Review: Le Petit Prince

img_20180914_143734

Judul: Le Petit Prince
Penulis: Antoine de Saint-Exupery
Penerbit: PT GPU
Cetakan ke-10: tahun 2018
Jumlah halaman: 118
ISBN : 9786020323411

 

Dalam pengasingannya pada tahun 1941 hingga 1943 di Amerika, Antoine de Saint-Exupery menulis sesuatu yang lain dari biasanya. Tentang seorang pilot yang terdampar di Gurun Sahara dan bertemu dengan seorang pangeran kecil dari planet lain. Dan buku ini untuk anak-anak?

Kenyataannya memang banyak tokoh di dunia ini tetap menulis ketika berada di dalam tahanannya. Dan banyak penulis cerdas membuat alegori untuk mengatakan sesuatu tanpa tampil “blak-blakan”. Termasuk Antoine yang menulis novel ini dalam pengasingannya. Saya jadi ingat Pramoedya A.T. yang juga sempat menulis novel ketika diasingkan di Pulau Buru. Dan buku-buku yang ditulisnya bukan tentang hal-hal yang biasa. Seperti Duong Thu Huong yang tetap menulis selama dan setelah dipenjara oleh pemerintah sosialis Vietnam yang pernah ikut diperjuangkannya. Diasingkan tidak membuat seorang penulis sejati lantas berhenti berkarya.

Bertemu seorang anak berpakaian aneh ini juga pengalaman yang menakjubkan bagi si pilot dalam novel ini, yang merupakan representasi si penulisnya sendiri. Pangeran kecil ini innocent, ia mempertanyakan segala hal yang tak dipikirkan orang-orang dewasa pada umumnya. Entah mengapa saya selalu suka tokoh-tokoh innocent entah dalam buku maupun film. Tokoh-tokoh polos menurut saya lebih berani mempertanyakan sesuatu dari dasar, tidak sungkan bertanya tentang hal-hal yang memang ada di kepalanya, dan mereka biasanya akan terbuka terhadap segala jawaban yang ditemuinya.

Ia bercerita pada si pilot bahwa ia telah mengembara ke planet-planet tetangganya yang berisi orang-orang dewasa yang begitu aneh. Tak kalah aneh pula yang ia temui tatkala ia sampai di bumi. Kisah si pangeran cilik melakukan perjalanan dari planet ke planet ini sungguh tidak bisa dilewatkan.

“Apa yang mereka cari?” Begitu yang ia tanyakan ketika menemui si tukang wesel di sebuah stasiun di Planet Bumi yang penuh dengan orang yang terburu-buru. “Manusia,” kata Pangeran Cilik, “mereka menjejalkan diri ke dalam kereta api kilat, tetapi lupa apa yang mereka cari.” (hlm 97)

Sisi lain yang menarik dari novel ini menurut saya adalah tema tentang kasih sayang yang universal. Si pengeran cilik diceritakan hanya mengenal 1 bunga mawar di planetnya. Bunga ini sangat bawel tapi yang paling peduli. Meskipun ia bertemu dengan ribuan bunga yang sama di bumi, pada akhirnya hanya satu bunga itulah yang paling penting. “Kamu menjadi bertanggung jawab untuk selama-lamanya atas siapa yang telah kamu jinakkan” (hlm 88). Begitulah hingga ia harus pergi karena merasa telah membuang waktu dengan meninggalkan si bunga sendirian di planetnya.

Gaya bahasa dalam novel ini memang terkesan sederhana sehingga mudah dipahami, tapi isinya yang bertema filsafat ringan mengajak pembaca merenungi hidup yang mungkin sudah terlalu biasa bagi orang dewasa. Buku ini berhasil mengubah banyak hal tak lagi biasa dengan kembali pada pertanyaan polos ala anak-anak.

Meskipun demikian, novel yang telah diterjemahkan ke dalam 200 bahasa ini lebih direkomendasikan untuk remaja ke atas.

Iklan

Berhenti Saja Dulu

Akhirnya kukatakan ini pada diri sendiri. Lega rasanya sudah menghentikannya. Mungkin untuk saat ini aku rehat dulu dari hal-hal yang bersifat kompetisi.

Pertama, sepertinya aku nggak siap untuk perlombaan. Apa lagi yang membuat ngoyo. Sudah tantangan kesekian, dan aku bahkan menyiapkan beberapa bahan tulisan hasil pengamatan di lingkungan. Ternyata aku tetap nggak memiliki waktu yang cukup. Tak apa sih. Nggak semua rencana harus segera berjalan hingga sampai ke tujuan.

Aku juga baru ingat, untuk belajar menulis dengan konsisten, ada banyak cara, kita nggak perlu menempuh hanya satu jalan. Ini memang cuma alasan malas aja sih, haha. Mungkin aku akan tetap membaca tulisan-tulisan peserta lain di waktu senggang dan melakukan blogwalking. Aku akan terus belajar. Aku masih perlu memotivasi diriku untuk lebih banyak baca dulu untuk saat ini.

Menurutku, kita bisa rutin mengikuti atau bahkan bikin challenge kita sendiri kapan pun kita ingin. Itu pun nggak harus sekarang. Bisa saja kapan-kapan kalau waktu sudah mendukung. Sekarang kan aku punya prioritas lebih penting. Lagipula aku sudah berjanji pada diri sendiri untuk mengurangi penggunaan gadget, fokus momong anak-anak, dan rutin baca buku per minggu di tahun ini. Anak-anak lagi senang-senangnya meniru perilaku orang dewasa. Kan nggak adil, aku yang selama ini mengondisikan anak-anak supaya nggak tertarik sama gadget, eh malah akunya sendiri yang sering pegang handphone.

Kalau pun aku harus nge-blog, langkah pertama yang harus kulakukan adalah beberes ala Konmari. Banyak hal yang harus dibenahi lebih dulu. Sudah jadi tujuan awal membuang sampai tuntas postingan yang tidak diperlukan dan simpan yang benar-benar penting. Atau lanjut memposting review buku-buku yang sudah dibaca. Segala hal berkait buku dan jenis bacaan lain saja. Membereskan ala Konmari adalah proyek akhir tahun lalu dan masih akan teap berjalan sampai benar-benar tuntas. Ternyata ini hal simpel yang mengerjakannya butuh ketelatenan dan waktu yang panjang. Menulis hal sepele seperti ini saja harus menunggu anak-anak tidur.

Lagipula lelah jadi orang lain. I mean, menulis sesuai keinginan segelintir orang. Aku mau jadi diri sendiri. Menulis hal-hal yang memang ingin aku tulis. Dan kalau memang sudah waktunya aku belajar nulis dengan serius, maka akan ada saatnya, barangkali aku juga akan belajar pada guru-guru yang aku sendiri akrab dengan karya-karyanya. Semua ada saatnya. Nanti juga aku tak lagi bermasalah menulis hal-hal yang bukan aku, atau sesuai permintaan. Secara profesional barangkali. Aku sudah terbiasa bilang “tidak” untuk hal-hal yang kurang sreg. Aku juga terbiasa nyari-nyari alasan kalau lagi malas sih. Seperti hari ini, hehe.

Sekian.