Sahabat Pena

Dapat dikatakan ini sekadar iseng berkhayal

Kadangkala aku ingin punya sahabat pena. Seorang teman yang barangkali jauh dari tempat ini dan sama-sama hanya bisa menulis untuk dapat nyaman berbicara. Barangkali ia juga benci arisan, malas pula berada di antara orang-orang yang berebut disimak untuk pamer, ia juga nggan punya jejaring sosial yang bising dan memusingkan. Mungkin ia juga membutuhkan seorang teman yang belum pernah ditemui tapi ia tahu bakal berkirim surat setiap akhir pekan, bercerita banyak hal tanpa khawatir terekspose media karena untuk apa, menyebarkan cerita orang yang bahkan belum dikenal kecuali lewat tulisan tangan?

Menulis surat pada sahabat pena tak perlu saling melihat ekspresi dan foto selfie, tak perlu khawatir bahwa kami berbeda, tak perlu menyamakan status sosial atau nasib, tak eprlu memandang apakah kami menikah atau tidak, kaya atau tidak, tak perlu risau soal prasangka sebab kami dapat terbuka dengan leluasa, kami boleh jujur atau tidak tergantung kita sendiri, asal tetap terhubung dan saling merespons.dan lama-kelamaan mungkin saja saling menginspirasi. Yah barangkali akan mustahil, mengingat, alih-alih sahabat pena, sepanjang hidup punya teman saja sudah merupakan kemewahan bukan?

Lanjut… Kemudian, kami akan bercerita apa pun yang ingin kami ceritakan, menanyakan pendapat, menjabarkan pemikiran, menguraikan perasaan, ataupun memberikan argumen sebebas mungkin tanpa takut membuat tersinggung sebab segalanya begitu jelas lewat surat, seperti Kartini, atau seperti Minke dalam Bumi Manusia. Barangkali kami hanya sekadar berkirim surat, tanpa harus bertemu dan belanja bareng dan lalu merasa berdosa karena demi punya teman dan tahu kabar, kami seolah harus pakai smartphone dan memiliki beberapa akun sosial. Sedangkan tak semua orang suka smartphone, dan tak setiap orang kuat membelinyaSebab kurasa sekadar surat cukup. Entah dia berasal dari pelosok pulau yang mepet perbatasan, entah dari pedalama lereng gunung, entah dari bawah air terjun, atau di daerah konflik, atau dari kota besar yang membosankan, tak masalah bagiku. Tak perlu ada syarat ribet demi saling memahami dengan cara masing-masing. Kami bisa menulis di atas kertas, atau di atas daun kering atau tisu, boleh tulisan tangan, atau mesin ketik. Kurasa akan lebih menyenangkan ketika kami terhubung melalui surat-surat yang rutin diantar pak pos akhir bulan atau akhir pekan. Surat lebih universal dan membumi daripada jejaring sosial atau sejenisnya.

Barangkali akan menyenangkan bisa bersahabat dengan surat menyurat, membagi sebagian cerita hidup, yang mungkin berlangsung selamanya. Sampai barangkali kami tua dan isi tulisan kami pendek-pendek karena sudah tak senergik dulu, dan mungkin sampai salah satu dari kami lebih dahulu tak membalas surat. Sebab terlalu sulit bagiku menjadi bagian dari keramaian ini, mematuhi segala kepentingan, aturan-aturan tak terlihat yang aku kurang paham, atau mengkhawatirkan banyak hal yang mestinya tak perlu dikhawatirkan. Berat rasanya terjebak dalam kerumitan kita sendiri yang tak bisa menjadi diri sendiri di tengah hingar bingar. Sementara kita ingin menjadi diri kita sepenuhnya. Andai semua itu mudah.

Sahabat pena mungkin adalah sahabat yang ideal di satu sisi sebab dapat saling menerima tanpa pretensi, tidak di sisi lain karena tentu ia tak menjadi bagian dari kehidupan keseharian kita. Mungkin saja suatu saat kami bertemu pada sebuah kesempatan, mengumpulkan surat-surat-surat kami untuk dibuatkan museum khusus bertema sahabat pena. Saat itu pastilah kami terbahak karena menyadari begitu banyak yang berbeda dari kami, dan begitu jauh sosok kami semua dari bayangan masing-masing sebelum ini. Dan begitu akrab dan dekat sebetulnya kami sebelum kikuk berkenalan lagi di dunia nyata. Atau barangkali takkan pernah bertemu.

Sungguh kurasa, akan sangat mengasyikan bila punya banyak sahabat pena….

Tapi apakah demi berangan tentang ini, aku juga mesti memandang zaman?

DSCN3501

Iklan

Corat-coret

Beginilah sekarang kalau sedang ada semenit dua menit waktu senggang….

DSCN3531

DSCN3533

DSCN3538

DSCN3529

DSCN3482

Nggak cuma menulis, menggambar pun bisa jadi hiburan. Biar jelek asal corat-coret kan :))

(*gambar iseng hari ini)

suatu sore: pertengkaran mereka

Suatu sore, dua orang saling cinta memendam batinnya masing-masing ketika pertengkaran soal gak SMS duluan menjadi pemicunya. Pertengakaran hanya berisi tentang “Mengapa kalau kamu peduli pada saya tidak SMS/telepon duluan? Kenapa harus saya dulu?” Beberapa hari sebelumnya mereka diam-diaman. Orang yang mendengarkan mungkin akan lucu. Kenapa hanya soal SMS saja, masing-masing berpikir untuk berpisah sebagai jalan satu-satunya…?

Namun di balik itu, ada masalah mendasar yang terjadi:

Si pria heran dan merasa si perempuan tak lagi cinta sebab gak pernah bisa senang-senang, sekadar jalan-jalan, sekalipun sudah berpacaran bertahun-tahun, padahal pekerjaan sibuknya butuh pelarian sekadar tenang… bukankah pekerjaannya itu juga demi masa depan mereka berdua? Apakah harus dengan peremepuan lain ia membagi bebannya? pikirannya berputar.

Si wanita memendam sedih ketika bertahun-tahun itu si pria selalu bilang cinta tapi tak juga memberi kepastian, padahal demi menunggu satu orang itu, ia menolak beberapa orang yang serius terhadapnya. Ia juga mati-matian membela prianya di hadapan kedua orang tua. Perasaan bingung dan emosi membuatnya berpikir yang tidak-tidak. Apakah harus menghentikan tunggu-tungguan gak jalas ini dan pergi saja? Atau mengakhiri hidup?

Aku sebagai orang yang gak sengaja membaca kasus ini juga agak bingung…

Apakah logikamu bisa menjawab?

fix-broken-heart