sempat kubaca. Novel yang judulnya begitu panjang “Surat Panjang tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya” yang kebetulan pernah memenangkan Sayembara Novel DKJ tahun 2012.

Demikianlah bila aku melarikan penat dan tak seorang pun dapat diajak bicara dan mengerti. Aku yakin, pada dinding-dinding kamar loteng ini, segala masalah dan gajalan akan selesai dengan sendirinya, seperti yang sudah-sudah.

kehidupan baru

Aku jadi sering mengantuk dan tidur, setiap jam kelaparan, setiap menit ada yang selalu kukhawatirkan, tiba-tiba jadi sangat sensitif. Semua perasaan itu datang dan pergi bersama dengan kebahagiaan yang tak bisa kujabarkan. Entah bagaimana selalu saja banyak hal terjawab begitu harapan tidak lagi sebegitu besar. Dan dalam hitungan hari belakangan ini, aku merasa jadi orang lain. Barangkali tengah berganti naluri. Atau entah apa.

Hanya bisa berbisik kukatakan selamat datang kehidupan baru. Aku sangat bersyukur dan akan menjagamu, meskipun mungkin akan sedikit seperti orang kalap 😀

Stasiun dan Mimpi

04:00

Di jam-jam inilah, saat paling sepi yang dapat kunikmati sendiri. Hanya alam yang terasa alam yang terbangun menemani, juga mimpi yang akan lebih lama menguap bersama uap kopi.

Dan di pagi inilah, aku terdiam mengingat mimpiku tentang stasiun dan hiruk pikuknya.

Omong-omong, apa yang ada di benakmu ketika mendengar tentang “stasiun”? Pemberhentian? Kereta api? Tempat nongkrong sore-sore? Salah satu judul novelnya Putu Wijaya yang penuh absurdisme? Atau tentang seseorang yang kau antar pergi sambil terus kau pandangi punggungnya hingga menghilang, atau suasana ketika engkau menjemputnya pagi-pagi dengan hati yang biru jauh di masa yang dahulu? Tak jelas apakah semalam hal indah atau menyedihkan yang kuimpikan. Aku seperti terlempar dalam visualisasi stasiun dan perjalanan dari tempat asing ke tempat asing yang tak usai, dan mungkin juga hal-hal yang sempat terlintas di pikiranku yang belakangan sering nge-blank. Namun ada ruang damai di sana yang disebut ingatan. Di mana aku tak ingin bayangan itu hilang.

6230025585_74deba228d_b

gambar diambil dari http://street.kilcher04.net/

doa pagi ini

Tuhan, semoga kami semua selamat dari rasa sombong, serakah, takabur, kikir, dan ketidaksadaran.
Dan semoga kami pun termasuk orang-orang yang ‘berjalan’ karena-Mu, sebab hanya Engkau satu-satunya alasan paling pasti dan masuk akal dari apa pun di dunia ini.

Sahabat Pena

Dapat dikatakan ini sekadar iseng berkhayal

Kadangkala aku ingin punya sahabat pena. Seorang teman yang barangkali jauh dari tempat ini dan sama-sama hanya bisa menulis untuk dapat nyaman berbicara. Barangkali ia juga benci arisan, malas pula berada di antara orang-orang yang berebut disimak untuk pamer, ia juga nggan punya jejaring sosial yang bising dan memusingkan. Mungkin ia juga membutuhkan seorang teman yang belum pernah ditemui tapi ia tahu bakal berkirim surat setiap akhir pekan, bercerita banyak hal tanpa khawatir terekspose media karena untuk apa, menyebarkan cerita orang yang bahkan belum dikenal kecuali lewat tulisan tangan?

Menulis surat pada sahabat pena tak perlu saling melihat ekspresi dan foto selfie, tak perlu khawatir bahwa kami berbeda, tak perlu menyamakan status sosial atau nasib, tak eprlu memandang apakah kami menikah atau tidak, kaya atau tidak, tak perlu risau soal prasangka sebab kami dapat terbuka dengan leluasa, kami boleh jujur atau tidak tergantung kita sendiri, asal tetap terhubung dan saling merespons.dan lama-kelamaan mungkin saja saling menginspirasi. Yah barangkali akan mustahil, mengingat, alih-alih sahabat pena, sepanjang hidup punya teman saja sudah merupakan kemewahan bukan?

Lanjut… Kemudian, kami akan bercerita apa pun yang ingin kami ceritakan, menanyakan pendapat, menjabarkan pemikiran, menguraikan perasaan, ataupun memberikan argumen sebebas mungkin tanpa takut membuat tersinggung sebab segalanya begitu jelas lewat surat, seperti Kartini, atau seperti Minke dalam Bumi Manusia. Barangkali kami hanya sekadar berkirim surat, tanpa harus bertemu dan belanja bareng dan lalu merasa berdosa karena demi punya teman dan tahu kabar, kami seolah harus pakai smartphone dan memiliki beberapa akun sosial. Sedangkan tak semua orang suka smartphone, dan tak setiap orang kuat membelinyaSebab kurasa sekadar surat cukup. Entah dia berasal dari pelosok pulau yang mepet perbatasan, entah dari pedalama lereng gunung, entah dari bawah air terjun, atau di daerah konflik, atau dari kota besar yang membosankan, tak masalah bagiku. Tak perlu ada syarat ribet demi saling memahami dengan cara masing-masing. Kami bisa menulis di atas kertas, atau di atas daun kering atau tisu, boleh tulisan tangan, atau mesin ketik. Kurasa akan lebih menyenangkan ketika kami terhubung melalui surat-surat yang rutin diantar pak pos akhir bulan atau akhir pekan. Surat lebih universal dan membumi daripada jejaring sosial atau sejenisnya.

Barangkali akan menyenangkan bisa bersahabat dengan surat menyurat, membagi sebagian cerita hidup, yang mungkin berlangsung selamanya. Sampai barangkali kami tua dan isi tulisan kami pendek-pendek karena sudah tak senergik dulu, dan mungkin sampai salah satu dari kami lebih dahulu tak membalas surat. Sebab terlalu sulit bagiku menjadi bagian dari keramaian ini, mematuhi segala kepentingan, aturan-aturan tak terlihat yang aku kurang paham, atau mengkhawatirkan banyak hal yang mestinya tak perlu dikhawatirkan. Berat rasanya terjebak dalam kerumitan kita sendiri yang tak bisa menjadi diri sendiri di tengah hingar bingar. Sementara kita ingin menjadi diri kita sepenuhnya. Andai semua itu mudah.

Sahabat pena mungkin adalah sahabat yang ideal di satu sisi sebab dapat saling menerima tanpa pretensi, tidak di sisi lain karena tentu ia tak menjadi bagian dari kehidupan keseharian kita. Mungkin saja suatu saat kami bertemu pada sebuah kesempatan, mengumpulkan surat-surat-surat kami untuk dibuatkan museum khusus bertema sahabat pena. Saat itu pastilah kami terbahak karena menyadari begitu banyak yang berbeda dari kami, dan begitu jauh sosok kami semua dari bayangan masing-masing sebelum ini. Dan begitu akrab dan dekat sebetulnya kami sebelum kikuk berkenalan lagi di dunia nyata. Atau barangkali takkan pernah bertemu.

Sungguh kurasa, akan sangat mengasyikan bila punya banyak sahabat pena….

Tapi apakah demi berangan tentang ini, aku juga mesti memandang zaman?

DSCN3501

Rasa Pedas

Kau penyuka rasa pedas?

Aku nggak terlalu menggemari, tapi makanan pedas kuakui enak. Terlebih bila komposisi bumbu dengan bahan dasarnya pas, entah itu pedas karena cabai atau merica. Mereka akan meninggalkan jejak nikmat (lengkap) sebelum melanjutkan perjalanan ke kerongkongan dan lambung untuk melebur dengan zat HCL, pepsin, renin, dan makanan lainnya. Mulut dapat merasai sensasi menyakitkan tapi enak yang dihasilkan rasa pedas itu. Namun tidak semua lambung lantas menyambut dengan bersahabat. Jadi benar, ada kalanya orang-orang yang memiih makanan enak, cenderung lebih dahulu mempertimbangkan selera yang dituntut oleh indra pengecap, utamanya lidah dan indra peciuman, ketimbang kemampuan alat pencernaan setelah mulut ataupun kesehatan. Terlebih kemampuan perut tak bisa terdeteksi sebelum betulan terlihat dampaknya.

Kata seorang teman rasa pedas itu merusak rasa. Teman lain bilang itu justru memperkuat rasa. Kedua pendapat itu dapat dikatakan benar karena sebetulnya cabai menyangkut selera. Selera berkait erat dengan individu yang tentunya sudah beragam dari sananya. Manusia dan selera adalah identitas yang berpasangan selalu. Ada yang senang bila cabainya melimpah. Ada yang menyerah duluan dengan cabai setengah biji. Ada pula yang menolak sama sekali masakan pedas secuil pun.

Ketika aku iseng browsing sejarah makanan pedas, ternyata sulit juga dicari. Ada yang bilang berasal dari Melayu, sebelum Indonesia bernama Indonesia. Masyarakat Thailand pun familier dengan tradisi makan pedas. Ingat penjelasan salah satu dosen ketika zaman kuliah, bahwa setiap daerah bisa berbeda kecenderungan jenis makanan sesuai dengan kondisi alamnya. Semula makanan pedas biasanya dikonsumsi masyarakat sekitar pegunungan atau daerah berhawa dingin. Zat yang terkandung di dalam cabai dipercaya dapat menghangatkan tubuh. Meski demikian, tidak semua orang lantas mengonsumsinya. Sebab di negara-negara lain, seperti negara-negara di Eropa, mereka konon tidak memakan cabai seperti di Asia. Sebagai penghangat mereka meminum semacam wine. Meskipun jahe sebenarnya bisa, tapi jahe digunakan di Indonesia. Sehingga kurasa cara masyarakat mengatasi rasa dingin melalui makanan hanya soal adat dan kebiasaan. Barangkali belum bisa dikatakan melulu tentang adaptasi, melainkan selera. Masyarakat dari tradisi pemakan cabai ekstrem pun ketika berkunjung ke Jogja akan mengeluhkan rasa manis di dalam unsur masakannya, dan akan tetap menambahkan porsi cabai meskipun udara Jogja sudah hangat.

Tapi rupanya rasa pedas tidak berasal dari tanah Melayu. Di India ada jenis cabai Bhut Jolokia yang sempat membuat pemakannya terkapar pada menit ke-30, konon efeknya hingga 12 jam.  Cabe ini menggantikan jenis Red Savina yang semula menjadi cabai terpedas di dunia versi Guinness World Records. Pada versi itu, ada beberapa peraih rekor yang rupanya justru dari Meksiko. Ada pula yang menyatakan Ed Currie yang terpedas di dunia. yang juga berasal dari Meksiko. Tak lama versi Guinness Book of Records menyatakan cabai asal Inggrislah, cabai Infinity, yang terpedas di dunia. Jadi untuk apa cabai diciptakan di dunia selain untuk bumbu makanan dan ikut lomba? Untuk obat. Beberapa artikel ilmiah menjelaskan kegunaannya di bidang kesehatan, tapi dalam porsi yang cukup dan cenderung sedikit. Cabai juga punya manfaat mengobati.

Namun, kemarin hari sedikit menyesal sekaligus bersyukur dengan masakan pedas yang kumakan, memang pada dasarnya lezat sekali, apalagi dikonsumsi di antara suasana ‘hangat’. Hanya saja unsur cabainya melebihi batas normal kemampuanku merespons rasa pedas yang tentunya hanya kusimpan sendiri dalam hati -__-. Sebab sehari setelahnya, selain masih ada rasa panas di pangkal kerongkongan hingga lambung, efek lain yang cukup bikin mules dan lemes pun mengikuti. Tongseng kuah yang rasanya gurih itu semula menimbulkan efek bahagia. Aku memang melihat semua orang tampak menikmatinya. Ada yang megap-megap tapi ketagihan, ada yang memang benar-benar menghindari karena warna kuahnya dominan merah, ada yang malah jadi tambah sehat habis kepedasan meski muka merah dan air mata bercucuran, mirip ekspresiku. Bahkan ada yang memakannya seperti ngemil kacang goreng sambil nonton bola.

Namun, lapar dan perasaan tidak enak menolak hidangan sang koki yang ahli masak tongseng kambing ini adalah perpaduan cocok untuk membuatku tetap makan kemarin hari. Pada detik-detik awal, sedikit masih bisa menikmati sensasi rasa gurih yang pas di dalam masakannya, lama kelamaaan tak sadar secara insting, aku berusaha menghabiskan makanan cepat-cepat tanpa mampu bersuara sepatah kata pun. Begitu melihat air putih, rasanya ingin menenggak seluruh isinya dalam hitungan detik. Berharap pedas itu segera hilang dan kembali pada efek makanan sedapnya. Sampai di rumah cepat-cepat aku menelan semua makanan penetral dan berhenti berpikir yang tidak-tidak. Memang banyak orang di luar sana merasa lebih nyaman dan lebih bugar setelah megap-megap, tapi rupanya aku tak punya respons naluriah bersifat positif semacam itu.

Rasanya untuk beberapa hari ke depan, aku perlu menghindari hal-hal yang pedas. Selain rasa terbakar di leher dan sekitar perut, efek psikologisnya pun bakal tidak sebentar. Untuk soal makanan pedas, yang mewakili keberagaman manusia itu, aku nggak mau lagi bertoleransi. Demi apa pun untuk saat ini.

Postinganku kali ini memang lebih banyak tentang rasa pedas cabai. Berbicara soal rasa pedas, mungkin demikian cara manusia menjalani hidupnya: sekalipun menyakitkan, tapi toh tetap menikmatinya juga sebagai hidangan rutin.:)

Bagaimana pun pengalaman kepedasan adalah pengalaman yang berharga untuk dilewatkan.

Batik Trusmi dan Kesetaraan

Berawal dari mention-mentionan saya dan teman-teman kantor lama via Twitter, teringat lagi nostalgia kompakan pakai batik kala itu. Bertepatan juga di hari batik, seperti hari kemarin. Untuk itulah, rasanya ingin menulis hal-hal bertema batik. Namun sempat agak bingung memilih topik batik dari daerah mana. Jogja yang memang mau nggak mau setiap hari saya kunjungi, atau asal daerah lain yang belum saya kunjungi?

Sepertinya saat ini lebih menarik mengulas batik asal daerah yang bukan Jogja karena jenis batiknya sudah sangat familier di mata saya -_-. Akhirnya saya putuskan memilih batik trusmi karena bentuknya yang berbeda sekali dengan batik Jawa. Siapa tahu kelak betulan berkunjung ke sana dan membeli kainnya.

Seperti yang pernah saya tulis di blog ini waktu itu, selama ini saya memang kurang gaul soal fashion dan kain, namun selalu berusaha memahami, hingga akhirnya menulis tentang batik Truntum beberapa waktu lalu sebagai awal saya mengenali produk budaya berbentuk bahan pakaian.

Batik Trusmi berasal dari Cirebon. Nama Trusmi sediri diambil dari kepanjangan terus bersemi. Istilah trusmi juga diambil dari nama desanya, yaitu Desa Trusmi yang sekarang juga menjadi kampung batik terkenal di sana. Trusmi tersebut tergolong jenis batik pesisir (pantai). Mungkin itulah sebab mengapa kebanyakan bergaya kebebasan dan fleksibel. Seperti bentuk awan dan burung (entah burung atau naga terbang ya…) menunjukkan hal-hal yang luas dan transenden. Karena bentuknya yang khas dan warnanya yang cukup tegas serta makna yang terkandung di dalamnya, membuatnya pantas menyandang predikat salah satu ikon batik nasional. Daerah Cirebon sendiri semula memiliki dua kerajaan maka batiknya disebut batik keraton.

Menurut sejarah, seperti halnya batik-batik lain di nusantara, batik Cirebon pun merupakan hasil asimilasi dan akulturasi beragam budaya. Batik gaya Cirebon yang sekarang semula lahir sejak Pelabuhan Muara Jati di daerah tersebut dijadikan tempat transit para pedagang. Pedagang yang singgah rata-rata berasal dari Tiongkok, Arab, Persia, dan India.

Selain itu, filosofi dan religiusitas yang terkandung dalam batik Trusmi berhubungan erat dengan sejarahnya dan juga berkait tatkala Sunan Gunung Jati menyebarkan Islam pada abad ke-16. Menurut berbagai sumber, pernikahan Sunan Gunung Jati dengan Putri Ong Tien wanita berketurunan Tiongkok disinyalir menjadi awal bergabungnya dua kebudayaan tersebut. Kala itu keraton menjadi pusat kosmik sehingga ide atau gagasan serta pernak-pernik budaya Tiongkok masuk dan berasimilasi dengan budaya Cirebon. Termasuk hasil asimilasi itu adalah batik Cirebon dengan motif awan yang lekat dengan mitologi Tiongkok yang dinamakan dengan motif mega mendung.

Motif mega mendung sekalipun dipengaruhi gaya Tiongkok namun sarat makna religius dan filosofi. Garis-garis gambarnya merupakan simbol dari perjalanan hidup manusia dari lahir, anak-anak, remaja, dewasa, berumah tangga sampai meninggal dunia. Antara lahir dan mati tersambung garis penghubung yang kesemuanya menyimbolkan kebesaran Illahi. Menarik sekali.

Selain itu ada beberapa jenis batik Cirebon yang lain dan juga sarat degan legenda dan filosofinya masing-masing, yang barangkali akan lebih total bila diuraikan sambil travelling ke kampung batiknya langsung.

Batik menurut pengamatan saya, juga sedikit banyak menggambarkan kondisi masyarakat tempat batik ini dibuat. Misal di Jawa, batik menggambarkan masyarakat yang berlapis-lapis karena hampir semua memiliki fungsi masing-masing dan lumayan ribet. Bahkan batik jenis parang tidak bisa dipakai di keraton karena dianggap kurang sopan. Secara antropologi, batik trusmi juga menggambarkan masyarakat Cirebon yang lugas dan egaliter, maka tepat bila mewakili hubungan masyarakat yang blak-blakan dan setara. Barangkali sedikit berkebalikan dengan Jawa yang serba hati-hati, suka mbatin, dan cenderung agak feodal, hehe. (peace ^^)

So, Selamat Hari Batik 2 Oktober 2014 🙂

contoh batik trusmi

contoh batik trusmi

contoh batik trusmi motif mega mendung

contoh batik trusmi motif mega mendung

target

Sejak bangun tidur sejam yang lalu, aku langsung menyetel musik, membuka jendela, cuci muka, bikin kopi, kemudian mengambil 4 koran langgananku di depan untuk kubawa ke kamar lagi, lalu membaca, seperti yang biasanya.

Udara hangat menyeruak kamar, cericit burung telah ramai, dan sengaja memang kunikmati pagi di hari libur ala masa dulu. Sempat kubayangkan kebun yang penuh tetumbuhan itu dikunjungi ratusan peri semalaman. Barangkali mereka menyanyi dan menari sampai sebagian sayapnya berjatuhan di tanah. Barangkali mereka telah selesai memunguti mimpi-mimpi yang dipinjamkan untuk para manusia kemudian tidur di atas bunga-bunga. Kau percaya pada peri? 🙂

Rasanya sudah lama tak bercengkerama dengan rasa sunyi, melamunkan banyak hal, membaca banyak hal tanpa dibebani segala rutinitas monoton. Begitu saja kuingat banyak target yang tanpa dimulai dari sekarang, takkan jadi sampai kapan pun.

Untuk itulah, kini waktunya memulai semuanya. Abaikan hal-hal yang bikin gelisah dan terhambat. 🙂