sahabat

Hampir setiap hari, ibu-ibu lansia seusia Mbah Uti berkumpul di rumah, mereka ngobrol hingga berjam-jam, terkadang saling pijit atau minta dikerik kalau ada yang sakit. Mereka berbicara tentang banyak hal dengan blak-blakan dan kocak. Setiap hari, seperti yang kuceritakan di postingan dulu, rumah ini justru ramai karena komunitas kecil itu. Setiap hari terdengar tawa dan guyon. Rumah kecil simbah yang berdempetan dengan kamarku. Tapi lebih dari itu, persahabatan mereka membuatku sedikit iri. Mereka bahkan beberapa kali travelling bersama ke luar kota dengan dana pensiun masing-masing tanpa ditemani cucu atau anak-anak. Memang punya sahabat yang dapat ditemui kapan pun adalah berkah tersendiri, yang tak dimiliki semua orang. Teman-teman terdekat yang barangkali akan selalu di samping kita hingga pada waktunya kita akan pergi untuk selamanya.

Aku jadi ingat, ada yang mengatakan (saya lupa di situs mana) bahwa bila engkau sudah bersahabat dengan seseorang selama 7 tahun, ia akan menjadi sahabatmu selamanya. Betapa beruntungnya. Tapi tentu, setiap orang akan memilkinya dengan jumlah yang tak sama. Bahkan sedihnya, ada pula yang tak memilikinya sama sekali. Dan mungkin saja memang benar, kita hanya butuh beberapa gelintir sahabat sejati yang akan bersama kita selama hidup.

Terkadang aku bertanya, apakah itu sahabat sejati? Barangkali bukan mereka yang dipersatukan karena sama-sama punya gadget dan hobi belanja, bukan yang hanya punya niat nyari utangan dan kabur, bukan mereka yang ternyata hanya membawa “modus” tertentu, bukan sekadar karena sama-sama masih single dan galau, bukan juga mereka yang tiba-tiba pergi begitu kita menikah, tapi mereka yang memang benar-benar akan selalu ada dalam bahagia dan duka. Manusia takkan bisa bertahan dalam kondisi yang berubah-ubah seperti yang biasa kita alami. Bukankah terkadang kita mengalami hal indah dan kelam selama hidup? Bahkan ketika berbahagia pun kita butuh keluarga dan sahabat-sahabat untuk ikut tersenyum bersama.

Barangkali sahabat memang tidak ditemukan semudah kita menemukannya di serial Harry Potter, seperti halnya seorang kekasih, tapi ia bagian dari proses hubungan kita terhadap mereka yang kini masih bersedia berteman sekacau apa pun kondisi kita hari ini. Dan kurasa sahabat juga tentang siapa pun: teman main, teman senam, ibu atau ayah kita, teman nge-blog, pasangan kita, atau seekor kucing. Aku selalu tak pernah menyesali bila hubunganku dengan teman-temanku berkembang jadi sahabat abadi melalui berbagai proses itu. Dan anggaplah barangkali ini hanya tulisan yang didorong rasa sepi dan rindu memiliki teman-teman dekat yang selalu ada dalam hidup kita.

yang akan selalu menerima dan menyayangi kelak hingga kulit kita keriput dan beraroma minyak kayu putih.

Iklan

Surat Ketujuhbelas: Kamar Loteng

Hai Isha’,

Barangkali sudah pernah kuceritakan dalam surat yang kukirim padamu, yang kuhanyutkan di aliran air, ketika hujan deras tiba. Aku pernah tinggal di sebuah istana kecil, tepatnya sebuah kamar di loteng, di mana aku merasa begitu nyaman dan begitu “aku” di sana. Sejak tahun 2010 akhir, aku harus pindahan karena ayahku membuatkan kamar baru di dekat kebun, yang mirip sebuah rumah kecil yang kutinggali hingga sekarang, yang mungkin sebentar lagi tidak.

Tapi entah bagaimana tiba-tiba malam ini rasanya aku rindu tidur di lotengku dulu. Maka bila rasanya percuma aku memaksakan diri untuk tidur, kupikir sebaiknya aku mengunjungi kamar itu.
Semua orang sudah tidur. Perlahan dan hati-hati kunaiki tangga kayu yang menuju ke sana. Tentu saja aku tak bisa kemonyet-monyetan lagi seperti dulu. Aku tiba-tiba teringat begitu cepatnya kuturuni anak tangga ini ketika terjadi gempa Jogja 2006 silam mirip seperti tentara sedang latihan perang. Aku takkan segesit itu lagi bila gempa seperti dulu datang malam ini.

Lama sekali kamar lotengku itu berubah jadi gudang kedua. Tapi seminggu yang lalu adik bungsuku menyulapnya kembali jadi ruang perpustakaan, tempat membaca, atau sejenisnya. Yang jelas memang benar settingan baru di tempat ini bisa menyelamatkan siapa pun dari penat. Atapnya yang berbentuk miring memang telah lama dilapisi tripleks di bagian dalam, mengikuti bentuknya. Kini, dilapisi kertas motif batik sehingga terasa berbeda. Bagian dinding kayu telah dicat ulang. Ada sebuah meja kecil dan sebuah rak yang baru diiisi buku-buku tua berbahasa Belanda, juga buku-buku adikku yang lain yang baru dipindah sebagian di sini. Ada karpet dan bantal juga kini lebih lengang karena hanya benda-benda itu yang ada di sana tapi lebih rapi dan tentu saja bersih, karpet ini bisa difungsikan untuk rebahan dan tidur. Jendela yang menghadap depan kini tidak lagi dibiarkan terbuka dan hanya ditutupi gorden transparan. Kini ditutupi papan tulis bekas dan hanya dibuka kala siang. Kamar ini memang telah berubah. Dari kamar, gudang, sekarang ruang belajar dan bersantai.

Teringat masa dulu, kamar lotengku ini berantakan. Ada sebuah kasur busa yang hanya dialasi karpet, 2 meja kecil, kardus-kardus berisi berkas kliping dan kertas penuh coretan, ada dua rak buku yang isinya tak karuan, sebab buku-buku dan kertas, juga benda-benda lain yang cenderung hanya hiasan berkumpul jadi satu dan jarang sekali ditata ulang. Belum lagi harus kuberi ruang untukku menggelar sajadah dan salat, juga ada kipas angin kecil yang selalu kupindah-pindah karena aku tak betah di ruang bersuhu panas. Ada kala setiap teman-temanku datang, mereka takjub, menyadari bahwa bukan hanya mickey mouse yang betah tinggal di loteng yang berbentuk antik begini.

Berada di sini memang membuatku terbang sejenak ke masa lalu, juga perjalanku menuju sekarang. Di kamar inilah aku menjatuhkan diriku di kasur dengan begitu bahagia karena pendadaranku berhasil dan dapat nilai A+. Di tempat ini aku mulai mengumpulkan coretan dan draft-draft tulisan yang sekarang entah di mana, mulai membaca buku-buku berat, dan di kamar ini dulu aku rajin menulis buku harian, kebiasaan yang pudar sejak aku pindah kamar. Di ruang ini pula sesekali aku melihat dunia luar lewat jendela. Sungguh aku begitu berdamai dengan dunia yang hanya diisi olehku sendirian. Di kamar ini tersimpan segala ingatan yang berbuku-buku rasanya bila dituliskan, sebab aku memang banyak berpikir dan begitu sering melamunkan banyak hal.

Aku merasa rindu dengan kamar ini dan rasanya malam ini aku ingin berada di sini, juga sendirian. Menunggu kantukku tiba, aku akan membaca salah satu novel yang pernah kubeli dan belum sempat kubaca. Novel yang judulnya begitu panjang “Surat Panjang tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya” yang kebetulan pernah memenangkan Sayembara Novel DKJ tahun 2012.

Demikianlah bila aku melarikan penat dan tak seorang pun dapat diajak bicara dan mengerti. Aku yakin, pada dinding-dinding kamar loteng ini, segala masalah dan gajalan akan selesai dengan sendirinya, seperti yang sudah-sudah.

Surat Keenambelas: Sore

untuk diriku sendiri,

Tak ada sore yang secerah ini sebelumnya. Melihat udara begitu hangat dan cahaya menelusup hingga di bawah kaki meja, membuatku sadar, bahwa matahari memang masih selalu bersinar tanpa pilih kasih. Seperti kasih sayang-Nya yang tak memihak. Tapi sore tetaplah sore. Ia mampir sebentar di ruang tamu kita untuk bergegas berganti senja, kemudian malam.

Tapi setidaknya Minggu ini begitu longgar rasanya. Akan kuhabiskan sore ini dengan mencicil pekerjaan sambil ngemil cokelat dan minum segelas air hangat. Sudah lama pula tak membaca buku-buku, hingga rasanya dunia seakan menyempit. Aku butuh membaca, aku juga akan selalu butuh menulis….

Surat Keempatbelas: Harapan

Untuk Isha.

Menyambung suratku yang kemarin.

Barangkali sejak ada istilah kakak juga merupakan orang tua kedua bagi adik-adiknya, sejak itu aku menyadari sedikit banyak rasanya menjadi orang tua. Sejak itu ada sifat pengatur dan posesif ketika dihadapkan oleh kebandelan adik-adik atau ketika mereka tengah akan membuat keputusan hidup. Tapi rupanya benar, sebagai orang tua cadangan itulah, seorang kakak tak bisa memiliki hidup yang santai.

Terlebih ketika menghadapi adik bungsuku laki-laki yang sedang dalam kondisi tidak baik-baik saja saat ini. Adik kecil yang bahkan masih kuhafal cara berlari dan tertawanya ketika masih balita. Kini ia sudah dewasa dan mahasiswa, badannya lebih besar dan tinggi dibanding aku. Tapi saat ini, aku hanya bisa berdoa dan memohon pertolongan pada Allah untuk segera memulihkannya. Mengembalikannya seperti dulu… Aku rindu ceria dan aksennya yang kadangkala cuek. Aku rindu mengkopi film-film animasi Jepang miliknya dan membicarakan cerita lucu di dalamnya di kala senggang sambi tertawa. Aku rindu omelannya ketika aku goda atau kusembunyikan barang miliknya. Aku juga masih ingat dia selalu usil membawakanku cicak mati di tangannya sampai aku jadi jejeritan nggak jelas. Kini rasanya jarak aku dengannya seperti begitu tak terjangkau dan entah sampai kapan. Aku hanya bisa menangis diam-diam dalam kamar ketika sendirian karena tak mungkin aku seperti itu di depan kedua bapak ibu yang belakangan juga sedih dan bingung. Memang terkadang seorang kakak sulung adalah pembohong yang ulung. Ia bahkan bisa pura-pura tegar di hadapan semua orang. Padahal hancur.
Rasanya sekarang aku mesti mempercayai harapan.
(Oh Tuhan… semoga janin dalam perutku tak protes karena emaknya tengah kacau belakangan ini.)

Sekian suratku ini, Is.
Semoga saja surat berikutnya adalah tentang kabar yang bahagia.

Surat Ketigabelas: Penyakit

Dear Isha,

Malam ini setelah menjerang air dan membuat wedang jahe, akhirnya kuputuskan untuk menulis sesuatu. Sudah lama aku tak menulis surat untukmu. Surat untukmu selalu membuatku merasa bercerita tentang sebagian uneg-uneg dengan buku harian. Sebagian kepenatan.

Kau tahu belakangan aku menulis beberapa surat dalam rangka ikut event 30 hari menulis surat cinta. Tapi entahlah. kurasa aku tak lagi peduli deadline atau aturan yang dibuat di web itu. Aku tetap akan mencoba menuis 30 surat di bulan ini dan tak harus selalu bertema cinta atau sesuai kriteria, karena rasanya akan konyol. Aku ingin lebih jujur dengan tanpa melabelkan istiah “cinta” untuk setiap suratku atau menulis sesuatu yang memang tak aku inginkan.

Toh memang tak selalu keinginan menulis itu datang setiap hari akhir-akhir ini, tak lagi seperti dulu ketika beban hidup tidak sebanyak keasyikan untuk membuat tulisan. Kini mungkin saja kondisinya sedang terbalik. Hanya malam-malam seperti ini, tiba-tiba saja aku ingin mengobrolkan banyak hal. Kurasa benar, setiap orang selalu butuh teman bicara, sekalipun ia hanyalah teman imajinasi. Sepertimu, Is. Teman yang mungkin dapat mengerti dan selalu menyimak hal-hal yang tak bisa gamblang kuceritakan.

Baiklah barangkali di surat ini aku hanya seperti berputar-putar dan bicara hal yang tidak jelas, tapi aku lega. Aku hanya ingin mengatakan bahwa, makhluk dalam perutku telah membuatku membenci sangat penyakit-penyakit yang belakangan menengokku; flu, sariawan, radang tenggorokan, dan batuk parah, dan sejak penyakit itu datang, aku tak belum berkesempatan pergi ke dokter atau menentukan obat yang tepat. Padahal katanya, bumil itu nggak boleh sampai ngedrop, kurus, apalagi penyakitkan. Meskipun seperti sebelum-sebelumnya, belum tentu aku akan patuh pada obat-obat resep dokter karena lagi-lagi mengkhawatirkan buah hatiku. Di luar sana banyak kasus mapraktik bukan? Aku bakan beberapa kali ketemu dokter yang salah. Barangkali benar, ‘(insya Allah) punya anak’ adalah hal yang ajaib bagi seorang perempuan, karena tidak pernah sebelumnya ia begitu mengkhawatirkan banyak hal, mencintai sesuatu dengan aneh, atau menakutkan masa depan, seperti yang terjadi padaku. Aku bahkan rela bila sakit ini hanya kualami sendiri, jangan calon anakku.

Ishak, andai saja aku bisa lekas tidur malam ini dan bermimpi indah. Tapi dalam malam yang sunyi dan baru saja diguyur gerimis seperti ini, aku memang hanya mampu mengisinya dengan doa. Tak hanya itu, aku juga ingin bercerita bahwa hari ini adalah hari yang cukup berat untuk perempuan yang lagi rentan virus dan penyakitan. Doakan segalanya berjalan lancar dan aku cepat sembuh ya….

-temanmu

Surat Kesepuluh: Tentang Cara Mengisi Sepi

kepada kamu

Apa kabar?

Setiap orang punya cara mengisi sepinya masing-masing. Meski kadang memberikan rasa nyaman, perasaan sepi juga sering kali tidak menyenangkan. Terlebih akan begitu terasa ketika cuaca selalu mendung sepanjang hari dengan angin yang berembus kencang, mulai turun hujan menjelang sore, dan mendingin di malam hari. Atau tiba-tiba saja menjadi panas di hari-hari tertentu.
Di kesempatan ini akan kujawab suratmu lalu tentang apa yang kulakukan belakangan ini.

Aku sudah menceritakan bahwa sejak resign dari kantorku yang terakhir bulan Desember kemarin, aku memang seperti terjebak kebiasaan yang sungguh berbeda. Rutinitasku berganti dengan minum obat pagi hari, membuat jus di siang hari lalu tidur setelahnya, dan sisa waktu luang kugunakan untuk membereskan urusan rumah. Tapi memang ini pilihan terbaik untuk saat  ini.
Tentu tidak ada lagi keriuhan kantor dengan banyak orang di sebuah ruangan yang sibuk setiap pagi hingga sore yang biasa kusimak. Melainkan kini lebih sering aku menonton mimpi-mimpi tidurku sendiri yang berganti-ganti atau sekadar memandangi tanaman kebun di samping kamar. Atau sesekali menonton film Masha and the Bear.

Mestinya dengan demikian, aku punya banyak waktu untuk menulis atau sekadar membaca. Anehnya aku jadi sering tidak bersemangat membaca buku, kecuali yang benar-benar kusuka. Anehnya aku jadi sering nonton film-film horor via Youtube di siang hari. Aku juga mengikuti serial india setiap jam 20.30 hingga jam 10 sebelum membuat segelas susu, berlanjut acara TV berikutnya hingga tertidur. Kamu pasti heran sebab sebelumnya aku anti televisi apalagi mengikuti film serial. Segalanya memang bisa berubah.
Aku bahkan sudah jarang sekali memegang ponselku sendiri.

Lalu apa kegiatanmu belakangan ini?
Kuharap kamu masih sempat menulis buku harianmu

kehidupan baru

Aku jadi sering mengantuk dan tidur, setiap jam kelaparan, setiap menit ada yang selalu kukhawatirkan, tiba-tiba jadi sangat sensitif. Semua perasaan itu datang dan pergi bersama dengan kebahagiaan yang tak bisa kujabarkan. Entah bagaimana selalu saja banyak hal terjawab begitu harapan tidak lagi sebegitu besar. Dan dalam hitungan hari belakangan ini, aku merasa jadi orang lain. Barangkali tengah berganti naluri. Atau entah apa.

Hanya bisa berbisik kukatakan selamat datang kehidupan baru. Aku sangat bersyukur dan akan menjagamu, meskipun mungkin akan sedikit seperti orang kalap 😀

Stasiun dan Mimpi

04:00

Di jam-jam inilah, saat paling sepi yang dapat kunikmati sendiri. Hanya alam yang terasa alam yang terbangun menemani, juga mimpi yang akan lebih lama menguap bersama uap kopi.

Dan di pagi inilah, aku terdiam mengingat mimpiku tentang stasiun dan hiruk pikuknya.

Omong-omong, apa yang ada di benakmu ketika mendengar tentang “stasiun”? Pemberhentian? Kereta api? Tempat nongkrong sore-sore? Salah satu judul novelnya Putu Wijaya yang penuh absurdisme? Atau tentang seseorang yang kau antar pergi sambil terus kau pandangi punggungnya hingga menghilang, atau suasana ketika engkau menjemputnya pagi-pagi dengan hati yang biru jauh di masa yang dahulu? Tak jelas apakah semalam hal indah atau menyedihkan yang kuimpikan. Aku seperti terlempar dalam visualisasi stasiun dan perjalanan dari tempat asing ke tempat asing yang tak usai, dan mungkin juga hal-hal yang sempat terlintas di pikiranku yang belakangan sering nge-blank. Namun ada ruang damai di sana yang disebut ingatan. Di mana aku tak ingin bayangan itu hilang.

6230025585_74deba228d_b

gambar diambil dari http://street.kilcher04.net/

rehat

Sebenarnya aku enggan kembali ke tempat itu. Aroma obat, orang-orang berwajah pucat yang menunggu giliran periksa, lalu-lalang perawat mendorong brancard ke mobil ambulans, kenangan tentang almarhum kakek, jarum suntik, juga masa-masa kecil yang pernah opname dua kali karena DB. Tapi sepertinya 2 hari “sempoyongan” sejak hari Minggu sudah cukup alasan tepat ayahku untuk membawaku kesana lagi.

Banyak yang sudah bilang aku keforsir. Tapi aku sungguh menikmati segala kesibukan ini sampai rasanya tidak cukup sehari hanya punya 8 jam untuk bekerja.

Namun sejak dokter menjelaskan ada semacam infeksi di alat pencernaan yang membuatku sering bolak-balik toilet, muntah, dan demam, di mana sebelumnya aku tak pernah mengalaminya, aku jadi sadar, mungkin ada yang salah dengan hidupku. Rasanya memang aku jadi sering sakit tahun ini, yang kukira mungkin karena nggak pernah olahraga, atau faktor usia. Atau entah…
Sekarang aku terpaksa hanya bisa banyak tidur dan ngerepotin orang-orang di sekitarku, sesekali baca buku, sesekali mengerjakan kewajiban beres-beres, dan barangkali waktunya merenungi lagi perkataan orang tuaku bertahun yang lalu.
“Setiap orang bakal hidup sendiri suatu saat nanti, itulah mengapa kamu mesti kuat. Jangan lemah. Jangan tergantung.”

Iya, aku harus kuat 🙂

Tapi, aku rindu pekerjaanku… yang juga sering kali menguatkanku.
Ya sudahlah, waktunya tiduran lagi sambil dengerin musik-musik nggak jelas ini :p

senin keduaku

Seperti banyak yang ingin kutulis hari ini, tentang kegelisahan-kegelisahan yang sulit kubagi pada orang lain, dan akhirnya hanya mampu kurangkum beberapa hal saja:

 

1
Hari ini rasanya seperti senin kedua. Pekerjaanku di kantor semakin tidak jelas dan belum juga kelar. Yang kupikirakan justru apa saja yang mestinya kulakukan nanti setelah segalanya beres, sebab kurasa memang bakal sia-sia bila tetap menjalani hal di mana aku tak memiliki keyakinan penuh di sana.

 

2
Sore ini hujan deras. Rasanya aku begitu rindu kamarku, membaca setumpuk buku yang sudah lama tinggal di pinggir tempat tidurku, membuat kopi hangat, dan mulai mengerjakan hal-hal yang kurencanakan….

 

3
Malam ini belum larut. Aku bangun tidur di jam 8 dan baru membaca beberapa halaman sebuah buku yang berkisah tentang kebobrokan negeriku. Ah, rupanya aku ketiduran….

Ketika berjalan ke ruang depan, aku dikejutkan oleh berita yang sungguh mendadak. salah satu tetanggaku dekat rumah meninggal. kurasa tak hanya kami yang syok dengan berita itu. tapi barangkali semua orang di kampung kami. namanya Pak Hadi. terkahir aku bertemu beliau ketika rapat persiapan pernikahan adikku beberapa minggu lalu, sebab beliau salah satu panitia acara nanti. Usianya belum begitu tua. Barangkali masih 50 an. Ia memiliki istri yang juga ceria dan setia. Dan hanya memiliki satu anak laki-laki yang masih remaja.

Yang begitu mengejutkan karena beberapa menit sebelum kabar itu datang, konon Pak Hadi masih janjian latihan nyanyi bareng dengan teman-teman tetangga yang lain. Kemarin ibu dan adikku bahkan masih berdiri berjejeran liat acara panggung seni di depan kelurahan. Kemarin hari beliau masih memprofokasi semua orang dengan guyon dan tawa. Yeah, di antara sesepuh lain di kampungku, beliaulah orang paling bahagia dan ramah. Tawanya selalu membuat orang lain ikut melupakan masalahnya. Tak kalah penting, selain humoris, perannya yang bersifat sosial terhadap masyarakat sekitar begitu banyak.

Meski berasal dari keluarga menengah ke bawah, tinggal di kontrakan berdinding bambu dan kecil, dan tak mampu menyekolahkan anaknya hingga ke jenjang tinggi, tak pernah sekalipun wajahnya terlihat sedih atau mengeluh. Siapa pun dihibur, siapa pun yang bertemu dengannya dibuat tertawa dan ia tak pernah pandang bulu. Ialah figur paling optimis dalam keadaan apa pun di kampung kami. Seolah tak pernah ada satu hal pun di dunia ini yang membuatnya terbebani. Bahkan tak sekalipun menjelek-jelekkan orang lain karena bagaimana bisa orang berpikiran humoris berpikir tentang yang buruk? Yeah, kematian selalu datang segera kepada orang-orang baik dan tak pernah terduga. Tak bisa membayangkan bagaimana sedihnya anak dan istrinya. Aku hanya bisa berdoa semoga amal perbuatan beliau diterima di sisi-Nya dan yang tinggalkan diberi ketabahan. Amin.

 

4
Masih linglung di depan televisi, aku melihat rupanya kematian juga menjadi kabar riuh di luar sana. Belum lama kabar tabrakan kereta dengan truk tangki bahan bakar di Jakarta yang merenggut puluhan korban, sudah ditambah lagi kabar kecelakaan tragis lain yang disebabkan oleh kemacetan. Masih di Jakarta. Kota di mana para pemimpin tinggal. Yeah, kurasa memang kemacetan bukan lagi masalah kota, tapi juga bencana nasional. Kuputuskan untuk kembali ke kamar dan tak meneruskan menyimak berita. Semakin lama, aku semakin muak dengan negeriku sendiri. Bagaimana bisa seorang presiden enak-enakkan merupiahkan simpanan dolarnya dengan riang, juga para pejabat lain malah sedang menikmati hasil bisnis korupsinya, sementara di luar sana, kekacauan negaranya bertambah parah.

Tuhan… ajari saya bersabar….

 

Tahun Depan?

Setiap hari Senin aku selalu tak mau peduli perihal pekerjaan dan kehidupan sejak bangun tidur. Karena biasanya bakal menyebalkan dan melelahkan. Tapi setidaknya pagi ini aku sempat ngobrol dengan temen dekat yang sedang berada jauh di negeri orang, melalui YM. Seperti biasa, kami bercerita ngalor-ngidul tentang hal-hal kecil di sekitar. Kemudian ia pun bercerita tentang pria yang dekat dengannya. Memang, di antara kami berdua, dialah yang paling antusias segera menikah dan punya keluarga dan juga selalu khawatir soal usia. Padahal aku yang lebih tua beberapa bulan dengannya nggak lagi terlalu khawatir soal itu. Namun aku paham sekali posisinya. Sayang lagi-lagi nasib baik seolah belum menghampirinya. Selain perasaannya belum sreg betul, si pria juga penganut sekte “tahun depan”. Pria  yang ia maksud baru (kemungkinan) siap menikah tahun depan. Soalnya dia mau nyelesein S2 dulu, katanya. Masalahnya, temanku yang satu ini tipenya bukan pria yang sudah matang.

Ya kalau lulus di tahun itu. Kalau tidak? Kalau malah keburu kepincut sama yang lain? Kalau ternyata dia berubah pikiran di tahun depan itu? Atau malah nggak lulus karena kampusnya kebakaran? Masih ikhlas nunggu? Kemungkinan begitu banyak berkelebat. Setahun itu lamanya berlipat bagi yang nunggu. Udah deh milih yang udah siap aja… Dan aku selalu mencoba mengajak berpikir dengan banyak sisi pada teman-teman atau saudara perempuan di sekitarku bila menyikapi hal itu. (memang lebih mudah ngasih nasihat pada orang lain daripada diri sendiri, haha). Sebab para perempuan agak lemah ketika membedakan makna di balik ucapan lawan jenisnya.

Yang dia maksud tahun depan ini betulan janji atau masih wacana?

Begini bila aku memberi sedikit gambaran untuk mereka yang pro pernikahan: Laki-laki secara biologis bisa nikah usia berapa pun. Perempuan nggak. Bahkan perempuan punya masa menopause lebih cepat dari laki-laki. Itu fakta. Pasti nggak mau kan punya anak dalam keadaan sudah tua? Anak masih SD tapi sudah pensiun itu susah lho ngejalaninya. Belum lagi risiko-risiko kesehatan yang bakal ditanggung perempuan. Kalau kamu nunggu dia yang belum pasti, bagaimana bila Tuhan malah memberi kebijakan lain (yang kita nggak tahu) terhadapmu atau terhadapnya? Sudah siap?

Tapi jauh dari semua itu, aku memang agak risih dengan istilah “tahun depan”. Rasanya sama abu-abunya dengan istilah “besok” dan “nanti”—yang disebut tanpa keterangan lebih detail seperti tanggal berapa dan jam berapa. Sahabatku itu pun sepakat denganku, sekalipun masih sambil mikir. Aku sering ketemu kata ‘tahun depan’ yang bahkan sudah menjadi tahun belakang yang tidak terjadi apa-apa.

Membahas ini, aku jadi ingat jawaban konyol salah satu teman kampusku dulu. Ceritanya dia udah lama berkomitmen dengan pacarnya, sudah lebih dari 6 tahunan. Orang-orang di sekitar mereka juga usil (baca: tega) menanyakan kapan mereka nikah. Temanku ini dengan enteng selalu menjawab “tahun depan”.
“Yang benar?” Mereka tentu heboh mendengar jawaban itu.
“Iya. Masa mau tahun belakang,” lanjutnya santai.

Dan untungnya mereka pun akhirnya menikah juga dan sekarang sudah punya anak. Tapi betapa memperjuangkan ‘tahun depan’ itu kelihatannya bukan hal yang mudah. Kebetulan ia teman wira-wiriku di akhir-akhir tahun kuliah. Orang lain barangkali nggak tahu ia bahkan harus ekstra sabar mengalahkan perasaannya yang sudah capek berharap demi kepastian hubungan. Selama 6 tahun, ia selalu mengalami pasang surut hubungan. Nggak jadi, jadi, nggak jadi, jadi. Putus, nyambung, putus nyambung, dan seterusnya. Kalau aku paling lebih milih pindah kewarganegaraan daripada ngurusi pacaran nggak jelas semacam itu. Yeah walaupun akhirnya mereka menikah juga, tapi ingat, di luar sana banyak yang mengalami hal serupa tapi nggak jadi lho. Alias gagal. Pernikahan lebih pada urusan masing-masing dan bersifat privat. Bagiku lebih bersifat “iman.”

Oke, aku akui, manusia memang hanya bisa merencanakan dan menyusun angan-angan. Tapi semua itu ditentukan nanti. Karena bagaimana pun yang pasti adalah yang sedang dijalani. Dalam hal ini, aku setuju dengan ideologinya orang-orang atheis. Mereka nggak peduli masa depan dan lebih yakin dengan masa sekarang. Seperti halnya kadang aku juga setuju dengan pemikiran kelompok warga RI pendukung nuklir—yang lebih percaya prospek untuk pembangunan daripada dampak buruk ke lingkungan yang sedang tidak terjadi sekarang. Meski tidak benar-benar mendukung.

Kembali pada penganut paham “tahun depan”. Selalu dari masa lalu aku belajar tentang kini. Aku juga sering belajar dari hal-hal di sekitar. Seperti halnya, mimpi-mimpi masyarakat Aceh tahun 2003, akhirnya tersapu Tsunami di tahun 2004-nya. Bagi orang-orang Jogja pada tahun 2006, rencana-rencana tahun 2005-nya juga ambruk oleh gempa. Mimpi tahun depan masyakarat lereng Merapi di 2009 juga tersapu awan panas di tahun 2010. Bukankah bila demikian tahun depan lebih merujuk pada sesuatu yang tidak pasti.

Begitulah. Istilah “tahun depan” sering kali terdengar begitu absurd di telingaku….
Sekalipun demikian, kita memang harus mengambil hal baik dari proses “merencanakan”. Sebab itu memang bagian dari hidup.

*memenuhi tugas Komunitas Penamerah edisi denda

Sekilas tentang Pernikahan dan Masyarakat

Tulisanku kali ini hanya sekadar opini.

Sepertinya sudah sekitar 50 persen adikku dan calonnya menggarap persiapan pernikahanan, kemarin hari mereka mengurusi undangan. Dan, yeah, aku memang lebih suka mengamati obrolan calon pasangan yang akan menikah daripada obrolan mereka yang cuma pacaran. Ada perbedaan bobot konten di dalamnya.

Awal mulanya dari sini. Seperti biasa, calon iparku ini akan lama bila berdiskusi dengan adikku, dan tatkala ia sedang salat di masjid, berhamburlah ibu-ibu (tetangga sekitar rumah) ini mengajak bicara adikku, nggak penting sih isinya. Tapi membuatku jadi ingin menuliskan ini sebagai bahan perenunganku juga. Sebab ibu-ibu ini kuanggap miniatur dari masyarakat kita.

Ibu-ibu pertama menanyakan, kok kamu mau sih dilamar dia padahal belum lama kenal? Kalau aku dulu pacaran 4 tahun. Kemudian ibu-ibu lainnya menambahi tentang betapa lamanya mereka pacaran sebelum menikah. Dan barangkali heran dengan adikku yang selama ini tak pernah pacaran tapi tiba-tiba langsung mau married. Dan tentu saja talk show mereka berlanjut dengan memberi opini tentang aku—sebagai kakak yang malah santai-santai saja, yang tidak terprediksi apakah bakal akan menikah atau tidak, atau entah kapan bakal menikah kalaupun iya. Nyatanya, sampai dilangkahi adik sendiri.
Aku sih nggak komen apa-apa. Kalau aku sedang berada di depan mereka, paling aku hanya senyum sambil nyiramin tanaman. Barangkali karena wilayah hidupku tidak lagi mengurusi masalah privasi orang lain tanpa izin. Dan maklum sih kenapa ibu-ibu ini heboh soal tetangga dan urusan orang lain, sebab ketika mereka menikah dan terlepas dari ranah publik, dunia mereka pun otomatis menyempit. Perempuan punya kodrat hidup yang multitasking daripada pria. Kalau bukan rumahnya, apa lagi kalau bukan tetangga lain yang jadi bahan pengamatan sampingan? Masa ya mau mengamati kondisi politik di Afrika misalnya? Sering kali aku berpikir, ibu-ibu yang sering bergosip ini bakal akan jadi pihak yang memunahkan budaya gosip, andai para suami mereka dan adat istiadat memberi ruang selebar mungkin untuk menempuh studi sampai tuntas dan ikut organisasi nasional dan internasional (misalnya). Perhatian mereka bakal cuma ke pendidikan anak, keluarganya sendiri, dan kesibukan sampingnya adalah permasalahan negara [hal-hal bersifat publik]. Bayangkan bahwa bila demikian, negara ini akan maju karena mereka punya penduduk wanita yang cerdas-cerdas yang mendidik anak-anaknya dengan terbaik juga. Haha. Tapi kan itu memang hanya khayalanku semata. Sebab sekali lagi, aku mesti melihat kondisi.

Kembali pada persoalan awal, pemikiranku berkait adat istiadat ini kutarik garis lurus:

Pertama, apa pun yang terjadi, aku bahagia dengan pernikahan adikku, tahu kenapa? Sebab untuk menemukan pasangan terbaik, orang tidak harus memilih prosedur pacaran lama. Dan untuk memutuskan menikah, orang tak perlu tergantung pada penilaian orang lain. Secara logika, menikahlah yang riil daripada pacaran itu sendiri. Seingatku juga, ibu-ibu muda yang barusan mengomentari adikku ini, pernah mengalami rentetan galau bertahun-tahun deh sebelum akhirnya menikah. Aku memang kelihatan cuek, tapi kan mengamati. Bisa-bisanya menganjurkan hal yang sama.
Kurasa belum pernah menemukan orang yang pacaran bahagia dengan statusnya yang menggantung. Ada berapa banyak orang di laur sana yang menderita karena sudah telanjur milih pacaran tapi nggak nikah juga? Mengingat Indonesia begitu rekat dengan adat dan religi.
Kalau orang sudah mau pacaran, berarti ia sudah berdamai dengan status yang lebih pasti dan malah menunggu kepastian. Kalau tidak ingin menikah, ya jangan suruh-suruh orang untuk pacaran. Bukankah dalam pacaran, orang tidak (boleh) bisa loyal dengan hubungannya karena terbentur status dan kondisi? Orang pacaran di Indonesia kan tidak boleh serumah seperti di negara liberal. Kalau cuma buat alasan mengenal calon pasangan, pacaran itu nggak cukup. Sebab apa? Sering kali kebiasaan buruk ketika pacaran baru kelihatan setelah menikah. Malah dalam soal ini, aku setuju dengan para ustadz, bahwa pacaran (yang nggak didasari niat dan proses akan menikah) malah justru serupa pintu gerbang menuju maksiat. Sebaliknya, pernikahan adalah gerbangnya menuju ibadah. Kecuali mereka yang nikahnya karena dorongan hormon, material, atau tuntutan sosial. Bukan karena dorongan spiritual. Jika kita sepakat pernikahan itu institusi yang sakral, sebaiknya jangan pernah mencampurinya dengan niat busuk.
Dalam hal ini adat kalah dengan agama.

Kedua. Yeah, memang aku sering tidak mau meng-agama-kan sesuatu yang bukan agama. Masalah melompati kakak adalah masalah adat, maka aku akan ambil pembanding yang lebih kuat daripada adat, yaitu agama. Bila permasalahan terbentur karena agama, maka pembandingnya langsung pada kajian kitab suci sedunia. Nah, dalam agama sendiri tidak ada larangan adik melangkahi kakaknya untuk soal menikah. Larangan itu hanya ada pada adat yang masih berlangsung di beberapa tempat di Indonesia. Kalau sudah begitu, jangan ajak bicara aku soal adat. Aku tidak berkarib dengan itu. Yeah, memang sih, aku tetap menghargai adat lama yang memperahankan nilai-nilai bahwa “adik haram melompati kakaknya.” kalau bisa malah ngorbanin pacar yang sudah lama nunggu daripada mengalahkan adat. Begitulah kata mereka yang menjadikan adat sebagai alibi untuk tidak (berani) menikah. Di zaman sekarang please deh, jangan bersikap udik soal begituan. Nikah itu bukan persoalan adat saja. Tapi kemanusiaan dan ketaatan terhadap agama.
Bukan berarti aku menolak nilai-nilai yang ada di dalam adat. Sebab di sana banyak pelajaran moral yang baik untuk menusia. Meskipun, nggak semuanya mematuhi.
Menurutku ada sisi adat yang cuma bersifat prosedural.
Misal, masalah sopan santun aja, kalau sudah terbentur adat, jadinya tidak terjadi hubungan yang murni antarmanusia. Bagiku sopan terhadap yang lebih tua bukan lagi persoalan adat, tapi filsafat. Sikap sopan adalah tanda bahwa manusia sudah menyadari dan memahami kemanusiaan dalam dirinya juga kemanusiaan orang lain. Sedangkan sopan dalam adat istiadat adalah kewajiban semata.

Selama ini, orang Jawa yang dikenal suka basa-basi karena mereka menjadikan adat sebagai prosedur wajib untuk mengatur bentuk hubungan. Menantu yang menghormati mertua (misalnya) bukan lagi karena tulus menghormati dan menyayangi, tapi karena prosedural adat itu tadi. Akhrnya malah terjadi ketidakcocokan di segala aspek kehidupan. Bukankah lebih tulus alasan kemanusiaan daripada prosedural? Bukankah lebih indah saling menghormati dan mencintai yang didasari dorongan hati dan moralitas daripada adat?
Dalam hal ini, adat kalah dengan hati.

Ketiga. Menikah itu sendiri adalah pilihan. Dalam agama disebut sunah. Boleh dijalankan, boleh tidak. Aku agak risih dengan masyarakat tertentu yang notabene paham agama, menyebut menikah adalah kodrat, dan terlebih malah ditekankan pada wanita seolah itu kewajiban dan beban yang ditanggung kaum wanita itu sendiri. Yeah, memang melahirkan dan menyusui adalah kodrat wanita. Tapi menikah adalah pilihan. Ada beda antara kodrat dengan konstruksi sosial bernama pernikahan. Dalam pernikahan, wanita yang sedang hamil dan menyusui pun merupakan tanggung jawab suami dan keluarga besarnya juga, sebab itu semua dilakukan karena pilihan.
Kalau si anak lahir, bukankah pendidikan awal adalah orang tua dan keluarga besarnya?
Sekarang sudah nggak zaman berpatriakhat ria. Yang ada adalah kesetaraan dan tanggung jawab yang dijalani bersama.

Tatkala mereka menganggap pemikiranku nyeleneh ya toh biar saja, aku yang menjalani. Dan aku memang mempersilakan adikku menikah lebih dulu karena tidak mungkin kan menyuruh mereka (adik dan calon iparku) yang sudah matang soal niat, malah jadi nunggu aku yang belum didatangi nasib yang sama…?
Aku nggak mau kejam dong sama adik sendiri. Aku juga nggak mau egois terhadap orang tuaku.

Dalam hal ini, adat pun kalah dengan kemanusiaaan.

Sekian.

*Hasil pemikiran sepanjang jalan sambil hujan-hujan tadi pagi.

Cerita Pagi Awal November

Dalam sisa-sisa kesuntukanku kemarin hari, akhirnya kumulai pagi ini dengan segelas kopi serta beberapa bacaan di national geographic dan tempo di internet. Namun sayang lebih banyak berita buruk yang menarik perhatian–yang muncul di sana.

1
Di national geographic, sebuah feature mengulas konflik di Nigeria yang masih berlangsung hingga kini. Ada yang menyebut konflik tersebut bersifat etnis dan ada pula yang menyebut konflik agama, dan menyebut satu kelompok muslim sebagai biang keladi serta rivalnya yang berbendera kristen. Tapi apa pun itu. Sebab bagiku, semua yang terjadi itu wujud dari krisis kemanusiaan yang belum selesai. Ribuan korban berjatuhan tak lagi terhitung jumlahnya.
Tiba-tiba aku berpikir tentang nilai manusia di sebuah negeri yang berkonflik. Kubayangkan bila aku berada di posisi mereka: setiap hari mendengar dentum bom, mencium bau amis mayat yang telah menyatu dengan senyawa oksigen, bahkan di terminal bus, jalan, pertokoan, sekolah, tempat ibadah pemandangan berupa kepingan jasad manusia sudah biasa. Setiap hari di sana, setiap orang seakan bersiap dengan maut dan terbiasa bersanding dengan teror.

Seorang aktivis yang dieksekusi negara itu pada 1995 atas tuduhan palsu, Saro-Wiwa pun beropini: “Hidup sehari di Nigeria berarti mati berkali-kali.” Bahkan, kegiatan sederhana pun dapat menguras energi. Sebagai bukti ketegangan yang terjadi di sana. Aku benar-benar sulit membayangkan.

Aneh memang, di bawah tanah kering yang selalu berdarah dan beraroma mesiu itu, rupanya memang tersimpan ironi yang seluruh dunia pun tahu.

“Nigeria memiliki kelas menengah terdidik, kota dengan industri makmur, serta pers yang gaduh, sekalipun tidak benar-benar bebas. Namun, sumber daya yang paling menguntungkan, sejak ditemukan pada 1950-an, adalah minyak mentah. Nigeria merupakan eksportir minyak terbesar kelima di dunia, namun hampir dua pertiga penduduknya melarat dengan penghasilan yang cuma pas-pasan untuk bertahan hidup.”

So… bukankah itu aneh? Nggak mustahil kan kalau pihak mana pun bisa bersembunyi di balik Bako Haram (yang disebut kelompok muslim) untuk membuat kondisi sama itu tetap berlangsung. Demi apa… entahlah… mungkin minyak.

Satu yang kusyukuri, aku tidak tinggal di sana, sekalipun bukan berarti mereka tak memiliki arti dalam duniaku. Selama kita tahu mereka masih berada di planet yang sama, kita adalah bagian dari itu.

2
tempo.co
Aku memilih beberapa berita yang tidak melulu soal korupsi pemerintah. Salah satunya, kasus tentang lambannya polisi menangani kasus penyerangan terhadap kegiatan diskusi di Wisma Santidharma, Godean, Sleman, Yogyakarta. Serbuan yang dilakukan oleh Front Anti-Komunis Indonesia (FAKI). Atau malah pemerintah seolah membiarkan. Beritanya di sini.

Tapi yang lucu dari kasus penyerangan itu, bagaimana orang bisa membunuh ideologi hanya dengan kekerasan fisik? Melawan ideologi bukankah dengan idealogi juga? Bukankah sejarah selalu ambigu? Dan apa yang salah dengan keyakinan seseorang, selama dia masih menjaga perdamaian di muka bumi ini? Tapi tentunya akan sulit mengaplikasikan itu di hadapan kelompok preman. Bukankah di mana-mana preman hanya bisa menyerang secara primitif?

Kita telah paham, keberagaman bukan bahaya. Perbedaan bukan ancaman. Tapi di suatu tempat yang modern kehidupannya, tak selalu menjamin telah maju juga masyarakatnya dalam hal berpikir. Di sebuah kota yang cukup berbudaya dan dinamis seperti Jogja, orang-orang udik dan “idiot” tetap ditemukan di mana-mana. Orang idiot yang kumaksdn adalah mereka yang mau-mau saja dibeli dan disuruh oleh pihak-pihak yang jelas-jelas cuma mengurusi kepentingannya.

Di samping itu, kita memang tinggal di Indonesia, yeah… (meminjam istilah Putu Setia) tempat di mana yang korupsi berteriak antikorupsi, sementara penegak hukumnya sendiri juga melakukan pelanggaran. Jadi, mau bagaimana lagi?

3
Membaca situs web tempo, tentu takkan kulewatkan kolom-kolomnya, terutama catatan pinggirnya. Sebab sekalipun loncat-loncat, tulisan GM selalu membuka cakrawala baru, sekaligus membuat kita dapat memaknai peristiwa dengan pandangan yang lain. Bagiku, membaca tulisan semacam caping juga mengobati kejenuhan membaca berita harian.

seperti yang kubaca hari ini.

http://www.tempo.co/read/caping/2013/10/28/129062/Gramsci

“Tapi dalam selnya, Gramsci merasa ada yang bisa berubah dalam dirinya:

Aku merasa, andaikata aku dibebaskan dari penjara sekarang, aku akan terus hidup dengan otakku semata-mata… melihat orang-orang, bahkan yang seharusnya kuanggap dekat, bukan sebagai makhluk yang hidup, melainkan sebagai teka-teki yang harus dipecahkan.

Bertahun-tahun terasing dari gemuruh perdebatan dan keasyikan kebersamaan, seorang pemikir memang mudah terseret ke dalam sunyi Cartesian: liyan akan hanya hadir sebagai obyek analisis. Manusia ada untuk dirumuskan. Doktrin akan kian menentukan pandangan sang pemikir, bukan hubungan yang tak terduga antarmanusia.”

sekadar catatan

 

Kurasa “hantu” setiap zaman itu beda-beda. Zaman dulu hantu bolehlah semacam makhluk halus penunggu hutan atau rumah tua. Zaman sekarang yang suka nebar teror di mana-mana bukankah kebanyakan manusia?

Zaman di mana iblis dan malaikat tak bisa dibedakan seperti sekarang ini, masih bisa ya manusia dinilai dari tampilan luar?

 

 

Yang Kekurangan dan Menginspirasi

Sering kan kita menjumpai kondisi di mana kita berusaha keras menjadi yang si kekasih inginkan. Kita harus seperti ini, membuang baju yang ini, memakai yang seperti ini, harus melepas pekerjaan yang itu, kehilangan teman-teman, harus ngorbanin hari libur, waktu, privasi, impian, hobi, keluarga, usia, dan banyak lagi, tapi kita nggak jadi diri sendiri–hanya demi orang yang kita cinta apa adanya tetapi belum tentu mencintai kita apa adanya. Di situlah kadang letak kelemahan dan kesalahan para perempuan. Terutama yang terlanjur lahir dan hidup di dalam kebudayaan feodal-patriakhat ala Jawa. (Aslinya aku masih selalu mencurigai budayaku sendiri)

Kita nggak boleh buta. Sering kali yang demikian, menunjukkan bahwa: pertama, si lelaki mencintai dirinya sendiri lebih dari apa pun sehingga kita nggak boleh mengusik egonya yang satu itu. Kedua dia punya bayangan perempuan idaman di kepalanya, yang sebenarnya bukan diri kita. Sehingga kita hanya jadi boneka barbie-nya yang harus mau “didandani” sesuai imajinasinya. Lama-lama kita jadi nggak apa adanya. Dengan cara demikian, perempuan nggak bisa jadi dirinya sendiri. Memangnya bisa menghabiskan hidup bersama seorang pria yang nggak tulus dan di samping itu, dan kita akan terus dituntut berpura-pura jadi orang lain?

Ke depannya perempuan sendiri yang kesusahan, karena toh yang namanya kekurangan itu manusiawi, sedangkan kita hanya dicintai karena syarat-syarat yang dipikirakan si lelaki tadi, misalnya. Barangkali kita sedang diciptakannya serupa mantan. Nggak tulus banget. Tapi itu banyak terjadi di sekeliling kita. Di zaman modern ini.

Sementara kesetaraan yang ideal selalu akan menuntut: “Bila kamu mau mengubah aku, kamu juga harus rela aku ubah.” Demikianlah supaya kehidupan berjalan adil. Sekalipun tentu saja, itu bukan cara hidup bersama yang nge-soul.
Sebab yang benar adalah hidup dengan tanpa peduli soal perbedaan, kekurangan, dan juga pandangan orang lain, kecuali hanya ingin tetap bersama, saling menerima, dan melengkapi, sebelum ajal menjemput. Cukup.

Perempuan yang terlahir cacat, mendapatkan yang tulus ingin bersama dia tanpa memandang kekurangan–hal yang barangkali begitu langka bagi para perempuan yang normal. Kedua, sebagai orang berfisik normal aku merasa tertampar, selama ini apa yang sudah aku lakukan untuk dunia?

Artikel tentang Mbak Putri Herlina berhasil menginspirasiku pagi ini. 🙂

Salah satu cuplikan artikel tentang Mbak Putri ketika ia ditawari tangan buatan:

Snapshot_2013-10-14_091216

Berbahagialah mereka yang diterima apa adanya, dicintai dengan tulus tanpa pretensi.
Meskipun seringkali yang bisa demikian hanya orang tua terhadap anak-anaknya.