Resensi Novel: Senyum Pertama di Pagi Airin

DSCN3921

Judul: Senyum Pertama di Pagi Airin
Penulis: Okta Rahasti
Penerbit: de TEENS
Tahun terbit: August 2014
Genre: teenlit
ISBN: 9786022960034
Jumlah halaman: 200

Bahagia itu bukan bukan sesuatu yang kita dapat dari orang  lain, tapi bagaimana kita memberikan sesuatu pada orang lain.”–Hime, halaman 119

Cerita dalam novel ini dibuka dengan tokoh Airin yang suka melukis dan bersikap dingin terhadap semua orang di rumahnya. Bila sedang menyendiri, tak seorang pun bisa mengganggunya. Begitupun adiknya. Sikap pendiamnya ini akibat dari trauma terhadap mantannya, Dennis. Di rumah besar itu, ia tinggal dengan adik perempuannya, Hime, dan juga beberapa pembantu. Airin dan Hime adalah dua gadis keturunan warga Jepang yang dititipkan kepada neneknya sejak sang ibu meninggal dunia.

Airin memiliki kebiasaan berjalan sendirian di sekitar jalan raya. Hal itu membuatnya bertemu dengan seorang cowok misterius bernama Reza. Perkenalannya dengan Reza rupanya mampu mengubah sifat dinginnya menjadi lebih hangat.

Sementara Hime pacaran dengan Andra, cowok yang semula ia benci. Kesalahpahaman terjadi sehinga membuat Airin tak mengizinkan mereka pacaran. Hime dan Andra pun menyembunyikan hubungan. Segala cara Hime upayakan agar Andra diterima oleh Airin. Namun banyak hal akhirnya jadi kacau sejak Airin dan Reza bertemu secara tidak sengaja dengan Hime dan Andra di sebuah restoran Jepang.

Kemudian, masuklah di bagian menuju inti konflik. Masa lalu Airin, jawaban dari masa lalu Reza, dan kehidupan mereka selanjutnya ditentukan oleh sebuah peristiwa. Hime termasuk korban luka pengeboman di sebuah mall, dan kemudian Reza pergi begitu lama membawa sebuah rahasia besar yang disimpannya dari Airin. Kemudian 5 tahun berlalu dan jawaban demi jawaban terungkap.

Mampukah Airin tetap berbahagia meski keadaan telah berubah? Dan masihkah Hime tetap bersama Andra?

Novel ini sebetulnya sederhana, dituturkan dengan gaya bahasa yang ringan dan mudah dimengerti serta berusaha menghadirkan celah untuk pembaca terus bertanya tentang ending dan tokoh-tokohnya dengan cara yang sangat simpel. Bentuk alurnya yang campuran lumayan tidak bikin jenuh untuk membacanya sampai selesai.

Berbicara mengenai tokoh, Airin, sebagai judul dalam novel ini, merupakan tokoh yang bersikap dingin dan berubah ceria di saat-saat kemudian. Kalau membaca bagian awal, akan tampak sebagai orang sombong dan ketus. Berbeda dengan adiknya, Hime, yang cenderung penyabar dan banyak melakukan aksi di novel ini. Bisa dibilang, Hime sebetulnya lebih cocok menjadi tokoh utama dalam novel ini. Reza adalah cowok misterius yang memiliki masa lalu. Sedangkan Andra adalah siswa sekelas Hime, anak basket, dan sering mengganggu Hime. Secara keseluruhan, karakter-karakter dalam novel tidak terlalu khas, semuanya punya sisi ketus dan lembutnya masing-masing. Kecuali pada nama dan penggunaaan bahasa keseharian aku kamu atau lo-gue yang membedakan mana Andra yang Indonesia, dan mana kedua gadis yang blesteran Jepang. dua per tiga novel awal novel ini masih menceritakan kehidupan sehari-hari tokoh-tokohnya dengan datar. Meski lumayan terdapat adegan “ramai” di bagian sepertiga akhir di novel ini.

Sebetulnya novel ini masih bisa ‘digarap’ lagi. Masalah ide latar belakang tokoh, misalnya, cowok-cowok tampan misterius, kaya, dan pemain basket atau sekolah di luar negeri selalu disandingnya dengan putri-putri cantik yang tinggal di puri (baca:  rumah gedong dengan banyak pelayan) sudah sangat sering ada di novel atau film-film remaja. Akan lebih berbeda bila diperkaya dengan karakter dan latar belakang yang tidak mainstream untuk menghindari kesan datar.

Dan untuk dialognya, saya pernah membaca sebuah nasihat seorang penulis novel (lupa namanya), bahwa dialog yang ideal adalah dialog yang bertukar pikiran. Hanya saja di dalam novel ini lebih banyak saling respons yang cenderung impulsif dan minim tukar pikiran, seperti nada bentak dan reaksi cuek yang banyak ditemukan membuatnya sulit terlihat chemistry antartokohnya. Malah sekilas mirip adegan sinetron yang sarat bully-bully-an. Namun hal ini masih dapat dimaklumi karena persoalan dialog memang penyakit umum para penulis yang mesti ditaklukan.

Nah, akhirnya saya mesti menjelaskan juga kekurangan novel ini yang menurut saya termasuk banyak :p. Informasi mengenai setting dalam novel misalnya, perlu adanya riset dan deskripsi yang lebih memadai, sebab setting lokasi misalnya, hanya disebutkan Jakarta dan Bandung saja tanpa ada ciri khas pendukung, membuatnya masih dapat dipindah di sembrang kota. Miasalnya di halaman 99 hanya disebutkan sebuah taman yang asri, tidak disebutkan nama taman atau deskripsinya.

Di samping itu, memberikan unsur kebetulan boleh-boleh saja, asal masih logis dan dalam porsi yang cukup. Hanya saja di novel ini dapat dibilang ada banyak kebetulan yang kurang logis, seperti pada bagian awal. Barangkali akan sulit diterima ketika di dalam hujan deras, dua orang gadis dari jepang “ilang” nyari alamat neneknya di jakarta, berteduh secara tidak sengaja di bawah atap pagar rumah orang, dan taraa.. rupanya itulah rumah si nenek. Belum lagi kebetulan-kebetulan lain yang cenderung agak dipaksakan.

Saya juga sempat agak bingung dengan bagian kenapa tiba-tiba Dennis yang menembakkan pistol sementara ada banyak polisi di belakangnya. Bukankah di Indonesia bahkan membeli pistol pun mesti mendapatkan izin yang tidak mudah, atau kecuali si pemiliknya polisi? Sementara Dennis tidak dijelaskan sebagai polisi dari awal novel. Dengan sembarangan menembak buron yang sedang tidak berontak apakah malah justru menjadi tersangka percobaan pembunuhan juga ya? 🙂 Namun tidak mengapa karena novel ini memang bergenre fiksi.

Konflik dalam novel ini dihadirkan serba singkat dan terburu. Jujur selain sedikit membingungkan, rangkaian konfliknya tergolong terlalu banyak dan melebar untuk diringkas menjadi 200 halaman. Akan lebih baik bila satu dua konflik saja yang dikembangkan. Beberapa adegan yang penting seperti momen meninggalnya ibu Andra juga diceritakan terlalu ramping. Karater sang ibu juga lebih sebagai pelengkap yang tak terlalu berpengaruh dalam alurnya. Tentunya bila digarap lebih serius lagi akan menjadi lebih menarik. Di samping itu, pertemuan Airin dengan Reza disorot lebih sebentar daripada cerita hubungan Hime dan Andra.

Untuk penampilan buku ini, bagian margin, font dan penataan sudah oke. Covernya juga eye-catching dengan warna oranye dan kuning yang terlihat manis. Selain itu sudah nyaris tidak ada typo di sana.

Memang tidak ada naskah yang sempurna, namun setidaknya ada beberapa quote menarik yang dapat dijadikan inspirasi remaja yang membaca novel ini, salah satunya yang tertera pada blurb:

Hal yang paling menyakitkan adalah bukan saat orang-orang yang kita cintai membenci kita, bahkan pergi untuk selamanya, tapi saat kita membiarkan mereka berada dalam bahaya karena kita.

Novel ini dapat dijadikan bacaan ringan untuk remaja di kala senggang.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s