Tradisi di Malam Satu Suro

 

Pada postinganku sebelumnya, aku sempat bercerita bahwa sebagian masyarakat di tempat tinggalku masih melakukan ritual mubeng beteng setiap malam satu Suro/Muharam. Ritual ini biasanya dilakukan oleh mereka yang menganut Kejawen. Sedangkan mubeng beteng berasal dari kata “mubeng” yang berarti berkeliling, dan “beteng” yang berarti benteng. Maksudnya memang berjalan mengelilingi benteng keraton. Meskipun masyarakat kejawen sekarang merupakan minoritas, tradisi ini tetap diselenggarakan dari tahun ke tahun dan nyaris tidak mengalami perubahan. Bahkan menjadi paling sakral dibanding tahun baru lain.

Di Yogyakarta sebetunya ada banyak tahun baru, yaitu tahun baru Masehi, Muharam, Imlek yang merupakan tahun baru warga Tionghoa, Nyepi bagi pemeluk Hindu, dan masih banyak lagi karena di sini masyarakat sangat beragam. Kita bisa menemukan orang-orang dari berbagai suku dan golongan yang menganut kepercayaan dan keyakinan yang berbeda-beda. Perayaan malam satu suro adalah jenis tahun baru yang jauh hingar-bingar. Orang-orang yang melakukan ritual ini tidak meniup terompet apalagi menyalakan kembang api. Memang sebagian besar warga muslim di Jogja mengadakan pengajian akbar untuk menyambut tahun baru islam di kampung-kampung. Tetapi warga tertentu yang masih tradisional melakukan tirakatan, lek-lekan (yang berarti tidak tidur semalaman), dan sebagian melakukan nyenyepi/bersemedi ke gunung, pantai, makam, dan tempat-tempat keramat lain.

pelepasan-lampah-budaya-mubeng-beteng_20161003_003205

Orang Jawa sendiri, terutama yang tinggal di daerahku, dikenal sangat menghargai peninggalan nenek orang moyang dan terikat dengan leluhur. Sampai-sampai mereka  diharapkan tidak merantau atau pindah jauh, kalau bisa tinggal di tanah nenek moyang. Ari-ari atau plasenta mereka ketika lahir ditanam di sekitar rumah. Harapannya, ari-ari membuat yang punya tak akan jauh dari “rumah” sepanjang hidupnya. Kalaupun merantau harus kembali suatu saat nanti. Tidak heran bila di Yogyakarta, orang-orang satu kampung bisa masih satu keluarga. Mereka juga akan menganut nilai-nilai dari zaman lampau. Termasuk pada perayaan ini.

Tradisi mubeng beteng ini semula digagas oleh Sultan Agung sekitar tahun 1613-1645 yang saat itu menganut Islam. Di daerahku, keraton (sebuatan dari kerajaan) menggunakan penanggalam tahun Hijriah. Meskipun idenya datang dari Sultan, tetapi beliau dan raja-raja setelahnya beserta keluarga sendiri tidak melakukannya. Mubeng beteng hanya dilakukan oleh abdi dalem dan masyarakat yang mau mengikuti saja. Wajar sih raja dan keluarganya tidak ikut. Aneh saja membayangkan ritual sesakral itu buyar karena mendadak banyak warga yang pengin berfoto dengan raja.

Sultan Agung waktu itu memikirkan cara terbaik bagaimana rakyatnya dapat menerima ajaran baru sementara mereka telah lekat dengan adat dan kebiasaan dari zaman mataram kuno yang mayoritas menganut Hindu. Raja pun mengambil jalan tengah dengan tidak serta merta menghilangkan kebiasaan lama, melainkan mengolaborasikannya dengan ajaran Islam. Seperti mengubah istilah penanggalan saka menjadi penanggalan hijriah.

Mubeng beteng mempunyai istilah lengkap “topo bisu mubeng beteng“. “Topo” berarti bertapa, “bisu” berarti tidak bicara. Pada topo bisu mubeng beteng, serangkaian ritual dilakukan. Sebelum dimulai, para abdi dalem memandikan kereta kuda, keris dan pusaka lain yang dinamakan dengan jamasan. Mencuci benda-benda keramat di keraton dilakukan dengan upacara. Mereka juga membacakan macapatan atau kidung berbahasa jawa. Para abdi ini menggunakan pakaian warna biru tua yang tidak mencolok, juga tidak membawa keris dan alas kaki. Di antaranya akan berkeliling sambil membawa bendera dan panji-panji kerajaan. Diikuti oleh masyarakat yang tak harus menggunakan pakaian adat berjalan di belakangnya. Mereka mengelilingi benteng keraton dengan diam tanpa bicara atau melakukan hal negatif sejak bada magrib. Omong-omong, para perokok aktif mesti mikir dua kali untuk bergabung dalam arak-arakan ini karena mereka akan berjalan sekitar 5 kilometer tanpa ngudud. Selain berbicara/mengeluarkan suara, seluruh peserta juga tidak diperbolehkan makan dan minum selama berkeliling.

kereta_3_ok

Macapat sendiri adalah sebuah tembang yang dilantunkan menjelang acara. Macapat yang kutemukan dari berbagai sumber ternyata mengacu pada puisi yang mengandung filosofi dan makna yang cukup dalam. Syairnya menceritakan fase kehidupan manusia dari sebelum lahir hingga kematiannya. Walisongo juga pernah menggunakannya untuk berdakwah. Isinya penuh nasihat dan petuah. Aku selalu senang mendengar tembang-tembang Jawa yang dilantunkan di Keraton meskipun tidak memahami artinya. Membahas syair macapat tentu tidak cukup dalam satu postingan.

Dalam ritual mubeng beteng, berjalan kaki adalah simbol dari laku prihatin. Para abdi akan berdoa untuk keselamatan dan ketenangan lahir batin diri sendiri, keluarga, kerjaaan, hingga untuk bangsa dan negara. Konon, doa orang-orang yang prihatin sering kali dikabulkan. Keheningan yang diciptakan pada ritual ini dimaksudkan untuk merefleksikan hubungan manusia dengan Tuhannya yang jauh dari hiruk-pikuk duniawi. Berdoa yang baik memang dalam ketenangan. Selain itu, acara ini sebagai ritual penting bagi masyarakat untuk berintrospeksi diri, bersyukur, merenung, dan mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa. Di zaman dulu mubeng beteng tidak hanya untuk berdoa, tetapi juga dalam rangka berjaga dari serangan musuh. Terutama sebelum benteng-benteng dibangun. Mungkin semacam jaga ronda bagi kerajaan.

Meski demikian sakral filosofi Malam Satu suro, ternyata banyak pula masyarakat di Yogyakarta masih menghubungkannya dengan mitos bernuansa horor. Mereka menganggap bahwa Muharam adalah bulan yang buruk. Saking buruknya, dalam bulan itu orang tidak boleh mengadakan hajatan atau menggelar acara besar. Pada malam satu Suro, ruh orang-orang yang meninggal kembali ke rumah masing-masing untuk menengok yang masih hidup. Dedemit, jin, setan, dan sebangsanya keluar ke alam manusia untuk melakukan perayaan besar. Terdengar mirip hallowen sih. Bedanya, orang-orang dilarang keras keluar rumah supaya tidak terkena sial. Orang boleh percaya ataupun tidak. Kalau aku sih memilih tidak. Aku akan sedih membayangkan almarhum kakek-kakekku mencariku di rumah dan kecewa karena ternyata aku sudah pindah. Jadi, mitos ini dipandang salah kaprah oleh sebagian besar masyarakat. Karena akan lebih baik meyakini tidak ada bulan yang buruk karena semua hari dan bulan itu baik untuk beraktivitas.

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s