Kita tak jadi bijaksana, bersih hati dan bahagia karena membaca buku petunjuk yang judulnya bermula dengan “How to”

Kita harus terjun kadang hanyut, kadang berenang dalam pengalaman. Kita harus berada dalam perbuatan, dalam merenung, dan merasakan dalam laku. Ujian dan hasil ditentukan di sana.

(Caping ― Goenawan Mohamad)

 

 

 

Iklan

 

 

engkau tahu…

jarak itu pun perlahan terbangun, tatkala tak ada lagi percakapan,  tak ada lagi saling mendengarkan, tak ada lagi saling mengingat, tak lagi saling peduli,

meskipun itu berada dalam kebersamaan….

 

 

 

 

 

 

3 Perayaan Penting Bulan Ini

Setelah lusa hari emansipasi dalam peringatan Kartini, kemudian Hari Bumi kemarin, kini tiba saatnya kuucapkan selamat Hari Buku dan Hak Cipta Sedunia. Terutama untuk mereka yang mencintai buku-buku dan membaca…

Bukulah dunia di mana aku pernah ‘lahir’ dan menjadi seseorang, buku-bukulah tatkala kutemukan ada begitu hal indah jauh dari tempatku berada di masa remaja yang suntuk, dan buku juga yang menjadi pelarian, kepulangan, dan makanan pokok keseharian, hingga akhir hidupku nanti barangkali. Dalam buku, aku belajar, mengerti, mendengar, merasakan, menilai, merumuskan, mengenali hidup, mendekat pada Yang Maha Abadi, belajar mencintai, menyimpulkan, juga sering kali mengkritik banyak hal.

Ketiga perayaan di bulan April ini, Hari Kartini, Hari Bumi, dan Hari Buku Sedunia, memang memang cukup cantik untuk terus mengingatkanku akan 3 hal yang akan tetap melekat padaku: kesetaraaan yang adil, mencintai alam, dan juga terus membuka pikiran dengan membaca….

 

 

selamat hari bumi

Membaca alam, membaca asal muasal kehidupan kita. Pada kitab suci, kita diajari tentang unsur-unsur pembentuk manusia yang semuanya berasal dari alam semesta. Bahkan demi mengenal Tuhan pun kita membutuhkan alam. Namun, manusia telah mengotori alam dengan sejarah keserakahan dan kekuasaannya. Mereka tinggal di sana dan menghabiskan tanpa merawat ataupun mengembalikan seperti semula. Manusia merasa mampu menggunakan akal untuk menggunakan alam, mengakali alam, tapi lupa bahwa merekalah yang sebenarnya tergantung pada alam, seperti bayi yang terus bergantung pada ibunya. Bukankah sesungguhnya alam akan tetap ada dan berlangsung, tanpa manusia sekalipun?

Benarkah di planet bumi ini, manusialah jenis hama paling sombong?

 

Hari ini, aku hanya bisa mengucapkan selamat Hari Bumi untuk planet yang kita tinggali ini. Semoga kita menjadi penghuni yang tidak terus menerus diperbudak nafsu.

 

 

 

20:20 ; ritme

“Mimpi adalah mekanisme nan menakjubkan. Ia danau tak berdasar. Kita menyelam di sana, melihat dan mengerti segala sesuatu dalam dimensi berbeda, merasa gembira atau sedih karena pengetahuan itu. Lalu, ketika kita muncul di permukaan lagi, kita tidak bisa mengerti lagi apa yang telah kita lihat, tapi kita masih bisa merasakan sesuatu akibat pengertian yang telah hilang.”

Cuplikan ini ada di novel Lalita karya Ayu Utami, yang tak sengaja kutemukan ketika iseng membaca.

 

 

 

Sajak Kucing Kecil

Karya : Agnes Arswendo

 

Kucing kecil, lompat riang
meloncat lucu, seperti anak-anak
mata bulat, tanpa prasangka
o, indahnya persahabatan ini
seakan tak lepas di lain hari

Kucing kecil, lompatlah ke pangkuanku
aku sukla nakalmu, nakal anak-anakku
di sudut, kau suka sembunyi
aman?
anakku riuh mencarimu
pertanda sayang?
percayalah.

Tapi ingat kucingku
tak boleh kau menggigit, biarpun tak sakit
tak boleh kau mencakar, biarpun tak memar
tak boleh kotor bulumu
tak boleh ada kutumu, biarpun satu

Sayangku, jangan kau salah sangka
aku akan kecewa
karena kita akan menunggu dengan sia-sia
demikianlah hidup
tak boleh bertingkah.

 

 

 

penyendiri dan keramaian

 

Salah satu momok terberat orang-orang penyendiri adalah tuntutan berbaur dan bersosialisai di tengah keramaian orang. Secara aneh, orang akan terikat dengan begitu banyak ‘saling mengomentari’, menilai, mencari persamaan, hingga mempersoalkan penampilan…

Entah bagaimana ada orang yang begitu mudah berbaur dengan keramaian, ada juga yang sedikit merasa menderita dengan itu…

 

Andai di dunia ini, orang dapat saling mengerti dengan cukup berbicara dengan hati dan bebas dari penilaian-penilaian bersifat menghakimi…

 

 

Percakapan dengan Awan-awan

 

 

“Kenapa orang-orang suka berteriak untuk bisa saling mengerti?”

“Sebab mereka lupa bahwa Tuhan bahkan bisa mendengar meski kita hanya berbisik….”

“Lupa? Apa kita semua juga lupa?”

“Mungkin saja. Kau bahkan lupa membuka jendela kamarmu.”

“Lalu, kenapa kau lupa menjadi hujan?

“Aku hanya lupa menjadi diriku sendiri..”

“Ah, rasanya, kita hanya terlalu kenyang mengingat…”

 

 

 

 

 

 

Percakapan dengan Embun

 

 

“Kau tahu, bagaimana cara supaya tidak perlu peka dengan firasat? Tak perlu merasa sakit bila itu bukan kesakitan kita? Dan tak perlu merasa hanyut dalam kegelapan yang barangkali ditemui di kehidupan ini?”

Embun menjawab, “mudah saja, jangan cintai apa pun di dunia ini, jangan pakai hatimu. Hanya itu kurasa….”

 

 

 

 

 

 

 

Surat Kepada Kesendirian

Kepada Kesendirian,

Lalu sampailah kita pada hari ini, yang tak pernah aku tunggu dan tak kubayangkan.
Tapi bukankah hidup juga tidak hanya tentang menunggu dan membayangkan? Kata orang, ia butuh dijalani.

Kupu-kupu akan terbang melintas bunga seperti musim kemarau yang biasa, hujan akan merintik jalan-jalan pada musim hujan yang biasanya. Dan burung-burung melintasi embun. Lihat bahwa sekawanan capung kemarin hari menghinggapi bambu-bambu dan kini mereka tersesat karena rumahnya terganti pertokoan. Tidakkah engkau lihat kunang-kunang tak lagi mengunjungi taman-taman kota? Apakah engkau mengamati mengapa senja begitu cepat disergap gelap? Senja yang selalu kita kenang itu? Dan bukankah dalam hidup kita terkadang digariskan bertemu untuk jatuh cinta dan kemudian mengambil jalan masing-masing?

Saatnya pulang dari pengembaraan panjang, menutup pintu, menyimpan rapat rindu. Sudah waktunya menutup gerbang-gerbang mimpi, bagi hal-hal yang tersembunyi jauh di dalam sana. Meski aku mengerti, tak ada yang berhenti dari mimpi, kecuali akan selalu bergandeng tangan dengan kenantian. Aku ingin engkau berbahagia, menelusuri seluruh sudut dunia yang tak kutahu, sementara aku menghitung ranting yang kering dan menuliskan sajak dari daun-daun yang berjatuhan di halaman.
Kita tahu, setiap sepi akan kembali ke hadapan perenungan. Seperti setiap tinta akan bermuara pada lembar-lembar catatan.
Dan setiap cinta akan dilabuhkan ke lautan.

Barangkali sudah cukup rasanya, aku jatuh cinta pada hidup dari sudut kesunyian…
Sekalipun indah, tapi biarlah, seperti halnya kafein, tidak baik bila dikonsumsi berlebihan dan menjadi kebiasaan…

Temanmu, yang Dijemput Keramaian