Rasa Pedas

Kau penyuka rasa pedas?

Aku nggak terlalu menggemari, tapi makanan pedas kuakui enak. Terlebih bila komposisi bumbu dengan bahan dasarnya pas, entah itu pedas karena cabai atau merica. Mereka akan meninggalkan jejak nikmat (lengkap) sebelum melanjutkan perjalanan ke kerongkongan dan lambung untuk melebur dengan zat HCL, pepsin, renin, dan makanan lainnya. Mulut dapat merasai sensasi menyakitkan tapi enak yang dihasilkan rasa pedas itu. Namun tidak semua lambung lantas menyambut dengan bersahabat. Jadi benar, ada kalanya orang-orang yang memiih makanan enak, cenderung lebih dahulu mempertimbangkan selera yang dituntut oleh indra pengecap, utamanya lidah dan indra peciuman, ketimbang kemampuan alat pencernaan setelah mulut ataupun kesehatan. Terlebih kemampuan perut tak bisa terdeteksi sebelum betulan terlihat dampaknya.

Kata seorang teman rasa pedas itu merusak rasa. Teman lain bilang itu justru memperkuat rasa. Kedua pendapat itu dapat dikatakan benar karena sebetulnya cabai menyangkut selera. Selera berkait erat dengan individu yang tentunya sudah beragam dari sananya. Manusia dan selera adalah identitas yang berpasangan selalu. Ada yang senang bila cabainya melimpah. Ada yang menyerah duluan dengan cabai setengah biji. Ada pula yang menolak sama sekali masakan pedas secuil pun.

Ketika aku iseng browsing sejarah makanan pedas, ternyata sulit juga dicari. Ada yang bilang berasal dari Melayu, sebelum Indonesia bernama Indonesia. Masyarakat Thailand pun familier dengan tradisi makan pedas. Ingat penjelasan salah satu dosen ketika zaman kuliah, bahwa setiap daerah bisa berbeda kecenderungan jenis makanan sesuai dengan kondisi alamnya. Semula makanan pedas biasanya dikonsumsi masyarakat sekitar pegunungan atau daerah berhawa dingin. Zat yang terkandung di dalam cabai dipercaya dapat menghangatkan tubuh. Meski demikian, tidak semua orang lantas mengonsumsinya. Sebab di negara-negara lain, seperti negara-negara di Eropa, mereka konon tidak memakan cabai seperti di Asia. Sebagai penghangat mereka meminum semacam wine. Meskipun jahe sebenarnya bisa, tapi jahe digunakan di Indonesia. Sehingga kurasa cara masyarakat mengatasi rasa dingin melalui makanan hanya soal adat dan kebiasaan. Barangkali belum bisa dikatakan melulu tentang adaptasi, melainkan selera. Masyarakat dari tradisi pemakan cabai ekstrem pun ketika berkunjung ke Jogja akan mengeluhkan rasa manis di dalam unsur masakannya, dan akan tetap menambahkan porsi cabai meskipun udara Jogja sudah hangat.

Tapi rupanya rasa pedas tidak berasal dari tanah Melayu. Di India ada jenis cabai Bhut Jolokia yang sempat membuat pemakannya terkapar pada menit ke-30, konon efeknya hingga 12 jam.  Cabe ini menggantikan jenis Red Savina yang semula menjadi cabai terpedas di dunia versi Guinness World Records. Pada versi itu, ada beberapa peraih rekor yang rupanya justru dari Meksiko. Ada pula yang menyatakan Ed Currie yang terpedas di dunia. yang juga berasal dari Meksiko. Tak lama versi Guinness Book of Records menyatakan cabai asal Inggrislah, cabai Infinity, yang terpedas di dunia. Jadi untuk apa cabai diciptakan di dunia selain untuk bumbu makanan dan ikut lomba? Untuk obat. Beberapa artikel ilmiah menjelaskan kegunaannya di bidang kesehatan, tapi dalam porsi yang cukup dan cenderung sedikit. Cabai juga punya manfaat mengobati.

Namun, kemarin hari sedikit menyesal sekaligus bersyukur dengan masakan pedas yang kumakan, memang pada dasarnya lezat sekali, apalagi dikonsumsi di antara suasana ‘hangat’. Hanya saja unsur cabainya melebihi batas normal kemampuanku merespons rasa pedas yang tentunya hanya kusimpan sendiri dalam hati -__-. Sebab sehari setelahnya, selain masih ada rasa panas di pangkal kerongkongan hingga lambung, efek lain yang cukup bikin mules dan lemes pun mengikuti. Tongseng kuah yang rasanya gurih itu semula menimbulkan efek bahagia. Aku memang melihat semua orang tampak menikmatinya. Ada yang megap-megap tapi ketagihan, ada yang memang benar-benar menghindari karena warna kuahnya dominan merah, ada yang malah jadi tambah sehat habis kepedasan meski muka merah dan air mata bercucuran, mirip ekspresiku. Bahkan ada yang memakannya seperti ngemil kacang goreng sambil nonton bola.

Namun, lapar dan perasaan tidak enak menolak hidangan sang koki yang ahli masak tongseng kambing ini adalah perpaduan cocok untuk membuatku tetap makan kemarin hari. Pada detik-detik awal, sedikit masih bisa menikmati sensasi rasa gurih yang pas di dalam masakannya, lama kelamaaan tak sadar secara insting, aku berusaha menghabiskan makanan cepat-cepat tanpa mampu bersuara sepatah kata pun. Begitu melihat air putih, rasanya ingin menenggak seluruh isinya dalam hitungan detik. Berharap pedas itu segera hilang dan kembali pada efek makanan sedapnya. Sampai di rumah cepat-cepat aku menelan semua makanan penetral dan berhenti berpikir yang tidak-tidak. Memang banyak orang di luar sana merasa lebih nyaman dan lebih bugar setelah megap-megap, tapi rupanya aku tak punya respons naluriah bersifat positif semacam itu.

Rasanya untuk beberapa hari ke depan, aku perlu menghindari hal-hal yang pedas. Selain rasa terbakar di leher dan sekitar perut, efek psikologisnya pun bakal tidak sebentar. Untuk soal makanan pedas, yang mewakili keberagaman manusia itu, aku nggak mau lagi bertoleransi. Demi apa pun untuk saat ini.

Postinganku kali ini memang lebih banyak tentang rasa pedas cabai. Berbicara soal rasa pedas, mungkin demikian cara manusia menjalani hidupnya: sekalipun menyakitkan, tapi toh tetap menikmatinya juga sebagai hidangan rutin.:)

Bagaimana pun pengalaman kepedasan adalah pengalaman yang berharga untuk dilewatkan.

Iklan

Corat-coret

Beginilah sekarang kalau sedang ada semenit dua menit waktu senggang….

DSCN3531

DSCN3533

DSCN3538

DSCN3529

DSCN3482

Nggak cuma menulis, menggambar pun bisa jadi hiburan. Biar jelek asal corat-coret kan :))

(*gambar iseng hari ini)

Belajar dari Peyek Udang Ala Bantul

Kalau kita jalan-jalan di pantai-pantai daerah Bantul Yogyakarta, seperti Baru Pandansimo atau di sekitarnya, kita akan sering menjumpai penjual peyek yang bahannya diambil dari sekitar pantai. Seperti peyek udang, ikan kecil, undur-undur, atau kacang. Peyek-peyek yang dijual dengan kemasan plastik kemudian di-steples apa adanya tersebut menjadi kekhasan jajanan pantai Bantul. Kita akan banyak menemukan ibu-ibu membawa sekeranjang jajanan buatan sendiri yang ditawarkan dari pengunjung ke pengunjung.
(sialnya nggak bawa camdig  untuk motret peyek-peyeknya T_T)

Seperti yang terjadi siang ini ketika kami sekeluarga piknik. Seorang ibu-ibu tengah baya mendatangi kami. Penampilannya biasa sekali. Kebaya berwarna pudar, rok, dan kerudung, namun dikenakan dengan rapi. Saya suka cara masyarakat desa berpakaian. Entah kenapa.

Ia menawarkan peyek udang dan kacang. Tak lupa ia juga menjelaskan bahwa peyek-peyek ini nggak dikasih bahan pengawet, nggak pakai penyedap, dan aneh-aneh lainnya. “Warna kuning ini karena pakai kunyit. Monggo dibeli Mbak, Bu.” Demikian tawarnya. Setelah tawar menawar yang diselingi ngobrol ngalor-ngidul, kami pun membelinya.

Belum juga kami nanya seputar peyek, si ibu sudah menjelaskan panjang lebar dari bahannya yang menyesuaikan musim sampai merk minyak gorengnya. Barangkali sudah sering ada pengunjung pantai yang nanya macam-macam soal bahan-bahan peyek tersebut, sebab tampilannya yang cuma plastik dan tidak seperti makanan ringan yang dijual di pasar-pasar modern. Nggak heran sih, kadang kadang kita kan lebih mudah terpengaruh dengan penampilan luar.

Tapi, aku juga maklum. Kita sering mendengar berita soal pedagang makanan yang “nakal” dan berpengalaman menggunakan bahan-bahan kimia yang tidak sehat. Zat pewarna, pengawet, penyedap, dan lain sebagainya membuat kita sendiri takut untuk membeli jajanan ala rakyat. Tapi jangankan jajanan yang dijual di pinggir jalan, yang dijual di supermarket saja bukan jenis yang bebas bahan makanan buatan. Belakangan salah satu acara di televisi menemukan bahwa sate ampela yag dijual di warung-wariung makan banyak yang mengandung borak bahkan dibuat dari ayam yang matinya sudah lama. Sedangkan lokasi-lokasi yang dipakai sebagai sample kebanyakan di wilayah kota.

Kalau semua makanan yang dijual di kota berbahaya, maka kita nyari makanan di mana? Sebenarnya sih, ini sudah lama jadi wacana.
Yah, yang jelas, ada banyak faktor yang membuat kita menyimpan curiga pada jenis-jenis makanan zaman sekarang yang dijual di pasaran.
Orang ndeso itu lugu. Kalau bikin makanan apa adanya. Nggak enak tapi nggak dicampur yang aneh-aneh. “Ya begitulah Mbak, kami ini orang ndeso, Mbak, karena kami memang nggak mudeng soal begituan, nggak pengalaman.” Begitu ketika kami ngobrol-ngobrol soal bahan campuran makanan pada si ibu penjual makanan. Membuatku jadi ingat pasar tradisional dan jajanan ala pasar Bantul.
Dilihat dari jenis makanan saja, rasanya orang-orang pedesaaan selalu terlihat lebih tulus di mataku.

Tapi dari interaksi singkat kami dengan si ibu penjual peyek ala pantai Bantul ini, saya jadi menangkap pelajaran penting. Lebih tepatnya sih seperti diingatkan kembali.

Pertama, kita seperti dihadapkan pada: mana yang akan kita pilih, makanan tradisional yang tidak enak tapi asli, atau makana lezat yang berpenampilan mbois tapi mengandung obat pengawet, penyedap, dan masih banyak lagi?

Kedua, kulit tidak selalu mencerminkan isi. Lalu seberapa mudah kita terbius oleh penampilan? Demikianlah. Mengapa saya selalu elergi dengan keadaan di mana dandan lebih penting daripada menjalani kehidupan dengan jujur.

Ketiga, ada rasa enak yang khas yang kutangkap ketika menggigit peyek-peyek tadi. Yang tak kutemukan di makanan berkelas ala kota. Seperti mengingatkanku pada masakan budhe-budheku yang tinggal di pedesaan.

Keempat, aku jadi lebih berniat memilih makanan apa pun yang asli ketimbang palsu. Begitu juga dengan menjalani hidup.

-Pantai Baru Pandansimo siang hari-

Reuni Orang-Orang Asing

Sepertinya saya memang mengalami dua reuni yang agak menggelikan belakangan ini. Kemarin dan hari ini. Saya memang suka bertemu teman-teman dalam sebuah forum, apalagi kalau tidak lama-lama. Hanya sedikit menangkap kejanggalan di reuni semalam. Bayangkan engkau sebagai wanita yang belum menikah, berada di antara teman-teman lama sesama wanita yang semuanya telah berkeluarga dan punya beberapa anak. Kira-kira apakah obrolan yang banyak terjadi?

Kedua, rupanya reuni baru akan terasa aneh kalau dikemas dalam tema yang formal. Ada satu sesi di mana para alumni dari berbagai angkatan menyebutkan pekerjaaan-pekerjaan mereka usai lulus dengan bergiliran. Hasilnya sudah diduga. Hampir semua nggak bekerja di bidang sastra dan yang berhubungan dengan itu. Menurut saya sudah hal yang wajar di Indonesia, alumnus sarjana bekerja di bidang yang tidak nyambung dengan ilmu yang dipelajarinya 4-5 tahun.

Saya guru Matematika, sejak semester 8, kujawab demikian dengan ekspresi biasa saja. Juga jujur menyatakan kalau hal menyenangkan selama kuliah adalah karena angkatan saya cuma 3 orang, dan saya suka belajar di suasana yang tidak terlalu ramai. Rasanya ingin menyampaikan bahwa, pekerjaan fulltime saya cuma membaca dan menyepi, apa pun itu yang lain pekerjaan parttime, terima kasih. Dan acara semacam ini sungguh kurang bermutu. Lalu sesi lain, para dosen banyak membahas mereka yang pernah dapat besiswa atau ke luar negeri. Juga dosen lain pun bercerita pengalamannya di luar negeri. Sebagai semacam ‘patokan’. Baru sadar kalau peserta dari sastra Indonesia cuma saya seorang.

Jadi inget kata kakak angkatan yang terbiasa ngomong ceplas-ceplos tapi kadang bener: “mepelajri sastra memiliki visi misi mengubah keadaan di masyarakat. Lebih luas lagi dunia. Kalau sastra inggris nggak mempelajari karya sastra secara mendalam, malah banyak tata bahasa dan manfaatnya di bidang pekerjaan, sama saja kayak les bahasa Inggris di elti dong. Banyak toh yang akhirnya kerja di bank atau perhotelan?”
Tapi itu dulu, waktu sastra Inggris dan Indonesia, masih saling sindir dalam forum-forum tertentu. Sekarang, kedua jurusan itu tampak saling membutuhkan dan bergantung.

Sebaliknya, prodiku sendiri juga masih kacau bin tidak jelas. Sampai tahun ini bahkan masih mencari identitas, dan sampai 3 kali, saya, yang termasuk alumni, bahkan dimintai ide mata kuliah tambahan yang bermanfaat untuk profesi mahasiswa ke depannya.”
Semakin ngawur lagi. Ide-ide keren yang dulu bermunculan dikemanakan?
Memang bakal disetujui apa kalau saya usulkan yang aneh-aneh, seperti Matkul Kesetaraan Gender dan Feminisme misalnya? Perasaan dulu mahasiswa yang bertampang sosialis dan mempelajari buku-buku kiri dicap komunis juga deh. Usulan skripsinya pun alot dan njulik. Tapi menarik juga, usaha tetep penting bukan? Saya bakal usulkan hal-hal yang memang dibutuhkan di zaman edan semacam sekarang.

Kembali ke masalah acara.

Tahu bakal ditodong mic, aku hanya bolak-balik ke arah meja snack, ambil kopi, ambil camilan, dan lain-lain sebelum disodori benda tersebut untuk berbicara. Kami semua berbicara satu-satu brgiliran menceritakan (memamerkan) kesibukan sekarang. Kerja freelance dan wiraswasta masih dianggap pengangguran di negeri ini, saya sadar itu. Dan akhirnya di depan umum seperti itu, tentu saja aku hanya bicara sedikit dan secukupnya saja. Selain malas ngomong, memang sudah lama sekali tidak terbiasa di depan publik, sejak tidak lagi akif di organisasi dan sejak pekerjaan editor membuat saya jadi semaikin introvert. Sejujurnya, selain pohon tebu dan pria bertampang ganteng, suasana formal seperti itu juga salah satu hal yang membuat saya agak elergi dan pengin cepet menjauh.

Maklum kalau akhirnya banyak yang tidak jadi datang karena alasan malu dan nggak nyaman dengan acara formal. Dan selanjutnya, aku menyadari, orang-orang terbaik yang mestinya dapat menghidupkan hal yang “sastra” di kampus, lama kelamaan menjadi terpecah sendiri-sendiri dan hilang. Kukira acaranya bakal seperti pesta kebun sambil bakar jagung dan ngobrol bebas seperti tadi malam.

Tiba-tiba jadi bertanya-tanya, apakah reuni ini memang untuk reuni itu sendiri?
Atau apakah ada hubungannya dengan unsur marketing dan peningkatan akreditasi kampus?
Apakah ada gunannya perkumpulan reuni diadakan setiap dua tahun? Bukannya malah efektif kalau 10 tahun sekali?

Omong-omong, memang kesuksesan seseorang dapat dinilai dari kantor tempat ia bekerja atau apakah ia pernah keluar negeri?

Yeah, kuakui, ada sebagian dari masyarakat kita yang merasa menemukan perasaan pulang dan bahagia ketika telah berada di negeri-negeri yang jauh di sana. Ada juga yang demi sesuatu yang lebih penting di tanah airnya, mereka bersedia berlama-lama menahan ketidakbetahan. Dan kita juga tahu, ada juga manusia yang sudah merasa bahagia dan sukses ketika dia terbebas dari tanggung jawab pekerjaan apa pun. Ada juga yang bahagia bila ia bekerja lebih dari 20 jam per hari meskipun gajinya sama seperti pegawai bank yang masih training. Ukuran sukses dan bahagia tentu bermacam-macam. Orang juga berkarakter macam-macam. Bagaimana fakultas sastra bisa kurang menjangkau hal-hal yang mestinya “sastra”?

Tapi, hei, apakah itu arti sukses yang sebenarnya?
entahlah..
Sebab tatkala aku mengatakan pada seorang teman yang baru pulang menjelesaikan tugasnya di luar negeri, “Kamu beruntung kesampaian jalan-jalan ke luar negeri, Jenk. Aku baru mimpi aja sudah harus ingat kalau itu mustahil. Kenapa nggak lanjutin kontrak kalau di sana memang banyak tawaran?”
Mukanya malah berubah sendu, dan ia mengatakan, “Aku pulang dan memutuskan tidak melanjutkan kontrak karena pengen menikah, Jenk… tapi calon belum ada, padahal usiaku sudah nggak muda, selain itu aku khawatir dengan ibuku yang sudah sepuh dan belum melihatku menikah.” Dan intinya dia belum merasa sukses. Atau barangkali setiap kesuksesan yang dicapai orang-orang belum tentu merupakan kesuksesan sempurna seperti kelihatannya?

Hari ini aku pulang mengajar dengan resah. Jalan-jalan macet. Sedari siang parade kampanye semakin brutal bentuknya. Cuaca gerah. Dan saya, baru sadar kalau sekarang lagi musim liburan. Pantes.

Reuni Miss-Miss

 

 

Bertahun-tahun sudah tak berjumpa. Dulu kala ketika kita masih bekerja bareng di kantor yang sama, aku masih mahasiswi yang ‘terserah mauku’ dan terobesesi hal-hal baru, sementara kalian telah beranjak dewasa dan ingin menjadi ibu, yang merindukan segala hal mapan pada tempatnya. Kala itu aku tak memahami jalan pikiran kalian, dan bertanya apakah tatkala menjadi dewasa, perempuan akan begitu mengesampingkan dirinya sendiri? Menjadi sedemikian ‘wanita’? Sebaliknya, barangkali waktu itu, kalian juga hanya sekadar memaklumiku, “ah, masih muda.”
Demikianlah masa lalu, betapa lucunya bila ia kembali diulang.
Malam ini, di sebuah ruangan yang pintunya diberi palang “Reuni Mathemagics” periode 3, aku di tangah kalian semua–belum menikah dan suka bermimpi. Tapi rupanya memang banyak yang berubah. Di antara kita, anak-anak kecil berkeliaran: naik ke kursi, berlarian di bawah meja, mengelilingi kolam ikan, menerbangkan sedotan, membuat meletus balon-balon—-betapa lucu anak-anak itu dan betapa gesitnya kalian mengejar-ngejar mereka (kupikir miss-miss ini sempat membelah diri demi mengawasi mereka)

Dan perasaan sedari tadi, cuma aku yang begitu tenang dan hanya makan.

 

 

 

Liburan Singkat di Pantai Trisik

Jalan-jalan hari Sabtu sore memang rasanya singkat. Namun, weekend singkat memang sebaiknya pergi ke pantai. Selain dapet udara segar untuk mengobati penat kesibukan, siapa tahu (kalau beruntung) bisa merekam senja.

Berikut ini beberapa foto Pantai Trisik yang saya ambil dengan kamera digital pocket.

perpaduan yang puitis: pepohonan dan pantai :)

perpaduan yang puitis: pepohonan dan pantai 🙂

Trisik sendiri dalam bahasa Jawa artinya pantai berpasir yang berbatu kecil-kecil. Mungkin karena tampilannya yang kurang menarik, pantai ini jadi sepi sekalipun di akhir pekan. Tapi tak mengapa, bagiku setiap pantai yang sepi, memiliki kecantikannya sendiri.

2

3

salah satu tumbuhan liar di Pantai Trisik.  (Nggak tahu namanya ^^)

salah satu tumbuhan liar di Pantai Trisik.
(Nggak tahu namanya ^^)

Seperti pantai lainnya, pantai ini mengalami abrasi. Ombaknya lumayan besar, mungkin sedang musimnya. Harap hati-hati kalau jalan-jalan ke pantai untuk musim ini.

??????????

jejak kaki

jejak kaki

Hal yang menarik lainnya adalah, ketika sore tiba, terlihat beberapa nelayan menjaring ikan hanya di pinggir pantai. Mereka melemparkan jaring ketika ombak menghambur ke arah daratan. Meski demikian, hasil buruannya lumayan banyak. Beberapa dari mereka berangkat mencari ikan dengan kapal. (Maaf tidak sempat mengambil fotonya)

??????????

dan inilah bagian yang paling ditunggu ^^

senja

senja

Namun, sayang banyak sampah alami yang bertebaran di sana. Semoga tidak perlu ada timbunan sampah plastik seperti di pantai-pantai lainnya. Alam akan tampak indah dan alami tanpa sampah plastik. Bukankah demikian?

Liburan singkat ini cukuplah untuk ngisi energi lagi, karena besok minggunya kembali bekerja.

Pasar Tradisional ala Pedesaan

Jangan heran bila berlibur lama di Bantul, Gunung Kidul, atau kabupaten lain di Yogyakarta. Terutama bila kita ingin membeli sesuatu di pasar tradisional. Yeah, nggak mungkin ada semacam minimarket modern di kawasan pedesaan. Seperti halnya desa-desa lain yang masih tergantung peradaban Jawa, pasar tradisional di pedesaan akan berbeda dengan yang di kotamadya atau wilayah kota kabupaten. Mereka masih mengikuti sistem pasaran atau penanggalan ala jawa yang sepekannya terdiri dari 5 hari. Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon.

Seperti halnya di Mangiran, tempat orang tuaku tinggal bila akhir pekan dan merupakan desa kelahiran Ibu. Mangiran berada di Kecamatan Caturhardjo, masih cukup dekat dengan alam dan masyarakat tradisional. Bila libur tiba, pagi hari aku sering mengantar Ibu ke pasar tradisional untuk membeli bahan makanan, namun lokasinya akan berbeda-beda. Mengapa demikian?

Di Mangiran itu sendiri, ada tiga lokasi pasar terdekat yang bisa ditempuh. Pasar Mangiran, Gumulan, dan Surobayan yang letaknya di Desa Sanden. Ketiganya akan ramai sesuai jatah “pasaran” itu sendiri. Pasar Mangiran akan ramai di pasaran Pahing dan Wage. Pasar Gumulan disediakan untuk pasaran Legi, sedangkan Pasar Suroboyan untuk pasaran Kliwon dan Pon. ketiganya yang paling dekat dengan rumah. Artinya bila penanggalan Jawa menunjukkan pasaran Legi, jangan pernah iseng ke Surobayan, sebab kau hanya akan menemukan bangunan tua dengan pilar-pilar yang sepi tanpa tanda-tanda kehidupan.

Bentuk pasar di sana juga sedikit berbeda dengan pasar-pasar tradisional di kota. Bedanya tidak ada konsep kios yang membuat penjualnya menetap dan berjualan di sana sepanjang hidupnya. Mereka hanya akan saling mengerti posisi nyaman masing-masing ketika menggelar bersama dagangannya. Baik pedagang maupun pembeli semuanya nomaden. Dan mereka juga sudah hafal di luar kepala harus ke pasar mana setiap harinya. Fenomena pasar nomaden seperti ini juga kujumpai waktu KKN di Panggang Gunung Kidul tahun 2009 lalu, di mana kami sering kecelik dan harus tanya sana-sini lokasi pasar setiap hari, sampai akhirnya hafal dengan sendirinya.

“Apa nggak capek ya, Bu, pindah-pindah gitu?” tanyaku pada Ibu di perjalanan pulang dari Pasar Surobayan.

“Ya enggak. Udah jadi kebiasaan.”

Aku manggut-manggut. Yeah, kalau emang udah tradisi mau bagaimana lagi.

Aku pikir, barangkali itu bagian dari feng shui ala Jawa, di mana orang akan menentukan waktu dan lokasi-lokasi tertentu untuk kegiatan ekonomi, seperti fenomena pasar ini. Mungkin saja kegiatan pindah lokasi bisa juga membuka peluang rezeki dan energi baru. Atau sebetulnya, karena penanggalan Jawa selain dipengaruhi agama Hindu-Budha, juga dipengaruhi agama Islam, makanya sistem pasar pun mesti hijrah, untuk memperingati (menyiratkan pesan) bahwa Rasul dulu suka hijrah (pindah). Tapi hijrah itu sendiri adalah tradisi Islam.

Pernah aku baca di beberapa situs, bahwa sistem penanggalan Jawa itu aslinya lebih rumit dan lengkap dari yang kita kira. Kerumitan penanggalan juga terjadi pada tradisi-tradisi dan peradaban kuno lainnya, yang konon tidak sembarangan ditentukan. Untuk menentukan masa tanam dan panen pun, masyarakat Jawa juga menggunakan sistem penanggalan berbeda, yaitu pranata mangsa. Belum lagi bila ingin menentukan hari pernikahan atau mendirikan bangunan baru. Segalanya mesti disesuaikan dengan karakter alam. Dan tentu tidak mudah dipahami oleh pemikiran ala modern.

Kembali ke pasar. Menarik memang. Dan yang menarik dari pasar tidak hanya sistemnya, tapi juga segala hal yang murni. Nuansa guyup, keriuhan yang manusiawi, sayur dan buah yang organik, dan terutama makanan tradisionalnya–yang nggak akan mungkin dijumpai di pasar modern.

@googleimage

@googleimage

es krim pengalih galau

Sebetulnya sulit bagi saya menjelaskan perihal makanan paling unik, apalagi saya sendiri tidak hobi makan. Dulu, memang makaanan apa pun itu sulit untuk dideskripsikan sebagai sesuatu. Entah mana yang unik, biasa, aneh, atau sebetulnya saya yang tidak gaul soal makanan. Sebab karena tidak hobi makan hal-hal baru itulah, saya sering ragu dengan diri saya sendiri. Ketika makan hal baru, saya berpikir, jangan-jangan sebetulnya makanan ini enak, tapi saya cuma ketinggalan trend. Atau saya anggap ini enak, tapi ternyata yang lain bilang itu nggak banget. Misal pada sayur pare. Bagi saya, pare itu enak, tapi tidak bagi banyak orang yang saya temui. Saat itu penilaian saya tentang makanan hanya sehat atau tidak sehat.

Bagi saya makanan hanya sesuatu yang harus dikonsumsi demi melangsungkan kehidupan, oleh karenanya ia mesti dikonsumsi sesuai standar kesehatan. Tapi rupanya, makanan juga bisa memiliki karakter tersendiri. Itulah mengapa tradisi wisata kuliner menjadi cukup populer. Nah, sejak saya menyadari adanya perbedaan reaksi manusia terhadap makanan itulah, saya jadi mulai peduli. (Meskpun jarang juga sih). Apalagi jenis makanan bisa jadi menceritakan suatu sejarah, kenangan, atau peristiwa penting, separti salah satu cerpen Putut EA, berjudul “Sambal Keluarga”, yang rupanya menyimpan kisah tersendiri mengenai sebuah keluarga. Makanan rupanya juga mewakili keragaman budaya dan tradisi di berbagai belahan dunia.

Nah, baiklah, omong-omogn masakan aneh, saya jadi inget makanan aneh yang tahun 2012 lalu berhasil tercicipi. Yeah, karena sebetulnya makanan itu dibeli karena rasa penasaran dan sedikit frustrasi kerena sesuatu yang sedang bikin resah saat itu.

Saat itu, kami (saya dan Pit-pit, sobat keluyuran saya) jalan-jalan ke pasar seni Vredeburg. Seperti biasa, jalan-jalan ala kawan sepergalauan adalah sambil curhat hal pen(t)ing dan berbagi uneg-uneg. Dan kebetulan sekali, di sela kesibukan pekerjaan sehari-hari, kami rupanya mengalami kegaluaan yang sama dan harus di-share. Karena perempuan punya keistimeawaan multitasking, kami bisa jalan-jalan, sambil curhat, sambil foto-foto dengan pose se-edan mungkin, sambil memikirkan bisnis masa depan, sambil ngobrol situasi sosial, dan melihat-lihat stand produk kesenian. Sobat saya ini bahkan bisa sambil FB-an dan SMS-an. Sementara saya masih lebih banyak menjadi penyimak.

Tidak lama, akhirnya kami menemukan satu jenis makanan yang cukup menarik di salah satu stand. Namanya es krim temulawak. Seperti biasa, saya selalu menghargai produk inovasi apa pun itu. Apalagi produk asli Indonesia dan terbuat dari rempah bernama temulawak. Dan konon es krim itu dibuat oleh mahasiswa UGM dalam suatu proyek. Yeah, cukup keratif. Apalagi saya sendiri menempatkan es krim, cokelat, dan kopi sebagai alternatif obat penat. Siapa tahu es krim inovasi ini bisa meredam stres. Penasaran dengan eskrim temulawak bergambar wayang itu, akhirnya kami pun membelinya.

Temulawak itu sendiri adalah jenis tanaman herbal yang mengandung zat yang menyehatkan. Apalagi rasa asli Indonesia tentunya akan familiar di lidah kita. Temulawak adalah rempah yang sarat gizi karena memiliki kandungan kurkumin yang tinggi. Zat kurkumin, seperti yang kita tahu, bermanfaat menjaga kesehatan hati, sebagai anti oksidan, dan dapat menambah nafsu makan.

Namun, begitu dimakan, olala.. Wajah kami berubah seketika. Dari melow karena menanggung beban, tiba-tiba terkejut dengan heran. Kami tercengang dan saling pandang sebelum sama-sama mengomentari dengan berbisik-bisik…
“Apaa menurutmu rasanya?”
“Kayu. Lha menurutmu?”
“Sama.”

Kemudian kami pun nggak bisa nahan geli dan akhirnya ngakak, atau malah sebetulnya tambah pengin nangis. Entahlah. Kami pun berjalan menjauhi stand supaya tidak bikin penjualnya berpikir macam-macam. Rasanya mirip kayu. Yeah, memang sih tentu saja kami belum pernah makan kayu sebelumnya. Tapi aromanya jelas cenderung kayu. Tiba-tiba saya membayangkan sejumlah serbuk kayu mabel dihaluskan sebelum dicampur dengan bahan es krim, dan tentunya itu hanya imaji konyol saya.

“Dibuang aja ya?” Pit-pit, sobat saya itu sepetinya tidak tahan dengan rasanya sejak jilatan pertama.
“Jangan, mubadzir lho,” kata saya. Dan setelah dipikir-pikir, akirnya kami sepakat menghabiskannya apa pun yang terjadi. Jarang-jarang juga kan makan hal unik sambil curhat soal beban hidup yang sedang mendera.

Kami pun mencari tempat aman di salah satu taman yang agak tersembunyi supaya ekspresi katro makan es krimnya tidak vulgar di depan umum. Sekaligus saya pun mencoba mempelajari dan merenungkan apakah lidah saya yang salah atau memang rasa kayu bukan hal yang aneh di dunia perkulineran. Dan kami putuskan sebaiknya es krim ini rasanya lucu dan unik. Bukan nggak enak, sebab dengan begitu kami tetap bisa memberikan apresisasi positif terhadap si pencipta es krim kayu tersebut, eh, maksudnya es krim temulawak. Tapi keanehan itulah yang saat itu sedikit mengalihkan rasa galau berbagai hal waktu itu. Mungkin efek baik temulawak, atau memang rasanya yang membuat mengalihkan perhatian sesaat. Kadang memang makanan aneh, mengalihkan dunia kita sementara.

Ah, jadi kangen sama sobat dolan-dolan saya yang satu itu.

@googleimage

@googleimage

*ditulis untuk memenuhi tugas Komunitas Penamerah bertema makanan terunik yang pernah dimakan.

tabularasa

Mungkin, ini salah satu moment yang kusuka dari pulang ke desa. Barangkali memang seperti biasanya, aku banyak duduk sendiri di pojok ruang, dengan buku dan jurnal seperti biasa, kadang menyimak orang-orang berbicara di sekitarku. Tapi dua wanita ini; ibu dan nenek, memang memiliki perpaduan sederhana yang menarik. Berbeda dengan wanita-wanita metropolitan, mereka berdua hanya sekadar membicarakan hal-hal sedehana: masakan, harga barang-barnag di pasar, tanaman di kebun, masa kecil ibu, anak-anak, dan kadang kabar keluarga lainnya.

Menyimak ibu dan para nenek memang seperti pulang yang kembali pada kesederhanaan. Belakangan aku sadar, pola berpikirku sendiri juga perlu disederhanakan. Tak perlu banyak mengkaitkan referensi teori Simone de Beauvoir, Naomi Wolf, atau Friedrich Engels untuk menyelesaikan segala keraguan, pencarian, sekaligus pembelajaran tentang keperempuananku–yang malah membuatku semakin kompleks dan ‘kurang perempuan’. Cukup pada mereka, ibu dan para nenek. Mempelajari segala ketabahan dan kesabaran menyesuaikan segalanya. Yeah, maklum sih, manusia makhluk tabularasa, semua itu tentu butuh proses. Meskipun bukan berarti aku akan berhenti dalam satu pemahaman untuk saat ini.

akhir-akhir ini, banyak hal yang akhirnya aku syukuri di hari-hari liburan ini.

#12 (Laut di ranah ekspresi seni)

Kita telah tahu bahwa di dunia ini, peradaban manusia dibagi menjadi dua: peradaban yang berasal dari darat dan juga laut. Peradaban memang selalu lahir dari keduanya. Tapi laut seakan telah jarang kita jangkau. Sore ini, atas info salah satu teman, aku mampir TBY sepulang kerja. Memang ada event Artjog di sana, di mana 158 jenis karya seni kontemporer dipamerkan—dari patung, lukisan, hingga fotografi. Semuanya bertema maritim.

Ketika masuk, sadar ada yang agak mencolok mata. Tembok gedung TBY disulap total dengan dilapisi drum bekas minyak yang di-setting mirip dengan badan kapal. Di halamannya, ada sesuatu yang entah bagaimana, mirip komidi putar yang dipasangai sejumlah boneka dan tetap berputar, rupanya ia diberi judul “Finding Lunang”. Sepertinya judul ini merujuk pada sejarah atau barangkali dongeng tentang penjelajahan. Ada juga tampilan sirip ikan di sisi lain yang seolah sebagian badannya mencebur di laut.

Yang menarik adalah bahwa laut menimbulkan ekspresi yang begitu tak terbatas bagi senimannya. Barangkali juga melahirkan imaji tak terbatas bagi penontonnya. Laut memang bagian dari peradaban. Pameran tahun ini memang sangat keren bagiku. Yeah, sayang ketika aku datang, sudah mepet buka puasa sehingga tak sempat mengamati semuanya satu per satu. Dan sialnya, besok tanggal 20 itu penutupanya. Yah, meskipun sebetulnya ada kesempatan untuk berkunjung lagi sih.

Seni bernapaskan laut seperti tak kan habis ditelusuri batasnya. Laut sebagai peradaban, laut juga sebagai manusia itu sendiri.

–dalam perenungan–

Berguru pada Ranah Baru: Karya Bertema Dunia Persilatan

Sejenak kupandangi kawan-kawan akrabku: buku-buku, yang tertumpuk begitu saja tanpa bisa kubuka-buka satu per satu seperti dulu, sementara kulihat pekerjaan semakin menyita waktu.

Lalu akhirnya kutulis beberapa hal ini:

Pagi ini kusadari, rupanya memang benar kebiasaan membuat skema dan coret-coret intisari buku (atau hasil pemikiran apa pun) berasal dari ayahku. Ayahku mencintai buku-buku sejak muda dulu. Khususnya kisah-kisah dunia persilatan ala Jawa, seperti karya SH Mintardja, penulis serial silat yang mendapat penghargaan Sang Hyang Kamahayanikan Award 2012 kemarin lantaran telah menulis 400 buku yang berdekatan dengan sastra, sejarah, dan budaya negeri.

Penuh semangat, pagi tadi beliau bercerita tentang skema itu—jumlahnya berlembar-lembar sampai bikin mataku melongo, terlebih ketika beliau berencana menjadikannya buku (pantas akhir-akhir ini sering terlihat menyendiri di kamar). Bila soal karya-karya sejenis itu, ayahku hafal betul penokohan, alur, nama-nama jurus, latar peristiwa, sampai keterhubungannya. Memang sih sudah lama juga kuamati beliau cenderung konsisten membaca karya-karya bertema serjenisnya—hanya saja belum pernah punya semacam teman sehobi (anggota keluarga/komunitas) untuk diskusi cerita dari bacaan fovorit yang serupa.

Rencananya buku itu mungkin seperti esai, atau ulasan, aku belum tahu persis. Tapi jarang-jarang bapakku terbuka soal keinginannya. Itulah yang membuatku pagi ini, akhirnya, membuat resolusi dadakan. Sekalipun baru draft nonriil yang nangkring seharian di kepala.

Mencari buku-buku SH Mintardja di era sekarang cukup sulit—sudah menjadi rahasia umum. Padahal sudah coba kucari juga sejak tahun 2010 kemarin. Barangkali sudah langka. Mungkin juga akan repot bila mengumpulkan dari koran karena naskah itu semula serial yang diposting di pojok koran kedaulatan rakyat. Yang punya hanya mereka yang sejak dulu kala cukup memiliki dana untuk mengoleksinya. Itu pun mungkin era sekarang buku-buku itu gak bisa dibeli begitu saja.

Tapi eh.. lagi-lagi alam semesta mendukung mimpi… aku pun akhirnya menemukan beberapa situs di mana naskah-naskah itu bisa di-download.
Rupanya sampai sekarang, para penggemarnya (di mana pun mereka berada) tidak tinggal diam. Buktinya blognya pun bertebaran di dunia maya tak cuma satu saja, pembaca tak perlu pusing memburu buku-bukunya yang langka itu, karena di web sudah ada. Aku juga memasang salah satu linknya di kolom blog tetangga. Barangkali pembaca ingin menengok juga karya-karya SH Mintardja :p. dan sebagai informasi, profil SH Mintardja dapat dilihat di alamat ini

Di samping itu, sepenggal cuplikan cerita yang disampaikan ayahku pun sudah cukup membuatku ikut-ikutan tertarik.

Tiba-tiba aku merasa sedang ditemukan dengan tugas baru yang menguji keprofesionalanku sendiri, yang kurasa merupakan tugas yang sebenarnya. Tanpa ada embel-embel harapan terhadap gaji atau sejenisnya (mengingat sejak kerja, aku sudah tidak minta subsidi lagi, kecuali orang tuaku yang tiba-tiba memberinya). Yeah, tidak lain tidak bukan adalah menjadi editor ayahku sendiri. Editor dalam arti sebenarnya, sesuai standar penerbit konvensional, sekalipun entah akan diajukan kemana atau diterbitkan di mana itu soal nanti. Terdengar hal yang tidak mudah. Tapi di tengah ide besar Ayah, akulah yang paling dekat dengan garis pelaksanaan. Tapi entah, apakah nanti aku mampu…

Ah, omong-omong mengapa bisa aku melulu mengincar alur filsafat di karya-karya barat yang hasil terjemahannya seringkali amburadul itu, sementara di negeri sendiri, ada mahakarya yang isinya gak hanya soal filsafat, tapi juga sejarah, budaya, dan spiritual (lebih luas lagi)… mereka juga patut diperhitungakan. Bagaimana tidak, aku menemukan salah satu penokohan di buku itu—seorang guru (ahli) bisa menyimpan dan menurunkan ilmunya dalam kerendahhatian yang total, namun juga menjadi teror bagi musuh paling ditakuti sekalipun. Keadiluhungan sebuah peradaban yang dikonsep dalam karya bertema dunia persilatan. Seperti di salah satu serial Nagasasra Sabuk Inten… Cuma Indonesia yang punya, orang barat tidak punya. Tapi tetaplah.. demi menambah wawasan, semuanya mesti dibaca, sebab semuanya penting.

Hm, barangkali sudah waktunya aku rehat dari setumpuk buku-buku baru yang kuborong sejak awal tahun lalu, demi membaca juga apa yang pernah dibaca ayahku. Lagipula toh akhir-akhir ini juga sedang gak mud bahas persoalan global terkini dan hal-hal baru yang terjadi belakangan. Selain menyita waktu, kabar-kabar terbaru hanya jadi menguras emosi dan pikiran tanpa kita bisa berbuat apa-apa.

Yuhu, sekilas curhat, sejak dulu aku memang selalu tertarik dengan para orang tua dan sesepuh di berbagai belahan bumi, dengan tradisi mereka akan sastra. Dari nilai-nilai lama yang seakan bertahan itu, aku menemukan apa yang disebut dengan bakat kesabaran, ketekunan, kefokusan, dan kekayaan batin. (Agak sedikit dekat dengan angan-angan pekerjaan baru akhir-akhir ini).

Mengingat bahwa orang Jawa membaca tembang dan sastra ala semiotikanya, orang Bali menulis sastra di daun lontar, orang Gorontalo menulis puisi sastra lisan yang bernama Tanggomo, belum lagi folklor yang bila se-Indonesia dikumpulkan, mungkin bakal setebal 2 kali naskah Centhini (belum tentu cukup), dan masih banyak lagi sampai pikiranku jadi melayang-layang. Masyarakat tradisional kita juga dekat dengan tradisi naskah dan teks (tiba-tiba inget matkul Filologi). Itu artinya, tidak pernah ada zaman yang benar-benar “ketinggalan”. Sekalipun globalisasi berjalan dengan cukup pecicilan. Tapi kearifan dan ajaran moral berdiam dalam setiap sudut bumi dan nyaris bertahan, bukankah begitu…?

Setiap negara punya keunikan. Bila itu pun hanya dipandang dari sudut produksi karya. Serial bergenre dunia persilatan memang hal yang biasa di kalangan sebagian masyarakat, tapi asing di zaman pop terkini. Tradisi membaca adalah tradisi yang sudah ada sejak dulu kala. Orang Jawa misalnya wajar bila rata-rata menyukai dan mengikutinya. Barangkali kecenderungan manusia tertarik pada yang bersambung dan misteri, sehingga harus diikuti.

Seperti para mbah yang mengikuti kisah-kisah wayang, atau anak-anak muda seusia kuliahan yang setia mengikuti serial kartun One Peace setiap Minggu jam 8, dan masih banyak lagi. Budaya mengikuti serial tampaknya memang fenomena unik. Apakah kegiatan itu sia-sia? Belum tentu. Jangan salah pula, orang Jepang maju seperti sekarang juga karena mempercayai dongeng-dongeng dari pujangganya. Sastra dan salah satunya adalah Kinkakuji—berpengaruh besar pada masyarakatnya. Dan masih banyak lagi kebiasaan suku lama sedunia yang tidak jauh dari “terinspirasi karya sastra”.

tapi tunggu, sejauh mana sih sebetulnya kepedulian kita?

Kita mungkin lupa, kita memiliki Tan Malaka yang tulisannya bahkan jadi referensi Lenin di masa kepemimpinannya. Belakangan aku juga menelusuri situs naskah hukum kelautan yang jadi patokan dunia, yang sudah dianggap fenomena mendunia—Juga asli Indinesia. Bila kau cukup mengenal Tan Malaka, Pramoedya, atau Soekarno, atau barangkali Gajahmada di zaman Majapahit… maka bayangkan betapa sebetulnya kita justru tak hanya setara, tapi menjadi ikon yang cukup berwibawa… hanya saja kita berada di zaman yang bukan saat itu. Hanya agak mudah silau saja dengan hal-hal yang jarang dijumpa. Atau memang seperti sedang ada yang hilang dari bangsa kita.. identitas sejatikah?

Sungguh manusia baru bisa disebut setara harga dirinya di mata bangsa lain, kalau mereka bersikap biasa-biasa saja bila melihat bangsa asing berjalan bersandingan. Bagaimana bisa disebut setara, kalau bacaan aja melulu soal terjemahan asing saja? (*tampar diri sendiri). Diam-diam bangsa asing—yang kita bangga bila bisa berfoto bersama itu—juga lagi sibuk mengincar milik kita lho.

Itulah kenapa kurasa, mata kita terlalu banyak tersihir oleh rumput di halaman tetangga, sampai lupa di bawah tanah kita tersimpan emas yang membuat ngiler bangsa tetangga. Sampai di sini, aku mentok untuk lanjut berargumen dulu, sebab lebih butuh membaca daripada menceritakan gambarannya. Sebelum menyelami lebih jauh, amat lucu bila tidak tahu seperti apa isi naskahnya.

Dan kembali ke point awal: demi profesionalitas, aku melangkah untuk menepi dulu di karya fenomenal negeri sendiri. Butuh lebih banyak belajar.

Bismillah.
Doakan saya 🙂

 

Salam dunia persilatan 🙂

gambar diambil dari google image

gambar diambil dari google image

Masjid dan Eksistensi-Nya

Sore ini menjelang Magrib, saya pulang mengajar. Adzan sayup-sayup tertangkap pendengaran sewaktu masih terjebak perjalanan. Begitu indah seperti hari-hari biasanya—apapun suara parau yang menyeru adzan itu. Saya mencari masjid, inginnya melaksanakan salat sebelum ke tepat lain mencari pesanan yang diminta Ibu sebelum berangkat tadi. Sebab memang mengajar di sore hari itu risikonya akan bertemu waktu-waktu mepet dan nanggung.

Tak berapa lama, akhirnya saya menemukan masjib di pinggir jalan. Bangunannya bergaya tua dengan lantai bercorak dan pilar-pilar besar. Dari luar seperti tidak terurus. Tapi itu hanya tampilan luar, sebab setelah memukan mukena di salah satu rak, baunya wangi. Tentunya habis dicuci, berbeda dibanding mukena di musola pusat-pusat perbelanjaan mewah seperti mal, atau tempat umum seperti pom bensin. Berarti masjid ini terawat. Hanya saja saya agak bingung mencari lokasi tempat wudhu muslimah. Ada dua jamaah putri di sana ketika melihat saya masuk. Mereka pakai jilbab besar. Tapi mereka tak beranjak menuju tempat wudhu juga, melainkan masih asyik ngobrol dan salah satunya nyambi menelepon. Mereka juga sempat memandangi saya selayak baru bertemu orang asing. Ah, sekalipun sama-sama sawo matang dan pesek, nyatanya tetap juga dipandangi dengan heran. Barangkali mereka penduduk asli daerah itu yang tak terbiasa menjumpai “pendatang”.

Ini masjid kan? Saya mulai bertanya sedikit bercanda dengan diri sendiri. Tapi mengapa tempatnya begitu membingungkan? Saya juga enggan bertanya karena tak ada yang ditanyai, dua jilbaber tadi itu juga terlihat sibuk, memang sih masih melihatku kadang-kadang, lagi-lagi dengan tatapan heran, dan sebetulnya saya nggak nyaman. Saya merasakan aura yang seperti tidak sreg tiba-tiba saja dan saya tak mengerti. Saya masuk satu-satunya kamar mandi yang terlihat, lokasinya harus melewati sederet keran wudhu. Dan baru tahu bahwa area tersebut untuk jamaah putra. Keluar dari kamar mandi, seorang jamaah putra berjalan menuju ke arah saya dan saya terperanjat. Bersamaan dengan terdengarnya sayup-sayup suara perempuan tertawa di balik tembok. Maka langsung aku meninggalkan lokasi itu dan baru sadar di samping persis ada pintu berwarna tembok yang ternyata lokasi tepat untuk wudhu jamaah putri. Dua jilbaber itu di dalam. Enggan bertanya memang bikin tersesat yah.

“Oh, di sini ya tempat wudhu wanitanya ya Mbak, tak kira tadi di sana.” Saya bermaksud menyapa.
Tapi sialnya, dua jilbaber itu hanya diam saja, saling pandang dan kemudian terkikik. Entah apa maksudnya. Nggak tahu apa yang mereka tertawakan, tapi saya jadi agak janggal.
Mud keramahan saya hilang. Ssegera saya berwudhu dan menuju ke dalam. Saya jadi berpikir buruk, mengapa bila tadi mereka tahu saya salah masuk, mereka diam saja?

Ini masjid kan? Mengapa suasananya tidak lebih damai dibanding mengunjungi tempat ibadah agama lain? Tapi baiklah. Tidak hanya ini yang tiba-tiba membuat saya hilang mud. Saya salat di tempat yang tepat, tapi tidak membuat saya salat dengan perasaan nyaman. Memang saya jarang di masjid sehingga tak terlalu hafal suasannya. Atau ini hanya terjadi di masjid yang pengunjungnya bukan penduduk asli? Entalah.

Entah bagaimana perasaan nggak nyaman ini terjadi. Bukan berarti selalu seperti ini. Nuansa yang berbeda toh selalu saya temukan di masjid lain bila harus salat di perjalanan. Kebanyakan tetap berkondisi nyaman. Kebanyakan tidak sejanggal ini. Bagaimana pun tempat ibadah juga berpengaruh dalam proses kekhusyukan lho.

Inilah yang sering saya sebut dengan: beragama memang membawa tanggung jawab besar secara universal, jalani pilihan dan keyakian tanpa perasaan tertekan dan terpaksa, dan terpenting nomor dua: minimal jangan sampai kau membuat jamaah lain merasa tak nyaman dan terancam.

Ah sudahlah, kadang kita toh mesti maklum dengan yang namanya khilaf atau kecenderungan manusia yang kadang-kadang ingin iseng.

Tapi masjid ini, memang benar-benar sepi. Jamaah wanitanya hanya tiga orang sampai menjelang iqamah. Menuju space jamaah putri, dua jilbaber tadi memandangi saya, satu orang senyum, tapi saya memutuskan untuk tidak menanggapi mereka dan fokus memakai mukena. Mereka lantas saling pandang lagi dan cekikikan. Ketika imam mengucap takbir memulai salat, kedua jilbaber besar tadi malah masih jalan-jalan, ngobrol dan cengengesan lagi sebelum akhirnya menjejeriku mengikuti salat berjamaah. Sebetulnya tidak baik bila menjelang ibadah ada perasaan dongkol dan nggak konsen seperti ini. Tapi biarlah. Manusiawi kan.

Kejadian singkat ini pun akhirnya membuat saya berpikir sepanjang jalan sampai ke supermarket, mungkin nuansa sejenis itu yang membuat beberapa teman mengatakan bahwa mereka lebih mendapatkan nuansa spiritualitas dan kedamaian ketika nongkrong di tempat ibadah agama lain atau di tempat selain masjid. Meskipun latar belakang curahan hatinya macam-macam. Ada yang karena sempat punya sejarah kehilangan sandal ketika salat. Saya pun pernah menemukan masjid kampung yang ketika malam, dipakai main kartu, atau kadang ada yang muda-mudinya yang pacaran.

Atau memang karena sunguh demikian. Barangkali zaman sedang mengalami anomali mengenai pengertian masjid, atau masjid yang sedang mendapatkan zaman di mana manusianya tak menempatkan fungsi sebagaimana mestinya. Saya tak persis tahu. Meskipun alangkah lebih baiknya, masjid difungsikan secara lebih indah, semaksimal mungkin, setotal makna dan keberadaannya.

Tapi di sisi lain, saya hanya yakin satu hal, berdoa dan berbicara kepada Tuhan dengan dekat tidak harus di masjid. Masjid itu ya di sini, bumi kita, semesta kita. Mengapa? Sebab eksistensi Tuhan jauh lebih maha besar daripada simbol-simbol bangunan semacam masjid. Ibadah lebih luas maknanya daripada sekedar ritual. Mestinya ritual kita berpengaruh dalam kehidupan sehari-hari. Menurutku itu yang lebih penting. Engkau pun boleh setuju ataupun tidak.

Toh bagi saya, Tuhan itu di mana pun saya berada. Di masjid, di rumah, di goa, di kantor, di hutan, di dalam kesunyian, dalam kebahagiaan, dalam kedukaan, atau bahkan ketika tidur. Maka keberadaan-Nya memang tidak dapat dikalahkan oleh bangunan semacam masjid, kuil, gereja, wihara, nggak kalah juga oleh institusi buatan manusia. Tuhan ada di hati mereka yang merindukan kedamaian bukan? Seperti kedamaian setiap sunyi yang sering kali kita lalui.

Bagaimana denganmu?