Resensi Novel: Immortality of Shadow

immortality of shadow

Judul Buku: Immortality of Shadow
Penulis: E. Rows
Tebal : 264 halaman
Penerbit: Divapress
Genre: Horor
Terbit: September 2014
ISBN: 978-602-255-683-1
Harga: Rp 40.000,00

Blurb

An Hammer. Sebuah rumah bergaya Victoria klasik. Atapnya menjulang tinggi dengan jendela-jendela transparan di setiap sisi rumah. Rumah itu juga memiliki balkon serta beranda. Dan, ada danau kecil di belakangnya.
Sebuah rumah yang indah.
An Hammer seharusnya menjadi hunian yang nyaman bagi Corey dan keluarganya. Sayang, Corey justru dihadapkan pada kenyataan aneh dan mengerikan di rumah barunya itu.
Janet, anak bungsu Corey, mengaku berteman dengan anak laki-laki bernama Dalal. Teman yang tidak bisa dilihat siapa pun, kecuali Janet.
Barry, kembaran Rose, anak kedua Corey, dapat melihat kejadian di masa depan dalam mimpinya. Dan, ia selalu memimpikan hal buruk menimpa Rose.
Kisah-kisah masa lalu tentang An Hammer pun pelan-pelan terkuak.
An Hammer memang menyimpan sesuatu…

Berawal dari keputusan Corey membeli rumah diam-diam sebagai wujud keinginan memperbaiki hidup, masalah justru semakin pelik. James, sebagai suaminya tidak setuju mereka meninggalkan rumah keluarga besar yang penuh dengan penghuni itu, lebih-lebih ia baru saja kehilangan pekerjaan. Namun, keempat anak mereka justru menyambut dengan bahagia ide pindah rumah baru, hingga membuat ia pun terpaksa menerima. Rumah yang dibeli Corey melalui sepupu sahabatnya terletak di Boonville. Kawasan yang cukup nyaman meski jauh dari pusat keramaian.

Rumah itu rupanya memang menyimpan sesuatu hingga membuatnya berharga murah, belum lagi ekspresi aneh orang-orang di sekitar sana ketika mendengar An Hammer. Seorang cenayang bahkan sempat memiliki firasat yang aneh tentang rumah tersebut. Belum lagi letaknya yang terpencil dan lama tak ditinggali, An Hammer seolah menyimpan banyak misteri. Namun semua itu tak menghentikan niat Corey memboyong semua keluarganya ke sana. Terlebih rumah itu rupanya sangat indah dengan gaya Victoria dan ada sebuah danau di belakangnya.  Hanya James yang tak terlalu suka tinggal di sana. Ia pun mencari pekerjaan jauh dari tempat itu dan jarang berada di rumah. Sementara itu, Corey menghadapi segalanya sendiri.

Konon anak kembar selalu punya bahasa sendiri yang hanya mereka yang mengerti. Selain menghadapi Janet yang sering kambuh penyakit, ia juga harus mengatasi Rose yang berperilaku semakin aneh dari hari ke hari pascakecelakaan dan dibully teman-temannya. Terutama Barry masih bermimpi hal-hal buruk tentang Rose, saudara kembarnya yang membuat semua orang jadi khawatir. Tidak ketinggalah, Eliana, yang sejak berkenalan dengan Dave, penduduk sekitar Hammer yang mengetahui sedikit rahasia rumah tersebut, sering dibayangi kekhawatiran dan kejadian aneh.

“Apa benar yang dikatakan oleh Dave tentang semua itu? Anaknya yang meninggal di sana, lalu….”

Dug.

Eliana menoleh. Terdengar suara yang berasal dari balik pintu kamarnya. Seperti barang terjatuh….

Belum lagi peristiwa ganjil lain yang muncul satu dan mereka seperti tinggal bersama di rumah tua tersebut. Janet yang memiliki teman yang tak terlihat dan tampak seperti berbicara sendiri. Sejak Janet berbicara pada Dalal, teman tak terlihatnya, Eliana menyemangati si kembar Barry dan Rose memanggil arwah dengan papan ouija. Keadaan Rose justru semakin parah sejak papan ouija itu dimainkan. Hingga akhirnya konflik meruncing dengan pertengkaran Corey dan James di samping terungkapnya sebagian rahasia masa lalu.

seorang wanita muda yang bunuh diri di danau

seorang istri yang dipanggang oleh suaminya ketika terjadi pertengkaran hebat

anak kecil yang dibunuh dengan dibakar oleh sang ayah

Sebagai seorang ayah, James memang tipe yang akan melalukan apa pun untuk keluarganya, bahkan bila harus melakukan pembunuhan terhadap Rose untuk menyelamatkannya dari lingkaran penderitaan.

Akankah keluarga Golik mengalami peristiwa yang sama yang terjadi pada penghuni sebelumnya?

Novel ini menggunakan POV 3. Dibuka dengan perkenalan tokoh-tokoh dalam novel yang memudahkan pembaca. Kelebihan novel horor ini adalah penjabaran setting yang detail, suasana yang berhasil membuat bulu kuduk merinding dengan twist-twist tak terduga membuat kita jadi mencurigai apa pun dan menebak-nebak apa yang barangkali menunggu di balik pintu kamar. Membaca bagian mengerikan dalam novel ini membuat antara ingin pindah bacaan atau terus mengikuti rasa penasaran terhadap alur cerita.

Baca buku horor satu ini membuat saya ingat kata seorang teman, “Bila galau, nontonlah film horor”. Efek adegan horor yang sering bikin kaget itulah yang mengalihkan sejenak kepenatan dan masalah hidup sehari-hari. Tapi baca buku ini apalagi sendirian, galaunya jadi berganti :D. Selain itu, ada beberapa adegan yang membuat saya ingat film horor populer Conjuring, The Exorcism of Emily, dan Insidious. Seperti agak mirip situasinya.

Tapi ada beberapa poin yang sepertinya agak mengganjal. Pertama, seperti kejadian-kejadian aneh di rumah pertama yang tak terjelaskan hingga akhir cerita. Kedua cenayang yang hanya muncul sekali dan sebetulnya tak terlalu perlu ditambahkan dalam cerita. Ketiga, masa lalu penghuni rumah an Hammer yang hanya muncul bagian proses pembunuhannya. Keempat, James yang mengigaukan nama seorang wanita yang berhubungan dengan masa lalu yang tidak terlalu dieksplore apa korelasinya. Di samping itu, novel ini terasa agak berjalan lambat dan membosankan di bagian tengah dan seperti hanya fokus pada kesibukan keluarga sehari-hari ketika menyambut musim panas, juga ada pula prolog yang rupanya tidak ditemukan di tengah cerita. Tapi tak mengapa, visi misi novel ini sudah cukup tersampaikan dengan baik.

Sudah lama sekali saya tidak membaca buku bergenre horor. Terakhir mungkin SMA. Waktu masih anak-anak,  juga rutin baca rubrik Jagading Lelembut di majalah Djoko Lodang langganan simbah tanpa kapok, haha. Berlanjut setelah remaja buku apa pun cerita petualangan dan misteri selalu bikin penasaran. Termasuk yang berjenis horor. dari karya-karyanya RL Stine hingga yang berasal dari negeri Jepang. Kini semuanya tidak lagi sama. Mungkin saja semakin dewasa, orang semakin penakut. Bila nonton film horor Suzana saja sendirian ketika masih SD pun nggak jarang dilakukan, sekarang bila memang harus nonton film horor, itu pun mesti banyak orang, banyak temen, dan efek teriak bareng orang-orang itu lebih menyehatkan bagi fisik dan kejiawaan daripada nonton sendirian di kamar.

Kembali ke topik. Meskipun endingnya tidak terlalu “rame”, novel ini layak mengalihkan perasaan galau Anda sejenak berpindah ke perasaan parno. Sebagai novel bergenre horor pertama E.Rows, Immortality of Shadow menurut saya sudah dituliskan dengan baik dan cukup berkesan. Novel ini cocok untuk young adult.

 Tapi disarankan untuk tidak membacanya sendirian:)

Iklan

Film Refrain dan Opini tentang Persahabatan

“Persahabatan itu nggak memilih. Persahabatan bukan didasari oleh gender, usia, motif, atau apa pun itu. Persahabatan yang tulus nggak harus punya alasan.”

Benar. Tapi omong-omong, apa sih artinya Refrain? Kalau menurut google translate sih ‘menahan diri. Tentang apa sih film ini kok sampai ada soal menahan diri? Atau bisa jadi refrain adalah istilah musik yang berarti bagian perulangan dari lagu. Ya marilah kita abaikan sejenak judul, karena agak sulit memang dihubungkan dengan pesan moral filmnya :p

Refrain bercerita tentang Niki (Maudy Ayunda) dan Nata (Afgansyah Reza). Mereka bersahabat sejak kecil. Kedua orang tuanya bekerja di satu perusahaan dan sama-sama harus dinas ke luar kota. Oleh karenanya mereka selalu bersama ke mana pun itu. Apa keburukan dan kelebihan yang dimiliki satu sama lain, mereka pun sudah hafal. Setiap pada Niki di sana ada Nata, dan begitu juga sebaliknya. Bahkan saking dekatnya, mereka berjanji siapa yang lebih dulu jatuh cinta, harus ngasih tahu. Tapi janji itu tidak tertepati. Suatu hari Niki jatuh cinta pada Oliver, kapten tim basket di sekolahnya. Sejak itu, Nata merasa ada yang hilang. Niki sudah tak lagi sering ada waktu untuknya. Namun, tak hanya sekadar itu, Nata cemburu. Rupanya diam-diam Nata menyukai Niki, perasaan itu ada begitu saja tanpa bisa diprediksi, tapi rahasia itu disimpannya jauh karena mereka bersahabat. Sejak itu, dunia terasa berubah di mata Nata. Sedangkan dunia baru berubah di mata Niki ketika ia tahu sikap Nata yang antipati terhadap Oliver itu karena ia menyayangi Niki. Niki pun menjauh. Namun perasan cinta juga bagian dari proses dan tidak bisa instan. Ada sesuatu yang akhirnya membuat Niki menyusul Nata ke Austria 5 tahun kemudian. Tak bisa dipungkiri, bahwa cinta juga melampaui hubungan bernama persahabatan, sebab tahu bahwa Nata adalah pria terbaik dalam hidup Niki, telebih sejak Oliver, cinta pertamanya menyakitinya, dan tahun-tahun yang entah bagaimana telah dilaluinya. Yuhu, ini film remaja yang menarik meskipun ide tentang sahabat jadi cinta memang klise.

Refrain film yang rilis tahun 2013-an, yang memang awalnya tak berniat saya tonton karena kesibukan dan tak terkondisikan nonton film sejenis drama. Tapi jenuh juga terus-terusan nonton film idealis sehingga film ringan sesekali jadi pilihan. Awalnya sih karena tokoh utamanya memang artis di dunia musik, ngarepnya sih bakal seperti film August Rush. Ternyata beda sih, hehe. Film remaja yang satu ini ‘imut’, apalagi diselipi dengan iklan di adegan pembuka =)). Sebenarnya film yang disutradarai Fajar Nugros ini diadaptasi oleh novel karangan Winna Efendi yang judulnya Refrain juga, tapi saya sendiri belum baca novelnya. Ya entah mengapa, pengalaman dan firasat selalu mengatakan novel selalu lebih bagus daripada versi filmnya. Tak mengapa. Ada beberapa adegan manis yang mengesankan di film itu.

Pertama, ketika Nata dengan tegas ngelarang Niki diajakin kencan tiba-tiba sama Oliver sepulang sekolah. “Ngapaian sih mau sama dia? Entar kamu diapa-apain lho? Ngaco ah, nggak usah!” Tapi toh akhirnya Niki berangkat juga dan Nata membawakan tas Niki sambil mencemaskannya. Karakter Nata ini kadang dingin tapi protektif, sering ia ngingetin Niki untuk belajar biar nggak ketinggalan. Mungkin sih di dunia ini memang ada tipe sobat cowok yang ‘keibuan’ seperti itu.

Kedua ketika si Nata berani memukul Oliver atas tindakan kurang ajarnya pada Niki di acara promnait lalu menggandengnya pulang, padahal sebelumnya mereka lagi marahan karena Niki tahu Nata ‘mengkhianati’ persahabatan dengan menyayanginya. Tapi perempuan mana yang tidak terenyuh ketika ada yang membelanya ketika dalam posisi “tersudut”? Ya toh?

Ketiga, ketika 5 tahun kemudian akhirnya Niki nyusul Nata ke Austria dan happy ending, walaupun adegan yang ini terkesan buru-buru. Meski dari awal, film ini predictable, tapi jalan ceritanya menarik untuk diikuti dan tidak terlalu mainstream kok. Beberapa kekurangan tentu ada, sebagai film remaja, saya belum pernah menemukan dua tokoh ini hidup dalam pengaruh keluarga dan orang tua, melainkan pyur hanya tentang mereka. Kecuali kakak Nata yang lebih tepat disebut sampingan. Malahan Annalise (Chelsea Elizabeth Islan) benaran hanya sampingan, terbukti ketika adegan buka-bukaan perasaan yang bersifat kecelakaan itu (karena deim-diem Annalise suka Nata), sepertinya ngambang entah bagaimana kelanjutannya. Tiba-tiba di promnait, Annalise jejer bedua dengan kakak lelakinya Nata.

Soal akting tidak diragukan lagi, mereka cukup menjiwai dan tidak lebay, baik ketika berperan sebagai remaja maupun ketika dewasanya. Apalagi bawaan karakter Afgan yang romantis, menurut saya pas meranin Nata di film itu. Nonton ini saya jadi ngerasa betulan ngerasa balik jadi remaja, zaman masih suka nontonin fenomena temen-temen yang mirip sinetron. Gimana tidak, nggak banyak remaja yang punya nasib seperti Niki kecuali dalam imaji. Remaja cantik, sugih, sukses, populer, anggota cheerleader, dan punya sahabat ganteng yang selalu ngejagain serta membelanya seperti seorang kakak itu hanya milik mereka yang beruntung aja. Urusan entar jadi sahabat doang atau bakal pacaran, yang jelas punya sahabat yang selalu ada itu berkah tersendiri bagi kaum hawa. Memang sih jenis cerita remaja di film itu atau di banyak cerita lainnya selalu klise, persahabatan yang jadi cinta. Tapi tak mengapa, mengingat animo pasar, tipe remaja nggak cantik dan kaku yang hanya punya teman buku dan petugas perpus yang akhirnya punya pacar di masa kuliah tentu agak merepotkan untuk dituliskan dan kurang menarik untuk dijadikan ide cerita remaja, haha.

Pesan moral menurut versi saya (versi pemikiran tua maksudnya)

Benar memang rasanya galau bagi perempuan dihadapkan dengan kondisi ketika teman atau sahabat pria ternyata punya perasaan lebih. Padahal selama itu kita udah nyaman deket tanpa pretensi, selama itu kita percaya teman/sahabat kita sudah jadi teman curhat yang tidak punya maksud lain. Tapi tidak bisa dipungkiri pada akhirnya perempuan itu kompleks, mereka tetap butuh persahabatan ketika sudah masuk pada hubungan cinta yang berlangsungnya bakal lama. Itulah yang sering kali sulit dipahami kaum lelaki. Memang gimana tuh maksudnya? Jadi begini, hubungan cinta tidak hanya sekadar status dan kewajiban-kewajiban standar ala timur sebagaimana lelaki dan perempuan bentukan masyarakat patriakhat, tapi juga hubungan yang bahkan seperti sahabat dan kekasih sejati: interaksi, kesetaraan, saling pengertian, kedekatan batin, negosiasi, keterbukaan, kejujuran, ada diskusi, hingga kepekaan emosi. Perempuan (terutama yang berpikiran maju) jelas nggak mau bertahan di hubungan yang hanya bersifat ‘ngasih makan status’ untuk melegalkan cinta hormonal atau sekadar nafsu semata, sehingga aslinya ‘saling terpisah’, serba hierarki, nggak ada “komunikasi”, dan berbicara hanya soal kebutuhan sehari-hari. Nggak percaya? Buktikan aja kalau sudah nikah:)

Saya setuju dengan apa yang dikatakan Nata ketika nasehatin Niki dalam adegan di film itu:

Di dunia nggak ada yang namanya cinta pada pandangan pertama. Yang ada juga nafsu atau suka pada pandangan pertama. Yang lalu disalahartikan sebagai cinta.

Itulah mengapa menurut saya mungkin saja kok perempuan atau laki-laki jatuh cinta sama sahabat sendiri. Jodoh bisa datang dengan cara apa saja. Saya yang selama ini selalu jadi pihak penonton, sering banget menyaksikan ending yang semacam itu di kehidupan sehari-hari. Entah dari cerita teman, para tetangga, hingga mbah-mbah, yang malahan menurut mereka lebih langgeng ketimbang yang ketemu gede, karena ya sejak dulu cuma si dia saja yang udah dikenal dan udah nyaman 🙂Nonton film remaja yang satu ini, saya jadi ngerasa keyakinan saya sejak dulu ada benarnya. Tidak ada persahabatan murni lawan jenis di dunia ini, kecuali dua alasan, pertama have fun aja, kedua karena cinta yang tak bisa dijelaskan karena terbentur nilai buatan masyarakat itu sendiri di Indonesia, ketiga barangkali pihak perempuan/lelakinya homoseksual :|. Film ini lumayan juga dijadikan selingan di tengah kesibukan monoton.

Sesuai pengalaman pribadi, saya nggak terlalu percaya ada persahabatan sejati antara lelaki dan perempuan di dunia ini. Tapi saya percaya persahabatan dapat dibangun oleh dua orang yang memutuskan untuk saling mencintai dan ingin bersama selamanya. 🙂


Resensi Novel: Sherlock Holmes; Anjing Iblis dari Baskerville

DSCN4003

Judul Buku: Sherlock Holmes; Anjing Iblis dari Baskerville
Penulis : Sir Arthur Conan Doyle
Penerjemah: Dion Yulianto
Tebal: 264 halaman
Penerbit: Laksana
Terbit: Oktober 2014
ISBN : 978-602-255-659-6

 

 

Blurb

Karena ulah keji salah satu leluhur di masa lampau, seluruh anak keturunan Baskerville dihantui oleh kutukan maut sesosok anjing iblis. Sir Charles Baskerville ditemukan telah tewas di dekat gerbang menuju padang. Tidak ditemukan tanda-tanda telah terjadinya tindak pembunuhan selain sebuah tapak kaki anjing pemburu berukuran raksasa.

Sekali lagi, Sherlock Holmes ditantang untuk memecahkan misteri pembunuhan yang berbau supranatural. Berpindah dari padatnya kota London ke padang Dartmoor yang terpencil, sebuah misteri gelap menunggu untuk dipecahkan. Selain harus memecahkan misteri, Holmes dan Dr. Watson harus bergerak cepat untuk melindungi satu-satunya ahli waris yang masih tersisa, sebelum kutukan anjing iblis itu menimpanya.

Penggemar cerita detektif tentu tidak asing dengan tokoh Sherlock Holmes, detektif nyentrik hasil rekaan penulis legendaris Sir Arthur Conan Doyle. Bersama rekannya Dr. Watson kali ini ia dihadapkan oleh kasus pelik yang melibatkan hal-hal yang metafisik. Di samping melindungi Henry Baskerville, satu-satunya ahli waris Baskerville yang dipastikan menerima seluruh warisan Sir Charles Baskerville, mereka dituntut untuk menyibak misteri di balik teror anjing tersebut. Bagaimanapun pikiran rasional Holmes tidak begitu saja dapat menerima cerita semacam kutukan ataupun mitos.

Menurut berita yang beredar dan juga penuturan Dr. James Mortimer, kasus kematian Charles murni disebabkan oleh sakit jantung akibat ketakutan melihat makhluk gaib. Sebab hanya jejak kaki makhluk semacam anjing berukuran besar yang ditemukan di sekitar lokasi kejadian. Wajar bila jantungnya yang lemah tiba-tiba berhenti ketika melihat sesuatu yang begitu menakutkan. Teror tersebut bagai kutukan yang sudah dipercaya oleh penduduk Devonshire. Beberapa di antaranya bahkan pernah melihat penampakan si anjing atau mendengar suara lolongannya. Namun apakah memang kutukan itu benar adanya? Atau ada sesuatu di baliknya? Segalanya menjadi misteri yang tidak mudah dipecahkan.

Sejak kedatangan Henry ke London, teror anjing iblis seakan memang tengah mengintai. Holmes pun menyadari seperti ada yang sedang mengikuti Henry sejak ia tinggal di sebuah hotel menyusul kejadian-kejadian aneh seperti hilangnya sepatu milih si pewaris tunggal, juga surat kaleng yang misterius yang menyuruhnya pergi dari London. Namun, sebagai ahli waris tunggal, sudah semestinya ia mendatangi dan tinggal Baskerville Hall di Devonshire. Meski dengan was-was, ia tetap berangkat bersama Dr. Watson tanpa diiringi oleh Sherlock Holmes karena urusan yang tidak bisa ditinggal. Dan dimulailah petualangan mengurai misteri kutukan tersebut. Dan hanya Dr. Watson yang harus mengatasinya selama Holmes tidak dapat mengiringi.

Devonshire rupanya bukan sehamparan wilayah subur yang indah dan penuh bunga-bunga, melainkan cenderung kelam, gersang, dan hanya sebagian mempunyai sisi menarik karena merupakan bekas peninggalan purbakala. Kekelaman Devonshire tidak hanya soal rawa-rawa Grimpen yang angker, teror anjing, dan kegersangan, tetapi juga diperparah dengan kabar tentang kaburnya salah satu napi bersembunyi di sana sehingga terkesan tak nyaman untuk ditinggali. Sebagai penduduk baru, Henry pun harus beradaptasi dengan orang-orang di sekitarnya. Termasuk sepasang pengurus rumah, Barrymore dan istrinya, hingga para tetangga seperti Stapleton yang seorang ahli botani, adik perempuannya, juga wanita berinisial L.L. yang kelak berkaitan dengan kasus tersebut. Secara rutin Dr. Watson harus melaporkan fakta yang ditemukan kepada Sherlock Holmes. Sementara itu peristiwa demi peristiwa aneh terjadi. Dimulai dari suara tangisan seorang wanita pada malam hari, pasangan Barrymore yang misterius, tentang Tuan Stapleton, dan juga sejarah-sejarah masa lalu keluarga Baskerville yang tak terduga. Hingga pada saatnya Watson tak bisa terus menjaga Sir Henry sepanjang waktu karena ia malah jatuh cinta dengan adik perempuan Stapleton.

Sementara mereka membuktikan ketidakbenaran teror yang telah turun temurun itu, anjing iblis yang sering ditakuti dan dipergoki oleh penduduk pun menampakkan diri secara tiba-tiba dengan bentuk yang luar biasa menyeramkan. Kemunculannya malah memakan salah satu korban jiwa. Namun kelak anjing tersebut menjadi sebuah kunci untuk menemukan jawabannya, bersamaan dengan kedatangan Sherlock Holmes ke Baskerville secara ajaib. Tak menyangka, misteri itu pun bagai struktur bawang merah, selapis demi selapis terungkapkan, meskipun harus ditempuh dengan proses yang berbahaya dan mengancam keselamatan Sir Henry, si ahli waris satu-satunya.

Mungkinkah kutukan anjing iblis itu akan mengenai Henry Baskerville juga? Mungkinkah misteri pembunuhan sang konglomerat Sir Charles Baskerville terdapat campur tangan seseorang?
Kisah diakhiri dengan penjelasan cerita ala Sherlock Holmes secara terperinci dan tak terduga, yang mampu membuat saya nggak menyesal baca novel ini.

Satu kekurangan Sherlock Holmes–kalaupun itu bisa disebut sebagai kekurangan–adalah kecenderungannya yang tidak mau mengatakan apa rencananya kepada orang lain sampai seluruh rencana itu terwujud. Kecenderungan ini sebagian mungkin karena sifat aslinya yang ingin selalu di atas angin, ingin selalu mendominasi, dan juga ingin mengejutkan orang-orang di sekitarnya. (halaman 231)

Sebetulnya ini novel detektif yang menarik untuk dibaca hingga selesai, andai saja tidak ditemukan typo dan kesalahan eja di dalamnya yang sebenarnya cukup mengganggu. Di halaman 118 terdapat sebaris kalimat yang kurang lengkap. “Sama sekali tidak terlintas di pikiran saya bahwa tempat ini akan begitu membosankan setidaknya Anda…” yang sepertinya akan lebih pas bila diberi kata ‘bagi’ sebelum kata ‘anda’. Penggunaan sapaan dan partikel ‘pun’ misalnya yang beberapa masih salah karena semestinya dipisah seperti ‘rumahpun’, ‘kemanapun’, sampai dengan ‘seorangpun’. Kata mengerikan beberapa dituliskan ‘menggerikan’ di novel ini. Ada pula kata ‘menenggok’ yang mestinya ditulis menengok. Halaman 246 paragraf akhir juga kelihatan berdempetan seperti tidak diberi jeda. Typo yang semacam ‘bia’ yang mestinya dituliskan bisa, dan masih banyak lagi. Sayang sekali karena jumlah kesalahan eja dan typo-nya memang bertebaran di mana-mana :(. Semoga saja untuk cetakan berikutnya tim redaksi bisa merevisi dengan lebih baik lagi.

Selebihnya saya suka cerita bertema detektif yang satu ini. Sudah tidak diragukan lagi kelihaian Sir Artur Conan Doyle menuliskan jenis cerita yang runut dan matang seperti ciri khasnya selama ini, ia seperti tidak membiarkan satu tokoh pun lepas dari jalinan cerita. Dari awal membaca hingga akhir, saya selalu terpancing untuk menebak-nebak siapa yang bakal jadi tersangka. Di hadapan Sherlock Holmes, siapa pun mungkin menjadi biang kerok kasus. Dari judul dan tampilan cover luar, sudah kelihatan bahwa novel ini diwarnai nuansa horor, dan bagi saya, bumbu horor dalam cerita detektif salah satu favorit, barangkali karena bawaan dari kecil saya suka nonton Scooby-Doo. Bedanya, tentu saja, di Scooby-Doo segalanya kocak dan ala anak-anak, sedangkan di novel karya Arthur Conan Doyle ini terasa sungguh mencekam suasanya dan lebih serius. Dengan penjabaran setting yang detail, seakan rasanya seperti mengunjungi pulau asing di mana sewaktu-waktu teror atau kutukan menyambut kita di balik pohon yang kita lewati. Buat penggemar cerita detektif atau ingin mengisi waktu dengan bacaan menghibur, novel bertema detektif yang sarat dengan pesan moral ini menjadi pilihan yang tepat.

So, selamat menikmati petualangannya.

Dartmoor trec, 14-03-2011 030

Seperti ini kira-kira penampakan Devonshire 🙂

2

dan kira-kira seperti ini bentuk Bakerville Hall

*Ternyata kisah Sherlock Holmes yang satu ini pun sudah difilmkan oleh beberapa negara 😀

Bacaan Bergizi Minggu Ini

Kendala ngantor adalah rasa suntuk tentu saja, karena pola-pola rutin dan berulang yang dilakukan setiap hari. Namun setidaknya ada 3 naskah bergizi yang mesti diselesaikan minggu ini di samping bacaan-bacaan bermutu lainnya yang tiba-tiba kutemukan dan seperti oleh-oleh dari alam atas kesuntukanku belakangan ini.

3 naskah itu adalah:

Pertama, tentang 108 tokoh ilmuwan dan penemu yang menginspirasi dunia. Naskah yang satu ini bikin nambah wawasan. Terlebih diceritakan bahwa banyak ilmuwan dan penemu yang berpengaruh di dunia itu nggak menempuh pendidikan formal di sekolah. Bahkan tak sedikit pula yang memiliki kehidupan pribadi yang kurang menyenangkan. Hari ini, aku baru sampai di bab tentang Alfred Russel Wallace, penjelajah, naturalis, yang pernah mengumpulkan jenis flora dan fauna di nusantara dan sempat mengispirasi pemikiran Darwin. Wallace salah satu yang paling menarik, salah satu bukunya sempat iseng kubaca sekilas waktu itu dan tak sampai selesai karena tidak boleh dibawa pulang dari perpustakaan kota.

Kedua, tentang penyakit yang disebabkan oleh lingkungan global dan modernitas beserta penanggulangan dan pencegahannya. Naskah ini ditulis oleh seorang dokter ahli penyakit dan lingkungan dan sekarang naskah ini baru proses editing. Memang, ilustrasi dan isinya sedikit mengerikan bagi orang awam. Namun, kelak buku ini penting dibaca semua orang, sebab untuk menyambut kemajuan teknologi dan modernitas, orang tidak harus menjalaninya dengan sakit-sakitan 😐 nanti bila buku selesai diedit, aku mungkin akan mengusahakan untuk membuatkan semacam review. Semoga saja ada kesempatan dan waktu luang.

Ketiga, novel Sherlock Holmes: Anjing Iblis dari Baskerville, kalau yang ini bukan kerjaan kantor, tapi freelance. Ini salah satu buku yang membuatku penasaran karena belum pernah kubaca. Ingatanku berkelana di masa remaja. Di masa remaja itulah aku cenderung lebih banyak bergaul dengan buku daripada manusia, salah satu penyebabnya adalah gara-gara kecanduan buku-buku bertema detektif semacam ini. Baca bukunya Sir Arthur Conan Doyle seperti nostalgia zaman remaja, dan setidaknya dapat menghadirkan nuansa baru. Tapi harus tak boleh lupa bahwa aku mesti menulis resensinya segera karena sudah dikejar deadline. Kesalahan eja yang berhamburan di sana membuatku gemas. Setidaknya ada dua hal tentang ini, bahwa memang penerjemah mesti punya setidaknya pengetahuan mengedit konten, maka dari itu proofreader adalah profesi yang jelas penting.

Demikianlah mengapa aku sebenarnya cukup menikmati pekerjaanku yang sekarang :). Selain sibuk mengejar deadline, aku tak kehilangan waktu untuk belajar juga. Mungkin memang melelahkan rasanya jadi orang yang selalu “haus”, tapi di sisi lain menyenangkan rasanya bahwa hidup sebenarnya tidak membosankan, yeah… sebelum masa bad mood datang.

Stasiun dan Mimpi

04:00

Di jam-jam inilah, saat paling sepi yang dapat kunikmati sendiri. Hanya alam yang terasa alam yang terbangun menemani, juga mimpi yang akan lebih lama menguap bersama uap kopi.

Dan di pagi inilah, aku terdiam mengingat mimpiku tentang stasiun dan hiruk pikuknya.

Omong-omong, apa yang ada di benakmu ketika mendengar tentang “stasiun”? Pemberhentian? Kereta api? Tempat nongkrong sore-sore? Salah satu judul novelnya Putu Wijaya yang penuh absurdisme? Atau tentang seseorang yang kau antar pergi sambil terus kau pandangi punggungnya hingga menghilang, atau suasana ketika engkau menjemputnya pagi-pagi dengan hati yang biru jauh di masa yang dahulu? Tak jelas apakah semalam hal indah atau menyedihkan yang kuimpikan. Aku seperti terlempar dalam visualisasi stasiun dan perjalanan dari tempat asing ke tempat asing yang tak usai, dan mungkin juga hal-hal yang sempat terlintas di pikiranku yang belakangan sering nge-blank. Namun ada ruang damai di sana yang disebut ingatan. Di mana aku tak ingin bayangan itu hilang.

6230025585_74deba228d_b

gambar diambil dari http://street.kilcher04.net/

Kopiss, dan Tentang Perjalanan 3 Perempuan: Resensi Novel

DSCN3957

Judul : Kopiss
Penulis : Miko Santoso
Penerbit : Diva Press
Tahun Terbit : 2014
Cetakan : Pertama
Editor : Aya Sophia
ISBN: 139786022960010
Jumlah halaman: 280

Sempatkah terbesit dalam benakmu, apa hal besar yang ingin sekali kamu lakukan dalam hidupmu, sebelum usiamu berhenti?

Barangkali itulah tema yang tersirat dalam novel berjudul Kopiss yang baru selesai saya baca ini. Kopiss, karya Miko Santoso, bercerita tentang perjalanan hidup 3 wanita dari latar belakang yang berbeda. Qiana, Gili, dan Onne. Ketiganya bertemu dan tinggal bersama di rumah milik Qiana.

Qiana Sitta adalah gadis asal dari Jakarta dan hanya memiliki kakak bernama Mbak Aya. Sepeninggal ayahnya, ia diserahi rumah di Bintaro Jaya. Tak mau jadi beban kakaknya, akhirnya ia mengatasi hidupnya sendiri dengan menyewakan sebagian rumah tersebut untuk kost-kostan. Dari sanalah, ia bertemu Gili dan Onne. Di balik penampilannya yang tomboy, Qiana sebetulnya mengalami ketidakpercayaan diri, terlebih di hadapan Zydna, teman masa kecil yang disukainya. Sebelum itu Zydna lebih menyukai Mbak Aya. Karena Mbak Aya menolak karena ingin menikah dengan pria lain, Zydna tampak mendekati Qiana. Namun belum sempat mengutarakan perasaan, Zydna keburu menikah dengan seorang janda karena permintaan ibunya. Hal itu membuat Qiana patah hati dan sulit move on.

Gili Virani, adalah gadis rajin beretnis Sunda. Ia bersekolah di STAN, yang tidak jauh dari tempat kostnya. Karena suatu masalah, akhirnya ia di-DO. Namun cita-citanya yang sesungguhnya memang bukan di sana. Dengan segala obsesinya tentang kopi dan bermimpi untuk sukses menjadi barista. Ia juga bekerja di sebuah kafe bernama Kafe Liwa yang memberikannya banyak pengalaman mengenai kafe dan kopi. Namun hidup rupanya tidak berjalan mulus. Ia jatuh cinta dengan Shilo, seorang duda keren pemilik kafe tersebut di tengah proses perceraiannya. Sialnya, pascaperceraian Shilo, Kafe Liwa justru jatuh ke tangan mantan istrinya. Gili bimbang karena dengan begitu berarti masa depan mereka pun buram. Tidak hanya itu, orang tua Gili pun tidak setuju karena mereka berbeda keyakinan.

Sementara Onne Narindra, gadis asal Malang-Jatim yang mengejar impian menjadi penulis. Ia datang dari keluarga yang kurang harmonis. Ibunya sudah lama meninggal, ayahnya tidak care, sedangkan kakak-kakaknya egois. Terbukti ketika mereka menyabotase hak warisan Onne demi kepentingan pribadi setelah ayah mereka meninggal. Onne pun harus memikirkan hidupnya sendiri secara mandiri dengan bekerja sebagai PNS di samping harus terus mencari identitas, namun senyatanya ia tak bisa meneruskan ketika suatu hal membuatnya berhenti dari pekerjaannya, dengan imbas pada masalah membayar denda dengan jumlah yang tidak sedikit.

Menghadapi berbagai masalah itu, ketiganya selalu saling ada dan menjadi sahabat karib yang selalu saling menguatkan. Kebersamaan dan perasaan senasib terlihat ketika mengunjungi makam ayah Onne, mereka tersadar, hingga terbesit dalam benak mereka untuk meraih yang paling diinginkan selama masih berkesempatan hidup.

Being happy with enough money is not the way I want to die. There’s more to life.” –Onne, halaman 193

Lalu bagaimana akhir kisah Qiana setelah Hanum, istri Zydna, malah menawarinya menjadi istri kedua? Ending cerita Gili setelah di-DO dan ceritanya dengan Shilo, juga akhir kisah Onne yang harus memikirkan bagaimana caranya mengembalikan kondisi keuangannya setelah membayar denda pasca dikeluarkan dari lembaga pemerintahan? Setiap kesulitan memang selalu dilengkapi jalan keluar. Roda Kopiss pun dikendalikan oleh mereka, Gili dalam hal meracik kopi, Qiana yang gigih, juga Onne yang tak menyerah, dan juga Syam, adik Zydna yang rela membantu mereka dari nol, serta Sherafina, barista berbakat yang semula saingan Gili di hadapan Shilo, mau berusaha menyelamatkan bisnis Kafe Kopiss.

Kopiss sendiri adalah nama sebuah kafe milik ketiga gadis tersebut, yang ada karena dilatarbelakangi oleh masalah ekonomi sekaligus mimpi-mimpi ketiga gadis itu yang ingin diraih. Ketiganya berkolaborasi mendirikan dan mempertahankan Kopiss yang sering mengalami kembang kempis. Namun bagi mereka mengenal kopi seperti mengenal hidup. Ada pahit, manis, asam, hambar, dan kadang penuh kejutan. Juga hal-hal yang tidak bisa dinominalkan dengan rupiah.

Novel ini menggunakan sudut pandang Qiana, meski demikian ia tidak menjadi satu-satunya tokoh utama. Sisi menarik dari novel ini menurut saya penggambaran keseharian tiga wanita dengan cara sederhana, menggunakan bahasa yang ringan, kadang menggunakan perumpamaan, dan diselipi humor. Begitu juga dengan cover buku yang juga dibuat simpel dari bentuk dan warnanya tapi tetap menarik. Novel ini dari awal seperti bercerita tentang kehidupan sehari-hari dengan alur campuran tidak terkesan datar. Kopiss menceritakan dengan apik mengenai awal berdirinya kafe dan jatuh bangun sebuah kafe, tentang proses menjalankan bisnis kafe, juga tentang kopi itu sendiri yang ternyata punya karakter masing-masing sehingga membutuhkan cara pengolahan dan peracikan yang beragam pula. Penjelasan tentang kopi dalam novel Kopiss cukup lengkap yang tentunya telah melewati masa riset.

Karakter tokoh-tokohnya digambarkan dengan cukup baik, dengan 3 wanita memiliki kekhasan sendiri-sendiri, hanya sedikit kurang wanita:D, dilihat dari obrolan, candaan, dan interaksi dengan perempuan lain yang terkesan agak maskulin. Tapi tak mengapa, karena barangkali penulis sengaja menggambarkan karakter perempuan tangguh dan sedikit tomboy, meski ada beberapa yang kurang sesuai dalam hal penggambaran emosi, misalnya seperti ketika Gili menceritakan temannya yang meninggal karena dicampur nuansa humor yang sepertinya kurang pas untuk menggambarkan kesedihan Gili.

Namun, ada beberapa kekurangan dalam novel ini yang masih bisa disempurnakan lagi. Misalnya pada margin yang sepertinya kurang rapi dan terlalu mepet ke pinggir. Juga beberapa typo dan kesalahan eja. Meski demikian, tak mengapa karena memang tidak ada karya yang sempurna dan kesalahan yang sedikit itu tak terlalu mempengaruhi jalan cerita. Terlebih penjabaran setting tempat yang diceritakan oleh penulis cukup baik. Meski di awal-awal tampak seperti monoton namun endingnya menarik dan membuat pembaca bebas mengimajikan sendiri akhir kisah Qiana. Juga quote-quote di dalamnya dapat dijadikan motivasi.

Selamat membaca.

“Hidup itu memang seperti meniti tangga masalah. Setiap pendakian baru berarti masalah baru. Kita tidak bisa benar-benar lepas dari tangga itu.” halaman 243

Resensi Novel Angela

DSCN3952

Judul : Angela, Semoga Waktu Tak Hapuskan Ingatanku Tentangmu
Penulis : Hardy Zhu
Penerbit : deTeens
Tahun Terbit : September 2014
Cetakan : Pertama
Editor : ItaNov_
ISBN: 9786022790594
hlm: 173

 

Seperti judulnya, novel ini bercerita tentang Angela, mahasiswi semester awal di sebuah universitas ternama di Unida. Acara reuni SMP yang ia datanginya bersama Gifty, sahabat kentalnya, mampu mengubah hidupnya. Ia bertemu dengan Sandy di acara tersebut. Yang membuatnya terkejut adalah penampilan Sandy sekarang yang sudah berbeda dari ketika masih SMP. Bila dulu ia tipis dan hitam seperti tripleks (halaman 19) :D, kini menjelma jadi cowok tampan yang membuat para cewek meliriknya. Terlebih ia telah sukses dengan bisnisnya.  Sandy begitu baik dan perhatian, bahkan sejak masih sama-sama di bangku SMP sikapnya tak berubah, alias selalu “tersedia” untuk Angela. Apalagi Gifty, salah satu orang yang tahu bahwa Sandy menyukainya, selalu mendukung mereka supaya jadian.

Di sisi lain, Angela malah sedang terpesona akut dengan penulis teenlit favoritnya, Azka. Berawal dari tak sengaja ia mengambil novel tersebut dari rak buku karena buru-buru ke kampus, tahunya ia jadi ngefans. Berkali-kali ia mencoba berinteraksi dan menarik perhatian si penulis dengan mention-mentionan di Twitter. Tentu saja berkah baginya ketika berhasil bertemu dengan si penulis, bahkan sempat diminta untuk menemaninya riset novel berikutnya ketika si penulis datang ke kotanya. Namun sial karena Sandy selalu punya alasan untuk menggagalkan pertemuan mereka. Baik dengan cara paling sederhana sampai paling ekstreem. Namun pada akhirnya terungkap alasan mengapa semua hal ini terjadi.

Belum sempat novel ini didaftarkan di currently-reading atau to read di akun Goodreads saya, ia sudah selesai terbaca karena saking asyiknya menikmati jalan cerita aja. Saya memang bukan penggemar teelit selama 8 tahunan ini. Tepatnya sejak tahu semakin lama teenlit, terutama yang bernuansa romansemakin tidak jelas bentuk dan arahnya, telebih setelah kecampuran film sinteron dan film televisi dengan persoalan yang cenderung kurang dekat dengan remaja bahkan jarang mengandung bobot untuk dibaca semua kalangan dan menghibur meski tetap santun. Tapi sekian lama saya menghindari jenis teenlit, kecuali demi pekerjaan, saya kok merasa seperti menemukan teenlit yang kembali menemukan celah seperti semula ketika membaca novel Angela ini. Memang idenya sederhana dan bukan tidak pernah diangkat. Hanya saja unsur meremaja, kepolosan, kelucuan, diksi, kelogisan cerita hingga gaya bahasa dan alur yang lincah terbaca dari novel ini, yang membuatnya berbeda dengan teenlit era kini. Terlebih banyak teenlit yang isinya seperti mengampanyekan kehidupan hedonis yang justru mengkhawatirkan ketimbang menginspirasi. Tapi denger-denger kondisi itu tak berlangsung lama dengan maraknya renovasi teenlit, yang menghadirkan kisah remaja yang tidak klise dan pesan moral yang baik dari sana serta sudah digarap lebih serius, sehingga bila ke toko buku untuk membelinya, kita mesti selektif menemukan jenis yang ‘serius’ itu.

Teenlit memang tidak melulu mengeksplore gaya hidup remaja yang sarat pacaran dan hura-hura. Justru bila dikemas dengan tepat, teenleit sebagai jembatan mereka, khususnya remaja, yang tidak suka baca menuju terbuka dengan bacaan.

Seperti pada konsep novel Angela, yang meskipun tema adalah cinta dan persahabatan. Pembaca akan menemukan sendiri bagaimana kedua hal itu hadir dengan caranya sendiri di kehidupan remaja juga tentang bagaimana menyesaikan konflik-konflik ala remaja. Sejak saya membaca serial Lupus, Olga, Princes Diary, Dialova, More Than Love (yang malah nggak bisa dibilang teenlit meski tokohnya remaja SMA), kemudian fakum selama 8 tahunan, dan mesti baca lagi sejak 2012 untuk berbagai alasan. Meskipun sudah terlalu dewasa untuk membaca teenlit, saya nggak nyesel baca Angela.

Kelebihan lain dari novel ini adalah tidak ada unsur pergaulan bebas di mana ciuman, pelukan, dan sebagainya menjadi kewajaran seperti teenlit kebanyakan. Gaya bahasanya sederhana dan mudah dimengerti, juga menggunakan aku-kamu yang sesuai setting lokasi, sebagai sikap menentang kebiasaan teenlit harus “lo-gue”, yang semestinya lebih cocok dengan pergaulan ala Jakarta-Betawi. Novel ini juga lebih banyak menggambarkan hubungan persahabatan, kegelisahan ala remaja ketika masuk pada level ngefans terhadap sesuatu, juga tentang pekerjaan partime beserta segala persoalan yang dekat dengan remaja.

Settingnya dijabarkan cukup baik, dengan gambaran suasana dan juga detail melalui sudut pandang Angel terhadap hal-hal yang dihadapnya.

Kekurangannya? Tentu ada. Namun hanya sedikti saja, misal tokoh Angel sebagai sentral lengkap dengan ciri khas fisik, cara berpikir, hingga kesukannya, membuat jalan ceritanya hanya tentang sisi Angela. Sehingga tokoh-tokoh lain seperti Gifty agak terpinggir, Sandy, dan juga Azka (si penulis) kurang tereksplore. Selain itu endingnya juga terlalu cepat juga agak bisa ditebak ^^, mestinya novel ini dapat digarap lebih baik lagi tanpa dibatasi jumlah halamannya. Tapi tak mengapa, menurut saya Angela sudah tampil dengan oke. Juga cover yang cukup mudah menarik perhatian dengan warna pink tua serta memiliki ukuran font yang nyaman dibaca. Tapi sepertinya mesti hati-hati dengan bagian buku yang dijilid, sebab dua lembar terakhir buku ini tiba-tiba lepas, hehe. Tapi tenang saja, sudah saya lem lagi:p

Teenlit yang memang disajikan sebagai cermin kehidupan perkotaan ini memang tentang remaja, tapi bisa dibaca kalangan dewasa muda kok. Untuk para remaja, ini recommended deh;)