Review: Modern Islamic Parenting

35564780_2087462968242531_2209632391708803072_n

Judul: Modern Islamic Parenting
Penulis: DR. Hasan Syamsi
Penerbit: Aishar Publishing
Cetakan 1: November 2017
Bahasa: Indonesia
ISBN: 978-602-1243-08-4
Jumlah halaman: 312

 

Hampir tidak ada gaya parenting yang sempurna di dunia ini. Tapi setiap orang tua menginginkan cara yang ideal untuk menerapkannya. Meski bertahun berkecimpung di dunia pendidikan anak, saya tetap merasa harus belajar lebih banyak. Sebab mengajari anak orang lain ternyata bisa beda ceritanya dengan mengajari anak kandung sendiri. Mendidik anak sendiri tidak hanya terbatas sekian jam di kelas, tetapi sepanjang waktu di mana pun itu. Tanggung jawabnya juga lebih berat. Konon bahkan dilaporkan kepada Allah kelak di hari akhir. Dalam proses belajar mendidik anak, tak jarang saya mengadopsi ilmu dari berbagai buku dan artikel. Terkadang masih terpengaruh juga dengan beberapa gaya mendidik orang tua saya. Tetapi pada intinya, saya setuju anak-anak (di keluarga muslim) mestinya dibesarkan sesuai dengan nilai-nilai islami pula. Nah dari sini saya tahu, ini sedikit menantang bagi saya mengingat anak-anak tumbuh di lingkungan islami yang sedikit beragam. Maklum tinggal di Jawa, keluarga besar kami tergolong plural. Tapi tentu saya tidak mempermasalahkan keberagaman itu, karena anak-anak akan tetap tumbuh dalam dunia yang menantang di luar sana, yang perlu bagi saya sebagai orang tua, menjadi pengarah yang mampu membawa mereka pada pencerahan, dan bukan sebaliknya. Memiliki anak-anak yang mampu menjaga dirinya dan tak mudah terbawa arus negatif pastilah sungguh damai rasanya.

“Sekiranya kamu bersikap keras lagi kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. (Ali Imlan: 159)

Beruntung saya menemukan buku Modern Islamic Parenting yang ditulis oleh DR. Hasan Syamsi melalui pengalamannya selama 20 tahun membesarkan anak-anak. Menjadi orang tua kan, meminjam istilah Elly Risman, nggak bisa terjun bebas. Melainkan harus belajar juga. Saya juga membacanya berulang-ulang selama beberapa minggu ini dan merasa tertarik dengan isinya. Buku ini berisi paduan mendidik anak dengan lembut sesuai ajaran Nabi namun masih relevan diterapkan di masa sekarang. Sayangnya buku ini belum terdaftar di goodreads. Padahal menurut saya, isinya mencakup hampir semua yang dibutuhkan para orang tua mendidik anak-anaknya untuk berkarakter islami. Secara garis besar buku ini menerangkan beberapa poin untuk dijadikan pedoman dalam membentuk anak-anak yang islami. Pertanyaan-pertanyaan kecil saya terkait bagaimana sih cara paling ideal membentuk generasi islami, terjawab di buku ini.

Dibuka dengan uraian singkat terkait tanggung jawab orang tua terhadap kehidupan anak-anak termasuk juga pentingnya memposikan diri sebagai orang tua yang diidolakan anak. Sampai di sini, saya menyadari perlunya refleksi diri sebagai orang tua selama ini karena bagaimanapun orang tualah figur utama anak-anak. Mereka akan meniru dan bertindak sesuai apa yang dilihat sejak dini. Menerapkan kebiasaan baik seperti mengucapkan tolong, maaf, dan permisi, menggosok gigi, sholat, bahkan menyukai buku meski belum bisa membacanya, mudah dilakukan ketika mereka masih berada di usia dini. Nah ternyata, mereka pun juga peniru ulung yang belum bisa memilah baik dan buruk. Belajar dari pengalaman, saya pernah shock mendengar anak pertama saya mengucapkan istilah kasar yang tidak pernah didengar di rumah. Maka kami yang orang rumah selalu mengalihkan pada istilah lain dan lucu untuk diucapkan hingga ia lupa dengan sendirinya. Sejak itu, saya jadi tahu pentingnya menjaga anak-anak dari efek buruk lingkungan luar yang kurang sesuai dengan prinsip keluarga.

Pada buku ini, ada banyak poin yang dibahas terkait mendidik anak secara islami, yaitu seperti:

  • Memahami jenis mainan dan hadiah untuk anak,
  • Pentingnya belajar menyelesaikan masalah,
  • Menghukum dengan tepat,
  • Pendidikan seks usia dini,
  • Hingga pada membentuk karakter anak sejak dini.

 

Tak hanya itu, buku ini juga merangkum hal-hal yang akan ditemui orang tua tatkala anaknya beranjak remaja dan apa yang sebaiknya dilakukan. Tak lupa, karena ini buku yang full mengarahkan para orang tua membentuk anak-anak yang soleh, maka di beberapa bab di buku ini Hasan Syamsi juga menambahkan arahan mengenai bagaimana agar anak-anak kita dapat menjadi pengafal Al-Quran, salah satunya adalah meminimalisir atau malah menjauhkan mereka dari hingar bingar televisi dan gadget. Di akhir halaman, buku ini dilengkapi pula dengan doa agar anak-anak kita dimudahkan dalam menghafal Al-Quran. Sekalipun saya nggak muluk-muluk ingin anak saya mengahafal seluruh isi Al-Quran, tapi saya memprioritasnkan hanya hal-hal baik yang dipelajari mereka pada usia dini sebagai landasan untuk proses belajar di tahun-tahun berikutnya. Dan tak terasa, di usia anak pertama yang belum 3 tahun, alhamdulillah, ia hafal beberapa surat (yang pendek) Juz ‘Ama, doa sehari-hari, dan juga ayat kursi.

Bahasa yang dituturkan dengan ringan pada buku ini membuat pembaca mudah memahaminya. Namun menurut saya, tiap bab di buku ini dibahas dengan kurang mendalam. Tiap subbab dalam buku ini kalaupun dipecah menjadi beberapa buku pun tetap bisa. Kendati demikian, buku ini isinya berbobot dan mudah dipahami, meskipun susunan per pembahasan sedikit acak-acakkan. Membaca buku ini ibarat sedang menyimak seorang ustadz dalam sebuah forum yang tengah sibuk menjawab seabrek pertanyaan dari para jamaah. Terkadang tidak berurutan tapi setiap pembahasan mengandung informasi penting yang rugi kalau dilewatkan.

“Kita ajarkan kepadanya bahwa dusta dan iman tidak menyatu, dan dusta kecil ataupun besar sama saja.”–(h. 236)

Sayang ditemukan banyak kalimat negasi yang pilih penulis dalam buku yang bertema pendidikan islami ini, padahal kalimat positif lebih mudah dipahami ketimbang yang negatif. Seperti pada halamn 40- “Ketika salah seorang teman berbuat tidak baik, jangan berlaku kasar dan berkata kepadanya, ‘Saya tidak ingin kau membawa perilaku burukmu ke rumah kami'” dan kalimat selanjutnya hanya berupa “Usahakan untuk memberi penjelasan kepadanya dengan tenang.” Pada halaman 45 bahkan hanya berisi contoh-contoh kalimat ancaman yang tidak boleh dilontarkan tanpa dilengkapi dengan alternatif kalimat yang positif yang dapat diterapkan orang tua. Namun tidak mengapa, dengan begitu, pembaca seolah diajak aktif berpikir dan kretif mencari sendiri kalimat terbaik untuk dikatakan kepada putra-putrinya. Syukurlah kalimat negatif yang sejenis hanya sebagian kecil saja di buku ini.

Buku ini menarik untuk dibaca dan diterapkan orang tua kepada anak-anaknya. Apalagi seperti halnya buku-buku islami lain, materinya didukung oleh pengalan surat Al-Quran dan hadist yang sahih. Kalau sudah begitu saya, jadi tambah luluh. Namun orang tua meski tak habis ikhtiarnya untuk menjadikan anak-anaknya ahli surga, perlu juga bertawakal. Sebab, hasil kan tetap saja di tangan Allah. Saya bahkan ingin sekali menjadikan isi buku ini pedoman. Barangkali sejak selesai baca ini saya terdorong membuat semacam evaluasi dalam jurnal pribadi berdasarkan poin-poin di buku ini seiring dengan perkembangan dan proses belajar saya sebagai orang tua.

Buku ini diperuntukkan bagi siapa pun yang membutuhkan semacam gambaran bagaimana mendidik yang tepat dan islami sesuai dengna anjuran Nabi. Recommended bagi orang tua, calon orang tua, atau siapa pun yang tengah berjuang mendidik anak-anak.

 

Iklan

Bacaan Bergizi Minggu Ini

Kendala ngantor adalah rasa suntuk tentu saja, karena pola-pola rutin dan berulang yang dilakukan setiap hari. Namun setidaknya ada 3 naskah bergizi yang mesti diselesaikan minggu ini di samping bacaan-bacaan bermutu lainnya yang tiba-tiba kutemukan dan seperti oleh-oleh dari alam atas kesuntukanku belakangan ini.

3 naskah itu adalah:

Pertama, tentang 108 tokoh ilmuwan dan penemu yang menginspirasi dunia. Naskah yang satu ini bikin nambah wawasan. Terlebih diceritakan bahwa banyak ilmuwan dan penemu yang berpengaruh di dunia itu nggak menempuh pendidikan formal di sekolah. Bahkan tak sedikit pula yang memiliki kehidupan pribadi yang kurang menyenangkan. Hari ini, aku baru sampai di bab tentang Alfred Russel Wallace, penjelajah, naturalis, yang pernah mengumpulkan jenis flora dan fauna di nusantara dan sempat mengispirasi pemikiran Darwin. Wallace salah satu yang paling menarik, salah satu bukunya sempat iseng kubaca sekilas waktu itu dan tak sampai selesai karena tidak boleh dibawa pulang dari perpustakaan kota.

Kedua, tentang penyakit yang disebabkan oleh lingkungan global dan modernitas beserta penanggulangan dan pencegahannya. Naskah ini ditulis oleh seorang dokter ahli penyakit dan lingkungan dan sekarang naskah ini baru proses editing. Memang, ilustrasi dan isinya sedikit mengerikan bagi orang awam. Namun, kelak buku ini penting dibaca semua orang, sebab untuk menyambut kemajuan teknologi dan modernitas, orang tidak harus menjalaninya dengan sakit-sakitan 😐 nanti bila buku selesai diedit, aku mungkin akan mengusahakan untuk membuatkan semacam review. Semoga saja ada kesempatan dan waktu luang.

Ketiga, novel Sherlock Holmes: Anjing Iblis dari Baskerville, kalau yang ini bukan kerjaan kantor, tapi freelance. Ini salah satu buku yang membuatku penasaran karena belum pernah kubaca. Ingatanku berkelana di masa remaja. Di masa remaja itulah aku cenderung lebih banyak bergaul dengan buku daripada manusia, salah satu penyebabnya adalah gara-gara kecanduan buku-buku bertema detektif semacam ini. Baca bukunya Sir Arthur Conan Doyle seperti nostalgia zaman remaja, dan setidaknya dapat menghadirkan nuansa baru. Tapi harus tak boleh lupa bahwa aku mesti menulis resensinya segera karena sudah dikejar deadline. Kesalahan eja yang berhamburan di sana membuatku gemas. Setidaknya ada dua hal tentang ini, bahwa memang penerjemah mesti punya setidaknya pengetahuan mengedit konten, maka dari itu proofreader adalah profesi yang jelas penting.

Demikianlah mengapa aku sebenarnya cukup menikmati pekerjaanku yang sekarang :). Selain sibuk mengejar deadline, aku tak kehilangan waktu untuk belajar juga. Mungkin memang melelahkan rasanya jadi orang yang selalu “haus”, tapi di sisi lain menyenangkan rasanya bahwa hidup sebenarnya tidak membosankan, yeah… sebelum masa bad mood datang.

Kei: Ada Cinta di Tengah Perang

novel Kei

Judul     : Kei
Penulis  : Erni Aladjai
Penerbit: GagasMedia
Terbit    : 2013
Tebal    : 250 halaman
ISBN      : 9789797806491

 

 

 

 

 

 

Inilah menara dari mana aku menyaksikan,
antara cahaya dan air yang membisu,
waktu dengan pedangnya,
dan aku mengalir ke dalam hidup
-Pablo Neruda-

 

Konflik di Kepulauan Maluku semenjak tahun 1999 hingga 2001, telah memakan ribuan jiwa. Begitu banyak orang kehilangan keluarga, kekasih, harta benda, harapan, dan juga kebahagiaan. Namun, seperti yang tertulis dalam pengantar novel tersebut, di antara pulau-pulau yang lain, Kei-lah salah satu pulau yang terlambat terkena dampak konflik tetapi paling cepat menyembuhkan dirinya. Novel ini pun diberi judul “Kei”.

Namun, ada yang menakjubkan di sini. Selain tradisi persaudaraan yang tak pernah kita kenali, ada juga pelajaran hidup dan cinta yang tumbuh di antara peperangan itu tatakala membaca novel ini. Perang seperti mengingatkan saya pada salah sebait puisi Subagio Sastrowardoyo:

Mulut dan bumi berdiam diri. Satunya suara
hanya teriak nyawa yang lepas dari tubuh luka,
atau jerit hati mendendam mau membalas kematian…

Erni, penulis novel ini, menempatkan tokoh Namira Evav dan Sala sebagai tokoh sentral. Sala kehilangan ibu–keluarga satu-satunya karena penyerangan antaretnis dan agama. Namira kehilanagn kedua orang tuanya pun karena konflik yang sama. Sala yang protestan dan Namira yang muslim, jatuh cinta di pengungsian, di dalam suasana rusuh itu. Dalam kesedihan, mereka mencoba tegar demi menjadi relawan untuk sesama. Kebersamaan dalam kesamaan nasib tidak dapat mencegah keduanya saling menyayangi dan mencintai. Bahkan kelak ingin bersama. Sementara konflik berlangsung, banyak orang islam, katholik, dan protestan berlindung di gereja, saling melindungi dan berusaha untuk tidak terpengaruh pada konflik antarras dan agama. Dalam suasana demikian kesedihan digambarkan sebagai nasib yang tidak mengenal perbedaan ras maupun keyakinan.

Erni Aladjai agaknya memiliki keahlian menyajikan sebuah cerita dalam perpaduan sejarah, cinta dan persahabatan, juga kemanusiaan yang membawa pembacanya seperti mengalami dan ikut merasakan suasana perang dengan cukup mendalam. Disusun dengan riset yang tentunya menguatkan fakta di balik cerita, novel ini tidak saja tentang kisah korban peperangan, tapi juga sejarah bangsa Indonesia. Peperangan seolah memang selalu merupakan kisah tentang kepedihan dan harapan, juga bangsa yang seperti tengah diombang-ambingkan. Namun, bila saja novel ini tidak bertema peperangan, beberapa bagian yang cukup kocak ditemukan di sana dan membuat saya tersenyum.

Soal tradisi Kei, ada tiga point yang saya temukan di sana. Kei memiliki tradisi yang bagi saya begitu luhur, seperti mutiara di dasar lautan yang tak sempat terambil.

Pertama, mereka sangat menjaga alam sebab pada alamlah manusia bergantung, tentunya melalui cerita tentang ritual-ritual unik yang dapat engkau baca di sana. Kedua, bahwa Kei yang plural memiliki perjanjian keramat yang dilakukan para nenek moyang terdahulu, bahwa semua orang Kei adalah bersaudara, untuk kemudian dipatuhi setiap orang dan semua generasi sepanjang usia.

Kita adalah telur-telur yang berasal dari ikan yang sama dan seekor burung yang sama pula. demikian bunyi pepatah adat Pulau Kei.

Ketiga, para prianya menempatkan kaum perempuan dengan begitu mulia, mereka dilindungi selayak permata. Perempuan bahkan memiliki peran besar dalam mendamaikan dua daerah yang berperang. Kebudayaan semacam itulah yang turut mengambil bagian penting dalam sejarah perdamaian.

Melindungi kaum perempuan adalah panggilan yang mengurat biru di nadi-nadi lelaki Kei. Itu adalah ajaran para leluhur...” (hlm 60)

Keempat, adalah, menurut yang pernah saya cari tentang etnis di Indonesia, hampir tak ditemukan ajaran tua mengenai tradisi untuk membantai sesama manusia, terlebih yang sebangsa. Dalam Kei, tidak ada Protestan, Katholik, maupun Islam. Tidak ada pengkotak-kotakan dalam pluralisme. Maka Erni menjelaskan secara selintas dalam novelnya, bahwa konflik memang datang dari orang-orang yang bukan Kei. Pendatang yang disebut dengan istilah ‘orang asing’yang membawa tujuan memecah belah bangsa Indonesia’. Untuk itulah, keadaan selalu mengajak kita berpikir.

Novel ini ditulis dalam sudut pandang orang ketiga yang serba tahu. Setting dalam ceritanya cukup tergambarkan dengan baik, dan karakter tokohnya berdiri sendiri dengan kuat. Cerinya pun mengalir dalam alur maju, kadang mundur di beberapa poin ketika Namira dan Maya mengenang masa dulu, dan juga menyimpan kejutan-kejutan, hal-hal yang tak pernah disangka, ironi, dan tragedi, yang membuat perasaan jadi miris.

Membaca kisah dramatis dalam novel ini sekaligus membuat saya bertanya-tanya. Apakah cinta memang harus bersama? Apakah orang-orang yang terpisah karena konflik ini dapat bertemu kembali? Apakah luka akan tersembuhkan?

Novel ini layak menjadi referensi pengetahuan kita tentang local wisdom dan sejarah konflik daerah di Indonesia. Menurut saya, pantas bila novel Kei menjadi pemenang unggulan Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta tahun 2012 lalu.

 

 

20:20 ; ritme

“Mimpi adalah mekanisme nan menakjubkan. Ia danau tak berdasar. Kita menyelam di sana, melihat dan mengerti segala sesuatu dalam dimensi berbeda, merasa gembira atau sedih karena pengetahuan itu. Lalu, ketika kita muncul di permukaan lagi, kita tidak bisa mengerti lagi apa yang telah kita lihat, tapi kita masih bisa merasakan sesuatu akibat pengertian yang telah hilang.”

Cuplikan ini ada di novel Lalita karya Ayu Utami, yang tak sengaja kutemukan ketika iseng membaca.

 

 

 

Ending

Dear Nur.
Saat surat ini kubuat, aku sedang mencari kesibukan untuk melupakan segalanya tentang dia. Peristiwa putus memang bukan hal besar karena setiap orang barangkali pernah mengalaminya. Tapi aku sadar, pacaran memang membuatku melupakan banyak hal.

Hubunganku yang kesekian kalinya ini cukup membuatku lelah. Rasanya hanya kertas dan imaji yang selalu setia menemani hari-hariku belakangan ini. Musim hujan belum habis. Pekerjaanku yang freelance alias tidak mapan, membuatku sering kali menemui sosok-sosok aneh di sekitarku. Mereka mengajakku ngobrol. Mengusik lamunanku. Hei, percayalah bahwa mereka ini benar-benar nyata. Aku juga heran sendiri kenapa bisa demikian. Aku selalu dianggap tak waras tatkala ini kuceritakan pada teman-temanku. Mereka mengiraku stres ala perempuan lajang yang tidak juga nikah.
Mereka yang kumaksud itu adalah tokoh-tokoh dalam cerpenku.

Yeah. Sudah kali kedua ‘sesosok tokoh’ mengganggu aktivitas tidur pagiku. Ia seorang perempuan. Usianya sekitar 23 tahun. Berwajah manis, tapi juga tidak bisa disebut cantik. Wajahnya oriental. Dia masih muda memang. Ceritanya dia ini buruk rupa—bagi orang Indonesia. Atau barangkali hanya salah pasar saja, sebab tipikal kulit cokelat rambut hitam, pendek, dan pesek itu bagi para bule sungguh eksotis.

Seperti halnya pagi tadi, ia berteriak-teriak tak jelas dari jendela rumahnya yang letaknya persis di depan kamarku. Tak peduli bahwa aku belum siap bangun. Tak peduli dengan tampang kelelahanku yang sering begadang malam hari ini, yang jelas perempuan ini sedang memperjuangkan sesuatu. Kau tahu untuk apa ia berteriak pagi buta sambil melempari kaca jendelaku dengan potongan genting? (untung nggak sampai pecah) Cuma minta nasibnya diselesaikan. Dasar tokoh cerpen!

“Please, aku tersiksa bila kau biarkan aku begini menggantung.” Begitu ia mengatakan. Tokoh yang waktu itu kunamai Reyna.

Saat itu, aku dan dia sempat berdebat panjang. Sebab aku memilihkan namanya dengan asal. Dan aku juga tak tahu apa artinya selain hanya kelihatan wanita. Dia minta dinamai Zazkia, tapi aku tak suka nama itu. Lalu dia ingin dinamai Sekar agar secantik bunga. Tapi aku tak menyetujuinya. Dia ngambek meskipun sebentar. Sungguh Reyna tokoh cerpen paling bawel yang pernah kukenal.
Tapi aku pun mengerti, jahat bila aku tak menyelesaikan mereka karena kesibukan kerja dan sibuk melupakan masa laluku. Yeah, aku memang penulis yang kurang menggarap mereka dengan baik. Akhirnya sore ini, usai hujan reda, sambil kulantunkan puisi musik Sapardi Djoko Damono yang amat mix dengan dingin sore hari, akhirnya kuhidupkan komputer tuaku. Mencari file yang ia maksud. Astaga. Benar.

Sudah 3 bulan Reyna dan kawan-kawannya kubiarkan menggantung.
Oke. Baiklah. Sembari kubaca ulang, kucari ide untuk menyelesaikan sepenggal cerpen ini.
Reyna, dalam cerpenku, adalah seorang gadis muda yang bekerja di toko peralatan melukis. Ia tinggal di sebuah kota dengan orang-orang yang berbeda padangan soal hidup dan waktu. Kota tua yang sibuk dan plural. Sebagai penjaga toko lukisan, ia sering kali kedatangan pelanggan yang macam-macam. Kadang mereka datang dengan pakaian amburadul, kurang tidur, dan tak jarang juga yang rapi-rapi. Mungkin yang rapi-rapi ini sedang mencari barang-barang untuk dihadiahkan kepada orang-orang terkasih.

Reyna menyukai pekerjaannya, karena disamping ia suka mengamati orang-orang, lukisan dan warna-warna, ia juga dapat melihat
“matahari” terbit di sana. Oke, istilah matahari merujuk pada perihal yang tidak sebenarnya. Nanti juga engkau akan tahu.
Hidup perempuan ini seperti diatur oleh refleksitas hidup. Bangun tepat jam 5, kemudian sarapan jam 6 pagi, menunggu bus jam 7 pagi hingga sampai kantor jam 8 pagi. Ritme rutinitas sesungguhnya membuatnya bosan. Tapi kali ini tidak. Sebab Reyna jatuh cinta dengan teman sekantornya. Namanya Bayu. Untung Bayu tidak protes dengan namanya sendiri.
Jalaran tresno amargo kulina memang benar adanya bagi Reyna, nggak ada cinta yang datang dari pandangan pertama. Bayu memang ganteng, tapi tipe wanita seperti Reyna butuh proses untuk menilai kegantengan. Ganteng hanya kesadaran lapis lanjutan ketika sudah mengenal kepribadian atau hal-hal yang immaterial. Berbeda dengah lelaki yang cenderung melihat cantik dulu baru kepribadian.

Reyna baru merasa ada getar indah ketika menyadari Bayu rajin salat, menghormati orang tua, jujur dengan hal kecil sekalipun dalam pekerjaannya, sederhana, dan tidak mata kranjang. Malah cenderung dingin dengan perempuan yang bukan temannya.
Sikap dingin itulah yang membuat Reyna terpesona. Terlebih ketika menyadari Bayu-lah satu-satunya yang baik kepadanya tanpa peduli SARA, satu-satunya pria yang tidak bertanya kenapa hidupnya begitu pesek misalnya.Ia berwajah ganteng, pintar, juga pekerja keras.

Sungguh sialan, pikir si Reyna. Tapi bagaimana kau bisa mencegah diri sendiri untuk tidak jatuh cinta setelah setiap hari berjumpa? Sekalipun, yeah, percakapan yang terjadi hanya maksimal “selamat pagi”. Apalagi Bayu tipe yang hemat bicara, termasuk terhadap perempuan berkulit cokelat dan tidak mancung ini. Reyna bahkan mengaku, sebelum aku menggiringnya untuk jatuh cinta pada Bayu, tokoh ini sudah jatuh cinta duluan.

Aku jadi bingung.
Bayu telah menjadi matahari bagi Reyna. Tapi Reyna tak tahu bahwa diam-diam aku merencanakan perjodohan mereka, haha. Sebab Reyna berharap andai ia tak jadi dengan Bayu, ia ingin dijodohkan dengan tokoh yang mirip Andrew Garfield. Huft, maunya. “Atau bikin saja aku jadi kupu-kupu dan melupakan perasaanku,” begitu katanya. Tapi kalau sudah begitu naskahku ini nggak akan jadi cerpen, tapi novel.
Namun yang jelas, Reyna sedang jatuh cinta dan ngarep sejuta umat dengan ending ceritanya sendiri. Baiklah…

Dear Nur.
Tiga hari setelah itu, aku kembali menggarap cerpen itu lagi. Reyna sudah bertopang dagu di belakang meja kasirnya. Di kejauhan sana Bayu sibuk dengan orderan dan telepon yang setiap menit berbunyi.
Tapi… Reyna di dalam cerita ini adalah orang yang cukup tahu diri. Maka ia tak perlu melakukan usaha apa pun untuk sekedar dekat, atau ngajak ngopi, atau ngajak nonton, atau ngajak jadian. Bisa-bisa menyesal tujuh turunan karena ditolak.
Cukup ia menyukai si pria dari jauh. Maka si pria ini menjelma semacam wewangian yang selalu membuatnya memiliki semangat hidup dan kesehatan jiwa raga yang baik dalam keseharian. Mirip aromaterapi. Tak perlu ia meminum. Cukup membaui aromanya dari kejauhan.
Sungguh pria ini memiliki feromon yang kuat yang selalu membuatnya rindu. Tentunya diam-diam.
Singkat kata, Reyna tetap menjalani hari-harinya seperti biasa. Ia membaca novel di kala senggang, meminum kopi instan dengan merek yang sama setiap jam 3 sore, menyetel musik-musik aliran Melayu di playlist-nya (atau bisa saja jenis pop, atau lebih baik musik bertema nasionalisme, entahlah), lalu pulang pada jam 8 sore.  Dan terjadilah apa yang dinamakan suspens cerita.

Aku mengubah cerita, yang semula perempuan ini berakhir tertabrak kereta dalam keadaan sendiri dan nelangsa, kuubah jadi ending bahagia… Reyna sudah menangis duluan sebelum ending tragis itu kucoretkan di draft. Aku tak tega. Tentu saja, aku hanya bercanda soal tertabrak kereta itu.
Rupanya Bayu ini sakit mata. Sebab sejak ia bekerja di toko itu, pria ini juga diam-diam mengagumi Reyna. Ia bahkan membaca apa yang dia baca, meminum kopi yang sama di rumahnya, menghafal rutinitasnya juga, seperti bus apa saja yang Reyna pakai setiap hari. Lebih sinting lagi, dia mengumpulkan foto-foto hasil jepretannya diam-diam, isinya tak lain tak bukan adalah sosok si Reyna. Bedanya, Bayu tak seceroboh Reyna. Nah, nanti kau juga akan tahu seceroboh apa Reyna itu.

Sungguh Bayu jadi mirip pengagum yang agak psikopat. Tapi dia pria normal dengan latar belakang keluarga yang bahagia. Hanya
mengalami delusi akibat mencintai diam-diam. Begitulah orang yang diam-diam mencintai namun tak memiliki cara untuk memulai mengatakan, terlebih mendekati.
Beberapa kali mata mereka berpapasan. Cara Reyna menatapnya saat berpapasan itu pun tertebak juga. Bayu meresa perasaannya tidak bertepuk sebelah tangan. Bahwa pada suatu sore kupertemukan mereka pada sebuah moment konyol, di mana Reyna menyimpan foto Bayu di komputer kantor, dan lupa menghapusnya ketika Bayu memperbaiki internetnya yang error. Haha, sengaja kubikin komputer Reyna error dan tak ada seorang pun di ruangan itu kecuali Bayu.

Reyna terkejut dan salah tingkah begitu menyadari bahwa ia menyimpan foto-foto lelaki ini di sebuah folder file kantor. Apalagi
dalam folder yang sama, ia juga menyimpan artikel yang ia buru dari internet “Menjadi Istri Solehah.”, “Cara Mendekati Pria Pendiam”, dan masih banyak lagi.
Itu membuat Bayu ngakak. Mereka pun ngobrol. Tapi tidak tentang mengapa fotonya ada di folder itu. Meskipun pada hari itu,
peningkatan hubungan mereka telah memasuki level lanjutan, di mana Reyna menanyakan Bayu asli dari kota mana, dan Bayu menanyakan kapan terakhir komputer diinstal.

Di akhir cerita, di suatu hari menjelang musim kemarau tiba, Bayu meletakkan sebuah cincin di laci meja si perempuan, dengan
taruhan harga dirinya sendiri, bersama sepucuk surat berisi hal yang membuat Reyna melompat. Ia mengajaknya menikah. Dan si perempuan pun pingsan atau mungkin sakit jantung, atau sederhana saja: bahagia tapi hanya bisa menangis sesenggukan—entah mana fokus yang harus dinarasikan… Aaarrggh…
Sebenarnya sampai di sini aku masih bingung bagaimana mengatur ending-nya. Rasanya malah seperti cerita biasa saja tapi berlebihan. Tapi kalau happy ending sebiasa film drama, kalau sad ending kasihan pembaca.

Nur, aku masih memilin-milin rambutku sambil mengamati kebun di luar jendela kamarku, memikirkan ending dari cerpenku.
Yeah, kini aku melihat Reyna dan Bayu adalah sepasang kekasih yang takkan terpisahkan oleh proses editing apa pun. Mereka saling menggegam tangan dan berpesan padaku, “Kelak bila editor mau mengedit konten cerita kami, jangan ditambahi orang ketiga ya. Aku sungguh nggak tahan dengan kondisi cemburu.” Bayu berujar. Reyna sepakat dengan itu.

Kini selesai kurampungkan mereka, kumatikan komputer, dan kurebahkan tubuhku memandang langit-langit kamar. Reyna dan Bayu adalah salah satu dari sekian banyak tokoh yang berhasil kuselesaikan dengan ending bahagia.
Tapi Nur, kapankah akhir bahagiaku sendiri datang?

Hidup itu sendiri, ilusikah?
Ah, Nur, kau pun hanya teman imajiku…

*Cerpen ini ditulis tahun 2013 awal dan telah direvisi. Cerpen ini juga yang sempat membawa saya lolos sebagai peserta sebuah event kampus penulisan di salah satu penerbit di Yogyakarta untuk tahun depan. Tapi sepertinya saya nggak janji bisa datang 🙂

Dari Sosok Parang Jati hingga Kesadaran Spiritual dalam Novel Maya

*ini novel yang kebetulan baru selesai saya baca. Maaf bila agak mbulet.

Penulis    : Ayu Utami
Penerbit  : KPG
Cetakan pertama: tahun 2013

??????????

 

 

 

 

 

 

Parang Jati dalam novel ini hanya salah satu tokoh, bukan sentral. Kedudukannya sama dengan tokoh lainnya. Tapi bisa dibilang tidak ada tokoh sentral dan pinggir dalam novel Maya dan seri Bilangan Fu lainnya. Bahkan dalam seri ini, fokus penceritaan banyak pada tokoh Yasmin yang tengah mencari Saman, kekasih tersembunyinya yang hilang di masa runtuhnya rezim Orde Baru. Novel Maya dapat dikatakan sebagai penghubung novel Larung dan Saman, dengan seri Bilangan Fu.

Seperti halnya novel-novel pada seri Bilangan Fu yang lain, pembaca perempuan barangkali akan terkesan dengan sosok Parang Jati. Karakter yang barangkali akan terpatri dalam mimpi idealis perempuan karena digambarkan sebagai pria yang religius, berhati halus, juga setia dalam pengabdiannya. Tipikal pria yang berperasaan, spiritual, namun cerdas. Beberapa tokoh lainnya digambarkan selalu terhubung dan menyayangi secara jiwa tokoh pemuda yang satu ini.

Tapi sebagai novel yang konsisten dengan tema besar, Ayu tak menggambarkan setiap tokohnya sebagai sosok yang sempurna ala sinetron, justru karena menyimpan konsep pendekatan dengan dunia realitas. Bahkan Parang Jati dalam kesempurnaan kepribadian dan pemikiran bijak itu pun digambarkan berfisik tidak sempurna, memiliki jari berjumlah 12 dan ditemukan sebagai anak terbuang di pinggir danau tatkala masih bayi.

Maya, sebagai judul novel ini pun merupakan tokoh yang berfisik cebol, berkulit albino, tak memiliki KTP, dan tidak berpendidikan, namun memiliki jiwa yang murni, yang mengantar sisi spiritualitas novel ini, bahwa dalam kekerdilan, Tuhan pun hadir dan dunia manusia terus dipertanyakan. Namun manusia harus terbebas dari kekerdilan itu. Sebab di mata Tuhan, manusia itu setara. Seperti dalam cuplikan pada halaman 227

“Dalam hal jiwa, seperti yang dibilang guru kebatinan itu, manusia ‘dijadikan’ kerdil, bukan dilahirkan. Dijadikan oleh nilai-nilai yang mengepung dan membentuk mereka. Dan tidak semua mampu membebaskan diri.”

Agaknya novel Maya mencoba mendekatkan kepada eksistensi manusia di hadapan Tuhan. Bahwa dalam ketidaksempurnaan dan kesedihan, kadang Tuhan mendekat dengan akrab. Cinta tak lagi memandang hal-hal bersifat duniawi, tapi lebih pada yang hakiki dan bermuara. Dan secara tersirat, novel ini seperti berdialog dengan saya yang sering kali begitu suntuk dengan kepalsuan zaman modern. Meskipun ada beberapa poin di mana Ayu Utami menampilkan sisi liberal dalam hal mencintai lawan jenis. Tapi itu bukan hal besar, karena banyak pesan moral yang disiratkan di sana, termasuk bahwa cinta pun merupakan ruang rahasia tiap manusia.

“Punakawan mengabdi pada kebaikan, meski statusnya hanya rakyat jelata, ternyata bisa memahami kebijaksanaan tingkat tinggi. Dalam kesederhanaannya, mereka itu lebih bijak daripada para satria dan brahmana. Dan karena mereka itu rakyat biasa, mereka tidak punya kepentingan politik kekuasaan. Dan karena tak punya tampang, mereka tidak perlu jaim, jaga image. Mereka itu lugu. Mereka tokoh yang sangat dekat dan disenangi rakyat dalam kesenian wayang. Sebab mereka adalah rakyat itu sendiri.” (Maya, halaman 189)

Intinya novel ini membuat saya belajar banyak.

Jadi ingat kata adik bungsu saya yang selalu suka ngajak diskusi yang berat-berat, “Mbak, kita semua itu makhluk yang selalu ‘monolog’. Ber’dialog’nya cuma kadang-kadang aja.” Saya pun sesaat menemukan dialog batin di novel Maya ini.

Mungkin tidak mudah mereview novel yang bermuatan sejarah, politik, spiritual, cinta, feminisme, dan kehidupan mikro yang genre sastra seperti novel Maya ini. Dan mungkin suatu saat, perlu menyusun reviewnya dengan versi lebih lengkap dan sistematis dengan kajian keilmuan yang mendukung.

salam 🙂

Negeri Mesin

Cerita dalam film animasi tanpa dialog, bisa menjadi kisah dengan beberapa sudut pandang. Rasanya ingin kucoba menuliskan ceritanya dengan persepsiku sendiri.

Seorang perempuan dari suatu tempat di bumi menyendiri di sebuah taman. Ia muda, ayu, dan berambut kecokelatan. Hampir setiap hari ia suka duduk memandangi bunga-bunga di sekitarnya dan membiarkan mereka tumbuh dengan sendirinya. Sesekali ia penasaran, kemudian mencium wangi bunga-bunga liar itu dalam-dalam. Sementara, di atas sana bulan tengah purnama. Betapa bulan itu seperti dirinya. Sendirian.

Suatu hari seorang laki-laki dari negeri antah berantah datang. Ia terpesona pada si gadis yang jelita itu. Laki-laki ini membawa sebuah kuda berbentuk robot, atau mungkin robot berbentuk kuda. Entahlah. Tapi makhluk itu membuat si gadis terkesima. Belum pernah ia melihat hal seperti itu sebelumnya. Tapi dari manakah si lelaki ini datang? Tidak di bumikah?

Si kuda cukup penurut. Ia mengambilkan salah satu bunga di taman itu dan memberikannya pada si gadis yang masih heran. Tentulah ia tercengang. Ada seekor kuda bisa memetik bunga layaknya manusia. Ia mengagumi si kuda aneh itu. Terutama pada si lelaki–si pembuat itu.

Konon, kata si pria, di negerinya, banyak orang pandai membuat mesin. Mereka dapat menciptakan dunia dengan isi kepala. Ide dan gagasan sebagaimana tuhan. Dapat mengatur segala yang hidup. Seperti mimpi.
Gagasan itu tentu terlalu tinggi bagi pemikiran si gadis yang sederhana itu, tapi ia jatuh cinta pada si lelaki.

Kuda itu dapat terbang. Hati si perempuan pun ikut terbang. Pada akhirnya mereka pun menyadari telah saling jatuh cinta. Singkat kata, mereka akhirnya menikah. Si pria sering kali bercerita tentang negerinya. Namanya negeri awan. Ia adalah salah satu insinyur. Katanya “di bumi yang telah sempit ini, semuanya takkan bertahan lama. Segalanya akan punah. Tapi di negeriku, segalnya abadi. Manusialah yang menentukan kehidupan. Bukan malaikat, bukan siapa-siapa. Tinggalah di sana bersamaku.”

Dibawanya si gadis terbang dengan sebuah mesin berbentuk perahu dengan balon udara di atasnya. Mungkin semacam pesawat. Dibawanya ia terbang jauh dan si perempuan tak henti-hentinya memerhatikan angkasa. Pun tak henti-hentinya terbelalak ketika telah sampai di negeri awan yang elok itu. Negeri dongeng yang sering diceritakan suaminya.

Kota itu memang sungguh menyenangkan. Rapi, padat, dan sibuk. Ia tak menyangka sejenius apa penduduk yang pekerjaan sehari-harinya menciptakan mesin, hidup dengan kemudahan mesin, dan menciptakan keindahan-keindahan tersebut dengan serangkaian mesin?

Pada suatu sore, ia ingin jalan-jalan mengelilingi kota yang sibuk itu. Ia ingin sendiri, seperti tatkala sebelum menikah, menikmati sore dan bunga-bunga. Ia berjumpa dengan seekor anjing lucu yang membuatnya kagum dan gemas. Namun ia tersadar seketika sebab si anjing bukanlah makhluk, melainkan salah satu robot. Tidak hanya itu. Rupanya tumbuhan dan rumput-rumput di negeri itu pun juga buatan manusia.

Sepanjang jalan, ia tak juga menemukan bunga-bunga yang segar di malam bulan purnama, tak lagi dijumpinya kupu-kupu yang terbang alami, tak dijumpainya kehidupan sebenarnya. Dalam rindunya akan bumi, ia bertanya, apa artinya ini semua? Barangkali ia tak butuh keabadian bila segalanya palsu. Ia bersedih hati. Ia rindu kembali ke bumi, tapi ia juga mencintai sang suami.

Tak lama ia meninggal dalam penderitaan dan bimbang.

Si suami merasa terpukul. Sang insinyur itu merasa sangat kehilangan. Tak pernah dirasakannya rasa pedih yang demikian. Dipungutnya bunga hias milik istrinya yang sempat ia buang, sebagai cara mengenang yang tiada. Tapi ada kekosongan sangat yang mulai ia sadari, sama seperti istrinya sebelum ia pergi. Ia tahu, keahlian dan kegeniusannya tak bisa membuat kekasihnya bahagia, tak pula membuat si istri bangkit lagi dari kuburnya.
Si insinyur hanya bisa membuat boneka robot yang menyerupai mendiang istrinya, juga sebentuk jantung yang hanya dikendalikan oleh mesin. Sembari menghabiskan usianya yang sia-sia.

*Short film berdurasi 9 menitan ini berjudul Invention of Love (dibuat oleh Andrey Shushkov).

Film ini sungguh bikin sedih.

Si Lugu dan Renungan Kemanusiaan

silugu-voltaire

Pengarang : Voltaire
Diterjemahkan oleh : Ida Sundari Husen
Edisi Kedua : Mei 1996 oleh Yayasan Obor Indonesia

 

 

Judul aslinya L’Ingenu. Dalam bahasa Indonesia artinya Si Lugu. Secara iseng, buku yang sudah langka ini kubawa dari perpus IFI. Seperti yang disampaikan oleh sang penerjemah, Ida Sundari Husein, dalam halaman pengantarnya, novel ini ditulis oleh Voltaire dalam usinya yang ke-73 di tahun 1767. Seperti halnya tema novel Voltaie yang lainnya, Si Lugu dekat dengan gambaran kehidupan Perancis di zaman itu.

Sesuai dengan judulnya, tokoh utama dalam novel ini adalah Si Lugu. Diceritakan, bahwa ia datang dari Huron. (Umat Katholik memiliki sejarah khusus mengenai orang-orang Huron ini). Karena keluguan dan hubungan masa lalu yang dekat dengan keluarga Pastor de Karkabon, ia akhirnya diterima selayak keluarga. Orang selalu penasaran dengan karakter Huron hingga semuanya tampak berfokus padanya. Mereka membaptis Si Lugu sebab di Inggris mereka tidak memperkenalkan agama pada Si Lugu. Setting suasana pada novel tersebut tampak adanya pertentangan samar di dalam tubuh sebuah agama dan juga konflik negara.

Dalam perjalanannya, ia jatuh cinta pada Nona de Seint-Yves, adik dari Pastor de Saint-Yves, yang merupakan ibu permandiannya ketika dibaptis. Tentu saja, banyak orang menentangnya karena tidak dibolehkan seorang ibu pemandian (baptis) menikahi anak pemandiannya. Dan secara polos juga Si Lugu mengancam pembatalan pembaptisan bila rencana pernikahannya dihalangi. Semua seakan tak bisa berkutik. Sementara Nona de Kerkabon, bibinya, berharap Si Lugu menjadi seorang pastor. Namun ia menolak. Keberaniannya melawan orang Inggris, yang pada saat itu menjadi musuh Perancis, membuatnya memperoleh pertimbangan khusus dan malah dijadikan perwira perang.

Dalam usahanya memperoleh penghargaan dan nama demi menikahi pujaan hatinya, ia ditangkap dan dipenjara tanpa alasan.
Ketika berada di penjara, ia bertemu dengan Gordon, orang yang juga dipenjara tanpa alasan, dan pada akhirnya berpengaruh kepada Si Lugu untuk memahami hidupnya lebih luas. Sebab ia memiliki sifat murni dan bersahaja, maka ia pun belajar banyak dari pengalaman hidup.Benar kata seorang esais, bahwa penjara bukan hal yang mampu membelenggu manusia daam diri seseorang. Sebab di dalam penjara, Si Lugu belajar banyak hal, dari hal bersifat politis hingga seputar seni pertunjukan.

Penjara juga mengingatkanku pada sejarah penulisnya, yang bisa dikunjungi di sini.

Pada zaman itu feodalisme masih berkuasa. Hampir segala urusan berpusat dan diserahkan pada kekuasaan. Si kekasih, Nona de Saint-Yves yang ingin menyelamatkanya itu pun harus menyerahkan kehormatannya pada seorang birokrat, Saint-Pouange, sebagai syarat wajib. Seorang politikus dan agamis yang berwenang di ranah politik. Peristiwa itu dianggap telah biasa di Perancis. Dan bahwa meskipun telah melanggar martabat, si pejabat tersebut tetap dihormati. Tak seorang pun mempercayai Nona de Saint-Yves sehingga gadis itu menyimpannya seorang diri. Kekuasaan dalam sistem feodal dan agama di masa itu selalu mengorbankan perempuan dan kaum marginal demi merealisasikan kepentingan dan ambisi. Dan masyarakat telah menganggap itu lumrah. Seperti itulah yang akan ditunjukkan Voltaire dalam novelnya.

Sementara Si Lugu mengalami perkembangan berpikir yang cukup pesat selama berada di dalam penderitaan penjara.
Pada narasi dan dialog-dialognya, kita dapat menemukan nilai-nilai filosofis, kritik sosial, dan parodi yang ditampilkan Voltaire dalam novel Si Lugu, tampaknya membuat dongeng Voltaire bukan sekadar dongeng petualangan biasa, ia lebih pada perjalanan dan nilai-nilai hidup yang dikemas dalam sebuah bangunan cerita. Seringkali dalam perjalanan, tokoh-tokonya menyentil degan sindiran dan kritik. Seperti halnya pada cuplikan di halaman 54-56:

Sesungguhnya sejarah hanya rangkuman kejahatan dan kemalangan. Sejumlah besar orang yang tak bersalah dan cinta perdamaian selalu lenyap di arena sandiwara yang maha luas ini. yang menjadi tokoh-tokoh tak lain hanyalah orang-orang ambisius yang keji. Tampaknya sejarah hanyalah menyenangkan kalau mirip kisah-kisah sandiwara. Drama akan membosankan, apabila tidak diramaikan oleh pertikaian hawa nafsu, kejahatan-kejahatan, dan kemalangan-kemalangan.

Si Lugu dan sahabatnya Gordon pun dikeluarkan dari penjara. Namun Nona de Saint-Yves menyimpan rapat rasa malu dan penderitaannya karena telah menukarkan harga dirinya demi membebaskan kekasihnya, Si Lugu.

Sayang ending-nya mungkin tidak sesuai ukuran novel populer. Kita tidak akan menemukan akhir cerita di mana si birokrat tadi dihukum penjara, kena nasib sial sepanjang hidup, atau benar-benar dibunuh oleh si Lugu. Si kekasih yang mengorbankan dirinya itu pada akhirnya meninggal dalam sakitnya dan menimbulkan luka dalam bagi Si Lugu. Tapi pada akhirnya tokoh hidung belang yang menyebabkannya itu menyesal dan diampuni. Sebab di dalam kebebasan, manusia selalu dimaklumi dan dimaafkan. Dan selalu ada pengampunan.
Ya begitulah sistem kebebasan.

Sebelumnya, kukenal Voltaire lewat salah satu karyanya berjudul Candide. Seperti halnya penulis-penulis produktif lain, Voltaire membangun karakter tokoh-tokoh utama dengan serangkaian kemiripan satu sama lain. Seperti halnya tokoh Si Lugu yang digambarkan sebagai tokoh yang polos dan murni. Karena keluguannya, maka hampir tak pernah terlintas prasangka di benaknya. Kata-kata, pendapat, dan sikapnya selalu sesuai apa yang terlintas di pikiran dan hatinya. Dan kepolosan berarti membawanya mampu menyerap begitu banyak hal di sekitarnya. Ia menjadi pembelajar yang berkembang pesat. Dan konsekuensi dari karakter itu adalah, ia menjadi loyal terhadap sesuatu yang telah dipercayainya. Hal itu ditujukkan dalam beberapa bab buku, seperti ketika ia dibaptis, ketika menjawab dan bertanya dengan orang-orang, melawan sistem feodalisme, dan ketika ia jatuh cinta dengan Nona de Saint-Yves, dan reaksinya tatkal kekasihnya ini meninggal karena tekanan jiwa.

Voltaire, si pengarang novel ini, lahir pada abad 18 di negeri Perancis. Karya-karyanya dikenal sebagai salah satu hal yang berpengaruh pada zaman renaisans. Tema besarnya selalu mengenai optimisme, kebebasan berpikir, dan kritik sosial.

Buku ini memiliki tampilan yang barangkali memang tidak laku dijual bila digabungkan di deretan buku lain di masa sekarang. Yeah, karena saat ini, belum sempat mencari buku-buku baru, jadi maklum, saya mengambil buku-buku seadanya untuk digunakan belajar menulis resensi.

Tapi buku kecil yang tua ini membuatku mengingat sesuatu. Yeah, kita pernah mengenal bangsa Arab yang dikenal lugu dan primitif itu. Yeah, memang awalnya jahiliyah, jahil adalah milik orang primitif dan polos, tapi bila sudah yakin, mereka loyal. Itulah mengapa Islam lahir di sana dan bukan di Jawa. Lalu sang nabi yang lahir di dalam lingkungan Arab, yang kita kenal dengan sifat “murni’ dan rendah hatinya itu membuatnya pantas dipilih sebagai rasul akhir zaman.

Kurasa barangkali hidayah dan mukjizat tidak menyapa orang-orang berpendidikan dan pintar. Sebab pintar konon berpotensi ‘memintari’ orang lain dan tahu cara menutupi dengan rapi fakta-fakta yang mestinya disampaikan. Yeah, barangkali demikian. Menjadi pintar kadang adalah kutukan.

Parfum dan Perihal Eksistensi

Judul : Perfume: The Story Of A Murderer
Penulis : Patrick Suskind
Penerbit : Dastan Books, April 2010
Tebal : 316 halaman
Genre : Sastra
ISBN : 978-979-3972-46-6

22352788024937lJean Baptiste Grenouille dilahirkan di tengah hingar sebuah pasar berbau busuk dan kotor. Ia dilahirkan dari rahim seorang penjual ikan. Sebelumnya sang ibu memang selalu membunuh bayi-bayinya. Grenouille mengalami nasib yang sama, tatkala lahir, dibiarkan begitu saja telempar di tumpukan sampah. Namun beruntung ia masih hidup. Ibunya dihukum mati dengan tuduhan pembunuhan. Grenouille pun yatim piatu.

Sebagai yatim piatu, Grenouille berpindah dari satu tangan ke tangan yang lain. tidak hanya permasalahan biaya yang saat itu masih menjadi pertimbangan di Perancis, namun juga karena mereka ketakutan dengan kondisi si bayi yang tak biasa itu. Sebab Grenouille lahir tanpa aroma tubuh. Gereja pun akhirnya membuang si bayi dengan jaminan, yaitu menitipkan pada seorang wanita bernama Madame Gaillard bersama anak-anak terbuang lain.

Grenouille bukan anak yang istimewa bila dilihat dari penampilan luar. Wajahnya buruk rupa, tubuhnya bungkuk, dan berjalan pincang. Namun ia tumbuh sebagai jenius yang punya kepekaan tinggi terhadap aroma, yang tak dimiliki seorang pun di dunia. Ia memiliki kemampuan indera penciuman yang tajam sehingga dapat mengidentifikasikan seluruh bau di bumi dengan jarak berapa pun–dari aroma batu hingga jenis daun secara spesifik. Namun kelebihannya ini justru membuat orang-orang di sekitarnya mengalami ketakutan. Mereka senantiasa berprasangka buruk sesuai apa yang mereka inginkan. Sejak ia kecil, teman-temannya bahkan berusaha membunuhnya karena dianggap monster. Grenouille tumbuh sebagai orang yang tak mengenal kasih sayang dan kepedulian kecuali hanya sebagai pengganggu atau sosok yang tidak penting. Ia pun tumbuh dengan kepolosan perihal moral dan estetika.

Dalam perjalanan hidupnya, ia sering mengalami kontradiksi. Sejak kecil orang akan selalu bingung menganggapnya manusia dengan kesitimewaan, atau sejenis iblis dengan pertanda yang dibawanya. Tatkala dewasa ia bekerja sebagai budak yang selalu disukai majikannya sekaligus dibenci sebab dibanding yang lainnya, dicintai karena dibanding yang lain, ia pekerja keras. Orang enggan menganggapnya manusia karena asal muasal, status sosial, dan penampilan Grenouille yang mencerminkan budak. Namun di balik itu, ia sangat fokus pada aroma, cara membuat, hingga menyulingnya. Sejak dibeli oleh  Giuseppe Baldini dan mendapat kesempatan bekerja di salah satu toko parfum tua miliknya, ia merasa bahagia, karena dengan begitu ia memiliki kesempatan bereksperimen dan merealisasikan imajinasinya.

Kegeniusannya dalam mengidentifikasi semua jenis bau secara sepesifik itu membuatnya menjadi ahli parfum. Baldini memanfaatkannya demi berlangsungnya nama baik, status sosial, dan kekayaan pribadinya. Grenouille juga bekerja dan belajar seperti kecenderungan genius yang ingin tahu. Dalam masa bekerja itu, ia tak sengaja menemukan bau yang begitu murni yang menguar dari seorang gadis perawan. Ia begitu terobsesi ingin tahu mengenai bau harum yang sangat murni dan berbeda dari bau manusia lainnya, hingga tak sengaja ia membunuhnya. Pembunuhan itu menjadi misteri karena tidak ada tanda-tanda perkosaan atau kekerasan dengan benda tajam. Sejak Baldini tewas menjadi korban perang, Grenouille berkelana dari satu majikan ke majikan lain. Juga melakukan perjalanan dari satu tempat ke tempat lain, demi tujuan yang cenderung bukan bersifat material.

Grenouille mengalami suatu masa ketika ia bahagia karena terbebas bau manusia, yaitu dengan tinggal di sebuah tempat yang jauh dari peradaban, di tengah hutan dan sebuah gua yang baginya berbau murni. Bau manusia bagi Grenouille adalah bau yang tidak nyaman dan penuh ancaman. Ia menikmati bau alami hutan tanpa penghuni bertahun-tahun. Namun ia mengalami krisis eksistensi di mana ia menyadari tak bisa mencium bau tubuhnya sendiri. Setelah tujuh tahun, ia ditemukan oleh seorang ilmuwan, yang lalu menjadi objek penelitiannya. Ia kembali bekerja menjadi budak di sebuah pabrik penyulingan minyak wangi dan ia begitu bahagia meskipun digaji dengan nominal yang itu-itu saja.

Karena kerja kerasanya yang tak kenal lelah itu, ia menjadi ahli parfum di Kota Gresse tersebut dan mampu menghasilkan begitu banyak aroma yang sungguh mewah bagi manusia. Ia menjadi seorang ahli yang tidak terkenal karena sering berada di balik layar. Namun diam-diam ia juga mempelajari sistem dan cara mengumpulkan aroma dan esensi makhluk hidup demi tujuan yang tak seorang pun tahu. Ia terobsesi membuat jenis parfum untuk mempengaruhi pikiran manusia dan menyempurnakan hidupnya.

Bagi jenius seperti Grenouille, yang sungguh wangi dari ada di dunia adalah bau manusia yang polos yang belum terjamah dosa, yaitu seorang gadis perawan. Ia menemukan adanya bau murni yang begitu menakjubkan hingga membuatnya tergila-gila dan ingin menyimpan aromanya. Dengan bau itu, ia berimajinasi dan bermimpi ingin mengumpulkan esensi aroma kemurnian itu menjadi sebuah mahakarya. Tentu, dengan tanpa pemahaman moral dan religius, ia pun tak segan membantai puluhan wanita muda yang masih perawan dengan cara menggunduli dan menyuling tubuhnya untuk diambil sarinya ke dalam botol dengan ilmu penyulingan parfum yang selama itu ia dapatkan. ia pun menjadi pembunuh berdarah dingin demi menjadikan Laure Richis sebagai aroma inti dari mahakaryanya.

Atas bukti pembunuhan yang ditemukan di kandang kuda milik Dominique Drout, majikannya, Grenouille akhirnya ditangkap. Semua orang membencinya sebagai biang teror dan ingin melihatnya dihukum dengan cara disiksa di tengah warga. Namun tatkala hari eksekusi tiba, dan Grenouille meneteskan setetes parfum ciptaanya itu, ia berhasil menjelma malaikat atau semacam tuhan bagi mereka yang semula menganggapnya wabah yang harus dimusnahkan dengan cara lebih keji. Mendadak mereka begitu cinta dan memuja Grenouille dengan emosi meluap. Entah dengan bahagia, dengki, polos, birahi, atau obsesi ingin memiliki. Namun Grenouille bahkan tak bisa mencintai mereka karena sepanjang hidupnya hanya hidup dengan dibenci dan membenci. Rasa jatuh cinta bercampur mabuk ribuan orang tanpa terkecuali yang semula hendak menanti eksekusi Grenouille, berubah jadi pesta seks dan pada akhirnya membuat mereka malu tatkala tersadar. Efek yang ditimbulkan justru membuat keadaan menjadi lebih baik. Aparat dari kota tersebut menutup kasusnya bertepatan dengan Richis, ayah dari korban terakhir, mengangkatnya jadi anak.

Di akhir kisahnya, ia memutuskan pergi untuk merasakan menjadi manusia, namun ia merasa gagal karena tatkala aroma ciptaaannya itu menguar lenyap, ia tetap tak memiliki aroma apa pun di tubuhnya. Pertanda bahwa ia tidak pernah ada. Ia kembali menelusuri sebuah tempat di mana ia pernah lahir, di sebuah pasar bekas makam pembantaian oleh rezim pada zaman itu, berbau busuk, dan kumuh. Ia berjalan mendekati kerumunan orang-orang terbuang di tempat itu. Di tengah mereka, ia menumpahkan seluruh isi botol parfum yang ia rancang itu ke seluruh tubuhnya sehingga orang-orang di dekatnya mengalami emosi yang serupa dengan ribuan orang yang semula.

Mereka merasa cinta, tergila-gila, kemudian bernafsu ingin memiliki, bahkan sekalipun hanya bagian kecil tubuhnya. Dalam obsesi liar tersebut, mereka berebut memotong tubuh Grenouile jadi bagian-bagian kecil untuk dimakan. Setelahnya hidup berjalan damai kembali dengan kelinglungan orang-orang yang tiba-tiba merasa bahagia dan malu melihat satu sama lain. Kemudian kehidupan berjalan dengan lebih baik.

Buku tersebut seolah berpesan bahwa setiap manusia mempunyai sisi keji dan kebusukan dalam dirinya. Sepertinya hal itu yang coba dideskripsikan oleh seorang penulis genius Patric Sunskind, sehingga Jean Baptis Grenouille bukan hanya semata-mata tujuan yang disampaikan dalam novel Perfume: The Story Of A Murderer, melinkan pesan-pesan yang dibawa di sepanjang alurnya. Grenouille hanya tokoh sentral yang bersifat simbol yang sebenarnya alat untuk meneropong kehidupan masyarakat Perancis dalam setting abad 18.
Novel ini cukup kaya dengan ide, deskripsi, dan makna, sehingga tidak cukup dianalisis secara lengkap.

Kelemahan buku: ada pada deskripsi yang kurang membawa pembaca pada emosi mengenai pembunuhan dan perasan cinta yang tidak lazim yang dialami tokoh Grenouille. Inti dari novel ini pun diceritakan lebih sedikit daripada latar belakang dan teknis pembuatan parfum. Desain covernya juga terlalu sederhana untuk isi buku yang cukup berat. Namun novel ini cocok dibaca bagi mereka yang menyukai novel fiksi yang kaya kandungan filosofi.

 

*Sebab ini analisa dadakan, aku tak sempat mengulasnya dengan total, hanya seadanya. Semoga cukup untuk memenuhi tugas Komunitas Penamerah bertema review buku. Maaf terlambat karena baru belakangan ini buku tersebut selesai kubaca.