Rumah Tua Bergaya Belanda

“Sudah hampir sertus tahunan, rumah itu kosong. Tapi sudah dua hari ini aku lihat lampunya menyala, setiap jam 10.” Hardio memberitahukan kabar penting itu kepada tiga temannya: Argo, Rahman, dan Sofia. Sembari berjalan pulang dari tempat les. Sejak mereka kecil, rumah tua bergaya Belanda yang terletak di ujung kompleks itu memang sudah menjadi bahan pembicaraan dan imajinasi.
“Lalu kamu sudah tahu siapa yang menempati?” tanya Sofia antusias.
Memang di kawasan itu, kebanyakan rumahnya bergaya lama. Ada yang sudah direnovasi, ada yang tidak. Dan salah satu rumah tua yang kebetulan dekat dengan rumah Hardio ini, adalah yang tertua yang tak pernah dihuni.
This_Old_House_Wallpaper_wlymd
“Belum tahu. Tapi anehnya, ibuku sendiri gak yakin rumah itu sudah dihuni. Soalnya selalu sepi seperti biasa.”
Argo berpikir. “Jangan-jangan, kamu cuma ngebohong aja.”
“Wong aku lihat sendiri!”
“Kan sendiri. Bukan barengan?”
“Sudah-sudah. Sepertinya rumah itu memang berhantu,” Rahman berargumen.
“Jangan kalian pikir aku membual? Aku bahkan dengar musik klasik walaupun gak jelas.”
“Sebenarnya aku lebih percaya kalau cuma alien yang bisa tinggal di sana,” Sofia berspekulasi. Bertahun lamanya, ia masih mempertahankan keyakinan ini.
“Ah, mengkhayal terus Sof. Mau alien lah, vampire lah. Kalo bukan? Kalau misal malah dipakai sarang penjahat? Zaman sekarang, dari cecunguk sampai orang besar bisa berbuat kejahatan bukan?” Argo mengomel. Tapi pendapat spontannya ini malah mendadak membuat mereka saling pandang. Teringat berbagai kasus kejahatan terjadi di kampung mereka akhir-akhir ini.
“Bagaimana bila kita selidiki?”
“Ide yang bagus.”

Dan malam itu, tepat di jam 10, mereka mulai bergerak—jam yang sama ketika Hardio melihat lampu rumah itu menyala. Seperti biasa mereka berkumpul di pos ronda. Membawa perlengkapan seperti senter, perekam, buku catatan, dan tentunya keberanian.
“Kalau ternyata rumah itu digunakan sebagai markas kejahatan, kita langsung telepon polisi,” kata Argo. Kemudian menyuruh Sofia mengondisikan HP-nya. Sementara ia menyuruh Rahman, yang bertubuh paling bongsor, mengambil pentungan sebagai senjata untuk berjaga-jaga.
Mereka pun mulai mengendap-endap mencari tempat yang tepat di semak-semak sekitar halaman rumah tua tersebut.
Betul. Pada jam 10, terdengar mobil memasuki pintu gerbang.
“Sst, jangan berisik. Lihat ada mobil masuk,” Hardio berbisik, ia memimpin teman-temannya merapat ke pohon jambu.
Anehnya, tak seorang pun dari anak-anak remaja ini berani mengintip. Keberanian mereka buyar seketika.
Lalu terdengar suara dua orang memasuki rumah. Menyusul suara anak perempuan dan seorang nenek. Bunyi Lampu dinyalakan. Mereka ngobrol dengan riang. Hardio menyimak.
Hingga lamat terdengar dari dalam rumah.
“Nek, Mila bosan keluar masuk rumah sakit mulu….”
“Itu semua demi kebaikanmu, Mila.. lihat, daerah ini cukup sejuk. Bagus untuk masa penyembuhanmu….”
……
“Owalah.. kirain siapa. Ternyata emang ada penghuni baru. Seorang nenek dan anak permepuan.” Hardio menghela napas lega. Sementara teman-teman lainnya masih bergeming. Menatap Hardio dengan tatapan penuh tanya. Argo hanya mengangkat bahu.
“Ya sudah yuk. Bubar!” lanjut Hardio, memimpin mereka pulang.
Baru beberapa langkah berjalan, Sofia menghentikan, “Tunggu, Har.”
“Apa lagi?”
“Yang kamu bilang tadi… anak perempuan, nenek-nenek….”
“Ya? Kenapa?”
“Aku gak ngeliat.”
“Apa?” Hardio seketika menatap seluruh temannya meminta jawaban. Mereka juga menggeleng serentak.
“Aku juga nggak….”
Hardio membeku.

 

 

kisah ini diikutsertakan dalam kontes menulis salah satu blog, bergenre ringan.

Iklan