target

Sejak bangun tidur sejam yang lalu, aku langsung menyetel musik, membuka jendela, cuci muka, bikin kopi, kemudian mengambil 4 koran langgananku di depan untuk kubawa ke kamar lagi, lalu membaca, seperti yang biasanya.

Udara hangat menyeruak kamar, cericit burung telah ramai, dan sengaja memang kunikmati pagi di hari libur ala masa dulu. Sempat kubayangkan kebun yang penuh tetumbuhan itu dikunjungi ratusan peri semalaman. Barangkali mereka menyanyi dan menari sampai sebagian sayapnya berjatuhan di tanah. Barangkali mereka telah selesai memunguti mimpi-mimpi yang dipinjamkan untuk para manusia kemudian tidur di atas bunga-bunga. Kau percaya pada peri? 🙂

Rasanya sudah lama tak bercengkerama dengan rasa sunyi, melamunkan banyak hal, membaca banyak hal tanpa dibebani segala rutinitas monoton. Begitu saja kuingat banyak target yang tanpa dimulai dari sekarang, takkan jadi sampai kapan pun.

Untuk itulah, kini waktunya memulai semuanya. Abaikan hal-hal yang bikin gelisah dan terhambat. 🙂

Iklan

Resensi Novel: The Dancer (Mimpi di Ujung Selendang Merah Muda)

novel The Dancer (Mimpi di Ujung Selendang Merah Muda)

Judul:  The Dancer (Mimpi di Ujung Selendang Merah Muda)
Penulis:  Arthasalina
Penerbit: Mazola
Rilis:   September 2014
ISBN : 139786022960225
Jumlah halaman:  235
Genre: Fiksi

Banyak yang bilang keadaan hatiku bisa dilihat dari bagaimana aku menari. Katanya lebih jujur daripada mendengar jawaban dari mulut. Mungkin aku memang ditakdirkan untuk terjun ke sini, menari bersama hidup. Bukan hidup bersama tarian–Ajeng (halaman 155-156)

Menjadi penari tradisonal di zaman yang sudah modern seperti sekarang rupanya tidak mudah. Terlebih bila telah terlanjur meraih gelar sarjana kedokteran kemudian dihadapkan dengan dua pilihan. Tetap menjadi penari sesuai impian atau melanjutkan koas untuk menjadi dokter, seperti harapan ayahnya. Hal rumit itulah yang diadapi oleh Ajeng. Sejak ibunya meninggal karena kanker, ia memutuskan mengikuti kata hatinya untuk menjadi penari. Yang berarti ia juga menetang ayahnya. Baginya menjadi penari seperti menghadirkan kembali sosok ibunya yang juga sama-sama penari. Tidak mudah menjalani pilihan itu. Di samping ayahnya yang menolak keras pilihan itu karena berambisi anak-anaknya bisa menjadi dokter.

Menjadi penari adalah profesi yang kurang bergengsi bagi masyarakat pada umumnya. Terlebih profesi tersebut masih dipandang sebelah mata. Namun Arthasalina, penulis novel ini, seperti menceritakan pada kita bahwa tidak sekedar menghibur saja tujuan seorang penari, melainkan ada misi melestarian budaya dalam proses itu.

Meski halangan dan rintangan terjadi, Ajeng bertekad kuat berada di jalan itu. Ia juga mengikuti berbagai lomba dan pementasan, bahkan sempat menjadi penari sintren, seenis tarian tradisional yang melibatkan roh. Di tengah-tengah kesibukannya meniti karier di bidang menari, ia pun berusaha memajukan sanggar tari milik ibunya yang sudah lama tidur. Belum lagi ketika ia dihadapkan dengan rahasia besar yang akhirnya terkuak dan mengharuskan ia harus menentukan sesuatu yang berhubungan dengan masa lalu ayahnya. Yang juga berkorelasi dengan seorang tokoh di novel tersebut yang berjasa dalam perjalanan kariernya.

Adapun Deden, adalah salah satu mahasiswa Teknik Mesin yang memutuskan mengambil cuti dan datang ke Jawa (Jogja-Solo) untuk mencari pengalaman secara praktik, di samping merasa suntuk dengan kehidupan kota. Ia adalah orang yang semula menolak hal-hal yang berhubungan dengan budaya, bahkan tidak suka dengan pertunjukan tari. Namun, perjalanannya ke Jogja-Solo membuatnya jatuh cinta dengan Jawa dan orang-orangnya. Cara pandangnya mulai berubah sejak perkenalannya dengan Ajeng dan pertemuannya secara tidak sengaja. Deden yang berasal dari tradisi yang lebih metropolitan pun mengagumi sifat santun Ajeng juga. Kehadiran Ajeng sedikit banyak mengubah sikap Deden.

Bukan masalah orang jawa atau bukan, Mas. Sebenarnya masalah kebiasaan. Saya yakin adat mana pun juga mengajarkan hal yang sama. Mungkin kebiasan yang ada di lingkungan sekitar kita yang mengubahnya.”–Ajeng (halaman 59)

“Orang Jawa atau bukan, yang membuat kesan sopan dan punya tata krama itu perilakuknya”-Ajeng (halaman 60)

Deden nyaris tak pernah menemukan perempuan seunik Ajeng. Di sisi lain, Ajeng pun nyaman dengan kebersamaan mereka. Namun, sebelum mereka sama-sama saling tahu perasaan masing-masing, Deden keburu pindah lagi ke Bandung karena cuti kuliahnya habis. Selama setahun mereka tak bertemu bahkan tak terhubung melalui ponsel. Selama itu Ajeng yang bergelut dengan karier menarinya, sedangkan Deden sibuk dengan kelulusan dan pekerjaan barunya. Apakah kelak mereka bersama, atau Ajeng lebih memilih Andi, teman seprofesi denganya di dunia tari?

“Pria dewasa itu menentukan pilihan, sebatas memlilih ketentuan bukan karakter pria.” (halaman 56) demikian yang Deden ingat dari pertemuannya dengan Ajeng.

Novel The Dancer (Mimpi di Ujung Selendang Merah Muda) diakhiri dengan ending yang manis dan membuat saya tersenyum. Memang pembaca mungkin akan mudah menebaknya dari awal. Sisi menariknya adalah banyak pesan penting yang dapat ditemukan di dalam dialog-dialog tokohnya yang sarat dengan pengetahuan seputar local wisdom.

Novel ini menceritakan perjuangan mempertahankan pilihan dan tentang usaha yang tidak kenal lelah. Diceritakan dalam sudut padang orang pertama yang terdiri dari dua tokoh, yaitu Ajeng sebagai tokoh sentral dan Deden sebagai tokoh pendukung. Keduanya memiiki karakter yang berbeda. Ditunjukkan dengan Pov Ajeng yang menggunakan gaya bahasa “aku-kamu”, sedangkan Deden menggunakan” lo-gue”, menunjukkan perbedaan tradisi dan karakternya juga. Setting tempat ini adalah Semarang, Solo, Bandung, meskipun ada lokasi-lokasi lain, dan rata-rata tidak dideskripsikan secara lebih lengkap.

Keberhasilan novel ini terletak pada jalan ceritanya yang runut dan ide cerita yang membuat penasaran, juga pesan-pesan yang disertakan dalam dialog tokoh-tokohnya. Gaya bahasa dituturkan dengan ringan dan mudah dipahami. Dilengkapi pula beberapa footnote untuk memperkaya pengetahuan kita terhadap bahasa daerah. Terutama Jawa dan Sunda. Di samping itu, secara samar, penulis juga memperkenalkan budaya yang yang berasal dari nenek moyang sehingga tersampaikan misi penulis memperkenalkan budayanya, terutama tradisi tari. Seperti halanya cara Ajeng memperkenalkan keramahtamahan orang jawa terhadap Deden.

Cover buku ini sudah sesuai dengan tema dan judulnya, The Dancer (Mimpi di Ujung Selendang Merah Muda) meskipun sepertinya tidak akan ada masalah bila judul tersebut tidak menggunakan bahasa Inggris, mengingat novel tersebut, lebih sering menampilkan sisi kedaerahan dan ke-Indonesia-an. Di samping itu, saya pribadi barangkali agak merasa mengganjal dengan hal-hal yang kebetulannya agak dipaksakan. Seperti ketika secara tidak sengaja, Deden bertemu istri seorang teman di sebuah terminal bus, apalagi ia belum mengenal si istri temannya itu sebelumnya. Atau secara kebetulan ia bertabrakan dengan Ajeng di daerah ladang lereng gunung yang rata-rata luas dan masih “alas”. Yeah, meskipun dalam hidup ini hal-hal yang kebetulan bukan sesuatu yang mustahil, tapi alangkah baiknya dikondisikan selogis mungkin. Selain itu, sejak awal perkenalan, Deden terlalu beranggapan bahwa orang Jawa selalu indah, santun, suka gotong royong, dan wanitanya feminin. Padahal stereotype orang Jawa nggak selalu begitu. Terlebih di era sekarang. Bukankah demikian?

Penokohan Ajeng dan Deden yang berbeda karakter sudah cukup pas digambarkan sebagai tokoh utama dan bagian dari tema novel. Hanya saja konstruksi karakter sang ayah kurang begitu konsisten sebab di awal ia digambarkan sebagai sosok yang membenci dunia tari. Terlihat dari keukeuhnya ia menyuruh Ajeng melanjutkan koas dan melarangnya menari, namun ibu Ajeng sendiri adalah penari. Belum lagi masa lalunya yang menunjukkan bahwa penokohan sang ayah kurang sesuai sebagai sosok yang menentang profesi penari. Atau kalaupun iya, kurang diberi penjelasan.

Di samping itu, alur terasa agak tergesa dan oleh karenanya banyak detail yang kurang mendapat perhatian penulis dalam hal dialog dan penuturan, seperti pada halaman 30 di mana Mak Atun, mengatakan “wis tuwo” untuk menyebut nenek Ajeng, sebab dalam Jawa puya tingkatan bahasa, akan lebih tepat bila disebut dengan “sampun sepuh“. Selain itu penggambaran setting tampaknya perlu disempurnakan lagi dengan detail dan ciri khas, sebab meski sempat disebutkan nama-nama lokasi, seperti Sleman, namun belum kentara andaikata nama daerahnya diubah menjadi Kebumen atau Padang, misalnya. Lagipula (merujuk pada halaman 213) makanan jenis batagor tidak hanya ada di Bandung, Solo pun ada.

Namun tidak mengapa. Barangkali memang bukan pada deskripsi setting,dan detail masyarakat secara kebudayaan yang istimewa dari novel ini. Sesuai dengan konsep awalnya, novel ini sudah menggambarkan cerita hidup orang-orang yang bergulat dengan profesinya, yang tentunya tidak lepas dari kehidupan pribadi yang juga cukup berliku. Seperti halnya seorang penari. Sekalipun seorang penari dapat tampil total dan tersenyum tanpa beban di atas pentas, mereka juga tetap manusia biasa di balik panggung. Selebihnya tidak banyak kesalahan tata bahasa, typo, dan ejaan di sana, pun sudah lumayan penataan marginnya.

Novel ini direkomendasikan suntuk pembaca dewasa muda yang sedang mempertahankan pekerjaan sejatinya.

Liebster Award

 liebster award

Sudah lama tidak nge-blog. Begitu ingin posting sesuatu, aku jadi ingat bahwa aku baru saja dapat Liebster Award, yang konon populer di kalangan blogger. Untuk itulah aku berterima kasih kepada Mpok Tanti yang memberikannya beberapa waktu lalu. Maaf kalau baru merespons sekarang karena faktor ke”ribet”an yang terjadi akhir-akhir ini. (Btw, Mpok, logo Liebster-nya aku pilih itu aja ya ;))

Barangkali belum banyak blogger yang tahu tentang Liebster Award. Aku juga baru saja tahu ketika dapat award ini. Sebelumnya secara selintas, award ini kubaca Lobster Award, haha. Ternyata bukan. Baiklah, aku jelaskan sedikit. Liebster Award adalah semacam penghargaan berantai yang diberikan antarblog. Tentu, tidak mudah menerima award ini tanpa ada beberapa hal yang mesti dikerjakan terlebih dahulu.

Dari arti secara harfiahnya sendiri,  Liebester berarti yang terkasih, tersayang, (dan semacamnya…) Award ini berasal dari negara asal bahasanya, Jerman, dan bertujuan untuk saling bersilaturahmi dan memperkenalkan blog lain. Nah, anggap saja award in untuk memberikan penghargaan kepada mereka yang telah menyumbangkan apresiasinya melalui tulisan-tulisannya di blog. Sekaligus memberikan tantangan kecil. Award ini mesti diestafetkan lagi dengan sistematika sebagai berikut.

  1. Post perihal award ini ke blog kamu.
  2. Sampaikan terima kasih kepada blogger yang mengenalkan award ini dan link back ke blognya.
  3. Share 11 hal tentang diri kamu.
  4. Jawab 11 pertanyaan yang diberikan kepada kamu.
  5. Pilih 11 blogger lainnya dan berikan mereka 11 pertanyaan yang kamu inginkan. (Karena belum tentu mereka menegok blogmu setiap saat, maka perlu deh memberitahukannya langsung. Misal di kolom komentar postingan terbaru kandidatmu)

Baiklah.., dalam kesempatan ini, aku memulai prosedur penerimaan award ini dengan narsis dulu.

11 hal tentang diriku.

1. Perempuan, asli Indonesia.  Lahir di Jogja, tinggal di Jogja, nyelesein pendidikan di Jogja, dan kerja di Jogja sampai detik ini. Kalau ditanya apakah cita-cita sejatimu? Backpakeran keliling dunia asal nggak di Jogja.

2. Anak pertama dari 3 bersaudara. Karena anak pertama, kepribadian pun jadi ganda. Kadang diktator, kadang ngalahan banget.

3. Suka jalan-jalan di alam, apalagi yang masih sepi.

3. Nggak bisa kreatif di tempat rapi, nggak bisa santai di tempat ramai, dan selalu hanya bisa betah ngobrol lama-lama dengan temen yang itu itu saja. Nggak punya bakat mbribik.

4. Pecinta kopi, buku, kesunyian, hutan, hujan, dan senja. 🙂

5. Lebih suka jadi “penonton”, maksudku, lebih betah ngamatin dan nyimak hal-hal di sekitar, tapi…. nggak mau kepergok kalau lagi merhatiin:p

6. Cinta damai dan kesetaraan. Nggak suka kekerasan dan kekasaran.

7. Suka sibuk dan bisa gila kalau nggak ada kegiatan.

8. Risih lihat orang buang sampah sembarangan, terutama di sungai, laut, dan jalan raya.

9. Punya masalah serius soal ketidakstabilan mood, dan sekarang sedang proses terapi :))

10. Mimpi punya kerjaan sesuai passion, semacam nulis, baca, foto-foto objek alam, berkenalan sama penduduk pedalaman, jelajah kota-kota tua, naik gunung, nyelem liat keindahan bawah laut, dan jalan-jalan nerobos hutan.

11. Enggan berpapasan dengan salah satu serangga bernama kec***

Nah, berikut 11 pertanyaan yang harus kujawab yang diajukan oleh pemberi award ini

1. Paling sering posting tentang apa di blog?

Selama ini postingan nggak jelas. Baru berusaha move on mau nulis hal-hal lebih berguna. :d

2. Ada rekomendasi blog yang bagus, lucu, menghibur, tapi tetap berkelas nggak? 😀

Ada. Kunjungin aja blog-blog yang aku follow (promosi) ^^v

3. Kalau tulisanmu diplagiat/dikopi paste orang, apa reaksimu? Sedih, marah, atau justru bangga karena itu berarti tulisanmu bagus?

Nanya sambil curhat ya Mpok? hihi… Kalau aku ketiga-tiganya, dengan waktu yang tidak bersamaan.

4. Biasanya tertarik beli buku karena sampulnya yang keren, judulnya yang menarik, atau setelah baca back cover-nya yang kece?

Penulisnya, penerbitnya, lalu halaman pertama dan tengah secara acak. Kalau enak dibaca, langsung beli deh.

5. Pernah tertarik beli buku cuma gara-gara penasaran karena buku itu best seller?

Pernah. Habis itu jadi dapet pelajaran penting. Jangan lihat buku dari label best seller-nya aja.

6. Kalau nemu buku yang mengecewakan, biasanya yang bakal kamu “omelin” penulis, editor, penerbit, atau justru distributornya? Hahaha

Semua, kecuali editor dong, hahaha…

7. Apa target terbesar tahun ini? Sekadar sharing saja, supaya saya bisa ikut mengamini.

Pengin punya anak :’|

8. Untuk urusan karier, lebih memilih pekerjaan yang mencukupi secara finansial atau yang prestisius?

Dua-duanya boleh, dan yang paling penting sesuai passion.

9. Kalau boleh memilih, mana yang menurutmu paling baik untuk hidupmu, Mendung, Matahari, atau Angin? Beri alasannya

Contoh: Mendung baik untuk hidupku, sebab walau dingin, kedatangannya membawa hujan yang menyejukkan. 🙂

Ketiganya penting. Mendung, berarti aku aman dari risiko (tambah) gosong. Matahari berarti jemuranku yang selamat. Angin, kalau naik kendaraan atau lagi di mana pun lebih milih kena angin ketimbang menghirup asap knalpot ataupun rokok. Di antara ketiga itu, aku memang lebih nyaman dengan angin. Angin bisa kuajak main layang-layang, juga bisa jadi temen ngobrol soal banyak hal.

10. Kalau ketemu jinnya Aladin, tiga pertanyaan apa yang akan kamu minta?

Berapa jumlah planet dan bintang di jagad raya ini?

Pengin tahu apakah awan berbentuk kapas atau es batu

Apakah kelak bakal ada benda bernama mesin waktu? Kalau ada aku mau nabung dari sekarang biar bisa beli.

11. Ada yang tahu nggak maksudnya “Minuman Wilayahku” dan “Cokelat Rihana” itu apaan? Ini pertanyaan titipan dari saudara yang sedang OSPEK, hahaha 😀

Kalau menurutku, minuman wilayahku semacam minuman mineral yang dibawa sendiri dari rumah. Cokelat raihana. Silver Queen. Silver warna perak. Queen ratu. Ratu yang selalu pakai pakaian perak-perak, haha *maksa.

11 pertanyaan dariku yang mesti dijawab:

1. Kenapa kamu menulis?

2. Siapa penulis favoritmu?

3. Apa pekerjaan impianmu?

4. Musik/lagu apa yang saat ini menginspirasi hidupmu?

5. Kapan terakhir kamu membaca buku?

6. Kalau kamu bakal nulis buku, kalimat pertama apa yang bakal kamu tulis?

7. Apa saja 5 hal yang selalu ada di sekitar kamu?

8. Apa manfaat blog bagi kamu?

9. Buku apa yang paling kamu rekomendasikan untukku?

10. Kalau kamu berkesempatan travelling tahun ini, di mana tempat yang ingin kamu tuju?

11. Apa agenda terpentingmu tahun depan?

Pertanyaan ini ditujukan kepada beberapa dari temen-temen blogger yang mem-follow blogku:

1. http://poetriedee.blogspot.com/

2. http://imaz95.wordpress.com/

3. http://najib4848.wordpress.com/

4. http://elviamawarni.wordpress.com/

5. http://pengejakata.wordpress.com/

6. http://ayumiezhienfhat.wordpress.com/page/3/

7. http://shiningrinna.wordpress.com/

8. http://kazokuai11.wordpress.com/

9. http://nunnalita.wordpress.com/

10. http://jagadnatta.wordpress.com/

11. http://maulidini.wordpress.com/

Ditunggu tanggapannya ya…. Maaf karena hanya dibatasi maksimal  11 dan tidak bisa semua, jadi semoga lain waktu dapat berkesempatan berestafet ria lagi 😉

Salam kenal bagi yang belum kenal dan “hai,” buat yang sudah kenal:)

You are The Apple of My Eye

Hampir tengah malam dan film lama ini pun selesai kutonton. Film Taiwan berjudul You are the Apple of My Eye ini sebetulnya sudah mulai kutonton tahun kemarin hanya sampai menit-menit awal saja. Film ini diangkat dari novel dan kisah nyata, bercerita tenag persahabatan dan cinta dan sudut pandang yang tidak biasa, dengan fokus utama tokoh Ko Ching Teng yang dibintangi Ko Chen Tung dan Shen Chia Yi yang diperankan oleh Michelle Chen. Ko Ching Teng adalah murid pemalas dan bandel yang suka berolahraga. Ia selalu menganggap bahwa menjadi lelaki adalah gabungan antara kepribadian keras dan bisa berkelahi. Ia bahkan berangan-angan jadi Bruce lee. Sedangkan Shen Chia Yi adalah kutu buku berprestasi yang perfectionist, sejak remaja ia sudah berpikir ala orang dewasa. Kekonyolan yang terjadi di kelas mereka membuat Ko Ching Teng harus duduk di depan bangku Shen Chia Yi supaya terawasi. Kisah itu pun dimulai di sana. Interaksi dua karakter yang berbeda itu pun memunculkan adegan-adegan kocak dan kadang manis. Meski saling sebal, dan interaksi itu pun membuat mereka menjadi dekat. Ko Ching Teng sempat mengorbankan dirinya dihukum oleh guru killernya demi melindungi Shen Chia Yi yang saat itu tidak membawa buku. Kemudian, Shen Chia Yi pun mengungkapkan rasa terima kasihnya dengan membuat Ko Ching Teng mau belajar, hal yang paling membisankan bagi Ko Ching Teng. Belum lagi adegan konyol teman-teman Ko Ching Teng yang juga semuanya menyukai Shen Chia Yi dan memiliki cara sendiri-sendiri untuk mendekati.

Film ini tidak melulu soal cinta, tetapi juga tentang persahabatan. Mereka melewati masa-masa sulit bersama di kelas, dari menjalani hukuman bersama hingga kelulusan. Bahkan sempat saling bertukar cita-cita masing-masing ketika berpiknik bersama di pantai.

Tokoh Shen Chia Yi yang menyukai Ko Ching Teng diam-diam begitu juga cara Ko Ching Teng mendekati membuat saya gemas. Cerita berlangsung hingga mereka terpisah usai lulus SMA dan melanjutkan hidup masing-masing sesuai yang diimpikan. Shen Chia Yi dan Ko Ching Teng sempat kencan berdua, di mana saya merasa mereka bakal jadian saat itu juga. Tapi Ko Ching Teng terlalu takut bila Shen Chia Yi menolaknya, sehingga ia tak mau mendengar jawabannya yang padahal, mau bilang “iya”. Perhatian Ko Ching Teng terhadap Shen Chia Yi masih berlanjut. Ia rela mengantre berjam-jam di asramanya untuk menelepon SCY. Tapi lagi-lagi, muncul konfik. Suatu ketika Ko Ching Teng ingin menyenangkan Shen Chia Yi dengan mengadakan pertandingan yang memang mirip duel bebas melawan teman kampusnya. Tujuan utamanya untuk menunjukkan sisi kelelakiannya kepada Shen Chia Yi. Tetapi Shen Chia Yi justru kecewa dengan sikap Ko Ching Teng yang konyol karena menyakiti diri sendiri dengan berkelahi tanpa alasan bermutu. Mereka pun berpisah.

Adegan langsung melompat pada ekspresi teman-teman Ko Ching Teng yang tampak bahagia mendengar kabar perpisahan itu. Sampai di sini, hubungan mereka terlihat sulit dan memang sudah mentok. Meski demikian, cerita tetap berlanjut hingga menjelang kelulusan.

Rupanya, meski terpisah jarak dan waktu, mereka berdua masih saling mengenang. Bahkan ketika terjadi gempa besar di Taiwan, Ko Ching Teng masih berusaha menghubungi Shen Chia Yi, saat itu alat komunikasi HP sudah mulai ada. Chemistry itu masih terlihat ketika mereka akhirnya saling terhubung dan mengenang masa lalu. Paling bikin bengong ketika adegan sampai pada pernikahan Shen Chia Yi dan potongan flashback yang akhirnya jadi mengaduk-aduk kembali perasaan. Usai nonton, saya jadi ngerasa agak sesak napas. :)) Sisi kerennya, adegan di film ini seperti mengalir biasa saja dan natural. Nggak ada usur alay.

Kepiawaian Giddens Ko, penulis novel sekaligus sutradara dalam mengkonsep cerita dengan begitu menarik dan mampu membuat penontonnya menikmati alur cerita sekaligus dapat bernostalgia dengan masa sekolah mereka di tahun 1994 an. Dibumbui adegan yang kocak dan romantis, membuatnya tak sekadar menjadi film drama ala remaja yang membosankan. Tidak hanya penggarapan secara psikologis yang mampu mengiras emosi, tetapi juga detail dan lakon yang dibawakan pemainnya cukup sukses. Penonton bebas memberi penilaian terhadap setiap lakon atau jalan cerita. Artinya, penontonlah yang akan menilai sendiri, menunggu endingnya, mengira-ngira apa yang akan terjadi. Terlebih penuh dengan dialog yang dan narasi yang dapat diambil pelajaran, membuat film ini cukup berhasil bagi saya. Di samping alur ceritanya yang sering kali “nyelek” dan menggemaskan, karekter tokoh-tokohnya pun terbangun dengan kuat. Ya meskipun sih ada beberapa adegan konyol yang agak membongkar aib laki-laki, wkwkwk.

Barangkali kisah tragis dua orang sebaya yang saling suka sejak masa sekolah bukan hal yang jarang dialami kebanyakan dari kita. Meskipun sad ending (terutama bagi tokoh Ko Ching Teng), kemasan kocak yang masih terselip di sana membuat saya antara ingin nangis atau tertawa. Terlebih soundtrack-soundtrack-nya yang bikin suasana jadi tambah nyelek. Film ini  nggak serta merta hanya bikin nangis dan galau, tapi jadi merenungi banyak hal. Saya pun jadi mendapat semacam pesan moral, bahwa barangkali perasan yang tebaik adalah perasaan yang membaut pelaku-pelakunya jadi tegar dan bahagia menjalani hidup.

Setelah sekian lama menghindari film-film drama, yeah, menonton film yang ini cukup berhasil membuat saya linglung. Baiklah.

Ada quote yang akhirnya paling saya suka di film itu.

Ko Ching-Teng : “Ketika kamu sangat-sangat menyukai seorang wanita, ketika ada seseorang yang mengasihinya dan mencintainya, maka kamu akan benar-benar dari hati yang paling dalam mendoakan dia agar bahagia selamanya.”

Dan tentu saja saya nggak melewatkan quote-quote lain yang bertebaran melalui dialog-dialog tokonya, seperti:

Shen Chia-Yi : “Bodoh”
Ko Ching-Teng : “Memang benar! Aku memang bodoh”
Shen Chia-Yi : “Tolol!”
Ko Ching-Teng : “Iya. Hanya orang tolol yang bisa mengejarmu selama itu!”
Shen Chia-Yi : “Kamu tidak mengerti apa-apa!”
Ko Ching-Teng : “Aku memang tidak mengerti apa-apa!”

Shen Chia-Yi: “Aku sering mendengar orang berkata bahwa dalam percintaan, masa paling romantis adalah masa-masa pendekatan. Pada saat sudah benar-benar jadian, banyak perasaan yang akan hilang sirna. Jadi aku berpikir, lebih baik aku membiarkanmu mengejarku lebih lama. Daripada saat sudah benar-benar jadian tidak lagi romantis, kalau begitu kan aku yang rugi.”

“Dalam pertumbuhan menuju dewasa, hal yang paling kejam adalah perempuan selalu lebih dewasa dari laki-laki seumuranya. Kedewasaan seorang perempuan, tak ada satu pun laki-laki yang mampu menampungnya.”

“Nilai bagus lalu bisa memandang rendah orang lain? Teruskan saja kalau begitu, aku nggak peduli.”

“Yang aku pandang rendah bukan orang yang nilainya jelek. Yang aku pandang rendah adalah orang yang tidak mau belajar giat tetapi memandang rendah orang yang giat belajar.”

Sebetulnya, apalah hebatnya bisa mengerjakan ini? Aku berani bertaruh, 10 tahun lagi walaupun aku tidak tahu apa itu ‘Log’, aku masih bisa hidup baik-baik. | Emmm… | Kamu tidak percaya? | Percaya kok | Percaya lalu kenapa masih belajar giat? | Dalam kehidupan, manusia memang banyak usaha yang tidak membuahkan hasil. Seperti kamu yang berkelakuan kekanak-kanakan seperti ini, terhadap kehidupanmu tidak aka ada gunanya.”

“Jadi, orang yang bisa mewujudkan impian bukanlah selalu orang yang pintar, melainkan orang tidak pernah menyerah.”

“Karena pernah kamu sukai, aku jadi sulit untuk merasa orang lain benar-benar menyukaiku.”

Ko Ching-Teng : “Tidak seperti tes, setiap soal yang rumit pasti ada jawabannya.”

Ko Ching-Teng : “Dalam kehidupan nyata, ada beberapa hal yang selamanya tidak ada jawabannya.”

Terima kasih karena telah menyukaiku | Aku juga suka… pada diriku yang menyukaimu saat itu….

 

So, selamat menonton, film ini recommended untuk usia dewasa muda 😉

 

Berikut trailer-nya

Resensi: Mesopotamia, Mimpi yang Panjang dan Melelahkan

novel Mesopotamia

Judul: Mesopotamia, Mimpi yang Panjang dan Teramat Melelahkan
Penulis: Senja Nilasari
Tahun terbit: September 2014
Penerbit : PING!!!
Genre : Fiksi
Jumlah Halaman : 220
ISBN : 139786022960232

Novel ini berkisah tentang Oman. Seorang arsitektur asal Irak yang bekerja di Indonesia. Tatkala kembali ke rumah yang diwariskan oleh ibunya, ia menemukan sebuah sebuah buku Meet the Sumerians. Tiba-tiba saja ia terlempar ke tempat yang begitu asing yang kelak ia tahu adalah di zaman Mesopotamia. Sebagai pendatang asing bagi bangsa tersebut, ia pun dijadikan budak seorang tuan dan mengerjakan hal-hal yang tak pernah lakukan di dunia nyata, seperti merawat ternak dan menjadi pelayan. Tak berhenti sampai di situ, perjalann penuh liku membuatnya terlempar dari satu tuan ke tuan yang lainnya hingga pada akhirnya ia terlibat dalam proyek pembuatan Ziggurat Ur, salah satu ziggurat terbesar pada zaman itu. Bahkan Raja Shugi, raja yang menjadi penguasa di zaman itu, meminta Oman untuk memberikan ide dan pengalamannya sebagai arsitek. Tentu saja dengan dua dialog yang sulit saling mempercayai. Hal-hal yang berbeda yang dibawa Oman membuat mereka mengiranya alien. Bukan tidak sadar Oman sedang sedang berada di dimensi masa lalu, sebab ia masih ingat bahwa ia memiliki kehidupan yang sebenarnya. Hanya saja ia tak mengerti bagaimana keluar dari sana. Bahkan cara berada di sana pun ia tak tahu. Mimpinya seperti begitu nyata hingga membuatnya ingat kembali pengetahuan sejarah peradaban yang sudah terkubur itu. Novel ini pun diakhiri dengan serangkaian adegan yang membuat saya seperti menahan napas ingin tahu akhirnya.

Apakah Oman dapat kembali, atau menetap di peradaban Sumeria yang sudah terlanjur ia jalani?

Novel ini adalah salah satu buku kesekian bertema projek astral yang diterbitkan divapress. Sepertinya sudah menjadi kebiasaan bahwa novel bertema astral projection dan berlatar belakang peradaban kuno selalu menampilkan alur campuran. Novel ini berlatar Irak, Indonesia, dan Sumeria pada zaman Mesopotamia. Penuturan disampaikan dengan sudut pandang orang ketiga, dengan gaya bahasa mengalir ringan dan mudah dimengerti. Diksi yang dipilih oleh penulis pun sederhana dan dapat dipahami.

“Mesopotamia, Mimpi yang Panjang yang Teramat Melelahkan” ditulis oleh Senja Nilasari dan merupakan novel pertamanya yang diterbitkan. Meskipun termasuk pendatang baru, Senja sudah menulis novel ini dengan sangat baik dan tampaknya sudah melakukan riset yang cukup. Novel ini seperti ditulis dengan hati-hati, terlihat dari jalinan cerita yang lumayan logis. Meskipun tentu saja, kita tidak dapat membandingkan sebuah novel fiksi dengan fakta sejarah yang sebenarnya. Sebab bukan hanya pada kebenaran sejarah letak menariknya.

Dalam novel bertema astral projection ini, Omar menjadi tokoh utama dan memiliki porsi lebih banyak dibanding tokoh yang lain. Omar digambarkan sebagai arsitek yang tekun, pekerja keras, dan sering kali lebih mementingkan pekerjaannya. Dibuktikan bahwa ia menunda berangkat ke Irak ketika kabar kematian ibunya sampai di telinganya. Sedangkan karakter Diva yang lembut dan pasrah. Ada pula Qanitah, adik perempuan Oman yang penyabar, sedangkan ayah Omar digambarkan sebagai ayah yang diktator dan dominan. Di samping itu bangunan karakter raja yang gila kekusaaan dan para budak dan tuan berdiri sendiri-sendiri dan berhasil dijabarkan dengan tidak langsung oleh Senja. Seperti yang pernah saya baca dari penuturan seorang penulis (saya lupa namanya) bahwa kualaitas karya dapat dilihat dari apakah pembaca dapat mengimajinasikannya sendiri atau terlalu banyak diguru oleh penjelasan gamblang. Novel ini mampu memenuhi poin pertama. Membaca karya yang satu ini membuat saya ingat untuk tidak melihat buku dari penampilan luarnya. Deskripsi setting yang dibangun membuat pembaca dapat membayangkan sendiri situasi yang dipaparkan dalam alur demi alur. Unsur imajinasi dibangun cukup kuat.

Namun, hingga dua per tiga bagian novel ini masih bercerita tentang Sumeria dan kehidupan masyarakatnya, juga tentang seorang raja yang otoriter dan membanggakan diri sendiri. Di samping itu, novel Mesopotamia dibingkai cerita kehidupan realitas Omar yang sepotong-sepotong seperti masa kecil Omar yang kurang bahagia, kodisi perang hingga cerita mengenai dirinya dan Diva kekasihnya yang juga tidak banyak dieksplore. Meski demikian, novel bertema astral projection ini memenuhi totalitasnya dengan keterhubungan antarcerita, terlebih setiap tokoh memiliki peran yang masing-masing saling berpengaruh.

Hingga bagian tengah-tengah itulah, saya merasa harus sejak istirahat untuk kembali membaca ketika mud saya datang lagi. Terutama di babak sebelum Oman betemu dengan Raja Shulgi. Bukan karena ceritanya tidak menarik, tapi bagian tersebut memang agak lambat dan datar. Tapi justru agak tergesa ketika masuk di beberapa babak yang agak menegangkan. Di samping itu ada missing link di bagian ketika Diva berada di alam Oman yang lain itu. Saya juga agak penasaran dengan situasi ‘mimpi di dalam mimpi’ yang terjadi di halaman 172. Membuat saya sempat bingung sebelum ingat kembali bahwa novel ini memang hanya fiksi :p.

Dari segi penampilan buku, tidak banyak yang akan saya utarakan. Ukuran font dan halaman sudah sesuai, terlebih sudah dilengkapi footnote untuk menjelaskan istilah asing. Hanya agak mengganjal salah satunya di bagian cover. Meskipnn sudah menggambarkan tema buku, menurut saya perpaduan warnanya agak sedikit pucat sehingga bagunan ziggurat menjadi terkesan kurang tegas. Tapi itu hanya salah satu dari pandangan subjektif saya. Tapi toh, kualitas novel tidak bisa ditentukan dengan kulit. Selain itu, misalnya di halaman 196-197 terdapat penataan margin yang barangkali bagian dari kesalahan tak disengaja di mesin cetak. Ditemukan pula beberapa kesalahan eja dalam novel ini seperti di halaman 159. kata “Ke dua”, mestinya jadi “kedua” ya :), dan beberapa kesalahan tanda baca seperti di halaman 44 dan 146.

Meski demikian, novel yang lebih cocok untuk segmen young adult ini tetap menarik untuk mengisi liburan.

kata guru sufi,

“Kesempurnaan adalah ketiadaan sekaligus keberadaan, kebahagiaan sekaligus kesedihan, hitam sekaligus putih… Kesempurnaan adalah konfigurasi apik dari berbagai hal yang berlawanan”

—-diambil dari buku “Yang Galau Yang Meracau, Curhat (Tuan) Setan, karya Fahd Djibran

Resensi: Le Mannequin (Hatiku Tidak Ada di Paris)

DSCN3645

Judul : Le Mannequin, Hatiku Tidak Ada di Paris
Penulis : Mini GK
Penerbit : Diva Press
Genre : Chick Lit
Tahun Terbit : 2014
Editor : Ratna Mariastuti
ISBN : 978-602-255-588-9
Harga : Rp48.000,-

Hal yang menyedihkan tentang cinta adalah jika kamu telah bertemu seseorang yang berarti buat kamu tapi pada akhirnya kalian tidak dapat bersatu... –318

Tidak seperti bayangan awal saya ketika melihat cover depan. Membaca fragmen pertama novel ini memang seperti berjalan-jalan sebentar di tengah Kota Paris yang romantis dan nyeni, namun melanjutkan membacanya, saya banyak menemukan local wisdom ala Indonesia, berada di Indonesia, dan menyimak orang-orang yang hidup di Indonesia. Sekaligus juga menelusuri suasana ala Gunung Kidul dengan keindahan alamnya.

Le Mannequin (Hatiku Tidak Ada di Paris) bercerita tentang seorang gadis bernama Sekar Purnomo, yang meski lahir dan tinggal di wilayahpedesaan Gunung Kidul, tetapi memiliki mimpi besar menjadi desainer ternama. Terbatasnya ekonomi keluarga, ia tak berkesempatan menempuh pendidikan yang tinggi. Bermodal kepercayaan diri dan cita-cita, ia pun memutuskan hijrah ke Jakarta dan bekerja di perusahaan garmen. Candra Kusuma, satu-satunya sahabatnya, berusaha menahannya. Candra adalah sahabat masa kecilnya. Mereka tumbuh bersama namun memiki impian yang berbeda. Sekar yang ingin mendunia, sedang Candra hanya ingin memajukan desanya. Namun, keduanya selalu saling ada. Kebersamaan hinga dewasa mampu menumbuhkan benih cinta di hati Candra yang akhirnya ia simpan dalam-dalam. Mau tak mau, ia pun merelakannya pergi jauh ke Jakarta untuk waktu yang lama. Meski berat pula bagi Sekar meninggalkan orang tua dan sahabat yang selalu memberinya nasihat dan dukungan itu.

Sekar datang ke Jakarta dengan tanpa pengetahuan apa pun tentang kota tersebut. Lukman, pria yang tak sengaja ditemuinya di kereta inilah yang kelak membantu segala keperluan dan akhirnya menjadi kekasihnya. Tahun-tahun berlalu, membawa Sekar menemukan kesempatan di bidang yang dia impikan, menjadi desainer di butik Pavo milik Madame Diamanta. Ia bermetamorfosa menjadi gadis yang berpenampilan menawan dan memiiki karier yang gemilang. Daya kreatif dan kerja kerasnya sedikit banyak berpengaruh pada kemajuan butik. Sementara hubungnnya dengan Lukman yang sudah hampir 2 tahun belum menemukan titik jawaban. Malah cobaan demi cobaan mendera dengan hadirnya Sabinta dan isu perjodohan yang digadang-gadang orang tua Lukman. Membuat saya ikut gemas.

Di sisi lain, ia pun bertemu dengan Yasak, anak sulung Diamanta yang jatuh cinta padanya pada pandangan pertama. Namun pertemuannya barangkali kurang tepat sebab Sekar tengah diliputi kegalauan. Meski demikian, Yasak selalu ada untuknya, terutama ketika melewati berbagai kesulitan termasuk menghadapi teror Gita, salah satu karyawan Pavo yang menyimpan dengki kepadanya. Gita ini menurut saya mirip tokoh antagonis sinteron.

Cobaan Sekar tak berhenti sampai di sana. Hubungannya dengan Lukman kandas lantaran pria tersebut memilih menikahi Sabinta. Mimpinya terancam retak dengan kabar itu hingga akhirnya ia memutuskan untuk resign dan pulang kampung. Tentu saja Yasak dan Diamanta tidak sependapat, terlebih mereka memahami mimpi besar Sekar yang tinggal selangkah lagi. Hingga akhirnya, Sekar mengambil cuti untuk memikirkan kembali keputusannya sambil pulang ke Gunung Kidul. Kembali ke kampung halaman mampu mengobati luka hatinya, meski bayangan Lukman masih ada di benaknya. Pertemuan kembali dengan sahabat masa kecilnya dan tawaran Diamanta mengikuti fashion week di Perancis cukup mengembalikan kebahagiaannya. Terlebih pada saat yang sama ia pun tahu alasan Candra selama ini menunggunya.

Namun meski cita-cita sudah di depan mata dan kondisi mengikatnya pada jalan yang harus ditempuh, ia tetap harus menentukan dengan siapa ia akan menyandarkan hatinya. Kakak beradik Yasak dan Demian yang romantis dan sama-sama mencintainya, Candra yang telah mengenalnya sejak kecil, atau Lukman yang kembali mencarinya karena menyesali keputusannya menikahi Sabinta?

Nggak kebayang ribetnya kan, sebab satu aja repot, apalagi 4, :))).

Novel ini memiliki alur mau dan mundur. Akhir dari kisah ini mengalir manis dan menyajikan ending yang cukup mendebarkan. Seperti kata Pak Ahmad Tohari dalam endorsement-nya, bahwa karya Mini GK ini memang mengesankan. Tentunya Mini GK telah berpengalaman menulis kisah romance setelah sebelumnya menerbitkan dua novel berjudul Abnormal dan Stand by Me.

Novel Le Mannequin (Hatiku Tidak Ada di Paris) disajikan dengan tema cinta dan perjuangan hidup yang mengalir dengan ringan. Adapun deskripsi latar yang detail, diksi yang enak dibaca, nilai-nilai kesederhanaan, juga pesan moral dan mitos-mitos yang bertabaran menjadi kelebihan novel ini. Cara Mbak Mini GK menceritakan keindahan alam Guning Kidul tak kalah menarik. Tak lupa ia memadukan nilai-nilai keluhuran asli Indonesia, ibarat long dress bergaya modern dengan sentuhan batik.

Kesukaan Sekar terhadap sepasang boneka mannequin yang disebutkan beberapa kali di dalam novel membuatnya tidak lepas dari judul yang dipilih. Mbak Mini tak kehilangan ketahanannya memperkenalkan hal yang baru namun beridentitas dalam karyanya yang satu ini. Tidak hanya itu, novel ini pun dilengkapi dengan cerita dongeng Sam Pek Eng Tay. Boleh jadi novel ini memiliki napas yang berbeda meskipun dari segi cerita sebetulnya umum. Kisah gadis desa yang berjuang ke kota, ditinggal nikah sama pacar, dan kebimbangan di antara banyak pilihan adalah tema yang klise.

Tentu saja tidak ada karya yang sempurna. Masih banyak hal yang sepertinya dapat diperbaiki dalam novel ini.

Misalnya, pada bagian pertemuan dengan Demian di pembukaan novel terkesan agak instan. Kalau saya jadi Sekar,
barangkali butuh pertemanan tahun kedua untuk mau difoto menggunakan kamera pribadinya, hehe. Di samping itu, banyak hal yang kerap dihadirkan Mbak Mini GK dalam novel ini tentang kebetulan-kebetulan yang kurang masuk akal. Jakarta, Bandung, dan Paris seolah dihadirkan sebagai kota kecil di mana kita akan sering ketemu tetangga kita yang itu-itu aja. Lalu bagaimana proses pekerjaan mendesain itu sendiri? Bagaimana proses berperasaan terhadap seseorang? Saya belum begitu menangkap feel-nya selain rata-rata disebabkan oleh kekaguman secara fisik. Tapi tidak mengapa.

Karakter Sekar sendiri digambarkan sebagai gadis desa yang polos tapi bersemangat. Kenekatananya meraih cita-cita membawanya pada serangkaian kesuksesan dan keberuntungan. Secara fisik, ia ditampilkan sangat mempesona. Kecantikan ini membuat setiap pria tampan langsung “memuja”. Sekar digambarkan sebagai gadis sukses namun tidak terlalu banyak memiliki wawasan mengenai kehidupan dan cenderung nerimo (pasrah). Metamorfosis karakternya ditopang oleh orang-orang di sekitarnya. Namun penggambarannya pas sebab di dalam novel, Sekar pun bukan orang yang suka membaca, melainkan sibuk di wilayah pekerjaan dan mengejar mimpi di bidang fashion. Kehadiran tokoh Candra yang digambarkan sebagai pria penyabar dan kutu buku hadir sebagai peyeimbang dan pengisi. Sebagai sahabat masa kecil yang cukup berpangaruh dalam hidup Sekar.

Sebagai karya yang merepresentasikan genre chick lit, novel ini tampaknya sengaja dihadirkan bertema cinta dengan segala aspeknya yang sempurna. Hampir semua tokoh wanita dan prianya ganteng, cantik, berkulit cerah, tinggi, dan tajir. Konsekuaensi dari itu, tokoh sampingannya kurang memiliki bangunan karakter yang kuat. Pada dasarnya kan manusia itu terdiri dari kelebihan dan kekurangan. Namun, karakter para pria yang cukup penting dalam novel ini nyaris tidak dideskripsikan secara realistis. Barangkali akan lebih natural bila, misalnya nih: pria cerdas berwajah oriental berambut kaku, jarang mandi, punya kebiasaan gigit kuku kalau gugup, atau pobhia gerobak misalnya. Untungnya tokoh Candra yang seorang guru dan tak ingin hijrah dari desa digambarkan lumayan detail sekalipun tidak jauh dari jenis ‘sempurna’. Barangkali akan lebih menggambarkan penduduk Gunung Kidul kalau tokoh Candra berkulit sawo matang dan tidak terlalu tinggi.

Segi tampilan, seperti ukuran font dan margin sudah pas. Hanya beberapa saja kesalahan eja dan diksi tapi tidak terlalu berpengaruh.
Overall, novel ini memberikan kesan manis dan menarik. Apalagi banyak quote yang dapat dijadikan pelajaran hidup, salah satunya seperti berikut.

Adalah kado termahal yang pernah ada, yaitu kesempatan–189

Selamat berburu novel dan selamat membaca 🙂