Ulasan Singkat: Cerpen “Katanya Saya Tak Akan Bosan”

Sekadar catatan pagi

Sastra, seperti yang kuingat dari buku Wellek dan Warren tahun 1990 adalah dokumen sosial sebagai potret kenyataan sosial. Berdasarkan pada penelitian Thomas Warton (penyusun sejarah puisi Inggris yang pertama), sastra juga memiliki kemampuan merekam ciri-ciri zamannya. Bagi Warton dan para pengikutnya sastra adalah gudang adat-istiadat, dan dalam hal ini buku sebagai sumber sejarah peradaban.

Sering juga potret zaman ditunjukkan oleh hal-hal yang tertulis secara tersirat dan tersurat di dalam sebuah cerpen. Dalam hal ini, perhatian saya akan menuju pada dunia perempuan dan kiprahnya.

Saya suka cerpen-cerpen yang ditulis oleh perempuan seperti cerpen ini. Saya suka bila para perempuan berani cerdas dan menjadi merdeka, dan mereka selalu membuat saya terinspirasi. Bahkan dalam menyuarakan/menuliskan isi pikiran dan pengalaman. Mereka juga mampu mereview kondisi dunia secara mikro dan kadang makro dari sisi lain. Meskipun di luar sana perempuan masih dianggap entitas yang berbahaya. Entah bagaimana, saya selalu suka membicarakan perihal perkembangan zaman dan cerita-cerita di dalamnya dari berbagai segi.

Bagi saya, sastra selalu memiliki cara unik menyuarakan kebenaran.
Meskipun kadang kala, karya sastra dan sinetron, sama-sama memiliki potensi “memberi rasa takut” yang aneh pada naluri keperempuanan.