Tepi (4)

Beberapa hari ini merasa berloncatan dalam diam. Dari satu hal ke hal lain. Perjalanan seperti halnya mengunjungi lapis dari lapis kesadaran, lalu berpindah dari rasionalitas ke dalam imaji yang begitu jauh dan luas. Sesaat kembali lagi dalam realitas, lalu terjebak lagi ke arah renungan dan hal-hal di luar kenyataan, begitu seterusnya. Beberapa kali berjarak dari diri sendiri, beberapa kali juga orang-orang di sekitarku dengan seperangkat ritmenya menarikku supaya menyadari pijakan. Secara sederhana. Sebab setiap aku berjalan jauh, saat itu juga aku merasa menciptakan jarak. Dan semakin aku berjarak, bumi seperti selalu menciptakan kerekatan.

Hei, bahkan dengan cara-cara sederhana yang tak sempat lagi terpikirkan tapi cukup melonggarkan jiwa.

Seperti biasa, ketika kuyakini hidup telah berada pada keteraturan ke arah yang terbaik, tiba-tiba kenyataan selalu datang dalam waktu yang tiba-tiba menghadirkan sekumpulan anomali. Tapi yang kulihat dunia berputar tidak selalu dalam ketepatan, kadang dalam kehancuran. Bisa dalam keabsurdan, dan sering pula dalam hal-hal yang sempat dipikirkan. Bukankah sebetulnya sederhana—kita memiliki patokan, alam juga memilikinya sendiri, Tuhan terlebih lagi. Sekalipun ketiganya sering berkaitan. Keterpisahan yang terkait.

Kita menghindari nasib, tapi menjalaninya dengan tanpa pilihan, sama halya dengan kita menghadapi pilihan tapi memilih diam dan diam-diam berharap memilih semua pilihan. Dan nasib berjalan juga dengan cara-cara yang dimiliknya.

Indah, sekaligus misteri. Bagi yang menggunakan hati dan merasa dapat menakar pun tak akan terhindar dari rahasia-Nya. Setiap hal menyimpan rahasia, begitu juga dengan rahasia yang tengah aku ceritakan ini. Tentu tak akan serta merta dipahami.

Lalu kubiarkan hal yang kulakukan keseharian berada pada kenyataan yang kujalani dan hal-hal di luar itu sebagai sahabat maya yang kucatat tanpa perlu dibagi karena hanya aku sendiri yang mengerti. Namun aku cukup lega. Hidup yang sederhana barangkali demikian: di mana pun kita berkelana dalam kesendirian, selalu ada orang-orang di dekat kita yang selalu memegang tangan—sadar atau tidak—untuk kita merasa kembali….

Tapi rasanya aku bukan pejalan. Jika pejalan dikatakan seperti pada puisi Kuntowijoyo dengan: rumah para pejalan tidak berada di sini, melainkan di dasar mimpi. Sebab aku berumah di sini juga dalam mimpi. Dalam keduanya, atau malah bukan dua-duanya.
Aku hanya tinggal melanjutkan jalan, dan segalanya memang sudah berada di lapis kesadaran yang terbaca, pada hidup yang tak lagi seabsurd remaja.

 

macro-photography-art-gallery-6063

 

 

Iklan

kota kembali

hanya ada dingin, selebihnya jalanan kotaku yang berdesak-desak
bila semakin tengah letak matahari
bila semakin lama manusia menghitung hari
dan roda sajak memutari sepanjang waktu yang sesak
meruap jejak
lalu hujan demi hujan kunanti
hingga dingin pulang menepi

ah, kotaku, tempat kembali dan kembali

Yogyakarta, 18 Januari 2013

DSCN1588 - Copy

lampu 5 watt

Semalam udara sangat dingin dan mudah membuat mengantuk. Sebab kopi dan kawan-kawannya tak begitu mempan membuatku bertahan, maka yang kulakukan adalah pasrah dan tidur di jam 7 malam. Tapi alam tak sedang membiarkanku tidur lama akhir-akhir ini.

Tak lama aku terbangun jam 11 an malam dan sulit tidur kembali. Malas menyalakan lampu yang terang benderang, aku biarkan lampu 5 watt yang menyala di kamar. Aku pergi ke dapur dan membuat cokelat untuk kubawa ke kamar. Kutambah bantal agar aku tiduran setengah duduk supaya dapat disambi membaca novel salah satu penulis sastra perempuan yang kubeli kemarin hari.

Cuaca sungguh beku sehingga aku gak jauh dari selimut. Dingin yang lembab, dingin di negaraku memang dingin yang melapukkan. Tak ada naskah kuno yang selamat dari rusak karena kelembapan udaranya, kayu mudah lapuk, besi mudah berkarat, sisi positifnya sampah-sampah organik mudah terurai, dan barangkali manusia mudah dekat juga dengan menjadi tanah… entahlah.

Sudah separuh buku kubaca, pikiranku justru sibuk kembali karena ada salah satu bagian di novel itu yang kembali membahas rasionalitas. Rasanya urusanku dengan istilah itu belum cukup selesai. Dan aku tersenyum karenanya.

Hm.. rasionalitas menguraikan irrasionalitas.. kata penulis itu
tapi aku justru berpikir: apakah benar menguraikan atau malah melumpuhkan?
Suatu saat akan kucari referensinya.

Lalu teringat teori Freud, yang mengatakan bahwa manusia pada dasarnya dilahirkan jahat. Perilaku manusia digerakkan oleh daya negatif yang tidak disadari, seperti kecemasan atau permusuhan. Maka membentuknya adalah dengan dorongan positif dari luar. Tapi Freud juga memfokuskan pada alam bahwa sadar sebagai penentu perilaku manusia. Ah, tapi rasanya agak sedikit pesimis. Sekalipun menarik juga ketika alam kesadaran manusia dibagi dalam lapis-lapis.

Tapi barangkali, cukup kumengerti bahwa bila alam sadarku memikirkan tentang mencintai seseorang, maka tidak selalu perilaku nyata bisa mengatakan demikian -__-

Ah, jangan-jangan lampu 5 watt ditambah dinginnya cuaca bisa membuat pandanganku tentang rasionalitas jadi membulat entah ke mana.

candle-in-glass-wallpapers_10509_1920x1440

Kepada dua sahabatku: Nur dan Isha’
di tempat

Apa kabar kalian berdua?

Sudah 12 tahunan persahabatan kita dan sudah setahunan (waktu negeriku) kita tidak ngobrol. Aku sungguh kesepian dan sadar betapa berartinya kalian berdua. Malam ini kuundang kalian datang ke kamarku. Jamnya terserah, aku gak bisa memastikan, tapi sejak awal tahun kemarin, setiap malam aku selalu terbangun dan tidur lagi sekitar 5-6 kali. Seringnya jam setengah 3 an aku bangun dan sulit tidur lagi. Semalam masih seperti ini. Entah kenapa. Tapi kusebut ini siklus alami di usiaku. biar saja, hahaha..

Aku punya cerita baru untuk kalian, tepatnya keluhan. Tapi gak juga sih, banyak hal lain. Termasuk tentang buku-buku yang barusan kita baca. Tapi aku tahu kalian tidak suka baca buku sebab lebih suka menyimak ceritaku. Jadi kita ngobrol-ngbrol dengan mengalir saja. ^^

Ingat ya Sob, datang ke kamarku tengah malam nanti ketika malam di negeriku sudah berwajah sunyi. Aku ingin bangun dan ngobrol ringan dengan kalian. Mungkin di negeri belum tengah malam. Akan kutunjukkan wangi rumpunan bunga kemuning yang selalu semerbak ketika malam. Tanaman itu usianya kini sudah 2 tahunan. Mungkin dulu ketika kalian datang, usianya baru setahunan dan belum sering berbunga.

Dan mumpung musim hujan masih ada di negeriku, kukirim pesan ini lewat perahu kertas seperti biasanya.

Datang ya, nanti kita ngopi dan ngbrol-ngbrol sampai paginya.

salam 🙂

Sailboats_wallpapers_173

suatu sore: pertengkaran mereka

Suatu sore, dua orang saling cinta memendam batinnya masing-masing ketika pertengkaran soal gak SMS duluan menjadi pemicunya. Pertengakaran hanya berisi tentang “Mengapa kalau kamu peduli pada saya tidak SMS/telepon duluan? Kenapa harus saya dulu?” Beberapa hari sebelumnya mereka diam-diaman. Orang yang mendengarkan mungkin akan lucu. Kenapa hanya soal SMS saja, masing-masing berpikir untuk berpisah sebagai jalan satu-satunya…?

Namun di balik itu, ada masalah mendasar yang terjadi:

Si pria heran dan merasa si perempuan tak lagi cinta sebab gak pernah bisa senang-senang, sekadar jalan-jalan, sekalipun sudah berpacaran bertahun-tahun, padahal pekerjaan sibuknya butuh pelarian sekadar tenang… bukankah pekerjaannya itu juga demi masa depan mereka berdua? Apakah harus dengan peremepuan lain ia membagi bebannya? pikirannya berputar.

Si wanita memendam sedih ketika bertahun-tahun itu si pria selalu bilang cinta tapi tak juga memberi kepastian, padahal demi menunggu satu orang itu, ia menolak beberapa orang yang serius terhadapnya. Ia juga mati-matian membela prianya di hadapan kedua orang tua. Perasaan bingung dan emosi membuatnya berpikir yang tidak-tidak. Apakah harus menghentikan tunggu-tungguan gak jalas ini dan pergi saja? Atau mengakhiri hidup?

Aku sebagai orang yang gak sengaja membaca kasus ini juga agak bingung…

Apakah logikamu bisa menjawab?

fix-broken-heart

musik bertema ceria

Musik yang sedikit lincah kadang-kadang lebih memberikan fokus dan energi, daripada yang hanya beralunan melo..

Cukup dengarkan musik-musik ceria dan lanjutkan hidup 😀


Every road is a slippery slope
There is always a hand that you can hold on to.
Looking deeper through the telescope
You can see that your home’s inside of you.

Just know, that wherever you go, no you’re never alone, you will always get back home

 

music

-menanti sunyi-

di sudut sepi jalan ini
aku berdiri
sudah 200 jam lalu kuhitung, kita sepakat tak bersama…
hujan dan angin membasuh air mata di wajahku
tapi aku tak peduli
karena aku percaya, tempo hari hanya ilusi

di ujung sepi ini, aku menunggu
pada jawaban kosong yang kutahu rupanya hanya semu
aku memilih menepi
sampai getir hujan
menyuruhku pulang saja
sebab tidak perlu ada yang dinanti
karena tak mungkin kembali

Railroad___wallpaper___by_veggiefriend

duka-bahagia

Setiap orang menyimpan kisah hidupnya sendiri. Hanya ada dua di sana: duka dan bahagia. Ada yang mengumbar setiap bahagia dan sedihnya tanpa hambatan, ada juga mereka yang menyiman rapat, mengoreksi apa yang perlu diungkap atau tidak, dan kebanyakan hanya menunjukkan sisi bahagianya…

Begitu sering saya temui dualisme itu, sehingga bahagia apapun yang ditunjukkan seseorang itu, selalu saya curigai menyimpan duka juga. Bahagia hanya duka yang tak terungkap dan duka adalah bahagia yang tertunda penampilannya. Karena memang dalam hidup kebahagiaan selalu berdamping erat dengan ketidakbahagiaan. Kita hanya pelaku yang hanya terlihat lapis “seolah-olah”nya. Bukankah demikian?

Seolah-olah kebahagiaan itu sederhana. Tapi tunggu dulu, ke”sederhana”an tiap orang juga berbeda-beda. Malah bisa berbenturan satu sama lain karena tak satu pun yang bebas dari “keinginan pribadi” di dalamnya.

Maka benar kan kehidupan kita ini hanya bentuk “seolah-olah” saja?

tetapi…

Sebetulnya hiduplah yang suka menampilkan ke-seolah-olah-an itu atau “aku” sendiri yang memang tidak bahagia?

entahlah.. mari tidur.. saya sakit kepala

happy n sad1

Mengurai Ke”aku”an

Sudah di hari keempat tahun ini. Masih menemukan orang-orang di sekitarku mempertanyakan siapa hakikat “aku”—“diri mereka.” Entah dalam obrolan iseng lalu lupa atau berpusing pada akhirnya. Kadang beruntung mereka yang sudah yakin atas hidup yang dijalaninya dengan segenap apa-apa yang dipersepsikan tentang dirinya itu, sehingga tak perlu mencari lagi. Segala keterbatasan adalah cukup. Dan memiliki serangkaian hidup ini adalah bagian dari takdir. Mau lari? Gak ingin juga. Mana bisa kan orang lari dari dirinya sendiri?

Tapi ada banyak juga di dunia ini yang masih mencari “aku” dalam dirinya sendiri. Melalui salah satu SMS teman yang mengatakan bahwa dia masih pusing soal obrolan “hakikat aku” waktu itu. Aku tersenyum. Sebetulnya aku pun juga masih mencari soal itu. Bukankah keberadaan manusia adalah saling menyesatkan satu sama lain? Bukan tidak pernah bila aku, engkau, kita semua, pernah mengalami dianggap sebagai sosok dalam konsep pikiran orang lain, atau identifikasi dari seseorang di masa lampau. Tapi begitu kita bukan orang yang dia pikir, kemudian ditinggalkan. Bahkan kita sendiri, mencari dan mengenal seseorang melalui konsep “manusia” dalam imaji dan alam pikiran sendiri. Bukan seseorang sebagai seseorang itu sendiri. Sebab kita takut kecirikhasan kita sendiri pun akan membuat kita kehilangan keber’ada’an di antara banyak orang lain, maka seringkali kita berlaku seperti orang lain. Memang sih fenomena seperti ini banyak dialami remaja daripada yang sudah tua. Berpakaian sama seperti teman kelompok, seolah-olah sependapat, dan seolah-olah sama hobi dan kesukaan, dan masih banyak lagi. mengikuti mode yang aslinya diciptakan satu orang/satu negara saja kadang membuat seseorang menjadi mirip orang lain. “Orang lain” dalam hal ini adalah lingkungan yang akhirnya menjadi satu-satunya tolak ukur setiap “aku” dari kita semua.

Aku sempat curiga bahwa selama ini kita hanya meng-ada-kan orang lain dalam rangkaian materi—lapisan terluar. Materi dapat diartikan apa-apa yang dia punya. Apa yang terlihat, entah itu penampilan, sifat, kebiasaan, hingga pada cara berpikir yang diperkenalkan kepada orang lain. Tidak pada perasaan—dalam ajaran jawa.
Sementara kebebasan menjadi “aku” seutuhnya membawa dampak yang sungguh besar terhadap banyak orang (“aku-aku”) di luar diri kita.

Jangan-jangan Sartre benar, bahwa kita dikutuk untuk menjadi bebas. Sebab kebebasan memang bagian dari kutukan. Sebab Tuhan tidak terlibat dalam keputusan yang diambil oleh manusia. Manusia adalah kebebasan. Karena kebebasan itulah manusia menjadi bertanggung jawab atas semua hal. Sartre selalu menekankan otentisitas dan individualisme manusia tanpa syarat apapun. Namun eksistensialisme Sartre adalah perluasan dari manusia sebagai paling benar apapun yang dilakukan tanpa pertimbangan baik buruk terhadap hal yang melingkupinya. Sebab bagaimana pun kebadaaan manusia terkait dengan implementasinya terhadap lingkungan.
Eksistensialime mengarah pada kebebasan mutlak, namun tidak pada individualisme yang membawa segala aspek, dari faktor asal/keturunan sampai proses tumbuhnya. Sekalipun eksistensialisme ini berpusat pada kebenaran yang bebas.

Bukankah tidak jarang juga kita dikenal karena kedua orang tua kita misalnya, atau dari nenek moyang atau asal kebudayaan? wajah adalah perpaduan kedua orang tua kita. kita menjadi tahu hanya karena kita mencari tahu, bukan menciptakan secara orisinil. Golongan darah kita sama dengan orang tua. Cara hidup kita terkait juga dengan di lingkungan mana kita hidup.

Kita juga sering menemukan pria atau wanita mencari pengganti mantan pasangannya dengan wajah yang mirip atau minimal memiliki kesamaan, haha. Mereka berharap orang yang baru dapat menggantikan atau malah lebih baik, dan bukannya menyadari bahwa setiap orang memiliki ciri khas yang saling berbeda, semua adalah produk orisinil, setiap orang adalah individu, yang kelihatan sama hanya “kulit” luarnya sehingga butuh bertahun untuk mengenali dan menggali karakternya. Itulah mengapa benar bila satu orang yang memilih mencintai satu orang dengan sepenuhnya kedirian di masa lalu, maka selayak ia mencintai banyak manusia (pria/wanita) yang lain yang memiliki kesamaan pada waktu yang berkelanjutan. Tapi esensinya ia tetap mencintai satu orang tersebut. Itulah mengapa ada istilah terjebak pada masa lalu/masa depan dan sulit kembali.

Seperti yang selalu aku yakini sejak dulu—tiap individu hanya mempunyai satu pasangan hati. Entah apa pun bentuk materialnya, seberapa banyak mereka yang hidup bersama, atau siapa pun yang kelak disandingnya. Aku jadi mikir, bagaimana bila dari awal kita mencintai satu hal, Tuhan, maka benar mereka yang meyakini bahwa mencintai Tuhan akan mencintai Tuhan pada entitas yang lebih detail dalam kehidupannya, yang terpecah menjadi banyak hal kecil: ciptaan-Nya. Dan kita tak lagi memandang materi apa yang membatasinya.

Agak rumit memang ketika ke”aku”an bisa jadi hal yang melebar kemana-mana…. Mengapa di dunia ini ada kita yang pusing soal ke”aku”an, dan ada juga kita yang tetap hidup tenteram bahagia tanpa mempertanyakannya?

Atau jangan-jangan lebih mudah bagi kita untuk saling ada dengan bekal keyakinan saja. Kita yakin kita semua baik, saling sayang, dan perhatian, maka kita bersahabat. Kita saling peduli dan bersetia maka kita mencintai, tanpa lagi bertanya apa-apa soal citra diri kita terhadap dia atau mereka. Asal saling menerima kekurangan dan damai tenteram sejahtera.

Meskipun kita juga sering hidup dengan cara orang lain atau sebagai orang lain, dan lupa menjadi diri sendiri…
hm.. tapi aku pun sering merasa hal yang sama yang dialami Satre dan satre-satre lainnya, bahwa satu manusia bisa menjadi neraka bagi manusia lainnya.

#tulisan ini juga terinspirasi dari beberapa upacara adat yang sempat kuamati di lingkunganku.

dari google image

Hari Spesial

Hari ini memang aku menyimpan rapat tanggal ulang tahunku, kecuali dengan orang-orang yang dari sononya tahu. Sengaja aku tutup. Sengaja supaya ini menjadi hal biasa-biasa saja. Aku ingin banyak menyepi dan introspeksi. Tapi ternyata nggak selalu bisa. Terlebih ketika hadir di antara mereka yang ada di sekitarku ini. Semula ultah tak selalu menimbulkan ortimisme bagi hidupku. Apalagi tahun ini. Beberapa hari ini terjebak bayangan gelap tentang masa depanku sendiri. Entah mengapa.

Banyak hal indah hari ini yang tak bisa kuhindari. Teman-teman kantor bahkan menyerbuku dengan ucapan dan menyalami ketika aku masuk ruangan, disusul dengan doa-doa yang mengingatkanku ke kodrat-kodrat sebagai perempuan dan seseorang. Dari yang usil nanya berapa usiaku, mendoakan ketemu jodoh, sampai memutarkan lagu ultah anak-anak membuat ruang redaksi sesaat mengalami kehebohan. Keceriaan mereka di luar hari ini pun sebetunya cukup sering menghebohkan.
Pak kijo, office boy di kantorku, nggak ketinggalan, yang malah ngasih uang jajan, mirip kayak ngasih anaknya yang mau berangkat ke sekatenan. hehe.. nggak enak sih sebenernya, tapi kalau ditolak juga nggak enak…
ya sudahlah :’)

Padahal tadinya aku sudah bersandirwara, bilang kalau hari ini nggak ultah. Tapi akhirnya menyerah juga karena ketahuan, ahaha….

Dan yang terpenting dari semua itu, aku kebanjiran doa terbaik hari ini. Alhamdulillah.

Yeah memang barangkali sebagai spesies berkromosom XX, aku sudah terbilang tua. Tapi sebagai wanita tua berusia 26 tahun, aku belum juga menikah dan merasa belum pantas. Impian berumah tangga sebetulnya memang sudah terpikir sejak berusia 23 tahun. Tapi yang terjadi selalu ketidaksesuaian dan ketidaksiapan. Tidak semua rencana memang berarti kenyataan. Bertambah usia berarti toh mestinya tambah sadar kalau memang sudah tua dan gak masanya lagi main-main. Dan kesiapan adalah perihal kemauan.

Kejutan hari ini tidak berhenti sampai sini..

Sore habis Magrib ini, aku nongkrong di kamar seperti biasa. Terdengar suara motor Bapak memasuki teras.
Dan beberapa saat kemudian, Ibu mengejutkanku, masuk ke kamar bawa sekotak berisi tart berlapis krem sambil mengucap ulang tahun dan sempat berkata,
“Nah, karena kamu sudah mandi, sini Ibu cium.”
:’)
aku kaget dan bahagia.

Aku tahu pria paling sulit menahan haru. Kulihat Bapak hanya nongkrong di depan TV pas aku mengiris kuenya untuk dimakan bersama, sembari ngobrol hal-hal ringan, selebihnya hanya banyak diam dan sibuk sendiri-sendiri:).
Sampai kamar lagi, aku yang masih menahan haru :’)

Speechless. Sejak dulu masih kecil, Bapak yang selalu jago bikin surprize untuk keluarganya yang lagi milad. Meskipun gak ada satu pun anak di keluargaku yang pernah dirayakan dengan pesta atau semacamnya, tapi setiap ultah selalu menyimpan makna tersendiri dan selalu spesial. Usia 17 dulu bahkan tiba-tiba saja Bapak memberiku kado gitar baru, setahun setelah aku belajar secara otodidak. Dan pastinya butuh menabung dulu untuk beli gitar itu. Ada ucapan dan doa yang ditulis buru-buru di kertas bekas sketsa instalasi listrik yang gak terpakai, sampai sekarang kertas itu masih ada. Ibu-Bapakku tipe orang tua yang loyal terhadap keluarga, maka wajar bila dalam banyak hal mereka begitu protektif, tapi juga sering memberikan kepercayaan kepada ank-anaknya…
Bapak pekerja keras, waktu itu hanya meletakkan gitar itu di kamarku selagi aku masih di sekolah. Bapak sudah kembali kerja lagi, pulang larut, dan seperti biasa baru ketemu esok paginya di tanggal 4. Dan masih banyak peristiwa penting sejenisnya yang hanya bisa kutulis di buku harianku. Aku tahu ini ide Bapak karena ciri khas bahasa beliau adalah selalu menggunakan istilah “HUT”, Hari Ulang Tahun. Tidak pernah pakai HBD, atau met ultah. ^^ Mungkin terinspirasi dari HUT RI setiap 17 agustus. Sehingga aku mengerti betapa keluarga sangat penting posisinya di hati kami semua.

Gak banyak yang bisa kuucap untuk hari ini, kecuali rasa syukur… terima kasih Tuhan… alhmdllh.. telah memberiku hari yang begitu hangat, di antara orang-orang yang aku cintai dan sayangi… terima kasih…

T_T

:’)

… tentunya ada doa terpenting yang kuucap dalam hati hari ini, diam-diam.. dan hanya Tuhan yang tahu…

402278_573936795955176_640646914_n

Tahu Diri

Pagi ini, aku bangun terlalu pagi. Ayam-ayam belum juga berkokok, malam masih biru pekat. HP belum juga kuaktifkan karena biasanya pagi menjelang ngantor aku baru memegangnya. Udara dingin begitu nyaman di kulit, membasuh wajahku, mataku, sebagian kulitku. Kubiarkan gambaran mimpi menari-nari, duniaku sendiri. Daun-daun sibuk bertanya pada embun, tentang purnama yang kapan datang. Tapi sekaligus tak peduli, karena hidup tidak soal melihat purnama kemudian gugur seperti musim-musim biasanya.

Embun melupakan alasan tentang mengapa ia harus memilih dingin sementara mereka tak saling berjumpa pada cahaya. Mereka hidup, mereka bekerja, mereka memilih takdirnya, mereka tak berusaha saling menggantikan satu sama lain. Tak satu pun mengeluh…

Ada kupu-kupu, burung gereja, capung yang kemudian bermunculan, melupakan ribuan tanya tentang esok yang masih tua. Disusul kokok ayam dan suara adzan.

Ah, cahaya mulai menyusup sela-sela kamar. Tidak sampai pada hatiku sepenuhnya. Barangkali nanti. Suatu saat nanti, ketika kelak kutemukan di jalan mana yang semestinya kulalui. Mungkin pagi hanya terlalu gelap untukku. Mungkin tirai jendela tak terlalu lebar kubuka. Padahal semua hidup berkata, pada bahasa yang dapat dimengerti tanpa harus membuka mata lebar-lebar.

Karena sederhana saja, terkadang hidup hanya soal menyadari dan tahu diri….

🙂

ws_Green_Dew_1680