menjabat siang hari pukul satu

melalui siang pukul satu demi mencari angin yang berembus serupa mencarimu dalam kegelapan ragu-

 
dulu tatkala kecil, sering kali kunaiki dahan pohon jambu
demi menatap dunia luas di atas atap-atap rumah yang belum menjulang karena ditumpuk lantai baru
dan kudengar riang cericit burung sebelum jalanan menderu garang
dalam diriku ada bocah yang gemar bertanya
kucari jawaban-jawaban di ranting dan dedaunan
terkadang aku bermimpi mempunyai sepasang sayap atau dapat melompati atap-atap
terkadang juga hanya kubawa buku dongeng atau buku gambar untuk melarikan penat
tatkala siang, kudapati alasan untuk menjauh demi teduh
meski demikian aku takkan bermain jauh
hanya hujan dan sore yang mampu menahanku pergi
namun tidak kali ini
segala hal menahanku di sebuah rumah tanpa pohon jambu di halaman
telah lama tak kujabat siang sebagai kawan berbagi cerita tentang buku-buku
dan kini hujan adalah tempatku kembali pada perasan teduh itu
meski ia tak datang di terik siang hari pukul satu

Iklan

ketika sore

ini sore, tatkala sunyi lebih mengabu dari sisa perjamuan hujan
tak ada jingga di dinding dan jendela
bulan berpamit senyap, bintang lenyap
lalu kubentangkan lautanku. kuhanyutkan angin,
kugambar kapal dan dermaga
dengan krayon warna ungu
untuk kujemput diri sendiri ke arahmu, kala senja kembali
namun tidakkah melupakan rasa pulang adalah gigil
dan di balik pintu
tatkala sebuah nama memanggil
warna-warna akan memudar
kertas-kertas terbakar

Resensi Novel: Separuh Kaku

DSCN4037

Judul: Separuh Kaku
Penulis: Setiyo Bardono
Penerbit: Senja
Tahun terbit: 2014
Jumlah Halaman: 248
Genre: Humor
ISBN: 9786027968974

Blurb

Kepindahan orang tua dari Depok ke Cilebut membuat Panji akrab dengan kereta rel listrik (KRL). Melalui tragedi ingus, Panji berkenalan dengan Eka Naomi Keretawati hingga berujung pada peristiwa Salah Wati. Entah mengapa sejak menjadi TRAINer, istilah keren untuk penumpang kereta, Panji dekat dengan gadis-gadis yang namanya berhubungan dengan kereta. Sebelumnya Eka Naomi Keretawati, sekarang Eva Peron. Eva sendiri sering dipakai roker untuk mengistilahkan kereta ekonomi. Eva, ekonomi vanas. Hingga kekecewaan cinta membuat Panji menjalani jalur salah dengan naik di atap kereta.
Ikuti kisah Panji, seorang TRAINer, dalam kesehariannya di ular besi.

Sepanjang pengalaman membaca saya, ide bertema stasiun dan kereta yang saya temukan dari bacaan lebih banyak diambil oleh genre sastra, romance, atau lagu-lagu bernafaskan romantisme dan drama. Namun kali ini Setiyo Bardono memformulasikan stasiun dan kereta dengan genre humor. Saya pun menemukan banyak hal unik di dalamnya.

Panji dalam novel ini digambarkan sebagai pemuda Kampung Cilebut yang mencari jati diri. Ia rela prihatin dengan berdesakan di kereta demi meraih cita-citanya untuk bisa kuliah selepas SMA. Sejak pindah rumah ia tak punya pilihan efektif lain selain naik kereta ke sekolahnya di daerah Depok. Menjadi langganan kereta ekonomi, tentunya ia pun jadi akrab dengan berbagai suasana di KRL. Mulai dari bertemu Naomi (Wati) yang berujung pada salah Wati, hingga tragedi kecelakaan penumpang atap yang menimpa salah satu sahabatnya.

Di samping mengamati, ia juga punya sudut pandang konyol mengenai hal-hal di sekitarnya. Sebagai penumpang rutin, ia bahkan punya ikatan kekeluargaan dengan penumpang lain yang setiap hari ditemuinya di gerbong tiga karena perasaan senasib seberdesakan. Selain itu ia juga menemukan belahan hatinya walaupun tidak berujung baik. Guyon khas yang mengalir natural dan ringan dalam novel ini berhasil membuat saya jadi senyum-senyum sendiri sampai ngakak selama membacanya.

Berbicara tentang genre humur, memang tidak mudah menampilkan komedi karena selain itu berhubungan dengan keterampilan dan pengalaman, juga berkaitan dengan selera audience. Tapi menurut saya, justru karena berangkat dari masyarakat menengah ke bawah, membuat buku ini dekat dengan kehidupan sehari-hari sehingga terasa akrab. Selama ini saya jarang menemukan buku bergenre humor yang betulan bikin tertawa. Mungkin karena saya punya selera humor yang gampang-gampang sulit, hehe.

Kelebihan novel ini juga terletak pada kritik sosial. Penulis seperti mengajak pembaca untuk melihat lebih dekat kondisi kereta ekonomi dan melihat masyarakat dari segi transportasi umum dari sudut pandang remaja bernama Panji dan berbagai peristiwa kocak yang dialaminya. Menyorot masyarakat KRL gerbong ekonomi itulah yang membuat novelnya terasa membumi dan akrab. Panji berbicara dari banyak hal, mulai dari kondisi KRL yang selalu berdesakan, tips naik kereta, hingga informasi jajananan khas sekitar stasiun seperti lontong dan gorengan yang dipotong menggunakan gunting hingga tahu sumedang.

Di samping menghadirkan hiburan, novel ini juga mengajak kita sedikit banyak merenungi perihal seputar fasilitas umum yang dekat dengan kita sehari-hari, terutama yang berhubungan dengan KRL Ekonomi. Novel ini juga diselingi puisi-puisi ringan dan lirik lagu gubahan ala Panji yang kadang konyol yang sepertinya merupakan keahlian penulis. Dilihat dari diksinya, penulis konsisten mengangkat tema KRL dan stasiun. Bahkan termasuk nama tokoh-tokohnya. Setiyo B. juga menyelipkan ramalan bintang edisi KRL Ekonomi yang bikin ‘mules’ saat membacanya. Misalnya seperti ramalan zodiac Panji berikut ini.

halaman 172

halaman 172

Dalam segi teknis, cover menggunakan gambar yang lucu dengan jenis font yang nyaman dibaca dan tidak mengikuti buku-buku yang lainnya. Seperti memang ditujukan untuk bacaan super santai.
Membaca profil penulsi di halaman belakang, Setiyo B rupanya pernah menerbitkan buku dengan tema serupa yaitu, Mimpi Kereta di Pucuk Cemara dan Aku Mencintaimu dengan Sepenuh Kereta. Sudah dapat ditebak si penulis jelas melahirkan ide-ide kreatif ini dari pengalamannya ber-KRL ria 🙂

Ada beberapa salah ejaan dan typo yang tidak terlalu berpengaruh dan dapat disempurnakan lagi di cetakan berikutnya.
Overall, membuat saya beruntung menemukan buku ini. Berharap dapat membaca buku Setiyo B. selanjutnya. Novel “Separuh Kaku” ini rocommended untuk dibaca sebagai hiburan di kala senggang.:)

Resensi Novel: Hujanlah Lain Hari

Sumber: goodreads.com

Sumber: goodreads.com

Judul: Hujanlah Lain Hari
Penulis: Lindaisy
Penerbit: Diva Press
Tahun Terbit: November 2014
Genre: Fanfiction
Jumlah halaman: 356

Cerita diawali oleh masa kecil Shim Jangwoo yang cukup keras. Meski ia dari keluarga yang tidak mampu, namun menjujung tinggi kejujuran. Jangwoo kecil tak melupakan segala peristiwa yang ia alami. Termasuk juga seorang gadis kecil, anak sahabat ayahnya, yang mengikutinya di tengah hujan kala itu. Namun peristiwa nahas terjadi dan menewaskan kedua orang tuanya. Sejak itu, Jangwoo membenci hujan.

Lalu bertahun kemudian, Jangwoo pun tumbuh dewasa. Ia bertemu Geum Janhwa di sebuah kedai ramyun. Geum Janhwa adalah si pemilik Kedai yang tekun namun sedikit dingin dan tertutup. Ketertarikannya terhadap Janhwa dan kondisi keuangannya yang nyaris ambruk membuatnya mau melamar pekerjaan sebagai tukang masak di kadainya. Ia bahkan rela meninggalkan profesi musiknya, memotong rambut gondrongnya, dan belajar membuat ramyun terbaik. Janhwa dan Jangwoo pun menjadi rekan kerja yang cocok.

Hubungan mereka pun berkembang. Jangwoo semakin masuk dalam kehidupan Janhwa. Sedikit demi sedikit ia pun mulai mengenali gadis itu. Ia anak yatim piatu dan hanya memiliki seorang adik yang dirawat di rumah sakit karena hepatitis B. Menjadi koki dan menjalankan kedai bukan impian sejatinya, namun kedua orang tua dan kondisi membuatnya demikian. Di samping kuliah, Janhwa bekerja keras menjalankan kedai. Jangwoo tahu, ia seperti mengenali Janhwa karena mirip dengan seseorang. Kebiasaan Janwa yang suka menutupi masalahnya itu justru membuat Jangwoo ingin selalu berada di dekatnya dan membantunya. Terlebih ketika tahu bahwa adiknya harus dioperasi dan membutuhkan biaya yang besar. Jangwoo mencoba membantu. Ia bahkan menjual satu-satunya gitar kesayangannya.

Tiba-tiba Park Woohyun datang di antara mereka dan mengacaukan segalanya. Woohyun adalah teman Janhwa sejak kecil yang belakangan mencintai Janhwa. Sementara itu, atas semua bukti yang ditemukannya, Jangwoo semakin yakin bahwa Geum Janwa adalah seseorang yang terkait erat dengan masa lalunya. Gadis yang pernah mengejarnya di tengah hujan di masa kecilnya. Gadis yang selama ini dicarinya. Namun sepertinya tidak mudah bagi Jangwoo memberi pesan pada Janhwa bahwa ia adalah gadis kecil di masa lalunya.

Terlebih segalanya tambah berantakan sejak peristiwa perampokan yang mengganggu kelangsungan kedai ramyun milik Janhwa. Lagi-lagi pelakunya adalah orang yang Jangwoo kenal di masa kecilnya, yang tak lain adalah musuhnya. Kembali Jangwoo difitnah seolah Jangwoo-lah otak dari pencurian dokumen itu. Sayang Janhwa percaya dan lantas membencinya.

Belum lagi menemukan penyelesaian, Woohyun mengambil kesempatan di tengah kesulitan Jangwoo. Ia membantu Jangwoo dengan membayarkan sejumlah uang untuk menyelesaikan kasus, namun semua itu tidak gratis, dengan syarat bahwa Jangwoo harus menjauhi Janhwa, sebab ia tak ingin Janwoo merebutnya. Demi kebahagiaan Janhwa, Jangwoo bersedia pergi.

Tapi uang memang bukan segalanya. Semua hal yang dimiliki Woohyun tak lantas membuatnya mendapatkan cinta Jahnwa, seperti semudah saat ia meminta mainan kepada orang tuanya.

Membaca novel ini seperti menyimak drama Korea dalam bentuk buku. Pergerakan alur maju dan flashback yang dramatis, tokoh-tokohnya yang digambarkan cantik dan tampan, hingga setting yang berada di Korea di musim hujan. Novel dengan tebal 356 halaman ini dituturkan dengan dialog dan narasi dan seimbang. Setiap narasi bahkan dituliskan dengan cukup detail ala drama Korea. Novel ini memiliki ending yang manis yang menguraikan segala jawaban tentang masa lalu mereka, meski kita tak akan menemukan hal-hal yang mengejutkan di sana.

Karakter tokoh-tokohnya sekalipun secara fisik semuanya cantik dan ganteng, namun memiliki ciri khas sendiri sehingga dapat melengkapi komposisi cerita dengan menarik. Tak hanya itu, penulis sudah cukup baik menyesuaikan karakter tokoh dengan latar belakang kehidupan masing-masing. Keunggulan lain dari novel ini adalah pesan moral yang terselip di dalamnya, seperti tentang kejujuran, kerja keras, dan juga beberapa kutipan bagus yang saya temukan:

Punya segalanya bukan jaminan kebahagiaan (halaman 29)

Punya pengalaman buruk lebih banyak daripada pengalaman baik bukan berarti kau bisa membencinya. (halaman 206)

Sebetulnya sih membaca bagian pertengahan novel ini seperti melawan rasa bosan. Ada banyak narasi yang isinya terkesan berbelit dan kurang penting, membuat saya kadang berhenti sejenak dan beberapa kali membacanya dengan cara skip, itu pun tidak membuat saya ketinggalan mengikuti plotnya. Rasa antusias untuk melanjutkan hingga selesai baru datang kembali setelah ada di seperempat bagian akhir. Meskipun ada beberapa adegan yang terkesan kebetulan, terutama yang berkaitan dengan setting, namun lumayan tertutupi oleh penyelesaian cerita yang cenderung tidak terburu-buru.

Meski latar tempatnya di Korea, namun sayang kurang tereksplore dengan baik. Di samping itu, setting waktu, seperti tahun dan bulan tidak disertakan dengan jelas. Hanya beberapa hal yang menunjukkan bahwa itu di Korea, seperti kedai ramyun, orang-orang bernama khas Korea, dan sedikit saja nama tempat seperti Seoul. Di samping itu ada salah satu dialog yang sedikit kurang logis di halaman 268-269, tentang mengapa Jangwoo heran bahwa Woojin mengenal Janhwa? Bukankah Woohyun si adik laki-lakinya, sudah berteman dengan Janhwa sejak kecil? Bukankah sudah wajar bila kedua keluarga otomatis juga sudah saling kenal? Apalagi Jangwoo sudah tahu bahwa Woohyun memang dekat dengan Janhwa sejak kecil. Tapi tidak mengapa, barangkali ini hanya karena penulis lebih bersemangat di poin yang lain.

Selebihnya deskripsi lokasi bisa disempurnakan dengan menceritakan dengan detail hingga tradisi masyarakat atau kondisi alam. Namun tidak masalah karena sepertinya novel ini memang disajikan sebagai bacaan yang menghibur, sehingga bagi penyuka fanfiction atau drama Korea, novel ini dapat menjadi pilihan di kala senggang.

Parade Manusia dalam Novel Jatisaba: Sebuah Review

novel Jatisaba

Judul: Jatisaba
Penulis: Ramayda Akmal
Penerbit: Era Baru Pressindo
Genre: sastra
Jumlah halaman: 254
Tahun terbit: 2012
ISBN: 9786029967036

Aku pulang, walau tidak punya rumah. Walau hasrat untuk pulang sama kuat dengan hasrat untuk mencegahnya. Aku sempat berjanji tidak akan kembali. Tetapi kenangan akannya begitu mengutukku. Kutukan yang mendatangkan kerinduan. Kerinduan yang mengalahkan segalanya; rasa malu, keangkuhan, dan dendam. Sepanjang jalan aku gemetar, menyadari yang aku rindukan adalah masa lalu. Namun aku sedang menuju ke sana dan tak mungkin akan menghancurkannya, juga diriku. Aku tak bisa mengelak. (Halaman 7)

Pulang ke Jatisaba membawa Mae pada serangkaian peristiwa yang melemparkannya pada kenangan, sekalipun tak ada lagi keluarga dan rumah sebagai tempat tujuan. Jatisaba tak hanya sebuah kampung bagi Mae, tapi juga sebagian dari dirinya, nuansa kehidupan desa kelahirannya yang masih seperti dulu, cinta masa lalu yang tak tergapai, politik lokal yang rumit dan kotor, juga banyak hal yang menguras hati. Tak jarang kelebat kenangan masa kecil datang dalam ingatannya dan sering kali mengusik nuraninya. Seiring dengan trauma-trauma yang pernah dialaminya.

Ia dilahirkan dan mengalami masa kecil di desa tersebut meski masyarakat pada akhirnya menolaknya. Mae yang bernama asli Mainah adalah mantan korban TKW ilegal yang mengalami nasib tragis. Lepas dari berbagai siksaan, ia pun terpaksa menjalani hal yang tak diinginkannya: menjadi makelar perdagangan manusia bertaraf internasional. Mae harus mencari calon-calon korban di kampung halamannya itu demi kebebasannya sendiri. Sebelumnya sudah hal yang biasa penduduk di Jatisaba menjadi TKI ketika dewasa meski bukan pilihan pekerjaan yang menjanjikan. Itulah sebabnya sebagian masyarakat memandang sinis Mae.

Membaca novel ini, saya melihat Mae sebagai korban juga sekaligus pelaku tindak kejahatan. Ada beberapa sisi menarik yang saya temukan dari Mae. Misalnya, sekalipun perempuan, ia mampu menghadapi dunianya sendiri tanpa bergantung pada orang lain. Mae merepresentasikan manusia yang memiliki semangat untuk terus dapat mengubah keadaan meski di sisi lain ia juga berjuang untuk berdamai dengan rasa bersalah. Novel ini membuat kita memaafkan sisi “manusia”.

Tidak mudah bagi Mae meraih kepercayaan masyarakat Jatisaba. Demi misinya itu, Mae pun mendompleng kampanye salah satu kelompok pendukung calon kades di untuk mendapatkan calon korban. Dalam perang batin yang berat, ia terus membujuk masyarakat tempat kelahirannya untuk mau berangkat bersamanya, termasuk sahabat-sahabat masa kecilnya. Selain tak bisa lepas dari teror Mayor Tua, bos besar dari sindikat tersebut, Mae juga tengah menjadi buron kepolisian. Dunia yang dihadapinya memang nyaris tak pernah aman, bahkan pada akhirnya ia dikhianati oleh salah satu orang yang dipercayaianya.

Novel Jaisaba tak hanya bercerita tentang human trafficking, tapi juga kehidupan manusia dari sisi lain. Hal menarik dari novel ini adalah kemampuan mendekat pada nuansa kehidupan masyarakat asli Kampung Jatisaba dengan cara lugas, kadang vulgar, jujur, dan menyindir. Tidak jarang saya menemukan karakter-karakter manusia di sekitar kita yang sedikit mirip dengan tokoh-tokoh dalam novel Jatisaba. Barangkali terhadap tipikal manusia ini kita dibuat gemas sekaligus memakluminya. Seperti juga Mae yang merasa menjadi bagian dan sekaligus mencela berbagai masyarakat yang munafik dan primitif. Meski bergenre sastra, novel ini juga dituturkan dengan gaya bahasa yang tidak terlalu berat untuk dicerna. Tidak banyak ditemukan bahasa kiasan, namun memiliki gaya penuturan yang menyentuh.

Fenomena pemilihan calon kepala desa, misalnya, diwarnai dengan perseteruan politik ala masyarakat pedesaan yang seolah menjadi replika iklim politik di negeri kita ini. Kampung Jatisaba pun akrab dengan konflik dan kampanye hitam. Konflik yang sudah lama ada di masyarakat yang berkelompok itu semakin memanas ketika pemilihan kepala desa. Dengan segala intrik, mereka saling menjatuhkan hingga saling memfintah dan memata-matai demi memenangkan calon. Mereka bahkan bersemangat menjagokan calonnya meskipun hanya disogok dengan beras berkutu. Fenomena kampanye yang kadang lucu, kadang membuat geleng-geleng kepala ini membuat saya menemukan kesamaan dengan fenomena yang terjadi di nusantara atau di sekitar kita namun dalam bentuk yang lebih ‘lugu’.

Penggarapan lakon yang kuat, plot, setting, dan twist-twist yang mengejutkan, membuatnya seperti menyimak sebuah dongeng tentang kaum terpinggir. Berbeda dengan novel kebanyakana, Mae merupakan tokoh utama yang tidak luput dari sisi keantogonisan. Mae mencintai jatisaba sepeti halnya kita mencintai kampung halaman. Ia juga cinta masa kecilnya, Gao, meskipun Gao telah berkeluarga. Ia menyayangi sahabat-sahabatnya di masa kecil, ia tahu apa yang bakal mereka alami setelah berada di tangan Mayor Tua, tapi ia sadar ia sedang terlibat dalam misinya sendiri sehingga harus menjaga jarak.

Dengan sangat akrab, Jatisaba bercerita lebih dekat tentang masyarakat tradisional yang cenderung marginal itu. Seperti tokoh Sitas yang pernah mengalami masa lalu kelam sebagai TKW dan hobi sebagai simbol kemiskinan dan kemunafikan. Ia cenderung menyukai hal-hal yang materi hingga segala cara ditempuhnya, ia bahkan lebih berantusias menghitung uang sumbangan sesaat setelah suaminya dimakamkan. Lalu Gao yang dianggap dukun sakti yang kontroversial. Ada juga Malim yang selalu berada di samping Mae tapi tetap memiliki tujuan memanfaatkannya. Ada pula Musri, Kusi, dan Sanis, sahabat Mae yang polos dan naif yang merepresenstasikan ibu rumah tangga yang menjalani takdirnya mengurus rumah dan anak-anak. Sedangkan para pria dalam novel itu dikenal doyan kawin, mabuk, berjudi. Sementara sekolompok ibu-ibu karib dengan gosip. Tak lupa Jompro, Mardi, dan Joko, 3 orang yang memiliki cara-caranya sendiri untuk meraih kemenangan menjadi kepala desa iktu mewarnai situasi politik di Jatisaba. Dan tokoh-tokoh lain yang memiliki karakter yang berdiri sendiri-sendiri.

Dalam novel ini saya seperti melihat kondisi masyarakat marginal yang ditelantarkan oleh negara dan jauh dari kemajuan. Salah satu biang dari semua penyakit masyarakat itu adalah kemiskinan. Kemiskinan seolah merupakan jalan buntu bagi masyarakat itu sendiri. Novel yang beralur maju ini sekaligus diselingi kilas balik tentang masa lalu Mae yang memilukan ketika menjadi korban trafficking. Di sisi lain, kehidupan desa digambarkan begitu detail dan tentunya Ramayda Akmal telah melakukan riset yang panjang. Termasuk juga ketika menyorot situasi politiknya.

Setting dan juga kebudayaan yang digarap detail membuat saya seperti menyimak langsung. Dari perayaan ebeg sampai jenis makanan khas yang menjadi favorit masyarakat meski tidak layak untuk dimakan.

Aku rindu sekali memakan ciwel. makanan dari singkong yang dicampur abu. Tidak ada yang menyediakan makanan itu selain di Jatisaba…”

Ada gorengan gadung yang semua orang tahu dibuat dari tumbuhan jalar yang beracun. Ada juga becek lumbu. Lumbu adalah tanaman yang tumbuh subur di genangan air limbah… (halaman 150)

Novel Jatisaba sedikit mengingatkan saya pada novel Ahmad Tohari, Ronggeng Dukuh Paruk yang sama-sama berangkat dari kisah masyarakat desa yang tengah menghadapi perubahan sosial akibat komedernan. Namun cerita menganai kehidupan pekerja migran ilegal seperti mengingatkan kembali novel Mimi lan Mintuna karya Remy Sylado dan Galaksi Kinanti karya Tasaro GK. Membuat kembali menyadarkan bahwa Indonesia, kasus trafficking masih menjadi fenomena yang dekat dengan kita namun seperti jauh dari penyelesaian yang menuntut kita untuk peduli dan terus berupaya mencari solusi.

Membaca novel Jatisaba seperti membaca parade manusia. Kita takkan menemukan tokoh-tokoh ideal dalam bayangan kita ataupun produk ala televisi. Mengikuti perjalanan Mae, saya seprti ikut memaklumi manusia, sehingga rasanya bukan yang bodoh dan terbelakang yang lebih jahat. Orang-orang yang merasa lebih maju dan terlihat bersihlah yang barangkali lebih mengancam. Atau barangkali kita yang lebih banyak tahu yang lebih jahat dari mereka yang tak tahu. Bukankah sering kali pengetahuan yang kita miliki menyakiti mereka yang tidak pernah tahu? Bukankah pengetahuan-pengetahuan itu membuat kita tak jarang merasa terasing?

Kekurangan dalam novel ini menurut saya lebih pada teknis. Sayang di novel ini masih banyak ditemukan typo dan kesalahan ejaan yang mestinya dapat diperbaiki lagi. Di samping itu, ada beberapa halaman yang penataan marginnya terlihat agak miring. Namun tak mengapa, penggambaran karakter melalui narasi dan dialog dengan porsi yang pas membuat saya terkesan. Pantas bila novel ini masuk sebagai novel unggulan Dewan Kesenian Jakarta tahun 2010 lalu.

Mae merupakan tokoh kontroversi yang mengajari kita untuk mampu mengenal manusia dari dekat dan dengan cara berbeda. Selain ide cerita dan beberapa kelebihan yang coba saya urai di atas, novel Jatisaba karya Ramayda Akmal ini saya rasa memiliki muatan etnografis dan nilai-nilai yang mampu memberikan terobosan baru dalam dunia sastra. Novel ini kaya dengan makna dan pelajaran hidup. Kita juga dapat mengkajinya dari sudut pandang ilmu sosial dan budaya. Ini novel sastra yang recommended 🙂

Resensi Novel: Queen, Demi Menghapus Bayangmu

IMG_20141228_185751

Judul: Queen, Demi Menghapus Bayangmu
Penulis: Niena Sarowati
Penerbit: Senja
Tahun terbit: 2014
Tebal: 300 Halaman
ISBN: 978-602-296-026-3

Alfira Queenza memutuskan “lari” dari Jakarta ke Bandung setelah mendapati Milly, sahabatnya sendiri berselingkuh dengan Davin, pacar yang sudah bersamanya selama 3 tahun. Setelah mendapat izin kedua orang tuanya, ia pun mengambil cuti kuliah untuk menata hidupnya kembali setelah patah hati. Tak seorang pun tahu kepergiaan Queen ke Bandung kecuali kedua orang tuanya.

Di Bandung ia tinggal di Kos Cemara yang rata-rata penghuninya lelaki. Salah satu teman kosnya yang paling dekat adalah Obit. Selama di Bandung Obit-lah yang sering berada di sisi Queen. Queen merasa betah. Terlebih nuansa yang ia temui di Kos Cemara seperti keluarga, Abah, pemilik kos yang ramah, Cilla cucunya yang lucu membuat hidupnya terisi, juga para penghuni kos dan pacar-pacarnya yang selalu menemani dan mendukungnya.

Ia menjalani hari-harinya yang menarik selama di Bandung. Pada suatu ketika ia menolong seorang anak kecil yatim piatu di jalan, tak disangka pertemuan itu membawanya berkunjung ke panti asuhan. Dari kunjungan itu, ia merasa tergerak untuk terus membagi kebahagiaan, dan panti itulah menjadi tempat berkegiatannya selama di Bandung. Tak hanya itu, ia juga bergabung dengan komunitas anak jalanan melalui salah satu teman kosnya, Alan.

Kesibukannya di panti dan komunitas anak jalanan mampu mengalihkannya dari rasa galau. Namun ketenangan hidupnya nyaris ambruk ketika Davin menyusulnya dan membuat kekacauan. Menyusul kekacauan lain ketika Milly juga datang mencarinya, hingga akhirnya teman-temannya pun tahu apa alasan Queen ke Bandung dan menjalani kesibukan-kesibukan itu. Queen tahu keputusannya untuk tetap bangkit tidak boleh rusak begitu saja.

Setiap manusia pasti punya masalah. Dan, masalah itu ada untuk kita hadapi. Kita cari jalan keluarnya, bukan kita hindari. Jika satu masalah kamu hindari, maka akan muncul masalah baru. (halaman 176)

Sementara kedekatannya dengan Obit seperti memunculkan semacam chemistry. Obit yang baik, perhatian, dan selalu ada membuat Queen merasa tenteram. Namun tak dipungkiri Davin masih mengusik hidupnya. Kenangan bersamanya tak mudah dilupakan. Namun semua itu membuatnya harus menentukan langkah.

Novel Queen diceritakan dengan alur maju, kadang-kadang diselipi dengan flash back tentang masa lalu Queen bersama Davin. Sisi menarik dari novel ini adalah tentang semangat tokoh Queen untuk survive dari kondisi terburuknya dan memilih bangkit. Seperti menyiratkan pesan bahwa ketika satu duniamu runtuh, bukan berarti hidupmu berakhir. Memang tidak mudah menerima kenyataan bahwa dua orang yang sangat dipercayai malah mengkhianati di belakang kita. Namun Queen tidak lantas terjebak dalam hal-hal negatif meskipun bagi siapa pun itu mungkin saja jadi pilihan.

Karakter, tokoh Queen dalam novel ini digambarkan sebagai gadis yang tidak terlalu istimewa namun memiliki proses perubahan karakter yang cukuo bagus, baik dalam hal penampilan maupun cara berpikir. Tokoh lain yang sering muncul adalah Obit. Namun sayang tokoh lain terlihat tidak terlalu memiliki peran dan kurang tereksplore sehingga terkesan hanya sampingan. Bahkan bila boleh berpendapat, nama tokoh-tokohnya masih bisa ditukar nama karena nyaris tidak memiliki ciri karakter khusus. Tapi tidak mengapa, sebab dari awal, tokoh-tokoh ini sudah cukup dijelaskan berurutan di bagian awal ketika Queen sudah pindah.

Sayangnya meski jalinan ceritanya cukup menarik, namun terdapat beberapa adegan yang temponya terlalu cepat dan ada yang diuraikan terlalu panjang di bagian yang sebetulnya tidak terlalu penting sehingga terkesan agak membosankan. Di samping itu ada beberapa yang menyangkut unsur kelogisan cerita yang mestinya dapat diperbaiki.

Salah satunya adalah, sepertinya agak kurang logis bila kedua orang tua Queen percaya begitu saja cerita Davin bahwa Queen melahirkan seorang anak di Bandung, apalagi hanya dengan melihat foto Queen menggendong bayi (halaman 195-196). Dalam novel ini diceritakan Queen sudah di Bandung selama 5 bulan, dan bayi yang digendongnya sudah beberapa bulan. Sementara wanita hamil kan butuh 9 bulanan sampai melahirkan, padahal mereka sebelumnya sudah tahu bahwa Queen aktif di panti asuhan.

Selain itu rasanya kok agak gimana ya anak usia playgroup berperilaku seperti Cilla? Semula saya kira Cilla sudah di atas kelas 3 SD an ketika membaca bagian ketika ia mengajak Queen berkenalan (halaman 24), ketika Cilla menengahi pertengkaran Via dengan Obit (halaman 56), hingga saat menceritakan masakan Queen (halaman 216-217). Kegemarannya makan dengan porsi yang begitu banyak (halaman 51), dan beberapa hal lain juga agak mengganjal. Tapi tidak mengapa karena mungkin hanya faktor kurang detail karena penulis terlalu antusias menceritakan anak kecil lucu yang membuat hidup tokoh Queen berwarna.

Mengenai konsep cerita, agaknya novel Queen kurang mengeksplore kondisi sosial masyarakat padahal ia menjadi bagian dari perjalanan Queen. Ketika di pantu asuhan, lebih banyak diceritakan saat Queen ikut mengasuh para bayi dan anak ketimbang aktivis panti. Ditambah lagi kebiasaan tokoh-tokohnya yang nongkrong di tempat-tempat agak mewah seperti plaza, kafe, salon, dan lain-lain agaknya kurang seimbang, hingga nyaris tidak ada penggambaran masyarakat yang melatarbelakangi komunitas anak jalanan yang mengarah pada masyarakat marginal. Bahkan di sela kegiatan itu, sering ditemukan jenis kuliner yang dikonsumsi Queen dan teman-temannya bernama asing seperti big ice tea hingga coupe la braga. akan lebih sesuai bila sesekali mereka nongkrong di warung bakso dan minum es teh warung pojok misalnya. Namun tak mengapa, karena mungkin fokus utama dan misi dari cerita novel Queen bukan ke arah sana.

Novel ini terbilang menarik dengan meskipun sedikit datar dan ending-nya mudah ditebak. Barangkali tidak jarang kita temui mereka atau mungkin termasuk juga kita yang pernah melarikan patah hati ke hal-hal positif seperti kegiatan sosial, sibuk bekerja siang malam, melanjutkan pendidikan, travelling, atau memulai bisnis. Tapi jarang yang menuliskannya menjadi novel sehingga dapat dijadikan insiprasi pembaca. Menurut saya novel ini tetap mempunyai muatan positif dan menceritakan dengan cara menarik tentang cara lain keluar dari keadaan terpuruk. Dengan gaya bahasa ringan dan mudah dimengerti, novel ini cocok untuk dibaca oleh remaja.