Mata yang Bercerita

Mestinya, kita di sini
Duduk di tepi pantai dengan segelas kopi
Akan aku dengar ceritamu hari ini
Mungkin tentang matahari yang bersembunyi
Atau burung-burung yang lupa bernyanyi

Nyatanya, ada muram di matamu
resah yang sulit dijabarkan
Mengingatkanku dengan buku yang kubaca kemarin hari
Ada bahasa di dunia ini, rupanya, yang kutahu
hanya cukup dimengerti kita sendiri
Ah, mari kita tulis saja puisi
Atau kita akan terbelah karena saling menanti

Ataukah kita akan di sini saja sore ini
duduk di tepi beranda
Menatap hiruk pikuk jalan raya
dan menebak-nebak setiap cerita
di balik mata lelah orang-orang yang berjalan kaki

Tapi yang ingin kupandangi sesungguhnya adalah engkau
dan sepasang mata yang selalu saja membuatku bertanya
Sepasang ruang yang setiap kukunjungi
akan menghilang seperti senja yang keburu pergi
Andaikan saja, aku bisa menerjemahkan cara matamu bercerita

 

Yogyakarta, 27 Oktober 2018

 

*Puisi ini diikutsertakan di OWOB Challenge, Menulis Puisi bertema “Mata” Oktober 2018

Iklan

menjabat siang hari pukul satu

melalui siang pukul satu demi mencari angin yang berembus serupa mencarimu dalam kegelapan ragu-

 
dulu tatkala kecil, sering kali kunaiki dahan pohon jambu
demi menatap dunia luas di atas atap-atap rumah yang belum menjulang karena ditumpuk lantai baru
dan kudengar riang cericit burung sebelum jalanan menderu garang
dalam diriku ada bocah yang gemar bertanya
kucari jawaban-jawaban di ranting dan dedaunan
terkadang aku bermimpi mempunyai sepasang sayap atau dapat melompati atap-atap
terkadang juga hanya kubawa buku dongeng atau buku gambar untuk melarikan penat
tatkala siang, kudapati alasan untuk menjauh demi teduh
meski demikian aku takkan bermain jauh
hanya hujan dan sore yang mampu menahanku pergi
namun tidak kali ini
segala hal menahanku di sebuah rumah tanpa pohon jambu di halaman
telah lama tak kujabat siang sebagai kawan berbagi cerita tentang buku-buku
dan kini hujan adalah tempatku kembali pada perasan teduh itu
meski ia tak datang di terik siang hari pukul satu

ketika sore

ini sore, tatkala sunyi lebih mengabu dari sisa perjamuan hujan
tak ada jingga di dinding dan jendela
bulan berpamit senyap, bintang lenyap
lalu kubentangkan lautanku. kuhanyutkan angin,
kugambar kapal dan dermaga
dengan krayon warna ungu
untuk kujemput diri sendiri ke arahmu, kala senja kembali
namun tidakkah melupakan rasa pulang adalah gigil
dan di balik pintu
tatkala sebuah nama memanggil
warna-warna akan memudar
kertas-kertas terbakar

Yang Sempat Kubayangkan

aku selalu membayangkan ini sejak dulu:

dingin pun turun
di luar badai salju deras menyelimuti kota dan hutan-hutan
kita menghabiskan makan malam berdua di sebuah liang di bawah tanah
dalam hangat
aku membuatkanmu sup labu dan kopi panas
engkau melingkarkan syal biru di leherku
selusin lilin menerangi setiap dinding, dan bayangan kita direkam batu-batu
dunia tinggal kita berdua memilikinya
dan kenangan milik orang-orang tak bernama
ah, barangkali kita sepasang serigala yang beruntung

 

gambar diambil dari http://www.pinterest.com/pin/458170962064466295/

gambar oleh Chuck Groenink,  diambil dari http://www.pinterest.com/pin/458170962064466295/