Sekilas tentang Keroncong dan Kenangan dari “Setangkai Anggrek”

Sejak dulu saya menyukai jenis musik keroncong. Alunan musik dan gaya bernyanyi yang khas, seperti melemparkan saya pada nuansa vintage sekaligus suasana bebas dari terburu-buru. Keroncong memang memiliki arti tersendiri bagi masing-masing penggemarnya. Di zaman sekarang sudah banyak pula yang mengkolaborasikan musik keroncong ke dalam musik modern. Tapi menurut saya, hasilnya tak seoriginal musik yang memang dikonsepkan untuk keroncong. Tidak semua lagu tentunya dapat dikeroncongkan. Ya memang selera kan juga beda-beda.  Kecuali lagu Anggrek Bulan, yang menurut batas pengetahuan saya soal keroncong, lagu lama ini selalu enak didengarkan di zaman apa pun. Bahkan di Negeri Belanda sana, kata seorang seniman, lagu ini populer, juga lagu-lagu keroncong lainnya.

Musik keroncong itu sendiri berasal dari Portugis yang semula dikenal dengan nama Fado, dibawa oleh para pelaut dan budak kapal perdagangan Portugis sejak mereka memasuki nusantara di abad ke-16. Sejarah musik keroncong bisa dibilang cukup panjang dan dapat dikatakan kehadirannya senantiasa mengiringi perjalanan bangsa. Bahkan lagu keroncong Di Bawah Sinar Bulan Purnama kala itu menjadi musik populer pascakemerdekaan Indonesia, dan sengaja liriknya dibuat kiasan untuk menghidari pencekalan.

Barangkali, yang pernah nonton film Soegija, nggak asing lagi dengan lagu ini: Als de Orchideen Bloeien (Bunga Anggrek Mulai Tumbuh) yang dilantunkan oleh seorang wanita yang memetik ukulele dalam salah satu adegannya, dengan sebagian syairnya dinyayikan oleh pemain bule. Apalagi pas hujan-hujan seperti ini, rasanya menyenangkan beristirahat sambil mendengarkan lagu-lagu keroncong.

Bunga anggrek mulai timbul
aku ingat padamu
di waktu kita bertemu
kau duduk di sampingku

Als de orchideen bloein, (jika bunga anggrek mekar)
ween ik haast van liefdes smart (angatkan aku akan pedihnya cinta)
Want ik kan niet bij je wezen (karena kamu tak bisa bersamaku)
g’lijk weleer, mijn lieve schat (sama halnya seperti dahulu, cintaku)

Reff

Kini kau cari yang lain
*Maar nu been je van een ander (tapi kini kamu milik yang lain)
ingkar dengan janjimu
*Voorbij is de romantiek (usailah cerita cinta itu)
Teringat masa yang lalu
*Kom terug toch bij mij weder (kembalilah padaku)
Aku cinta padamu
*Jou vergeten kan ik niet (ku tak bisa melupakanmu)

Gubahan Belanda

Als de Orchideen Bloeien

Als de orchideen bloeien,
kom dan toch terug bij mij.
Nogmaals wil ik met je wezen,
zoveel leed is dan voorbij.
Als de orchideen bloein,
ween ik haast van liefdes smart.
Want ik kan niet bij je wezen,
g’lijk weleer, mijn lieve schat.

Reff :
Maar nu been je van een ander.
Voorbij is de romantiek.
Kom terug toch bij mij weder.
Jou wergeten kan ik niet.
Als de orchideen bloeien,
dan denk ik terug aan jou.
Denk toen aan die zoete tijden,
toen je zei: Ik hou van jou.

Syair-syair di atas memang sedikit berbeda dengan “Bunga Anggrek” yang diciptakan Ismail Marzuki pada tahun 1939.

versi Ismail Marzuki

Bunga Anggrek mulai timbul
Aku cinta padamu
Sewaktu kita berkumpul
Kau duduk disampingku

Engkau cinta kepadaku
Bulan menjadi saksi
Dan engkau telah berjanji
Sehidup dan semati

[Reff:]
Kini kau cari yang lain
Lupa dengan janjimu
Sudah ada gantinya
Kau lupa kepadaku

Oh sungguh malang nasibku
kini kau telah jauh
Engkau mengingkari janji
Kau pergi tak kembali

Lagu ini konon lebih familiar di telinga kakek nenek yang pernah hidup di tahun ’30-an, di mana perpisahan jadi tema umum, dan banyak pacaran nggak sampe ke pernikahan, karena memang kondisinya sedang konflik. Tapi lepas dari kenapa lagu ini populer di zamannya dan masih nyaman didengar di masa sekarang, lagu Bunga Anggrek ini adalah jenis keroncong legendaris terindah bagi saya untuk saat ini 🙂