menjabat siang hari pukul satu

melalui siang pukul satu demi mencari angin yang berembus serupa mencarimu dalam kegelapan ragu
dulu tatkala kecil, sering kali kunaiki dahan pohon jambu
demi menatap dunia luas di atas atap-atap rumah yang belum menjulang karena ditumpuk lantai baru
dan kudengar riang cericit burung sebelum jalanan menderu garang
dalam diriku ada bocah yang gemar bertanya
kucari jawaban-jawaban di ranting dan dedaunan
terkadang aku bermimpi mempunyai sepasang sayap atau dapat melompati atap-atap
terkadang juga hanya kubawa buku dongeng atau buku gambar untuk melarikan penat
tatkala siang, kudapati alasan untuk menjauh demi teduh
meski demikian aku takkan bermain jauh
hanya hujan dan sore yang mampu menahanku pergi
namun tidak kali ini
segala hal menahanku di sebuah rumah tanpa pohon jambu di halaman
telah lama tak kujabat siang sebagai kawan berbagi cerita tentang buku-buku
dan kini hujan adalah tempatku kembali pada perasan teduh itu
meski ia tak datang di terik siang hari pukul satu

ketika sore

ini sore, tatkala sunyi lebih mengabu dari sisa perjamuan hujan
tak ada jingga di dinding dan jendela
bulan berpamit senyap, bintang lenyap
lalu kubentangkan lautanku. kuhanyutkan angin,
kugambar kapal dan dermaga
dengan krayon warna ungu
untuk kujemput diri sendiri ke arahmu, kala senja kembali
namun tidakkah melupakan rasa pulang adalah gigil
dan di balik pintu
tatkala sebuah nama memanggil
warna-warna akan memudar
kertas-kertas terbakar

Yang Sempat Kubayangkan

aku selalu membayangkan ini sejak dulu:

dingin pun turun
di luar badai salju deras menyelimuti kota dan hutan-hutan
kita menghabiskan makan malam berdua di sebuah liang di bawah tanah
dalam hangat
aku membuatkanmu sup labu dan kopi panas
engkau melingkarkan syal biru di leherku
selusin lilin menerangi setiap dinding, dan bayangan kita direkam batu-batu
dunia tinggal kita berdua memilikinya
dan kenangan milik orang-orang tak bernama
ah, barangkali kita sepasang serigala yang beruntung

 

gambar diambil dari http://www.pinterest.com/pin/458170962064466295/

gambar oleh Chuck Groenink,  diambil dari http://www.pinterest.com/pin/458170962064466295/

 

 

 

Selamat Idul Fitri

Oleh: A. Mustofa Bisri (Gus Mus)

 

Selamat idul fitri, bumi
Maafkanlah kami
Selama ini
Tidak semena-mena
Kami memperkosamu

Selamat idul fitri, langit
Maafkanlah kami
Selama ini
Tidak henti-hentinya
Kami mengelabukanmu

Selamat idul fitri, mentari
Maafkanlah kami
Selama ini
Tidak bosan-bosan
Kami mengaburkanmu

Selamat idul fitri, laut
Maafkanlah kami
Selama ini
Kami mengeruhkanmu

Selamat idul fitri, burung-burung
Maafkanlah kami
Selama ini
Memberangusmu

Selamat idul fitri, tetumbuhan
Maafkanlah kami
Selama ini
Tidak puas-puas
Kami menebasmu

Selamat idul fitri, para pemimpin
Maafkanlah kami
Selama ini
Tidak habis-habis
Kami membiarkanmu

Selamat idul fitri, rakyat
Maafkanlah kami
Selama ini
Tidak sudah-sudah
Kami mempergunakanmu.

 

 

kepada Engkau:

 

Tuhan:

engkau adalah matahari, bumi, dan jutaan galaksi 
kau yang tak lelah mengajariku batas di mana perasaan bermuara,
di mana cinta aman tersimpan
dan di mana kasih tersembunyi dalam diam

engkau daun, embun, bunga, dan hujan di bulan Juli
yang menjawab segala dingin
yang senantiasa menyapa dari ujung jendela
mengantar gerimis demi gerimis pulang pada usia

dan engkaulah lautan, awan, udara, dan peta musim
semesta yang mengajariku berjalan
dan mencari jalan pulang
pada segenggam kedamaian

 

 

-00:25, di dini hari yang dingin

Sajak Kucing Kecil

Karya : Agnes Arswendo

 

Kucing kecil, lompat riang
meloncat lucu, seperti anak-anak
mata bulat, tanpa prasangka
o, indahnya persahabatan ini
seakan tak lepas di lain hari

Kucing kecil, lompatlah ke pangkuanku
aku sukla nakalmu, nakal anak-anakku
di sudut, kau suka sembunyi
aman?
anakku riuh mencarimu
pertanda sayang?
percayalah.

Tapi ingat kucingku
tak boleh kau menggigit, biarpun tak sakit
tak boleh kau mencakar, biarpun tak memar
tak boleh kotor bulumu
tak boleh ada kutumu, biarpun satu

Sayangku, jangan kau salah sangka
aku akan kecewa
karena kita akan menunggu dengan sia-sia
demikianlah hidup
tak boleh bertingkah.

 

 

 

belajar nulis puisi

Kantorku baru saja dapat pesanan souvenir berbentuk kalender. Di setiap halamannya terdapat foto calon pengantin dan ada sebait puisi di sana. Ceritanya, kalender berisi foto dan puisi itu mau dipakai untuk souvenir pernikahan. Para editor, selain lagi sibuk garap naskah, mereka juga lagi nggak PD nggarap puisi yang katanya bakal dipasang di setiap foto, yang tertera di kaleder tersebut.
Akhirnya, berhubung gaweanku lagi agak longgar, akhirnya tugas itu dilimpahkan ke aku…
Yeah, baiklah, itung-itung sambil membiasakan lagi nulis puisi :))
Tapi setelah jadi dan kukirim ke desain, toba-tiba merasa down lagi, enggak tahu deh ini puisi cocok nggak buat souvenir pernikahan 😐

 

1 (di foto prewed pasangan yang lagi mancing di pinggir laut)

Sampaikan pada sepotong senja di pantai ini:
aku ingin tinggal di jejak matamu
yang abadi di ingatanku…

 

2 (dipasang foto si calon mempelai yang lagi nyuci motor bareng)

Aku akan terjaga sepanjang malam
menjaga mimpimu
sebab aku tak memiliki kata-kata untukmu,
selain yang ingin selalu kupandang dalam dekat dan kejauhan

 

3 (di dalam foto pasangan yang sedang ngobrol di balkon)

Kita akan memiliki seribu pagi,
embun yang bercengkrama di ujung dedaunan,
dan bunga-bunga yang mekar di pekarangan
untuk kita tetap bersama

 

4 (di foto calon mempelai yang lagi salat berjamaah bareng)

Aku ingin selalu menjumpai-Nya
sepanjang hidupku,
dalam segenap napasku,
dengan engkau tetap berada di sampingku….

 

5 (di dalam foto calon emmpelai yang lagi bertunangan. si pria sedang memasang cincin di jari si wanita)

Hari ini aku bercerita pada embun yang menyapa rerumputan
juga matahari yang merangkul bumi:
bahwa hanya kau yang tetap di hidupku
dalam suka dan duka

 

6 (di foto calon mempelai yang sedang masak bareng di dapur)

Di dalam diri kita, mengalir sebuah kata
yang selalu ada senyummu di sana,
dan membuatku selalu pulang
:rindu

 

*Diposting atas saran salah satu rekan editor: Mpok Nanik 😀

rinai

kurekam percakapanmu semalam, sayangku
aku diam mengamati bulan, menghirup wangi rumput, dedaunan, dan embun
juga menilik gesturmu dari kejauhan
hingga jejak angin dan bunga yang kau letakkan di tanganku
digawai rinai dan puisi yang kehilangan metafor
barangkali hanya sebait: la pluie, yang sayup terdengar di sepanjang jalan
berdesakan dengan waktu, dan lalulalang
–mendahului malam
dan perjalananku, sayangku, berpulang di pucukpucuk jarak
di perbatasan rindu
ke arahmu

difraksi

yang kutahu, bulan butuh waktu
untuk membagi mimpi
yang sepi dan tak berkata-kata
untuk pulang menepi di perjalanan usia

dan yang kutahu, bunga butuh wangi
untuk tetap dikenang pagi
juga warna yang mencari cahaya
dan dedaunan yang menyapanya diam-diam

dari nama ke nama
dari tiada ke tiada
:jejak eforiamu

#13

Tuhan,
bukan tentang kehilangan yang membuatku bersedih
Namun, pertanyaanku yang selamanya hanya akan jadi pertanyaan
Meski aku sadar bahwa memang tak ada yang kekal di dunia, kecuali Engkau
juga tak pernah ada yang pasti, kecuali mati
Seringkali, aku menemukan harapanku selalu berseberangan dengan kenyataan
Mereka lalu-lalang bagai fatamorgana
Sesaat mengabarkan air yang hendak menghapus dahaga
dan setelahnya aku menyadari semua itu ilusi
Tuhan,
Bukan tentang ketakutan yang membuatku harus menumpah air mata
Namun bahwa perjalananku seperti ibarat menaiki sebuah kapal

:aku melihat pulau di seberang sana melambaikan tangan
aku tak tahu apakah kelak aku sampai
kapalku bisa saja karam ditenggelamkan badai
sementara ia melaju tanpa daya
membunuhku dalam kejenuhan

Sebab bukan tentang kehilangan yang merampas segala bahagia
namun, ketakpercayaanku lagi pada hidup,
yang senantiasa hanya mampir bermain-main, seperlunya
membuatku menunggu dalam goncang dan hilang
tanpa aku sempat menemukan jawaban-Mu yang seolah tak tergapai

Tuhan,
Aku siap melepaskan lagi, bila memang itu cara-Mu
memulangkanku kembali kepada-Mu

mengingatmu

 

mengingatmu seperti mengarungi lautan
di atas perahu kecil yang tak berlayar
aku tak tahu di mana pelabuhan
atau bumi yang mengarahkan laju
tapi mengingatmu, yang seperti tak kembali dari perjalanan
membuatku ingin lupa menepi dan pulang
andai kembaraku kelak menemukanmu
atau melupa saja seketika…
namun, mengingatmu, selalu mengembalikan separuh hidup
yang terrekam sejak masa lalu
dan entah bagaimana menghentikan
kecuali ia tak terkenang

 

:rumah

ingatkah engkau tentang riwayat rumah
dalam sajak Chairil yang pernah kita baca?
kini biar kuuraikan itu untukmu
–dalam bayangku, kita membangun rumah di tepi danau
yang tersusun dari batu dan kayu
tertata begitu rapi di setiap jeda
dan pintunya menatap cahaya buih air yang menyatu pada kabut
pohon-pohon hidup dalam alur musim
burung-burung hadir dan pergi penghias sepi
langit biru rupawan serta senja datang tepat waktu
juga bunga-bunga tulip dan sebentang taman yang boleh kau tanami mimpi
aku ingin engkau tinggal di sana
sementara aku menitipkan rindu yang berdegup tanpa henti
sebab aku tahu, aku tak bisa tinggal terlalu lama
perjalananku senyap
dan selalu tak bertujuan
dibayangi deru ragu memanggil-manggil
dan musim yang merupa gigil
:kini aku menjumpaimu
merangkum seluruh namamu, membawanya ke dalam jantung
esok mungkin tak kau temu
sekalipun aku rindu dekapmu yang hangat musim salju
hanya ingin engkau mengerti, menginginkanmu itu telah serupa pulang ke rumah
sekalipun aku tak berarah

Rumah Rasa: 3

Aku ingin jadi rintik
Dalam hujan jejakmu di tepi hati
Bisakah sesekali kita membagi rindu
Sampai waktu lelah mengajari arti
Sebab takkan terjelaskan aksara
Barangkali terangkum sekadar bahasa
Tentang aku dan kamu yang berbicara dalam diam di rumah rasaku
:Hanya kita yang mengerti….
dan engkau embun pagiku
Semerbakkan sepi…

02:00