Perjalanan

Tidak selalu kita sanggup merenungkan perjalanan dan pencariannya. Entah di mana akhir, atau apakah benar ada yang namanya akhir? Bukankah kita sering kali tak percaya adanya “akhir” sebelum benar-benar menemuinya? Bukankah hidup itu seakan hanya lingkaran antara awal dan akhir? Mengapa tidak sederhana saja, meyakini bahwa jawaban-jawaban itu tersedia di jagad raya, kita hanya perlu menerima dengan kemanusiaan dalam diri kita untuk menemukannya. Memahami maknanya.

Tahun baru, tak sekadar dimaknai sebagai sekadar budaya, tak sedangkal pesta dan hura-hura. Tapi bahwa segalanya harus diingat, ditelusuri tentang apa-apa yang telah kita lakukan setahunan ini. Terlebih manusia selalu dihadapkan untuk mengambil pilihan hidupnya sendiri, selama waktu masih berjalan ke depan dan selama masih ada kesempatan. Entah akan menjadi lebih baik atau sebaliknya, atau tidak keduanya.

Tapi tentu saja, saya hanya berharap, semoga saja ke depannya nanti tidak malah lebih sering konyol dari tahun sebelumnya….
dan kusebut ini doa penting ^_^

Bismillah.
Mari lebih kita hidupkan lagi ‘akal’, kesadaran, dan perasaan. Tak boleh ada kata berhenti belajar.

Tidak lagi menyerah.

Nite

follow your heart

untuk Ibu

Untuk Ibu yang menemaniku malam ini–yang sama-sama terbangun karena keributan kembang api.

Bu, tidak pernah sia-sia engkau mendidikku sejak kecil dengan segala daya upaya, meski sering kali tak dengan ala-ala psikolog zaman kini

. Tak perlu terus-terusan merasa cemas. Tidak pernah ada yang sia-sia yang dilakukan seorang ibu kepada anak-anaknya. Sejujurnya, sampai detik ini aku tak merasa berbangga dengan kelebihan atau terlalu rendah diri dengan kekurangan. Kecuali rasa syukur sebab aku dilahirkan dari rahimmu.

Bukankah Ibu selalu mengatakan, Tuhan selalu memberi ujian dengan lebih berat sesuai dengan seberapa tinggi engkau tumbuh supaya belajar menjadi lebih baik dari sebelumnya…?

Sudah sebesar ini anakmu, Bu. Selama itu pula aku tak pernah merasa mau mengkhianati prinsip sendiri sekalipun ada banyak kesempatan terbentang di depanku. Aku sudah memilih, aku juga akan bertanggung jawab. Meskipun zaman berubah, berubah, dan berubah…. Sekalipun sebagai perempuan, aku belum menjadi sesempurnamu, Ibu… Maaf bila sering perilaku membuatmu khawatir. Namun aku tak berhenti berusaha… sekalipun sering juga terjatuh. Percayalah, Bu, aku baik-baik saja.

Kita semua tahu, kita tak memiliki hal mewah untuk dipamerkan, segalanya milik Tuhan, segala datang dan kembali pada-Nya. Selalu demikian yang Ibu ingatkan padaku dan selalu juga kusimpan dan kuterapkan….
Maaf Bu, bila selalu mengeluh tentang duniaku yak tak pernah aman, atau masa depan yang tak pernah jelas. Meskipun, tak pernah terucap di tuturmu, untuk membuatku mundur atau berhenti menjalani hidup….

Tak ada alasan untuk tidak mendengar wejanganmu, nasihatmu, peringatanmu.. bilamana memang Tuhan, atau surga dan neraka tak pernah ada, setidaknya, aku memiliki ibu sebaik dirimu…. yang mengajariku pertama kali mempercayai semua itu, juga memperkenalkan nama Tuhan untuk kusebut setiap saat… Meski ya, kadang aku lupa itu.

Aku bersyukur untuk semua wejangan penting hari ini, juga bersyukur memiliki sahabat terdekat yang sehebat engkau…
doakan aku selalu Bu… supaya tetap istiqomah, apa pun yang terjadi 🙂

Love you

love-world-friends-quotes-flowers-love-quotes-Mensajes-en-texto-art-photography-cute-Imgs-Used-wordsn-quotes-WORD-COMMENTS-hearts-words-g1-Signs-Etc-Grab-and-Lock-bobbi-love-words-comments-lanena-Love_large_large

Bismillah untuk tahun baru ini.

mimpi buruk

live-your-dreams-my-dream-is-23986887-1600-1200

Mimpi waktu itu sungguh aneh, seperti terjebak semacam ilusi yang memberitahuku tentang dua istilah ini: realisme dan rasionalisme. Dua istilah yang membuatku jadi berkelana ke satu artikel ke artikel lain yang kucari secara autis. Kemudian banyak diam di kamar dan merasa sinting sendiri. Yeah, bukankah keautisan ini kumiliki sejak kecil dulu? Menemukan, memutuskan mencari, kemudian bingung sendiri. Logika, ingatan, persepsi, semuanya campur aduk.

Dan sepanjang waktu selanjutnya, akhirnya aku sering bertemu dengan kosakata realitas dan rasionalitas. Dari masalah alat salat dan kebiasaan masyarakat di suatu obrolan ringan sampai pada budaya korupsi di salah satu koran online juga tentang buku yang kubaca. Seperti realitas mengajakku menyelami, dan rasionalitas mengajari untuk memahami.

Subhanallah sekali untuk hari ini. Sehingga tak ada hal lain untuk dikatakan selain bahwa:

Begitu banyak hal yang bersifat kebetulan, hal-hal tak biasa, dan datang tak kurencanakan yang memperlihatkan benang merah keterhubungan. Dari mimpi, perasaan itu, dan dinamika hidup yang membolak balik akal sehat dan perasaan itu sendiri. Dari benar-benar mimpi karena ketiduran hingga pengalaman-pengalaman empiris yang berlanjut. Cukup memusingkan memang. Sisi baiknya, cukup membuatku sejenak lupa dengan kegundahan—hal yang kusyukuri di hari libur.

Oke.
Aku tahu realisme adalah yang terjadi begitu saja untuk kutangkap dan kusadari, ada juga rasionalitas yang juga kupertimbangkan eksistensinya, namun tetap ada hal lain yang selalu kubawa-bawa… hal yang tak dapat dijelaskan…
Tahun ini mungkin saja aku terlalu banyak bertanya perihal eksistensi… apapun itu. Entah “saya” sebagai individu atau individu lain terhadap diriku.

Sebab bagaimana pun juga, setiap individu adalah kesendirian yang tak saling berikatan ketika ia memang sebentuk dunia tersendiri…

Tapi tentang diri sendiri ini…,
Benarkah kita telah mengenal diri sendiri untuk dapat terhubung dengan ke-aku-an orang-orang di sekitar kita? atau kita banyak memikirkan hal lain di luar diri, dengan cara orang lain? Sementara kita memakai topeng, juga topeng orang lain? Dan kita berlaku atas kehendak orang lain, juga barangkali kita berpakaian milik orang lain? Meyakini hal-hal yang sebetulnay tidak kita yakini tapi diyakini orang lain, atau seolah merasa sudah mengenal diri padahal hanya membawa kepentingan bersifat narsisme, demi orang lain? Tidakkah itu hanya pencerminan kita tentang orang lain.. atau hal-hal lain yang melepas sekat kemanusiaan kita sendiri hingga kehilangan diri?
Hm.. mungkin benar kata seorang teman, bahwa kita–“aku” hanya alat yang menyampaikan ke-orang lain-an. Dan tidak dapat dihindari, kita selalu hidup bersama orang lain di sekitar kita.

Entahlah…

Kupikir suatu saat toh akan terjawab juga mengapa kita harus memiliki istilah “aku” yang bukan hanya sebatas produk bahasa.

Maka ya sudahlah, biar semua ini jadi renungan pribadi, hingga lelap menjemput. dan mimpi kemarin hari, biarlah kuanggap mimpi buruk.

serupa…

Saya tergelak ketika salah satu teman menganalogikan seniman dan filsuf yang kebanyakan orang-orang Jerman abad lampau itu ibarat harimau–di tengah pembicaraan seputar perihal itu tadi sore. Mendengarnya, saya jadi geleng-geleng kepala. Tak berhenti tertawa. Bahkan ketika kami saling berpamit pulang dan saya kembali menembus jalan untuk pulang, saya masih memikirkan soal analogi ini. Bukankah harimau sebetulnya mengibaratkan orang-orang dengan kedalaman pikiran, keahlian, sekaligus perasaan dalam konteks ini? Dan mereka tentunya orang-orang yang berkarakter serius.

Benar juga sih.

Orang-orang serius jarang senyum, katanya. Mereka memiliki perasaan kuat dan tidak bercanda. Sama sekali tidak bercanda. Namun mereka seperti harimau. Ingin merangkul dengan halus manusia lainnya, hanya saja lupa bahwa mereka memiliki cakar yang membunuh. Seperti api yang membelai kayu. Api bermaksud menyatu, tapi nyatanya menghanguskan si kayu hingga jadi abu.

Pikiran saya menerawang hingga ke kejauhan, keluar dari dimensi saya sendiri, menerobos semua riuh di sekitar itu. Mengangguk mengerti.

Tidak semua yang kita cintai dalam-dalam dengan rasa, mengakibatkan bahagia kepada orang yang kita cinta itu sendiri. Jangan-jangan kita memang serupa harimau, merangkul dengan hangat dan sepenuh kasih namun sebetulnya mengoyak kulitnya, atau melindungi hatinya namun tak sadar menusuk jantungnya :’|

Hidup bukan hanya tentang siapa yang kita cintai dan keputusan untuk mencintai sepanjang waktu… tapi juga tentang kita sendiri… Sudahkah kita menjadi damai baginya, atau sebetulnya kita ini api yang menghangatkan tapi memanggangnya hingga lenyap jadi debu…?

Namun tidakkah sekalipun menghanguskan, api tetap memiliki perasaan lumpuh ketika ia sadar bahwa yang dicintainya sudah tak lagi ada?

Tiba-tiba hening menyergap kesemua rasa…

creative-wallpapers-20

selamat malam minggu yang ambigu
-nice dream-

tiba-tiba hari ini ingin mencuplik salah satu puisi dari blog sebelah… 🙂

….
Mengapa kita tidak diam di bukit
Hanya bertatapan saja
Siapa tahu si awan dapat mengurai
Sakit
Yang kita hendak bebaskan kala senja
….

-candrasangkala-

Photos-of-spring-season-JPN02011_wallcoo.com

Ada kalanya hujan tiba, mengurung sepi. Serta gerimis menyimpan seluruh cerita. dan kulalui tahun ini dalam suka duka yang serta merta kuserahkan seluruh rahasianya pada Sang Pemilik Hidup…
Seperti kerumunan yang tengah duduk dalam gerbong kereta, sebentar lagi, kita akan tiba di tempat yang baru, stasiun selanjutnya, sekalipun kita tak tahu, apakah masa lalu masih senantiasa terbawa di dalam tas ransel kita atau ditinggalkan saja ke kota lama. Kadang aku tak mampu peduli.
Kemudian hanya yang kutahu, kita bergegas berlari lagi, lagi, dan lagi…. entah menjadi arti ataupun tidak.

film romantis versiku tahun ini

Saya orang yang cenderung jarang nonton, baik itu di tempat semacam bioskop atau di depan televisi sekalipun. Kalau diajak ngobrol sioal film, sering kali saya tak nyambung. Tapi kalau soal buku, sedikit banyak saya mudeng. Karena jarangnya saya nonton film,  itulah sebabnya sekali saya nonton film romantis, kebawa deh efeknya sampai keesokan harinya, dan keesokannya lagi,, dan lagi, dan lagi.

Kali ini saya ingin bercerita sedikit tentang efek film Habibie Ainun yag baru saya tonton. .

Perempuan/pria takkan menjadi berarti, tanpa ia menjadi arti bagi seseorang (suami/istri) ataupun keluarganya, apapun perannya di mata dunia. Begitulah inti filmnya. Berartinya seorang perempuan memang ketika ia mampu menjadi istri bagi seseorang (sigaraning nyawa) dan mau membangun rumah tangga bersama dengan penuh tanggung jawab, mendidik anak-anak dan mengabdi secara total kepada keluarga dan seimbang dengan perannya di luar.Berartinya seorang laki-laki, adalah ektika ia mampu memimpin keluarganya dan menjadikannya rumah bagi dirinya. Benar kata banyak orang, bahwa di balik pria hebat ada wanita yang hebat. Begitu juga sebaliknya

Kisah cinta Habibie & Ainun ini, sangat menginspirasi bagi saya, setelah film The Lady. Seperti mengembalikan lagi makna dan konsep cinta ideal yang saya pikir telah hilang dan tak mungkin ada.

 

Nonton film ini, jadi teringat Bapak Ibu dan para orang tua kebanyakan di sekitar kita, orang tua zaman dulu, hanya tahu bersama dan mencintai dengan sederhana tapi saling setia 🙂

Valentines-Special-HD-Love-Wallpaper

episode pagiku

Hari Minggu pagi selalu menjadi saat yang merambat pelan di rumahku. ketika aku bangun, Ibu sudah ke pasar. Adik-adik terlihat lebih tidak kemrungsung daripada pagi-pagi biasanya, dan ayahku sibuk di dapur memasak untuk sarapan setelah beliau membereskan kebun, sementara nenekku barangkali sedang pergi senam seperti biasanya sebab ruangannya kosong.

Aku membuat minuman hangat, kemudian kembali ke kamar lagi membawa sarapanku dan menyiapkan materi, asebab hari ini ada jadwal mengajar. Setiap hari Minggu seperti ini, seisi rumah sudah mengerti aku akan sering di kamar, dan menyambi apa pun sambil membereskan segalanya.

Minggu selalu menjadi hari yang tenang karena hari libur setiap orang, namun sebagian orang termasuk aku tetap saja hari kerja. Memang sih rasanya setiap libur aku jarang memiliki banyak waktu untuk keluargaku, meski demikian, rumah bagiku tetap tempat terdamai di dunia… dan dipenuhi orang-orang yang setiap hari kucintai dan paling mengerti 🙂

Mudah-mudahan lancar semua urusan hari ini, meskipun di luar langit mendung…

big_happy_family-wallpaper-1280x960

perihal kiamat

Hari ini sih sebenarnya nggak ada bedanya dengan hari-hari biasanya, tapi….

Bukan hal yang tidak biasa bahwa pagi ini pemandangan terlihat sungguh indah. Ketika saya keluar rumah untuk berangkat kerja, di sebelah utara sana Merapi terlihat biru jelas, seperti berdampingan akrab dengan Gunung Merbabu. Tidak hanya itu, Gunung Slamet juga tak ketinggalan biru, sekalipun letaknya agak jauh ke barat. Langit juga cerah, malah tidak mendung ataupun hujan. Suasana jalan juga berjalan tenang. Seperti ditiup angin sejuk yang sepoi-sepoi dari langit.

Sampai kantor, aku mengecek akun sebelum membuka fileku. Media sosial rupanya tengah heboh berkicau tentang keindahan pagi hari tadi, seolah baru saja banjir lenyap. Banyak yang pamer foto, banyak juga yang mengupdate statusnya tentang keceriaan cuaca dan alam hari ini. Ternyata yang namanya keindahan yang menentramkan itu tidak seorang pun menolak. Tapi berbeda dari hari biasanya, arti yang ungkapan semua orang hari ini tentu lain. Salah satu teman kerja yang seruangan dengan saya pun turut menambahkan, “Aha, terlalu cerah untuk sebuah akhir dunia, haha….”:D

“Yeah, baru tahu kalau kiamat tuh seperti ini…,” gumamku.

20 Desember 2012. Hari yang sejak beberapa waktu lalu diramalkan oleh bangsa Maya sebagai hari kimat. Sejak itu pula masyarakat di berbagai belahan dunia mengalami semacam paranoid. Masyarakat luar negeri, seperti Cina, bahkan menciptakan bahtera untuk menampung keluarganya bila kiamat betulan datang.
Cerdik atau ‘lucu’?

Cerdik sih, sebab mereka sanggup memikirkan usaha penanggulangan bencana dengan teknologi yang sedemikian rupa. Lucu—bagiku—sebab mana ada macam manusia yang bisa melawan ketentuan Tuhan tentang yang satu itu? Apakah sejenis bahtera buatan manusia bisa betul-betul menyelamatkan para manusianya dari kedahsyatan kiamat? Tapi wajar sih. Saya pun sempat mengalami paranoid tidak jelas ketika ada isu badai matahari beberapa saat lalu, pikiran saya langsung mengingat tentang film “Knowing”: di mana kiamat digambarkan dalam tampilan api dari matahari yang menyambar dan menghanguskan bumi seisinya seketika itu juga. Rupanya dalam kenyataan, tidak seperti itu juga yang terjadi. Ujung genteng rumah saya pun masih utuh seperti sedia kala, tidak ada bekas api atau semacamnya.

Kiamat itu sendiri sampai sekarang masih menjadi pertanyaan besar di benak saya, yang rupanya tak habis-habis menjadi topik pemikiran di kala sepi (padahal biasanya juga berada di kondisi sepi :p). Kiamat itu seperti apa? Bagaimana, dan sedahsyat apa? Maha Besar Allah yang begitu rapi menyembunyikan rahasia itu. Semula saya pun berpikir mungkin saja kiamat punya definisi yang sedikit luas, seperti bahwa kiamat adalah akhir dari agama dan kepercayaan itu sendiri di mata penganutnya, dalam hal ini adalah bangsa Maya. Nyatanya, tadi pagi salah satu koran menerbitkan berita bahwa penganut kepercayaan suku bangsa Maya menjadi tak lagi percaya dengan ramalannya sendiri. Namun sebelum mengkalim bahwa ajaran Maya salah, benarkan peneliti juga sudah membaca atau mengkaji ramalan itu secara keseluruhan, mendetail, menyeluruh? Entahlah.

Lepas dari itu, banyak yang lantas meyakini bahwa akhir zaman berarti terjadi bencana yang sungguh besar hingga menghilangkan ras manusia seluruhnya. Seperti tabrakan planet, gempa besar, banjir, atau bumi membelah dan sebagainya. Tapi saya pun juga mikir, jangankan tabrakan planet, wong satu gunung api meletus saja bisa memakan banyak korban jiwa. Memang benar, bencana semacam kesrempet meteor bisa jadi berarti akhir dunia bagi seluruh bumi dan isinya. Tetapi bencana alam di mata Tuhan dan pasukan malaikat-Nya tetap saja hanya berarti sekadar kondisi alam. Baru menjadi musibah bagi makhluk yang mengalaminya. Dan bila dihubungkan dengan pertanda akhir zaman, apakah hanya sebatas teori bersifat ilmu sains saja dapat dikaji maknanya?

Entahlah, lagi-lagi saya tak mengerti.

Tapi bagi saya, musibah tidak hanya sebentuk gunung meletus atau badai tsunami saja yang menimbulkan teror dan kengerian di dalam batin. Bagi saya ketakutan juga berupa berhadapan dengan karakter beragam manusia di sekitar kita. Bagi saya karakter manusia jauh lebih sulit ditebak daripada karakter alam. Bukankah banyak dari sumber masalah dan kegelisahan hidup kita berasal dari berbenturan dengan perbedaan dengan manusia lain? Baiklah, mari sedikit ngelantur…

Pernah melihat orang yang begitu manis terhadap kita berubah jadi begitu bengis di lain waktu? Pernah bertemu orang yang semula peduli, tiba-tiba meninggalkan kita dan peduli dengan hal lain? Sudah umum terjadi bahwa kondisi cinta hanya wujud lain benci, atau bisa jadi teman dekat adalah hal yang paling berpotensi jadi musuh, dan semacamnya. Siapa yang benar tahu bahwa orang-orang di sekitar kita bisa juga sedang menyimpan dendam atau kebencian tertentu yang kita tidak tahu atau sedang menipu kita? Siapa yang dapat menyangka bahwa pasangan—orang terdekat dengan kita sebetulnya tidak benar-benar mencintai dengan tulus? Siapa yang menjamin tetangga samping rumah kita sehat secara jiwa dan tak berpikir membunuh kita suatu hari nanti? Oleh karena ini hanya permisalan, mudah-mudahan tak akan terjadi.

Aku tak henti menggarisbawahi, bahwa menurut keyakinan saya, eksistensi Allah—Tuhan kita, tak akan dapat dibatasi oleh sepintar apa pun ide yang muncul di kepala kita atau ukuran dunia mana pun itu. Sehingga persoalan kiamat biar Dia saja yang Maha Berkehendak.

dokumen lama ^^

Minggu kemarin, ketika tumben-tumbenan saya menikmati libur dengan lebih banyak tidur, tiba-tiba saya menemukan binder lama zaman kuliah semester awal dulu yang di dalamnya masih banyak ditemukan space kosong. Amburadul seperti ini memang sering saya bawa di tempat tidur, tapi iseng saya buka-buka lagi, ternyata binder lama bisa membuka ingatan masa kuliah dulu…juga data-data “tak terduga” waktu itu.

berikut sebagian kecil hal itu:

coret-coretku

coret-coretku

notes kecil yang dibawa ke mana-mana

notes kecil yang dibawa ke mana-mana

Ini salah satu catatan hasil berburu data di tempat lain. Masa kuliah dulu saya sering mengalami kebingungan akut dan selalu menyingkir dari keramaian hanya untuk menemukan pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab dosen setiap jam kuliah di matkul tertentu. Bagi teman-teman saya, itu kebiasaan aneh dan tidak menikmati hidup banget. Tapi biarlah, bagi saya tidak cukup hanya mengetahui syair sastra wedatama misalnya, tanpa mengerti zaman macam apa yang melahirkan karya seperti itu. Tapi asyiknya, selalu ada diskusi ringan dan intens sebab mahasiswa hanya berjumlah beberapa gelintir orang. 😀

catatan: angkatan saya waktu zaman kuliah cuma 3 orang lho omong-omong, tapi saya bahagia dan rajin mencatat materi.

DSCN1597 - Copy

DSCN1602 - Copy

Masalah sosial, gender, kemanusiaan, sejarah, dan juga ilmu pengetahuan populer, selalu menjadi perhatian saya, sampai-sampai diumpulkan jadi kliping secara acak. Kebiasaan kliping artikel memang sudah ada sejak SMA. Jenis bahan kliping yang gagal menjadi keren adalah ketika Indonesia sedang heboh kasus Pulau Sigidan dan Sipadan sekitar tahun 2003-2004. Presiden kita nggak berhasil mempertahankan dua pulau kecil itu -___- sehingga kliping pun dihentikan. Padahal semula saya sempat ngarep happy ending. #Jadi ngelantur.

DSCN1598
 Ini bikin ingatan saya ngelantur ke zaman Gempa tahun 2006 lalu
DSCN1593
Dan sejak kecil, saya lebih suka menggambar kapan pun dan di mana pun di kala bosan.. termasuk ketika bosan di jam kuliah. ternyata beberapa coret-coret sederhana masih tersimpan di sela-selanya :p
hampir senja

judul gambarnya: Hampir Senja 

Kalau dilihat sih, gambarnya apa nggak jelas banget :)) tapi betul-betul ala mahasiswi bosan rutinitas kuliah

Selanjutnya, space-space kosong di binder besar itu mungkin akan kembali jadi catatan harian 🙂

Doa Sabtu Malamku :)

Di sela demam karena sariawan yang parah, aku sempat buka media sosial, dan ini tebangun yang kedua kali sejak tidur tadi sore. Ah malam Minggu, rasanya hanya ada dua kelompok masyarakat yang selalu eksis di sana dengan kondisi rutin khas malam Minggu. Dua kelompok itu adalah: mereka yang memamerkan kebersamaan dengan pacar/pasangan, dan mereka yang kelihatan sekali sendirinya. Padahal semula aku hanya butuh sekadar sedikit hiburan… tapi, syukurlah, di tengah suntuk, aku menemukan status lebih segar dan cair ala Mario Teguh.

“Berikut adalah daftar dari 25 LAKI-LAKI YANG SEKSI, yang ke-25 sifatnya bisa menjadi petunjuk bagi pria yang ingin menjadi pribadi yang menarik bagi sebaik-baiknya wanita, dan bagi wanita untuk menjadi pilihan dari sebaik-baiknya pria.”

25 LAKI-LAKI YANG SEKSI

Engkau wanita yang mulia dan yang rindu dimuliakan oleh belahan jiwa yang dipantaskan oleh Tuhan dengan keindahan pribadimu, berikut ini adalah 25 sifat laki-laki yang semoga disatukan ke dalam diri belahan jiwamu.

dan aku sudah menyusun ke-25 daftar sifat ini dalam urutan yang paling aku sukai, dan akan dibangun di dalam hati dan perilaku.

Wanita yang baik bagi laki-laki yang baik, dan sebaliknya.

Ini dia!

Laki-laki yang seksi adalah:

1. Yang tegas kepada orang lain, tapi lembut kepadamu.
2. Yang bisa masak.
3. Yang menyukai dan memuji masakanmu – apa pun rasanya.
4. Yang tidak bisa menyanyi, tapi menyanyikan lagu cinta untukmu.
5. Yang sukses.
6. Yang tidak salah, tapi meminta maaf kepadamu, walaupun engkau yang salah.
7. Yang gagah berani dalam pertempuran, tapi yang merengek manja di pangkuanmu.
8. Yang matanya terbelalak, nafasnya tercekat, super lebay dan berlebihan dalam memuji kecantikanmu.
9. Yang memimpin dunia dan dengan tegas mengharuskan kepatuhan kepada aturannya, tapi menurut kepada aturanmu.
10. Engkau tahu dia berbohong saat memujimu, tapi dia berbohong dengan indah, tulus, dan penuh cinta.
11.Yang hidup hanya untukmu.
12. Yang memerintah dan berkhotbah kepada semesta, tapi diam dengan wajah bayi dan tak bersuara saat engkau berbicara.
13. Yang berani menghadapi sebesar-besarnya musuh dan bencana, tapi yang sangat takut membuatmu menangis.
14. Yang suaranya menggelegar membuat guntur minder, tapi halus dan lembut saat menyebut namamu.
15. Yang menolak makan sebelum semua orang yang dipimpinnya makan, tapi mengikutimu di sekeliling dapur jika dia lapar.
16. Dia menyemangati rakyat untuk hidup dengan mandiri, tapi dia minta kau suapi saat makan.
17. Dia mengetahui arah perjalanan bangsa dalam menuju Indonesia yang jaya dan cemerlang, tapi kebingungan jika engkau tak bersamanya.
18. Dia pembawa pesan dari langit, tapi tetap meminta nasihatmu untuk keputusan yang penting bagi kebaikan banyak orang.
19. Dia bersedih dan menyalahkan dirinya sendiri jika engkau berlaku kasar kepadanya.
20. Saat engkau meminta maaf kepadanya, dia tersenyum dan meminta maaf telah menyebabkanmu berlaku seperti itu, walau sebetulnya engkau tahu hatinya tersayat pedih oleh kekasaranmu.
21. Dia mengharumkan namamu sebagai Permaisuri dalam kerajaannya.
22. Dia menjadikanmu seindah-indahnya perhiasan baginya.
23. Saat dia dihina oleh orang lain, dalam kemiskinan atau dalam kejatuhan derajat, dia tetap merasa yang tertinggi dan terkaya, karena dia memilikimu.
24. Yang menghasilkan uang yang banyak, tapi menyerahkan semuanya kepadamu.
25. Engkau adalah kebanggaan hidupnya.

Semoga Tuhan menghadiahkan belahan jiwa dengan setidaknya satu dari 25 kualitas super di atas…
kata Mario T mengakhiri informasinya, disambut dengan ribuan perempuan yang menjawab Amin. termasuk aku. tapi aku berdoanya sih kalo bisa setidaknya 3/4 dari sifat di atas ada dalam satu pria calon suamiku nanti, hihihi…

dan selanjutnya, aku pun bertanya-tanya, tidakkah semua itu terlalu mengkhayal?

1276842244-BQ2JBIY

ilmu dalam dimensiku

Ada yang mengatakan bahwa kebesaran Rumi terletak pada kedalaman ilmu dan kemampuan mengungkapkan perasaannya ke dalam bahasa yang indah. Tak pernah ada seseorang menjadi besar karena kesombongan dan ketakaburannya.

Lalu saya pun merenung. Lebih tepatnya melamun. Atas semua yang ditemui bertahun ini, saya berpendapat: memang begitu menariknya ilmu, sehingga dengan cara berpikir atau teori bagaimana pun, ia tetap tak dapat terjangkau batasnya. Ilmu itu tak pernah memiliki batas. Seberapa banyak sesungguhnya manusia memiliki ilmunya juga hanya Tuhan yang tahu. Dan itu pun sulit dapat diukur kecuali jika seseorang yang memilikinya dapat menyelesaikan masalah dengan “indah dan bijak” atau menjadi bermanfaat positif bagi orang-orang yang ada di sekitarnya dan orang-orang yang mengasihinya…

Ilmu milik semua orang, tanpa terkecuali, dan dipelajari oleh siapa pun tanpa ia harus menempuh pendidikan resmi. Karena tanpa institusi ilmu terakses di mana pun berada. Ilmulah yang tak terbatas, sedangkan manusia itu penuh batas. Barangkali kita hanya mendalami satu dua atau beberapa yang memang ada di hadapan kita, di bidang kita, sebagian yang lain mendalami ilmu lainnya yang kita tidak tahu dan tak pernah menemui. Saya setuju bahwa keahlian yang dimiliki masing-masing dari kita bersifat saling melengkapi. Maka budaya kemanusiaan mengajari kita untuk menghormati sesama. Menghormati juga yang “lebih tua” (lebih luas ilmunya) dan menghargai yang lebih “muda” (yang masih dalam proses mencari). Sebab keangkuhan hanya akan membatasi dan menipu dirinya sendiri, serta sering kali menimbulkan geleng kepala prihatin bagi orang-orang yang melihatnya. Barangkali hanya budaya yang sempat mengingatkan kita, bahwa ilmu itu ibarat senjata bernama keris, ia diasah dan simpan di belakang tubuh, tidak untuk diadu dengan lainnya, melainkan digunakan ketika benar-benar dibutuhkan. Saya setuju soal itu.

Dan seperti nasihat para ortu: … namun jangan lupa, tidak hanya dengan pikiran ilmu terekam dan dipahami, tapi juga oleh apa yang disebut hati–sesuatu yang selalu sulit dijelaskan namun kita mengerti

Maka, belajarlah senyaman mungkin, seterbuka mungkin, sebahagia mungkin. Saya setuju bahwa belajar adalah wajib, sedangkan memiliki tempat nyaman untuk “ngangsu kawruh” adalah pilihan…

dan selain itu membagi ilmu dengan cara terbaik juga penting

 

-nasihat untuk diriku-

 

 

*Ngangsu kawruh (b. Jawa) = menimba ilmu