Resensi Novel Angela

DSCN3952

Judul : Angela, Semoga Waktu Tak Hapuskan Ingatanku Tentangmu
Penulis : Hardy Zhu
Penerbit : deTeens
Tahun Terbit : September 2014
Cetakan : Pertama
Editor : ItaNov_
ISBN: 9786022790594
hlm: 173

 

Seperti judulnya, novel ini bercerita tentang Angela, mahasiswi semester awal di sebuah universitas ternama di Unida. Acara reuni SMP yang ia datanginya bersama Gifty, sahabat kentalnya, mampu mengubah hidupnya. Ia bertemu dengan Sandy di acara tersebut. Yang membuatnya terkejut adalah penampilan Sandy sekarang yang sudah berbeda dari ketika masih SMP. Bila dulu ia tipis dan hitam seperti tripleks (halaman 19) :D, kini menjelma jadi cowok tampan yang membuat para cewek meliriknya. Terlebih ia telah sukses dengan bisnisnya.  Sandy begitu baik dan perhatian, bahkan sejak masih sama-sama di bangku SMP sikapnya tak berubah, alias selalu “tersedia” untuk Angela. Apalagi Gifty, salah satu orang yang tahu bahwa Sandy menyukainya, selalu mendukung mereka supaya jadian.

Di sisi lain, Angela malah sedang terpesona akut dengan penulis teenlit favoritnya, Azka. Berawal dari tak sengaja ia mengambil novel tersebut dari rak buku karena buru-buru ke kampus, tahunya ia jadi ngefans. Berkali-kali ia mencoba berinteraksi dan menarik perhatian si penulis dengan mention-mentionan di Twitter. Tentu saja berkah baginya ketika berhasil bertemu dengan si penulis, bahkan sempat diminta untuk menemaninya riset novel berikutnya ketika si penulis datang ke kotanya. Namun sial karena Sandy selalu punya alasan untuk menggagalkan pertemuan mereka. Baik dengan cara paling sederhana sampai paling ekstreem. Namun pada akhirnya terungkap alasan mengapa semua hal ini terjadi.

Belum sempat novel ini didaftarkan di currently-reading atau to read di akun Goodreads saya, ia sudah selesai terbaca karena saking asyiknya menikmati jalan cerita aja. Saya memang bukan penggemar teelit selama 8 tahunan ini. Tepatnya sejak tahu semakin lama teenlit, terutama yang bernuansa romansemakin tidak jelas bentuk dan arahnya, telebih setelah kecampuran film sinteron dan film televisi dengan persoalan yang cenderung kurang dekat dengan remaja bahkan jarang mengandung bobot untuk dibaca semua kalangan dan menghibur meski tetap santun. Tapi sekian lama saya menghindari jenis teenlit, kecuali demi pekerjaan, saya kok merasa seperti menemukan teenlit yang kembali menemukan celah seperti semula ketika membaca novel Angela ini. Memang idenya sederhana dan bukan tidak pernah diangkat. Hanya saja unsur meremaja, kepolosan, kelucuan, diksi, kelogisan cerita hingga gaya bahasa dan alur yang lincah terbaca dari novel ini, yang membuatnya berbeda dengan teenlit era kini. Terlebih banyak teenlit yang isinya seperti mengampanyekan kehidupan hedonis yang justru mengkhawatirkan ketimbang menginspirasi. Tapi denger-denger kondisi itu tak berlangsung lama dengan maraknya renovasi teenlit, yang menghadirkan kisah remaja yang tidak klise dan pesan moral yang baik dari sana serta sudah digarap lebih serius, sehingga bila ke toko buku untuk membelinya, kita mesti selektif menemukan jenis yang ‘serius’ itu.

Teenlit memang tidak melulu mengeksplore gaya hidup remaja yang sarat pacaran dan hura-hura. Justru bila dikemas dengan tepat, teenleit sebagai jembatan mereka, khususnya remaja, yang tidak suka baca menuju terbuka dengan bacaan.

Seperti pada konsep novel Angela, yang meskipun tema adalah cinta dan persahabatan. Pembaca akan menemukan sendiri bagaimana kedua hal itu hadir dengan caranya sendiri di kehidupan remaja juga tentang bagaimana menyesaikan konflik-konflik ala remaja. Sejak saya membaca serial Lupus, Olga, Princes Diary, Dialova, More Than Love (yang malah nggak bisa dibilang teenlit meski tokohnya remaja SMA), kemudian fakum selama 8 tahunan, dan mesti baca lagi sejak 2012 untuk berbagai alasan. Meskipun sudah terlalu dewasa untuk membaca teenlit, saya nggak nyesel baca Angela.

Kelebihan lain dari novel ini adalah tidak ada unsur pergaulan bebas di mana ciuman, pelukan, dan sebagainya menjadi kewajaran seperti teenlit kebanyakan. Gaya bahasanya sederhana dan mudah dimengerti, juga menggunakan aku-kamu yang sesuai setting lokasi, sebagai sikap menentang kebiasaan teenlit harus “lo-gue”, yang semestinya lebih cocok dengan pergaulan ala Jakarta-Betawi. Novel ini juga lebih banyak menggambarkan hubungan persahabatan, kegelisahan ala remaja ketika masuk pada level ngefans terhadap sesuatu, juga tentang pekerjaan partime beserta segala persoalan yang dekat dengan remaja.

Settingnya dijabarkan cukup baik, dengan gambaran suasana dan juga detail melalui sudut pandang Angel terhadap hal-hal yang dihadapnya.

Kekurangannya? Tentu ada. Namun hanya sedikti saja, misal tokoh Angel sebagai sentral lengkap dengan ciri khas fisik, cara berpikir, hingga kesukannya, membuat jalan ceritanya hanya tentang sisi Angela. Sehingga tokoh-tokoh lain seperti Gifty agak terpinggir, Sandy, dan juga Azka (si penulis) kurang tereksplore. Selain itu endingnya juga terlalu cepat juga agak bisa ditebak ^^, mestinya novel ini dapat digarap lebih baik lagi tanpa dibatasi jumlah halamannya. Tapi tak mengapa, menurut saya Angela sudah tampil dengan oke. Juga cover yang cukup mudah menarik perhatian dengan warna pink tua serta memiliki ukuran font yang nyaman dibaca. Tapi sepertinya mesti hati-hati dengan bagian buku yang dijilid, sebab dua lembar terakhir buku ini tiba-tiba lepas, hehe. Tapi tenang saja, sudah saya lem lagi:p

Teenlit yang memang disajikan sebagai cermin kehidupan perkotaan ini memang tentang remaja, tapi bisa dibaca kalangan dewasa muda kok. Untuk para remaja, ini recommended deh;)

Iklan

Perempuan di tengah Perang: Silent Honor, Putri dari Timur

DSCN3911

Judul: Silent Honor, Putri dari Timur
Penulis: Danielle Steel
Genre: Romance, Historical Fiction
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2004  (catakan kedua)
Jumlah halaman: 333

Shikata ga nai, yang terjadi terjadilah–168

Sudah kali kedua saya baca sejak novel ini dipinjami seorang sahabat tahun 2010 lalu. Pertama hanya saya baca sebagai selingan. Yang kedua ketika benar saya selami, rupanya ada banyak hal menarik di novel ini dan rasanya perlu dibuat review.

Novel ini bercerita tentang dua generasi. Cerita dibuka dengan pertemuan Masao dan Hademi yang dijodohkan seperti tradisi Jepang kuno pada tahun 20-an akhir. Masao berpikiran moderat, sedangkan Hademi seperti halnya wanita Jepang kebanyakan di zaman itu, konservatif, patuh dan santun. Ia bahkan tak berani menatap mata Masao sebelum menikah. Ada begitu banyak perbedaan di antaranya, namun itu tak menghalangi perasaan keduanya yang saling jatuh cinta. Meski sulit bagi Masao mengajarkan kemodernan dan kesetaraan kepada istrinya, namun Hademi tetap menghormati dan mengagumi suaminya. Meski senantiasa menyimak pemikiran Masao, ia tak  terlalu setuju dengan ide-ide itu. Konflik perbedaan itu terlihat seperti ketika Hademi merahasiakan seraya membebat perut hamilnya sampai benar-benar kelihatan pada waktunya. Di samping itu ia juga ingin melahirkan di rumah ditemani ibu dan saudaranya dan berharap melahirkan anak laki-laki, sedangkan Masao bersikeras membawanya ke rumah sakit karena ia begitu takut kehilangan Hademi dan anak mereka. Sebagai pria modern, beberapa tindakan Masao mengejutkan Hademi, seperti membantu pekerjaan domestik, menemaninya melahirkan, dan menginginkan anak perempuan.

Dan ambisi itulah yang membawa kisah mengarah pada Hiroko, tokoh utama dalam novel ini.

Tidak seperti bayangan Masao, Hiroko rupanya tumbuh seperti replika ibunya, bahkan lebih pemalu dan rapuh. Tidak seperti Yuri adik lelakinya yang mirip Masao. Hiroko terdidik dengan cara tradisonal dan selama 7 tahun, Masao dan Hidemi terus bertengkar tentang pendidikan anak-anaknya. Kedua pandangan yang berseberangan itu membuat jarak yang aneh. Sang ayah yang keukeuh, dan pada akhirnya ibunya yang demi tradisi tetap tunduk pada keputusan suami, lalu melepaskan Hiroko pergi. Hiroko pun patuh dan pergi demi menghormati sag ayah yang bahkan sudah menabung untuk mengirimnya ke Amerika, meskipun itu membuatnya merasa tercerabut dari kehidupannya yang sesunguhnya. Ia telah mencintai Jepang seperti bagian jiwanya. Tapi ia juga menghormati ayahnya.

Di sana, ia dititipkan oleh keluarga Tanaka yang masih kerabat. Keluarga Tanaka, yaitu Takeo dan Reiko, besikap baik padanya meski mereka sepenuhnya orang Amerika secara hukum, gaya hidup, dan kejiwaan.  Hiroko menjalani sekolah dan tinggal di asrama. Dari sana, kehidupan Hiroko yang sulit dimulai. Ia tak diterima di lingkungannya. Salah satu teman sekamarnya pun hanya ramah ketika di kamar, dan cuek ketika di luar. Yang satunya lagi bahkan bersikap dingin. Secara keseluruhan, warga ‘Barat’ termasuk Amerika bersikap deskriminatif terhadap bangsa kulit berwarna. Saat itu, bahkan orang Jepang ataupun setiap orang yang berasal dari “Timur” dipandang rendah dan mirip bangsa budak. Tak terkecuali Hiroko yang akhirnya lebih banyak di-bully teman-temannya dan tak diterima di lingkungan mereka. Kehidupan di sana ternyata tidak seperti harapannya. Dan moment di-bully dan tak diterima oleh semua teman sekampusnya itu cukup membuat saya ikut hanyut.

Dalam kesedihan dan keterasingannya itu, ia bertemu dengan Peter Jenkins, salah satu sahabat Takeo yang bekerja di sebuah universitas. Peter adalah orang yang mengagumi kebudayaan Jepang dan juga mencintai Hiroko sejak pertama mengenal. Kepribadian Hiroko yang rapuh membuat Peter ingin selalu mengasihi dan melindunginya. Peter-lah yang akhirnya mampu mengisi kekosonganya. Namun Tidak mudah bagi mereka bersama karena perbedaan-perbedaan itu. Terlebih sikap Hiroko yang amat pemalu, hati-hati, dan taat tradisi. Peter berumur jauh lebih tua dari Hiroko. Barangkali kedewasaan sekaligus kebosanannya terhadap perempuan modern Amerika itulah yang membuatnya ingin menghabiskan usia bersama Hiroko. Percintaan mereka mengalir lembut namun membara. Mereka bahkan sempat menyusun impian bersama dan memiliki banyak anak bila kelak dapat menikah. Namun permasalahan politik harus memisahkan mereka sebelum mimpi itu terwujud.

Tatkala Pearl Herbour diserang Jepang pada tahun 1941, posisi warga Jepang semakin terpojok. Penyerangan itu membuat warga Amerika, temasuk Kalifornia marah. Mereka melampiaskan kemarahan kepada siapa pun yang berwajah Jepang. Termasuk Hiroko yang menjadi sasaran anarkisme siswa di sekolahnya. Situasi semakin sulit. Hingga pada akhirnya masyarakat yang dinilai “Jepang” dipaksa meninggalkan tempat tinggalnya dan harus mengungsi dari kamp pengasingan satu ke kamp pengungsian yang lain. Keluarga Tanaka yang setia dengan Amerika merasa ditolak oleh negaranya sendiri. Bersama Hiroko mereka harus menjalani hari-hari berat sebagai “warga musuh”. Hiroko yang baru saja menjalin hubungan dengan Peter pun harus terpisah jarak dan waktu. Sementara Peter justru ditugaskan bergabung dengan militer untuk menyerang Jepang.

Namun dalam kondisi sulit itu, Hiroko mampu menjalani pengasingannya dan bertahan hidup. Ia sempat turut membersihkan kandang kuda yang dijadikan kamp hingga membantu di klinik darurat ketika wabah menyerang, hingga kehilangn orang-orang yang dicintai yang pergi ke medan perang. Lebih buruk lagi, kewarganegaannya yang masih Jepang membuatnya menghadapi introgasi dan intimidasi dari militer. Meski demikian, Hiroko selalu berusaha bertahan hidup dan bahkan tidak segan untuk barakhir asal itu demi kehormatan keluarga dan martabatnya. Namun rupanya kehidupan di kamp memang cukup berat untuk dijalani, terlebih bila harus berdampingan dengan segala kesedihan dan duka.

Namun, apakah Hiroko pada akhirnya dapat bersama lagi dengan keluarganya di Jepang, dan juga Peter?

Novel Danielle Steel yang satu ini kaya dengan detail suasana pada saat Perang Dunia II dan berbagai sejarah yang mengikutinya, seperti kondisi politik dunia, kemanusiaan, dan juga cinta yang saling menguatkan. Bobot yang dilengkapkan dalam novel ini, membuatnya tak sekadar romance biasa. Kelihaian Daniel mendeskripsikan adegan dan peristiwa sering kali bikin saya nahan napas, sedih tiba-tiba, dan sekaligus penasaran karena twist-twist yang ditampilkan cukup mengejutkan. Juga tentang persahabatan yang tiba-tiba lahir karena peperangan. Di mana pun perang memang bisa merusak hubungan antarmanusia yang beragam, namun novel ini menceritakan secara tersirat bahwa di dalam kondisi tergelap pun akan tetap ada celah cahaya yang akan ditemui oleh orang-orang yang tak berputus asa.

Diwarnai dengan ketegangan yang mengalir halus dan manis, novel ini memang memiliki kemampuan untuk menarik pembaca terus mengetahui kelanjutan ceritanya sampai selesai. Hanya sayang porsi endingnya dituturkan lebih singkat ketimbang bab-bab sebelumnya. Namun itu tidak terlalu mempengaruhi bobot cerita.

Buku Danielle Steel pertama yang saya baca bersjudul Now and Forever tahun 2005 lalu, setelah saya baca Silent Honor, Putri dari Timur, saya merasa kelak mesti baca buku-buku Danielle yang lainnya. 🙂

Resensi Novel: The Dancer (Mimpi di Ujung Selendang Merah Muda)

novel The Dancer (Mimpi di Ujung Selendang Merah Muda)

Judul:  The Dancer (Mimpi di Ujung Selendang Merah Muda)
Penulis:  Arthasalina
Penerbit: Mazola
Rilis:   September 2014
ISBN : 139786022960225
Jumlah halaman:  235
Genre: Fiksi

Banyak yang bilang keadaan hatiku bisa dilihat dari bagaimana aku menari. Katanya lebih jujur daripada mendengar jawaban dari mulut. Mungkin aku memang ditakdirkan untuk terjun ke sini, menari bersama hidup. Bukan hidup bersama tarian–Ajeng (halaman 155-156)

Menjadi penari tradisonal di zaman yang sudah modern seperti sekarang rupanya tidak mudah. Terlebih bila telah terlanjur meraih gelar sarjana kedokteran kemudian dihadapkan dengan dua pilihan. Tetap menjadi penari sesuai impian atau melanjutkan koas untuk menjadi dokter, seperti harapan ayahnya. Hal rumit itulah yang diadapi oleh Ajeng. Sejak ibunya meninggal karena kanker, ia memutuskan mengikuti kata hatinya untuk menjadi penari. Yang berarti ia juga menetang ayahnya. Baginya menjadi penari seperti menghadirkan kembali sosok ibunya yang juga sama-sama penari. Tidak mudah menjalani pilihan itu. Di samping ayahnya yang menolak keras pilihan itu karena berambisi anak-anaknya bisa menjadi dokter.

Menjadi penari adalah profesi yang kurang bergengsi bagi masyarakat pada umumnya. Terlebih profesi tersebut masih dipandang sebelah mata. Namun Arthasalina, penulis novel ini, seperti menceritakan pada kita bahwa tidak sekedar menghibur saja tujuan seorang penari, melainkan ada misi melestarian budaya dalam proses itu.

Meski halangan dan rintangan terjadi, Ajeng bertekad kuat berada di jalan itu. Ia juga mengikuti berbagai lomba dan pementasan, bahkan sempat menjadi penari sintren, seenis tarian tradisional yang melibatkan roh. Di tengah-tengah kesibukannya meniti karier di bidang menari, ia pun berusaha memajukan sanggar tari milik ibunya yang sudah lama tidur. Belum lagi ketika ia dihadapkan dengan rahasia besar yang akhirnya terkuak dan mengharuskan ia harus menentukan sesuatu yang berhubungan dengan masa lalu ayahnya. Yang juga berkorelasi dengan seorang tokoh di novel tersebut yang berjasa dalam perjalanan kariernya.

Adapun Deden, adalah salah satu mahasiswa Teknik Mesin yang memutuskan mengambil cuti dan datang ke Jawa (Jogja-Solo) untuk mencari pengalaman secara praktik, di samping merasa suntuk dengan kehidupan kota. Ia adalah orang yang semula menolak hal-hal yang berhubungan dengan budaya, bahkan tidak suka dengan pertunjukan tari. Namun, perjalanannya ke Jogja-Solo membuatnya jatuh cinta dengan Jawa dan orang-orangnya. Cara pandangnya mulai berubah sejak perkenalannya dengan Ajeng dan pertemuannya secara tidak sengaja. Deden yang berasal dari tradisi yang lebih metropolitan pun mengagumi sifat santun Ajeng juga. Kehadiran Ajeng sedikit banyak mengubah sikap Deden.

Bukan masalah orang jawa atau bukan, Mas. Sebenarnya masalah kebiasaan. Saya yakin adat mana pun juga mengajarkan hal yang sama. Mungkin kebiasan yang ada di lingkungan sekitar kita yang mengubahnya.”–Ajeng (halaman 59)

“Orang Jawa atau bukan, yang membuat kesan sopan dan punya tata krama itu perilakuknya”-Ajeng (halaman 60)

Deden nyaris tak pernah menemukan perempuan seunik Ajeng. Di sisi lain, Ajeng pun nyaman dengan kebersamaan mereka. Namun, sebelum mereka sama-sama saling tahu perasaan masing-masing, Deden keburu pindah lagi ke Bandung karena cuti kuliahnya habis. Selama setahun mereka tak bertemu bahkan tak terhubung melalui ponsel. Selama itu Ajeng yang bergelut dengan karier menarinya, sedangkan Deden sibuk dengan kelulusan dan pekerjaan barunya. Apakah kelak mereka bersama, atau Ajeng lebih memilih Andi, teman seprofesi denganya di dunia tari?

“Pria dewasa itu menentukan pilihan, sebatas memlilih ketentuan bukan karakter pria.” (halaman 56) demikian yang Deden ingat dari pertemuannya dengan Ajeng.

Novel The Dancer (Mimpi di Ujung Selendang Merah Muda) diakhiri dengan ending yang manis dan membuat saya tersenyum. Memang pembaca mungkin akan mudah menebaknya dari awal. Sisi menariknya adalah banyak pesan penting yang dapat ditemukan di dalam dialog-dialog tokohnya yang sarat dengan pengetahuan seputar local wisdom.

Novel ini menceritakan perjuangan mempertahankan pilihan dan tentang usaha yang tidak kenal lelah. Diceritakan dalam sudut padang orang pertama yang terdiri dari dua tokoh, yaitu Ajeng sebagai tokoh sentral dan Deden sebagai tokoh pendukung. Keduanya memiiki karakter yang berbeda. Ditunjukkan dengan Pov Ajeng yang menggunakan gaya bahasa “aku-kamu”, sedangkan Deden menggunakan” lo-gue”, menunjukkan perbedaan tradisi dan karakternya juga. Setting tempat ini adalah Semarang, Solo, Bandung, meskipun ada lokasi-lokasi lain, dan rata-rata tidak dideskripsikan secara lebih lengkap.

Keberhasilan novel ini terletak pada jalan ceritanya yang runut dan ide cerita yang membuat penasaran, juga pesan-pesan yang disertakan dalam dialog tokoh-tokohnya. Gaya bahasa dituturkan dengan ringan dan mudah dipahami. Dilengkapi pula beberapa footnote untuk memperkaya pengetahuan kita terhadap bahasa daerah. Terutama Jawa dan Sunda. Di samping itu, secara samar, penulis juga memperkenalkan budaya yang yang berasal dari nenek moyang sehingga tersampaikan misi penulis memperkenalkan budayanya, terutama tradisi tari. Seperti halanya cara Ajeng memperkenalkan keramahtamahan orang jawa terhadap Deden.

Cover buku ini sudah sesuai dengan tema dan judulnya, The Dancer (Mimpi di Ujung Selendang Merah Muda) meskipun sepertinya tidak akan ada masalah bila judul tersebut tidak menggunakan bahasa Inggris, mengingat novel tersebut, lebih sering menampilkan sisi kedaerahan dan ke-Indonesia-an. Di samping itu, saya pribadi barangkali agak merasa mengganjal dengan hal-hal yang kebetulannya agak dipaksakan. Seperti ketika secara tidak sengaja, Deden bertemu istri seorang teman di sebuah terminal bus, apalagi ia belum mengenal si istri temannya itu sebelumnya. Atau secara kebetulan ia bertabrakan dengan Ajeng di daerah ladang lereng gunung yang rata-rata luas dan masih “alas”. Yeah, meskipun dalam hidup ini hal-hal yang kebetulan bukan sesuatu yang mustahil, tapi alangkah baiknya dikondisikan selogis mungkin. Selain itu, sejak awal perkenalan, Deden terlalu beranggapan bahwa orang Jawa selalu indah, santun, suka gotong royong, dan wanitanya feminin. Padahal stereotype orang Jawa nggak selalu begitu. Terlebih di era sekarang. Bukankah demikian?

Penokohan Ajeng dan Deden yang berbeda karakter sudah cukup pas digambarkan sebagai tokoh utama dan bagian dari tema novel. Hanya saja konstruksi karakter sang ayah kurang begitu konsisten sebab di awal ia digambarkan sebagai sosok yang membenci dunia tari. Terlihat dari keukeuhnya ia menyuruh Ajeng melanjutkan koas dan melarangnya menari, namun ibu Ajeng sendiri adalah penari. Belum lagi masa lalunya yang menunjukkan bahwa penokohan sang ayah kurang sesuai sebagai sosok yang menentang profesi penari. Atau kalaupun iya, kurang diberi penjelasan.

Di samping itu, alur terasa agak tergesa dan oleh karenanya banyak detail yang kurang mendapat perhatian penulis dalam hal dialog dan penuturan, seperti pada halaman 30 di mana Mak Atun, mengatakan “wis tuwo” untuk menyebut nenek Ajeng, sebab dalam Jawa puya tingkatan bahasa, akan lebih tepat bila disebut dengan “sampun sepuh“. Selain itu penggambaran setting tampaknya perlu disempurnakan lagi dengan detail dan ciri khas, sebab meski sempat disebutkan nama-nama lokasi, seperti Sleman, namun belum kentara andaikata nama daerahnya diubah menjadi Kebumen atau Padang, misalnya. Lagipula (merujuk pada halaman 213) makanan jenis batagor tidak hanya ada di Bandung, Solo pun ada.

Namun tidak mengapa. Barangkali memang bukan pada deskripsi setting,dan detail masyarakat secara kebudayaan yang istimewa dari novel ini. Sesuai dengan konsep awalnya, novel ini sudah menggambarkan cerita hidup orang-orang yang bergulat dengan profesinya, yang tentunya tidak lepas dari kehidupan pribadi yang juga cukup berliku. Seperti halnya seorang penari. Sekalipun seorang penari dapat tampil total dan tersenyum tanpa beban di atas pentas, mereka juga tetap manusia biasa di balik panggung. Selebihnya tidak banyak kesalahan tata bahasa, typo, dan ejaan di sana, pun sudah lumayan penataan marginnya.

Novel ini direkomendasikan suntuk pembaca dewasa muda yang sedang mempertahankan pekerjaan sejatinya.

Resensi: Le Mannequin (Hatiku Tidak Ada di Paris)

DSCN3645

Judul : Le Mannequin, Hatiku Tidak Ada di Paris
Penulis : Mini GK
Penerbit : Diva Press
Genre : Chick Lit
Tahun Terbit : 2014
Editor : Ratna Mariastuti
ISBN : 978-602-255-588-9
Harga : Rp48.000,-

Hal yang menyedihkan tentang cinta adalah jika kamu telah bertemu seseorang yang berarti buat kamu tapi pada akhirnya kalian tidak dapat bersatu... –318

Tidak seperti bayangan awal saya ketika melihat cover depan. Membaca fragmen pertama novel ini memang seperti berjalan-jalan sebentar di tengah Kota Paris yang romantis dan nyeni, namun melanjutkan membacanya, saya banyak menemukan local wisdom ala Indonesia, berada di Indonesia, dan menyimak orang-orang yang hidup di Indonesia. Sekaligus juga menelusuri suasana ala Gunung Kidul dengan keindahan alamnya.

Le Mannequin (Hatiku Tidak Ada di Paris) bercerita tentang seorang gadis bernama Sekar Purnomo, yang meski lahir dan tinggal di wilayahpedesaan Gunung Kidul, tetapi memiliki mimpi besar menjadi desainer ternama. Terbatasnya ekonomi keluarga, ia tak berkesempatan menempuh pendidikan yang tinggi. Bermodal kepercayaan diri dan cita-cita, ia pun memutuskan hijrah ke Jakarta dan bekerja di perusahaan garmen. Candra Kusuma, satu-satunya sahabatnya, berusaha menahannya. Candra adalah sahabat masa kecilnya. Mereka tumbuh bersama namun memiki impian yang berbeda. Sekar yang ingin mendunia, sedang Candra hanya ingin memajukan desanya. Namun, keduanya selalu saling ada. Kebersamaan hinga dewasa mampu menumbuhkan benih cinta di hati Candra yang akhirnya ia simpan dalam-dalam. Mau tak mau, ia pun merelakannya pergi jauh ke Jakarta untuk waktu yang lama. Meski berat pula bagi Sekar meninggalkan orang tua dan sahabat yang selalu memberinya nasihat dan dukungan itu.

Sekar datang ke Jakarta dengan tanpa pengetahuan apa pun tentang kota tersebut. Lukman, pria yang tak sengaja ditemuinya di kereta inilah yang kelak membantu segala keperluan dan akhirnya menjadi kekasihnya. Tahun-tahun berlalu, membawa Sekar menemukan kesempatan di bidang yang dia impikan, menjadi desainer di butik Pavo milik Madame Diamanta. Ia bermetamorfosa menjadi gadis yang berpenampilan menawan dan memiiki karier yang gemilang. Daya kreatif dan kerja kerasnya sedikit banyak berpengaruh pada kemajuan butik. Sementara hubungnnya dengan Lukman yang sudah hampir 2 tahun belum menemukan titik jawaban. Malah cobaan demi cobaan mendera dengan hadirnya Sabinta dan isu perjodohan yang digadang-gadang orang tua Lukman. Membuat saya ikut gemas.

Di sisi lain, ia pun bertemu dengan Yasak, anak sulung Diamanta yang jatuh cinta padanya pada pandangan pertama. Namun pertemuannya barangkali kurang tepat sebab Sekar tengah diliputi kegalauan. Meski demikian, Yasak selalu ada untuknya, terutama ketika melewati berbagai kesulitan termasuk menghadapi teror Gita, salah satu karyawan Pavo yang menyimpan dengki kepadanya. Gita ini menurut saya mirip tokoh antagonis sinteron.

Cobaan Sekar tak berhenti sampai di sana. Hubungannya dengan Lukman kandas lantaran pria tersebut memilih menikahi Sabinta. Mimpinya terancam retak dengan kabar itu hingga akhirnya ia memutuskan untuk resign dan pulang kampung. Tentu saja Yasak dan Diamanta tidak sependapat, terlebih mereka memahami mimpi besar Sekar yang tinggal selangkah lagi. Hingga akhirnya, Sekar mengambil cuti untuk memikirkan kembali keputusannya sambil pulang ke Gunung Kidul. Kembali ke kampung halaman mampu mengobati luka hatinya, meski bayangan Lukman masih ada di benaknya. Pertemuan kembali dengan sahabat masa kecilnya dan tawaran Diamanta mengikuti fashion week di Perancis cukup mengembalikan kebahagiaannya. Terlebih pada saat yang sama ia pun tahu alasan Candra selama ini menunggunya.

Namun meski cita-cita sudah di depan mata dan kondisi mengikatnya pada jalan yang harus ditempuh, ia tetap harus menentukan dengan siapa ia akan menyandarkan hatinya. Kakak beradik Yasak dan Demian yang romantis dan sama-sama mencintainya, Candra yang telah mengenalnya sejak kecil, atau Lukman yang kembali mencarinya karena menyesali keputusannya menikahi Sabinta?

Nggak kebayang ribetnya kan, sebab satu aja repot, apalagi 4, :))).

Novel ini memiliki alur mau dan mundur. Akhir dari kisah ini mengalir manis dan menyajikan ending yang cukup mendebarkan. Seperti kata Pak Ahmad Tohari dalam endorsement-nya, bahwa karya Mini GK ini memang mengesankan. Tentunya Mini GK telah berpengalaman menulis kisah romance setelah sebelumnya menerbitkan dua novel berjudul Abnormal dan Stand by Me.

Novel Le Mannequin (Hatiku Tidak Ada di Paris) disajikan dengan tema cinta dan perjuangan hidup yang mengalir dengan ringan. Adapun deskripsi latar yang detail, diksi yang enak dibaca, nilai-nilai kesederhanaan, juga pesan moral dan mitos-mitos yang bertabaran menjadi kelebihan novel ini. Cara Mbak Mini GK menceritakan keindahan alam Guning Kidul tak kalah menarik. Tak lupa ia memadukan nilai-nilai keluhuran asli Indonesia, ibarat long dress bergaya modern dengan sentuhan batik.

Kesukaan Sekar terhadap sepasang boneka mannequin yang disebutkan beberapa kali di dalam novel membuatnya tidak lepas dari judul yang dipilih. Mbak Mini tak kehilangan ketahanannya memperkenalkan hal yang baru namun beridentitas dalam karyanya yang satu ini. Tidak hanya itu, novel ini pun dilengkapi dengan cerita dongeng Sam Pek Eng Tay. Boleh jadi novel ini memiliki napas yang berbeda meskipun dari segi cerita sebetulnya umum. Kisah gadis desa yang berjuang ke kota, ditinggal nikah sama pacar, dan kebimbangan di antara banyak pilihan adalah tema yang klise.

Tentu saja tidak ada karya yang sempurna. Masih banyak hal yang sepertinya dapat diperbaiki dalam novel ini.

Misalnya, pada bagian pertemuan dengan Demian di pembukaan novel terkesan agak instan. Kalau saya jadi Sekar,
barangkali butuh pertemanan tahun kedua untuk mau difoto menggunakan kamera pribadinya, hehe. Di samping itu, banyak hal yang kerap dihadirkan Mbak Mini GK dalam novel ini tentang kebetulan-kebetulan yang kurang masuk akal. Jakarta, Bandung, dan Paris seolah dihadirkan sebagai kota kecil di mana kita akan sering ketemu tetangga kita yang itu-itu aja. Lalu bagaimana proses pekerjaan mendesain itu sendiri? Bagaimana proses berperasaan terhadap seseorang? Saya belum begitu menangkap feel-nya selain rata-rata disebabkan oleh kekaguman secara fisik. Tapi tidak mengapa.

Karakter Sekar sendiri digambarkan sebagai gadis desa yang polos tapi bersemangat. Kenekatananya meraih cita-cita membawanya pada serangkaian kesuksesan dan keberuntungan. Secara fisik, ia ditampilkan sangat mempesona. Kecantikan ini membuat setiap pria tampan langsung “memuja”. Sekar digambarkan sebagai gadis sukses namun tidak terlalu banyak memiliki wawasan mengenai kehidupan dan cenderung nerimo (pasrah). Metamorfosis karakternya ditopang oleh orang-orang di sekitarnya. Namun penggambarannya pas sebab di dalam novel, Sekar pun bukan orang yang suka membaca, melainkan sibuk di wilayah pekerjaan dan mengejar mimpi di bidang fashion. Kehadiran tokoh Candra yang digambarkan sebagai pria penyabar dan kutu buku hadir sebagai peyeimbang dan pengisi. Sebagai sahabat masa kecil yang cukup berpangaruh dalam hidup Sekar.

Sebagai karya yang merepresentasikan genre chick lit, novel ini tampaknya sengaja dihadirkan bertema cinta dengan segala aspeknya yang sempurna. Hampir semua tokoh wanita dan prianya ganteng, cantik, berkulit cerah, tinggi, dan tajir. Konsekuaensi dari itu, tokoh sampingannya kurang memiliki bangunan karakter yang kuat. Pada dasarnya kan manusia itu terdiri dari kelebihan dan kekurangan. Namun, karakter para pria yang cukup penting dalam novel ini nyaris tidak dideskripsikan secara realistis. Barangkali akan lebih natural bila, misalnya nih: pria cerdas berwajah oriental berambut kaku, jarang mandi, punya kebiasaan gigit kuku kalau gugup, atau pobhia gerobak misalnya. Untungnya tokoh Candra yang seorang guru dan tak ingin hijrah dari desa digambarkan lumayan detail sekalipun tidak jauh dari jenis ‘sempurna’. Barangkali akan lebih menggambarkan penduduk Gunung Kidul kalau tokoh Candra berkulit sawo matang dan tidak terlalu tinggi.

Segi tampilan, seperti ukuran font dan margin sudah pas. Hanya beberapa saja kesalahan eja dan diksi tapi tidak terlalu berpengaruh.
Overall, novel ini memberikan kesan manis dan menarik. Apalagi banyak quote yang dapat dijadikan pelajaran hidup, salah satunya seperti berikut.

Adalah kado termahal yang pernah ada, yaitu kesempatan–189

Selamat berburu novel dan selamat membaca 🙂

Efek Feromon dalam Imaji Dua Sisi

novel Imaji Dua Sisi

Judul : Imaji Dua Sisi
Penulis : Sayfullan
Penerbit : de TEENS
ISBN : 978-602-7968-86-8
Editor : Itanov
Desain kaver : Ann_Retiree
Layouter : Fitri Raharjo
Tahun Terbit : 2014
Tebal : 333 halaman

Sering kali perasaan cinta disebut chemistery, maka ia tak terjelaskan kapan, mengapa, dan bagaimana, serta seperti apa bentuknya.

Tadinya saya kira novel ini seperti novel remaja biasa dengan cerita cinta yang itu-itu saja. Dibuka dengan kisah masa lalu Bumi sebagai salah satu tokoh, kemudian cerita tentang moment ospek kampus menjadi pembuka novel Imaji 2 Sisi ini. Tapi setelah lanjut membaca, ternyata dugaan saya meleset. Membaca bab demi bab, saya sadar bahwa novel ini memiliki pengaruh yang cukup ‘menohok’ perasaan saya :D, ditambah lagi dengan analogi teori kimia yang dipadukan dengan istilah cinta yang selama ini dikenal merujuk pada sesuatu yang tak berwujud.

Nggak ada ilmu pengetahuan apa pun yang bisa merumuskan cinta, Bum. Kalaupun ada, gue pasti juga bakal meraciknya. (halaman 158)

Demikian yang dikatakan Lintang tatkala Bumi menyampaikan teorinya. Bumi, dalam novel ini, meyakini feromon–salah satu hormon yang memiliki kontribusi besar dalam proses jatuh cinta, mempunyai pengaruh begitu besar dalam mendapatkan pasangan yang diincarnya.

Menyimak teori Bumi tentang bau tubuh manusia yang diekstrak, membuat saya ingat novel karya Patrick Süskind yang berjudul Perfume the Story of a Murderer, di mana tokoh utamanya yang jenius aroma, membuat parfum dari ekstrak manusia. Hanya saja novel tersebut membuat pembacanya seperti melihat konsep keindahan berpadu dengan kisah seram pembunuhan.

Lintang, Bara, dan Bumi dalam novel ini, adalah tiga orang yang bertemu di kampus jurusan Kimia di salah satu universitas negeri di Semarang. Sama-sama mendapat tugas aneh dalam ospek, mereka pun saling dekat dan terlibat, dan akhirnya terjebak dalam kondisi yang cukup membingungkan.

Lintang yang asal Jakarta pindah ke Semarang untuk lari dari masalahnya, yaitu menghindari Rakai, mantannya yang akan menikah. Dalam kerja keras melupakan itulah, ia bertemu dengan kehidupan baru di kampus dan dua orang yang mengisi harinya dengan persahabatan: Bara yang ekstrovert, berpenampilan keren, dan lucu, juga Bumi yang introvert dan culun namun genius, yang malah akhirnya sama-sama mencintai Lintang diam-diam. Ada pula Repi, mahasiswi rempong salah satu sahabat yang se-kost dengan Lintang yang berantusias ingin menjadi pacar Bara. Namun dalam novel ini, Repi tidak begitu sering diekspose. Menyimak pertemanan mereka yang kadang kocak itu, membuat kita lebur antara apa itu cinta, apa itu persahabatan. Keduanya menjadi hubungan aneh, persahabatan ganjil yang tapi berjalan harmonis dari waktu ke waktu yang berawal dari perasaan tertindas yang sama di masa ospek.

Yeah, kekaburan antara persahabatan dan cinta memang sering kali dialami oleh para gadis.

Lintang semula dikenal sebagai pribadi yang jutek dan anti lelaki. Namun Bara melihatnya sebagai kamuflase yang menutupi kepribadian yang sesungguhnya. Lintang sering kali ketus terhadap Bara. Namun ia juga penasaran apakah sikap itu karena Lintang memang membencinya atau sebaliknya. Sedangkan terhadap Bumi, Lintang malah sangat ramah. Bara bingung dan geram, tapi nyatanya ia sadar diri tatkala ia tahu kondisinya tak memungkinkan untuk bersama Lintang, ia pun pasrah.

Bumi diliputi cemburu ketika Bara dekat dengan Lintang, sebaliknya, Bara pun tak begitu suka melihat Lintang akrab dengan Bumi.
Bumi adalah sosok serius dan mencintai kimia. Ia bahkan sempat menceritakan impian dan teorinya mengenai feromon kepada Lintang. Bumi percaya bahwa bahwa ada semacam metode kimia yang dapat menyerap aroma alami manusia, zat yang dipercaya sebagai biang keladi cinta. Aroma yang diambil dari seseorang tersebut dapat menimbulkan perasaan cinta. Tentu Lintang yang realistis tidak menerima pemikiran itu. Sebab selain sadis, akan terdengar palsu bila feromon direkayasa sedemikian rupa demi mendapatkan cinta yang diinginkan. Bahkan perasaan ketertarikan yang dimaksud akan hilang ketika feromon telah habis. Namun menyerap feromon Bara demi mendapatkan Lintang merupakan bagian dari rencana besar Bumi.

Konflik pun meruncing. Bumi mencari cara dan keberanian untuk menyatakan maksud hatinya kepada Lintang. Demi memilikinya, segala cara dilakukan. Dengan rencana gila sekali pun. Namun dalam hati kecilnya, Bumi menyadari bahwa karakter yang secara iseng disampaikan Lintang sebenarnya ada pada Bara.
Anehnya, Bara yang sebenarnya juga mencintai Lintang malah memilih untuk membantu Bumi dan terpaksa meladeni Repi sebagai pelarian. Belum lagi perasaan Bumi tersampaikan, Bara malah mendapat permohonan dari Lintang untuk berpura-pura jadi pacarnya dan menemaninya pulang ke Jakarta karena pernikahan sang mantan dengan kakak kandungnya sendiri akan berlangsung. Lintang tidak mau seluruh keluarganya tahu bahwa Rakai adalah mantannya sebelum kecelakaan yang menimpa sang kakak terjadi. Namun sialnya usahanya gagal dan kekacauan pun terjadi.

…Setiap orang di sini pernah merasakan patah hati, kan? Tapi, bukankah itu tak lantas membuat seseorang harus berhenti berjalan? (halaman 252)

Sementara, melihat mereka berdua pergi bersama, Bumi menganggap itu sebagai pengkhianatan Bara terhadapnya. Bukan Bumi tidak tahu perasaan Bara terhadap Lintang, tapi bahwa perasaan dikhianati dan keyakinan bahwa Lintang lebih mencintai Bara, membuat impiannya mengekstrak feromon Bara ingin segera terealisasikan.

Lintang terkejut tatkala tiga orang terdekatnya malah menghilang satu-satu sepulang ia dari Jakarta. Repi pindah kost tanpa pamit, Bumi dikabarkan pindah kampus, dan pada saat yang sama Bara menghilang secara misterius. Dalam prasangka yang berkecamuk, Lintang mendatangi rumah nenek Bumi. Ia menerima surat berisi pernyataan hati Bumi selama ini terhadapnya, yang belum sempat disampaikan Bara kepada Lintang. Juga skema ekstrak feromon yang tertera di papan laboratorium pribadi Bumi yang terdapat nama Bara sebagai sasarannya. Bimbang dan kalap, Lintang mencari Bumi, ia berusaha menghentikan rencana gila Bumi. Hingga ia menemukan Bumi di Bandung, Bumi mengaku bahwa ia pun tak tahu keberadaan Bara meski Lintang masih curiga. Lalu tatkala hubungan Lintang dan Bumi berjalan setahun, petunjuk mengenai keberadaan Bara pun datang dengan cara tak terduga. Petunjuk yang barangkali membawa mereka pada jawaban. Arah perasaan Lintang, keberadaan Bara, rahasia di antara mereka, dan juga kisah akhir eksperimen mengerikan milik Bumi.

Lin, mana mungkin kita bisa melalui satu tahun lebih bersama tanpa ada cinta? Mana logis ikatan kita ini hanya karena hanya feromon yang sampai sekarang pun masih tersimpan di lemari pendingin laborat! (halaman 325)

Novel yang disajikan dalam 3 sudut pandang tokoh ini menarik untuk diikuti. Dengan alur yang runut juga penokohan yang cukup kuat membuat novel ini mudah dipahami. Tampaknya Sayfullan memiliki keahlian mengkomposisikan gaya bahasa yang ringan dan sering kali kocak. Novel ini juga menyimpan kejutan-kejutan. Bisa dikatakan, kedua hal itu, kekocakan dan nuansa romantis bisa berganti-ganti dapat tersaji dengan komposisi yang pas. Novel Imaji 2 Sisi ini cukup keren dan recommended untuk dibaca.

Di novel ini, sesuai dengan temanya, cinta dan kehidupan seperti diibaratkan dengan rumus-rumus kimia. Saya hanya belum mengerti mengapa novel ini diberi judul Imaji 2 Sisi, hehe. Beberapa kesalahan ejaan dan diksi memang masih ditemukan namun tidak terlalu mempengaruhi daya tarik ceritanya. Di samping itu, saya juga merasa ending-nya agar terlalu buru-buru. Ada sempat merasakan keganjilan cerita ketika sampai pada bab pernikahan Langit, kakak Lintang. Tapi untunglah bagian yang agak bikin deg-degan itu selesai dengan indah.

Anyway, novel ini keren sekali dan saya ingin memberinya 4 bintang. ^^

Kenangan dalam Selegit Kopi: The Coffe Memory

Coffee MemoryJudul buku : The Coffee Memory
Penulis : Riawani Elyta
Penerbit : Bentang Pustaka
Jumlah hal. : vi + 226 halaman
Tahun terbit : 2013

“Aroma kopi” seperti menguar ketika saya membeli novel ini beberapa waktu yang lalu, dibungkus dengan unik, dan cover bergambar biji kopi. Tak jauh dari hobi saya meracik dan menikmati kopi di setiap kesempatan, akhirnya saya pun penasaran ingin membacanya. Terlebih sesuai dengan judulnya, novel ini diracik dalam buku ini bercerita tentang kenangan dan kopi.

Pada beberapa bab awal, saya masih merasa sendu. Novel ini mengandung deskripsi unik yang mengalir dengan sederhana namun apik, sehingga kesedihan dan kebahagiaan digambarkan seperti benang tipis. Membuat saya mampu masuk dalam kondisi dunia si tokoh utama dan orang-orang di sekitarnya.

Dalam kenangan, seseorang akan selalu berhadapan dengan sebuah dimensi yang akan terus membayangi mana pun ia berada. Ia sanggup merapuhkan atau menguatkan. Hal itulah yang akan ditemukan dalam komposisi novel ini. Seperti yang diilustrasikan di dalamnya.

The Coffe Memory bercerita tentang seorang ibu muda bernama Dania yang memperjuangkan hidupnya dengan melanjutkan usaha kafe. Suaminya, Andro, pecinta kopi dan dan seorang barista, meninggal dalam sebuah kecelakaan dan meninggalkan seorang anak dan coffe shop. Sejak itu, Dania berada dalam keterpurukan. Tak mudah baginya melupakan sang suami, sedangkan apa pun yang menyangkut kopi selalu mengingatkannya. Namun di tengah keterpurukan itu, ia harus bangkit untuk bertahan hidup dan juga mempertahankan Katjoe Manis, kafe yang telah ia bangun bersama Andro bahkan sejak mereka belum menikah. Terlebih ada Sultan di sampingnya, putra semata wayang yang harus dipikirakan masa depannya.

Cinta platonis, selayaknya kopi pertama yang membuatmu terkesan, sangat terkesan, hingga tahun-tahun yang berlalu tetap tidak mampu menerbangkan memorimu akan cita rasa, aroma dan jenisnya, dan akan tetap mengenangnya sebagai kopi terbaik meski setelahnya kamu mengenal dan menghirup puluhan jenis kopi lain. (halaman 117)

Rupanya tidak mudah mempertahankan Katjoe Manis seorang diri, terlebih bila tetap terjebak dalam cinta platonis terhadap seseorang yang kengannya selalu ada tiap kali aroma kopi tertangkap penciumannya. Ia harus menyusun segalanya kembali. Ia bahkan merekrut barista baru dan membuatnya bertemu dengan Barry, barista berbakat yang memutuskan keluar dari kafe bergensi hanya untuk bekerja di Katjoe Manis. Bahkan tatkala diwawancara, ia menyampaikan alasan kecil: karena telah mengenal Andro sebelumnya melalui dunia maya.

Beberapa karyawannya pindah karena kevakuman kafe pasca meninggalnya Andro. Persaingan bisnis di Batam, lokasi di mana Katjoe Manis berada, semakin ketat. Terlebih ketika muncul Bookafeholic yang rupanya menempati rangking kepopuleran lebih melesat membuat kondisi Katjoe Manis di ambang bangkrut. Rupanya, kafe baru milik Pram, salah seorang pengagum Dania sejak SMA yang tidak menikah karena masih mencintai Dania. Namun Pram juga salah satu saingan terberat Dania. Terlebih ketika stafnya mengambil salah satu barista Katjoe Manis.

Dania tentu tidak tinggal diam. Bersama Ratih, Barry, sisa semangat hidupnya, ia mencoba bangkit dan mencari cara supaya para kafe tetap ada. Sekalipun dalam perjalanan itu, Dania dihadapkan oleh pilihan-pilihan, terutama yang datang dari Redi, abang iparnya, untuk menyerahkan kafe tersebut hingga menggantinya dengan bisnis warung kopi franchise.

Bisnis soffe shop tidak semata soal nominal dan profit, tetapi juga di dalamnya ada passion, antusias, dan rasa tanggung jawab. (Halaman 45)

Mempertahankan kafe seperti halnya mempertahankan pendirian, kenangan mendiang suaminya, dan identitas kafe itu sendiri. Kopi tidak hanya berorientasi pada kepopuleran maupun material semata, namun ada nilai di balik itu semua. Komposisi, cita rasa, mutu, dan bahkan cara mengolahnya menentukan kualitas yang tersaji pada secangkir kopi. Dan lebih penting lagi, kenangan rupanya menguatkan tekadnya untuk mempertahankan visi misi Katjoe Manis dari awal mula.

Belum lagi usahanya memperlihatkan perkembangan signifikan, kafe Katjoe Manis mengalami kebakaran dan membuat salah satu pegawainya patah kaki. Bersaman dengan itu, Sultan, anak samata wayangnya, diopname karena DB. Sementara Pram tak berhenti mengejar Dania dengan berbagai cara romantis untuk melamarnya. Semakin Pram mengejar, sekuat itu juga Dania menghindar. Ia justru lebih membutuhkan Barry, barista yang telah sering membantunya, menguatkannya, bahkan memberinya berbagai ide untuk kemajuan kafe. Meskipun ia belum mengerti mengapa.

Barry yang justru sering mengiriminya email seputar bisnis kafe dan motivasi membuat Dania sadar bahwa tindakanya untuk Katjoe Manis tergolong tidak biasa. Dari blognyalah, rahasia itu terungkap. Barry rupanya bukan baru saja mengenal Andro, melainkan telah lama. Yang lebih mengejutkan lagi, rahasia yang ia simpan selama ini mampu membuat Dania sangat bimbang.

Rubuhnya kafe karena kebakaran tidak menyulut semangat para pegawai yang terlanjur telah mencintai kafe dan menghormati pemiliknya yang telah tiada. Saat itulah ia merasa tak sendiri, sebab di samping hubungan kerja dan bisnis, ada nilai yang tak bisa diukur dengan materi. Kebersama dan kekeluargaana. Tapi seseorang pada akhirnya memberi warna lain bagi hidup Dania. Bahkan mengantarnya untuk kembali mencintai dunia kopi secara keseluruhan dan kesungguhan.

Secangkir kopi adalah jembatan kenangan dan komunikasi yang paling hangat. Dan, bersamanya, kita bisa menciptakan momen-momen spesial dalam secercah perjalanan hidup. (halaman 16)

Cerita dalam novel ini tidak sekadar cerita perjalanan hidup biasa, tapi juga tersaji utuh dan berakhir dalam ending yang membuat saya tersenyum. Cinta, kopi, dan perjuangan di dunia bisnis coffe shop adalah tema besar buku ini. Informasi mengenai kopi dan beebrapa quote tentang hidup yang ditambahkan dalam novel tersebut cukup menginspirasi. Narasi dan dialog tokoh-tokohnya yang kadang menggelikan kadang mengharukan, tersaji dengan komposisinya pas dalam gaya bahasa yang ringan dan mudah dipahami. Membaca novel ini seperti menikmati secangkir cappuccino di pagi hari dengan ditambahi sedikit kayu manis bubuk. Harum, legit, creamy, dan menyegarkan.

Buku ini recommended bagi siapa pun pecinta kopi dan buku.

kopi, buku, hujan, dan musik: 4 perpaduan yang saya suka :)

@rantingkemuning