Resensi Novel: Queen, Demi Menghapus Bayangmu

IMG_20141228_185751

Judul: Queen, Demi Menghapus Bayangmu
Penulis: Niena Sarowati
Penerbit: Senja
Tahun terbit: 2014
Tebal: 300 Halaman
ISBN: 978-602-296-026-3

Alfira Queenza memutuskan “lari” dari Jakarta ke Bandung setelah mendapati Milly, sahabatnya sendiri berselingkuh dengan Davin, pacar yang sudah bersamanya selama 3 tahun. Setelah mendapat izin kedua orang tuanya, ia pun mengambil cuti kuliah untuk menata hidupnya kembali setelah patah hati. Tak seorang pun tahu kepergiaan Queen ke Bandung kecuali kedua orang tuanya.

Di Bandung ia tinggal di Kos Cemara yang rata-rata penghuninya lelaki. Salah satu teman kosnya yang paling dekat adalah Obit. Selama di Bandung Obit-lah yang sering berada di sisi Queen. Queen merasa betah. Terlebih nuansa yang ia temui di Kos Cemara seperti keluarga, Abah, pemilik kos yang ramah, Cilla cucunya yang lucu membuat hidupnya terisi, juga para penghuni kos dan pacar-pacarnya yang selalu menemani dan mendukungnya.

Ia menjalani hari-harinya yang menarik selama di Bandung. Pada suatu ketika ia menolong seorang anak kecil yatim piatu di jalan, tak disangka pertemuan itu membawanya berkunjung ke panti asuhan. Dari kunjungan itu, ia merasa tergerak untuk terus membagi kebahagiaan, dan panti itulah menjadi tempat berkegiatannya selama di Bandung. Tak hanya itu, ia juga bergabung dengan komunitas anak jalanan melalui salah satu teman kosnya, Alan.

Kesibukannya di panti dan komunitas anak jalanan mampu mengalihkannya dari rasa galau. Namun ketenangan hidupnya nyaris ambruk ketika Davin menyusulnya dan membuat kekacauan. Menyusul kekacauan lain ketika Milly juga datang mencarinya, hingga akhirnya teman-temannya pun tahu apa alasan Queen ke Bandung dan menjalani kesibukan-kesibukan itu. Queen tahu keputusannya untuk tetap bangkit tidak boleh rusak begitu saja.

Setiap manusia pasti punya masalah. Dan, masalah itu ada untuk kita hadapi. Kita cari jalan keluarnya, bukan kita hindari. Jika satu masalah kamu hindari, maka akan muncul masalah baru. (halaman 176)

Sementara kedekatannya dengan Obit seperti memunculkan semacam chemistry. Obit yang baik, perhatian, dan selalu ada membuat Queen merasa tenteram. Namun tak dipungkiri Davin masih mengusik hidupnya. Kenangan bersamanya tak mudah dilupakan. Namun semua itu membuatnya harus menentukan langkah.

Novel Queen diceritakan dengan alur maju, kadang-kadang diselipi dengan flash back tentang masa lalu Queen bersama Davin. Sisi menarik dari novel ini adalah tentang semangat tokoh Queen untuk survive dari kondisi terburuknya dan memilih bangkit. Seperti menyiratkan pesan bahwa ketika satu duniamu runtuh, bukan berarti hidupmu berakhir. Memang tidak mudah menerima kenyataan bahwa dua orang yang sangat dipercayai malah mengkhianati di belakang kita. Namun Queen tidak lantas terjebak dalam hal-hal negatif meskipun bagi siapa pun itu mungkin saja jadi pilihan.

Karakter, tokoh Queen dalam novel ini digambarkan sebagai gadis yang tidak terlalu istimewa namun memiliki proses perubahan karakter yang cukuo bagus, baik dalam hal penampilan maupun cara berpikir. Tokoh lain yang sering muncul adalah Obit. Namun sayang tokoh lain terlihat tidak terlalu memiliki peran dan kurang tereksplore sehingga terkesan hanya sampingan. Bahkan bila boleh berpendapat, nama tokoh-tokohnya masih bisa ditukar nama karena nyaris tidak memiliki ciri karakter khusus. Tapi tidak mengapa, sebab dari awal, tokoh-tokoh ini sudah cukup dijelaskan berurutan di bagian awal ketika Queen sudah pindah.

Sayangnya meski jalinan ceritanya cukup menarik, namun terdapat beberapa adegan yang temponya terlalu cepat dan ada yang diuraikan terlalu panjang di bagian yang sebetulnya tidak terlalu penting sehingga terkesan agak membosankan. Di samping itu ada beberapa yang menyangkut unsur kelogisan cerita yang mestinya dapat diperbaiki.

Salah satunya adalah, sepertinya agak kurang logis bila kedua orang tua Queen percaya begitu saja cerita Davin bahwa Queen melahirkan seorang anak di Bandung, apalagi hanya dengan melihat foto Queen menggendong bayi (halaman 195-196). Dalam novel ini diceritakan Queen sudah di Bandung selama 5 bulan, dan bayi yang digendongnya sudah beberapa bulan. Sementara wanita hamil kan butuh 9 bulanan sampai melahirkan, padahal mereka sebelumnya sudah tahu bahwa Queen aktif di panti asuhan.

Selain itu rasanya kok agak gimana ya anak usia playgroup berperilaku seperti Cilla? Semula saya kira Cilla sudah di atas kelas 3 SD an ketika membaca bagian ketika ia mengajak Queen berkenalan (halaman 24), ketika Cilla menengahi pertengkaran Via dengan Obit (halaman 56), hingga saat menceritakan masakan Queen (halaman 216-217). Kegemarannya makan dengan porsi yang begitu banyak (halaman 51), dan beberapa hal lain juga agak mengganjal. Tapi tidak mengapa karena mungkin hanya faktor kurang detail karena penulis terlalu antusias menceritakan anak kecil lucu yang membuat hidup tokoh Queen berwarna.

Mengenai konsep cerita, agaknya novel Queen kurang mengeksplore kondisi sosial masyarakat padahal ia menjadi bagian dari perjalanan Queen. Ketika di pantu asuhan, lebih banyak diceritakan saat Queen ikut mengasuh para bayi dan anak ketimbang aktivis panti. Ditambah lagi kebiasaan tokoh-tokohnya yang nongkrong di tempat-tempat agak mewah seperti plaza, kafe, salon, dan lain-lain agaknya kurang seimbang, hingga nyaris tidak ada penggambaran masyarakat yang melatarbelakangi komunitas anak jalanan yang mengarah pada masyarakat marginal. Bahkan di sela kegiatan itu, sering ditemukan jenis kuliner yang dikonsumsi Queen dan teman-temannya bernama asing seperti big ice tea hingga coupe la braga. akan lebih sesuai bila sesekali mereka nongkrong di warung bakso dan minum es teh warung pojok misalnya. Namun tak mengapa, karena mungkin fokus utama dan misi dari cerita novel Queen bukan ke arah sana.

Novel ini terbilang menarik dengan meskipun sedikit datar dan ending-nya mudah ditebak. Barangkali tidak jarang kita temui mereka atau mungkin termasuk juga kita yang pernah melarikan patah hati ke hal-hal positif seperti kegiatan sosial, sibuk bekerja siang malam, melanjutkan pendidikan, travelling, atau memulai bisnis. Tapi jarang yang menuliskannya menjadi novel sehingga dapat dijadikan insiprasi pembaca. Menurut saya novel ini tetap mempunyai muatan positif dan menceritakan dengan cara menarik tentang cara lain keluar dari keadaan terpuruk. Dengan gaya bahasa ringan dan mudah dimengerti, novel ini cocok untuk dibaca oleh remaja.

Iklan

Resensi Novel: Violetta, Yang Melupakan Kenangan

Novel Violetta

Judul: Violetta, Yang Melupakan Kenangan
Penulis: Rosgadini
Penerbit: PING!!!
Editor: Vita Brevis
Tahun Terbit: 2014
ISBN: 139786022556879
Jumlah halaman 223

Blurb

“Bia! Bia juga jangan lupa, ya, kalo Bia besar nanti, harus punya toko es krim sendiri. Jadi, Vio bisa makan semua es krimnya. Janji?”

Bia. Laki-laki yang tak suka makan es krim ini mendirikan First Scoop, demi memenuhi janji masa kecilnya pada sang cinta pertama, Vio.
Bia yang tak bisa lepas dari sosok cinta pertamanya seakan menemukan sosok Vio dalam diri Etta.
Namun Etta tak mau hidup dalam bayang-bayang Vio.

Pilihan. Di dalam hidup setiap manusia pasti akan dihadapkan pada pilihan, termasuk untuk terus mencintai atau justru melupakannya…

Di masa kecil Bia, ia sudah kehilangan Vio, sahabat sekaligus cinta pertamanya karena kecalakaan telah merenggutnya. Hal itu yang membuat Bia terpukul dan tak dapat melupakan Vio. Kenangan Vio rupanya begitu membekas. Hingga ketika dewasa, ia memutuskan keluar dari pekerjaan tetapnya dan membangun toko es krim, tidak lain adalah demi janjinya kepada Vio, meskipun Bia sendiri tak suka makan es krim. Toko es krim itu pun diberi nama First Scoop.

Dibantu sepupunya, Addin, ia berhasil membangun First Scoop dari nol. Baru sebentar kedai itu berdiri, Bia bertemu Maira. Maira adalah gadis cantik yang merupakan mantan Bia yang pernah berselingkuh dengan Addin. Melihat kenyataan bahwa Maira datang kembali ke kehidupan Bia, Addin sangat sedih, pasalnya sejak dulu ia menyukai Maira dengan serius. Namun demi menjaga perasaan Bia, ia pun menjaga jarak dengan Maira. Dan lebih kacau lagi, Maira ikut-ikutan melamar pekerjaan di kedai es krim Bia demi dekat kembali dengan Bia.

Sementara itu, pertemuan dengan Etta berawal dari Addin yang merekomendasikan Etta, sahabatnya sejak SMA untuk melamar kerja di kedai es krim Bia. Perkenalan Etta dan Bia tak berlangsung baik. Konyolnya Etta datang terlambat di sesi interview dan itu membuat Bia tak suka.

Interaksi Bia dan Etta yang kadang manis kadang saling menjauh karena saling sebal rupanya memunculkan benih cinta. Etta yang tersentuh karena sisi Bia yang baik dan romantis, dan Bia yang menyukainya karena menemukan banyak hal yang mirip Vio. Kepolosan, kesukaannya pada es krim di musim apa pun, hingga caranya menangis mengingatkannya pada cinta pertamanya itu. Namun Etta yang tahu hal itu tidak dapat menerima kenyaaan, meskipun ia juga diam-diam menyukai Bia. Etta ingin disayangi sebagaimana ia, bukan Vio atau gadis lain. Tapi sulit bagi Bia melakukannnya. Etta memberi syarat bahwa Bia harus melupakan Vio bila tetap ingin bersamanya.

Hingga suatu peristiwa terjadi dan satu per satu rahasia terpendam Etta terbongkar dan menjadikan segalanya tak lagi sama.

Berbicara penokohan, Bia dan Addin memiliki kelebihan yang menguatkan cerita dalam novel. Bia yang romantis dan setia pada masa lalunya, juga kesabaran Addin ketika harus sekantor dengan orang yang dicintai namun sulit tergapai.

Kelebihan novel teenlit ini juga ada pada keseimbangan dialog antartokoh dan narasi, dan alur yang mengalir dan kadang dramatis. Sesuai dengan temanya, pengetahuan tentang es krim pun dijabarkan dengan cukup baik. Nyaris tidak dilengkapi dengan proses bagaimana kedai es krim itu berkembang, membuat saya paham barangkali fokus utama cerita ini memang bukan pada usaha kedai es krim. Tapi lebih banyak berceria tentang hubungan Bia-Vio, Bia-Maira, Addin Maira, hingga Bia dan Etta yang dianalogikan oleh penulis mirip dengan es krim.

Namun perihal penokohan ini, rasanya hanya tokoh Addin yang terbangun lumayan kuat. Entah kenapa karakter Etta dan Maira masih bisa bisa bertukar satu sama lain. Terlebih Maira yang sejak awal hingga akhir cerita digambarkan sebagai tokoh yang labil. Yang semula terobsesi dengan Bia malah bertoleransi dengan kedekatannya dengan Etta. Menurutku sama labilnya dengan Bia ketika dihadapkan oleh Etta maupun Maira. Belum lagi persoalan dialog dan interaksi antartokoh. Bisanya saya iseng membuat penggalan dialog ketika mencari segi keberhasilan suasana. Meski Addin dan Etta bersahabat, tapi banyak bagian obrolan yang mungkin lebih mirip adegan pacaran. Entah itu sentuhan tangan, pelukan, hingga ketika Addin menunggui Etta di kontrakannya ketika ia sakit hingga pagi harinya, padahal Etta tinggal sendirian. Baiklah, katakanlah saya memang tergolong agak kolot ketika memandang pola hubungan laki-laki dan perempuan, tapi berhubung settingnya di Indonesia, mungkin lebih baik dikondisikan dengan nilai masyarakat setempat. Menurut saya ada banyak cara kok mendeskripsikan suasana persahabatan antartokoh. Terlebih adegan ciuman Bia dan Maira, atau Addin dan Maira, atau Bia dan Maira yang bisa dikatakan terlalu sering dan kurang pas untuk jenis novel remaja.

Sisi logika dalam cerita juga penting dalam Belum lagi banyak sisi kebetulan yang terlalu dipaksakan membuatku merasa seperti ada hal-hal yang aneh yang bertebaran di sana. Namun tidak mengapa karena barangkali serba kebetulan yang sering ditemukan di novel ini sengaja dipertahankan demi keterjalinan cerita.

Kelebihan lain novel ini pada sisi penampilan adalah cover yang sesuai tema meski terlalu remaja untuk tokoh-tokohnya yang dewasa, juga penataan layout yang tidak membosankan, juga ukuran font yang cukup nyaman untuk dibaca.

Baiklah, meski saya tidak terlalu terkesan dengan novel ini, setidaknya novel lumayan cocok dijadikan bacaan ringan di kala senggang. Mungkin kalau remaja yang baca perlu didampingi orang dewasa kali ya 😁.

Resensi Novel Angela

DSCN3952

Judul : Angela, Semoga Waktu Tak Hapuskan Ingatanku Tentangmu
Penulis : Hardy Zhu
Penerbit : deTeens
Tahun Terbit : September 2014
Cetakan : Pertama
Editor : ItaNov_
ISBN: 9786022790594
hlm: 173

 

Seperti judulnya, novel ini bercerita tentang Angela, mahasiswi semester awal di sebuah universitas ternama di Unida. Acara reuni SMP yang ia datanginya bersama Gifty, sahabat kentalnya, mampu mengubah hidupnya. Ia bertemu dengan Sandy di acara tersebut. Yang membuatnya terkejut adalah penampilan Sandy sekarang yang sudah berbeda dari ketika masih SMP. Bila dulu ia tipis dan hitam seperti tripleks (halaman 19) :D, kini menjelma jadi cowok tampan yang membuat para cewek meliriknya. Terlebih ia telah sukses dengan bisnisnya.  Sandy begitu baik dan perhatian, bahkan sejak masih sama-sama di bangku SMP sikapnya tak berubah, alias selalu “tersedia” untuk Angela. Apalagi Gifty, salah satu orang yang tahu bahwa Sandy menyukainya, selalu mendukung mereka supaya jadian.

Di sisi lain, Angela malah sedang terpesona akut dengan penulis teenlit favoritnya, Azka. Berawal dari tak sengaja ia mengambil novel tersebut dari rak buku karena buru-buru ke kampus, tahunya ia jadi ngefans. Berkali-kali ia mencoba berinteraksi dan menarik perhatian si penulis dengan mention-mentionan di Twitter. Tentu saja berkah baginya ketika berhasil bertemu dengan si penulis, bahkan sempat diminta untuk menemaninya riset novel berikutnya ketika si penulis datang ke kotanya. Namun sial karena Sandy selalu punya alasan untuk menggagalkan pertemuan mereka. Baik dengan cara paling sederhana sampai paling ekstreem. Namun pada akhirnya terungkap alasan mengapa semua hal ini terjadi.

Belum sempat novel ini didaftarkan di currently-reading atau to read di akun Goodreads saya, ia sudah selesai terbaca karena saking asyiknya menikmati jalan cerita aja. Saya memang bukan penggemar teelit selama 8 tahunan ini. Tepatnya sejak tahu semakin lama teenlit, terutama yang bernuansa romansemakin tidak jelas bentuk dan arahnya, telebih setelah kecampuran film sinteron dan film televisi dengan persoalan yang cenderung kurang dekat dengan remaja bahkan jarang mengandung bobot untuk dibaca semua kalangan dan menghibur meski tetap santun. Tapi sekian lama saya menghindari jenis teenlit, kecuali demi pekerjaan, saya kok merasa seperti menemukan teenlit yang kembali menemukan celah seperti semula ketika membaca novel Angela ini. Memang idenya sederhana dan bukan tidak pernah diangkat. Hanya saja unsur meremaja, kepolosan, kelucuan, diksi, kelogisan cerita hingga gaya bahasa dan alur yang lincah terbaca dari novel ini, yang membuatnya berbeda dengan teenlit era kini. Terlebih banyak teenlit yang isinya seperti mengampanyekan kehidupan hedonis yang justru mengkhawatirkan ketimbang menginspirasi. Tapi denger-denger kondisi itu tak berlangsung lama dengan maraknya renovasi teenlit, yang menghadirkan kisah remaja yang tidak klise dan pesan moral yang baik dari sana serta sudah digarap lebih serius, sehingga bila ke toko buku untuk membelinya, kita mesti selektif menemukan jenis yang ‘serius’ itu.

Teenlit memang tidak melulu mengeksplore gaya hidup remaja yang sarat pacaran dan hura-hura. Justru bila dikemas dengan tepat, teenleit sebagai jembatan mereka, khususnya remaja, yang tidak suka baca menuju terbuka dengan bacaan.

Seperti pada konsep novel Angela, yang meskipun tema adalah cinta dan persahabatan. Pembaca akan menemukan sendiri bagaimana kedua hal itu hadir dengan caranya sendiri di kehidupan remaja juga tentang bagaimana menyesaikan konflik-konflik ala remaja. Sejak saya membaca serial Lupus, Olga, Princes Diary, Dialova, More Than Love (yang malah nggak bisa dibilang teenlit meski tokohnya remaja SMA), kemudian fakum selama 8 tahunan, dan mesti baca lagi sejak 2012 untuk berbagai alasan. Meskipun sudah terlalu dewasa untuk membaca teenlit, saya nggak nyesel baca Angela.

Kelebihan lain dari novel ini adalah tidak ada unsur pergaulan bebas di mana ciuman, pelukan, dan sebagainya menjadi kewajaran seperti teenlit kebanyakan. Gaya bahasanya sederhana dan mudah dimengerti, juga menggunakan aku-kamu yang sesuai setting lokasi, sebagai sikap menentang kebiasaan teenlit harus “lo-gue”, yang semestinya lebih cocok dengan pergaulan ala Jakarta-Betawi. Novel ini juga lebih banyak menggambarkan hubungan persahabatan, kegelisahan ala remaja ketika masuk pada level ngefans terhadap sesuatu, juga tentang pekerjaan partime beserta segala persoalan yang dekat dengan remaja.

Settingnya dijabarkan cukup baik, dengan gambaran suasana dan juga detail melalui sudut pandang Angel terhadap hal-hal yang dihadapnya.

Kekurangannya? Tentu ada. Namun hanya sedikti saja, misal tokoh Angel sebagai sentral lengkap dengan ciri khas fisik, cara berpikir, hingga kesukannya, membuat jalan ceritanya hanya tentang sisi Angela. Sehingga tokoh-tokoh lain seperti Gifty agak terpinggir, Sandy, dan juga Azka (si penulis) kurang tereksplore. Selain itu endingnya juga terlalu cepat juga agak bisa ditebak ^^, mestinya novel ini dapat digarap lebih baik lagi tanpa dibatasi jumlah halamannya. Tapi tak mengapa, menurut saya Angela sudah tampil dengan oke. Juga cover yang cukup mudah menarik perhatian dengan warna pink tua serta memiliki ukuran font yang nyaman dibaca. Tapi sepertinya mesti hati-hati dengan bagian buku yang dijilid, sebab dua lembar terakhir buku ini tiba-tiba lepas, hehe. Tapi tenang saja, sudah saya lem lagi:p

Teenlit yang memang disajikan sebagai cermin kehidupan perkotaan ini memang tentang remaja, tapi bisa dibaca kalangan dewasa muda kok. Untuk para remaja, ini recommended deh;)

Resensi Novel: Senyum Pertama di Pagi Airin

DSCN3921

Judul: Senyum Pertama di Pagi Airin
Penulis: Okta Rahasti
Penerbit: de TEENS
Tahun terbit: August 2014
Genre: teenlit
ISBN: 9786022960034
Jumlah halaman: 200

Bahagia itu bukan bukan sesuatu yang kita dapat dari orang  lain, tapi bagaimana kita memberikan sesuatu pada orang lain.”–Hime, halaman 119

Cerita dalam novel ini dibuka dengan tokoh Airin yang suka melukis dan bersikap dingin terhadap semua orang di rumahnya. Bila sedang menyendiri, tak seorang pun bisa mengganggunya. Begitupun adiknya. Sikap pendiamnya ini akibat dari trauma terhadap mantannya, Dennis. Di rumah besar itu, ia tinggal dengan adik perempuannya, Hime, dan juga beberapa pembantu. Airin dan Hime adalah dua gadis keturunan warga Jepang yang dititipkan kepada neneknya sejak sang ibu meninggal dunia.

Airin memiliki kebiasaan berjalan sendirian di sekitar jalan raya. Hal itu membuatnya bertemu dengan seorang cowok misterius bernama Reza. Perkenalannya dengan Reza rupanya mampu mengubah sifat dinginnya menjadi lebih hangat.

Sementara Hime pacaran dengan Andra, cowok yang semula ia benci. Kesalahpahaman terjadi sehinga membuat Airin tak mengizinkan mereka pacaran. Hime dan Andra pun menyembunyikan hubungan. Segala cara Hime upayakan agar Andra diterima oleh Airin. Namun banyak hal akhirnya jadi kacau sejak Airin dan Reza bertemu secara tidak sengaja dengan Hime dan Andra di sebuah restoran Jepang.

Kemudian, masuklah di bagian menuju inti konflik. Masa lalu Airin, jawaban dari masa lalu Reza, dan kehidupan mereka selanjutnya ditentukan oleh sebuah peristiwa. Hime termasuk korban luka pengeboman di sebuah mall, dan kemudian Reza pergi begitu lama membawa sebuah rahasia besar yang disimpannya dari Airin. Kemudian 5 tahun berlalu dan jawaban demi jawaban terungkap.

Mampukah Airin tetap berbahagia meski keadaan telah berubah? Dan masihkah Hime tetap bersama Andra?

Novel ini sebetulnya sederhana, dituturkan dengan gaya bahasa yang ringan dan mudah dimengerti serta berusaha menghadirkan celah untuk pembaca terus bertanya tentang ending dan tokoh-tokohnya dengan cara yang sangat simpel. Bentuk alurnya yang campuran lumayan tidak bikin jenuh untuk membacanya sampai selesai.

Berbicara mengenai tokoh, Airin, sebagai judul dalam novel ini, merupakan tokoh yang bersikap dingin dan berubah ceria di saat-saat kemudian. Kalau membaca bagian awal, akan tampak sebagai orang sombong dan ketus. Berbeda dengan adiknya, Hime, yang cenderung penyabar dan banyak melakukan aksi di novel ini. Bisa dibilang, Hime sebetulnya lebih cocok menjadi tokoh utama dalam novel ini. Reza adalah cowok misterius yang memiliki masa lalu. Sedangkan Andra adalah siswa sekelas Hime, anak basket, dan sering mengganggu Hime. Secara keseluruhan, karakter-karakter dalam novel tidak terlalu khas, semuanya punya sisi ketus dan lembutnya masing-masing. Kecuali pada nama dan penggunaaan bahasa keseharian aku kamu atau lo-gue yang membedakan mana Andra yang Indonesia, dan mana kedua gadis yang blesteran Jepang. dua per tiga novel awal novel ini masih menceritakan kehidupan sehari-hari tokoh-tokohnya dengan datar. Meski lumayan terdapat adegan “ramai” di bagian sepertiga akhir di novel ini.

Sebetulnya novel ini masih bisa ‘digarap’ lagi. Masalah ide latar belakang tokoh, misalnya, cowok-cowok tampan misterius, kaya, dan pemain basket atau sekolah di luar negeri selalu disandingnya dengan putri-putri cantik yang tinggal di puri (baca:  rumah gedong dengan banyak pelayan) sudah sangat sering ada di novel atau film-film remaja. Akan lebih berbeda bila diperkaya dengan karakter dan latar belakang yang tidak mainstream untuk menghindari kesan datar.

Dan untuk dialognya, saya pernah membaca sebuah nasihat seorang penulis novel (lupa namanya), bahwa dialog yang ideal adalah dialog yang bertukar pikiran. Hanya saja di dalam novel ini lebih banyak saling respons yang cenderung impulsif dan minim tukar pikiran, seperti nada bentak dan reaksi cuek yang banyak ditemukan membuatnya sulit terlihat chemistry antartokohnya. Malah sekilas mirip adegan sinetron yang sarat bully-bully-an. Namun hal ini masih dapat dimaklumi karena persoalan dialog memang penyakit umum para penulis yang mesti ditaklukan.

Nah, akhirnya saya mesti menjelaskan juga kekurangan novel ini yang menurut saya termasuk banyak :p. Informasi mengenai setting dalam novel misalnya, perlu adanya riset dan deskripsi yang lebih memadai, sebab setting lokasi misalnya, hanya disebutkan Jakarta dan Bandung saja tanpa ada ciri khas pendukung, membuatnya masih dapat dipindah di sembrang kota. Miasalnya di halaman 99 hanya disebutkan sebuah taman yang asri, tidak disebutkan nama taman atau deskripsinya.

Di samping itu, memberikan unsur kebetulan boleh-boleh saja, asal masih logis dan dalam porsi yang cukup. Hanya saja di novel ini dapat dibilang ada banyak kebetulan yang kurang logis, seperti pada bagian awal. Barangkali akan sulit diterima ketika di dalam hujan deras, dua orang gadis dari jepang “ilang” nyari alamat neneknya di jakarta, berteduh secara tidak sengaja di bawah atap pagar rumah orang, dan taraa.. rupanya itulah rumah si nenek. Belum lagi kebetulan-kebetulan lain yang cenderung agak dipaksakan.

Saya juga sempat agak bingung dengan bagian kenapa tiba-tiba Dennis yang menembakkan pistol sementara ada banyak polisi di belakangnya. Bukankah di Indonesia bahkan membeli pistol pun mesti mendapatkan izin yang tidak mudah, atau kecuali si pemiliknya polisi? Sementara Dennis tidak dijelaskan sebagai polisi dari awal novel. Dengan sembarangan menembak buron yang sedang tidak berontak apakah malah justru menjadi tersangka percobaan pembunuhan juga ya? 🙂 Namun tidak mengapa karena novel ini memang bergenre fiksi.

Konflik dalam novel ini dihadirkan serba singkat dan terburu. Jujur selain sedikit membingungkan, rangkaian konfliknya tergolong terlalu banyak dan melebar untuk diringkas menjadi 200 halaman. Akan lebih baik bila satu dua konflik saja yang dikembangkan. Beberapa adegan yang penting seperti momen meninggalnya ibu Andra juga diceritakan terlalu ramping. Karater sang ibu juga lebih sebagai pelengkap yang tak terlalu berpengaruh dalam alurnya. Tentunya bila digarap lebih serius lagi akan menjadi lebih menarik. Di samping itu, pertemuan Airin dengan Reza disorot lebih sebentar daripada cerita hubungan Hime dan Andra.

Untuk penampilan buku ini, bagian margin, font dan penataan sudah oke. Covernya juga eye-catching dengan warna oranye dan kuning yang terlihat manis. Selain itu sudah nyaris tidak ada typo di sana.

Memang tidak ada naskah yang sempurna, namun setidaknya ada beberapa quote menarik yang dapat dijadikan inspirasi remaja yang membaca novel ini, salah satunya yang tertera pada blurb:

Hal yang paling menyakitkan adalah bukan saat orang-orang yang kita cintai membenci kita, bahkan pergi untuk selamanya, tapi saat kita membiarkan mereka berada dalam bahaya karena kita.

Novel ini dapat dijadikan bacaan ringan untuk remaja di kala senggang.

Resensi: Mesopotamia, Mimpi yang Panjang dan Melelahkan

novel Mesopotamia

Judul: Mesopotamia, Mimpi yang Panjang dan Teramat Melelahkan
Penulis: Senja Nilasari
Tahun terbit: September 2014
Penerbit : PING!!!
Genre : Fiksi
Jumlah Halaman : 220
ISBN : 139786022960232

Novel ini berkisah tentang Oman. Seorang arsitektur asal Irak yang bekerja di Indonesia. Tatkala kembali ke rumah yang diwariskan oleh ibunya, ia menemukan sebuah sebuah buku Meet the Sumerians. Tiba-tiba saja ia terlempar ke tempat yang begitu asing yang kelak ia tahu adalah di zaman Mesopotamia. Sebagai pendatang asing bagi bangsa tersebut, ia pun dijadikan budak seorang tuan dan mengerjakan hal-hal yang tak pernah lakukan di dunia nyata, seperti merawat ternak dan menjadi pelayan. Tak berhenti sampai di situ, perjalann penuh liku membuatnya terlempar dari satu tuan ke tuan yang lainnya hingga pada akhirnya ia terlibat dalam proyek pembuatan Ziggurat Ur, salah satu ziggurat terbesar pada zaman itu. Bahkan Raja Shugi, raja yang menjadi penguasa di zaman itu, meminta Oman untuk memberikan ide dan pengalamannya sebagai arsitek. Tentu saja dengan dua dialog yang sulit saling mempercayai. Hal-hal yang berbeda yang dibawa Oman membuat mereka mengiranya alien. Bukan tidak sadar Oman sedang sedang berada di dimensi masa lalu, sebab ia masih ingat bahwa ia memiliki kehidupan yang sebenarnya. Hanya saja ia tak mengerti bagaimana keluar dari sana. Bahkan cara berada di sana pun ia tak tahu. Mimpinya seperti begitu nyata hingga membuatnya ingat kembali pengetahuan sejarah peradaban yang sudah terkubur itu. Novel ini pun diakhiri dengan serangkaian adegan yang membuat saya seperti menahan napas ingin tahu akhirnya.

Apakah Oman dapat kembali, atau menetap di peradaban Sumeria yang sudah terlanjur ia jalani?

Novel ini adalah salah satu buku kesekian bertema projek astral yang diterbitkan divapress. Sepertinya sudah menjadi kebiasaan bahwa novel bertema astral projection dan berlatar belakang peradaban kuno selalu menampilkan alur campuran. Novel ini berlatar Irak, Indonesia, dan Sumeria pada zaman Mesopotamia. Penuturan disampaikan dengan sudut pandang orang ketiga, dengan gaya bahasa mengalir ringan dan mudah dimengerti. Diksi yang dipilih oleh penulis pun sederhana dan dapat dipahami.

“Mesopotamia, Mimpi yang Panjang yang Teramat Melelahkan” ditulis oleh Senja Nilasari dan merupakan novel pertamanya yang diterbitkan. Meskipun termasuk pendatang baru, Senja sudah menulis novel ini dengan sangat baik dan tampaknya sudah melakukan riset yang cukup. Novel ini seperti ditulis dengan hati-hati, terlihat dari jalinan cerita yang lumayan logis. Meskipun tentu saja, kita tidak dapat membandingkan sebuah novel fiksi dengan fakta sejarah yang sebenarnya. Sebab bukan hanya pada kebenaran sejarah letak menariknya.

Dalam novel bertema astral projection ini, Omar menjadi tokoh utama dan memiliki porsi lebih banyak dibanding tokoh yang lain. Omar digambarkan sebagai arsitek yang tekun, pekerja keras, dan sering kali lebih mementingkan pekerjaannya. Dibuktikan bahwa ia menunda berangkat ke Irak ketika kabar kematian ibunya sampai di telinganya. Sedangkan karakter Diva yang lembut dan pasrah. Ada pula Qanitah, adik perempuan Oman yang penyabar, sedangkan ayah Omar digambarkan sebagai ayah yang diktator dan dominan. Di samping itu bangunan karakter raja yang gila kekusaaan dan para budak dan tuan berdiri sendiri-sendiri dan berhasil dijabarkan dengan tidak langsung oleh Senja. Seperti yang pernah saya baca dari penuturan seorang penulis (saya lupa namanya) bahwa kualaitas karya dapat dilihat dari apakah pembaca dapat mengimajinasikannya sendiri atau terlalu banyak diguru oleh penjelasan gamblang. Novel ini mampu memenuhi poin pertama. Membaca karya yang satu ini membuat saya ingat untuk tidak melihat buku dari penampilan luarnya. Deskripsi setting yang dibangun membuat pembaca dapat membayangkan sendiri situasi yang dipaparkan dalam alur demi alur. Unsur imajinasi dibangun cukup kuat.

Namun, hingga dua per tiga bagian novel ini masih bercerita tentang Sumeria dan kehidupan masyarakatnya, juga tentang seorang raja yang otoriter dan membanggakan diri sendiri. Di samping itu, novel Mesopotamia dibingkai cerita kehidupan realitas Omar yang sepotong-sepotong seperti masa kecil Omar yang kurang bahagia, kodisi perang hingga cerita mengenai dirinya dan Diva kekasihnya yang juga tidak banyak dieksplore. Meski demikian, novel bertema astral projection ini memenuhi totalitasnya dengan keterhubungan antarcerita, terlebih setiap tokoh memiliki peran yang masing-masing saling berpengaruh.

Hingga bagian tengah-tengah itulah, saya merasa harus sejak istirahat untuk kembali membaca ketika mud saya datang lagi. Terutama di babak sebelum Oman betemu dengan Raja Shulgi. Bukan karena ceritanya tidak menarik, tapi bagian tersebut memang agak lambat dan datar. Tapi justru agak tergesa ketika masuk di beberapa babak yang agak menegangkan. Di samping itu ada missing link di bagian ketika Diva berada di alam Oman yang lain itu. Saya juga agak penasaran dengan situasi ‘mimpi di dalam mimpi’ yang terjadi di halaman 172. Membuat saya sempat bingung sebelum ingat kembali bahwa novel ini memang hanya fiksi :p.

Dari segi penampilan buku, tidak banyak yang akan saya utarakan. Ukuran font dan halaman sudah sesuai, terlebih sudah dilengkapi footnote untuk menjelaskan istilah asing. Hanya agak mengganjal salah satunya di bagian cover. Meskipnn sudah menggambarkan tema buku, menurut saya perpaduan warnanya agak sedikit pucat sehingga bagunan ziggurat menjadi terkesan kurang tegas. Tapi itu hanya salah satu dari pandangan subjektif saya. Tapi toh, kualitas novel tidak bisa ditentukan dengan kulit. Selain itu, misalnya di halaman 196-197 terdapat penataan margin yang barangkali bagian dari kesalahan tak disengaja di mesin cetak. Ditemukan pula beberapa kesalahan eja dalam novel ini seperti di halaman 159. kata “Ke dua”, mestinya jadi “kedua” ya :), dan beberapa kesalahan tanda baca seperti di halaman 44 dan 146.

Meski demikian, novel yang lebih cocok untuk segmen young adult ini tetap menarik untuk mengisi liburan.

Resensi Novel: Maya and the Darkness Surrounding

novel Maya, and the Darkness Surrounding

Judul                        : Maya and the Darkness Surrounding
Penulis                     : Arikho Ginshu
Penerbit                   : PING!!!!
Tahun terbit           : Agustus 2014
Genre                       : Fiksi
ISBN                         : 139786022556190
Jumlah halaman    : 296
Harga                        : Rp42.000,-

 

“Untukku, perkara tersulit dalam mencintai bukanlah belajar mengakhiri, sebab aku bahkan belum memulainya. Namun yang paling rumit adalah memilah hati, sebab cintaku tumbuh di antara dua hal yang sama pentingnya. Kekasih dan sahabat mungkin dua hal yang berbeda, namun sering berada dalam timbangan yang rasa yang nyaris sama.” (halaman 274)

 

Maya, and the Darkness Surrounding bercerita tentang 4 sahabat yang tengah hiking ke Gunung Kerinci sebagai perjalanan kesekian menjelajah alam. Tondi, Binar Saga, Damar, dan Rimba. Namun terjadi sesuatu di tengah perjalanan. Tatkala berhenti untuk berkemah, salah satu dari mereka dan satu-satunya wanita, tidak dapat terbangun dari tidurnya. Mereka bertiga merasa terpukul dan perjalanana pun dihentikan. Mereka membawa Binar ke puskesmas terdekat namun hasilnya nihil. Tidak ditemukan penyebab medis yang membuat Binar saga tak sadarkan diri. Atas saran seorang bidan yang memeriksanya, Binar dibawa ke seorang paranormal yang terkenal di desa tersebut. Ki Rangkat, nama orang pintar tersebut, menjelaskan bahwa Binar berada di dimensi astral. Sang paranormal menjelaskan bahwa Tondi-lah yang bisa menjemputnya pulang. Demi kesetiakawanan dan perasaan yang diam-diam disimpannya, perjalanan astral yang nyaris tidak mungkin itu pun dilakukan.

Di sisi lain, terjadi krisis besar di zaman peradaban suku Maya, tepat Amorza tinggal. Bersamaan dengan munculnya Binar Saga ke dunia mereka. Amorza, yang bertanggung jawab memanggil Binar saga secara tak sengaja ke dunia mereka, menjemput Tondi menyeberangi dunia perantara untuk membantu menyelamatkan Binar Saga yang tersesat di sana.

Di Dimensi Maya, Binar saga yang menjelajahnya lebih dulu menemukan nasib yang tak terduga yang membuatnya tak bisa pulang kembali ke kehidupan nyata. Dalam dimensi yang lain itu, Tondi sadar masih tetap saja mencintai Binar meski sulit menggapainya. Hanya saja, Binar yang di hadapan bangsa Maya, tidak seperti Binar Saga yang sesungguhnya. Tentu saja sebagai orang yang mencintainya, Tondi mencari segala cara untuk menjemputnya, bahkan rela mempertaruhkan nyawanya.

Lalu, apakah Tondi berhasil membawa si gadis pulang? Dan bagaimana kisah persahabatan mereka pada akhirnya?

Selain di Sumatra dan Yogyakarta, setting novel ini juga di peradaban bangsa Maya. Dan novel bertema kasih sayang, cinta, dan persahabatan ini sebenarnya terpecah menjadi dua fokus yang menyatu dan berhubungan. Dipaparkan pua dengan dua sudut pandang, yaitu sudut pandang Tondi di masa kini dan Amorza di masa lalu, sebagai penduduk bangsa Maya. Hanya saja bagian Tondi mendapat porsi lebih banyak. Terlebih buku ini diawali dan diakhiri dari kisah Tondi. Lepas dari itu, keduanya memiliki bangunan cerita yang utuh. Amorza dan Arzoda, sepasang kembar yang ditakdrkan menjadi orang yang disucikan oleh rakyat di peradaban suku Maya. Amorza memiliki bakat menyeberang ke dunia astral. Sama halnya dengan Tondi.

Bagian pertama diawali dari tengah, di mana Tondi berproses masuk ke penghubung dan bertemu Amorza. Dituturkan dengan deskripsi cerita yang membuat saya ingin mengetahui mengikuti cerita selanjtunya. Kemudian bagian kedua yang bertutur mengenai kisah pertemuan mereka berempat hingga persahabatan terjalin dari sudut pandang Tondi. Hingga datang peristiwa yang menimpa Binar saga di lereng Kerinci. Kemudian kisah berlanjut dri sisi Amorza, penghuni peradaban Maya dari masa lalu yang tengah kehilangan saudara kembarnya, Arzoda. Di bagian ini, Amorza menceritakan bahwa ia masih terhubung dengan roh Arzoda dan dapat menyeberang ke dunia astral. Kemudian cerita pun beranjak ke penyelesaian dengan alur maju dan runut.

Novel Maya, and the Darkness Surrounding merupakan proyek Divapress yang mengusung tema astral projector yang korelasikan dengan peradaban-peradaban dunia di masa lalu. Dalam novel ini Arikho memilih peradaban bangsa Maya sebagai latar dimensi lain. Mendengar bangsa Maya, yang terbayang dalam benak kita barangkali sebuah peradaban yang canggih dan ramalannya kalender matahari yang termasyur itu. Namun dalam novel ini, Maya lebih banyak digambarkan sebagai tempat di mana sekelompok penduduknya rata-rata bar-bar dan memiliki seorang raja yang haus darah. Manusia dengan senang hati melihat manusia lain dikorbankan dengan sadis sebagai bentuk pengorbanan memuja bulan. Sedikit banyak membuat saya ingat film “Pompaii” di mana pembantaian manusia dijadikan hiburan rakyat.

Namun, membaca kisah si kembar Amorza dan Arzoda membuat saya tersentuh. Terlebih ketika mengetahui mereka yatim piatu dan mau tak mau menjalani takdirnya sebagai orang yang disucikan dalam kepercayaan suku Maya. Sebagai penduduk bangsa Maya, mereka termasuk yang merasa nuraninya tersakiti ketika melihat manusia dikorbankan beramai-ramai.  Tatkala Arzoda pun meninggal, saya seperti diajak menyimak kisah kesendirian seorang anak di tengah takdirnya yang sulit. Secara subjektif, cerita kedua kembar tersebut lebih mendalam ketimbang cerita cinta Tondi kepada Binar Saga itu sendiri. Namun barangkali kisah Amorza memang sengaja diposisikan oleh penulis sebagai poin pendukung keseluruhan cerita.

***

Adapun kelebihan novel ini terletak pada deskripsi setting yang rinci dan detail, porsi yang pas antara narasi dan dialog, serta penggarapan alur yang terlihat berhati-hati. Kesalahan ketatabahasaan dan teknis pun tidak banyak ditemukan dan tidak terlalu mempengaruhi jalan cerita. Membaca kisah perjalanan di novel ini seperti ikut menikmati keindahan alam. Diksi yang disajikan pun menarik dan mudah dipahami, saya rasa penulis sudah cukup mampu menyajikan bab demi bab sebagai satu kesatuan cerita yang utuh. Didukung oleh keterhubungan yang berkorelasi antarbab. Meskipun alurnya bercampuran, tetap dapat diikuti hingga selesai.

Dalam hal penokohan, Tondi sebagai tokoh utama dideskripsikan karakter dewasa, pengayom, dan tulus. Meskipun ada sisi Tondi yang tak berani menghadapi masalah, terlebih ketika dihadapkan dengan kerumitan suasana di tengah hubungan persahabatan itu. Binar saga tidak begitu banyak diceritakan, selain bahwa ia satu-satunya wanita yang paling disayangi di antara 3 pecinta alam tersebut karena mampu mencairkan suasana. Damar, orang yang disukai Binar dipaparkan sebagai tokoh sampingan yang tidak begitu banyak berpengaruh dalam cerita. Begitu juga dengan Rimba, selain bahwa ia paling akrab dengan Binar sebagai sahabat. Kemudian tokoh Arzoda dan Amorza, keduanya hidup di peradaban Maya, memiliki interaksi psikologis yang cukup kuat. Dapat dikatakan, karakter Tondi dan Amorza-lah yang memiliki bangunan karakter lebih kuat daripada yang lain. Meski sepertinya ini novel pertama yang diterbitkan Arikho, tapi saya menduga si penulis sudah berpengalaman menulis sebelumnya.

***

Secara kesuluruhan, penampilan novel ini sudah lumayan. Hanya saja ada beberapa poin dalam novel ini yang sepertinya perlu disempurnakan lagi.

Untuk cover, sebetulnya konsep bangunan kuil dengan seorang gadis berkupluk merah sudah menggambarkn isi novel, hanya saja kurang sesuai lantaran tokoh utama dalam novel ini justru bukan Binar Saga. Terlebih gambar tokoh wanita di sana agak terlalu besar dan kurang seimbang dengan gambar di belakangnya. Melihat covernya, saya sempat mengira bahwa tokoh utamanya si gadis bertopi merah ini. Selain itu, saya juga menemukan beberapa missing link, pertama, masa lalu Tondi tentang neneknya: mengapa Tondi sebagai penyebab neneknya tidak juga meninggal? Kedua, secara umum, dunia astral tidak dapat diterima begitu saja sehingga oleh logika manusia biasa sehingga mestinya ada bagian khusus untuk menceritakan hal tersebut sehingga dapat diterima tokoh-tokohnya. Atau barangkali ini hanya keterbatasan pengetahuan saya mengenai perihal astral kecuali yang pernah ditampilkan di film Insidious yang pernah saya tonton. Namun, saya pikir proses deskripsi astral perlu disempurnakan lagi. Ketiga, ada ketidaksamaan konsep. Di dalam novel ini saya menangkap inkonsistensi, seperti mengapa roh Tondi dan Binar dapat terlihat di masa lalu, sedangkan Amorza tidak terlihat di dimensi sekarang? Malah prolog dalam cerita tersebut menempatkannya seperti makhluk asral sementara di masa bangsa Maya, Amorza belum meninggal.

Beberapa point dari novel ini juga terkesan datar dan agak berbelit. Tadinya saya kira bakal menemukan adegan duel bebas ala film “Gladiator” ketika masuk pada inti konflik, hehe. Tapi tak mengapa, dalam hal menulis fiksi, penulis bebas berimajinasi.

Bagaimana pun, pesan tersembunyi yang sengaja dipaparkan penulis cukup tersampaikan, apakah cinta memang dapat menembus ruang dan waktu?

 

“Cinta mungkin tidak akan pernah mati, namun cinta bisa saja berubah, Tondi. Melihatnya orang yang kau cintai bahagia jauh lebih penting daripada kau harus mengekangnya dalam cinta yang mungkin tak lagi sama untuk kalian berdua.” (halaman  294)

 

Nah, untuk pembaca muda dan remaja yang kelak menemukan buku ini, selamat membaca dan selamat menelusuri dimensi Maya.

 

Efek Feromon dalam Imaji Dua Sisi

novel Imaji Dua Sisi

Judul : Imaji Dua Sisi
Penulis : Sayfullan
Penerbit : de TEENS
ISBN : 978-602-7968-86-8
Editor : Itanov
Desain kaver : Ann_Retiree
Layouter : Fitri Raharjo
Tahun Terbit : 2014
Tebal : 333 halaman

Sering kali perasaan cinta disebut chemistery, maka ia tak terjelaskan kapan, mengapa, dan bagaimana, serta seperti apa bentuknya.

Tadinya saya kira novel ini seperti novel remaja biasa dengan cerita cinta yang itu-itu saja. Dibuka dengan kisah masa lalu Bumi sebagai salah satu tokoh, kemudian cerita tentang moment ospek kampus menjadi pembuka novel Imaji 2 Sisi ini. Tapi setelah lanjut membaca, ternyata dugaan saya meleset. Membaca bab demi bab, saya sadar bahwa novel ini memiliki pengaruh yang cukup ‘menohok’ perasaan saya :D, ditambah lagi dengan analogi teori kimia yang dipadukan dengan istilah cinta yang selama ini dikenal merujuk pada sesuatu yang tak berwujud.

Nggak ada ilmu pengetahuan apa pun yang bisa merumuskan cinta, Bum. Kalaupun ada, gue pasti juga bakal meraciknya. (halaman 158)

Demikian yang dikatakan Lintang tatkala Bumi menyampaikan teorinya. Bumi, dalam novel ini, meyakini feromon–salah satu hormon yang memiliki kontribusi besar dalam proses jatuh cinta, mempunyai pengaruh begitu besar dalam mendapatkan pasangan yang diincarnya.

Menyimak teori Bumi tentang bau tubuh manusia yang diekstrak, membuat saya ingat novel karya Patrick Süskind yang berjudul Perfume the Story of a Murderer, di mana tokoh utamanya yang jenius aroma, membuat parfum dari ekstrak manusia. Hanya saja novel tersebut membuat pembacanya seperti melihat konsep keindahan berpadu dengan kisah seram pembunuhan.

Lintang, Bara, dan Bumi dalam novel ini, adalah tiga orang yang bertemu di kampus jurusan Kimia di salah satu universitas negeri di Semarang. Sama-sama mendapat tugas aneh dalam ospek, mereka pun saling dekat dan terlibat, dan akhirnya terjebak dalam kondisi yang cukup membingungkan.

Lintang yang asal Jakarta pindah ke Semarang untuk lari dari masalahnya, yaitu menghindari Rakai, mantannya yang akan menikah. Dalam kerja keras melupakan itulah, ia bertemu dengan kehidupan baru di kampus dan dua orang yang mengisi harinya dengan persahabatan: Bara yang ekstrovert, berpenampilan keren, dan lucu, juga Bumi yang introvert dan culun namun genius, yang malah akhirnya sama-sama mencintai Lintang diam-diam. Ada pula Repi, mahasiswi rempong salah satu sahabat yang se-kost dengan Lintang yang berantusias ingin menjadi pacar Bara. Namun dalam novel ini, Repi tidak begitu sering diekspose. Menyimak pertemanan mereka yang kadang kocak itu, membuat kita lebur antara apa itu cinta, apa itu persahabatan. Keduanya menjadi hubungan aneh, persahabatan ganjil yang tapi berjalan harmonis dari waktu ke waktu yang berawal dari perasaan tertindas yang sama di masa ospek.

Yeah, kekaburan antara persahabatan dan cinta memang sering kali dialami oleh para gadis.

Lintang semula dikenal sebagai pribadi yang jutek dan anti lelaki. Namun Bara melihatnya sebagai kamuflase yang menutupi kepribadian yang sesungguhnya. Lintang sering kali ketus terhadap Bara. Namun ia juga penasaran apakah sikap itu karena Lintang memang membencinya atau sebaliknya. Sedangkan terhadap Bumi, Lintang malah sangat ramah. Bara bingung dan geram, tapi nyatanya ia sadar diri tatkala ia tahu kondisinya tak memungkinkan untuk bersama Lintang, ia pun pasrah.

Bumi diliputi cemburu ketika Bara dekat dengan Lintang, sebaliknya, Bara pun tak begitu suka melihat Lintang akrab dengan Bumi.
Bumi adalah sosok serius dan mencintai kimia. Ia bahkan sempat menceritakan impian dan teorinya mengenai feromon kepada Lintang. Bumi percaya bahwa bahwa ada semacam metode kimia yang dapat menyerap aroma alami manusia, zat yang dipercaya sebagai biang keladi cinta. Aroma yang diambil dari seseorang tersebut dapat menimbulkan perasaan cinta. Tentu Lintang yang realistis tidak menerima pemikiran itu. Sebab selain sadis, akan terdengar palsu bila feromon direkayasa sedemikian rupa demi mendapatkan cinta yang diinginkan. Bahkan perasaan ketertarikan yang dimaksud akan hilang ketika feromon telah habis. Namun menyerap feromon Bara demi mendapatkan Lintang merupakan bagian dari rencana besar Bumi.

Konflik pun meruncing. Bumi mencari cara dan keberanian untuk menyatakan maksud hatinya kepada Lintang. Demi memilikinya, segala cara dilakukan. Dengan rencana gila sekali pun. Namun dalam hati kecilnya, Bumi menyadari bahwa karakter yang secara iseng disampaikan Lintang sebenarnya ada pada Bara.
Anehnya, Bara yang sebenarnya juga mencintai Lintang malah memilih untuk membantu Bumi dan terpaksa meladeni Repi sebagai pelarian. Belum lagi perasaan Bumi tersampaikan, Bara malah mendapat permohonan dari Lintang untuk berpura-pura jadi pacarnya dan menemaninya pulang ke Jakarta karena pernikahan sang mantan dengan kakak kandungnya sendiri akan berlangsung. Lintang tidak mau seluruh keluarganya tahu bahwa Rakai adalah mantannya sebelum kecelakaan yang menimpa sang kakak terjadi. Namun sialnya usahanya gagal dan kekacauan pun terjadi.

…Setiap orang di sini pernah merasakan patah hati, kan? Tapi, bukankah itu tak lantas membuat seseorang harus berhenti berjalan? (halaman 252)

Sementara, melihat mereka berdua pergi bersama, Bumi menganggap itu sebagai pengkhianatan Bara terhadapnya. Bukan Bumi tidak tahu perasaan Bara terhadap Lintang, tapi bahwa perasaan dikhianati dan keyakinan bahwa Lintang lebih mencintai Bara, membuat impiannya mengekstrak feromon Bara ingin segera terealisasikan.

Lintang terkejut tatkala tiga orang terdekatnya malah menghilang satu-satu sepulang ia dari Jakarta. Repi pindah kost tanpa pamit, Bumi dikabarkan pindah kampus, dan pada saat yang sama Bara menghilang secara misterius. Dalam prasangka yang berkecamuk, Lintang mendatangi rumah nenek Bumi. Ia menerima surat berisi pernyataan hati Bumi selama ini terhadapnya, yang belum sempat disampaikan Bara kepada Lintang. Juga skema ekstrak feromon yang tertera di papan laboratorium pribadi Bumi yang terdapat nama Bara sebagai sasarannya. Bimbang dan kalap, Lintang mencari Bumi, ia berusaha menghentikan rencana gila Bumi. Hingga ia menemukan Bumi di Bandung, Bumi mengaku bahwa ia pun tak tahu keberadaan Bara meski Lintang masih curiga. Lalu tatkala hubungan Lintang dan Bumi berjalan setahun, petunjuk mengenai keberadaan Bara pun datang dengan cara tak terduga. Petunjuk yang barangkali membawa mereka pada jawaban. Arah perasaan Lintang, keberadaan Bara, rahasia di antara mereka, dan juga kisah akhir eksperimen mengerikan milik Bumi.

Lin, mana mungkin kita bisa melalui satu tahun lebih bersama tanpa ada cinta? Mana logis ikatan kita ini hanya karena hanya feromon yang sampai sekarang pun masih tersimpan di lemari pendingin laborat! (halaman 325)

Novel yang disajikan dalam 3 sudut pandang tokoh ini menarik untuk diikuti. Dengan alur yang runut juga penokohan yang cukup kuat membuat novel ini mudah dipahami. Tampaknya Sayfullan memiliki keahlian mengkomposisikan gaya bahasa yang ringan dan sering kali kocak. Novel ini juga menyimpan kejutan-kejutan. Bisa dikatakan, kedua hal itu, kekocakan dan nuansa romantis bisa berganti-ganti dapat tersaji dengan komposisi yang pas. Novel Imaji 2 Sisi ini cukup keren dan recommended untuk dibaca.

Di novel ini, sesuai dengan temanya, cinta dan kehidupan seperti diibaratkan dengan rumus-rumus kimia. Saya hanya belum mengerti mengapa novel ini diberi judul Imaji 2 Sisi, hehe. Beberapa kesalahan ejaan dan diksi memang masih ditemukan namun tidak terlalu mempengaruhi daya tarik ceritanya. Di samping itu, saya juga merasa ending-nya agar terlalu buru-buru. Ada sempat merasakan keganjilan cerita ketika sampai pada bab pernikahan Langit, kakak Lintang. Tapi untunglah bagian yang agak bikin deg-degan itu selesai dengan indah.

Anyway, novel ini keren sekali dan saya ingin memberinya 4 bintang. ^^

Bahagia Pun Butuh Alasan: You’re Not Funny Enough

Judul: You’re Not Funny Enough (Novel)
Penulis: Jacob Julian
Penerbit: PING!!! (Juni, 2014)
Halaman: 280 halaman
ISBN: 9786022556176

Apa yang membuatmu ingin bahagia? Siapa yang akan kau bahagiakan? Kenapa kau ingin bahagia? (halaman164)

Kapabilitas seorang comic atau komedian ditentukan apakah show-nya berhasil. Apa yang terjadi bila seorang comic sudah tak lagi berhasil membuat audience-nya tertawa? Dan mengapa demikian?

Jamie adalah seorang comic yang sedaang meniti kariernya dari bawah. Semula, ia menemukan sisi gelap dan menariknya stand up comedy sebab berhubungan erat dengan seni menggembirakan banyak orang dengan komedi yang dibawakan. Seorang comedian selalu butuh memperbarui ide, kemampuan tampil, dan waktu untuk mempersiapkan materi demi membuat penontonya terhibur.

Dalam kesuntukannya kuliah, ia menemukan hiburan yang menarik pada stand up comedy. Kemudian ia bercita-cita menjadi comic terkenal. Demi menekuni karier impiannya ini, ia bahkan sempat berhenti kuliah.Ia lalu bekerja di kafe Beni, seorang sahabat yang bahkan mau memberikan pekerjaan lengkap dengan fasilitas selama ia mau tampil rutin di kafenya. Namun rupanya nasib baik belum berpihak padanya. Sejak putus dari Sonya, Jamie mengalami kemunduran. Tak seorang pun datang untuk menonton pertunjukan tunggalnya di kafe sebab penontonnya tak merasa Jamie selucu yang dulu. Kegagalannya tampil dalam show tunggal membuatnya terdorong untuk berhenti bekerja dengan Beni, bahkan ingin melupakan dunianya dan berganti profesi. Segala daya upaya sudah dilakukan. Ia merasa bahwa dunia comic tak lagi memberikan keuntungan dalam hidupnya. Ia juga menyadari bahwa kesedihannya membuatnya tak memiliki semangat untuk menggali lagi kemampuannya. Alasan-alasan itulah yang menyebabkan ia memutuskan untuk tetap berhenti. Jamie kehilangan kepercayaan diri dan merasa bahwa menjadi comic bukan lagi jalannya. Ia pun memutuskan move on ke Kalimantan.

Dalam perjalanannya ke Kalimantan, ia bertemu dengan sepasang backpaker, Fey dan Luka. Mereka mendesaknya untuk menampilkan stand up comedy di lounge kapal sebagai hadiah pertunangan. Demi pertemanan, ia pun melakukannya. Pada saat itulah, ia justru mendapat respons yang lumayan bagus dari penonton. Apalagi Fey yang pada akhinya malah menjadi fansnya dan berharap ia dapat menontonnya kembali. Namun kehadiran Fey dan tunangannya belum cukup membuat kepercayaan dirinya kembali. Tawaran kapten untuk tampil rutin di kapalnya pun ia tolak. Namun, ia merasa ada sepercik semangat dalam hidupnya tatkala Fey yang ceria dan manis itu memposisikannya idola. Bahkan terang-terangan di depan Luka, tunangannya. Sayang, itu tak cukup membuatnya bangkit ketika menyadari Fey sudah ada yang punya.

Turun dari kapal, Jimie menemukan kehidupan yang berbeda dan menuntutnya untuk mulai dari nol. Namun hidup rupanya menyimpan kejutan lain. Menjadi tukang bersih-bersih mal membuatnya bertemu dengan Pak Gaiman–orang lokal yang menetap tinggal di atas tanah leluhurnya yang kini menjadi bangunan mal. Rupanya Pak Gaiman adalah seorang pesulap. Perkenalan dengan Pak Gaiman mengantar Jamie pada kesadaran bahwa menjadi komedian memang profesi sejatinya. Dari seorang Gaiman yang keras dan banyak pengalaman, Jamie banyak mendapat petuah berharga darinya.

Di tengah menjalani profesi barunya sebagai tukang bersih-bersih, tak disangka ia bertemu dengan Fey yang rupanya telah putus dari Luka. Dari pertemuan itu, ia tahu bahwa Fey ternyata memedulikannya. Ia juga berharap Jamie dapat menjadi comedian kembali seperti yang ia kenal dulu, dan di samping itu, Fey juga mengutarakan isi hatinya pada Jamie yang saat itu malah tidak ngeh dengan maksudnya. Fey lantas menghilang lagi dengan meninggalkan tanda tanya bagi Jamie.

Pada suatu hari Jimie ditawari Gaiman dan rekannya untuk mengisi pembukaaan sirkus. Dalam kebimbangannya, Jamie tahu ia hanya butuh kerja keras dan konsisten di jalan yang pernah ditempuh yang bahkan pernah harus berkorban demi berada di jalan itu. Tapi rupanya perasaan pada Fey yang ceria dan manis juga mampu mengembalikan semangatnya. Jamie mau menjalani profesi sebagai pembuka sirkus Gaiman dan kawan-kawan dengan stand up comedy. Kerja kerasnya membuahkan hasil. Secara berkala ia mulai mendapat banyak perhatian dan penggemar. Pada akhirnya ia bahkan mendapatkanan kesempatan tur stand up comedy ke beberapa kota dari sponsor. Hal itu membuat Jamie bersemangat. Tentu saja ia siap menjadi populer dan muncul di televisi hanya demi menemukan Fey kembali. Ia sadar rupanya Fey adalah salah satu alasan terkuat yang membuat ia bangkit kembali ke dunia stand up comedy.

Novel karya Jacob Julian ini memiliki ending yang manis di mana tokoh Jamie kembali sukses menjadi comic atas kerja kerasnya dan sadar bahwa ia butuh Fey, seseorang yang akan selalu mendukung kariernya dan tak akan meninggalkannya. Kehadiran seorang kekasih yang setia tentu membuat Jamie bahagia. Menunjukkan pada kita bahwa kebahagiaan pun juga butuh alasan. Terlebih seorang comic juga butuh berbahagia untuk bisa membuat orang lain tertawa dan bahagia.

Alur dalam novel Julian ini cukup menarik dan mampu menggambarkan kehidupan comedian dari sisi yang lain secara lebih dekat. Pembaca seperti diajak untuk memahami dunia comedian dari latar belakang dan sepak terjangnya. Hanya saja masih ditemukan beberapa kalimat rancu seperti yang ada dalam halaman 107: “Karena suatu saat. orang berpacaran juga bisa berakhir dengan kata-kata… “, halaman 238: “kau sudah pacar?”, dan juga beberapa di halaman lainnya. Untuk itulah, baik penulis maupun editor perlu mencermati lebih teliti karena kesalahan-kesalahan kecil yang bersifat gramatikal juga bisa berpengaruh pada feel pembaca. Kemudian perlu juga bagi penulis untuk riset logat/aksen bahasa, sebab Pak Gaiman yang penduduk suku daerah tentu berbeda gaya bahasa dengan Jamian dan Beni misalnya.

Namun demikian, lepas dari hal-hal itu, novel You’re Not Funny Enough cukup menarik sehingga dapat dijadikan bacaan ringan di kala suntuk. Saya yang sudah lama tak membaca novel teenlit pun menikmati novel ini dan menemukan banyak hal yang membuat saya akhirnya tersenyum di bagian akhir kisahnya. Bila saya harus menggunakan bintang untuk menilai novel ini, baiklah saya akan kasih 3 bintang 🙂