Resensi Novel: Hujanlah Lain Hari

Sumber: goodreads.com

Sumber: goodreads.com

Judul: Hujanlah Lain Hari
Penulis: Lindaisy
Penerbit: Diva Press
Tahun Terbit: November 2014
Genre: Fanfiction
Jumlah halaman: 356

Cerita diawali oleh masa kecil Shim Jangwoo yang cukup keras. Meski ia dari keluarga yang tidak mampu, namun menjujung tinggi kejujuran. Jangwoo kecil tak melupakan segala peristiwa yang ia alami. Termasuk juga seorang gadis kecil, anak sahabat ayahnya, yang mengikutinya di tengah hujan kala itu. Namun peristiwa nahas terjadi dan menewaskan kedua orang tuanya. Sejak itu, Jangwoo membenci hujan.

Lalu bertahun kemudian, Jangwoo pun tumbuh dewasa. Ia bertemu Geum Janhwa di sebuah kedai ramyun. Geum Janhwa adalah si pemilik Kedai yang tekun namun sedikit dingin dan tertutup. Ketertarikannya terhadap Janhwa dan kondisi keuangannya yang nyaris ambruk membuatnya mau melamar pekerjaan sebagai tukang masak di kadainya. Ia bahkan rela meninggalkan profesi musiknya, memotong rambut gondrongnya, dan belajar membuat ramyun terbaik. Janhwa dan Jangwoo pun menjadi rekan kerja yang cocok.

Hubungan mereka pun berkembang. Jangwoo semakin masuk dalam kehidupan Janhwa. Sedikit demi sedikit ia pun mulai mengenali gadis itu. Ia anak yatim piatu dan hanya memiliki seorang adik yang dirawat di rumah sakit karena hepatitis B. Menjadi koki dan menjalankan kedai bukan impian sejatinya, namun kedua orang tua dan kondisi membuatnya demikian. Di samping kuliah, Janhwa bekerja keras menjalankan kedai. Jangwoo tahu, ia seperti mengenali Janhwa karena mirip dengan seseorang. Kebiasaan Janwa yang suka menutupi masalahnya itu justru membuat Jangwoo ingin selalu berada di dekatnya dan membantunya. Terlebih ketika tahu bahwa adiknya harus dioperasi dan membutuhkan biaya yang besar. Jangwoo mencoba membantu. Ia bahkan menjual satu-satunya gitar kesayangannya.

Tiba-tiba Park Woohyun datang di antara mereka dan mengacaukan segalanya. Woohyun adalah teman Janhwa sejak kecil yang belakangan mencintai Janhwa. Sementara itu, atas semua bukti yang ditemukannya, Jangwoo semakin yakin bahwa Geum Janwa adalah seseorang yang terkait erat dengan masa lalunya. Gadis yang pernah mengejarnya di tengah hujan di masa kecilnya. Gadis yang selama ini dicarinya. Namun sepertinya tidak mudah bagi Jangwoo memberi pesan pada Janhwa bahwa ia adalah gadis kecil di masa lalunya.

Terlebih segalanya tambah berantakan sejak peristiwa perampokan yang mengganggu kelangsungan kedai ramyun milik Janhwa. Lagi-lagi pelakunya adalah orang yang Jangwoo kenal di masa kecilnya, yang tak lain adalah musuhnya. Kembali Jangwoo difitnah seolah Jangwoo-lah otak dari pencurian dokumen itu. Sayang Janhwa percaya dan lantas membencinya.

Belum lagi menemukan penyelesaian, Woohyun mengambil kesempatan di tengah kesulitan Jangwoo. Ia membantu Jangwoo dengan membayarkan sejumlah uang untuk menyelesaikan kasus, namun semua itu tidak gratis, dengan syarat bahwa Jangwoo harus menjauhi Janhwa, sebab ia tak ingin Janwoo merebutnya. Demi kebahagiaan Janhwa, Jangwoo bersedia pergi.

Tapi uang memang bukan segalanya. Semua hal yang dimiliki Woohyun tak lantas membuatnya mendapatkan cinta Jahnwa, seperti semudah saat ia meminta mainan kepada orang tuanya.

Membaca novel ini seperti menyimak drama Korea dalam bentuk buku. Pergerakan alur maju dan flashback yang dramatis, tokoh-tokohnya yang digambarkan cantik dan tampan, hingga setting yang berada di Korea di musim hujan. Novel dengan tebal 356 halaman ini dituturkan dengan dialog dan narasi dan seimbang. Setiap narasi bahkan dituliskan dengan cukup detail ala drama Korea. Novel ini memiliki ending yang manis yang menguraikan segala jawaban tentang masa lalu mereka, meski kita tak akan menemukan hal-hal yang mengejutkan di sana.

Karakter tokoh-tokohnya sekalipun secara fisik semuanya cantik dan ganteng, namun memiliki ciri khas sendiri sehingga dapat melengkapi komposisi cerita dengan menarik. Tak hanya itu, penulis sudah cukup baik menyesuaikan karakter tokoh dengan latar belakang kehidupan masing-masing. Keunggulan lain dari novel ini adalah pesan moral yang terselip di dalamnya, seperti tentang kejujuran, kerja keras, dan juga beberapa kutipan bagus yang saya temukan:

Punya segalanya bukan jaminan kebahagiaan (halaman 29)

Punya pengalaman buruk lebih banyak daripada pengalaman baik bukan berarti kau bisa membencinya. (halaman 206)

Sebetulnya sih membaca bagian pertengahan novel ini seperti melawan rasa bosan. Ada banyak narasi yang isinya terkesan berbelit dan kurang penting, membuat saya kadang berhenti sejenak dan beberapa kali membacanya dengan cara skip, itu pun tidak membuat saya ketinggalan mengikuti plotnya. Rasa antusias untuk melanjutkan hingga selesai baru datang kembali setelah ada di seperempat bagian akhir. Meskipun ada beberapa adegan yang terkesan kebetulan, terutama yang berkaitan dengan setting, namun lumayan tertutupi oleh penyelesaian cerita yang cenderung tidak terburu-buru.

Meski latar tempatnya di Korea, namun sayang kurang tereksplore dengan baik. Di samping itu, setting waktu, seperti tahun dan bulan tidak disertakan dengan jelas. Hanya beberapa hal yang menunjukkan bahwa itu di Korea, seperti kedai ramyun, orang-orang bernama khas Korea, dan sedikit saja nama tempat seperti Seoul. Di samping itu ada salah satu dialog yang sedikit kurang logis di halaman 268-269, tentang mengapa Jangwoo heran bahwa Woojin mengenal Janhwa? Bukankah Woohyun si adik laki-lakinya, sudah berteman dengan Janhwa sejak kecil? Bukankah sudah wajar bila kedua keluarga otomatis juga sudah saling kenal? Apalagi Jangwoo sudah tahu bahwa Woohyun memang dekat dengan Janhwa sejak kecil. Tapi tidak mengapa, barangkali ini hanya karena penulis lebih bersemangat di poin yang lain.

Selebihnya deskripsi lokasi bisa disempurnakan dengan menceritakan dengan detail hingga tradisi masyarakat atau kondisi alam. Namun tidak masalah karena sepertinya novel ini memang disajikan sebagai bacaan yang menghibur, sehingga bagi penyuka fanfiction atau drama Korea, novel ini dapat menjadi pilihan di kala senggang.

Iklan