Books give you a better respective

Pagi ini, menemukan ilustrasi menarik dari funpage Rationalist ketika browshing-browshing buku di dunia maya.


Barangkali seperti ini: ilmu yang sampai detik ini kita pelajari, memang belum cukup memenuhi semua pertanyaan di dalam benak kita. Namun setidaknya, membaca dan terus bertanya membuat seseorang dapat melihat dunia lebih luas daripada yang tidak melakukannya. Setuju?

Iklan

Requiem

Mungkin ini hanya kegelisahan kecil karena bertemu kamu tadi malam. Yeah, aku bertemu kamu lagi. Sesaat saja memang kita berjumpa. Kamu hadir bagai bayang-bayang, dan nyata dalam ingatanku yang kapan pun bisa melesat hilang lagi. Berhari ini kusadari sungguh kebaikan seperti jauh lebih bunga dari cinta… ia mekar dalam abadi daripada cinta yang menyakitkan dan berakhir menjadi harapan. Kau satu-satunya menganggapku seseorang, yang kau akui memiliki perasaan dan jiwa.

Barangkali aku sempat berpikir, aku ingin habiskan hidup suatu saat nanti, dalam kebaikan-kebaikanmu itu… atau mungkin ini hanya seberkas gagasan karena hidup akhir-akhir ini begitu gelap. Aku tak benar tahu. Bukankah kita memang tak sungguh tahu bgaimana masa depan itu?

Aku berjalan menerobos hamparan hutan, menuju pantai. Pantai tak bernama. Menembus hujan dan semak-semak di antaranya. Kudayung perahu yang mengapung di satu sisi sungai, kau di sana menungguku. Sudah lama tak berjumpa, kataku.. aku berhenti di satu sudut, bayangmu samar… namun aku melihat kau menyambutku dengan sepenuh harap.

Aku tidak ke mana-mana, kau berucap dalam ketenangan dan nuansa jenaka. Seperti saat itu. Sebab aku menunggumu, di tempat yang kau tak tahu
Kau menyimak semua ceritaku semalam, sebab aku merasa berbicara begitu banyak.. kau masih pendengar yang baik seperti dulu.

Namun hari telah sore, aku sadar bahwa ini tak hanya malam, tapi waktu yang terjadi dalam rona yang ambigu. Entah malam entah sore. Perahuku menepi di pinggir hilir sungai berwarna keunguan.. di depan sana pantai dan ombaknya masih berderu.
Aku menangis, entah bagaimana. Tak tahu apa sebabnya.
Kulihat sehamparan laut, ombak yang membelai pelan.. Musim hujan belum reda. Badai mengirim isyaratnya. Kau berucap pamit diam-diam..

Lalu…
Aku terbangun dalam sepi, seperti hari-hari biasanya. Dan kusadari semua itu mimpi. Kamu telah pergi. Pergi dengan begitu damai, tanpa meninggalkan jejak apa pun yang mungkin kita benci. Aku terbangun menyambut pagiku dengan sendiri, dalam kekhawatiranku akan sesuatu yang aku tak benar tahu..

Ah, karena memang mimpi selalu saja menampilkan requiem absurd dan juga sosok-sosok yang setengahnya imaji

Masjid dan Eksistensi-Nya

Sore ini menjelang Magrib, saya pulang mengajar. Adzan sayup-sayup tertangkap pendengaran sewaktu masih terjebak perjalanan. Begitu indah seperti hari-hari biasanya—apapun suara parau yang menyeru adzan itu. Saya mencari masjid, inginnya melaksanakan salat sebelum ke tepat lain mencari pesanan yang diminta Ibu sebelum berangkat tadi. Sebab memang mengajar di sore hari itu risikonya akan bertemu waktu-waktu mepet dan nanggung.

Tak berapa lama, akhirnya saya menemukan masjib di pinggir jalan. Bangunannya bergaya tua dengan lantai bercorak dan pilar-pilar besar. Dari luar seperti tidak terurus. Tapi itu hanya tampilan luar, sebab setelah memukan mukena di salah satu rak, baunya wangi. Tentunya habis dicuci, berbeda dibanding mukena di musola pusat-pusat perbelanjaan mewah seperti mal, atau tempat umum seperti pom bensin. Berarti masjid ini terawat. Hanya saja saya agak bingung mencari lokasi tempat wudhu muslimah. Ada dua jamaah putri di sana ketika melihat saya masuk. Mereka pakai jilbab besar. Tapi mereka tak beranjak menuju tempat wudhu juga, melainkan masih asyik ngobrol dan salah satunya nyambi menelepon. Mereka juga sempat memandangi saya selayak baru bertemu orang asing. Ah, sekalipun sama-sama sawo matang dan pesek, nyatanya tetap juga dipandangi dengan heran. Barangkali mereka penduduk asli daerah itu yang tak terbiasa menjumpai “pendatang”.

Ini masjid kan? Saya mulai bertanya sedikit bercanda dengan diri sendiri. Tapi mengapa tempatnya begitu membingungkan? Saya juga enggan bertanya karena tak ada yang ditanyai, dua jilbaber tadi itu juga terlihat sibuk, memang sih masih melihatku kadang-kadang, lagi-lagi dengan tatapan heran, dan sebetulnya saya nggak nyaman. Saya merasakan aura yang seperti tidak sreg tiba-tiba saja dan saya tak mengerti. Saya masuk satu-satunya kamar mandi yang terlihat, lokasinya harus melewati sederet keran wudhu. Dan baru tahu bahwa area tersebut untuk jamaah putra. Keluar dari kamar mandi, seorang jamaah putra berjalan menuju ke arah saya dan saya terperanjat. Bersamaan dengan terdengarnya sayup-sayup suara perempuan tertawa di balik tembok. Maka langsung aku meninggalkan lokasi itu dan baru sadar di samping persis ada pintu berwarna tembok yang ternyata lokasi tepat untuk wudhu jamaah putri. Dua jilbaber itu di dalam. Enggan bertanya memang bikin tersesat yah.

“Oh, di sini ya tempat wudhu wanitanya ya Mbak, tak kira tadi di sana.” Saya bermaksud menyapa.
Tapi sialnya, dua jilbaber itu hanya diam saja, saling pandang dan kemudian terkikik. Entah apa maksudnya. Nggak tahu apa yang mereka tertawakan, tapi saya jadi agak janggal.
Mud keramahan saya hilang. Ssegera saya berwudhu dan menuju ke dalam. Saya jadi berpikir buruk, mengapa bila tadi mereka tahu saya salah masuk, mereka diam saja?

Ini masjid kan? Mengapa suasananya tidak lebih damai dibanding mengunjungi tempat ibadah agama lain? Tapi baiklah. Tidak hanya ini yang tiba-tiba membuat saya hilang mud. Saya salat di tempat yang tepat, tapi tidak membuat saya salat dengan perasaan nyaman. Memang saya jarang di masjid sehingga tak terlalu hafal suasannya. Atau ini hanya terjadi di masjid yang pengunjungnya bukan penduduk asli? Entalah.

Entah bagaimana perasaan nggak nyaman ini terjadi. Bukan berarti selalu seperti ini. Nuansa yang berbeda toh selalu saya temukan di masjid lain bila harus salat di perjalanan. Kebanyakan tetap berkondisi nyaman. Kebanyakan tidak sejanggal ini. Bagaimana pun tempat ibadah juga berpengaruh dalam proses kekhusyukan lho.

Inilah yang sering saya sebut dengan: beragama memang membawa tanggung jawab besar secara universal, jalani pilihan dan keyakian tanpa perasaan tertekan dan terpaksa, dan terpenting nomor dua: minimal jangan sampai kau membuat jamaah lain merasa tak nyaman dan terancam.

Ah sudahlah, kadang kita toh mesti maklum dengan yang namanya khilaf atau kecenderungan manusia yang kadang-kadang ingin iseng.

Tapi masjid ini, memang benar-benar sepi. Jamaah wanitanya hanya tiga orang sampai menjelang iqamah. Menuju space jamaah putri, dua jilbaber tadi memandangi saya, satu orang senyum, tapi saya memutuskan untuk tidak menanggapi mereka dan fokus memakai mukena. Mereka lantas saling pandang lagi dan cekikikan. Ketika imam mengucap takbir memulai salat, kedua jilbaber besar tadi malah masih jalan-jalan, ngobrol dan cengengesan lagi sebelum akhirnya menjejeriku mengikuti salat berjamaah. Sebetulnya tidak baik bila menjelang ibadah ada perasaan dongkol dan nggak konsen seperti ini. Tapi biarlah. Manusiawi kan.

Kejadian singkat ini pun akhirnya membuat saya berpikir sepanjang jalan sampai ke supermarket, mungkin nuansa sejenis itu yang membuat beberapa teman mengatakan bahwa mereka lebih mendapatkan nuansa spiritualitas dan kedamaian ketika nongkrong di tempat ibadah agama lain atau di tempat selain masjid. Meskipun latar belakang curahan hatinya macam-macam. Ada yang karena sempat punya sejarah kehilangan sandal ketika salat. Saya pun pernah menemukan masjid kampung yang ketika malam, dipakai main kartu, atau kadang ada yang muda-mudinya yang pacaran.

Atau memang karena sunguh demikian. Barangkali zaman sedang mengalami anomali mengenai pengertian masjid, atau masjid yang sedang mendapatkan zaman di mana manusianya tak menempatkan fungsi sebagaimana mestinya. Saya tak persis tahu. Meskipun alangkah lebih baiknya, masjid difungsikan secara lebih indah, semaksimal mungkin, setotal makna dan keberadaannya.

Tapi di sisi lain, saya hanya yakin satu hal, berdoa dan berbicara kepada Tuhan dengan dekat tidak harus di masjid. Masjid itu ya di sini, bumi kita, semesta kita. Mengapa? Sebab eksistensi Tuhan jauh lebih maha besar daripada simbol-simbol bangunan semacam masjid. Ibadah lebih luas maknanya daripada sekedar ritual. Mestinya ritual kita berpengaruh dalam kehidupan sehari-hari. Menurutku itu yang lebih penting. Engkau pun boleh setuju ataupun tidak.

Toh bagi saya, Tuhan itu di mana pun saya berada. Di masjid, di rumah, di goa, di kantor, di hutan, di dalam kesunyian, dalam kebahagiaan, dalam kedukaan, atau bahkan ketika tidur. Maka keberadaan-Nya memang tidak dapat dikalahkan oleh bangunan semacam masjid, kuil, gereja, wihara, nggak kalah juga oleh institusi buatan manusia. Tuhan ada di hati mereka yang merindukan kedamaian bukan? Seperti kedamaian setiap sunyi yang sering kali kita lalui.

Bagaimana denganmu?

Kau Ini Bagaimana Atawa Aku Harus Bagaimana

(KH. Mustofa Bisri, 1987)

Kau ini bagaimana?
kau bilang aku merdeka, kau memilihkan untukku segalanya
kau suruh aku berpikir, aku berpikir kau tuduh aku kafir

aku harus bagaimana?
kau bilang bergeraklah, aku bergerak kau curigai
kau bilang jangan banyak tingkah, aku diam saja kau waspadai

kau ini bagaimana?
kau suruh aku memegang prinsip, aku memegang prinsip kau tuduh aku kaku
kau suruh aku toleran, aku toleran kau bilang aku plin plan

aku harus bagaimana?
aku kau suruh maju, aku mau maju kau serimpung kakiku
kau suruh aku bekerja, aku bekerja kau ganggu aku

kau ini bagaimana?
kau suruh aku takwa, khotbah keagamaanmu membuatku sakit jiwa
kau suruh aku mengikutimu, langkahmu tak jelas arahnya

aku harus bagaimana?
aku kau suruh menghormati hukum, kebijaksanaanmu menyepelekannya
aku kau suruh berdisiplin, kau mencontohkan yang lain

kau ini bagaimana?
kau bilang Tuhan sangat dekat, kau sendiri memanggil-manggilnya dengan pengeras suara tiap saat
kau bilang kau suka damai, kau ajak aku setiap hari bertikai

aku harus bagaimana?
aku kau suruh membangun, aku membangun kau merusakkannya
aku kau suruh menabung, aku menabung kau menghabiskannya

kau ini bagaimana?
kau suruh aku menggarap sawah, sawahku kau tanami rumah-rumah
kau bilang aku harus punya rumah, aku punya rumah kau meratakannya dengan tanah

aku harus bagaimana?
aku kau larang berjudi, permainan spekulasimu menjadi-jadi
aku kau suruh bertanggungjawab, kau sendiri terus berucap wallahu a’lam bissawab

kau ini bagaimana?
kau suruh aku jujur, aku jujur kau tipu aku
kau suruh aku sabar, aku sabar kau injak tengkukku

aku harus bagaimana?
aku kau suruh memilihmu sebagai wakilku, sudah kupilih kau bertindak sendiri semaumu
kau bilang kau selalu memikirkanku, aku sapa saja kau merasa terganggu

kau ini bagaimana?
kau bilang bicaralah, aku bicara kau bilang aku ceriwis
kau bilang jangan banyak bicara, aku bungkam kau tuduh aku apatis

aku harus bagaimana?
kau bilang kritiklah, aku kritik kau marah
kau bilang carikan alternatifnya, aku kasih alternatif kau bilang jangan mendikte saja

kau ini bagaimana?
aku bilang terserah kau, kau tidak mau
aku bilang terserah kita, kau tak suka
aku bilang terserah aku, kau memakiku

kau ini bagaimana?
atau aku harus bagaimana?

 

Puisi ini dibacakan salah satu mahasiswa UNY di acara Saresehan Budaya-nya Cak Nun tadi malam. Saya posting ini karena ketika mendengarnya, saya merasa tergugah seperti mendengar suara hati ketika menjalani dinamika hidup sendiri. Puisi ini bernuansa universal. Atau bila dihubungkan dalam lingkup lebih khusus, ini suara hati rakyat Indonesia yang ditujukan kepada para penguasa negerinya sendiri–dari zaman ke zaman.