Khusus

Malam ini aku sudah menyelesaikan membaca sebuah novel yang sialnya ber-ending menggantung. Sepertinya, gegara minggu belakangan ini aku sedang iseng membaca novel bergenre romantis dan aku jadi kapok.
Lalu belum mengantuk, aku membaca KBBI. Aku menelusuri beberapa istilah.

pri-vat: 1. pribadi; 2. tersendiri; 3.partiklir

Privat merujuk sesuatu yang bersifat pribadi. Pribadi barangkali merujuk pada hal-hal yang tidak dibagi pada siapa pun kecuali diri sendiri atau seseorang terdekat atau yang dianggap spesial.

Bila kau menyuka kesendirian dan privasi, maka sesuatu yang telah terbagi-bagi dan semua orang tahu tentu bukan lagi hal yang menarik. Aku khawatir kita memiliki sisi kanak-kanak di mana kita selalu memiliki ruang rahasia yang hanya diri sendiri atau orang-orang tertentu yang tahu. Bila ruang rahasia itu telah diketahu semua orang, maka tempat itu bukan lagi markas khusus.

oh iya, “khusus”. Apakah arti istilah khusus?

khusus (adjektiva): khas, istimewa, tidak umum.

Aku yakin setiap orang di negeri ini sudah tidak lagi khusus ketika mereka tinggal bersama masyarakat yang gotong royong. Sebab semuanya harus bersama. Semuanya harus sama. Semua orang harus tahu apa yang kita alami. Kita harus tahu banyak pula tentang orang lain. Terkadang aku masih menemukan kampung-kampung tertentu bahkan harus menyamakan bendera partai yang harus dipilihnya. Betapa lucunya itu. Kampung tempatku tinggal selalu perang dingin dengan kampung lain yang memiliki bendera partai berbeda.

Lalu apa itu umum? Orang-orng di negriku sering kali menyamakan istilah berbaur dengan “umum”. Berbaur di sini diartikan dengan sesuatu di mana kita tidak lagi khusus, dan masalah khusus kita sebaiknya jadi masalah umum. Karena saking dekatnya masyarakat dengan istilah umum ketimbang khusus, maka sudah hal biasa suami istri tinggal bersama orang tua/mertua dan keluarga besar kemudian membagi hal-hal khusus mereka menjadi wacana bersama.
Pernikahan yang digelar megah pun sudah bukti bahwa itu sudah jadi hal umum. Mulai detik itu juga, pasangan baru mesti siap menjadi sorotan baru pula bagi orang-orang di sekitarnya. Kapan punya anak? Kapan ngasih adik ke anak pertama? Kok nggak KB? dan remeh-temeh lainnya yang selalu jadi pembicaraan bersifat umum.

Bila kau membuka kamus bahasa, kau akan terkejut dengan kenyataan bahwa “umum” memiliki penjabaran yang cukup panjang. Penulis kamus ini mungkin saja orang yang lebih antusias dengan keumuman ketimbang sebaliknya. Abaikan, tentu itu hanya pikiran isengku.

umum: 1 a mengenai seluruhnya atau semuanya; secara menyeluruh, tidak menyangkut yang khusus
(tertentu) saja: 2 a untuk orang banyak; (untuk orang) siapa 3 n orang banyak; khalayak ramai:
4 v tersiar (rata) ke mana-mana; (sudah) diketahui orang banyak:

Pernahkah kau menjadi seseorang yang tidak lagi “khusus”? Apa hal sakral terakhir yang kau alami belakangan ini? Lalu apakah itu sakral? Tiba-tiba saja aku ingin mencari artinya.

sakral:
sa-kral/ suci; keramat.

Entah apakah khusus dan sakral ada keterkaitannya. Tapi jika sesuatu itu sudah tak lagi keramat, apakah masih indah jadinya? Seperti menemukan pulau yang kau kira tak ada siapa pun misalnya, ternyata telah penuh dengan turis.

Sejujurnya aku masih bingung mencari contoh perpaduan istilah-istilah itu di kehidupan sehari-hari. Apakah seperti ini contohnya:

Obrolanmu barangkali sudah jadi sekadar basa-basi dan persoalan kebutuhan sehari-hari. Dan obrolan semacam ini sudah jadi hal umum, karena kamu bisa saja membiacarakan itu pada semua orang. Barangkali semacam obrolan soal cuaca dengan teman lama yang baru saja ditemui.

Tapi jika sesuatu itu telah menjadi milik banyak orang, maka dinamakan umum. Kukira. Jadi bila engkau memiliki sesuatu yang bersifat sakral pada seseorang dan kemudian ternyata kamu bukan satu-satunya ataupun istimewa, maka sesuatu itu bukan lagi bersifat pribadi, maka tidak lagi disebut hal privat. Bila ada sebuah kabar di mana kamu orang terakhir tahu atau bukan satu-satunya yang tahu, maka bisa dibilang “tidak ada yang spesial dari dirimu” seperti yang kau kira selama ini. Namun, karena perasaan seperti itu sudah biasa kualami sejak dulu, aku tak lagi tekejut.
Bagaimana denganmu?

Ya memang, bukankah kita akan selalu berada di dua hal ini: umum dan khusus? Dan kita memiliki ukuran sendiri untuk memisahkannya. Berbeda-beda pula.

Memang ada perasan seperti menjadi berharga dan penting setiap ada yang membagi rahasianya padaku. Selalu saja aku tergelitik ingin bertanya, “apakah aku sesuatu yang ‘khusus’ bagimu?”
Aku selalu merasa penting bagi ibuku karena alasan itu, beliau selalu membagi cerita rahasianya padaku.

Setidaknya aku bersyukur karena aku masih bisa ngobrol dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia seperti dini hari ini. Banyak hal yang kuobrolkan dengan buku-buku sering kali hal-hal khusus, lebih karena tak mungkin juga dipahami orang lain. Ada banyak hal dari hidup kita tak bisa kita bagi pada orang lain. Ada sebagian dari hal-hal itu justru lebih mudah dibicarakan pada orang lain ketimbang dengan yang terdekat.

Jadi, aku beruntung karena masih memiliki beberapa hal di mana aku tak bisa membaginya pada seorang pun: buku-buku yang cuplikannya sering kali menyentuh dan kesunyian yang lebih memahami.

Iklan