Tahu Diri

Pagi ini, aku bangun terlalu pagi. Ayam-ayam belum juga berkokok, malam masih biru pekat. HP belum juga kuaktifkan karena biasanya pagi menjelang ngantor aku baru memegangnya. Udara dingin begitu nyaman di kulit, membasuh wajahku, mataku, sebagian kulitku. Kubiarkan gambaran mimpi menari-nari, duniaku sendiri. Daun-daun sibuk bertanya pada embun, tentang purnama yang kapan datang. Tapi sekaligus tak peduli, karena hidup tidak soal melihat purnama kemudian gugur seperti musim-musim biasanya.

Embun melupakan alasan tentang mengapa ia harus memilih dingin sementara mereka tak saling berjumpa pada cahaya. Mereka hidup, mereka bekerja, mereka memilih takdirnya, mereka tak berusaha saling menggantikan satu sama lain. Tak satu pun mengeluh…

Ada kupu-kupu, burung gereja, capung yang kemudian bermunculan, melupakan ribuan tanya tentang esok yang masih tua. Disusul kokok ayam dan suara adzan.

Ah, cahaya mulai menyusup sela-sela kamar. Tidak sampai pada hatiku sepenuhnya. Barangkali nanti. Suatu saat nanti, ketika kelak kutemukan di jalan mana yang semestinya kulalui. Mungkin pagi hanya terlalu gelap untukku. Mungkin tirai jendela tak terlalu lebar kubuka. Padahal semua hidup berkata, pada bahasa yang dapat dimengerti tanpa harus membuka mata lebar-lebar.

Karena sederhana saja, terkadang hidup hanya soal menyadari dan tahu diri….

🙂

ws_Green_Dew_1680

Iklan

Rahasia

Tak ada sore dan udara menjadi segar
Tak ada gelap, lalu mata enggan menatap
Tak ada bintang mati, butiran pasir terbang ke langit
Tak ada fajar, hanya remang malam
Semua tlah hilang terserap matahari
Harum mawar memburu bulan
Rahasia tetap diam tak terucap
Untuk itu semua aku mencarimu
Berikan tanganmu, jabat jemariku
Yang kau tinggalkan hanya harum tubuhmu
Berikan suaramu, bawa semua bisikanku memanggil namamu
Atau kau ingin aku berteriak sekencang kencangnya
Agar seluruh ruangan ini bergetar oleh suaraku

Sementara

by Float

 

-kepada aku dan hatiku-

 

Sementara… teduhlah, hatiku
Tidak lagi jauh
Belum saatnya kau jatuh
Sementara… ingat lagi mimpi
Juga janji-janji
Jangan kau ingkari lagi

Percayalah, hati
Lebih dari ini pernah kita lalui
Jangan henti di sini

Sementara… lupakanlah rindu
Sadarlah, hatiku
Hanya ada kau dan aku
Dan, sementara… akan kukarang cerita
Tentang mimpi jadi nyata
Untuk asa kita berdua

Percayalah, hati
Lebih dari ini pernah kita lalui
Takkan lagi kita mesti jauh melangkah
Nikmatilah lara
 
Percayalah, hati
Lebih dari ini pernah kita lalui
Takkan lagi kita mesti jauh melangkah
Nikmatilah lara

Percayalah, hati
Lebih dari ini pernah kita lalui
Takkan lagi kita mesti jauh melangkah
Nikmatilah lara
Untuk sementara saja